bab 2 landasan teori teori umum 2.1 tcp/ip

advertisement
7
BAB 2
LANDASAN TEORI
TEORI UMUM
2.1
TCP/IP
TCP/IP (Transport Control Protocol/Internet Protocol) adalah sekumpulan
protokol yang di desain untuk melakukan fungsi-fungsi komunikasi data pada Wide Area
Network (WAN). TCP/IP terdiri dari sekumpulan protokol yang masing-masing
bertanggung jawab atas bagian-bagian tertentu dari komunikasi data. Berkat prinsip ini,
tugas masing-masing protokol menjadi jelas dan sederhana. Protokol yang satu tidak
perlu mengetahui cara kerja protokol yang lain, sepanjang ia masih bisa saling mengirim
dan menerima data.
Berkat penggunaan prinsip ini, TCP/IP menjadi protokol komunikasi data yang
fleksibel. TCP/IP dapat diterapkan dengan mudah di setiap jenis komputer dan interface
jaringan, karena sebagian besar isi kumpulan protokol ini tidak spesifik terhadap satu
komputer atau peralatan jaringan tertentu. Agar TCP/IP dapat berjalan diatas interface
jaringan tertentu, hanya perlu dilakukan perubahan pada protokol yang berhubungan
dengan interface jaringan saja.
2.1.1 Prinsip Dasar
TCP merupakan connection-oriented protocol karena mengadakan koneksi yang
reliable. Sinkronisasi membutuhkan setiap sisi untuk mengirimkan suatu inisial
rangkaian nomor sendiri dan untuk menerima konfirmasi balasan / acknowledgement
8
(ACK) dari sisi yang lain. Setiap sisi juga harus saling menerima inisial rangkaian
nomor dan mengirimkan suatu konfirmasi ACK. Pertukaran ini disebut sebagai threeway handshake. Urutannya sebagai berikut:
a. Host A mulai mengirimkan sebuah segmen SYN yang menandakan bahwa
host A akan menggunakan rangkaian nomor yang diawali oleh rangkaian
nomor 100.
b. Host B mengirimkan sebuah ACK dan acknowledge SYN yang diterima dari
host A. Host B juga mengirimkan sebuah SYN. Sebagai catatan bahwa
acknowledgment field menandakan host B sedang menunggu rangkaian
nomor 101, balasan SYN yang menempati rangkaian nomor 100.
c. Pada segment berikutnya, host A mengirimkan beberapa data. Sebagai
catatan bahwa rangkaian nomor dalam tiap segment pada langkah 3 adalah
sama sebagai ACK pada langkah 2.
www.ceenet.org
Gambar 2.1 Threeway Hand Shake
9
Ukuran window menentukan seberapa banyak data yang diterima oleh stasiun
penerima pada suatu waktu. Dengan satu ukuran window, setiap segmen harus saling
balas sebelum segmen lain ditrasmisikan, yang akan menghasilkan efisiensi penggunaan
bandwidth oleh setiap host (Gambar 2.2). Urutan dari TCP simple acknowledgement
adalah :
a) Ukuran window adalah banyaknya pesan yang akan ditransmisikan sebelum
pengirim menunggu balasan/ acknowledgement. Pada kondisi ini, tidak ada
pesan terkirim.
b) Setelah itu, Data pesan 1 terkirim. (Mengirim 1, Menerima 1)
c) Balasan/Acknowledgment pesan 2 terkirim. (Mengirim ACK 2, Menerima
ACK 2) . Data pesan 2 terkirim. (Mengirim 2, Menerima 2) ACK untuk
pesan 2. (Mengirim ACK 3, Menerima ACK 3)
d) Mengirim 3, Menerima 3. ACK untuk pesan 3. (Mengirim ACK 4,
Menerima ACK 4) Rangkaian ini membantu dalam menyampaikan
keterlambatan yang disebabkan oleh ukuran window.
www.infoteknologi.com/overview_tcp.htm
Gambar 2.2 TCPSimple Acknowledgement
10
Selain TCP, UDP (User Datagram Protocol) juga merupakan sebuah salah satu
protokol pada Transport Layer yang didesain untuk aplikasi-aplikasi yang menyediakan
error recovery process sendiri. Perbedaan antara TCP dan UDP dapat dilihat dari Tabel
2.1 mengenai karakteristik dari TCP dan UDP.
Tabel 2.1 Karakteristik TCP dan UDP
TCP
UDP
TCP menyediakan circuit virtual antara UDP mengirimkan data antara 2 host,
aplikasi end-user
namun yang tidak bisa dipastikan apakah
data itu diterima atau tidak.
Connection-oriented
Connectionless
Reliable
Unreliable
Pembagi pesan yang keluar kedalam Mentransmisi pesan ( yang disebut User
beberapa segmen
Diagram)
Menyatukan pesan di tempat tujuan.
Tidak menyediakan software checking
(unreliable)
Mengirim
kembali
paket
yang
tidak Tidak menyatukan pesan yang datang.
diterima
Menyatukan segmen dari pesan yang Tidak ada pemberitahuan apakah semua
datang.
pesan berhasil dikirim.
Ada flow control
Tidak menyediakan flow control
11
2.1.2
Perbandingan TCP/IP Layer dengan OSI Seven Layer
OSI (Open System Interconnect) terdiri dari 7 lapisan (layer) yang
mendefinisikan fungsi protokol komunikasi data. Setiap lapisan merepresentasikan
sebuah fungsi (bukan protokol) yang dilakukan ketika data ditransfer antara aplikasi
yang sesuai lintas jaringan yang dimasuki. Ketujuh lapisan tersebut diperlihatkan pada
Gambar 2.3 sebelah kiri.
Sebuah layer tidak mendefinisikan protokol tunggal, tapi mendefinisikan suatu
fungsi komunikasi data yang dapat dilakukan oleh sejumlah protokol. Jadi setiap lapisan
dapat berisi banyak protokol, masing-masing menyediakan servis yang cocok dengan
fungsi layer tersebut. Sebagai contoh, file transfer protocol dan electronic mail protocol
keduanya menyediakan layanan pada user dan keduanya merupakan bagian dari layer
aplikasi.
Berikut adalah lapisan-lapisan yang ada pada protokol OSI:
1. Application Layer
Lapisan ini merupakan layer dimana proses jaringan yang bisa diakses user
berada. Merupakan layer teratas dalam hirarki. Aplikasi TCP/IP adalah
segala proses network yang terjadi di atas transport layer, termasuk semua
proses dimana user secara langsung berinteraksi dengannya.
2. Presentation Layer
Untuk aplikasi-aplikasi yang berkomunikasi (bertukar data) mereka harus
sepakat dalam hal bagaimana data direpresentasikan. OSI layer menyediakan
rutin standar presentasi data, yang dalam TCP/IP fungsi ini sudah ditangani
oleh aplikasi.
12
3. Session Layer
Dalam OSI, layer ini berfungsi untuk mengatur sesi / hubungan antara
aplikasi yang berkomunikasi.
4. Transport Layer
Dalam OSI, layer ini menjamin penerima mendapatkan data yang persis
ketika ia dikirimkan.
5. Network Layer
Layer ini berfungsi mengatur hubungan lintas jaringan dan mengisolasi layer
protokol yang lebih tinggi dari detail jaringan dibawahnya.
6. Data Link Layer
Yang menangani pengiriman data melintasi media fisik. Misalnya protokol
AX.25 yang media fisiknya gelombang radio.
7. Physical layer
Layer ini mendefinisikan karakteristik perangkat keras yang diperlukan untuk
mentransmisikan sinyal data. Jadi standar level tegangan, jumlah dan lokasi
pin interface didefinisikan dalam layer ini.
Protokol TCP/IP terdiri dari 4 layer / lapisan yaitu:
ƒ
Application Layer
Lapisan ini ditujukan untuk menangani protokol level tertinggi, yaitu dalam
hal representasi, penyandian, dan kontrol dialog. Lapisan TCP/IP ini
menggabungkan semua hal yang berhubungan dengan aplikasi ke dalam satu
layer, dan memastikan data ini dipaketkan dengan benar untuk layer
13
berikutnya. Contoh yang menggunakan lapisan ini adalah saat mengirim
email, browse ke Internet, membuka sesi telnet atau menjalankan FTP.
ƒ
Transport Layer
Di TCP/IP terdapat dua protokol Transport Layer. Transmission Control
Protocol (TCP) yang menjamin informasi yang dikirim dapat diterima. User
Datagram Protocol (UDP) yang tidak melakukan cek reliability, sehingga
tidak diperiksa lagi apakah informasi yang dikirimkan dapat diterima. Pada
lapisan ini perangkat yang digunakan berupa NIC, Bridge, Switch, dan lain
sebagainya.
ƒ
Internet Layer
Layer ini berisi protokol yang bertanggung jawab untuk mengadakan
komunikasi antara dua host / komputer. Protokol tersebut adalah TCP
(Transmission Control Protokol) dan UDP (User Datagram Protocol).Untuk
mengirimkan pesan pada suatu jaringan yang memiliki beberapa segmen
jaringan atau biasa disebut sebagai Internetwork, tiap jaringan harus secara
diidentifikasi oleh alamat jaringan. Sehingga jaringan yang menerima pesan
dari lapisan network akan menambahkan header pada pesan yang termasuk
alamat asal dan tujuan jaringan. Kombinasi dari data dan lapisan network
disebut paket. Informasi alamat jaringan digunakan untuk mengirimkan
pesan ke jaringan yang benar, setelah pesan tersebut sampai pada jaringan
yang benar, lapisan data link dapat menggunakan alamat node untuk
mengirimkan pesan ke node tertentu. Pada lapisan ini terdapat tiga macam
protokol, yaitu IP, ARP, dan ICMP. IP (Internet Protocol) berfungsi
menyampaikan pesan ke alamat yang tepat. ARP (Address Resolution
14
Protocol) adalah protokol yang digunakan untuk menemukan alamat
hardware dari host / komputer yang terletak pada network yang sama.
Sedangkan ICMP (Internet Control Message Protocol) adalah protokol yang
digunakan untuk melaporkan kegagalan pengiriman data.
ƒ
Network Access / Interface Layer
Protokol yang berada pada Layer ini yang bertanggungjawab terhadap semua
proses pengiriman paket ke alamat yang tepat. Media fisiknya dapat berupa
kabel , serat optik, atau gelombang radio. Karena tugasnya ini, protokol pada
layer ini harus mampu menerjemahkan sinyal listrik menjadi data digital
yang bisa dimengerti komputer, yang berasal dari peralatan lain yang sejenis.
Gambar 2.3 OSI dan TCP/IP
2.2
IP Addressing
Alamat IP adalah alamat yang diberikan ke jaringan dan peralatan jaringan yang
menggunakan protokol TCP/IP.
15
2.2.1
Tata Cara Penulisan
Jika dilihat dari bentuknya, alamat IP terdiri atas 4 buah bilangan biner 8 bit yang
dipisahkan dengan tanda titik. Nilai terbesar dari bilangan biner 8 bit adalah 255 (=27 +
26 + 25 + 24 + 23 + 22 + 2 +1). Karena alamat IP terdiri atas 4 buah bilangan 8 bit, maka
jumlah IP yang tersedia adalah 255 x 255 x 255 x 255. Contoh alamat IP adalah
192.168.0.1. Disamping penulisan alamat IP yang umum dipakai seperti diatas, Cisco
menggunakan notasi penulisan singkat dengan menggunakan prefix, misalnya
130.200.10.1/16. Angka dibelakang garis miring (prefix) menandakan bahwa 16 bit dari
subnet
mask
diselubung
dengan
angka
binari
1,
yaitu
11111111.11111111.00000000.00000000 atau 255.255.0.0.
Notasi penulisan singkat ini berlaku juga untuk alamat IP yang menggunakan
metode subnetting seperti alamat IP 192.168.1.1 dengan subnet mask 255.255.255.0
dapat ditulis dengan singkat sebagai 192.168.1.1/24. Angka 24 dibelakang garis miring
menandakan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan angka binari 1, yaitu
11111111.11111111.11111111.00000000 atau 255.255.255.0. Detil tentang cara
subnetting akan dibahas pada subbab berikutnya.
Untuk mempermudah proses pembagiannya, alamat IP dikelompokkan dalam
kelas-kelas. Dasar pertimbangan pembagian alamat IP ke dalam kelas kelas adalah untuk
memudahkan pendistribusian pendaftaran alamat IP. Alamat IP ini dikelompokkan
dalam lima kelas : Kelas A, Kelas B, dan Kelas C Perbedaan pada tiap kelas tersebut
adalah pada ukuran dan jumlahnya. IP Kelas A dipakai oleh sedikit jaringan namun
jaringan ini memiliki anggota yang besar. Kelas C dipakai oleh banyak jaringan, namun
anggota masing masing jaringan sedikit.
16
Pembagian kelas-kelas alamat IP didasarkan pada dua hal yaitu network ID dan
host ID. Setiap alamat IP merupakan sebuah pasangan dari network ID (identitas
jaringan) dan host ID (identitas host dalam jaringan tersebut). Network ID adalah bagian
dari alamat IP yang digunakan untuk menunjukkan jaringan tempat komputer ini berada,
sedangkan host ID adalah bagian dari alamat IP yang digunakan untuk menunjukkan
workstation, server, router, dan semua host TCP/IP lainnya dalam jaringan tersebut.
Dalam satu jaringan, host ID haruslah unik ( tidak boleh ada yang sama ). Jumlah
kelompok angka yang termasuk network ID dan berapa yang termasuk host ID
tergantung kepada kelas dari alamat IP yang dipakai.
