BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunikasi Massa Dalam

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Komunikasi Massa
Dalam komunikasi massa, media adalah alat yang menghubungkan antara
sumber dan penerima yang sifatnya terbuka, dimana setiap orang dapat melihat,
membaca, dan mendengarkan. Media yang digunakan dalam komunikasi massa
yaitu media cetak dan media elektronik.
Manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan informasi untuk
dapat memenuhi kehidupan sehari-hari. Saat ini orang-orang semakin banyak
mempelajari ilmu komunikasi, khususnya teknologi komunikasi yang semakin
canggih. Hal tersebut dikarenakan jika seseorang salah dalam berkomunikasi,
maka orang yang dijadikan sasaran akan mengalami salah persepsi dan menjadi
salah pengertian. Dalam hal-hal tertentu salah pengertian ini menimbulkan salah
perilaku, dan apabila di dalam kegiatan berkomunikasi menggunakan media
massa maka akan berakibat fatal bagi seorang komunikator.
Cara yang paling efektif untuk menyebarkan informasi adalah melalui
media-media komunikasi massa, seperti yang dikemukakan Effendy dalam
bukunya yang berjudul Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, ia menjelaskan :
7
8
Komunikasi melalui media massa modern, meliputi surat kabar yang mempunyai
sirkulasi yang luas, siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum dan
film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop.
Pengertian di atas mengandung arti bahwa komunikasi massa selalu
dilakukan melalui media massa baik itu cetak maupun elektronik. Pesan akan
lebih cepat sampai ke masyarakat bila menggunakan media massa, dan pesan
tersebut dapat mempengaruhi tingkah laku maupun cara berpikir masyarakat itu
sendiri. Effendy dalam bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi Teori dan
Praktek, menjelaskan bahwa :4
Komunikasi massa adalah sebuah proses dimana sebuah pesan disalurkan
kepada satu atau lebih media massa (surat kabar, radio, televisi, film, majalah, dan
buku-buku) kepada khalayak yang relatif besar dan anonym. Pengertian tersebut
mengandung arti bahwa komunikasi massa adalah proses pengiriman pesan
dengan menggunakan media massa seperti surat kabar, radio, televisi, film,
majalah dan buku-buku yang ditujukan kepada khalayak luas yang berbeda-beda,
baik latar belakang pendidikan, ekonomi, lingkungan dan lain-lain. Jadi
komunikasi massa hanya terbatas pada proses penyebaran pesan melalui media
massa tidak mencakup proses komunikasi tatap muka yang juga tidak kalah
penting. Munculnya berbagai stasiun televisi juga semakin memperkuat nuansa
persaingan di antara stasiun-stasiun televisi lainnya. Sebagai barometer bagi
4
Onong Uchjana Effendy. Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek). Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2007.
9
kesuksesan sebuah stasiun televisi adalah programnya yang harus disukai oleh
media riset Indonesia, Nielsen audience measurement. Melalui Rating dan Share
tersebut kemudian dapat diketahui performa stasiun televisi secara keseluruhan.
2.1.1
Karakteristik Komunikasi Massa
Seseorang yang akan menggunakan media massa sebagai alat untuk
melakukan kegiatan komunikasinya perlu memahami karakteristik komunikasi
massa, yaitu seperti yang diuraikan oleh Effendy dalam bukunya Ilmu, Teori, dan
Filsafat Komunikasi, sebagai berikut :
a. Komunikasi massa bersifat umum
Pesan komunikasi yang disampaikan melalui media massa adalah bersifat
umum dan terbuka untuk semua orang.
b. Komunikan bersifat heterogen
Komunikan dalam komunikasi massa adalah sejumlah orang yang
disatukan oleh suatu minat yang sama ysng mempunyai bentuk tingkah
laku yang sama dan terbuka bagi pengaktifan tujuan yang sama, tetapi
orang-orang tersebut tidak saling mengenal, berinteraksi secara terbatas,
dan tidak terorganisasikan.
