BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN

advertisement
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
2.1Kajian Pustaka
2.1.1 Harga
Definisi harga menurut Kotler & Amstrong (2001) adalah sejumlah uang
yang dibebankan atas suatu produk, atau jumlah dari nilai yang ditukar konsumen
atas manfat-manfaat karena memiliki atau
menggunakan produk tersebut.
Monroe (2003) mendefinisikan harga sebagai
sejumlah uang yang harus
dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Harga juga dapat
diartikan sebagai sejumlah uang (satuan moneter) dan/atau aspek lain (non
moneter) yang mengandung utilitas/kegunaan tertentu yang diperlukan untuk
mendapatkan suatu jasa (Tjiptono, 2009). Sedangkan menurut Swasta (2001)
mendefinisikan harga sebagai jumlah uang (ditambah beberapa barang kalau
mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang
beserta pelayanannya. Dari berbagai definisi harga seperti tersebut diatas maka
bisa disimpulkan bahwa harga adalah sejumlah uang yang harus konsumen
bayarkan untuk mendapatkan barang atau jasa.
Istilah harga memiliki beraneka ragam penyebutan sesuai dengan aneka
ragam jenis produk/jasa yang dijual atau jenis manfaat yang diterima oleh
konsumen.
8
TABEL 2.1 BERBAGAI ISTILAH HARGA
ISTILAH HARGA
MANFAAT YANG DIBELI/DIBAYAR
 Tuition (uang kuliah)
 Jasa pendidikan
 Interest (bunga)
 Peminjaman,
penyimpanan
atau
pemakaian uang
 Rent (uang sewa)
 Penggunaan peralatan atau tempat untuk
periode waktu tertentu
 Fare
(ongkos/harga
 Jasa transportasi
karcis/tiket)
 Fee
 Jasa pengacara atau dokter
 Retainer
 Jasa konsultan atau pengacara selama
periode waktu tertentu
 Toll
 Penggunaan
jalan
tol
atau
telepon
interlokal
 Salary (gaji)
 Jasa seorang eksekutif atau white collar
worker lainnya
 Wage (upah)
 Jasa blue collar workers
 Commision (komisi)
 Jasa wiraniaga, makelar
 Dues (iuran)
 Keanggotaan dalam sebuah klub atau
organisasi
Sumber : Tjiptono (2009:140)
9
Harga merupakan salah satu dari elemen bauran pemasaran atau marketing
mix(Product, Price, Place, Promotion) yang dapat mempengaruhi konsumen
untuk membeli suatu produk. Harga merupakan satu-satunya elemen bauran
pemasaran yang memberikan pendapatan bagi perusahaan sedangkan ketiga
elemen bauran pemasaran lainnya yaitu produk, saluran distribusi ( place ) dan
promosi adalah elemen bauran pemasaran yang mengharuskan perusahaan
mengeluarkan biaya. Berikut gambar empat variabel bauran pemasaran :
Produk :
Ragam
Kualitas
Desain
Fitur
Nama Merek
Kemasan
Layanan
Pelanggan
Sasaran
Positioning yang
diharapkan
Promosi :
Iklan
Penjualan pribadi
Promosi penjualan
Hubungan masyarakat
Harga :
Daftar harga
Diskon
Potongan harga
Periode
pembayaran
Persyaratan kredit
Tempat :
Saluran
Cakupan
Pemilahan
Lokasi
Persediaan
Transportasi
Logistik
Sumber : Kottler (2008:62)
GAMBAR 2.1 BAURAN PEMASARAN ( MARKETING MIX )
10
Harga berperan penting untuk membentuk persepsi konsumen yaitu
penilaian konsumen tentang besarnya pengorbanan atau jumlah uang yang harus
dikeluarkan dengan apa yang didapat diperoleh dari produk atau jasa yang
ditawarkan. Menurut Stanton dalam Lembang (2010) mengungkapkan bahwa
ada empat indikator yang berkaitan dengan variabel harga yaitu :
1.
Keterjangkauan harga
2.
Kesesuaian harga dengan kualitas produk
3.
Daya saing harga
4.
Kesesuaian harga dengan manfaat
Harga mempengaruhi posisi bersaing dan pangsa pasar sehinggan penetapan
harga menjadi elemen strategis dalam implementasi strategi pemasaran. Penetapan
harga harus sesuai dengan strategi pemasaran dengan mempertimbangkan
beberapa faktor seperti tingkat persaingan, elastisitas harga dan permintaan, biaya
produksi dan biaya pemasaran lainnya seperti biaya promosi, biaya penjualan dan
biaya distribusi.
