80 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN

advertisement
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis terhadap data yang diungkap yang diperoleh
dari hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
Proses pengembangan asesmen autentik (soal esai) dimulai dari
identifikasi tujuan pembelajaran yang diturunkan dari Kompetensi Dasar pada
kurikulum 2013 terkait materi pada sistem ekskresi, penyusunan instrumen,
judgment kepada dosen ahli, ujicoba instrumen, kemudian selanjutnya melakukan
tahap penerapan instrumen.
Pada penerapan asesmen autentik ini, seluruh perangkat penilaian efektif
dapat mendukung dalam menilai KPS terintegrasi siswa. Asesmen autentik yang
diterapkan mampu menilai KPS terintegrasi siswa dengan baik. Hasil respon
siswa yang dijaring melalui angket mendapatkan respon positif dari siswa. Hal ini
terlihat dari hampir seluruhnya siswa merespon baik setiap pernyataan dalam
angket yang diberikan.Kemudian asesmen autentik ini juga mendapat tanggapan
yang baik dari guru. Guru tertarik untuk menerapkan asesmen autentik di sekolah.
Perangkat yang dikembangkan pun memiliki kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan yang dimiliki perangkat asesmen autentik yang dikembangkan ini
adalah dapat mengukur dengan baik kemampuan keterampilan proses sains siswa
melalui soal-soal tes yang diberikan. Selain itu, dengan menggunakan asesmen
autentik ini, bagus dalam menemukan konsep sains dan membangun pengetahuan
siswa.Sedangkat kelemahan perangkat asesmen autentik yang digunakan adalah
pengembangan instrumen KPS terintegrasi membutuhkan waktu lama, alokasi
waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan asesmen autentik ini relatif lebih
lama, kualitas perangkat penilaian yang digunakan berubah-ubah, serta terjadi
ketidakkonsistenan pembaca sehingga kurang objektif dalam memberikan nilai.
Kendala yang dihadapi dalam menerapkan asesmen untuk menilai KPS
terintegrasi siswa diantaranya sulitnya memaknai jawaban siswa terutama pada
saat uji coba I dan II dimana soal yang dikembangkan berbentuk soal esai,
pelaksanaan tes kurang efektif, pengondisian siswa dalam pelaksanaan tes cukup
sulit, kurangnya respon siswa dalam tahap ujicoba (menjawab soal esai dan
Pepi Handayani, 2015
PENGEMBANGAN ASESMEN AUTENTIK UNTUK MENILAI KETERAMPILAN
TERINTEGRASI PADA PEMBELAJARAN SISTEM EKSKRESI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
80
PROSES
SAINS
81
angket) menjadikan proses pengembangan perangkat instrumen sulit dilakukan,
siswa merasa direpotkan dan merasakan kejenuhan pada saat penerapan asesmen
autentik karena pelaksanaan tes dan pembelajaran cukup lama, serta keterbatasan
waktu penelitian.
B. Implikasi dan Rekomendasi
Adapun implikasi dan rekomendasi dalam penelitian ini yaitu sebagai
berikut.
1. Pengembangan asesmen autentik berbentuk esai pada materi sistem ekskresi
sebaiknya didahului dengan pembiasaan kepada siswa untuk melakukan
kegiatan yang menuntut keterampilan proses sains teutama keterampilan proses
sains terintegrasinya. Pembiasaan dapat dilakukan dengan memberikan
pembelajaran sistem ekskresi yang menyertakan proses keterampilan proses
sains terintegrasi siswa. Jadi, guru tidak hanya memberikan konsep sistem
ekskresi, namun juga mengajarkan siswa untuk melakukan proses yang
menuntut keterampilan proses sains terintegrasi siswa pada materi sistem
ekskresi. Selain itu, pembiasaan juga dapat berupa pemberian latihan soal
dengan esai yang melatih KPS terintegrasi. Sehingga saat mengerjakan soal tes
mengenai KPS terintegrasi, siswa tidak kaget karena sebelumnya telah
mengenal bentuk soal yang diteskan. Hal ini penting untuk mengungkap lebih
dalam bagaimana kemampuan keterampilan proses sains terintegrasi siswa saat
menyelesaikan soal sistem ekskresi. Selain itu pembiasan siswa melakukan
penalaran saat pembelajaran sistem eksresi dapat meningkatkan penguasaan
konsep.
