BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori Teori merupakan

advertisement
8
BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1 Kerangka Teori
Teori merupakan perangkat yang vital dan menentukan dalam arah sebuah
pemecahan masalah dalam penelitian. Peneliti akan mampu memahami,
memprediksi atau menjelaskan sebuah permasalahan dengan terlebih dahulu
memahami teori yang relevan dengan fenomena terkait. F. N Kerlinger
menyatakan teori merupakan serangkaian asumsi, konsep, konstrak,defenisi dan
proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara
menghubungkan antar konsep (Singarimbun, 2008:37).
Setiap penelitian memerlukan kejelasan berfikir dalam memecahkan atau
menyoroti masalah-masalahnya. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang
membuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah
penelitian akan disoroti (Nawawi, 2012:42). Fungsi teori dalam riset adalah
membantu periset menerangkan fenomena sosial atau fenomena alami yang
menjadi pusat perhatiannya (Kriyantono, 2008:42).
Adapun teori-teori yang dianggap relevan untuk digunakan dalam
penelitian ini antara lain yaitu teori komunikasi, teori komunikasi massa, televisi
sebagai media massa, berita dan persepsi.
2.1.1 Komunikasi
Kata komunikasi communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata
Latin communis yang berarti “sama“. Communico, communication, atau
communicare yang berarti “membuat sama“ (to make common) (Mulyana,
2007: 46).
Dalam istilah yang sederhana, komunikasi adalah proses penyampaian
pengertian antarindividu. Manusia sebagai mahluk sosial juga dilandasi dengan
kapasitas untuk menyampaikan hasrat, maksud, perasaan, pengetahuan, dan
pengalaman orang yang satu kepada orang yang lainnya. Pada pokoknya,
komunikasi adalah pusat minat dari situasi perilaku dimana suatu sumber
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
9
menyampaikan suatu pesan kepada seorang penerima dengan tujuan
memengaruhi perilaku si penerima (Frazier, 2004:86).
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh
seorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau merubah sikap, pendapat,
atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui
media. Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris Communication berasal
dari bahasa latin, communicatio dan bersumber dari kata communis yang
berarti sama. Sama disini maksudnya adalah kesamaan makna (Effendy,
2003:9).
Definisi lain mengatakan Komunikasi (communication) adalah proses
sosial
dimana individu- individu
menggunakan
simbol-simbol
untuk
menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka.
Diyakini bahwa komunikasi adalah proses sosial dimana komunikasi selalu
melibatkan manusia dan interaksi. Keduanya memainkan peran penting di
dalam komunikasi. Kemudian komunikasi juga dianggap sebagai proses yang
berarti bahwa komunikasi bersifat berkesinambungan dan tidak memiliki akhir.
Komunikasi juga dinamis, kompleks, dan senantiasa berubah. (West, 2009:5).
Ada begitu banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli dari berbagai
sudut pandang mereka masing-masing. Menurut Carl I. Hovland, komunikasi
adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan
rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah prilaku orang
lain (komunikan) (Mulyana, 2008: 68).
Menurut Laswell komunikasi adalah : “who says what in which chanell to
whom with what effect”. Jadi jika dijabarkan akan terdapat lima unsur atau
komponen di dalam komunikasi (Mulyana, 2008: 69), yaitu:
a.
Siapa yang mengatakan
Komunikator (communicator)
b.
Apa yang dikatakan
Pesan (message)
c.
Media apa yang digunakan
Media (channel)
d.
Kepada siapa pesan disampaikan
Komunikan (Communicant)
e.
Akibat apa yang terjadi
Efek (effect)
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
10
Menurut Lasswell, komunikasi yang efektif itu harus memiliki lima unsur
yang tertera dalam kalimat “ who says what in which chanel to whom with what
effect“. Adapun kelima unsur tersebut adalah:
a. Who : Komunikator (source, sender)
Dalam komunikasi antar manusia, sumber bisa terdiri dari satu orang
tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok, misalkan organisasi atau
lembaga. Sumber disebut juga sebagai pengirim atau komunikator. Dalam
hal ini yang bertindak sebagai komunikator adalah pengajar atau seorang
instruktur yang memberi pengarahan, pengetahuan saat di dalam proses
pembelajaran di kelas.
b. Says what : Pesan (message)
Pesan dalam komunikasi organisasi adalah sesuatu yang disampaikan
pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap
muka atau media komunikasi. Dalam hal ini, pesan yang disampaikan
adalah pesan yang didominasi oleh pikiran yang disampaikan pada saat
proses pembelajaran di kelas.
c. In which chanel : Saluran (media)
Media adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber
kepada penerima. Media bisa bermacam-macam bentuknya yaitu, indera
manusia, saluran komunikasi berupa media cetak dan elektronik, dan
media komunikasi sosial seperti balai desa, kesenian rakyat, dan pesta
rakyat. Dalam proses pembelajaran di kelas, media yang digunakan adalah
indera manusia dan media alat tulis.
d. To Whom : Komunikan (receiver)
Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh
sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih. Penerima adalah
elemen penting dalam proses komunikasi karena penerimalah yang
menjadi sasaran komunikasi. Dalam hal ini, yang bertindak sebagai
komunikan adalah peserta diklat yang sedang mengikuti proses
pembelajaran di kelas.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
11
e. With what effect : Efek/dampak
Efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan
dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Efek bisa
juga diartikan sebagai perubahan perubahan pada pengetahuan, sikap, dan
tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan (Cangara,1998:2325). Efek yang akan terlihat berupa termotivasinya para peserta diklat
untuk lebih giat lagi belajar dengan meningkatkan prestasi dari setiap
peserta diklat.
Everett M. Rogers dan Lawrence Kincaid menyatakan bahwa komunikasi
adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan
pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi saling
pengertian yang mendalam. Menurut Barnuld Komunikasi timbul didorong
oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak
secara efektif, mempertahankan dan memperkuat ego. Menurut Weaver
komunikasi adalah seluruh prosedur melalui pikiran seseorang dapat
mempengaruhi pikiran orang lainnya (Fajar, 2009: 30-31).
Charles
H.
Cooley
melalui
tulisannya
“The
Significance
of
Communication “ menjelaskan bahwa komunikasi adalah mekanisme dimana
hubungan manusia terjadi dan berkembang segala lambang dari pemikiran
dengan alat-alat penyampaian dan cara menjaganya melalui ruang dan waktu.
Ia meliputi ekspresi muka, sikap dan gesture,nada suara, kata- kata, tulisan dan
segala apa yang dapat disebut sebagai hasil usaha menaklukkan ruang dan
waktu (Lubis,1987 : 9).
Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas, tentu belum mewakili
semua definisi para ahli. Namun gambaran dari definisi yang dikemukakan
diatas bahwa komunikasi dilakukan mempunyai tujuan yakni untuk mengubah
dan membentuk prilaku orang-orang lainnya yang menjadi sasasran
komunikasi (Fajar, 2009: 31-33).
2.1.1.1 Karakteristik Komunikasi
Selanjutnya (Fajar, 2009: 33-34) mengemukakan beberapa karakteristik
komunikasi, yaitu:
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
12
a.
Komunikasi suatu proses
Komunikasi sebagai suatu proses artinya bahwa komunikasi
merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara
berurutan serta berkaitan satu dengan lainnya dalam kurun waktu
tertentu.
b.
Komunikasi adalah upaya yang disengaja dan mempunyai tujuan.
Komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar,
disengaja, serta sesuai dengan tujuan atau keinginan pelakunya.
Pengertian sadar disini menunjukkan bahwa kegiatan komunikasi
yang dilakukan seseorang sepenuhnya berada dalam mental
psikologis yang terkendali bukan dalam keadaan mimpi. Disengaja
maksudnya bahwa komunikasi yang dilakukan memang sesuai
dengan kemauan dari pelakunya sementara tujuan menunjuk pada
hasil atau akibat yang ingin dicapai.
c.
Komunikasi menurut adanya partisipasi dan kerja sama dari para
pelaku yang terlibat.
Kegiatan komunikasi berlangsung baik apabila pihak-pihak yang
berkomunikasi (dua orang atau lebih) sama-sama ikut terlibat dan
mempunyai perhatian yang sama terhadap topik pesan yang
dikomunikasikan.
d.
