BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
A.
KAJIAN PUSTAKA
1.
Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori keagenan ini dikembangkan oleh Jensen dan Meckling (1976). Teori
keagenan
merupakan sebuah teori yang berkaitan dengan hubungan
principal
dengan agent. Teori keagenan ini membuat sebuah model mengenai suatu hubungan
kontraktual antara manajer
(agent) dengan pemilik (principal). Principal
mendelegasikan suatu tanggung jawab pengambilan keputusan
kepada manajer
(agent) sesuai dengan kontrak kerja. Tugas, wewenang, hak dan tanggung jawab
agent dan principal diatur dalam kontrak kerja yang didepakati bersama.
Teori keagenan mulai berlaku ketika terjadi hubungan kontraktual antara
pemilik modal (principal) dan
agent.
Principal yang tidak mampu mengelola
perusahaannya sendiri menyerahkan tanggung jawab operasional perusahaannya
kepada
agen sesuai dengan kontrak kerja. Pihak manajemen sebagai
agen
bertanggung jawab secara moral dan professional menjalankan perusahaan sebaik
mungkin untuk mengoptimalkan operasi dan laba perusahaan. Sebagai imbalannya,
manajer sebagai agen akan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak yang ada.
Sementara pihak principal melakukan kontrol terhadap kinerja agent untuk
11
12
memastikan modal yang dimiliki dikelola dengan baik. Motifnya tentu saja agar
modal yang telah ditanam berkembang dengan optimal.
Pihak principal sebagai pemilik modal dan pihak yang memberikan mandat
terhadap manajer, memberikan kewajiban kepada agen untuk memberikan laporan
mengenai kondisi perusahaan. Laporan yang diberikan dapat berupa pengungkapan
informasi akuntansi seperti laporan keuangan. Hal tersebut berguna sebagai sarana
pengawasan terhadap agent oleh para principal, untuk memastikan modal yang
mereka tanamkan berkembang dengan baik. Jika kinerja agen yang ditunjukkan
dalam laporan yang diterima oleh
principal tidak memuaskan, principal dapat
mengambil tindakan sesuai dengan kontrak yang telah dibuat. Dengan demikian di
dalam satu perusahaan terdapat dua kepentingan yang berbeda. Kepentingan untuk
mengoptimalkan keuntungan bagi perusahaan milik principal dan kepentingan
pribadi agen yang memegang tanggung jawab besar untuk mendapatkan imbalan
yang besar pula, dengan kata lain kepentingan pribadi agen sendiri.
Teori keagenan lebih menekankan pada penentuan pengaturan kontrak yang
efisien dalam hubungan principal dan agent. Kontrak yang efisien adalah kontrak
yang berisi gambaran yang jelas mengenai hak dan kewajiban principal dan agent,
sehingga dapat meminimumkan konflik keagenan dan meminimalisir biaya keagenan
(agency cost). Hubungan antara principal dan agent ini, merupakan hal mendasar
bagi praktek penerapan corporate governance secara luas. Hal ini dapat kita lihat
13
dalam teori-teori yang melandasi pengertian mengenai perusahaan sebagai tempat
penerapan corporate governance (tata kelola perusahaan).
Perusahaan/korporasi dapat dipandang dari dua teori, yaitu (a) teori pemegang
saham (shareholding theory), dan (b) teori stakeholder (stakeholding theory) (Tjager,
2003). Shareholding theory menyatakan bahwa perusahaan didirikan dan dijalankan
untuk tujuan memaksimumkan kesejahteraan pemilik/pemegang saham sebagai
akibat dari investasi yang dilakukannya. Sementara
itu,
Stakeholding theory,
menyatakan bahwa perusahaan adalah organ yang berhubungan dengan pihak lain
yang berkepentingan, baik yang ada di dalam maupun di luar perusahaan. Corporate
Governance berkaitan dengan bagaimana para stakeholder (principal) mendapatkan
jaminan dan keyakinan bahwa manajer perusahaan (agent) akan memberikan
keuntungan
bagi
mereka
dan
tidak
menyalahgunakan
wewenang
atau
menginvestasikan modal ke dalam proyek yang tidak menguntungkan. Dalam artian
sempit, teori keagenan sebagai dasar penerapan corporate governance diharapkan
dapat berfungsi untuk menekan atau menurunkan biaya keagenan dan sebagai rujukan
bagaimana para investor mengontrol para manajer. Secara luas,
corporate
governance diharapkan dapat memberikan keyakinan kepada para investor bahwa
mereka akan menerima tingkat pengembalian atas dana yang telah mereka
investasikan.
14
2.
Good Corporate Governance
2.1
Pengertian Good Corporate Governance
Perusahaan terutama perusahaan go public dalam menjalankan aktivitasnya
semakin bergantung dari pembiayaan eksternal, misalnya melalui modal dan
pinjaman. Berkaitan dengan masalah keagenan, corporate governance yang merupakan
konsep yang didasarkan pada teori keagenan, diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk
memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return
atas dana yang telah mereka investasikan (Darmawati dkk., 2004)
Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) tahun 2001
dan Ramadhani (2008) mendefenisikan:
“Good Corporate Governance sebagai seperangkat peraturan yang mengatur
hubungan antara pemegang saham, pengurus perusahaan, pihak kreditur,
pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal
lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain
suatu sistem yang mengendalikan perusahaan dengan tujuan menciptakan nilai
tambah bagi semua pihak yang berkepentingan”.
Dan menurut The Organization for Economic Corporation dan Development
(OECD) corporate governance adalah:
“Sistem yang dipergunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan
perusahaan, mengatur pembagian tugas hak dan kewajiban mereka para pemegang
saham, dewan pengurus, para manager, dan yang berkepentingan terhadap
kehidupan perusahaan”.
Sedangkan menurut Komite Cadbury dikenal dengan sebutan Cadbury Report
pada Bankir May, 2011 mempunyai arti yaitu:
“prinsip yang mengarahkan dan Good Corporate Governance
mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta
kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada
shareholder pada umumnya dan kepada stakeholder pada khususnya”.
15
Berdasarkan dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa corporate
governance pada intinya adalah mengenai suatu sistem, proses, dan seperangkat
peraturan yang digunakan untuk mengatur hubungan antara berbagai pihak yang
berkepentingan sehingga dapat mendorong kinerja perusahaan bekerja secara efisien,
menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para
pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan.
Menurut Daniri (2005) dalam Ramadhani (2008) manfaat penerapan
corporate governance adalah (1) Memberikan kerangka acuan yang memungkinkan
pengawasan perusahaan berjalan efektif. (2) Mengurangi agency cost, yaitu suatu
biaya yang harus ditanggung pemegang saham sebagai akibat pendelegasian
wewenang kepada pihak manajemen. (3) Mengurangi biaya modal (cost of capital),
yaitu sebagai dampak dari pengelolaan perusahaan yang baik. (4) Meningkatkan nilai
saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra perusahaan di mata public
dalam jangka panjang. (5) Menciptakan dukungan para stakeholders (para pemangku
kepentingan) dalam lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan perusahaan
dan berbagai strategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan.
