analis eks sis fakto spor rum jepang, or – fak mput lau fa dan ame tor

advertisement
ANALIS
SIS FAKTO
OR – FAKTOR YAN
NG MEMEN
NGARUHII PERMINTAAN
EKS
SPOR RUM
MPUT LAU
UT INDON
NESIA KE CHINA,
C
H
HONGKON
NG,
JEPANG, DAN AME
ERIKA SERIKAT PE
ERIODE 20001-2010
OLE
EH
ARIE
ES ROMAR
RIO SITINJA
AK
H1408
80061
DEPART
TEMEN IL
LMU EKO
ONOMI
FAKULTAS EKONOM
E
MI DAN MA
ANAJEMEN
INSTIT
TUT PERTA
ANIAN BO
OGOR
201
12
RINGKASAN
ARIES ROMARIO SITINJAK. Analisis Faktor – Faktor Yang Memengaruhi Ekspor
Rumput Laut Indonesia Ke China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat Periode
2001-2010 (dibimbing oleh MANUNTUN PARULIAN HUTAGAOL).
Saat ini Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara pengekspor
rumput laut terbesar di dunia jika dilihat dari total produksinya. Indonesia yang tahun
2011 lalu memproduksi 3,2 juta ton rumput laut mampu menguasai pangsa pasar dunia
sebesar 13,7 persen atau setingkat di atas pangsa Filipina dan dibawah China dengan
pangsa 62,3 persen. Namun apabila dikaitkan dengan harga ekspor dapat dikatakan
bahwa posisi tawar Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara
produsen lain. Hal ini mengindikasikan bahwa apabila pemerintah secara berkala
mampu memberikan pengetahuan kepada para nelayan maka bukan tidak mungkin
nantinya perekonomian Indonesia akan lebih banyak disokong oleh ekspor perikanan,
terutama rumput laut. Dengan melihat kenyataan tersebut terdapat urgensi yang harus
diperbaiki terkait pengelolaan industri rumput laut Indonesia setelah terlebih dahulu
harus mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi daya saing ekspor rumput laut
Indonesia ke negara-negara tujuan, baik faktor internal maupun faktor eksternal, dan
bagaimana pengaruhnya perlu diketahui dengan baik.
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi ekspor rumput laut
Indonesia ke negara China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat periode 2001-2010
serta merumuskan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan ekspor rumput laut
Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menganalisis data dengan menggunakan
analisis deskriptif dan analisis kuantitatif dengan model regresi data panel. Hasil
penelitian menunjukkan pada persamaan regresi untuk ekspor rumput laut Indonesia ke
China, Filipina, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat didapatkan nilai R-squared
sebesar 0,9815. Nilai ini menunjukkan bahwa 98,15 persen perubahan ekspor rumput
laut Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel bebas, sedangkan sisanya 2,33 persen
dijelaskan oleh faktor-faktor diluar model.
Pada penelitian ini diperoleh juga hasil regresi volume ekspor rumput laut
Indonesia pada tahun sebelumnya yaitu sebesar 0,32, harga ekspor bernilai negatif
sebesar 0,56, nilai tukar riil bernilai positif 3,8, GDP perkapita negara importir sebesar
2,16 dengan nilai probabilitas yang kesemuanya bernilai kurang dari taraf nyata lima
persen yang berarti memengaruhi ekspor rumput laut Indonesia ke China, Hongkong,
Jepang, dan Amerika Serikat. Sedangkan variabel populasi penduduk negara importir
bernilai sebesar 0,31 dan memiliki nilai probabilitas lebih besar dari taraf nyata lima
persen yang berarti tidak memengaruhi ekspor rumput laut Indonesia secara signifikan.
Pemerintah perlu melakukan intervensi dalam mengelola valuta asing, menstimulus
industri rumput laut Indonesia dan secara berkala mengadakan audiensi dengan
produsen rumput laut agar dapat menjaga produktivitas dan kualitas rumput laut
Indonesia, dan secara kontinyu membangun komunikasi aktif dengan negara importir
rumput laut Indonesia.
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERMINTAAN
EKSPOR RUMPUT LAUT INDONESIA KE CHINA, HONGKONG,
JEPANG, DAN AMERIKA SERIKAT PERIODE 2001-2010
Oleh
ARIES ROMARIO SITINJAK
H14080061
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Ilmu Ekonomi
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
Judul Skripsi
: Analisis Faktor - Faktor yang Memengaruhi Permintaan Ekspor
Rumput Laut Indonesia ke China. Hongkong, Jepang, dan
Amerika Serikat periode 2001-2010
Nama
: Aries Romario Sitinjak
NIM
: H14080061
Menyetujui,
Dosen Pembimbing,
Dr.Ir.Manuntun Parulian Hutagaol, M.S
NIP. 19570904 198303 1 005
Mengetahui,
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi,
Dedi Budiman Hakim, Ph.D
NIP. 19641022 198903 1 003
Tanggal Kelulusan:
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENARBENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN
SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU
LEMBAGA MANAPUN.
Bogor, November 2012
Aries Romario Sitinjak
H14080061
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Aries Romario Sitinjak, lahir di Bogor pada tanggal
19 April 1990 dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak
Lamser Sitinjak, S.E dan Ibu Menti Gultom, S.Pd. Penulis memulai pendidikan di TK
Mardi Yuana Cibinong pada tahun 1994 dan lulus pada tahun 1996. Di tahun yang
sama melanjutkan pendidikan dasar di SD Mardi Yuana Cibinong dan lulus pada tahun
2002. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Mardi Waluya Cibinong dan
lulus pada tahun 2005 untuk kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 3
Bogor pada tahun 2005 dan lulus pada tahun 2008. Penulis diterima di Institut
Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun
2008 dan diterima sebagai mahasiswa IPB dengan mayor Ilmu Ekonomi, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen. Penulis juga mendapatkan beasiswa Peningkatan Prestasi
Akademik (PPA) pada tahun 2010-2011 dan 2011-2012.
Penulis aktif dalam berbagai organisasi dan kepanitiaan selama menjadi
mahasiswa. Organisasi kampus yang diikuti yaitu Keluarga Mahasiswa Katholik IPB
(KEMAKI) pada periode 2008-2009 sebagai anggota divisi Eksternal, dan Himpunan
Profesi dan Peminat Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (HIPOTESA) pada periode
2009-2010 sebagai staf divisi CER (Coorporate and External Relationship). Di tahun
yang sama, 2009-2010, penulis juga aktif dalam organisasi luar kampus antar
mahasiswa ekonomi pembangunan se-Indonesia yaitu Ikatan Mahasiswa Ekonomi
Pembangunan Indonesia (IMEPI) sebagai staf divisi POSDAM (Pengembangan
Organisasi Dan Sumberdaya Manusia) di IMEPI wilayah JABAGBAR (Jawa Bagian
Barat). Pada tahun 2010 masih aktif di organisasi luar kampus IMEPI, namun bukan
lagi di wilayah tetapi di kepengurusan nasional sebagai SEKJEND (Sekretaris Jenderal)
IMEPI untuk masa kepengurusan 2010-2012. Kepanitiaan yang pernah diikuti, antara
lain seksi Humas SANTA CLAUS DAY 2009, Komisi Disiplin (KOMDIS) MPKMB
(Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru) IPB 2009, seksi Humas OPEN HOUSE
IPB 2009, seksi Humas EXTRAVAGANZA 2009, seksi Sponsorship INFEST 2009,
Kepala Divisi Logstran LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) IMEPI JABAGBAR
2010, Kepala Divisi Humas Economics Day 2010, dan Ketua Pelaksana HIPOTEX-R
2010.
Selain itu penulis juga aktif mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa,
antara lain From Zero To Hero Solution sebagai Upaya Meminimalisir Resiko Ekonomi
Menghadapi
Isu
PHK:
Sebuah
Metode
Pembelajaran
Life
Skills
Berbasis
Entrepreneurship dan Pelatihan pada Buruh yang dipresentasikan di Universitas Syiah
Kuala Banda Aceh pada tahun 2010 dan memperoleh Juara ke-3, Indonesian Fashion
Virus Solution sebagai Upaya Meningkatkan Daya Saing Produk Fesyen Indonesia:
Sebuah Metode Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Fesyen dan Penanaman Jiwa
Entrepreneurship Pada Produsen pada tahun 2010 dan masuk dalam 17 besar LKTI di
Univesitas Airlangga Surabaya, dan Bogor Nu Aing (Bogor Punya Saya) : Strategi
Pengembangan Wisata Alam di Kabupaten Bogor, Jawa Barat Untuk Peningkatan
Penerimaan Asli Daerah (PAD) dan Kesejahteraan Masyarakat Lokal
yang
dipresentasikan di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin Kalimantan Selatan
pada tahun 2012 dan memperoleh Juara Harapan ke-2. Pada tahun 2012 penulis juga
pernah mengikuti PKM bidang Penelitian yang didanai DIKTI dan lolos hingga ke
PIMNAS IPB.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan YME atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis berharap
melalui skripsi ini dapat menguraikan permasalahan kesejahteraan produsen rumput
laut Indonesia dan peningkatan ekspor rumput laut Indonesia setelah mengetahui
faktor-faktor yang memengaruhinya. Skripsi ini merupakan salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr.Ir.Manuntun Parulian Hutagaol, M.S selaku pembimbing skripsi yang
telah memberikan bimbingan baik secara teknis maupun teoritis dalam proses
pembuatan skripsi ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
2. Ibu Dr. Sri Mulatsih selaku dosen penguji utama atas kritik dan saran terhadap
skripsi ini.
3. Ibu Widyastutik, M.Si sebagai dosen penguji dari komisi pendidikan atas kritik
dan saran terhadap skripsi ini.
4. Ibu Lukytawati Anggraeni, Ph.D selaku pembimbing akademik yang telah
mendukung penulis dalam kegiatan akademik dan non-akademik selama
menjadi mahasiswa juga dalam pembuatan skripsi ini.
5. Ayahanda Lamser Sitinjak, S.E dan Ibunda Menti Gultom, S.Pd yang senantiasa
memberikan bantuan, perhatian dan dukungan moril untuk terus menyelesaikan
skripsi ini.
6. Kakak dan Adik yang penulis banggakan Ruth Kristina Purnama, S.H dan
Febrian Sitinjak atas bantuan, perhatian, dan dukungan selama menyelesaikan
skripsi ini
7. Teman satu bimbingan Fitri Karlinda, Puspa Ratih, dan Soulma Arum yang
telah memberikan saran, kritik dan motivasi dalam menyelesaikan penelitian ini.
8. Seluruh keluarga besar Ilmu Ekonomi 45 atas segala kebersamaan dan
dukungannya dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Serta pihak-pihak lain yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi
ini namun tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih terdapat kekurangan.
Segala kesalahan yang terjadi dalam penelitian ini, sepenuhnya menjadi tanggung
jawab penulis. Oleh sebab itu, penulis memohon maaf atas segala kesalahan kata dan
kekurangan dari skripsi ini. Penulis juga mengharapkan kritik dan masukkan untuk
perbaikan yang akan datang. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak
lain yang membutuhkan.
Bogor, November 2012
Aries Romario Sitinjak
H14080061
i DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ..................................................................................................... i
DAFTAR TABEL ............................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ iv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... v
I.
PENDAHULUAN .............................................................................
1.1 Latar Belakang ..............................................................................
1.2 Perumusan Masalah ......................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ..........................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................
1.5 Ruang Lingkup Penelitian .............................................................
1
1
5
12
12
12
II.
TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................
2.1 Rumput Laut .................................................................................
2.2 Tinjauan Teoritis…………………………………………………..
2.2.1 Perdagangan Internasional …………………………. ……..
2.2.2 Ekspor …………………………………………………....…
2.2.3 Teori Permintaan …..............................................................
2.2.4 Harga Ekspor Komoditi .......................................................
2.2.5 Teori Nilai Tukar ….............................................................
2.2.6 GDP Per Kapita …................................................................
2.2.6 Populasi …...........................................................................
2.3 Tinjauan Penelitan Terdahulu.........................................................
2.4 Kerangka Pemikiran …..................................................................
2.5 Hipotesis Penelitian …...................................................................
14
14
16
16
19
24
25
26
27
28
28
33
34
III. METODE PENELITIAN .................................................................
3.1 Jenis dan Sumber Data ..................................................................
3.2 Metode Pengolahan Data ..............................................................
3.3 Panel Data ....................................................................................
3.3.1 Pooled Least Square…………………………………….........
3.3.2 Fixed Effect Model ...............................................................
3.3.3 Random Effect Model ...........................................................
3.4 Pengujian Terhadap Model Penduga …...........................................
3.4.1 Chow Test ………..…………………………………….........
3.4.2 Hausman Test ......................................................................
37
37
37
38
40
40
42
44
44
46
3.5 Pengujian Model ...........................................................................
3.6 Elastisitas ………………………………………............................
3.7 Definisi Operasional Variabel dalam Model …..............................
47
52
54
GAMBARAN UMUM .....................................................................
4.1 Profil Rumput Laut…. ..................................................................
4.1.1 Rumput Laut Potensial ..........................................................
4.2 Standar Nasional Rumput Laut Indonesia .......................................
4.3 Klaster Industri Rumput Laut Indonesia .......................................
56
56
58
60
61
IV.
ii V.
VI.
HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................
5.1 Perkembangan Ekspor Rumput Laut Indonesia di Pasar
Rumput Laut Dunia …………………… .......................................
62
5.1.1 Perkembangan Rumput Laut Indonesia ke China ...................
63
5.1.2 Perkembangan Rumput Laut Indonesia ke Hongkong ............
64
5.1.3 Perkembangan Rumput Laut Indonesia ke Jepang...................
65
5.1.4 Perkembangan Rumput Laut Indonesia ke Amerika Serikat ....
5.2 Hasil Estimasi Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Ekspor
66
Rumput Laut Indonesia ..................................................................
68
5.2.1 Pengujian Kesesuaian Model……………………...................
68
5.2.2 Pengujian Kriteria Ekonometrika………………….................
68
5.2.3 Pengujian Kriteria Statistik…….………………….................
70
62
5.3 Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Ekspor Rumput Laut Indonesia
Ke China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat ………….....
72
5.3.1 Volume Rumput Laut Indonesia Pada Tahun Sebelumnya ...
72
5.3.2 Harga Ekspor Rumput Laut Indonesia ..………….................
73
5.3.3 Nilai Tukar Riil Negara Importir …..…………….................
74
5.3.4 GDP perkapita Negara Importir ..………………...................
74
5.3.5 Populasi Penduduk Negara Importir …………………………
5.4 Rekomendasi Kebijakan Bagi Pemerintah Untuk Meningkatkan
Volume Ekspor dan Tingkat Kesejahteraan Petani Rumput Laut
Indonesia…………………………………………………………
75
KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................
6.1 Kesimpulan …………...................................................................
6.2Saran …….. …………...................................................................
79
79
80
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................
LAMPIRAN .....................................................................................
81
83
76
iii DAFTAR TABEL
No.
Halaman
1.
Produk Domestik Bruto (PDB) Berdasarkan Harga Berlaku,
Tahun 2007- 2010(Miliar Rupiah) ............................................................ 1
2.
Perkembangan Ekspor-Impor Rumput Laut Indonesia
(dalam ton) ................................................................................................ 5
3.
Pertumbuhan Volume Produksi dan Ekspor Rumput Laut
di Indonesia Tahun 2006-2010 ................................................................. 6
4.
Realisasi Ekspor Rumput Laut Indonesia ke Lima Besar
Negara Tujuan ........................................................................................... 7
5.
Eksportir Rumput Laut Dunia tahun Tahun 2006 ..................................... 8
6.
Potensi Pasar Dunia untuk Indonesia (ton) Tahun 2007-2010 .................. 9
7.
Jenis Rumput Laut yang Memiliki Nilai Ekonomis Tinggi ...................... 15
8.
Kerangka Identifikasi Autokorelasi .......................................................... 48
9.
Standar Nasional Rumput Laut Indonesia ................................................ 60
.
10.
Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia Berdasarkan
Negara Tujuan, 2004- 2008 ...................................................................... 62
11.
Tabel Uji Chow ......................................................................................... 68
12.
Hasil Analisis Regresi Model Ekspor Rumput Laut Indonesia
dengan menggunakan Fixed Effect Model ................................................ 70
iv DAFTAR GAMBAR
No.
Halaman
1.
Kerangka Pemikiran………………………………………..................
2.
Perkembangan Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia ke China,
2001-2010...........................................................................................
