Memudarnya Bari dan Kelembagaan Mabari (Studi

advertisement
BAB V
PEMBANGUNAN DAN MEMUDARNYA NILAI BARI
Bab ini menguraikan bahwa perkembangan masyarakat dan desa atau
kampong sebagaimana diuraikan di bab sebelumnya karena berkaitan dengan
modernisasi melalui pembangunan yang memudarkan bari sebagai nilai sosial
yang melandasi kelembagaan mabari. Meskipun, diketahui proses memudarnya
bari dan melemahnya kelembagaan mabari berbeda intensitasnya di dua lokasi
penelitian.
Hal yang jelas ditemukan adalah selama di desa atau kampong
masih mempunyai tokoh-tokoh adat, maka bari sebagai dasar kelembagaan
mabari akan lebih dapat dipertahankan dan difungsikan selaras dengan berbagi
intervensi kegiatan akibat pembangunan.
5.1. Hadirnya Pembangunan
Orde baru mengusung pembangunan sebagai arus pemikiran utamanya.
Pembangunan bertumpu pada strategi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas
politik. Stabilitas politik ditempuh dengan politik hegemoni termasuk di antaranya
adalah penyeragaman struktur dan kelembagaan sosial hingga di tingkat desa.
Salah satunya adalah penyeragaman desa.
Modernisasi
kehidupan
mulanya
dilakukan
dengan
meletakkan
pembangunan infrastruktur dan perluasan birokrasi hingga tingkat desa.
Pembangunan infrastruktur ditujukan untuk membuka akses dan mempermudah
kegiatan perekonomian. Mempermudah modal masuk dan mengambil resources.
Infrastruktur jalan, selalu punya hubungan dengan perdagangan, pembukaan
jalan di Jawa pada masa kolonial juga dimaksudkan untuk percepatan lalu-lintas
perdagangan (Lombard, Dennys, 2005).1 Dengan gencar orde baru mendorong
seluruh pola produksi masyarakat ke arah modernisasi dengan mengintrodusir
penggunaan teknologi pertanian dan perikanan. Inilah mula awal penetrasi modal
secara besar-besaran ke basis pedesaan. Upaya mengintrodusir pola produksi
masyarakat tani dilakukan dengan memasukkan pupuk pabrikan, bibit hasil
rekayasa genetika,2 irigasi teknis, teknologi pemanenan, traktor.
1
Lombard, menulis secara lengkap mengenai proses pembangunan perdagangan kolonial di
Indonesia. Pembangunan infrastruktur jalan dilakukan pemerintah kolonial untuk semata-mata
kepentingan memperlancar arus pengambilan sumber daya dari pedalaman Jawa keluar (ekspor)
kolonial.
2
Perekayasaan genetika ini dikembangkan oleh IRRI yang bertempat di Philipina.
43
Modernisasi disebut sebagai tanda-tanda dari kemajuan masyarakat,
kenyataannya setelah beberapa dekade, perubahan modernisasi pola produksi
tersebut dikritik berbagai kalangan, terutama karena dampak-dampak buruknya
bagi lingkungan hidup. Degradasi lahan, menurunnya daya dukung lahan, dan
lain-lain kerusakan lanjutan dari penggunaan bahan-bahan kimia yang merusak
lingkungan. Namun dampak revolusi hijau tak hanya pada aspek lingkungan
saja, melainkan juga perubahan terhadap pola sosial dari produksi. Relasi
produksi di sektor pertanian mengalami perubahan secara mendasar.
Scoot (1985) dalam Weapon of The Weak,3 mendeskripsikan setiap
perubahan masyarakat akibat revolusi hijau, di antaranya adalah mobilisasi tanah
vertikal, yang menyebabkan akumulasi tanah ke tangan petani yang lebih kaya,
diikuti kehilangan akses terhadap tanah terus-menerus oleh sebagian yang lain.
Penggunaan teknologi yang dimaksudkan untuk efisiensi tenaga kerja
menyebabkan perubahan pola relasi (hubungan produksi). Perubahan anai-anai
sebagai teknologi pemotongan padi menjadi sabit berpengaruh pada akses
tenaga kerja yang dapat mengakses lahan. Perempuan banyak disisihkan dari
aksesnya terhadap lahan.4 Ringkasnya penggunaan teknologi pertanian
memperkecil jumlah tenaga kerja yang mampu mengakses lahan.
Berubahnya pola hubungan produksi di sektor pertanian selanjutnya
mempengaruhi pula relasi sosial lainnya di masyarakat. Penetrasi modal
memberikan pengaruh terhadap pola produksi rakyat yang selanjutnya
berpengaruh pula hubungan sosial di masyarakat. Penelitian Hefner (1990)
terhadap masyarakat pegununggan Tengger, Jawa Timur menunjukkan hal
tersebut. Pertumbuhan ekonomi perkebunan sayur secara intensif memupuk
sejumlah surplus ekonomi (cash money) keluarga tani yang pada gilirannya
mempengaruhi hubungan-hubungan sosial lainnya bahkan termasuk pula
hubungan gender. Oleh karena itu, sangat penting melihat bagaimana
perubahan sosial berlangsung selama proses pembangunan pada masyarakat
petani kelapa di dua desa di KecamatanSahu, Halmahera Barat
3
Scoot, James, Weapon of The Weak : Everyday Form of Peasant Resistence, Yale University Press, 1985,
diterjemahkan dalam bahas Indonesia dengan judul Senjatanya Orang-orang Yang Kalah.
4
Penelitian yang dilakukan oleh Paulson, Susan dalam Gendered Practices and Landscape in
Andes : The Shape of Assymmetrical Exchange, menunjukkan bagaimana introduksi programprogram pemberdayaan pertanian di masyarakat pegunungan Andes, termasuk di dalamnya
sekaligus introduksi pengetahuan dan teknologi, justru menyempitkan akses peremmpuan dalam
pertanian. Hal ini disebabkan karena pemberdayaan diakses oleh laki-laki.
