BAB II LANDASAN TEORI

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Return Saham
Return merupakan hasil yang diperoleh dari suatu investasi yang
terdiri dari deviden dan capital gain/loss. Menurut Jogiyanto Hartono
(2010:205) menyatakan bahwa “Return merupakan hasil yang diperoleh
dari investasi”. Return dapat berupa Return realisasi (Realized Return)
atau Return ekspektasian (Expected Return). Return realisasi merupakan
Return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis. Return
realisasi sangat penting karena dapat digunakan sebagai salah satu
pengukur kinerja perusahaan. Return ekspektasian adalah Return yang
diharapkan akan diperoleh investor dimasa mendatang, jadi Return
ekspektasian sifatnya belum terjadi. Semakin besar return yang diharapkan
akan diperoleh dari investasi, semakin besar pula risikonya, sehingga
dikatakan bahwa return ekspektasi memiliki hubungan positif dengan
risiko. Risiko yang lebih tinggi biasanya dikorelasikan dengan peluang
untuk mendapatkan return yang lebih tinggi pula (high risk high return,
low risk low return). Tetapi return yang tinggi tidak selalu harus disertai
dengan investasi yang berisiko. Hal ini bisa saja terjadi pada pasar yang
tidak rasional.
Return yang diterima oleh investor di pasar modal dibedakan
menjadi dua jenis yaitu current income (pendapatan lancar) dan capital
9
10
gain/capital loss (keuntungan selisih harga). Current income adalah
keuntungan yang didapat melalui pembayaran yang bersifat periodik
seperti dividen. Ke
untungan ini biasanya diterima dalam bentuk kas
atau setara kas sehingga dapat diuangkan secara cepat. Misalnya dividen
saham yaitu dibayarkan dalam bentuk saham yang bisa dikonversi menjadi
uang kas dengan cara menjual saham yang diterimanya, sedangkan Capital
gain (loss) merupakan selisih laba (rugi) yang dialami oleh pemegang
saham karena harga saham sekarang relatif lebih tinggi (rendah)
dibandingkan harga saham sebelumnya. Jika harga saham sekarang (Pt)
lebih tinggi dari harga saham periode sebelumnya (Pt-1) maka pemegang
saham mengalami capital gain. Jika yang terjadi sebaliknya maka
pemegang saham akan mengalami capital loss.
Return saham menurut Tandelilin (2010,dalam Fahmi, 2011)
adalah salah satu faktor yang memotivasi investor berinvestasi dan juga
merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung risiko atas
investasi yang dilakukannya. Sedangkan return saham menurut Samsul
(2006) adalah pendapatan yang dinyatakan dalam persentase dari modal
awal investasi. Menghitung return total suatu investasi dengan
menjumlahkan yield dan capital gain/loss yang diperoleh dari suatu
investasi. Sumber-sumber return investasi menurut Eduardus Tandelilin
(2010,dalam Fahmi,2011) terdiri dari dua komponen utama yaitu: Yield,
merupakan komponen return yang mencerminkan aliran kas atau
pendapatan yang diperoleh secara periodik dari suatu investasi, dan capital
11
gain (loss), merupakan komponen kedua dari return sebagai kenaikan atau
penurunan harga suatu surat berharga (bisa saham maupun surat hutang
jangka panjang), yang bisa memberikan keuntungan atau kerugian bagi
investor.
Menurut Ang (1997), komponen return saham terdiri dari 2 jenis,
yaitu capital gain (keuntungan selisih harga saham) dan current income
(pendapatan lancar). Capital gain merupakan keuntungan yang diterima
karena adanya selisih nilai antara harga jual dan harga beli saham dari
suatu instrumen investasi. Current income adalah keuntungan yang
diperoleh
melalui
pembayaran
yang
bersifat
periodik,
misalnya
pembayaran bunga deposito, deviden, bunga obligasi, dan sebagainya.