Komunikasi bersifat simbolis
Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan
dengan menggunakan lambing-lambang (simbol), misalnya bahasa.
e.
Komunikasi bersifat transaksional
Komunikasi pada dasarnya menuntut tindakan memberi dan
menerima. Dua tindakan tersebut tentunya perlu dilakukan secara
seimbang atau proporsional oleh masing-masing pelaku yang
terlibat dalam komunikasi.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
13
f.
Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu
Maksudnya adalah bahwa para peserta atau pelaku yang terlibat
dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang
sama. Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi ruang
dan waktu bukan lagi menjadi hambatan dalam berkomunikasi.
2.1.1.2 Unsur-Unsur Komunikasi
Proses komunikasi terdiri dari berbagai macam unsur, cara pandang
atau elemen yang mendukung proses tersebut dapat terjadi. Ada yang
menilai bahwa terciptanya proses komunikasi cukup didukung oleh tiga
unsur, sementara ada juga yang menambahkan umpan balik dan lingkungan
selain kelima unsur yang telah disebutkan. Perkembanga terakhir adalah
munculnya pandangan dari Joseph De Vito, K Sereno dan Erika Vora yang
menilai faktor lingkungan merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya
dalam mendukung terjadinya proses komunikasi. Adapun unsur-unsur
tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Sumber
Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai
pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antar
manusia sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam
bentuk kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga. Sumber
sering disebut pengirim, komunikator atau dalam bahasa Inggrisnya
disebur source, sender atau Encoder.
b.
Pesan
Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu
yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat
disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media
komunikasi yang isinya berupa ilmu pengetahuan, hiburan,
informasi, nasihat atau propaganda. Dalam bahasa Inggrisnya biasa
diterjemahkan dengan kata message, content atau information.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
14
c.
Media
Media adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari
sumber kepada penerima. Dalam komunikasi massa, media adalah
alat yang menghubungkan antara sumber dan penerima yang
sifatnya terbuka, dimana setiap orang dapat melihat, membaca atau
mendengarnya. Media dalam komunikasi masa dapat dibedakan
menjadi dua jenis yakni media cetak dan elektronik. Media cetak
seperti halnya surat kabar, majalah, buku, leaflet, brosur, stiker,
hand out dan sebagainya. Sedangkan media elektronik antara lain :
radio, televisi dan sebagainya.
d.
Penerima
Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim
oleh sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih, bisa
dalam bentuk kelompok, partai atau negara. Penerima adalah
elemen penting dalam proses komunikasi karena dialah yang
menjadi sasaran dari komunikasi. Jika suatu pesan tidak diterima
oleh penerima akan menimbulkan berbagai macam masalah yang
seringkali menuntut perubahan, apakah pada sumber, pesan atau
saluran.
e.
Pengaruh
Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan,
dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah
menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap
dan tingkah laku seseorang.
f.
Tanggapan balik
Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah
salah satu bentuk daripada pengaruh yang berasal dari penerima.
Akan tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur
lain seperti pesan dan media, meski pesan belum sampai pada
penerima.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
15
g.
Lingkungan
Lingkungan atau situasi adalah faktor-faktor tertentu yang dapat
mempengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan
atas empat macam yakni lingkungan fisik, lingkungan sosial
budaya, lingkungan psikologis, dan dimensi waktu. (Cangara,
2006: 22-26).
2.1.1.3 Gangguan Dan Rintangan Komunikasi
Jika melihat hakikat komunikasi sebagai suatu sistem, maka gangguan
komunikasi bias terjadi pada semua elemen atau unsur-unsur yang
mendukungnya, termasuk faktor lingkungan dimana komunikasi itu terjadi.
Menurut Shanon dan Weaver, gangguan komunikasi terjadi jika terdapat
intervensi yang menganggu salah satu elemen komunikasi, sehingga proses
tidak dapat berlangsung secara efektif. Sedangkan rintangan komunikasi
dimaksudkan adalah adanya hambatan yang membuat proses komunikasi
tidak dapat berlangsung sebagaimana harapan komunikator dan penerima
(Cangara, 2006: 131).
Gangguan atau rintangan komunikasi pada dasarnya dapat dibedakan
atas tujuh macam, yakni (Cangara, 2006: 131-134):
a.
Gangguan Teknis
Gangguan teknis terjadi jika salah satu alat komunikasi yang
digunakan dalam berkomunikasi mengalami gangguan, sehingga
informasi yang ditransmisi melalui saluran mengalami kerusakan
(chanel noise), misalnya gangguan pada stasiun radio atau televisi
sehingga suara menjadi berisik dan semacamnya.
b.
Gangguan Semantik
Gangguan semantik adalah gangguan komunikasi yang disebabkan
karena kesalahan pada bahasa yang digunakan. Gangguan semantik
sering terjadi karena:
i.
Kata-kata yang digunakan terlalu banyak memakai jargon
bahasa asing sehingga sulit dimengerti oleh khalayak tertentu.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
16
ii.
Bahasa yang digunakan pembicara berbeda dengan bahasa
yang digunakan oleh penerima.
iii.
Struktur bahasa yang digunakan tidak sebagaimana mestinya,
sehingga membingungkan penerima.
iv.
Latar belakang budaya yang berbeda sehingga menyebabkan
salah persepsi terhadap simbol-simbol yang digunakan.
c.
Gangguan Psikologis
Gangguan psikologis terjadi karena adanya gangguan yang
disebabkan oleh persoalan-persoalan dalam diri individu. Misalnya
rasa curiga penerima kepada sumber, situasi berduka atau karena
gangguan kejiwaan sehingga dalam penerimaan dan pemberian
informasi tidak sempurna.
d.
Rintangan Fisik
Rintangan fisik adalah rintangan yang disebabkan kondisi geografis
misalnya jarak yang sangat jauh sehingga sulit dicapai, tidak hanya
sarana kantor pos, kantor telepon, jalur trasportasi dan sebagainya.
e.
Rintangan Status
Rintangan status adalah rintangan yang disebabkan karena jarak
sosial diantara peserta komunikasi, misalnya perbedaan status
antara senior dan junior atau antara atasan dan bawahan.
f.
Rintangan Kerangka Berfikir
Merupakan rintangan yang disebabkan adanya perbedaan persepsi
antara komunikator dan khalayak terhadap pesan yang digunakan
dalam komunikasi. Ini disebabkan karena adanya latar belakang
dan pengalaman yang berbeda.
g.
Rintangan Budaya
Rintangan budaya adalah rintangan yang terjadi disebabkan karena
adanya perbedaan norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut
oleh pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses komunikasi
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
17
2.1.1.4 Tujuan dan Fungsi Komunikasi
Pentingnya komunikasi dalam kehidupan memiliki tujuan, sehingga
dapat diketahui untuk apa komunikasi dilakukan. Secara umum, tujuan
komunikasi (Effendy, 2002:8) ialah:
a.
Mengubah sikap (to change the attitude)
b.
Mengubah opini/ pendapat/ pandangan (to change the opinion)
c.
Mengubah perilaku (to change the behaviour)
d.
Mengubah masyarakat (to change the society)
Komunikasi dapat membentuk sikap seseorang serta bagaimana sikap
itu dapat berubah, sebab melalui proses komunikasi dapat memengaruhi
tindakan seseorang, misalnya seorang anak yang memiliki sikap tidak patuh
dan suka melawan kepada kedua orang tuanya, namun bisa saja anak
tersebut menjadi patuh dan taat terhadap orang tuanya, karena hasil belajar
dari pengalaman dalam faktor lingkungan yang menyebabkan si anak
memiliki perubahan dalam sikapnya. (Effendy, 2002:25).
Sama halnya dengan mengubah opini, perilaku dan mengubah
masyarakat. Manusia dapat saling mengemukakan opininya dalam setiap
kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing individu/kelompok, sehingga
melalui komunikasi mereka dapat mengambil keputusan yang tepat serta
mengubah perilaku mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Namun tidak
mudah untuk mengubah masyarakat, sebab perlu komunikasi yang lebih
dekat dan menyeluruh seperti komunikasi penyuluhan mengenai Keluarga
Berencana (KB) dalam sebuah desa, agar informasi-informasi mengenai hal
tersebut dapat diterima seluruhnya oleh masyarakat bahwa pentingnya untuk
ber-KB dalam sebuah keluarga. Begitu juga dengan kegiatan bergotongroyong di sebuah desa, dilakukan demi tercapainya hubungan yang
harmonis antar penduduk desa dan menciptakan desa yang bersih nan indah.