Tujuan puncak good corporate governance di perusahaan-perusahaan
menciptakan nilai perusahaan melalui kinerja yang berkesinambungan sebagai hasil
dari pelaksanaan bisnis secara tepat (Global Association of Risk Professionals, 2005).
Tri Gunarsih (2003) dalam Sugiarto (2006) menjelaskan : bahwa perlunya
16
corporate governance untuk mengendalikan perilaku pengelola perusahaan agar
dalam bertindak tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri, atau dengan kata lain
untuk menyamakan kepentingan antara pemilik perusahaan dan pengelola
perusahaan. Kepentingan utama pemilik dana adalah memperoleh return yang
memadai atas dana yang ditanamkan. Pengelola akan mengutamakan kepentingan
pemilik apabila aktivitas yang dilakukan dan keputusan yang diambil ditujukan untuk
meningkatkan nilai perusahaan, yang berarti juga akan meningkatkan kekayaan
pemilik.
2.2
Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance
Prinsip Good Corporate Governance (GCG) tertuang dalam enam pilar
pelaksanaan konsep GCG yaitu: (1) sistem perlindungan hak pemegang saham; (2)
visi, misi, dan rencana strategi yang jelas; (3) Keseimbangan peran dan fungsi organ
perusahaan; (4) Sistem akuntansi dan sistem informasi manajemen yang menjamin
transparansi; (5) Manajemen pengendalian resiko, kepatuhan dan peraturan, dan
sistem audit yang handal; dan (6) Sistem pengukuran kinerja dan pengembangan
sumber daya manusia.
Manajemen perlu memperhatikan prinsip-prinsip good corporate governance
sebagaimana
yang
diuraikan
Organization
for
Economic
Cooperationand
Development dalam FCGI (2000), yaitu :
1.
Transparancy (keterbukaan). Prinsip ini menyatakan keterbukaan dalam
melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam
17
mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan.
Perusahaan harus mengambil tindakan inisiatif untuk mengungkapkan tidak
hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi
juga hal yang penting untuk mengambil keputusan oleh pemegang saham,
kreditur, serta pemangku kepentingan lainnya.
2. Accountability (Akuntabilitas). Prinsip ini membuat kejelasan fungsi, struktur,
dan sistem pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan
perusahaan
terlaksana
secara
efektif.
Perusahaan
harus
dapat
mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu
perusahaan harus dikelola secara benar, terukur, dan sesuai dengan
kepentingan perusahaan dengan tiap memperhitungkan setiap kepentingan
pemegang saham lainnya. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan
untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
3. Responsibility (Pertanggungjawaban). Prinsip ini menekankan pada adanya
sistem yang jelas untuk mengatur mekanisme pertanggungjawaban perusahaan
kepada pemegang saham dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Hal tersebut
merealisasikan tujuan yang hendak dicapai dalam good corporate governance yaitu
mengakomodasikan
kepentingan
pihak-pihak
yang
berkaitan
dengan
perusahaan seperti masyarakat, pemerintah, asosiasi bisnis dan sebagainya.
Prinsip ini menuntut perusahaan maupun pimpinan dan manajer perusahaan
melakukan
kegiatannya
secara
bertanggung
jawab.
Komponen-
18
komponen GCG tersebut penting karena penerapan prinsip GCG secara
konsisten terbukti dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan dan juga
dapat
menjadi penghambat
aktivitas rekayasa
kinerja
yang
dapat
mengakibatkan laporan keuangan tidak menggambarkan nilai fundamental
perusahaan (Kaihatu, 2006).
Dalam penelitian ini, elemen-elemen yang terkandung dalam mekanisme
corporate governance adalah:
1. Ukuran Dewan direksi
2. Proporsi dewan komisaris independen
3. Kepemilikan instiusional
4.
Independency (kemandirian). Prinsip ini merupakan suatu keadaan dimana
perusahaan dikelola secara professional tanpa benturan kepentingan dan
pengaruh/tekanan dari pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan
dan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang
sehat. Untuk melancarkan pelaksanaan pinsip good corporate governance,
perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing bagian
perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi.
5.
Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran). Prinsip ini menekankan pada perlakuan
yang adil dan setara didalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul
berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku. Dalam
melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan
19
kepentingan
pemegang
saham
dan
pemangku
kepentingan
lainnya
berdasarkan prinsip kesetaraan dan kewajaran.
2.3
Manfaat Good Corporate Governance
Menurut Herawaty (2008) prinsip-prinsip corporate governance yang diterapkan
memberikan manfaat diantaranya yaitu :
1. Meminimalkan agency cost dengan mengontrol konflik kepentingan yang mungkin
terjadi antara principal dan agent;
2. Meminimalkan cost of capital dengan menciptakan sinyal positif kepada para
penyedia modal;
3. Meningkatkan citra perusahaan;
4. Meningkatkan nilai perusahaan yang dapat dilihat dari cost of capital yang rendah;
5. Peningkatan kinerja keuangan dan persepsi stakeholder terhadap masa depan
perusahaan yang lebih baik.
Manfaat yang diperoleh perusahaan jika menerapkan good corporate governance menurut
Gregory (2002) dalam Dewi (2005) adalah:
a) Mendorong menggunakan sumber daya secara efisien oleh perusahaan dan perekonomian
nasional yang lebih besar
b) Membantu pengelolaan perusahaan dalam memastikan atau menjamin bahwa perusahaan telah
taat pada ketentuan, peraturan, dan ekspektasi masyarakat
c) Membantu manajemen dan corporate board dalam pemantauan penggunaan asset perusahaan
d) Mengurangi korupsi
20
2.4
Mekanisme Good Corporate Governance
Mekanisme corporate governance menurut Shleifer dan Vishny (1997) adalah
suatu mekanisme yang digunakan untuk memastikan bahwa supplierkeuangan
(pemegang saham atau shareholders) dan pemberi pinjaman (bondholders), dari perusahaan
memperoleh pengembalian dari kegiatan yang dijalankan oleh manajer, atau dengan
kata lain bagaimana supplier keuangan perusahaan melakukan kontrol terhadap
manajer. Menurut Barnhart dan Rosestein (1998) dalam Misiastuty dan Machfoedz
(2003) kontrol tersebut meliputi :
1. Mekanisme internal, seperti struktur dewan direksi, kepemilikan manajerial,dan
komposisi eksekutif.
2. Mekanisme eksternal, seperti pasar untuk kontrol perusahaan, kepemilikan
intitusional, dan tingkat pendanaan hutang.
Menurut Boediono (2005), mekanisme corporate governance merupakan suatu
sistem, yang terdiri atas kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dan
komposisi dewan komisaris yang mengendalikan dan mengarahkan operasional
perusahaan. Siallagan dan Machfoedz (2006) menyatakan bahwa mekanisme
corporate governance merupakan suatu sistem, yang terdiri atas kepemilikan institusional
manajerial, proporsi jumlah anggota komisaris independen, dan ukuran dewan
direksi, untuk
mengatur
dan
mengendalikan
perusahaan
yang
diharapkan
dapat memberikan dan meningkatkan nilai perusahaan kepada pemegang saham. Dalam
penelitian ini, elemen-elemen yang terkandung dalam mekanisme corporate governance
21
mencakup ukuran dewan direksi, proporsi dewan komisaris independen , dan struktur
kepemilikan institusional.
