BAB 2 LANDASAN TEORI

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Teori-teori Dasar/Umum
2.1.1
Pengertian Sistem
Menurut O’Brien (2005: 22), sistem adalah kumpulan elemen-elemen
yang saling berhubungan atau berinteraksi membentuk satu kesatuan
yang utuh.
Menurut Whitten (2007: 7), sistem adalah sekelompok komponen
yang saling berkaitan dan bersama-sama memiliki berfungsi untuk
mencapai hasil yang diinginkan.
Menurut pengertian diatas, maka dapat dikatakan bahwa sistem adalah
kumpulan komponen atau elemen yang memiliki fungsi berbeda-beda,
namun dikarenakan fungsi yang berbeda tersebut, mereka saling berkerja
sama dan berinteraksi satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan
secara bersama-sama.
2.1.2
Pengertian Data
Menurut O’Brien (2005: 26), data adalah fakta-fakta mentah atau
pengamatan-pengamatan yang biasanya mengenai fenomena fisik atau
transaksi-transaksi bisnis.
7
8
Menurut Whitten (2007: 21), data adalah fakta mentah mengenai
orang-orang, tempat, kejadian dan sesuatu yang penting bagi organisasi.
Biasanya fakta tersebut belum memiliki arti.
Menurut Gary (2003: 8), data adalah bahan baku yang dibutuhkan
sistem informasi untuk diubah menjadi informasi yang berguna.
Berdasarkan pengertian diatas, data adalah fakta mentah yang belum
memiliki makna dan merupakan bahan baku untuk sistem informasi.
2.1.3
Pengertian Informasi
Menurut O’Brien (2005: 27), informasi adalah data yang telah diubah
menjadi konteks yang memiliki makna dan berguna bagi pengguna
tertentu.
Menurut Brian K.Williams (2007: 25), informasi adalah data yang
telah dirangkum atau dimanupulasi untuk digunakan dalam pembuatan
keputusan.
Menurut Rainer (2009: 6), informasi adalah data yang telah
diorganisir sehingga data tersebut memiliki makna dan nilai bagi
penerimanya.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dikatakan bahwa informasi
adalah data yang telah diolah, dirangkum sehingga memiliki arti dan
berguna bagi penerimanya dalam pembuatan keputusan.
9
2.1.4
Pengertian Sistem Informasi
Menurut Whitten (2007: 6), sistem informasi adalah suatu susunan
orang, data, proses dan teknologi informasi yang saling berinteraksi
untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan memberikan hasil
berupa informasi yang dibutuhkan untuk menunjang sebuah perusahaan.
Menurut O’Brien (2005: 6), sistem informasi dapat diorganisir dengan
sumber daya manusia, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan
komunikasi, dan data untuk dikumpulkan, diubah, dan informasi
disebarkan ke dalam sebuah organisasi.
Menurut Gary (2003: 4), sistem informasi merupakan kombinasi
antara teknologi informasi, sumber daya manusia dan data yang dikelola
untuk mendukung kebutuhan bisnis.
Menurut ketiga pengertian diatas, sistem informasi adalah kumpulan
dari beberapa komponen (orang, data, proses, teknologi informasi) yang
saling berinteraksi satu dengan yang lainnya untuk dikumpulkan,
diproses, disimpan dan menghasilkan informasi yang dapat bermanfaat
bagi suatu organisasi.
2.1.5
Pengertian Business Process
Menurut Whitten (2007: 21), business process adalah pekerjaan,
prosedur, dan aturan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas bisnis,
yang terlepas dari teknologi informasi yang digunakan untuk
mengotomatisasikan atau mendukung pekerjaan tersebut.
10
Proses bisnis merupakan kumpulan kegiatan dalam suatu organisasi
untuk mencapai tujuan. Kumpulan kegiatan tersebut dapat dikerjakan
secara berurutan atau paralel. dalam melaksanakan proses bisnis tersebut
melibatkan material berupa input yang akan diolah menjadi output.
Input
Proses
Output
Gambar 2.1 Proses Bisnis
2.1.6
Pengertian Business Function
Menurut Whitten (2007: 51), business function adalah sekelompok
proses terkait yang mendukung bisnis tersebut. Fungsi dapat diuraikan ke
dalam subfungsi lain dan akhirya melakukan melakukan tugas-tugas
tertentu.
2.1.7
2.1.7.1
Analisis dan Perancangan Sistem Informasi
Analisis Sistem
Menurut Whitten (2007: 160), analisis sistem adalah teknik
pemecahan masalah yang diuraikan suatu sistem menjadi bagianbagian komponen yang bertujuan untuk mengetahui seberapa baik
bagian-bagian komponen tersebut bekerja dan berinteraksi untuk
mencapai tujuannya.
11
Menurut Rainer (2009: 304), analisis sistem adalah pemeriksaan
masalah bisnis berupa rencana organisasi untuk menyelesaikannya
dengan bantuan sistem informasi.
Berdasarkan pengertian diatas, analisis sistem dapat diartikan
sebagai suatu teknik penyelesaian masalah dengan mengurai suatu
sistem ke berbagai komponen untuk mengetahui kinerja dan
interaksi
antar
masing-masing
komponen,
agar
komponen-
komponen tersebut dapat bekerja sesuang dengan tujuan yang
diharapkan organisasi.
2.1.7.2
Perancangan Sistem
Menurut Whitten (2007: 160), perancangan sistem adalah suatu
teknik pemecahan masalah yang saling melengkapi untuk analisis
sistem, yang memasangkan atau mengumpulkan kembali potongan
komponen sistem ke sistem yang lengkap. Dalam perancangan
sistem, dapat melibatkan penambahan, penghapusan dan pengisian
potongan relatif yang terdapat dalam sistem asli.
2.1.8
Object-Oriented Analysis and Design
Menurut Whitten (2007: 163), object-oriented analysis and
design adalah suatu kumpulan alat dan teknik untuk pengembangan
sistem yang akan memanfaatkan teknologi objek untuk membangun
sebuah sistem dan perangkat lunaknya.
12
Menurut Satzinger (2009: 60), object-oriented analysis and
design dibagi 2 yaitu object-oriented analysis (OOA) dan objectoriented design (OOD). Object-oriented analysis mendefinisikan
semua jenis objek yang melakukan kegiatan atau pekerjaannya
dalam sistem dan menunjukkan use case apa yang diperlukan untuk
menyelesaikan tugas yang berorientasi pada objek. Sedangkan
object-oriented design mendefinisikan semua jenis objek yang
diperlukan untuk berkomunikasi dengan orang-orang dan perangkat
dalam sistem, menunjukkan bagaimana objek tersebut beriteraksi
dalam menyelesaikan tugas-tugas dan memperbaiki definisi dari
masing-masing jenis objek sehingga dapat diimplementasikan
dengan bahasa atau lingkungan tertentu.
Gambar 2.2 Persyaratan model untuk pendekatan
tradisional dan pendekatan object-oriented
13
Berikut merupakan hubungan dalam model object-oriented:
Gambar 2.3 Hubungan dalam model object-oriented
2.1.8.1
Diagram UML
Menurut Whitten (2007: 371), UML (Unified Modelling
Language) adalah seperangkat konvensi yang digunakan untuk
menspesifikasikan atau menggambarkan sebuah sistem perangkat
lunak dalam objek tertentu.
Menurut Satzinger (2009: 547), pendekatan object-oriented
menyediakan UML diagram untuk permodelan dialog antara
pengguna dengan komputer.
