pengaruh proses bleaching dan netralisasi

advertisement
PENGARUH PROSES BLEACHING DAN NETRALISASI TERHADAP
KARAKTERISTIK SURFAKTAN METIL ESTER SULFONAT DARI
METIL ESTER CPO (CRUDE PALM OIL)
Oleh
AHSAN ABDUH ANDI SIHOTANG
F 34052023
2010
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Ahsan Abduh Andi Sihotang. F34052023. Pengaruh Proses Bleaching dan
Netralisasi terhadap Karakteristik Surfaktan Metil Ester Sulfonat dari CPO (Crude
Palm Oil). Di bawah bimbingan Dwi Setyaningsih dan Erliza Hambali. 2010.
RINGKASAN
Surfaktan merupakan suatu senyawa aktif yang mempunyai kemampuan
untuk menurunkan tegangan permukaan dan tegangan antar muka. Dalam
aplikasinya, surfaktan digunakan hampir di semua bidang industri. Selain dari
turunan minyak bumi, surfaktan juga dapat disintesis dari minyak nabati.
Berdasarkan gugus hidrofiliknya, surfaktan dibagi menjadi empat kelompok,
yakni surfaktan kationik, anionik, amfoterik, dan non-ionik. Surfaktan anionik
merupakan surfaktan yang paling banyak diproduksi di dunia. Metil Ester
Sulfonat (MES) merupakan surfaktan anionik berbasis minyak nabati yang sedang
banyak dikembangkan karena kemampuannya yang bersaing dengan Linier
Alkilbenzen Sulfonat (LAS), surfaktan anionik berbasis minyak bumi yang paling
banyak diproduksi saat ini. Produksi MES pada penelitian ini menggunakan bahan
baku CPO (minyak sawit kasar) untuk meningkatkan nilai tambah CPO sebagai
komoditas unggulan Indonesia.
Penelitian ini melalui beberapa tahapan yang terdiri dari : (1) analisis
fisiko-kimia CPO (2) pembuatan dan analisis metil ester CPO (3) proses sulfonasi
ME CPO dengan reaktan gas SO3 pada suhu 1000 C menggunakan reaktor STFR
serta (4) analisis surfaktan MES.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proses bleaching dan
netralisasi terhadap sifat fisiko kimia methyl ester sulfonates (MES) yang
diproduksi dari metil ester CPO. Penelitian dilakukan dengan menggunakan
rancangan percobaan acak lengkap faktorial dengan dua kali pengulangan. Faktor
yang dikaji adalah tahapan proses. Taraf faktor tahapan proses pada penelitian ini
adalah tanpa proses bleaching-netralisasi, dengan netralisasi dan dengan
bleaching-netralisasi. MES yang dihasilkan memiliki tegangan antar muka MES
1,4 x 10-2 -1,4 x 10-1 mN/m, tegangan permukaan 35,33-47,17 dyne/cm, bahan
aktif 15,32-19,10 %, bilangan iod 53,38-55,44 mg Iod/mg MES, CMC 2,6-3,5%
dan pH 3,08-6,84.
Berdasarkan hasil dari uji statistik, metode tahapan proses berpengaruh
nyata terhadap nilai tegangan antar muka (IFT), tegangan permukaan, kadar bahan
aktif, dan pH, namun tidak berpengaruh nyata terhadap bilangan iod. Tahapan
proses terbaik untuk produksi MES didapat pada tahapan proses sulfonasi yang
dilanjutkan dengan proses netralisasi. Parameter utama penentuan tahapan proses
terbaik didasarkan pada nilai tegangan antarmuka terendah, nilai tegangan
permukaan terendah, kadar bahan aktif tertinggi, pH mendekati netral. Pada
tahapan proses terbaik sifat fisiko-kimia MES yang dihasilkan adalah sebagai
berikut: tegangan antar muka 0,0201 mN/m, tegangan permukaan 37,30 dyne/cm,
bilangan iod 55,02 mg I2/g MES, kadar bahan aktif 19,10 %, CMC 2,5% dan pH
sebesar 6,16.
Ahsan Abduh Andi Sihotang. F34052023. Influence of Bleaching and
Neutralizing Process to Characteristics of Methyl Ester Sulfonate from CPO
(Crude Palm Oil) . Supervissed by Dwi Setyaningsih and Erliza Hambali. 2010
SUMMARY
Surfactant is surface active agent that has ability to reduce surface and
inter-facial tension. Based on its ability, surfactant is used almost in all sectors of
industries. It can be synthesized from petroleum, microorganism, and vegetable
oil. Based on the hydrophilic part, it is divided into four groups: cationic, anionic,
non-ionic, and amphoteric. Anionic surfactant is the most produced compared to
other groups. Methyl Ester Sulfonates (MES) is the anionic surfactant made from
vegetable oil that is now being developed. MES has the similar, or even better,
than Linear Alkylbenzene Sulfonates that is now the most produced anionic
surfactant synthesized from petroleum. MES production in this research use CPO
(Crude Palm Oil) as raw material to give added value for CPO as main
commodity in Indonesia.
These research methods were divided into some steps: (1) analysis of
physical-chemical characteristics of CPO (2) production and analysis of methyl
ester of CPO (3) sulfonation process of methyl ester of CPO using SO3 with
temperature of 1000C by STFR (Single Tube Falling Film Reactor) and (4)
analysis of MES surfactant.
The purpose of this research is to find the effect of bleaching and
neutralizing processes to the characteristics of Methyl Ester Sulfonates produced
from methyl ester CPO. This research used factorial completely randomized
design with two replications. The treatment used is process step with no
bleaching-neutralizing step, with neutralizing step, and with bleachingneutralizing step. MES produced has inter-facial tension value from 1.4 x 10-2 to
1.4 x 10-1 mN/m, surface tension from 35.33 to 47.17 dyne/cm, active matter
content from 15.32 to 19.10 %, iodine value from 53.38 to 55.44 mg Iod/mg
MES, CMC from 2.6-3.5% and pH 3.08-6.84.
Based on statistic test, the process steps significantly affect inter-facial
tension value, surface tension, active matter, and pH but not to iodine value. The
best process step found in the sulfonating which continued with neutralizing
process based on some parameters. Parameters used were lowest inter-facial
tension and surface tension, highest active matters content, and most neutral pH.
In this best process, physical-chemical characteristics obtained: inter-facial
tension of 0.0201 mN/m, surface tension of 37.30 dyne/cm, iodine value of 55.02
mg I2/g MES, active matter content of 19.10 %, CMC of 2.5% and pH of 6.16.
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan
tanggal 28 Juni 1988. Menamatkan jenjang Sekolah Dasar
di SDN Babakan Dramaga I tahun 1999, jenjang SMP di
SMP Negeri 1 Dramaga tahun 2002 dan jenjang SMA di
SMA Negeri 1 Bogor tahun 2005.
Penulis diterima sebagai mahasiswa di Departemen
Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor
pada tahun 2005 melalui jalur USMI (Undangan Seleksi
Masuk IPB). Selama menjadi mahasiswa, selain aktif di kegiatan akademik, juga
aktif di kegiatan kewirausahaan, organisasi maupun kepanitiaan. Penulis terpilih
sebagai Mahasiswa Berprestasi 1 Departemen TIN tahun 2009. Di organisasi,
penulis ikut berbagai organisasi dari Forces (Forum for Scientific Studies), LDK
DKM Al-Hurriyyah, BEM Fakultas Teknologi Pertanian, IAAS (International
Association of Students in Agricultural and Related Sciences) dan BEM KM IPB.
Penulis diamanahi sebagai Ketua (Director) IAAS IPB pada tahun 2008 dan
Menteri PSDM BEM KM IPB Kabinet IPB Gemilang tahun 2009. Penulis juga
aktif di berbagai kepanitiaan seperti seminar dan workshop. Usaha yang sedang
dirintis sekarang adalah Susu Jagung dan SIAGA photo, gift and souvenir.
Pada tahun 2008 penulis melaksanakan kegiatan Praktek Lapang di PT Mars
Symbioscience Indonesia dengan judul Mempelajari Aspek Proses Produksi dan
Pengawasan Mutu di PT. Mars Symbioscience Indonesia, Makassar, Sulawesi
Selatan. Pada tahun 2009 penulis melaksanakan kegiatan penelitian dengan judul
skripsi Pengaruh Proses Bleaching dan Netralisasi terhadap Karakteristik
Surfaktan Metil Ester Sulfonat dari Metil Ester CPO (Crude Palm Oil).
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama
: Ahsan Abduh Andi Sihotang
NRP
: F34052023
Departemen
: Teknologi Industri Pertanian
Fakultas
: Teknologi Pertanian
Universitas
: Institut Pertanian Bogor
menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi dengan judul “Pengaruh Proses
Bleaching dan Netralisasi terhadap Karakteristik Surfaktan Metil Ester
Sulfonat dari Metil Ester CPO (Crude Palm Oil) “ merupakan karya tulis saya
pribadi dengan bimbingan dan arahan dari dosen pembimbing, kecuali yang
dengan jelas disebut rujukannya.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa tekanan
dari siapapun.
Bogor, Agustus 2010
Penulis,
(Ahsan Abduh Andi Sihotang)
F34052023
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
PENGARUH PROSES BLEACHING DAN NETRALISASI TERHADAP
KARAKTERISTIK SURFAKTAN METIL ESTER SULFONAT DARI
METIL ESTER CPO (CRUDE PALM OIL)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Oleh
AHSAN ABDUH ANDI SIHOTANG
F 34052023
2010
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Judul
:
Pengaruh
Proses
Bleaching
dan
Netralisasi
terhadap
Karakteristik Surfaktan Metil Ester Sulfonat dari Metil
Ester CPO (Crude Palm Oil)
Nama
:
Ahsan Abduh Andi Sihotang
NRP
:
F34052023
Menyetujui :
Dosen Pembimbing,
Dr.Ir. Dwi Setyaningsih, MSi
NIP. 19700103 199412 2 001
Prof. Dr. Erliza Hambali
NIP. 19620821 198703 2 003
Mengetahui :
Ketua Departemen Teknologi Industri Pertanian,
Prof. Dr. Ir. Nastiti Siswi Indrasti
NIP. 19621009 198903 2 001
Tanggal lulus : 21 Mei 2010
HALAMAN PERSEMBAHAN
“ Kejarlah kesempurnaan maka kesuksesan akan mengikutimu” (Rancho- 3 idiots)
Makhluk paling mulia Ibuku, Ibuku, Ibuku (Mamah Saadah), baru ayahku pewaris darah
Sihotang, Mas agus, Akbar, Aisyah dan Faizah, mudah-mudahan kita bisa menjadi anak yang
membanggakan orang tua.
Sahabat-sahabatku Nadiyah Khaeriyyah, Agung Joko Suprihanto, Linda Mikowati, Amalia
Riyanti, Nutriana Dinnuriah, dan Irvan Setya Adji yang selalu memberikan dukungan kepada
penulis selama melaksanakan penulis melaksanakan penelitian.
Doddy, Heri, Tina, Lizna, Sabila, Isma, Devi, Dito, Dion, Dewi, Indra Aming, Denis, Titis,
Windarti, Devi, Olih, Dea (buat statistiknya), Daniel, Sarwar, V-bee, ifa, dan seluruh Keluarga
Besar IAAS IOP 13-17 yang merupakan keluarga kedua dan tempat berbagi susah dan senang
selama di Bogor
Keluarga besar TIN 42 dan SAMURAI Hagatri (Amel, Rara, Linda, Tika, Rahma, Potta, Anas)
atas kebersamaan dan persaudaraannya selama di IPB.
Rekan-rekan BEM Fateta Totalitas Perjuangan (mas Gema, Bung Eks, Otiz, Mbk Nona, Mbk
Nova, Mbk Cicie, Cumi, dll ), Sospol (Fitrah ndut, Shelvi, Adi, Shafeeg, Pipi, Andri)
BEM KM Kabinet Gemilang (Mas Wahyu, Bowo, Gadis, Murni dan Ryan, Ika Sesmenku,
Rusdi-Ratna, Afif-Vica, Adnan-Indri, Widi-Ratna, Panji-Rifah, Lisma-Lela, Yuda-Zijah, IrulNurdi, Yogi-Amel).
PSDMers terbaik yang pernah kerja bareng (Ika, Ayu, Tito, Ranu, Ayas, Tika, Hadi, Rithoh,
Rama, Maria, Dwi, Achmad, Ade dan Syahid) dan Manajemen LES serta LES angkatan 3.
PPSDMS Regional 5 Bogor dan Pusat yang menyiapkan peradaban besar untuk Indonesia emas
(Ustd Musholli, Bang Ichsan, Bang Fahri, Pak Boni, dan tim pusat lainnya), Para penggores tinta
emas ( Mas: Gema, Shohib, Sigit, Bowo, Galih, Ari, Bung Dika, Najmi, dan para sahabat
asrama yang tidak bisa disebutkan satu persatu)
Teman-teman seperjuangan di Wisma Al-Ahsan A, B dan C.
KATA PENGANTAR
Tak ada rasa yang pantas diucapkan selain Alhamdulillah, segala puji bagi
Allah SWT yang menciptakan alam dengan segala kesempurnaannya. Sungguh
besar karunia Allah SWT sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan ini disampaikan ucapan terimakasih kepada :
1.
Mamah dan Ayah tercinta, Mas Agus, Akbar, Aisah, Faizah dan Sabila Putri
Dian serta keluarga besar tercinta, atas kasih sayang, dukungan dan doa yang
sangat berharga bagi penulis.
2.
Dr. Ir. Dwi Setyaningsih, MSi dan Prof. Dr. Erliza Hambali selaku dosen
pembimbing yang senantiasa meluangkan waktu dan kesabaran dalam
membimbing dan mengarahkan penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas akhir.
3.
Prof. Dr. Ani Suryani, DEA selaku dosen penguji yang telah memberikan
pengarahan dan masukan yang sangat berarti untuk perbaikan skripsi ini.
4.
Pak Mulyanto, Mas Saiful, Bang Otto, Mbak Pipit dan Mbak Ami serta tim
penelitian SBRC yang membantu semasa penelitian di Laboratorium
5.
Nutriana Dinnuriah, Amri Solechan, Ovi Yulianti, Fikri, Efrat dan Ninda
yang senantiasa menemani dan membantu pelaksanaan penelitian penulis.
6.
Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan
skripsi ini.
Akhirnya dengan segala keterbatasan yang ada, penulis berharap semoga
skripsi ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya. AMIN.
Bogor, Agustus 2010
Penulis
i
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................
i
DAFTAR ISI ................................................................................................
ii
DAFTAR TABEL .........................................................................................
iii
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
iv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
v
I. PENDAHULUAN ......................................................................................
1
A. LATAR BELAKANG .........................................................................
1
B. TUJUAN ..............................................................................................
2
C. RUANG LINGKUP ............................................................................
3
II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................
4
A. METIL ESTER CPO ...........................................................................
4
B. SURFAKTAN METIL ESTER SULFONAT (MES) .........................
8
III. BAHAN DAN METODE ........................................................................
15
A. BAHAN DAN ALAT ..........................................................................
15
B. METODE PENELITIAN .....................................................................
15
1. Analisis Sifat Fisiko-kimia CPO .....................................................
17
2. Pembuatan dan Analisis Fisiko-kima ME CPO .............................
17
3. Produksi Surfaktan MES .................................................................
18
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................
20
A. ANALISIS FISIKO-KIMIA CPO .......................................................
20
B. ANALISIS FISIKO-KIMIA ME CPO ................................................
21
C. ANALISIS METIL ESTER SULFONAT ...........................................
26
V. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................
42
A. KESIMPULAN ....................................................................................
42
B. SARAN ................................................................................................
42
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
43
LAMPIRAN ....................................................................................................
46
ii DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Komposisi asam lemak dari CPO ......................................................
4
Tabel 2. Sifat fisik dan kimia CPO ..................................................................
4
Tabel 3. Syarat mutu metil ester ......................................................................
7
Tabel 4. Kisaran HLB dan aplikasi pengunaannya ..........................................
9
Tabel 5. Karakteristik surfaktan metil ester sulfonat (MES) komersial...........
10
Tabel 6. Hasil analisa sifat fisiko kimia CPO ..................................................
20
Tabel 7. Sifat fisiko-kimia metil ester CPO yang dihasilkan ...........................
24
iv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.
Bagian–bagian buah kelapa sawit ......................................................... 5
Gambar 2.
Reaksi transesterifikasi trigliserida dengan metanol ............................ 6
Gambar 3.
Pengolahan metil ester lebih lanjut menjadi oleokimia ....................... 8
Gambar 4.
Diagram alir prosedur penelitian .......................................................... 16
Gambar 5.
Reaktor biodiesel pilot plant SBRC dengan kapasitas 100 L ............... 22
Gambar 6.
Diagram alir proses pembuatan biodiesel dua tahap ............................ 23
Gambar 7.
Reaktor STFR (Single Tube Film Sulfonation Reactor)
untuk sulfonasi ...................................................................................... 26
Gambar 8.
Mekanisme reaksi pembentukan MESA............................................... 27
Gambar 9.
Kemungkinan terikatnya pereaksi kimia dalam proses sulfonasi ......... 28
Gambar 10. Metil ester sulfonat acid (MESA) hasil sulfonasi ................................. 29
Gambar 11. MES hasil netralisasi (kiri) dan hasil bleaching-netralisasi
(kanan) .................................................................................................. 29
Gambar 12. Ilustrasi penambahan surfaktan yang mengurangi tegangan
antarmuka dan permukaan .................................................................... 30
Gambar 13. Efek penambahan surfaktan dalam sistem (memperkecil
sudut kontak)......................................................................................... 30
Gambar 14. Histogram pengaruh konsentrasi surfaktan dan metode proses
terhadap nilai tegangan antarmuka (IFT).............................................. 32
Gambar 15. Histogram pengaruh konsentrasi surfaktan dan metode proses
terhadap nilai tegangan permukaan ...................................................... 34
Gambar 16. Ilustrasi pembentukan micelle .............................................................. 36
Gambar 17. Grafik hubungan antara konsentrasi surfaktan dengan tegangan
permukaan dan antarmuka cairan ......................................................... 36
Gambar 18. Grafik tegangan perumukaan surfaktan MESA (tanpa bleachingnetralisasi) ............................................................................................. 36
Gambar 19. Histogram pengaruh metode proses terhadap bahan aktif .................... 38
Gambar 20. Histogram pengaruh metode proses terhadap nilai pH ......................... 39
Gambar 21. Kurva standar HLB ............................................................................... 41
v DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Prosedur analisis karakteristik sifat fisiko-kimia CPO ................
47
Lampiran 2. Prosedur analisis metil ester CPO ...............................................
51
Lampiran 3. Prosedur analisis karakteristik MES ............................................
57
Lampiran 4. Hasil analisa CPO dan metil ester dari CPO ...............................
62
Lampiran 5. Hasil analisa tegangan antarmuka ...............................................
63
Lampiran 6. Hasil analisa tegangan permukaan ..............................................
64
Lampiran 7. Hasil analisa nilai CMC...............................................................
65
Lampiran 8. Hasil analisa kadar bahan aktif ....................................................
66
Lampiran 9. Hasil analisa nilai pH...................................................................
67
Lampiran 10. Hasil analisa nilai bilangan iod ..................................................
68
vii
I.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Saat ini Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia. Luas areal
perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 7,3 juta hektar
dengan total produksi CPO diperkirakan mencapai 20,2 juta ton. Dari total
produksi CPO nasional tersebut, sekitar 38,2% dikonsumsi untuk kebutuhan
domestik dan sisanya sebesar 61,8% diekspor dalam bentuk CPO.
Pemanfaatan CPO untuk produk olahan di Indonesia masih terbatas untuk
industri pangan (minyak goreng, margarin, shortening, cocoa butter substitutes,
vegetable ghee) dan industri non pangan seperti oleokimia (fatty acid, fatty
alcohol, gliserin), sabun dan biodiesel. Hingga saat ini potensi minyak sawit
Indonesia maksimal baru termanfaatkan untuk produk oleokimia, sementara
industri oleokima turunan belum banyak dikembangkan dengan baik di Indonesia.