2.4.1 Ukuran Dewan Direksi
Wilkipedia (2011), direktur (dalam jumlah jamak disebut dewan direksi)
adalah seseorang yang ditunjuk untuk memimpin Perusahaan. Direktur didapat dari
seseorang yang memiliki perusahaan tersebut atau orang profesional yang ditunjuk
oleh pemilik usaha untuk menjalankan dan memimpin perusahaan. Penyebutan
direktur dapat bermacam-macam, yaitu dewan manager, dewan gubernur, atau dewan
eksekutif. Di Indonesia pengaturan terhadap direktur terdapat dalam UU No. 40
Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dijabarkan fungsi, wewenang, dan tanggung
jawab direksi. Seorang direktur atau dewan direksi dalam jumlah direktur dalam
suatu perusahaan (minimal satu), yang dapat dicalonkan sebagai direktur, dan cara
pemilihan direktur ditetapkan dalam anggaran dasar perusahaan. Pada umumnya
direktur memiliki tugas antara lain:
1. Memimpin perusahaan dengan menerbitkan kebijakan-kebijakan perusahaan.
2. Memilih, menetapkan, mengawasi tugas dari karyawan dan kepala bagian
(manajer).
3. Menyetujui anggaran tahunan perusahaan.
4. Menyampaikan laporan ke ada pemegang saham atas kinerja perusahaan. Tanggung jawab
dari direktur kepada pihak ketiga dan hukum ditentukan dari jenis perusahaan
22
yang didirikan (Firma, Persekutuan Komanditer (CV), atau Perseroan Terbatas
(PT)).
2.4.2 Dewan Komisaris
Dewan komisaris merupakan sekelompok orang dalam perusahaan yang
diangkat dan diberhentikan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang
bertugas untuk mengawasi dan memberikan petunjuk serta nasihat kepada
manajemen dengan pengelolaan perusahaan. Oleh karena itu keberadaan dewan
komisaris menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam mewujudkan
keberhasilan perusahaan. Selain itu keberadaan dewan komisaris akan menjadi
penghubung bagi pemegang saham dalam mengetahui kondisi perusahaan yang
dikelola
oleh
manajemen
sehingga
dewan
komisaris
juga
berfungsi
untuk meminimalisasi konflik keagenan (agency problem) antara pemegang saham
dengan manajemen. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dewan komisaris merupakan
salah satu aspek penting perwujudan good corporate governance.
Dewan komisaris memandang aktivitas oleh komisaris eksternal sebagai pusat
dari pecahan masalah agency (antara manajer dan pemegang saham) yang efektif
(Fama dan Jansen, 1983 seperti yang dinyatakan oleh Pranata, 2002). Proporsi dewan
komisaris harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan pengambilan keputusan
yang efektif, tepat dan cepat serta dapat bertindak secara independen. Dalam Kep339/BEJ/07-2001 menjelaskan bahwa Menurut Peraturan Pencatatan Nomor 1 A
tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek bersifat Ekuitas di Bursa yaitu jumlah
23
komisaris independen minimum 30%. Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan
perusahaan yang baik (good corporate governance), perusahaan tercatat wajib
memiliki komisaris independen yang jumlahnya proposional sebanding dengan jumlah saham
yang dimiliki oleh bukan pemegang saham dengan ketentuan jumlah komisaris
independen sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh per seratus) dari jumlah seluruh
anggota komisaris.
Secara umum dewan komisaris ditugaskan dan diberi tanggung jawab atas
pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Hal ini
penting mengingat adanya kepentingan dari manajemen untuk melakukan manajemen
laba yang berdampak pada berkurangnya kepercayaan investor. Untuk mengatasinya
dewan komisaris diperbolehkan untuk memiliki akses pada informasi perusahaan.
Dewan komisaris tidak memiliki otoritas dalam perusahaan, maka dewan direksi
bertanggung jawab untuk menyampaikan informasi terkait dengan perusahaan kepada
dewan komisaris. Dalam Komite Nasional Kebijakan Governance (2006)
menyatakan bahwa:
1. Dalam hal terjadi kekosongan dalam Direksi atau dalam keadaan tertentu
sebagaimana ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dan anggaran
dasar, untuk sementara Dewan Komisaris dapat melaksanakan fungsi Direksi.
2. Dalam rangka melaksanakan fungsinya, anggota Dewan Komisaris baik
secara bersama-sama dan atau sendiri-sendiri berhak mempunyai akses dan
memperoleh informasi tentang perusahaan secara tepat waktu dan lengkap.
24
3. Dewan Komisaris harus memiliki tata tertib dan pedoman kerja (charter)
sehingga pelaksanaan tugasnya dapat terarah dan efektif serta dapat
digunakan
sebagai salah satu alat penilaian kinerja mereka.
Mengingat pentingnya peranan dewan komisaris dalam menerapkan good
corporate governance maka perlu dijelaskan tugas-tugas utama yang harus dilakukan
oleh dewan komisaris berkaitan dengan penerapan prinsip-prinsip good corporate
governance itu sendiri, yaitu :
1.
Menilai dan mengarahkan strategi perusahaan, garis-garis besar rencana kerja,
kebijakan pengendalian risiko, anggaran tahunan dan rencana usaha,
menetapkan sasaran kerja, mengawasi pelaksanaan dan kinerja perusahaan,
serta memonitor penggunaan modal perusahaan, investasi dan penjualan asset.
Tugas ini terkait dengan peran dan tanggungjawab, serta usaha untuk menjamin
penyeimbangan kepentingan manajemen (accountability).
2.
Menilai sistem penetapan penggajian pejabat pada posisi kunci dan
penggajiandewan direksi, serta menjamin suatu proses pencalonan anggota
direksi yang transparan dan adil (transparancy).
3.
Memonitor
dan
mengawasi
masalah
benturan
kepentingan
pada
tingkatmanajmen, anggota dewan direksi dan anggota dewan komisaris,
termasuk penyalahgunaan asset perusahaan dan manipulasi transaksi perusahaan. Tugas
ini memberikan perlindungan hak-hak para pemegang saham ( fairness).
25
4.
Memantau proses keterbukaan dan efektifitas komunikasi yang terjadi
diperusahaan (OECD Principle of Corporate Governance). Proses keterbukaan
(transparancy) ini untuk menjamin tersedianya informasi yang tepat waktu dan
jelas. Berdasarkan uraian di atas, variabel komposisi dewan komisaris dalam
penelitian ini diwakili oleh proporsi komisaris independen dalam susunan
dewan komisaris.
1. Dewan Komisaris Independen
A. Pengertian Dewan Komisaris Independen
Adapun komisaris independen tidak terlepas dari keberadaan komisaris pada
umumnya. Menurut Surat Bapepam Nomor Kep-29/PM/2004 Peraturan Nomor
IX.1.5 menyatakan bahwa :
“Komisaris Independen adalah anggota komisaris yang berasal dari luar
emiten / perusahaan public, tidak mempunyai saham langsung maupun tidak
langsung kepada emiten / perusahaan public, tidak mempunyai hubungan usaha baik
langsung maupun tidak langsungyang berkaitan dengan kegiatan usaha emiten /
perusahaan public”.
Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi
dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham
pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat
mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak sematamata demi kepentingan perusahaan.Komisaris independen memiliki tanggung jawab
pokok untuk mendorong diterapkannya prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good
corporate governance) di dalam perusahaan melalui pemberdayaan dewan komisaris
26
agar dapat melakukan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada direksi secara
efektif dan lebih memberikan nilait ambah bagi perusahaan (Komite Nasional
Kebijakan Governance, 2004).
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) menyatakan bahwa
keberadaan komisaris independen telah diatur Bursa Efek Jakarta melalui peraturan
BEJ tanggal 1 Juli 2000. Peraturan ini menyatakan bahwa perusahaan yang listed di
bursa harus mempunyai komisaris independen yang secara proporsional sama dengan
jumlah saham yang dimiliki pemegang saham.
B. Syarat – Syarat Dewan Komisaris Independen
Persyaratan jumlah minimal komisaris independen dalam peraturan ini adalah
30% dari seluruh anggota dewankomisaris. Beberapa criteria lainnya tentang
komisaris independen adalah sebagai berikut :
1. Komisaris independen tidak memiliki hubungan afiliasi dengan pemegang
saham mayoritas atau pemegang saham pengendali (controlling shareholders)
perusahaan tercatat yang bersangkutan.
2. Komisaris independen tidak memiliki hubungan dengan direktur dan/atau
komisaris lainnya perusahaan yang tercatat yang bersangkutan.
3. Komisaris independen tidak memiliki kedudukan rangkap pada perusahaan
lainnya yang terafiliansi dengan perusahaan tercatat yang bersangkutan.
4. Komisaris independen harus mengerti peraturan perundang-undangan dibidang
pasar modal.
27
5. Komisaris independen diusulkan dan dipilih oleh pemegang saham minoritas
yang bukan merupakan pemegang saham pengendali (bukan controlling
shareholders) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Karakteristik
dewan komisaris secara umum dan khususnya komposisi dewan dapat
menjadi suatu mekanisme yang menentukan tindakan manajemen laba.
Melalui peranan dewan dalam melakukan fungsi pengawasan terhadap
operasional perusahaan yang dijalankan oleh pihak manajemen, komposisi
dewan komisaris dapat memberikan kontribusi yang efektif terhadap
tercapainya proses penyusunan laporan keuangan yang berkualitas dan
terhindar dari kecurangan laporan keuangan.
C. Tugas Utama Dewan Komisaris Independen
Dewan Komisaris Independen bertujuan untuk menyeimbangkan dalam
pengembalian keputusan terkait komisaris independen bersama dewan komisaris
memiliki tugas-tugas utama sebagai berikut :
a)
Menilai dan mengarahkan strategi perushaan, garis-garis besar, rencana kerja,
kebijakan pengendalian resiko, anggaran tahunan dan neraca usaha serta
memonitor penggunaan modal perusahaan, investasi dan penjualan asset.
b) Menilai sistem penetapan pengkajian pejabat pada posisi kunci dan
pengkajian dewan direksi, menjamin suatu proses pencalonan anggota dewan
direksiy ang transparan dan adil.
28
c) Memonitori dan mengatasi masalah benturan kepentingan pada tingkat
manajemen, anggota dewan direksi dan anggota dewan komisaris.
d) Memonitor pelasanaan corporate governance dan mengadakan perubahan jika
diperlukan.
e) Memantau proses keterbukaan dan efektifitas komunikasi dalam perusahaan.
Komposisi dewan komisaris harus dapat mengambil keputusan yang efektif,
tepat dan cepat serta tidak bertindak secara independen dalam arti tidak mempunyai
kepentingan yang dapat mengganggu kemampuannya dalam melaksanakan tugas
secara mandiri dan kritis dalam hubungan satu sama lain terhadap direksi.
2.4.3 Struktur kepemilikan
Salah satu mekanisme corporate governance yang digunakan untuk
mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan kepemilikan saham oleh
manajemen. Adanya pemisahan kepemilikan oleh principal dengan pengendalian
oleh agen dalam suatu organisasi cenderung menimbulkan konflik keagenan diantara
principal dan agent. Untuk meminimalkan konflik keagenan adalah dengan
meningkatkan kepemilikan
manajerial
didalam
perusahaan. Semakin
besar
kepemilkan manajemen dalam perusahaan maka manajemen akan cenderung untuk
berusaha meningkatkan kinerjanya untuk kepentingan pemegang saham dan untuk
kepentingan dirinya sendiri (Siallagan dan Machfoedz, 2006).
Suranta dan Midiastuti (2005) dalam Palestin (2006) menguji pengaruh
mekanisme corporate governance terhadap praktik manajemen. Dalam penelitian
29
tersebut membuktikan bahwa kepemilikan manajerial merupakan salah satu
mekanisme corporate governance yang dapat digunakan untuk meminimalkan
konflik keagenan.
Struktur kepemilikan akan memiliki motivasi yang berbeda dalam memonitor
perusahaan serta manajemen dan dewan direksinya. Struktur kepemilikan dipercaya
memiliki kemampuan untuk mempengaruhi jalannya perusahaan yang nantinya dapat
mempengaruhi kinerja perusahaan. Agency problem dapat dikurangi dengan adanya
struktur kepemilikan. Struktur kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk
mengurangi konflik antara manajemen dan pemegang saham (Faisal, 2005). Jensen
dan Meckling (1976) dalam Faisal (2005) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial
dan kepemilikan institusional adalah dua mekanisme corporate governance yang
dapat mengendalikan masalah keagenan.
Pemegang saham institusional memiliki keahlian yang lebih dibandingkan
dengan investor individu, terutama pemegang saham institusional mayoritas atau
diatas 5 %.Pemegang saham institusional besar diasumsikan memiliki orientasi
investasi jangka panjang. Kepemilikan institsional umumnya bertindak sebagai pihak
yang memonitor perusahaan (Faisal, 2005).
Kepemilikan institusional
Kepemilikan institusional adalah jumlah persentase hak suara yang dimiliki
oleh institusi (Beiner et al, 2003) dalam Pramuka dan Ujiyantho (2007). Dalam
30
penelitian ini diukur dengan menggunakan indicator persentase jumlah saham yang
dimiliki institusi dari seluruh modal saham yang beredar.
Dari segi kepemilikan perusahaan, maka suatu perusahaan dapat dimiliki
institusi maupun non institusi (Lastanti, 2004). Institusi merupakan suatu lembaga
yang memiliki kepentingan besar terhadap investasi yang dilakukan termasuk
investasi saham sehingga biasanya institusi menyerahkan tanggung jawabnya pada
devisi tertentu untuk mengelola investasi perusahaan tersebut. Karena institusi
memantau secara professional perkembangan investasinya maka tingkat pengendalian
terhadap tindakan manajemen sangat tinggi sehingga potensi kecurangan dapat
ditekan.
Menurut Pozen (1999) dalam Lastanti (2004) investor dibedakan menjadi dua,
yaitu investor pasif dan investor aktif.Investor pasif tidak terlalu ingin terlibat dengan
keputusan manajemen sebaliknya dengan investor aktif, mereka aktif terlibat dalam
pengambilan keputusan strategis perusahaan. Keberadaan institusi inilah yang
mampu menjadi alat monitoring efektif bagi perusahaan.