44
5.2. Pembangunan Dan Perubahan Organisasi Pertanian di Dua Desa
Pada tahun 1960-an, belum terdapat infrastruktur pembangunan yang
memadai di desa Susupu dan Lako Akelamo. Akses Jalan yang dilalui kendaraan
menuju Jailolo (saat ini sebagai Ibu kota Kabupaten Halmahera Barat) belum
terbuka. Sama halnya dengan jalan menuju ke kebun kelapa para petani,
membutuhkan waktu yang cukup lama.
Berjalan harus melewati hutan, dan
menyeberangi beberapa sungai dengan menggunakan goceva. Goceva adalah
sejenis transportasi sungai tradisional yang digunakan masyarakat sebagai
pengganti perahu untuk melewati
sungai. Proses pembuatan goceva sangat
sederhana, dengan mengumpulkan pohon bambu kurang lebih 30 pohon disusun
dan kemudian diikat.
Selain gocefa, masyarakat kedua Desa mengenal
transportasi tradisional yang dinamakan gerobak (goroba). Goroba merupakan
angkutan tradisonal para petani dengan memakai sapi sebagai penarik.
Umumnya gerobak dimiliki oleh pengusaha kopra (orang Cina). Orang Cina
meminjamkan gerobak untuk membantu kebutuhan petani kelapa sebagai cara
memelihara hubungan baik secara ekonomi dengan petani.
Untuk menuju ke lokasi kebun kelapa membutuhkan waktu yang cukup
lama, mereka sering berjalan secara berkelompok menuju kebun dengan
menggunakan gerobak, atau melawati sungai dengan goceva.. Pergi ke kebun
secara berkelompok memperkuat rasa kebersamaan, solidaritas, saling peduli di
antara petani selalu ada di setiap saat. Terdapat fala adat gura (rumah adat
kebun) yang dapat digunakan sebagai tempat istirahat para petani. Fala adat
gura berbentuk lebar dan tinggi, di setiap sudut memiliki empat tiang yang
mengandung makna filosofi bagi masyarakat kedua Desa. Bekerja di lahan
kebun, biasanya para petani memilih menginap di fala adat gura sebelum
pekerjaannya selesai. Selain berfungsi sebagai tempat istirahat, fala adat gura
sering dilaksanakan musyawarah terkait dengan kegiatan mabari, serta
menyelesaikan konflik antar para petani kelapa.
Hadirnya
pembangunan
melalui
introduksi
perubahan yang sangat mendasar terhadap
teknologi
membawa
organisasi pertanian pada
masyarakat petani di dua desa. Penggunaan sepeda, sepeda motor, dan perahu
motor dengan sendirinya telah menggeser alat transportasi tradisional seperti
goroba dan goceva. Masyarakat petani tidak lagi memilih untuk menetap atau
bermalam di kebun, namun lebih memilih kembali ke perkampungan. Selain
alasan sepeda motor, dan perahu motor, listrik masuk Desa merupakan salah
45
satu alasan para petani memilih untuk kembali ke perkampungan . Kehadiran
Listrik masuk desa telah menggeser penggunaan loga-loga dan pancona..
Dampak dari perubahan ini adalah hilangnya tradisi fala adat gura. Fala adat
gura menjadi tidak terurus dan tidak terpakai karena para petani lebih memilih
kembali ke kampung. Hubungan kekerabatan antar sesama petani kebun kelapa
menjadi semakin kabur. Fenomena perubahan organisasi pertanian yang dilihat
pada masyarakat di dua Desa ini, seperti yang diteliti oleh Christianita L. Day
dalam Cristina Eghenter dan Bernard Selatto (1999) tentang perubahan sosial
ekonomi dan dampaknya terhadap organisasi pertanian di Loang Pujungan dan
Long Alango. Chirtianita L. Day melihat bahwa terjadi perubahan pada organisasi
perladangan. Dengan adanya perahu bermotor memungkinkan masyarakat untuk
pulang
pergi
ke
ladang
setiap
hari.
ini
mengakibatkan
hilangnya
pengorganisasian dibawah pimpinan seorang ketua, dan tidak mengenal lagi
rumah panjang.
Cristianita L Day tidak melihat masuknya infrastruktur listrik di pedesaan
seperti
yang terjadi di desa susupu, merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan masyarakat lebih memilih kembali di perkampungan dan sebagai
penyebab hilangnya tradisi fala adat gura. Dengan demikian dapat di simpulkan
bahwa perubahan organisasi pertanian yang menyebabkan hilangnya fala adat
gura bukan karena bergesernya moda transportasi akibat modernisasi (perahu
motor, sepeda motor dll), namun dipengaruhi juga oleh listrik masuk pedesaan.
Hilangnya fala adat gura berpengaruh besar terhadap keberadaan nilainilai bari itu sendiri. Karena fala adat gura disamping sebagai tempat
peristirahatan, di tempat ini pula digunakan sebagai wadah bermusyawarah,
silaturahmi antar sesama komunitas petani yang berada di kebun. Intinya bahwa
kebersamaan, kekompakan, kerukunan yang di temukan dalam fala adat gura
telah hilang. Para petani hanya membangun sabua kecil (rumah kecil) yang
bersifat sementara. Pengelompokan rumah kebun tidak lagi berdasarkan
kekerabatan, melainkan lebih didasarkan pada alasan praktis saja.