Padahal produk oleokimia turunan merupakan produk yang memiliki nilai tambah
jauh lebih tinggi. Salah satu produk oleokimia turunan bernilai tambah tinggi
adalah surfaktan.
Bahan aktif permukaan atau surface active agent (surfactant) merupakan
salah satu produk oleokimia turunan yang banyak diaplikasikan pada produk
detergen dan pembersih, personal care, konstruksi, agrokimia, farmasi, tinta dan
cat, industri kertas, dan industri tekstil. Oleh karena itu, upaya pengembangan
industri surfaktan dalam negeri sebagai salah satu produk oleokimia turunan akan
sangat menjanjikan mengingat selama ini kebutuhan surfaktan dalam negeri
sebagian besar dipenuhi melalui impor.
Menurut Rieger (1985), surfaktan adalah suatu zat yang bersifat aktif
permukaan yang dapat menurunkan tegangan antarmuka (interfacial tension, IFT)
minyak-air. Sifat-sifat surfaktan adalah mampu menurunkan tegangan permukaan,
tegangan antarmuka, meningkatkan kestabilan partikel yang terdispersi dan
mengontrol jenis formasi emulsi (misalnya oil in water (o/w) atau water in oil
(w/o). Di samping itu, surfaktan akan terserap ke dalam permukaan partikel
minyak atau air sebagai penghalang yang akan mengurangi atau menghambat
penggabungan (coalescence) dari partikel yang terdispersi.
Surfaktan dapat dibagi atas empat kelompok, yaitu kelompok anionik,
nonionik, kationik dan amfoterik. Menurut Matheson (1996), kelompok surfaktan
terbanyak yang diproduksi dan digunakan oleh berbagai industri adalah surfaktan
anionik. Karakteristiknya yang hidrofilik disebabkan karena adanya gugus ionik
yang cukup besar, yang biasanya berupa grup sulfat atau sulfonat. Beberapa
contoh surfaktan anionik yaitu alkilbenzen sulfonat linear (LAS), alkohol sulfat
(AS), alkohol eter sulfat (AES), alfa olefin sulfonat (AOS), parafin (secondary
alkane sulfonate, SAS), dan metil ester sulfonat (MES). Jenis-jenis surfaktan
tersebut diperoleh melalui tahapan sulfonasi atau sulfatasi.
Metil ester sulfonat diperkirakan akan menjadi salah satu surfaktan yang
sangat penting untuk tahun-tahun mendatang mengingat kebutuhan industri sabun
dan deterjen akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan konsumsi
masyarakat. Selain itu, MES juga memiliki beberapa keunggulan, yaitu bersifat
terbarukan (renewable resources), lebih bersih dan ramah lingkungan, secara
alami mudah terdegradasi (biodegradable) dan memiliki sifat deterjensi yang baik
walaupun digunakan pada air dengan tingkat kesadahan yang cukup tinggi
(Matheson, 1996)
Menurut Sadi (1993), surfaktan MES mempunyai prospek yang cukup
baik sebagai bahan baku deterjen. Alasan utama belum mampunya MES
menggantikan linear alkilbenzen sulfonat (LAS) dan alkohol sulfat (AS) sebagai
surfaktan anionik terbesar adalah belum sempurnanya teknologi sulfonasi untuk
memproduksi MES, padahal MES mempunyai banyak kelebihan dibandingkan
LAS dan AS. Selain itu, surfaktan MES yang dihasilkan dengan reaktan gas SO3
menghasilkan warna hitam pekat yang tidak diinginkan. Studi tentang tahapan
bleaching dalam pembuatan MES yang menghasilkan warna tidak gelap menjadi
subjek penelitian yang sedang terus dikembangkan (Hovda, 1993).
B. TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh proses
bleaching dan netralisasi terhadap karakteristik surfaktan metil ester sulfonat dari
metil ester CPO (Crude Palm Oil ).
2
C. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup dari penelitian ini meliputi:
1. Analisis sifat fisiko-kimia minyak sawit kasar atau CPO (Crude Palm Oil)
yang meliputi uji kadar air, bilangan iod, bilangan asam, bilangan
penyabunan, fraksi tak tersabunkan, nilai FFA, densitas dan viskositas.
2. Pembuatan metil ester CPO dengan kapasitas reaktor 100 liter dan analisis
sifat fisiko kimia metil ester yang meliputi kadar air, bilangan asam, bilangan
iod, bilangan penyabunan dan densitas.
3. Proses sulfonasi metil ester CPO menggunakan reaktor STFR (Single Tube
Film Sulfonation Reactor) dan reaktan gas SO3 pada suhu 100 0C.
4. Proses pemurnian surfaktan MESA yang meliputi proses bleaching dan
netralisasi.
3
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. METIL ESTER CPO
1.
Minyak Sawit Kasar (CPO)
Minyak kelapa sawit kasar (Crude Palm Oil, CPO) merupakan hasil
olahan daging buah kelapa sawit melalui proses perebusan (dengan steam)
Tandan Buah Segar (TBS), perontokan, dan pengepresan. CPO ini diperoleh
dari bagian mesokarp buah kelapa sawit yang telah mengalami beberapa
proses, yaitu sterilisasi, pengepresan, dan klarifikasi (Ketaren, 1986).
Komposisi asam lemak yang terdapat dalam CPO disajikan pada Tabel 1
sedangkan sifat fisiko kimianya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 1. Komposisi asam lemak dari CPO
Asam Lemak
Rantai C
Komposisi (% b/b)
Asam Laurat
12:0
0,2
Asam Miristat
14:0
1,1
Asam Palmitat
16:0
44,0
Asam Stearat
18:0
4,5
Asam Oleat
18:1
39,2
Asam Linoleat
18:2
10,1
Sumber: Hui (1996)
Tabel 2. Sifat fisik dan kimia CPO
Sifat Fisiko Kimia
Nilai
Trigliserida
95 %
Asam lemak bebas (FFA)
5-10 %
Warna (5 ¼ ” Lovibond Cell)
Merah orange
Kelembaban & Impurities
0,15 – 3,0 %
Bilangan Peroksida
1 -5,0 (meq/kg)
Bilangan Anisidin
2 – 6 (meq/kg)
Kadar β-carotene
500-700 ppm
Kadar fosfor
10-20 ppm
Kadar besi (Fe)
4-10 ppm
Kadar Tokoferol
600-1000 ppm
Digliserida
2-6 %
Bilangan Asam
6,9 mg KOH/g minyak
Bilangan Penyabunan
224-249 mg KOH/g minyak
Bilangan iod (wijs)
44-54
Titik leleh
21-24ºC
Indeks refraksi (40ºC)
36,0-37,5
Sumber: Hui (1996)
CPO dapat digunakan sebagai bahan baku industri minyak goreng,
industri sabun, dan industri margarin. Dilihat dari proporsinya, industri yang
selama ini menyerap CPO paling besar adalah industri minyak goreng (79%),
kemudian industri oleokimia (14%), industri sabun (4%), dan sisanya industri
margarin (3%). Pemisahan CPO dan PKO dapat menghasilkan oleokimia
dasar yang terdiri atas asam lemak dan gliserol. Proses pemurnian minyak
sawit akan menghasilkan RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm Oil)
sebesar 94% dan PFAD (Palm Fatty Acid Distillate). Proses fraksinasi
RBDPO akan menghasilkan olein sebesar 73% dan stearin sebesar 21%.
Bagian-bagian buah kelapa sawit dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Bagian–bagian buah kelapa sawit
2.
Metil Ester
Metil ester dapat dihasilkan melalui proses esterifikasi dan
transesterifikasi trigliserida minyak nabati seperti minyak sawit, minyak
kelapa, minyak jarak pagar, minyak kedelai, dan lainnya. Transesterifikasi
berfungsi untuk menggantikan gugus alkohol gliserol dengan alkohol
sederhana seperti metanol atau etanol. Umumnya katalis yang digunakan
adalah sodium metilat, NaOH atau KOH.
Molekul trigliserida pada dasarnya merupakan triester dari gliserol dan
tiga asam lemak. Transformasi kimia lemak menjadi metil ester melibatkan
transesterifikasi gliserida dengan alkohol membentuk alkil ester. Di antara
alkohol yang mungkin, metanol lebih disukai karena berharga lebih murah
(Lotero et al., 2004; Meher et al., 2005). Transesterifikasi merupakan suatu
reaksi kesetimbangan. Untuk mendorong reaksi agar bergerak ke kanan agar
dihasilkan metil ester maka perlu digunakan alkohol dalam jumlah berlebih
atau salah satu produk yang dihasilkan harus dipisahkan. Pada Gambar 2
5
disajikan
reaksi
transesterifikasi
trigliserida
dengan
metanol
untuk
menghasilkan metil ester.
O
R1
C
OCH2
HOCH2
O
O
R2
C
OCH
+ 3 CH3OH
katalis
HOCH
+ 3R
C
OCH3
O
R3
C
HOCH2
OCH2
Trigliserida
Metanol
Gliserin
Metil ester
Gambar 2. Reaksi transesterifikasi trigliserida dengan metanol
Proses transesterifikasi dipengaruhi oleh berbagai faktor tergantung
kondisi reaksinya (Meher el al., 2004). Faktor tersebut di antaranya adalah
kandungan asam lemak bebas dan kadar air minyak, jenis katalis dan
konsentrasinya, perbandingan molar antara alkohol dengan minyak dan jenis
alkoholnya, suhu dan lamanya reaksi, intensitas pencampuran dan penggunaan
cosolvent organik. Kualitas metil ester dipengaruhi oleh: kualitas minyak
(feedstock), komposisi asam lemak dari minyak, proses produksi dan bahan
lain yang digunakan dalam proses dan parameter pasca-produksi seperti
kontaminan (Gerpen, 2004). Kontaminan tersebut diantaranya adalah bahan
tak tersabunkan, air, gliserin bebas, gliserin terikat, alkohol, FFA, sabun,
residu katalis (Gerpen, 1996).
Reaksi transesterifikasi secara batch lebih sederhana, dan dapat
mengkonversi minyak menjadi metil ester hingga 80 - 94% dalam waktu 30 –
120 menit. Hasil yang diperoleh dipengaruhi oleh rasio molar minyak dengan
alkohol, waktu reaksi, suhu, jenis katalis, konsentrasi katalis, karakteristik
trigliserida dan intensitas pencampuran. Reaktor esterifikasi secara kontinyu
telah dikembangkan untuk mengurangi ukuran reaktor dan waktu reaksi.
Krisnangkura et al. (1992) melaporkan sebanyak 96% metil ester minyak
sawit telah terbentuk dalam 60 menit pada rasio metanol dan minyak sawit
13:1 (minyak sawit dicampur toluen pada 1:1).
6
Definisi metil ester menurut SNI (04-7182-2006) adalah ester lemak
yang dibuat melalui proses esterifikasi asam lemak dengan metil alkohol,
berbentuk cairan. Syarat mutu metil ester sebagai biodiesel dapat dilihat pada
Tabel 3. Metil ester memiliki sifat tidak korosif (seperti halnya asam lemak
nabati), lebih tahan terhadap oksidasi dan tidak mudah berubah warna
(Darnoko et al., 2001).
Tabel 3. Syarat mutu biodiesel (SNI, 04-7182-2006)
No
Parameter
Satuan
Nilai
Massa jenis pada 40 °C
kg/m3
850 – 890
2
Viskositas kinematik pd 40 °C
mm /s (cSt)
2,3 – 6,0
Angka setana
min. 51
Titik nyala (mangkok tertutup)
°C
min. 100
Titik kabut
°C
maks. 18
Korosi lempeng tembaga (3 jam pada
maks. no 3
50 °C)
7
Residu karbon
%-massa
- dalam contoh asli, atau
maks 0,05
- dalam 10 % ampas distilasi
maks. 0,30
8
Air dan sedimen
%-vol.
maks. 0,05*
9
Temperatur distilasi 90 %
°C
maks. 360
10 Abu tersulfatkan
%-massa
maks.0,02
11 Belerang
ppm-m (mg/kg) maks. 100
12 Fosfor
ppm-m (mg/kg) maks. 10
13 Angka asam
mg-KOH/g
maks.0,8
14 Gliserol bebas
%-massa
maks. 0,02
15 Gliserol total
%-massa
maks. 0,24
16 Kadar ester alkil
%-massa
min. 96,5
17 Angka iodium
%-massa
maks. 115
(g-I2/100 g)
18 Uji Halphen
Negatif
Catatan dapat diuji terpisah dengan ketentuan kandungan sedimen maksimum
1
2
3
4
5
6
Menurut Hui (1996), C16-C18 mempunyai daya deterjensi yang baik,
sehingga metil ester C16-C18, minyak sawit merupakan sumber bahan baku
yang tepat dan murah untuk produksi metil ester sulfonat (MES).
Kemampuan deterjensi MES turunan dari minyak sawit dinyatakan dapat
sebanding dengan linear alkil benzen sulfonat (LAS), yang merupakan produk
terbesar dalam industri deterjen.
7
Distilasi
Fraksinasi
Gambar 3. Pengolahan metil ester lebih lanjut menjadi oleokimia
(Darnoko et al., 2001; Matheson, 1996)
B. SURFAKTAN METIL ESTER SULFONAT (MES)
1.
Surfaktan MES
Surfaktan sodium metil ester sulfonat (MES) termasuk golongan
surfaktan anionik, yaitu surfaktan yang bermuatan negatif pada gugus
hidrofiliknya atau bagian aktif permukaan (surface-active). Struktur kimia
sodium metil ester sulfonat (MES) adalah sebagai berikut (Watkins, 2001).
O
R-CH-C-OCH3
SO3Na
Menurut Swern (1979), kemampuan surfaktan dalam hubungannya
untuk meningkatkan kestabilan emulsi tergantung dari kontribusi gugus polar
(hidrofilik) dan gugus non polar (lipofilik), yang dapat dilihat dari ukuran
HLB (Hydrophile Lyphophile Balance). Semakin rendah nilai HLB maka
surfaktan cenderung semakin larut dalam minyak. Sebaliknya, semakin tinggi
nilai HLB maka surfaktan semakin cenderung larut dalam air. Kisaran HLB
dan aplikasi penggunaannya dapat dilihat pada Tabel 4.
8
Tabel 4. Kisaran HLB dan aplikasi penggunannya
Kisaran
3–6
7–9
8 – 15
13 – 15
15 – 18
Aplikasi Penggunaan
Emulsifier water in oil (W/O)
Bahan pembasah
Emulsifier oil in water (O/W)
Deterjen
Bahan pelarut
Sumber : Swern (1979)
Menurut Watkins (2001) jenis minyak yang dapat digunakan sebagai
bahan baku pembuatan metil ester sulfonat (MES) adalah kelompok minyak
nabati seperti minyak kelapa, minyak sawit, minyak inti sawit, stearin sawit,
minyak kedelai, atau tallow. MES dari minyak nabati yang mengandung atom
karbon C10, C12 dan C14 biasa digunakan untuk light duty dishwashing
detergent, sedangkan MES dari minyak nabati dengan atom karbon C16-C18
dan tallow biasa digunakan untuk deterjen bubuk dan deterjen cair (liquid
laundry detergent). Menurut Yuliasari et al. (1997), minyak sawit dipilih
sebagai bahan baku karena komponen asam lemak penyusun trigliseridanya,
yaitu asam lemak C16-C18 mampu berperan terhadap kekerasan dan sifat
deterjensinya, sedangkan asam lemak C12-C14 berperan terhadap efek
pembusaan.
Panjang molekul sangat kritis untuk keseimbangan kebutuhan gugus
hidrofilik dan lipofilik. Apabila rantai hidrofobik terlalu panjang, akan terjadi
ketidakseimbangan, terlalu besarnya afinitas untuk gugus minyak atau lemak
atau terlalu kecilnya afinitas untuk gugus air. Hal ini akan ditunjukkan oleh
keterbatasan kelarutan di dalam air. Demikian juga sebaliknya, apabila rantai
hidrofobiknya terlalu pendek, komponen tidak akan terlalu bersifat aktif
permukaan (surface active) karena ketidakcukupan gugus hidrofobik dan akan
memiliki keterbatasan kelarutan dalam minyak. Pada umumnya panjang rantai
terbaik untuk surfaktan adalah asam lemak dengan 10-18 atom karbon
(Swern, 1979).
Menurut Matheson (1996), metil ester sulfonat (MES) telah mulai
dimanfaatkan sebagai bahan aktif pada produk-produk pembersih (washing
and cleaning products). Pemanfaatan surfaktan jenis ini pada beberapa produk
adalah karena metil ester sulfonat memperlihatkan karakteristik dispersi yang
9
baik, sifat detergensi yang baik terutama pada air dengan tingkat kesadahan
yang tinggi (hard water) dan tidak adanya fosfat, ester asam lemak C14, C16
dan C18 memberikan tingkat detergensi terbaik, serta bersifat mudah
didegradasi (good biodegradability).
Daya deterjensi linear alkilbenzen sulfonat (LAS), alkohol sulfat (AS)
dan MES selain dipengaruhi oleh panjang rantai karbon juga dipengaruhi oleh
kesadahan air yang digunakan. Semakin panjang rantai karbon asam lemak,
maka daya deterjensinya semakin meningkat. MES palmitat (C16) mempunyai
daya deterjensi paling tinggi dibandingkan dengan LAS dan AS, yaitu sekitar
76%, sedangkan LAS dan AS masing-masing hanya sebesar 70% dan 60%.
Semakin tinggi kesadahan air yang digunakan, maka daya deterjensi LAS, AS
dan MES semakin rendah. Pada tingkat kesadahan 360 ppm CaCO3 daya
deterjensi dari MES lebih tinggi (56%) dibandingkan dengan LAS (20%) dan
AS (38%) (Yamane and Miyawaki, 1990).
MES (C16) bersifat lebih mudah terbiodegradasi dibandingkan dengan
LAS dan AS. Pada hari ke-5, MES (C16) terbiodegradasi sempurna dan tidak
meninggalkan residu karbon organik, sedangkan AS terbiodegradasi secara
sempurna setelah hari ke-5,5, sedangkan LAS, walaupun senyawa tersebut
mengandung rantai karbon pendek tetapi relatif lebih sulit terbiodegradasi
secara sempurna. Hal ini disebabkan karena LAS mengandung senyawa
karbon aromatik (rantai karbon berbentuk cincin). Biodegradasi maksimum
dari LAS terjadi setelah hari ke-10 dengan menghasilkan residu C organik
sebesar 34% (Yamane and Miyawaki, 1990). Karakteristik surfaktan metil
ester sulfonat (MES) komersial dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Karakteristik surfaktan metil ester sulfonat (MES) komersial
Spesifikasi
MES (C16 – C18)
a
Metil ester sulfonat (MES), (% b/b)
83,0
Disodium karboksi sulfonat (di-salt), (% b/b) a
3,5
a
Air, (% b/b)
2,3
a
Nilai pH
5,3
Warna Klett, 5% aktif (MES + di-salt) a
45
b
Tegangan permukaan (mN/m)
39,0 - 40,2
Tegangan antarmuka (mN/m) b
8,4 – 9,7
a
Sumber :
Sheats (2002)
b
Pore (1993)
10
2. Proses Sulfonasi
Sadi (1994) menyatakan bahwa pada umumnya surfaktan dapat
disintesis dari minyak nabati melalui senyawa antara metil ester asam lemak
dan fatty alkohol. Salah satu proses untuk menghasilkan surfaktan adalah
proses sulfonasi untuk menghasilkan metil ester sulfonat. MES termasuk
golongan surfaktan anionik yaitu surfaktan yang bermuatan negatif pada
gugus hidrofiliknya atau bagian aktif permukaan (surface-active).