1. Rich Picture
Menurut
Mathiassen
(2000:
26),
rich
picture
adalah
penggambaran secara informal yang menunjukkan pemahaman
ilustrasi dari suatu situasi.
2. Class Diagram
Menurut Satzinger (2009: 60), class diagram adalah model grafis
yang digunakan dalam pendekatan berorientasi objek untuk
menunjukkan kelas-kelas suatu objek yang ada di dalam sistem.
14
3. State Machine Diagram
Menurut Satzinger (2009: 242), state machine diagram adalah
diagram yang menunjukkan siklus dari suatu objek dalam bentuk
wilayah dan transisi.
4. Use Case Diagram
Menurut Satzinger (2009: 242), use case diagram adalah sebuah
diagram
untuk menunjukkan peran berbagai pengguna dan
bagaimana peran tersebut digunakan di dalam suatu sistem.
5. Use Case Description
Menurut Satzinger (2009: 126), use case description adalah daftar
langkah-langkah yang diperlukan dalam proses antara aktor dan
sistem.
Model sistem informasi yang melibatkan daftar sederhana,
misalnya daftar fitur, input, output, peristiwa, atau pengguna.
Daftar adalah bentuk model deskriptif atau naratif yang singkat,
spesifik, dan berguna.
6. System Sequence Diagram
Menurut Satzinger (2009: 242), system sequence diagram adalah
sebuah diagram yang menunjukkan urutan pesan diantara aktor
eksternal dan sistem selama suatu skenario.
Menurut Mathiassen (2000: 659), sequence diagram adalah
diagram UML dari model logika pada use case yang
menggambarkan interaksi pesan antara objek dalam urutan waktu.
15
7. Activity Diagram
Menurut Satzinger (2009: 141), acitivity diagram adalah sebuah
jenis dari digram alur kerja yang menggambarkan aktivitas
pengguna dan alur dari aktivitas yang berurutan tersebut.
2.1.8.2
System Definition
Menurut Mathiassen (2000: 24), system definition adalah
gambaran singkat dari suatu sistem komputerisasi yang dinyatakan
dalam bahasa alamiah.
2.1.8.3
Problem Domain
Menurut Mathiassen (2000: 6), problem domain adalah bagian
dari suatu konteks yang dikelola, dimonitor atau dikontrol oleh
sistem.
2.1.8.4
Application Domain
Menurut Mathiassen (2000: 6), aplication domain adalah sebuah
organisasi yang mengelola, memonitor, atau mengendalikan problem
domain.
2.1.8.4.1
Usage
Menurut Mathiassen (2000: 119), usage memiliki tujuan untuk
menentukan bagaimana aktor berinteraksi dengan sistem. Hasil dari
usage ini adalah untuk menggambarkan semua use case dan aktor.
Dalam hal ini, penggambaran harus didasarkan pada pemahaman
application domain.
16
Menurut Mathiassen (2000: 119), usage memiliki prinsip yaitu
menentukan application domain dengan use case, melakukan
evaluasi terhadap kolaborasi antara use case dengan pengguna, dan
melakukan penilaian terhadap perubahan dalam application
domain. Dengan melakukan penilaian ini, maka dapat dilakukan
perbaikan khususnya pada interface yang dibutuhkan.
Menurut Mathiassen (2000: 119-120), usage memiliki 2 konsep
yaitu actor dan use case. Actor adalah sebuah abstraksi dari
pengguna atau sistem lain yang berinteraksi dengan sistem target.
Use case adalah pola dari interaksi antara sistem dan aktor dalam
application domain.
2.1.8.4.2
Interface
Menurut
O’Brien
(2005:
705),
interface
adalah
suatu
pembatasan antara 2 sistem. Contohnya seperti pembatasan antara
komputer dengan peralatan periferalnya.
Menurut Mathiassen (2000: 151), interface adalah suatu fasilitas
yang membuat model sistem dan fungsi sistem tersedia untuk aktor.
Dari pengertian diatas, maka interface dapat dikatakan sebagai
penghubung antara 2 sistem atau pengguna dengan sistem yang
dapat membuat keduanya berinteraksi satu sama lain.
2.1.9
Blueprint
Menurut Larocca (1999: 96), Blueprint adalah salah satu alat
dokumentasi yang sangat berguna sebagai sumber informasi global
17
untuk mengimplementasikan ERP. Adapun tahapan yang dilakukan
yaitu:
a. Rencana pembaruan proyek
b. Dokumentasi yang lengkap dan telah disetujui
c. Hierarki proses bisnis dan perancangannya
d. Perancangan yang diusulkan
e. Identifikasi gap
f.
Penilaian organisasi dan perubahan proses bisnis
g. Konfirmasi pelaksanaan tanggal implementasi
Tujuan blueprint adalah proses perancangan usulan yang telah
disetujui dan perencanaan untuk diimplementasikan.
2.2
Teori-teori Khusus
2.2.1
2.2.1.1
ERP
Pengertian ERP
Menurut O’Brien (2005: 216), Enterprise Resource Planning
(ERP) adalah sistem lintas fungsi perusahaan yang digerakkan oleh
modul software suite terintegrasi yang mendukung proses bisnis
dasar internal perusahaan.
18
Menurut F. Monk dan J. Wagner (2009: 1), ERP adalah perangkat
lunak
inti
yang
digunakan
oleh
perusahaan
untuk
mengkoordinasikan informasi dalam setiap bidang bisnis. ERP
membantu mengelola proses bisnis perusahaan yang luas. ERP
software mendukung operasi yang efisien dari proses bisnis dengan
mengintegrasikan seluruh tugas-tugas bisnis yang terkait dengan
penjualan, pemasaran, manufaktur, logistik, akuntansi, dan staf.
Menurut Deloitte Consulting dalam buku Enterprise Resource
Planning (2005: 2), ERP adalah sistem yang memungkinkan
perusahaan untuk mengotomatisasi dan mengintegrasikan proses
bisnis, menghasilkan dan mengakses informasi secara real-time.
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ERP
adalah sistem yang mengintegrasikan proses bisnis dasar internal
perusahaan seperti penjualan, pemasaran, manufaktur, logistik, dan
staf sehingga dapat menghasilkan dan mengakses informasi secara
real-time.
2.2.1.2
Sejarah sistem ERP
Sebelum adanya sistem ERP, pada tahun 1960, kebanyakan
sistem masih berfokus pada pengendalian persediaan. Kemudian
pada tahun 1970, fokus tersebut bergeser kepada MRP (Material
Requirements Planning), yang digunakan dengan menerjemahkan
jadwal utama produk yang dibutuhkan dan Bill of Material (BOM)
untuk perencanaan, pengadaan komponen bahan baku, barang
setengah jadi, dan barang jadi.
19
Seiring berjalannya waktu, sistem MRP diperluas dengan
menambahkan alat bantu berupa sistem untuk perencanaan penjualan
dan produksi, jadwal pembuatan produk, proses pemesanan yang
dilakukan oleh konsumen. Pengembangan sistem ini, dikenal dengan
nama Close Loop MRP. Kemudian pada tahun 1980, sistem MRP
mengalami perluasan pada area fungsional Akuntansi Keuangan dan
manajemen sumber daya, yang dikenal dengan istilah MRP II.
Pada tahun 1990-an, sistem ERP diperluas pada integrasi semua
aliran informasi di dalam perusahaan, meliputi: akuntansi keuangan,
sumber daya manusia, manajemen rantai pasokan (Supply Chain
Management) dan informasi pelanggan.