Adanya ilmu pengetahuan memungkinkan orang bersikap dan bertindak
sebagai anggota masyarakat menyebabkan mereka sadar akan fungsi
sosialnya sehingga menjadi aktif dalam masyarakat. (Effendy, 2002: 26).
Sedangkan fungsi komunikasi menurut Harold D. Laswell (Effendy,
2002:27) yaitu:
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
18
a.
Manusia mengamati lingkungannya, baik lingkungan internal
maupun eksternal untuk terhindar dari ancaman dan nilai
masyarakat yang berpengaruh.
b.
Terdapat korelasi unsur-unsur masyarakat dalam menanggapi
lingkungannya
c.
Penyebaran warisan sosial, dalam hal ini berperan sebagai pendidik
dalam kehidupan rumah tangga maupun sekolah untuk meneruskan
warisan sosial pada keturunan selanjutnya.
Lebih singkatnya, fungsi komunikasi itu (Effendy, 2002:8) ialah:
a.
Menginformasikan (to inform)
b.
Mendidik (to educate)
c.
Menghibur (to entertain)
d.
Mempengaruhi (to influence)
Penjelasan dari fungsi-fungsi tersebut ialah komunikasi tentunya
memberikan informasi mengenai sesuatu hal yang kita inginkan, sehingga
kita bisa mengetahuinya. Misalnya, dalam lingkungan sekolah, seorang guru
menjelaskan mengenai pelajaran kepada siswa-siswanya, sehingga dalam
proses belajar mengajar tersebut para siswa menjadi tahu tentang apa yang
diterangkan oleh gurunya. Dan secara langsung, guru telah mendidik
sehingga memengaruhi para siswanya untuk rajin belajar, baik di rumah
maupun di sekolah. Acara komedi di televisi, buku cerita lucu, perform
seorang badut dan pesulap dalam sebuah pesta ulang tahun dan sebagainya,
itu semua dilakukan untuk penyegaran semata dan sebagai kesenangan
individu maupun kelompok.
2.1.1.5 Dampak Komunikasi
Dampak yang dapat timbul dalam sebuah proses komunikasi
(Fiola, 2013: 19), yakni:
a. Dampak Kognitif
Dampak yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia
menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. Di sini pesan yang
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
19
disampaikan komunikator ditujukan kepada si komunikan. Tujuan
komunikator hanyalah berkisar pada upaya mengubah pikiran diri
komunikan.
b. Dampak Efektif
Dampak ini lebih tinggi kadarnya daripada dampak kognitif. Di
sini tujuan komunikator bukan hanya sekedar supaya komunikan
tahu, tapi tergerak hatinya; menimbulkan perasaan tertentu, misalnya
perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah, dan sebagainya.
c. Dampak Behavioral
Dampak ini timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku,
tindakan, atau kegiatan.
2.1.2 Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah penyebaran pesan dengan menggunakan media
yang ditujukan kepada massa yang abstrak, yakni sejumlah orang yang tidak
tampak oleh si penyampai pesan. Pembaca surat kabar, pendengar radio,
penonton televise dan film, tidak tampak oleh si komunikator. Dengan
demikian, maka jelaslah bahwa komunikasi massa atau komunikasi melalui
media massa sifatnya “satu arah” (one way traffic) (Effendy, 2003:50).
Defenisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh
Bittner yakni “komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui
media massa pada sejumlah orang besar”. Sedangkan defenisi komunikasi
massa yang lebih rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi yakni Gerbner
“kommunikasi
massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan
teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontiniu serta paling luas dimiliki
orang dalam masyarakat industri (Ardianto, 2004:4).
2.1.2.1 Unsur-unsur Komunikasi Massa
Komunikasi massa merupakan proses yang dilakukan melalui media
massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
20
informasi
kepada khalayak luas. Dengan demikian, maka unsur-unsur
penting dalam komunikasi massa adalah:
a.
Komunikator
Merupakan pihak yang mengandalkan media massa dengan
teknologi informasi modern sehingga dalam menyebarkan suatu
informasi, maka informasi tersebut dengan cepat ditangkap oleh
publik. Komunikator dalam penyebaran informasi mencoba
berbagai informasi,
pemahaman, wawasan, dan solusi-solusi
dengan jutaan massa yang
tersebar tanpa diketahui jelas
keberadaan mereka. Komunikator juga berperan sebagai sumber
pemberitaan yang mewakili institusi formal yang bersifat mencari
keuntungan dari penyebaran informasi tersebut.
b.
Media Massa
Media massa merupakan media komunikasi dan informasi yang
melakukan penyebaran secara massal dan dapat diakses oleh
masyarakat secara massal pula. Media massa adalah institusi yang
berperan sebagai agent of change, yaitu sebagai institusi pelopor
perubahan. Ini adalah paradigma utama media massa.
Dalam menjalankan paradigmanya media massa berperan :
i. Sebagai institusi pencerahan masyarakat, yaitu perannya sebagai
media edukasi.
ii. Sebagai media informasi, yaitu media yang setiap saat
menyampaikan informasi kepada masyarakat.
iii. Terakhir media massa sebagai media hiburan. (Bungin, 2006:85)
c.
Informasi Massa
Informasi massa merupakan informasi yang diperuntukan kepada
masyarakat secara massal, bukan informasi yang hanya boleh
dikonsumsi oleh pribadi. Dengan demikian, maka informasi massa
adalah milik
publik, bukan ditujukan kepada individu masing-
masing.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
21
d.
Gatekeeper
Merupakan penyeleksi informasi informasi. Sebagaimana diketahui
bahwa komunikasi massa dijalankan oleh beberapa orang dalam
organisasi media massa,
mereka inilah yang akan menyeleksi
informasi yang akan disiarkan atau tidak disiarkan.
e.
Khalayak
Khalayak merupakan massa yang menerima informasi massa yang
disebarkan oleh media massa, mereka ini terdiri dari publik
pendengar atau pemirsa sebuah media massa.
f.
Umpan Balik
Umpan balik dalam komunikasi massa umumnya mempunyai sifat
tertunda sedangkan dalam komunikasi tatap muka bersifat langsung.
Akan tetapi, konsep umpan balik tertunda dalam komunikasi massa
ini telah dikoreksi karena semakin majunya teknologi, maka proses
penundaan umpan balik menjadi sangat tradisional (Bungin,
2006:71).
Dari paparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikator dalam
komunikasi massa merupakan seseorang yang mewakili kelembagaan,
pesannya juga dapat dikonsumsi oleh publik bukan milik pribadi dan dapat
diterima secara serentak, namun pesan yang disampaikan disaring terlebih
dahulu oleh gatekeeper sebelum disampaikan agar bisa dimengerti oleh
khalayak.
2.1.2.2 Karakteristik Komunikasi Massa
Ardianto (2004:7-8) karakteristik yang dimiliki oleh komunikasi massa
antara lain:
a.
Komunikator Terlembagakan.
Sesuai dengan pendapat Wright, bahwa komunikasi massa itu
melibatkan
lembaga, dan komunikatornya bergerak dalam
organisasi kompleks, maka proses pemberian pesan yang diberikan
oleh komunikator harus bersifat sistematis dan terperinci.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
22
b.
Pesan Bersifat Umum.
Pesan dapat berupa fakta, peristiwa ataupun opini. Namun tidak
semua fakta atau peristiwa yang terjadi di sekeliling kita dapat
dimuat dalam media
massa. Pesan komunikasi massa yang
dikemas dalam bentuk apapun harus memenuhi kriteria pengting
atau menarik.
c.
Komunikannya yang Anonim dan Heterogen.
Komunikan yang dimiliki komunikasi massa adalah anonim (tidak
dikenal) dan heterogen (terdiri dari berbagai unsur).
d.
Media Massa Menimbulkan Keserempakan.
Media massa itu adalah keserempakan kontak dengan sejumlah
besar penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator, dan
penduduk tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan
terpisah.
e.
Komunikasi Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan.
Dalam komunikasi massa, pesan harus disusun sedemikian rupa
berdasarkan sistem tertentu dan disesuaikan karakteristik media
massa yang digunakan. Di dalam komunikasi antarpersonal, yang
menentukan efektivitas komunikasi bukanlah struktur, tetapi aspek
hubungan manusia, bukan pada “apanya“ tetapi “bagaimana“.
