BAB V

advertisement
BAB IV
ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Statistik Deskriptif
Pada bagian ini akan disajikan statistik deskriptif dari variabel
independen maupun variabel dependen. Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Struktur modal, Ukuran perusahaan, Pertumbuhan asset,
dan Profitabilitas. Data yang digunakan dalam penelitian ini untuk masingmasing variabel berjumlah 63 yang diperoleh dari 21 perusahaan dikalikan
periode tahun pengamatan (3 tahun). Berikut ini adalah hasil statistik
deskriptif dari data yang digunakan dalam penelitian ini:
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif
Sumber: Data sekunder yang diolah
Rasio Struktur modal yang diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER)
yang merupakan rasio total hutang dengan total ekuitas perusahaan
menunjukkan nilai rata-rata sebesar 0,8956. Hal ini berarti bahwa rata-rata
perusahaan sampel memiliki hutang sebesar 0,8956 kali lebih besar dari modal
sendiri (ekuitas) yang dimiliki perusahaan. Nilai minimum dari variabel
41
42
struktur modal adalah sebesar 0,0472 yang terdapat pada PT Ristia Bintang
Mahkotasejati Tbk tahun 2009 dan berarti bahwa perusahaan tersebut hanya
memiliki hutang sebesar 0,0472 kali dari modal sendiri, sedangkan nilai
maksimum struktur modal sebesar 3,8275 terdapat pada PT Duta Anggada
Realty Tbk tahun 2009 dan berarti bahwa perusahaan tersebut hanya memiliki
hutang sebesar 3,8275 kali dari modal sendiri.
Ukuran perusahaan yang merupakan Log natural dari Total Asset
menunjukkan rata-rata sebesar 25,7824, sedangkan nilai maksimumnya adalah
30,1544 yang terdapat pada PT Alam Sutera Realty Tbk tahun 2010 dan nilai
minimumnya 21,0699 terdapat pada PT Lippo Cikarang Tbk tahun 2009.
Pertumbuhan asset menunjukkan rata-rata sebesar 0,1166; sedangkan nilai
maksimumnya adalah 0,4719 terdapat pada PT Bakrieland Development Tbk
tahun 2010 dan nilai minimumnya sebesar -0,1930 terdapat pada PT Lippo
Karawaci Tbk tahun 2009.
Rasio profitabilitas yang diukur dengan Return On Asset (ROA)
menunjukkan nilai rata-rata sebesar 0,0636. Hal ini berarti bahwa rata-rata
perusahaan sampel mampu mendapatkan laba bersih sebesar 6,36% dari total
asset yang dimiliki perusahaan dalam satu periode. Nilai minimum yaitu
sebesar 0,0003 terdapat pada PT Suryainti Permata Tbk tahun 2010 yang
berarti perusahaan tersebut merupakan sampel terendah yang hanya
mendapatkan laba bersih dari seluruh total asset yang dimiliki sebesar 0,03%
dan nilai maksimum diketahui sebesar 0,2429 terdapat pada PT Ristia Bintang
Mahkotasejati Tbk tahun 2009 yang berarti perusahaan tersebut merupakan
43
sampel tertinggi yang mendapatkan laba bersih dari seluruh total asset yang
dimiliki sebesar 24,29%.
B. Uji Normalitas Data
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal
atau tidak. Model regresi yang baik adalah apabila keduanya mempunyai
distribusi normal atau mendekati normal.
Kriteria pengambilan keputusan yaitu:
1. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka data terdistribusi normal
2. Jika nilai signifikansi < 0,05, maka data tidak terdistribusi normal
Hasil uji normalitas disajikan pada gambar berikut ini:
Tabel 4.2
Uji Normalitas
Sumber : Data sekunder yang diolah
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa masing-masing variabel
memiliki nilai signifikan > 0,05 Yaitu Struktur Modal (0.192), Ukuran
Perusahaan (0.300), Pertumbuhan Aset (0.661) dan Profitabilitas (0.134),
44
maka data ke empat variabel tersebut dapat disimpulkan terdistribusi
normal.
C. Uji Asumsi Klasik
1. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variable independen. Model regresi yang
baik seharusnya tidak terjadi multikolinearitas.
Dasar pengambilan keputusannya, dimana nilai cut off untuk
menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance < 0.10 atau
sama dengan niali VIF > 10.