Kemudian pada tahun 2000, sistem extended ERP (ERP II)
diluncurkan. Sistem ERP II ini merupakan perluasan dari fungsifungsi yang ada pada sistem ERP, yaitu mencakup fungsi-fungsi
yang dapat menjembantani komunikasi antara pelanggan dan
pemasok. Sistem ERP II bahkan berfokus pada optimasi seluruh
jaringan bisnis.
G
Gambar 2.4 Evolusi Sistem ERP
20
2.2.1.3
Konsep ERP
Menurut Santo (2009:28), konsep dasar ERP adalah:
a.
ERP terdiri atas paket software komersial yang menjamin
integrasi yang mulus atas semua aliran informasi di perusahaan.
b.
Sistem ERP adalah paket sistem informasi yang dapat
dikonfigurasi, yang mengintegrasikan informasi dan proses yang
berbasis informasi di dalam dan melintas area fungsional dalam
suatu perusahaan.
c.
ERP merupakan satu basis data, satu aplikasi di seluruh
enterprise.
2.2.1.4
Modul ERP
Salah satu peran sistem ERP adalah mendukung proses bisnis.
Menurut Motiwalla (2012: 84-85), ada 6 modul utama proses bisnis
yang dikelola oleh sistem ERP, yaitu:
a. Sales Order Processing
Pendapatan dari penjualan adalah sumber daya bagi organisasi
komersial. Modul penjualan mengimplementasikan fungsi
penempatan pesanan, penjadwalan pesanan, pengiriman, dan
faktur.
b. Purchasing
Modul pembelian mempercepat proses pembelian bahan baku
yang
diperlukan
dan
perlengkapan
lainnya.
Ini
21
mengotomatisasikan proses mengidentifikasi calon pemasok,
negosiasi harga, pemberian pesanan pembelian kepada pemasok,
dan proses penagihan. Modul pembelian terintegrasi dengan
modul pengendalian persediaan dan perencanaan produksi.
Modul pembelian sering diintegrasikan dengan perangkat lunak
manajemen rantai suplai dan business-to-business (B2B)
software web.
c. Production Planning
Modul
Produksi
membantu
dalam
perencanaan
dan
mengoptimalkan kapasitas produksi, suku cadang, komponen,
dan sumber daya material menggunakan data produksi historis
dan perkiraan penjualan.
d. Financial Accounting
Modul ini adalah inti dari seluruh sistem software ERP. Pada
modul ini
data keuangan dikumpulkan dari berbagai
departemen functional dan menghasilkan laporan keuangan.
e. Human Resources
Modul HR memanajemen sumber daya manusia dan modal
manusia. Modul ini secara rutin menjaga kelengkapan database
karyawan, termasuk informasi kontak, rincian gaji, absensi,
evaluasi kinerja, dan promosi.
22
2.2.1.4.1
Modul Financial Accounting
Salah satu modul ERP yaitu Financial Accounting. Dalam
modul ini terdapat 6 submodul (SAP AG, 2006: 32-384), yaitu:
1. General Ledger Accounting
Submodul ini membahas proses posting ke buku besar
(General Ledger) berdasarkan pencatatan jurnal. Sebuah buku
besar disimpan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan
untuk membuat laporan posisi keuangan dan laporan laba-rugi.
Setiap buku besar sudah diatur sesuai dengan daftar akun (Chart
of Accounts).
Akun yang diposting ke buku besar dikelompokkan
berdasarkan kelompok akun yang digunakan untuk mengatur
dan mengelola sejumlah besar akun-akun dalam buku besar.
Buku besar nantinya juga akan terhubung ke buku besar
pembantu secara real time. Adapun akun yang terhubung ke
buku besar pembantu adalah utang, piutang, aset.
Dalam master data buku besar umumnya terdapat referensi
dokumen, tanggal posting, jenis dokumen, dan saldo. Saldo
adalah total semua posting di akun baik debit atau kredit.
Laporan keuangan perusahaan dihitung dengan menggunakan
saldo tersebut.
2. Accounts Payable
Accounts Payable adalah salah satu submodul Financial
Accounting yang berkaitan dengan transaksi pembelian kredit.
23
Transaksi
tersebut
menghasilkan
utang.
Submodul
ini
terintegrasi ke modul Material Management, di mana pencatatan
jurnal dilakukan pada saat barang diterima oleh gudang (Goods
Receipt) dan penagihan (Invoice Verification), serta pembayaran
kepada vendor (Outgoing Payment).
Submodul ini juga merupakan salah satu buku besar
pembantu dalam General Ledger Accounting yang umumnya
memiliki master data Vendor, dokumen referensi yang berkaitan
dengan transaksi pembelian, dan saldo utang. Accounts Payable
juga menangani transaksi pembelian yang melibatkan mata uang
asing yang diubah menjadi mata uang lokal perusahaan.
Setiap akhir periode akuntansi, sistem akan melakukan proses
penutupan akun utang (closing operation). Proses ini dapat
dilakukan menurut permintaan pemerintah maupun perusahaan.
Adapun proses closing meliputi pemindahan saldo utang periode
yang bersangkutan ke periode berikutnya, konfirmasi saldo
utang, pengelompokan utang.
3. Accounts Receivable
Accounts Receivable berkaitan dengan piutang melalui
integrasi dengan Sales Order Management. Adapun proses
dalam Sales Management yang melibatkan pencatatan jurnal
adalah pada saat barang keluar (goods issue), mengirim faktur
ke pelanggan (billing), dan menerima pembayaran dari
pelanggan (Incoming Payment).
24
Untuk mengatasi pembayaran yang terlambat, maka terdapat
fungsi dunning untuk menganalisis tagihan yang belum lunas
pada saat jatuh tempo sesuai dengan jumlah tunggakan hari.
Tingkat dunning menentukan biaya dunning dan bunga yang
dikenakan. Dalam submodul ini juga terdapat batas kredit untuk
mencegah terjadinya penjualan yang jumlahnya berlebihan.
Sama seperti transaksi pembelian, sistem akan melakukan
proses penutupan akun piutang pada akhir periode akuntansi
yang bersangkutan. Bedanya dalam Accounts Receivable
terdapat penyesuaian terhadap piutang yang jatuh tempo untuk
mengantisipasi terjadinya piutang tak tertagih, dan piutang
direklasifikasi ke dalam kategori jangka pendek dan jangka
panjang untuk laporan keuangan.
Submodul ini juga merupakan salah satu buku besar
pembantu dalam General Ledger Accounting yang umumnya
memiliki master data Customer, dokumen referensi yang
berkaitan dengan transaksi penjualan, dan saldo piutang.
4. Asset Accounting
Submodul ini merupakan salah satu bagian dari buku besar
pembantu dalam general ledger accounting
yang berkaitan
dengan aset. Berbagai jenis posting untuk submodul tersebut
bisa terjadi karena transaksi pembelian dan penjualan aset,
perolehan dari produksi internal, penyesuaian, dan penyusutan.
Dalam master data aset, terdapat data utama yang menjadi
dasar
penghitungan
penyusutan,
yaitu
aset
yang
ingin
25
disusutkan, umur ekonomis, waktu penggunaan aset, biaya, dan
berapa lama aset tersebut telah digunakan. Dengan demikian,
Anda dapat menggunakan metode penyusutan yang berbeda
untuk proses bisnis berdasarkan kebutuhan pajak. Adapun akun
dalam buku besar yang digunakan untuk laporan keuangan:
berupa penyesuaian nilai aset pada laporan posisi keuangan,
beban penyusutan pada laporan laba/rugi.