Perilaku manipulasi oleh manajer berawal dari konflik kepentingan dapat
diminimumkan melalui suatu mekanisme good corporate governance yang bertujuan
untuk menyelaraskan berbagai kepentingan tersebut. Salah satunya adalah dengan
kepemilikan saham investor institusional. Moh’d et al (1998) seperti dikutip oleh
Midiastuty dan Machfoedz (2003) menyatakan bahwa investor institusional
merupakan pihak yang dapat memonitor agen dengan kepemilikan yang besar.
31
3.
Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan variabel penduga yang banyak digunakan
untuk menjelaskan variasi pengungkapan dalam laporan tahunan perusahaan.
Menurut Siregar dan Utama dalam Nofandrilla (2008), semakin besar ukuran
perusahaan, informasi yang tersedia untuk investor dalam pengambilan keputusan
sehubungan dengan investasi saham semakin banyak.
Menurut Sujoko dan Soebiantoro (2007) menyatakan bahwa ukuran
perusahaan merupakan gambaran besar kecilnya perusahaan yang tercermin dari nilai
total aktiva perusahaan pada neraca akhir tahun yang diukur oleh len (Ln) dari total
aktiva.
Sehubungan dengan total aktiva, apabila perusahaan memiliki total aktiva
yang besar menunjukkan bahwa perusahaan telah mencapai tahap kedewasaan
(maturity) atau well established. Menurut Sembiring (2008) secara umum perusahaan
yang mempunyai total aktiva yang relatif besar dapat beroperasi dengan tingkat
efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang total aktivanya
lebih rendah. Oleh karena itu, perusahaan dengan total aktiva yang besar akan lebih
mampu untuk menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi.
4.
Kinerja Perusahaan
1. Pengertian Kinerja
Kinerja adalah sesuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan (Kamus
32
Besar Bahasa Indonesia, 2001). Menurut Trisnantoro dan Agastya (1996), kinerja
merupakan proses yang dilakukan dan hasil yang dicapai oleh suatu organisasi dalam
memberikan jasa atau produk kepada pelanggan. Kane (1993) menjelaskan, kinerja
sebagai rekaman hasil kerja yang diperoleh karyawan tertentu melalui kegiatan dalam
kurun waktu tertentu.
Menurut Gibson (1996) menyatakan setiap karyawan mempunyai hasil kerja
yang berbeda, sedangkan Casio (2003) mengemukakan, kinerja merupakan suatu
jaminan
bahwa seseorang
pekerja
atau
kelompok
mengetahui apa yang
diharapkannya dan memfokuskan kepada kinerja yang efektif.
McCloy et al. (1994), menyatakan bahwa kinerja adalah kelakuan atau
kegiatan yang berhubungan dengan organisasi, di mana organisasi tersebut
merupakan keputusan dari pimpinan. Dikatakan bahwa kinerja bukan outcome,
konsekuensi atau hasil dari perilaku atau perbuatan, tetapi kinerja adalah perbuatan
atau aksi itu sendiri, di samping itu kinerja adalah multidimensi sehingga untuk
beberapa pekerjaan yang spesifik mempunyai beberapa bentuk komponen kinerja
yang dibuat dalam batas hubungan variasi dengan variabel-variabel lain.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Darma (2005) bahwa faktor-faktor tingkat kinerja staf meliputi:
mutu pekerjaan, jumlah pekerjaan, efektifitas biaya dan inisiatif. Sementara
karakteristik individu yang mempengaruhi kinerja meliputi: umur, jenis kelamin,
33
pendidikan, lama kerja, penempatan kerja dan lingkungan kerja (rekan kerja, atasan,
organisasi, penghargaan dan imbalan).
Gibson
(1996)
menyatakan
terdapat
tiga kelompok
variabel
yang
mempengaruhi kinerja dan perilaku yaitu: (1) variabel individu, yang meliputi
kemampuan dan ketrampilan, fisik maupun mental, latar belakang, pengalaman dan
demografi, umur dan jenis kelamin, asal usul dan sebagainya. Kemampuan dan
ketrampilan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kinerja individu,
sedangkan demografi mempunyai hubungan tidak langsung pada perilaku dan
kinerja, (2) variabel organisasi, yakni sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur
dan desain pekerjaan, (3) variabel psikologis, yakni persepsi, sikap, kepribadian,
belajar, kepuasan kerja dan motivasi. Persepsi, sikap, kepribadian dan belajar
merupakan hal yang komplek dan sulit diukur serta kesempatan tentang
pengertiannya sukar dicapai, karena seseorang individu masuk dan bergabung ke
dalam suatu organisasi kerja pada usia, etnis, latar belakang, budaya dan ketrampilan
yang berbeda satu sama lainnya.
3. Pengertian Kinerja Perusahaan
Kinerja perusahaan adalah ukuran tingkat keberhasilan manajemen dalam
mengelola sumber daya keuangan perusahaan, terutama pada pengelolaan investasi
sebagai upaya untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham (Elizabeth, 2000: 7685). Kinerja perusahaan tersebut merupakan hasil dari serangkaian proses bisnis
dengan mengorbankan berbagaisumber daya, baik sumber daya manusia maupun
34
keuangan perusahaan. Di pasar modal, para investor menilai tingkat kinerja saham
perusahaan menggunakan parameter laba akuntansi dan arus kas. Untuk keadaan
pasar modal Indonesia pertimbangan investasi masih banyak didasarkan pada
informasi non-akuntansi (Parawiyati dan Baridwan, 1998:2-3). Informasi nonakuntansi yang penting untuk mengukur kinerja saham perusahaan di antaranya
adalah informasi tentang pendidikan manajer sebagai human capital yang dimiliki
perusahaan.
Manajer termasuk kategori human capital derajat tertinggi, yaitu intelectual
capital yang paling sulit digantikan dan memiliki value added tinggi serta berperan
sentral dalam mencapai kinerja saham perusahaan (Stewart, 1997). Banyaknya
tantangan bisnis membawa implikasi bahwa hanya organisasi yang memiliki manajer
dengan kemampuan tinggi yang bisa dengan cepat mengubah strategi menjadi
tindakan, mengelola proses secara efisien, dan memaksimalkan sumbangan pekerja
untuk menciptakan pertumbuhan perusahaan secara kontinyu (Ulrich,1998).
Hubungan antara corporate governance dan kinerja perusahaan bukan sesuatu
yang secara universal dapat diterima, walaupun saat ini ada pengakuan yang luas
bahwa pembentukan corporate governance secara substansial dapat mempengaruhi
pemegang saham.