TABEL 2.2 KETERKAITAN STRATEGI PEMASARAN DENGAN
TUJUAN PENETAPAN HARGA
Strategi Pemasaran
Strategi Permintaan Primer
1 Meningkatkan jumlah pemakai
2
Menaikan tingkat pembelian
Tujuan Penetapan Harga
 Mengurangi resiko ekonomi dari
percobaan produk
 Menawarkan nilai yang lebih
baik dibandingkan bentuk/kelas
produk pesaing
 Meningkatkan frekwensi
kosumsi
 Menambah aplikasi/pemakaian
dalam situasi yang lebih banyak
11
Strategi permintaan selektif
1 Memperluas
pasar
dilayani
yang
2
Merebut pelanggan pesaing
3
mempertahankan/meningkatkan
permintaan pelanggan saat ini
 Melayani segmen yang berorientasi
pada harga
 Menawarkan versi produk yang
lebih mahal
 Mengalahkan pesaing dalam hal
harga
 Menggunakan harga untuk
mengindikasikan kualitas tinggi
 Mengeliminasi keunggulan harga
bersaing
 Menaikkan penjualan produk
komplementer
Sumber : Tjiptono&Chandra (2012:321)
Harga pada suatu produk menjadi ciri atas produk tersebut. Harga menjadi
alat pembanding antara satu produk dengan produk yang lain. Menurut Peter &
Olson (2000), dalam penetapan harga perlu mempertimbangkan faktor-faktor
sebagai berikut :
1.
Jumlah pesaing.
2.
Pangsa pasar pesaing.
3.
Lokasi pesaing.
4.
Kondisi untuk masuk ke dalam industri.
5.
Derajat integrasi vertikal pesaing.
6.
Kekuatan keuangan pesaing.
7.
Jumlah produk dan merek yang dijual oleh masing-masing pesaing
8.
Struktur biaya pesaing.
9.
Catatan historis reaksi pesaing terhadap perubahan harga.
12
Penetapan harga mempunyai beberapa tujuan. Adapun tujuan dari penetapan
harga adalah sebagai berikut (Peter & Olson, 2002) :
1.
Meningkatkan penjualan.
2.
Menargetkan pangsa pasar
3.
Keuntungan jangka panjang maksimum.
4.
Keuntungan jangka pendek maksimum.
5.
Pertumbuhan.
6.
Stabilisasi pasar.
7.
Menurunkan sensitivitas konsumen terhadap harga
8.
Mempertahankan kepemimpinan harga.
9.
Menakut-nakuti pendatang baru.
10.
Mempercepat rontoknya perusahaan-perusahaan marjinal.
2.1.2 Kualitas Produk
Kualitas produk adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use)
untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan (Hunt dalam Nasution,
2005). Kecocokan penggunaan ini didasarkan pada lima ciri utama yaitu :
1.
Teknologi yaitu kekuatan atau daya tahan
2.
Psikologis yaitu citra rasa atau status
3.
Waktu yaitu kehandalan
4.
Kontraktual yaitu adanya jaminan
5.
Etika yaitu sopan santun, ramah atau jujur
13
Lebih lanjut Hunt menjelaskan bahwa suatu produk dikatakan memiliki
kecocokan penggunaan jika produk tersebut mempunyai daya tahan penggunaan
yang lama, meningkatkan cita rasa atau status bagi pemakainya, produknya tidak
mudah rusak, serta adanya jaminan kualitas sesuai dengan etika yang diperlukan.
Kualitas produk menjadi salah satu kebijakan strategis perusahaan untuk
meningkatkan daya saing produk untuk memberikan kepuasan pada pelanggan.
Kualitas produk menjadi salah satu bauran pemasaran yang dapat meningkatkan
volume penjualan dan memperluas pangsa pasar.
Berikut adalah dimensi kualitas menurut Garvin dalam Nasution (2005) :
1.
Performa (performance) yaitu yang berkaitan dengan aspek fungsional
produk yang merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan oleh
konsumen dalam membeli suatu produk.
2.
Keistimewaan (features) yaitu yang berkaitan dengan performansi yang
menambah fungsi dasar. Features ini adalah keistimewaan tambahan atau
pelengkap.
3.
Keandalan (reliability) yaitu yang berkaitan dengan kemungkinan suatu
produk berfungsi secara berhasil dalam periode waktu tertentu dalam
kondisi tertentu.
4.
Konformasi (conformance) yaitu yang berkaitan dengan tingkat kesesuaian
produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan
keingginan pelanggan.
5.
Daya tahan (durability) yaitu yang berkaitan dengan ukuran masa pakai
suatu produk.
14
6.
Kemampuan pelayanan (service ability) yaitu yang berkaitan dengan
kecepatan, kesopanan, kompetensi, kemudahan, akurasi dalam perbaikan
7.
Estetika (aesthetics) yaitu yang berkaitan dengan keindahan yang bersifat
subjektif mencakup keelokan, kemulusan, suara yang merdu, selera dan
lain- lain.
8.
Kualitas yang dipersepsikan ( perceived quality) yaitu yang berkaitan denan
perasaan pelanggan dalam mengkonsumsi produk seperti meningkatkan
harga diri.
2.1.3 Kualitas Layanan
Kualitas layanan didefinisikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi
harapan
konsumen
(Tjiptono,
2009).
Kualitas
layanan
mencerminkan
perbandingan antara tingkat layanan yang disampaikan perusahaan dibandingkan
ekspetasi pelanggan (Tjiptono & Chandra, 2012). Kualitas layanan dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen.
Kualitas layanan merupakan hal yang tak kasat mata tetapi dapat dilihat dan
didengar. Penilaian kualitas layanan berdasarkan sudut pandang pelanggan.
Menurut Martin (2005) meyatakan bahwa ada dua dimensi dalam penilaian
tingkat pelayanan pelanggan yaitu :
1.
