BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Persalinan 1. Pengertian Persalinan

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Persalinan
1. Pengertian Persalinan
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal.
Persalinan adalah pelepasan dan pengeluaran produk konsepsi (janin, air ketuban,
plasenta dan selaput ketuban) dari uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan
normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan
(37-40 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang
berlangsung kurang dari 24 jam tanpa komplikasi baik bagi ibu maupun bagi janin
(Prawirohardjo, S., 2005).
2. Proses Terjadinya Persalinan
Persalinan terjadi karena adanya : (a) penurunan kadar estrogen dan
progesteron, dimana progesteron merupakan penenang otot-otot rahim dan
estrogen meningkatkan kontraksi otot. Selama kehamilan kadar progesteron dan
estrogen seimbang di dalam darah tetapi di akhir kehamilan kadar progesteron
menurun sehingga timbul his, menurunnya kadar kedua hormon ini terjadi kirakira 1-2 minggu sebelum persalinan dimulai, (b) oksitosin meningkat sehingga
timbul kontraksi rahim, (c) dengan majunya kehamilan maka otot-otot rahim
semakin menegang dan timbul kontraksi untuk mengeluarkan janin, (d) hipofise
dan kadar suprarenal janin memegang peranan penting sehingga pada ancephalus
kelahiran sering lebih lama, (e) kadar prostaglandin dalam kehamilan dari minggu
ke-15 hingga aterm terutama saat persalinan menyebabkan kontraksi miometrium
(Prawirohardjo, S., 2005).
3. Persalinan Kala I
Secara klinis persalinan diawali bila adanya kontraksi dan mengeluarkan
lendir yang bersemu darah (bloody show). Lendir yang bersemu darah ini berasal
dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka, sedangkan darahnya
berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang berada disekitar kanalis servikalis
yang pecah karena pergeseran karena serviks membuka. Proses membukanya
serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase, yaitu : (a) fase laten yaitu dari awal
kontraksi hingga pembukaan 3 cm, durasi 20-30 detik, tidak terlalu mules,
berlangsung 7-8 jam, (b) fase aktif yaitu pembukaan dari 4 cm hingga lengkap,
penurunan bagian terbawah janin, durasi 40 detik atau lebih dengan frekuensi 3x10
menit atau lebih dan sangat mules, berlangsung 6 jam dengan 3 sub fase yaitu : (1)
periode akselerasi berlangsung 2 jam dan pembukaan menjadi 4 cm, (2) dilatasi
maksimal berlangsung 2 jam dan pembukaan menjadi 9 cm, (c) periode deselerasi
berlangsung 2 jam dan pembukaan menjadi 10 cm. Fase-fase tersebut dijumpai
pada primigravida dan multigravida, hanya pada multigravida fase laten, fase aktif,
dan fase deselerasi terjadi lebih pendek. Ketuban akan pecah dengan sendirinya
ketika pembukaan hampir atau telah lengkap. Bila ketuban telah pecah sebelum
mencapai pembukaan 5 cm, disebut ketuban pecah dini. Pada primigravida kala I
berlangsung kira-kira 13 jam dan pada multipara kira-kira 7 jam ( Prawirohardjo,
S., 2005).
4. Asuhan Persalinan Kala I
Merupakan asuhan yang dibutuhkan ibu saat proses persalinan. Asuhan ini
bertujuan untuk mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat
kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang
terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan
kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal. Asuhan sayang ibu
antara lain memberi dukungan emosional, mengatur posisi yang nyaman bagi ibu,
cukup asuhan cairan dan nutrisi, keleluasaan untuk mobilisasi, termasuk ke kamar
kecil, penerapan prinsip pencegahan infeksi yang sesuai.