Sabua kecil yang dibangun di manfaatkan oleh lingkunan di dalam
keluarga inti saja, sementara keluarga kerabat antara sesama petani menjadi
kabur akibat hilangnya tradisi fala adat gura
penjelasan tersebut di atas.
sebagiamana dimaksud dalam
46
Pada halaman berikut ini adalah sebuah gambar yang mencoba
menggambarkan dan menjelasakan terkait dengan kehadiran pembangunan dan
perubahan organisasi pertanian di Desa Susupu dan Lako Akelamo.
Perubahan pada organisasi
pertanian masyarakat
Hilangnya Transportasi
Goceva/Geroba dan tradisi
tagi gura
LogaLoga/pancona
Di ganti dengan sepeda motor,
perahu ketinting
Hilangnya
Tradisi Fala
adat Gura
( Rumah
adat
Kebun)
Menguatnya
Inividualitas
Para Petani
Memudarkan
nilai
bari/kelembagaan
mabari
Di ganti dengan
lampu listrik
Alur kekerabatan
antar
petani
semakin kabur
Gambar 6. Pengaruh teknologi membawa perubahan pada organisasi
pertanian
5.3. Introduksi Teknologi Pertukangan dan Melemahnya Mabari
Tahun 1980-an akses jalan sudah terbuka, memperlancar masuknya
bahan bangunan serta peralatan pertukangan rumah seperti, mesin skaf listrik,
gergaji listrik dan lain-lain, terasa ada perubahan yang sangat signifikan pada
perkembangan masyarakat di dua Desa. Bila mulanya pembuatan rumah dengan
konstruksi rumah gaba dan batu karang, saat ini masyarakat telah meninggalkan
konstruksi tersebut dan memilih semen hasil olahan industri sebagai bahan
utama pembangunan rumah. Bila dahulu masyarakat masih menggunakan atap
47
rumah dengan bermodal katu yang dibuat dari daun sagu, sekarang telah di
gantikan dengan seng maupun genteng.
Pada sisi lain keberadaan peralatan mesin pertukangan sangat
mempengaruhi spesialisasi kerja masyarakat setempat. Mereka yang memiliki
keterampilan sebagai tukang kayu berkeinginan memiliki teknologi pertukangan.
Sebagian masyarakat yang berprofesi sebagai tukang, berpendapat bahwa
penggunaan teknologi pertukangan dapat mempermudah dan mempercepat
pekerjaan serta menambah ketrampilan. Dibandingkan dengan cara-cara
tradisonal, sangat lambat, tidak efisien, serta menguras tenaga yang cukup
besar. Untuk mengerjakan pintu, jendela, para tukang di desa susupu dibayar
dengan harga 7-10 juta. Pembayaran itu termasuk juga pemasangan rangka atap
rumah. Harga bisa saja berubah sesuai banyaknya kosen, pintu dan jendela.
Situasi ini sangat berbeda dengan masyarakat Desa Susupu pada era
sebelumnya tahun 50-an hingga tahun 1970-an. Proses pembuatan rumah
seperti yang dijelaskan sebelumnya masih mengandalkan tradisi mabari.
Pekerja tukang yang dulu terlibat dalam aktifitas bari pada pembangunan rumah,
sekarang mereka bekerja untuk mengejar nilai lebih dari pekerjaan itu. Bila pada
bari hampir semua orang diharapkan mampu memiliki keterampilan yang sama,
namun semakin kuatnya akses pada teknologi, lama-kelamaan mulai terjadi
spesialisasi kerja, di mana mereka yang menyukai pekerjaan tertentu mampu
mengasah keterampilannya dengan semakin baik. Disinilah gejala spesialisasi
kerja dimulai.
Pada fase perkembangan selanjutnya mereka yang memiliki spesialisasi
kerja, di pekerjakan pada proyek-proyek pemerintah seperti pembuatan sekolah,
kantor, dan lain sebagainya. Sejak itulah keahlian mereka dibayar dengan uang.
Keterlibatan
mereka
dalam
proyek
pembangunan
fasilitas
pemerintah
mengenalkan mereka pada hubungan produksi atas dasar keterampilan spesifik
mereka.
Mereka
kemudian
menerima
upah
uang,
sesuatu
penggantian/penukaran atas kerja yang mereka lakukan, di mana sebelumnya
mereka tidak mendapatkannya penukaran material (uang) tersebut dalam bari.
Pada halaman
berikut ini adalah gambar skema yang memberikan
penjelasan, terkait dengan kehadiran pembangunan yang membawa perubahan
pada komunitas, khususnya yang terjadi didesa akelamo oleh unsur-unsur
perubahan seperti halnya teknologi pertukangan rumah. Masyarakat terutama di
Desa Susupu lebih memilih penggunaan teknologi pertukangan untuk pembuatan
48
rumah, karena alasan lebih efisien dan efektif, serta tidak menguras tenaga yang
lebih besar. Di bandingkan dengan penggunaan alat tradisional yang dianggap
lambat, tidak efektif, menguras waktu dan tenaga yang lebih besar. Situasi
seperti ini memunculkan beberapa dampak ikutan, termasuk memudarnya
mabari
Pembangunan
introduksi teknologi
pertukangan rumah
Penggunaan
Alat tradisional
pertukangan
Penggunaan
Mesin
pertukangan
Keahlian dan
tenaga telah
dibayar
dengan uang
Spesialisasi
pekerjaan/va
riasi
pekerjaan
1. Mempermudah
Pekerjaan/lebih
efisien/efektif
2. Menambah skill.
1. Sangat
lambat,
2. Tidak efisien
3. Menguras
tenaga.