10
c. Media massa menimbulkan keserempakan
Yaitu keserempakan kontak dengan sejumlah besar penduduk dalam jarak
yang jauh dari komunikator, dan penduduk tersebut satu sama lainnya
berada dalam keadaan terpisah.
d. Hubungan komunikator dan komunikan bersifat non pribadi.
Dalam komunikasi massa, hubungan komunikator dan komunikan itu
bersifat non pribadi, karena komunikan yang anonim dicapai oleh orangorang yang dikenal hanya dalam peranannya yang bersifat umum sebagai
komunikator.
Keempat karakteristik komunikasi massa di atas dapat disimpulkan bahwa
pesan atau informasi yang akan disampaikan melalui media massa, harus
mengetahui dan memahami karakteristik media massanya, agar pesan yang
disampaikan efektif.
2.2
Media Massa
Media Massa (Mass Media) singkatan dari Media Komunikasi Massa
(Mass Communication Media), yaitu sarana, channel, atau media untuk
berkomunikasi kepada publik.Istilah Media Massa sering disingkat "Media" saja,
tanpa "Massa". Media Massa merupakan suatu sumber informasi, hiburan, dan
11
2.2.1
Pengertian Media Massa
Media massa adalah "sarana penyampai pesan yang berhubungan langsung
dengan masyarakat luas misalnya radio, televisi, dan surat kabar".
Menurut Cangara, media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk
menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak, sedangkan pengertian
media massa sendiri alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber
kepada khalayak dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar,
film, radio dan televisi.5
Media adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau
perantara. Massa berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti kelompok
atau kumpulan. Dengan demikian, pengertian media massa adalah perantara atau
alat-alat yang digunakan oleh massa dalam hubungannya satu sama lain. Media
Massa merupakan sarana komunikasi massa dimana proses penyampaian pesan,
gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak.
2.2.2
Karakteristik Media Massa
Sebuah media bisa disebut media massa jika memiliki karakteristik
tertentu. Karakteristik Media massa menurut Cangara antara lain:
5
Cangara, H. Hafied. Pengantar Ilmu Komunikasi. PT. Raja Grafindo Jakarta: 2006
12
1. Bersifat melembaga, artinya pihak yang mengelola media terdiri dari
banyak orang, yakni mulai dari pengumpulan,pengelolaan sampai pada
penyajian informasi.
2. Bersifat
satu
arah,
artinya
komunikasi
yang
dilakukan
kurang
memungkinkan terjadinya dialog antara pengirim dan penerima. Kalau
pun terjadi reaksi atau umpan balik, biasanya memerlukan waktu dan
tertunda.
3. Meluas dan serempak, artinya dapat mengatasi rintangan waktu dan jarak,
karena ia memiliki kecepatan. Bergerak secara luas dan simultan, dimana
informasi yang disampaikan diterima oleh banyak orang dalam waktu
yang sama. Memakai peralatan teknis atau mekanis, seperti radio, televisi,
surat kabar, dan semacamnya.
4. Bersifat terbuka, artinya pesannya dapat diterima oleh siapa saja dan
dimana saja tanpa mengenal batas usia, jenis kelamin, dan suku bangsa.
Menurut Djafar H. Assegaf, media massa memiliki lima ciri:6
1. Komunikasi yang terjadi dalam media massa bersifat searah di mana
komunikan tidak dapat memberikan tanggapan secara langsung kepada
komunikatornya yang biasa disebut dengan
tanggapan yang tertunda
(delay feedback).
6
Assegaf, Djafar H. Jurnalistik Masa Kini. Jakarta : Ghalia Indonesia.
13
2. Media massa menyajikan rangkaian atau aneka pilihan materi yang luas,
bervariasi. Ini menunjukka bahwa pesan yang ada dalam media massa
berisi rangkaian dan aneka pilihan materi yang luas bagi khalayak atau
para komunikannya.
3. Media massa dapat menjangkau sejumlah besar khalayak. Komunikan
dalam media massa berjumlah besar dan menyebar di mana-mana, serta
tidak pernah bertemu dan berhubungan secara personal.