Menurut Iswardono (1999, dalam Sugeng, 2004), kenaikan tingkat
suku bunga akan berakibat terhadap penurunan return saham dan begitu
juga sebaliknya. Dalam menghadapi kenaikan tingkat suku bunga, para
pemegang saham akan menahan sahamnya sampai tingkat suku bunga
kembali pada tingkat yang dianggap normal. Sebaliknya, jika tingkat suku
bunga jangka panjang meningkat maka pemegang saham cenderung
menjual sahamnya karena harga jualnya tinggi. Tandelilin (2001)
menyebutkan bahwa pada saat perekonomian dalam keadaan stabil terjadi
penurunan tingkat suku bunga, sebaliknya pada saat kondisi perekonomian
tidak stabil maka tingkat suku bunga menjadi tinggi. (Reilly dan
Brown,2003: 421) mengemukakan hubungan antara tingkat suku bunga
dengan harga saham adalah tidak langsung dan konsisten. Alasannya
12
adalah bahwa cash flow dari saham dapat berubah bersama-sama dengan
tingkat suku bunga, dan tidak dapat ditentukan apakah perubahan cash
flow ini akan menambah atau mengurangi perubahan tingkat suku
bunga. Besarnya
tingkat
suku
bunga
bervariatif
sesuai
dengan
kemampuan debitur dalam memberikan tingkat pengembalian kepada
kreditur. Tingkat suku bunga dapat menjadi pedoman investor dalam
pengambilan keputusan investasi pada pasar modal. Pasar modal sebagai
wahana alternatif investasi menawarkan suatu tingkat pengembalian
(return) pada tingkat risiko tertentu. Perbandingan antara tingkat
keuntungan dan risiko pada pasar modal dengan tingkat suku bunga yang
ditawarkan sektor keuangan, dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan
bagi
investor
untuk
memutuskan
bentuk investasi
yang
mampu
menghasilkan keuntungan yang optimal. Tingkat suku bunga sektor
keuangan yang lazim digunakan sebagai panduan investor disebut juga
suku bunga bebas resiko (risk free), yaitu meliputi tingkat suku bunga
bank sentral dan tingkat suku bunga deposito. Dalam beberapa hasil
penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang kontradiktif pada pengaruh
tingkat suku bunga terhadap return saham seperti penelitian Gudono
(1999), Nurdin (1999) serta Mudji Utami dan Mudjilah Rahayu (2003)
yang menunjukkan bahwa tingkat suku bunga berpengaruh negatif
terhadap return saham namun dalam penelitian Tandelin (1997)
menunjukkan bahwa tingkat suku bunga tidak berpengaruh terhadap resiko
sistematis. Selain inflasi dan tingkat suku bunga, faktor lain dalam
13
ekonomi makro yang mempengaruhi return saham adalah nilai tukar
Rupiah terhadap US Dollar. Beberapa bukti empris mengenai pengaruh
nilai tukar Rupiah/US Dollar terhadap return saham menunjukkan hasil
yang kontradiktif yaitu dengan penelitian Wahyudi (2004) dan Ahmad et
al. (2010) yang mengungkapkan bahwa kenaikan tingkat suku bunga akan
berakibat terhadap penurunan return saham. Hasil penelitian ini tidak
konsisten dengan Manara (2001) yang menyatakan bahwa variabel suku
bunga menunjukkan hubungan positif terhadap return saham namun tidak
signifikan, juga dengan Pudyastuti (2000) yang menemukan bahwa suku
bunga tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Penelitian
Suyanto (2007) menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah dan suku bunga
berpengaruh negatif terhadap return saham namun tingkat inflasi
berpengaruh positif terhadap return saham.
1.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return Saham
Informasi yang tersedia di pasar modal memiliki peranan yang
penting untuk mempengaruhi segala macam bentuk transaksi perdagangan
di pasar modal tersebut. Hal ini disebabkan karena para pelaku di pasar
modal akan melakukan analisis lebih lanjut terhadap setiap pengumuman
atau informasi yang masuk ke bursa efek tersebut. Informasi atau
pengumuman-pengumuman
yang
diterbitkan
oleh
emiten akan
mempengaruhi para (calon) investor dalam mengambil keputusan
untuk memilih portofolio investasi yang efisien.
14
Menurut Jogiyanto (2000: 351), para pelaku pasar modal akan
mengevaluasi setiap pengumuman yang diterbitkan oleh emiten, sehingga
hal tersebut akan menyebabkan beberapa perubahan pada transaksi
perdagangan
saham,
misalnya adanya
perubahan
pada
volume
perdagangan saham, perubahan pada harga saham, proporsi kepemilikan,
dan lain-lain. Hal ini mengindikasikan bahwa pengumuman yang masuk
ke pasar memiliki kandungan informasi, sehingga direaksi oleh
para pelaku di pasar modal. Suatu pengumuman memiliki kandungan
informasi jika pada saat transaksi perdagangan terjadi, terdapat perubahan
terutama perubahan harga saham. Berubahnya harga saham akan
mempengaruhi return saham yaitu semakin tinggi harga saham berarti
semakin meningkat return yang diperoleh investor.
