Pengelolaan Obligasi Daerah - Finansial Bisnis Informasi

advertisement
Pengelolaan Obligasi Daerah
Oleh: DR. Adler Haymans Manurung, M.Com., ME
Pendahuluan
Pemerintah regional atau daerah yang dapat dikelompokkan dari menjadi dua
kelompok besar yaitu Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten. Pemerintah
tersebut membelanjai kebutuhan daerahnya melalui pendapatan daerah yang setiap tahun
dibuat dalam APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) disahkan oleh DPRD
(dewan perwakilan rakyat daerah) yang bersangkutan. Pendapatan daerah diperoleh
melalui redistribusi, DAU (dana alokasi umum) dari pusat dana bagi hasil dan
sebagainya. Seringkali daerah kurang cukup pendapatannya untuk membiayai projek
yang sedang dikerjakan sehingga mempunyai kesulitan dalam penyelesaian bahkan
menunggu dana dari pusat maupun untuk berikutnya.
Sejak berlakunya Undang-undang Otonomi daerah yang dituangkan pada UU No.
22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah maka penataan pemerintahan dan keuangan
daerah semakin mempunyai peranan. Kesulitan yang dihadapi akan terpecahkan dengan
keluarnya Undang-undang ini. Kemudian, kekurangan dana dalam APBD dapat
dilakukan melalui pinjaman atau obligasi daerah yang dituangkan dalam Peraturan
Pemerintah No. 54 tahun 2005 Tentang Pinjaman Daerah. Dalam PP ini disebutkan
daerah melakukan pinjaman atau menerbitkan Obligasi daerah yang bersangkutan.
Tetapi, hanya pinjaman daerah yang akan dapat dikerjakan karena penerbitan obligasi
belum secara jelas diuraikan dalam PP ini. Selanjutnya, karena penerbitan obligasi
merupakan wewenang Menteri Keuangan maka dikeluarkanlah Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 147/KMK.07/2006 tentang Tatacara Penerbitan, Pertanggunjawaban
dan Publikasi Informasi Obligasi Daerah. Peraturan ini secara jelas menguraikan cara
menerbitkan obligasi daerah dan diharapkan dapat membantu daerah untuk mendapatkan
dana.
Selanjutnya, Pemerintah daerah harus memikirkan bagaimana mengelola obligasi
daerah tersebut agar obligasi daerah yang diterbitkan diminati investor. Walaupun
sebenarnya, Peraturan Menkeu tersebut menguraikan didirikannya Satuan Kerja
Perangkat Daerah untuk menindaklanjuti dan mempersiapkan serta penerbitan sampai
jatuh tempo obligasi daerah tersebut. Penerbitan obligasi yang waktunya sesuai dengan
dana yang dimiliki investor merupakan faktor penting untuk membuat obligasi daerah
dapat laku dijual di pasar primer. Pemberian informasi juga sangat penting agar transaksi
obligasi di pasar sekunder menjadi sangat likuid.
Inbvestor yang melakukan investasi terhadap obligasi daerah juga memerlukan
pengetahuan yang mendalam mengelola obligasi ini. Pengetahuan khusus diperlukan
untuk mengelola obligasi ini karena mempunyai ciri tersendiri dan umumnya
memberikan yield sedikit diatas yield obligasi Pemerintah Pusat yang saat ini banyak
beredar di pasar.
Bagaimana pengelolaan portofolio obligasi baik dari segi pemerintah daerah
sebagai penerbit dan investor sebagai pemilik merupakan pembahasan paper ini. Paper
ini dibagi dalam lima bagian. Bagian berikutnya membahas konsep dan definisi obligasi
daerah dimana didalamnya diuraikan obligasi yang sesuai diterbitkan pemerintah daerah.
Bagian Ketiga membahas mengenai investor obligasi daerah dan mungkinkan obligasi
daerah ini akan diserap pasar dikemudian hari. Bagian keempat menjelaskan pengelolaan
obligasi daerah baik dari pemerintah daerah dan investor. Akhirnya, tulisan akan
memberikan kesimpulan ringkas.
