11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Agen Sosialisasi

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Agen Sosialisasi
Menurut Narwoko dan Suyanto (2004) agen sosialisasi adalah pihak-pihak
yang melaksanakan sosialisasi. Agen sosialisasi biasa juga disebut dengan media
sosialisasi. Sementara, menurut Tim Mitra Guru (2007) agen sosialisasi merupakan
tempat di mana sosialisasi itu terjadi atau disebut juga sebagai agen sosialisasi (agent
of socialization) atau sarana sosialisasi, yang dimaksud dengan agen sosialisasi
adalah pihak-pihak yang membantu seorang individu menerima nilai-nilai atau
tempat dimana seorang individu belajar terhadap segala sesuatu yang kemudian
menjadikannya dewasa. Salah satu agen sosialisasi adalah keluarga.
2.1.1 Keluarga
Keluarga adalah lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga atau pranata
sosial lainnya berkembang. Keluarga dapat digolongkan ke dalam kelompok primer,
selain karena para anggotanya saling mengadakan kontak langsung, juga karena
adanya keintiman dari pada anggotanya (Narwoko dan Suyanto, 2004).
Menurut Horton dan Hunt (1987) dalam Narwoko dan Suyanto (2004) istilah
keluarga umumnya menunjuk beberapa pengertian sebagai berikut:
1. Suatu kelompok yang memiliki nenek moyang yang sama
2. Suatu kelompok kekerabatan yang disatukan darah dan perkawinan
3. Pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak
4. Pasangan nikah yang mempunyai anak
5. Satu orang baik duda atau janda dengan beberapa anak
11
Universitas Sumatera Utara
12
Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap
proses sosialisasi terhadap manusia. Hal ini dimungkinkan karena berbagai kondisi
yang dimiliki oleh keluarga yaitu:
a. Keluarga merupakan kelompok primer yang selalu tatap muka di antara
anggotanya.
b. Orang tua mempunyai kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya,
sehingga menimbulkan hubungan emosional dimana hubungan ini sangat
diperlukan dalam proses sosialisasi.
c. Adanya hubungan sosial yang tetap, maka dengan sendirinya orang tua
mempunyai peran yang penting terhadap proses anak (Narwoko dan Suyanto,
2004)
Menurut Khairudin dalam Su’adah (2003), ciri-ciri keluarga adalah:
a. Kebersamaan, keluarga merupakan bentuk yang paling universal di antara bentukbentuk organisasi sosial lainnya dan dapat ditemukan disemua masyarakat.
b. Dasar-dasar emosional, hal ini didasarkan pada suatu kompleks dorongan sangat
mendalam dari sifat organis kita seperti perkawinan, menjadi ayah, kesetiaan akan
material dan perhatian orang tua.
c. Pengaruh perkembangan, hal ini merupakan lingkungan kemasyarakatan yang
paling awal dari semua bentuk kehidupan yang lebih tinggi, termasuk manusia
dan pengaruh perkembangan yang paling besar dalam kehidupan.
d. Ukuran yang terbatas, keluarga merupakan kelompok yang terbatas ukurannya
yang dibatasi oleh kondisi-kondisi biologis yang tidak dapat lebih tanpa
Universitas Sumatera Utara
13
kehilangan patrialkal, struktur sosial secara keseluruhan dibentuk oleh satuansatuan keluarga.
e. Tanggung jawab para anggota, keluarga memiliki tuntutan yang lebih besar dan
kontiniu daripada yang biasa dilakukan oleh asosiasi-asosiasi lainnya.
f. Aturan kemasyarakatan, hal ini khususnya terjaga dengan adanya hal-hal yang
tabu di dalam masyarakat dan aturan-aturan sah yang dengan kaku menentukan
kondisi-kondisinya.
g. Sifat kekekalan dan kesetaraan, sebagai instruksi keluarga merupakan suatu yang
demikian permanen dan universal, dan sebagai asosiasi merupakan organisasi
menjadi terkelompok di sekitar keluarga yang menuntut perhatian khusus.
Secara umum, ada 2 (dua) tipe keluarga yang utama,yaitu:
1. Nuclear family (keluarga inti)
Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum
dewasa atau belum menikah. Dari segi falsafah hidup, akan ditemukan keluarga
modern dan keluarga tradisional. Keluarga modern memiliki pandangan yang
rasional dan menata masa depan dengan penuh perhitungan. Sedangkan keluarga
tradisional masih mendahulukan tradisi lama untuk dipertahankan dan sulit untuk
dirubah.