Hampel (1997) seperti dikutip oleh Short dkk (1999) dalam Sayidah (2005)
menyatakan :
35
“bahwa tidak adanya bukti yang kuat mengenai hubungan antara kesuksesan
dan corporate governance penting untuk diakui, walaupun ada kepercayaan
good governance dapat meningkatkan prospek perusahaan”
Perusahaan merupakan suatu bentuk entitas tempat terjadinya suatu kesatuan
dari berbagai fungsi dan kinerja operasional yang bekerja secara sistematis untuk
mencapai sasaran tertentu. Sasaran dari suatu perusahaan merupakan tujuan yang
ingin dicapai semua pihak yang berkepentingan dalam perusahaan (stakeholder and
shareholder). Untuk mencapai tujuan tersebut, pihak-pihak yang berkepentingan
dalam perusahaan harus bekerja sama secara sistematis demi menghasilkan kinerja
yang optimal. Salah satu cara untuk mengetahui apakah suatu perusahaan dalam
menjalankan operasinya telah sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan sesuai
dengan tujuan adalah dengan mengetahui dari kinerja perusahaan tersebut.
Kinerja merupakan gambaran dari tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan
suatu kegiatan operasional. Penilaian kinerja disini adalah suatu metode dan proses
penilaian pelaksanaan tugas (performance) seseorang atau sekelompok orang atau
unit-unit kerja dalam satu perusahaan atau organisasi sesuai dengan standar kinerja
atau tujuan yang ditetapkan. Dalam mewujudkan visi dan misi organisasi, perusahaan
perlu memiliki suatu ukuran untuk mengukur bagaimana pencapaian sasaran dan
tujuan dalam periode waktu tertentu. Dengan demikian, kinerja sebagai gambaran
pencapaian hasil pelaksanaan suatu kegiatan operasional merupakan hal vital dalam
mewujudkan visi dan misi organisasi.
Penilaian kinerja merupakan suatu bentuk refleksi kewajiban dan tanggung
jawab untuk melaporkan kinerja, aktivitas dan sumber daya yang telah dipakai,
36
dicapai dan dilakukan. ditetapkan sudah dicapai bukanlah sesuatu yang mudah
dilakukan. Hal ini karena hal tersebut menyangkut aspek-aspek manajemen yang
tidak sedikit jumlahnya. Karena itu, kinerja perusahaan dapat dinilai melalui berbagai
macam indikator atau variabel untuk mengukur keberhasilan perusahaan. Namun,
secara umum penilaian kinerja perusahaan berfokus pada informasi kinerja yang
berasal dari laporan keuangan. Kinerja perusahaan secara umum biasanya akan
direpresentasikan dalam laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut bermanfaat
untuk membantu investor, kreditor, calon investor dan para pengguna lainya dalam
rangka membuat keputusan investasi, keputusan kredit, analisis saham serta
menentukan prospek suatu perusahaan dimasa yang akan datang.
Melalui penilaian kinerja, maka perusahaan dapat memilih strategi dan
struktur keuangannya. Karena penilaian kinerja perusahaan didasarkan pada laporan
keuangan, maka untuk melakukan penilaian kinerja ini menggunakan rasio-rasio
keuangan. Rasio-rasio inilah yang nantinya akan memberikan indikasi bagi
manajemen mengenai penilaian investor terhadap kinerja perusahaan dan prospeknya
dimasa yang akan datang. Rasio yang umum digunakan untuk melakukan penilaian
kinerja keuangan antara lain adalah ROA, ROE, NPM. Kinerja perusahaan dalam
penelitian ini diukur menggunakan rasio profitabilitas ROE.
37
1. ROE (Return On Equity)
ROE (Return Of Equity) merupakan rasio antara laba bersih terhadap total
equity. Semakin tinggi ROE menunjukkan semakin efisien perusahaan menggunakan
modal sendiri untuk menghasilkan laba atau keuntungan bersih. ROE digunakan
untuk mengukur tingkat pengembalian perusahaan atau efektivitas perusahaan
didalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas (shareholder’s
equity) yang dimiliki oleh perusahaan. Return on Equity (ROE) merupakan rasio
untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola modal yang ada
untuk mendapatkan net income (Kasmir, 2003). Adapun rumus ROE adalah sebagai
berikut :
ROE =
Laba Bersih Setelah Pajak
Total Modal
Semakin tinggi ROE maka kinerja perusahaan semakin efektif. Rasio ini juga
digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan
keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen.
Peningkatan harga saham perusahaan akan memberikan keuntungan (return) yang
tinggi pula bagi para investor. Hal ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik
investor terhadap perusahaan. Peningkatan daya tarik ini menjadikan perusahaan
tersebut makin diminati oleh investor, karena tingkat kembalian akan semakin besar.
Dengan kata lain ROE akan berpengaruh terhadap return Saham yang akan diterima
oleh investor.
38
2. ROA (Return On Asset)
Return On Asset
(ROA)
merupakan rasio untuk mengukur kemampuan
manajemen dalam menghasilkan pendapatan dari pengelolaan aset (Kasmir, 2003).
Adapun rumus ROA adalah sebagai berikut :
ROA = Laba Bersih Sebelum Pajak
Total Aset
Semakin tinggi rasio ini berarti perusahaan semakin efektif dalam
memanfaatkan aktiva untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi ROA berarti kinerja perusahaan
semakin efektif, karena tingkat kembalian akan semakin besar (Brigham, 2001:90).
Hal ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik investor
kepada perusahaan.
Peningkatan daya tarik perusahaan menjadikan perusahaan tersebut makin diminati
investor, karena dapat memberikan keuntungan (return) yang besar bagi investor.
Dengan kata lain ROA akan berpengaruh terhadap return Saham yang akan diterima
oleh investor.
3. NPM (Net Profit Margin)
Net Profit Margin (NPM) menunjukan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan keuntungan, dimana Net Profit Margin adalah merupakan rasio
perbandingan antara laba bersih sesudah pajak terhadap penjualan. Menurut Kasmir
(2012:200), “Net Profit Margin (NPM) merupakan rasio perbandingan antara laba
39
bersih setelah pajak dan bunga dengan jumlah penjualan perusahaan.” NPM
menunjukkan proporsi penjualan yang dapat diubah menjadi laba bersih. NPM
memberikan gambaran tentang laba untuk pemegang saham sebagai presentase dari
penjualan. Menurut Kasmir (2012) secara matematis NPM dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
NPM
5.
=
Earning After Interest and Tax ( EAIT)
Sales
Hubungan Good Corporate Governance Dengan Kinerja Perusahaan
Good corporate governance dapat mengurangi resiko yang mungkin akan
dilakukan oleh dewan direksi dan komisaris dengan berbagai keputusan yang
mementingkan kepentingan pribadi. Penerapan prinsip good corporate governance
dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya pada
sebuah perusahaan. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu banyak yang
menghubungkan corporate governance dengan kinerja perusahaan, seperti pada
penelitian Andilolo (2010) dan Pranata (2007) yang menyatakan terdapat pengaruh
antara GCG dengan kinerja perusahaan.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengungkap pengaruh corporate
governance terhadap kinerja dan nilai perusahaan. Namun, pada umumnya penelitian
yang dilakukan hanya menekankan pada salah satu aspek dari agency costs, yaitu
monitoring costs. Menurut Watts dan Zimmerman (1986) agency costs terdiri dari
dua, yaitu monitoring costs dan bonding costs. Corporate governance dikatakan
dapat menurunkan monitoring costs akibat adanya peningkatan pengawasan dan
40
transparansi (atau penurunan information asymmetry). Banyak penelitian telah
menunjukkan bahwa adanya pengaruh komposisi kepemilikan dan kompisisi dewan
komisaris ( board of directors) terhadap kinerja.
