BAB I - Widyatama Repository

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Penelitian
Tuntutan terhadap terwujudnya Good Corporate Governance di setiap
sektor (publik dan swasta), kini semakin gencar. Tuntutan ini memang sangat
wajar. Mengingat banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa terjadinya
krisis ekonomi yang dahsyat di negeri ini, ternyata disebabkan oleh buruknya
pengelolaan perusahaan pada sebagian besar pelaku ekonomi (publik dan swasta)
di Indonesia.
Menurut hasil riset Mckinsey & Company tentang praktik Good Corporate
Governance di tujuh negara Asia (Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Taiwan,
Filipina, Thailand, dan Indonesia), ternyata Indonesia berada pada posisi
terbawah. Menurut Mckinsey pula, investor bersedia membayar premium 27%
jika perusahaan di Indonesia bersedia menerapkan Good Corporate Governance.
Sementara itu, Political & Economic Risk Consultancy, lembaga riset yang
berkantor pusat di Hongkong menempatkan Indonesia sebagai negara terburuk
kedua dalam Good Corporate Governance dengan skor 8,33 pada tahun 2001 dan
8,29 pada tahun 2000 (skor 0 sebagai yang terbaik dan skor 10 yang terburuk).
BEJ juga melakukan penilaian mengenai penerapan Good Corporate
Governance terhadap perusahaan publik yang diurut BEJ setiap tahunnya, serta
The
Indonesian
Institute
for
Corporate
Governance
(IICG)
yang
menyelenggarakan survei Corporate Governance Perception Index, hasilnya
adalah masih sedikit perusahaan yang telah melewati standar penerapan Good
Corporate Governance.
Hasil survei di atas cukuplah memberi pertanda bahwa sudah saatnya
perusahaan-perusahaan di Indonesia didorong untuk segera memperbaiki kualitas
penerapan Good Corporate Governance-nya. Kini telah terbentuk lembagalembaga yang mendorong penerapan Good Corporate Governance di Indonesia,
seperti The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG), dan badan-
1
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
2
badan regulator seperti BEJ, BAPEPAM, IAI, bahkan kini sudah terbentuk
Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance.
Penerapan praktik-praktik pengelolaan perusahaan yang baik (Good
Corporate Governance) akan menciptakan insentif internal yang efektif bagi
manajemen perusahaan dan penggunaan sumber daya yang efisien, sehingga
mendorong terbentuknya kepercayaan investor, dan masuknya arus modal yang
mendorong pulihnya perekonomian baik secara makro maupun mikro.
Dari sekian banyak perusahaan hanya BUMN yang dinilai lebih siap
mewujudkan Good Corporate Governance. Karena BUMN dinilai berhasil
melakukan penelitian mengenai Good Corporate Governance sejak 1995 dan
menerapkannya secara fleksibel.
BUMN sebagai salah satu pelaku ekonomi dengan misi dan peran yang
dimilikinya saat ini, dipersiapkan untuk menghadapi tantangan kompetisi global
dunia usaha yang semakin berat. Misi BUMN sebagai sumber penerimaan negara,
stabilisator , dinamisator, dan motivator pembangunan dituntut untuk memainkan
peranan utama dalam pembangunan nasional.
BUMN diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan
kegiatannya, sehingga menjadi unit usaha yang sehat dan memiliki tanggung
jawab untuk memperhatikan interaksinya dengan aspek-aspek kehidupan nasional.
BUMN harus peka terhadap setiap perkembangan dan perubahan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan dunia usaha. Sehingga profesionalisme BUMN di
segala bidang terus meningkat, baik dalam bidang perencanaan dan pelaksanaan,
maupun dalam bidang pengendalian dan pengawasan.
Keadaan ini mendorong berkembangnya dunia usaha ke arah yang lebih
baik, sehingga banyak perusahaan baik pada sektor usaha swasta maupun sektor
BUMN berkembang menjadi perusahaan besar dengan aktivitas yang sangat
kompleks.
Sesuai dengan keadaan di atas maka Menteri Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) mengeluarkan Surat Keputusan No.KEP.117/M.MBU/2002 tentang
Penerapan Praktik Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara
(BUMN).
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
3
Salah satu BUMN yang bergerak dalam sektor pelayanan jasa asuransi
yang pada saat ini perkembangannya juga pesat serta perlu pengelolaan
manajemen yang baik dan profesional adalah PT ASKES (PERSERO) Regional
V Jawa Barat.
