Uji Efektivitas Dekok Daun Anting-anting (Acalypha indica) Sebagai

advertisement
UJI EFEKTIVITAS DEKOK DAUN ANTING-ANTING
(Acalypha indica) SEBAGAI ANTIBAKTERI
TERHADAP BAKTERI Escherichia coli IN VITRO
Dinda Aini Soraya, Jln. Belakang RSSA G/67 Malang
E-mail: [email protected]
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
ABSTRAK
Soraya, Dinda Aini. 2005. Uji Efektivitas Dekok Daun Anting-anting (Acalypha
indica) Sebagai Antibakteri terhadap Bakteri Escherichia coli In Vitro.
Tugas Akhir, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Pembimbing:
(1) dr. Dwi Yuni Nur Hidayati, M.Kes. (2) dr. Aswin D. Baskoro, M.S.,
SpParK.
Diare sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan utama di
Indonesia. Salah satu penyebab diare adalah bakteri Escherichia coli. Antibakteri
memang telah memberikan kontribusi yang efektif terhadap kontrol infeksi
Escherichia coli, namun sejalan dengan penggunaannya, timbul permasalahan
resistensi. Obat-obatan antibakteri golongan baru yang dianggap sebagai solusi
permasalahan tersebut pada umumnya relatif mahal sehingga masyarakat pun
cenderung untuk beralih ke pengobatan alternatif yang memanfaatkan tanaman
tradisional. Salah satu tanaman tradisional yang banyak terdapat di Indonesia dan
dianggap memiliki khasiat obat adalah tanaman anting-anting (Acalypha indica).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dekok daun antinganting (Acalypha indica) sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli secara in
vitro. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan
menggunakan metode tube dilution test untuk mengetahui efektivitas dekok daun
anting-anting sebagai antibakteri pada bakteri Escherichia coli secara in vitro.
Isolat bakteri yang digunakan dalam penelitian ini adalah isolat Escherichia coli
dari spesimen feses yang dimiliki oleh Laboratorium Mikrobiologi Universitas
Brawijaya Malang. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan Kadar Hambat
Minimal sebesar 30 persen, sedangkan Kadar Bunuh Minimal sebesar 50 persen.
Uji statistik menunjukkan hubungan yang bermakna antara pemberian dekok daun
anting-anting dengan jumlah koloni bakteri Escherichia coli yang tumbuh.
Semakin besar konsentrasi dekok daun anting-anting maka semakin sedikit
jumlah koloni bakteri. Kesimpulan yang dapat diambil adalah dekok daun antinganting (Acalypha indica) terbukti efektif sebagai antibakteri terhadap Escherichia
coli secara in vitro dengan Kadar Hambat Minimal sebesar 30 persen dan Kadar
Bunuh Minimal sebesar 50 persen.
Kata kunci: Escherichia coli, antibakteri, dekok daun anting-anting.
1
ABSTRACT
Soraya, Dinda Aini. 2005. The Effectiveness test of Anting-anting (Acalypha
indica) Leaves Decoction as Antibacterial for Escherichia coli in Vitro.
Final Assignment, Medical Faculty of Brawijaya University. Supervisor:
(1) dr. Dwi Yuni Nur Hidayati, M.Kes. (2) dr. Aswin D. Baskoro, M.S.,
SpParK.
Today, diarrhea is still the major problem of health in Indonesia. One of
important source that cause diarrhea in Indonesia is Escherichia coli. Many
antibacterial that is known today, have already given effective contribution for
Escherichia coli infection control, but in its use, resistance problem appears. The
new product of antibacterial which is believed as solution of that problem have
expensive price in general so the society inclined to choose alternative medication
that is using traditional herbs. One kind of traditional herbs that can be found in
large amount in Indonesia and that is considered can be used as a drug is Antinganting herb (Acalypha indica). The aim of this research was finding the
effectiveness of Anting-anting (Acalypha indica) leaves decoction as antibacterial
for Escherichia coli in vitro. This research is laboratoric experimental with tube
dilution test method to find the effectiveness of Anting-anting leaves decoction as
antibacterial for Escherichia coli in vitro. The bacteria isolates which was used in
this research was Escherichia coli isolate that was taken from faeces specimen of
Microbiology Laboratory Medical Faculty Brawijaya University Malang. On the
base of research can be concluded that the Minimal Inhibitory Concentration was
30 percent, in other hand the Minimal Bactericidal Concentration was 50 percent.