Sedangkan pada komunikasi massa menekankan pada “apanya“.
f.
Komunikasi Massa Bersifat Satu Arah.
Komunikator dan komunikan tidak d apat terlibat secara langsung,
karena proses pada komunikasi massa yang menggunakan media
massa.
g.
Stimulasi Alat Indra Terbatas.
Stimulasi alat indra tergantung pada media massa. Pada surat kabar
dan majalah, pembaca hanya melihat, pada media radio khalayak
hanya mendengarkan, sedangkan pada media televisi dan film kita
menggunakan indra pengelihatan dan pendengaran.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
23
h.
Umpan Balik Tertunda (Delayed)
Hal ini dikarenakan oleh jarak komunikator dengan komunikan
yang berjauhan dan katakter komunikan yang anonim dan
heterogen.
2.1.2.3 Proses Komunikasi Massa
Komunikasi massa dalam prosesnya melibatkan banyak orang yang
bersifat kompleks dan rumit. Menurut McQuail proses komunikasi massa
terlihat berproses dalam bentuk (Bungin, 2006:74):
a.
Melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam skala besar.
b.
Proses komunikasi massa cenderung dilakukan melalui model satu
arah yaitu dari komunikator kepada komunikan.
c.
Proses komunikasi massa berlangsung secara asimetris antara
komunikator dengan komunikan.
d.
Proses komunikasi massa juga berlangsung impersonal atau non
pribadi dan anonim.
e.
Proses komunikasi massa juga berlangsung didasarkan pada
hubungan kebutuhan-kebutuhan di masyarakat.
Dari poin diatas dapat dilihat bahwa komunikasi massa dimana
komunikatornya yang mewakili lembaga sangat mendominasi, bersifat
non-pribadi serta anonim, pesan yang disampaikan juga skala besar
ditujukan sesuai dengan kebutuhan-kebuthan di masyarakat tersebut.
2.1.2.4 Fungsi Komunikasi Massa
Effendy (2002:29) fungsi dari komunikasi massa adalah sebagai
berikut :
a.
Penafsiran
Fungsi penafsiran ini berbentuk komentar dan opini yang ditujukan
kepada khalayak, serta dilengkapi perspektif (sudut pandang)
terhadap berita atau tanyangan yang disajikan.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
24
b.
Pertalian
Dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam sehingga
membentuk pertalian berdasarkan kepentingan dan minat yang sama
tentang sesuatu.
c.
Penyebaran Nilai-nilai
Dengan cara media massa itu ditonton, didengar, dan dibaca. Media
massa itu memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka bertindak
dan apa yang diharapkan oleh mereka.
d.
Hiburan
Berfungsi sebagai penghibur tiada lain tujuannya adalah untuk
mengurangi ketegangan pikiran khalayak.
e.
Fungsi Informasi
Media massa berfungsi sebagai penyebar informasi bagi pembaca,
pendengar, atau pemirsa.
f.
Fungsi Pendidikan
Salah satu cara media massa dalam memberikan pendidikan adalah
dengan melalui pengajaran etika, nilai, serta aturan-aturan yang
berlaku bagi pembaca atau pemirsa.
g.
Fungsi Mempengaruhi
Secara implisit terdapat pada tajuk/editorial, Features, iklan, artikel
dan sebagainya.
h.
Fungsi Proses Pengembangan Mental.
Media massa erat kaitannya dengan prilaku dan pengalaman
kesadaran manusia.
i.
Fungsi Adaptasi Lingkungan
Penyesuaian diri terhadap lingkungan dimana khalayak dapat
beradaptasi dengan lingkungannya dengan dibantu oleh media
massa, ia bisa lebih mengenal bagaimana keadaan lingkungannya
melalui media massa.
j.
Fungsi Memanipulasi Lingkungan
Berusaha untuk mempengaruhi, komunikasi yang digunakan sebagai
alat kontrol utama dan pengaturan lingkungan.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
25
k.
Fungsi Meyakinkan ( To Persuade )
i.
Mengukuhkan atau memperkuat sikap, kepercayaan atau nilai
seseorang.
ii.
Mengubah sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang
iii.
Menggerakan seseorang untuk melakukan sesuatu
2.1.2.5 Efek Komunikasi Massa
Komunikasi mempunyai efek tertentu menurut (Liliweri, 1991:39),
secara umum terdapat tiga efek komunikasi massa, yaitu:
a.
Efek Kognitif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan
khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan, dan
pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya. Efek ini berkaitan
dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau
informasi.
b.
Efek Afektif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan
berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat menjadi
lebih marah dan berkurang rasa tidak senangnya terhadap suatu
akibat membaca surat kabar, mendengarkan radio atau menonton
televisi. Efek ini ada hubungannya dengan emosi, sikap, atau nilai.
c.
Efek Konatif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan
orang mengambil
keputusan
untuk
melakukan
atau
tidak
melakukan sesuatu. Efek ini merujuk pada prilaku nyata yang dapat
diminati, yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau
kebiasaan berperilaku.
2.1.3 Televisi sebagai Media Massa
Televisi berasal dari kata Yunani yaitu tele dan visi. Tele yang berarti jauh
dan visi yang berarti penglihatan. Dengan demikian televisi yang dalam bahasa
Inggrisnya television diartikan dengan melihat jauh. Namun pada mulanya
televisi dimaksudkan sebagai salah satu cara lain untuk menyiarkan programprogram dan hiburan-hiburan tetapi dengan gambar, seperti yang dilakukan
siaran radio dengan suara (Grob & Sahat, 1991:4)
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
26
Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar yang bisa
bersifat politis bisa pula informatif, hiburan dan pendidikan atau bahkan
gabungan dari ketiga unsur tersebut. Televisi menciptakan suasana tertentu
yaitu para pemirsa yang dapat melihat sambil duduk santai tanpa kesengajaan
untuk menyaksikan, penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara
komunikatordan komunikan, informasi yang disampaikan oleh televisi akan
mudah dimengerti dengan jelas terdengan secara audio dan terlihat secara
visual (Kuswandi, 1996:8)
Kelebihan yang dimiliki oleh televisi adalah mampu mentransformasikan
gambar, suara dan warna-warna yang sesuai dengan aslinya sehingga apabila
ada acara yang ditayangkan di televisi dengan mengambil setting tempat
tertentu maka pemirsa sudah dapat mengetahui tempat itu tanpa harus pergi ke
sana. Nilai-nilai lebih dari televisi tersebut membuat daya rangsang seseorang
terhadap media televisi cukup tinggi (Kuswandi, 1996: 2).
Media massa merupakan organisasi-organisasi yang menyalurkan produkproduk atau pesan-pesan budaya yang mempengaruhi dan mencerminkan
budaya masyarakatnya (Winarso, 2005: 54). Media memberikan informasi
secara terus-menerus kepada khalayak luas yang heterogen. Sistem-sistem
media adalah bagian dan konteks politik, ekonomi, dan kekuatan institusional
lain yang lebih besar.
Media massa, seperti halnya pesan lisan dan isyarat, sudah menjadi bagian
yang tak terpisahkan dari komunikasi manusia. Pada hakikatnya, media adalah
perpanjangan lidah dan tangan yang berjasa meningkatkan kapasitas manusia
untuk mengembangkan struktur sosialnya. Namun banyak orang tidak
menyadari hubungan fundamentalantara manusia dan media itu, dan keliru
menilai peran media dalam kehidupan mereka.
2.1.3.1 Fungsi Media Massa
Dalam membicarakan fungsi-fungsi komunikasi massa, ada satu
hal yang perlu disepakati terlebih dahulu. Ketika kita membicarakan fungsi
komunikasi massa yang harus ada dalam benak kita adalah kita juga sedang
membicarakan fungsi media massa, karena komunikasi massa berarti
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
27
komunikasi lewat media massa. Ini berarti, komunikasi massa tidak akan
ditemukan maknanya tanpa menyertakan media massa sebagai elemen
terpenting dalam komunikasi massa. Sebab, tidak ada komunikasi massa
tanpa ada media massa (Nurudin, 2007: 63).