Proses sulfonasi menghasilkan produk turunan yang terbentuk melalui
reaksi kelompok sulfat dengan minyak, asam lemak (fatty acid), ester, dan
alkohol lemak (fatty alcohol). Jenis minyak yang biasanya disulfonasi adalah
minyak yang mengandung ikatan rangkap ataupun grup hidroksil pada
molekulnya. Bahan baku minyak yang digunakan pada industri adalah minyak
berwujud cair yang kaya akan ikatan rangkap (Bernardini, 1983).
Proses sulfonasi dapat dilakukan dengan mereaksikan asam sulfat,
sulfit, NaHSO3, atau gas SO3 dengan ester asam lemak (Bernardini, 1983;
Watkins 2001). Menurut Foster (1996), proses sulfonasi berbeda dengan
sulfatasi, walaupun secara struktur memiliki kesamaan. Pada proses sulfonasi,
SO3 terikat langsung pada atom karbon C sedang pada sulfatasi membentuk
ikatan karbon-oksigen-sulfur. Proses sulfonasi dengan gas SO3 menghasilkan
produk dengan kualitas yang tinggi, namun kelemahannya yaitu proses ini
bersifat kontinyu dan paling sesuai untuk volume produksi yang besar,
membutuhkan peralatan yang mahal dengan tingkat ketepatan yang tinggi, dan
mensyaratkan personel pengoperasian yang memiliki skill tinggi (highly
trained), selain itu memiliki sifat yang sangat reaktif sehingga diperlukan
kontrol yang sangat ketat agar tidak terbentuk produk intermediet dan warna
yang dihasilkan berwarna hitam sehingga memerlukan proses pemucatan.
Menurut Sheats dan MacArthur (2002), penelitian mengenai produksi
MES skala pilot plant secara sinambung telah dilakukan oleh Chemiton
Corporation di Amerika Serikat. Produksi MES dilakukan dalam beberapa
tahap, yaitu tahap proses sulfonasi dimulai dengan pemasukan bahan baku
metil ester dan gas SO3 ke reaktor dan selanjutnya diikuti dengan tahap
pencampuran di digester, tahap pemucatan, tahap netralisasi, dan tahap
11
pengeringan. Bahan baku metil ester dimasukkan ke reaktor pada suhu 40 56 0C, dengan konsentrasi gas SO3 adalah 7 persen dan suhu gas SO3 sekitar
42 0C. Nisbah mol antara reaktan SO3 dan metil ester sekitar 1,2 - 1,3. MES
segera ditransfer ke digester pada saat mencapai suhu 85 0C, dengan lama
waktu pencampuran adalah 0,7 jam (42 menit). Proses pemucatan dilakukan
dengan mencampurkan MES hasil digester dengan pelarut metanol sekitar 31 40 persen (b/b, MES basis) dan H2O2 50 persen sekitar 1 - 4 persen (b/b, MES
basis) pada suhu 95 - 100 0C selama 1 - 1,5 jam. Ditambahkan oleh Sheats
dan Foster (2003) bahwa bleached MES secara kontinyu dinetralisasi hingga
mencapai nilai pH 6,5-7,5. Proses netralisasi dilakukan dengan mencampurkan
bleached MES dengan pelarut NaOH 50 persen pada suhu 55 0C.
Untuk menghasilkan MES yang memiliki daya kinerja yang lebih baik
perlu dilakukan proses pemurnian. Proses pemurnian dilakukan menggunakan
metanol.
Metanol
berfungsi
untuk
mengurangi
pembentukan
disalt,
mengurangi viskositas, dan mampu meningkatkan transfer panas dalam proses
pemutihan.
Proses pemurnian palm C16-18 kalium metil ester sulfonat
(KMES) yang diteliti oleh Sherry et al. (1995) dilakukan tanpa melalui proses
pemucatan. Pemurnian produk dilakukan dengan mencampurkan ester
sulfonat dengan 10-15 persen metanol di dalam digester, dan dilanjutkan
dengan proses netralisasi berupa penambahan 50 persen KOH.
Sheats dan Mac Arthur (2002) menggunakan metanol 31 sampai 40%
dan hidrogen peroksida 1-4% dengan suhu 95 sampai 100 oC selama 1
sampai 1,5 jam pada proses pembuatan MES dengan menggunakan pereaksi
gas SO3.
Reaksi sulfonasi molekul asam lemak dapat terjadi pada tiga sisi yaitu
(1) gugus karboksil; (2) bagian α-atom karbon; (3) rantai tidak jenuh (ikatan
rangkap). Pemilihan proses sulfonasi tergantung pada banyak faktor yaitu:
karakteristik dan kualitas produk akhir yang diinginkan, kapasitas produksi
yang disyaratkan, biaya bahan kimia, biaya peralatan proses, sistem
pengamanan yang diperlukan, dan biaya pembuangan limbah hasil proses.
Untuk menghasilkan kualitas produk terbaik, beberapa perlakuan penting yang
harus dipertimbangkan adalah rasio mol reaktan, suhu reaksi, konsentrasi grup
12
sulfat yang ditambahkan (SO3, NaHSO3, asam sulfit), waktu netralisasi, pH
dan suhu netralisasi (Foster, 1996).
Mekanisme reaksi yang terjadi selama reaksi sulfonasi dapat dijelaskan
sebagai berikut. Urutan proses yang terjadi adalah metil ester (I) bereaksi
dengan gas SO3 membentuk senyawa intermediet (II), pada umumnya berupa
senyawa anhidrad. Dalam kondisi reaksi yang setimbang, senyawa intermediet
(II) tersebut akan mengaktifkan gugus alfa (α) pada rangkaian gugus karbon
metil ester sehingga membentuk senyawa intermediet (III). Selanjutnya,
senyawa intermediet (III) tersebut mengalami restrukturisasi dengan
melepaskan gugus SO3. Gugus SO3 yang dilepaskan bukanlah gugus yang
terikat pada ikatan alfa. Dengan terlepasnya gas SO3 selama proses post
digestion tersebut, maka terbentuklah MESA (IV) (MacArthur et al., 1998).
Suhu dan rasio mol reaktan merupakan faktor penting dalam proses
sulfonasi dimana peningkatan suhu dapat mempercepat laju reaksi dengan
meningkatkan jumlah fraksi molekul yang mencapai energi aktivasi (Steinfeld,
1989) sedangkan rasio mol reaktan harus dikendalikan dalam proses sulfonasi
karena kelebihan reaktan (SO3) akan menyebabkan pembentukan produk
samping. Penelitian tentang pengaruh suhu dan rasio mol reaktan dalam proses
sulfonasi untuk menghasilkan MES telah dilakukan oleh Sheats dan Arthur
(2002) dengan mereaksikan gas SO3 dan metil ester dalam tubullar falling film
reactor pada perbandingan reaktan gas SO3 dan metil ester 1,2:1 hingga 1,3:1
pada suhu 50-60 oC sedangkan Baker (1995) telah memperoleh paten (US
Patent No. 5.475.134) tentang proses pembuatan sulfonated fatty acid alkyl
ester dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Bahan baku yang digunakan
berasal dari asam lemak minyak nabati komersial. Proses sulfonasi dilakukan
dengan mereaksikan alkil ester dan gas SO3 dalam falling film reactor, dengan
perbandingan reaktan antara SO3 dan alkil ester yaitu 1,1:1 hingga 1,4:1, pada
suhu 75–95 oC selama 20-90 menit.
MES yang dihasilkan pada proses sulfonasi masih mengandung
produk-produk samping yang dapat mengurangi kinerja surfaktan sehingga
memerlukan proses pemurnian. Menurut Watkins (2001), proses produksi
metil ester sulfonat dilakukan dengan mereaksikan metil ester dan gas SO3
13
dalam falling film reactor pada suhu 80-90 oC. Proses sulfonasi ini akan
menghasilkan produk berwarna gelap, sehingga dibutuhkan proses pemurnian
meliputi pemucatan dan netralisasi. Untuk mengurangi warna gelap tersebut,
pada tahap pemucatan ditambahkan metanol dan H2O2 yang dilanjutkan
dengan proses netralisasi dengan menambahkan larutan alkali (KOH atau
NaOH), setelah melewati tahap netralisasi, produk yang berbentuk pasta
dikeringkan sehingga produk akhir yang dihasilkan berbentuk pasta, serpihan,
atau granula.
Sheats dan Mac Arthur (2002) melakukan proses sulfonasi dengan
menggunakan Falling Film Reactor (FFR) dengan laju sekitar 0,1 kg mol
perjam. Suhu masuk gas SO3 ke dalam reaktor adalah 42 oC dan suhu masuk
untuk metil ester sekitar 40-56 oC. Proses pemucatan dan pemurnian dilakukan
dengan menggunakan metanol (31 sampai 41% (w/w) dan hidrogen peroksida
(1-4% w/w) pada suhu 95-100
o
C selama 1-1,5 jam. Hasil tersebut
dinetralisasi dengan menggunakan NaOH 50% pada suhu 55 oC sampai
mencapai
nilai
pH
5,5–7,5.
Proses
pengeringan
dilakukan
dengan
menggunakan suhu inlet 145 oC dengan kondisi vakum 120 atau 200 Torr.
Metanol berfungsi mengurangi pembentukan garam disodium karboksi
sulfonat. Kehadiran garam mampu menurunkan kelarutan MES dalam air
dingin, lebih sensitif terhadap air sadah, memiliki deterjensi 50% lebih rendah
dan menurunkan daya simpan produk.
14
III. BAHAN DAN METODE
A. BAHAN DAN ALAT
1. Bahan
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak sawit
kasar atau Crude Palm Oil (CPO). Minyak sawit kemudian dibuat menjadi
metil ester kemudian disulfonasi dengan reaktan gas SO3 menjadi MESA.
MESA dibleaching dengan pelarut metanol, H2O2 kemudian dinetralisasi
dengan NaOH menjadi MES. Sedangkan bahan yang digunakan untuk analisa
antara lain air distilata, air formasi, KOH, H2SO4, metanol, NaOH, HCl,
penolphtalein, pati, sikloheksan, asam asetat glasial, KI, Na2S2O3, larutan wijs,
toluene,
kloroform,
petroleum
eter,
indikator
metilen
blue
dan
cetyltrimetilammoniumbromida (CTAB).
2. Alat
Peralatan yang digunakan adalah reaktor sulfonasi (single tube falling
film reactor), hotplate, termometer, labu leher tiga, tabung reaksi, pH meter,
timbangan analitik, peralatan gelas, pipet dan oven atau pemanas. Peralatan
yang digunakan untuk analisa surfaktan adalah spinning drop interfacial
tensiometer, pH meter, vortex mixer, pipet dan hotplate stirer.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan sesuai dengan ruang
lingkup penelitian. Tahapan pertama adalah analisis sifat fisiko-kimia bahan baku
surfaktan MES yaitu CPO (Crude Palm Oil). Analisis sifat fisiko-kimia minyak
sawit kasar atau CPO (Crude Palm Oil) yang meliputi uji kadar air, bilangan iod,
bilangan asam, bilangan penyabunan, fraksi tak tersabunkan, nilai FFA, densitas,
dan viskositas. Tahapan kedua adalah pembuatan metil ester CPO dengan
kapasitas reaktor 100 liter yang dilanjutkan dengan analisis fisiko kimia metil
ester CPO yang meliputi kadar air, bilangan asam, bilangan iod, bilangan
penyabunan dan densitas. Tahapan ketiga yaitu proses sulfonasi metil ester CPO
dengan reaktor STFR (Single Tube Film Sulfonation Reactor) dan reaktan gas SO3
pada suhu 100 0C. Tahapan terakhir dari penelitian ini adalah analisis sifat fisiko
kimia dan kinerja surfaktan MES (Metil Ester Sulfonat) yang dihasilkan. Diagram
alir prosedur penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.
CPO
Reaksi Esterifikasi
FFA > 5%
Analisa CPO
Uji
FFA
FFA < 5%
Reaksi Transesterifikasi
Metil ester
CPO
Analisa Metil ester
CPO
Proses Sulfonasi
T=100 0C
MESA
Tanpa Perlakuan
(MESA)
Netralisasi
(+ NaOH)
Bleaching
(+Metanol ,H2O2)
Netralisasi
(+ NaOH)
Analisa fisiko kimia
dan kinerja
Gambar 4. Diagram alir prosedur penelitian
16
1. Analisis sifat fisiko-kimia CPO
Bahan baku dari surfaktan MES pada penelitian ini adalah CPO
(Crude Palm Oil) yang diperoleh dari Asian Agri Group. CPO yang akan
digunakan dianalisis terlebih dahulu. Analisis sifat fisiko kimia yang
dilakukan meliputi uji kadar air, bilangan iod, bilangan asam, bilangan
penyabunan, fraksi tak tersabunkan, nilai FFA, densitas, dan viskositas.
Adapun prosedur analisis CPO dapat dilihat pada Lampiran 1.
2. Pembuatan dan Analisis fisiko kimia metil ester CPO
Metil ester CPO diproduksi melalui dua tahapan reaksi. Tahap pertama
adalah
reaksi
esterifikasi
dan
kemudian
dilanjutkan
dengan
reaksi
transesterifikasi. Pada reaksi esterifikasi, CPO yang telah diketahui nilai FFAnya direaksikan dengan metanol dan digunakan H2SO4 sebagai katalis. CPO
ditambahkan metanol sebesar 225% dan H2SO4 5% terhadap total nilai FFA
sehingga diperoleh reaksi yang sempurna. Reaksi esterifikasi dilakukan
selama 1 jam dengan kecepatan 300-500 rpm pada suhu antara 50-60 0C.
Tahapan ini bertujuan untuk mengubah asam lemak bebas (FFA) menjadi alkil
ester (metil ester). Hasil akhir proses esterifikasi merupakan campuran metil
ester dan trigliserida CPO.
Selanjutnya dilakukan proses transesterifikasi. Proses transesterifikasi
dilakukan dengan mereaksikan CPO setelah proses esterifikasi dengan 15%v/v metanol. Reaksi transesterifikasi dipercepat dengan penambahan katalis
KOH sebesar 1%-v/v. Warna kecoklatan menandai terbentuknya gliserol yang
menujukkan reaksi telah berjalan. Selanjutnya dilakukan pemisahan gliserol
dari metil ester.
Langkah selanjutnya adalah pemurnian metil ester. Pemurnian pertama
adalah memurnikan metil ester dari sabun, katalis dan metanol. Pemurnian ini
dilakukan dengan mencampur metil ester dengan air pada suhu 50 0C.
Pencucian ini diulang hingga warna metil ester menjadi bening dan tidak
keruh. Pemurnian terakhir adalah untuk memisahkan air dan sisa metanol.
Pemurnian ini dilakukan dengan memanaskan metil ester hingga 115 0C
hingga semua air menguap.
17
Analisis yang dilakukan untuk mengetahui sifat fisiko kimia metil ester
meliputi : kadar air, bilangan asam, bilangan iod, nilai FFA, bilangan
penyabunan dan densitas. Prosedur analisis metil ester disajikan pada
Lampiran 2.
3. Produksi Surfaktan Metil Ester Sulfonat (MES)
Produksi MES dillakukan dengan menggunakan metode falling film
menggunakan reaktor STFR (Single Tube Falling Film Reactor) dengan
panjang 6 meter. Prinsip falling film reactor adalah gas SO3 dipompakan pada
sebuah tabung di mana pada dinding tabung tersebut dialirkan secara cocurrent metil ester dalam bentuk lapis tipis sehingga membentuk tabung yang
menyelimuti gas yang mengalir ditengahnya.
Produk antara yang terbentuk dari hasil sulfonasi dengan reaktor ini
dinamakan MESA (methyl ester sulfonate acid). Suhu umpan pada proses
sulfonasi diatur konstan pada suhu 1000C dengan laju alir bahan dan SO3
diatur konstan. Kondisi proses yang digunakan pada tahap sulfonasi merujuk
pada Watkins (2001) dan Sheats dan Foster (2003). Produk MESA yang
dihasilkan kemudian dikaji pengaruhnya terhadap faktor bleaching dan
netralisasi (faktor tahapan proses). Faktor tahapan proses ini meliputi MESA
(tanpa bleaching dan netralisasi), dengan netralisasi dan dengan bleaching dan
netralisasi. Kondisi proses yang digunakan pada tahap bleaching dan
netralisasi merujuk pada penelitian tentang produksi MES skala pilot plant
secara sinambung telah dilakukan oleh Chemiton Corporation di Amerika
Serikat Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap
faktorial dengan satu faktor (tiga taraf). Ulangan dilakukan sebanyak dua kali.
Model rancangan percobaannya adalah:
Yij = μ + Ai + εij
Keterangan:
Yij
μ
Ai
εij
= Nilai pengamatan akibat pengaruh faktor A taraf ke-i, pada
ulangan ke-j
= Nilai rata-rata
= Pengaruh faktor A pada taraf ke-i
= Pengaruh kesalahan percobaan
18
Sifat fisiko kimia produk hasil proses yang ingin dianalisis dari
rancangan percobaan ini meliputi viskositas, densitas, bahan aktif, bilangan
asam, pH, dan bilangan iod.
Uji kinerja tegangan permukaan dan tegangan antarmuka (IFT)
menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor. Faktor
pertama yaitu tahapan proses dengan 3 taraf yaitu tanpa bleaching dan
netralisasi (MESA), dengan netralisasi serta dengan bleaching dan netralisasi.
Faktor kedua yaitu konsentasi surfaktan. Uji kinerja tegangan permukaan
memiliki 4 taraf konsentrasi yaitu 0,1% ; 0,3% ; 0,5% dan 1% sedangkan
tegangan antarmuka (IFT) memiliki 2 taraf konsentrasi yaitu 0,3% dan 1%.
Model Rancangan percobaannya adalah:
Yijk = μ + Ai + Bj + ABij + εijk
Keterangan:
Yijk
= Nilai pengamatan akibat pengaruh faktor proses taraf ke-i, faktor
konsentrasi taraf-j pada ulangan ke-k
μ
= Nilai rata-rata
Ai
= Pengaruh faktor tahapan proses pada taraf ke-i
Bj
= Pengaruh faktor konsentrasi pada taraf ke-j
ABij
= Pengaruh interaksi antara faktor proses taraf ke-i dengan faktor
konsentrasi taraf ke-j
εijk
= Pengaruh kesalahan percobaan
Prosedur analisis untuk uji kinerja MES dapat dilihat pada Lampiran 3.
Data yang dihasilkan dianalisis dengan uji anova, apabila ada perbedaan yang
nyata dilakukan uji lanjut menggunakan metode uji Duncan dengan tingkat
kepercayaan 95%.
19
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisis sifat fisiko-kimia CPO
Minyak sawit kasar atau Crude Palm Oil (CPO) yang digunakan pada
penelitian ini berasal dari Asian Agri Grup. Analisis sifat fisiko kimia CPO
meliputi uji kadar air, bilangan iod, bilangan asam, bilangan penyabunan, fraksi
tak tersabunkan, nilai FFA, komposisi asam lemak, densitas, dan viskositas. Hasil
analisis CPO dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil analisa sifat fisiko kimia CPO
Karakteristik
Satuan
Nilai ± SD
Rujukan
mg KOH/g minyak
9,26 ± 0,17
6,9 a
%
4,66 ± 0,07
Max 0,5% b
mg KOH/g minyak
206,44 ± 1,20
224-249 a
g/cm3
0,9097 ± 0,0003
0,900
mg iod/g minyak
51,4 ± 1,95
50-55 b
Fraksi massa
0,5 ± 0,06
-
Viskositas
cP
110
-
Kadar Air
%
0,16
Max 0,5 b
Bilangan Asam
Nilai FFA
Bilangan Penyabunan
Densitas
Bilangan Iod
Fraksi tak tersabunkan
Sumber : a Hui (1996)
b
SNI 01-2901-2006
Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa minyak sawit kasar (CPO) yang
digunakan pada penelitian ini memenuhi standar dari SNI (01-2901-2006) untuk
nilai kadar air dan bilangan iod, namun tidak memenuhi untuk nilai FFA (Free
Fatty Acid) dan bilangan asam.