Statistic test showed significant correlation between giving Anting-anting leaves
decoction with the quantity of growing Escherichia coli colonies. The result
showed that bigger the concentration of Anting-anting leaves decoction which
was given can made the quantity of bacteria colonies decrease. The conclusion
that can be gotten was Anting-anting (Acalypha indica) leaves decoction was
proven effective as antibacterial for Escherichia coli in vitro for Minimal
Inhibitory Concentration 30 percent and Minimal Bactericidal Concentration 50
percent.
Key words: Escherichia coli, antibacterial, Anting-anting leaves decoction.
PENDAHULUAN
Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh Indonesia sampai saat ini
adalah diare. Diare seringkali mewabah hampir sepanjang tahun dan merata di
seluruh wilayah Indonesia. Tahun 2003-2004 diare mewabah dari Solok hingga ke
Papua (Sari, 2005). Khusus untuk Surabaya, diare mencapai 300% pada
November 2004 sehingga dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (Republika,
2004). Kasusnya mencapai 33.240 balita dan 9.972 nonbalita. Jumlah korban
balita lebih banyak karena mereka kelompok yang rentan diare (Sari, 2005).
Diare dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, misalnya kelainan
kongenital, malabsorbsi, obat-obatan dan agen infeksius. Agen infeksius yang
2
terdiri dari bakteri, virus dan parasit merupakan penyebab utama diare akut (lebih
dari 90% kasus). Salah satu bakteri penting penyebab diare akut adalah
Escherichia coli (Ahlquist & Camilleri, 2001).
Meskipun antibakteri telah memberikan kontribusi yang efektif dan positif
terhadap kontrol infeksi Escherichia coli, sejalan dengan perkembangan dan
penggunaannya, banyak bukti atau laporan yang menyatakan bahwa bakteri ini
menunjukkan resistensi terhadap beberapa antibakteri (Naim, 2003). Escherichia
coli yang diisolasi dari lingkungan dan limbah rumah sakit telah diketahui
menunjukkan multiresistensi dengan tingkat resistensi antibakteri yang tinggi
(Waturangi, 2000). Masalah resistensi ini pada awalnya dapat dipecahkan dengan
penemuan berbagai macam obat antibakteri golongan baru, tetapi hal ini tetap
tidak mencegah timbulnya resistensi di kemudian hari (Naim, 2003).
Obat-obatan antibakteri golongan baru pada umumnya relatif mahal
sehingga masyarakat cenderung untuk beralih ke pengobatan alternatif yang
memanfaatkan tanaman tradisional. Salah satu tanaman yang dianggap memiliki
khasiat obat adalah anting-anting, yang dikenal juga dengan nama kucingkucingan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat diketahui bahwa salah satu manfaat
tanaman anting-anting adalah sebagai antibakteri. Hal ini digunakan sebagai latar
belakang untuk menguji apakah dekok daun anting-anting memiliki efek
antibakteri terhadap Escherichia coli secara in vitro. Penelitian ini diharapkan
dapat dijadikan sebagai suatu solusi atas permasalahan resistensi dan tingginya
biaya pengobatan penyakit infeksi saat ini, khususnya penyakit diare akibat
infeksi Escherichia coli, dalam usaha mendapatkan obat alternatif yang efektif,
murah, dan mudah didapat.
METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental
laboratorik dengan menggunakan metode dilusi tabung (tube dilution test). Tube
dilution test meliputi dua tahap, yaitu tahap pengujian bahan pada media broth
yang ditujukan untuk menentukan KHM (Kadar Hambat Minimal), dan tahap
streaking pada media NAP yang ditujukan untuk menentukan KBM (Kadar
Bunuh Minimal).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri Escherichia
coli (spesimen feses) yang diambil dari stock culture milik laboratorium
Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Variabel bebas
pada penelitian ini adalah konsentrasi larutan dekok daun anting-anting, yaitu 0%;
20%; 25%; 30%; 35%; 40%; 45%; dan 50%. Variabel tergantung pada penelitian
ini adalah tingkat kekeruhan yang dihasilkan pada media Mueller Hinton (MH)
broth dan jumlah koloni yang dihasilkan pada NAP. Variabel perancu pada
penelitian ini adalah jumlah koloni bakteri lain yang tumbuh. Pengulangan yang
dilakukan sebanyak empat kali.
Prosedur penelitian secara berurutan adalah pembuatan dekok, identifikasi
Escherichia coli, penentuan KHM dengan melihat tingkat kekeruhan pada media
MH broth, selanjutnya penentuan KBM dengan melihat pertumbuhan bakteri pada
media NAP.
3
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Identifikasi Bakteri
Dengan pewarnaan Gram dan pengamatan di bawah mikroskop sinar
dengan pembesaran 1000x, didapatkan sel-sel bakteri dengan gambaran berbentuk
batang (basil) dan berwarna merah (Gram negatif). Dari tes IMVIC, didapatkan
hasil tes indol (+) dan tes merah metil (+), Tes Voges-Proskauer (–) dan tes sitrat
(–). Tes motilitas menunjukkan hasil (+). Tes TSI menunjukkan hasil asam-asam,
gas (+), H2S (–). Uji sensitivitas menunjukkan bahwa Escherichia coli sensitif
terhadap cefotaxim dan ceftriakson (golongan cephalosporin), serta amikasin,
namun Escherichia coli resisten terhadap obat cotrimoksazol, tetrasiklin,
ciprofloksasin dan penisilin.
Hasil Pengamatan Kekeruhan dan Perhitungan Jumlah Koloni Escherichia coli
Pengamatan terhadap hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi
konsentrasi larutan dekok daun anting-anting yang telah dicampur dengan
suspensi bakteri Escherichia coli, tingkat kekeruhan semakin berkurang.
Bayangan garis hitam tampak jelas pada konsentrasi 50%, 45%, 40%, 35% dan
30%. Bayangan garis hitam semakin menghilang seiring dengan penurunan
konsentrasi mulai konsentrasi 25% sampai tidak tampak lagi pada konsentrasi 0%
(kontrol positif). Konsentrasi 100% (kontrol negatif) terlalu pekat sehingga
bayangan garis hitam sulit dinilai.
Pemberian skor pada tiap tabung didasarkan oleh adanya bayangan garis
hitam di balik tabung. Setelah dilakukan skoring dengan membandingkan masingmasing konsentrasi terhadap kontrol positif dan kontrol negatif, didapatkan bahwa
tabung mulai terlihat jernih pada konsentrasi 30% yang berarti Kadar Hambat
Minimal (KHM) adalah 30%.
Tabel 1. Tingkat Kekeruhan
Konsentrasi
dekok daun
anting-anting
Kontrol
positif
(0%)
20%
25%
30%
35%
40%
45%
50%
Kontrol
negatif
Pengulangan 1
3
3
2
0
0
0
0
0
-
Pengulangan 2
3
3
2
0
0
0
0
0
-
Pengulangan 3
3
3
2
0
0
0
0
0
-
Pengulangan 4
3
3
2
0
0
0
0
0
-
Pada plate kontrol positif, didapatkan jumlah koloni bakteri yang tidak
bisa dihitung karena terlalu penuh. Karena itu, kontrol positif pada tiap
pengulangan diencerkan sampai 10.000 kali. Pada tiap pengulangan (pengulangan
1-4) terjadi penurunan jumlah koloni seiring dengan peningkatan konsentrasi
dekok. Kadar bunuh minimal ditentukan jika pada plate didapatkan jumlah
pertumbuhan koloni bakteri mengalami penurunan sampai 99,9% original
inoculum, atau jumlah koloni kurang dari 0,1% original inoculum. Karena jumlah
4
koloni pada original inoculum sebesar 507, maka konsentrasi yang ditetapkan
sebagai kadar bunuh minimal adalah sebesar nol koloni (kurang dari 0,5 koloni).