Sama seperti modu subsidiary ledger lainnya, setiap akhir
tahun fiskal dilakukan proses closing. Dalam proses ini aset
tahun sebelumnya akan dipindahkan ke tahun fiskal yang baru.
Pada awal tahun fiskal baru, sistem akan membandingkan angka
transaksi dalam akuntansi aset dengan angka yang sesuai dalam
rekening G/L.
5. Bank Accounting
Transaksi dalam submodul Bank Accounting meliputi kas
kecil, pengeluaran dan penerimaan melalui cek atau transfer.
Transaksi akuntansi disimpan secara terpisah sesuai jenisnya
dalam jurnal dan diposting secara berkala ke buku besar. Dalam
melakukan posting transaksi tersebut, perlu diketahui tanggal
transaksi, saldo kas masuk-keluar awal dan akhir, jenis transaksi
yang melibatkan kas, seperti pembayaran tunai, penerimaan kas,
dan penerimaan cek.
Meskipun pelanggan dan pemasok pembayarannya dapat
dilakukan dengan menggunakan bank, pembayaran bank yang
26
masuk dan keluar tersebut tidak langsung ke rekening bank.
Sebaliknya, diposting ke rekening bank kliring. Rekening kliring
bank kemudian dilakukann saat memproses laporan dari bank.
Untuk transaksi menggunakan cek atau transfer, sistem akan
mengupdate buku besar pembantu bank dan bagian keuangan
akan memposting jumlah cek atau transfer tersebut ke akun cek
atau transfer yang masuk. Kemudian secara otomatis sistem
akan mengupdate data vendor atau customer sehingga utang
atau piutang yang belum lunas berstatus cleared.
6. Financial Statement
Submodul ini berkaitan dengan laporan keuangan. Tahap
pertama adalah melakukan proses closing buku besar, di mana
saldo akun pada periode yang bersangkutan dipindahkan ke
periode berikutnya. Ada dua laporan keuangan yang akan
dihasilkan, yaitu laporan laba rugi dan laporan posisi keuangan.
Pendapatan dan beban seringkali berasal dari periode yang
berbeda. Untuk alasan ini, pendapatan dan beban tersebut harus
diakui, sehingga terbagi atas periode terjadinya. Ada dua metode
dalam sistem untuk postingan tersebut:
a. Akrual
Beban atau pendapatan periode berjalan tidak diposting
sampai periode berikutnya, karena faktur belum dikirim atau
diterima.
b. Deferral
Beban atau pendapatan telah diposting pada periode berjalan
27
(faktur dikirim / diterima), tetapi transaksi bisnis yang
sebenarnya, atau bagian dari itu, biasanya terjadi setelah
periode mendatang.
Untuk menyusun laporan laba rugi, ada dua metode yang
digunakan, yaitu:
a. Periodik
Total biaya periode sebelumnya dibandingkan dengan total
biaya periode tahun yang bersangkutan. Biaya keseluruhan
untuk jangka waktu tertentu tercantum sesuai dengan jenis
beban. Berikut saldo ditambahkan di akun beban yang sama.
b. Harga pokok penjualan
Pendapatan
dikurang
harga
pokok
penjualan
untuk
menghitung laba kotor dan biaya-biaya.
2.2.1.5
Manfaat ERP
Menurut O’Brien, penerapan sistem ERP memiliki beberapa
manfaat, yaitu sebagai berikut:
a. Kualitas dan Efisiensi
Sistem ERP mengintegrasikan dan meningkatkan proses bisnis
internal perusahaan yang menghasilkan peningkatan signifikan
dalam kualitas dan efisiensi layanan pelanggan, produksi, dan
distribusi.
28
b. Penurunan Biaya
Sistem ERP menurunkan biaya pemrosesan transaksi, hardware,
software, serta karyawan IT jika dibandingkan dengan sistem
yang tidak terintegrasi.
c. Pendukung Keputusan
Sistem ERP dapat mempermudah tugas manajemen sehari-hari
dalam
pengambilan
keputusan
dan
melakukan
fungsi
manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pengawasan, dan pengendalian.
d. Kelincahan Perusahaan
ERP dapat menghilangkan perbedaan budaya antar departemen
sehingga data dapat diintegrasikan. Dengan demikian tanggung
jawab manajerial dan peran kerja menjadi lebih fleksibel, serta
menghasilkan struktur organisasi dan tenaga kerja yang leibh
adaptif yang dapat dengan lebih mudah memanfaatkan berbagai
peluang baru bisnis.
2.2.2
2.2.2.1
Akuntansi
Pengertian Akuntansi
Menurut Wild (2005: 4), Akuntansi adalah sistem informasi dan
pengukuran
yang
mengidentifikasi,
mencatat,
dan
29
mengkomunikasikan informasi yang relevan, handal, dan sebanding
mengenai kegiatan bisnis suatu perusahaan.
Menurut Weygandt (2011: 4), akuntansi adalah sistem informasi
yang mengidentifikasi, mencatat, dan mengkomunikasikan suatu
peristiwa ekonomi dari suatu perusahaan untuk pengguna.
Berdasarkan pengertian di atas, akuntansi dapat didefinisikan
sebagai sistem informasi yang mengidentifikasi, mencatat, dan
mengkomunikasikan peristiwa ekonomi sehingga menghasilkan
informasi yang relevan dalam suatu perusahaan.
2.2.2.2
Pengertian Akuntansi Keuangan
Menurut Williams (2005: 5), akuntansi keuangan adalah
informasi yang menjelaskan sumber daya keuangan, kewajiban, dan
kegiatan dari suatu entitas ekonomi (baik sebuah organisasi atau
individu).
Menurut Reeve (2009: 819), akuntansi keuangan adalah bagian
akuntansi yang berkaitan dengan pencatatan transaksi dengan
menggunakan prinsip akuntansi untuk bisnis atau unit ekonomi
lainnya dan dengan persiapan periodik berbagai pernyataan dari
catatan tersebut.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan
bahwa Akuntansi Keuangan adalah informasi akuntansi yang
berkaitan dengan pencatatan transaksi yang menjelaskan sumber
daya keuangan dan kegiatan dari suatu organisasi maupun individu.
30
2.2.2.3
IFRS
Untuk menghasilkan laporan keuangan berkualitas tinggi,
akuntan menyajikan laporan keuangan tersebut sesuai dengan
standar akuntansi. Standar akuntansi yang digunakan sekarang ini
adalah International Financial Reporting Standard (IFRS).
IFRS merupakan salah satu standar akuntansi keuangan yang
dikeluarkan oleh IASB (International Accounting Standards Board)
pada tahun 2003. Sekarang ini IFRS telah digunakan oleh lebih dari
115 negara (Weygandt:9).
Laporan
Keuangan
yang
menggunakan
standar
IFRS
memberikan informasi yang lebih baik kepada pengguna eksternal
pada kegiatan ekonomi perusahaan serta bagaimana perusahaan
dikelola beserta manajemen informasi. IFRS juga menyediakan
analisis kepada pengguna lain untuk melihat struktur laporan posisi
keuangan dan arus kas, dan meningkatkan konsolidasi laporan
keuangan serta tingkat transparansi.
IFRS umumnya menggunakan prinsip biaya (cost principle)
atau prinsip nilai wajar (fair value principle). Prinsip Biaya adalah
prinsip di mana
perusahaan mencatat aktiva sebagai biaya.
