Tradisi Nyepi ala Umat Islam Bali

advertisement
2016/6/27
Tradisi Nyepi ala Umat Islam Bali
Buleleng. Nyepiadalah ibadah yang dijalani oleh umat Hindu. Namun di
Desa Pegayaman, Buleleng, Bali, Nyepi juga dilaksanakan oleh masyarakat
yang beragama Islam.
Kisah penyebaran Islam di tanah Buleleng dimulai sekitar 15 abad lalu.
Saat itu, Kerajaan Buleleng dipimpin oleh raja bernama Panji Sakti.
Hubungan baik antara Solo dan Buleleng saat itu terjalin dengan baik
meski mereka berbeda agama.
Seiring waktu, Islam mulai masuk ke kehidupan masyarakat Buleleng.
Meski begitu, umat Islam tidak serta-merta ingin melepaskan diri dari
tradisi yang diajarkan leluhur. Namun, tradisi itu beradaptasi dengan
agama baru mereka. Jika Nyepi dirayakan oleh umat Hindu Bali setiap
tahun baru Saka, umat Islam Pegayaman melaksanakan Nyepi untuk
menyambut bulan Ramadan.
Nyepi itu bertujuan untuk membersihkan hati. Tata cara pelaksanaannya
mirip dengan tirakat yang biasa dilaksanakan warga Muslim di Jawa.
Keunikannya terletak pada pembacaan salawat dengan tembangumat Hindu.
"Islam di Pegayaman itu sama seperti Islam yang dibawakan Wali
Songo. Mereka kalau bersalawat seperti tembangnya umat Hindu. Tradisi
mereka pegang kuat. Jadi antara agama dan budaya itu bersinergi, dan
disitulah keunikannya," kata Ketua Baznas Kabupaten Buleleng, KH
Maksum Amin dikutip dari Liputan6.com
Selain tradisi Nyepi, ada pula budaya mengejot yang rutin dilaksanakan
warga muslim setempat. Mengejot artinya bertukar makanan sebelum bulan
Ramadan. Budaya tersebut tentunya disesuaikan dengan syariat agama
Islam.
Tak hanya itu, masyarakat di Desa Pegayaman juga masih melakukan ritual
adat dan budaya Hindu yang bermakna Islami lainnya. Yaitu, Ngebak Geni.
"Mereka melakukan tradisi Ngembak Geni yang biasanya dilakukan
umat Hindu sehari sehabis Nyepi. Jadi di sini perpaduan budaya dan
agamanya kental sekali," ucap dia.
Sementara itu, warga non-muslim dari sekitar Desa Pegayaman sangat
bertoleransi terhadap Umat Islam di daerah tersebut. "Saat umat
Islam di Pegayaman melakukan tarawih apalagi saat suara azan
berkumandang. Mereka (umat Hindu) menghargai kami, sangat bagus di
sini, toleransinya sangat tinggi," kata Maksum Amin.
Sumber: Liputan6
Download