Bilangan asam adalah banyaknya miligram KOH yang diperlukan untuk
menetralkan satu gram lemak atau minyak dengan prinsip pelarutan contoh
minyak dalam pelarut organik tertentu (alkohol netral 95%) yang dilanjutkan
dengan titrasi menggunakan basa (NaOH atau KOH). Bilangan asam dari CPO
bernilai 9,26 mg KOH/g minyak lebih tinggi dari literatur yang dianalisa oleh Hui
(1996) dengan nilai 6,9 mg KOH/g minyak. Hal ini disebabkan karena proses
penyimpanan bahan baku CPO yang berdampak pada terjadinya proses hidrolisis.
Menurut Ketaren (1986), minyak atau lemak akan diubah menjadi asam-asam
lemak bebas dan gliserol dalam reaksi hidrolisis. Hal ini juga menyebabkan nilai
kadar asam lemak bebas atau Free Fatty Acid (FFA) dari hasil analisa memiliki
nilai yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan SNI.
Bilangan iod menunjukkan banyaknya gram iodin yang diserap oleh 100
gram minyak atau lemak. Bilangan
iod bergantung kepada komposisi asam
lemak penyusunan minyak/lemak ataupun produk turunannya. Asam lemak yang
tidak jenuh dalam minyak atau lemak mampu menyerap sejumlah iod dan
membentuk senyawa yang jenuh. Besarnya jumlah iod yang diserap menunjukkan
banyaknya ikatan rangkap atau tidak jenuh (Ketaren,1986). Penetapan bilangan
iod dilakukan untuk mengetahui keberhasilan adisi gugus sulfat ke dalam rantai
lemak dan membentuk gugus sulfonat. Bilangan iod yang dianalisa memiliki nilai
51,4 mg iod/g minyak. Nilai ini sesuai dengan analisa Hui (1996) yaitu 44-54 mg
iod/g minyak untuk nilai bilangan iod CPO.
Berdasarkan hasil analisa GC (Gas Chromatography), komponen asam
lemak CPO memiliki rasio persentase yang hampir sama antara komponen asam
lemak tak jenuh (ALTJ) dan asam lemak jenuh (ALJ). Komponen ALTJ tertinggi
dari CPO yaitu asam oleat sebesar 39,32% sedangkan komponen ALJ tertinggi
yaitu asam palmitat sebesar 42,63%. Nilai ini tidak berbeda jauh dari literatur
menurut Hui (1996) sebesar 39,2% untuk asam oleat dan sebesar 44% untuk
asam palmitat. Hasil analisa GC untuk komponen asam lemak dapat dilihat pada
Lampiran 4.
B. Analisis Sifat Fisiko Kimia Metil Ester CPO
Tahapan setelah analisa sifat fisiko kimia CPO dari penelitian ini adalah
pembuatan metil ester. Pembuatan metil ester dilakukan di pilot plant SBRC
(Surfactant and Bioenergy Research Center) dengan kapasitas 100 liter. Kondisi
proses produksi metil ester CPO merujuk pada Setyaningsih et al., (2007) dengan
berbagai adaptasi. Foto reaktor metil ester dengan kapasitas 100 L dapat dilihat
pada Gambar 5.
21 Gambar 5. Reaktor metil ester pilot plant sbrc dengan kapasitas 100 L
Metil ester CPO diproduksi melalui dua tahapan reaksi. Tahap pertama
adalah
reaksi
esterifikasi
dan
kemudian
dilanjutkan
dengan
reaksi
transesterifikasi. Pada reaksi esterifikasi, CPO yang telah dianalisis nilai FFA-nya
direaksikan dengan metanol dan digunakan H2SO4 sebagai katalis. Diketahui
bahwa FFA CPO adalah sebesar 4,7%, maka ditambahkan metanol sebesar 10,5%
dan H2SO4 0,23% terhadap total bahan baku CPO sehingga diperoleh reaksi yang
sempurna. Reaksi esterifikasi dilakukan selama 1 jam dengan kecepatan 300-500
rpm pada suhu antara 50-60 0C. Tahapan ini bertujuan untuk mengubah asam
lemak bebas (FFA) menjadi alkil ester (metil ester). Hasil akhir proses esterifikasi
merupakan campuran metil ester dan trigliserida CPO. Setelah reaksi berhenti,
campuran didiamkan hingga terjadi separasi antara campuran minyak dengan
FAME (Fatty Acid Methyl Ester) di bagian bawah dengan sisa alkohol, gum, serta
sabun di bagian atas.
22 Bahan baku dengan kadar FFA >2% H2SO4 Pemanasan Metanol Pencampuran Esterifikasi KOH Metanol Separasi Pencampuran Transesterifikasi Metanol Separasi Recovery Metanol Gliserol Crude Metil ester Purifikasi Metil ester Gambar 6. Diagram alir proses pembuatan metil ester dua tahap
Transesterifikasi trigliserida diawali dengan protonisasi satu gugus
karbonil pada molekul trigliserida menghasilkan senyawa intermediet II berupa
senyawa karboksi. Bentuk karboksi kemudian akan bereaksi dengan alkohol
membentuk senyawa intermediet III berupa molekul tetrahedral. Senyawa
intermediet tetrahedral kemudian akan terpecah menjadi ester yang baru dan
digliserida. Langkah ini terjadi berulang pada molekul digliserida dan molekul
monogliserida (Schuchardt et al., 1998).
Proses esterifikasi kemudian dilanjutkan dengan proses transesterifikasi
untuk menyempurnakan konversi trigliserida menjadi alkil ester. Proses
transesterifikasi dilakukan dengan mereaksikan CPO setelah proses esterifikasi
dengan
15%-v/v
methanol.
Reaksi
transesterifikasi
dipercepat
dengan
penambahan katalis KOH sebesar 1%-v/v. Reaksi transesterifikasi diawali dengan
penyerangan ion alkoksida pada atom karbon gugus karbonil dalam molekul
23 trigliserida menghasilkan senyawa intermediet berbentuk tetrahedral. Pada tahap
kedua, senyawa intermediet ini akan terpecah menjadi metil ester dan anion
digliserida. Anion digliserida kemudian akan bereaksi dengan metanol
membentuk molekul digliserida. Molekul digliserida kemudian akan dikonversi
menjadi molekul monogliserida dan gliserol melalui mekanisme yang sama.
Sifat fisiko kimia metil ester penting diketahui untuk mengetahui
kesesuaian bahan baku untuk pembuatan metil ester sulfonat (MES) CPO. Pada
Tabel 7 disajikan sifat fisiko kimia metil ester CPO yang dihasilkan.
Tabel 7. Sifat fisiko kimia metil ester CPO yang dihasilkan
No
1
2
3
4
5
6
7
Sifat fisiko kimia
Satuan
Nilai
SNI (04-7182-2006)
Kadar air
%
0,13
maks. 0,05
Bilangan asam
mg KOH/g ME 0,32
maks. 0,8
Bilangan iod
mg Iod/g ME
38,66
maks.115
Bilangan penyabunan mg KOH/g ME 204,52
FFA
%
0,16
Densitas
g/cm3
0,8725 0,850-0,890 (suhu 400C)
Viskositas
cP
6
Berdasarkan data pada Tabel 7 di atas, dapat diperoleh informasi bahwa
parameter densitas, bilangan asam dan bilangan iod masih memenuhi standar yang
telah disyaratkan oleh SNI Bodiesel (04-7182-2006). Sifat fisiko kimia metil ester
CPO juga relatif berbeda dengan sifat fisiko kimia bahan bakunya (CPO).
Perubahan mencolok yang terjadi dengan proses trans-esterifikasi adalah adanya
perubahan pada parameter bilangan asam, FFA dan viskositas. Bilangan asam
metil ester CPO (0,32 mg KOH/g minyak) jauh lebih rendah dari bilangan asam
CPO (9,26 mg KOH/g minyak) sedangkan nilai FFA berkurang menjadi 0,16%
dari 4,66%. Terjadinya fenomena tersebut menunjukkan bahwa reaksi
transesterifikasi bersifat menurunkan bilangan asam. Asam lemak merupakan
komponen penyusun minyak dan terdeteksi sebagai bilangan asam. Dengan
terjadinya penurunan bilangan asam tersebut maka asam lemak telah mengalami
konversi menjadi ester (dalam hal ini metil ester).
Viskositas berkurang secara mencolok dari CPO sebesar 110 cP menjadi 6
cP pada metil ester. Secara penampakan fisik dapat dilihat bahwa CPO pada suhu
ruang berbentuk semipadat sedang metil ester berbentuk cair. Proses kimia
trans/esterifikasi telah mengubah struktur kimia CPO dari trigliserida dengan
24 rantai cabang tiga (garpu) menjadi metil ester dengan rantai lurus. Hal ini
membuat pergerakan antarmolekul menjadi semakin tinggi sehingga viskositasnya
menjadi berkurang pada metil ester.
Salah satu kriteria yang penting dari metil ester CPO untuk pembuatan
MES adalah kadar air. Semakin kecil kadar air metil ester maka semakin baik
MES yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena kadar air dapat mempengaruhi
proses sulfonasi. Kandungan air dalam bahan dapat bereaksi dengan SO3 saat
proses sulfonasi dan membentuk asam sulfat (H2SO4). Gas SO3 berlebih ditambah
dengan asam sulfat dalam reaksi dapat menyebabkan desulfonasi surfaktan.
Desulfonasi mempengaruhi degradasi surfaktan di kemudian hari dimana
surfaktan kehilangan komponen aktifnya. Menurut Rossen (1999), pada surfaktan
yang mengandung gugus ester, degradasi berlangsung lebih cepat dimana
surfaktan akan terurai menjadi alkohol dan asam. Kedua produk hasil degradasi
ini sangat bersifat tidak aktif permukaan. Nilai kadar air dari metil ester yang
dihasilkan yaitu 0,13% sedangkan SNI biodiesel mensyaratkan maksimum 0,05%.
Hal ini disebabkan saat proses pengeringan metil ester berlangsung kurang
sempurna sehingga masih terkandung air dalam senyawa metil ester. Selain itu
juga proses penyimpanan hasil di tempat terbuka dapat mengakibatkan kadar
airnya menjadi meningkat.
Densitas diukur dengan menggunakan piknometer menghasilkan nilai
0,8725 g/cm3, masih masuk dalam nilai rentang SNI sebesar 0,850-0,890 g/cm3.
Terdapat penurunan densitas dari bahan bakunya CPO yaitu 0,9097 g/cm3. Hal
ini menunjukkan bahwa reaksi transesterifikasi mengurangi nilai densitas. Asam
lemak (trigliserida) dari CPO dengan bobot molekul yang tinggi bertransformasi
menjadi gliserin dan metil ester. Metil ester ini memiliki bobot molekul yang lebih
rendah sehingga densitasnya lebih rendah.
Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 7, bilangan iod metil ester adalah
sebesar 38,66 mgIod/g. Nilai tersebut telah sesuai dengan SNI 04-7182-2006 yaitu
maksimal 115 mgKOH/g. Sheats dan MacArthur (2002) menggunakan ME
dengan bilangan iod (iodine value) sebesar 30 mgIod/g atau lebih rendah. Bahan
baku ME yang memiliki bilangan iod tinggi sangat sulit untuk dipucatkan dan
warna produk tidak baik untuk dikomersialisasikan.
25 Berdasarkan komposisi asam lemak penyusunnya yang mengandung asam
lemak dominan C16 (asam lemak palmitat) dan C18 (asam lemak oleat), CPO
merupakan bahan baku yang prospek untuk pembuatan MES. Menurut Hui
(1996), C16-C18 mempunyai daya deterjensi yang baik, sehingga metil ester C16C18, minyak sawit merupakan sumber bahan baku yang tepat dan murah untuk
produksi metil ester sulfonat (MES).
C. Analisis Fisiko kimia dan kinerja Metil Ester Sulfonat
Metil ester sulfonat pada penelitian ini dihasilkan dari proses sulfonasi
metil ester CPO dengan reaktan gas SO3. Kondisi proses produksi surfaktan MES
hingga tahap bleaching dan netralisasi merujuk pada Watkins (2001), Sheats dan
MacArthur (2002), Sheats dan Foster (2003) serta adaptasi penelitian mengenai
produksi MES skala pilot plant secara sinambung telah dilakukan oleh Chemiton
Corporation di Amerika Serikat.
Proses sulfonasi metil ester dilakukan di dalam Singletube Film
Sulfonation Reactor (STFR). Terdapat tiga reaksi yang terjadi dalam reaktor,
yaitu : kontak antara fase gas dan liquid, penyerapan gas SO3 dari fase gas dan
reaksi dalam fase liquid. Metil ester dipompakan ke head reactor, masuk ke liquid
chamber dan mengalir turun membentuk liquid film dengan ketebalan tertentu
yang dibentuk oleh corong head yang didisain khusus untuk keperluan ini.
Reaktor STFR yang digunakan mempunyai panjang reaktor sekitar 6 meter dapat
dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Reaktor STFR (Single Tube Film Sulfonation Reactor) untuk sulfonasi
26 Reaksi sulfonasi pada penelitian ini memiliki parameter yang dijaga antara
lain: (a) Rasio mol SO3 terhadap metil ester adalah 1,2 – 1,8, (b) Temperatur inlet
diatur pada suhu 1000C sehingga kontak reaksi terjadi sekitar suhu 80 - 85 0C, (c)
Konsentrasi SO3 dalam aliran 5% - 6%. Konsentrasi gas SO3 yang dihasilkan dari
pabrik H2SO4 pada lokasi penelitian adalah sekitar 26%. Untuk proses sulfonasi,
gas SO3 yang dibutuhan hanya 5-7%. Oleh karena itu, gas SO3 didilusikan dengan
udara kering. Udara kering ini berfungsi untuk mengencerkan gas SO3 yang pekat.
Tiga tahapan reaksi yang disebut sebelumnya yaitu kontak antara fase gas
dan liquid, penyerapan gas SO3 dari fase gas dan reaksi dalam fase liquid.
Mekanisme reaksi yang terjadi selama reaksi sulfonasi dapat dijelaskan pada
Gambar 8 berikut (dalam hal ini dijelaskan dengan menggunakan salah satu asam
lemak penyusun yang dominan dari ME CPO yaitu asam lemak oleat).
O O CH3‐(CH2)7‐CH=CH‐(CH2)7‐C‐OCH3 (I) + SO3
O CH3‐(CH2)7‐CH=CH‐(CH2)7‐(C‐OCH3):SO3 (II) + SO3
O CH3‐(CH2)7‐CH=CH‐(CH2)6‐CH‐(C‐OCH3) SO3H (IV) + SO3
CH3‐(CH2)7‐CH=CH‐(CH2)7‐(C‐OCH3):SO3 (II)
O CH3‐(CH2)7‐CH=CH‐(CH2)6‐CH‐(C‐OCH3):SO3 (III)
SO3H O CH3‐(CH2)7‐CH‐CH‐(CH2)6‐CH‐C‐OCH2 SO3H SO3H
SO3H Gambar 8. Mekanisme reaksi pembentukan MESA (MacArthur et al., 1996)
Metil ester CPO (I) dalam hal ini menggunakan senyawa asam lemak yang
dominan yaitu oleat C18 bereaksi dengan gas SO3 membentuk senyawa intermediet
(II), pada umumnya berupa senyawa anhidrad. Dalam kondisi reaksi yang
setimbang, senyawa intermediet (II) tersebut akan mengaktifkan gugus alfa (α)
pada rangkaian gugus karbon metil ester sehingga membentuk senyawa
intermediet (III). Selanjutnya, senyawa intermediet (III) tersebut mengalami
restrukturisasi dengan melepaskan gugus SO3 (yang bukan terikat pada gugus alfa)
sehingga menjadi senyawa (IV). Kemudian setelah gugus SO3 terikat pada gugus
alfa, gugus SO3 berikutnya terikat pada rantai rangkap lalu diikuti dengan gugus
SO3 yang terikat pada gugus karboksil.
Pada mekanisme reaksi ini, lokasi terjadinya proses sulfonasi adalah pada
bagian α-atom karbon. Menurut Jungermann (1979), terdapat tiga lokasi
terjadinya reaksi sulfonasi molekul ester dengan basis asam lemak yaitu (1) gugus
27 (V) karboksil; (2) bagian α-atom karbon; (3) rantai tidak jenuh (ikatan rangkap).
Kemungkinan terikatnya pereaksi SO3 dalam proses sulfonasi dapat dilihat pada
Gambar 9.
O
CH3‐(CH2)7‐CH=CH‐(CH2)6‐CH‐C‐OCH3
SO3H
O
Terikat pada bagian α atom C CH3‐(CH2)7‐CH2‐CH‐(CH2)6‐CH‐C‐OCH3
Terikat pada ikatan rangkap SO3H
O
CH3‐(CH2)7‐CH=CH‐(CH2)7‐C
Terikat pada gugus karboksil OC(SO3H)H2
Gambar 9. Kemungkinan terikatnya pereaksi kimia dalam proses sulfonasi
(Adaptasi dari Jungermann, 1979)
Penambahan gugus SO3 pada ikatan alfa terjadi lebih dahulu karena
karbokation gugus alfa lebih stabil dibandingkan dengan karbokation dengan
ikatan rangkap dan karbokation pada gugus karboksil. Setelah penambahan gugus
SO3 pada ikatan alfa, baru terjadi penambahan gugus SO3 yang memecah ikatan
rangkap, kemudian dilanjutkan dengan penambahan gugus SO3 pada gugus
karboksil seperti pada senyawa (IV). Hal ini sesuai dengan aturan Markonikov
(Hart et al., 2003), yaitu reaksi adisi terjadi lebih dahulu pada karbokation yang
stabil karena reaksi pada karbokation stabil membutuhkan energi yang lebih
rendah sehingga lebih mudah terjadi dibandingkan dengan yang tidak stabil
seperti pada ikatan rangkap.
Penampakan visual secara fisik, MESA yang terbentuk berwarna hitam
dengan viskositas yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan metil ester. Berikut
disajikan Gambar 10, Metil Ester Sulfonat Acid (MESA) yang dihasilkan dari
proses sulfonasi dengan gas SO3.
28 Gambar 10. Metil Ester Sulfonat Acid (MESA) hasil sulfonasi
Selanjutnya MESA hasil proses sulfonasi dibleaching dan netralisasi.
Kondisi proses ini masih merujuk pada Sheats dan Foster (2003) serta penelitian
tentang MES oleh Chemiton Amerika Serikat. Proses pemucatan (bleaching)
dilakukan dengan mencampurkan MESA dengan pelarut metanol 31% (v/v,
MESA basis) dan H2O2 50% sekitar 4% (v/v, MESA basis) pada suhu 95 - 100 0C
selama 1-1,5 jam. Selanjutnya secara kontinyu dinetralisasi hingga mencapai nilai
pH 6,5 – 7,5. Proses netralisasi dilakukan dengan mencampurkan bleached MES
dengan pelarut NaOH 50% pada suhu 55 0C.
Penampakan visual secara fisik, MES yang telah melalui proses
pemucatan dan netralisasi memiliki warna yang lebih cerah dengan viskositas
yang lebih tinggi dari metil ester dan MESA. Gambar MES yang dihasilkan dapat
dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. MES hasil netralisasi (kiri) dan hasil bleaching-netralisasi (kanan)
1. Tegangan Antarmuka/IFT (Inter Facial Tension)
Dua cairan yang tidak saling mencampur cenderung bergabung
dengan fasa yang sama, bagian yang hidrofilik akan bergabung dengan bagian
29 hidrofilik dan bagian hidrofobik akan bergabung dengan hidrofobik. Batasan
antara dua fasa yang tidak saling bercampur itu disebut antarmuka (Rosen,
1999).