Perkembangan Nilai Ekspor Rumput Laut Indonesia ke China,
2001-2010...........................................................................................
Perkembangan Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia ke Hongkong,
2001-2010...........................................................................................
Perkembangan Nilai Ekspor Rumput Laut Indonesia ke Hongkong,
2001-2010...........................................................................................
Perkembangan Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia ke Jepang,
2001-2010...........................................................................................
Perkembangan Nilai Ekspor Rumput Laut Indonesia ke Jepang,
2001-2010...........................................................................................
Perkembangan Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia ke Amerika
2001-2010...........................................................................................
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Perkembangan Nilai Ekspor Rumput Laut Indonesia ke Amerika Serikat,
2001-2010...........................................................................................
34
64
64
65
65
66
66
67
67
v DAFTAR LAMPIRAN
No
1.
2.
3.
4.
Halaman
Daerah Penyebaran Rumput Laut di Indonesia ....................................
Output Eviews dengan Menggunakan Metode Fixed Effect .................
Hasil Perhitungan Uji CHOW .............................................................
Uji Normalitas ….................................................................................
83
85
87
87
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki luas daerah perairan seluas 5.800.000 km2, dimana
angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah
perairan tersebut wajar jika bangsa Indonesia menjadikan laut sebagai basis
kekuatan di berbagai bidang, termasuk di bidang ekonomi. Hal ini diperkuat
berdasarkan data yang didapatkan dari BPS kontribusi sektor perikanan Indonesia
yang terus meningkat dari tahun 2007 hingga 2010 (BPS, 2011).
Tabel 1.1. Produk Domestik Bruto (PDB) Berdasarkan Harga Berlaku dan
Persentase PDB Perikanan Tahun 2007 – 2010(Miliar Rupiah)
Lapangan Usaha
Tahun
2007
2008
2009
2010
Berdasar Harga Berlaku
Perikanan
97.697,30
137.249,50
176.620,00
199.219,00
PDB Total
3.950.893,.20
4.948.688,40 5.603.871,20
6.422.918,30
PDB Tanpa Migas
3.534.406,50
4.427.633,50 5.138.955,20
5.924.008,20
Persentase PDB Perikanan
Thdp PDB Total
2,47
2,77
3,15
3,10
PDB Tanpa Migas
2,76
3,10
3,44
3,36
Sumber: BPS (2012)
Berdasarkan Tabel 1.1, pada tahun 2007 sektor perikanan menyumbang
PDB sebesar 97.697,30 Milliar Rupiah dari total PDB 3.950.893,20 Milliar
Rupiah atau sekitar 2,47 persen. Angka tersebut terus meningkat di tahun
berikutnya hingga mencapai angka 3,10 persen terhadap PDB total pada tahun
2010.Namun hal tersebut bukanlah hasil maksimal yang dapat diberikan dari
2 sektor perikanan Indonesia. Apabila semua potensi yang ada dapat dioptimalkan
maka sektor perikanan akan berperan lebih banyak dalam GDP Indonesia.
Sebagai contoh adalah Islandia mampu menyusun GDP dengan kontribusi 65
persen dari sektor perikanan, Norwegia 25 persen, Korea Selatan sebesar 37
persen, RRC 48.4 persen, dan Jepang 54 persen. Bahkan China yang hanya
memiliki luas perairan 8,8 persen dibanding Indonesia memilki kontribusi
sebesar US$ 34 milliar. Sangat disayangkan, mengingat potensi perikanan
Indonesia yang besar yakni potensi perikanan tangkap Indonesia lebih dari USD
15 milliar, perikanan air tawar lebih dari USD 6 milliar, dan perikanan budidaya
tambak dan udang windu sebesar USD 10 milliar (DKP, 2008).
Salah satu potensi alam di wilayah perairan Indonesia yang mampu
memberikan kontribusi lebih apabila dikembangkan secara tepat adalah rumput
laut. Berdasarkan data DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan) RI, rumput
laut atau yang umum disebut seawed adalah tanaman laut jenis alga yang tidak
memiliki akar, batang, dan daun. Rumput laut yang dapat dimakan adalah jenis
ganggang biru, ganggang hijau, ganggang merah,serta ganggang coklat (DKP,
2008). Tanaman rumput laut memiliki kandungan yang terdiri dari air (27,8
persen), protein (5,4 persen), karbohidrat (33,3 persen), lemak (8,6 persen), serat
kasar (3 persen), dan abu (22,25 persen) sehingga tidak mengherankan apabila
rumput laut memiliki banyak kegunaan, diantaranya 22 jenis telah dimanfaatkan
sebagai bahan baku industri seperti makanan, kosmetik, dan 56 jenis
pemanfaatannya sebagai bahan obat-obatan (DKP, 2007a). Berdasarkan data
DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan), terdapat sekitar 782 jenis rumput
3 laut yang hidup di perairan Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 196 algae
hijau, 134 algae coklat, dan 452 algae merah (DKP, 2007b).
Dengan lahan yang tersedia Indonesia mampu menghasilkan sekitar 16
ton per ha dari 2 ha luasan lahan potensial untuk pengembangan budidaya rumput
laut yang ada. Apabila seluruh lahan potensial dapat digarap secara maksimal
maka akan diperoleh kurang lebih 32 juta ton per tahun. Apabila harga rumput
laut sebesar Rp 5.000.000,- per ton, maka penerimaan yang diperoleh berkisar Rp
160 triliun per tahun (DKP, 2011c). Hal ini mengindikasikan bahwa komoditi
rumput laut Indonesia dapat berperan penting sebagai sumber devisa negara
melalui kegiatan ekspornya, terlebih dalam menyikapi nilai ekspor-impor
Indonesia saat ini. Kondisi perekonomian Indonesia saat ini memang sedang
mengalami gejolak yang cukup berdampak bagi beberapa kegiatan ekonomi,
termasuk kegiatan ekspor-impor.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS),
neraca perdagangan Indonesia total pada Januari-April tahun 2011 hingga
Januari-April 2012 terdapat perubahan jumlah impor sebesar 16, 18 persen dari
53.683,0 ditahun 2011 naik menjadi 62.369,2 di tahun 2012. Sedangkan nilai
perubahan ekspor hanya sebesar 4,13 persen dimana pada Januari-April 2011
sebesar 61.941,7 naik menjadi 64.498,1 pada Januari-April 2012 sehingga
menyebabkan neraca perdagangan pada periode Januari-April 2011 dan JanuariApril 2012 bernilai negatif, yaitu sebesar 62,15 persen. Hal ini berarti terdapat
penurunan jumlah ekspor pada Januari-April 2012 dibandingan pada periode
yang sama di tahun sebelumnya, terutama pada ekspor non migas yang hanya
naik 2,25 persen sedangkan impor non migas kita naik 15,79 persen dari tahun
4 sebelumnya. Dan hal tesebut diamini oleh data yang dirilis oleh Badan Pusat
Statistik (BPS) bahwa pada bulan April 2012 neraca perdagangan ekspor-impor
defisit sebesar 1US$ Milyar (BPS, 2012).
Dalam usahanya untuk terus meningkatkan nilai ekspornya, Indonesia
masih terus dihadapkan pada berbagai persoalan, diantaranya kurangnya inovasi
dalam komoditi ekspor. Departemen Kelautan dan Perikanan RI mengungkapkan
bahwa saat ini Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara pengekspor
rumput laut terbesar di dunia jika dilihat dari total produksinya. Pada tahun 2011
Indonesia yang memproduksi 3,2 juta ton rumput laut mampu menguasai pangsa
pasar dunia sebesar 13,7 persen atau setingkat di atas pangsa Filipina dan
dibawah China dengan pangsa 62,3 persen (DKP, 2011b). DKP mencatat nilai
ekspor rumput laut pada 2010 mencapai US$135,939 juta dan pada Januari-Juni
2011 nilai ekspor mencapai US$83,283 juta atau naik 41 persen dari periode
serupa di tahun 2010 (DKP, 2011a). Akan tetapi sebagian besar ekspor rumput
laut Indonesia masih dalam bentuk gelondongan kering (raw seaweeds),
sedangkan bentuk produk olahan seperti agar-agar, karaginan dan alinate masih
harus diimpor. Padahal nilai ekspor rumput laut Indonesia bisa lebih tinggi
seiring dengan peningkatan kualitas produk tersebut, seperti rumput laut Filipina
yang berkualitas lebih baik dihargai dan lebih tinggi USS100 - US$150 per ton
daripada rumput laut Indonesia yang hanya dihargai dibawah harga paar rumput
laut Filipina (DKP, 2011a). Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia belum
mampu bersaing dalam industri pengolahan rumput laut, terutama dalam hal
inovasi. Pada Tabel 1.2 diketahui bahwa dalam kurun waktu 1999 hingga 2006,
ekspor rumput
laut Indonesia cenderung meningkat dengan rata-rata
5 peningkatan 22,38 persen per tahun, walau pada tahun 2000 sempat mengalami
penurunan ekspor sebesar
2.010
ton dari 25.084 ton menjadi 23.074 ton.
Sedangkan impor rumput laut Indonesia cenderung mengalami peningkatan
rata-rata 8,61 persen per tahun, bahkan di tahun 2005 mengalami penurunan
yang cukup signifikan yakni 43,86 persen dari 497 ton di tahun 2004
menjadi 279 ton pada tahun 2005. Perkembangan volume ekspor rumput
laut yang demikian tinggi mencerminkan adanya peluang dan demand yang
semakin besar di pasar internasional
terhadap
rumput
laut
Indonesia.
Kondisi ini seharusnya dapat menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya
saing yang semakin kompetitif di pasar rumput laut internasional.
Tabel 1.2. Perkembangan Ekspor-Impor Rumput Laut Indonesia (dalam
ton)
Tahun
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
Ekspor (X)
25.084
23.074
27.874
28.559
40.162
51.010
69.226
95.588
persen
Δ
-8,01
20,80
2,46
40,63
27,01
35,71
38,08
Impor (M)
258
216
246
383
339
497
279
323
persen Δ
-16,28
13,89
55,69
-11,49
46,61
-43,86
15,77
Rasio M/X ( persen)
1,03
0,94
0,88
1,34
0,84
0,97
0,40
0,34
Sumber FAO (2008)
Δ = Perubahan dengan tahun sebelumnya (dalam persen)
1.2 Perumusan Masalah
Terlihat pada Tabel 1.3 bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir (20062010) jumlah ekspor rumput laut terus meningkat, yaitu pada tahun 2006 sebesar
95.588 ton dengan nilai ekspor 49.586.000 US$ dari volume produksi sebesar
1.379.960 ton, sedangkan di tahun 2007 volume produksi sebesar 1.770.840 ton
dan di ekspor sebesar 94.073 ton dengan nilai ekspor 57.522.000 US$ . Tahun
2008 jumlah yang diekspor sebesar 99.949 ton dengan nilai ekspor yang diterima
6 110.153.000 US$ dari volume produksi sebesar 2.147.977 ton. Di tahun 2009
volume rumput laut yang di produksi sebesar 2.966.590 ton dengan volume
ekspor sebesar 94.003 ton dengan nilai ekspor sebesar 87.773.000 US$. Dan pada
tahun 2010 ekspornya meningkat sebesar 123.075 ton atau dengan pencapaian
nilai ekspor 135.939.000 US$ dari volume produksi sebesar 3.917.716 ton.
Tabel 1.3. Pertumbuhan Volume Produksi dan Ekspor Rumput Laut di
Indonesia Tahun 2006-2010
Produksi
Ekspor
Tahun
Volume(Ton)
Nilai 1.000 Rp)
Volume(Ton)
Nilai(1.000 US$)
2006
1.379.960
1.707.748.899
95.588
49.586
2007
1.770.840
3.620.586.007
94.073
57.522
2008
2.147.977
8.757.970.697
99.949
110.153
2009
2.966.590
812.583.0762
94.003
87.773
2010
3.917.716
11.762.784.523
123.075
135.939
Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (2012)
Berdasarkan Tabel 1.4, China merupakan negara pertama yang paling
banyak mengimpor rumput laut dari Indonesia. Volume ekspor rumput laut ke
China mencapai 43.620 ton dengan nilai US$ 35.233.000 pada tahun 2008.
Kemudian pada tahun 2009 ekspor ke China meningkat menjadi 51.086 ton atau
setara dengan nilai US$ 39.008.000. Lalu di tahun 2010 Indonesia mengekspor
sebesar 72.213 ton rumput laut atau US$ 70.277.000. Dan lima besar negara
importir rumput laut dari Indonesia adalah Amerika Serikat, yaitu tahun 2008
ekspor rumput laut ke Amerika Serikat mencapai 414 ton atau setara dengan nilai
US$ 2.946.000. Kemudian pada tahun 2009 ekspor ke Amerika Serikat
meningkat menjadi 225 ton atau setara dengan nilai US$ 413.000. Pada tahun
2010 ekspor ke negara Amerika Serikat meningkat menjadi 1.584 ton atau sekitar
7 US$ 4.478.000. Kelima negara tersebut adalah lima negara yang paling banyak
mengimpor rumput laut dari Indonesia sebagai bahan baku industri olahan
rumput laut.
Tabel 1.4. Realisasi Ekspor Rumput Laut Indonesia ke Lima Besar Negara
Tujuan
2008
Negara Tujuan
China
Philipina
Hongkong
Jepang
Amerika Serikat
2009
2010
Volume
(Ton)
43.620
Nilai1.0
00 US$)
35.233
Volume(T
on)
51.086
Nilai(1.000
US$)
39.008
Volume(
Ton)
72.213
Nilai(1.0
00 US$)
70.277
12.414
27.869
6.701
7.746
12.512
16.689
2.835
2.018
2.323
841
5.252
1.984
94
2.946
225
413
261
437
414
2.563
1.764
3.035
1.584
4.478
Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (2012)
Melihat nilai dan volume ekspor rumput laut Indonesia yang cenderung
terus meningkat, faktor- faktor yang memengaruhi ekspor rumput laut pun perlu
mendapat perhatian pemerintah. Analisis
tentang
posisi Indonesia dalam
pangsa rumput laut dunia dapat ditunjukkan dengan menilai menurut volume
ekspor, perkembangan hasil dan jumlah yang diekspor, serta share atau
sumbangan ekspor rumput laut Indonesia terhadap total ekspor rumput laut
dunia. Berdasarkan data dari DKP tahun 2007, China masih menjadi pemasok
(eksportir) terbesar rumput laut dunia. Dari tahun 1999 hingga tahun 2006
China mampu menyumbang 20,42 persen terhadap ekspor rumput laut dunia
dan diikuti oleh Indonesia dengan menyumbang sebesar 16,28 persen (DKP,
2007b). Data pada Tabel 1.5 menunjukkan apabila diukur dari volume ekspor
(tahun 2006), Indonesia berada pada posisi pertama sebagai eksportir rumput
laut dengan menyumbang 95,588 ton rumput laut. Hal ini terjadi karena
8 Indonesia pada tahun 2006 telah menjadi pemasok terbesar, tetapi apabila diukur
berdasarkan nilai ekspor rumput laut Indonesia hanya menempati urutan
ke-tiga pada
tahun 2006. Sedangkan, jika dilihat dari sisi harga Indonesia
hanya berada pada posisi ke-tujuh, dimana pada tahun 2006 harga rumput laut
ekspor Indonesia hanya 520 US $ per ton.
Tabel 1.5. Eksportir Rumput Laut Dunia tahun 2006
Eksportir
China
Indonesia
Chile
Philippines
Korea, Republic of
Mexico
Tanzania, United
Morocco
Ireland
Australia
Nilai
Ekspor
2006 (Ribu
US$)
119.545
49.586
33.604
25.327
88.486
647
1.577
18.607
5.909
3.471
Volume
Ekspor
2006
(Ton)
46.998
95.588
41.498
19.331
19.909
364
7.496
6.973
12.566
8.600
Harga
per Ton
(Ribu
US $)
Δ Nilai
Ekspor
(
persen)
Δ Jumlah
Ekspor (
persen)
2,54
0,52
0,81
1,31
4,44
1,78
0,21
2,67
0,47
0,40
4,60
18,73
3,43
-7,05
-2,01
42,51
-0,49
24,21
24,57
39,32
-2,01
22,28
1,98
-3,79
-1,58
5,55
16,02
9,91
57,28
38,35
Rata-rata
Sumbangan
terhadap
Total Ekspor
( persen)
20,42
16,28
15,13
11,91
9,02
6,64
3,12
2,07
1,78
1,79
Sumber : FAO (2008,diolah)
Δ = Perubahan dengan tahun sebelumnya dalam persen)
Kesimpulannya adalah bahwa ternyata penerimaan atas ekspor rumput
laut I ndonesia lebih kecil dari penerimaan negara pesaing, walaupun volume
ekspor Indonesia lebih besar. Hal ini menjadi indikator yang perlu dikaji terkait
dengan permasalahan keunggulan rumput laut Indonesia di pasar internasional.