Dari output dapat diketahui hasil uji Multikolinearitas sebagai berikut:
Tabel 4.3
Uji Multikolinearitas
Sumber : Data sekunder yang diolah
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai tolerance untuk ketiga
variabel tersebut yaitu Ukuran Perusahaan (0.767), Pertumbuhan Asset
(0.942) dan Profitabilitas (0.754) lebih dari 0,10 dan nilai VIF kurang dari
10.
Dengan
ini
maka
dapat
multikolinearitas pada model regresi.
disimpulkan
bahwa
tidak
terjadi
45
2. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model linear ada
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Untuk mendeteksi gejala
autokorelasi digunakan uji Durbin Watson. Uji ini akan menghasilkan nilai
d, yang akan menentukan ada tidaknya autokorelasi dalam model regresi
pada batas-batas tertentu. Hipotesis yang diuji adalah:
Ho : tidak ada autokorelasi (r = 0)
Ha : ada autokorelasi (r ≠ 0)
Keputusan ada tidaknya autokorelasi:
a.
Jika 0 < d < dl
: Tolak Ho
b.
Jika dl ≤ d ≤ du
: Pengujian tidak meyakinkan
c.
Jika 4 – dl < d < 4
: Tolak Ho
d.
Jika 4 – du ≤ d ≤ 4 – dl
: Pengujian tidak meyakinkan
e.
Jika du < d < 4 – du
: Tidak menolak Ho
Hasil uji Durbin Watson disajikan sebagai berikut:
Tabel 4.4
Hasil Uji Autokorelasi
Sumber : Data sekunder yang diolah
46
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel di atas dimana pada hasil
tersebut diperoleh nilai DW sebesar 1,974. Sedangkan nilai dL dan dU
dicari pada table Durbin Watson dengan N = 63 dan K = 3. Didapat nilai dL
yaitu sebesar 1,480 dan dU sebesar 1,689. Oleh karena nilai DW 1,974
lebih besar dari batas atas (dU) 1,689 dan kurang dari 4-dU (4 - 1,689 =
2,311), maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut tidak
mengandung autokorelasi.
3.
Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedestisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke
pangamatan lain.
Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat grafik plot antara
nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID) ada
tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya
pola tertentu pada grafik scatter plot antara ZPRED dan SRESID di mana
sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual. Jika
titik-titik menyebar dengan pola yang tidak jelas diatas dan dibawah angka
0 pada sumbu Y maka tidak terjadi masalah heterokedastisitas.
47
Hasil uji heteroskedastisitas disajikan pada gambar berikut:
Sumber : Data sekunder yang diolah
Gambar 4.1
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Berdasarkan gambar di atas, terlihat titik-titik menyebar secara acak baik di
atas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y, dan juga tidak membentuk
suatu pola tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian
ini terbebas dari masalah heteroskedastisitas.
D. Analisis Regresi dan Hasil Pengujian Hipotesis
1. Analisis Regresi
Analisis regresi digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh
antara dua variabel atau lebih, atau bisa juga digunakan untuk prediksi
(peramalan) antara satu variabel dengan variabel lainnya. Dalam penelitian
ini, analisis regresi yang digunakan yaitu regresi linier berganda.
48
Analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini digunakan untuk
menganalisa pengaruh antara ukuran perusahaan, pertumbuhan aset, dan
profitabilitas terhadap struktur modal pada perusahaan property dan real
estate yang terdaftar di BEI. Bentuk umum persamaan regresi linier
berganda dengan tiga variabel independen yaitu sebagai berikut:
Y = a + β 1X1 + β 2X2 + β 3X3 + e
Keterangan:
Y
: Struktur modal
X1
: Ukuran perusahaan
X2
: Pertumbuhan
X3
: Profitabilitas
β 1-3
: koefisien regresi
e
: eror term (nilainya 0)
aset
Hasil yang diperoleh setelah data diolah dengan bantuan program
SPSS disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.5
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Sumber : Data sekunder yang diolah
49
Persamaan regresinya sebagai berikut:
Y = -0,819 + 0,072X1 + 0,402X2 – 2,809X3
Persamaan regresi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Konstanta sebesar -0,819; artinya jika variabel ukuran perusahaan,
pertumbuhan aset, dan profitabilitas nilainya adalah 0, maka besarnya
struktur modal (Y) nilainya negatif sebesar -0,819.