Obligasi Daerah
Obligasi daerah adalah surat hutang yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk
mendapatkan dana dalam rangka membiayai daerah yang bersangkutan. Peraturan
Pemerintah No. 54 tahun 2005 tentang Pinjaman daerah dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 147/KMK.07/2006 menyatakan Obligasi adalah pinjaman daerah yang
ditawarkan kepada ublik melalui penawaran umum di pasar modal. Obligasi daerah yang
dikenal dengan Municipal Bond sudah sangat terkenal di Amerika Serikat bahkan
investor banyak melakukan investasi pada obligasi ini baik dana pension, asuransi,
manajer investasi maupun perusahaan swasta serta pemerintah daerah lain yang kelebihan
dana. Obligasi daerah sudah bisa diterbitkan daerah dengan peraturan yang dikeluarkan
Menteri Keuangan yaitu Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/KMK.07/2006 tentang
Tatacara Penerbitan, Pertanggunjawaban dan Publikasi Informasi Obligasi Daerah.
Peraturan ini memberikan peluang dan juga kehati-hatian bagi daerah untuk menerbitkan
obligasi daerah.
Obligasi negara yang diterbitkan Pemerintah Pusat melalui Menteri Keuangan
mempunyai jangka waktu dari 3 tahun sampai dengan 30 tahun. Obligasi daerah ini akan
mempunyai umur sangat bervariasi tergantung dari perencanaan keuangan daerah
tersebut. Persoalan utama yang muncul adalah Kepala Daerahnya sudah tidak
memerintah lagi tetapi obligasinya belum jatuh tempo, sehingga kepastian pembayaran
obligasi tersebut belum bisa dikatakan dibayar. Sebaiknya, Pemerintah membuat
peraturan lagi yang terikat kepada semua Kepala Daerah yang menjabat turut
bertanggungjawab atas seluruh pinjaman tersebut.
Alternatif lain yang bisa dilakukan yaitu membuat periode obligasi daerah tidak
melebihi 4 tahun. Obligasi harus sudah terbayar sebelum Kepala Daerah tidak
memimpin kembali. Dalam kasus ini, perencanaan keuangan daerah harus lebih jelas dan
teliti sehingga pemberdayaan pihak yang terkait seperti Kantor Bappeda dan Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sangat mutlak dilaksanakan. SKPD harus mempunyai
kualifikasi yang memadai dengan cara mengikuti pelatihan dan pendidikan yang sesuai
serta bersertifikasi.
Alternatif lain yang bisa dilakukan yaitu dengan cara membuat struktur obligasi
yang mana obligasi tersebut mempunyai jaminan akan terbayar melalui struktur produk
yang dilakukan. Struktur produk yang dilakukan sebagai berikut: Obligasi daerah
diterbitkan Rp. 1 trilliun dengan periode 30 tahun, kemudian dananya sebesar Rp. 100
milyar dibelikan obligasi Pemerintah Pusat dengan kupon 8% selama periode 30 tahun.
Nilai hasil obligasi Pemerintah Pusat tersebut akan bernilai Rp. 1 trilliun setelah 30
tahun, artinya pokok obligasi daerah akan terbayar, tetapi daerah hanya memikirkan
pembayaran kuponnya. Pembayaran kupon dapat dilakukan melalui proyek dari Rp. 900
milyar atas kelebihan penerbitan obligasi daerah tersebut. Kasus ini akan menyelesaikan
persoalan permintaan jaminan Pemerintah atas obligasi daerah tersebut. Karena obligasi
Pemerintah Pusat sudah menjamin terbayarnya obligasi daerah tersebut.
Bagan 1: Penerbitan Obligasi Daerah dengan Struktur Penjaminan
Pasar Obligasi
Obligasi PP
Rp. 100 B
Daerah “XYZ”
Bond of Rp. 1 tr
INVESTOR
IDR 1 tr
Bank
Kustodian
Menurut Fabozzi (2004) bahwa obligasi dapat dikelompokkan menurut penerbit
dank upon obligasi. Obligasi daerah merupakan obligasi berdasarkan penerbitnya.