Menurut Alwi (2003: 87) bahwa pergerakan naik-turun harga
saham dari suatu perusahaan go public menjadi fenomena umum yang
sering dilihat di lantai bursa efek yang tidak banyak orang yang mengerti
atau banyak yang masih bingung mengapa harga saham suatu perusahaan
bisa berfluktuasi secara drastis pada periode tertentu. Sebagai salah satu
instrumen ekonomi ada faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham di
suatu bursa efek, baik harga saham individual maupun harga
saham gabungan misalnya IHSG dan indeks LQ45, yaitu faktor internal
(lingkungan mikro) dan eksternal (lingkungan makro).
15
Lingkungan mikro yang mempengaruhi harga saham antara lain
(Alwi, 2003):
1. Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti
pengiklanan, rincian kontrak, produk baru, perubahan harga,
penarikan produk baru, laporan produksi,laporan keamanan produk
dan laporan penjualan.
2. Pengumuman pendanaan (financing announcements), seperti
pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang,
sekuritas yang hybrid, leasing,kesepakatan kredit, pemecahan
saham, penggabungan saham, pembelian saham, joint venture dan
lainnya.
3. Pengumuman badan direksi manajemen (management board of
director announcements), seperti perubahan dan penggantian
direksi, manajemen dan struktur organisasi.
4. Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan
laba sebelum akhir tahun dan setelah akhir tahun fiskal, earning
per share, price earning ratio, net profit margin, return on asset,
return on equity, dan lain-lain.
Sedangkan lingkungan makro yang mempengaruhi harga saham antara
lain (Alwi, 2003: 88):
1. Pengumuman dari pemerintah, seperti perubahan suku bunga
tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai
regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.
16
2. Pengumuman hukum (legal announcements), seperti tuntutan
karyawan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan
tuntutan perusahaan terhadap manajernya.
3. Pengumuman industri sekuritas (securities announcements), seperti
laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume/harga saham
perdagangan, pembatasan/penundaan trading.
4. Gejolak sosial politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga
merupakan faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya
volatilitas harga saham di bursa efek suatu negara.
5. Berbagai issue, baik dari dalam dan luar negeri, seperti issue
lingkungan hidup, hak asasi manusia, kerusuhan massal, yang
berpengaruh terhadap perilaku investor.
B. Pengertian Inflasi
Inflasi adalah suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku
dalam suatu perekonomian (Sukirno,2004: 27).
Adapun karakteristik umum inflasi adalah :
1. Terdapat kecenderungan harga-harga untuk meningkat artinya mungkin
saja terjadi peningkatan atau penurunan tingkat harga pada suatu waktu,
tetapi tetap menunjukan adanya kecenderungan meningkat.
2. Peningkatan harga tersebut berlangsung terus-menerus tidak pada waktu
tertentu saja.
17
3. Mencakup pengertian tingkat harga umum (general price level), yaitu
kenaikan tingkat harga bukan saja untuk satu atau berbagai komoditi,
tetapi mencakup seluruh komponen indeks aggregat atau GNP deflator.
A.P. Lerner :
Inflasi
adalah
keadaan
dimana
terjadi
kelebihan
permintaan
terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan.
G. Cowt Hrey :
Inflasi adalah suatu keadaan dari nilai uang turun terus-menerus dan harga
naik terus.
Hawtry : Inflasi adalah suatu keadaan karena terlalu banyak uang beredar.
Meskipun definisi diatas berbeda-beda,tetapi ada satu yang sama, yaitu
Inflasi adalah kecenderungan dari tingkat harga-harga umum mengalami
kenaikan secara terus-menerus.
Tingkat inflasi antara negara yang satu dengan lainnya berbedabeda,seperti inflasi di Indonesia dalam keadaan normal biasanya dibawah
10% pertahun. Tetapi tingkat itu dapat berubah-ubah, seperti ketika terjadi
krisis ekonomi di Indonesia, tingkat inflasinya mencapai kurang lebih 80.
Tingkat inflasi setinggi ini juga pernah terjadi di negara-negara lain,
bahkan negara negara Amerika Latin seperti Meksiko dan Brasil, pernah
mengalami hiperinflasi (tingkat inflasi yang tinggi) yaitu di atas 100%.
1.
Jenis Inflasi
a.
Sukirno (2005:11) membedakan beberapa macam inflasi yaitu:
1) Inflasi Merayap (inflasi yang terjadi sekitar 2-3 persen per tahun)
18
2) Inflasi Sederhana (inflasi yang terjadi sekitar 5-8 persen pertahun)
3) Hiperinflasi (inflasi yang tingkatnya sangat tinggi yang menyebabk
an tingkat harga menjadi dua kali lipat atau lebih dalam tempo satu
tahun.
b.