B. Nyeri Persalinan
1. Pengertian Nyeri
Nyeri merupakan kondisi perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya
sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala
atau tingkatannya. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang
dibanding suatu penyakit manapun. Nyeri adalah pengalaman sensori dan
emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual
atau potensial (Bare dan Smeltzer, 2001). Menurut Telfer (1997), nyeri
merupakan fenomena multifaktorial, yang subjektif, personal, dan kompleks yang
dipengaruhi oleh faktor psikologis, biologis, sosial budaya, dan ekonomi (Fraser,
D. M., dan Cooper, M. A., 2009).
2. Teori Nyeri
Terdapat beberapa teori tentang terjadinya ransangan nyeri, diantaranya :
a. Transmisi nyeri, impuls nyeri berjalan sepanjang saraf sensorik ke ganglion
akar dorsal dari saraf spinal terkait dan masuk ke dalam kornu posterior medula
spinalis. Hal ini disebut neuron pertama. Neuron kedua muncul di kornu
posterior, melintang di dalam medula spinalis (persimpangan sensorik) dan
mengantarkan impuls melalui medula oblongata, pons varolli dan otak tengah
ke talamus. Dari sini impuls berjalan sepanjang neuron ketiga menuju korteks
sensorik.
Teori Pengendalian Gerbang (gate control theory), mekanisme hambatan
neurol atau spinal terjadi dalam substansi gelatinosa yang terdapat di kornu
dorsal medula spinalis. Impuls saraf yang diterima oleh nosiseptor, reseptor
nyeri pada kulit dan jaringan tubuh dipengaruhi oleh mekanisme tersebut.
Posisi hambatan menentukan apakah impuls saraf berjalan bebas atau tidak ke
medula dan talamus sehingga dapat mentransmisikan impuls atau pesan sensori
ke korteks sensorik. Jika hambatan tersebut tertutup, hanya terdapat sedikit
konduksi atau bahkan tidak sama sekali. Jika hambatan terbuka, impuls dan
pesan dapat melewatinya dan ditransmisikan secara bebas (Fraser, D. M., dan
Cooper, M. A., 2009).
b.
Penyebab Nyeri Persalinan
Selama persalinan kala-satu, nyeri terutama dialami karena rangsangan
nosiseptor dalam adneksa, uterus, dan ligamen pelvis. Nyeri persalinan kalasatu adalah akibat dilatasi seviks dan segmen uterus bawah dengan distensi
lanjut, peregangan, dan trauma pada serat otot dan ligamen. Faktor penyebab
nyeri persalinan adalah : a) berkurangnya pasokan oksigen ke otot rahim (nyeri
persalinan menjadi lebih hebat jika interval antara kontraksi singkat, sehingga
pasokan oksigen ke otot rahim belum sepenuhnya pulih), b) meregangnya leher
rahim (effacement dan pelebaran), c) tekanan bayi pada saraf didekat leher
rahim dan vagina, d) ketegangan dan meregangnya jaringan ikat pendukung
rahim dan sendi panggul selama kontraksi dan turunnya bayi, e) Tekanan pada
saluran kemih, kandung kemih, dan anus, f) Meregangnya otot-otot dasar
panggul dan jaringan vagina, g) ketakutan dan kecemasan yang dapat
menyebabkan dikeluarkannya hormon stress dalam jumlah besar (epinefrin,
norepinefrin, dan lain-lain) yang mengakibatkan timbulnya nyeri persalinan
yang lama dan lebih berat (Simkin, P., Whalley, J., dan Keppler, A., 2007).