Berkaitan dengan informasi tersebut, dapat dikatakan bahwa Indonesia cukup
memiliki kemampuan dalam memperebutkan pangsa pasar rumput laut dunia.
Pada tahun 2007 Indonesia mampu memproduksi rumput laut jenis
Euchema Sp sebanyak 60.000 ton dibawah produksi luar negeri 105.000 ton
dimana kebutuhan dunia saat itu sebanyak 208.100 ton yang berarti potensi pasar
untuk Indonesia 53.100 ton. Di tahun 2007 untuk rumput laut jenis Gracillaria
9 Sp, Indonesia memiliki potensi pasar 10.340 ton dari kebutuhan dunia sebanyak
8.040 ton dengan produksi Indonesia sebanyak 36.000 ton dan produksi luar
negeri sebanyak 40.700 ton (DKP, 2008).
Tabel 1.6. Potensi Pasar Dunia untuk Indonesia (ton) Tahun 2007-2010
Produksi
Kebutuhan Dunia
Produksi Indonesia
Produksi
Luar
Negeri
Potensi Pasar
Kebutuhan Dunia
Produksi Indonesia
Produksi
Luar
Negeri
Potensi Pasar
2007
2008
Euchema Sp
2008.100
235.300
60.000
66.000
105.000
110.250
53.100
59.050
Gracillaria Sp
87.040
95.840
36.000
41.500
40.700
44.770
10.340
9.570
2009
2010
253.900
73.000
115.800
274.100
80.000
121.590
65.100
72.510
105.440
48.000
49.250
116.000
57.500
54.200
8.190
4.300
Sumber : BPPT Seawed Team & ISS (2006)
Ada beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan dan juga keunggulan
budidaya rumput laut diantaranya adalah peluang pasar ekspor yang terbuka luas,
harga rumput laut yang relatif stabil, dan belum ada batasan atau kuota
perdagangan bagi rumput laut. Selain itu, di Indonesia sendiri budidaya rumput
laut merupakan sebuah jawaban bagi kesulitan hidup para nelayan yang ada.
Siklus pembudidayaan yang relatif singkat sehingga cepat memberikan
keuntungan, kebutuhan modal relatif kecil, merupakan komoditas yang tidak
tergantikan karena tidak ada produk sintetisnya, serta usaha pembudidayaan
rumput laut tergolong usaha yang padat karya sehingga mampu menyerap tenaga
kerja menjadikan produsen rumput laut Indonesia kian betambah setiap tahunnya.
Hal tersebut didukung dengan kondisi geografis yang sesuai dan tersedianya
sarana pelabuhan untuk mengekspor rumput laut. Perairan Indonesia yang
terkenal sebagai pusat penyebaran rumput laut, diantaranya perairan Bali,
10 Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, NTT, NTB, dan perairan Kepulauan
Maluku.
Berdasarkan data dari Departemen Kelautan dan Perikanan, pada tahun
2010 Provinsi Bali memiliki luas indikatif pengembangan budidaya rumput laut
sekitar 24.282 Ha dengan 12.141 Ha telah efektif digunakan di beberapa
Kabupaten seperti Buleleng, Karangasem, Klungkung, Badung, dan Jembrana.
Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki 27.385 Ha yang telah efektif digunakan di
Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Kolaka, Buton, Mina dari sekitar 54.770
Ha yang terindikasi dapat digunakan untuk budidaya rumput laut. Hal ini
mengindikasikan bahwa budidaya rumput laut dapat menjadi pilihan logis dari
para nelayan di Indonesia untuk dapat meningkatkan kesejahteraannya (DKP,
2011c).
Apabila pemerintah secara berkala mampu memberikan pengetahuan kepada
para nelayan maka bukan tidak mungkin nantinya perekonomian Indonesia akan
lebih banyak disokong oleh ekspor perikanan, terutama rumput laut. Dengan
melihat kenyataan tersebut terdapat urgensi yang harus diperbaiki terkait
pengelolaan industri rumput laut Indonesia setelah terlebih dahulu harus
mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi ekspor rumput laut
Indonesia ke
negara-negara tujuan, baik faktor internal maupun faktor
eksternal, dan bagaimana pengaruhnya perlu diketahui dengan baik. Hambatan
perdagangan dalam bentuk tarif maupun non-tarif juga perlu terus dieliminir
untuk dapat meningkatkan volume ekspor. Adapun faktor- faktor yang
memengaruhi ekspor rumput laut yaitu harga ekspor rumput laut, GDP perkapita
negara tujuan ekspor, dan nilai tukar (kurs). Perubahan harga dapat berdampak
11 pada jumlah permintaan baik itu besar maupun kecil. Bila harga naik dengan
pendapatan konsumen tetap maka jumlah permintaan akan menurun (sesuai
dengan hukum permintaan) karena daya beli konsumen akan menurun. GDP
perkapita negara tujuan ekspor juga memengaruhi ekspor rumput laut Indonesia.
Pada posisi negara mengimpor maka permintaan terhadap rumput laut tergantung
dari tingkat GDP perkapitanya. Hal ini karena realisasi impor ditentukan oleh
kemampuan masyarakat suatu negara untuk membeli barang-barang buatan luar
negeri, yang berarti besarnya impor tergantung dari tingkat pendapatan negara
tesebut.
Faktor lain yang memengaruhi ekspor adalah nilai tukar (kurs). Dalam
pembayaran transaksi kita dihadapkan pada dua macam mata uang yaitu
domestik dan luar negeri. Adanya perbedaan mata uang yang digunakan di
negara pengekspor dengan negara pengimpor mengakibatkan adanya masalah
nilai tukar. Nilai tukar merupakan harga mata uang persatuan uang dasar yang
dinyatakan dalam mata uang negara yang bersangkutan
Berdasarkan pernyataan diatas, permasalahan yang muncul adalah:
1.
Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi permintaan komoditi rumput laut
serta faktor apa yang mempunyai pengaruh terbesar terhadap jumlah
permintaan ekspor komoditi rumput laut Indonesia?
2.
Bagaimana peran pemerintah dalam
memperbaiki pengelolaan industri
rumput laut Indonesia yang tepat, guna menyelesaikan urgensi pemenuhan
kebutuhan hidup produsen rumput laut Indonesia?
12 1.3 Tujuan Penelitian
1.
Mengetahui faktor – faktor apa saja yang memengaruhi permintaan ekspor
komoditi rumput laut dan menganalisis faktor apa saja yang berpengaruh
nyata terhadap perkembangan jumlah ekspor komoditi rumput laut.
2.
Merumuskan suatu kebijakan berdasarkan faktor yang memengaruhi ekspor
komoditi rumput laut untuk dapat digunakan dalam usaha meningkatkan
ekspor komoditi rumput laut Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan
produsen rumput laut Indonesia pada akhirnya.
1.4 Manfaat Penelitian
1.
Memberikan gambaran perkembangan kegiatan ekspor komoditi rumput laut
di Indonesia
2.
Memberikan gambaran solusi kepada pemerintah sebagai masukan dan
pertimbangan dalam merespon pasar yang dihadapi komoditi rumput laut
untuk kemudian dapat merumuskan suatu kebijakan
3.
Memberikan wawasan keilmuan bagi masyarakat luas serta dapat dijadikan
bahan acuan bagi penelitian selanjutnya.
1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian
Sehubungan dengan keterbatasan waktu, ketersediaan data serta
kemampuan dalam melakukan penelitian, maka perlu dijelaskan bahwa
ruang lingkup penelitian ini meliputi :
1. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis ekspor rumput laut Indonesia
di negara China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat dilihat dari volume
eskpor terbesar dan dengan asumsi bukan negara perantara dalam kegiatan
13 ekspor rumput laut dunia atau dengan kata lain negara tersebut adalah
konsumen akhir.
2. Penelitian menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi ekspor rumput
laut Indonesia di negara tujuan ekspor dengan menggunakan variabel
volume ekspor rumput laut Indonesia di tahun sebelumnya, harga ekspor,
nilai tukar, dan GDP negara tujuan.
3. Tahun analisis yang diambil adalah sepuluh tahun, yakni dari tahun 2001
hingga 2010, didasarkan pada kelengkapan data untuk kebutuhan analisis.
14 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rumput Laut
Rumput laut atau seaweeds sangat populer dalam dunia perdagangan,
dalam ilmu pengetahuan dikenal sebagai algae. Algae atau ganggang terdiri
dari empat kelas, yaitu
Rhodophyceae (ganggang merah), Phaeophyceae
(ganggang coklat), Cholorophyceae (ganggang
hijau), dan Cyanophyceae
(ganggang hijau- biru). Bila dilihat dari ukurannya, ganggang terdiri dari
mikroskopik dan makroskopik. Ganggang makroskopik inilah yang kita kenal
sebagai rumput laut (DKP, 2011b).
Rumput laut dikenal pertama kali di China kira-kira 2700 SM. Pada
masa tersebut, rumput laut digunakan untuk obat-obatan dan sayuran. Tahun
65 SM bangsa Romawi menggunakan rumput laut sebagai bahan baku
kosmetik, namun dari waktu ke waktu pengetahuan tentang rumput laut
semakin berkembang. Spanyol, Perancis, dan Inggris menjadikan rumput
laut sebagai bahan baku pembuatan gelas (DKP, 2011c).
Pertumbuhan dan penyebaran rumput laut sangat tergantung dari faktorfaktor
oseanografi (fisika, kimia, dan dinamika air laut) serta jenis
substratnya. Rumput laut banyak dijumpai pada daerah perairan yang dangkal
(intertidal dan sublitorral) dengan kondisi perairan berpasir, sedikit lumpur,
atau campuran keduanya.
Kandungan rumput laut umumnya adalah mineral esensial (besi, iodin,
alluminium, mangan, calsium, nitrogen terlarut, fosfor, sulfur, chlor
silicon, rubidium, strontium, barium, titanium, cobalt, boron, copper, kalium,
15 dan unsur- unsur lainnya yang dapat dilacak), protein, tepung, gula, vitamin
A, D, dan C. Presentase keberadaan bahan-bahan ini bervariasi, tergantung dari
jenisnya. Umumnya rumput laut banyak digunakan sebagai bahan makanan
bagi
manusia,
sebagai
bahan
obat-obatan (anticoagulant,
antibiotics,
antimehmetes, antihypertensive agent, pengurang kolesterol, dilatory agent,
dan insektisida). Rumput laut juga banyak digunakan sebagai bahan pakan
organisme di laut, sebagai pupuk tanaman dan penyubur tanah, sebagai
pengemas transportasi yang sangat baik untuk lobster dan clam hidup
(khususnya dari jenis Ascophyllum dan focus), sebagai stabilizer larutan, dan
juga kegunaan lainnya. Perkembangan produk turunan dewasa ini juga sudah
banyak diolah menjadi kertas, cat, bahan kosmetik, bahan laboratorium,
pasta gigi, es krim, dan lain-lain. Tumbuhan ini bernilai ekonomis tinggi
karena
penggunaannya
yang sangat luas dalam industri kembang gula,
kosmetik, es krim, media cita rasa, roti, susu, sutera, pengalengan ikan/daging,
obat-obatan dan batang besi untuk solder atau las. Jenis rumput laut yang
memiliki nilai ekonomis tinggi dapat dilihat pada tabel dibawah ini (DKP,
2011c).
Tabel 2.1 Jenis Rumput Laut yang Memiliki Nilai Ekonomis Tinggi
Produk
Jenis
Rumput
Agar-agar
Acantthopeltia
Karaginan
Chondrus
Alginat
Ascophyllum
Gracilaria
Euchema
Durvillea
Gelidella
Gigartina
Ecklonia
Gelidium
Hypnea
Turbinaria
Iriclaea
Pterrocclaidia
Sumber : Eka (2006)
Phyllophora
Furcelaran
Furcellaria
16 Agar-agar digunakan sebagai bahan pemantap, bahan penolong atau
pembuat
emulsi, bahan pengental, bahan pengisi, dan bahan pembuat
gel. Karaginan merupakan senyawa polisakarida yang memiliki kegunaan
hampir sama
dengan
agar-agar,
antara
lain
sebagai
keseimbangan,
bahan pengental, pembentuk gel dan pembuat
pengatur
emulsi.
Sedangkan algin, merupakan polimer murni dari asam uronat yang tersusun
dalam bentuk rantai linier panjang. Kegunaannya
adalah
sebagai
bahan
pengental, pengatur keseimbangan, peng- emulsi dan pembentuk lapisan tahan
terhadap minyak. Perdagangan
sebagai
internasional
menggunakan
kode
dagang
tanda pengenal (id) untuk mewakili komoditas dagang tertentu,
dinamakan kode HS (Harmonized system). Berdasarkan kode HS, komoditas
rumput laut termasuk dalam kategori HS.12.12.20, seaweeds and other alga,
fresh and dried whether or not ground (ganggang laut dan ganggang lainnya)
(DKP, 2011a).
2.2
Tinjauan Teoritis
2.2.1 Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh
penduduk suatu
negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan
bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu
dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau
pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Perdagangan
internasioanl yang didalamnya terdapat kegiata ekspor dan impor suatu negara
merupakan salah satu komponen pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto)
17 dari sisi pengeluaran suatu negara. Konsep perdagangan internasional telah
berumur ribuan tahun lebih, meskipun dampaknya terhadap kepentingan
ekonomi, sosial, dan politik baru terasa belakangan. Ilmu perdagangan
internasional merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang menganalisis arus
barang, jasa, pembayaran – pembayaran suatu negara, kebijakan yang mengatur
arus tersebut serta pengaruhnya pada kesejahteraan negara. Dalam perdagangan
internasional setiap negara yang melakukan perdagangan bertujuan mencari
keuntungan dari perdagangan tersebut, namun perdagangan internasional juga
terjadi karena:
1. Negara- negara berdagang karena mereka berbeda satu sama lain
2. Negara – negara melakukan perdagangan dengan tujuan untuk mencapai skala
ekonomi( economics of scale)
Dewasa ini, pembahasan mengenai perdagangan internasional dirasa
semakin penting karena dunia memasuki era globalisasi dunia yang memiliki
pengaruh sebagai berikut:
1. Keterbukaan ekonomi terutama dengan adanya liberalisasi pasar dan arus uang
serta transfer teknologi secara internasional
2. Keterkaitan dan ketergantungan ekonomi, keuangan, perdagangan dan industri
antar negara atau perusahaan yang ditunjukkan oleh adanya oembentukkan
perusahaan multinasional dan kecenderungan integrasi ekonomi regional
3. Persaingan yang semakin ketat antar negara ataupun perusahaan untuk
meningkatkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas yang optimal
Dalam kegiatan ekspor suatu komoditi volume ekspor suatu komoditi
tertentu dari suatu negara ke negara lain merupakan selisih antara penawaran
18 domestik dan permintaan domestik yang disebut sebagai kelebihan penawaran
(excess supply). Di lain pihak kelebihan penawaran dari negara tersebut
merupakan permintaan impor bagi negara lain atau merupakan kelebihan
permintaan (excess demand). Selain dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran
domestik, ekspor juga dipengaruhi oleh faktor-faktor pasar dunia seperti harga
komoditas itu sendiri dan komoditas substitusinya dipasar internasional serta halhal yang dapat memengaruhi harga baik langsung maupun tidak langsung.