Sedangkan prinsip nilai wajar adalah prinsip bahwa aktiva dan
kewajiban harus dilaporkan sesuai dengan harga yang diterima untuk
menjual aktiva atau menyelesaikan kewajiban.
31
2.2.2.4
Siklus Akuntansi
2.2.2.4.1
Transaksi
Proses pencatatan dimulai dari menganalisis transaksi. Menurut
Weygandt (2011: 14), transaksi adalah peristiwa ekonomi suatu
bisnis yang dicatat oleh akuntan. Dan menurut Wild (2005:13), ada
dua jenis transaksi yaitu:
a.
Transaksi eksternal (External Transaction)
Transaksi eksternal adalah pertukaran nilai antara dua entitas
eksternal, yang menghasilkan perubahan dalam persamaan
akuntansi. Contoh: penjualan produk kepada pelanggan.
b. Transaksi internal (Internal Transaction)
Transaksi internal adalah pertukaran yang terjadi pada suatu
entitas dalam perusahaan, di mana mempengaruhi persamaan
akuntansi
dan
biasanya
antara
karyawan
perusahaan.
Contohnya adalah gaji karyawan yang dibayar oleh akuntan,
dan pengambilan pribadi.
Selain itu, suatu perusahaan dapat melakukan aktivitas yang
menyangkut valuta asing (foreign activities). Menurut Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 10, aktivitas dalam mata
uang asing dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melakukan
transaksi dalam mata uang asing atau memiliki kegiatan usaha luar
negeri (foreign operations).
Kegiatan usaha luar negeri adalah suatu anak perusahaan
(subsidiary), perusahaan asosiasi (associates), usaha patungan
32
(joint venture) atau cabang perusahaan pelapor, yang aktivitasnya
dilaksanakan di suatu negara di luar negara perusahaan pelapor.
Kegiata usaha tersebut dapat merupakan bagian integral dari suatu
perusahaan pelapor atau entitas asing.
Transaksi dalam mata uang asing adalah transaksi yang
didenominasi atau membutuhkan penyelesaian dalam suatu mata
uang asing, termasuk transaksi yang timbul ketika suatu
perusahaan:
a. membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya
didenominasi dalam suatu mata uang asing;
b. Meminjam (utang) atau meminjamkan (piutang) dana yang
didenominasi dalam suatu mata uang asing;
c. Menjadi pihak untuk suatu perjanjian dalam valuta asing yang
belum terlaksana; atau
d. Memperoleh atau melepaskan aktiva, dan menimbulkan atau
melunasi kewajiban, yang didenominasi dalam suatu mata uang
asing.
Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan
menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Selisih kurs
timbul apabila terdapat perubahan kurs antara tanggal transaksi dan
tanggal penyelesaian (settlement date) pos moneter yang timbul
dari transaksi dalam mata uang asing. Bila timbulnya dan
penyelesaian suatu transaksi berada dalam periode akuntansi yang
sama, maka seluruh selisih kurs diakui dalam periode tersebut.
33
Namun, jika timbulnya dan diselesaikannya suatu transaksi berada
dalam beberapa periode akuntansi, maka selisih kurs harus diakui
untuk
setiap
periode
akuntansi
dengan
memperhitungkan
perubahan kurs untuk masing-masing periode.
2.2.2.4.2
Jurnal
Transaksi dicatat secara kronologis dalam buku entri yang
menunjukkan efek debit dan kredit pada akun tertentu yang disebut
sebagai jurnal (Weygandt , 2011: 14). Akun adalah pencatatan
akuntansi yang menunjukkan peningkatan atau penurunan aktiva,
kewajiban, modal, pendapatan, dan beban tertentu (Wild, 2005:
49). Akun tersebut dicatat dalam format dasar yang disebut TAccount.
Gambar 2.5 Proses Pencatatan
Dalam jurnal, posisi debit berada di kiri, dan kredit di kanan.
Debit dan kredit menunjukkan pada sisi mana dalam T-Account
jumlah transaksi dicatat. Untuk setiap transaksi, jumlah di debit
harus sama dengan jumlah di kredit. Kesamaan nilai debit dan
kredit menyediakan dasar untuk pencatatan transaksi double-entry,
di mana dapat membantu memastikan keakuratan pencatatan.
34
Gambar 2.6 Posisi debit dan kredit dalam T-Account
Gambar 2.7 Summary Debit Credit Rules
2.2.2.4.3
Buku Besar
Dari jurnal, seluruh akun dikelompokkan dalam buku besar.
Buku besar menyimpan semua informasi mengenai perubahan
saldo akun di dalam satu tempat. (Weygandt: 58)
Gambar 2.8 Buku Besar
35
2.2.2.4.3.1 Buku Besar Pembantu
Menurut Weygandt (2011: E1-E3), buku besar pembantu
adalah sekelompok akun dengan karakteristik umum (misalnya,
semua akun piutang).
Ada dua jenis buku besar pembantu yang dikenal secara
umum, yaitu:
1. Buku
besar
pembantu
piutang
(atau
pelanggan),
mengumpulkan data transaksi dari masing-masing pelanggan.
2. Buku besar pembantu utang (atau kreditor), mengumpulkan
data transaksi dari masing-masing kreditor.
3. Buku besar pembantu aktiva mencatat semua transaksi yang
terjadi atas semua perkiraan yang berhubungan dengan aset
yang diklasifikasikan ke dalam debit dan kredit. Buku besar
pembantu ini berfokus pada aktiva tetap.
Pada akhir periode akuntansi, masing-masing buku besar
utama yang mengontrol saldo akun harus sesuai dengan saldo
dari masing-masing akun dalam buku besar pembantu yang
terkait.
Buku besar pembantu memiliki beberapa keunggulan:
1. Buku besar pembantu menunjukkan bahwa transaksi tunggal
akun mempengaruhi satu pelanggan atau satu kreditor,
sehingga memberikan informasi yang up-to-date mengenai
saldo rekening tertentu.
36
2. Buku besar pembantu membebaskan buku besar utama dari
detail yang berlebihan. Akibatnya, neraca saldo dari buku
besar utama tidak mengandung sejumlah besar saldo akun
perorangan.
3. Buku besar pembantu membantu menemukan kesalahan
dalam akun individu dengan mengurangi jumlah akun dalam
satu buku besar.
4. Buku besar pembantu memungkinkan suatu pembagian kerja
dalam posting. Satu karyawan dapat mem-posting ke buku
besar sementara karyawan lain melakukan posting ke buku
besar pembantu.
2.2.2.4.3.2 Pengertian Chart of Accounts
Menurut Reeve (2009: 52), Chart of Accounts adalah sebuah
daftar akun dalam buku besar.
Menurut Weygandt (2011: 60), Chart of Accounts adalah
daftar akun dan nomor akun yang diidentifikasi dalam buku
besar.
Menurut Wild (2005: 52), Chart of Accounts adalah daftar
seluruh akun perusahaan yang menggunakan nomor identifikasi
yang diberikan ke masing-masing akun.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan
bahwa Chart of Accounts adalah daftar akun dan nomor akun
yang digunakan dalam suatu perusahaan.
37
2.2.2.4.3.3 Aktiva
Menurut Weygandt (2011: 12), Aktiva adalah sumber daya
yang
dimiliki
suatu
organisasi.
Organisasi
tersebut
menggunakan asetnya dalam melaksanakan kegiatan seperti
produksi dan penjualan. Karakteristik umum yang dimiliki oleh
semua aset adalah kemampuan untuk menyediakan pelayanan
atau manfaat di masa depan. Di dalam suatu bisnis, pelayanan
potensial atau manfaat ekonomi masa depan pada akhirnya akan
menghasilkan arus kas masuk (penerimaan kas). Aktiva
dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu aktiva lancar dan aktiva
tetap.