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rasa Nyeri Persalinan
Faktor- faktor yang mempengaruhi nyeri persalinan yaitu : a) usia wanita
yang sangat muda dan ibu yang tua mengeluh tingkat nyeri persalinan yang
lebih tinggi, b) primipara mengalami nyeri yang lebih besar pada awal
persalinan, sedangkan multipara mengalami peningkatan tingkat nyeri setelah
proses persalinan dengan penurunan cepat pada persalinan kala II, c) wanita
yang mempunyai pelvis kecil, bayi besar, bayi dengan presentasi abnormal, d)
wanita yang mempunyai riwayat dismenorea dapat mengalami peningkatan
persepsi nyeri, kemungkinan karena produksi kelebihan prostaglandin, e)
kecemasan akan meningkatkan respon individual terhadap rasa sakit,
ketidaksiapan menjalani proses melahirkan, dukungan dan pendamping
persalinan, takut terhadap hal yang tidak diketahui, pengalaman buruk
persalinan yang lalu juga akan menambah kecemasan, sehingga menimbulkan
peningkatan rangsang nosiseptif pada tingkat korteks serebral dan peningkatan
sekresi katekolamin yang juga meningkatkan rangsang pada pelvis karena
penurunan aliran darah dan terjadi ketegangan otot, f) faktor sosial dan budaya
dimana beberapa budaya mengharapkan stoicisme (sabar dan membiarkannya)
sedang budaya yang lainnya mendorong keterbukaan untuk menyatakan
perasaan (Walsh, L. V., 2007).
d.
Fisiologi Nyeri Persalinan kala I
Rasa nyeri pada kala I disebabkan oleh munculnya kontraksi otot-otot
uterus, peregangan serviks pada waktu membuka, iskemia rahim (penurunan
aliran darah sehingga oksigen lokal mengalami defisit) akibat kontraksi arteri
miometrium. Impuls nyeri ditransmisikan oleh segmen saraf spinalis T11-12
dan saraf-saraf asesori torakal bawah serta saraf simpatik lumban atas. Sarafsaraf ini berasal dari korpus uterus dan serviks. Ketidaknyamanan dari
perubahan serviks dan iskemia uterus adalah nyeri viseral yang berlokasi di
bawah abdomen menyebar ke daerah lumban punggung dan menurun ke paha.
Biasanya nyeri dirasakan pada saat kontraksi saja dan hilang pada saat
relaksasi. Nyeri bersifat lokal seperti kram, sensasi sobek dan sensasi panas
yang disebabkan karena distensi dan laserasi serviks, vagina dan jaringan
perineum.
Nyeri persalinan menghasilkan respon psikis dan refleks fisik. Nyeri
persalinan memberikan gejala yang dapat diidentifikasi seperti pada sistem
saraf simpatis yang dapat terjadi mengakibatkan perubahan tekanan darah,
nadi, respirasi, dan warna kulit. Ekspresi sikap juga berubah meliputi
peningkatan kecemasan, mengerang, menangis, gerakan tangan (yang
menandakan rasa nyeri) dan ketegangan otot yang sangat di seluruh tubuh
(Bobak I. M., at all. 2004).
Teori gate control atau pengendalian nyeri yang dikemukakan oleh Melzack dan Well
(1965) mengemukakan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh
mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Mekanisme pertahanan dapat
ditemukan pada medula spinalis, talamus, dan sistem limbik yang mengandung
enkefalin yang menghambat transmisi nyeri (Potter, P. A., dan Perry, A. G., 2005).
a.
Klasifikasi Nyeri
Nyeri secara umum terdiri dari nyeri akut dan nyeri kronis. (a) Nyeri akut
merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang, tidak
melebihi 6 bulan, dan ditandai adanya peningkatan tegangan otot dan cemas, (b)
Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara perlahan – lahan biasanya
berlangsung dalam waktu cukup lama, yaitu lebih dari 6 bulan meliputi nyeri
terminal, sindrom nyeri kronis dan psikosomatik.