Pengelolaan PT ASKES (PERSERO) perlu dilakukan dengan tujuan untuk
menjamin kelangsungan hidup perusahaan yang berarti harus meningkatkan nilai
pemegang saham serta mengakomodasi berbagai pihak yang berkepentingan
dengan perusahaan (stakeholders) seperti kreditor, pemasok, asosiasi bisnis,
konsumen, pekerja, pemerintah, dan masyarakat luas.
Setiap organisasi perusahaan mempunyai tujuan yang telah direncanakan
sebelumnya. Oleh karena itu, pihak manajemen PT ASKES (PERSERO) perlu
melakukan pemeriksaan lebih lanjut atas kinerja perusahaan agar kebijakan
perusahaan yang telah ditetapkan dilaksanakan dengan baik, sehingga dapat
mengurangi bahkan meniadakan terjadinya kesalahan, kecurangan, serta
penyimpangan. Maka diperlukan audit untuk menilai dan mengevaluasi
kesemuanya tersebut.
Selama ini kita mengenal dua konsep utama auditing, yaitu Financial
Audit dan Operational Audit. Namun tentunya, kita tidak bisa menampikkan
begitu saja konsep-konsep audit lainnya, seperti: audit forensik, audit lingkungan,
audit investigatif, dan sebagainya.
Financial audit terkait dengan masalah kewajaran laporan keuangan yang
disajikan oleh pihak manajemen. Hasil akhirnya berupa laporan keuangan yang
telah diberi opini.
Sementara operational audit, terkait dengan efisiensi dan efektifitas
organisasi. Hasil akhirnya biasanya berupa rekomendasi yang mengarah pada
perbaikan kinerja perusahaan. Ukuran yang digunakan biasanya berupa tingkat
profitabilitas yang dihasilkan manajemen.
Hasil rekomendasi dari operational audit lebih mengarah pada hal-hal
yang bersifat teknis operasional perusahaan. Sebagai misal, rekomendasi terhadap
sistem dan prosedur kerja, biaya operasional, dan kinerja manajer perusahaan.
Tolok ukurnya adalah sejauh mana operasional perusahaan mampu mengenerate
income
sebesar-besarnya.
Dengan
demikian,
jika
rasio
input
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
4
dibandingkan dengan output dapat diperkecil, atau rasio output dibandingkan
dengan input semakin tinggi, maka ini berarti bahwa pengelolaan operasi
perusahaan telah berjalan dengan benar.
Kelemahan audit operasional adalah akhirnya ia mengabaikan aspek-aspek
di luar kepentingan perusahaan. Sebagai contoh, bagaimana cara perusahaan
memperoleh keuntungan (laba)?. Apakah diperoleh melalui monopoli atau secara
kompetisi?. Kemudian, jika diperoleh melalui monopoli, apakah monopoli
tersebut terjadi karena proses alamiah (kompetisi) atau “Hadiah” dari pemerintah
(karena faktor kedekatan dengan kekuasaan)?.
Perhatian terhadap aspek-aspek ini memang tidak bisa diabaikan oleh
profesi akuntan. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang tibatiba dicap tidak sehat, misalnya karena dituduh menjalankan praktik bisnis yang
tidak sehat (misalnya monopoli). Terlebih lagi dalam era seperti ini, persoalan
monopoli telah menjadi perhatian serius oleh DPR dan pemerintah dengan telah
dikeluarkannya undang-undang No.5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Dengan demikian, transparansi sebuah perusahaan tidak hanya diwujudkan
melalui publikasi laporan keuangan, tetapi juga harus memasukkan ada atau
tidaknya indikasi unsur-unsur perilaku bisnis yang tidak sehat.
Penelitian ini didukung oleh beberapa penelitian sebelumnya yang pernah
dilakukan, yaitu:
1. Sunarsip, staf pengajar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Corporate
Governance Audit: Paradigma Baru Profesi Akuntansi dalam mewujudkan
Good Corporate Governance (Media Akuntansi, No.17/TH.VII/April-Mei
2001), beliau mengeksplorasi sejumlah kekurangan profesi akuntan yang
selama ini banyak menjadi sorotan masyarakat, terutama perannya dalam
mewujudkan good governance.
2. Tri Setiadji (Universitas Padjadjaran, 2002), dengan judul Pengaruh Sikap
Audit Internal tentang Peran Profesi Audit Internal terhadap perwujudan Good
Corporate Governance dalam Perusahaan. (Suatu survei mengenai sikap audit
internal yang bekerja pada tiga BUMN di Bandung).