Tabel 2.2 IP Class dan Subnet Mask
Kelas
Network ID
Host ID
Default Subnet Mask
A
W
x.y.z
255.0.0.0
B
w.x
y.z
255.255.0.0
C
w.x.y
Z
255.255.255.0
Untuk dapat menandai kelas satu dengan kelas yang lain, maka dibuat beberapa
peraturan sebagai berikut :
•
Oktet pertama dari kelas A harus dimulai dengan angka binari 0.
•
Oktet pertama dari kelas B harus dimulai dengan angka binari 10.
•
Oktet pertama dari kelas C harus dimulai dengan angka binari 110.
Oleh sebab itu, alamat IP dari masing-masing kelas harus dimulai dengan angka
desimal tertentu pada oktet pertama.
17
Tabel 2.3 IP Class dan Jumlah Max Network serta Host per Network
Kelas
Range
Jumlah Maksimum
Maksimum Host
Network
per Network
A
1.xxx.xxx.xxx – 126.xxx.xxx.xxx
127
12777214
B
128.0.xxx.xxx – 191.255.xxx.xxx
16384
65534
C
192.0.0.xxx – 223.255.255,xxx
2097152
254
Di samping itu terdapat beberapa aturan dasar dalam menentukan network ID
dan host ID yang hendak digunakan. Aturan tersebut adalah :
•
Angka 127 di oktet pertama digunakan untuk loopback (menunjuk komputer
itu sendiri).
•
Network ID dan host ID tidak boleh semuanya terdiri atas angka 0 atau 1.
•
Host ID harus unik dalam satu network, tidak boleh ada dua jaringan yang
memiliki host ID yang sama.
Bit-bit dari network ID maupun host ID tidak boleh semuanya berupa angka
binari 0 atau 1. Apabila semua network ID dan host ID semuanya berupa angka binari 1
yang dapat ditulis sebagai 255.255.255.255, maka alamat ini disebut flooded broadcast.
Jika host ID semua berupa angka binari 0, alamat IP ini menyatakan alamat network dari
jaringan yang bersangkutan. Jika host ID semuanya berupa angka binari 1, maka alamat
IP ini ditujukan untuk semua host di dalam jaringan yang bersangkutan, yang
dipergunakan untuk mengirim pesan (broadcast) kepada semua host yang berada di
dalam jaringan lokal.
18
Di dalam Internet, alamat IP digunakan untuk memberikan alamat pada suatu
situs. Agar pemakaian alamat IP ini seragam di seluruh dunia, maka ada sebuah badan
internasional yang mengatur pemberian alamat IP yang bernama Internet Assign Number
Authority (IANA) untuk digunakan di Internet. Dalam pemberian alamat IP, IANA
hanya memberikan alamat IP dengan network ID saja, sedangkan host ID-nya diatur
oleh pemilik alamat IP tersebut.
Disamping itu, IANA juga menyediakan beberapa alamat IP khusus yang disebut
private address. Private address biasanya digunakan server Network Address
Translation (NAT), atau proxy server untuk memberikan konektivitas host-host ke
public network. Dalam hal ini, traffic-traffic masuk pada address-address dalam range
private address tidak akan diroute dalam Internet. Private address sering juga
digunakan oleh host-host yang tidak terhubung dengan Internet, atau mereka yang tidak
memiliki ketersediaan public addres yang mencukupi.
Yang sekarang masih umum digunakan merupakan IPv4 yang terdiri dari 32 bit.
Hal ini menyebabkan IP ini akan habis bila jumlah komputer atau device yang
memerlukan IP mencapai 232 atau 4.294.967.296. IANA menyimpan beberapa alamat IP
sebagai alamat IP untuk jaringan Private (RFC 1918) yaitu:
•
10.0.0.0 - 10.255.255.255
•
172.16.0.0 - 172.31.255.255
•
192.168.0.0 - 192.168.255.255
19
2.2.2 Subnetting
Teknik subnet merupakan cara untuk membagi jaringan menjadi jaringanjaringan yang lebih kecil dengan cara mengubah subnet mask, yaitu dengan cara
meminjam bit host menjadi bit network. Teknik subnet menjadi penting bila sebuah
jaringan memiliki alokasi IP yang terbatas misalnya hanya ada 200 IP yang akan di
distribusikan ke beberapa LAN.
Sebagai contoh ada suatu jaringan yang memiliki network ID 130.200.0.0 dengan
default subnet masknya adalah 255.255.0.0. Alamat IP dan subnet masknya dapat ditulis
dengan angka binari menjadi seperti berikut :
(Catatan : Agar lebih mudah untuk dimengerti, angka binari yang merupakan Network ID dicetak tebal)
Tabel 2.4 Langkah-Langkah Pertama Subnetting
Network ID
Host ID
Alamat IP
10000010
11001000
00000000
00000000
Subnet Mask
11111111
11111111
00000000
00000000
Cara membuat subnet baru dari alamat IP yang dimiliki misalnya dengan
mengambil dua bit teratas host ID untuk dipakai oleh network ID sebagai bagian subnet
mask baru :
Tabel 2.5 Langkah-Langkah Kedua Subnetting
Network ID
Host ID
Alamat IP
10000010
11001000
00
000000
00000000
Subnet Mask baru
11111111
11111111
11
000000
00000000
20
Subnetting dengan 2 bit mask ini memberikan kombinasi 00, 01, 10, dan 11.
Dengan menggunakan kombinasi tersebut, 4 subnet baru dapat dibuat sebagai berikut :
Tabel 2.6 Langkah-Langkah Ketiga Subnetting
Network ID
Host ID
Subnet 1
10000010
11001000
00
000000
00000000
Subnet 2
10000010
11001000
01
000000
00000000
Subnet 3
10000010
11001000
10
000000
00000000
Subnet 4
10000010
11001000
11
000000
00000000
Subnet Mask baru
11111111
11111111
11
000000
00000000
Peraturan subnetting tidak mengizinkan penggunaan kombinasi yang semuanya 0
atau semuanya 1. Dengan demikian hanya 2 subnet baru yang boleh dipakai
menggunakan kombinasi 01 dan 10 sebagai berikut :
Tabel 2.7 Langkah-Langkah Keempat Subnetting
Network ID
Host ID
Subnet 1
10000010
11001000
01
000000
00000000
Subnet 2
10000010
11001000
10
000000
00000000
Subnet Mask
11111111
1111111
11
000000
00000000
Subnet baru diatas bila ditulis dengan angka desimal adalah sebagai berikut :
ƒ
Subnet 1
: 130.200.64.0
ƒ
Subnet 2
: 130.200.128.0
ƒ
Subnet Mask baru : 255.255.192.0
21
Beberapa alasan menggunakan subnetting, antara lain:
•
Mereduksi traffic jaringan
Alasan dasar menggunakan subnetting adalah untuk mengurangi broadcast
domain. Maksudnya adalah dalam sebuah jaringan, terdapat broadcast
yang secara berkesinambungan dikirimkan terus-menerus ke dalam sebuah
network dan subnetwork. Bila hal ini tidak diantisipasi, maka traffic dari
broadcast bisa jadi akan menghabiskan banyak bandwidth yang dimiliki
•
Optimasi performa dalam jaringan
Bila broadcast domain telah dikurangi, maka secara otomatis, performa
dari jaringan tersebut akan meningkat
•
Mempermudah manajemen
Dengan membagi-bagi jaringan ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil
lagi, administrator akan lebih mudah untuk mengidentifikasi masalah dan
mengelola jaringan tersebut.
Tabel 2.8 Beberapa istilah dasar dalam IP addressing dan subnetting
Bit
Byte
Satu digit; dapat bernilai 1 atau 0
7 atau 8 bit, bergantung pada keseimbangan mana yang digunakan.
Namun untuk bahasan disini, banyak berhubungan dengan 8 bit.
Octet
Network address
Selalu 8 bit
Penandaan yang digunakan dalam routing untuk mengirim paketpaket ke remote network. Misal : 10.0.0.0, 172.16.0.0 dan
192.168.20.0.
22
Broadcast address
Digunakan oleh aplikasi-aplikasi dan host-host untuk mengirim
informasi ke semua node dalam sebuah network. Misalnya
255.255.255.255, memberi arti semua network, semua node;
172.16.255.255, memberi arti semua subnetdan semua host dalam
network
172.16.0.0;
dan
10.255.255.255,
merupakan
nilai
broadcast untuk semua subnet dan host dalam network 10.0.0.0
2.2.3
Reserved Address
Terdapat juga alamat IP yang merupakan Reserved Address, yaitu alamat IP yang
sudah disepakatkan untuk menjadi beberapa aturan default. Berikut adalah contoh dari
reserved address :
•
0.0.0.0 (default network address)
•
127.0.0.1 (default IP Loop back)
•
169.254.0.0 -169.254.255.255 (Microsoft Network Default address)
•
255.255.255.255 (Broadcast)
2.2.4 DHCP
Selain IP address, ada beberapa konfigurasi tambahan yang harus disertakan
sebelum suatu PC berkomunikasi di dalam network, seperti alamat Default Router,
subnetting, dan sebagainya. Konfigurasi dapat dilaksanakan secara manual (jika network
kecil, dan hanya konfigurasi sederhana)
Namun jika network-nya besar untuk mengkonfigurasi semua PC dalam jaringan
akan membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. DHCP (Dynamic Host
23
Configuration Protocol) menyediakan alamat-alamat IP secara dinamis dan konfigurasi
lain. DHCP ini didesain untuk melayani network yang besar dan konfigurasi TCP/IP
yang kompleks. Karakteristik dari DHCP antara lain :
ƒ
DHCP memungkinkan suatu klien menggunakan alamat IP yang reusable,
artinya alamat IP tersebut bisa dipakai oleh klien yang lain jika klien tersebut
tidak sedang menggunakannya (off).
ƒ
DHCP memungkinkan suatu klien menggunakan satu alamat IP untuk jangka
waktu tertentu dari server.
ƒ
DHCP menggunakan protokol UDP port 67
DHCP akan memberikan satu alamat IP dan parameter-parameter kofigurasi
lainnya kepada user yang meminta. DHCP akan memberikan satu alamat yang masih
kosong berikut konfigurasi lainnya yang perlu. Proses DHCP sehingga user dapat
mengetahui alamat dari DHCP meliputi beberapa tahap:
ƒ
Identifikasi DHCP server
Untuk identifikasi DHCP server, suatu klien mengirim DHCPDiscover secara
(Paket ada di belakang), DHCP server akan memberikan DHCPOffer pesan
tersebut. Ketika menerima DHCPDiscover, Agen akan mengirimkannya ke
DHCP server untuk mendapatkan DHCPOffer. DHCPOffer tersebut kemudian
diteruskan ke host yang mengirim DHCPDiscover tadi. Jadi di sini host tidak
perlu langsung berhubungan dengan DHCP server. Ketika DHCP server
memberikan DHCPOffer, yang mengandung alamat IP (yang masih belum
dipakai oleh klien lain, pada your IP address field) untuk klien, klien bisa saja
menolak tawaran nomer IP tersebut. Jika ini yang terjadi, alamat IP tersebut
24
dianggap masih kosong dan bisa dipakai oleh klien lainnya. Jika klien tidak
menerima Response dalam jangka waktu tertentu setelah mem-broadcast
DHCPDiscover paket, dia akan mengulangi lagi, sampai 10 kali. Klien juga
mungkin akan menerima Response dari beberapa server. Klien dapat diset
untuk menerima beberapa DHCPOffer dan membandingkannya untuk
kemudian menentukan DHCP server target.
ƒ
Meminta IP
Ketika klien telah menentukan target DHCP server, ia akan mem-broadcast
DHCPREQUEST paket. DHCPREQUEST ini berisi alamat IP DHCP server
target pada server IP address field. Router (Agent) akan meneruskan paket
tersebut ke semua server. Server-server menerima DHCPREQUEST, dan
melihat apakah tawarannya diterima atau ditolak (dengan membandingkan
alamat IP DHCP server target dengan alamat dirinya). Server yang tawarannya
ditolak dapat menawarkan alamat IP-nya kepada klien yang lain. DHCP server
yang tawarannya diterima, akan memberi response sebagai berikut :
o Jika DHCP server tersebut sanggup memberikan parameter-parameter
konfigurasi yang diminta klien, ia akan mengirim paket DHCPACK
yang mengandung konfigurasi untuk klien.
o Jika DHCP server tidak sanggup memberikan parameter-parameter
konfigurasi yang diminta klien, ia akan mengirim paket DHCPNACK
kepada klien.
ƒ
Menerima dan Menggunakan IP
Klien menerima DHCPACK tersebut dan menggunakan konfigurasi di
dalamnya untuk jangka waktu tertentu. Jika klien mendeteksi masalah dengan
25
konfigurasi dari server, ia akan mengirim balik DHCPDECLINE packet ke
server. Klien kemudian kembali mengirim DHCPDiscover baru.
Proses
berjalan mulai dari awal lagi. Jika klien menerima DHCPNACK, dia akan
mem- broadcast DHCPDiscover baru. Proses kembali dari awal.
Konfigurasi yang diberikan DHCP server meliputi
•
Alamat IP dan Subnet Mask
•
Domain Name
•
Default Gateway
•
DNS
•
WINS information
Format Paket DHCP :
Gambar 2.4 Format Paket DHCP
26
2.2.5 NAT
Kebanyakan jaringan lokal merupakan LAN yang menggunakan private IP
address yang tidak dikenal oleh Internet. Untuk mengatasi masalah tersebut,
digunakanlah Network Address Translation (NAT) yang berfungsi untuk memetakan
public IP address dengan private IP address yang dipergunakan jaringan lokal. Dengan
demikian, NAT menyembunyikan IP lokal sehingga tidak bisa dilihat dari luar. Oleh
sebab itu NAT juga sekaligus berfungsi sebagai firewall.