Selain klasifikasi nyeri di atas, terdapat jenis nyeri yang spesifik, di antaranya (a)
Nyeri somatic dan visceral yaitu bersumber dari kulit dan jaringan di bawah kulit
(supervisial) pada otot dan tulang. Nyeri somatic dan visceral berbeda karakteristiknya
terutama kualitas nyeri, lokalisasi, sebab-sebab dan gejala yang menyertainya, (b) Nyeri
menjalar (Referrent pain) dimana nyeri terasa pada daerah lain daripada yang mendapat
rangsang, misalnya pada serangan jantung akan mengeluh nyeri yang menjalar kebawah
lengan kiri sedangkan jaringan yang rusak terjadi pada miokardium, (c) Nyeri psikogenik
yaitu nyeri yang tidak diketahui secara fisik, biasanya timbul dari pikiran pasien atau
psikologis, (d) Nyeri phantom dari ektremitas yaitu nyeri pada salah satu ekstremitas
yang telah diamputasi, (e) Nyeri neurologis yang timbul dalam berbagai bentuk, dimana
neuralgia adalah nyeri yang tajam (Bare, B. G., dan Smeltzer, S. C., 2001).
b. Pengukuran Intensitas Nyeri
Mendeskripsikan nyeri berbeda antara bidan dan pasien. Skala deskriptif
merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih objektif. Skala
pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang
terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama
di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari tidak terasa nyeri sampai nyeri
yang tidak tertahankan.
Skala penilaian numerik (Numerical Rating Scales, NRS) lebih digunakan
sebagai pengganti alat pendeskripsi kata dengan menggunakan skala 1-10. Skala
analog visual (Visual Analog Scale, VAS) merupakan suatu garis lurus yang
mewakili intensitas nyeri. Skala nyeri digunakan yaitu :
a. Numerik ( 0-10 )
0
1
2
3
Tidak
4
5
6
7
8
Nyeri sedang
9
10
Nyeri
Nyeri
sangat hebat
b. Deskriptif
Tidak
Nyeri
Nyeri
Nyeri
Nyeri
nyeri
ringan
sedang
hebat
sangat hebat
c. Skala Analog visual (VAS)
Tidak Nyeri
Nyeri sangat hebat
Skema 1. Skala Nyeri
(Bare, B. G., dan Smeltzer, S.C., 2001).
Nyeri yang ditanyakan pada skala tersebut adalah intensitas nyeri sebelum dan sesudah
dilakukan intervensi. Cara mengkaji nyeri yang digunakan adalah 0-10 angka skala
intensitas nyeri.
Keterangan :
0
: Tidak nyeri.
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan
lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi
masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat
mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi rasa nyeri.
10
: Nyeri sangat berat : pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
(Suddarth dan Brunner dalam Smeltzer, 2001, hal. 218).
a. Penatalaksanaan Nyeri
Rasa sakit yang dialami ibu selama proses persalinan sangat bervariasi
tingkatannya. Untuk itu perlu dukungan selama persalinan untuk mengurangi
rasa nyeri selama proses persalinan. Penny simpkin (2007) mengatakan cara
untuk mengurangi rasa sakit ini ialah: mengurangi sakit langsung dari
sumbernya, memberikan rangsangan alternatif yang kuat, mengurangi reaksi
mental negatif, emosional dan fisik ibu terhadap rasa sakit. Pendekatan
pengurangan rasa nyeri persalinan dapat dilakukan dengan pendekatan
farmakologis dan nonfarmakologis.
Manajemen secara farmakologis adalah dengan pemberian obat-obatan
sedangkan nonfarmakogis tanpa obat-obatan. Cara farmakologis adalah dengan
pemberian obat-obatan analgesia yang bisa disuntikan melalui infus intravena
yaitu saraf yang mengantar nyeri selama persalinan. Tindakan farmakologis
masih menimbulkan pertentangan karena pemberian obat selama persalinan
dapat menembus sawar plasenta, sehingga dapat berefek pada aktifitas rahim.
Efek obat yang diberikan kepada ibu terhadap bayi dapat secara langsung
maupun tidak langsung.
Manajemen secara nonfarmakologis sangat penting karena tidak
membahayakan bagi ibu maupun janin, tidak memperlambat persalinan jika
diberikan kontrol nyeri yang kuat, dan tidak mempunyai efek alergi maupun efek
obat. Banyak teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri selama kala I
meliputi, relaksasi, akupresur, kompres dingin atau hangat, terapi musik,
hidroterapi dan masase.