Dengan demikian, Kadar Bunuh Minimal (KBM) pada penelitian ini adalah 50%.
Tabel 2. Jumlah Koloni pada Nutrient Agar Plate (NAP)
Kontrol
positif
(0%)
30%
35%
40%
45%
50%
Kontrol
negatif
Pengulangan 1
3270000
92
57
5
4
0
0
Pengulangan 2
3570000
126
95
3
6
0
0
Pengulangan 3
2900000
50
14
10
7
0
0
Pengulangan 4
3160000
108
102
14
3
0
0
Jumlah
12900000
376
268
32
20
0
0
Rata-rata
3225000
94
67
8
5
0
0
Konsentrasi
Jumlah koloni pada original inoculum = 507
Pada analisis Anova didapatkan angka signifikansi sebesar 0,000 (p <
0,05), yang berarti ada perbedaan jumlah koloni bakteri Escherichia coli yang
bermakna antara dua kelompok perlakuan atau lebih. Untuk mengetahui letak
perbedaan antar kelompok perlakuan dilakukan tes post hoc Tukey dan
Bonferroni. Adanya tanda ** pada kolom mean difference pada tes pos hoc
menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada masing-masing
perlakuan (p > 0,05). Dari data tersebut, terlihat pada konsentrasi 30% dan 35%
tidak terdapat perbedaan yang bermakna, begitu juga antara konsentrasi 40% dan
45%.
Dari analisis korelasi diperoleh angka signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05)
yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian konsentrasi
dekok daun anting-anting dengan jumlah koloni bakteri Escherichia coli yang
tumbuh. Angka korelasi sebesar -0,988 menunjukkan bahwa hubungan tersebut
kuat. Tanda negatif pada angka korelasi menunjukkan hubungan terbalik yaitu
semakin tinggi konsentrasi dekok daun anting-anting menyebabkan semakin
menurun jumlah koloni bakteri yang tumbuh. Dari analisis regresi didapatkan
persaman regresi linearnya adalah Y = 6,373 – 3,454X, dengan Y adalah t_koloni
(jumlah koloni dalam bentuk logaritma) sedangkan X adalah konsentrasi dekok
daun anting-anting.
Zat aktif yang diperkirakan berperan sebagai antibakteri dalam penelitian
ini adalah acalyphin, HCN dan tannin. Acalyphin berperan sebagai antibakteri
melalui gangguan proses sintesa protein akibat terdapatnya suatu gangguan
terhadap reaksi enzim dan substratnya. Hal ini disebabkan oleh adanya HCN yang
dihasilkan oleh Acalyphin, yang memiliki kemampuan mengikat logam-logam
(Fe2+, Mn2+ dan Cu2+) yang penting dalam fungsi sebagian besar enzim dan
penghambatan aktivitas enzim katalase dan oksidase pada sel bakteri (Fransisco
and Pinotti, 2000; Hungeling et al, 2005). Mekanisme kerja tannin sebagai
antibakteri adalah melalui gangguan proses sintesa protein terjadi denaturasi
protein dan terdapat gangguan terhadap reaksi enzim dan subtratnya. Hal ini
5
mungkin berhubungan dengan kemampuannya menginaktivasi enzim dan protein
transport cell envelope (Naim, 2003).