Dua tipe NAT diantaranya adalah :
•
Statik
Translasi Statik terjadi ketika sebuah alamat lokal di petakan ke sebuah
Internet. Alamat lokal dan global dipetakan satu-ke-satu secara statik .
•
Dinamik sendiri terbagi lagi menjadi dua yaitu :
o
NAT dengan Pool (kelompok)
Translasi dinamik terjadi ketika router NAT diset untuk memahami
alamat lokal yang harus ditranslasikan, dan kelompok (pool) alamat
global yang akan digunakan untuk terhubung ke Internet. Proses NAT
Dinamik ini dapat memetakan bebarapa kelompok alamat lokal ke
beberapa kelompok alamat global.
o
NAT Overload
NAT Overload Sejumlah IP lokal/internal dapat ditranslasikan ke satu
alamat IP global/outside. Hal ini sangat menghemat penggunakan alokasi
IP dari ISP. Sharing/pemakaian bersama satu alamat IP ini menggunakan
metoda port multiplexing, atau perubahan port ke paket outbound
27
NAT hanya memetakan satu public address dengan satu private address. Jika
satu public address ingin dipetakan dengan sejumlah private address, dipergunakan
PAT (Port Address Translation) atau disebut juga NAT overloaded. Dengan
menggunakan PAT, hanya diperlukan satu public IP address untuk jaringan global. PAT
akan memetakan public IP address tersebut dengan private IP address jaringan lokal
(LAN). Sehingga penggunaan PAT akan menghemat pemakaian public IP address yang
semakin lama semakin berkurang persediaannya.
Berikut tabel keuntungan dan kerugian menggunakan NAT :
Tabel 2.9 Keuntungan dan Kerugian NAT
KEUNTUNGAN
Menghemat alamat IP legal (ditetapkan oleh
KERUGIAN
Translasi menimbulkan delay switching
NIC atau service provider)
Mengurangi terjadinya duplikasi alamat
Menghilangkan kemampuan ‘trace’
jaringan IP
(traceability) end-to-end IP
Meningkatkan fleksibilitas untuk koneksi ke
Aplikasi tertentu tidak dapat berjalan jika
Internet
menggunakan NAT
Menghindarkan proses pengalamatan kembali
(readdressing) pada saat jaringan berubah.
2.2.6 DNS
Sistem yang mengatur translasi antara suatu nama situs dengan suatu alamat IP
lainnya disebut Domain Name System (DNS). Tujuan dari DNS adalah untuk
memudahkan manusia dalam mengingat. Karena IP suatu situs dapat berubah
dikarenakan pemindahan ISP atau karena serangan hacker dan untuk menghafalkan IP
28
suatu situs adalah hal yang sulit, maka DNS akan mengubah alamat IP menjadi nama
seperti www.google.com atau www.bolehgame.com dan sebagainya.
Tata cara penamaan DNS merupakan cara penamaan yang berdasarkan hirarki
atau pohon yang saling tergantung dan dinamakan sebagai Domain Name Space.
Gambar 2.5 Hierarki DNS
Root dari Domain Name Space adalah titik (.), sedangkan level bawahnya sering
disebut juga sebagai TLD atau Top Level Domain seperti com, net, edu, gov, dan org.
Selain itu juga terdapat domain untuk suatu negara yang berdasarkan kode ISO
(International Organization for Standarization) untuk sebuah negara kecuali Inggris yang
menggunakan kode .uk (kode ISOnya adalah .gb). Untuk kode lengkap dari negaranegara pengguna domain ini, dapat dilihat melalui situs http://www.iana.org/cctld/cctldwhois.htm
2.2.7 MAC Address
MAC address atau disebut juga hardware address terdiri dari dua bagian, yaitu 3
byte untuk kode pabrik yang diberikan oleh IEEE dan 3 byte untuk nomor serial unik
29
untuk digunakan host yang diatur oleh pabrik pembuat, didalam penulisannya sering
mengunakan 6 angka hexa-desimal untuk kode pabrik dan 6 angka hexa-desimal untuk
nomor serial. Contohnya adalah dari MAC address 0060B06A8F3E, 0060B0 adalah
kode pabrik dan 6A8F3E adalah nomor serial untuk host. Semua peralatan aktif di LAN,
baik Network Interface Card komputer, maupun interface peralatan router dan switch
menggunakan MAC address untuk memerikan identitas dirinya dalam jaringan
komputer.
Address Resolution Protocol (ARP) adalah protokol yang mengadakan translasi
dari IP address yang diketahui menjadi hardware / MAC address. Kegunaan ARP yaitu
dapat membuat alamat logika IP address tidak bergantung pada peralatan, penggantian
suatu NIC hanya mengubah MAC address dan tidak mengubah IP address, paket dapat
diteruskan berdasarkan
alamat jaringan yang dituju, dan routing IP address dapat
dilakukan pada lapisan network. ARP termasuk jenis protokol broadcast, maka hub dan
switch yang juga bertipe broadcast dapat meneruskan informasi ARP yang diterimanya,
sedangkan router tidak dapat.
Selain itu, Reverse Address Resolution Protocol (RARP) merupakan protokol
yang berguna untuk mengadakan translasi MAC address yang diketahui menjadi IP
address. Router menggunakan prookol RARP ini untuk mendapatkan IP address dari
suatu MAC address yang diketahuinya. RARP adalah juga berupa protokol yang
digunakan untuk proses boot suatu workstation, sehingga memungkinkan suatu
workstation mendapatkan IP address dari boot server dengan memberitahukan MAC
address yang dimilikinya.
30
2.3
Klasifikasi Jaringan
Desain jaringan komputer dapat dibedakan menjadi beberapa kriteria seperti luas
cakupan area dan teknologi transmisi. Secara garis besar, terdapat dua jenis teknologi
transmisi yaitu jaringan broadcast dan jaringan point-to-point. Yang biasa digunakan
adalah pengelompokkan jaringan ini berdasarkan luas cakupan area.
2.3.1 LAN, MAN, WAN
Dalam pengklasifikasian luas cakupan area, jaringan dapat dibandingkan dengan:
•
Local Area Network merupakan jaringan berkecepatan tinggi dan memiliki
tingkat kesalahan data yang rendah serta hanya mencakup area geografis
yang relatif kecil.
•
Metropolitan Area Network (MAN), yaitu jaringan yang mencakup area
metropolitan. Umumnya, MAN mencakup area geografis yang lebih luas
dibandingkan dengan LAN, namun lebih kecil dari WAN. Biasanya untuk
perhubungan jaringan satu kota.
•
Wide Area Network (WAN), yaitu jaringan komunikasi data yang melayani
pengguna pada area geografis yang luas dan seringkali menggunakan alat
transmisi yang telah disepakati bersama. Biasanya untuk perhubungan antar
kota sampai antar negara.
2.3.2
Teknologi dalam LAN
Berikut ini adalah teknologi yang digunakan dalam mendesain suatu jaringan.
31
2.3.2.1 Token Ring
Topologi Token Ring pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan IBM
yaitu berupa suatu lingkaran (ring) dimana komputer-komputer diletakkan di
sekeliling lingkaran tersebut seperti tampak pada gambar 2.6.
www.informatik.uni-stuttgart.de
Gambar 2.6 Jaringan Token Ring
Cara kerja dari token ring adalah dengan adanya suatu token atau frame
kecil yang dikirim dari satu komputer ke komputer berikutnya di dalam
lingkaran. Jika suatu komputer menerima token, ia mempunyai hak untuk
mengirimkan data. Jika tidak ada data yang dikirim, komputer tersebut akan
membalik satu bit dari token dan meneruskan token tersebut ke komputer
berikutnya.
2.3.2.2 FDDI
Fiber Distributed Data Interface (FDDI), yaitu suatu protokol yang
menggunakan lingkaran serat optik ganda yang disebut dengan lingkaran
primary dan lingkaran secondary, seperti yang tampak pada gambar 2.7.
32
Lingkaran primary dipakai sebagai jaringan utama dan lingkaran secondary baru
berfungsi jika lingkaran primary mengalami kerusakan, dan berfungsi untuk
toleransi (fault tolerance).
FDDI bekerja di lapisan fisik dan lapisan MAC dari lapisan data link
dengan juga menggunakan sistem token yang mirip dengan Token Ring, namun
dengan algoritma akses yang berbeda. Semua workstation di lingkaran FDDI
harus menunggu sampai token diterima sebelum dapat mengirimkan data frame
yang besarnya dapat mencapai 4.500 byte.
Jaringan FDDI menunjang kecepatan 100 Mbps melalui media serat
optik. Setiap lingkaran jaringan FDDI ini dapat mencapai 200 km dengan
sejumlah 500 workstation maksimum. Jarak maksimum antara workstation
adalah 2 km. FDDI juga menyediakan sarana penggunaan kabel tembaga yang
sering juga disebut Copper-stranded Distributed Data Interface (CDDI).
Penggunaan serat optik imempunyai keuntungan sebagai berikut :
•
Bandwidth yang besar.
•
Tidak terganggu oleh sinyal listrik.
•
Memiliki kapasitas untuk pemakaian jarak jauh.
www.informatik.uni-stuttgart.de
Gambar 2.7 Jaringan FDDI
33
2.3.2.3 Ethernet
Protokol Ethernet atau IEEE 802.3 menggunakan mekanisme yang
disebut Carrier Sense Multiple Access Collision Detection (CSMA/CD), yaitu
suatu cara dimana peralatan memeriksa dulu jaringan, apakah ada pengiriman
data oleh pihak lain atau tidak. Jika tidak ada pengiriman data oleh pihak lain
yang dideteksi, baru pengiriman data dilakukan. Bila dua buah peralatan
mengirimkan data secara bersamaan, maka terjadilah tabrakan (collision). Oleh
sebab itu umumnya jaringan Ethernet dipakai hanya untuk transmisi half-duplex,
yaitu pada suatu saat hanya dapat mengirim atau menerima saja..
Protokol Ethernet pada saat ini merupakan protokol LAN yang paling
populer dan banyak digunakan. Hal ini disebabkan karena perangkat keras yang
digunakan protokol Ethernet ini seperti Network Interface Card (NIC), hub dan
switch relatif tidak mahal. Selain itu perkembangan teknologi menunjang
protokol Ethernet ini dengan diperkenalkannya Fast Ethernet yang berkecepatan
100 Mbps dan Gigabit Ethernet dengan kecepatan 1000 Mbps (1 Gigabit
persecond), yang dapat menandingi kecepatan protokol-protokol lainnya.
Disamping itu jaringan Ethernet dan Fast Ethernet menggunakan jenis kabel
UTP kategori-5 yang murah harganya.
Ethernet Family Tree :
•
10 Base T
( 10 Mbps dengan menggunakan kabel UTP )
•
10 Base 2
( 10 Mbps dengan menggunakan kabel Thin Coaxial )
•
10 Base 5
( 10 Mbps dengan menggunakan kabel Thick Coaxial )
34
•
10 Base Tx
( 10 Mbps dengan menggunakan kabel UTP Full Duplex)
•
100 Base T
( 100 Mbps dengan menggunakan kabel UTP )
•
100 Base Tx ( 100 Mbps dengan menggunakan kabel UTP Full Duplex)
•
10 Base F
( 10 Mbps dengan menggunakan kabel Fiber Optic )
•
100 Base Fx
( 100 Mbps dengan menggunakan kabel Fiber Optic )
•
1000 Base T ( 1000 Mbps dengan menggunakan kabel UTP )
2.3.2.4 Fast Ethernet
Mulai dari 100 Base T, Ethernet ini disebut sebagai Fast Ethernet karena
berkecepatan 100 Mbps. Perubahan dari Ethernet biasa ke Fast Ethernet hanya
memerlukan penggantian hub 10 Mbps dengan hub atau switch 10 / 100 Mbps
dan Network Interface Card (NIC) untuk 10/100 Mbps. Kabel jaringannya tidak
perlu diganti karena 100baseTX dapat menggunakan kabel Unshielded Twisted
Pair (UTP) kategori 5, seperti yang digunakan oleh 10BaseT. Protokol Fast
Ethernet 100BaseTX menggunakan spesifikasi IEEE 802.3u dan CSMA/CD.
2.3.3 Perangkat Yang Digunakan Dalam LAN
Berikut adalah perangkat yang umumnya digunakan pada LAN agar tercipta
konektivitas dan menghubungkan PC secara fisik :
2.3.3.1 Network Interface Card (NIC)
Network Interface Card (NIC) adalah sebuah perangkat yang dipasang di
motherboard dan berfungsi sebagai media koneksi kedalam jaringan. Network
35
card berkomunikasi dengan jaringan melalui koneksi serial, dan dengan
komputer melalui koneksi paralel.
Hal-hal berikut adalah penting ketika memilih suatu NIC untuk
digunakan dalam suatu jaringan :
•
Tipe dari jaringan – NIC didesain untuk LAN Ethernet, Token Ring,
FDDI dan lainnya. Sebuah NIC yang dibuat untuk jaringan ethernet
LAN, tidak akan bisa digunakan untuk jaringan Token Ring dan begitu
juga sebaliknya.
•
Tipe dari media – Tipe dari port atau konektor pada NIC yang
menyediakan akses ke jaringan haruslah spesifik. Tipe dari media ini
termasuk kabel twisted-pair, coaxial, fiber-optik, atau gelombang radio.