2. Tes esai sebaiknya diberikan dalam bentuk redaksi yang tidak terlalu panjang.
Hal ini penting agar siswa tidak jenuh saat mengerjakan soal. Sebelum
pelaksanaan tes juga perlu diberitahukan jauh hari agar siswa memiliki
persiapan dalam menghadapi tes. Ini dapat meminimalisir jawaban siswa yang
asal dan kosong sehingga gambaran awal mengenai respon siswa akan terekam
dengan baik untuk pengembangan soal yang selanjutnya. Pelaksanaan tes juga
perlu diawasi dengan ketat. Hal ini untuk meminimalisir siswa yang mencontek
jawaban, berdiskusi atau bertanya kepada pengawas. Jika hal tersebut terjadi,
Pepi Handayani, 2015
PENGEMBANGAN ASESMEN AUTENTIK UNTUK MENILAI KETERAMPILAN
TERINTEGRASI PADA PEMBELAJARAN SISTEM EKSKRESI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
PROSES
SAINS
82
kemampuan keterampilan proses sains terintegrasi siswa tidak dapat
terdiagnosa dengan benar. Pengawas tes sebaiknya lebih dari satu orang agar
seluruh siswa dapat teramati dengan baik.
3. Butir soal KPS dapat disusun dan dikembangkan secara terencana untuk
meningkatkan pembelajaran IPA. Dalam pembuatan soal Keterampilan Proses
Sains diperlukan kriteria tertentu. Soal sebaiknya mengacu pada karakteristik
butir soal Keterampilan Proses Sains yang telah ditentukan, yaitu soal tanpa
dibebani dengan konsep, soal tidak perlu panjang yang penting mengandung
banyak informasi yang harus diolah oleh siswa, dapat berupa tabel, grafik,
diagram maupun gambar. Kemudian butir soal harus mengandung satu aspek
saja.
4. Selain itu, perangkat yang digunakan dalam penelitian ini dapat digunakan dan
dimodifikasi kembali untk digunakan pada saat mengevaluasi Keterampilan
Proses Sains (KPS) terintegrasi siswa pada materi sistem ekskresi dengan
mempertimbangkan kondisi siswa dan guru. Selain itu, guru pun dapat
membuat kembali perangkat penilaian asesmen autentik untuk menilai
Keterampilan Proses Sains (KPS) terintegrasi siswa.
5. Siswa pun diharapkan turut aktif dalam proses penilaian yang dilakukan oleh
guru, agar kesulitan siswa dapat segera ditangani. Kesadaran siswa dalam
mengean kelemhannya dalam belajar dan dalam hal keterampilan tertentu akan
membantu guru mempersiapkan treatment yang tepat untuk mengatasi
kelemahan tersebut.
6. Dalam
pelaksanaan
penilaian
hendaknya
memperhatikan
waktu
dan
kesanggupan guru dalam penggunaan instrumen penilaian tersebut. Hindari
penggunaan instrumen yang merepotkan karena dapat mengganggu konsentrasi
guru dalam tugasnya untuk membimbing siswa dalam pembelajaran. Bagi
peneliti lain, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi untuk melakukan
penelitian lanjutan mengenai instrumen asesmen autentik dalam pembelajaran
kurikulum 2013.
7. Bagi semua para pendidik agar menekankan penggunaan pendekatan
keterampilan proses dalam pengajaran IPA. Sudah sewajarnya keterampilan
proses menjadi bagian yang tak terpisahkan (milik) guru IPA pada jenjang
Pepi Handayani, 2015
PENGEMBANGAN ASESMEN AUTENTIK UNTUK MENILAI KETERAMPILAN
TERINTEGRASI PADA PEMBELAJARAN SISTEM EKSKRESI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
PROSES
SAINS
83
pendidikan manapun.Menilai keterampilan proses, selain dengan menggunakan
tes tulis dan lembar pengamatan, sebaiknya juga dilakukan tes perbuatan agar
diketahui hands on siswa dan indikator keterampilan proses sains dapat terukur
semuanya.
Pepi Handayani, 2015
PENGEMBANGAN ASESMEN AUTENTIK UNTUK MENILAI KETERAMPILAN
TERINTEGRASI PADA PEMBELAJARAN SISTEM EKSKRESI
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
PROSES
SAINS
Download