Perdagangan internasional timbul utamanya karena perbedaan-perbedaan
yang berasal dari perbedaan dalam biaya produksi yang diakibatkan oleh antara
lain, perbedaan dalam karunia Tuhan atas faktor produksi, perbedaan dalam
efisiensi pemanfaatan faktor-faktor tersebut dan kurs valuta asing. Mekanisme
perdagangan internasional antara dua negara atau lebih dapat terjadi dengan
gambaran sebagai berikut : suatu negara (misalnya negara A) akan mengekspor
suatu komoditi (misalnya kain) ke negara lain (negara B) apabila harga domestik
di negara B adalah PB dan harga domestik di negara A adalah PA. Struktur harga
yang terjadi di negara A lebih rendah karena produksi domestiknya lebih besar
dari pada konsumsi domestiknya sehingga dinegara A terjadi excess supply
(memiliki kelebihan produksi) dengan demikian negara A mempunyai
kesempatan untuk menjual kelebihan produksinya ke negara lain. Dilain pihak, di
negara B terjadi kekurangan supply karena konsumsi domestiknya lebih besar
dari pada produksi domestiknya (excess demand) sehingga harga yang terjadi
dinegara B lebih tinggi. Dalam hal ini negara B berkeinginan untuk membeli
produk kain dari negara lain yang harganya relatif lebih murah. Jika kemudian
19 terjadi komunikasi antara negara A dan negara B, maka akan terjadi perdagangan
antara keduanya dengan harga yang diterima oleh kedua negara adalah sama
2.2.2
Ekspor
Menurut Undang-undang Perdagangan Tahun 1996 tentang Ketentuan
Umum di Bidang Ekspor, ekspor adalah kegiatan mengeluarkan dari Daerah
Pabean (wilayah yuridiksi Indonesia). Definisi lain menyebutkan bahwa ekspor
merupakan upaya mengeluarkan barang-barang dari peredaran dalam masyarakat
dan mengirimkan ke luar negeri sesuai ketentuan pemerintah dan mengharapkan
pembayaran dalam valuta asing.
Perkembangan ekspor dari suatu negara tidak hanya ditentukan oleh
faktor-faktor keunggulan komparatif, tetapi juga oleh faktor-faktor keunggulan
kompetitif. Inti dari paradigma keunggulan kompetitif adalah keunggulan suatu
negara di dalam persaingan global selain ditentukan oleh keunggulan komparatif
(teori-teori klasik dan H-O) yang dimilikinya dan juga karena adanya proteksi
atau bantuan fasilitas dari pemerintah, juga sangat ditentukan oleh keunggulan
kompetitifnya. Keunggulan kompetitif tidak hanya dimiliki oleh suatu negara,
tetapi juga dimiliki oleh perusahaan-perusahaan di negara tersebut secara
individu atau kelompok. Perbedaan lainnya dengan keunggulan komparatif
adalah bahwa keunggulan kompetitif sifatnya lebih dinamis dengan perubahanperubahan, misalnya teknologi dan sumber daya manusia.
Dalam perkembangannya terdapat beberapa tokoh yang membahas tentang
ekspor (perdagangan internasional) ( Oktaviani dan Tanti, 2009), yaitu:
1. Adam Smith (1729 – 1790)
20 Buah pemikiran dari Adam Smith adalah teori “keunggulan absolut
(absolute advantage)”. Teori ini sering disebut sebagai teori murni
perdagangan internasional. Dasar pemikiran dari teori ini adalah bahwa
suatu negara akan melakukan spesialisasi dan ekspor terhadap suatu jenis
barang tertentu, dimana negara tersebut memiliki keunggulan absolut dan
tidak memproduksi atau melakukan impor terhadap jenis barang lain yang
tidak memiliki keunggulan absolut. Dengan kata lain, suatu negara akan
mengekspor suatu jenis barang jika negara tersebut dapat membuatnya
lebih efisien atau lebih murah daripada negara lain. Jadi, teori ini
menekankan pada efisiensi dalam penggunaan input, misalnya tenaga
kerja, didalam proses produksi yang sangat menetukan keunggulan atau
tingkat daya saing.
2. David Ricardo
David Ricardo dikenal melalui teorinya “keunggulan komparatif
(comparative adavantage)”. Menurut Ricardo, perdagangan internasional
dapat saja terjadi, meskipun suatu negara tidak memiliki keunggulan
absolut terhadap kedua barang yang diciptakan. Misalnya, Indonesia
unggul secara absolut atas Vietnam dalam memproduksi beras dan buahbuahan. Walaupun begitu, Vietnam bisa saja memiliki keunggulan
komparatif paling besar dibandingkan Indonesia dalam memproduksi
salah satu dari kedua komoditi tersebut. Dengan kata lain, Vietnam akan
berspesialisasi pada dan mengekspor suatu komoditi tertentu, dimana
Vietnam
memiliki
keunggulan
komparatif.
Menurut
Ricardo,
perdagangan antara dua negara tersebut akan timbul bila masing-masing
21 negara memilki biaya relatif yang terkecil untuk jenis barang yang
berbeda. Oleh karena itu, teori Ricardo sering disebut teori biaya relatif.
Titik pangkal dari teori ini adalah nilai atau harga suatu suatu barang
ditentukan oleh jumlah waktu atau jam kerja yang diperlukan tiap pekerja
dan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi suatu
barang. Jadi, dalam model Richardo, penilaian terhadap keunggulan suatu
negara atas negara lain dalam membuat suatu jenis barang didasarkan
pada tingkat efisiensi atau produktivitas tenaga kerja. Teori ini merupakan
yang sering digunakan didalam banyak penelitian empiris mengenai
kinerja ekspor.
3. Eli Heckscher dan Bertil Ohlin
Teori Heckscher dan Ohlin (H-O) termasuk dalam kelompok teori
modern. Teori H-O disebut juga sebagai factor proportion theory atau
teori ketersediaan faktor. Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa
perdagangan internasional, misalnya antara Indonesia dan Jepang, terjadi
karena biaya alternatif (opportunity cost) berbeda antara kedua negara
tersebut. Perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan dalam
jumlah faktor produksi (tenaga kerja, modal, dan tanah) yang dimiliki
oleh kedua negara tersebut. Indonesia memliki tanah yang lebih luas dan
tenaga kerja yang jauh lebih banyak, namun memiliki modal yang lebih
kecil daripada Jepang. Maka sesuai hukum pasar (permintaan dan
penawaran), harga faktor-faktor produksi tersebut juga berbeda antara
Indonesia dan Jepang. Upah tenaga kerja dan harga tanah di Indonesia
lebih murah, sebaliknya harga modal di Indonesia lebih mahal
22 dibandingkan di Jepang. Namun, bukan berarti Indonesia lebih unggul
daripada Jepang. Hal ini tergantung pada tingkat intensitas pemakaian
tenaga kerja, tanah, dan modal dalam memproduksi barang tersebut.
Intensitas pemakaian faktor produksi dapat diukur dengan rasio antara
nilai faktor produksi dengan nilai output. Jelas bahwa pertanian adalah
jenis sektor yang proses produksinya lebih padat tenaga kerja dan tanah
daripada sektor industri manufaktur. Oleh sebab itu, paling tidak secara
teori, Indonesia memiliki keunggulan atas Jepang dalam menghasilkan
komoditi pertanian. Jadi menurut teori H-O, struktur perdagangan luar
negeri dari suatu negara tergantung pada ketersediaan dan intensitas
pemakaian faktor-faktor produksi dan yang terakhir ini ditentukan oleh
teknologi. Suatu negara akan berspesialisasi dalam produksi dan
mengekspor barang-barang yang input (faktor produksi) utamanya lebih
banyak di negara tersebut dan sebaliknya.
Potensi ekspor nasional pada dasarnya searah dengan kemampuan
eksportir untuk menyusun export marketing mix yang kompetitif dan mampu
menyesuaikan diri dengan waktu, situasi dan kondisi yang dihadapi, termasuk
dalam menghadapi tindakan dari pesaing.
Potensi ekspor nasional tergantung pada faktor intern dan ekstern. Hal ini
dapat dijelaskan sebagai perikut:
1. Faktor intern, meliputi kemampuan untuk memproduksi barang dalam hal
jumlah dan variasi atau standar kualitas yang berbeda-beda yang melebihi
kebutuhan nasional.
23 2. Faktor ekstern, meliputi permintaan dan daya beli di pasar atau negara
tujuan.
Hal ini tergantung pada kebijaksanaan politik maupun ekonomi (izin impor,
peraturan lalu lintas devisa dan lain-lain) dari pemerintah di negara tujuan serta
perundangan di negara eksportir. Teori permintaan ekspor bertujuan untuk
menentukan faktor yang memengaruhi permintaan. Permintaan ekspor suatu
negara adalah selisih antara produksi/penawaran domestik dikurangi dengan
konsumsi/permintaan domestik negara yang bersangkutan ditambah dengan stok
tahun sebelumnya.
Secara sistematis dapat ditulis sebagai berikut :
Xt = Qt – Ct + St – 1 ………………………………………………… …….(2.1)
Dimana, Xt: jumlah ekspor komoditi pada tahun t, Qt: jumlah produksi domestik
pada tahun t, Ct: jumlah konsumsi domestik pada tahun t, dan St – 1: Stok tahun
sebelumnya (t-1). Jika jumlah stok tahun sebelumnya diasumsikan nol, karena
produksi pada tiap tahun semuanya diekspor maka dengan demikian fungsi
ekspor dapat dirumuskan sebagai berikut:
Xt = Qt – Ct …………………………………………………………………..(2.2)
Untuk komoditi ekspor, permintaan komoditi yang bersangkutan akan
dialokasikan untuk memenuhi permintaan masyarakat dalam negeri (konsumsi
domestik) atau luar negeri (ekspor). Sedangkan yang tersisa akan menjadi
persediaan yang akan dijual pada tahun berikutnya. Ekspor suatu negara akan
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang memengaruhi permintaan negara tujuan
ekspor terhadap komoditi yang dihasilkan, yaitu harga domestik negara tujuan
24 ekspor, harga impor negara tujuan ekspor, pendapatan negara perkapita penduduk
negara tujuan ekspor, dan selera penduduk negara tujuan ekspor.
Secara umum, ada beberapa manfaat atau peranan yang dapat diperoleh
dari kegiatan ekspor, antara lain: Meningkatkan laba perusahaan melalui
perluasan serta untuk memperoleh nilai jual yang lebih baik (optimalisasi laba),
membuka pasar baru di luar negeri sebagai perluasan pasar domestik (membuka
pasar ekspor), memanfaatkan kelebihan kapasitas terpasang (idle capacity),
membiasakan diri bersaing di pasar internasional sehingga terlatih dalam
persaingan yang ketat dan terhindar dari sebutan “jago kandang”.
2.2.3 Teori Permintaan
Permintaan pasar suatu produk adalah volume total yang akan dibeli oleh
kelompok pelanggan tertentu di wilayah geografis tertentu pada periode waktu
tertentu di lingkungan pemasaran tertentu dengan program pemasaran tertentu
(Yustika, 2005). Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam konsep
permintaan yaitu : (1) jumlah yang diminta merupakan kuantitas yang diinginkan
(desire), ini menunjukkan berapa banyak yang ingin dibeli atas dasar harga
komoditi tersebut, harga produk lain, penghasilan, selera dan sebagainya, (2) apa
yang diinginkan tidak merupakan harapan kosong, tetapi merupakan permintaan
efektif, dan (3) kuatitas yang diminta merupakan arus pembelian yang kontinyu,
Faktor - faktor lain yang memengaruhi permintaan yaitu :
1. Pendapatan. Kenaikan pendapatan akan menyebabkan kenaikan
permintaan sehingga akan menyebabkan kurva permintaan naik ke kanan
atas.
25 2. Selera dan preferensi. Selera adalah detereminan non harga, oleh karena
itu biasanya diasumsikan bahwa selera konstan dan mencari sifat-sifat
lain yang memengaruhi perilaku.
3. Harga barang-barang yang berkaitan: substitusi dan komplemen.
Jika harga barang substitusi naik maka permintaan komoditi akan
meningkat, jika harga komoditi komplementer naik maka permintaan
komoditi akan turun.
4. Perubahan dugaan tentang harga relatif dimasa depan. Jika semua
harga naik 10 persen per tahun, dan bahwa situasi ini diduga akan terus
berlangsung, laju inflasi yang telah diantisipasi sepenuhnya tidak
mempunyai pengaruh terhadap posisi posisi kurva permintaan akan suatu
komoditas.
5. Penduduk. Kenaikan jumlah penduduk dalam suatu perekonomian
(dengan pendapatan konstan) akan meningkatkan permintaan.
2.2.4. Harga Ekspor Komoditi
Harga ekspor relatif komoditi yang rendah atau lebih murah merupakan
harga yang diinginkan oleh setiap negara. Dengan harga yang murah, mampu
meningkatkan permintaan komoditi/produk yang diekspor ke negara tujuan. Pada
hakikatnya makin rendah harga suatu barang maka makin banyak permintaan
terhadap barang tersebut. Sebaliknya, makin tinggi harga suatu barang maka
makin sedikit permintaan terhadap barang tersebut. Dari Hipotesa di atas dapat
disimpulkan, bahwa:
1. Apabila harga suatu barang naik, maka pembeli akan mencari barang lain
yang dapat digunakan sebagai pengganti barang tersebut, dan sebaliknya
26 apabila harga barang tersebut turun, konsumen akan menambah
pembelian terhadap barang tersebut.
2. Kenaikan harga menyebabkan pendapatan riil konsumsn berkurang,
sehingga memaksa konsumen mengurangi pembelian, terutama barang
yang akan naik harganya.
2.2.5. Teori Nilai Tukar
Dalam perdagangan internasional pertukaran antara satu mata uang
dengan mata uang lain menjadi hal yang terpenting untuk mempermudah proses
transaksi jual-beli barang dan jasa. Dari pertukaran ini, terdapat perbandingan
nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut, dan inilah yang dinamakan
kurs. Abimanyu (2004) mendefenisikan kurs sebagai harga relatif mata uang
suatu negara terhadap mata uang negara lain. Kurs adalah harga mata uang
domestik terhadap mata uang asing dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang
nilai tukar riil dari negara mitra dagang Indonesia. Nilai tukar rupiah digunakan
sebagai proyeksi dari nilai tukar negara mitra dagang Indonesia. Kurs merupakan
salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian terbuka mengingat
pengaruhnya yang sedemikian besar bagi transaksi berjalan maupun terhadap
variabel-variabel ekonomi lainnya. Kurs juga memerankan peranan sentral dalam
perdagangan internasional. Dalam mekanisme pasar, kurs dari suatu mata uang
akan mengalami fluktuasi yang berdampak langsung pada harga barang-barang
ekspor dan impor. Perubahan yang dimaksud adalah:
1. Apresiasi, yaitu peristiwa menguatnya nilai tukar mata uang secara
otomatis akibat bekerjanya kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan
atas mata uang yang bersangkutan dalam sistem pasar bebas. Sebagai
27 akibat dari perubahan kurs ini adalah harga produk negara itu bagi pihak
luar negeri makin mahal, sedangkan harga impor bagi penduduk domestik
menjadi lebih murah.
2. Depresiasi, yaitu peristiwa penurunan nilai tukar mata uang secara
otomatis akibat bekerjanya kekuatan penawaran dan permintaan atas mata
uang yang bersangkutan dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat dari
perubahan kurs ini adalah produk negara itu bagi pihak luar negeri menjadi
murah, sedangkan harga impor bagi penduduk domestik menjadi mahal.
2.2.6. GDP Per Kapita
GDP per kapita merupakan ukuran berapa banyak perolehan
pendapatan setiap individu dalam perekonomian. Untuk mengetahui kemampuan
daya beli negara tujuan ekspor terhadap produk yang diekspor digunakan variabel
GDP per kapita riil sebab pada GDP per kapita riil memperhatikan adanya
pengaruh dari harga, sedangkan GDP per kapita nominal merupakan nilai GDP
yang tidak memperhatikan adanya pengaruh dari harga. Dengan demikian,
tingkat konsumsi atau kemampuan daya beli suatu negara atas suatu komoditi
dapat diukur dari pendapatan per kapita riil suatu negara. Jika pendapatan per
kapita suatu negara dinilai cukup tinggi, maka dapat dikatakan suatu negara
tersebut merupakan pasar potensial bagi pemasaran suatu komoditi ataupun
produk tertentu. Ada dua macam pendekatan yang digunakan dalam perhitungan
GDP yaitu pendekatan pengeluaran yaitu dengan menjumlahkan
seluruh
pengeluaran aggregat pada seluruh barang dan jasa akhir yang diproduksi selama
satu tahun dan yang berikutnya adalah dengan pendekatan pendapatan yaitu
dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan aggregat yang diterima selama
28 satu tahun oleh mereka yang memproduksi output tersebut. Pendekatan
penghitungan GDP yang umum digunakan dalam beberapa negara didunia adalah
dengan pendekatan pengeluaran agregat. Pengeluaran agregat terdiri dari empat
komponen yaitu konsumsi (C), investasi (I), pembelian/pengeluaran pemerintah
(G) dan ekspor bersih (X-M).