Memudarkan
nilai bari dan
mabari. Dalam
aktifitas
membangun
rumah
Pekerjaan
Pertukangan
dikendalikan
oleh mesinmesin
Gambar. 7. Pembangunan dan introduksi teknologi pertukangan
membawa perubahan pada komunitas
Lain Susupu, lain pula Lako Akelamo. Di Lako Akelamo, pekerjaan
pembuatan rumah masih menggunakan semangat kebersamaan kelompok
dengan mengandalkan tenaga orang-orang yang berada dalam kelompok,
sebagaimana yang kita kenal dengan sebutan kelompok bari. Jamrud, salah
seorang warga desa Lako Akelamo mengatakan, perubahan model konstruksi
rumah mengalami beberapa fase periodisasi yang tidak berbeda jauh dengan
Susupu.
49
Fase masuknya infrastruktur dan teknologi juga dialami masyarakat Desa
Lako Akelamo. Di desa ini terdapat banyak orang, khususnya kaum muda yang
berprofesi sebagai petani kelapa, mereka juga memiliki keahlian lain seperti
keahliannya dalam pertukangan, namun tidak semua memiliki fasilitas teknologi
(alat) pertukangan. Hanya terdapat satu orang yang memiliki peralatan teknologi
pertukangan, yaitu pak Husain. Menurut Husain, memiliki alat-alat pertukangan
baru itu sejak 1991, hingga saat ini, cukup mendapat orderan pekerjaan
pembuatan mebelair rumah dari masyarakat di luar desa Lako Akelamo.
Sementara di Desa Lako akelamo sebagai Desanya sendiri belum pernah
mendapatkan orderan. Menurut pak Husain, disebabkan karena di Desa Lako
Akelamo proses pembuatan rumah selalu dilaksanakan bersama melalui
kelompok bari. Mabari di Lako Akelamo tidak hanya dipahami sebagai mobilisasi
tenaga untuk tolong-menolong, saling membantu dalam suatu pekerjaan, tetapi
juga masyarakat saling membantu memberikan kayu balok, papan, dan seng
(atap
rumah).
Saling
menanggung
bersama
bahan-bahan
bangunan
rumah,dengan istilah lokal disebut sebagai kegiatan jojobo. Jojobo adalah suatu
kegiatan tolong menolong dan membantu mendahulukan yang lainnya secara
bergiliran. Dalam pembuatan rumah, jojobo sangat berperan aktif, jika salah satu
dari anggota bari tersebut mendapat jojobo seperti kayu, balok semen, maka
kelompok
bari
di
Desa
Lako
Akelamo
datang
bersama-sama
untuk
menyelesaikan pekerjaan pembuatan kosen pintu, jendela, rangka rumah dan
lainnya.
Bari dan jojobo juga muncul dalam aktivitas lainnya, seperti memberikan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang sakit. Umumnya masyarakat di
Desa Lako Akelamo tidak bersikap tertutup terhadap kehadiran teknologi, namun
mereka
membentengi
diri
dan
masyarakatnya
dengan
mengandalkan
kelembagaan-kelembagaan lokal yang ada dalam mengatasi berbagai problem
yang mereka hadapi. Kelembagaan lokal di Lako Akelamo tak hanya bari dalam
pembuatan rumah dan pekerjaan pertanian/perkebunan, terdapat kelembagaan
yang di kenal dengan
rorio.
Kegiatan rorio digunakan pada kegiatan
perkawinan, dan kedukaan.
Artinya, respon masyarakat kedua desa yang mengalami pula proses
pembangunan yang ditandai dengan masuknya infrastruktur jalan, listrik, dan
teknologi pada akhir 1980-an berbeda. Bari di Susupu mengalami pergeseran
salah satunya ditunjukkan oleh gejala menguatnya spesialisasi pekerjaan,
50
pergantian kerja dengan upah yang dengan demikian mengubah kolektifikas
menjadi hubungan produksi berdasar spesialisasi keahlian. Sementara di Lako
Akelamo pembangunan tidak serta merta menghilangkan kelembagaan sosial
yang berintikan kolektivisme.
Penjelasan berikut ini adalah fase pembangunan rumah di Dua Desa
yang mengalami beberapa perubahan konstruksi dari masa ke masa, . Pertama,
model rumah ”gaba” (berbahan pelepah pohon sagu). Model rumah ini cukup
sederhana, murah, nyaman, tetapi tidak bertahan lama. Tembok rumah ini dibuat
dengan mengunakan pelepah pohon sagu, atau “gaba”. Sementara atap rumah
menggunakan katu. Katu adalah daun pohon sagu yang kemudian diambil dan
di anyam berbentuk seperempat segi dengan panjang kurang lebih
satu
meter.Lantai rumah gaba digunakan bambu tua yang dibelah kemudian dianyam.
Kedua, rumah batu karang. Model rumah dengan konstruksi permanen
ala batu karang. Dampak dari pembangunan rumah ala batu karang ini
berdampak terhadap hancurnya ekosistem terumbu karang di pesisir Sahu.
Rumah ini dapat bertahan cukup lama, hingga pada tahun 1970-an masyarakat
kemudian diperkenalkan dengan bahan bangunan beton berbahan semen.
Dimulai saat inilah konstruksi bangunan masyarakat di Desa Susupu dan Lako
Akelamo kemudian mengalami perubahan dari rumah gaba, rumah batu karang
menjadi rumah permanen.
Di Desa Susupu dan Lako Akelamo orang yang ingin membuat rumah
permanen ala batu karang maupu rumah gaba harus membicarakan dengan
pihak keluarga tentang keinginan dan kesiapannya untuk membangun rumah.
Pertemuan keluarga adalah salah satu media untuk menyampaikan maksud
tersebut.
Apa yang dibicarakan pada pertemuan keluarga itu terkait dengan
pembagian kerja, konsumsi, transportasi, dan siapa-siapa yang akan terlibat di
dalamnya.
Biasanya pekerjaan mengangkut material bahan bangunan
dilaksanakan secara bari terdiri dari keluarga, kerabat, maupun orang-orang
yang secara sukarela ingin melibatkan diri. Kerja mabari dapat di laksanakan
saat bahan-bahan banguannnya sudah disiapkan.