2.2.2.4.3.3.1
Aktiva Lancar
Menurut Weygandt (2011: 167), Aktiva Lancar adalah
aktiva yang diharapkan oleh perusahaan untuk dikonversi
menjadi kas atau digunakan dalam kurun waktu 1 (satu)
tahun. Berikut merupakan salah satu bagian dari aktiva
lancar:
2.2.2.4.3.3.1.1
Kas Kecil
Kas kecil (petty cash) adalah dana kas yang digunakan
untuk pembayaran jumlah yang relatif kecil (Weygandt,
2011: 328).
Menurut Weygandt (2011: 315), pembayaran yang
menggunakan dana kas kecil tidak dicatat secara
38
langsung. Pencatatan akan terjadi ketika pengisian ulang
dana kas kecil.
2.2.2.4.3.3.1.2
Persediaan
Persediaan adalah barang dagang yang dimiliki
perusahaan dagang untuk dijual kepada pelanggan.
Menurut Weygandt (2011: 201), perusahaaan memiliki
salah satu dari dua sistem untuk pencatatan persediaan
yaitu sistem perpetual atau sistem periodik.
Sistem persediaan perpetual mencatat detail dari setiap
harga pokok pembelian dan penjualan persediaan.
Pencatatan
dilakukan
menunjukkan
secara
persediaan
terus-menerus
yang
tersedia
untuk
dalam
perusahaan.
Sistem persediaan periodik tidak mencatat detail
pencatatan persediaan barang yang tersedia sepanjang
periode yang bersangkutan (Weygandt, 2011: 202).
Sebaliknya,
sistem
ini
menentukan
harga
pokok
penjualan hanya pada akhir periode akuntansi yaitu
secara periodik. Sistem ini membutuhkan perhitungan
fisik persediaan untuk menentukan harga pokok barang
yang dimiliki.
Berikut ini merupakan metode arus biaya untuk
persediaan, dalam arus biaya ini tidak berkaitan dengan
arus fisik barang (Weygandt, 2011: 255). Terdapat 2
metode yaitu:
39
a) First-in, first-out (FIFO)
Menurut Weygandt (2011: 255-256), metode FIFO
mengambil barang yang paling awal dibeli sebagai
barang pertama dijual. Biaya barang yang paling awal
dibeli adalah yang pertama diakui dalam menentukan
harga pokok penjualan. Ini bukan berarti bahwa barang
yang tertua yang dijual pertama, tapi barang tertua yang
diakui pertama.
b) Avarage-cost
Menurut Weygandt (2011: 257), metode average-cost
mengalokasikan harga pokok barang yang tersedia untuk
dijual berdasarkan rata-rata biaya unit/barang yang
dikeluarkan.
Menurut SAP AG (2003: 276), Terdapat 2 dalam
pencatatan nilai persediaan untuk proses pembelian,
yaitu:
a) Standard Price
Harga yang ditetapkan secara tetap dan akan muncul
perbedaan harga dengan harga yang sesungguhnya.
b) Moving Average Price
Harga yang dihitung berdasakan rata-rata dari total
harga dibagi dengan jumlah stok yang tersimpan.
2.2.2.4.3.3.2
Aktiva Tetap
Menurut Weygandt (2009: 388), Aktiva Tetap adalah
sumber daya yang memiliki 3 (tiga) karakteristik, yaitu
40
memiliki substansi fisik (ukuran dan bentuk yang pasti),
digunakan dalam operasi bisnis, dan tidak dijual ke
pelanggan. Aktiva ini diharapkan dapat menyediakan jasa
untuk perusahaan selama jumlah tahun tertentu, kecuali
untuk tanah. Hal ini dikarenakan tanah dapat digunakan
selamanya. Menurut Eipstain (2004:277-307), siklus aktiva
tetap terdiri dari:
1. Pengukuran awal
Semua biaya yang diperlukan harus dicatat sebagai biaya
perolehan aset tersebut. Contoh biaya tersebut termasuk
penjualan atau pajak, biaya pengangkutan, dan biaya
instalasi lainnya. Biaya tersebut tidak dibebankan pada
periode yang bersangkutan, karena mereka dianggap
menambah nilai aset dan merupakan pengeluaran yang
diperlukan untuk memperoleh aset. Pertama, biaya-biaya
ini bisa telah diperkirakan dan digunakan untuk
mengurangi nilai rsidual perkiraan aset, sehingga
meningkatkan biaya depresiasi periodik. Atau, estimasi
biaya bisa saja masih harus dibayar secara berkala,
dengan biaya untuk operasi saat ini dan kredit dengan
ketentuan untuk estimasi kewajiban tersebut.
41
2. Biaya yang terjadi sesudah membeli atau produksi
sendiri.
Biaya yang timbul setelah pembelian, seperti perbaikan,
pemeliharaan, atau perbaikan.Biaya dapat ditambahkan
ke nilai tercatat aset terkait hanya apabila kemungkinan
bahwa manfaat ekonomi masa depan di luar yang
awalnya diantisipasi untuk aset tersebut akan diterima
oleh entitas.
3. Penyusutan aset tetap
Biaya
aktiva
tetap
dialokasikan
untuk
masa
manfaatnya melalui penyusutan. Ini harus menghasilkan
alokasi sistematis dan rasional dari biaya aset selama
perkiraan umur manfaat aset.
Menurut Weygandt (2011: 392), penyusutan adalah
proses mengalokasikan biaya pada biaya aktiva tetap
selama masa manfaat nya (layanan) dengan cara yang
rasional dan sistematis. Alokasi biaya memungkinkan
perusahaan untuk mencocokkan pengeluaran dengan
pendapatan sesuai dengan beban yang diakui.
Penyusutan berlaku untuk tiga kelas aset:. Perbaikan
tanah, bangunan, dan peralatan. Setiap aset dalam kelas
ini harus didepresiasi karena kegunaan untuk perusahaan
dan pendapatan masing-masing aset akan menurun
selama umur ekonomis aset ini . Penyusutan tidak
42
berlaku untuk tanah karena fungsi dan pendapatan tanah
umumnya tetap utuh dari waktu ke waktu.
Gambar 2.9 Penyusutan Aktiva Tetap
Terdapat
tiga
faktor
yang
mempengaruhi
penghitungan penyusutan yaitu:
1.Biaya
Semua
pengeluaran
yang
diperlukan
untuk
memperoleh dan menggunakan aktiva tetap.
2.Umur ekonomis
Umur
ekonomis
adalah
perkiraan
dari
masa
produktivitas yang diharapkan pada aktiva tetap.
3. Nilai residu
Nilai residu adalah nilai aset pada akhir masa
pakainya.
43
Penyusutan dihitung menggunakan salah satu dari dua
metode ini:
a. Metode garis lurus
Dalam metode garis lurus, perusahaan membiayai
jumlah yang sama pada penyusutan untuk setiap tahun
umur ekonomis aktiva. Hal ini diukur semata-mata oleh
berlalunya waktu. Untuk menghitung beban penyusutan
menggunakan metode garis lurus, perusahaan perlu
menentukan biaya yang disusutkan. Biaya yang
disusutkan adalah biaya aset dikurangi nilai residu.