2.2.7. Populasi
Pertambahan populasi atau penduduk dapat memengaruhi ekspor melalui
dua sisi, yaitu sisi penawaran dan sisi permintaan. Pada sisi penawaran,
pertambahan penduduk dapat menyebabkan terjadinya penambahan tenaga kerja
untuk melakukan proses produksi suatu komoditi/produk yang akan diekspor.
Sedangkan pada sisi permintaan, pertambahan penduduk akan menyebabkan
bertambah besarnya permintaan akan komoditi/produk yang diekspor.
2.3 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai rumput laut dan daya saingnya hingga saat ini
masih belum banyak dilakukan. Setelah melakukan studi literatur, terdapat
beberapa hasil penelitian yang cukup relevan dengan penelitian daya saing
ekspor rumpur laut yang dilakukan peneliti, baik dengan komoditas yang
berbeda. Wirawan (2007) meneliti tentang aspek-aspek permintaan rumput
laut Indonesia di pasar Jepang. Penelitian ini bersifat kuantitatif yang
dilakukan dengan data empirik, dengan metode analisis regresi.
Jenis data
yang digunakan adalah data sekunder kuantitatif, yang terdiri dari harga ratarata produk rumput laut Indonesia di Jepang, nilai tukar Yen terhadap Rupiah,
Ekspor rumput laut dari negara pesaing, dan pendapatan nasional Jepang.
Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah bahwa perubahan
29 permintaan rumput laut Indonesia oleh Jepang tidak dipengaruhi oleh nilai
tukar. Hal ini terjadi karena pemenuhan kebutuhan rumput laut di Jepang
sudah terpenuhi untuk spesialialisasi tertentu, jadi penggunaan rumput laut di
Jepang yang diimpor dari negara-negara lain memiliki penggunaan kekhasan
tersendiri. Oleh karena itu, impor rumput laut di Jepang tidak saling substitusi.
Faktor lain juga yang memengaruhi adalah GDP Jepang, dimana terdapat
hubungan positif antara GDP dengan jumlah permintaan rumput laut Indonesia.
Risman (2007) mengangkat judul penelitian “Analisis Faktor-Faktor
yang Memengaruhi Ekspor Rumput Laut Indonesia”. Penelitian dilakukan
untuk mengetahui faktor apa yang mempegaruhi ekspor rumput laut Indonesia
dan juga mencari strategi untuk
meningkatkan ekspornya. Data yang
digunakan dalam penelitian berupa data sekunder tahun 1986-2005 yang
diperoleh dari instansi seperti BPS, DKP, dan instansi terkait lainnya. Data
kemudian dianalisis dengan menggunakan tabulasi dan
analisis regresi
berganda dengan persamaan tunggal yaitu dari sisi ekspor saja.
Hasil dari penelitian Risman menunjukkan bahwa faktor yang
berpengaruh nyata terhadap ekspor ke Hongkong adalah variabel harga
ekspor rumput laut. Sedang untuk Jepang, tidak ada satupun faktor yang
dianalisis berpengaruh nyata terhadap ekspor rumput laut Indonesia. Untuk
Denmark, ekspor dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah. Alternatif strategi yang
dihasilkan dalam penelitian adalah pemerintah melakukan observasi lokasi
perairan yang
memperluas
cocok
area
untuk dijadikan budidaya rumput
budidaya, meningkatkan
kualitas,
laut
kuantitas,
untuk
dan
kontinuitas produksi melalui budidaya rumput laut, melakukan kerjasama
30 antara
pembudidaya
dengan
pemerintah,
membuat
situs
jaringan
sumberdaya setiap daerah, kelompok pembudidaya rumput laut kerjasama
dengan pengusaha lokal mendirikan
koperasi, pemerintah
memberikan
penyuluhan, pendidikan dan ketrampilan bagi pembudidaya rumput laut,
dan pemerintah sering melakukan pengawasan/pemeriksaan
produk untuk
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan termasuk penolakan produk oleh negara
importir.
Rajagukguk (2009) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Daya
Saing Rumput Laut Indonesia di Pasar Internasional”. Penelitian ini dilakukan
untuk menganalisis
pangsa pasar ekspor rumput laut Indonesia di pasar
internasional, dimana dianalisis menurut negara tujuan ekspor yang diurutkan
berdasarkan nilai ekspor terbesar. Dalam penelitian ini juga diketahui faktorfaktor yang diduga memengaruhi perubahan penguasaan pangsa pasar ekspor di
negara tujuan serta pengaruhnya terhadap pangsa pasar ekspor rumput laut
di negara tujuan ekspor. Apabila pangsa pasar lebih besar atau sama dengan
20 persen, maka dapat dikatakan bahwa rumput laut Indonesia memiliki daya
saing di negara bersangkutan. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan
data-data sekunder yang diperoleh dari badan-badan yang kompeten seperti
DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan) Republik Indonesia, FAO (Food
and Agricultural Organization), UN Comtrade (United Nations Commodity of
Trade), FED (Federal Reserved), Departemen Perdagangan RI, Badan Pusat
Statistik, serta lembaga-lembaga lain yang diperlukan untuk penelitian. Analisis
faktor-faktor yang memengaruhi pangsa pasar ekspor rumput laut Indonesia di
negara tujuan ekspor dilakukan dengan regresi data panel, yakni dengan
31 melakukan metode Pooled OLS, metode Fixed effect, dan metode Random
effect. Metode
terbaik
yang
digunakan
berdasarkan
uji
yang
telah
dilakukan adalah metode Fixed effect.
Hasil dari penelitian Rajagukguk ternyata tidak semua variabel yang
dinyatakan berpengaruh nyata secara statistik terhadap pangsa pasar ekspor
rumput laut Indonesia. Variabel yang dinyatakan berpengaruh nyata secara
statistik terhadap pangsa pasar adalah volume ekspor ke negara tujuan (Q), nilai
tukar (NT), dan GDP per kapita negara tujuan (GDP). Sedangkan variabel
harga ekspor (PX), dan produksi rumput laut nasional (PR) adalah variabel
yang tidak berpengaruh nyata secara statistik. Model pangsa pasar yang telah
dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mengetahui posisi daya saing ekspor
rumput laut di negara tujuan ekspor pada tahun-tahun tertentu. Berdasarkan
penelitian, Indonesia memiliki daya saing di negara
Hongkong, Filipina,
Spanyol,
pada
dan
Denmark.
Hal
berbeda ditemukan
negara
China
dimana pada negara tersebut Indonesia baru berdaya saing setelah tahun
2004. Sedangkan untuk negara USA, Indonesia baru mempunyai daya saing
pada tahun 2006, demikian juga dengan di Korea Selatan baru pada tahun 2005.
Sedangkan di negara Jepang, United Kingdom, dan Perancis, Indonesia sama
sekali tidak memiliki daya saing. Hal ini terjadi karena beberapa permasalahan
seperti mutu dan kualitas produk Indonesia yang masih rendah.
Yuliastuti (2010) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Aliran
Perdagangan Ekspor Rumput Laut Indonesia periode 1999-2008”. Tujuan
penelitian tersebut adalah untuk menganalisis faktor yang memengaruhi
permintaan ekspor rumput laut Indonesia ke 10 negara tujuan ekspor. Penelitian
32 ini menggunakan analisis gravity model dan panel data, dengan menganilisis
negara Jepang, Hongkong, dan Denmark. Hasil penelitian menunjukkan ada
beberapa faktor yang memengaruhi aliran ekspor rumput laut Indonesia,
diantaranya faktor yang paling berpengaruh positif terhadap ekspor rumput laut
Indonesia adalah populasi negara tujuan ekspor. Artinya jika populasi penduduk
di negara tujuan ekspor meningkat maka akan meningkatkan volume ekspor
rumput laut Indonesia ke negara tersebut. Sedangkan faktor yang paling
berpengaruh negatif adalah jarak ekonomi, yang berarti semakin jauh jarak
ekonomi antara Indonesia dengan negara tujuan ekspor maka akan menurunkan
permintaan ekspor rumput laut Indonesia ke negara tersebut.
Sulastry (2011) melakukan penelitian yang berjudul “Analisis FaktorFaktor yang Memengaruhi Penawaran Ekspor Rumput Laut Indonesia ke
China(periode 1993-2010)”. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk
menganalisis perkembangan ekspor rumput laut Indonesia serta untuk
menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penawaran ekspor rumput laut
Indonesia ke China. Variabel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah produksi
rumput laut dalam negeri, harga ekspor rumput laut, kurs riil, lag ekspor, dummy
revitalisasi, dan dummy krisis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode Ordinary Least Square untuk menganalisis faktor-faktor yang
memengaruhi penawaran ekspor rumput laut Indonesia ke China dan Metode
Regresi Komponen Utama untuk mengatasi masalah multikolinearitas.
Dari hasil analisis kuantitatif OLS diperoleh hasil estimasi bahwa ekspor
rumput laut Indonesia ke China memiliki pengaruh signifikan terhadap produksi,
harga ekspor, kurs riil, lag ekspor, dummy krisis, dan dummy revitalisasi.
33 Produksi dalam negeri, harga ekspor, lag ekspor, dummy krisis, dan dummy
revitalisasi berpengaruh positif terhadap ekspor rumput laut Indonesia ke China,
sedangkan kurs riil berpengaruh negatif.
Dari penelitian terdahulu di atas penulis membandingkan modelmodel yang digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel dalam
persamaan permintaan ekspor komoditi rumut laut. Berdasarkan informasi
tersebut
kemudian penulis
menganalisis
permintaan
merumuskan
model
yang
sesuai
untuk
ekspor komoditi rumput laut Indonesia yang
disesuaikan dengan kondisi saat ini.
2.4. Kerangka Pemikiran
Mengacu
pada teori
yang diungkapkan
Lipsey
(1995)
bahwa
harga merupakan variabel penting yang memiliki hubungan negatif dengan
permintaan, untuk itu variabel harga dalam penelitian ini dijadikan sebagai
salah satu variabel independen yang diduga memengaruhi permintaan ekspor
komoditi rumput laut. Seperti yang diungkapkan oleh Mankiw (2003) mengenai
nilai tukar riil dan nilai tukar nominal, variabel nilai tukar juga dimasukkan
kedalam variabel independen dalam model karena pada dasarnya suatu
perdagangan antar negara akan melibatkan mata uang yang berbeda. Kemudian
mengacu pada teori yang diungkapkan oleh Salvatore (1997) bahwa volume
ekspor suatu negara merupakan selisih antara
penawaran
domestik
dan
permintaan domestik, penulis memasukkan variabel volume ekpor rumput laut
Indonesia pada tahun sebelumnya sebagai variabel independen yang diduga
memengaruhi
permintaan
ekspor.Selain itu penulis memasukkan variabel
GDP per kapita negara importir dan jumlah populasi penduduk negara importir
34 sebagai variabel yang berpengaruh pada permintaan ekspor komoditi rumput
laut Indonesia.
Perkembangan Ekspor Indonesia
Ekspor Subsektor Perikanan
Ekspor Subsektor Lain
Komoditi Perikanan
Komoditi Rumput
Unggul Lain
Laut
Faktor-faktor yang memengaruhi
permintaan ekspor rumput laut
Analisis Regresi Data
•
•
•
•
•
Harga ekspor
Nilai tukar
Populasi
Penduduk Negara
Importir
GDP per kapita
negara importir
Volume Ekspor
tahun sebelumnya
Analisis Deskriptif
Strategi dan kebijakan untuk meningkatkan ekspor
komoditi rumput laut Indonesia
Peningkatan GDP Indonesia dan Kesejahteraan
masyarakat Indonesia
Ruang Lingkup Penelitian
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
2.5 Hipotesis Penelitian
Perdagangan internasional suatu komoditi ekspor banyak dipengaruhi oleh
beberapa faktor, baik faktor yang terdapat dalam negara produsen, negara
tujuan ekspor, ataupun harga internasional. Berdasarkan studi literatur,
faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap daya saing ekspor rumput
35 laut Indonesia (dalam penelitian ini dengan pendekatan pangsa pasar) adalah:
(1) volume ekspor rumput laut Indonesia tahun sebelumnya, (2) harga ekspor
rumput laut, (3) nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara pengimpor
rumput laut Indonesia, (4) GDP per kapita negara pengimpor rumput laut
Indonesia, dan (5) Populasi penduduk negara importir
Faktor-faktor yang diduga berpengaruh tersebut kemudian akan dimasukkan
sebagai variabel-variabel penjelas dalam model daya saing ekspor rumput laut
Indonesia. Hipotesis terhadap variabel-variabel di atas akan dijelaskan sebagai
berikut :
1. Volume ekspor rumput laut Indonesia tahun sebelumnya berpengaruh
positif, artinya peningkatan volume ekspor komoditi rumput laut di
tahun sebelumnya akan meningkatkan permintaan ekspor rumput laut
Indonesia.
2. Harga ekspor komoditi rumput laut Indonesia berpengaruh negatif
terhadap permintaan ekspor rumput laut, artinya kenaikan harga
ekspor rumput laut akan menyebabkan penurunan volume ekspor
komoditi rumput laut.
3. Nilai tukar mata uang negara pengimpor terhadap dollar Amerika
Serikat diduga mempunyai hubungan positif, artinya kenaikan nilai
tukar
mata uang negara pengimpor terhadap
dollar
Amerika
(terapresiasi) akan menyebabkan harga produk rumput laut Indonesia
relatif lebih murah di pasar internasional dan hal ini membuat daya
saing produk
rumput laut
Indonesia
menjadi
akhirnya meningkatkan permintaan ekspornya.
tinggi
dan
pada
36 4. GDP per kapita negara tujuan ekspor berpengaruh positif terhadap
permintaan ekspor rumput laut Indonesia,
artinya
jika
GDP
per
kapita negara tujuan ekspor mengalami peningkatan, maka permintaan
ekspor rumput laut Indonesia juga meningkat, begitu sebaliknya.
5. Populasi penduduk negara tujuan ekspor berpengaruh positif terhadap
permintaan ekspor rumput laut Indonesia. Apabila jumlah penduduk
negara tujuan ekspor meningkat maka permintaan ekspor komoditi rumput
laut Indonesia akan meningkat.
37 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder yang merupakan data deret waktu mulai dari tahun 2001- 2010.
Penelitian dilakukan dengan pengambilan data pada instansi pemerintah yang
memiliki dokumentasi data mengenai kegiatan ekspor rumput laut Indonesia
seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Perikanan dan Kelautan
(DKP) RI, FAO (Food and Agriculture Organization), UN Comtrade (United
Nations Commodity of
Trade),
FED (Federal Reserved), Bank Dunia
(World Bank), dan sumber lain yang terkait dengan objek penelitian.
3.2. Metode Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan secara bertahap melalui pengumpulan data,
pengarakteristikan data, dan kemudian penabelan. Pengolahan data dilakukan
dengan menggunakan program komputer yang bernama Eviews. Analisis
kuantitatif
dilakukan
untuk
mengintepretasikan
hasil
pengolahan
data
menggunakan program computer guna menjelaskan faktor – faktor yang
berpengaruh terhadap permintaan ekspor rumput laut. Analisis deskriptif
dilakukan untuk merumuskan suatu kebijakan yang tepat setelah melihat faktorfaktor yang berpengaruh terhadap permintaan ekspor rumput laut.
Berdasarkan studi literatur sebelumnya, faktor-faktor yang diduga secara
signifikan
berpengaruh nyata terhadap daya saing ekspor rumput laut
38 Indonesia kemudian dirumuskan kedalam model persamaan regresi untuk data
panel sebagai berikut
LnXRLit = β0 + β1LnXRLit-1 + β2LnPXit + β3LnNTit + β4LnGDPit +
β5LnPOPit + μit ………………..……….…………….. (3.1)
dimana :
XRLit
= permintaan ekspor rumput laut ke negara i pada tahun ke-t
β1
= intersep
Βi
= parameter
yang
menunjukkan respon volume terhadap
perubahan variabel independen (i = 1, 2, 3, ..., n), atau slope
XRLit-1
= volume ekspor rumput laut Indonesia ke negara I pada tahun ket-1 (kg)
Pxit
= harga ekspor rumput laut Indonesia ke negara i
pada tahun ke-t (kg/US$)
NTit
= nilai tukar mata uang domestik terhadap US$ negara i pada
tahun ke-t (mata uang negara pengimpor/US$)
GDPit
= pendapatan per kapita negara tujuan ekspor i dan tahun ke
(US$)
POPit
μit
3.3
= populasi penduduk negara i pada tahun ke-t (orang)
= koefisien galat (error term)
Panel Data
Panel data adalah bentuk data yang merupakan gabungan dari data time
series dan cross section. Dalam sebuah penelitian terkadang ditemukan suatu
persoalna mengenai ketersediaan data (data availability) untuk mewakili variabel
yang kita gunakan dalam penelitian. Misalnya terkadang ditemukan adanya
39 bentuk data dalam series yang tidak dapat dilakukan berkaitan dengan
persyaratan jumlah data yang terbatas. Namun jika ditemukan bentuk data yang
dengan jumlah unit cross section yang terbatas pula, sehingga akan sulit untuk
melakukan proses pengolahan data cross section untuk mendapatkan informasi
perilaku dari model yang akan diteliti.