Nanga (2005: 247) dilihat dari tingkat keparahannya, inflasi dapat
dipilah dalam tiga kategori:
1) Inflasi sedang (moderate inflation) Yaitu inflasi yang ditandai
dengan
harga-harga
yang
meningkat
secara
lambat,
dan
tidak terlalu menimbulkan distorsi pada pendapatan dan harga
relatif.
2) Inflasi ganas (galloping inflation) Yaitu inflasi yang mencapai
antara dua atau tiga digit seperti 20, 100 atau 200 persen pertahun
dan
dapat
menimbulkan
gangguan-gangguan
serius
dalam
perekonomian.
3) Hyperinflasi (Hyperinflation) Yaitu tingkat inflasi yang sangat
parah, bisa mencapai ribuan bahkan milyar persen pertahun,
merupakan jenis yang mematikan.
c.
Jenis inflasi dilihat dari faktor-faktor penyebab timbulnya (Nanga,
2005: 245):
1) Inflasi tarikan permintaan Inflasi yang terjadi sebagai akibat dari
adanya kenaikan permintaan agregat (AD) yangterlalu besar atau
pesat dibandingkan dengan penawaran atau produksi agregat.
19
2) Inflasi dorongan biaya Inflasi yang terjadi sebagai akibat adanya
kenaikan
biaya
produksi
yang
pesatdibandingkan
dengan
produktivitas dan efisiensi perusahaan.
3) Inflasi struktural Inflasi yang terjadi akibat dari berbagai kendala
atau kekakuan struktural yang menyebabkan penawaran menjadi
tidak responsif terhadap permintaan yang meningkat.
d.
Menurut Asalnya (Waluyo, 2007: 176)
1) Domestic Inflation yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri
sendiri seperti kenaikan konsumsi masyarakat, ekspansi moneter
dan lain sebagainya.
2) Imported Inflation yaitu inflasi yang berasal dari luar negeri, seperti
kenaikan harga - harga barang di negara- negara langganan dagang
kita, mekanismenya baik melalui impor ataupun ekspor
2.
Dampak Inflasi
Dampak inflasi terhadap kegiatan ekonomi masyarakat
Dampak Positif :
a. Peredaran dan perputaran barang lebih cepat
b. Produksi barang-barang bertambah karena keuntungan pengusaha
bertambah
c. Kesempatan kerja bertambah kerena terjadinya investasi
Dampak Negatif :
a. Harga barang-barang dan jasa naik.
20
b.
Nilai dan kepercayaan terhadap uang akan turun atau berkurang.
c. Menimbulkan tindakan spekulasi.
d. Banyak proyek pembangunan macet atau terlantar.
e. Kesadaran menabung masyarakat berkurang.
Pihak pihak yang Mendapatkan Keuntungan dan yang Menderita
Kerugian Akibat Terjadinya Inflasi
Pihak-pihak yang diuntungkan :
a. Para pengusaha, yang pada saat sebelum terjadinya inflasi, telah
memiliki stock/persediaan produksi barang yang siap dijual dalam
jumlah besar.
b. Para pedagang, yang dengan terjadinya inflasi menggunakan
kesempatan memainkan harga barang. Cara yang dipakai adalah
dengan
menaikkan
harga,
karena
ingin
mendapatkan
laba/keuntungan yang besar.
c. Para spekulan, yaitu orang-orang atau badan usaha yang
mengadakan spekulasi, dengan cara menimbun barang sebanyakbanyaknya sebelum terjadinya inflasi dan menjualnya kembali
pada saat inflasi terjadi, sehingga terjadinya kenaikan harga sangat
menguntungkan mereka.
d. Para peminjam, karena pinjaman telah diambil sebelum harga
barang-barang naik, sehingga nilai riil-nya lebih tinggi daripada
21
sesudah inflasi terjadi, tetapi peminjam membayar kembali tetap
sesuai dengan perjanjian yang dibuat sebelum terjadi inflasi.