Penelitian yang dapat menunjukkan adanya manfaat corporate governance
elemen kedua dari agency costs, yaitu bonding cost, belum banyak dilakukan.
Bonding costs merupakan agency costs yang ditanggung oleh agen, yang
mencerminkan upaya manajemen dalam menunjukkan kepada principal bahwa
mereka tidak akan menyalahgunakan kewenangan yang diberikan kepadanya (m
anajer akan berbuat demi kebaikan perusahaan). Agen sadar bahwa principal ‘curiga’
kepada mereka, dan oleh karena itu akan cenderung menyalahkan mereka jika ada
sesuatu yang salah. Kesadaran akan hal ini memunculkan upaya ( efforts) dari
manajemen agar mereka dipercaya oleh principal. Salah satu upaya yang dilakukan
adalah dengan menunjukkan itikad baik dan memberikan laporan yang komprehensif
kepada principal.
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Booz -Allen & Hamilton (1998)
dan Mc Kinsey & Company (2001) menunjukkan seberapa buruknya penilaian pasar
terhadap implementasi corporate governance di Indonesia. Hasil penelitian tersebut
diharapkan dapat mendorong manajemen untuk meningkatkan kualitas pengelolaan
perusahaan dan memperbaiki citra governance mereka. Manajemen dapat
meningkatkan citra mereka dengan menunjukkan compliance atas good corporate
governance codes sebagaimana disarankan oleh lembaga yang dipercaya, yaitu
41
Komite
Nasional
Kebijakan
atas
Corporate
Governance
(KNKCG)
dan
mengungkapkan kepatuhan tersebut dalam laporan tahunan. Sejauh mana kepatuhan
ini membawa dampak positif bagi perusahaan, masih merupakan pertanyaan empiris
yang perlu dijawab. Penelitian ini melihat pengaruh kembali atas corporate
governance terhadap kinerja.
Dengan melihat beberapa contoh kasus tindakan kecurangan yang dilakukan
oleh manajemen perusahaan, maka akan dipertanyakan akan bagaimana efektivitas
penerapan corporate governance yang juga akan berpengaruh terhadap kinerja
perusahaan. Corporate governanace merupakan salah satu elemen kunci dalam
meningkatkan efesiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara
manajemen perusahaan, dewankomisaris, para pemegang saham dan stakeholders
lainnya. Corporate governance juga memberikan suatu struktur yang memfasilitasi
penentuan sasaran-sasaran dari suatu perusahaan, dan sebagai sarana untuk
menentukan teknik monitoring kinerja (Deni, Khomsiyah dan Rika, 2004).
6.
Pengaruh Ukuran Dewan Direksi Terhadap Kinerja Perusahaan
Dewan direksi memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu perusahaan.
Dengan adanya pemisahan peran dengan dewan komisaris, dewan direksi memiliki
kuasa yang besar dalam mengelola segala sumber daya yang ada dalam perusahaan.
Dewan direksi memiliki tugas untuk menentukan arah kebijakan dan strategi sumber
daya yang dimiliki oleh perusahaan, baik untuk
jangka pendek maupun jangka
42
panjang. Dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas, disebutkan
bahwa dewan
direksi memiliki hak untuk mewakili perusahaan dalam urusan di luar maupun di
dalam perusahaan. Artinya, jika hanya terdapat satu orang dewan direksi, maka
dewan direksi tersebut dapat dengan bebas mewakili perusahaan dalam berbagai
urusan di luar maupun di dalam perusahaan. Hal yang mungkin akan berbeda jika
jumlah dewan direksi memiliki nominal jumlah tertentu. Jumlah dewan direksi secara
logis akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan pengambilan keputusan
perusahaan. Karena tentu saja dengan adanya sejumlah dewan direksi, perlu
dilakukan kordinasi yang baik antar anggota dewan komisaris yang ada.
Hardikasari (2011) dalam penelitiannya menyebutkan
bahwa banyak
penelitian yang dilakukan menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki ukuran
dewan yang besar tidak bisa melakukan koordinasi, komunikasi, dan pengambilan
keputusan yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki dewan
yang lebih kecil. Penelitian tersebut antara lain penelitian dari Jensen (1993), Lipton
dan L’orsch (1992) dan Yermack (1996). Namun demikian, Dalton et al. (dalam
Hardikasari, 2011) menyatakan adanya hubungan positif antara ukuran dewan kinerja
perusahaan. Dari uraian diatas, jelas bahwa ukuran dewan direksi merupakan salah
satu mekanisme Corporate Governance yang sangat penting dalam menentukan
kinerja perusahaan. Namun, dengan adanya perbedaan temuan para peneliti dalam
penelitian sebelumnya, maka bukti yang diperlukan masih diperdebatkan. Penelitian
43
ini dimaksudkan untuk memberikan bukti yang lebih komprehensif dalam melihat
peran ukuran dewan direksi terhadap kinerja perusahaan.
Ha1:
Terdapat pengaruh antara persentase dewan direksi dengan kinerja
perusahaan.
7.
Pengaruh
Proporsi
Komisaris
Independen
Terhadap
Kinerja
Perusahaan
Proporsi dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan atau komisaris
independen juga mempengaruhi kinerja perusahaan yang bertindak sebagai penengah
dalam perselisihan yang terjadi diantara para manajer internal dan mengawasi
kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada manajemen. “Komisaris
independen merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi monitoring agar
tercipta perusahaan yang good corporate governance” (Irmala Sari, 2010). Semakin
tinggi perwakilan dari komisaris independen, maka semakin tinggi independensi dan
efektivitas corporate board sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Hubungan antara komisaris independen dan kinerja perusahaan manufaktur juga
didukung oleh perspektif bahwa dengan adanya komisaris independen diharapkan
dapat memberikan fungsi pengawasan terhadap perusahaan secara objektif dan
independen, menjamin pengelolaan yang bersih dan sehatnya operasi perusahaan
sehingga dapat mendukung kinerja perusahaan.
Ha2:
Terdapat pengaruh antara persentase komisaris independen dengan kinerja
perusahaan.
44
8.
Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kinerja Perusahaan
manufaktur Tahun 2010-2012.
Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi oleh institusi akan memudahkan
pengendalian terhadap perusahaan, sehingga akan berdampak pada peningkatan
kinerja perusahaan. Anindita Ira Sabrina (2010) menyatakan bahwa “semakin tinggi
kepemilikan institusional semakin baik kinerja perusahaan, mempunyai kemampuan
untuk mengontrol kinerja perusahaan sehingga semakin hati-hati manajemen dalam
menjalankan perusahaan”.
Kepemilikan
institusional bertindak
sebagai pihak
yang
memonitor
perusahaan pada umumnya dan manajer sehingga pengelola perusahaan pada
khususnya. Investor institusional akan memantau secara professional perkembangan
investasi yang ditanamkan pada perusahaan dan memiliki tingkat pengendalian yang
tinggi terhadap tindakan manajemen. Hal ini memperkecil potensi manajemen untuk
melakukan kecurangan, dengan demikian maka dapat menyelaraskan kepentingan
manajemen dan kepentingan stakeholders lainnya untuk meningkatkan kinerja
perusahaan.