Dalam teori ekonometrika, kedua kondisi tersebut salah satunya dapat
diatasi dengan menggunakan data panel (pooled data) agar dapat diperoleh hasil
estimasi yang lebih baik (efisien) dengan terjadinya peningkatan jumlah
observasi yang berimplikasi terhadap peningkatan derajat kebebasan (degree of
freedom).
Berdasarkan
Juanda
(2009)
terdapat
beberapa
keuntungan
menggunakan data panel dalam model regresi dibandingkan dengan hanya data
time series atau hanya cross section, yaitu:
1. Data panel akan memberikan informasi yang lebih lengkap, lebih
beragan, kurang berkorelasi antar variabel, derajat bebas lebih besar dan
lebih efisien.
2. Studi data panel lebih memuaskan untuk menentukan perubahan dinamis
dibandingkan dengan studi berulang dari cross section.
3. Membantu studi untuk menganalisis perilaku yang lebih kompleks,
misalnya fenomena skala ekonomi dan perubahan teknologi.
4. Dapat meminimumkan bias yang dihasilkan oleh agregasi individu atau
perusaaan karena unit data lebih banyak.
Dalam analisa model data panel dikenal dengan tiga macam pendekatan
yang terdiri dari pendekatan kuadrat terkecil (pooled least square), pendekatan
efek tetap (fixed effect), dan pendekatan efek acak (random effect).
40 3.3.1. Pooled Least Square
Pendekatan yang paling sederhana dalam pengolahan data panel adalah
dengan menggunakan metode kuadrat terkecil biasa ditetapkan dalam data yang
berbentuk pool. Misalkan terdapat persamaan berikut ini:
Yit = α + Xjit βj + εi ………………………………..……………………………..………(3.2)
untuk i = 1, 2, ..., N dan t = 1, 2, .., T
Dimana N adalah jumlah unit cross section (individu) dan T adalah
jumlah periode waktunya. Dengan asumsi komponen error dalam pengolahan
metode kuadrat terkecil biasa, kita dapat melakukan proses estimasi secara
terpisah untuk setiap unit cross section. Untuk periode t = 1, akan diperoleh
persamaan regresi cross section sebagai berikut:
Yit = α + Xjit βj + εi ………………………………………………………… (3.3)
untuk i = 1, 2, ..., N
Pada akhirnya akan berimplikasi diperolehnya persamaan sebanyak T
persamaan yang sama. Begitu juga sebaliknya, kita juga akan memperoleh
persamaan deret waktu (time series) sebanyak N persamaan untuk setiap T
observasi. Namun, untuk mendapatkan parameter α dan β yang konstan dan
efisien, akan dapat diperoleh dalam bentuk regresi yang lebih besar dengan
melibatkan sebanyak NT observasi.
3.3.2. Fixed Effect Model
Kesulitan terbesar dalam pendekatan metode kuadrat terkecil biasa
tersebut adalah asumsi intersep dan slop dari persamaan regresi yang dianggap
konstan baik antar daerah maupun antar waktu yang mungkin tidak beralasan.
Generalisasi secara umum sering dilakukan dengan memasukkan variabel dummy
41 untuk mengizinkan terjadinya perbedaan nilai parameter yang berbeda-beda baik
lintas unit cross section maupun antar waktu.
Pendekatan dengan memasukkan variabel dummy dikenal dengan sebutan
model efek tetap (fixed effect) atau Least Square Dummy Variabel (LSDV) atau
disebut juga Covariance Model. Pendekatan tersebut dapat ditulis dalam
persamaan berikut:
Yit = αi – xjit βj – εit – Σ – aiDi – eit ……………………………………….... (3.4)
Dimana:
Yit
= variabel terikat di waktu t untuk unit cross section i
αi
= intercept yang berubah-ubah antar cross section unit
xjit βj
= variabel bebas j di waktu t untuk unit cross section i
βj
= parameter untk variabel ke j
εit
= komponen error di waktu t untuk unit cross section i
Kita telah menambahkan sebanyak (N-1) variabel dummy (Di) ke dalam
model dan menghilangkan satu sisanya untuk menghindari kolinieritas sempurna
antar variabel penjelas. Dengan menggunakan pendekatan ini akan terjadi degree
of freedom sebesar NT – N –K. Keputusan memasukkan variabel boneka ini
harus didasarkan pada pertimbangan statistik. Tidak dapat dipungkiri dengan
melakukan penambahan variabel dummy ini akan sangat mengurangi banyaknya
degree of freedom yang pada akhirnya akan memengaruhi koefisien dari
parameter yang diestimasi.
Pertimbangan pemilihan pendekatan yang digunakan dapat dilakukan
dengan menggunakan F statistic yang berusaha membandingkan antara nilai
jumlah kuadrat terkecil dari error dari proses pendugaan dengan menggunakan
42 metode kuadrat terkecil dan efek tetap yang telah memasukkan variabel dummy.
Perhitungannya adalah sebagai berikut:
F statistik =
/
/
…………………………………………….. (3.5)
dimana:
RSSS = Restricted Residual Sum Square (Sum Square Residual Pooled OLS)
URSS = Unrestricted Residual Sum Square (Sum Square Residual Fixed Effect)
N
= Jumlah data cross section
T
= Jumlah data time series
K
= Jumlah variabel penjelas
3.3.3. Random Effect Model
Keputusan untuk memasukkan variabel dummy dalam model efek tetap
tidak dapat dipungkiri akan menimbukan konsekuensi (trade off). Penambahan
variabel dummy akan mengurangi banyaknya derajat kebebasan, yang pada
akhirnya akan mengurangi efisiensi dari parameter yang diestimasi. Berkaitan
dengan hal ini, dalam model data panel dikenal dengan pendekatan efek acak
(random effect). Dalam model efek acak, parameter-parameter yang berbeda
antar daerah maupun antar waktu dimasukkan ke dalam error karena hal ini
model efek acak sering juga disebut model komponen error (error component
model).
Bentuk model efek acak ini dijelaskan pada persamaan berikut ini:
Yit = α + Xjit βj – εit ……………………………………………………...… (3.6)
εit = Ui + Vt + Wit ………………………………………………………….. (3.7)
dimana:
Ui ~ N(0,δu2) = komponen cross section error
43 Vt ~ N(0,δu2) = komponen time series error
Wit ~ N(0,δu2) = komponen error kombinasi
Kita juga mengasumsikan bahwa error secara individu juga tidak saling
berkorelasi, begitu juga dengan error kombinasinya. Dengan menggunakan
model efek acak ini, maka kita dapat menghemat pemakaian derajat kebebasan
dan tidak mengurangi jumlahnya. Seperti yang dilakukan pada model efek tetap.
Hal ini berimplikasi parameter yang merupakan hasil estimasi akan menjadi
semakin efisien. Keputusan penggunaan model efek tetap ataupun efek acak
ditentukan dengan menggunakan spesifikasi yang dikembangkan oleh Haussman
Test. Spesifikasi ini akan memberikan penilaian dengan menggunakan nilai Chi
Square Statistik sehingga keputusan pemilihan model akan dapat ditentukan
secara statistik. Namun, disamping dengan menggunakan test statistika terdapat
beberapa pertimbangan untuk memilih apakah akan menggunakan fixed effect
atau random effect. Apabila diasumsikan bahwa εit dan variabel bebas x
berkorelasi maka fixed effect lebih cocok untuk dipilih, sebaliknya apabila εit dan
variabel bebas x tidak berkorelasi maka random effect yang lebih baik untuk
dipilih. Beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan panduan untuk memilih
antara fixed effect atau random effect adalah:
1. Bila T (banyaknya unit time series ) besar sedangkan N (jumlah unit cross
section) kecil maka hasil fixed effect dan random effect tidak jauh berbeda
sehingga dapat dipilih pendekatan yang lebih mudah untuk dihitung yaitu
fixed effect model.
2. Bila N besar dan T kecil, maka hasil estimasi kedua pendekatan akan
berbada jauh. Jadi, apabila kita meyakini bahwa unit cross section yang
44 kita pilih dalam penelitian diambil secara acak (random) maka random
effect harus digunakan sebaliknya, apabila kita meyakini bahwa unit cross
section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak
(random), maka kita harus menggunakan fixed effect.
3. Apabila komponen eror individual (εit) berkorelasi dengan variabel bebas
x maka parameter yang diperoleh dengan random effect akan bias
sementara parameter yang diperoleh dengan fixed effect tidak bias.
4. Apabila N besar dan T kecil, dan apabila asumsi yang mendasari random
effect dapat terpenuhi, maka random effect lebih efisien dibandingkan
fixed effect.
2.4
Pengujian terhadap Model Penduga
Pengolahan data panel dalam persamaan permintaan ekspor rumput laut
yang dibangun menggunakan tiga pendekatan, yakni common effect atau
pooled least square (PLS), fixed effect, dan random effect. Pemilihan model
yang digunakan dalam penelitian
pertimbangan
statistik,
hal
ini
perlu
menggunakan
beberapa
ini ditujukan untuk memperoleh dugaan yang
terbaik dan efisien. Secara umum, model terbaik dapat dilihat dari nilai Rsquare yang lebih tinggi dari ketiga model yang dihasilkan. Akan tetapi,
disamping
penilaian tersebut, juga dilakukan uji
Chow untuk dapat
menentukan model mana yang terbaik antara model Fixed Effect atau model
Pooled OLS. Kemudian, dilakukan uji Hausman untuk menentukan model
terbaik antara model Fixed Effect atau model Random Effect.
3.4.1 Chow Test
Chow Test,
pada beberapa
buku dikenal dengan pengujian F,
45 dimana pengujian
p
ini
dilakkukan unttuk memillih apakahh model yang
y
digunakan Pooled Least Squuare atau Fixed
Ef
Effect.
Sebaagaimana telah
t
diketahuii, bahwa terkadang
t
asumsi bah
hwa setiapp cross seection mem
miliki
perilaku yang samaa cenderungg tidak reallistis mengiingat dimunngkinkan seetiap
unit cross
sectionn seharusnnya memiliiki perilakuu yang berbeda. Daalam
pengujiann ini dilakuukan dengann hipotesa sebagai
s
beriikut :
H0
: modell Pooled Leeast Square
H1
: modell Fixed Effeect
Dassar
penollakan
terhhadap
Hip
potesa
Nool
(H0) aadalah
deengan
menggunnakan F stattistik sepertti yang dirum
muskan oleh Chow, dim
mana :
…………………
……………
…….…… (3
3.8)
Dimana :
ESS1 = Resiidual Sum Square haasil penduggaan modeel Pooled Least
Squuare
ESS2 = Residdual Sum Sqquare hasil pendugaan
p
model Fixeed Effect
N
= Jumlah data crosss-section
T
= Jumlah data timee-series
K
= Jumlah variabel penjelas
dengan deerajat
Sttatistik Choow Test mengikuti
m
distribusi F-statistik
F
bebas (N
N-1, NT-N--K). Jika nilai
n
CHOW
W statisticss (F-stat) hhasil pengu
ujian
lebih bessar dari F--tabel, makka disimpullkan bahwaa tolak H0 yang arttinya
bahwa model
m
yang terbaik adaalah model Fixed effeect, dan beggitu sebalik
knya.
Pengujiann ini disebbut sebagai Chow Testt karena keemiripannyaa dengan Chow
C
test yang digunakan untuk mengguji stabilitas parameteer (stability test).
46 3.4.2 Hausman Test
Hausman Test adalah pengujian statistik sebagai dasar pertimbangan untuk
memilih model terbaik antara model Fixed Effect dengan model Random
Effect. Seperti telah diketahui
sebelumnya
bahwa penggunaan model
Fixed Effect mengandung suatu unsur trade-off, yaitu hilangnya derajat
bebas
dengan memasukkan variabel dummy. Namun, penggunaan metode
Random Effect juga harus memperhatikan ketiadaan pelanggaran asumsi dari
setiap komponen galat. Oleh karena itu, kemudian dilakukan uji Hausman
untuk dapat menentukan model terbaik dari kedua model tersebut. Hausman
Test dilakukan dengan hipotesa sebagai berikut
H0
: model Random Effect
H1
: model Fixed Effect
Sebagai dasar penolakan H0, maka digunakan statistik Hausman dan
membandingkannya dengan Chi-square. Statistik Hausman dirumuskan sebagai
berikut :
m = (β-b)(M0-M1)-1(β-b)
~x2(K)…………………………………….…. (3.9)
Dimana:
β
: vektor untuk statistik variabel fixed effect
b
: vektor untuk statistik variabel random effect
M0
: matriks kovarian untuk dugaan model fixed effect
M1
: matriks kovarian untuk dugaan model random effect
47 Jika nilai m hasil pengujian lebih besar dari x2-tabel, maka dapat
disimpulkan tolah H0, yang artinya model tarbaik yang digunakan adalah model
Fixed Effect, dan begitu pula sebaliknya. Eviews sebagai salah satu software
untuk
aplikasi
ekonomi
cukup memiliki fungsi-fungsi yang dapat secara
langsung melakukan uji Hausman, baik berupa panel tools ataupun diinput dari
program akan memberikan hasil yang sama
3.5 Pengujian Model
Pengujian model bertujuan untuk melihat nyata atau tidak pengaruh
variabel yang dipilih terhadap variabel yang diteliti. Pengujian model dalam
persamaan
regresi
data
panel
dapat
menggunakan
berbagai
criteria,
diantaranya:
1. Kriteria Ekonomi
Dalam kriteria ekonomi akan diuji tanda dan besaran dari tiap koefisien
dugaan yang telah diperoleh. Kriteria ekonomi mensyaratkan tanda dan besaran
yang terdapat pada tiap koefisien dugaan sesuai dengan kriteria ekonomi.
2.
Kriteria Ekonometrika
a.Autokorelasi
Autokorelasi adalah korelasi antara anggota serangkaian observasi yang
diurutkan menurut waktu dan ruang. Autokorelasi terdeteksi ketika terjadi
hubungan serius antara galat estimasi satu observasi dengan galat estimasi
observasi lainnya. Masalah autokorelasi umumnya tejadi pada data time series.
Dampak dari adanya autokorelasi adalah tidak efisiennya pendugaan atau
peramalan meskipun estimatornya tidak bias dan masih konsisten. Dampak
lainnya adalah standar error menjadi bias dan tidak konsisten sehingga uji pada
48 hipotesis menjadi tidak valid. Panduan mengenai angka DW (Durbin-Watson)
untuk mendeteksi bisa dilihat pada Tabel DW.
Tabel 3.1 Kerangka Identifikasi Autokorelasi
Nilai DW
Hasil
4-dl < DW < 4
Tolak H0, autokorelasi negative
4-dl < DW < 4-dl
Hasil tidak dapat ditentukan
2 < DW < 4-du
Terima H0, tidak ada autokorelasi
du < DW < 2
Terima H0, tidak ada autokorelasi
dl < DW < du
Hasil tidak dapat ditentukan
0 < DW < dl
Autokorelasi positif
Sumber: Gujarati, 2004
b. Heteroskedastisitas
Terjadi karena ragam dari error tidak konsisten sehingga tidak memenuhi
teorema Gauss Markov, umumnya terjadi pada data cross-section. Dampak yang
timbul dari permasalahan ini antara lain (Juanda, 2009):
1. Ragam yang tidak konstan menyebabkan nilai varians menjadi lebih besar
dari taksiran.
2. Ragam yang besar menyebabkan uji hipotesis (uji F dan uji t) menjadi
kurang tepat.
3. Interval kepercayaan menjadi lebih besar akibat standar error yang besar
4. Kesimpulan yang dihasilkan dari regresi yang dilakukan tidak tepat (dapat
menyesatkan)
Untuk menghilangkan permasalahan ini dapat dilakukan dengan cross-section
weighted regression, metode yang digunakan Generalized Least Square (GLS).