Dimensi Prosedural
Dimensi prosedural mencakup sistem dan prosedur yang telah tertata guna
menyampaikan produk dan atau pelayanan.
15
2.
Dimensi Pribadi
Dimensi ini mencakup sikap, perilaku dan kemampuan lisan para penyedia
layanan ketika berinteraksi dengan pelanggan.
Harapan konsumen dibagi menjadi tiga standar yaitu will expectation,
should expectation dan ideal expectation. Will expectation artinya tingkatan
kinerja yang diperkirakan akan diterima oleh konsumen berdasarkan semua
informasi yang diketahui oleh konsumen. Should expectation artinya tingkatan
kinerja yang sudah sepantasnya diterima oleh konsumen. Ideal expectation artinya
tingkatan kinerja paling maksimal yang dapat diterima oleh konsumen.
Pengukuran
kualitas
layanan
dalam
model
SERVQUAL
yang
dikembangkan oleh Parasuraman, et al dalam Tjiptono (2009) meliputi lima
dimensi pokok yaitu :
1.
Tangible (bukti fisik) yaitu penggunaan
indera untuk menilai kualitas
layanan seperti persepsi atas ruang tunggu yang bersih,peralatan yang
canggih dan lengkap, dan sarana komunikasi.
2.
Reliabilitas(keandalan) yaitu kemampuan memberikan layanan seperti yang
dijanjikan oleh perusahaan dengan segera, akurat dan memuaskan.
3.
Responsiveness (daya tanggap), yaitu keinginan para staf untuk membantu
para pelanggan dan memberikan layanan dengan tanggap.
16
Dimensi responsiveness
meliputi kecepatan pelayanan, kesigapan dan
ketulusan untuk membantu serta memberikan pelayanan kepada pelanggan.
4.
Assurance (jaminan) adalah dimensi kualitas layanan yang mencakup
pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang
dimiliki para staf.
5.
Emphaty (empati) yaitu meliputi perhatian pribadi, komunikasi yang baik,
pemahaman atas kebutuhan para pelanggan secara spesifik
Dinamika pengukuran kualitas layanan dibedakan menjadi dua yaitu
kualitas layanan online dan kualitas layanan offline. Pengukuran kualitas layanan
online yang paling berkembang saat ini adalah model E-S-QUAL. Pengukuran
kualitas layanan offline terdiri dari dua model generik yaitu total perceive quality
model (TPQM) dan SERVQUAL.
Pengukuran kualitas layanan online dengan model E-S-QUAL meliputi
dimensi efisiensi, fulfillment, ketersediaan sistem, privasi. Efisiensi berkaitan
dengan kemudahan dan kecepatan mengakses situs perusahaan. Fulfillment
berkaitan dengan akurasi janji pelayanan, ketersediaan stok produk, pengiriman
barang tepat waktu. Ketersediaan sistem berkaitan dengan situs yang berfungsi
sebagaimana mestinya secara teknis. Privasi berkaitan dengan tingkat keamanan
situs, proteksi dan mekanisme pengembalian produk melalui situs tersebut secara
efektif.
Pengukuran kualitas layanan offline dengan model total perceive quality
model (TPQM) menjelaskan kualitas layanan dalam dua dimensi yaitu technical
17
quality dan functonal quality. Technical quality berkaitan dengan kualitas output
layanan yang dipersepsikan pelanggan yang terdiri dari tiga unsur yaitu search
quality (unsur layanan yang dapat dievaluasi sebelum melakukan pembelian),
experience quality (unsur layanan yang dapat dievaluasi setelah melakukan
pembelian misalnya kecepatan layanan, ketepatan waktu, kerapian hasil), credece
quality (unsur layanan yang sulit dievaluasi meski sudah dikosumsi).
Pengukuran kualitas layanan offline dengan model SERVQUAL fokus pada
lima hal yaitu knowledge gap, standart gap, delivery gap, communication gap,
service gap. Knowledge gap terjadi akibat adanya perbedaan antara harapan
konsumen dan persepsi manajemen. Standart gap terjadi antara persepsi
manajemen atas harapan konsumen dan spesifikasi kualitas layanan. Delivery
gap terjadi karena perbedaan spesifikasi kualitas layanan dengan penyampaian
layanan. Communication gapmenyangkut perbedaan antara penyampaian layanan
dengan komunikasi eksternal. Service gap terjadi akibat
perbedaan antara
perceive gap dan service gap.
Pengukuran kualitas layanan menggunakan SERVQUAL mencakup
perhitungan perbedaan nilai yang diberikan pelanggan untuk setiap pernyataan
yang berkaitan dengan harapan dan persepsi.
Skor setiap pasang pernyataan dapat dihitung dengan rumus ( Zeithaml, et
al dalam Tjiptono, 2009 ) :
Skor SERVQUAL = Skor Persepsi – Skor Harapan
18
TABEL 2.3 ATRIBUT DAN DIMENSI MODEL SERVQUAL
1
2
3
4
5
6
ATRIBUT
Peralatan mutakhir/terbaru
Fasilitas fisik yang berdaya tarik
Karyawan yang berpenampilan rapi
Fasilitas fisik yang sesuai dengan jenis jasa yang
ditawarkan
Bila menjanjikan akan melakukan sesuatu pada waktu
yang telah ditentukan, pasti akan direalisasikan
Bersikap simpatik dan sanggup menenangkan pelanggan
setiap ada masalah.