4. Media massa menyajikan materi yang dapat mencapai tingkat intelek ratarata. Pesan yang disajikan dengan bahasa yang umum sehingga dapat
dipahami oleh seluruh lapisan intelektual baik komunikan dari kalangan
bawah sampai kalangan atas.
5. Media massa diselenggrakan oleh lembaga masyarakat atau organisasi
yang terstruktur. Penyelenggara atau pengelola media massa adalah
lembaga
masyarakat/organisasi
yang
teratur
dan
peka
terhadap
permasalahan kemasyarakatan.
2.2.3
Jenis-Jenis Media Massa
1. Media massa dapat diklasifikasikan kepada tiga kategori:
2. Media Cetak - suratkabar/koran, majalah, majalah, buku, newsletter,
3. Media Elektronik - televisi, radio, video, dan film.
4. Media Online - Syber Media, Media Internet, Media Berbasis Internet.
14
2.3
Televisi
Televisi adalah media komunikasi yang mudah diterima oleh semua orang.
Dengan kata lain, televisi merupakan media yang digunakan dalam komunikasi
massa. Hal ini sejalan dengan penjelasan Jalaludin Rahmat tentang komunikasi
massa yang diartikan sebagai bentuk komunikasi yang ditunjukkan kepada
sejumlah khalayak yang menyebar, heterogen , dan anonim baik dari media cetak
maupun elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara sesaat dan
serentak. Artinya, televisi adalah media yang cukup efektif dalam menyampaikan
informasi dengan sekejap dan ke seluruh penjuru daerah di Indonesia.7
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa terlepas dari yang namanya
televisi. Salah satu alat elektronik yang sekarang sudah seperti kebutuhan primer
bagi manusia. Tidak melihat televisi sehari saja kita mungkin sudah ketinggalan
banyak informasi.
Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar. Dari sekian
banyak media komunikasi massa seperti surat kabar, majalah, radio, televisi,
internet dan film, ternyata televisi menduduki tingkat teratas yang diminati
banyak khalayak. Kelebihan televisi yang menampilkan informasi secara menarik
melalui audio visual hal inilah yang memudahkan khalayak untuk menerima
informasi secara cepat dan mudah.
7
Abdul Aziz Saefudin. Republik Sinetron. Leutika, Yogyakarta. 2010 hal 3
15
2.3.1
Fungsi Televisi
Televisi sebagai media komunikasi Massa selain sebagai penyampai
informasi ternyata memiliki banyak fungsi, antara lain:
a. Fungsi Penerangan
Di dalam fungsi penerangan, televisi dianggap sebagai media yang mampu
menyiarkan informasi yang amat memuaskan. Hal ini disebabkan dua
yang terdapat pada media massa yaitu faktor pertama “immediacy” dan
faktor kedua “realism”. Immediacy, langsung dan dekat peristiwa yang
disiarkan televisi dapat didengarkan oleh masyarakat seketika atau saat
peristiwa terjadi. Realism mengandung makna kenyataan yang berarti apa
adanya sesuai dengan kenyataan.
b. Fungsi Pendidikan.
Media televisi dalam fungsi pendidikan diharapkan mampu untuk
menyiarkan acara pendidikan kepada khalayak yang jumlahnya banyak
secara berkesinambungan. Diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan
dan penalaran masyarakat.
c. Fungsi Hiburan.
Selain sebagai media informasi dan mendidik televisi menjadi media
penghibur untuk khalayak. Berbagai macam tayangan yang disajikan dapat
dinikmati masyarakat.
16
2.3.2
Program Televisi
Program televisi adalah bahan yang telah disusun dalam suatu format
sajian dengan unsur video yang ditunjang unsur audio yang secara teknis
memenuhi persyaratan siar serta telah memenuhi standar estetik dan artistik yang
berlaku. Setiap program televisi punya sasaran yang jelas dan tujuan yang akan
dicapai. Ada lima parameter yang harus diperhitungkan dalam penyusunan
program siaran televisi, yaitu :
1. Landasan filosofis yang mendasari tujuan semua program.
2. Strategi penyusunan program sebagai pola umum tujuan program.
3. Sasaran program.
4. Pola produksi yang menyangkut garis besar isi program.
5. Karakter institusi dan manajemen sumber progam untuk mencapai usaha
yang optimum.