Tegangan antar muka didefinisikan sebagai tegangan yang terbentuk
pada lapisan antarmuka dalam campuran dua zat yang tidak saling bercampur
(immiscible). Lapisan antarmuka terbentuk karena gaya antarmolekul dalam
satu fasa berusaha untuk saling berikatan secara lebih kuat (gaya kohesi)
daripada gaya adhesi. Pada Gambar 12 berikut dapat dilihat ilustrasi yang
menggambarkan fenomena tersebut. Akibat tidak bercampurnya dua macam
zat (cairan) maka terbentuklah sudut kontak. Surfaktan bekerja dengan cara
menurunkan gaya kohesi tersebut sehingga sudut kontak menjadi lebih kecil.
Pada Gambar 13 berikut diperlihatkan ilustrasi yang menggambarkan kinerja
surfaktan dengan memperkecil sudut kontak antara dua macam zat yang tidak
saling bercampur.
TANPA SURFAKTAN PENAMBAHAN SURFAKTAN Cairan ketika diletakkan pada suatu
permukaan/fasa (gaya kohesi pada
cairan kuat) Penambahan surfaktan akan
menurunkan tegangan antarmuka Gambar 12. Ilustrasi penambahan surfaktan yang mengurangi tegangan
antarmuka dan permukaan
θ θ
θ Gambar 13. Efek penambahan surfaktan dalam sistem (memperkecil sudut
kontak) dari gambar A ke B dan C pada permukaan S
30 Analisis tegangan antarmuka dilakukan dengan menggunakan alat
spinning drop tensiometer. Penggunaan spinning drop tensiometer ini
dilakukan karena tesiometer ini mampu mengukur tegangan antarmuka yang
rendah (µN/m). Prinsip pengukuran tegangan antarmuka dengan metode
spinning drop adalah dengan menginjeksikan tetes cairan sampel dalam
tabung yang berisi cairan yang tidak bercampur dengan cairan sampel dengan
densitas yang lebih tinggi. Ketika tabung diputar pada bagian panjangnya,
tetes sampel terdorong ke tengah akibat gaya sentrifugal sehingga bentuknya
menjadi memanjang. Tegangan antarmuka diukur dari kecepatan angular
tabung dan bentuk (panjang dan diameter) dari tetes sampel yang ada dalam
tabung (Farn, 2006).
Pengukuran
tegangan
antarmuka
(IFT)
pada
penelitian
ini
menggunakan surfaktan dengan dua konsentrasi (0,3% dan 1%) yang
dilarutkan ke dalam air formasi dengan salinitas 30.000 ppm. Salinitas adalah
konsentrasi total ion-ion (Na+, K+, Ca2+, Mg2+, NO3-, Cl-, HCO3-, SO42-) yang
ada di air (Boyd, 1982). Penggunaan salinitas 30.000 ppm dikarenakan
sebagian reservoir mengandung salinitas 20.000 ppm dan bahkan bisa
mencapai sekitar 65.000 ppm (SPE, 2004).
Dari hasil analisa statistik diperoleh gambaran bahwa sampel yang
diuji memiliki nilai IFT terendah 0,0145 mN/m dan IFT tertinggi adalah
0,1438 mN/m. Nilai terendah tersebut diperoleh pada perlakuan tahapan
proses Netralisasi dengan konsentrasi sebesar 0,3%, sedangkan nilai tertinggi
diperoleh pada perlakuan tahapan
proses Bleaching-Netralisasi dengan
konsentrasi sebesar 1%.
Semakin kecil nilai IFT maka kinerja surfaktan semakin baik. Pada
tahapan proses netralisasi, nilai IFT yang dihasilkan cenderung lebih kecil
dibandingkan tahapan proses MESA dan Beaching-Netralisasi. Hal ini
disebabkan karena proses netralisasi dapat menstabilkan senyawa surfaktan
yang terbentuk. Sedangkan pada proses sampai tahapan MESA, jika reaksi
sulfonasi tidak sempurna maka senyawa intermediet yang terbentuk dapat
bereaksi secara reversible sehingga gugus sulfonat tidak terbentuk. Dari hasil
analisa keragaman (ANOVA) dengan selang kepercayaan 95% (α = 0,05)
31 diketahui bahwa faktor tahapan proses berpengaruh nyata terhadap nilai
tegangan antarmuka/IFT sedangkan konsentrasi surfaktan dan interaksi antara
keduanya tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai IFT.
Uji lanjut Duncan dilakukan untuk melihat apakah setiap taraf dari
faktor tahapan proses berbeda secara signifikan atau tidak. Hasil uji lanjut
Duncan menunjukkan bahwa faktor tahapan proses netralisasi berbeda nyata
dengan faktor yang lain (MESA dan bleaching-netralisasi) sementara tahapan
proses MESA tidak berbeda nyata dengan bleaching-netralisasi. Data hasil
pengukuran dan analisis keragaman dan uji lanjut Duncan dapat dilihat pada
Lampiran 5.
Hasil pengukuran tegangan antarmuka disajikan dalam bentuk
histogram seperti yang ditampilkan pada Gambar 14. Berdasarkan Gambar 14
dapat dilihat bahwa hanya perlakuan MESA yang mengalami penurunan nilai
tegangan antarmuka. Penurunan dari konsentrasi 0,3% ke 1% pada MESA
sebesar 54,5%. Namun pada perlakuan Netralisasi dan Bleaching-Netralisasi
terjadi kenaikan nilai tegangan antarmuka, padahal menurut Farn (2006),
kenaikan konsentrasi akan meningkatkan jumlah molekul surfaktan dan
menurunkan tegangan permukaan.
Gambar 14. Histogram pengaruh konsentrasi surfaktan dan tahapan proses
terhadap nilai tegangan antarmuka (MESA= Tanpa bleaching dan
netralisasi, N= Netralisasi, BN= Bleaching-Netralisasi)
32 2. Tegangan Permukaan
Tegangan permukaan merupakan batas antara dua fasa yang berbeda
antara air dan udara. Gaya tarik menarik antara molekul cairan adalah sama ke
segala arah. Hal ini tidak berlaku bagi molekul cairan yang berada di
permukaan. Molekul yang berada di permukaan mempunyai energi potensial
lebih besar dibanding molekul yang berada di dalam karena molekul-molekul
tersebut berikatan lebih erat. Hal ini membuat bagian atas membutuhkan kerja
yang lebih besar untuk menarik ke dalam cairan (Rosen, 1999). Molekul air
yang cenderung untuk tertarik pada sesama molekul air disebut gaya kohesi.
Hal inilah yang menyebabkan timbulnya tegangan permukaan (Suryani et al.,
2003 dan Farn, 2006).
Tegangan permukaan, disebut juga energi bebas permukaan,
didefinisikan sebagai usaha minimum yang dibutuhkan utuk memperluas
permukaan cairan per satuan luas (Rosen, 1999 dan Shaw, 1980). Bird (1993)
menyatakan Satuan tegangan permukaan sama dengan tegangan antarmuka
yaitu dinyatakan dalam dyne/cm atau erg/m2. Dalam satuan SI dinyatakan
dalam N/m. kedua besaran tersebut saling berhubungan dengan 1 dyne/cm = 1
mN/m.
Tegangan
permukaan
ini
diukur
dengan
menggunakan
alat
tensiometer Du Noy seperti yang disarankan oleh Parkinson (1985). Metode
tensiometer cincin
Du Noy dilakukan dengan merendam cincin platina
dengan diameter kawat 0,3 mm dan berdiameter cincin 2,4 atau 6 sentimeter
pada cairan. Cincin tersebut kemudian diangkat melewati permukaan cairan
yang diukur. Tegangan permukaan memberikan gaya pada cincin sehingga
berat cincin meningkat. Gaya vertikal maksimum yang diberikan untuk
mengangkat cincin hingga terlepas dari permukaan cairan itulah yang diukur
sebagai nilai tegangan permukaan (Farn, 2006).
Pengukuran tegangan permukaan pada penelitian ini menggunakan
faktor tiga tahapan proses dan konsentrasi dengan empat taraf yaitu 0,1%;
0,3%; 0,5% dan 1%. Dari hasil analisa statistik diperoleh gambaran bahwa
sampel yang diuji memiliki nilai tegangan permukaan terendah sebesar 35,33
dyne/cm dan tegangan permukaan tertinggi adalah 47,17 dyne/cm. Nilai
33 terendah tersebut diperoleh pada perlakuan tahapan proses BleachingNetralisasi dengan konsentrasi sebesar 1%, sedangkan nilai tertinggi diperoleh
pada perlakuan tahapan proses MESA (tanpa bleaching-netralisasi) dengan
konsentrasi sebesar 0,1%.
Dari hasil analisa keragaman (ANOVA) dengan selang kepercayaan
95% (α = 0,05) diketahui bahwa faktor tahapan proses dan konsentrasi
surfaktan berpengaruh nyata terhadap nilai tegangan permukaan sedangkan
interaksi antara kedua faktor tersebut tidak memberikan pengaruh yang nyata
terhadap nilai tegangan permukaan.
Uji lanjut Duncan dilakukan untuk melihat apakah setiap taraf dari
faktor tahapan proses dan konsentrasi surfaktan berbeda secara signifikan atau
tidak. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa faktor tahapan proses
bleaching-netralisasi berbeda nyata dengan MESA tetapi tidak berbeda nyata
dengan tahapan proses netralisasi. Hasil uji lanjut Duncan terhadap
konsentrasi surfaktan menunjukkan konsentrasi 1% berbeda secara nyata
dengan konsentrasi 0,1% namun tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 0,3%
dan 0,5 %. Analisis keragaman dan uji lanjut Duncan dapat dilihat pada
Lampiran 6. Hasil disajikan dalam bentuk histogram seperti yang ditampilkan
pada Gambar 15 berikut.
Gambar 15. Histogram pengaruh konsentrasi surfaktan dan tahapan proses
terhadap nilai tegangan permukaan (MESA= Tanpa bleaching dan
netralisasi, N= Netralisasi, BN= Bleaching-Netralisasi)
34 Dari grafik histogram terlihat bahwa dengan semakin bertambah
konsentrasi surfaktan maka nilai tegangan permukaan juga semakin menurun.
Menurunnya tegangan permukaan ini diakibatkan oleh semakin banyaknya
molekul surfaktan. Semakin tinggi konsentrasi surfaktan maka semakin
banyak molekul surfaktan yang terbentuk.
Semakin banyak molekul surfaktan yang terbentuk dapat membuat
tegangan permukaan semakin menurun. Semakin banyaknya molekul
surfaktan, maka gaya kohesi air akan menurun. Molekul-molekul surfaktan
mempunyai kecenderungan untuk berada pada permukaan sebuah cairan.
Akibat dari adanya surfaktan adalah secara signifikan menurunkan jumlah
total kerja untuk memperluas permukaan karena molekulnya mengikat fasa
polar, yaitu air, dan non-polar, yaitu udara (Farn, 2006).
Gugus hidrofilik MES adalah gugus sulfonat. Menurut Myers (2006)
gugus ini merupakan gugus anionik. Gugus sulfonat yang berikatan dengan
metil ester inilah yang dapat menurunkan tegangan permukaan. Semakin
banyak gugus sulfonat yang bereaksi dengan metil ester, maka semakin
banyak molekul surfaktan yang terbentuk dan semakin tinggi kemampuannya
untuk menurunkan tegangan permukaan.
3. Nilai CMC
Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah menentukan critical
micelle concentration (CMC) dari MES yang dihasilkan. Pada konsentrasi
yang cukup tinggi, molekul-molekul surfaktan akan beragregat membentuk
sebuah struktur melingkar yang disebut micelle, sedangkan gugus hidrofilik
berorientasi keluar micelle. Agregasi molekul surfaktan didorong oleh adanya
gaya Van der Waals yang terjadi sepanjang ekor lipofilik dan gaya tolak ionik
dari gugus hidrofilik. Ilustrasi pembentukan micelle dapat dilihat pada Gambar
16. Pada kondisi tersebut konsentrasi surfaktan disebut dengan critical micelle
concentration (CMC).
Pada konsentrasi surfaktan dibawah CMC, tegangan permukaan dan
antar muka turun dengan meningkatnya konsentrasi, namun pada saat
konsentrasi mencapai taraf CMC atau lebih tinggi dari itu, tidak terjadi
35 penurunan tegangan permukaan dan antar muka atau penurunannya sangat
rendah (Schueller dan Romanousky, 1998). Grafik hubungan antara
konsentrasi surfaktan dengan tegangan permukaan dan antar muka cairan
disajikan pada Gambar 17.
micelle Gaya Van der Waals Gaya tolak ionik Gambar 16. Ilustrasi Pembentukan Micelle (Hargreaves, 2003)
CMC
Tegangan Permukaan Dan Antar muka Tegangan Permukaan Tegangan Antar muka Konsentrasi Surfaktan Gambar 17. Grafik Hubungan antara Konsentrasi Surfaktan dengan Tegangan
Permukaan dan Antarmuka Cairan (Tadros, 1992)
Pengukuran nilai CMC diperoleh dengan mengukur tegangan
permukaan. Surfaktan MES yang ditambahkan dengan berbagai konsentrasi
hingga tegangan permukaan tidak lagi mengalami penurunan dan stabil. Hasil
pengukuran tegangan permukaan pada surfaktan MESA memiliki nilai CMC
yaitu 2,75%, surfaktan MES (Netralisasi) yaitu 3,5% dan surfaktan MES
(Bleaching-Netralisasi) yaitu 2,6%. Hasil pengukuran CMC untuk surfaktan
MESA, Netralisasi dan Bleaching-Netralisasi dapat dilihat pada Gambar 18.
Data hasil pengukuran dapat dilihat pada Lampiran 7.
36 Gambar 18. Grafik tegangan permukaan surfaktan (MESA= Tanpa bleaching dan
netralisasi, N= Netralisasi, BN= Bleaching-Netralisasi)
4. Bahan aktif
Bahan aktif merupakan salah satu mutu yang dinilai dari banyak
surfaktan. Kinerja surfaktan mempunyai korelasi yang nyata pada kadar bahan
aktif. Semakin banyak bahan aktif sebuah surfaktan maka akan semakin baik
kinerjanya. Menurut Cox dan Weerasooriya (1997), Industri surfaktan
menjadikan pengujian bahan aktif sebagai salah satu standar kualitas untuk
menilai surfaktan lolos uji kualitas atau tidak.
Prosedur yang digunakan untuk menguji kadar bahan aktif yang
diterima secara universal adalah metode titrasi dua fasa, atau sering dikenal
dengan metode epton. Menurut Stache (1995) prinsip dasar dari uji ini adalah
titrasi bahan aktif anionik menggunakan cetylpiridinium bromide, yang
merupakan salah satu
adalah
jenis surfaktan kationik. Indikator yang digunakan
methylen blue. Campuran surfaktan dengan indikator ditambahi
kloroform sehingga tercipta dua fasa yaitu fasa kloroform di bagian bawah dan
fasa larutan surfaktan dan methylen blue yang berada di bagian atas. Bahan
aktif yang larut pada methylen blue akan memberikan warna biru pekat pada
larutan surfaktan. Langkah selanjutnya adalah dititrasi dengan surfaktan
kationik. Dalam proses titrasi ini warna biru akan berpindah ke fasa kloroform
hingga warna dua fasa tersebut seragam. Bila titrasi diteruskan maka fasa
kloroform akan menjadi lebih pucat lalu lama-kelamaan akan menjadi bening.
Dari hasil analisa keragaman (ANOVA) dengan selang kepercayaan
95% (α = 0,05) diketahui bahwa faktor tahapan proses berpengaruh nyata
terhadap nilai bahan aktif. Uji lanjut Duncan dilakukan untuk melihat apakah
setiap taraf dari faktor tahapan proses berbeda secara signifikan atau tidak.
37 Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa faktor tahapan proses Bleachingnetralisasi berbeda secara nyata dengan faktor yang lain (tahapan proses
MESA tanpa bleaching-netralisasi dan netralisasi) sedangkan tahapan proses
MESA tidak berbeda nyata dengan netralisasi. Histogram pengaruh tahapan
proses terhadap bahan aktif dapat dilihat pada Gambar 19. Analisis keragaman
dan uji lanjut Duncan dapat dilihat pada Lampiran 8.
Gambar 19. Histogram pengaruh tahapan proses terhadap bahan aktif (MESA=
Tanpa bleaching dan netralisasi, N= Netralisasi, BN= BleachingNetralisasi)
Dari hasil analisa statistik deskriptif diperoleh gambaran bahwa
sampel yang diuji memiliki nilai bahan aktif terendah sebesar 15,32 % dan
bahan aktif tertinggi yaitu 19,10 %. Nilai terendah tersebut diperoleh pada
perlakuan tahapan proses Bleaching-Netralisasi sedangkan nilai tertinggi
diperoleh pada perlakuan tahapan proses Netralisasi.
5. pH / Derajat Keasaman
Nilai pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk
menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu bahan.
pH didefinisikan sebagai ko-logaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang
terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara
eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala
pH bukanlah skala absolut. pH bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan
standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.
38 Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter Schott Instruments
handylab pH11/Set.
Dari hasil analisa keragaman (ANOVA) dengan selang kepercayaan
95% (α = 0,05) diketahui bahwa faktor tahapan proses berpengaruh nyata
terhadap nilai pH. Uji lanjut Duncan dilakukan untuk melihat apakah setiap
taraf dari faktor tahapan proses berbeda secara signifikan atau tidak. Hasil uji
lanjut Duncan menunjukkan bahwa faktor tahapan proses Netralisasi berbeda
secara nyata dengan faktor yang lain (tahapan proses MESA dan BleachingNetralisasi) sedangkan tahapan proses MESA tidak berbeda nyata dengan
Bleaching-Netralisasi. Histogram pengaruh tahapan proses terhadap nilai pH
dapat dilihat pada Gambar 20 sedangkan analisis keragaman dan uji lanjut
Duncan dapat dilihat pada Lampiran 9.
Gambar 20. Histogram pengaruh tahapan proses terhadap nilai pH (MESA=
Tanpa bleaching dan
netralisasi, N= Netralisasi, BN=
Bleaching-Netralisasi)
Dari hasil analisa statistik deskriptif diperoleh gambaran bahwa
sampel yang diuji memiliki nilai pH terendah 3,08 dan pH tertinggi adalah
6,84. Nilai terendah tersebut diperoleh pada perlakuan tahapan proses MESA
(tanpa bleaching-netralisasi) sedangkan nilai tertinggi diperoleh pada
perlakuan tahapan proses Netralisasi. Nilai pH yang mendekati netral pada
proses netralisasi dikarenakan penambahan NaOH. MES yang dihasilkan
diharapkan memiliki pH yan netral karena MES yang bersifat asam (MESA)
bersifat reaktif dan tidak stabil sehingga lama kelamaan akan mengurangi
kualitas surfaktan tersebut. Namun, proses netralisasi dapat menyebabkan
39 terbentuknya produk samping yang tidak diinginkan atau sering disebut disalt
(garam). Produk samping ini terbentuk karena proses sulfonasi dari metal ester
yang kurang sempurna sehingga tidak semua metil ester terkonversi menjadi
metil ester sulfonat. Sebenarnya kehadiran garam tidak diinginkan pada
pembentukan MES karena mampu menurunkan kelarutan MES dalam air
dingin, lebih sensitif terhadap air sadah, memiliki deterjensi 50% lebih rendah
dan menurunkan daya simpan produk.
6. Bilangan Iod
Bilangan iod merupakan parameter yang dijadikan detektor adanya
ikatan rangkap dalam suatu bahan. Adanya perubahan nilai bilangan iod
mengindikasikan bahwa diduga telah terjadi reaksi pada ikatan rangkap
tersebut. Terjadinya reaksi tersebut ditunjukkan dengan penurunan atau
meningkatnya nilai bilangan iod.
Bilangan iod menunjukkan banyaknya gram iodin yang diserap oleh
100 gram minyak atau lemak. Bilangan iod bergantung kepada komposisi
asam lemak penyusunan minyak/lemak ataupun produk turunannya. Asam
lemak yang tidak jenuh dalam minyak atau lemak mampu menyerap sejumlah
iod dan membentuk senyawa yang jenuh. Besarnya jumlah iod yang diserap
menunjukkan banyaknya ikatan rangkap atau tidak jenuh (Ketaren,1986).