Dengan metode garis lurus, untuk menentukan beban
penyusutan tahunan, kita membagi biaya dengan umur
ekonomis aset. Adapun rumus metode ini adalah
sebagai berikut:
Beban _ penyusu tan_ pertahun =
Biaya _ penyusu tan − nilai _ residu
umur _ ekonomis(tahun)
Gambar 2.10 Metode Penyusutan: Garis Lurus
44
b. Metode saldo menurun
Metode
saldo
menurun
menghasilkan
beban
penyusutan per tahun selama umur ekonomis aktiva
tetap.
Metode
ini
dinamakan
demikian
karena
penyusutan periodik didasarkan pada nilai buku yang
menurun (biaya dikurangi akumulasi penyusutan) dari
aset. Dengan metode ini, perusahaan menghitung beban
penyusutan per tahun dengan mengalikan nilai buku
pada awal tahun dengan rata-rata saldo menurun. Ratarata saldo menurun tetap konstan dari tahun ke tahun,
tetapi nilai buku menurun setiap tahun.
Pada awal tahun pertama, nilai buku adalah biaya
aktiva tetap. Ini terjadi karena saldo dalam akumulasi
penyusutan pada awal umur ekonomis aktiva tetap
adalah nol. Dalam tahun-tahun berikutnya, nilai buku
adalah
perbedaan
antara
biaya
dan
akumulasi
penyusutan sampai saat ini.
Berbeda dengan metode penyusutan lainnya, metode
saldo menurun mengabaikan nilai sisa. Nilai sisa tidak
membatasi total penyusutan. Penyusutan berhenti
ketika nilai buku aktiva tetap sama dengan nilai sisa
yang diharapkan.
45
Berikut rumus untuk metode saldo menurun:
4. Pembuangan aset
Untuk aktiva tetap, akumulasi penyusutan harus
dihilangkan. Perbedaan antara nilai tercatat dan hasil
penerimaan akan diberikan pengakuan langsung dicatat
sebagai keuntungan atau kerugian akibat pembuangan
tersebut.Aset dan akun penyusutan terkait disesuaikan,
dan aset selanjutnya dibuang sebelum disusutkan secara
penuh. Keuntungan atau kerugian akan ditentukan oleh
perbedaan antara nilai buku bersih, berdasarkan nilai
historis, dan hasil dari pembuangan aset tersebut.
2.2.2.4.3.4 Pengertian Posting
Posting merupakan proses memindahkan nilai akun dari
jurnal ke buku besar (Weygandt, 2011: 60).
2.2.2.4.4
Penyesuaian
2.2.2.4.4.1 Dasar Penyesuaian
Penyesuaian dilakukan pada akhir periode akuntansi untuk
memastikan bahwa perusahaan mengikuti prinsip pengenalan
pendapatan dan beban. Jurnal penyesuaian memungkinkan untuk
46
melaporkan jumlah yang benar pada laporan posisi keuangan dan
laporan laba rugi.
Transaksi yang dicatat dalam jurnal belum tentu telah diperbarui
dan menyajikan data yang lengkap. Hal tersebut berlaku untuk
beberapa alasan sebagai berikut:
a. Beberapa transaksi yang tidak dicatat setiap hari karena
dianggap tidak efisien.
b. Beberapa biaya yang tidak tercatat selama periode akuntansi
karena jatuh tempo seiring berlalunya waktu sebagai akibat dari
transaksi harian.
c. Beberapa akun tidak tercatat.
Oleh karena itu, setiap perusahaan harus membuat jurnal
penyesuaian ketika hendak mempersiapkan laporan keuangan.
(Weygandt, 2011: 99).
2.2.2.4.4.2 Jenis-Jenis Jurnal Penyesuaian
Jurnal penyesuaian diklasifikasikan sebagai penangguhan
(deferrals)
atau
akrual
(accruals).
Keduanya
memiliki
subkategorinya masing-masing sebagai berikut:
Deferrals:
a. Beban-beban dibayar di muka, yaitu biaya-biaya yang dibayar
dan tercatat sebagai aktiva sebelum digunakan.
b. Pendapatan diterima di muka, yaitu uang yang diterima dan
tercatat sebagai kewajiban sebelum pendapatan diterima.
47
Accruals:
a. Pendapatan terutang, yaitu pendapatan yang telah diterima
namun belum tercatat.
b. Beban terutang, yaitu biaya yang dikeluarkan namun belum
dibayar dan dicatat.
2.2.2.4.5
Laporan Keuangan
2.2.2.4.5.1 Tujuan Laporan Keuangan
Menurut PSAK, tujuan laporan keuangan adalah untuk
menyediakan informasi yang berkaitan dengan posisi keuangan,
kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan
keputusan ekonomi.
2.2.2.4.5.2 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Ada empat karakteristik kualitatif pokok dalam menyusun
laporan keuangan, yaitu: dapat dipahami, relevan, keandalan,
dan dapat diperbandingkan.
a. Dapat dipahami
Pengguna
laporan
keuangan
diasumsikan
memiliki
pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan
bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari
informasi dengan ketekunan yang wajar. Namun bukan
berarti informasi yang kompleks dikeluarkan dari laporan
48
hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut
terlalu sulit dipahami untuk pemakai tertentu.
b. Relevan
Informasi memiliki kualitas yang relevan jika dapat
mempengaruhi
keputusan
ekonomi
pemakai
dengan
mengevaluasi peristiwa masa lalu, sekarang, dan masa
mendatang.
c. Keandalan
Keandalan berarti bebas dari pengertian yang menyesatkan,
kesalahan material, dan dapat digunakan oleh pemakainya
sebagai penyajian yang tulus dan jujur.
d. Dapat diperbandingkan
Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan
perusahaan agar dapat mengidentifikasi kecenderungan
posisi dan kinerja keuangan. Oleh karena itu, pemakai harus
mendapat informasi tentang kebijakan akuntansi yang
digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan
perubahan kebijakan serta pengaruhnya.
2.2.2.4.5.3 Unsur-unsur Laporan Keuangan
Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari
transaksi dan peristiwa lain yan diklasifikasikan dalam beberapa
49
kelompok besar menurut karakteristik ekonominya. Kelompok
besar ini merupakan unsur laporan keuangan.
Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran
posisi keuangan adalah aktiva, kewajiban, dan ekuitas.
a. Aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan
sebagai akibat dari peristiwa masa lalu, dan dari mana
manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh
perusahaan.
b. Kewajiban merupakan utang perusahaan masa kini yang
timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan
mengakibatkan arus keluar dasri sumber daya perusahaan
yang mengandung manfaat ekonomi.
c. Ekuitas adalah hak residual atas aset perusahaan setelah
dikurangi semua kewajiban.
Sedangkan unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinerja
dalam laporan laba rugi adalah pendapatan dan beban.
a. Pendapatan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu
periode akuntansi dalam bentuk pemasukan, penambahan
aset atau pengurangan kewajiban yang mengakibatkan
kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi
penanaman modal.
b. Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu
periode
akuntansi
berkurangnya
aset
dalam
bentuk
atau
terjadinya
arus
keluar
kewajiban
atau
yang
50
mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak meyangkut
pembagian kepada penanam modal.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2009: 1.9), Laporan
Keuangan yang lengkap terdiri atas komponen-komponen
berikut ini:
a. Laporan Laba/Rugi
Laporan laba rugi mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
1.
Pendapatan
2.
Laba Rugi Usaha
3.
Beban Pinjaman
4.
Bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan
asosiasi yang diberlakukan menggunakan metode
ekuitas.
5.
Beban Pajak
6.
Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan
7.