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
5
Penelitian ini lebih mengeksplorasi peran profesi auditor dalam
mewujudkan Good Corporate Governance dan menyimpulkan bahwa terdapat
pengaruh antara sikap audit internal tentang peran profesinya terhadap
perwujudan GCG dalam perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai Good Corporate Governance. Berdasarkan hal tersebut,
penulis menuangkan tulisan ini dengan judul:
“ KORELASI ANTARA PELAKSANAAN AUDIT OPERASIONAL
DENGAN PERWUJUDAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA PT
ASKES (PERSERO) REGIONAL V JAWA BARAT “
1.2.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan
uraian
latar
belakang
penelitian
di
atas,
dapat
diidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan audit operasional perusahaan.
2. Bagaimana perwujudan GCG di perusahaan.
3. Apakah terdapat hubungan yang positif antara pelaksanaan audit
operasional dengan perwujudan GCG.
1.3.
Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1. Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih jauh mengenai
keterkaitan audit operasional dan penerapan GCG di dalam perusahaan tersebut.
1.3.2. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan audit operasional perusahaan.
2. Untuk mengetahui perwujudan GCG di perusahaan
3. Untuk mendapatkan gambaran kuantitatif mengenai adanya hubungan
positif antara pelaksanaan audit operasional dengan perwujudan GCG.
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
1.4.
6
Kegunaan Penelitian
1.4.1. Kegunaan Bagi Pengembangan Ilmu
Berdasarkan maksud dan tujuan penelitian di atas, penulis berharap bahwa
hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan
dengan permasalahan ini.
Bagi peneliti sendiri, penelitian ini berguna untuk menambah pengetahuan
penulis tentang audit operasional dan konsep GCG serta bermanfaat dalam
mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama duduk di bangku kuliah ke
dalam praktek kerja.
1.4.2. Kegunaan Operasional
Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
informasi dasar untuk penelitian selanjutnya yang lebih mendalam dalam rangka
menuju kelangsungan hidup perusahaan yang lebih baik lagi.
Bagi pihak-pihak lain, penelitian ini diharapkan dapat menambah
khasanah pengetahuan mengenai pelaksanaan audit operasional dengan konsep
GCG.
1.5.
Kerangka Pemikiran
1.5.1. Paradigma Penelitian
Dalam situasi krisis ekonomi yang hingga kini belum kunjung berakhir,
penerapan GCG menjadi suatu aspek vital dalam upaya mempertahankan
kelangsungan aktivitas perusahaan. Banyaknya pihak saat ini mensyaratkan
adanya praktek-praktek pengelolaan perusahaan yang baik dalam melakukan
hubungan bisnis dengan mitra kerjanya, terlebih lagi para pemodal dan pemberi
kredit.
Corporate Governance merupakan sistem yang mengatur hak dan
kewajiban para pihak yang berperan dan terkait dalam pengelolaan sebuah
perusahaan.
Menurut Organization for Economic Cooperation and Development
(OECD), seperti yang dikutip oleh majalah Manajemen Manusia edisi Juli 2000,
definisi dari Corporate Governance adalah:
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
7
“Corporate Governance is the system by which business corporation are
directed and controlled. The corporate governance structure specifies the
distribution of right and responsibilities among different participant in the
corporation, such as the board, manager, shareholders, and other stakeholders,
and spells out rules and procedures for making decisions on corporate affairs”.
(OECD, April 1999).
Untuk dapat melaksanakan GCG harus dipenuhi prinsip-prinsip dasarnya.
Hasil pengkajian yang dilakukan oleh OECD menunjukkan bahwa terdapat empat
prinsip yang perlu diperhatikan untuk terselenggaranya GCG, yaitu:
1. Kewajaran (Fairness)
Adanya kejelasan hak-hak kepemilikan bagi pemodal serta sistem hukum
dan penegakan peraturan-peraturan untuk melindungi hak-hak para
pemegang saham terutama bagi pemegang saham minoritas.
2. Transparansi/Keterbukaan (Transparency/Disclosure)
Perusahaan harus secara regular dan tepat waktu dalam menyediakan
informasi yang cukup dan akurat kepada para stakeholder nya.
3. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas dapat dicapai melalui pengawasan efektif yang mendasarkan
pada keseimbangan kekuasaan antara direksi dan staf, pemegang saham,
komisaris, dan auditor. Keseimbangan peran antara manajemen, pemegang
saham, komisaris, dan auditor sangat penting dalam menciptakan
pengelolaan yang baik pada suatu perusahaan. Termasuk di dalamnya
adalah
pembatasan
kekuasaan
antara
manajer
perusahaan
yang
bertanggung jawab dalam kegiatan operasional sehari-hari dengan
pemegang saham yang dalam hal ini diwakili oleh dewan komisaris.