Penetapan bilangan iod dilakukan untuk mengetahui keberhasilan adisi gugus
sulfat ke dalam rantai lemak dan membentuk gugus sulfonat.
Dari hasil analisa keragaman (ANOVA) dengan selang kepercayaan
95% (α = 0,05) diketahui bahwa faktor tahapan proses tidak berpengaruh
nyata terhadap nilai bilangan iod. Data analisis keragaman dapat dilihat pada
Lampiran 10. Dari hasil analisa statistik deskriptif diperoleh gambaran bahwa
sampel yang diuji memiliki nilai bilangan iod terendah sebesar 53,38 mg Iod/g
MES dan bilangan iod tertinggi yaitu 55,44 mg Iod/g MES. Nilai terendah
tersebut diperoleh pada perlakuan tahapan proses Bleaching-Netralisasi.
7. Analisa HLB
Hydrophile-Lipophile Balance (HLB) adalah ukuran empiris untuk
mengetahui hubungan antara gugus hidrofilik dan hidrofobik pada suatu
40 surfaktan. Sistem HLB digunakan untuk mengidentifikasi emulsifikasi
minyak dan air oleh surfaktan (Suryani et al,. 2002). Surfaktan dengan nilai
HLB rendah larut dalam minyak dan meningkatkan emulsi air dalam minyak
(W/O). Sebaliknya surfaktan dengan nilai HLB tinggi larut dalam air dan
meningkatkan emulsi minyak dalam air (O/W). Nilai HLB berkisar 1 hingga
20.
Penentuan nilai HLB pada penelitian ini menggunakan metode
bilangan air (water number methode) yaitu dengan cara membuat suatu kurva
hubungan nilai HLB dari bermacam-macam surfaktan yang telah diketahui
nilai HLB-nya dan air digunakan untuk titrasi. Surfaktan yang digunakan
untuk membentuk kurva dalam metode ini adalah asam oleat, “cocoamide”
DEA, dan polisorbat. Kurva yang diperoleh digunakan untuk interpolasi nilai
HLB surfaktan yang belum diketahui nilai HLB-nya (Gambar 21).
MES
Polisorbat DEA
Oleat Gambar 21. Kurva standar HLB (Suparman, 2010)
Fungsi surfaktan ditentukan dari nilai HLB dari surfaktan yang akan
digunakan. HLB (hydrophilic-lipophilic balance) merupakan ukuran afinitas
terhadap air dan minyak yang pertama kali dikemukakan oleh Griffin
(Suryani et al., 2000).
Dengan metode bilangan air, nilai HLB MES yang dihasilkan adalah
sebesar 10,4. Menurut Tadros (1992), nilai HLB ini menunjukkan bahwa
MES yang dihasilkan merupakan jenis pengemulsi O/W. Berdasarkan
apliksinya, nilai HLB menunjukkan bahwa aplikasi MES salah satunya
adalah cenderung mendekati aplikasi untuk deterjen.
41 V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Surfaktan Metil Ester Sulfonat (MES) dihasilkan dari proses sulfonasi
metil ester CPO dengan reaktan gas SO3 menggunakan reaktor STFR. MES yang
terbentuk diberi perlakuan bleaching dan netralisasi. Proses bleaching dan
netralisasi memberikan pengaruh pada karakteristik surfaktan MES dari CPO.
Hasil dari analisa MES menunjukkan bahwa metode proses berpengaruh nyata
terhadap nilai tegangan antar muka (IFT), tegangan permukaan, kadar bahan aktif,
dan pH, namun tidak berpengaruh nyata terhadap bilangan iod. Kondisi proses
terbaik didapatkan pada kondisi proses sulfonasi yang diikuti dengan proses
netralisasi.
Dari hasil analisa kinerja MESA, MESA yang dinetralisasi dan MESA
yang di bleaching dan netralisasi, diperoleh tegangan antar muka MES antara
0,0145 sampai 0,1438 mN/m (1,4 x 10-2 sampai 1,4 x 10-1 mN/m), tegangan
permukaan antara 35,33 sampai 47,17 dyne/cm, bahan aktif antara 15,32 %
sampai 19,10 %, bilangan iod antara 53,38 sampai 55,44 mg Iod/mg MES, CMC
antara 2,6 sampai 3,5% dan pH antara 3,08 sampai 6,84.
Tahapan proses terbaik untuk produksi MES didapat pada kondisi proses
netralisasi. Parameter utama penentuan kondisi terbaik didasarkan pada nilai
tegangan antarmuka terendah, nilai tegangan permukaan terendah, kadar bahan
aktif tertinggi, pH mendekati netral. Pada kondisi proses terbaik sifat fisiko-kimia
MESA yang dihasilkan adalah sebagai berikut: tegangan antar muka 0,0201
mN/m, tegangan permukaan 37,30 dyne/cm, bilangan iod 55,02 mg I2/g MES,
kadar bahan aktif 19,10 %, CMC 2,5%, pH sebesar 6,16 dan HLB sebesar 10,4.
B. SARAN
Dari penelitian ini dapat disarankan perlu adanya flowmeter yang
terpasang pada reactor STFR untuk pengukuran laju alir SO3 dan udara kering
serta laju alir bahan sehingga hasil lebih terkuantifikasi.
42 DAFTAR PUSTAKA
Baker, J. 1995. US Patent Process for Making Sulfonated Fatty Acid Alkyl Ester Surfactant. No.
5.475.134
Bernardini, E. 1983. Vegetable Oils and Fats Processing. Volume II. Interstampa, Rome.
Bird, T. 1993. Kimia Fisik untuk Universitas. Diterjemahkan oleh Kwee le Tjien. Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Boyd, C.E. 1982. Water Quality Management for Pond fish Culture. Elsevier
Cox, M.F and U. Weerasooriya. 1997. Methyl Ester Ethoxylates. J. of Am. Oil Chem. Soc. 74 (7)
: 847 – 859.
Darnoko, T. Herawan dan P. Guritno. 2001. Teknologi Produksi Biodiesel dan Prospek
Pengembangannya di Indonesia. WARTA PPKS Vol. 9 (1) : 17 – 27.
Farn, R.J. 2006. Chemistry and Technology of Surfactants.Oxford : Blackwell
Foster, N. C. 1996. Sulfonation and Sulfation Processes. In : Soap and Detergents : A
Theoretical and Practical Review. Spitz, L. (Ed). AOCS Press, Champaign, Illinois.
Gerpen, J.H.V., E..G. Hammond, L.A. Johnson, S.J. Marley, L. Yu, I. Li and A. Monyem. 1996.
Determining the influence of contaminants on Biodiesel Properties. Final report prepared
for The Iowa Soybean promotion Board. Iowa state University. 28 p.
Gerpen, J.V., B. Shanks, R. Pruszko, D. Clements and G. Knothe. 2004a. Biodiesel Production
Technology. National Renewable Energy Laboratory. Colorado. 106 p.
Hart, H., L.E. Craine, dan D.J. Hart. 2003. Kimia Organik: Suatu Kuliah Singkat. Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Hargreaves, T. 2003. Chemical Formulation: An Overview of Surfactant-Based Preparations
Used In Everyday Life. RSC Paperbacks, Cambridge.
Hovda, K. 1993. Methylester sulfonation: Process Optimization. Proceedings Porim
International Palm Oil Congress.
Hui, Y. H. 1996. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. Volume 3. Fifth Edition. John
Willey & Sons, Inc. New York.
Hui, Y. H. 1996. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. Volume 2. Fifth Edition. John
Willey & Sons, Inc. New York.
Jungermann, E. 1979. Fat-Based Surface-Active Agent. Bailey's Industrial Oil th and Fat
Products. Vol. I 4 editions. John Willey and Son, New York.
Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. UI Press, Jakarta.
Krisnangkura, K., dan Simamaharnnop, R. 1992. Continuous Transesterification of Palm Oil in
an Organic Solvent. JAOCS, Vol. 69, 166-169.
Lotero, E., Y.Liu, D.E. Lopez, K. Suwannakarn, D.A. Bruce and J.G. Goodwin Jr., 2004.
Synthesis
of
Biodiesel
via
Acid
Catalysis.
http://scienzechimiche.unipr.it/didattica/att/5dd4.5996.file.pdf (12 February 2007).
43
Mac.Arthur, B. W., B. Brooks., W. B. Sheats and N. C. Foster. 1998. Meeting the Challenge of
Methylester Sulfonation. http://www.chemithon.com
Matheson, K. L. 1996. Formulation of Household and Industrial Detergents. In : Soap and
Detergents : A Theoretical and Practical Review. Spitz, L. (Ed). AOCS Press,
Champaign, Illinois.
Matheson, K. L. 1996. Surfactant Raw Materials : Classification, Synthesis, and Uses. In :
Soap and Detergents : A Theoretical and Practical Review. Spitz, L. (Ed). AOCS Press,
Champaign, Illinois.
Meher, L.C., Dharmagadda, V.S.S., Naik, S.N. 2005. Optimization of alkali-catalyzed
transesterification of Pongamia pinnata oil for production of biodiesel. Article in press.
Myers, D. 2006. Surfactant Science And Technology . 3rd ed. New Jersey. John Wiley & Sons,
Inc
Parkinson, M. 1985. Bio-surfactants. Biotechnology. Adv. 3 : 65 – 83.
Pore, J. 1993. Oil and Fats Manual. Intercept Ltd, Andover, UK, Paris, New York.
Publishing Ltd.
Rieger, M. M. (Ed). 1985. Surfactant in Cosmetics. Surfactant science series, Marcel Dekker,
Inc. New York. 488 p.
Rosen, M.J., L. Fei, dan S.W. Morrall. 1999. Journal of Surfactants Detergents.
Sadi, S. 1993. Penggunaan Minyak Sawit dan Inti Sawit sebagai bahan Baku Surfaktan. Berita
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), 1 (1) : 57 – 63.
Sadi, S. 1994. Gliserolisis Minyak Sawit dan Inti Sawit dengan Piridin. Buletin PPKS. 2 (3) :
155 – 164.
Schuchard, U., R. Sercheli and R.M. Vargas. 1998. Transesterification of vegetable oils:
review. Journal of the Brazilian Chemical Society, 9 (3) : 199 – 210.
Schueller, R. and P. Romanousky. 1998. Cosmetics and Toiletries Magazine: Understanding
Emulsions. Allured Publishing Corp., Illinois. Scientific Publishing Company, New York.
Setyaningsih, D., E. Hambali, S. Yuliani, dan J. Sumangat. 2007. Peningkatan Kualitas
Biodiesel Jarak Pagar Melalui Sintesis Gliserol Eter sebagai Aditif, Proses Winterisasi
dan Isomerisasi. Laporan Akhir Tahun I. Kerjasama Kemitraan Penelitian Pertanian
antara Perguruan Tinggi dan badan Litbang Pertanian (KKP3T). Departemen Teknologi
Industri Pertanian, FATETA IPB, Bogor
Shaw, D. J. 1980. Introduction to Colloid and Surface Chemistry. Butterworhts. Oxford,
England.
Sheats, W. B. dan B. W. MacArthur.
http://www.chemithon.com
2002.
Methyl Ester Sulfonate Products.
Sheats, W.B. dan N.C. Foster. 2002. Concentrated Products From Methyl Ester Sulfonates.
www.chemithon.com. [5 September 2002].
44
Sherry, A.E., B.E. Chapman, M.T. Creedon, J.M. Jordan, dan R.L. Moese. 1995. Nonbleach
Process for the Purification of Palm C16-18 Methyl Ester Sulfonates. J. Am Oil Chem
Soc. 72 (7) : 835-841.
SNI 01-2901-2006 tentang minyak kelapa sawit mentah (CPO). 2006. Badan Standardisasi
Nasional. Jakarta.
SNI 04-7182-2006 tentang biodiesel. 2006. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.
Stache, H.W. 1995. Anionic surfactant: organic chemistry. In surfactant science series V. New
York : Marcel Dekker inc.
Steinfeld, J. I., J. S. Francisco dan W. L. Hase. 1989. Chemical Kinetics and Dynamics.
Prentice-Hall, Inc, New Jersey.
Suryani, A., I. Sailah. dan E. Hambali. 2003. Teknologi Emulsi. Jurusan Teknologi Industri
Pertanian, FATETA, IPB, Bogor.
Swern, D. 1979. Bailey’s Industrial Oil and Fat Products. Vol. I 4th Edition. John Willey and
Son, New York.
Tadros, T. F. 1992. Encyclopedia of Physical Science and Technology 2nd edition. Vol-16.
Academic Press, Inc., California
Watkins, C. 2001. All Eyes are on Texas. Inform 12 : 1152-1159.
Yamane, I. dan Y. Miyawaki. 1990. Manufacturing Process of α-Sulfo Methyl Esters and Their
Application to Detergent. Proc. Palm Oil Development Conference, Kuala Lumpur,
Malaysia.
Yuliasari, R., P. Guritno dan T. Herawan. 1997. Asam Lemak Sawit Distilat Sebagai Bahan
Baku Pembuatan Sabun Transparan. Indonesian J. of Oil Palm Research. 5 (3) : 205 –
213.
45
LAMPIRAN
Lampiran 1. Prosedur Analisis Karakteristik Sifat Fisiko-Kimia CPO
1. Kadar Air dengan Metode Karl Fischer (AOAC 1985)
Alat Karl Fischer dinyalakan, lalu botol titrasi diisi dengan larutan solven. Larutan kemudian
dinetralkan dengan larutan titran. Blanko dicari dengan cara menginjeksikan H2O ke dalam
pipet microsyringe 50 μL. Sampel ditimbang dengan botol timbang dan dipipet sebanyak 5 ml
dengan pipet tetes. Sampel yang ditimbang tadi dimasukkan ke dalam gelas titrasi yang telah
terdapat pada alat. Sampel dititrasi dengan larutan titran. Titrasi selesai apabila alarm alat
berbunyi. Hasil titrasi dibaca di layar sehingga diperoleh kadar air sampel. Kadar air dalam
sampel dapat dinyatakan dalam % atau ppm.
2. Asam Lemak Bebas (FFA) dan Bilangan Asam (SNI 01-2891-1992)
Sampel dipanaskan pada suhu 60°C sampai 70°C, lalu diaduk hingga homogen. Sampel
ditimbang sesuai tabel dibawah ini ke dalam erlenmeyer berukuran 250 ml.
% Asam lemak bebas
< 1,8
1,8 – 6,9
> 6,9
Berat contoh ± 10 % (g)
10 ± 0,02
5 ± 0,01
2,5 ± 0,01
Lalu ditambahkan dengan 50 ml etanol 95% netral. Larutan diaduk lalu ditambahkan 3-5 tetes
indikator PP (penolphtalein) 1 %. Larutan dititrasi dengan larutan standard KOH 0,1 N sambil
diaduk merata hingga muncul warna merah muda yang stabil (tidak berubah selama 30 detik).
Penggunaan ml larutan titar lalu dicatat. Analisa dilakukan sekurang-kurangnya duplo,
perbedaan antara kedua hasil uji tidak boleh melebihi 0,05. Kemudian dilakukan langkah
yang sama untuk blanko.
Perhitungan :
a. Bilangan Asam = V x N x 56,1
m
b. Asam Lemak Bebas (FFA) = M x V x N
10 m
Keterangan :
V
= volume KOH yang diperlukan dalam peniteran (ml)
N
= normalitas KOH
m
= bobot contoh (gram)
M = bobot molekul asam lemak
47 3. Bilangan Iod (AOAC, 1995)
Minyak yang telah disaring ditimbang sebanyak 0,5 gram di dalam erlenmeyer 250 ml,
kemudian ditambahkan 15 ml larutan karbon tetraklorida (atau 20 ml campuran 50%-v
sikloheksan – 50%-v asam asetat) dan kocok-putar labu untuk menjamin contoh minyak larut
sempurna ke dalam pelarut. Lalu ditambahkan 25 ml reagen Wijs dengan pipet seukuran dan
tutup labu. Kocok-putar erlenmeyer agar isinya tercampur sempurna dan kemudian segera
simpan di tempat gelap bertemperatur 25 + 5oC selama 1 jam.
Sebagian iodium akan dibebaskan dari larutan. Setelah penyimpanan, ke dalamnya
ditambahkan 10 ml larutan KI 15 %. Iod yang dibebaskan kemudian dititrasi dengan larutan
Na2S2O3 0,1 N sampai warna biru larutan tidak terlalu pekat. Selanjutnya ditambahkan
larutan kanji satu persen dan titrasi kembali sampai warna biru hilang. Blanko dibuat dengan
cara yang sama tanpa menggunakan minyak.
Bilangan Iod =
(B-S) x N x 12,69
G
Keterangan :
B
= ml Na2S2O3 blanko
S
= ml Na2S2O3 contoh
N
= normalitas Na2S2O3
G
= berat contoh
12,69 = berat atom iod/10
4. Bilangan penyabunan (SNI 01-2891-1992)
Sebanyak dua gram contoh ditimbang dan dimasukan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml.
Kemudian ditambahkan 25 ml KOH Alkohol 0,5 N dengan menggunakan pipet dan beberapa
butir batu didih. Erlenmeyer yang berisi larutan dihubungkan dengan pendingin tegak dan
dididihkan di atas penangas air selama satu jam. Lalu ditambahkan 0,5 – 1 ml fenolftalein ke
dalam larutan tersebut dan dititer dengan HCL 0,5 N sampai warna indikator berubah menjadi
tidak berwarna. Lakukan juga untuk blanko.
Perhitungan :
Bilangan Penyabunan = 56,1 x T x (V0 – V1)
m
Keterangan :
V0 = volume HCL 0,5 N yang diperlukan pada peniteran blanko (ml)
V1 = volume HCL 0,5 N yang diperlukan pada peniteran contoh (ml)
m = bobot contoh (gram)
48 5. Fraksi Tak Tersabunkan
Contoh yang telah diaduk ditimbang seberat 5 gram di dalam labu erlenmeyer atau botol
soxhlet. Lalu ditambahkan 30 ml alkohol 95% dan 5 ml larutan KOH 50%, kemudian
didinginkan di bawah pendingin tegak selama 1 jam atau sampai semua lemak tersabunkan
secara sempurna. Sabun yang terbentuk dipindahkan ke dalam labu ekstraksi, kemudian
dibilas dengan alkohol sampai batas 40 ml, lalu dibilas dengan air panas dan air dingin sampai
volume seluruhnya 80 ml. Botol bekas penyabunan dicuci dengan sedikit petroleum eter dan
dikembalikan ke dalam labu ekstraksi. Labu dengan isinya didinginkan sampai suhu kamar
(20-25oC), lalu ditambahkan 50 ml petroleum eter. Labu ditutup kemudian dikocok selama 1
menit, sambil mengeluarkan gas yang terbentuk selama pengocokan. Selanjutnya, labu
tersebut didiamkan sampai terbentuk dua lapisan cairan. Lapisan petroleum eter dialirkan dan
ditampung dalam corong pemisah 500 ml. Ekstraksi diulangi dengan 50 ml petroleum eter
sampai sedikitnya 6 kali sambil dikocok pada setiap kali ekstraksi.
Gabungan ekstrak ini dicuci tiga kali di dalam corong pemisah masing-masing dengan 25 ml
alkohol 10% sambil dikocok. Setelah pencucian, lapisan alkohol ini dibuang dengan hati-hati
sehingga lapisan petroleum eter tidak ada yang ikut terbuang. Ekstrak eter dipindahkan ke
dalam gelas piala, dan diuapkan sampai kering di atas penangas air. Pengeringan
disempurnakan sampai mencapai bobot tetap, dan sebaiknya dilakukan di dalam oven hampa
udara pada suhu 75-80oC. Kemudian didinginkan di dalam desikator dan ditimbang. Setelah
penimbangan, ampas (residu) ini dilarutkan dalam 50 ml alkohol 95% yang hangat (500C) dan
mengandung indikator phenolphtalein. Selanjutnya dititrasi dengan larutan NaOH 0,02 N
sampai terbentuk warna merah jambu.