Jasa disampaikan secara benar semenjak pertama kali
Jasa disampaikan sesuai dengan waktu yang dijanjikan
Sistem pencatatan yang akurat dan bebas kesalahan
Kepastian waktu penyampaian jasa diinformasikan
dengan jelas kepada pelanggan
Layanan yang segera/cepat dari karyawan perusahaan
DIMENSI
Bukti fisik
Bukti fisik
Bukti fisik
Bukti fisik
Reliabilitas
Reliabilitas
Reliabilitas
Reliabilitas
Reliabilitas
Daya
Tanggap
11
Daya
Tanggap
12 Karyawan yang selalu bersedia membantu pelanggan
Daya
Tanggap
13 Karyawan yang tidak terlampau sibuk, sehingga sanggup Daya
menanggapi permintaan pelanggan dengan cepat
Tanggap
14 Karyawan yang terpercaya
Jaminan
15 Perasaan aman sewaktu melakukan transaksi dengan Jaminan
karyawan penyedia jasa
16 Karyawan yang bersikap sopan terhadap para pelanggan
Jaminan
17 Karyawan yang berpengetahuan luas sehingga dapat Jaminan
menjawab pertanyaan pelanggan
18 Perhatian individual dari perusahaan
Empati
19 Waktu beroperasi yang cocok/nyaman bagi para Empati
pelanggan
20 karyawan yang memberikan perhatian personal
Empati
21 Perusahaan yang sungguh-sungguh memperhatikan Empati
kepentungan setiap pelanggan
22 Karyawan yang memahami kebutuhan spesifik para Empati
pelanggan
Sumber : Zeithaml, et al dalam Tjiptono (2009:277)
7
8
9
10
19
2.1.4 Keputusan Pembelian
Pemasaran adalah satu proses usaha untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Untuk bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen
maka diperlukan
pemahaman atas perilaku konsumen. Perilaku
konsumen
adalah semua aktivitas konsumen dalam pemilihan dan pembelian serta evaluasi
atas pembelian suatu produk atau jasa.
Perilaku konsumen dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Menurut Kottler (2003) faktor yang mempengaruhi perilaku
konsumen adalah sebagai berikut :
1.
Budaya
Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling dasar.
Budaya terdiri dari sub budaya yang menampakan identifikasi dan
sosialisasi khusus bagi para anggotanya. Sub budaya mencakup kebangsaan,
agama, kelompok ras, dan wilayah geografis.
2.
Sosial
Faktor sosial yang mempengaruhi perilaku konsumen meliputi :
a)
Kelompok acuan
Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang memiliki
pengaruh langsung atau tidak langsung dengan sikap atau perilaku
seseorang.Kelompok yang memiliki pengaruh langsung (tatap muka)
disebut dengan kelompok keanggotaan. Kelompok keanggotaan
dibedakan menjadi dua yaitu kelompok primer dan kelompok
sekunder. Kelompok primer seperti keluarga, teman, tetangga, rekan
kerja yang berinteraksi secara terus menerus dan informal. Kelompok
20
sekunder seperti kelompok keagamaan, kelompok profesi, asosiasi
perdagangan yang berinteraksi secara tidak rutindan bersifat formal.
Kelompok acuan ini akan mempengaruhi perilaku seseorang dengan
cara membuat seseorang menjalani perilaku dan gaya hidup baru,
mempengaruhi perilaku serta konsep pribadi seseorang, serta
mempengaruhi dengan cara memaksa sesorang untuk mengikuti
kebiasaan kelompok tersebut.
b)
Keluarga
Keluarga menjadi organisasi pembelian yang sangat penting dalam
masyarakat. Anggota keluarga menjadi kelompok acuan primer yang
mempengaruhi perilaku pembelian seseorang.
c)
Peran dan status sosial
Peran meliputi kegiatan yang diharapkan dilakukan oleh seseorang
dan masing-masing peran tersebut menunjukan status dari orang
tersebut. Seseorang yang memiliki status dan peran yang tinggi dalam
masyarakat akan memiliki pengaruh terhadap perilaku pembelian
konsumen.
3.
Pribadi
Karakteristik seseorang akan ikut mempengaruhi perilaku pembelian orang
tersebut. Karakteristik seseorang meliputi usiadan tahap siklus hidup,
pekerjaan, gaya hidup, penghasilan dll.
Perilaku pembelian seseorang akan berbeda-beda pada tahapan usia tertentu.
Perilaku pembelian konsumen orang dewasa akan berbeda dengan perilaku
21
pembelian konsumen remaja dan anak-anak. Pekerjaan, tingkat penghasilan
dan gaya hidup seseorang juga akan mempengaruhi perilaku pembelian
seseorang. Gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang menggambarkan
pola interkasi seseorang dengan lingkungannya yang bisa terlihat dari
aktivitas, pendapat serta minatnya.
4.
Psikologis
Faktor psikologis mempengaruhi pola perilaku konsumen. Faktor psikologis
seseorang dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu :
a.