2. Extended family (keluarga besar)
Keluarga besar adalah gabungan dari beberapa keluarga inti yang masih memiliki
hubungan darah yang tinggal bersama dalam satu rumah. Misalnya terdiri dari
paman, sepupu, kakek, nenek, dan biasanya terdiri dari tiga generasi dalam satu
garis keturunan.
Universitas Sumatera Utara
14
Menurut Horton dalam Su’adah (2003), keluarga memiliki tiga fungsi utama,
yaitu:
a. Fungsi pengaturan seksual, keluarga berfungsi sebagai lembaga pokok yang
mengatur dan mengorganisasikan kepuasan keinginan seksual.
b. Fungsi reproduksi, yaitu keluarga befungsi untuk memproduksi anak dan
melanjutkan keturunan.
c. Fungsi afeksi, yaitu keluarga berfungsi sebagai penyedia kebutuhan manusia akan
kasih sayang dan rasa cinta.
Segi penting dari proses sosialisasi dalam keluarga ialah bagaimana orang tua
dapat memberikan motivasi kepeda anak-anak agar mau mempelajari pola perilaku
yang diajarkan kepadanya.
Proses sosialisasi dalam lingkungan keluarga terdiri dari dua macam pola
sosialisasi, yaitu:
a. Cara represif yang mengutamakan adanya pendekatan anak pada orang tua. Cara
represif merupakan suatu bentuk sosialisasi yang mengarah kepada hukuman
(punishment) dan pemberian suatu hadiah (reward). Pada sosialisasi ini,
seseorang yang dapat menuruti kemauan dari orang lain akan mendapatkan
hadiah (reward) yang akan didapatnya. Sebaliknya, jika seseorang tersebut tidak
dapat menuruti kemauan dari orang lain maka ia akan mendapatkan suatu
hukuman (punishment). Sebagai contoh, Ibu ingin seorang anak dapat hidup
disiplin dan taat kepada aturan-aturan yang telah ditetapkannya. Jika seorang anak
tersebut melanggar aturannya, Ibu akan memarahi atau bahkan memukul anaknya
Universitas Sumatera Utara
15
setiap kali tidak taat dan disiplin. Jika dirinci, maka ciri-ciri sosialisasi refresif
antara lain:
1. Menghukum perilaku yang keliru
2. Hukuman dan imbalan material
3. Kepatuhan anak
4. Komunikasi sebagai perintah
5. Komunikasi nonverbal
6. Sosialisasi berpusat pada orang tua
7. Anak memperhatikan keinginan orang tua
8. Keluarga merupakan dominasi oarang tua
b. Cara partisipatif merupakan bentuk sosialisasi yang mengutamakan pada
partisipasi seorang anak dan orang tua tidak memaksakan kehendaknya kepada
anak. Pada bentuk ini, sosialisasi yang terjadi adalah memberikan suatu imbalan
yang baik kepada seorang anaknya. Jika dirinci, ciri-ciri sosialisasi partisipatif
antara lain:
1. Memberi imbalan bagi perilaku yang baik
2. Hukuman dan imbalan simbolis
3. Otonomi anak
4. Komunikasi dengan interaksi
5. Komunikasi nonverbal
6. Sosialisasi berpusat pada anak
7. Orang tua memperhatikan keinginan anak
8. Keluarga merupakan kerja sama ke arah tujuan (Tika ddk, 2008)
Universitas Sumatera Utara
16
2.2 Komunikasi
2.2.1 Definisi Komunikasi
Komunikasi adalah proses pengoprasian rangsangan (stimulus) dalam bentuk
lambang atau gerak (non-verbal), untuk memengaruhi perilaku orang lain. Stimulus
atau rangsangan ini dapat berupa suara/bunyi atau bahasa lisan, maupun berupa
gerakan tindakan, atau simbol-simbol yang diharapkan dapat dimengerti oleh pihak
lain, dan pihak lain tersebut merespon atau bereaksi sesuai denagan maksud pihak
yang memberikan stimulus. Proses komunikasi yang menggunakan stimulus atau
respon dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan disebut komunikasi verbal
sedangkan komunikasi yang mengunakan simbol-simbol disebut komunikasi
nonverbal (Notoatmodjo, 2012).