•
Tipe dari bus sistem – Protocol Control Information (PCI) slot biasanya
lebih cepat dibandingkan dengan Industry-Standard Architecture (ISA)
sehingga lebih direkomendasikan PCI digunakan dengan FDDI Card
karena bus ISA tidak akan mampu menangani kecepatan yang
dibutuhkan.
Gambar 2.8 Network Interface Card
36
2.3.3.2 Repeater dan Hub
Repeater berfungsi untuk memperkuat signal kembali sehingga kabel
yang digunakan dapat mencapai jarak lebih jauh. Repeater merupakan peralatan
Internetworking yang berada pada layer fisik (layer 1) dari OSI model sehingga
bekerja pada level bit. Kelemahan repeater adalah ketidakmampuannya untuk
menyaring lalu lintas jaringan. Data (bit) yang datang dari salah satu port
repeater akan diteruskan ke seluruh port menuju segmen LAN lain tanpa
mempedulikan data tersebut diperlukan atau tidak.
Sedangkan istilah hub ditujukan untuk repeater yang memiliki banyak
port (multiport repeater) dan kini penggunaan repeater telah beralih ke
pemakaian hub. Hub hanya memiliki satu collision domain, maka semua
peralatan yang berhubungan dengan suatu hub menggunakan satu collision
domain secara bersama walaupun peralatan dihubungkan ke port-port yang
berlainan dari hub. Dari segi pengelolaan, hub terdiri dari 2 jenis yaitu
manageable hub dan unmanageable hub. Manageable hub adalah hub yang
dapat diatur dengan perangkat lunak di bawahnya sedangkan unmanageable hub
dikelola secara manual.
2.3.3.3 Bridge dan Switch
Sebuah bridge akan meneruskan paket dari suatu segmen LAN ke
segmen lain, tetapi bridge lebih fleksibel dan lebih cerdas dibandingan dengan
repeater. Bridge bekerja dengan meneruskan paket ethernet dari suatu jaringan
ke jaringan lain. Tiap ethernet memiliki alamat ethernet (ethernet address) yang
37
unik. Beberapa bridge mempelajari alamat ethernet setiap device yang terhubung
dengannya dan mengatur alur paket berdasarkan alamat tersebut.
Bridge dapat menghubugkan jaringan yang menggunakan metode
transmisi yang berbeda. Bridge digunakan untuk membagi LAN menjadi
beberapa collision domain untuk menghindari persaingan. Metode ini disebut
segmentasi. Salah satu kelemahan bridge adalah jika alamat yang diterima tidak
dikenal oleh bridge, maka bridge akan menyiarkan berita ke segmen network
lain sebagai pemberitahuan.
Seperti bridge, switch juga bekerja di lapisan data link, tetapi memiliki
keunggulan dimana setiap port didalam switch memiliki collision domain
sendiri-sendiri. Oleh sebab itu switch sering juga disebut multiport bridge.
Switch mempunyai tabel penerjemah untuk semua port. Switch menciptakan
Virtual Private Network (VPN) dari port pengirim dan port penerima sehingga
jika dua host sedang berkomunikasi lewat VPN tersebut, mereka tidak
mengganggu segmen yang lainnya. Jadi jika satu port sedang sibuk, port-port
yang lainnya bisa berfungsi dengan normal. Oleh sebab itu penggunaan switch
semakin popular terutama dengan harganya yang semakin terjangkau.
2.3.3.4 Router
Router adalah sebuah perangkat yang meneruskan paket data di dalam
sebuah jaringan. Router digunakan sebagai penghubung setidaknya 2 buah
jaringan, biasanya
antara LAN dan WAN atau LAN dan jaringan ISPnya.
Router diletakkan pada gateway, tempat dimana dua atau lebih jaringan
38
terhubung dan merupakan perangkat kritikal yang akan menjaga agar aliran data
antar jaringan tetap berjalan dan agar jaringan yang ada pada router tersebut
tetap terhubung pada Internet. Ketika data dikirim antar lokasi dari jaringan yang
satu ke jaringan yang lain, data akan selalu terlihat dan diarahkan ke lokasi yang
tepat oleh router. Caranya adalah dengan menggunakan headers dan forwarding
tables untuk menentukan jalur terbaik untuk meneruskan paket data tersebut dan
menggunakan protokol ICMP untuk berkomunikasi dengan lainnya dan
menentukan rute terbaik antara 2 host tersebut. Internet sendiri merupakan
sebuah jaringan global yang menghubungkan jutaan pengguna komputer dan
jaringan yang lebih kecil lainnya. Disinilah tampak peran vital sebuah router
sebagai alat komunikasi dalam dunia jaringan.
2.3.4 Topologi
Topologi secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
•
Topologi fisik yang menggambarkan pemetaan kabel/hubungan bagi peralatan
peralatan fisik.
•
Topologi logikal yang menjelaskan bagaimana informasi berjalan melalui sebuah
network untuk menentukan dimana collisions (tabrakan) mungkin terjadi.
Topologi jaringan ada bermacam macam. Topologi yang biasanya digunakan
adalah :
39
2.3.4.1 Bus
Di dalam topologi ini, semua device terhubung ke satu medium, dimana
medium-nya mempunyai awal dan akhir. Topologi ini biasanya menggunakan
media kabel coaxial dan pada ujung-ujung kabel dipasang terminating resistor
yang berguna untuk menghilangkan sinyal yang sudah tidak digunakan agar
tidak memantul balik yang akibatnya dapat menimbulkan data corruption.
Network yang biasanya menggunakan topologi bus adalah Token Bus dan
10Base2.
Gambar 2.9 Topologi Bus
2.3.4.2 Ring
Untuk membentuk jaringan berbentuk cincin, setiap PC harus
dihubungkan seri satu dengan yang lain dan hubungan ini akan membentuk
lingkaran yang tidak terputus. Dalam sistem ini setiap PC harus dirancang agar
dapat berinteraksi dengan PC yang berdekatan maupun berjauhan. Dengan
demikian kemampuan melakukan switching ke berbagai arah sentral. Contoh dari
topologi ring adalah Token Ring dan Fiber Distributed Data Interface (FDDI).
40
Gambar 2.10 Topologi Ring
2.3.4.3 Star
Dalam topologi star, akan terdapat satu PC yang dibuat sebagai pusat.
Sistem ini mempunyai tingkat kerumitan jaringan yang lebih sederhana sehingga
sistem menjadi lebih ekonomis, tetapi beban PC yang berada pusat cukup berat.
Dengan demikian kemungkinan tingkat kerusakan atau gangguan dari sentral ini
lebih besar. Pengembangan dari topologi star adalah extended star.
Gambar 2.11 Topologi Star
41
2.3.4.4 Hybrid
Topologi hybrid merupakan gabungan dari beberapa topologi network
yang lain. Biasanya topologi ini digunakan pada Wide Area Network (WAN),
karena setiap topologi mempunyai kelemahan sehingga jika digabungkan, akan
didapatkan kualitas yang maksimum. Contoh dari topologi hybrid dapat dilihat
dari Gambar 2.12 yang merupakan gabungan dari topologi bus dan star.
Gambar 2.12 Topologi Hybrid
2.3.4.5 Mesh
Topologi jaringan ini menerapkan hubungan antar PC atau sentral secara
penuh. Jumlah saluran harus disediakan untuk membentuk jaringan mesh adalah
jumlah sentral dikurangi 1 (n-1, n = jumlah sentral). Tingkat kerumitan jaringan
sebanding dengan meningkatnya jumlah sentral yang terpasang. Dengan
demikian
disamping
pengoperasiannya.
kurang
ekonomis
juga
relatif
mahal
dalam
42
Gambar 2.13 Topologi Mesh
2.3.5 Media Yang Digunakan Pada LAN
TIA (Telecommunications Industry Association) dan EIA (Electronic Industries
Association) merupakan suatu organisasi yang mengatur tentang tata cara cabling
(pemasangan atau pembuatan kabel). Beberapa media kabel yang umum digunakan
dalam perancangan dan implementasi misalnya adalah coaxial, UTP dan Fiber Optic.
Selain dengan media kabel, sebuah jaringan juga dapat menggunakan media udara
(gelombang radio) sehingga koneksinya disebut dengan koneksi nirkabel atau wireless.
Berikut ini akan dibahas beberapa media yang umum digunakan dalam perancangan
jaringan.
2.3.5.1 Coaxial
Kabel coaxial menggunakan pelindung berupa tembaga untuk menahan
interferensi listrik dari luar. Serat pelindung tembaga mengelilingi konduktor
yang ada ditengah.
43
Kabel Coaxial terdiri dari 4 bagian :
-
Center conductor
-
Insulation
-
Shield
-
Jacket
http://cnap.binus.ac.id
Gambar 2.14 Kabel Coaxial
2.3.5.2 STP ( Shielded Twisted Pair )
STP memiliki ketahanan terhadap interferensi elektromagnetik dan
frekuensi radio tanpa menambah berat atau ukuran kabel secara signifikan
dengan memadukan teknik shielding dan kabel twisting. Shield atau pelindung
STP bukan merupakan bagian dari data circuit, sehingga kedua ujung kabel
harus dihubungkan ke ground. Jika proses grounding ini tidak benar, STP dapat
menjadi sumber masalah, karena shield ini akan berfungsi seperti antena yang
menyerap sinyal elektrik dari kabel yang berdekatan dan juga noise dari luar
kabel.
2.3.5.3 UTP
UTP merupakan medium dengan 4 pasang kabel yang mirip dengan STP.
Sesuai namanya, perbedaaannya dengan STP adalah pada shield yang tidak
dimiliki UTP. Oleh karena itu, UTP ini lebih rentan terhadap interferensi
elektromagnetik dibanding media networking lainnya. Harga per meter kabel
UTP lebih murah daripada kabel LAN yang lain dan lebih mudah dalam proses
44
instalasinya. Pada umumnya UTP yang digunakan adalah UTP kategori 5 yang
telah dispesifikasi untuk mencapai bandwitdh 100 MHz, dan dapat mendukung
sistem ethernet 10BaseT dan 100BaseT.
Untuk penggunaannya, kabel UTP harus dikonfigurasi terlebih dahulu,
dan dihubungkan dengan connector yang bisa terdiri dari RJ-45 atau RJ-11, yang
lalu di crimp dengan crimper yang bentuknya menyerupai tang. Terdapat dua
standar dari EIA mengenai susunan dari kabel UTP ini yang susunannya dapat
berupa kabel straight dan cross:
•
Straight - digunakan untuk menyambungkan dua perangkat jaringan yang
berbeda, misalnya adalah komputer desktop dengan hub atau switch.
Susunan kabelnya dapat dilihat pada Gambar 2.15
Gambar 2.15 Susunan Kabel Straight.
•
Cross - digunakan untuk menghubungkan dua perangkat jaringan yang
sama seperti misalnya concentrator dengan concentrator (hub dengan
hub) atau dapat juga untuk menghubungkan PC dengan PC. Susunan dari
kabel cross dapat dilihat pada gambar 2.16
45
Gambar 2.16 Susunan Kabel Cross
2.3.5.4 Kabel Serat Optik (Fiber Optic Cable)
Adalah suatu media yang digunakan dalam jaringan dengan kemampuan
menghantarkan transmisi cahaya termodulasi. Dibandingkan dengan media
jaringan lain, kabel ini harganya lebih mahal. Kelebihannya, fiber optik ini sama
sekali tidak terpengaruh oleh interferensi elektromagnetik dan memiliki data rate
yang lebih tinggi dibanding media lainnya. Bagian pemandu cahaya dari fiber
optik dinamakan core dan cladding. Core biasanya sejenis kaca yang sangat
murni dengan indeks refraksi yang tinggi. Ketika kaca inti (core glass) ini
dikelilingi oleh lapisan cladding dengan indeks refraksi yang rendah, cahaya
dapat tetap terperangkap di inti fiber. Proses ini dinamakan total internal
reflection, dan memungkinkan fiber optik ini seperti pipa cahaya, memandu
cahaya melalui jarak yang jauh bahkan pada kabel yang melengkung.
46
2.3.5.5 Gelombang Radio (Wireless)
Gelombang radio adalah gelombang elektromagnetik, yang dapat
merambat melalui ruang hampa di luar angkasa dan melalui media seperti udara.
Tidak diperlukannya media fisik bagi sinyal wireless ini memungkinkan cara
yang fleksibel dalam membangun sebuah jaringan. Saat ini teknologi nirkabel
sedang banyak digunakan oleh para penyedia jasa Internet (ISP) untuk
menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses dengan menggunakan kabel.
Tabel 2.10 Daftar Media, Bandwidth dan Jarak Maksimal
TIPE MEDIA
BANDWIDTH
JARAK MAKSIMAL
Coaxical Cable (ThinNet)
10-100 Mbps
185 m
Coaxical Cable (ThickNet)
10-100 Mbps
500 m
UTP (Ethernet 10BaseT)
10 Mbps
100 m
UTP (Ethernet 10BaseTX)
100 Mbps
100 m
Fiber Optic 100Base-FX
100 Mbps
2000 m
Fiber Optic 1000Base-LX
1000 Mbps (1Gbps)
3000 m
Teknologi yang sedang berkembang
2400 Mbps (2,4 Gbps)
40 Km
Gelombang Radio
10 Mbps
100 m
2.4 Wireless LAN
Wireless LAN yang biasa disingkat dengan WLAN merupakan sebuah jaringan
LAN yang nirkabel atau menggunakan gelombang radio sebagai perantaranya.
Backbone jaringan WLAN biasanya tetap menggunakan kabel dengan Wireless Access
Point untuk menghubungkan para pengguna nirkabel dengan jaringan menggunakan
kabel (wired network). WiFi (Wireless Fidelity) sendiri adalah istilah umum untuk
47
peralatan yang digunakan pada WLAN. Pada dasarnya cara bekerja WLAN mirip
dengan cara bekerja telpon tanpa kabel (wireless phone).