Obligasi dikelompokkan berdasarkan kuponnya yaitu obligasi berkupon nol (Zero
Coupon bond); obligasi berkupon tetap dan obligasi berkupon mengambang serta obligasi
pendapatan. Obligasi berkupon nol adalah obligasi yang tidak mempunyai kupon selama
periode obligasi. Investor membeli obligasinya pada harga diskon dan pada jatuh tempo
mendapatkan nilai jatuh tempo yang tertera pada obligasi tersebut. Sebenarnya, obligasi
ini membayar kupon di awal pembelian obligasi. Harga obligasi ini akan mengalami
kenaikan secara garis lurus dari mulai dibeli investor sampai jatuh tempo dengan catatan
tidak melakukan perdagangan atas obligasi ini. Bila terjadi tingkat bunga naik atau turun
maka obligasi ini mempunyai harga jauh lebih rendah dari harga yang dihitung secara
amortisasi garis lurus. Obligasi berkupon tetap adalah obligasi yang mempunyai kupon
tetap selama periode obligasi tersebut. Bila pada saat diterbitkan besarnya kupon 10
persen maka obligasi tersebut akan membayar kupon tetap 10 persen selama periode
obligasi. Bila terjadi tingkat bunga pasar naik maka harga obligasi ini yang mengalami
penurunan dan sebaliknya harga obligasi mengalami kenaikan bila tingkat bunga pasar
mengalami kenaikan. Obligasi berkupon mengambang adalah obligasi yang tingkat
kupon tidak tetap selama periode obligasi. Biasanya obligasi ini mengacu kepada sebuah
tingkat bunga dengan tambahan premium, misalkan tingkat bunga SBI + 200 bps (basis
poin = 2%). Bahkan Australia menerbitkan obligasi yang dikaitkan dengan inflasi
dengan tambahan premium beberapa ratus basis poin. Tingkat bunga kupon ditentukan
sekali enam bulan dimana penentuan paling cepat satu minggu sebelum tingkat bunga
kupon tersebut diberlakukan. Obligasi pendapatan adalah obligasi yang kuponnya
didasarkan kepada pendapatan penerbit obligasi. Obligasi ini sudah ada di Indonesia
diterbitkan PT Citra Marga NP. Obligasi sangat cocok untuk obligasi yang mempunyai
pendapatan dapat dihitung secara jelas dan pasti misalkan jalan tol, perusahaan air minum
dan listrik dan sebagainya.
Berdasarkan uraian jenis obligasi tersebut, maka obligasi yang sangat sesuai
dengan daerah yaitu obligasi berkupon nol dan obligasi pendapatan. Obligasi berkupon
nol sangat tepat diterbitkan oleh daerah karena daerah tidak perlu memikirkan
pembayaran bunga setiap periode yang dijanjikan seperti obligasi umumnya. Pemerintah
daerah hanya memikirkan nilai jatuh tempo pada saat jatuh tempo. Artinya, dalam
perencanaan keuangan daerah tersebut sudah dibuat besaran pembayaran yang akan
dilakukan setiap tahun. Penerbitan obligasi daerah membuat Kepala daerah yang
bersangkutan harus memahami keuangan daerah dan tidak membuat persoalan kepada
pegawai yang membatu untuk mengaturnya. Obligasi ini membuat daerah harus tertib
dalam keuangan dalam jangka panjang serta terencana.
Bila daerah tersebut telah menerbitkan obligasi berkupon nol maka kemungkinan
untuk menerbitkan obligasi pendapatan sangat besar bila ada projek yang sangat
menguntungkan akan dikerjakan. Misalkan, pemerintah daerah ingin mendirikan taman
bermain untuk masyarakat sekitar atau proyek listrik maka pemerintah daerah dapat
menerbitkan obligasi pendapatan berdasarkan pendapatan dari projek tersebut sehingga
APBDnya tidak terganggu.