Motivasi
Motivasi adalah hal yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Teori Maslow mengungkapkan bahwa ada lima jenis
kebutuhan yang menjadi motivasi bagi manusia yaitu kebutuhan fisik
(makanan,minuman,tempat
(keamanan,perlindungan),
tinggal),
kebutuhan
kebutuhan
sosial
keamanan
(perasaan
diterima
sebagai anggota kelompok, dicintai), kebutuhan penghargaan (harga
diri, pengakuan, status), kebutuhan aktualisasi diri (pemahaman dan
pengembangan diri).
Aktualisasi
Diri
Harga Diri
Mencintai dan
dicintai
Rasa aman dan perlindungan
Kebutuhan fisiologis
GAMBAR 2.3 HIRARKI KEBUTUHAN MASLOW
22
b.
Persepsi
Persepsi adalah proses yang digunakan oleh seseorang untuk
memilih,mengorganisasikan
dan
mengintepretasikan
masukan
informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti.
Persepsi seseoarang akan berbeda dengan persepsi orang lain. Persepsi
dipengaruhi oleh rangsangan fisik, pengaruh lingkungan dan kondisi
seseorang. Proses persepsi dibedakan menjadi tiga hal yaitu perhatian
selektif, distorsi selektif dan ingatan selektif. Seseorang mendapatkan
rangsangan yang begitu banyak dari lingkungan sehingga diperlukan
perhatian selektif atas rangsangan tersebut. Dari rangsangan yang
diterima seseorang secara selektif ini tidak semua mendapat perhatian
sehingga
terjadi
distorsi
yaitu
pengubahan
dan
intepretasi
informasisesuai dengan persepsi seseorang. Dari distorsiselektif ini
akan muncul ingatan konsumen yang hanya mengingat hal-hal yang
baik dari produk yang disukai.
c.
Pembelajaran
Pembelajaran meliputi perubahan perilaku sesorang yang timbul dari
pengalaman.pembelajaran merupakan paduan kerja antara pendorong,
rangsangan, isyarat bertindak, tanggapan dan penguatan. Pendorong
(drivers)
adalah rangsangan internal yang sangat kuat yang
mendorong tindakan. Isyarat (cues) adalah rangsangan kecil yang
menentukan kapan,dimana dan bagaimana tanggaan seseorang. Teori
23
pembelajaran ini mengajarkan kepada pemasar untuk membangun
permintaan atas sebuah produk dengan mengaitkannya pada
pendorong yang kuat, menggunakan isyarat yang memberikan
pendorong atau motivasi dan memberikan penguatan yang positif.
d.
Keyakinan dan sikap
Seseorang mendapatkan keyakinan dan sikap dari tindakan dan
pembelajaran. Keyakinan dan sikap ini selanjutnya mempengaruhi
perilaku pembelian. Keyakinan seseorang tentang suatu produk/merek
akan mempengaruhi keputusan pembelian . Menurut Kottler (2003)
menyatakan bahwa keyakinan adalah gambaran pemikiran yang
dianut oleh seseorang tentang sesuatu sedangkan sikap adalah
evaluasi,
perasaan
emosi
dan
kecenderungan
tindakan
yang
menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama pada
seseorang terhadap objek atau gagasan tertentu.
Sumber : Kottler (2003:203)
GAMBAR 2.4 MODEL PERILAKU PEMBELI
24
Keputusan pembelian adalah proses konsumen untuk memutuskan membeli
atau tidak membeli suatu produk atau jasa. Proses pengambilan keputusan
konsumen terdiri dari tiga tahap (Shiffman & Kanuk, 2008) yaitu :
1.
Pengenalan kebutuhan
Pengenalan kebutuhan terjadi ketika konsumen dihadapkan pada suatu
masalah. Permasalahan konsumen ini bisa berupa keadaan akibat tidak
berfungsinya suatu produk dengan baik atau permasalahan akibat keinginan
untuk mendapatkan suatu produk yang baru.
2.
Penelitian sebelum pembelian
Ketika konsumen merasakan adanya kebutuhan yang harus dipenuhi maka
konsumen akan melakukan pengumpulan informasi yang berguna sebagai
dasar pemilihan seperti informasi dari pengalaman sebelumnya atau dari
pengamatan keadaaan sekitar seperti media iklan, referensi orang terdekat
dll.
3.
Penilaian berbagai alternatif
Menurut Schiffman & Kanuk (2008)
tahapan
mengungkapkan bahwa dalam
penilaian berbagai alternatif ini konsumen
menggunakan dua
pendekatan yaitu rangkaian merek yang diminati dan kriteria untuk menilai
setiap merek. Rangkaian merek yang diminati adalah serangkaian merek
yang dipertimbangkan konsumen untuk dibeli. Kriteria untuk menilai suatu
merek terdiri dari sifat-sifat penting yang melekat dalam produk seperti
kualitas gambar, kecepatan, daya tahan, harga dll.
25
Sedangkan menurut Kottler (2003) proses pembelian konsumen melalui
lima tahapan yaitu :
1.
Pengenalan masalah
Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali kebutuhan atau
masalah berdasarkan rangsangan internal dan eksternal. Rangsangan
internal seperti rasa haus dan lapar. Rangsangan eksternal seperti iklan
televisi, desain display produk dll.
2.