Pos luar biasa
8.
Hak minoritas, dan
9.
Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan
b. Laporan Laba Ditahan
Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas
sebagai
komponen
utama
laporan
keuangan,
menunjukkan:
1.
Laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan
yang
51
2.
Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau
kerugian beserta jumlahnya yang berdasarkan PSAK
terkait diakui secara langsung dalam ekuitas
3.
Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi
dan
perbaikan
terhadap
kesalahan
mendasar
sebagaimana diatur dalam PSAK terkait
4.
Transaksi modal dengan pemilk dan distribusi kepada
pemilik
5.
Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir
periode serta perubahnnya, dan
6.
Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing
jenis modal saham, agio, dan cadangan pada awal dan
akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah
setiap perubahan.
c. Laporan Posisi Keuangan
Laporan Posisi Keuangan (yang biasanya dikenal dengan
istilah Neraca) adalah laporan mengenai aset, kewajiban,
dan ekuitas perusahaan pada periode tertentu (Weygandt,
2011: 23).
Laporan Posisi Keuangan mencakup unsur-unsur sebagai
berikut:
1.
Aktiva berwujud
2.
Aktiva tidak berwujud
3.
Aktiva Keuangan
52
4.
Investasi yang diperlakukan menggunakan metode
ekuitas
5.
Persediaan
6.
Piutang Usaha dan Piutang Dagang
7.
Kas dan setara kas
8.
Utang Usaha dan Utang lainya
9.
Kewajiban diestimasi
10. Kewajiban berbunga jangka panjang
11. Hak minoritas
12. Modal saham dan pos ekuitas lainnya
d. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merangkum informasi mengenai aliran
uang masuk (penerimaan) dan arus kas keluar (pembayaran)
dari periode waktu tertentu.
2.2.2.4.6
Jurnal Penutup
Menurut Weygandt (2011: 155), Jurnal penutup adalah jurnal
yang dibuat pada akhir periode akuntansi yang berfungsi untuk
mentransfer saldo dari akun-akun sementara ke akun ekuitas yang
tetap (Retained Earnings). Semua akun sementara akan memiliki
saldo nol setelah posting ke jurnal penutup.
Akun income summary hanya digunakan saat penutupan
(closing). Perusahaan tidak akan membuat jurnal dan posting ke
dalam akun ini selama tahun berjalan.
53
2.2.2.4.7
Jurnal Pembalik
Menurut Weygandt (2011: 162), Jurnal pembalik adalah sebuah
jurnal, yang dibuat pada awal dari periode akuntansi berikutnya,
yang merupakan kebalikan dari jurnal penyesuaian yang telah
dibuat di periode sebelumnya.
2.2.2.5
2.2.2.5.1
Retur
Retur Pembelian
Pembeli yang merasa tidak puas dengan barang yang diterima
karena barang yang rusak atau cacat, berkualitas rendah, atau tidak
memenuhi spesifikasi pembeli dapat mengembalikan barang ke
penjual untuk dikredit jika penjualan dilakukan secara kredit, atau
untuk pengembalian uang tunai jika pembelian adalah pembelian
tunai. Transaksi ini dikenal dengan Retur Pembelian (Weygandt,
2011: 206).
2.2.2.5.2
Retur Penjualan
Penjual yang menerima barang rusak dikarenakan adanya
pembeli yang merasa tidak puas dengan barang rusak atau cacat,
berkualitas rendah, atau tidak memenuhi spesifikasi pembeli dapat
mengembalikan barang ke penjual. Penjual akan mendebit akun
jika penjualan dilakukan secara kredit, atau untuk pengembalian
uang tunai jika penjualan adalah penjulan tunai. Transaksi ini
dikenal dengan Retur Penjualan.
54
2.2.2.6
2.2.2.6.1
Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Pengertian Pajak Pertambahan Nilai
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan
atas setiap pembelian Barang Kena Pajak dan pemanfaatan Jasa
Kena Pajak baik di dalam wilayah Indonesia maupun dari luar
daerah Pabean.
2.2.2.6.2
Dasar Hukum
Undang-undang yang mengatur pengenaan Pajak Pertambahan
Nilai (PPN) adalah Undang-Undang Nomor 42 tahun 2009 tentang
Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah. (Mardiasmo, 2011: 274).
2.2.2.6.3
Tarif Pajak Pertambahan Nilai
Tarif PPN yang berlaku saat ini adalah 10% (sepuluh persen).
2.2.2.6.4
Cara Menghitung PPN
Cara menghitung PPN adalah sebagai berikut:
PPN = Dasar Pengenaan Pajak x Tarif Pajak
2.2.2.6.5
PPN Keluaran
PPN keluaran dinyatakan sebagai persentase dari harga jual.
Penjual mengumpulkan PPN Keluaran dari pelanggan ketika
penjualan terjadi dan mengirimkannya (seringkali bulanan) kepada
instansi pemerintah. Karena penjual saat ini berutang kepada
55
pemerintah, jumlah tersebut merupakan kewajiban lancar (Wild,
2005: 354).
2.2.2.6.6
PPN Masukan
Sama seperti PPN Keluaran, PPN masukan dinyatakan sebagai
persentase dari harga beli. Pembeli membayar PPN Masukan
kepada penjual ketika pembelian terjadi.
2.2.2.7
Piutang Tak Tertagih
Menurut Weygandt (2011: 350), piutang tak tertagih adalah
piutang yang tidak dapat dibayarkan oleh customer. Terdapat 2
metode pencatatan piutang tak tertagih yaitu:
1. Direct Write-Off Method
Dalam metode ini, akun yang menampung piutang tak tertagih
adalah beban piutang tak tertagih (Bad Debts Expense) hanya
akan menunjukkan kerugian yang sebenarnya dari piutang tak
tertagih tersebut. Perusahaan akan melaporkan piutang sebesar
jumlah brutonya. Jurnal yang akan timbul yaitu Bad Debts
Expense pada debit, dan Account Receivable (piutang) pada
kredit (Weygandt, 2011: 350).
2. Allowance Method
Metode ini melibatkan perkiraan piutang tak tertagih pada akhir
setiap periode. Piutang tak tertagih ini akan dilaporkan dalam
neraca untuk dilaporkan ke negara.
56
IFRS memerlukan metode penyisihan untuk tujuan pelaporan
keuangan saat kredit macet (Weygandt, 2011: 351). Metode ini
memiliki 3 fitur penting yaitu:
a. Perusahaan memperkirakan piutang tak tertagih dengan
membandingkan biaya dengan pendapatan pada periode
akuntansi yang sama ketika mencatat pendapatan tersebut.
b. Posisi debit diperkirakan beban piutang tak tertagih dan kredit
pada penyisihan piutang tak tertagih (Allowance for Doubtful
Account) sepanjang entri penyesuaian pada akhir bulan setiap
periode.
c. Ketika
penghapusan
mendebitkan
akun
penyisihan
tertentu,
piutang
maka
tak
perusahaan
tertagih
yang
sesungguhnya dan mengkreditkan piutang.
2.2.2.8
Syarat Pembayaran
Menurut NiBusinessInfo.co.uk, ada beberapa syarat pembayaran
yang biasanya digunakan yaitu:
1. 1/ 10 Net 30
1% diskon jika pembayaran diterima dalam waktu sepuluh hari.
Jatuh tempo pembayaran pembayaran maksimal 30 hari setelah
tanggal faktur.
2. COD (Cash on Delivery)
Transaksi yang dilakukan dengan pembayaran tunai.
Download