Investor Obligasi Daerah
Keberhasilan obligasi daerah tidak terlepas dari berbagai partisan yang ikut
berkecimpung dalam transaksi obligasi tersebut. Pemerintah Daerah sebagai penerbit
mempunyai peranan penting. Pemerintah Daerah tidak bisa berjalan dengan sendirinya
karena sangat dibutuhkan investor yang dapat membeli obligasi tersebut. Investor
obligasi daerah bisa diketahui secara jelas yaitu investor individu, Dana Pensiun,
Perusahaan Asuransi, Bank, BPR, perusahaan multifinance, perusahaan swasta dan
pemerintah, pemerintah daerah yang surplus dan investor luar negeri. Tabel dalam
lampiran paper ini memperlihatkan dana yang dimiliki investor tersebut.
Jumlah dana masyarakat yang terhimpun di perbankan pada akhir 2006 sebanyak Rp
1.300 trilliun dimana dana tersebut sekitar 57 persen atau Rp. 742 trilliun merupakan
milik peorarangan; sekitar 24,3 persen atau Rp. 315 trilliun milik perusahaan swasta;
sekitar 9 persen atau Rp. 118 trilliun merupakan milik pemerintah. Bank Perkreditan
Rakyat yang juga menghimpun dana masyarakat di pedesaan telah menghimpun dana
sebesar Rp. 14 trilliun pada akhir tahun 2006. Data ini memberikan informasi bahwa
obligasi daerah masih mempunyai tempat di masyarakat. Obligasi tersebut akan sangat
laku dijual bila obligasi tersebut memenuhi kriteria yang selalu diinginkan investor
seperti yield yang sedikit tinggi, risiko yang sangat rendah dan terjamin. Bila obligasi
daerah yang diterbitkan dalam dua tahun kedepan sebesar Rp. 10 trilliun tidak akan
mempengaruhi keseimbangan dana perbankan, karena dana tersebut hanya merupakan
0,8% dari dana yang dikumpulkan perbankan. Dana Rp. 10 triliiun tersebut masih 12,8
persen dari bunga yang dibayarkan perbankan dimana tingkat bunga sebesar 6%.
Pemerintah daerah yang kelebihan dana juga dapat melakukan investasi pada
obligasi daerah. Dana yang dimilik pemerintah daerah ada sebanyak Rp. 68 trilliun pada
akhir tahun 2006. Artinya, daerah sendiri bisa saling bantu dan tidak perlu melakukan
penawaran kepada pihak lain untuk mendapatkan dana melalui obligasi daerah ini.
Dana pensiun yang juga menghimpun dari pekerja untuk keperluan pensiun di
masa pensiun pekerja telah mempunyai dana investasi sebesar Rp. 120 trilliun.1 Dana ini
cukup besar dan pantas diinvestasikan pada obligasi daerah yang memberikan yield
melebihi kebutuhan dana pensiun tersebut.
Perusahaan asuransi yang juga
mengumpulkan dana dengan premi asuransi dan investasi untuk menanggung risiko yang
dihadapi investor telah mempunyai dana investasi sekitar Rp. 60 trilliun pada akhir 2006.
Dana ini juga sangat layak diinvestasikan pada obligasi daerah yang mempunyai periode
mengenah dan panjang.
Pengelolaan Obligasi Daerah
Obligasi daerah yang telah terbit dipasar merupakan tempat investasi dari dana
investor dan sumber dana bagi pemerintah daerah. Obligasi daerah ini perlu dikelola
dengan baik agar memperoleh image baik sehingga investor mau terus melakukan
investasi pada obligasi tersebut sehingga pemerintah daerah tidak kewalahan untuk
menerbitkannya.
Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/KMK.07/2006 pasal 2
disebutkan bahwa pengelolaan obligasi daerah oleh Kepala Daerah meliputi:
a. penetapan strategi dan kebijakan termasuk pengendalian risiko;
b. perencanaan dan penetapan struktur portofolio pinjaman daerah;
c. penerbitan obligasi daerah
d. penjualan obligasi daerah;
e. pembelian kembali obligasi daerah sebelum jatuh tempo;
f. pelunasan pada saat jatuh tempo; dan
g. pertanggungjawaban.