Stasiun televisi setiap harinya menyajikan berbagai jenis program yang
jumlahnya sangat banyak dan jenisnya sangat beragam. Dalam satu hari, stasiun
televisi rata-rata beroperasi antara 18-20 jam. Setiap stasiun televisi menayangkan
kurang lebih 20 program acara setiap hari. Pengelola stasiun penyiaran dituntut
untuk memiliki kreativitas seluas mungkin untuk menghasilkan berbagai program
yang menarik. Jenis program televisi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian
besar berdasarkan jenisnya yaitu: program informasi dan program hiburan.
17
Program informasi kemudian dibagi menjadi dua jenis yaitu berita keras
(hard news) yang merupakan laporan berita terkini yang harus segera disiarkan
dan berita lunak (soft news) yang merupakan kombinasi dari fakta, gosip dan
opini. Sementara program hiburan terbagi atas tiga kelompok besar yaitu musik,
drama permainan, dan pertunjukan.
Beberapa ahli komunikasi massa berpendapat bahwa umur dan jenis
kelamin sangat mempengaruhi perbedaan pengetahuan dan perilaku penggunaan
media massa. Sejalan dengan pernyataan tersebut dari hasil penelitian Untoro
mengemukakan bahwa karakteristik individu yang 10 meliputi umur, dan jenis
kelamin
berpengaruh
dalam
menimbulkan
keinginan
untuk
menambah
pengetahuan dari media massa, baik itu dalam hal frekuensi, lama waktu
menggunakan media massa dan jenis acara serta program yang mereka nikmati.
Semakin tinggi usia responden semakin banyak jumlah acara informasi
yang ditonton dan semakin sedikit acara hiburan yang ditonton. Semakin rendah
usia responden semakin banyak jumlah acara hiburan yang ditonton dan semakin
sedikit acara informasi yang ditonton. Responden dengan golongan ekonomi atas
lebih banyak menonton acara drama. Responden golongan ekonomi menengah
lebih banyak menonton acara hiburan „action‟ dan responden golongan ekonomi
bawah lebih banyak menonton acara hiburan “action”. Secara keseluruhan acara
hiburan “action” lebih banyak ditonton oleh responden.
Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin banyak jumlah acara
informasi yang ditonton dan semakin sedikit jumlah acara hiburan drama dan
18
komedi yang ditonton. Semakin rendah tingkat pendidikan, semakin banyak
jumlah acara hiburan yang ditonton dan semakin sedikit acara informasi yang
ditonton. Responden yang telah bekerja lebih banyak menonton acara informasi,
dan yang masih menempuh pendidikan lebih banyak menonton acara hiburan.
2.3.3
Minute by Minute
Minute by minute adalah pengevaluasian yang merangkum tiap menit per
menit pada program yang sudah disiarkan stasiun televisi, di mana suatu program
televisi yang sudah disiarkan di evaluasi secara terus menerus selama program
televisi masih disiarkan.
Minute By Minute (MBM) Content merupakan salah satu cara untuk
mengetahui sebuah program itu disukai oleh penonton atau tidak dengan cara
melihat rating dan sharenya. Setiap selesai membuat Minute By Minute (MBM)
Content, staff Program Research and Development (PR&D) akan mendownload
hasil rating dan share melalui software Arianna dari Nielsen. Dari hasil tersebut
para analis Program Research and Development (PR&D) akan melihat
perkembangan program tersebut. Pembuatan Minute By Minute (MBM) content
sangat berpengaruh dalam menganalisis program karena kita bisa melihat detail
content tiap menitnya. Di sana akan terlihat bagian mana yang disukai penonton
dan yang tidak disukai penonton.
Fungsi MBM (Minute By Minute) adalah untuk mengembangkan serta
mempertahankan minat penonton agar tidak bosan melihat program acara berita
19
yang disiarkan. Minute by minute menjadi sebuah rangkuman susunan adegan di
setiap menitnya. Minute by minute dibuat dengan mencatat semua kegiatan yang
ada didalam cerita sinetron. Minute by minute dibuat untuk dijadikan media
evaluasi bagi sinetron itu sendiri maupun RCTI.