Ada beberapa alasan sederhana untuk menggunakan teknologi nirkabel, seperti
misalnya :
ƒ
Wireless sebagai bypass saluran telepon yang mahal dan amat lambat untuk
mengakses Internet.
ƒ
Wireless mudah diinstalasi, dapat dioperasikan dengan biaya yang relatif
murah dan tidak tergantung pada infrastruktur Telkom.
ƒ
Bekerja pada kecepatan yang tinggi yaitu : 11-22 Mbps untuk peralatan yang
mengikuti standar 802.11b
WLAN sudah diatur oleh lembaga IEEE berdasarkan spesifikasi 802.11. Pada
saat ini telah tersedia tiga spesifikasi yang dapat digunakan, yaitu :
•
802.11a – menggunakan frekuensi 5 Ghz dengan kecepatan 54 Mbps. Ini
adalah spesifikasi yang sedang populer.
•
802.11b – menggunakan frekuensi 2,4 Ghz dengan kecepatan 11 Mbps.
Ini merupakan spesifikasi yang pertama kali dipakai.
•
802.11g – menggunakan frekuensi 2,4 Ghz dengan kecepatan 54 Mbps.
Ini adalah spesifikasi terakhir yang diperkenalkan oleh IEEE.
48
Gambar 2.17 Wireless LAN
2.4.1 Peralatan Yang Dibutuhkan
Terdapat beberapa peralatan vital bila akan diimplementasikan suatu
jaringan LAN nirkabel. Dua diantaranya adalah antena dan access point.
ƒ
Access Point
Pada sisi Internet Service Provider (ISP)
dibutuhkan sebuah Access Point (AP)
untuk memberikan pelayanan pada klien
secara nirkabel. Pada dasarnya access
point berfungsi sebagai hub untuk klien
secara nirkabel dan sebagai bridge
ke jaringan LAN UTP. Beberapa Access
Gambar 2.18 Access Point
49
Point mungkin dilengkapi dengan fungsi-fungsi yang cukup kompleks seperti
misalnya DHCP Server, Firewall, NAT, proxy server yang sudah built-in di
dalamnya. Antena dari Access Point pada umumnya dapat diganti dengan
antena luar agar dapat dihubungkan dengan kabel coax. Beberapa fasilitas
proteksi biasanya disediakan di Access Point. Fasilitas ini dapat membatasi
akses sehingga hanya WLAN Card dengan MAC/ IP Address tertentu saja
yang dapat mengakses ke jaringan. Access point juga mampu menampung
ratusan client secara bersamaan. Beberapa vendor hanya merekomendasikan
belasan sampai sekitar 40-an client untuk satu access point. Meskipun secara
teori perangkat ini bisa menampung banyak namun akan terjadi kinerja yang
menurun karena faktor sinyal RF itu sendiri dan kekuatan sistem operasi
access point. Sekarang sistem operasi access point dikembangkan dengan
dasar prosesor i486 dan RAM 4-8 MB. Komponen logika dari access point
adalah ESSID (Extended Service Set Identification) yang merupakan standard
dari IEEE 802.11b. Dalam segi keamanan IEEE mengeluarkan standarisasi
Wireless Encryption Protocol (WEP), aplikasi yang sudah ada di dalam
setiap PCMCIA Card yang berfungsi mengenkripsi data sebelum ditransfer
ke sinyal RF, dan mengenkripsi kembali data dari sinyal RF.
ƒ
Antena
Pada dasarnya dibutuhkan antena luar untuk memperluas daya pancar. Ada
banyak tipe antena yang dapat digunakan tergantung pada lokasi dan
kebutuhan. Antena Omnidireksional biasanya digunakan pada Access Point
untuk memberikan akses Internet dalam radius 360° dan jarak dekat sekitar 1
50
sampai 4 Km dengan gain rendah yakni sekitar 3 – 10 dBi. Antena sektoral
digunakan pada Access Point utnuk memberikan akses Internet dalam radius
tertentu, umumnya adalah 90°, 120° dan 180° dengan gain antara 10-19 dBi.
Antena direksional (pengarah) biasanya diletakkan pada sisi klien atau
gateway WLAN sebagai sambungan langsung ke Access Point. Antena
direksional secara umum ada 2 jenis, yaitu Yagi dan Parabola. Antena Yagi
mempunyai gain sekitar 7-15 dBi sedangkan antena parabola 18-28 dBi.
Antena Yagi
www.beacon-link.co.uk
Antena Omnidireksional
Antena Parabola
http://www.telexwireless.com
www.pc-shop.hr
Gambar 2.19 Contoh Antena Wireless
Selain jenis-jenis antena yang telah disebutkan sebelumnya, klien
mempunyai pilihan untuk membuat antena sendiri dengan model seperti
antena kaleng susu, antena helical, antena yagi sederhana, dsb.
Menurut Onno (2003, p133) Menggunakan polarisasi antena yang tepat akan
memungkinkan untuk:
o Meningkatkan isolasi terhadap sumber sintal yang tidak di inginkan.
Diskriminasi oleh cros polarisasi (x-pol) biasanya sekitar 25 dB.
o Meredam interferensi.
o Mendefinisikan wilayah / daerah yang di cover (di servis).
51
Gambar pola radiasi antena omnidireksional dapat dilihat pada gambar 2.20
di bawah. Potongan medan horizontal memperlihatkan radiasi yang hampir
berbentuk lingkaran 360 derajat.
Gambar 2.20 Polarisasi Horizontal & Vertikal Antena Omnidireksional
Potongan medan vertikal memperlihatkan penampang yang medan yang
sangat tipis pada sumbu vertikal. Hal ini berarti hanya stasiun-stasiun yang
berada di muka antena saja yang akan memperoleh sinyal yang kuat, stasiun
yang berada di atas antena akan sulit memperoleh sinyal.
Tampak pada gambar 2.21 potongan medan horizontal antena sektoral yang
hanya melebar pada satu sisi saja. Sedang pada potongan medan vertikal-nya
sangat pipih seperti antena omnidireksional.
0
0
-15
-20
-15
-20
-30
270 0
-3
-6
-10
dB
-30
90
270
0
-3
-6
-10
dB
180
180
Gambar 2.21 Polarisasi Horizontal & Vertikal Antena Sektoral
90
52
Pada antena parabola medan polarisasi antena baik yang horizontal maupun
yang vertikal sangat lancip. Hal ini dikarenakan antena parabola mempunyai
penguatan yang besar, tetapi harus dikompensasikan dengan lebar beam
(beamwidth) yang sempit. Artinya juka arah antena tergeser sedikit, maka
sinyal akan hilang diujung yang lain.
Gambar 2.22 Polarisasi Horizontal & Vertikal Antena Parabola
Berbeda dengan antena parabola, walaupun antena yagi juga merupakan tipe
antena direksional polarisasinya bergantung pada jumlah anak Semakin
banyak anak radiator yang digunakan, semakin tinggi penguatan antenna
tersebut. Diperlihatkan pada gambar 2.23 di bawah ini. Bentuknya kira-kira
seperti bola baik pada potongan medan horizontal maupun vertikalnya.
Gambar 2.23 Polarisasi Horizontal & Vertikal Antena Yagi
53
ƒ
WLAN Interface
PCI WLAN Card, PCMCIA WLAN Card ataupun USB WLAN Card dapat
digunakan untuk dipasang di access point atau Mobile / Desktop PC. Bila
menggunakan card jenis PCI, maka untuk menyambungkan ke antena
eksternal dibutuhkan apa yang disebut dengan kabel pigtail sebagai
sambungan ke kabel coaxial. Kabel coax diusahakan jaraknya tidak lebih dari
10 meter untuk menjaga agar redaman tidak terlalu besar. Bila menggunakan
jenis USB yang sudah memiliki built-in antena, maka kabel pigtail tidak
dibutuhkan lagi bahkan jarak jangkau antena dapat mencapai beberapa
kilometer. Namun perlu diingat agar kabel USB yang ke PC ataupun ke
perangkat lain dibuat supaya tahan cuaca. Sedangkan jenis yang terakhir
yaitu PCMCIA merupakan jenis yang paling banyak digunakan dan
diproduksi belakangan ini.
PCMCIA WLAN Card
PCI WLAN Card
http://shop.acuista.com/
www.getyourtech.com
Gambar 2.24 Contoh WLAN Card
2.4.2
Cara Kerja WLAN
Sekarang, bagaimana data bisa bergerak di udara? Wireless LAN
mentransfer
data
melalui
udara
dengan
menggunakan
gelombang
54
elektromagnetik dengan menggunakan teknologi Spread-Sprectum Technology
(SST). Teknologi ini memungkinkan beberapa user menggunakan pita frekuensi
yang secara bersamaan. SST ini juga merupakan salah satu pengembangan
teknologi Code Divison Multiple Access (CDMA). Dengan urutan kode data
ditransfer ke udara dan diterima oleh tujuan yang berhak dengan kode tersebut.
Dalam teknologi SST ini ada dua pendekatan yang dipakai yaitu :
•
Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS), sinyal ditransfer dalam frekuensi
tertentu sebesar 17 MHz. Direct Sequences akan memancarkan signal dalam
pita yang lebar (17 MHz) dengan pemakaian pelapisan kode/signature untuk
mengurangi interferensi dan noise. Pada saat sinyal dipancarkan setiap paket
data diberi kode yang unik dan berurut untuk sampai ditujuan, di perangkat
tujuan semua sinyal terpancar yang diterima diproses dan di-filter sesuai
dengan urutan kode yang masuk. Kode yang tidak sesuai akan diabaikan dan
kode yang sesuai akan diproses lebih lanjut.
•
Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS), sinyal ditransfer secara
bergantian dengan menggunakan 1 MHz atau dalam rentang sebuah pita
frekuensi tertentu yang tetap. Secara periodik antara 20 sampai dengan 400
ms (milidetik) sinyal berpindah dari kanal frekuensi ke kanal frekuensi
lainnya.
2.4.3
Perhitungan Pada Pemasangan WLAN
Untuk mendapatkan performa yang baik dari pemasangan atau instalasi
WLAN ada beberapa perhitungan yang harus diketahui terlebih dahulu. Dan
55
harus diketahui batas daya pancar sinyal di antena yang diizinkan adalah 36
dBmW. Berikut adalah keterangan yang harus dihitung pada saat pemasangan
WLAN :
2.4.3.1 Free Space Loss (FSL)
Adalah daya pada sinyal radio yang hilang karena perambatan
diudara. Hal ini dapat diperhitungkan dengan mengetahui besar frekuensi
yang digunakan dan jarak antar antenanya. Perhitungannya adalah :
FSL (dB) = 20log [Frekuensi(MHz)] + 20log [Jarak(mile)] + 36.6
www.ilmukomputer.com
Gambar 2.25 Perhitungan Free Space Loss
36,6 adalah suatu konstanta yang butuhkan untuk menghitung Free Space
Loss bila jarak menggunakan satuan mil, bila menggunakan satuan
kilometer, akan berubah menjadi :
FSL (dB) = 32.45 dB + 20log[frekuensi(MHz)] + 20log[jarak(km)]
Dan bila menggunakan satuan meter akan menjadi :
FSL (dB) = 27.55 dB + 20log[frekuensi(MHz)] + 20log[jarak(m)]
56
Sebagai gambaran, untuk jarak sekitar satu (1) km dengan sinyal radio
yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz, akan terlihat Free Space Loss
sebesar 100 dB. Sebagai catatan 1 miles adalah sekitar 1,6 km.
2.4.3.2 System Operating Margin (SOM)
Hasil perhitungan SOM akan memperlihatkan apakah konfigurasi
yang dibuat telah mencukupi untuk menjangkau jarak yang diinginkan.
Perhitungan SOM ini akan melibatkan daya pancar, tipe antena, panjang
coax, sensitifitas penerima dan jarak yang harus ditempuh. Menurut Onno
(2003, p114) margin sistem operasi sebaiknya minimal 15 dB, agar aman
dari gangguan radio seperti Fading dan Multipath (halangan).
Perhitungannya adalah : SOM (dB) = Rx signal Level – Rx Sensitivity
www.ilmukomputer.com
Gambar 2.26 Perhitungan SOM
2.4.3.3 Fresnel Zone Clearence (FZL)
Perhitungan ini akan menghasilkan berapa tinggi minimal antena
yang diperlukan. Teori ini digambarkan sebagai bola rugbi antara dua
lokasi yang saling berhubungan. Untuk mendapatkan Line of Sight (LOS)
57
yang baik, 60% dari zona tersebut serta ditambahkan minimal 3 meter
harus bebas dari berbagai halangan/rintangan.
www.ilmukomputer.com
Gambar 2.27 Fresnel Zone Clearence
Clearence pada tabel 2.8 mentukan tinggi minimal dari halangan
yang paling tingi yang perlu disiapkan agar sinyal dapat diterima dengan
baik oleh penerima. Sebagai contoh, untuk jarak sekitar 4 km dibutuhkan
tower dengan ketinggian sekitar 7 meter lebih tinggi dari halangan yang
paling tinggi.