C. Akupresur
1. Definisi Akupresur
Akupresur adalah pendekatan penyembuhan yang berasal dari daerah timur yang
menggunakan masase titik tertentu di tubuh (garis aliran energi atau meridian) untuk
menurunkan nyeri atau mengubah fungsi organ (Walsh, 2007, hal. 266).
2. Tujuan Akupresur
Menekan titik tertentu dapat dilakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan
selama hamil dan saat kontraksi datang. Akupresur seperti halnya akupuntur merupakan
terapi yang menekankan titik-titik tertentu pada tubuh yang diyakini dapat mengatasi
rasa tak nyaman selama hamil maupun saat mengalami kontraksi menjelang persalinan.
Saat hamil pun, akupresur bisa mengusir morning sickness yang melanda. Sedangkan
pada kondisi menjelang persalinan, akupresur selain untuk meringankan rasa sakitnya
juga untuk meningkatkan intensitas kontraksi itu sendiri (Turana, 2004, ¶ 4).
Akupresur merupakan bagian kecil dari akupuntur yang sangat membantu ibu
hamil. Pada saat proses persalinan, akupresur memberikan rasa nyaman selama proses
persalinan atau relaksasi. Pada sebagian orang, akupresur ini juga dikenal banyak
digunakan untuk merangsang kontraksi atau mendorong kemajuan kontraksi agar
pembukaan lebih cepat terjadi dan ibu merasa nyaman saat proses persalinan berjalan
(Turana, 2004, ¶ 1-3).
3. Manfaat Akupresur
Sejarah membuktikan bahwa akupresur bermanfaat untuk :
a. Pencegahan penyakit
Akupresur dipraktekkan secara teratur pada saat-saat tertentu menurut aturan yang
sudah ada, yaitu sebelum sakit. Tujuannya adalah mencegah masuknya sumber
penyakit dan mempertahankan kondidi tubuh.
b. Penyembuhan penyakit
Akupresur dapat digunakan menyembuhkan keluhan sakit dan dipraktekkan ketika
dalam sakit.
c. Rehabilitasi
Akupresur dipraktekkan untuk meningkatkan kondisi kesehatan sesudah sakit.
d. Promotif
Akupresur dipraktekkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh walaupun tidak
sedang sakit (Oka, 2003, hal. 3).
4. Persiapan Tindakan Akupresur
Ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan agar pemanfaatan akupresur baik,
yaitu : ruangan tempat melakukan pemijatan hendaknya tidak pengap dan mempunyai
sirkulasi udara yang baik, pemijatan dilakukan ditempat yang bersih, posisi orang yang
akan dipijat sebaiknya berbaring, duduk, dan tidak berdiri, tangan sebelum memijat
dicuci bersih dan kuku jari tidak panjang serta tidak tajam, pemijat dalam keadaan bebas
bergerak dengan posisi yang nyaman, kondisi pasien yang perlu diperhatikan sebelum
melakukan teknik akupresur adalah sebaiknya pasien tidak dalam keadaan emosional
(marah, takut, terlalu gembira, atau sedih), tidak terlalu lapar atau terlalu kenyang, alat
bantu pijat yang digunakan tidak tajam dan bersih, pemijatan dapat dilakukan dengan
ujung-ujung jari, kepalan tangan, telapak tangan, pangkal telapak tangan dan siku, titik
acupoint tidak dalam keadaan luka atau bengkak, dan untuk pasien yang lemah
kondisinya akupresur hanya diperlukan untuk menguatkan kondisinya dan jumlah titik
yang dipergunakan jangan terlalu banyak (Oka, 2003, hal. 38).
Penekanan pada saat awal harus dilakukan dengan lembut, kemudian secara bertahap
kekuatan penekanan ditambah sampai terasa sensasi yang ringan tetapi tidak sakit
(Turana, 2004, ¶ 3).
5.