Pencarian informasi
Konsumen yang terangsang dengan kebutuhannya akan mencari informasi
tentang produk/jasa yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
Sumber informasi dibedakan menjadi empat kelompok yaitu :

Sumber pribadi yaitu keluarga, teman, tetangga,kenalan.

Sumber komersil yaitu iklan, wiraniaga/salesman, penyalur, kemasan,
pajangan di toko

Sumber publik yaitu media masaa,organisasi penentu peringkat
konsumen.

Sumber pengalaman yaitu pengalaman penanganan, pengkajian dan
pemakaian produk.
3.
Evaluasi alternatif
Konsumen membentuk penilaian atas sebuah produk/jasa secara sadar dan
rasional yaitu apakah produk tersebut bermanfaat dan mampu memenuhi
kebutuhannya. Penilaian ini berdasarkan proses evaluasi atas sejumlah
atribut produk/merek. Persepsi konsumen akan berbeda-beda sesuai dengan
26
perbedaan pengalaman yang telah dialami konsumen yang tersaring melalui
proses persepsi selektif, distorsi selektif dan ingatan selektif.
4.
Keputusan pembelian
Setelah melakukan evaluasi atas pilihan alternatif produk/merek maka
konsumen akan memiliki preferensi yang membentuk niat konsumen untuk
membeli produk. Keputusan pembelian adalah lanjutan proses dari niat
membeli yang dipengaruhi oleh sikap orang lain dan faktor situasi yang
tidak terantisipasi. Sikap orang lain yang mempengaruhi niat pembelian
seperti sikap dari kelompok rujukan yang menjadi panutan atau acuan
pembelian misalnya sikap dan pendapat anggota keluarga,teman dan rekan
kerja. Faktor situasi yang tidak terantisipasi misalnya perilaku wiraniaga
yang tidak simpatik bisa merubah niat konsumen untuk membeli.
5.
Perilaku paska pembelian
Setelah melakukan pembelian maka konsumen akan melakukan evaluasi
paskapembelian dimana konsumen bisa mengalami kepuasan atau
ketidakpuasan
atas
pembelian
produk
tersebut.
Kepuasan
atau
ketidakpuasan konsumen ini akan berpengaruh terhadap perilaku konsumen
selanjutnya. Konsumen yang tidak puas mungkin akan mengembalikan
produk tersebut, berhenti menggunakan produk tersebut, mengajukan
keluhan kepada pemasar. Demikian juga sebaliknya jika konsumen puas
dengan pembelian produk tersebut maka konsumen akan terus melanjutkan
pembelian dikemudian hari dan bahkan merekomendasikan produk tersebut
kepada orang lain.
27
pengenalan
masalah
pencarian
informasi
evaluasi
alternatif
keputusan
pembelian
perilaku paska
pembelian
Sumber : kotller (2003:224)
GAMBAR 2.5 TAHAPAN PROSES PEMBELIAN
Swasta (2001) membedakan proses keputusan pembelian menjadi enam
tahapan yaitu :
1.
Menganalisa keinginan dan kebutuhan, terutama untuk mengetahui adanya
keinginan dan kebutuhan yang belum terpenuhi atau terpuaskan.
2.
Menilai beberapa sumber yang ada.
3.
Menetapkan tujuan pembelian
4.
Mengidentifikasi alternatif pembelian.
5.
Mengambil keputusan untuk membeli
6.
Perilaku sesudah pembelian.
Pengambilan keputusan konsumen berbeda-beda tergantung dari jenis
keputusan pembelian. Keputusan pembelian sebuah mobil akan berbeda dengan
keputusan pembelian handphone. Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang
membeli suatu produk atau jasa menurut Swasta (2001) adalah :
28
1.
Motif rasional
Motif rasional adalah motif yang didasarkan pada kenyataan-kenyataan
seperti yang ditunjukan oleh pembeli. Faktor-faktor yang menjadi
pertimbangan dalam motif rasional sepeprti faktor penawaran, permintaan
harga, kualitas, pelayanan, ketersedian barang, keterbatasan waktu yang
dimiliki oleh pembeli.
2.
Motif emosional
Motif emosional adalah motof pembelian yang berkaitan dengan perasaan
orang. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan motif pembelian emosional
adalah pengungkapan rasa cinta dan kebanggaan, kenyamanan, kesehatan,
keamanan dan kepraktisan.
Sedangkan menurut Kottler (2003) berpendapat bahwa pengambilan
keputusan pembelian dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yaitu :
1.
Faktor lingkungan
Faktor-faktor ekonomi seperti level produksi, investasi, pengeluaran
konsumen dan tingkat suku bunga sangat berpengaruh besar terhadap
tingkat pertumbuhan atau jumlah permintaan barang/jasa.
2.
Faktor organisasi
Perubahan dalam sistem organisasi seperti tujuan, kebijakan, prosedur,
sistem organisasi ikut mempengaruhi pola perilaku konsumen dalam
mengambil keputusan pembelian.
29
3.
Faktor antar pribadi
Pengambil keputusan pembelian bisa berupa satu individu atau satu
kelompok yang terdiri dari beberapa individu. Setiap individu dalam
kelompok ini memiliki kepribadian dan tujuan yang berbeda-beda pula.
Para
pemasar
harus
memperhatikan
dinamika
kelompok
yang
mempengaruhi proses keputusan pembelian.
