78 BAB V KESIMPULAN Kritik sastra feminis merupakan

advertisement
BAB V
KESIMPULAN
Kritik sastra feminis merupakan kritik sastra yang menempatkan
perempuan sebagai subjek atau pusat dalam sudut pandangnya. Perempuan
merupakan hal paling penting dalam analisis kritik sastra feminis. Kritik sastra
feminis mendeteksi adanya ketidakadilan gender yang diangkat dalam karyakarya sastra. Melalui karya sastra yang bermuatan ketidakadilan gender, akan
ditemukan potensi perempuan yang bertahan dalam masyarakat yang hidup dalam
sistem patriarkat. Potensi itulah yang kemudian menghasilkan gerakan-gerakan
perempuan untuk menuntut keadilan bagi kaumnya. Ketidakadilan yang dirasakan
perempuan dalam masyarakat dengan sistem patriarkat diakibatkan munculnya
stereotip-stereotip negatif masyarakatnya, khususnya laki-laki kepada perempuan
akibat sistem tersebut.
Kritik sastra feminis berusaha mengangkat ketidakadilan gender tersebut
agar sama-sama dipahami oleh masyarakat yang khususnya perempuan sebab
masih banyak perempuan yang tidak sadar bahwa dirinya adalah korban
ketidakadilan gender. Pengarang berusaha mengungkapkan fenomena yang terjadi
dalam masyarakat melalui karya sastra yang direpresentasikan melalui tokohtokoh, bahasa yang digunakan, dan ide-ide yang diangkat oleh pengarang.
Berdasarkan hasil analisis, dapat dikatakan bahwa ada unsur gerakan feminis
sosialis yang ditampilkan dan direpresentasikan dalam novel PEPL melalui tokoh
A. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui identifikasi tokoh profeminis dan tokoh
78
79
kontrafeminis, analisis aspek kebahasaan yang digunakan pengarang, dan analisis
ide-ide feminis dalam novel tersebut. Kritik sastra feminis sosialis mempunyai
visi dasar, yakni menyadarkan perempuan yang secara tidak sadar menerima
begitu saja sistem yang menempatkannya sebagai kelas kedua dalam masyarakat.
Pada tahap awal analisis novel PEPL, dilakukan identifikasi tokoh.
Identifikasi tokoh perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana bentuk opresi
yang dialami tokoh-tokoh dalam novel PEPL. Dalam identifikasi tokoh, analisis
kritik sastra feminis tokoh dibagi menjadi dua golongan, yakni tokoh profeminis
dan tokoh kontrafeminis. Tokoh profeminis merupakan tokoh yang mendukung
gerakan-gerakan feminis. Tokoh yang memiliki pikiran terbuka terhadap
kesetaraan gender merupakan ciri utama tokoh profeminis. Tokoh profeminis
dalam novel PEPL selain tokoh perempuan juga terdapat tokoh laki-laki. Tokoh
profeminis perempuan dalam novel PEPL adalah tokoh A dan tokoh Ibu. Tokoh
A melakukan gerakan untuk menyadarkan perempuan dari posisinya yang
tertindas. Tokoh Ibu, sebagai perempuan, tidak membeda-bedakan anak laki-laki
dan perempuannya dari hal apapun termasuk pendidikan. Seperti yang telah
disebutkan di atas, selain tokoh perempuan, dalam novel PEPL juga terdapat
tokoh laki-laki yang bersifat profeminis. Tokoh Ayah dan tokoh Rik adalah tokoh
laki-laki yang profeminis. Kedua tokoh laki-laki tersebut tidak membeda-bedakan
kedudukan laki-laki dan perempuan berdasarkan jenis kelamin.
Golongan kedua yakni tokoh kontrafeminis dalam novel PEPL terdiri atas
tiga tokoh, yakni tokoh Bibi gemuk, Bibi kurus, dan Nik. Tokoh perempuan
kontrafeminis dalam novel ini tanpa sadar telah mendukung sistem patriarkat yang
80
sebenarnya
menempatkan
keduanya
sebagai
korban.
Sistem
patriarkat
menyebabkan masyarakatnya berpikiran negatif kepada perempuan. Tindakantindakan yang lumrah dilakukan laki-laki bisa jadi hal yang tabu dilakukan oleh
perempuan. Perbedaan-perbedaan itulah yang melahirkan ketidakadilan gender,
sedangkan tokoh laki-laki kontrafeminis dalam novel ini tidak bisa menerima
kemajuan yang dilakukan oleh tokoh perempuan. Tokoh Nik tidak dapat
menerima jika perempuan bisa menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok atau
dalam sebuah perusahaan.
Aspek kebahasaan yang menjadi fokus dalam analisis ini adalah pemilihan
kata dan gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang. Menganalisis pemilihan
kata yang digunakan oleh pengarang dapat mengungkapkan fakta bahwa selain
penyebab ketidakadilan gender dalam masyarakat. Pada diksi yang menunjukkan
simbol feminin dan maskulin didapatkan beberapa kata yang dinilai hanya pantas
digunakan untuk laki-laki dan tidak pantas digunakan kepada perempuan begitu
juga sebaliknya. Selanjutnya, pada diksi stereotip gender ditemukan diksi yang
menunjukkan adanya subordinasi kaum perempuan oleh laki-laki melalui katakata yang digunakan oleh laki-laki. Laki-laki memiliki wewenang untuk
memerintah perempuan dan memutuskan kehendaknya. Hal tersebut disebabkan
oleh anggapan bahwa perempuan adalah sosok yang lemah. Selain itu, dalam
pilihan kata yang ditemukan dalam masyarakat dengan sistem patriarkat, laki-laki
menjadi subjek aktif dan perempuan menjadi objek pasif yang hanya bisa
menerima apa yang diputuskan oleh laki-laki. Dari analisis pemilihan diksi, juga
ditemukan adanya gerakan perempuan untuk mengakhiri ketertindasannya dari
sistem yang menempatkannya di posisi yang tidak menguntungkan. Gaya bahasa
81
yang digunakan oleh pengarang dalam novel PEPL, meliputi satire, metafora,
repetisi, dan simile. Penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra selain untuk
menimbulkan keestetisan juga untuk menunjukkan makna-makna yang ingin
diungkapkan oleh pengarang.
Selanjutnya, yang terakhir adalah analisis ide-ide feminis. Ide-ide feminis
merupakan gagasan-gagasan pengarang yang mengandung muatan feminis. Selain
menceritakan tentang gerakan feminis yang dilakukan oleh tokoh dalam novel
PEPL, ide-ide feminis berisi solusi dan yang ingin disampaikan pengarang kepada
pembaca. Ide-ide feminis dalam novel PEPL sejalan dengan misi feminis sosialis.
Seorang perempuan harus berani bertanggung jawab, mandiri, berani menentang
sistem patriarkat, dapat menentukan nasibnya sendiri, dan berani berpikir kritis.
Dalam novel PEPL, gerakan perempuan untuk menyetarakan kedudukan antara
perempuan dan laki-laki sudah tampak. Gerakan yang dilakukan oleh tokoh A
telah menunjukkan hasilnya. Beberapa perempuan telah berani menghadapi
kesendiriannya, terutama perempuan-perempuan yang ditinggalkan oleh laki-laki
dengan cara yang tidak baik, seperti dicampakkan saat hamil. Gerakan tokoh A
berusaha mendobrak sistem patriarkat yang menyebabkan perempuan menjadi
kelas kedua dalam masyarakat patriarkat. Hal tersebut menunjukkan bahwa novel
PEPL memiliki unsur feminis sosialis.
Download