Pihak-pihak yang dirugikan:
a. Para konsumen, karena harus membayar lebih mahal, sehingga
barang yang diperoleh lebih sedikit jika dibandingkan dengan
sebelum terjadinya inflasi.
b. Mereka yang berpenghasilan tetap, karena dengan penghasilan
tetap, naiknya harga barang-barang dan jasa, mengakibatkan
jumlah barang-barang dan jasa yang dapat dibeli menjadi lebih
sedikit, sehingga pendapatan riil/nyata berkurang, sedangkan
kenaikan penghasilan atau pendapatan pada saat terjadi inflasi sulit
diharapkan.
c. Para pemborong atau kontraktor, karena harus mengeluarkan
tambahan biaya agar dapat menutup pengeluaran-pengeluaran yang
diakibatkan terjadinya inflasi dan mengakibatkan berkurangnya
keuntungan yang diperoleh dari proyek yang dikerjakan.
d. Para pemberi pinjaman/kreditor, karena nilai riil dari pinjaman
yang telah diberikan menjadi lebih kecil sebagai akibat terjadinya
inflasi. Misalnya, sebelum inflasi, pinjaman Rp 500.000,00 = 25
gram emas, sesudah inflasi = 20 gram emas.
e. Para penabung, karena pada saat inflasi bunga yang diperoleh dari
tabungan dirasakan lebih kecil jika dibandingkan dengan kenaikan
harga yang terjadi. Di samping itu akibat naiknya harga barang-
22
barang dan jasa, nilai uang yang ditabung menjadi lebih
rendah/turun, jika dibandingkan dengan sebelum terjadi inflasi.
C. Tingkat Suku Bunga
Tingkat suku bunga adalah harga dari penggunaan uang untuk
jangka waktu tertentu atau harga dari penggunaan uang saat ini dan akan
dikembalikan pada masa mendatang (Herman,2003). Menurut Karl dan
Fair (2001,635) Suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu
pinjaman dalam bentuk presentase dari pinjaman yang diperoleh dari
jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman.
Pengertian suku bunga menurut Sunariyah (2004:80) adalah harga dari
pinjaman.
Adapun fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah :
1. Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih
untuk diinvestasikan.
2. Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka
mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar
dalam suatu perekonomian.
3. Pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol
jumlah uang beredar. Ini berarti, pemerintah dapat mengatur
sirkulasi uang dalam suatu perekonomian.
Menurut Prasetiantono (2000) mengenai suku bunga adalah : jika
suku bunga tinggi, otomatis orang akan lebih suka menyimpan dananya di
23
bank karena ia dapat mengharapkan pengembalian yang menguntungkan.
Dan pada posisi ini, permintaan masyarakat untuk memegang uang tunai
menjadi lebih rendah karena mereka sibuk mengalokasikannya ke dalam
bentuk portfolio perbankan (deposito dan tabungan). Seiring dengan
berkurangnya jumlah uang beredar, gairah belanja pun menurun.
Selanjutnya harga barang dan jasa umum akan cenderung stagnan, atau
tidak terjadi dorongan inflasi. Sebaliknya jika suku bunga rendah,
masyarakat cenderung tidak tertarik lagi untuk menyimpan uangnya di
bank.
Faktor – faktor yang mempengaruhi besar kecilnya
penetapan
suku bunga (pinjaman dan simpanan) menurut (Kasmir, 2008 : 137-140)
adalah sebagai berikut.
1. Kebutuhan dana
Apabila bank kekurangan dana, sementara pemohonan pinjaman
meningkat, maka yang dilakukan oleh bank agar dana tersebut cepat
terpenuhi dengan meningkat kan suku bunga simpanan. Peningkatan
bunga simpanan secara atomatis akan meninkat pula bunga pinjaman.
2. Persaingan
Dalam memperebutkan dana simpanan, maka disamping faktor promosi,
yang paling utama pihak perbankan harus memerhatikan pesaing. Dalam
arti jika untuk bunga simpanan rata-rata 16%, maka jika hendak
membutuhkan dana cepat sebaiknya bunga simpanan kita naikkan diatas
24
bunga pesaing misalnya 16%. Namun sebliknya untuk bunga pinjaman
kita harus berada dibawa bunga pesaing.
3. Kebijakan pemerintah
Baik bunga simpanan maupun bunga pinjaman kita tidak boleh melebihi
bunga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
4. Harga laba yang di inginkan
Sesuai dengan target yang diinginkan, jika laba yang diinginkan besar,
maka bunga ikut besar dan sebaliknya.
5. Jangka waktu
Semakin panjang jangka waktu pinjaman, akan semakin tinggi bunganya,
hal ini disebabkan besar kemungkinan resiko dimasa akan datang.
6. Kualitas jaminan
Semakin likuid jaminan yang diberikan, semakin rendah bunga kredit yang
dibebankan dan sebaliknya.