Bobot asam lemak di dalam ekstrak (gram) sama dengan jumlah mililiter NaOH 0,02 N x
0,056.
Perhitungan :
Bahan tak tersabunkan =
( BR − BA) × 100%
B
Keterangan :
BR = Bobot residu (gram)
BA = Bobot asam lemak (gram)
B = Bobot contoh (gram)
0,056 = bobot NaOH/1000
49 6. Densitas (bobot jenis) berdasar SNI 01-2891-1992
Densitas merupakan perbandingan berat dari suatu volume sampel pada suhu 25oC dengan
berat air pada volume dan suhu yang sama. Peralatan yang digunakan adalah piknometer 5
ml.
Piknometer dibersihkan dengan cara dibilas dengan aseton kemudian dengan dietil eter.
Piknometer kosong diangkat, dikeringkan, dan ditimbang (W0). Piknometer yang bersih dan
kering diisi dengan air destilasi yang telah didihkan dan didinginkan pada suhu 20oC dan
piknometer disimpan dalam water bath (penangas air) pada suhu konstan 25oC selama 30
menit. Piknometer berisi air diangkat, dikeringkan, dan ditimbang (W1).
Piknometer dibersihkan dan dikeringkan. Sampel dimasukkan ke dalam piknometer hingga
meluap dan pastikan tidak terbentuk gelembung udara lalu ditutup. Keringkan pagian luar
piknometer, kemudian piknometer berisi sampel dimasukkan ke dalam penangas pada suhu
konstan 25oC selama 30 menit. Piknometer kemudian diangkat, dikeringkan, dan ditimbang
(W2).
Perhitungan:
Densitas = (W2-W0)
(W1-W0)
Keterangan :
W0 = bobot piknometer kosong
W1 = bobot piknometer beserta air
W2 = bobot piknometer beserta sampel
7. Komposisi Asam Lemak (AOAC, 1995)
Sebanyak 2 gram minyak ditambahkan ke dalam labu didih, kemudian ditambahkan 6-8 ml
NaOH dalam metanol, dipanaskan sampai tersabunkan lebih kurang 15 menit dengan
pendingin balik. Selanjutnya ditambahkan 10 ml BF3 dan dipanaskan kira-kira 2 menit..
Dalam keadaan panas ditambahkan 5 ml n-heptana atau n-heksana, kemudian dikocok dan
ditambahkan larutan NaCl jenuh. Larutan akan terpisah menjadi dua bagian. Bagian atas akan
dipindahakan ke dalam tabung reaksi yang sebelumnya telah diberi 1 gram Na2SO4. Larutan
tersebut siap diinjeksikan pada suhu detektor 230oC, suhu injektor 225oC, suhu awal 70oC,
pada suhu awal = 2 menit, menggunakan glass coloumn dengan panjang 2 meter dan diameter
2 mm, gas pembawa adalah helium dan fasa diam dietilen glikol suksinat. Jenis detektor yang
digunakan adalah jenis FID (Flame Ionization Detector).
50 Lampiran 2. Prosedur Analisis Metil Ester CPO
1. Uji Standar untuk Bilangan Asam (SNI 01-2891-1992)
Sampel alkil ester ditimbang 19 – 21 + 0,05 gram ke dalam labu erlenmeyer 250 ml.
Kemudian ditambahkan 100 ml pelarut alkohol 95% yang telah dinetralkan ke dalam labu
erlenmeyer tersebut. Dalam keadaan teraduk kuat, titrasi larutan isi labu erlenmeyer dengan
larutan KOH dalam alkohol sampai berwarna merah jambu dengan intensitas yang sama
seperti pada campuran pelarut yang telah dinetralkan di atas. Warna merah jambu ini harus
bertahan paling sedikit 15 detik. Volume titran yang dibutuhkan kemudian dicatat.
Perhitungan nilai bilangan asam sebagi berikut:
Angka asam (Aa) = 56,1 x V x N mg KOH/g biodiesel
m
Keterangan:
V = volume larutan KOH dalam alkhohol yang dibutuhkan pada titrasi (ml)
N = normalitas larutan KOH dalam alkohol
m = berat sampel alkil ester (gram)
2. Analisis Standar untuk Kadar Gliserol Total, Bebas, dan Terikat di Dalam Biodiesel
Ester Alkil: Metode Iodometri – Asam Periodat (SNI 04-7182-2006)
Analisis Kadar Gliserol Total
Sampel alkil ester ditimbang 9,9 – 10,01 gram ke dalam sebuah labu erlenmeyer.
Datambahkan 100 ml larutan KOH alkoholik, labu disambungkan dengan kodensor
berpendingin udara dan didihkan isi labu perlahan selama 30 menit untuk mensapinifikasi
ester-ester. Ditambahkan 91 + 0,2 ml kloroform dari sebuah buret ke dalam labu takar 1 liter.
Kemudian ditambahkan 25 ml asam asetat glasial dengan menggunakan gelas ukur.
Labu saponifikasi disingkirkan dari pelat pemanas atau bak kukus, bilas dinding dalam
kondensor dengan sedikit akuades. Kondensor dilepaskan dan dipindahkan isi labu
saponifikasi secara kuantitatif ke dalam labu takar dengan menggunakan 500 ml akuades.
Labu takar ditutup rapat dan isinya dikocok kuat-kuat selama 30-60 detik. Akuades
ditambahkan sampai ke batas takar, tutup lagi labu rapat-rapat dan dicampurkan baik-baik
isinya dengan membolak-balikkan dan sesudah dipandang tercampur dengan baik, biarkan
tenang sampai lapisan kloroform dan lapisan akuatik memisah sempurna.
Kemudian masing-masing dipipet 6 mllarutan asam periodat ke dalam 2 atau 3 gelas piala
400-500 ml dan disiapkan dua blanko dengan mengisi masing-masing 50 ml akuades. Lalu
dipipet 100 ml lapisan akuatik yang tela diperoleh ke dalam gelas piala berisi larutan asam
periodat dan kemudian gelas piala ini dikocok perlahan supaya isinya tercampur baik.
51 Sesudahnya, gelas piala ditutup dengan kaca arloji dan dibiarkan selama 30 menit. Jika
lapisan akuatik termaksud mengandung bahan tersuspensi, disaring terlebih dahulu sebelum
pemipetan dilakukan.
Ditambahkan 3 ml larutan KI, dicampurkan dengan pengocokan perlahan dan kemudian
dibiarkan selama sekitar 1 menit (tetapi tidak boleh lebih dari 5 menit) sebelum dititrasi.
Gelas piala yang isinya akan dititrasi ini tidak boleh ditempatkan di bawah cahaya terang atau
terpaa langsung sinar matahari. Isi gelas piala dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat yang
sudah distandarkan (diketahui normalitasnya). Titrasi diteruskan sampai warna cokelat iodium
hampir hilang. Setelah ini tercapai, ditambahakn 2 ml larutan indikator pati dan diteruskan
titrasi sampai warna biru kompleks iodium-pati persisi sirna. Buret titran dibaca sampai ke
keteliian 0,01 ml dengan bantuan pembesar meniskus. Dilakukan analisis blanko dengan
menerapkan langkah yang sama pada dua gelas piala berisi larutan blanko.
Analisis Kadar Gliserol Bebas
Sampel alkil ester ditimbang 9,9 – 10,1 + 0,01 gram dalam sebuah botol timbang. Sampel ini
dibilas ke dalam labu takar 1 liter dengan menggunakan 91 + 0,2 ml kloroform yang diukur
dengan buret. Ditambahkan kira-kira 500 ml akuades, ditutp rapat labu, dan kemudian
dikocok kuat-kuat selama 30-60 detik. Ditambahkan akuades sampai ke garis batas takar,
ditutup lagi labu rapat-rapat dan dicampurkan baik-baik isinya dengan membolakbalikkan,
dan sesudah dipandang tercampur dengan baik, dibiarkan tenang sampai lapisan kloroform
dan lapisan akuatik memisah sempurna.
Dipipet masing-masing 2 ml larutan asam periodat ke dalam 2 atau 3 gelas piala 400 – 500 ml
dan disiapkan dua blanko dengan mengisi masing-masing 100 ml akuades. Selanjutnya
dipipet 300 ml lapisan akuatik yang diperoleh tadi ke dalam gelas piala berisi larutan asam
periodat dan kemudian dokocok gelas piala ini perlahan supaya isinya tercampur baik.
Sesudahnya, gelas piala ditutup dengan kaca arloji dan dibiarkan selama 30 menit. Jika
lapisan akuatik termaksud mengandung bahan tersuspensi, sari dahulu sebelum pemipetan
dilakukan.
Larutan KI ditambahkan sebanyak 2 ml, dicampurkan dengan pengocokan perlahan dan
kemudian dibiarkan selama sekitar 1 menit (tetpi tidak lebih dari 5 menit) sebelum dititrasi.
Gelas piala yang isinya akan dititrasi ini tidak boleh ditempatkan di bawah cahaya terang atau
terpaan langsung sinar matahari. Isi gelas piala dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat yang
telag distandarkan (diketahu normalitasnya). Titrasi diteruskan sampai warna cokelat iodium
hampir hilang. Setelah ini tercapai, ditambahkan 2 ml larutan indikator pati dan diteruskan
titrasi sampai warna biru kompleks – pati persis sirna. Buret titran dibaca sampai ketelitian
52 0,01 ml dengan bantuan pembesar meniskus. Langkah-langkah tersebut diulangi untuk
mendapatkan duplo dan jika mungkin triplo. Analisis blanko dilakukan dengan menerapkan
langkah yang sama pada dua gelas piala berisi larutan blanko (yaitu akuades).
Perhitungan
Menghitung kadar gliserol total (Gttl, %-b) dengan rumus:
Gttl (%-b) = 2,302 (B-C) x N
W
dengan:
C = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi sampel, ml
B = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi blanko, ml
N = normalitas eksak larutan natrium tiosulfat
W = berat sampela x ml sampelb
900
Kadar gliserol bebas (Gttl, %-b) dihitung dengan rumus yang serupa dengan di atas, tetapi
menggunakan nilai-nilai yang diperoleh pada pelaksanaan prosedur analisis kadar gliserol
bebas. Kadar gliserol terikat (Gttl, %-b) adalah selisih antara kadar gliserol total dengan kadar
gliserol bebas Gikt = Gttl - Gbbs
3. Uji Standar Bilangan Penyabunan dan Kadar Ester
Sampel alkil ester ditimbang 4 – 5 + 0,005 gram ke dalam sebuah labu erlenmeyer 250 ml
berleher tebal. Kemudian ditambahkan 50 ml larutan KOH alkoholik dengan pipet yang
dibiarkan terkosongkan secara alami. Disiapkan dan dilakukan analisis blanko secara
serempak dengan analisis contoh alkil ester dengan langkah yang persis sama tetapi tidak
mengikutsertakan sampel alkil ester.
Labu erlenmeyer disambungkan dengan kondensor berpendingin udara dan didihkan perlahan
tetapi mantap, sampai contoh tersabunkan sempurna. Ini biasanya membutuhkan waktu 1 jam.
Larutan yang diperoleh pada akhir penyabunan harus jernih dan homogen. Jika tidak, waktu
penyabunan diperpanjang. Setelah labu dan kondensor cukup dingin (tetapi belum terlalu
dingin hingga membentuk jeli), dinding dalam kondensor dibilas dengan sejumlah kecil
aquades. Kondensor dilepaskan dari labu, lalu ditambahkan 1 ml larutan indikator
fenoplhtalein ke dalam labu. Isi labu kemudian dititrasi dengan HCl 0,5 N sampai warna
merah jambu persis sirna. Volume asam klorida yang dihabiskan untuk ditrasi kemudian
dicatat.
Angka penyabunan, As (%-b) = 56,1 (B – C) x N mg KOH/g biodiesel
m
53 Keterangan:
B = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi blanko (ml)
C = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi sampel (ml)
N = normalitas larutan HCl (0,5 N)
W = berat sampel alkil ester yang ditimbang untuk analisis (gram)
Nilai angka penyabunan yang dilaporkan harus dibulatkan sampai dua desimal (dua angka di
belakang koma). Kadar ester alkil ester selanjutnya dapat dihitung dengan rumus berikut:
Kadar ester (%-b) = 100 (As – Aa – 4,57Gttl)
As
Keterangan:
As = angka penyabunan yang diperoleh sebelumnya (mg KOH/g biodiesel)
Aa = angka asam berdasar prosedur FBI-A01-03 (mg KOH/g biodiesel)
Gttl = kadar gliserin total dalam biodiesel berdasar prosedur FBI-A02-03 (%-b)
4. Uji Standar untuk Bilangan Iod (FBI-A04-03)
Sampel alkil ester ditimbang 0,13 – 0,15 + 0,001 gram ke dalam labu iodium. Kemudian
ditambahkan 15 ml larutan karbon tetraklorida (atau 20 ml campuran 50%-v sikloheksan –
50%-v asam asetat) dan kocok-putar labu untuk menjamin contoh sampel larut sempurna ke
dalam pelarut. Lalu ditambahkan 25 ml reagen Wijs dengan pipet seukuran dan tutup labu.
Kocok-putar labu agar isinya tercampur sempurna dan kemudian segera simpan di tempat
gelap bertemperatur 25 + 5oC selama 1 jam.
Sesudah periode penyimpanan usai, labu diambil kembali, dan ditambahkan 20 ml larutan KI
serta kemudian 150 ml aquades. Sambil selalu teraduk baik, larutan uji dititrasi dengan larutan
natrium tiosulfat 0,1 N yang sudah distandarkan (diketahui normalitas yang tepat) sampai
warna cokelat iodium hampir hilang. Kemudian tambahkan 2 ml larutan indikator pati dan
titrasi diteruskan sampai warna biru kompleks iodium-pati persis sirna. Lalu dicatat volume
titran yang dihabiskan untuk titrasi. Dilakukan hal sama terhadap blanko, tanpa
mengikutsertakan sampel.
Angka iodium dihitung dengan rumus:
Angka iodium, Ai (%-b) = 12,69 (B – C) x N
W
Keterangan:
C = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi sampel (ml)
B = volume larutan natrium tiosulfat yang habis dalam titrasi blanko (ml)
54 N = normalitas larutan natrium tiosulfat (N)
W = berat sampel alkil ester yang ditimbang untuk analisis (gram)
5. Komposisi Asam lemak dalam Metil Ester
Sebanyak 2 gram minyak ditambahkan ke dalam labu didih, kemudian ditambahkan 6-8 ml
NaOH dalam metanol, dipanaskan sampai tersabunkan lebih kurang 15 menit dengan
pendingin balik. Selanjutnya ditambahkan 10 ml BF3 dan dipanaskan kira-kira 2 menit..
Dalam keadaan pans ditambahkan 5 ml n-heptana atau n-heksana, kemudian dikocok dan
ditambahkan larutan NaCl jenuh. Larutan akan terpisah menjadi dua bagian. Bagian atas akan
dipindahakan ke dalam tabung reaksi yang sebelumnya telah diberi 1 gram Na2SO4. Larutan
tersebut siap diinjeksikan pada suhu detektor 230oC, suhu injektor 225oC, suhu awal 70oC,
pada suhu awal = 2 menit, menggunakan glass coloumn dengan panjang 2 meter dan diameter
2 mm, gas pembawa adalah helium dan fasa diam dietilen glikol suksinat. Jenis detektor yang
digunakan adalah jenis FID (Flame Ionization Detector).
6. Kadar Air Metil Ester dengan Metode Karl Fischer (AOAC 1985)
Alat Karl Fischer dinyalakan, lalu botol titrasi diisi dengan larutan solven. Larutan kemudian
dinetralkan dengan larutan titran. Blanko dicari dengan cara menginjeksikan H2O ke dalam
pipet microsyringe 50 μL. Sampel ditimbang dengan botol timbang dan dipipet sebanyak 5 ml
dengan pipet tetes. Sampel yang ditimbang tadi dimasukkan ke dalam gelas titrasi yang telah
terdapat pada alat. Sampel dititrasi dengan larutan titran. Titrasi selesai apabila alarm alat
berbunyi. Hasil titrasi dibaca di layar sehingga diperoleh kadar air sampel. Kadar air dalam
sampel dapat dinyatakan dalam % atau ppm.
7. Densitas (SNI 01-2891-1992)
Densitas merupakan perbandingan berat dari suatu volume sampel pada suhu 25oC dengan
berat air pada volume dan suhu yang sama. Peralatan yang digunakan adalah piknometer 5
ml.
Piknometer dibersihkan dengan cara dibilas dengan aseton kemudian dengan dietil eter.
Piknometer kosong diangkat, dikeringkan, dan ditimbang (W0). Piknometer yang bersih dan
kering diisi dengan air destilasi yang telah didihkan dan didinginkan pada suhu 20oC dan
piknometer disimpan dalam water bath (penangas air) pada suhu konstan 25oC selama 30
menit. Piknometer berisi air diangkat, dikeringkan, dan ditimbang (W1).
Piknometer dibersihkan dan dikeringkan. Sampel dimasukkan ke dalam piknometer hingga
meluap dan pastikan tidak terbentuk gelembung udara lalu ditutup. Keringkan pagian luar
55 piknometer, kemudian piknometer berisi sampel dimasukkan ke dalam penangas pada suhu
konstan 25oC selama 30 menit. Piknometer kemudian diangkat, dikeringkan, dan ditimbang
(W2).
Perhitungan:
Densitas = (W2-W0)
(W1-W0)
Keterangan :
W0 = bobot piknometer kosong
W1 = bobot piknometer beserta air
W2 = bobot piknometer beserta sampel
atau
Densitas (25oC) = (Berat piknometer dan contoh) – (Berat piknometer)
Volume air pada 25oC (ml)
56 Lampiran 3. Prosedur Analisis Karakteristik MES
1. Densitas (SNI 01-2891-1992)
Densitas merupakan perbandingan berat dari suatu volume sampel pada suhu 25oC dengan
berat air pada volume dan suhu yang sama. Peralatan yang digunakan adalah piknometer 5
ml.
Piknometer dibersihkan dengan cara dibilas dengan aseton kemudian dengan dietil eter.
Piknometer kosong diangkat, dikeringkan, dan ditimbang (W0). Piknometer yang bersih dan
kering diisi dengan air destilasi yang telah didihkan dan didinginkan pada suhu 20oC dan
piknometer disimpan dalam water bath (penangas air) pada suhu konstan 25oC selama 30
menit. Piknometer berisi air diangkat, dikeringkan, dan ditimbang (W1).
Piknometer dibersihkan dan dikeringkan. Sampel dimasukkan ke dalam piknometer hingga
meluap dan pastikan tidak terbentuk gelembung udara lalu ditutup. Keringkan bagian luar
piknometer, kemudian piknometer berisi sampel dimasukkan ke dalam penangas pada suhu
konstan 25oC selama 30 menit. Piknometer kemudian diangkat, dikeringkan, dan ditimbang
(W2).
Perhitungan:
Densitas = (W2-W0)
(W1-W0)
Keterangan :
W0 = bobot piknometer kosong
W1 = bobot piknometer beserta air
W2 = bobot piknometer beserta sampel
2. Penentuan nilai pH (ASTM D 1172 – 95)
Metode ini digunakan untuk menganalisa derajat keasaman (pH) bahan yang dapat terlarut
dalam air.
Nilai pH dari larutan contoh ditentukan dengan pengukuran potensiometrik
menggunakan elektroda gelas dan pH-meter komersial.
Alat pH-meter disiapkan dan
dikalibrasi terlebih dahulu.
Kalibrasi dilakukan dengan menggunakan larutan buffer pH 4,0 (jika sampel yang dikur
bernilai asam). Elektroda kemudian dibilas dengan air bebas CO2 yang memiliki pH antara
6,5 sampai 7,0. Selanjutnya elektroda dicelupkan ke dalam larutan yang akan diukur. Nilai
pH dibaca pada pH-meter, pembacaan dilakukan setelah angka stabil. Elektroda kemudian
dibilas kembali dengan air bebas CO2. Pengukuran dilakukan dua kali. Apabila dari dua kali
pengukuran nilai yang terbaca mempunyai selisih lebih dari 0,2 maka harus dilakukan
pengulangan pengukuran termasuk kalibrasi.