4. Tanggung Jawab (Responsibility)
Perusahaan mempunyai tanggung jawab untuk mematuhi hukum dan
perundang-undangan yang berlaku. Manajemen harus berupaya memenuhi
ketentuan dan peraturan yang berlaku bagi perusahaannya sesuai dengan
bidang industrinya masing-masing.
Secara umum, penerapan prinsip GCG secara konkret memiliki tujuan
terhadap perusahaan sebagai berikut:
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
8
1. Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing;
2. Mendapatkan cost of capital yang lebih murah;
3. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja
ekonomi perusahaan;
4. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari stakeholder terhadap
perusahaan;
5. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum.
Menurut David Melvill, President Chartered Institute of Management
Accounting, ada beberapa keuntungan dengan penerapan GCG antara lain adalah
untuk mengurangi resiko, membantu menjamin kepatuhan dengan peraturan yang
ada, meningkatkan kepemimpinan di dalam perusahaan, memacu kinerja,
membantu perusahaan dalam upaya go public, meningkatkan kepercayaan para
pemegang saham, dan akuntabilitas sosial yang akan terungkap secara jelas.
Audit operasional yang dikenal dengan berbagai istilah yaitu: management
auditing, value for money auditing, performance auditing, comprehensive
auditing, dapat membantu manajemen dalam mencapai tujuan operasi suatu
perusahaan.
Audit operasional merupakan suatu pengujian yang independen atas bukti
yang obyektif, yang dilakukan oleh personil yang kompeten, untuk menentukan
apakah auditee mampu membantu perusahaan mencapai kebijakan dan tujuannya
memenuhi kewajiban kontraktual dan legal, mempunyai sistem manajemen dan
secara efektif mengimplementasikan sistem tersebut.
Penekanannya adalah untuk mencapai efisiensi yang lebih besar,
efektifitas dan ekonomisasi dalam usaha dan organisasi yang lain.
Kebanyakan perusahaan mempunyai alat untuk melakukan audit keuangan
oleh kelompok audit internal, akan tetapi masih sedikit perusahaan yang
sebenarnya
melaksanakan
audit
operasional.
Audit
operasional
adalah
berpandangan ke depan (forward-looking), untuk melihat bagaimana baiknya
manajemen mencapai tujuannya dan untuk melihat kesulitan operasional sebelum
fakta (before the fact), daripada setelah fakta (after the fact) seperti dalam suatu
audit keuangan.
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
9
Audit operasional secara berkala dapat menunjukkan masalah ketika
masalah tersebut masih berskala kecil. Manfaat kedua adalah bahwa audit
operasional merupakan alat manajemen untuk membantu organisasi mencapai
tujuan yang diinginkan. Bila manajer tertentu tidak efektif dalam posisi mereka
pada saat sekarang, maka tindakan korektif yang tepat dapat dilakukan.
Manfaat ketiga dari teknik audit operasional adalah bahwa ia merupakan
penilaian yang obyektif berdasarkan bukti faktual yang dapat ditelusuri untuk
pemecahan masalah.
Menurut A.Steven (Mei-Juni, 1973:10), dinyatakan bahwa:
“Pemeriksaan operasional adalah penggunaan pengetahuan umum,
atau teknik audit yang logis dari sudut pandang manajemen, dan
menerapkannya pada tujuan perusahaan, pengendalian, komunikasi, dan
sistem informasi auditor lebih menitikberatkan pada siapa, apa, kapan,
dimana, kenapa, dan bagaimana menjalankan usaha yang efisien dan
menguntungkan daripada hanya aspek akuntansi dan keuangan dari fungsi
usaha.”
Sedangkan menurut D.A Phyrr (1969:19), mendefinisikan :
“Pemeriksaan operasional adalah suatu penelaahan dan penilaian
dari efisiensi dan efektifitas serta prosedur operasi. Pemeriksaan operasional
memberikan perhatian pada menemukan masalah operasi dan
memberitahukannya kepada manajemen puncak, akan tetapi tujuan utama
sebenarnya menyelesaikan masalah dengan memberikan rekomendasi
tindakan yang realistis kepada manajemen.”