Menurut Faisal (2005) menemukan hubungan yang berlawanan antara kinerja
saham dengan kepemilikan saham institusional. Perusahaan dengan kepemilikan
institusional yang besar (lebih dari 5 persen) mengindikasikan kemampuannya dalam
memonitor manajemen. Semakin besar kepemilikan institusional maka semakin
efisien pemanfaatan aktiva perusahaan. Dengan demikian proporsi kepemilikan
45
institusional bertindak sebagai pencegahan terhadap pemborosan yang dilakukan
manajemen
Melalui mekanisme kepemilikan institusional, efektivitas pengelolaan sumber
daya perusahaan oleh manajemen dapat diketahui dari informasi yang dihasilkan
melalui reaksi pasar atas pengumuman laba. Kepemilikan institusional memiliki
kemampuan untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring
secara efektif sehingga mengurangi tindakan manajemen yang dapat merugikan
perusahaan.
Ha3:
Terdapat pengaruh antara persentase kepemilikan perusahaan oleh institusi
dengan kinerja perusahaan
9.
Kajian Riset Terdahulu
Banyak literature
yang
menegaskan
bahwa Corporate
Governance
berpengaruh dan memiliki hubungan positif dengan kinerja perusahaan. Dalam
penelitian empiris, beberapa kali peneliti telah mencoba umtuk mengungkapkan hal
ini dalam berbagai perspektif yang berbeda. Berikut ini mengenai penelitian
terdahulu yang telah dilakukan :
No
Penelitian
Judul Penelitian
Variabel
Keterangan
1.
Lia
Parasmitha
(2013)
Pengaruh Struktur
Corporate
Governance
Terhadap Kinerja
Perusahaan
Independensi
dewan
Komisaris,
Kepemilikan
Institusional,
Kepemilikan
Terkonsentrasi
sebagai variabel
Penelitian ini
menjelaskan bahwa
variabel independen
(dewan komisaris,
kepemilikan
institusional dan
kepemilikan
terkonsentrasi)
46
2.
Butet Oktavia
M. Gultom
(2013)
5.
Jimi Uji
Wijayanto
Adi
(2011)
Independen dan
Kinerja
Perusahaan
sebagai variabel
dependen
Pengaruh Good
Good
Corporate
Corporate
Governance
Governance
terhadap
sebagai variabel
pengungkapan
independen dan
corporate social
Corporate
responsibility dan
Social
dampaknya pada
Responsibility,
kinerja perusahaan
Kinerja
Perusahaan
sebagai variabel
dependen
Pengaruh Dewan
Dewan Direksi,
Direksi, Dewan
Dewan
Komisaris Dan
Komisaris,
Komite Audit
Komite Audit
Terhadap Penerimaan sebagai variabel
Opini Audit Going
independen,
Concern
opini Auditor
sebagai variabel
dependen
berpengaruh
signifikan terhadap
variabel dependen
(kinerja perusahaan)
Hasil dari penelitian
ini adalah GCG
tidak berpengaruh
signifikan terhadap
pengungkapan CSR,
GCG tidak
berpengaruh
signifikan terhadap
Kinerja Perusahaan,
CSR berpengaruh
signifikan terhadap
kinerja perusahaan
Hasil penelitian ini
adalah bahwa
faktor-faktor yang
mempengaruhi
penerimaan opini
audit going concern
pada suatu
perusahaanadalah
dewan direksi yang
diproksikan dengan
kepemilikan
manajerial. Hasil
penelitian ini tidak
berhasil menemukan
pengaruh dewan
komisaris dan
komiteaudit
terhadap penerimaan
opini audit going
concern pada suatu
perusahaan. Hal
tersebut
memberikan bukti
secara empiris
bahwa ketika
47
3.
Rudy Isnanta
(2008)
Pengaruh Corporate
Governance dan
Struktur
Kepemilikan
Terhadap
Manajemen Laba
dan Kinerja
Keuangan
Putu Ayu
Winda Adi
Puteri (2012)
Karakteristik Good
Corporate
Governance dan
Kinerja Perusahaan
4.
auditor akan
memberikanopini
audit going concern
auditor juga
memperhatikan
kepemilikan
manajerialdalam
suatu perusahaan
sebagai
pertimbangan dalam
pemberian opini
audit goingconcern
pada suatu perusahaan
Independensi
Hasil dari penelitian
Corporate
ini adalah variabel
Governance dan corporate
struktur
governance dan
struktur kepemilikan
kepemilikan
sebagai variabel tidak terbukti
Independen dan berpengaruh secara
signifikan positif
Kinerja
terhadap manajemen
Keuangan dan
laba, variabel
Manajemen
corporate
Laba sebagai
governance dan
variable
struktur kepemilikan
dependen
terbukti berpengaruh
secara signifikan
positif terhadap
kinerja keuangan,
variabel manajemen
laba tidak terbukti
berpengaruh secara
signifikan positif
terhadap kinerja
kinerja keuangan.
Direksi,
Proporsi
Komisaris
Independen,
komite audit,
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa
jumlah direksi,
proporsi komisaris
independen, dan
48
Manufaktur
komite
nominasi,
remunerasi,
komite
manajemen
resiko,
kepemilikan
manajerial, dan
kepemilikan
institusional
sebagai variabel
Independen dan
Tobin’s Q dan
MVE sebagai
variable
dependen
keberadaan komite
manajemen risiko
berpengaruh positif
pada kinerja
perusahaan
manufaktur,
sedangkan
kepemilikan
manajerial
berpengaruh negatif
pada kinerja
perusahaan
manufaktur. Jumlah
komite audit,
keberadaan komite
nominasi dan
remunerasi, serta
kepemilikan
institusional tidak
berpengaruh pada
kinerja perusahaan
manufaktur.
Sumber : Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Berdasarkan penelitian terdahulu, penelitian sekarang dimaksudkan untuk menguji
pengaruh mekanisme good corporate governance berupa ukuran dewan direksi,
dewan komisarin independen, dan kepemilikan institusional terhadap kinerja
perusahaan yang di proksi oleh ROE.
B.
Kerangka Pemikiran
Pengaruh Corporate Governance (Ukuran Dewan Direksi dan Proporsi
Dewan
Komisaris
Independen)
dan
Struktur
Kepemilikan
(Kempemilikan
49
Institusional) terhadap Kinerja Perusahaan (Profitabilitas). Berikut gambar dari
kerangka pemikiran dalam penelitian ini:
Variabel Independent (X)
Variabel Dependen (Y)
Kinerja Perusahaan
Profitabilitas
1. Ukuran Dewan Direksi
2. Proporsi Dewan
Komisaris Independen
3. Struktur Kepemilikan
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
C.
Hipotesis Penelitian
Berikut gambar Kerangka Hipotesis yang mempengaruhi kineja perusahaan
dalam penelitian ini :
Ukuran Dewan
Direksi
Dewan Komisaris
Independen
H1
H2
Kinerja Perusahaan
H3
Kepemilikan
Institusional
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual Hipotesis
Download