2.4
Sinetron
Sinetron kependekan dari sinema elektronik, yakni sebuah film seri yang
ditayangkan melalui media elektronik (televisi). Di Barat, sering dikenal dengan
soap opera atau opera sabun, atau disebut juga telenovela (bahasa Spanyol).
Sinetron pada umumnya bercerita tentang kehidupan manusia sehari-hari yang
diwarnai konflik, misalnya kehidupan remaja dengan intrik-intrik cinta segi tiga,
kehidupan keluarga yang penuh penistaan, dan kehidupan alam gaib.
Sinetron Indonesia sering mendapat kritikan. Biasanya, dibuat berpuluhpuluh bahkan beratus-ratus episode, semata karena tujuan komersial, kurang
mengindahkan kualitas dan logika cerita, tidak mendidik, dan hanya menyajikan
hal-hal yang bersifat menghibur. Dalam hal cerita, sinetron Indonesia bersifat
musiman dan mengalami pasang surut. Misalnya musim sinetron remaja, sinetron
misteri, sinetron percintaan, dan sebagainya. Cerita yang disuguhkan cenderung
mengekor pada sinetron yang laris dan diminati pasar.8
8
Fred Suban. Yuk Nulis Skenario Sinetron. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2009
20
Sinetron benear-benar dijadikan program siaran idolabagi setiap TV di
Indonesia, terutama TV swasta nasional. Dalam satu hari, rata-rata TV
menayangkan acara sinetron lebih dari empat jam tayang. Sinetron banyak
menginspirasi seseorang yang menonton. Inspirasi tersebut dapat mengarahkan
seseorang melakukan sesuatu perbuatan yang baik. Sebaliknya, sinetron juga
dapat menginspirasi seseorang berbuat buruk. Adegan percekcokan atau
perkelahian dalam menyelesaikan masalah, percintaan yang terlalu vulgar, dan
perilaku buruk lainnya terkadang tanpa disadari banyak kita lihat dalam tayangan
sinetron. Ada nilai yang baik untuk diteladani dan ada nilai buruk yang harus
ditinggalkan.
Umumnya, isi sinetron terkait dengan aktivitas kehidupan sehari-hari
beserta dinamikanya. Isi ceritanya sangat beragam, terutama tentang pernakpernik kehidupan manusia, semisal cinta, keluarga, konflik. Semua cerita tersebut
diperankan oleh beberapa aktris yang mempunyai karakter dan kepentingan
berbeda. Ada tokoh utama atau protagonis yang berlawanan dengan tokoh
antagonis. Terkait proses penayangannya, sinetron biasanya ditayangkan per
episode. Satu episode berdurasi sekitar dua jam.
2.4.1
Ciri Khas Sinetron
Sinetron banyak digemari oleh seluruh masyarakat, baik dari kaum
orangtua, remaja, bahkan anak-anak. Sinetron memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
21
a. Bentuk narasi dengan akhir cerita mengambang, berjangka waktu panjang,
bisa saja menjadi tak terbatas dalam menceritakan kisahnya.
b. Lokasi utamanya bertempat di suatu tempat yang mudah di identifikasi,
alias familiar, dan di situlah tokoh-tokoh tersebut sering melakukan
perannya.
c. Ketegangan antara konvensi realisme dan melodrama. Realisme mengacu
kepada seperangkat konvensi yang menyatakan bahwa drama tersebut
merupakan representasi dari apa yang terjadi di „dunia nyata‟ dengan
tokoh-tokoh yang akrab dan masalah yang terjadi dalam kehidupan seharihari. Teknik narasi secara sengaja mengaburkan pandangan pemirsa bahwa
tayangan tersebut hanyalah sebuah konstruksi di layar kaca. Musik-musik
yang dramatis dan tayangan close up pun menjadi bumbu pelengkap yang
sangat pas untuk membangun ketegangan dalam setiap episodenya, yang
nantinya akan dipotong pada moment yang tepat, dan membuat penonton
semakin penasaran.
d. Tema yang berputar-putar dan menonjolkan hubungan interpersonal.