Tabel 2.11 Daftar Jarak dan Clearence Minimal
Jarak (km)
Clearence minimal (m)
1
3.3
3
6.0
4
7.0
5
7.5
6
8.3
7
9.0
58
2.4.3.4 Antena Down Tilt
Perhitungan Antena Down Tilt atau kemiringan antena harus
dihitung bila dua lokasi dengan jarak tertentu dan dengan tinggi lokasi
yang berbeda, dan dibutuhkan antena yang dimiringkan sedikit agar
sinyal radio dapat secara maksimal menuju ketinggian yang dituju.
www.ilmukomputer.com
Gambar 2.28 Kemiringan Antena
Satu hal lagi mengenai kemiringan antena adalah menhitung
berapa lebar wilayah yang akan menerima pancaran radio yang akan
dipasang pada Base Transmitter Station (BTS) dengan ketinggian dan
lebar beam pancaran antena tertentu.
59
www.ilmukomputer.com
Gambar 2.29 Antena Down Tilt Coverage Area
Sebagai contoh perhitungan, digunakan perhitungan SOM yang
tersedia dari http://www.swisswireless.org/wlan_calc_en.html
memasukkan data-data yang diperlukan seperti berikut :
Tx Power : 0.05 Watt / 16.99 dBm
Cable loss : 2,4 GHz | coax LMR 400 | panjang 1 m / 0.22 dB
Jarak antar antenna : 4 km / 112.441 dB
Antena gain tiap antena : 15 dBi
Receiver sensitivity : -82 dBm
dan
60
Gambar 2.30 Contoh Perhitungan SOM
Di gambar 2.30 terlihat bahwa nilai SOM didapat dikategorikan baik dan
sistem legal 31.77 dBm, yang didapat dari Tx Power – Cable Loss + Antena
Gain.
2.4.4
Wired LAN
Pada umumnya, jaringan LAN nirkabel masih terhubung dengan jaringan
LAN dengan kabel sebagai backbone ataupun sebagai backup. Hal ini
dikarenakan jaringan LAN yang mengandalkan radio dapat sewaktu-waktu
mengalami interferensi sehingga akan mengganggu aktifitas para pengguna jasa
Internet apabila jaringannya terputus.
2.5 ISP
2.5.1
Pengertian
ISP (Internet Service Provider) merupakan sebuah organisasi atau
perusahaan yang menyediakan akses ke Internet. ISP berskala kecil menyediakan
61
jasa via modem dan ISDN sedangkan ISP yang lebih besar menawarkan juga
pemasangan private line (T1, fractional T1, dsb.). Pada umumnya, pelanggan
akan diberikan tagihan dengan biaya tetap perbulannya, namun mungkin saja
terdapat biaya-biaya tambahan lainnya. Selain melayani pelanggan individual,
ISP juga melayani perusahaan-perusahaan besar dalam menyediakan koneksi
langsung dari jaringan komputer di perusahaan tersebut ke Internet. ISP sendiri
terhubung satu dengan yang lainnya melalui organisasi yang disebut dengan
Network Access Points (NAP). Dalam hubungannya dengan menyediakan jasa
Internet, ISP juga disebut dengan IAP (Internet Access Providers). Contoh ISP
yang ada di Indonesia, misalnya : Centrin, CBN, IndosatM2, dll.
2.5.2
Class Service
Terdapat 3 pembagian class service mengenai penyedia jasa Internet
antara lain adalah NSP, ASP dan ISP. ISP sendiri telah dijelaskan pada bagian
awal dari subbab ini.
2.5.2.1 NSP
Sebuah badan atau perusahaan yang menyediakan akses Internet
bagi ISP-ISP, terkadang disebut sebagai penyedia jaringan backbone.
NSP menawarkan akses langsung ke backbone dari Internet dan Network
Access Point.
2.5.2.2 ASP
Application Service Provider (ASP) adalah suatu badan atau
perusahaan yang menyediakan jasa aplikasi online untuk kegiatan bisnis.
ASP menyediakan bisnis seperti misalnya ISP dengan aplikasi dan
62
infrastruktur untuk menjalankan aplikasi melalui Internet. Aplikasiaplikasi ini biasanya disediakan melalui sebuah WAN (Wide Area
Network) dari sebuah pusat.
2.5.3 Layanan ISP
Contoh dari layanan-layanan yang diberikan oleh ISP misalnya :
•
sebuah alamat e-mail, web hosting, berita-berita terbaru melalui Internet,
akses ke Internet dan FTP (File Transfer Protocol) yang dibutuhkan
untuk upload data.
•
value-added services seperti kalender, search engine, webmail, IRC,
SMS, dan buku alamat. Bahkan ada juga ISP dengan layanan online
shopping.
•
backup, mengupdate dan mengupgrade layanan-layanan yang telah
diberikan, dan monitoring jaringan untuk memastikan tidak ada gangguan
pada koneksi.
•
Ada juga ISP yang menyediakan layanan penjualan dan juga perbaikan
hardware walaupun untuk itu user akan dikenakan biaya.
2.5.4 Kebutuhan ISP
Dalam mendesain ISP perlu untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan
ISP tersebut. Kebutuhan-kebutuhan ini dapat dibagi menjadi kebutuhan bisnis
dan fungsional.
63
Kebutuhan bisnis umumnya ditemukan dalam perencanaan bisnis, yang
menjelaskan tujuan bisnis, visi, misi, dan perencanaannya. Kebutuhan fungsional
mengacu kepada karakteristik desain dan hasil yang diharapkan.
2.6 Prinsip Arsitektur
Prinsip arsitektur merupakan hal-hal mendasar yang berhubungan dalam
mengelompokkan pertimbangan-pertimbangan mengenai suatu desain jaringan.
Tujuannya adalah mendapatkan suatu rancangan yang memenuhi semua
persyaratan bisnis, persyaratan fungsional, dan teknologi yang ada. Prinsip
arsitektur dikategorikan menjadi delapan bagian antara lain :
2.6.1 Skalabilitas (Scalability)
Yang dimaksud dengan skalabilitas adalah kemampuan dari suatu
jaringan untuk diperluas skalanya atau dengan kata lain adalah suatu rancangan
desain tersebut harus dapat memenuhi kebutuhan yang akan datang, bukan hanya
kebutuhan saat ini. Misalnya jaringan di perusahaan X hanya memiliki lima buah
switch, dan 1 router karena hanya terdiri dari beberapa PC dan Network. Desain
dari jaringan di perusahaan X akan dikatakan memenuhi prinsip skalabilitas
apabila suatu waktu perusahaan tersebut berkembang dan memiliki puluhan
hingga ratusan buah komputer, dan desain tersebut dapat diubah secara bertahap
menurut kebutuhan.
64
2.6.2
Ketersediaan (Availability)
Ketersediaan yang dimaksud disini adalah dalam desain atau rancangan
arsitektur jaringan, suatu sumber daya dan akses terhadap sumber daya tersebut
harus memenuhi prinsip availability yang berarti dapat diakses dengan mudah
ketika user membutuhkan.
2.6.3
Kehandalan (Reliability)
Selain memenuhi prinsip availability, desain jaringan juga harus
memenuhi prinsip kehandalan. Maksudnya adalah ketika seorang telah
mendapatkan akses terhadap suatu resources maka dapat dipastikan bahwa user
tersebut menginginkan data yang ia butuhkan ada dan dapat dipakai. Bila
resource tersebut ada namun ternyata tidak dapat digunakan, maka desain
tersebut belum memenuhi prinsip reliability. Bagi user, sebuah sistem dikatakan
reliable ketika mereka jarang menemui error message, bug, dan sebagainya.
Realibilitas bergantung pada ketersediaan, karena itulah dibutuhkan backupbackup bagi setiap resource yang dapat dilihat oleh user sehingga ketika mereka
membutuhkannya mereka mendapatkannya.
2.6.4 Mudah Diatur (Manageability)
Suatu desain jaringan juga harus dapat memenuhi prinsip manajemen,
yaitu mudah untuk dikelola oleh Admin atau orang yang berwenang bila akan
diadakan pelacakan sumber masalah ataupun upgrading komponen. Jika sebuah
desain terlalu rumit dan sulit untuk dijaga, ada kecenderungan untuk kesalahan
operasi dan manajemen, dan troubleshooting menjadi lebih sulit dan
menghabiskan waktu.
65
2.6.5
Kemampuan Beradaptasi (Adaptability)
Suatu desain dari sistem maupun jaringan bukanlah tidak mungkin untuk
tidak mengalami perubahan apapun sehingga siklus hidup sistem tersebut tidak
dapat dihindari. Prinsip adaptability dipenuhi ketika sebuah desain yang baru
diimplementasi dapat segera atau tidak membutuhkan waktu yang lama untuk
beradaptasi sehingga perubahan yang terjadi juga dapat diakomodasikan pada
pertumbuhan dan perubahan dalam teknologi, bisnis , dan kebutuhan user.
2.6.6 Keamanan (Security)
Prinsip keamanan merupakan salah satu prinsip yang cukup penting dari
desain suatu sistem atau jaringan. Security adalah gabungan dari proses, produk,
dan manusianya. Contoh desain yang memenuhi prinsip ini adalah desain
jaringan yang menggunakan server AAA untuk autentikasi, otorisasi dan
akunting atau bisa juga yang menggunakan perangkat firewall sebagai pencegah
dari hal-hal yang dapat menganggu keamanan. Dari perspektif arsitektur, sekuriti
berhubungan dengan akses ke jaringan, sistem yang digunakan, dan data
resources.
2.6.7
Performa (Performance)
Performa dalam prinsip arsitektur bisa berarti sistem yang cepat ataupun
sistem yang efisien. Setiap rancangan akan menghasilkan performa yang
berbeda-beda karena dibuat atas kebutuhan yang berbeda-beda pula. Sebagai
contoh : suatu sistem akan lebih mudah diatur dan memiliki kinerja yang lebih
baik ketika hanya berjalan dengan beberapa aplikasi, namun bila dijalankan
beberapa aplikasi sekaligus tentunya akan memperlambat kinerja. Untuk
66
mengatasi hal ini tentunya dalam rancangan yang dibuat, dibutuhkan prosesor
yang cepat dan RAM yang besar.
2.6.8
Open System
Suatu rancangan atau desain, idealnya menggunakan open system
sehingga arsitekturnya tidak bergantung pada piranti tertentu atau pada software
vendor. Membangun sistem dengan standar open system akan menyediakan
fleksibilitas bagi perubahan, seperti menambah user dan layanan serta
mengintegrasikan teknologi baru.
TEORI KHUSUS
2.7
Sistem Operasi Router (RouterOS)
Mikrotikls, yang juga diketahui sebagai Mikrotik, adalah sebuah perusahaan
peralatan jaringan yang berada di Latvia. Mereka menjual produk-produk untuk jaringan
nirkabel dan juga router. Perusahaannya sendiri bediri pada tahun 1995 dengan tujuan
merambah pasar teknologi wireless yang saat itu belum terkenal. Saat ini di tahun 2005,
perusahaan MikroTik memiliki kurang lebih 50 orang karyawan. Produk utama mereka
yang dikenal publik sebagai RouterOS, menjadikan seorang user untuk menggunakan
PC biasa menjadi router yang kaya fitur, misalnya saja firewall, VPN Server dan Client,
bandwidth shaper, wireless access point dan fitur lainnya yang biasa digunakan untuk
routing dan menghubungkan jaringan-jaringan menjadi satu.
RouterOS, dikombinasikan dengan perangkat keras yang mereka pasarkan
dengan nama RouterBOARD, menjadi sangat populer di kalangan WISP (Wireless
Internet Service Provider) yang berukuran kecil sampai sedang. Dalam perancangan
67
jaringan kali ini, digunakan sebuah sistem operasi router berbasiskan Linux yaitu
MikroTik RouterOS 2.9.2. RouterOS memberikan sebuah tampilan antarmuka yang
sangat berguna untuk konfigurasi. Kelebihan dari MikroTik ini antara lain:
Solusi yang efektif untuk masalah biaya karena MikroTik merupakan router dan
routerboard dengan banyak fitur dengan harga yang tidak terlalu mahal.
•
Tampilan antarmuka yang mudah digunakan
•
Kecepatan tranmisi data secara nirkabel yang tinggi (hingga 108 Mbps)
•
Jarak antar koneksi hingga 70 km tanpa memerlukan adanya repeater.
•
Konfigurasi dan monitoring dapat berlangsung bahkan ketika runtime
•
Memiliki fitur Network Address Translastion (NAT), Routing dan DHCP
dan fitur-fitur sekuriti seperti Firewall dan Secure Tunnel.
•
Catatan/Log dari setiap command yang dimasukkan
•
Memiliki kontrol yang baik terhadap queues, proxy, accounting dan
HotSpot
•
Instalasi mudah dan cepat baik untuk base station maupun client
Penggunaan akses Internet secara sharing dapat mempengaruhi kualitas jaringan.
Apalagi bila bandwidth tidak dikelola dengan benar. Terdapat banyak aplikasi-aplikasi
yang menggunakan koneksi Internet, ada yang membutuhkan delay yang minim namun
ada juga aplikasi yang merebut bandwidth sebesar-besarnya seperti aplikasi FTP dan ada
juga yang memakan bandwidth kecil seperti misalnya ping. Apabila tidak ada yang
mengatur jalannya aplikasi-aplikasi ini, maka satu aplikasi dapat saja “merebut”
68
bandwidth” dan aplikasi lain tidak mendapat bagiannya sehingga performa jaringan
menjadi menurun.
Quality of Service (QoS) memegang peranan penting dalam hal ini. Salah satu
teknik QoS yang digunakan adalah Hierarchical Token Bucket (HTB) yang menjamin
pengguna jaringan mendapatkan bandwidth sesuai yang didefinisikan. Selain itu juga
terdapat fungsi pembagian bandwidth yang adil diantara pengguna sehingga performa
jaringan tetap terjaga. HTB merupakan salah satu disiplin antrian (queueing discipline)
yang bertujuan untuk menerapkan link sharing secara presisi dan adil. Dalam konsep
link sharing ini, jika suatu kelas menggunakan kurang dari jumlah yang telah ditetapkan
untuknya, sisa bandwidth akan didistribusikan ke kelas-kelas lain yang membutuhkan.