PENUTUP
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dekok daun anting-anting
(Acalypha indica) memiliki efek antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli
secara in vitro, dengan bukti:
a. Semakin besar konsentrasi dekok daun anting-anting, maka semakin
rendah jumlah koloni bakteri Escherichia coli yang tumbuh.
b. Kadar Hambat Minimal (KHM) larutan dekok daun anting-anting
terhadap Escherichia coli in vitro adalah 30%.
c. Kadar Bunuh Minimal (KBM) larutan dekok daun anting-anting
terhadap Escherichia coli in vitro adalah 50%.
Saran yang ingin disampaikan sehubungan dengan adanya berbagai
kekurangan dalam penelitian ini adalah:
1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas daun
anting-anting sebagai antibakteri dengan menggunakan metode proses
pengambilan bahan aktif daun anting-anting dalam kadar yang lebih
tinggi, misalnya dengan menggunakan metode ekstrak daun antinganting.
2. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang efektivitas daun antinganting sebagai antibakteri terhadap bakteri selain Escherichia coli.
3. Perlu diadakan sosialisasi ke masyarakat tentang kandungan daun
anting-anting sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli dengan
melalui berbagai tahapan uji klinis terlebih dahulu, sehingga dapat
dimanfaatkan sebagai salah satu solusi pengobatan alternatif yang
efektif, murah, dan mudah didapat terhadap penyakit diare akibat
infeksi Escherichia coli
DAFTAR RUJUKAN
Ahlquist, D. A., M. Camilleri. 2001. Harrison’s Principles of Internal Medicine,
15th edition, volume 1. Editors: E. Braunwald et al. The McGraw-Hill
Companies, Inc. New York.
Chamberlain & Cox, N. R., B. Cox. 1997. Gram Negative Rod Tests, (online).
(http://www.kcom.edu/faculty/Chamberlain&Cox/Website/lab/idlab/gmne
gro. htm, diakses 14 Maret 2005).
Cowan, M. M. 1999. Plant Products as Antimicrobial Agents, (online),
(http://cms.org/cgi/reprint/12/4/564?maxtoshow=&HITS=10&hits=10&R
ESULTFORMAT=8fulltext=plant+antimicrobial&searchid=11121611668
49_738&stored_search=FIRSTINDEX=08search_url=http%3A%2F%2Fc
mr.asm.org%2Fcgi%2Fsearch&journalcode=cmr, diakses 30 Maret 2005).
Dalimartha, S. 2004. Kucing-kucingan (Acalypha indica L.), (online),
(http://www.pdpersi.co.id/pdpersi/ news/alternatif.php3?id=1011, diakses
24 Februari 2005).
6
Duke, J. A. 2005. Acalypha indica L. – Euphorbiaceae, (online), (http://sun.ars
grin.gov:8080/npgspub/xsql/duke/plantdisp.xsql?taxon=16, diakses 20
April 2005).
Dzen, S. M. dkk. 2003. Bakteriologi Medik, Editor: S. M. Dzen dkk. Bayumedia
Publishing. Malang
Feng, P., S. D. Weagant, M. A. Grant. 2002. Enumeration of Escherichia coli and
the Coliform Bacteria, (online), (http://vm.cfsan.fda.gov/~ebam/bam4.html, diakses 19 Maret 2005).
Fisika LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). 2004. Indonesia-China
Seminar on Development of Traditional Medicine: Kerjasama Optimalkan
Tanaman Obat, (online), (http://www.lipi.go.id/www/www.cgi?baca
&1076810238, diakses 24 Februari 2005).
Francisco, I. A., M. H. P. Pinotti. 2000. Cyanogenic Glycosides in Plants,
Brazilian Archives of Biology and Technology, volume 43, nomor 5,
halaman 487-492, (online). (http://www.scielo.br/scielo.php?script=
sci_arttext&pid=S151689132000000500007, diakses 12 Maret 2005).
Harismah, K. 2002. Daun Jambu Biji Untuk Sariawan, (On line),
(http://www.suaramerdeka.com/harian/0206/15/ragam2.htm, diakses 24
Februari 2005).