Harold Lasswell dan Charles Wright (dalam Severin, 2007: 386)
merupakan sebagian dari pakar yang benar-benar serius mempertimbangkan
fungsi dan peran media massa dalam masyarakat. Wright membagi media
komunikasi berdasar sifat dasar pemirsa, sifat dasar pengalaman komunikasi
dan sifat dasar pemberi informasi. Lasswell, pakar komunikasi dan
professor hukum di Yale, mencatat ada 3 fungsi media massa, yaitu:
pengamatan lingkungan, korelasi bagian-bagian dalam masyarakat untuk
merespon lingkungan, dan penyampaian warisan masyarakat dari satu
generasi ke generasi selanjutnya. Selain ketiga fungsi ini, Wright
menambahkan fungsi keempat, yaitu hiburan.
Keempat fungsi media massa tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a.
Pengawasan (Surveillance). Pengawasan sebagai fungsi pertama,
memberi informasi dan menyediakan berita. Dalam membentuk fungsi
ini, media sering kali memperingatkan kita akan bahaya yang mungkin
terjadi seperti kondisi cuaca yang ekstrem atau berbahaya atau ancaman
militer. Fungsi pengawasan juga termasuk berita yang tersedia di media
yang penting dalam ekonomi, publik dan masyarakat, seperti laporan
bursa pasar, lalu lintas, cuaca dan sebagainya.
b.
Korelasi (Correlation). Korelasi adalah seleksi dan interpretasi informasi
tentang lingkungan. Media sering kali memasukkan kritik dan cara
bagaimana seseorang harus bereaksi terhadap kejadian tertentu. Fungsi
korelasi bertujuan untuk menjalankan norma sosial dan menjaga
konsensus dengan mengekspos penyimpangan, memberikan status
dengan menyoroti individu terpilih dan dapat berfungsi untuk mengawasi
pemerintah.
c.
Penyampaian warisan sosial (Transmission of the social heritage).
Penyampaian warisan sosial merupakan suatu fungsi di mana media
menyampaikan informasi, nilai, dan norma dari satu generasi ke generasi
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
28
berikutnya atau dari angggota masyarakat ke kaum pendatang. Dengan
cara ini mereka bertujuan untuk meningkatkan kesatuan masyarakat
dengan cara memperluas dasar pengalaman umum mereka. Mereka
membantu integrasi individu ke masyarakat baik dengan cara
melanjutkan sosialisasi setelah pendidikan formal berakhir, atau dengan
mengawalinya pada masa-masa pra sekolah.
d.
Hiburan
(Entertainment).
Sebagian
besar
isi
media
mungkin
dimaksudkan sebagai hiburan, bahkan di surat kabar sekalipun,
mengingat banyaknya kolom, fitur, dan bagian selingan. Media hiburan
dimaksudkan untuk memberi waktu istirahat dari masalah setip hari dan
mengisi waktu luang (Severin, 2007: 386-388).
2.1.3.2 Efek Media Massa
Komunikasi massa juga mempunyai pengaruh atau efek bagi
khalayak atau pemirsanya. Efek komunikasi massa bisa dibagi menjadi
beberapa bagian. Secara sederhana Keith R. Stamm dan John E. Bowes
(dalam Nurudin, 2007: 206) membagi dua bagian dasar, yaitu :
a.
Efek primer, meliputi terpaan, perhatian, dan pemahaman. Dengan
perkembangan yang semakin pesat dari media elektronik (salah satu
contohnya televisi) dewasa ini, pemahaman tidak hanya difokuskan
pada media cetak, tetapi juga ke media elektronik. Artinya, pemahaman
tidak lagi mengenai panjang pendeknya kalimat, model tulisan yang
disajikan, tetapi berkait dengan suatu program acara (teknik
pengambilan gambar, suara, tulisan yang dipakai untuk memperjelas
gambar, intonasi bicara, dan lain-lain). Jadi formula kemampuan
“melihat” bergeser ke formula “kemampuan dengar dan lihat”. Jadi
terpaan media massa yang mengenai khalayak menjadi salah satu
bentuk efek primer. Akan lebih bagus lagi jika khalayak tersebut
memperhatikan pesan-pesan media massa.
b.
Efek sekunder, meliputi perubahan tingkat kognitif (perubahan
pengetahuan dan sikap), dan perubahan perilaku (menerima dan
memilih). Menurut John R. Bittner (dalam Nurudin, 2007: 211), bahwa
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
29
fokus utama efek sekunder adalah tidak hanya bagaimana media massa
mempengaruhi khalayak, tetapi juga bagaimana khlayak mereaksi
pesan-pesan media yang sampai pada dirinya
Menurut Askurifai Baksin, pada prinsipnya penyelenggaraan siaran di
stasiun televisi terbagi menjadi dua, yakni siaran karya artistik dan karya
jurnalistik (Baksin 2006:79). Siaran karya jurnalistik merupakan produksi
acara televisi yang mengutamakan kecepatan penyampaian informasi, realitas
atau peristiwa yang terjadi, misalnya berita aktual, berita nonaktual, dan
penjelasan yang bersifat aktual atau sedang hangat-hangatnya yang tertuang
dalam acara monolog, dialog, laporan ataupun siaran langsung. Sedangkan
karya artistik merupakan produksi acara televisi yang menekankan aspek
artistik dan estetika, sehingga unsur keindahan menjadi unggulan dan daya
tarik acara seperti ini. Menurut Askurifai Baksin, terdapat unsur-unsur
dominan yang menjadi ciri khas siaran televisi, yaitu (Baksin, 2006:63-68) :
a.
Penampilan Penyaji
Penyaji atau yang lebih dikenal dengan sebutan presenter atau pemandu
acara adalah istilah Inggris untuk orang yang membawakan acara atau
program televisi. Seorang presenter televisi biasanya juga seorang aktor,
penyanyi, dan lainnya, tapi umumnya terkenal karena menjadi presenter
program tertentu.
RM Hartoko dalam Baksin 2006 menyebutkan beberapa prasayarat untuk
menjadi presenter televisi yang baik, yaitu (Baksin, 2006:157) :
1) Penampilan yang baik dan perlu didukung oleh watak dan
pengalaman.
2) Kecerdasan pikiran yang meliputi pengetahuan umum dan daya
ingatan yang kuat.
3) Keramahan yang tidak berlebihan sampai over friendly yang
dapat menjengkelkan dan menjadi tidak wajar.
4) Jenis suara yang tepat dengan warna suara yang enak untuk
didengar dan memiliki wibawa yang cukup mantap.
5) Penguasaan bahasa adalah kemampuan mengunakan bahasa
formaldan informal yang mudah dipahami.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
30
b.
Narasumber
Narasumber adalah orang yang menjadi sumber informasi atau yang
mengetahui informasi tertentu. Menurut R. Fadli yang digolongkan
kepada narasumber yang tidak sembarangan atau spesial adalah (Fadli,
2001:131) :
1) Memiliki kapabilitas yang meliputi kemampuan dalam bidang
akademis maupun pengalaman.
2) Memiliki kredibilitas yang merupakan kualitas, kapabilitas, atau
kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan.
3) Memiliki akseptabilitas yang meliputi latar belakang pribadi
maupun profesi seorang narasumber yang sesuai dengan topik
pembahasan.
c.
Materi Acara
Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam program terletak pada materi
acara atau permasalahan. Dalam hal ini ada dua kategori untuk
mengetahui sampai seberapa jauh permasalahan itu menarik, yaitu :
1) Permasalahan apa yang dibahas dalam diskusi tersebut, yaitu hal
yang menjadi topik
pembahasan
dalam diskusi tersebut
merupakan permasalahan yang penting bagi masyarakat.
2) Masalah itu merupakan masalah yang aktual atau yang sedang
hangat di masyarakat.
d.
Waktu Tayang
Faktor lain yang juga perlu diperhatikan dalam tayangan talk show
adalah pemilihan waktu tayang. Pemilihan waktu tayang diperlukan agar
segmentasi khalayak yang diharapkan dapat tercapai. Dalam pemilihan
waktu tayangan juga perlu memperhatikan:
1) Frekuensi penayangan yang diperlukan untuk memudahkan
penonton mengingat acara tersebut.
2) Durasi tayangan yaitu lamanya tayangan tersebut berlangsung.
Hal ini perlu diperhatikan untuk menghindari penonton dari
kebosanan.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
31
Siaran televisi menjadi lebih komunikatif dalam menyampaikan pesan,
dengan audio dan visual yang dimilikinya. Maka dari itu televisi sangat berguna
dalam upaya pembentukan sikap, perilaku, dan perubahan pola pikir. Seperti
halnya media massa lainnya, televisi pada pokoknya mempunyai tiga fungsi
pokok (Uchjana, 2002:24) yakni sebagai berikut:
a.