57 Larutan yang akan diukur berasal dari 1 + 0,001 gram sampel dan diencerkan dengan air
dalam labu ukur 1 L. Labu dibolak balik agar sampel terlarut sempurna pada suhu 25oC +
2.0oC.
3. Pengukuran Viskositas
Pengukuran viskositas atau kekentalan sampel dilakukan dengan pengisian sampel ke dalam
gelas piala 250 ml. Penentuan nilai viskositas menggunakan viskometer Brookfield dengan
spindel nomor 1 pada putaran 50 rpm jika menggunakan Model RV atau 30 rpm jika
menggunakan Model LV viskometer.
Pastikan steker telah dipasang pada power supply. Tombol hitam pada viskometer digunakan
sebagai pengontrol on (ke kanan) untuk menyalakan, off untuk mematikan (ke kiri), atau
pause (tengah). Viskometer LV dapat diset untuk 4 macam spindel dengan kaki penahan yang
lebih sempit; viskometer RV diset untuk 7 macam spindel dengan wadah dengan kaki
penahan yang lebih lebar; HA dan HB viskometer diset untuk 7 macam spindel tanpa kaki.
Kecepatan (dalam rpm) diatur dengan tombol di bagian atas viskometer pada kecepatan yang
diinginkan.
Viskometer yang digunakan adalah viskometer LV dengan kecepatan 30 rpm. Jarum merah
untuk membaca skala dipastikan di titik nol. Gunakan tuas di belakang viskometer untuk
mengatur kemiringan sehingga jarum merah berhimpit pada titik nol. Spindel dipasang sesuai
kekentalan sampel. Makin kental sampel, makin kecil nomor spindel yang digunakan. Sampel
dimasukkan ke dalam gelas piala 100 ml. Kaki penahan diturunkan tetapi tidak sampai
menyentuh dasar gelas piala. Tombol kontrol ditekan on. Saat piringan skala berputar, skala
yang ditunjuk jarum merah dibaca pada putaran pertama. Tombol kontrol off setelah
pembacaan dan ditepatkan agar jarum merah dapat terhimpit kembali ke angka nol.
Viskositas (cP atau mPa.S) = Skala terbaca x Faktor
Ukuran kekentalan diperoleh dengan perhitungan di atas dan tabel berikut.
58 4. Penentuan Bahan Aktif Surfaktan Anionik Melalui Titrasi Kationik dengan Metode
Ephton
Surfaktan ditimbang 1 + 0,003 gram dengan neraca analitik dalam gelas piala 250 ml.
Tambahkan 30 ml aquades ke dalam gelas piala. Larutan dipanaskan di atas water bath
dengan suhu 100oC sampai larut semua. Setelah larutan dingin lalu ditambahkan indikator
phenoplthalein 3 tetes, kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N hingga berwarna merah
muda. Volume penitaran dicatat.
Larutan sampel kemudian diencerkan ke dalam labu ukur 1000 ml. Methylen blue dipipet
sebanyak 3 ml dengan pipet ukur ke dalam gelas ukur bertutup. Larutan sampel dipipet
sebanyak 5 ml dengan pipet gondok ke dalam gelas ukur bertutup. Larutan kloroform dipipet
10 ml dengan pipet gondok ke dalam gelas ukur sambil dibilas. Larutan dalam gelas ukur
dititrasi dengan n-Cetylpyridium Chloride hingga warna biru antara dua fase sama. Titrasi
diakhiri dan volume n-Cetylpyridium Chloride dicatat sebagai volume (V) kationik.
Bahan Aktif (%) = V kationik x faktor kationik x BM Surfaktan x 0.1
Berat sampel x 4.95
5. Pengukuran Tegangan Permukaan Metode Du Nuoy (ASTM D-1331.2000)
Peralatan dan wadah sampel yang digunakan harus dibersihkan
terlebih dahulu dengan
larutan asam sulfat-kromat dan dibilas dengan aquades, lalu dikeringkan. Cincin platinum
yang digunakan pada alat tensiometer dan mempunyai mean circumferense = 5.945.
Posisi alat diatur agar horizontal dengan water pass dan diletakkan pada tempat yang bebas
dari gangguan, seperti getaran, angin, sinar matahari dan panas. Surfaktan ditimbang
sebanyak x gram dan dilarutkan ke dalam y gram pelarut, hingga dihasilkan larutan surfaktan
dengan konsentrasi 10% (b/b). Larutan surfaktan dimasukkan ke dalam gelas piala dan
diletakkan di atas dudukan tensiometer. Suhu cairan diukur dan dicatat. Selanjutnya cincin
platinum dicelupkan ke dalam sampel tersebut (lingkaran logam tercelup ± 3 mm di bawah
permukaan cincin). Skala vernier tensiometer diatur pada posisi nol dan jarum penunjuk harus
berada pada posisi terhimpit dengan garis pada kaca. Selanjutnya kawat torsi diputar
perlahan-lahan sampai film cairan tepat putus, saat film cairan tepat putus, skala di baca dan
dicatat sebagai nilai tegangan permukaan.
6. Pengukuran Tegangan Antar Muka dengan Spinning Drop Interfacial Tensiometer
Prosedur ini digunakan jika pengujian tegangan antar muka dilakukan dengan menggunakan
alat spin drop tensiometer model TX-500D. Komputer yang telah tersambung dengan alat
spin drop tensiometer dinyalakan. Setelah komputer menyala, selanjutnya nyalakan alat spin
59 drop tensiometer dengan menekan tombol ON pada bagian belakang alat. Setelah komputer
dan alat menyala, program TX-500D dibuka. Program ini digunakan untuk mengukur IFT.
Pada program tersebut, suhu dan kecepatan rotasi diatur sesuai yang diinginkan, kemudian
tunggu sampai suhu mencapai pada angka yang diinginkan. Suhu yang digunakan adalah
70oC dan kecepatan 3000 rpm.
Selanjutnya adalah persiapan larutan surfaktan ke dalam tube. Surfaktan ditimbang sebanyak
x gram dan dilarutkan ke dalam y gram pelarut, hingga dihasilkan larutan surfaktan dengan
konsentrasi 1% (b/b). Sampel dimasukkan ke dalam tube dengan syringe yang tersedia.
Kemudian diinjeksikan minyak bumi sebanyak 2 μL (mikron liter) ke dalam tube yang sudah
berisi sampel surfaktan, kemudian tube ditutup. Dalam gelas tube tidak boleh ada gelembung
udara. Kemudian tube dimasukkan ke alat spin drop tensiometer dengan permukaan gelas
tube menghadap ke arah luar.
Setelah sampel siap, selanjutnya adalah proses kalibrasi alat. Kalibrasi dilakukan dengan cara
folder pada program diklik dan dipilih file 1.5 water. Kemudian klik open → tools→
calibration → 1.357 → klik gambar 1.5water → close. Setelah itu dimasukkan nilai
perbedaan densitas antara sampel (surfaktan) dan minyak pada kolom yang tersedia.
Setelah semuanya siap, klik ON pada program. Untuk mencari gambar minyak, klik M2 untuk
menjalankan kamera ke kiri atau kanan. Setelah gambar minyak diperoleh, klik start pada
camera’s time untuk memotret gambar di tiap menitnya sampai dianggap stabil. Setelah
selesai, klik OFF pada program kemudian hitung nilai IFT.
Selanjutnya perhitungan nilai IFT dilakukan. Caranya, klik icon database dan akan keluar
gambar-gambar yang telah dipotret sebelumnya. Pada gambar, klik pada ujung atas gambar
dan tarik ke ujung bawah gambar sehingga terbentuk garis vertikal, kemudian klik ujung
kanan gambar dan tarik garis sampai ujung kiri gambar sehingga terbentuk garis horizontal.
Hasil perhitungan nilai IFT akan diperoleh secara otomatis dari komposisi data perbedaan
densitas, garis vertikal, dan garis horizontal yang terbentuk. Akhirnya, data yang ada
dimasukkan ke dalam Ms. Excel. Untuk memindahkan data IFT ke MS. Excel, pada data
diklik kanan dan pilih copy data as clip board kemudian paste di MS. Excel. Nilai tegangan
antar muka dapat dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini.
IFT = 106π2Δρd3
8 n3 P2
Keterangan :
IFT
= nilai tegangan antar muka (dyne/cm)
Δρ
= perbedaan densitas larutan surfaktan dan densitas fluida minyak (g/cm3)
d
= lebar drop (cm)
60 n
= indeks bias larutan surfaktan
P
= kecepatan putar (msec)
7.
Penentuan nilai HLB
Nilai HLB digunakan untuk menentukan sifat kelarutan surfaktan APG di dalam air dan
menentukan aplikasi surfaktan berdasarkan nilai HLB yang dimiliki surfaktan APG.
Penentuan nilai HLB (Gupta et al. 1983 di dalam Kuang et al., 2000). HLB dari
surfaktan APG ditentukan menggunakan metode bilangan air (water number methode).
Larutan surfaktan APG yang mengandung 1 g surfaktan APG dalam 25 ml campuran piridina
dan benzena 95:5 (v/v) difiltrasi dengan aquades sampai kekeruhan permanen. Nilai HLB dari
sampel surfaktan APG diperoleh dengan interpolasi pada kurva standar HLB.
8.
Penentuan Nilai CMC
Nilai CMC (Critical Micelle Concentration) didapatkan dari pengukuran tegangan
permukaan atau tegangan antarmuka dari surfaktan MES. Nilai konsentrasi di saat tegangan
permukaan atau tegangan antarmuka surfaktan konstan maka nilai tersebut adalah nilai CMC.
Penentuan perbedaan antara berbagai konsentrasi tersebut dilakukan dengan uji statistika ttest.
CMC Tegangan Permukaan Dan Antar muka Tegangan Permukaan Tegangan Antar muka Konsentrasi Surfaktan 61 Lampiran 4. Hasil Analisa CPO dan Metil Ester dari CPO
Spesifikasi dari CPO (Crude Palm Oil)
Analisa
Nilai
Kadar Air (%)
0,16
Asam Lemak Bebas (FFA)
4,66
Bilangan Asam
9,26
Bilangan Iod
51,40
Bilangan penyabunan
206,44
Fraksi Tak Tersabunkan
0,50
Densitas (bobot jenis)
0,9097
Komposisi Asam Lemak
(%):
Laurat
(C14H24O2)
0,172
Miristat (C14H28O2)
1,967
Palmitat (C16H32O2)
42,631
Stearat (C18H36O2)
4,382
Oleat
(C18H34O2)
39,317
Linoleat (C18H32O2)
10,42
Linolenat (C18H30O2)
0,806
Spesifikasi Metil Ester dari CPO
Analisa
Nilai
Kadar Air (%)
0,1305
Asam Lemak Bebas (FFA)
0,16
Bilangan Asam
0,32
Bilangan Iod
38,66
Bilangan penyabunan
204,52
Densitas (bobot jenis)
0,8725
62
Lampiran 5. Hasil analisa tegangan antarmuka
Lampiran 5.a. Rekapitulasi data nilai tegangan antarmuka
Proses Konsentrasi
0,3%
1,0%
0,3%
1,0%
0,3%
1,0%
MESA
N
BN
IFT
Ulangan 1 Ulangan 2
0,1119
0,1385
0,0442
0,0697
0,0145
0,0226
0,0348
0,0201
0,1374
0,0428
0,1438
0,0740
Rerata
0,1252
0,0570
0,0185
0,0275
0,0901
0,1089
Lampiran 5.b. Analisa keragaman variabel respon nilai tegangan antarmuka
Sumber keragaman
Intersep (μ)
Proses (Ai)
Konsentrasi (Bj)
Interaksi(AiBj)
Kekeliruan
Jumlah
Db
JK
KT
F-hitung
F-Tabel
1
2
1
2
6
12
,061
,014
,001
,005
,008
,088
,061
,007
,001
,002
,001
5,987
5,463
0, 425
1,763
47,205
5,143
5,987
5,143
Signifikansi
(0,05)
,000
,045
,538
,250
Lampiran 5.c. Hasil Uji Lanjut Duncan terhadap tahapan proses (α = 0,05)
Perlakuan
Netralisasi
MESA
Bleaching-Netralisasi
N
4
4
4
Rata-rata
.023000
.091075
.099500
Kelompok duncan
A
B
B
Keterangan:
•
Huruf pengelompokan Duncan yang sama menunjukkan taraf tidak berbeda nyata
•
Huruf pengelompokan Duncan yang tidak sama menunjukkan taraf yang berbeda nyata
63
Lampiran 6. Hasil analisa tegangan permukaan
Lampiran 6.a. Rekapitulasi data nilai tegangan permukaan
Proses Konsentrasi
0,10%
0,30%
0,50%
1%
0,10%
0,30%
0,50%
1%
0,10%
0,30%
0,50%
1%
MESA
N
BN
Tegangan Permukaan
Ulangan 1 Ulangan 2
44,80
47,17
40,20
40,77
41,15
39,93
38,97
38,77
44,33
41,87
41,83
39,95
40,17
39,00
39,47
37,30
44,15
41,25
38,25
39,45
37,90
39,30
35,33
38,50
Rerata
45,98
40,48
40,54
38,87
43,10
40,89
39,58
38,38
42,70
38,85
38,60
36,92
Lampiran 6.b. Analisa keragaman variabel respon nilai tegangan permukaan
Sumber keragaman
Intersep (μ)
Proses (Ai)
Konsentrasi (Bj)
Interaksi(AiBj)
Kekeliruan
Jumlah
Db
JK
KT
F-hitung
F-Tabel
1
2
3
6
12
24
39188,271
19,491
112,350
5,915
22,488
39348.515
39188,271
9,746
37,450
0,986
1,874
2,091E4
5,200
19,984
0,526
4,747
5,143
3,490
2,996
Signifikansi
(0,05)
,000
,024
,000
,778
Lampiran 6.c. Hasil Uji Lanjut Duncan terhadap tahapan proses (α = 0,05)
Perlakuan
Bleaching-Netralisasi
Netralisasi
MESA
N
8
8
8
Rata-rata
39,2662
40,4900
41,4692
Kelompok duncan
A
AB
B
Lampiran 6.d. Hasil Uji Lanjut Duncan terhadap Konsentrasi (α = 0,05)
Perlakuan
1%
0.5%
0.3%
0.1%
N
6
6
6
6
Rata-rata
38,0561
39,5750
40,0750
43.9278
Kelompok duncan
A
AB
B
C
Keterangan:
•
Huruf pengelompokan Duncan yang sama menunjukkan taraf tidak berbeda nyata
•
Huruf pengelompokan Duncan yang tidak sama menunjukkan taraf yang berbeda nyata
64
Lam
mpiran 7. Hasil analisaa nilai CMC
C
Lamppiran 7.a. Rekapitulasi
R
data nilai CMC
C
Sam
mpel MESSA1 MESSA2 Konseen‐
trasii 1% 0,1
0,3
3% 0,5
5% 1,0
0% 2,0
0% 2,5
5% 3,0
0% 4,0
0% 0,1
1% 0,3
3% 0,5
5% 1,0
0% 1,5
5% 2,0
0% 2,5
5% 3,0
0% 4,0
0% 5,0
0% Rataan 44,80 39,83 41,47 38,97 38,17 37,40 37,20 37,13 47,17 40,77 39,93 38,77 37,37 37,10 37,00 36,40 35,60 36,20 Sampel N1 N2 Konsen‐
trasi Rataan 0,1%
0,3%
0,5%
1,0%
1,5%
2,0%
3,0%
4,0%
4,2%
4,5%
5,0%
6,0%
0,1%
0,3%
0,5%
1,0%
1,5%
2,0%
2,2%
2,5%
2,7%
3,0%
4,0%
44,33 41,83 40,17 39,47 38,53 38,83 36,80 36,00 36,00 35,80 35,60 35,60 41,87 39,53 39,00 37,30 37,33 36,43 35,27 35,90 35,90 35,77 35,53 Sampel Konsen‐
trasi BN1 BN2 0,1% 0,3% 0,5% 1,0% 2,0% 3,0% 3,5% 4,0% 5,0% 6,0% 0,1% 0,3% 0,5% 1,0% 1,5% 1,7% 1,8% 1,9% 2,0% 3,0% Rataan
44,15
5
38,25
5
37,30
0
36,35
5
36,05
5
35,35
5
34,55
5
34,70
0
34,15
5
34,90
0
41,25
5
39,45
5
39,30
0
38,50
0
37,95
5
37,00
0
37,30
0
37,10
0
36,95
5
36,95
5
Lamppiran 7.b. Penyajian
P
daata nilai CM
MC dalam beentuk grafikk (dua ulanggan)
655
Lampiran 8. Hasil analisa kadar bahan aktif
Lampiran 8.a. Rekapitulasi data nilai kadar bahan aktif
Proses MESA N BN Bahan Aktif Rerata
Ulangan 1 Ulangan 2 19,08
18,09 18,59
18,60
19,10 18,85
15,41
15,32 15,37
Lampiran 8.b. Analisa keragaman variabel respon nilai kadar bahan aktif
Sumber keragaman
Intersep (μ)
Proses(Ai)
Kekeliruan
Jumlah
Db
JK
KT
1
2
3
6
1858,560
15,056
,619
1874,235
1858,560
7,528
,206
F-hitung F-tabel Signifikansi
(0,05)
9,006E3 10,127
,000
9,552
36,479
,008
Lampiran 8.c. Hasil Uji Lanjut Duncan terhadap tahapan proses (α = 0,05)
Perlakuan
Bleaching-Netralisasi
MESA
Netralisasi
N
2
2
2
Rata-rata
15,365
18,585
18,850
Kelompok duncan
A
B
B
Keterangan:
• Huruf pengelompokan Duncan yang sama menunjukkan taraf tidak berbeda nyata
•
Huruf pengelompokan Duncan yang tidak sama menunjukkan taraf yang berbeda nyata
66
Lampiran 9. Hasil analisa nilai pH
Lampiran 9.a. Rekapitulasi data nilai nilai pH
Proses MESA N BN Bahan Aktif Rerata
Ulangan 1 Ulangan 2 19,08
18,09 18,59
18,60
19,10 18,85
15,41
15,32 15,37
Lampiran 9.b. Analisa keragaman variabel respon nilai pH
Sumber keragaman
Intersep (μ)
Proses(Aj)
Kekeliruan
Jumlah
Db
JK
1
2
3
6
133,907
11,693
,781
146,380
KT
F-hitung F-tabel Signifikansi
(0,05)
133,907 514,209 10,127
,000
9,552
5,846
22,450
,016
,260
Lampiran 9.c. Hasil Uji Lanjut Duncan terhadap tahapan proses (α = 0,05)
Perlakuan
Bleaching-Netralisasi
MESA
Netralisasi
N
2
2
2
Rata-rata
3,0925
4,5775
6,5025
Kelompok duncan
A
A
B
Keterangan:
• Huruf pengelompokan Duncan yang sama menunjukkan taraf tidak berbeda nyata
•
Huruf pengelompokan Duncan yang tidak sama menunjukkan taraf yang berbeda nyata
67
Lampiran 10. Hasil analisa nilai bilangan iod
Lampiran 10.a. Rekapitulasi data nilai nilai bilangan iod
Proses MESA N BN Bilangan Iod Rerata
Ulangan 1 Ulangan 2 54,12
55,02 54,57
54,09
54,99 54,54
53,38
55,44 54,41
Lampiran 10.b. Analisa keragaman variabel respon nilai pH
Sumber keragaman
Intersep (μ)
Proses(Aj)
Kekeliruan
Jumlah
Db
JK
1
2
3
6
17825,860
0,029
2,932
17828,821
KT
F-hitung F-tabel Signifikansi
(0,05)
17825,860 1,824E4 10,127
,000
9,552
0,014
0,015
,985
0,977
68
Download