Perkawinan, perceraian, putus hubungan, dan aksi balas dendam menjadi
inti dari opera sabun, dan memberikan minat emosional pada cerita. Tematema tersebut berputar-putar di antara semua tokoh dalam cerita tersebut
dan akhirnya terbentuk sebuah imaji bahwa anggota keluarga dalam cerita
tersebut akan terus-menerus dilanda pertengkaran.
22
2.4.2
Jenis-Jenis Sinetron
Sinema elektronik atau lebih populer disebut dengan sinetron adalah
sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasiun televisi. Di Indonesia, istilah
ini pertama kali dicetuskan oleh Arswendo Atmowiloto (penulis). Dalam bahasa
Inggris, sinetron disebut soap opera atau lebih dikenal dengan opera sabun,
sedangkan dalam bahasa Spanyol atau Amerika latin disebut telenovela.
Menurut Labib, seiring dengan perkembangan jaman pengaruh sinetron
dapat dirasakan cukup mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh jika
kita tertinggal satu episode akan merasa ada sesuatu yang hilang dan tidak jarang
pula pertengkaran dalam melihat sinetron antar anggota keluarga sering terjadi.
Hal ini menunjukkan sinetron memiliki banyak penggemar, khususnya di
Indonesia .9
Menurut Labib ada beberapa jenis sinetron yang dikenal, antara lain :
1. Sinetron Seri, yaitu sinetron yang memiliki banyak episode tetapi masingmasing episode tidak memiliki hubungan sebab akibat.
2. Sinetron Serial, kebalikan dengan sinetron seri, sinetron serial memiliki sebab
akibat dalam tiap episodenya.
3. Sinetron Mini Seri, yaitu sinetron yang memiliki durasi lebih pendek dan
langsung selesai.
4. Sinetron Lepas, yaitu sinetron yang terdiri dari satu episode yang jalan
ceritanya sudah langsung selesai.
9
Muh. Labib. Potret Sinetron Indonesia: Antara Realitas Virtual dan Realitas Sosial. PT Mandar
Utama Tiga Books Division. Jakarta. 2002
23
2.4.3
Sinetron Dalam Industri Televisi Indonesia
Sebagai sebuah produk yang dipasarkan, sinetron sinetron memiliki peran
yang cukup penting dalam kegiatan pemasaran stasiun TV untuk dapat terus
menjalankan roda kehidupannya. TV memerlukan pemirsa dan para pengiklan
sebagai konsumennya, untuk memperoleh peruntungan.
Pemirsa memerlukan sebuah program yang sesuai dengan keinginan
mereka, suatu tontonan yang memang digemari. Apabila program tersebut
mendapat popularitas, banyak ditonton, maka otomatis akan memberi pengaruh
pada pembentukan angka rating. Adapun tayangan lokal yang sekarang menjadi
primadona di Indonesia adalah sinetron. Terlepas dari isi pesan dan tehnik
penggarapan yang kurang baik, program ini berhasil memikat pemirsa dan
mencetak rating yang memuaskan. Maka tidak heran bila jumlah produksi
sinetron terus meningkat.
Peningkatan ini seiring dengan didirikannya berbagai rumah produksi
yang memasok sinetron untuk televisi swasta. Dari segi bisnis, sinetron
merupakan komoditi yang bisa memberi keuntungan bagi rumah produksi.
Sebagai hasil produk industri kehadiran sinetron memang mengalami
banyak tantangan. Sebagai produk hiburan, sinetron mendapatkan popularitas
melalui rating. Namun, kepopulerannya ternyata masih menimbulkan tanggapan.
Aneka program yang datang impor sering dianggap sangat minus dalam norms
value, nilai normanya sangat jauh dari adat ketimuran.