Dalam praktik, cara yang terbaik untuk melaksanakan suatu audit
operasional adalah melakukan suatu audit yang terpisah dari setiap fungsi
manajemen utama.
Dengan demikian, tujuan audit operasional dapat dicapai, seperti yang
dikemukakan oleh Rob Reider (1999,6), yaitu:
“Operational review procedures embrace the concepts of conducting
operation for economy, eficiency, and effectiveness.”
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam kerangka pemikiran dari gambar
1.1 dan tabel 1.1 di bawah ini yang menjelaskan tentang hubungan antara
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
10
pelaksanaan audit operasional dengan perwujudan Good Corporate Governance
yang terdapat dalam bagan kerangka pemikiran penelitian ini.
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
11
Gambar 1.1 Bagan Kerangka Pemikiran
Audit Operasional
Good Corporate
Governance
Komponen Pelaksanaan
Audit Operasional
Independensi
Kemampuan Profesional
Lingkup Kerja
Pelaksanaan Pekerjaan
Audit
Pengelolaan Bagian
Audit Operasional
Pelaksanaan
Audit
Operasional
Transparancy
Fairness
Responsibility
Transparancy
Accountability
Fairness
Responsibility
Accountability
Transparancy
Responsibility
Accountability
Perwujudan
Good Corporate
Governance
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
Tabel 1.1
Pelengkap Bagan Kerangka Pemikiran
Komponen
Audit
Operasional
Pelaksanaan
Audit
Operasional
1. Independensi
Independen harus
ditempatkan pada
posisi
yang
memungkinkan
fungsi
tersebut
dalam memenuhi
tanggung
jawabnya
dan
memiliki
sikap
mental
yang
obyektif,
tidak
memihak
dan
menghindari
kemungkinan
timbulnya
pertentangan
kepentingan
(conflict
of
interest). (SPAI,
IAI)
Auditor internal
harus
memiliki
pengetahuan,
keterampilan, dan
kompetensi yang
dibutuhkan untuk
melaksanakan
tanggung
jawabnya. (SPAI,
IAI)
2. Kemampuan
Profesional
12
Kaitan antara
Pelaksanaan Audit
Operasional dengan
Perwujudan Good
Corporate Governance
Konsep GCG Dengan
pelaksanaan
yang
pemeriksaan
audit
dipengaruhi
operasional
yang
adalah
independen dan bersikap
obyektif, tanpa dibatasi
Transparency
(I
Nyoman oleh
ruang
lingkup
Tjager, 2003)
perusahaan,
internal
auditor dapat melakukan
pemeriksaan intern secara
bebas, teliti, dan hati-hati.
Sehingga
auditee
memberikan
informasi
kepada internal auditor
secara transparan.
Perwujudan
Good
Corporate
Governance
Konsep GCG
yang
dipengaruhi
adalah
Fairness dan
Responsibility.
(I
Nyoman
Tjager, 2003)
Auditor internal yang
profesional
dan
ahli
dalam bidangnya akan
menjadi mitra stratejik
yang akan membuat
justifikasi
dengan
seimbang
sehingga
auditor internal dapat
memberikan
masukan
atau kontribusi secara
wajar sehingga auditee
termotivasi
untuk
bertindak adil sesuai
dengan
peraturan
perundang-undangan dan
korporasi yang sehat.
Auditor internal yang
profesional dan ahli akan
dapat memberikan value
added bagi auditee untuk
lebih bertanggung jawab
dalam
mengelola
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
13
3. Lingkup
Kerja
Pelaksanaan audit Konsep GCG
operasional yaitu yang
melakukan
dipengaruhi
evaluasi
dan adalah
memberikan
Transparency
kontribusi
Accountability,
terhadap
dan Fairness.
peningkatan
(I
Nyoman
proses
Tjager, 2003)
4. Pelaksanaan
Pekerjaan
Audit
Pelaksanaan
pekerjaan
audit
harus
dapat
mengidentifikasi,
menganalisis,
mengevaluasi, dan
mendokumentasik
an informasi yang
memadai
sehingga tercapai
tujuan
pelaksanaan
pemeriksaan
intern.
(SPAI,
IAI). Tahap-tahap
dalam
pelaksanaan
intern
tersebut
meliputi
perencanaan
pemeriksaan,
pengujian
dan
Konsep GCG
yang
dipengaruhi
adalah
Responsibility
dan
Accountability.