7. Reputasi perusahaan
Bonafiditas suatu perusahaan yang akan memperoleh kredit sangat
menentukan tingkat suku bunga yang akan dibebankan nantinya, karena
biasanya perusahaan yang bonafid kemungknan risik macet kredit dimasa
mendatang relatif kecil dan sebaliknya.
8. Produk yang kompetitif
Produk yang dibiayai tersebut laku dipasaran.
25
9. Hubungan baik.
Biasanya bank menggolongkan nasabahnya antara nasabah utama (primer)
dan nasabah biasa (sekunder). Penggolongan ini didasarkan keaktifan dan
loyaritas nasabah yang bersangkutan dengan pihak bank. Nasabah utama
biasanya mempunya hubungan yang baik denga pihak bank sehingga
dalam penentuan suku bunganya pun berbeda dengan nasabah biasa.
10. Jaminan pihak ketiga
Dalam hal ini pihak yang memberikan jaminan kepada penerima
kredit.biasanya jika pihak yang memberikan jaminan bonafid, baik dari
segi kemampuan membayar , nama baik maupun loyaritasnya terhadap
bank, maka bunga yang dibebankanpun berbeda.
D. Nilai Tukar (Kurs)
Menurut Musdholifah & Tony (2007),nilai tukar atau kurs adalah
perbandingan antara harga mata uang suatu negara dengan mata uang
negara lain. Menurut Triyono (2008), kurs (exchange rate) adalah
pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, yaitu merupakan
perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut. Heru
(2008) menyatakan bahwa nilai tukar mencerminkan keseimbangan
permintaan dan penawaran terhadap mata uang dalam negeri maupun mata
uang asing. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing pun mempunyai
pengaruh negatif terhadap ekonomi dan pasar modal.
26
Dalam perdagangan internasional pertukaran antara satu mata uang
dengan mata uang negara lain menjadi hal yang terpenting untuk
mempermudah proses transaksi jual beli barang dan jasa. Dari pertukaran
ini terdapat perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut
dan inilah yang disebut dengan nilai tukar atau kurs. Jadi, secara umum
kurs atau nilai tukar dapat diartikan sebagai harga suatu mata uang asing
atau harga mata uang luar negeri terhadap mata uang domestik.
Dalam mekanisme pasar, kurs dari suatu mata uang akan selalu
mengalami fluktuasi (perubahan-perubahan) yang berdampak langsung
pada harga barang-barang ekspor dan impor. Perubahan-perubahan yang
dimaksud antara lain :
1) Apresiasi, yaitu peristiwa menguatnya nilai tukar mata uang secara
otomatis akibat bekerjanya kekuatan-kekuatan penawaran dan
permintaan atas mata uang yang bersangkutan dalam sistem pasar
bebas. Sebagai akibat dari perubahan kurs ini adalah harga pokok
negara itu bagi pihak luar negeri makin mahal, sedangkan harga
impor bagi penduduk domestik menjadi lebih murah.
2) Depresiasi, yaitu peristiwa penurunan nilai tukar mata uang secara
otomatis akibat bekerjanya kekuatan-kekuatan penawaran dan
permintaan atas mata uang yang bersangkutan dalam sistem pasar
bebas. Sebagai akibat dari perubahan kurs ini adalah harga produk
negara itu bagi pihak luar negeri menjadi lebih murah, sedangkan
harga impor bagi penduduk domestik menjadi lebih mahal.
27
Nilai tukar suatu mata uang sebenarnya merupakan harga mata
uang suatu negara terhadap mata uang asing lainnya. Nilai tukar mata uang
tersebut merupakan hasil interaksi antara kekuatan permintaan (demand)
dan penawaran (supply) yang terjadi di pasar valuta asing. Menurut
Appleyord dalam Adria (2004), pasar valuta asing adalah: “Foreign
exchange market is the world wide network of market and institution, that
handle the exchange of foreign currencies (Pasar valuta asing adalah suatu
jaringan kerja pasar dari institusi yang menangani pertukaran mata
uang asing).
Aliran valuta asing yang besar dan cepat untuk memenuhi
tuntutan perdagangan, investasi dan spekulasi dari suatu tempat yang
surplus ke tempat yang defisit dapat terjadi karena adanya berbagai faktor
dan kondisi yang berbeda sehingga mempengaruhi kurs valuta asing di
masing-masing tempat. Penentuan kurs rupiah terhadap valuta asing
merupakan hal yang penting bagi pelaku pasar modal di Indonesia. Karena
kurs valuta asing sangat mempengaruhi jumlah biaya yang harus
dikeluarkan. Serta besarnya biaya yang akan diperoleh dalam transaksi
saham dan surat berharga di bursa pasar modal.