49 a. Multikolinieritas
Multikolinieritas adalah hubungan linier yang kuat antar variabel
independen dalam persamaan regresi berganda. Menurut Juanda (2009), tandatanda adanya multikolinieritas adalah sebagai berikut :
1. Tanda koefisien tidak sesuai dengan yang diharapkan
2. Nilai R2 tinggi, tetapi dalam uji individu banyak yang tidak nyata atau
bahkan tidak nyata semua.
3. Matrix korelasi antar variabel tinggi (rij > 0,8)
4. R2 < rij menunjukkan bahwa terjadi multikoliniearitas
Dampak dari adanya multikolinieritas pada suatu persamaan adalah
koefisien kuadrat terkecil tidak dapat ditentukan serta varians dan kovarians dari
koefisien menjadi tidak terhingga. Hubungan multikolinieritas yang hampir
sempurna juga menyebabkan persamaan yang dibentuk secara statistik
mempunyai standar error yang besar dan menyebabkan interval kepercayaan
menjadi lebih besar. Hal ini berakibat pada nilai estimasi koefisiennya menjadi
tidak tepat.
d. Normalitas
Pengujian normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah error term
mendekati distribusi normal atau tidak. Uji normalitas error term dilakukan
dengan menggunakan uji Jarque Bera dengan hipotesisnya sebagai berikut:
H0 : α = 0, error term terdistribusi normal
H1 : α ≠ 0, error term tidak terdistribusi normal
Wilayah penerimaan (Jarque Bera < X2df-2 atau probabilitas (p-value) > α
sedangkan wilayah penolakannya yaitu (Jarque Bera > X2df-2 atau probabiity (p-
50 value) < α. Kenormalan data diperlukan dalam analisis regresi berganda, hal ini
disebabkan metode ini merupakan salah satu metode analisis parametrik.
Kenormalan diketahui melalui sebaran regresi yang merata disetiap nilai
Penerimaan H0 mengindikasikan bahwa data yang dianalisis tersebar normal.
2. Kriteria Statistika
Terdapat beberapa uji yang dapat digunakan untuk menentukan kesesuaian
model regresi yang didapat secara statistik
a. Uji T
Nilai t-hitung digunakan untuk menguji apakah koefisien regresi
dari masing-masing peubah bebas (Xi) berpengaruh nyata terhadap peubah tak
bebas (Y). Langkah-langkah pengujian signifikansi dengan statistik uji-t adalah
sebagai berikut :
Hipotesis :
H0 : βi = 0
H1 : βi ≠ 0
Statistik Uji t hitung
; (n-k-1, tα/2) …………………………………………………..……. (3.10)
dimana :
βi
= nilai koefisien regresi dugaan
S
= standar deviasi untuk bi
α
= taraf nyata
n
= jumlah pengamatan
k
= jumlah variabel dependent dalam model
konstanta i
= 1, 2, 3, …, k
51 Kriteria Uji :
Jikaa t-hit ≤ tα
α/2, maka terima H0, artinya variabel
v
inddependent yang
diuji padda persamaan tersebut tidak beerpengaruh nyata terrhadap variabel
dependennt. Tetapi, jika
j
t-hit ≥ tα/2, makaa tolak H0, artinya variiabel yang diuji
pada perssaman tersebbut berpenggaruh nyata terhadap vaariabel depeendent.
b. Uji F
Pengujiann variabel – variabel dalam
d
persam
maan regresi sederhanna menggun
nakan
uji F berrtujuan untuuk menguji signifikanssi model seecara menyyeluruh. Den
ngan
demikiann, apakah peubah
p
bebaas yang digunakan daalam persam
maan data panel
p
secara keeseluruhan berpengaruuh nyata attau tidak terhadap
t
peeubah tak bebas
b
(Y).
Langkah--langkah pengujian
p
uji F adaalah sebaggai
berikut: Hipotesis
H
: H0 : β1 = β2 = βk = 0
mal ada satu
u nilai βi yanng tidak sam
ma dengan nol
H1 : minim
Staatistik Uji F :
…
……………………
……………………………………
……………………
…………….. (3.. 11)
dim
mana :
R2
= koefisienn determinasi
α
= taraf nyaata
n
= jumlah pengamatan
p
k
= jumlah variabel
v
deependent daalam modell tanpa
konstannta i
= 1, 2, 3,…, k
Kriiteria Uji :
F hitung
h
> Fα(kk,n-k-1) makaa tolak H0
52 F hiitung < Fα(kk,n-k-1) maka terima H0
Jikaa keputusann yang diperroleh adalah
h tolak H0, berarti seccara keseluru
uhan
peubah bebas yang berada
b
dalaam persamaaan yang diibangun berrpengaruh nyata
n
l
Indoneesia. Sebaliiknya, jika keputusan yang
terhadap pangsa pasar rumput laut
g ada
diperolehh adalah terrima H0, beerarti secaraa keseluruhaan peubah bebas yang
dalam moodel tidak berpengaruh
b
h nyata terh
hadap perm
mintaan eksppor rumputt laut
Indonesiaa.
c. Koefisien Determ
minasi
gunakan unntuk menguukur keragaaman
Koeefisien deteerminasi atau R2 dig
variabel dependentt yang daapat diteraangkan oleeh variabeel independent.
Semakin besar nilaii koefisien determinassi menunjukkkan modell yang sem
makin
baik. Rum
mus R2 adallah sebagai berikut :
R2 =
=
.. (3.12)
Dallam praktekk ekonomeetrika, peng
ggunaan nillai adj-R2 llebih disaraankan
daripada penggunaann R2 karenaa R2 cenderu
ung untuk memberikan
m
n gambaran yang
terlalu baaik terhadapp hasil regrresi. Hal inii terutama terjadi
t
saat jumlah varriabel
bebas moodel cukup besar
b
atau mendekati
m
ju
umlah penggamatan (Guujarati,2004
4).
3.6 Elastisitas
Unttuk dapat melihat kepekaan suatu funngsi terhaddap perubahan
yang terjjadi pada peubah yaang memen
ngaruhinya, dapat dillihat dari nilai
elastisitassnya (Gujarrati, 2003)). Elastisittas meruppakan ukurran persen
ntase
perubahan suatu vaariabel yang disebab
bkan oleh satu perrsen perubahan
variabel lainnya. Nilai
N
elastisittas dari perssamaan panngsa pasar seeperti :
……...…………………
……….. (3.1
13)
Yt = a0 + b1X1t + b2X2t + ... + biXit + μt.……
53 Maka, nilai elastisitas jangka pendek diperoleh dari perhitungan sebagai berikut :
Esr (YtXi) = bi*(Xi/Ŷt) ……………………………………………….……… (3.14)
dimana :
Esr (YtXi)
= elastisitas jangka pendek peubah terikat Yt terhadap
peubah penjelas X1, X2, ..., Xi
bi
= koefisien dugaan peubah penjelas Xi
Xi
= rata-rata peubah penjelas Xi
Ŷt
= rata-rata peubah terikat Yt
Kriteria Uji:
1. Apabila nilai elastisitas lebih besar dari satu (η > 1) dikatakan
elastis (responsif), karena perubahan satu persen variabel independen
mengakibatkan perubahan variabel dependen lebih dari satu persen.
2. Apabila nilai elastisitas antara nol dan satu (0< η <1
) dikatakan
inelastis (tidak responsif), karena perubahan satu persen variabel
independen akan mengakibatkan perubahan variabel dependen kurang
dari satu persen.
3. Apabila nilai elastisitasnya sama dengan nol (η = 0) dikatakan
inelastis sempurna, karena perubahan satu persen variabel independen
tidak membawa perubahan terhadap variabel dependen.
4.
Apabila nilai elastisitas tak terhingga (η = ~) dikaatakan elastisitas
sempurna, karena
perubahan satu persen variabel independen
menyebabkan perubahan yang tidak terbatas.
5. Apabila nilai elastisitas sama dengan satu (η=1) dikatakan unitary elastis.
54 3.7
Definisi Operasional Variabel dalam Model
1. Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia Pada Tahun Sebelumnya
Volume ekspor rumput laut pada tahun ke t-1 adalah volume ekspor
rumput laut Indonesia ke negara tujuan pada tahun sebelumnya, baik yang
berasal dari perikanan tangkap maupun budidaya perikanan dari kurun
waktu 2001-2010 yang dinyatakan dalam ton.
2. Harga Ekspor Rumput Laut Indonesia di Negara Tujuan
Harga ekspor rumput laut adalah harga yang diperoleh dari hasil
pembagian antara nilai ekspor rumput laut Indonesia ke negara tujuan secara
keseluruhan pada periode ke-t dengan volume ekspor rumput laut Indonesia
ke negara tujuan pada periode yang sama. Dinyatakan dalam satuan US$/Kg.
3. Nilai Tukar Riil
Nilai tukar mata uang negara tujuan ekspor terhadap US$ Amerika,
dinyatakan dalam /US$. Hal ini karena dalam perdagangan internasional
menggunakan mata uang US$. Rumus yang digunakan untuk mendapatkan
nilai tukar riil mata uang domestik negara tujuan ekspor terhadap US$
Amerika adalah :
Mata uang domestik/US$ Riil)t =
$
X (Indeks
Umum USA)t ………………………………………………………..… (3.15)
4. GDP Perkapita
GDP Perkapita dalam penelitian ini adalah GDP perkapita negara tujuan
ekspor rumput laut Indonesia pada tahun ke-t yang dinyatakan dalam US$.
55 5. Populasi
Populasi pada tahun ke-t adalah jumlah penduduk negara tujuan ekspor
pada tahun tertentu. Satuan yang digunakan adalah orang.
56 BAB IV
GAMBARAN UMUM
4.1. Profil Rumput Laut
Rumput laut merupakan salah satu komoditas hasil perikanan yang
memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan dapat diandalkan untuk
membantu mempercepat tercapainya tujuan pembangunan perikanan. Indonesia
yang terbentang di katulistiwa, kaya akan sinar matahari dan mineral, merupakan
perairan yang subur untuk tumbuh di perairan Indonesia adalah Gracellaria,
Gelidium, Eucheuma, Hypnea, Sargassum dan Turbinaria, sedangkan jenis
rumput laut yang banyak dibudidayakan adalah Gracellaria Sp dan Eucheuma
Sp. Jenis Eucheuma Sp dibudidayakan di perairan pantai/laut sedangkan
Gracellaria Sp dibudidayakan di tambak (DKP,2008).
Berdasarkan DKP (2007b) rumput laut termasuk kelompok macro algae,
species rumput laut diketahui lebih dari 7000 species yang tersebar di perairan
tropis maupun sub tropis salah satunya di perairan Indonesia. Sejarah
perkembangan rumput laut dari pertama kali ditemukan di Indonesia adalah
sebagai berikut :
1899–1900 : Sibolga Expedition dipimpin oleh Max Weber untuk
mengidentifikasi jenis rumput laut yang terdapat di
Indonesia
1928
: Max Weber dan Van Bose melakukan klasifikasi jenis
rumput laut Indonesia
1940
: Pemasaran dan ekspor rumput laut jenis Cotonii dan
Spinosum dari Makassar dan Surabaya
57 1967
: Zaneveld dari FAO melakukan identifikasi jenis rumput laut
komersial yaitu Gracellaria, Gelidium, Eucheuma, Hypnea,
dan Sargassum
1968
: Pertama kali rumput laut jenis Spinosum dibudidayakan di
Indonesia yaitu di Kepulauan Seribu
1974
: Pertama kali rumput laut komersial yaitu rumput laut jenis
Cotonii yang berasal dari Filipina dapat dibudidayakan di
Indonesia
1975
: Dimulainya proyek budidaya rumput laut jenis Spinossum di
Pesisir Danajon, Philipina
1976
: Dimulainya proyek budidaya Spinossum di Pulau Rio,
termasuk dengan Indo Fisheries, namun hasilnya tidak
berkembang sehingga proyek tidak dilanjutkan
1985
: Budidaya rumput laut Cotonii komersial dimulai di lokasi
yang sama dan hasilnya sangat baik
1986-2007
: Dimulainya babak baru dalam industri rumput laut Indonesia
dengan diselenggarakannya beragam acara pertemuan,
seminar, maupun Symposium tentang rumput laut
Menurut dua pakar rumput laut dunia – Porse dan Bixler, posisi Indonesia
sebagai produsen cotonii kering tidak akan terkalahkan oleh negara lain (DKP,
2011c). Produksi cotonii kering dunia tahun 2009 sebesar 160.000 ton dengan
kebutuhan pasar cotonii kering menurut Cybercolloids sekitar 200.000 ton.
Artinya masih ada kekurangan produksi 4000 ton yang bisa dipenuhi oleh
Indonesia. Data dari Cybecolloids menunjukkan produksi cotonii kering
58 Indonesia sebesar 87.000 ton atau 54 persen produksi cotonii kering dunia.
Produksi cotonii kering masih bisa ditingkatkan karena negeri bahari ini
mempunyai lokasi tanam cotonii yang masih luas untuk ekpansi, terutama di
Indonesia Timur (DKP, 2011c).
4.1.1. Rumput Laut Potensial
Rumput laut potensial yang dimaksud disini adalah jenis – jenis rumput
laut yang sudah diketahui dapat digunakan untuk berbagai industri. Karaginofit
adalah rumput laut yang mengandung bahan utama polisakarida karagin.
Agarofit adalah rumput laut yang mengandung bahan utama polisakarida agaragar. Keduanya merupakan anggota kelompok rumput laut merah. Alginofit
adalah rumput laut yang mengandung bahan utama polisakarida alginate.
Rumput laut alginofit berasal dari kelompok rumput laut coklat (DKP, 2011c).
A. Karaginofit
Menurut DKP (2011b) rumput laut yang mengandung karaginan adalah
dari marga Eucheuma yang terdiri dari tiga macam, yaitu iota karaginan, kappa
karaginan dan lambda karaginan. Iota karaginan dihasilkan dari Eucheuma
spinosum, kappa karaginan dari Euchema cotonii dan lambda karaginan dari
Condrus crispus ketiga macam karaginan ini dibedakan karena sifat jeli yang
terbentuk. Iota karaginan berupa jeli lembut dan fleksbel atau lunak. Kappa
karaginan jeli bersifat kaku dan keras. Sedangkan lambda karaginan tidak dapat
membentuk jeli, tetapi erbentuk cair yang viscous. Jenis yang potensial
diantaranya E. cottonii dan E. Spinosum merupakan rumput laut yang secara luas
diperdagangkan, baik untuk keperluan bahan baku industri di dalam dan luar
negeri. Dari kedua jenis tersebut E.cotonii yang paling banyak dibudidayakan
59 karena permintaan pasarnya sangat besar. Jenis lainya Chondrus spp, Gigatina
sp, dan Iridaea sp tidak ada di Indonesia, rumput laut subtropics. Wilayah
potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut Eucheuma terletak perairan
Nanggro Aceh Darusallam, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan,
Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dll. Rumput laut
Eucheuma di Indonesia umumnya tumbuh diperairan yang mempunyai terumbu
karang. Ia melekat pada substrat karang mati ataupun batu gamping di daerah
intertidal dan subtidal.
B. Agarofit
Berdasarkan data dari DKP (2011b), agarofit adalah jenis rumput laut
penghasil agar. Jenis jenis rumput laut tersebut adalah Gracilaria Sp, Gelidium
Spp, dan Gelidiella Spp. Agar-agar merupakan senyawa kompleks polisakarida
yang dapat membentuk jeli. Kualitas agar-agar dapat ditingkatkan dengan suatu
proses pemurnian yaitu membuang kandungan sulfatnya. Produk ini dikenal
dengan nama agarose. Jenis dari agarofit yang potensial dan telah dikembangkan
secara luas hanya GracilariaSpp. Di Indonesia, Gracilaria verrucosa umumnya
dibudidayakan di tambak. Jenis ini mempunyai Thallus berwarna merah
keunguan. Gracilaria verucosa dan G. gigas banyak dibudidayakan di perairan
Sulawesi Selatan, Lombok Barat, Pantai Utara Pulau Jawa, dll. Sedangkan
Gelidium Spp belum banyak dibudidayakan karena seluruh produksinya
dihasilkan dari alam dan ditemukan hampir di seluruh perairan Indonesia.