Lokasi Titik Akupresur Saat Persalinan untuk Mengurangi Nyeri
Cara kerja akupresur ini sendiri cukup mudah dan sederhana karena tidak
memerlukan bantuan jarum akupuntur. Cukup dengan menekan pada titik-titik tertentu
sesuai dengan tujuan untuk apa akupresur dilakukan.
a. Akupresur untuk meningkatkan intensitas kontraksi disebut dengan istilah Spleen 6
dan hoku atau usus besar 4. Spleen 6 dapat ditemukan empat jari lebarnya di atas
tulang pergelangan kaki .
Spleen 6
Letakkan 4 jari di atas mata kaki di bagian kaki. Lalu tekan selama satu menit
dengan ibu jari, yaitu di bagian belakang tulang kaki kanan bergantian dengan kaki
kiri. Atau bersamaan secara simultan. Gerakkan ibu jari naik turun sedikit atau
dalam bentuk lingkaran kecil (Klein & Thompson, 2009).
b. Hoku atau LI4 adanya di jaringan antara jempol dan jari telunjuk.
Hoku atau L14
Letakkan jari di telapak tangan pasien dan ibu jari di luar telapak tangan.
Tekan perlahan secara bersamaan kiri dan kanan. Titik ini sangat dikenal banyak
orang dan sangat efektif untuk menghilangkan sakit kepala. Lanjutkan menekan
titik-titik ini dengan berhenti sejenak dan hentikan jika kekuatan kontraksi sudah
meningkat. Titik-titik ini akan makin efektif jika dipadukan dengan tehnik untuk
meningkatkan kontraksi seperti mengelus pusar pasien. Titik akupresur ini akan
bekerja sangat efektif jika air ketuban sudah pecah sementara itu kontraksi belum
juga mengalami kemajuan. Jangan menggunakan titik-titik ini jika waktu persalinan
sudah lewat waktu. Karena tujuan akupresur ini lebih ditujukan untuk merangsang
kontraksi lebih cepat dan mengurangi rasa sakit saat kontraksi berlangsung.
c. Dua titik pada tangan bisa meringankan sakit kontraksi.
3a
3b
d. Juga dapat mencoba satu titik pada bahu yang disebut Gallbladder 21.
4b
4a
4c
Dapat menempatkan GB 21 dengan cara menekan ibu jari pada bahu dekat ke arah
leher, satu-dua inchi agak ke bawah leher. Dua titik ini sangat mudah dilakukan.
Tekan dengan keras selama 60 detik atau hitung sampai angka 30. Berhentilah 2-3
menit, lalu tekan lagi. Titik ini juga berguna bagi wanita setelah melahirkan.
e. Ada beberapa titik sacral dikenal dengan istilah Bladder 27-34 pada tulang
punggung bagian bawah yang juga sangat efektif untuk mengatasi sakit saat
kontraksi termasuk saat terasa sakit kontraksi ini merambat sampai ke bagian
pinggang bagian bawah menuju ke arah paha.
5a
5b
Untuk mengurangi rasa sakit itu, suami atau bidan yang mendampingi bisa mengelus
dan sedikit menekan di dekat tulang ekor untuk merangsang titik akupresur. Jika
kesulitan menemukan titik akupresur ini bisa dilakukan dengan memakai bola tennis
atau kepalan tangan merangsang daerah tulang punggung bagian bawah.
f. Titik K1, Titik ini terletak pada 1/3 bagian atas telapak kaki, ketika telapak kaki
fleksi (menarik jari kaki ke depan ke arah telapak kaki).
6a
Lakukan penekanan yang kuat ke dalam dan ke depan ke arah jempol kaki. Titik ini
mempunyai efek relaksasi dan dapat digunakan kapan saja saat persalinan.
Penekanan pada titik ini juga dapat berguna saat pasien panik (misal mempunyai
pengalaman yang tidak menyenangkan pada persalinan sebelumnya). Titik ini
berguna untuk membantu menenangkan wanita yang merasa ketakutan (Turana,
2004).
Download