Fungsi Penerangan
Televisi mendapat perhatian yang bersar dikalangan masyarakat karena
dianggap sebagai media yang mampu menyiarkan informasi yang sangat
memuaskan.
b.
Fungsi Pendidikan
Sebagai media massa, televisi merupakan sarana yang ampuh untuk
menyiarkan acara pendidikan kepada khalayak yang jumlahnya begitu
banyak secara simultan dengan makna pendidikan, yaitu meningkatkan
pengetahuan dan penalaran masyarakat.
c.
Fungsi Hiburan
Sebagai media yang melayani kepentingan masyarakat luas, fungsi
hiburan yang melekat pada televisi tampaknya lebih dominan dari fungsi
lainnya. Sebagian besar dari alokasi waktu siaran televisi diisi oleh acaraacara hiburan, seperti lagu-lagu, film cerita, olahraga, dan sebagainya.
Fungsi hiburan ini amat penting, karena ia menjadi salah satu kebutuhan
manusia untuk mengisi waktu mereka dari aktivitas di luar rumah.
Televisi kini menjelma menjadi salah satu tokoh utama dalam industri
media massa. Televisi sendiri menjadi maju dikarenakan memiliki keunikan
maupun kemampuan khusus dalam menyampaikan pesan. Dengan gambar dan
suara disampaikan secara bersamaan, berita yang ditampilkan sangat aktual dan
jangkauan siaran yang sangat luas yang dapat mencakup penonton yang sangat
banya dalam waktu yang bersamaan membuat televisi kini menjadi pilihan
nomor satu bagi masyarakat untuk menerima informasi.
2.1.4 Berita (News)
Berita menurut J.B Wahyudi merupakan laporan tentang peristiwa atau
pendapat yang memiliki nilai penting, menarik bagi sebagian khalayak masih
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
32
baru dan dipublikasikan secara luas melalui media massa periodik. Peristiwa
atau pendapat tidak akan menjadi berita jika tidak dipublikasikan melalui
media massa periodik (Arifin S, 2006:4). Menurut Sutisno dalam bukunya
pedoman praktis penulisan skenario televisi dan video (1993), mendefinisikan
berita adalah jalan cerita tentang peristiwa. Ini berarti bahwa suatu berita
setidaknya mengandung dua hal, yaitu peristiwa dan jalan ceritanya. Jalan
cerita tanpa peristiwa atau peristiwa tanpa jalan cerita tidak dapat disebut berita
(Tebba, 2005:55).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berita adalah suatu fakta atau
ide atau opini aktual yang menarik dan akurat serta dianggap penting bagi
sejumlah besar pembaca, pendengar maupun penonton (Muda, 2003:21-22).
Dalam memilih materi berita yang akan ditayangkan ada beberapa
pertimbangan yaitu berdasarkan kerangka memberikan informasi yang
dibutuhkan audiens (Muda, 2003:34) :
a.
Consequence artinya adalah berita tersebut berkaitan dengan segala
tindakan atau kebijakan, peraturan, perundangan dan lain – lain yang
memiliki dampak bagi masyarakat luas.
b.
Conflict atau konflik memiliki nilai berita yang sangat tinggi karena
konflik adalah bagian dalam kehidupan. Di sisi lain konflik sangat
berhubungan dengan peristiwa kehidupan.
c.
Development atau pembangungan merupakan materi berita yang cukup
menarik apabila reporter mampu mengulasnya dengan baik. Keberhasilan
dan kegagalan pembangunan melibatkan seluruh aspek masyarakat.
d.
Disaster and Crime atau bencana dan kriminalitas. Dalam piramida
kebutuhan Maslow, keselamatan mendapat urutan pertama. Maka materi
berita bencana dan kriminalitas memiliki daya rangsang yang cukup
tinggi bagi audiens.
e.
Weather atau cuaca merupakan berita yang penting pula, karena
berkaitan dengan berbagai aspek kegiatan masyarakat. Mulai dari petani
hingga kalangan pengusaha.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
33
f.
Sport atau olah raga selalu menarik bagi audiens di mana pun.Khususnya
di Indonesia berita olah raga yang paling diminati adalah sepak bola,
otomotif, basket, tenis, bulutangkis dan tinju.
g.
Human Interest adalah kisah–kisah yang dapat membangkitkan emosi
audiens seperti lucu, sedih, dramatis, aneh dan ironis.
2.1.4.1 Tayangan Berita di Televisi
Berita berasal dari bahasa sansekerta “vrit” yang dalam bahasa
inggris disebut “write” yang artinya ada atau terjadi. Selain itu ada juga
yang menyebutnya dengan kata ”vritta” yang berarti kejadian atau yang
telah terjadi. Pada kamus besar bahasaIndonesia, berita merupakan cerita
atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Dalam
istilah jurnalistik, berita diberi nama “news”. Kata tersebut terbentuk dari
kata “new” yang berarti baru. Jadi, berita merupakan sesuatu yang baru dan
diinformasikan kepada khalayak banyak. Berita yang ditayangkan oleh
televisi memiliki beberapa syarat, yakni :
a.
Merupakan fakta, berita haruslah berdasarkan kejadian atau
peristiwa yang benar–benar nyata.
b.
Terkini yaitu jarak penyiaran tayangan berita tidak terlalu jauh
dengan peristiwa tersebut.
c.
Seimbang, berita harus disampaikan dengan seimbang (cover both
side), tidak memihak kepada salah satu pihak.
d.
Lengkap yaitu informasi yang disampaikan pada berita harus benarbenar lengkap. Sesuai dengan 5W+1H.
e.
Menarik, berita harus menarik minat penontonnya, berita dapat
dikatakan menarik apabila mengandung unsur empati, simpati dan
bermanfaat bagi penonton, berkaitan dengan tokoh terkenal,
peristiwa penting, luar biasa, atau bersifat konflik.
2.1.5 Persepsi
Secara etimologis, persepsi atau dalam bahasa Inggris yaitu perception
berasal dari bahas latin yaitu perceptio; dari percipere, yang artinya menerima
atau mengambil. Persepsi (perception) dalam arti sempit adalah penglihatan,
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
34
bagaimana cara seseorang melihat sesuatu; sedangkan dalam arti luas adalah
pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau
mengartikan sesuatu (Soubur, 2003:445).
Persepsi adalah kecakapan untuk cepat melihat dan memahami perasaanperasaan, sikap-sikap, dan kebutuhan-kebutuhan anggota kelompok (Gerungan,
2009: 146). Kecakapan ini sangat diperlukan untuk memenuhi tugas pemimpin
seperti yang dikemukakan oleh kaum dinamika kelompok untuk menjalankan
group-centered leadership.
Mar‟at (1982: 22) mengemukakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh faktor
pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuannya. Manusia
mengamati suatu objek psikologik dengan kacamatanya sendiri yang diwarnai
oleh nilai dari kepribadiannya. Sedangkan objek psikologik ini dapat berupa
kejadian, idea atau situasi tertentu. Faktor pengalaman, proses belajar atau
sosialisasi memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat.
Sedangkan pengetahuannya dan cakrawalannya memberikan arti terhadap
objek psikologik tersebut.
Menurut Walgito (2005: 99) bahwa persepsi adalah suatu proses yang
didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya
stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris.
Namun proses tersebut tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut
diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Karena itu
proses persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan, dan proses
penginderaan merupakan proses pendahulu dari proses persepsi. Proses
penginderaan akan berlangsung setiap saat, pada waktu individu menerima
stimulus melalui alat indera, yaitu melalui mata sebagai alat penglihatan,
telinga sebagai alat pendengar, hidung sebagai alat pembauan, lidah sebagai
alat pengecapan, kulit pada telapak tangan sebagai alat perabaan, yang
kesemuannya merupakan alat indera yang digunakan untuk menerima stimulus
dari luar individu.