5.4. Bari Pasca Kerusuhan 1999
Pada saat mengunjungi panen kelapa di kebun, sambil melakukan
mabari, para angota mabari bercerita mengenai kerusuhan yang terjadi di
kampongnya pada tahun 1999. Menurut pak Ibrahim,
kerusuhan tersebut
51
merupakan imbas dari konflik Ambon, karena pada dasarnya masyarakat yang
berbeda agama (Kristen dan islam) di Kec. Sahu adalah bersaudara. Umumnya
masyarakat melihat konflik bukan dari sisi SARA, melainkan provokasi orangorang yang tidak bertangungjawab. Pada saat kerusuhan berlangsung semua
warga muslim yang berada di Sahu di evakuasi di Ternate selama 2 tahun, dan
kembali lagi ke Susupu pada tahu 2001.
Pada saat itu keadaan desa masih hancur, sehingga banyak masyarakat
memilih masjid sebagai tempat tinggal sementara. Terdapat beberapa barak
yang dibangun oleh pihak kontraktor, namun pekerjaan itu belum selesai,
sehingga belum siap untuk di huni. Penduduk berada di barak rata-rata hingga 3
bulan. Pemerintah menyediakan makanan selama masa pemulihan konflik.
Pembangunan rumah kembali dilakukan dalam 3 tahap dengan bantuan
pemerintah yang menyediakan bahan bangunan, kecuali kayu yang tidak
disediakan pemerintah, sebagai ganti pemerintah menyediakan uang pengganti
kayu. Dalam pembangunan rumah tahap kedua, rumah Pak Ibm termasuk dalam
daftar rumah yang turut dibantu untuk dibangun. Dalam proses pembangunan
rumah pasca konflik milik Pak Ibm sebagai contoh, masyarakat menggunakan
mabari. Mereka berkelompok 10 hingga 15 keluarga saling bergantian
membangun rumah. Mereka adalah kelompok bari yang didasarkan pada
keberadaan rumah yang saling berdekatan. Dalam waktu 1 bulan Ibm dapat
membangun kembali rumahnya, atas bantuan kerja dari kelompok bari tersebut.
5.5. Penetrasi Program Pemerintah
Program Pengembangan Kecamatan (PPK) merupakan salah satu upaya
Pemerintah
yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
perdesaan, memperkuat institusi lokal, dan meningkatkan kinerja pemerintah
daerah Kabupaten Halmahera
Barat. PPK telah dimulai sejak Indonesia
mengalami krisis multidimensi dan perubahan politik pada tahun 1998. Namun di
Maluku Utara program pengembangan Kecamatan sempat terhenti pada tahun –
tahun berikutnya ketika konflik horizontal sedang melanda daerah itu pada tahun
1999 hingga penghujung tahun 2000. Program tersebut dilanjutkan pada tahun
2001/2002.
Melalui PPK dapat dilaksanakan program-program pemberdayaan dan
penanggulangan kemiskinan,Oleh karenya PPK telah
menyediakan dana
bantuan secara langsung bagi masyarakat (BLM) sekitar Rp 500 juta hingga Rp
52
1 miliar per kecamatan, tergantung dari jumlah penduduk. Masyarakat desa
kemudian bersama-sama terlibat dalam proses perencanaan partisipatif dan
pengambilan
keputusan
untuk
mengalokasikan
sumber
dana
tersebut.
Perencanaan itu dilakukan atas dasar kebutuhan pembangunan dan prioritas
yang ditentukan bersama dalam sejumlah forum musyawarah di Kecamatan
pada tingkat masing-masing desa.
Sementara itu, yang ingin dicapai oleh PPK sendiri adalah memperkuat
kelembagaan masyarakat dalam menyelenggarakan pembangunan desa atau
antar desa; yakni pengadaan sarana dan prasarana dasar perdesaan yang
bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya masyarakat miskin, paling prioritas dan
mendesak, serta mendorong kegiatan sosial dan ekonomi sesuai kebutuhan
masyarakat.
Desa Lako Akelamo dan Susupu merupakan dua desa yang juga
tersentuh dengan PPK. Di Desa Susupu wujud dari kehadiran program ini, dapat
dilihat dari direnovasinya sebuah bangunan fisik Puskemas ( Pusat Kesehatan
Masyarakat) dan terbentuknya kelompok usaha kecil (pengumpul hasil bumi)
yang modalnya didapat dari program bantuan simpan pinjam yang merupakan
bagian dari salah satu program PPK. Berbeda dengan Desa Susupu yang tidak
mendapatkan bantuan simpan pinjam dari program pengembangan kecamatan,
Desa Lako Akelamo mendapatkan bantuan simpan pinjam oleh PPK yang di
berikan kepada asosiasi ibu rumah tangga yang menggalakkan usaha kecil
menengah yaitu usaha anyaman tikar yang dibuat dari daun bobo, dan para
pengusaha kecil lainnya seperti usaha pembelian hasil-hasil bumi masyarakat
setempat. Menurut Koordinator PPK Kecamatan Sahu Bernat Barulia, di Desa
Lako Akelamo adalah salah satu contoh desa penerima program PPK yang
sukses
mempergunakan
anggarannya
untuk
peningkatan
kesejahteraan
masyarakat di desanya. Ketrampilan kelompok ibu-ibu rumah tangga dalam
membuat anyaman tikar, hasilnya telah mereka pasarkan sampai ke Ternate.
Sementara polindes merupakan program prioritas yang dibutuhkan oleh
masyarakat Desa Lako Akelamo diputuskan melalui mekanisme musyawarah di
tingkat RT yang kemudian dibawa pada pengambilan keputusan tingkat
musyawarah desa. Melalui musyawarah desa, program-program yang digodok
pada tingkat RT ditetapkan menjadi program prioritas.