Fluktuasi kurs yang tidak stabil akan dapat mengurangi tingkat
kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia. Yang
selanjutnya
akan
menimbulkan
dampak
negatif
terhadap
perdagangan saham di pasar modal, bagi investor asing akan cenderung
melakukan penarikan modal sehingga terjadi Capital of Flow dan hal ini
28
akan berimbas pada menurunnya IHSG, jika IHSG menurun maka hal
ini akan mengakibatkan tingkat return yang akan dibagikan akan menurun.
E. Pengembangan Hipotesis
1. Pengaruh Inflasi terhadap Return Saham
Penelitian tentang hubungan antara inflasi dengan return saham
seperti yang dilakukan oleh Widjojo (dalam Almilia, 2003) yang
menyatakan bahwa makin tinggi inflasi akan semakin menurunkan tingkat
profitabilitas perusahaan. Turunnya profit perusahaan adalah informasi
yang buruk bagi para trader di bursa saham dan dapat mengakibatkan
turunnya harga saham perusahaan tersebut. Paramithasari (2009) meneliti
tentang Pengaruh Tingkat Inflasi terhadap Return Saham. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan dari
variabel inflasi terhadap return saham.
Hasil
penelitian
yang
dikalakukan
oleh
Winarsih
(2009)
menunjukkan bahwa inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap return
saham. Hal ini membuktikan bahwa tingkat inflasi tidak mempengaruhi
minat investor dalam melakukan investasi di pasar modal.
Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Utami dan Rahayu (2003)
membuktikan secara empiris pengaruh inflasi terhadap harga saham,
semakin tinggi tingkat inflasi semakin rendah return saham. Penelitian
tersebut juga dilakukan oleh Adams et al (2004) yang menemukan secara
signifikan pengaruh negatif inflasi terhadap return saham. Inflasi yang
29
tinggi bagi perusahaan properti akan menurunkan profitabilitas perusahaan
sehingga return saham pun dapat terpengaruh.
Dari paparan di atas dapat diajukan hipotesis berikut:
H1 : Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return
saham sektor properti.
2. Pengaruh Tingkat Suku Bunga terhadap Return Saham
Suku bunga yang tinggi akan mendorong orang-orang untuk
menanamkan dananya di bank daripada menginvestasikannya pada sektor
properti yang risikonya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan
menanamkan uang di bank.
Tingkat bunga merupakan faktor yang signifikan dalam melakukan
investasi, tingkat investasi yang diinginkan akan menjadi lebih rendah
bila tingkat suku bunga semakin tinggi.
Menurut Atmadja (2002), tingkat suku bunga adalah harga yang
dibayarkan untuk dana atau modal. Fabozzi (1999) menyatakan bahwa
perubahan suku bunga dapat mempengaruhi harga saham secara terbalik
(ceteris paribus). Artinya, jika suku bunga naik maka harga saham turun,
sebaliknya jika suku bunga turun maka harga saham akan naik dan hal ini
akan sejalan dengan return investasi yang juga akan naik. Tingkat suku
bunga ditentukan oleh faktor permintaan dan penawaran akan dana. Jika
suku bunga terus meningkat maka ada kecenderungan pemilik dana akan
30
mengalihkan dananya ke bank dan tentunya akan berakibat negatif
terhadap harga saham.
Kejadian ini akan mengakibatkan investor tidak akan tertarik
menanamkan modalnya di pasar modal karena imbalan yang akan diterima
dari saham lebih kecil dibandingkan dengan imbalan yang akan diterima
dari bunga jika menyimpan uangnya di bank. Akibatnya harga saham di
pasar modal akan mengalami penurunan secara drastis. Berdasarkan uraian
tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat suku bunga berpengaruh
terhadap return saham.
Albeta (2006) meneliti tentang pengaruh suku bunga terhadap
IHSG di BEJ. Berdasarkan hasil penelitiannya diketahui bahwa hanya
variabel suku bunga yang secara parsial terbukti berpengaruh signifikan
terhadap
IHSG.
Hal
ini
membuktikan
bahwa
tingginya
suku
bunga mempengaruhi minat investor dalam berinvestasi di pasar modal.
Kaitan antara suku bunga dan return saham dikemukakan pula oleh Boedie
et al (1995) yang menyatakan bahwa perubahan harga saham dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yang salah satunya adalah suku bunga. Hal tersebut
didukung pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami dan Rahayu
(2003) yang menemukan secara empiris pengaruh suku bunga terhadap
harga saham selama masa krisis di Indonesia.