b. Koefisien regresi variabel ukuran perusahaan (X1) sebesar 0,072;
artinya setiap peningkatan ukuran perusahaan sebesar 100 %, maka
akan meningkatkan struktur modal sebesar 7,2 % dengan asumsi
variabel independen lain nilainya tetap.
c. Koefisien regresi variabel pertumbuhan aset (X2) sebesar 0,402; artinya
setiap peningkatan pertumbuhan aset sebesar 100 %, maka akan
meningkatkan struktur modal sebesar 40,2 % dengan asumsi variabel
independen lain nilainya tetap.
d. Koefisien regresi variabel profitabilitas (X3) sebesar -2,809; artinya
setiap peningkatan profitabilitas sebesar 100 %, maka akan menurunkan
struktur modal sebesar 280,9 % dengan asumsi variabel independen lain
nilainya tetap.
2. Hasil pengujian hipotesis secara simultan (uji F)
Pengujian hipotesis uji F digunakan untuk melihat apakah secara
keseluruhan variabel bebas mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap
variabel terikat.
50
Hasil uji F yang diperoleh setelah data diolah disajikan dalam tabel berikut
ini:
Tabel 4.6
Hasil Uji F (Koefisien Regresi Secara Simultan)
Sumber: Data sekunder yang diolah
Tahap-tahap untuk melakukan uji F sebagai berikut:
a. Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatifnya
H0 : β1, β2, β3 = 0
(Artinya ukuran perusahaan, pertumbuhan aset, dan profitabilitas
secara simultan tidak berpengaruh terhadap struktur modal).
Ha : β1, β2, β3 ≠ 0
(Artinya ukuran perusahaan, pertumbuhan aset, dan profitabilitas
secara simultan berpengaruh terhadap struktur modal).
b. Menentukan tingkat signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan 0,05
c. Menentukan F hitung
Berdasarkan tabel di atas diperoleh F hitung sebesar 7,876
51
d. Menentukan F tabel
Nilai F tabel dapat dilihat pada tabel statistik (lihat lampiran),
dengan menggunakan tingkat signifikansi 0,05, dengan df 1 (jumlah
variabel –1) = 3, dan df 2 (n-k-1) = 59. K adalah jumlah variabel
independen. Hasil diperoleh untuk F tabel sebesar 2,761.
e. Kriteria pengujian
- Ho diterima bila F hitung ≤ F tabel
- Ho ditolak bila F hitung > F tabel
f. Membandingkan thitung dengan ttabel.
Nilai F hitung > F tabel (7,876 > 2,761), maka Ho ditolak
g. Gambar
Ho ditolak
Ho diterima
+ 2,761 7,876
Gambar 4.2
Daerah Penentuan Ho pada uji F
h. Membuat kesimpulan
Karena F
hitung
> F
tabel
(7,876 > 2,761), maka Ho ditolak, artinya
bahwa ukuran perusahaan, pertumbuhan aset, dan profitabilitas
secara simultan berpengaruh terhadap struktur modal pada
perusahaan property dan real estate yang terdaftar di BEI.
52
3. Hasil pengujian hipotesis secara parsial (uji t)
Uji t pada dasarnya digunakan untuk mengukur seberapa jauh
pengaruh variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen secara
parsial.
Hasil uji t yang diperoleh disajikan sebagai berikut:
Tabel 4.7
Hasil uji t (uji secara parsial)
Sumber : Data sekunder yang diolah
Berikut prosedur pengujian masing-masing variabel independen:
a. Pengujian terhadap koefisien variabel Ukuran perusahaan (β1)
Langkah-langkah pengujian sebagai berikut:
1) Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif
H0 : β1 = 0 (Ukuran perusahaan secara parsial tidak berpengaruh
terhadap struktur modal).
Ha : β1 ≠ 0 (Ukuran
perusahaan
secara
terhadap struktur modal).
parsial
berpengaruh
53
2) Menentukan tingkat signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan 0,05
3) Menentukan t hitung
Berdasarkan tabel di atas diperoleh t hitung sebesar 2,514
4) Menentukan t tabel dengan menggunakan α = 0,05
Nilai t table dapat dilihat pada tabel statistik (lihat pada lampiran)
pada α = 0,05 : 2 = 0,025 (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df)
n-k-1 atau 63-3-1 = 59. Dengan pengujian 2 sisi hasil diperoleh
untuk ttabel sebesar +2,001 / -2,001.