Houston Medical School. 1995. Escherichia coli, (online), (http://medic.med.
uth.tmc.edu/path/00001497.htm, diakses 14 Maret 2005).
Hungeling, M., M. Lechtenberg, A. Nahrstedt (Institut für Pharmazeutische
Biologie und Phytochemie, Germany). 2003. Phytochemical Studies on
Cyanopyridones in Acalypha indica L, (online), (http://www.unimuenster.
de/Chemie.pb/kiel2003_acalypha. pdf, diakses 24 februari 2005).
Indian Gyan. 2000. Indian Acalypha, (online), (http://www.indiangyan.com/
books/therapybooks/Herbs_That_Heal/indian_acalypha.shtm, diakses 24
Februari 2005).
Kisihandi, F. 2003. Black Forest Menawan, Namun Haram, (online), (http://www.
republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=139529&kat_id=10
5&kat_id1=147&kat_id2=218, diakses 10 juli 2005).
Leicester Microbiology. 2002. Escherichia coli, (online), (http://wwwmicro.msb.
le.ac.uk/Video/Ecoli.html, diakses 14 maret 2005).
Levinson, W., E. Jawetz. 2000. Medical Microbiology & Immunology:
Examination & Board Review, sixth edition. McGraw-Hill Companies,
Inc. Singapore.
Naim, R. 2003. Cara Kerja dan Mekanisme Resistensi Antibiotik, (online),
(http://www.kompas.com/kompas-cetak/0312/11/ilpeng/734094.htm,
diakses 24 Februari 2005).
Natural Resources Conservation Services. Acalypha indica L, (online),
(http://plants.usda.gov/index.html, diakses 24 Februari 2005).
Notobroto, H. B. 2005. Penelitian Eksperimental dalam Materi Praktikum Teknik
Sampling & Penghitungan Besar Sampel Angkatan III, hal: 8. Lembaga
Penelitian Universitas Airlangga. Surabaya.
Prescott, L. M., J. P. Harley, D. A. Klein. 2002. Microbiology, fifth edition.
McGraw-Hill Companies Inc. New York.
7
Pusat Racun Negara, Universiti Sains Malaysia. 1999. Acalypha indica L,
(online),
(http://www.prn2.usm.my/mainsite/plant/acalypha%20indica.
html, diakses 24 Februari 2005).
Republika. 21 Desember, 2004. Lawan Diare, (online), (http://www.ampl.
or.id/artikel/artikel-isi-pustaka.php?kode=211004, diakses 31 Maret 2005).
Russo, T. A. 2001. Harrison’s Principles of Internal Medicine, 15th edition,
volume 1. Editors: Eugene Braunwald et al. The McGraw-Hill Companies,
Inc. New York.
Santoso, S. 2002. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. PT Gramedia. Jakarta.
Sari, D. Y. 2005. Usai Tsunami, Diare Mengintai, (online), (http://cyberwoman.
cbn.net.id/detil.asp?kategori=Mother&newsno=902, diakses 31 Maret
2005).
Theivendirarajah. 2005. Escherichia coli (E.coli), (online), (http://www.asgc.
ca/Focus/Escherichia%20coli.htm, diakses 21 Maret 2005).
Tortora, G. J., B. R. Funke, C. L. Case. 2001. Microbiology: an Introduction,
seventh edition. Benjamin Cummings. San Fransisco.
Waturangi, D. E. 2000. Keragaman Genetik Serta Uji Resistensi Antibiotik
Escherichia coli yang Diisolasi dari Feses Varanus spp, (online),
(http://www.hayatiipb.com/users/rudyct/PPs702/DIANA_W.htm, diakses
24 Februari 2005).
Winsor, D. K., T. G. Cleary. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan Anak, edisi 15, editor:
Richard E. Behrman et al, editor bahasa Indonesia: Samik Wahab. EGC.
Jakarta.
8
Download