Pengendalian risiko oleh Pemerintah Daerah sangat penting terutama risiko obligasi
daerah yang diterbitkan. Risiko utama yang harus dikelola Pemerintah daerah yaitu
ketepatan waktu atas pembayaran bunga dan prinsipal obligasi. Untuk ini, Pemerintah
daerah harus membuat arus kas keuangan Pemerintah Daerah tersebut. Arus kas ini harus
dibuat dalam jangka panjang dan diperbaharui setiap bulannya. Oleh karenanya, sistim
informasi pada SKPD harus lebih rapih, cermat dan tepat. Bila Pemerintah Daerah tidak
ingin timbul persoalan dalam pembayaran bunga maka obligasi yang diterbitkan
sebaiknya obligasi berkupon nol.
Dalam menjual obligasi daerah ini, Pemerintah daerah perlu memperhatikan
alokasi pembeli dari obligasi tersebut. Kejadian obligasi Pemerintah Pusat yang selalu
harganya diturunkan ketika Pemerintah ingin menerbitkan obligasi baru 2 agar obligasi
tersebut mempunyai yield yang tinggi. Setelah penawaran obligasi selesai, harga obligasi
kembali ke level semula. Kejadian ini sudah berulang dan diharapkan tidak terjadi pada
obligasi daerah bila alokasi penjualan obligasi sangat bervariasi sehingga likuiditas
terjamin. Pemerintah Daerah perlu mempergunakan Invesment Banking yang bisa
1
Data ini diperoleh dari bahan presentasi Ketua Bapepam Dr. Fuad Rahmani, pada diskusi “Pembiayaan
Sektor Riil” di Bank Indonesia 25 Juli 2007
2
Sejak tahun 2006, Menteri Keuangan telah mengumumkan tanggal penerbitan obligasi dan sekarang ini
setiap bulannya ada obligasi yang ditawarkan dan umumnya diantara tanggal 20 - 25 setiap bulannya.
mengatasi persoalan yang diuraikan sebelumnya. Carter dan Manaster (1990)
menyatakan bahwa reputasi underwriter (investment banking) sangat berpengaruh
terhadap penawaran public offering. Walaupun penelitian tersebut di bidang saham tetapi
hasil penelitian tersebut bisa sebagai warning untuk penerbit obligasi daerah.
Dalam penerbitan obligasi daerah jua diperhatikan PP No. 3 tahun 2003 tentang
Pengendalian jumlah kumulatif Defisit APBN dan APBD serta jumlah kumulatif
Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pada PP terebut dinyatakan
rumusan Rasio Kemampuan membayar kembali pinjaman sebagai berikut:
DSCR =
{PAD + ( DBH − DBHDR) + DAU } − BelanjaWajib
≥ 2.5
AngsuranPokokPinjaman + Bunga + BiayaLain
DSCR =
Debt Service Coverage Ratio atau Rasio Kemampuan Membayar Kembali
Pinjaman.
PAD = Pendapatan Asli Daerah
DAU = Dana Alokasi Umum
DBH = Dana Bagi Hasil; dan
DBHDR Dana Bagi Hasi; Dana Reboisasi
Selanjutnya, Pemerintah Daerah yang menerbitkan obligasi daerah sangat perlu
melakukan edukasi mengenai obligasi ini terutama yang menjadi staf pada SKPD.
Semakin baik pengetahuan staff SKPD maka semakin baik informasi yang diberikan
investor maka reputasi pemerintah daerah semakin bagus. Pengetahuan yang baik juga
membuat perencanaan keuangan daerah semakin baik dan perencanaan investasi juga
semakin dan kemajuan ekonomi daerah yang bersangkutan semakin dan akhirnya
pendapatan masyarakat daerah tersebut mengalami peningkatan.