2.2.2 Unsur Komunikasi
Menurut Tyastuti dkk (2009), secara garis besar unsur-unsur komunikasi
adalah sebagai berikut:
1. Sumber komunikasi
Pihak yang mengawali komunikasi untuk mengirim pesan disebut sender dan ia
menjadi sumber pesan (source). Pengiriman yang dimaksud di sini adalah orang
yang masuk ke dalam hubungan, baik interpersonal dengan diri sendiri,
interpersonal dengan orang lain dalam kelompok kecil atau kelompok besar.
Sebelum terjadi proses komunikasi dengan orang lain, dalam pikiran si pengirim
terjadi rangsangan yang berasal dari faktor luar atau dari hasil pengolahan isi
pikiran yang menimbulkan kebutuhan, ini akan mendorong untuk menyampaikan
Universitas Sumatera Utara
17
perasaan atau gagasan kepada orang lain. Pengirim pesan ini biasa juga disebut
dengan komunikator.
2. Pesan
Pesan yang dimaksud adalah sesuatu yang disampaikan pengiriman kepada
penerima. Agar dapat diterima dengan baik, pesan hendaknya dirumuskan dalam
bentuk yang tepat, disesuaikan, dipertimbangkan berdasarkan keadaan penerima,
hubungan pengirim dan penerima serta situasi komunikasi yang dilakukan.
3. Media
Media merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan pesan kepada
penerima pesan. Media dapat berupa media lisan, tertulis atau elektronik.
a. Media lisan
Dapat dilakukan dengan menyampaiakan sendiri pesan secara lisan, baik
melalui telepon atau saluran yang lainnya kepada perorangan, kelompok kecil,
kelompok besar atau massa. Keuntungan dari penyampaian pesan secara lisan
adalah penerima pesan mendengar secara langsung tanggapan atau pertanyaan,
memungkinkan disertai nada atau warna suara, gerak-gerik tubuh atau raut
wajah dan dapat dilakukan dengan cepat.
b. Media tertulis
Pesan disampaikan secara tertulis melalui surat, memo, hand out, gambar dll.
c. Media elektronik
Pesan disampaikan melalui faksimile, email, radio, televisi. Keuntungannya
adalah proses cepat dan data bisa disimpan. Penyampaian pesan juga bisa
mengalami gnangguan seperti suara terlalu keras, lemah dan sebagainya.
Universitas Sumatera Utara
18
Karakteristik media massa menurut Cangara (2006) yaitu:
a.
Bersifat melembaga, artinya pihak yang mengelola media massa terdiri dari
banyak orang. Mulai dari pengumpulan, pengelolaan, sampai pada
penyajian informasi.
b.
Bersifat
satu
arah,
artinya
komunikasi
yang
dilakukan
kurang
memungkinkan terjadinya dialog antara pengirim dan penerima. Kalaupun
terjadi umpan balik, biasanya memerlukan waktu dan tertunda.
c.
Meluas dan serempak, artinya dapat mengatasi rintangan waktu dan jarak
karena memiliki kecepatan. Bergerak secara luas dan simultan, dimana
informasi yang disampaikan diterima oleh banyak orang dalam waktu yang
sama.
d.
Memakai peralatan teknis atau mekanis, seperti radio, televisi, surat kabar
dan semacamnya.
e.
Bersifat terbuka, artinya dapat diterima oleh siapa saja dan dimana saja
tanpa mengenal batas usia, jenis kelamin dan suku bangsa.
Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga, yakni
suatu institusi ataupun organisasi. Pesan yang disampaikan melalui media
massa bersifat umum (public) karena ditujukan kepada umum dan mengenai
kepentingan
umum.
Kemampuan
media
massa
dapat
menimbulkan
keserempakan (simultaneity) pada khalayak dalam menerima pesan-pesan yang
disebarkan.
Universitas Sumatera Utara
19
4. Lingkungan
Lingkungan atau situasi (tempat, waktu , cuaca, iklim, keadaan alam, psikologis)
merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi proses komunikasi. Faktor ini
dapat diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu lingkungan fisik, lingkungan
sosial budaya, lingkungan psikologis dan dimensi waktu.
5. Pihak yang menerima pesan
Penerima pesan adalah pihak yang menerima pesan atau menjadi sasaran pesan
yang dikirim oleh sumber. Penerima biasanya disebut juga dengan khalayak,
sasaran, komunikan atau audience/receiver.