Dari paparan di atas dapat diajukan hipotesis berikut:
H2 : Tingkat suku bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
return saham sektor properti.
31
3. Hubungan Nilai Tukar Uang Terhadap Return Saham
Secara teori ada dua sudut pandang tentang keterkaitan antara
harga saham dan nilai tukar. Di satu sisi, para pendukung model
‘portfolio-balance” meyakini bahwa harga saham mempengaruhi nilai
tukar uang secara negatif (Saini dkk., 2002). Equitas yang merupakan
bagian dari kekayaan (wealth) perusahaan dapat mempengaruhi nilai tukar
uang melalui permintaan uang. Sebagai contoh semakin tinggi harga
saham akan menyebabkan semakin tinggi permintaan uang dengan tingkat
bunga yang semakin tinggi pula. Sehingga, hal ini akan menarik minat
investor asing untuk menanamkan modalnya dan hasilnya terjadi apresiasi
terhadap
mata
uang
domestik.
Selanjutnya,
harga
saham
juga
mempengaruhi nilai tukar uang melalui permintaan uang (money demand
equation), yang membentuk suatu basis model alokasi portofolio dan
moneter dari determinasi nilai tukar uang. Pada kondisi tertentu yang
mencerminkan
aktivitas
ekonomi
riil,
perubahan
harga
saham
menyebabkan peningkatan permintaan uang riil dan nilai mata uang
domestik (Ajayi, Ibrahim, 2000).
Solnik (dalam Ibrahim, 2000) menyatakan bahwa harga saham
dapat mencerminkan variabel makroekonomi, karena menunjukkan
ekspektasi pasar terhadap aktivitas ekonomi riil. Semenjak model nilai
tukar uang semisal model moneter mengkorelasikan nilai tukar tersebut
terhadap variabel makro ekonomi, maka perubahan dalam harga saham
dapat menyebabkan efek dari nilai tukar. Solnik (dalam Ibrahim, 2000)
32
juga menemukan hubungan positif yang lemah antara perbedaan return
saham (domestik dikurangi luar negeri) dengan perubahan dalam nilai
tukar riil.
Bahmani-Oskooee dan Sohrabian (1992) menawarkan penjelasan
lain dari efek harga saham terhadap nilai tukar dimana hasil kenaikan
dalam keseimbangan riil akan menghasilkan kenaikan tingkat bunga.
Sehingga, aset financial domestik akan menjadi lebih atraktif. Sebagai
hasilnya, para investor akan menyesuaikan portofolio aset dalam dan luar
negeri melalui permintaan lebih banyak aset domestik. Penyesuaian
portofolio dari perusahaan tersebut akan menghasilkan apresiasi mata uang
domestik, karena mereka membutuhkan mata uang domestik untuk
traksaksi tersebut. Qiao (dalam Ibrahim, 2002) juga menegaskan bahwa
perubahan dalam harga saham dapat mempengaruhi aliran masuk dan
aliran keluar dari modal, yang akan menghasilkan perubahan dalam nilai
mata uang. Ibrahim (2002) menemukan bahwa dalam pengujian
multivlariat ada kausalitas satu arah (uni-directional) dari indeks pasar
saham (stock market index) terhadap nilai tukar. Selanjutnya, nilai tukar
dan indek pasar saham dipengaruhi oleh suplay uang dan begitu pula
sebaliknya. Pancawati Hadiningsih,dkk (2002) dalam penelitiannya yang
berjudul “Pengaruh Faktor Fundamental dan Resiko Ekonomi terhadap
Return Saham di Bursa Efek Jakarta” hasil penelitian ini menyebutkan
bahwa secara empiris terbukti bahwa secara parsial semua variabel
33
dependen berpengaruh positif terhadap return saham kecuali nilai tukar
Rupiah/US Dollar berpengaruh negatif terhadap return saham.
Dari paparan di atas dapat diajukan hipotesis berikut:
H3 : Nilai Tukar berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham
sektor properti.
F. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan dengan uraian pada landasan teoritis yaitu pengaruh
inflasi,tingkat suku bunga dan nilai tukar rupiah terhadap return saham
maka berikut adalah kerangka pemikirannya.
X1
X2
X3
Y
34
Berdasar model penelitian tersebut dapat diidentifikasi bahwa variabel
independen terdiri dari inflasi (X1), tingkat suku bunga (X2) dan nilai tukar
Rupiah (X3) sedangkan variabel dependentnya yaitu return saham.
Download