Persepsi di sini diartikan sebagai suatu tanggapan yang berasal dari diri
kita sendiri mengenai suatu objek atau peristiwa, biasanya tanggapan tersebut
awalnya timbul dari sebuah stimulus yang di tangkap oleh alat indera.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
35
Dalam persepsi stimulus dapat dari luar, tetapi juga dapat datang dari
individu sendiri. Namun demikian sebagian terbesar stimulus datang dari luar
individu yang bersangkutan. Sekalipun persepsi dapat melalui macam-macam
alat indera yang ada pada diri individu, tetapi sebagian besar persepsi melalui
alat indera penglihatan. Karena itulah banyak penelitian mengenai persepsi
adalah persepsi yang berkaitan dengan alat penglihatan.
Menurut Davidoff dan Rogers (Walgito, 2005:100), persepsi merupakan
aktivitas yang integrated dalam diri individu, maka apa yang ada dalam diri
individu akan ikut aktif dalam persepsi. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam
persepsi
dapat
dikemukakan
karena
perasaan,
kemampuan
berfikir,
pengalaman-pengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi
sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antara individu satu
dengan individu lain. Persepsi itu bersifat individual.
Persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih,
mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan
proses tersebut mempengaruhi perilaku kita (Mulyana, 2005:179). Definisi lain
mengenai persepsi adalah persepsi pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan
menafsirkan pesan (Rakhmat, 1996:51).
2.1.5.1
Proses Persepsi
Persepsi merupakan bagian dari keseluruhan proses yang menghasilkan
tanggapan setelah rangsangan ditetapkan kepada manusia. Dari segi psiologi
dikatakan bahwa tingkah laku seseorang merupakan fungsi dari cara dia
memandang, oleh karena itu untuk mengubah tingkah laku seseorang harus
dimulai dari mengubah persepsinya.
Proses persepsi terdapat tiga komponen utama (Soubur, 2003:447)
yaitu:
a. Seleksi adalah proses penyaringan oleh indera terhadap rangsangan dari
luar, ketertarikan dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.
b. Interpretasi
adalah
proses
mengorganisasikan
informasi
sehingga
mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi dipengaruhi oleh berbagai
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
36
faktor, seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi,
kepribadian
dan
kecerdasan.
Interpretasi
juga
bergantung
pada
kemampuan seseorang untuk mengadakan pengkategorian informasi yang
diterimanya, yaitu proses mereduksi informasi yang kompleks menjadi
sederhana.
c. Reaksi yaitu interpretasi dan persepsi yang kemudian diterjemahkan dalam
bentuk tingkah laku sebagai reaksi.
Tercakup beberapa segi atau proses pembentukan persepi (Soubur,
2003:451):
a.
Proses Menerima Rangsangan/Stimuli
Proses pertama dalam persepsi ialah menerima rangsangan atau data dari
berbagai sumber. Kebanyakan data diterima melalui pancaindra. Kita
melihat sesuatu, mendengar, mencium, merasakan atau menyentuhnya,
sehingga kita mempelajari segi-segi lain dari sesuatu itu.
b.
Proses Seleksi
Setelah rangsangan diterima atau data diseleksi, tidaklah mungkin untuk
memperhatikan semua rangsangan yang telah diterima. Rangsangan
tersebut akan disaring, dan diseleksi untuk diproses lebih lanjut.
c.
Proses Pengorganisasian/Interpretasi
Rangsangan yang diterima selanjutnya diorganisasikan dalam suatu
bentuk.
d.
Pengelompokan
Dalam proses ini rangsangan yang diterima dikelompokkan dalam suatu
bentuk.
Bentuk timbul dan latar memusatkan perhatian pada gejala-gejala tertentu
yang timbul menonjol, sedangkan rangsangan atau gejala lainnya berada di
latar
belakang.
Kemantapan
persepsi
merupakan
adanya
suatu
kecenderungan untuk menstabilkan persepsi, dan perubahan-perubahan
konteks tidak mempengaruhinya.
e.
Proses Penafsiran/Pemahaman
Setelah rangsangan atau data diterima dan diatur, si penerima lalu
menafsirkan data itu dengan berbagai cara. Persepsi pada pokoknya
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
37
memberikan arti pada berbagai data dan informasi yang diterima. Sesudah
data diterima dan ditafsirkan, si penerima mengambil beberapa tindakan
untuk mengecek apakah penafsirannya benar atau salah. Proses
pengecekan ini mungkin terlalu cepat dan orang mungkin tidak
menyadarinya.
f.
Proses Reaksi
Tahap terakhir dari proses perseptual ialah bertindak sehubungan dengan
apa yang telah diserap. Hal ini biasanya dilakukan jika seseorang berbuat
suatu sehubungan dengan persepsinya.
Dari penjelasan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa proses persepsi
merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus
yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu
yang berarti, dan merupakan aktivitas yang terintergrated dalam diri individu.
2.5.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Menurut Walgito (2005: 101), faktor-faktor yang berperan dalam
persepsi dapat dikemukakan adanya beberapa faktor, antara lain:
a.
Adanya objek yang dipersepsi. Objek menimbulkan stimulus yang
mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar
langsung mengenai alat indera (reseptor), dapat datang dari dalam, yang
langsung mengenai syaraf penerima (sensoris), yang bekerja sebagai
reseptor.
b.
Adanya alat indera atau reseptor, yaitu merupakan alat untuk menerima
stimulus. Di samping itu harus ada pula syaraf sensoris sebagai alat untuk
meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke susunan syarat yaitu otak
sebagai pusat kesadaran. Dan sebagai alat untuk mengadakan respons
diperlukan syarat motoris.
c.
Adanya perhatian, merupakan langkah pertama sebagai persiapan dalam
mengadakan persepsi. Tanpa perhatian tidak akan terjadi persepsi.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
38
Faktor psikologis lain yang juga penting dalam persepsi antara lain:
a.
Emosi akan mempengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah
informasi pada suatu saat, karena sebagian energi dan perhatiannya
adalah emosinya tersebut. Seseorang yang sedang tertekan karena baru
bertengkar dengan pacar dan mengalami kemacetan, mungkin akan
mempersepsikan lelucon temannya sebagai penghinaan.
b.
Impresi
stimulus
yang
salient/menonjol,
akan
lebih
dahulu
mempengaruhi persepsi seseorang. Gambar yang besar, warna kontras,
atau suara yang kuat dengan pitch tertentu, akan lebih menarik seseorang
untuk memperhatikan dan menjadi fokus dari persepsinya. Seseorang
yang memperkenalkan diri dengan sopan dan berpenampilan menarik,
akan lebih mudah dipersepsikan secara positif, dan persepsi ini akan
mempengaruhi bagaimana ia dipandang selanjutnya.
c.
Konteks, walaupun faktor ini disebutkan terakhir, tapi tidak berarti
kurang penting, malah mungkin yang paling penting. Konteks bisa secara
sosial, budaya atau lingkungan fisik. Konteks memberikan ground yang
sangat menentukan bagaimana figure dipandang. Fokus pada figure yang
sama, tetapi dalam ground yang berbeda, mungkin akan memberikan
makna yang berbeda (Evinovi, 2009).
Menurut Robbins (2007:176), faktor-faktor yang mempengaruhi
persepsi adalah sebagai berikut:
a.
Faktor-faktor dalam diri si pengarti, yaitu sikap, motif,, minat,
pengalaman, dan harapan-harapan.
b.
Faktor-faktor dalam diri target, yaitu sesuatu yang baru, gerakan, suara,
ukuran, latar belakang, kedekatan, dan kemiripan.
c.
Faktor-faktor dalam situasi, yaitu waktu, keadaan kerja, dan keadaan
sosial.
Jika stimulus merupakan faktor eksternal dalam proses persepsi,
maka faktor individu merupakan faktor internal. Menghadapi stimulus
dari luar itu, individu bersifat selektif untuk menentukan stimulus mana
yang akan diperhatikan sehingga menimbulkan kesadaran pada individu
yang bersangkutan.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
39
Menurut Walgito (2005:130), keadaan individu pada suatu waktu
ditentukan oleh beberapa faktor:
a.
Sifat struktur dari individu, yaitu keadaan individu yang lebih bersifat
permanen. Ada individu yang suka memperhatikan sesuatu hal sekalipun
hal itu kecil atau tidak berarti, tetapi sebaliknya ada individu yang
mempunyai sifat acuh tak acuh terhadap keadaan yang ada di sekitarnya.
b.
Sifat temporer dari individu, yaitu keadaan individu pada suatu waktu.