6. Umpan balik
Umpan balik merupakan tanggapan penerima terhadap pesan yang diterima dari
pengirim. Tetapi ada juga yang beranggapan bahwa umpan balik terjadi sebagai
akibat pengaruh yang berasal dari penerima. Umpan balik dapat berupa umpan
balik positif atau umpan balik negatif. Umpan balik positif bila tanggapan
penerima menunjukkan kesediaan menerima atau mengerti pesan yang
disampaikan, serta memberi tanggapan sesuai yang diinginkan pengirim atau
sebaliknya.
7. Pengaruh atau dampak
Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa saja yang dipikirkan, dirasakan
dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Menurut De
Fleur (1982), pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku
seseorang (Cangara, 2006).
Universitas Sumatera Utara
20
2.2.3 Faktor yang Memengaruhi Komunikasi
Faktor yang memengaruhi komunikasi antara lain:
1. Latar Belakang Kebudayaan
Dalam hal ini bagaimana seseorang menginterpretasikan suatu pesan berdasarkan
latar belakang kebudayaan. Di sini akan terbentuk pola pikir seseorang melalui
kebiasaannya, makin sama latar belakang budaya antara komunikator dengan
komunikan maka komunikasi akan semakin efektif.
2. Ikatan dengan Kelompok atau Grup
Artinya kita cenderung mengidentifikasikan diri dengan kelompok tertentu dan
cenderung mengembangkan kesetiaan dan menerima norma kelompok tersebut.
Nilai-nilai yang dianut oleh kelompok akan sangat memengaruhi cara mengamati
pesan.
3. Harapan
Jika harapan sesuai dengan yang diinginkan maka orang tersebut akan menerima
pesan tersebut atau sebaliknya jika tidak sesuai dengan harapan maka penerima
pesan akan bersifat apatis, cuek bahkan memutuskan komunikasi.
4. Pendidikan
Pendidikan formal atau nonformal akan memengaruhi penerimaan pesan. Semakin
tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin kompleks sudut pandangnya
dalam menyikapi materi komunikasi.
Universitas Sumatera Utara
21
5. Situasi
Situasi adalah tempat atau saat terjadinya komunikasi akan berpengaruh pada
usaha untuk menginterpretasikan pesan, ketakutan, kecemasan akan memengaruhi
cara orang menyerap pesan (Tyastuti dkk, 2009).
2.2.4 Proses Komunikasi dalam Masyarakat
Masyarakat memiliki struktur dan lapisan (layer) yang bermacam-macam,
ragam struktur dan lapisan masyarakat tergantung pada kompleksitas masyarakat itu
sendiri. Semakin kompleks suatu masyarakat, maka struktur masyarakat itu semakin
rumit pula. Kompleksitas masyarakat juga ditentukan oleh ragam budaya dan prosesproses sosial yang dihasilkannya (Bungin, 2008).
1. Komunikasi Langsung
Pada komunikasi langsung (tatap muka) baik antara individu, atau individu dengan
kelompok atau kelompok dengan kelompok, kelompok dengan masyarakat, maka
pengaruh individu (interpersonal) termasuk dalam pemahaman komunikasi ini.
Persyarataan yang harus ada dalam komunikasi tatap muka adalah antara
komunikator dengan komunikan harus langsung bertemu dan prosesnya
dipengaruhi oleh emosi, perasaan di antara kedua pihak. Makin tinggi tingkat
kepercayaannya, maka makin tinggi pengaruh komunikator dan/atau sebaliknya.
2. Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa
dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada
khalayak luas. Unsur-unsur komunikasi massa adalah:
Universitas Sumatera Utara
22
a. Komunikator
b. Media massa
c. Informasi (pesan) massa
d. Khalayak (publik)
e. Umpan balik
Fungsi komunikasi massa dalam masyarakat, yaitu:
a. Fungsi Pengawasan
Media massa merupakan medium dimana dapat digunakan untuk pengawasan
terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya. Pengawasan dan kontrol sosial
dapat dilakukan untuk aktivitas preventif untuk mencegah hal-hal yang tidak
diinginkan.
b. Fungsi Social Learning
Dalam hal ini fungsi yang utama adalah melakukan pendidikan sosial kepada
seluruh masyarakat.
c. Fungsi Penyampaian Informasi
Fungsi utama yaitu menjadi proses penyampaian informasi kepada masyarakat
luas. Komunikasi massa memungkinkan informasi dari institusi publik
tersampaikan kepada masyarakat secara luas dalam waktu cepat.
d. Fungsi Transformasi Budaya
Fungsinya adalah lebih besar kepada sebagai bagian dari budaya global.