Dengan demikian hadirnya PPK pada kedua desa ini setidaknya
merupakan pelajaran berharga bagi masyarakat mengenai cara pengambilan
53
keputusan, yaitu bahwa keputusan tersebut diambil di antara berbagai macam
pilihan keputusan. Sebelumnya masyarakat telah mengenal mekanisme
pengambilan keputusan melalui musyawarah mufakat,
namun demikian
musyawarah mufakat yang menjadi ciri khas masyarakat di Desa Lako Akelamo
dan Susupu, dalam banyak hal menunjukkan bahwa tokoh agama, tokoh adat,
pegawai adalah orang-orang yang begitu dominan untuk memaksakan kehendak
terhadap suatu keputusan yang diambil. Oleh karena itu maka belum tentu
keputusan yang diambil melalui musyawarah mufakat tersebut dapat dikatakan
representatif bagi masyarakat.
Masyarakat di Desa Lako Akelamo menganggap Polindes sangat
dibutuhkan bagi masyarakat setempat, karena membantu kebutuhan pelayanan
kesehatan yang lebih efektif. Kehadiran Polindes akan memperpendek akses
pelayanan kesehatan yang dulunya masih berpusat di Kecamatan. Walau pun
dari sisi sarana dan prasarana kesehatan belum memadai, namun aktivitas
pelayanan di polides dengan kehadiran dua orang petugas kesehatan, dianggap
sangat membantu melayani kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat
setempat.
Sebagai Ibu Kota Kecamatan, Desa Susupu memiliki sebuah puskesmas
dilengkapi dengan peralatan medis yang modern. Masuknya metode pengobatan
modern, perlahan-lahan menggeser praktek pengobatan tradisional masyarakat
setempat. Masyarakat di Desa Susupu masih memanfaatkan tumbuh-tumbuhan,
daun-daunan, kulit pohon, sebagai ramuan obat. Masyarakat masih percaya
pada kekuatan doa “orang pintar” untuk mengobati atau menyembuhkan
penyakit.
Masyarakat saat ini mengenal mantri atau bidan.
mereka lebih
Pada masa lalu,
mengenal dengan nama “sou-sou” atau tukang obat. Yang
termasuk dalam kategori tukang obat di Desa Susupu adalah, para dukun, tokoh
agama
termasuk imam, ustad, dll. Mereka mendapatkan kedudukan khusus
sebagai tukang obat. Pengetahuan tenaga medis menurut anggapan masyarakat
seringkali menjadikan pasien sebagai kelinci percobaan, selalu gonta-ganti obat
tapi penyakit tidak berakhir sembuh, sementara biaya pengobatan terus
mengalir.
Situasi perebutan tugas dan fungsi pelayanan kesehatan dapat diamati
pada kedua wilayah ini antara dukun dan mantri, Terkadang terjadi “pelarian
pasien” dari pengobatan modern/tenaga medis (puskesmas) ke pengobatan ala
54
dukun, maupun sebaliknya, namun ada pula pasien yang menggunakan kedua
metode pengobatan dimaksud.
Walaupun
demikian
sebagian
masyarakat
meyakini
bahwa
sakit
mebutuhkan pelayanan medis namun harus disertai juga dengan pengobatan
tradisonal seperti halnya dukun, karena sakitnya sesorang
biasanya sering
dikaitkan dengan faktor gangguan kekuatan roh-roh halus dan guna-guna/pelet.
Kepercayaan terhadap dukun, dan kekuatan-kekuatan roh halus lainnya
seperti, wonge (jin, dll) telah menciptakan kehidupan masyarakat yang penuh
kecurigaan antara satu dengan yang lain. Misalnya setelah didiagnosa oleh
dukun A, orang kemudian saling mencurigai atau menuding dukun A atau B yang
telah membuat keluarga atau saudaranya menjadi sakit. Situasi ini kadang
menjadi kericuhan antara keluarga pasien dengan keluarga dukun. Menurut
mereka, faktor ini jugalah yang sangat berpengaruh terhadap eksistensi bari di
Desa Susupu. Saling curiga dan menuding antar sesama kelompok/keluarga
yang membuat semangat bari hari demi hari kian memudar. Hubungan
kekerabatan antara masyarakat menjadi terancam, akibat dari saling menuding,
mencurigai antara keluarga dukun dengan masyarakat pengguna jasa
pengobatan alternative itu.
Fenomena di Desa Susupu tentu sangat berbeda dengan apa yang
terjadi di Desa Lako Akelamo. Desa yang juga kebagian program pengembangan
Kecamatan menggunakan dana PKK dalam bentuk pembangunan polindes (poli
klinik desa). Walaupun sedikit masih mempercayai pengobatan tradisional dalam
pelayanan kesehatan namun dengan berdirinya sebuah instutusi polindes, sedikit
demi sedikit telah mengubah atau menggeser sistem pengobatan alternatif yang
dahulu sering dilakukan masyarakat. Ungkapan seorang tokoh masyarakat
bahwa;,
torang kalo tetap pertahankan torang pa model ba obat deng dukun,
torang pe desa akan tara maju, karena saling baku curiga ( artinya, jika
kita tetap mempertahankan tradisi pengobatan dengan menggunakan
dukun, desa kita tidak akan maju, karena saling curiga antara satu
dengan yang lainnya).