Pengelolaan obligasi bagi investor umumnya harus disesuaikan dengan
karakteristik investor tersebut. Fong dan Fabozzi (1985) menyatakan bahwa pengelolaan
portofolio dalam bentuk aset finasial berpendapatan tetap (fixed Income) dapat
dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu pengelolaan aktif, pengelolaan passif
dan immunisasi & mencocokkan arus kas. Ketiga pendekatan pengelolaan portofolio
tersebut digambarkan dalam bentuk segi tiga yang setiap sudut mengambarkan
pengelolaan portofolio.
Sudut pertama menyatakan bahwa pengelolaan portofolio dengan aktif. Dalam
pengelolaan ini investor harus mampu melakukan antisipasi terhadap tingkat bunga dan
menilai sektor dari perusahaan yang menerbitkan obligasi. Antisipasi tingkat bunga
merupakan sebuah tindakan yang membuat investor atau manajer investasi menaikan
durasi dari portofolio agar kenaikan yield tidak membuat harga obligasi portofolio turun
tajam atau melakukan perubahan portofolio. Pemilihan dan penilaian sektor usaha sangat
penting agar obligasi yang dikelola tetap membayar bunga. Sudut kedua memberikan
metode pengelolaan lai yaitu pengelolaan secara pasif dimana manajer investasi membeli
dan menahan obligasi sampai jatuh tempo atau pada saat dana dibutuhkan. Disamping,
manajer investasi bisa juga mengikuti pola pasar yaitu indeks obligasi. Sudut ketiga
menyatakan pengelolaan portofolio dengan menggabungkan kedua pendekatan yang
diuraikan sebelum. Ketiga pengelolaan ini akan diuraikan dengan berbagai contoh pada
bab berikutnya.
Immunization & Cash Flow Matching
Expectations
Active management
1. Rate anticipation
2. Sector valuation
Nonexpectations
Passive management
1. Buy and hold
2. Indexing
Bagan 1.3: Pendekatan Pengelolaan portofolio Obligasi
Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan oleh investor atau manajer
investasi dalam mengelola portofolio obligasi yaitu tingkat bunga. Untuk pengelolaan
aktif portofolio, investor atau manajer investasi setiap saat harus mengetahui
perkembangan tingkat bunga. Investor atau Manajer investasi harus membuat antisipasi
agar portofolio yang dikelola tidak mengalami penurunan. Sedangkan, pengelolaan
passif portofolio tidak begitu memperhatikan tingkat bunga selama portofolio dikelola.
Tetapi, investor atau manajer investasi hanya mempelajari benchmark portofolio saja.
Pada pengelolaan immnunisasi, investor atau manajer investasi membangun portofolio
dengan cara membuat portofolio tersebut kebal (immun) dari perubahan tingkat bunga.
Awal membuat portofolio, investor atau manajer investasi harus memahami arah tingkat
bunga sehingga portofolio yang dibangun dapat memberikan kepuasan investor.
Kesimpulan
Sesuai dengan uraian sebelumnya maka dapat diberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Obligasi daerah sangat layak diterbitkan.
2. Obligasi daerah yang layak diterbitkan pemerintah daeraj yaitu obligasi berkupon
nol dan obligasi pendapatan, untuk melindungi kepentingan pemerintah daerah
dan investor.
3. Obligasi daerah harus dikelola dengan baik agar memberikan image yang cukup
baik untuk mendukung penerbitan obligasi berikutnya.
4. Waktu penerbitan obligasi harus diperhatikan Pemerintah Daerah dalam rangkan
penjualan obligasi tersebut.
5. Investor dapat menggunakan berbagai pendekatan untuk mengelola obligasi
daerah tersebut.
Daftar Referensi
Charter R. dan S. Manaster (1990); Initial Public Offering dan Underwriter Reputation;
Journal of Finance, Vol. VL; pp. 1045 – 1067.
Fabozzi, F. (2004); Bond Market, Analysis and Strategies; 5th eds.; Prentice Hall
International Editions
____________ (1997); Managing Fixed Income Portfolios; Frank J. Fabozzi Associates,
New Hope, Pennsylvania.
____________ (1996); Bond Portfolio Management; Frank J. Fabozzi Associates.
Fabozzi, F. J. and Gifford Fong (1994); Advanced Fixed Income Portfolio Management:
The State of the Art; Probus Publishing Company, Chicago, USA.