4.
Faktor pribadi
Tiap pembeli memiliki motivasi, persepsi dan preferensi yang berbedabeda sesuai dengan umur, tingkat penghasilan, latar belakang pendidikan,
kepribadian, sikap dan budaya pembeli tersebut.
Kottler (2003) membedakan peranan seseorang dalam keputusan
pembelian menjadi lima peran yaitu :
1.
Pencetus yaitu orang yang pertama kali mengusulkan gagasan untuk
membeli produk/jasa.
2.
Pemberi pengaruh yaitu orang yang memiliki pandangan atau saran yang
mempengaruhi keputusan.
3.
Pengambil keputusan yaitu oang yang mengambil keputusan mengenai
setiap komponen pembelian seperti apakah membeli atau tidak membeli,
bagaimana dan dimana akan membeli.
4.
Pembeli yaitu orang yang melakukan pembelian sesuangguhnya.
5.
Pemakai yaitu orang yang menggunakan produk tersebut.
30
Menurut Robinson, et al, dalam Kottler (2003) membedakan pembelian
menjadi tiga jenis situasi pembelian sebagai berikut :
1.
Pembelian ulang langsung yaitu situasi pembelian dimana departemen
pembelian memesan ulang secara rutin misalnya pembelian perlengkapan
kantor. Pembelian ulang secara rutin mengharuskan pemasok untuk
mempertahankan kualitas produk yang dijual sehingga tidak menimbulkan
ketidakpuasan konsumen.
2.
Pembelian ulang modifikasi yaitu situasi pembelian dimana pembeli ingin
memodifikasi spesifikasi produk, harga, syarat pengiriman atau syarat lain.
Pembelian ulang modifikasi ini akan memberikan peluang bagi pesaing
untuk memanfaatkan situasi dengan cara mengajukan penawaran yang
lebih menguntungkan bagi konsumen.
3.
Tugas baru yaitu situasi pembelian dimana pembeli membeli produk atau
jasa untuk pertama kalinya. Pembelian sebagai tugas baru melewati
beberapa tahapan yaitu kesadaran, minat, evaluasi, uji coba, dan
pemakaian. Setiap tahapan dalam pembelian dalam situasi pembelian
tugas baru memerlukan metode komunikasi yang berbeda-beda.
Berdasarkan keterlibatan konsumen, menurut Assael dalam Kottler (2003)
membedakan perilaku pembelian konsumen menjadi empat jenis yaitu :
1.
Perilaku pembelian yang rumit.
Perilaku pembelian yang rumit terdiri dari tiga proses yaitu pembeli
mengembangkan keyakinan tentang produk tertentu, membangun sikap
tentang produk tersebut, membuat pilihan pembelian yang cermat. Perilaku
31
pembelian yang rumit terjadi bila harga produk sangat mahal, jarang
dibeli,beresiko dan sangat bersifat mengekspresikan diri.
2.
Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan.
Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan ini akan terjadi pada
pembelian dengan keterlibatan tinggi dimana konsumen tidak menyadari
perbedaan antar merek. Konsumen akan memilih produk dengan harga
tinggi jika konsumen menemukan perbedaan mutu antar merek tersebut.
Jika konsumen menemukan perbedaan kecil antar merek tersebut maka
konsumen akan membeli berdasarkan harga dan kenyamanan semata.
Ketika
konsumen
mendapatkan
ketidaknyaman
setelah
melakukan
pembelian seperti adanya fitur yang tida menyenangkan maka konsumen
akan siaga terhadap informasi yang mendukung keputusan pembeliannya.
3.
Perilaku pembelian karena kebiasaan.
Perilaku pembelian karena kebiasaan terjadi pada kondisi rendahnya
keterlibatan konsumen dalam pembelian serta tidak adanya perbedaan
antara merek yang signifikan. Perilaku pembelian dengan keterlibatan
rendah tidak melalui proses urutan umum yaitu keyakinan, sikap dan
perilaku. Konsumen tidak mencari informasi tentang produk secara luas dan
bahkan tidak melakukan evaluasi paska pembelian.
4.
Perilaku pembelian yang mencari variasi
Perilaku pembelian yang mencari variasi terjadi dalam situasi pembelian
dengan keterlibatan konsumen yang rendah tetapi ada perbedaan signifikan
antar merek sehingga konsumen sering melakukan peralihan merek.
32
Kraljic dalam Kottler (2003) membedakan empat proses pembelian yang
berhubungan dengan produk yaitu :
1.
produk rutin yaitu produk yang mempunyai nilai dan biaya rendah bagi
pelanggan dengan resiko kecil misalnya perlengkapan kantor.
Konsumen akan mencari harga yang paling rendah dan menekankan pada
pembelian rutin.
2.
Produk-produk bernilai tinggi (leveraged product) yaitu produk yang
memiliki nilai dan biaya yang tinggi dari pelanggan tetapi dengan resiko
pasokannya sangat kecil karena ada banyak perusahaan yang membuatnya.
Konsumen akan melakukan perbandingan harga dalam tawaran dengan
harga pasar.
3.
Produk-produk strategis yaitu produk yang memiliki nilai dan biaya yang
sangat tinggi bagi pelanggan dan juga memiliki resiko yang tinggi pula.