Universitas Sumatera Utara
23
e. Fungsi Hiburan
Hiburan tidak terlepas dari tujuan transformasi budaya, maka fungsi hiburan dari
komunikasi massa saling mendukung fungsi-fungsi lainnya dalam proses
komunikasi massa (Bungin, 2008).
Media massa merupakan media sosialisasi yang kuat untuk membentuk
keyakinan-keyakinan baru atau mempertahankan keyakinan yang ada. Bahkan proses
sosialisasi melalui media massa ruang lingkupnya lebih luas dari media sosialisasi
yang lainnya. Iklan-iklan yang ditayangkan media massa, misalnya disinyalir telah
menyebabkan perubahan pola konsumsi, bahkan gaya hidup masyarakat (Narwoko
dan Suyanto, 2004).
2.3 Komunikasi Kesehatan
2.3.1 Definisi Komunikasi Kesehatan
Komunikasi kesehatan adalah usaha yang sistematis untuk memengaruhi
secara positif perilaku kesehatan masyarakat dengan menggunakan prinsip dan
metode
komunikasi,
baik
menggunakan
komunikasi
interpersonal
maupun
komunikasi massa. Tujuan utama komunikasi kesehatan adalah perubahan perilaku
kesehatan masyarakat dan selanjutnya perilaku kesehatan masyarakat yang sehat
tersebut akan berpengaruh kepada meningkatnya derajat kesehatan masyarakat
(Notoatmodjo, 2012).
Universitas Sumatera Utara
24
2.3.2 Bentuk Komunikasi Kesehatan
Bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam program-program kesehatan
masyarakat
adalah
komunikasi
antarpribadi
(internal
communication)
dan
komunikasi massa (mass communication).
a. Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal)
Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi langsung, tatap muka antara satu
orang dengan yang lain baik perorangan maupun kelompok. Di dalam pelayanan
kesehatan, komunikasi antarpribadi ini terjadi antarapetugas kesehatan dengan
klien atau kelompok masyarakat dengan para anggota masyarakat. Komunikasi
antarpribadi akan efektif apabila memenuhi tiga hal berikut:
1. Empati, yakni menempatkan diri pada kedudukan orang lain (orang yang
diajak berkomunikasi.
2. Respek terhadap perasaan dan sikap orang lain.
3. Jujur dalam menanggapi pertanyaan orang lain yang diajak berkomunikasi.
Metode komunikasi antarpribadi yang paling baik adalah konseling karena di
dalam cara ini antara komunikator dan komunikan atau klien terjadi dialog, klien
dapat lebih terbuka menyampaikan masalah dan keinginan-keinginannya, karena
tidak ada pihak ketiga yang hadir.
Proses konseling diingat dengan mudah dengan istilah GATHER yaitu:
1. Greet clients warmly (menyambut klien dengan hangat)
2. Ask clients about their problem (menanyakan tentang keadaan mereka)
3. Tell clients about their problem (menanyakan masalah-masalah yang mereka
hadapi)
Universitas Sumatera Utara
25
4. Help clients solve their problem (membantu pemecahan masalah yang mereka
hadapi)
5. Explain how to prevent to hove the same problem (menjelaskan bagaimana
mencegah terjadinya masalah yang sama)
6. Return
to
follow-up
(melakukan
tindak
lanjut
terhadap
konseling)
(Notoatmodjo, 2012).
b. Komunikasi Massa
Komunikasi massa ialah menggunakan media massa untuk menyampaikan pesanpesan atau informasi kepada masyarakat. Komunikasi dalam kesehatan berarti
menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat melalui berbagai media
massa (TV, radio, media cetak dan sebagainya).
2.4 Pencarian Penyembuhan
2.4.1 Definisi Pencarian Penyembuhan
Pencarian penyembuhan/pengobatan adalah perilaku orang atau masyarakat
yang sedang mengalami sakit atau masalah kesehatan lain, untuk memeroleh
pengobatan sehingga sembuh atau teratasi masalah kesehatannya. Bagi keluarga,
masalah kesehatan atau penyakit bukan hanya terjadi pada diri sendiri, tetapi juga
bagi anggota keluarga yang lain, terutama anak-anak. Anak-anak dalam keluarga
maupun anak balita, dengan sendirinya perilaku pencarian penyembuhan ini masih
ditentukan atau tanggung jawab dari orangtuanya. Apabila seorang dewasa atau anak
balita dalam kelurga sakit atau mengalami gangguan kesehatan yang lain, biasanya
keputusan yang diambil adalah:
Universitas Sumatera Utara
26
a. Tidak melakukan tindakan apa-apa (no action).
b. Melakukan pengobatan sendiri (self mediabation atau self treatment), baik
menggunakan cara tradisional atau modern.
c. Mencari pengobatan keluar, baik tradisional maupun modern. (Notoatmodjo,
2010).