(I
Nyoman
Tjager, 2003)
perusahaan berdasarkan
peraturan
perundangundangan dan korporasi
yang sehat
Lingkup kerja audit yang
luas
akan
membuat
auditee secara transparan
memberikan
laporan
kinerja
keuangan
perusahaan, auditee akan
menyiapkan
laporan
kinerja operasional pada
waktu yang tepat dan
dengan cara yang tepat
(akuntabilitas),
dapat
memastikan sejauh mana
kinerja operasional yang
dihasilkan sudah sesuai
dengan anggaran yang
ditentukan
sehingga
membuat auditee lebih
adil (fairness) dalam
menggunakan dana sesuai
dengan anggaran yang
ditentukan dengan hasil
yang sesuai.
Pelaksanaan
pekerjaan
audit
yang
berjalan
dengan
baik
dan
profesional
akan
menghasilkan temuan dan
rekomendasi
yang
mempunyai
nilai/value
sehingga temuan dan
rekomendasi
tersebut
dapat dijadikan masukan
bagi auditee untuk lebih
berhati-hati
dan
bertanggung jawab dalam
mencapai
tujuan
perusahaan.
Pada saat pelaksanaan
pekerjaan audit sudah
dilaksanakan dengan baik
maka akan diperoleh hasil
pemeriksaan yang berupa
justifikasi
dan
rekomendasi yang dapat
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
14
pengevaluasian
informasi,
komunikasi hasil
pemeriksaan, dan
tindak
lanjut.
(SPAI, IAI)
5. Pengelolaan
Bagian Audit
Operasional
Pengelolaan yang
baik secara efektif
dan efisien dalam
pelaksanaan audit
operasional dapat
memastikan
bahwa
pelaksanaan audit
operasional akan
menambah nilai
tambah
bagi
perusahaan.
(SPAI, IAI)
membantu
auditee
melakukan pertanggung
jawaban
kepada
stakeholder.
Konsep GCG
yang
dipengaruhi
adalah
Transparency
Responsibility,
dan
Accountability.
(I
Nyoman
Tjager, 2003)
Internal Audit merupakan
departemen
yang
memadai,
dan
akan
menjamin hal-hal yang
berkaitan
dengan
personalia dan cara kerja
bagian
pemeriksaan
intern. Internal audit akan
memberikan cara kerja
lebih efektif dan efisien.
Sarannya
bisa
disampaikan tepat waktu,
dan lebih profesional
sehingga
dapat
mendorong auditee lebih
transparan karena diaudit
oleh auditor yang bagus,
auditee
akan
lebih
bertanggung jawab atas
tindak
lanjutnya
berdasarkan saran yang
diberikan oleh auditor.
Akuntabilitas
akan
terlaksana karena auditee
selalu diawasi dalam
melakukan tindakan yang
sesuai dengan laporan
yang
diberikan
oleh
auditor.
Universitas Widyatama
BAB I P E N D A H U L U A N
15
1.5.2. Hipotesis
Berdasarkan identifikasi masalah dan kerangka pemikiran yang telah
diuraikan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa audit operasional sangat perlu
dilaksanakan oleh perusahaan dengan tujuan untuk mewujudkan GCG pada
perusahaan.
Dengan demikian penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:
“ Terdapat hubungan yang positif antara pelaksanaan audit operasional
dengan perwujudan GCG pada perusahaan.”
1.6.
Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini dibutuhkan data-data yang sesuai dengan masalah-
masalah yang ada serta tujuan penelitian, sehingga dari data yang dikumpulkan
dapat dianalisis setiap gambaran yang terjadi berdasarkan teori-teori yang didapat,
untuk selanjutnya dapat ditarik suatu kesimpulan.
Penelitian yang dilakukan adalah dengan menggambarkan suatu
pelaksanaan audit operasional suatu perusahaan, perwujudan GCG dalam suatu
perusahaan, sampai dengan adanya hubungan pelaksanaan audit operasional untuk
dapat mewujudkan GCG tersebut, maka penelitian ini dilakukan secara deskriptif
analitik dengan pendekatan survei, yaitu dengan mengamati dan meneliti kegiatan
audit operasional dalam perusahaan secara lebih spesifik, sehingga data yang
diperoleh selama penelitian ini akan diolah, dianalisis, dan diproses lebih lanjut
dengan dasar teori yang telah dipelajari.
1.7.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dan pengumpulan data dilakukan pada PT ASKES (PERSERO)
Regional V Jawa Barat, Jalan Dr.Djundjunan No.144 Bandung 40153.
Sedangkan waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah
bulan Januari sampai dengan Maret 2008.
Universitas Widyatama
Download