Dahulu sebelum adanya polindes dan puskesmas menurut Jamrud di
desanya terdapat beberapa orang dukun tanpa menyebutkan namanya, tetapi
mereka sudah hijrah keluar desa. Kehadiran polindes bukanlah salah satu
alasan” kabur”nya para dukun itu, akan tetapi beberapa kejadian rumah dukun
dibakar oleh massa karena dianggap meresahkan masyarakat di Desa Lako
55
Akelamo. Tekanan sosial masyarakat di Lako Akelamolah yang membuat dukun
hengkang keluar dari desa. Berbagai macam penyuluhan kesehatan gencar
dilakukan oleh pemerintah daerah melalui dinas kesehatan dan Puskesmas
setempat. Kepala Puskesmas Sahu mengatakan bahwa dengan penyuluhan
kesehatan pihaknya akan menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan,
sehingga masyarakat di tingkat Kecamatan dan desa tidak saja sadar, tahu dan
mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada
hubungannya dengan pelayanan kesehatan modern.
Topik kesehatan yang diungkap masyarakat in, menunjukkan, bahwa
modernisasi melalui metode dan praktek pengobatan modern sesungguhnya
tidak
serta-merta
diterima
dengan
baik
oleh
masyarakat.
Masyarakat
menunjukkan reaksi yang beragam atas masuknya unsur modern ini. Sebagian
menerima metode pengobatan modern ditunjukkan dengan perubahan perilaku
mereka dengan memilih berobat ke polindes atau pun puskesmas. Sebagian
lainnya menolak dan membangun resistensi dengan alasan bahwa pengobatan
modern yang dilakukan dokter seringkali tidak tepat diagnosanya dan mereka
merasa digunakan sebagai ujicoba saja. Sementara
sebagian lainnya
mengadopsi kedua metode pengobatan baik tradisional maupun medis.
Menurunnya perilaku masyarakat yang mendatangi dukun di saat sakit di
mana mereka mempraktekkan metode pengobatan mistis melalui mantra-mantra,
disebabkan oleh tercederainya kepercayaan sosial masyarakat. Hal ini ditambah
dengan segera masuknya metode pengobatan modern.
Keberadaan fisik puskesmas, polindes, adanya tenaga kesehatan medis,
dokter dan bidan medis, kemudian kegiatan penyuluhan kesehatan serta praktek
pengobatan medis telah mempengaruhi perilaku sosial masyarakat. Segala yang
baru dan datang dari luar itu tak hanya membawa serta atribut modernitas
melainkan lebih dari itu mereka membawa serta pengetahuan. Pengetahuan
sesungguhnya adalah hal yang sangat penting mempengaruhi perkembangan
sosial masyarakat. Pengetahuan bahkan menyimpan power (kekuasaan). Proses
transformasi pengetahuan modern itu menggeser posisi pengetahuan lokal
masyarakat yang selama ini ditunjukkan dengan mantra-mantra, do’a-do’a, dan
tradisi
ramuan
obat-obatan
tradisional.
Sebagaimana
Foucoult
(1980)
mempercayai bahwa pengetahuan adalah juga alat hegemoni bagi kekuasaan.
Dalam kenyataannya ini ditunjukkan oleh semakin melunturnya metode
pengobatan lama.
56
Masuknya program-program pemerintah termasuk melalui pembangunan
infrastruktur, birokrasi, bantuan donasi melalui pembangunan jalan, penempatan
kantor-kantor pemerintah beserta perangkat sumber daya manusianya, program
PPK dan sejenisnya dalam kasus ini menunjukkan bahwa penetrasi negara ke
dalam masyarakat terjadi menggunakan unsur-unsur birokrasi, donasi dana
bantuan, dan bahkan penetrasi pengetahuan baru yang dianggap lebih logis,
masuk akal dan karenanya disebut modern. Sikap masyarakat yang menerima,
menolak, menerima sebagian, atau memadukannya, menunjukkan bahwa
penetrasi unsur-unsur baru tersebut tidak serta merta dapat diadaptasi,
melainkan dapat pula diresistensi. Resistensi dilakukan masyarakat dalam kasus
ini disebabkan oleh persoalan akses masyarakat terhadap unsur-unsur baru
tersebut
terbatas.
Dalam
kasus
praktek
pengobatan,
penolakan
pada
pengobatan modern (dokter) disebabkan akses terhadap lokasi dan mahalnya
biaya pengobatan medis dibanding non medis yang jauh lebih murah.
5.6. Tragedi Bantuan Subsidi dan Uang Saku.
Diketahui bahwa sekitar tahun 2005 disaat kebijakan pemerintah menaikan harga
BBM, dan memberikan bentuk subsidi pada tingkatan desa seperti halnya
subsisdi desa yang lebih dikenal dengan ADD, dan Raskin, sepertinya menyeret
desa ke dalam persoalan baru yang meresahkan. Keputusan menaikan harga
BBM dan Bantuan Subsidi desa , bagi Pemerintah adalah suatu kebijakan
populis dan subsidi diperuntukan untuk meningkatkan kesejahteraan desa dan
aparatur desa dalam melakukan tugas dan fungsinya, namun harus dikatakan,
fenomena ini justru menempatkan pemerintah ibarat
sinterklas yang
membagikan uang tanpa memikirkan persoalan-persoalan yang bermunculan di
tingkat desa.
Kegelisahan atas bantuan raskin maupun keberadaan Bantuan Subsidi di
tingkat desa, membuat banyak kepala desa maupun RT
berperan sebagai
primus interparus dalam komunitas desa justru dihakimi oleh warga desa karena
di anggap telah bertindak sewenang –wenang dalam melakukan rekruitmen
penerima bantuan berdasarkan kolusi dan nepotisme. Fenomena ini terjadi di
Kecamatan Sahu khususnya di Desa Susupu, dimana Kepala Desa dan salah
satu kaurnya yakni kaur pemerintahan diduga masyarakat telah memakai
sebagian Dana Bantuan ( ADD) untuk kepentingan pribadinya dan keluarganya.