Orang yang sedang dalam keadaan marah misalnya akan lebih emosional
daripada kalau dalam keadaan biasa, sehingga individu akan mudah
sekali memberikan reaksi terhadap stimulus yang mengenainya. Keadaan
yang temporer ini erat sekali hubunganya dengan stemming atau suasana
hati dari individu.
c.
Aktivitas yang sedang berjalan pada individu. Hal ini juga akan turut
menentukan apakah sesuatu itu akan diperhatikan atau tidak. Sesuatu hal
atau benda pada suatu waktu tidak menarik perhatian seseorang, tetapi
pada waktu yang lain justru sebaliknya, oleh karena pada waktu itu
aktivitas jiwanya sedang berhubungan dengan benda tersebut. Sebagai
contoh seorang penjual pisau di tepi jalan tidak menarik perhatian
seseorang, oleh karena orang tersebut tidak memiliki kepentingan
dengannya. Tetapi pada waktu yang lain penjual pisau menarik
perhatiannya karena pada waktu itu orang tersebut membutuhkan pisau,
karena pisau di rumah telah hilang.
2.2 Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis
dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai. Untuk itu
kerangka konsep dapat berupa teori-teori baru yang akan diuji atau pengembangan
teori-teori yang sudah ada dan bahkan berupa kemungkinan-kemungkinan
implementasi hasil penelitian bagi kehidupan nyata (Nawawi, 2012:42). Kerangka
konsep merupakan acuan dalam penelitian yang bermula dari teori-teori yang
digunakan untuk menjelaskan variabel penelitian secara empiris.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
40
Sementara Suwardi Lubis mengemukakan bahwa kerangka konsep
merupakan kemampuan peneliti menyusun konsep operasional peneliti yang
bertitik tolak pada kerangka teori dan tujuan penelitian. Dalam kerangka konsep
harus
dapat
menunjukkan
sistematis
variabel-variabel
penelitian
yang
menunjukkan kerangka operasional (Lubis, 1993:110-111).
Adapun konsep yang terkandung dalam penelitian ini adalah Persepsi
Masyarakat Terhadap Tayangan Sidang Kopi Sianida iNews TV di Lingkungan II
Kelurahan Sei Putih Barat.
2.3 Model Teoritis
Variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep akan
dibentuk menjadi model teoritis sebagai berikut:
Gambar 2.1
Model Teoritis
Tayangan Sidang Kopi Sianida
iNews TV
Masyarakat Lingkungan II
Kelurahan Sei Putih Barat
Kota Medan
Seleksi
Interpretasi
Reaksi
Persepsi
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
41
2.4 Variabel Penelitian
Tabel 2.1
Variabel Penelitian
Variabel Teoritis
Variabel Operasional
Variabel Bebas (X)
1. Pembawa Acara Berita/Anchor
Tayangan Persidangan Kopi Sianida di Stasiun
Televisi iNews TV
a. Penampilan
b. Kecerdasan
c. Keramahan
d. Jenis Suara
e. Penguasaan Bahasa
2. Narasumber
a. Kapabilitas
b. Kredibilitas
c. Akseptabilitas
3. Materi Berita
a. Topik Pembahasan
b. Aktualisasi Topik
4. Waktu Penayangan
a. Frekuensi Penayangan
b. Durasi Penayangan
5. Berita
a.
b.
c.
d.
e.
Fakta
Terkini
Seimbang
Lengkap
Menarik
Variabel Terikat (Y)
1. Seleksi
Persepsi Masyarakat Lingkungan II Kelurahan
Sei Putih Barat Kota Medan
Karakteristik Responden
2. Interpretasi
3. Reaksi
1. Usia
2. Jenis Kelamin
3. Pendidikan
4. Minimal menonton persidangan
sebanyak 4 kali di iNews TV
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
42
2.5 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah suatu petunjuk pelaksanaan mengenai caracara untuk mengukur variabel-variabel. Definisi operasional juga merupakan
suatu informasi alamiah yang sangat membantu penelitian lain yang akan
menggunakan variabel yang sama (Singarimbun, 2008:46).
Adapun operasional variabel dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel Bebas (Tayangan Sidang Kopi Sianida di iNews TV), meliputi:
a.
Pemandu Berita/Anchor: Seseorang yang membawakan acara dalam
program tayangan Sidang Kopi Sianida.
1) Penampilan yaitu gambaran kepribadian pembawa berita/anchor
tayangan sidang kopi sianida di iNews TV.
2) Kecerdasan pikiran yaitu kemampuan pembawa berita/anchor
menguasai topik pembahasan dalam tayangan sidang kopi sianida di
iNews TV.
3) Keramahan adalah tutur kata pembawa berita/anchor tayangan sidang
kopi sianida di iNews TV yang ramah dalam menyapa penonton.
4) Jenis suara yaitu kejelasan suara dan artikulasi pembawa berita/anchor
tayangan sidang kopi sianida di iNews TV.
5) Penguasaan bahasa adalah kemampuan pembawa berita/anchor
tayangan sidang kopi sianida di iNews TV mengunakan bahasa formal
dan informal yang mudah dipahami.
b. Narasumber, yaitu orang yang menjadi sumber informasi yang berkaitan
dengan Sidang Kopi Sianida di iNews TV.
1) Kapabilitas yaitu kemampuan dalam bidang akademis maupun
pengalaman yang dimiliki narasumber dalam tayangan sidang kopi
sianida di iNews TV.
2) Kredibilitas, yaitu kualitas yang dimiliki narasumber tayangan sidang
kopi sianida di iNews TV sehingga dapat dipercaya.
3) Akseptabilitas adalah kesesuaian latar belakang pribadi maupun
profesi seorang narasumber terhadap topik yang dibahas dalam
tayangan sidang kopi sianida di iNews TV.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
43
c.
Materi Berita, yaitu materi-materi yang dibawakan pada setiap tayangan
Sidang Kopi Sianida di iNews TV.
1) Topik Pembahasan, yaitu topik yang diangkat dalam tayangan sidang
kopi sianida di iNews TV mengenai permasalahan hukum berupa
tuntutan dan pembelaan terhadap terdakwa.
2) Aktualisasi Topik, yaitu topik yang dibahas dalam tayangan sidang
kopi sianida di iNews TV merupakan masalah yang aktual.
d.
Berita, yaitu tayangan Sidang Kopi Sianida yang disiarkan oleh iNews
TV untuk menyampaikan sesuatu yang baru mengenai perkembangan
kasus sianida dan diinformasikan kepada khalayak banyak
1) Fakta yaitu tayangan sidang kopi sianida di iNews TV harus
berdasarkan kejadian atau peristiwa yang benar-benar nyata.
2) Terkini yaitu jarak penyiaran tayangan sidang kopi sianida di iNews
TV, tidak terlalu jauh dengan waktu peristiwa yang terjadi.
3) Seimbang yaitu tayangan sidang kopi sianida di iNews TV harus
disampaikan dengan seimbang, tidak memihak kepada satu pihak.
4) Lengkap yaitu informasi yang disampaikan pada tayangan sidang kopi
sianida di iNews TV harus benar-benar lengkap.
5) Menarik yaitu tayangan sidang kopi sianida di iNews TV haruslah
dapat menarik minat penonton.
e. Waktu Tayang, yaitu waktu penayangan Sidang Kopi Sianida di iNews
TV.
1) Frekuensi penayangan, yaitu intensitas penayangan sidang kopi
sianida di iNews TV.
2) Durasi penayangan, yaitu lamanya atau rentang waktu penayangan
sidang kopi sianida di iNews TV.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
44
2. Variabel Terikat (Persepsi Masyarakat Lingkungan II Kelurahan Sei Putih)
sebagai berikut :
a.
Seleksi merupakan tahap dimana seseorang sudah memilih dan
menentukan tayangan sidang kopi sianida sebagai tayangan yang
diinginkannya.
b.
Interpretasi adalah proses pengorganisasian informasi sehingga memiliki
arti bagi seseorang. Pada variabel ini peneliti menganalisis interpretasi
responden terhadap tayangan sidang kopi sianida di iNews TV.
c.
Reaksi merupakan tahap pengambilan tindakan ataupun keputusan
bersifat positif atau negatif mengenai tayangan sidang kopi sianida di
iNews TV.
3. Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini dibedakan atas jenis kelamin,
usia, pendidikan, dan minimal menonton tayangan sidang kopi sianida sebanyak
4 kali di iNews TV.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Download