Pada HTB terdapat parameter ceil sehingga kelas selalu mendapatkan bandwidth
diantara base rate dan nilai ceil-ratenya. Base rate yang dimaksud adalah standar besar
bandwidth yang dapat digunakan oleh sebuah kelas sedangkan ceil berarti besaran
maksimal yang dapat digunakan. Parameter ini dapat dianggap sebagai estimator kedua,
sehingga setiap kelas dapat meminjam bandwidth selama bandwidth total yang diperoleh
memiliki nilai di bawah ceil. Hal ini mudah diimplementasikan dengan cara tidak
mengijinkan proses peminjaman bandwidth saat kelas telah melampaui rate.
Cara kerja HTB :
o
Bila suatu paket masuk ke sebuah interface dalam jaringan (misal :
ethernet), maka paket tersebut akan dimasukkan ke dalam blok disiplin
antrian (qdisc).
o
Dalam blok qdisc ini, terdapat filter-filter yang akan menentukan
dimasukkan ke dalam kelas mana suatu paket dengan didasarkan pada
69
banyak faktor seperti alamat asal dan tujuan paket, port dan protokol
yang digunakan ataupun faktor-faktor lainnya.
o
Paket-paket yang telah difilter akan dimasukkan ke dalam kelas-kelas
yang telah didefinisikan sebelumnya. Setiap kelas memiliki nilai-nilai
rate tertentu untuk proses pengiriman data.
o
Akhirnya, setiap paket-paket yang telah dimasukkan dalam kelas masingmasing akan dikirim keluar sesuai dengan rate yang telah dialokasikan
pada masing-masing kelas.
RouterOS Mikrotik mendukung fitur-fitur queuing discipline (pengaturan
bandwidth) sebagai berikut :
ƒ
PFIFO - Packets First-In First-Out
ƒ
BFIFO - Bytes First-In First-Out
ƒ
SFQ - Stochastic Fairness Queuing
ƒ
RED - Random Early Detect
ƒ
PCQ - Per Connection Queue
ƒ
HTB - Hierarchical Token Bucket
Pengaturan bandwidth ini bertujuan untuk mencapai QoS yang memenuhi
standar. QoS yang dimaksud bukan selalu berhubungan dengan membatasi bandwidth
melainkan menyediakan bandwidth berkualitas. Berikut ini adalah beberapa fitur yang
disediakan oleh mekanisme pengaturan bandwidth pada MikroTik :
70
ƒ
membatasi besaran data rate untuk alamat IP, subnet, protokol, atau juga
port-port tertentu
ƒ
membatasi trafik jaringan peer-to-peer
ƒ
memprioritaskan paket-paket yang berasal dari jaringan tertentu
ƒ
menggunakan fitur queue burst untuk mempercepat browsing
ƒ
menggunakan queue pada jam-jam tertentu
ƒ
membagi trafik sama besar antar user
Proses queue tersebut diaplikasikan pada paket yang melewati router pada
interface publik atau pada interface yang menuju keluar jaringan pada router. QoS
dijalankan dengan mendrop paket-paket yang belum dibutuhkan atau tidak diinginkan,
paket-paket yang didrop akan dikirim ulang sehingga tidak perlu dikhawatirkan akan
terjadi kehilangan informasi-informasi yang terdapat pada paket TCP.
Pada umumnya, dapat dibuat sebuah queue pada sebuah interface, namun pada
RouterOS, queue-queue tersebut dilekatkan pada HTB utama dan karenanya memiliki
beberapa properti yang diambil dari queue diatasnya (parent queue). Contohnya, dapat
diset sebuah data rate maksimum untuk sebuah kelompok pada jaringan dan kemudian
mendistribusikan jumlah trafik tersebut kepada anggota-anggota dari kelompok tersebut.
Beberapa istilah yang digunakan pada HTB :
ƒ
queuing discipline (qdisc) – adalah sebuah algoritma yang menyimpan dan
mengatur queue dari paket-paket. Qdisc menspesifikasikan urutan dari paketpaket yang akan keluar (hal ini berarti qdisc dapat mengatur ulang paket yang
akan keluar). Qdisc juga akan memutuskan untuk men-drop paket-paket
tertentu bila tidak terdapat ruang untuk mereka.
71
ƒ
filter – sebuah prosedur untuk mengelompokkan paket-paket. Filter ini akan
bertanggung jawab untuk mengelompokkan paket sehingga paket-paket
tersebut diletakkan pada qdisc yang tepat.
ƒ
level – posisi secara hirarki dari sebuah kelas / kelompok
ƒ
inner class – sebuah kelas yang memiliki satu atau lebih kelas-anak yang
melekat padanya. Inner class tidak menyimpan paket apapun, tetapi mereka
akan melakukan pengaturan trafik.
ƒ
leaf class – sebuah kelas yang memiliki kelas diatasnya namun tidak
memiliki kelas di bawahnya. Leaf class biasanya terletak pada level 0 pada
hirarki. Masing-masing
leaf class memiliki sebuah qdisc yang melekat
padanya.
ƒ
self feed – sebuah objek yang merepresentasikan “jalan keluar” bagi paketpaket dari semua kelas yang aktif pada level hirarkinya.
ƒ
self slot – sebuah elemen dari self feed yang berhubungan dengan prioritas
masing-masing.
ƒ
active class (pada level tertentu) – adalah sebuah kelas yang dilekatkan pada
sebauh self slot pada level yang diberikan.
ƒ
inner feed – objek yang menyerupai self feed, terdiri dari inner self slots,
yang ada pada setiap inner class
ƒ
inner feed slot – menyerupai self slot. Setiap inner feed terdiri dari inner slots
yang merepresentasikan sebuah prioritas.
72
2.8
RADIUS (Remote Authentication Dial In User Service)
RADIUS pertama kali dikembangkan oleh Livingston Enterprises untuk seri
PortMaster milik mereka untuk Network Access Servers, dan kemudian pada tahun 1997
dipublikasikan sebagai RFC 2138 dan RFC 2139. Saat ini, beberapa aplikasi RADIUS
yang open-source telah banyak dikembangkan dengan masing-masing memiliki fitur
yang berbeda-beda namun semuanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama dapat melihat
daftar user pada file teks, server-server LDAP, dan bermacam database lainnya.
RADIUS pada umumnya dapat dikembangkan sendiri, banyak vendor dari perangkat
keras dan perangkat lunak RADIUS mengimplementasikan apa yang mereka
kembangkan sendiri. RADIUS yang digunakan adalah freeradius.
RADIUS merupakan suatu inovasi baru yang ditemukan karena adanya
kebutuhan untuk suatu metode autentikasi, otorisasi dan akunting.
ƒ
Ketika user terkoneksi kepada ISP menggunakan modem, DSL, kabel
ataupun koneksi nirkabel, user harus memasukkan username dan password
miliknya. Informasi ini akan diteruskan kepada sebuah perangkat NAS
(Network Access Server) melalui protokol PPP (Point-to-Point Protocol), lalu
diteruskan lagi kepada sebuah server RADIUS dengan protokol RADIUS.
Protokol PPP ini merupakan kelanjutan dari protokol SLIP (Serial Line
Interface Protocol) yang merupakan standar protokol untuk hubungan PPP
interface serial yang menggunakan protokol TCP/IP. PPP memiliki sarana
tambahan berupa proses autentikasi untuk keamanan ketika sedang
melakukan koneksi serta menunjang protokol lainnya seperti protokol IPX.
PPP juga dapat digunakan untuk encapsulation suatu interface fisik seperti
73
ISDN, serial dan HSSI. Sesampainya di RADIUS, data akan diverifikasikan
untuk memastikan bahwa user tersebut memang terdaftar dan informasi yang
diberikan olehnya sesuai dengan yang ada pada server. Tahap awal ini
disebut dengan proses authentikasi.
ƒ
Setelah user terauthentikasi, selanjutnya NAS harus menentukan layanan apa
sajakah yang boleh digunakan oleh user. Tahap ini disebut dengan otorisasi.
ƒ
Setelah kedua tahap awal tersebut selesai, NAS akan menghubungkan user
dengan server utama. Koneksi inilah yang dinamakan sesi dari user (user
session). Tahap terakhir akan dijalankan yaitu akunting. NAS akan mencatat
waktu dimulainya sesi, waktu berakhir dan semua besaran paket yang
ditransfer ketika sesi itu.
Pada contoh topologi jaringan di Gambar 2.31, user yang menggunakan
workstation akan di-route oleh switch ke server RADIUS setiap kali user melakukan
proses permintaan koneksi. User akan diauthentikasi dengan menggunakan protokolprotokol authentikasi seperti misalnya PAP, CHAP dan EAP. DES, S/Key, TACACS,
dan MS-CHAP (MD4)
74
www.handlink.com.tw
Gambar 2.31 Contoh Topologi Jaringan dengan RADIUS
Server RADIUS akan memverifikasi informasi dari user menggunakan skema
autentikasi seperti PAP atau CHAP.
•
Password Authentication Protocol (PAP) adalah suatu protokol autentikasi.
Cara kerjanya adalah seorang user mengirim permohonan autentikasi. Jika
nama dan password yang dimiliki cocok, router lokal pada jaringan LAN
akan mengirimkan tanda bahwa permohonan diterima. Oleh karena proses
autentikasi yang sangat sederhana, penggunaan PAP ini tidak menjamin
keamanan karena password yang dikirim melalui jaringan tidak dienkripsi
terlebih dahulu.
75
•
Challenge Handshake Authentication Protocol (CHAP). Pada protokol ini,
router lokal mengirimkan paket CHAP yang berisi suatu ID, nomor
random dan nama dari router lokal. Server RADIUS harus memberikan
jawaban berupa ID yang dienkripsi, nomor random dan nama dari server
RADIUS. Kemudian router lokal akan memeriksa dan membandingkan
jawaban yang diterima. Protokol CHAP maupun MS-CHAP, relatif lebih
aman dibandingkan dengan PAP karena user ID dan password yang
ditransmisikan telah dienkripsi.
Selain kedua protokol diatas, terdapat juga protokol lainnya seperti EAP
(Extensible Authentication Protocol) dan Shiva Password Authentication Protocol
(SPAP). Cara kerja EAP adalah sebagai berikut : seorang user akan melakukan
permintaan autentikasi melalui access point yang dilaluinya. Access point tersebut akan
meminta data identifikasi (ID) dari user tersebut dan meneruskannya kepada server
RADIUS yang lalu akan meminta keabsahan dari ID tersebut kepada access point.
Setelah access point mendapatkan verifikasi dari user dan meneruskannya pada
RADIUS, user tersebut akan terkoneksi ke dalam jaringan seperti yang diminta,
sedangkan SPAP memiliki cara kerja yang hampir sama dengan PAP namun memiliki
perbedaan pada beberapa hal seperti misalnya : password pada protokol SPAP telah
dienkripsi sehingga lebih menjamin keamanan, serta SPAP dapat digunakan pada Shiva
AccessPort dan LanRoverTM. Shiva AccessPort sendiri telah dinyatakan mencapai End
of Life atau akan dihentikan produksinya oleh Intel pada 31 Desember 2005 ini.
Standar dari RADIUS didefinisikan pada RFC 2865 (mengenai autentikasi dan
otorisasi) dan RFC 2866 (akunting). RFC-RFC lain yang berhubungan antara lain RFC
76
2548, RFC 2607, RFC 2618, RFC 2619, RFC 2620, RFC 2621, RFC 2809, RFC 2867,
RFC 2868, RFC 2869, RFC 2882, RFC 3162 dan RFC 3576.
2.9
PPPoE
Point-to-Point Protocol over Ethernet (PPPoE) adalah sebuah aturan yang
menspesifikasikan bagaimana sebuah PC berinteraksi dengan broadband modem
(misalnya xDSL, cable, wireless, dsb). Dengan bersandarkan pada dua buah standar
yang telah diterima, Ethernet dan point-to-point protocol (PPP), implementasi PPPoE
tidak berbeda jauh dengan implementasi dial-up biasa. PPPoE juga memberikan
keuntungan bagi ISP dengan memaksimalkan jaringan Ethernet yang telah berjalan serta
meminimalkan gangguan yang berasal dari infrastruktur dial-up milik yang ada pada ISP
tersebut. Prinsip dasar dari protokol ini didefinisikan pada RFC 2516.
Pada umumnya ISP mengimplementasikan PPPoE untuk menggantikan
pengalamatan IP statik atau sistem DHCP yang tidak menggunakan authentikasi dan
proses akunting. Pada pihak end user, hanya terdapat beberapa perubahan dalam koneksi
yang menggunakan PPPoE, seperti misalnya untuk koneksi ke Internet, user harus selalu
melewati proses authentikasi terlebih dahulu. PPPoE – seperti juga PPP yang melalui
jalur telepon (dial-up) – akan menghubungkan sebuah komputer ke dalam jaringan
Internet. PPPoE tidak mendukung trafik yang multi-destination (contohnya: paket-paket
multicast dan broadcast). Singkatnya, PPPoE mengadakan sebuah sesi PPP dan
mengenkapsulasikan trafik tersebut ke dalam PPP dengan menggunakan jalur ethernet
yang ada.