24
Hal ini seiring dengan pendapat yang mengatakan bahwa televisi
sesungguhnya hanya alat yang amat tergantung dari cara dan kemampuan kita
mengendalikan dan memanfaatkannya, justru yang terakhir ini di Indonesia belum
cukup dilakukan. Di tengah derasnya arus informasi yang datang dari Barat dalam
rangka globalisasi Indonesia seperti tidak ingin tertinggal. Segala sesuatu yang
berkembang di Barat selalu ingin diketahui di Indonesia.
2.4.4
Perkembangan Sinetron Di Indonesia
Di zaman sekarang ini banyak sekali film-film berkualitas ada di seluruh
mancanegara. Mulai dari film western,asia,drama,komedi sampai dengan genre
horror yang mempunyai kualitas tinggi. Contohnya kita melihat perfilman
Hollywood yang merajai box office. Karya-karya mengagumkan banyak
diperlihatkan di perfilman Hollywood. Mulai dari film-fiksi berdasarkan novelnovel ternama dan best seller yang kemudian dibuatkan filmnya.
Keberhasilan film-film tersebut didukung juga oleh pengambilan lokasilokasi yang indah dan di dukung juga oleh peran aktor dan aktris kenamaan
Hollywood. Modal yang besar juga menjadi salah satu factor pendukung terbesar
yang bias membuat film Hollywood berhasil. Tetapi apabila kita mulai melihat
perfilman Indonesia terd apat cukup banyak perbedaan disini. Dari segi kualitas
memang jauh ketimbang film-film besar luar negeri.
Dari segi modal saja para insane per filman Indonesia mengakui
mengalami banyak kekurangan dana. Lalu apabila kita menengok dunia sinetron
25
Indonesia, bisa dibilang hampir seluruh sinetron yang beredar Indonesia
mempunyai alur cerita yang sama. Bahkan bisa dibilang monoton dan kurang
berkualitas. Jalan ceritanya hampir sama dari satu sinetron ke sinetron yang lain.
Ceritanya hanya seputar konplik rumah tangga yang tidak berkesudahan, konflik
cinta yang berlarut-larut, dan tentang perbedaan antara si miskin dan si kaya yang
terus saja berbeda.
Dari segi nilai pendidikan juga kurang. Banyak penayangan sinetron yang
kurang mendidik bagi anak-anak di bawah umur yang menontonnya. Harusnya
apa yang menjadi tontonan orang banyak dapat memberikan pelajaran atau
hikmah yang bisa diambil setiap masyarakat yang menyaksikannya. Tidak sedikit
anak-anak kecil yang mencontoh adegan-adegan yang tidak baik yang ada dalam
sinetron. Hal ini seharusnya tidak terjadi. Alurnya yang monoton juga membuat
sebagian besar pengkonsumsi film atau sinetron menjadi bosan. Bahkan mereka
bisa menebak apa yang akan terjadi di akhir sinetron tersebut. Seharusnya crew di
dunia sinetron bisa lebih kreatif lagi dalam mengembangkan alur cerita dan
menyematkan unsur pendidikan yang baik agar bisa di serap oleh masyarakat
dengan baik juga. Agar anak-anak bisa mencontoh dan menerapkan apa yang
mereka tonton dalam kehidupan sehari-hari.
Walaupun diperankan oleh para aktor dan aktris kenamaan Indonesia, hal
ini belum tentu menjamin keberhasilan sebuah sinetron dalam mengambil hati dan
menarik perhatian sebagian besar masyarakat Indonesia. Tetapi kembali lagi tetap
yang menentukan adalah alur cerita dari sinetron tersebut. Semakin menarik alur
cerita sinetron tersebut maka akan semakin banyak juga penggemar sinetron
26
tersebut. Walaupun perkembangan dunia sinetron kurang signifikan akan tetapi
para penggemar setia sinetron masih banyak dan khususnya kaum ibu-ibu.