5) Kriteria pengujian
Ho diterima bila -t hitung ≥ -t tabel atau t hitung ≤ t tabel
Ho ditolak bila -t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel
6) Membandingkan thitung dengan ttabel
Nilai thitung > ttabel (2,514 > 2,001), maka Ho ditolak
7) Membuat kesimpulan
Oleh karena nilai thitung > ttabel (2,514 > 2,001), maka Ho ditolak,
artinya bahwa ukuran perusahaan secara parsial berpengaruh
terhadap struktur modal pada perusahaan property dan real estate
yang terdaftar di BEI. Nilai t hitung positif menunjukkan ukuran
perusahaan berpengaruh positif terhadap struktur modal, artinya
jika ukuran perusahaan meningkat maka struktur modal juga
meningkat.
54
b. Pengujian terhadap koefisien variabel Pertumbuhan aset (β 2)
Langkah-langkah pengujian sebagai berikut:
1) Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif
Ho : β 2 = 0 (Pertumbuhan aset secara parsial tidak berpengaruh
terhadap struktur modal).
Ha : β 2 ≠ 0 (Pertumbuhan aset secara parsial berpengaruh terhadap
struktur modal).
2) Menentukan tingkat signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan 0,05
3) Menentukan t hitung
Berdasarkan tabel di atas diperoleh t hitung sebesar 0,708
4) Menentukan t tabel dengan menggunakan α = 0,05
Nilai t tabel dapat dilihat pada tabel statistik (lihat pada lampiran)
pada α = 0,05 : 2 = 0,025 (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df)
n-k-1 atau 63-3-1 = 59. Dengan pengujian 2 sisi hasil diperoleh
untuk ttabel sebesar +2,001 / -2,001.
5) Kriteria pengujian
Ho diterima bila -t hitung ≥ -t tabel atau t hitung ≤ t tabel
Ho ditolak bila -t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel
6) Membandingkan thitung dengan ttabel
Nilai thitung < ttabel (0,708 < 2,001), maka Ho diterima
55
7) Membuat kesimpulan
Oleh karena nilai thitung < ttabel (0,708 < 2,001), maka Ho diterima,
artinya bahwa pertumbuhan aset secara parsial tidak berpengaruh
terhadap struktur modal pada perusahaan property dan real estate
yang terdaftar di BEI.
c. Pengujian terhadap koefisien variabel Profitabilitas (β 3)
Langkah-langkah pengujian sebagai berikut:
1) Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif
Ho : β 3 = 0 (Profitabilitas
secara
parsial
tidak
berpengaruh
terhadap struktur modal).
Ha : β 3 ≠ 0 (Profitabilitas secara parsial berpengaruh terhadap
struktur modal).
2) Menentukan tingkat signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan 0,05
3) Menentukan t hitung
Berdasarkan tabel di atas diperoleh t hitung sebesar -2,189
4) Menentukan t tabel dengan menggunakan α = 0,05
Nilai t tabel dapat dilihat pada tabel statistik (lihat pada lampiran)
pada α = 0,05 : 2 = 0,025 (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df)
n-k-1 atau 63-3-1 = 59. Dengan pengujian 2 sisi hasil diperoleh
untuk ttabel sebesar +2,001 / -2,001.
5) Kriteria pengujian
56
Ho diterima bila -t hitung ≥ -t tabel atau t hitung ≤ t tabel
Ho ditolak bila -t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel
6) Membandingkan thitung dengan ttabel
Nilai -thitung < -ttabel (-2,189 < -2,001), maka Ho ditolak
7) Membuat kesimpulan
Oleh karena nilai -thitung < -ttabel (-2,189 < -2,001), maka Ho ditolak,
artinya bahwa profitabilitas secara parsial berpengaruh terhadap
struktur modal pada perusahaan property dan real estate yang
terdaftar di BEI. Nilai t hitung negatif menunjukkan profitabilitas
berpengaruh negatif terhadap struktur modal, artinya jika
profitabilitas meningkat maka struktur modal akan menurun, begitu
juga sebaliknya.
4. Hasil pengujian koefisien determinasi (Adjusted R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel-variabel dependen.
Nilai koefisien adalah antara nol sampai dengan satu dan ditunjukkan dengan
nilai adjusted R2.
Hasil analisis determinasi (Adjusted R2) yang diperoleh setelah data diolah
disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.8
Hasil Analisis Koefisien Determinasi
57
Sumber: Data sekunder diolah
Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai Adjusted R2 sebesar
0,250 (25%). Hal ini menunjukkan bahwa variasi variabel independen
yang digunakan dalam model (ukuran perusahaan, pertumbuhan aset,
dan profitabilitas) mampu menjelaskan sebesar 25% variasi variabel
struktur modal. Sedangkan sisanya sebesar 75% dijelaskan oleh
variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.
E. Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur modal dapat
dijelaskan oleh ukuran perusahaan, pertumbuhan aset, dan profitabilitas. Dari
ketiga variabel tersebut, ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap
struktur modal dengan arah positif, lalu pertumbuhan aset tidak berpengaruh
signifikan terhadap struktur modal, sedangkan profitabilitas berpengaruh
signifikan terhadap struktur modal dengan arah negatif. Penjelasan dari
masing-masing variabel sebagai berikut:
1. Ukuran Perusahaan
Pengujian terhadap variabel ukuran perusahaan menunjukkan bahwa
variabel ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap struktur
modal. Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Kartini dan Tulus
58
(2008) yang menunjukkan hasil bahwa ukuran perusahaan mempunyai
pengaruh signifikan positif terhadap struktur modal. Hal ini karena
perusahaan kecil akan cenderung memiliki biaya modal sendiri dan biaya
utang jangka pendek yang lebih tinggi daripada perusahaan besar. Maka
perusahaan kecil akan cenderung menyukai utang jangka pendek dari pada
utang jangka panjang karena biayanya lebih rendah. Demikian juga dengan
perusahaan besar akan cenderung memiliki sumber pendanaan yang kuat,
sehingga lebih cenderung untuk memilih utang jangka panjang. Semakin
besar ukuran suatu perusahaan, maka kecenderungan menggunakan modal
asing juga semakin besar. Hal ini disebabkan karena perusahaan besar
membutuhkan dana yang besar pula untuk menunjang operasionalnya, dan
salah satu alternatif pemenuhannya adalah dengan modal asing apabila
modal sendiri tidak mencukupi (Abdul, 2007). Dengan demikian ukuran
perusahaan akan memiliki pengaruh yang positif terhadap struktur modal.
2. Pertumbuhan aset
Pengujian terhadap variabel pertumbuhan aset menunjukkan bahwa
variabel pertumbuhan aset tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur
modal. Penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian dari Kartini dan
Tulus (2008) yang menunjukkan hasil bahwa pertumbuhan aset mempunyai
pengaruh signifikan positif terhadap struktur modal. Hal ini bisa disebabkan
perusahaan dengan tingkat pertumbuhan aset yang tinggi belum tentu akan
lebih banyak menggunakan utang dalam struktur modalnya dari pada
perusahaan yang pertumbuhan asetnya rendah, karena pertumbuhan asset
59
belum tentu dapat menjamin aliran kas yang lancar untuk pembayaran utang
dalam struktur modalnya tersebut.
3. Profitabilitas
Pengujian terhadap variabel profitabilitas menunjukkan bahwa variabel
profitabilitas berpengaruh negatif signifikan terhadap struktur modal.
Penelitian ini didukung hasil penelitian dari Hendri dan Sutapa (2006) yang
menunjukkan bahwa profitabilitas secara signifikan berpengaruh negatif
terhadap struktur modal. Hal ini dikarenakan pada umumnya perusahaanperusahaan yang memiliki tingkat keuntungan tinggi menggunakan utang
yang relatif kecil. Tingkat keuntungan yang tinggi memungkinkan mereka
untuk memperoleh sebagian besar pendanaan dari laba ditahan (Lukas,
2008). Dalam hal ini perusahaan akan cenderung memilih laba ditahan untuk
membiayai
sebagian
besar
kebutuhan
pendanaan.
Sehingga
dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi ROA, maka semakin kecil proporsi utang
di dalam struktur modal perusahaan. Adanya biaya-biaya seperti biaya
asimetri informasi dan biaya kebangkrutan pada penggunaan dana eksternal
menyebabkan penggunaan dana milik sendiri (laba ditahan) oleh perusahaan
dianggap lebih murah. Karena itu perusahaan yang mampu mendapatkan
keuntungan yang tinggi (profitable) akan cenderung banyak memanfaatkan
dana sendiri untuk keperluan investasi. Tingkat utang perusahaan yang
60
profitable dengan demikian akan semakin rendah. Jadi tingkat utang dan
tingkat profitabilitas, yang sama-sama diukur dengan aktiva, dianggap
berhubungan negatif.
Download