Kegelisahan
warga
inipun
kemudian
berujung
pada
kemarahan
yang
57
menyebabkan rumah milik kaur pemerintahan dilempari batu. Oleh karenanya,
banyak masyarakat di desa Susupu khususnya menghendaki tidak perlu adanya
bantuan subsidi seperti yang mereka terima, karena dana dan batuan itu bukan
digunakan untuk kepentingan desa dan masyarakat, tetapi kebanyakan di ”sunat
oleh pemerintah terkait.
Pandangan
sebagian
masyarakat
di
desa
Susupu
mengaggap
pemerintah selalu terus membudayakan budaya uang khususnya bagi mereka
yang duduk sebagai aparat desa. Bahkan tokoh-tokoh masyarakat pun ikut di
manjakan oleh pemerintah dengan budaya uang. Mereka mencontohkan
bagaimana proses Musyawarah Pembangunan Desa (Musrembangdes), panitia
musrembangdes (Bappeda) selau menyediakan uang saku bagi aparat desa
maupun tokoh-tokoh masyarakat yang di undang. Bagi mereka ini praktek buruk,
terkadang tercipta kecemburuan bagi mereka yang disebut tokoh masyarakat
namun tidak di undang, karena tidak direkomendasikan, tetapi bagi panitia
musrembang (Bappeda) menganggap bahwa, penyediaan uang saku ini sudah
ditetapkan anggarannya untuk diberikan, sebagai pengganti pendapatan
kesehariannya, karena telah menyita waktu mereka untuk hadir dalam kegiatan
itu. Praktek uang saku semacam ini, menjadi sebuah kebiasaan pada akhirnya
dalam setiap pertemuan yang dilaksanakan oleh pihak pemerintah daerah, LSM,
yang menyangkut dengan kepentingan desanya sendiri, jika tidak disediakan
uang saku maka mereka tidak akan datang untuk mengikuti pertemuan tersebut,
terkecuali pemerintah desa. Kekesalan dengan wajah kecewa kembali di rumah,
jika dalam pertemuan itu tidak diberikan uang saku.
Selanjutnya, di Desa Akelamo
tidak ditemui sikap protes masyarakat
terhadap penyaluran bantuan ADD maupun Bantuan Raskin kepada masyarakat.
Mekanisme penggunaan dan petangungjawaban bantuan tersebut yang
transparan dan tidak diskriminatif oleh aparat desa, membuat mereka di desa ini
tidak mendapat hujatan/di hakimi oleh maasyarakat seperti yang terjadi di desa
tetangganya (Susupu).
Kepala desa yang diwawancari seputar penggunaan
dana ADD, mengatakan bahwa sebagaian dananya digunakan untuk pembuatan
pagar permanen pada setiap rumah masyarakat di desanya, akan tetapi bahan
bakunya saja yang disediakan pemerintah desa dengan anggaran ADD, seperti
semen, besi, batu dan pasir. Pekerjaan pembuatan pagar dilakukan secara bari
sehingga
pada
akhirnya
proyek
pagar
pemukimanpun
selesai,
tanpa
menggunakan ”tukang batu”. Pekerjaan pagar rumah beton permanen di desa
58
Lako Akelamo secara bari bagi mereka sangat meringankan beban biaya, akan
tetapi bagi kepala desa setempat, bukan soal biaya pekerjaan tukang yang
menjadi masalah, namun bekerja dengan
semangat bari lebih memperkuat
semangat kebersamaan, kerjasama, saling peduli di desa, dan yang paling
penting adalah mereka warga masyarakat desa Lako Akelamo merasa memiliki
terhadap pagar beton permanen yang merupakan hasil kerjaan mereka sendiri.
Jika kita berdiri dari ujung perkampungan (desa) Lako Akelamo ini, dapat dilihat
desa yang benar-benar tertata dengan rapi, dan memiliki pagar beton yang
seragam (satu model). Pandangan mereka seputar pemberian bantuan/subsidi
dari pemerintah, bagi masyarakat desa Lako Akelamo tidak ada kesempatan
yang harus dilewatkan untuk tidak menerima bantuan yang diberikan,karena bagi
mereka yang penting pemerintah desa (aparat desa) dapat mengelolanya secara
transparan, amanah dan bertanggungjawab, serta bantuan tersebut tidak
membuat hancur kehidupan didesa Lako Akelamo yang sarat dengan adat
budaya se atorang.
Kalau dilihat, program bantuan subsidi (ADD) dan sejenisnya, telah
melahirkan dan memperkuat budaya mengemis, bukan bekerja keras dan kritis.
Bila mengemis menjadi membudaya di tubuh masyarakat, ketergantungan
terhadap pemerintah adalah sesuatu sikap yang dapat di elakan. Tidak memiliki
sikap kritis terhadap program pemerintah
boleh jadi menyebabkan mereka
menjadi miskin. Program seperti ini pernah bermunculan pada zaman Orde Baru.
Dana pembangunan mengalir ke desa-desa yang mengabdi ke pemerintah
dengan memenangkan partai pemerintah dalam setiap pemilu. Akibatnya inisitatif
lokal untuk berswadaya dan mengkritisi program pemerintah menjadi lemah.
Hal lain yang terkait dengan masalah desa akibat dari hadirnya bantuan
dan praktek uang saku tersebut perlahan-lahan megikis nilai bari dan
melemahkan kelembagaan mabari di tingkat komunitas desa, khususnya desa
Susupu. Solidaritas dan kerjasama warga didesa Susupu sebagai bagian dari
proses hidup bertetangga dan bermasyarakat mulai rapuh. Masyarakat di Desa
Susupu, tidak memiliki rasa kepercayaan lagi terhadap pemerintah desa (apartur
desa) dan sebagian tokoh masyarakatnya.
Download