Fong, H. Gifford and F. J. Fabozzi (1985); Fixed Income Portfolio Management; Dow
Jones, Irwin, Illinois, USA.
Fabozzi, F.J.; Martellini, L. And Philippe Priaulet (2006); Advanced Bond Portfolio
Management: Best Practices in Modelling and Strategies; John Wiley & Sons Inc.
Alat Likuid di Sistim Keuangan Indonesia
Posisi Penghimpunan Dana Pihak Ketiga Pada Bank Umum Menurut Golongan Pemilik (Rupiah & Valas Rp. Bio)
KETERANGAN
1. Bukan Penduduk
2. Badan / Lembaga pemerintah
3. Badan Usaha Milik Negara
- Perusahaan Asuransi
- Perusahaan Pembiayaan
- Lainnya
Total Badan Usaha Milik Negara
4. Pemerintah
Antara lain pemerintah daerah (total)
- Dati I
- Dati II
5. Badan Usaha Milik Daerah
6. Badan Usaha Milik Swasta
- Perusahaan Asuransi
- Perusahaan Pembiayaan
- Koperasi
- Dana Pensiun
- Yayasan & Badan Sosial
- Lainnya 1)
Total Badan Usaha Milik Swasta
7. BPR
8. Perorangan
Total Dana Dihimpun
Tahun
2004
8,710
12,984
2002
16,917
18,477
2003
9,230
18,182
2005
14,156
14,655
2006
21,211
12,269
24,728
1,357
36,538
62,623
49,262
22,126
8,507
13,619
1,193
23,386
405
32,138
55,929
53,937
21,464
8,105
13,359
1,680
20,308
669
30,367
51,344
55,189
24,463
9,851
14,612
1,209
25,688
376
44,231
70,295
83,704
41,713
15,761
25,952
1,359
31,267
176
52,290
83,733
117,650
68,541
19,529
49,012
2,446
7,495
1,515
3,453
21,191
14,196
153,012
200,862
1,017
494,664
845,015
7,786
2,026
3,401
21,536
14,177
170,372
219,298
1,507
542,562
902,325
8,818
4,914
2,600
15,492
13,051
194,475
239,350
1,475
594,818
965,079
11,147
2,475
3,058
15,681
17,433
217,970
267,764
1,954
680,191
1,134,078
13,127
2,313
4,717
19,464
20,488
255,767
315,876
2,841
742,728
1,298,754
Posisi Penghimpunan Dana Pihak Ketiga Pada BPR Menurut Produk Bank (Dalam Rupiah dan Valas Rp. Bio)
Tahun
2004
3,329,786
7,859,701
11,189,487
2005
3,790,494
9,420,749
13,211,243
2006
3,868,793
10,059,636
13,928,429
2003
18,204
54,047
72,251
Tahun
2004
17,630
70,403
88,033
2005
20,553
93,804
114,357
2006
27,563
117,924
145,487
2003
205,428
2,931,390
3,136,818
Tahun
2004
242,260
3,085,114
3,327,374
2005
297,345
3,541,018
3,838,363
2006
272,901
3,550,509
3,823,410
Jumlah Alat Likuid pada Perusahaan Pembiayaan (dalam Milyar Rph)
Tahun
KETERANGAN
2002
2003
2004
Kas (Cash in Vault)
81
68
136
2005
297
2006
536
KETERANGAN
Tabungan
Deposito Berjangka
TOTAL
2002
2,020,803
4,124,398
6,145,201
2003
2,640,393
6,251,198
8,891,591
Jumlah Alat Likuid pada Bank Umum (dalam Milyar)
KETERANGAN
Kas (Cash in vault)
Giro pada BI (Demand deposit in BI)
TOTAL
2002
17,732
39,139
56,871
Jumlah Alat Likuid pada BPR (dalam miliar Rph)
KETERANGAN
Kas (Cash in vault)
Antar Bank Aktiva
TOTAL
2002
173,626
1,670,982
1,844,608
Download