Konsumen akan cenderung mencari pemasok yang dikenal baik dan
dipercaya.Dalam hal ini konsumen akan bersedia membayar lebih mahal
karenafaktor kepercayaan tersebut.
4.
Produk-produk penghambat kelancaran kerja (bottleneck product) yaitu
produk yang memiliki nilai dan biaya yang rendah bagi pelanggan tetapi
memiliki resiko misalnya saja suku cadang. Dalam kasus ini konsumen akan
memilih pemasok yang dapat menjamin ketersediaan produk tersebut.
33
2.1.5 Kajian Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Purnama pada Tahun 2011 dari Universitas
Diponegoro Semarang mengungkapkan bahwa variabel produk, harga,dan lokasi
berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian. Purwati, dkk dalam
penelitiannya pada Tahun 2012 dari Universitas Politeknik Negeri Sriwijaya
berpendapat sebaliknya bahwa harga tidak berpengaruh signifikan terhadap
keputusan pembelian sedangkan kualitas produk berpengaruh sangat dominan
terhadap keputusan pembelian.
Widodo dari Universitas Dipongeoro
dalam penelitiannya Tahun 2012
mengungkapkan bahwa kualitas layanan berpengaruh terhadap keputusan
pembelian sedangkan kualitas produk tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap keputusan pembelian.
TABEL 2.4 PENELITIAN TERDAHULU
NO
Peneliti
Universitas/Tahun
1
Perdana Jaka Diponegoro/2011
Purnama



2
3
Purwati, Heri Politeknik Negeri
Setiawan,
Sriwijaya/2012
Rohmawati

Okky
W. Diponegoro/2012
Widodo



Sumber : Berbagai sumber yang diolah kembali
Hasil Penelitian
Produk berpengaruh terhadap
keputusan pembelian
Harga berpengaruh terhadap
keputusan pembelian
Lokasi berpengaruh terhadap
keputusan pembelian
Harga tidak berpengaruh
terhadap keputusan pembelian
kualitas produk berpengaruh
terhadap keputusan pembelian
Kualitas layanan berpengaruh
terhadap keputusan pembelian
Kualitas produk tidak
berpengaruh terhadap
keputusan pembelian
34
2.2 Kerangka Pemikiran
Persaingan usaha dewasa ini menuntut perusahaan mengembangkan strategi
pemasaran yang mengintegrasikan semua elemen pemasaran. Perusahaan harus
menerapkan sebuah strategi pemasaran yang tepat agar dapat mengikuti
perubahan pasar atau bahkan memimpin pasar. Strategi pemasaran yang
diterapkan harus berlandaskan pada pemahaman atas kebutuhan konsumen.
Persepsi
positif
konsumen
terhadap
perusahaan
menjadi
landasan
keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Faktor harga, kualitas produk
dan kualitas layanan
harus menjadi fokus perhatian perusahaan dalam
merencanakan strategi pemasaran.
Proses keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor.
Setiap konsumen memiliki pertimbangan masing-masing dalam memutuskan
untuk membeli suatu produk atau jasa. Pertimbangan sebelum melakukan
pembelian akan berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Perbedaan
ini dipengaruhi oleh banyak hal seperti persepsi konsumen terhadap suatu produk,
gaya hidup konsumen, tingkat pendapatan dll.
Faktor harga pada umumnya menjadi faktor pertama bagi sebagian
konsumen dalam menentukan keputusan pembelian suatu produk. Harga menjadi
identitas suatu produk dan menjadi satu elemen penting untuk menarik minat
pembelian konsumen. Strategi harga merupakan salah satu strategi dalam bauran
pemasaran yang berhubungan dengan keuntungan dan kelangsungan hidup suatu
produk.
35
Kualitas produk sering dipersepsikan dengan mahal atau tidaknya suatu
produk. Harga yang mahal dari suatu produk sering dipersepsikan sebagai produk
yang berkualitas tinggi, tetapi pada umumnya konsumen cenderung memilih
membeli produk yang berharga murah tetapi tetap berkualitas tinggi. Hal ini
menjadi tantangan bagi perusahaan untuk menyediakan produk yang berkualitas
tinggi dengan harga yang murah.
Dengan semakin banyaknya tipe dan merek smartphone yang beredar di
Indonesia memberikan konsumen berbagai pilihan alternatif dalam melakukan
pembelian handphone. Perbedaan tingkat kualitas layanan menjadi salah satu
usaha untuk meraih simpati dan minat konsumen untuk membeli produk.
2.3 Hipotesis
Penelitian ini menggunakan tiga variabel bebas yaitu harga, kualitas produk
dan kualitas layanan serta menggunakan satu variabel tidak bebas yaitukeputusan
pembelian. Model penelitian yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
H1
Harga
Kualitas
Produk
H2
Keputusan
Pembelian
H3
Kualitas
Layanan
H4
H
GAMBAR 2.6 MODEL
PENELITIAN
3
36
Berdasarkan model penelitian seperti dijelaskan diatas maka hipotesa yang
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H1. Harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
H2. Kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
H3. Kualitas layanan berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
H4. Harga, kualitas produk dan kualitas layanan berpengaruh terhadap
keputusan pembelian secara simultan.
Download