2.4.2 Perilaku Penyembuhan
Perilaku penyembuhan adalah tindakan (action) yang diambil oleh seseorang
yang sedang sakit, atau anaknya yang sedang sakit untuk memeroleh penyembuhan.
Perilaku atau tindakan ini dikelompokkan menjadi dua, yakni mengobati sendiri dan
mencari pengobatan atau penyembuhan keluar. Hal ini sebenarnya tidak masalah
asalkan masyarakat mempunyai pengetahuan yang cukup tentang penyakit serta
cara-cara mengatasi penyakit tersebut secara adekuat (Notoatmodjo, 2010)
2.4.3 Perilaku Penyembuhan/Pengobatan Sendiri
Pola perilaku pengobatan sendiri, apabila orang dewasa sakit atau anak
balitanya sakit memiliki 3 (tiga) pola pengobatan sendiri yang dilakukan oleh
masyarakat, yakni:
a. Obat-obat modern, baik dibeli di warung maupun di apotek, seperti obat-obat
untuk sakit kepala, sakit perut, sakit mata, luka dan sebagainya.
b. Obat-obat tradisional, baik yang diramu atau dibuat sendiri dari daun-daunan
maupun yang dibeli di warung, seperti jamu, jamu gendong keliling.
c. Obat-obat lainnya, yakni obat-obat lain yang tidak termasuk jenis di atas. Obat ini
biasanya diberikan oleh para normal atau dukun, yang berupa air, atau bendabenda yang diberi mantera-mantera (Notoatmodjo, 2010).
Universitas Sumatera Utara
27
2.4.4 Perilaku Pencarian Pengobatan Keluar
Perilaku pencarian pengobatan keluar (tidak diobati sendiri) pada orang
dewasa atau anak balita sakit dibawa oleh keluarganya, terwujud dalam fasilitas atau
pelayanan kesehatan yang digunakan oleh anggota masyarakat, dikelompokkan dalam
beberapa jenis yaitu:
a. Rumah sakit, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta
b. Praktek dokter
c. Puskesmas, Pustu dan Balai Kesehatan Masyarakat
d. Petugas Kesehatan dan
e. Dukun dan atau pengobatan tradisional (Batra) dan lain-lain (Notoatmodjo,
2010).
Pola pencarian pengobatan ini kemungkinan bisa dilakukan secara kombinasi.
Artinya seseorang bisa saja dalam waktu sakit mencari penyembuhan atau berobat ke
dua fasilitas atau pelayanan kesehatan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.
Pola pencarian pengobatan masyarakat perkotaan sedikit berbeda dengan pola
pencarian masyarakat pedesaan. Pada masyarakat pedesaan, puskesmas dan pustu
merupakan pilihan tertinggi tempat pencarian pengobatan. Sedangkan pada
masyarakat perkotaan, dokter praktek merupakan pilihan yang tertinggi. Peranan
dukun pada masyarakat pedesaan dan perkotaan masih ada walaupun dalam
persentase yang rendah (Notoatmodjo, 2010)
Universitas Sumatera Utara
28
2.5 Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian untuk mendapatkan pencarian pengobatan
diambil dari teori Su’adah (2003), sehingga didapatkan kerangka konsep sebagai
berikut.
Variabel Independen
Agen Sosialisasi Keluarga
- Keluarga Inti
Ayah
Ibu
Mertua
Anak
Kakak
Abang
- Keluarga Besar
Kakek
Nenek
Paman
Bibi
Sepupu
Tetangga
- Komunikasi Interpersonal
Variabel Dependen
Pencarian
Pengobatan
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian
2.6 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah agen sosialisasi keluarga dan komunikasi
interpersonal berpengaruh secara signifikan terhadap pencarian pengobatan di Desa
Simpang Empat Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2014.
Universitas Sumatera Utara
Download