Sinetron-sinetron Indonesia masih mempunyai tempat yang eksklusif di
hati para penggemar sinetron. Jadi sebenarnya dunia persinetronan di Indonesia
tidak telalu buruk juga buktinya masih banyak kelompok masyarakat yang
menanti kehadiran sinetron-sinetron di layar televisi mereka. Hal ini disebabkan
minimnya dana yang dimilki sebagian besar masyarakat untuk merasakan hiburan,
banyak diantara mereka yang menjadikan sinetron sebagai alternative hiburan.10
2.5
Rating dan Share
Rating =
Share =
x 100%
x 100%
Rating secara harfiah adalah evaluasi atau penilaian atas suatu hal. Dalam
konteks pertelevisian, rating suatu program televisi diartikan sebagai data
kepermirsaan televisi yang diperoleh dengan cara mempresentasekan jumlah
orang yang menonton suatu program dengan jumlah populasi disuatu wilayah.11
10
11
EB. Surbakti. Awas Tayangan Televisi. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta 2008. Hal 43
Abdul Aziz Saefudin. Republik Sinetron. Leutika, Yogyakarta. 2010 hal 8
27
Dari rumus pencarian Rating dan Share yang dituliskan di atas, dapat
disimpulkan bahwa Rating adalah jumlah presentase pemirsa program tertentu
dibandingkan dengan total populasi pemirsa pada periode waktu tertentu.
Sedangkan Share adalah jumlah presentase jumlah pemirsa program tertentu
dibandingkan dengan total pemirsa potensial pada periode waktu tertentu. Rating
dan Share digunakan oleh sebelas stasiun televisi di Indonesia, yaitu RCTI,
SCTV, Trans TV, Indosiar, MNC TV, Trans 7, Global TV, ANTV, TV One,
Metro TV dan TVRI. Rating dan Share berhubungan dengan program acara yang
disiarkan oleh setiap stasiun televisi yang menayangkan program tv. Perhitungan
Rating dan Share membutuhkan software khusus yang bernama Arianna, yang
dikeluarkan oleh Nielsen, dan metodologi penelitian tv Audience Measurement
yang sudah diakui di puluhan negara.
Setiap
program
bertujuan
agar
digemari
oleh
penonton
yang
menyaksikannya. Maka dari itu sebagai tolak ukur suatu program dapat dikatakan
sukses atau berhasil, bila suatu program memiliki, rating dan share yang tinggi
dan untuk mendapatkan nilai tersebut setiap televisi melakukan kerjasama dengan
lembaga survey yang ada.
Rating, selain menjadi indikator, berapa, dan kari kalangan sosial, mana
penonton sebuah acara, juga berfungsi sebagai peta posisi pada sebuah program,
acara yang ada giliran menentukan program yang layak tidaknya suatu acara
ditayangkan.12
12
Erika, L.Panjaitan “Matinya Rating Televisi”. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta 2006. Hal 69
28
Rating merupakan hal yang penting karena pemasang iklan selalu mencari
stasiun penyiaran atau program acara yang paling banyak ditonton atau didengar
orang. Keberhasilan penjualan barang dan jasa melalui iklan sebagian besar
ditentukan oleh banyaknya audien yang memiliki suatu program. Rating menjadi
acuan apakah program itu memiliki audien atau tidak. Rating menjadi perhatian
pula bagi pemasang iklan yang ingin mempromosikan produk atau jasanya.13
Morissan mengutip Sydney Head dan Christoper Sterling yang
mendefinisikan rating sebagai ” A comparative estimateof set tuning in any given
market” digunakan wilayah siaran tertentu. Kata komparatif digunakan dalam
definisi tersebut karena suatu rating akan memberikan estimasi pada jumlah
audien yang sebenarnya (aktual) dengan kemungkinan jumlah total audien.
Rating adalah suatu perkiraan karena perhitungan didasarkan pada jumlah
pesawat televisi yang digunakan oleh suatu kelompok audien yang dijadikan
sampel, dan sampel tidak akan pernah menghasilkan ukuran mutlak tetapi hanya
perkiraan. Perhitungan rating secara sistematis sangat sederhana yaitu hanya
membagi jumlah rumah tangga yang tengah menonton suatu program tertentu
dengan jumlah keseluruhan rumah tangga yang memiliki telivisi di suatu wilayah
siaran.
13
Morissan. Manajemen Media Penyiaran : Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Ramdina
Prakarsa. Jakarta 2005. Hal 222
Download