77
Juga harus diperhatikan bahwa dikarenakan PPPoE menggunakan layer protokol
tambahan, ukuran maksimum dari paket IP (MTU - Maximum Transmission Unit) akan
menjadi lebih kecil dibanding sebelumnya. Pada dasarnya, paket yang berada dalam
sebuah jaringan memiliki ukuran maksimal 1500 bytes yang merupakan standar MTU
pada ethernet. Paket berukuran 1500 bytes ini lebih besar dibandingkan dengan ukuran
paket maksimum yang dimungkinkan pada PPPoE sehingga disarankan agar setiap
perangkat yang mengirimkan data dengan koneksi PPPoE HARUS memiliki MTU lebih
kecil dibandingkan 1500. (contohnya 1492 bytes, dimana 8 bytesnya merupakan PPPoE
header). Salah satu cara untuk menentukan ukuran paket MTU yang harus digunakan
bila menggunakan sistem operasi Windows adalah sebagai berikut :
1. Pada DOS Prompt (Klik Start Menu -> Run -> ketik "cmd" -> Klik "OK") ,
ketikkan :
ping -f -l [ukuran paket] [alamat url dari isp]
[ukuran paket] adalah jumlah data yang akan dikirimkan di bawah 1500 bytes.
Gambar 2.32 Mencari Nilai MTU Pada Sebuah Jaringan
78
2. Ambil nilai terbesar yang tidak mengembalikan pesan error "Packet needs to be
fragmented, but DF set" dan tambahkan nilai tersebut dengan 28 (pastikan tetap
tidak melebihi 1500) dan jadikan nilai tersebut MTU.
3. Catatan: atur default receive window menjadi (MTUValue - 40)*128
Gambar 2.33 PPPoE Discovery Stage
Sesuai dengan Gambar 2.33, tahapan dari discovery stage milik PPPoE meliputi
4 tahap, yaitu : initiation, offer, request, dan session confirmation yang menggunakan 4
buah paket, yaitu :
1)
Paket PPPoE Active Discovery Initiation (PADI)
Klien PPPoE akan mengirim paket PADI kepada alamat broadcast. Paket
ini akan memeriksa field service-name jika sebuah service name
dimasukkan pada properties dari dial-up networking. Bila tidak ada service
name yang diinput, paket ini tidak akan diteruskan kepada PPPoE server.
79
2)
Paket PPPoE Active Discovery Offer (PADO)
PPPoE server, yang pada penelitian menjadi satu dengan Access
Concentrator (AC), harus merespon kepada paket PADI dengan sebuah
PADO jika PPPoE server yang digunakan pada jaringan dapat menemukan
field nama dari AC atau service-name yang dimaksud pada paket PADI.
Paket PADO akan dikirim ke alamat unicast klien. Paket PADO harus
memiliki salah satu dari nama AC, atau service-name yang identik pada
paket PADI. Bila tidak terdapat nama AC atau service-name yang
disebutkan pada paket PADI, PPPoE server tidak dapat merespon klien
dengan paket PADO.
3)
Paket PPPoE Active Discovery Request (PADR)
Dikarenakan paket PADI merupakan paket yang dibroadcast, host atau
klien dapat saja menerima lebih dari satu buah PADO (bila terdapat lebih
dari satu PPPoE server). Kemudian klien memeriksa setiap paket tersebut
dan kemudian memilih salah satu dengan berdasarkan pada nama AC atau
service-name yang digunakan. Lalu klien akan mengirim sebuah paket
PADR kepada pengirim PADO yang dipilihnya. Paket tersebut dikirimkan
kepada alamat unicast milik AC.
4)
Paket PPPoE Active Discovery Session-confirmation (PADS)
Bila PADR telah diterima, router akan membuat sebuah Session ID untuk
sesi dial-up atau PPP dan mengembalikan ID tersebut kepada klien PPPoE
di dalam paket PADS. Paket ini akan dikirim kepada alamat unicast milik
klien. Paket PPPoE Active Discovery Terminate (PADT) dapat dikirimkan
oleh klien kapan saja untuk mengakhiri sesi PPPoE.
80
PPPoE digunakan ISP dengan sistem authentikasi RADIUS pada layanan dial-up
pada jaringan berbasiskan Broadband / Ethernet. Dial- up adalah PPP, sedangkan
kebanyakan koneksi Broadband menggunakan Ethernet, keduanya menjadi dasar dari
ditemukannya konsep PPPoE.
2.10 PHP
Oleh penciptanya, Rasmus Lerdorf, PHP disebut Personal Home Page namun
dapat juga disebut sebagai PHP : Hypertext Preprocessor. Pada mulanya, PHP didesain
utamanya adalah untuk menangani jurnal/log dan pembuatan form pada sisi server dan
bukanlah sebuah bahasa pemrograman scripting melainkan hanya sekumpulan alat bantu
untuk mengelola situs Web. PHP sendiri merupakan salah satu bahasa pemrograman
yang belakangan ini sangat banyak digunakan oleh para desainer dan programmer web.
Dalam 4 tahun terakhir, perkembangan PHP mencapai angka 230%. Terdapat beberapa
alasan yang dapat menjelaskan angka pertumbuhan yang cukup fenomenal ini :
•
PHP adalah sebuah bahasa pemrograman pada sisi server yang Open Source.
•
PHP menyediakan sintaks yang hampir mirip dengan yang digunakan di
dalam bahasa C, Perl dan Java
•
PHP menyediakan koneksi yang cepat dan mudah dengan database yang
populer seperti misalnya MySQL
•
PHP berjalan dengan baik dan dapat diandalkan baik di dalam sistem
Windows, Linux dan Mac
•
Halaman web PHP dapat dibuka dengan browser-browser yang populer
81
•
Array asosiatif milik PHP sangat berguna untuk aplikasi-aplikasi User
Interface dan database
•
Konsep dan class milik PHP mudah dimengerti
•
PHP dapat menghasilkan atau membuat file-file dengan ekstensi yang sudah
terkenal dan banyak digunakan misalnya : PDF, SWF, XML, Java, Word
document, dsb.
2.10 MySQL
MySQL yang merupakan salah satu sistem database paling populer merupakan
implementasi open source dari SQL yang dapat digunakan dalam ragam tujuan. Pada
tahun 1970, ketika era PC dimulai, sebuah buku mengenai CP/M (sistem operasi yang
paling terkenal saat itu) menyebutkan bahwa ada tiga buah kategori utama dari
pengembangan piranti lunak yaitu : pengolah kata (word processing), spreadsheets, dan
basis data (database). Sebuah standar untuk tampilan dari database yang disebut dengan
SQL (dibaca “sequel”) merupakan cikal bakal dari lahirnya MySQL. PHPMyAdmin
merupakan tampilan antarmuka berbasiskan web yang mempermudah bahkan seorang
pengguna amatir untuk mengakses database MySQL. Integrasi PHP dan MySQL
menjadikan sebuah situs menjadi lebih mudah dikelola. .
Sementara itu ada beberapa alasan kenapa mengintegrasikan PHP dan MySQL.
Beberapa diantaranya adalah :
o MySQL cepat, mudah digunakan dan gratis. Menurut MySQL benchmark
(uji produk), MySQL dikatakan cepat bila dibandingkan dengan PostgreSQL,
AdaBas D, Empress, dan Solid, pada sistem Linux. MySQL juga lebih cepat
82
dari Access 2000, DB2, Informix, MS-SQL, Solid, Sybase, dan Oracle 8.0.3,
pada Windows platforms. MySQL mudah untuk didapat dan diinstall dan
karena MySQL dilisensi dibawah GNU General Public License (GPL), tidak
perlu membayar apapun bila ingin menggunakan MySQL ini.
o Server MySQL biasanya terletak di dalam jaringan dan dapat diakses dari
manapun dalam Internet. Untuk mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan
MySQL memiliki akses kontrol penuh untuk menentukan level akses dari
setiap user.
o MySQL dapat digunakan pada banyak platform sehingga lebih mudah untuk
mengembangkan aplikasi yang berhubungan dengan database yang
multiplatform. Bahasa pemrograman PHP dan Perl/DBI adalah dua cara
untuk mengembangkan aplikasi lintas platform.
2.11 Program Pemantau Jaringan
Multi Router Traffic Grapher (MRTG) adalah tool untuk memonitor traffic pada
jaringan. MRTG menghasilkan halaman HTML yang berisi gambar yang menyediakan
visualisasi secara langsung mengenai keadaan traffic jaringan. MRTG terdiri atas skrip
Perl yang menggunakan SNMP untuk membaca counter traffic yang masuk atau keluar
dari router atau peralatan jaringan. Dan program C akan mencatat data traffic tersebut
kedalam file database dan membuat grafik yang menggambarkan trafik ada jaringan
yang sedang dimonitor. Grafik itu sudah termasuk dalam halaman web yang dapat
dilihat dengan web browser.
83
Selain tampilan harian, MRTG juga membuat representasi visual dari traffic
yang terlihat selama tujuh hari terakhir, empat minggu terakhir, dan 12 bulan terakhir.
Hal itu memungkinkan karena MRTG menyimpan log dari semua data yang telah
dikumpulkan dari peralatan yang diamati. Data log tersebut otomatis digabungkan dan
dianalis, sehingga data log tersebut besarnya tidak membludak, tapi masih mengandung
semua data yang berhubungkan untuk semua traffic yang terlihat selama dua tahun
terakhir. Semua dilakukan dengan cara yang efisien. MRTG dapat memonitor 50 atau
lebih interface pada jaringan.
Untuk
membuat
sebuah
grafik
hasil
pemantauan
(monitoring)
dapat
menggunakan MRTG. Namun terdapat beberapa keterbatasan yang dimiliki MRTG,
seperti misalnya pada bagian fleksibilitas penggambaran grafik. Dengan RRDtool, dapat
ditentukan sendiri skala, ukuran, dan warna dari grafik yang akan dibuat. Contohnya:
image keluaran MRTG umumnya akan memiliki axis Y dimulai pada angka nol (0), jika
hanya diinginkan untuk melihat nilai-nilai tertentu yang dibutuhkan (misalnya sedang
memantau temperatur dan membutuhkan hanya nilai 50 F-90 F) maka tidak dapat
berbuat apa-apa untuk mengubahnya, atau bila diinginkan untuk melihat trafik dari 10
buah server, maka terpaksa digunakan 10 buah grafik yang berbeda sedangkan bila
menggunakan RRDtool, dapat digabungkan 10 buah grafik tersebut menjadi sebuah
gambar saja. Intinya adalah RRDtool melengkapi apa yang MRTG tidak dapat lakukan
dan menyediakan banyak kustomisasi yang sulit atau hampir mustahil dilakukan bila
menggunakan MRTG.
RRDtool adalah sebuah perangkat (tool) Round Robin Database. Round robin
adalah sebuah teknik yang dilakukan pada sekumpulan data dengan jumlah yang tetap
84
dan memiliki pointer yang menunjuk pada elemen atau bagian tertentu pada data
tersebut. Analoginya adalah sebuah lingkaran yang terdiri dari titik-titik pada
sekelilingnya (titik-titik ini adalah tempat-tempat dimana data dapat disimpan).
Gambarkan sebuah anak panah dari pusat lingkaran ke salah satu titik pada keliling
lingkaran tersebut (ini adalah pointer). Ketika data saat itu dibaca atau ditulis, pointer
akan bergerak ke elemen selanjutnya. Karena berupa lingkaran, maka data-data tersebut
dapat dikatakan tidak memiliki titik awal ataupun titik akhir sehingga pointer dapat
berputar terus-menerus sampai pada suatu waktu, seluruh ruang yang tersedia telah
digunakan dan proses akan secara otomatis menggunakan lokasi yang lama. Dengan
begini, kumpulan data tersebut tidak akan bertambah besar ukurannya dan karenanya
tidak membutuhkan maintenance yang rumit.
Seluruh data, selama berupa data yang dihasilkan berdasarkan waktu tertentu
dapat dimasukkan ke dalam RRD. Maksudnya adalah selama dapat diukur beberapa
nilai dengan beberapa ketentuan waktu dan memberikan informasi-informasi tersebut ke
dalamnya, RRDtool akan dapat untuk menyimpan data-data tersebut. Nilai yang
diberikan kepada RRDtool harus berupa numerik, walaupun tidak harus berupa integer.
RRDtool bekerja dengan menggunakan SNMP (Simple Network Management
Protocol). Yang dimaksud 'simple' disini adalah protokolnya bukannya mudah (simple)
untuk mengatur atau memonitor suatu jaringan. SNMP digunakan untuk melakukan
query pada perangkat untuk memberikan suatu nilai (value – dapat berupa OID) yang
mereka miliki. Value dari perangkat tersebutlah yang akan disimpan di RRD.
Pada penelitian kali ini, digunakan RRDtool untuk menyimpan dan memproses
data via SNMP. Data tersebut akan berupa jumlah bytes atau bits yang ditransmisikan
dari dan kepada sebuah jaringan atau komputer. Namun RRDtool dapat juga digunakan
85
untuk mengukurkan radiasi sinar matahari, konsumsi energi, jumlah pengunjung dari
sebuah pameran, tingkat kebisingan pada suatu airport, temperatur (suhu) di lokasilokasi tertentu dan masih banyak lagi lainnya. Yang dibutuhkan hanyalah sebuah
perangkat untuk mengukur data yang ingin ditampilkan pada bentuk grafik dan untuk
menginformasikan data-data tersebut kepada RRDtool. RRDtool lalu akan menciptakan
sebuah database, menyimpan data-data di dalamnya, mengambil data tersebut dan
menampilkannya dalam bentuk grafik berformat PNG untuk ditampilkan pada sebuah
web browser. Gambar-gambar berformat PNG tersebut bergantung pada data yang telah
dikumpulkan. Pada kasus kali ini, berupa trafik sebuah jaringan.
Download