C. Alginofit
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) RI menjelaskan bahwa
alginofit adalah jenis rumput laut penghasil alginate. Jenis rumput laut coklat
60 penghasil alginat adalah Sargassum Spp, Turbinaria Spp, Laminaria Spp,
Ascophylum Spp, dan Macrocysis spp. Sargassum Spp dan Turbinaria Spp
banyak dijumpai di perairan laut Indonesia sedangkan Laminaria, Ascophyllum
dan Macrocystis banyak dijumpai di perairan sub tropis. Alginat banyak
digunakan untuk industri seperti industri makanan, minuman, obat-obatan,
kosmetik, kertas, detergen, cat, tekstil, vernis, fotografi, dll. Untuk keuthan
industri di Indonesia yang saat ini terus berkembang, kebutuhan Alginat masih
disuplai melalui impor dari beberapa negara seperti Perancis, Inggris, RRC, dan
Jepang (DKP, 2011b).
4.2. Standar Nasional Rumput Laut Indonesia
Untuk memberikan jaminan mutu dan keamanan pangan pada komoditas
rumput laut yang dipasarkan di dalam dan luar negeri, Departemen Kelautan dan
Perikanan bersama Badan Standarisasi Nasional menyusun Standar Nasional
Indonesia (SNI) yang dapat memenuhi jaminan tersebut.
Tabel 4.1. Standar Nasional Rumput Laut Indonesia
Persyaratan
Jenis Uji
Satuan
Eucheuma Spp
a. Sensori
Gracillaria
Spp
7
Gelidium Spp
Angka(1-9)
7
7
persen Fraksi
30-35
15-18
15-20
Minimal 30
Minimal 30
Minimal 30
Maksimal 5
Maksimal 5
Maksimal 5
Kimia
Kadar air
Clean Anhydrous wee persen Fraksi
Fisik
Benda Asing
persen Fraksi
Sumber: Badan Standarisasi dan Akreditasi DKP (2008)
Dalam SNI rumput laut yang ditetapkan mencakup teknik sanitasi dan
hygiene, syarat mutu dan keamanan pangan komoditas rumput laut kering.
61 4.3. Klaster Industri Rumput Laut Indonesia
Salah
satu
upaya
Departemen
Kelautan
dan
Perikanan
dalam
mengembangkan Daerah Industri Budidaya Rumput Laut Terpadu adalah dengan
Program Klaster. Klaster industri rumput laut merupakan suatu sistem usaha
rumput laut dimana komponen pembentuk kawasan minapolitan berhubungan
scara fungsional satu sama lain didalam satu kawasan tertentu dan dalam sistem
manajemen terpadu. Konsep klaster melalui pendekatan rekayasa sosial dan
tataniaga sebagai hasil dari kajian usaha pembudidaya rumput laut. Dalam satu
kawasan klaster pengolahan rumput laut, terdiri dari kelompok usaha
pembudidaya, penyedia sarana dan prasarana produksi, lembaga pembiayaan,
unit usaha pengolahan, unit usaha ekspor dan jasa pendukung lainnya.
Implementasi dari konsep ini adalah kontrol kualitas rumput laut mulai dari
tingkat pembudidaya sampai dengan tingkat pemasaran dalam suatu manajemen
terpadu utuk memperoleh hasil rumput laut yang berkualitas baik sesuai dengan
persyaratan pengolah untuk mendapatkan kualitas karaginan yang dibutuhkan
pasar.
Sejak tahun 2006 DKP berinisiatif untuk mengembangkan program
pengelolaan rumput laut secara terpadu dari hulu hingga hilir melalui
pengembangan sistem klaster industri (Minapolitan) rumput laut. Diharapkan dari
program ini dapat diperoleh peningkatan nilai tambah produk rumput laut dengan
berkembangnya industri pengolahan. Pada tahun 2007 Sistem Klaster Industri
(Minapolitan) Rumput Laut telah diimplementasikan di Kabupaten Sumenep
(Jawa Timur), Gorontalo, dan beberapa daerah lain hingga tahun 2009
(DKP,2011c).
62 BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Perkembangan Ekspor Rumput Laut Indonesia di Pasar Rumput Laut
Dunia
Berdasarkan Tabel 4.2, pada tahun 2008, volume ekspor rumput laut
Indonesia telah mencapai 99.948 ton. Apabila dibandingkan dengan volume
ekspor tahun 2004 sebesar 51.011 ton, maka ekspor rumput laut selama dekade
2004 – 2008 mengalami peningkatan sebesar 19,61 persen pertahunnya. Pada
tahun 2009 kebutuhan rumput laut dunia adalah sebanyak 200.000 ton/tahun
Cotonii, 30.000 ton Spinossum serta 28.000 ton Chondrus, Gigartina dan lainnya.
Berdasarkan analisis perdagangan dunia untuk komoditas rumput laut, secara
global Jepang, Amerika Serikat, dan China membeli lebih dari 50 persen dari
perdagangan dunia rumput laut dan algae lain. Indonesia merupakan pemasok
utama rumput laut kering jenis Eucheuma cotonii karena sekitar 80 persen
produksi rumput laut kering jenis Eucheuma cotonii Indonesia merupakan
komoditi ekspor.
Tabel 4.2. Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia Berdasarkan Negara
Tujuan, Tahun2004-2008
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Negara
2004
TOTAL(Kg 51.010.828
China
13.784.961
5.301.542
Philipina
Vietnam
81.861
Hongkong
9.214.038
Korsel
1.152.000
France
1.554.550
Chili
2.360.842
Denmark
6.294.242
USA
1.749.844
U.Kingdom
395.469
Spanyol
4.716.190
Brazilia
917.000
320.628
Malaysia
2005
69.264.256
24.926.415
8.060.284
364.949
8.384.605
5.142.814
2.918.973
1.696.737
3.754.053
1.064.750
831.636
4.735.984
1.542.899
142.710
2006
95.588.055
35.834.441
11.145.030
4.135.009
15.673.859
3.842.918
603.800
2.841.939
2.125.044
5.750.878
848.179
4.430.991
1.258.884
1.235.295
2007
2008 Pertumbuhan
94.073.398 99.948.576
19,61
23.318.145 43.620.103
44,18
10.878.315 17.908.449
38,13
10.140.303 8.252.129
376,37
20.890.153 7.070.165
11,26
5.421.272 5.613.115
91,44
2.191.839 3.182.022
78,56
3.498.999 2.323.091
7,22
2.098.109 1.868.980
23,98
2.453.907 1.512.607
76,32
670.500 1.305.900
46,52
4.492.961 1.269.254
19,09
1.600.000 1.200.000
12,99
1.091.045 1.167.990
176,37
Sumber : Statistik Ekspor Hasil Perikanan, Ditjenkan Budidaya (2008)
63 Pada Tabel 4.2, diantara 13 negara yang menjadi negara tujuan ekspor
rumput laut Indonesia, terlihat bahwa volume ekspor ke negara Vietnam,
Malaysia, Korea Selatan, dan France mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi.
Volume ekspor rumput laut ke Vietnam mengalami pertumbuhan sebesar 376,37
persen pertahunnya, yaitu dari 81 ton tahun 2004 meningkat menjadi 8.252 ton
pada tahun 2008. Hal serupa juga terjadi pada negara Malaysia, dimana terjadi
peningkatan volume ekspor dari 320 ton di tahun 2004 menjadi 1.16 ton di tahun
2008 atau mengalami peningkatan sebesar 176,37 persen pertahun. Sebaliknya
terjadi penurunan volume ekspor rumput laut Indonesia ke negara Denmark dan
Spanyol masing – masing sebesar 23,98 persen dan 19,9 persen pertahunnya. Hal
yang menarik adalah dilakukannya terobosan ekspor ke negara Vietnam sebesar
82 ton pada tahun 2004 dengan harga rata-rata yang relatif tinggi sebesar USD
5,94 per kg sehingga diperoleh devisa sebesar USD 0,486 juta. Besarnya
perolehan devisa dari hasil ekspor rumput laut kering selama tahun 2008 telah
mencapai USD 110,15 juta. Jika dibandingkan dengan perolehan devisa negara
tahun 2004 sebesar USD 25,29 juta maka terjadi peningkatan sebesar 46,88
persen pertahunnya.
5.1.1. Perkembangan Ekspor Rumput Laut Indonesia ke China
Pada Gambar 4.1 dan 4.2, perkembangan ekspor rumput laut Indonesia ke
China dalam sepuluh tahun terakhir memang cukup fluktuatif, namun dengan
kecenderungan meningkat. Pada tahun 2001, China mengimpor sekitar 1.603 ton
rumput laut Indonesia dengan nilai ekspornya mencapai 452.000 US$. Jumlah
tersebut meningkat di tahun 2002 hingga mencapai 4.187 ton dengan nilai
2.553.000 US$. Di tahun 2003 ekspor ke China sebesar 9.337 ton dengan nilai
64 ekspor seebesar 3.1339.000 US$$. Ekspor rumput
r
lautt Indonesia ke China tidak
selalu meeningkat settiap tahunnyya. Di tahun
n 2007 eksppor rumput llaut Indonessia ke
China meengalami penurunan
p
m
menjadi
23..318 ton daari tahun seebelumnya yang
mencapaii 35.834 tonn. Kenaikann rata-rata ekspor
e
rumpput laut Inddonesia ke China
C
dari tahunn 2006-20100 sebesar 277,65 persen
n.
80000
60000
40000
20000
0
2001
200
02
2003
20
004
2005
2006
2007
7
2008
200
09
2010
Volume Ekspor(ton)
Gambar 4.1. Perkem
mbangan Volume
V
Ek
kspor Rump
put Laut In
ndonesia kee
China, 2001-20100
80000
60000
40000
20000
0
2001
200
02
2003
20
004
2005
2006
2007
7
2008
200
09
2010
US$ 1.000)
Nilai Ekspor(U
mbangan Nilai
N
Ekspo
or Rumput Laut Indoonesia ke China,
Gambar 4.2. Perkem
2001-22010
R
Laut Indoneesia ke Hon
ngkong
5.1.2. Perrkembangaan Ekspor Rumput
Dari Gambarr 4.3 dan 4..4, perkemb
bangan eksppor rumput laut yang teerjadi
dari Indoonesia ke negara
n
Honngkong adallah salah satu
s
yang ssangat flukttuatif,
dimana kenaikan
k
ratta-rata dari tahun
t
2006--2010 sekitar 13,71 peersen. Pada tahun
t
2001 eksppor rumput laut Indoneesia ke Hon
ngkong cukuup besar yakkni sekitar 7.809
7
65 ton dengan nilai ekkspor mencapai 3.451..000 US$. Di tahun 22002, ekspo
ornya
m
darri tahun seebelumnya, yakni sekiitar 7.164 tton dengan nilai
sedikit menurun
ekspor 2..103.000 US$.
U
Perubaahan yang paling
p
mennarik adalahh di tahun 2008,
2
yakni terjjadi penurunnan yang cuukup signiffikan dari taahun 2007 yyang sebelum
mnya
sebesar 20.890
2
ton atau
a
mencappai 8.037.00
00 US$ meenjadi 2.8355 ton atau seekitar
2.018.0000 US$.
25000
20000
15000
10000
5000
0
2001
200
02
2003
2
2004
2005
2006
200
07
2008
2
2009
2010
Volume Ekkspor(ton)
Gambar 4.3. Perkembangan Volume Ekspor
E
Ru
umput Lau
ut Indonesiia ke
Honggkong, 20001-2010
10000
5000
0
2001
200
02
2003
2
2004
2005
2006
200
07
2008
2
2009
2010
Nilai Ekspor((US$ 1.000)
Gambar 4.4. Perk
kembangan
n Nilai Ek
kspor Rum
mput Lautt Indonesiia ke
Honggkong, 2001-2010
2
R
Laut Indoneesia ke Jepaang
5.1.3. Perrkembangaan Ekspor Rumput
Ekkspor rumpput laut Indoonesia ke Jeepang jumlaahnya mem
mang tidak begitu
b
besar, namun
n
mam
mpu mengghasilkan nilai
n
ekspoor yang ttinggi sehingga
menjadikkan Jepang sebagai
s
salaah satu tuju
uan ekspor rumput
r
lautt Indonesia yang
66 potensial. Berdasarkkan Gambbar 4.5 dan
n 4.6, padda tahun 22001, Indo
onesia
r
lautt atau menncapai nilaii ekspor seebesar
mengeksppor sekitar 188 ton rumput
2.697.0000 US. Di taahun 2002 jumlahnya sedikit
s
mennurun menjaadi hanya seekitar
179 ton dengan
d
nilaai ekspor 2.005.000 US
S$. Di tahuun 2003 terjjadi pening
gkatan
ekspor ruumput laut Indonesia ke Jepang dengan voolume ekspor 392 ton
n atau
2.258.0000 US$. Pennurunan voolume ekspo
or yang cuukup besar terjadi di tahun
t
2008, dim
mana hanya sekitar volume eksporrnya 94 ton namun denngan nilai ek
kspor
yang tetaap tinggi yaitu 2.946.0000 US$. Vo
olume ekspor tersebut menurun drastis
d
dari tahunn 2007 sebesar 604 toon atau dihaargai sekitarr 4.090.0000 US$. Ken
naikan
rata-rata ekspor
e
rumpput laut Inddonesia ke Jepang padaa tahun 20066-2010 men
ncapai
21,01 perrsen dan padda tahun 2009-2010 seb
besar 15,988 persen.
800
600
400
200
0
2001
2002
2003
20
004
2005
2006
200
07
2008
2009
2010
0
Volume Ekkspor(ton)
Gambar 4.5. Perkembangan Volume Ekspor
E
Ru
umput Lau
ut Indonesiia ke
Jepan
ng, 2001-20010
5000
4000
3000
2000
1000
0
2001
2002
2
2003
2
2004
2005
2006
200
07
2008
2009
2010
0
Nilai Eksporr(US$ 1.000)
Gambar 4.6. Perk
kembangan
n Nilai Ek
kspor Rum
mput Lautt Indonesiia ke
Jepan
ng, 2001-20010
67 5.1.4. Perrkembangaan Ekspor Rumput Laut Indoneesia ke Ameerika Serik
kat
Seecara globaal Amerika Serikat ad
dalah salah satu negaraa yang mem
mbeli
kurang leebih 50 peersen dari perdagangaan rumput laut duniaa dan Indo
onesia
menjadi negara yanng menjadi pemasok utama
u
kareena 80 perssen produk
ksinya
merupakaan produk ekspor.
e
8000
6000
4000
2000
0
2001
2002
2
2003
2
2004
2005
2006
200
07
2008
2009
2010
0
Volume Ekkspor(ton)
Gambar 4.7. Perkembangan Volume Ekspor
E
Ru
umput Lau
ut Indonesiia ke
10
Amerrika Serikaat, 2001-201
5000
4000
3000
2000
1000
0
2001
2002
2
2003
2
2004
2005
2006
200
07
2008
2009
2010
0
Nilai Eksporr(US$ 1.000)
Gambar 4.8. Perk
kembangan
n Nilai Ek
kspor Rum
mput Lautt Indonesiia ke
Amerrika Serikaat, 2001-201
10
Dari Gam
mbar 4.7 daan 4.8, padaa tahun 200
01 Amerika serikat mengekspor seekitar
1.662 tonn rumput lauut Indonesiaa dengan nillai ekspor 821.000
8
US$$. Di tahun 2002
Amerika Serikat meeningkatkann volume ek
kspornya menjadi
m
1.8004 ton dan
n nilai
S$. Kenaikaan volume ekspor
e
terbesar terjadi pada
ekspornya sekitar 1.077.000 US
68 tahun 2006 yaitu meningkat 4.686 ton dari 1.065 ton (1.296.000 US$) di tahun
2005 menjadi 5.751 ton dengan nilai ekspor 3.843.000 US$. Sama seperti negara
tujuan ekspor lainnya, ekspor ke negara Amerika Serikat menurun di tahun 2008
yaitu dari 2.454 ton (3.017.000 US$) menjadi hanya 414 ton dengan nilai
ekspornya 2.563.000 US$
5.2. Hasil Estimasi Faktor-faktor Yang Memengaruhi Ekspor Rumput Laut
Indonesia
5.2.1. Pengujian Kesesuaian Model
Pengujian kesesuaian model ini dilakukan dengan menggunakan Uji Chow,
dimana hipotesa yang digunakan adalah:
H0
: model Pooled Least Square
H1
: model Fixed Effect
Jika hasil dari Uji Chow signifikan, yaitu probabilitas < taraf nyata 5 persen
maka tolak H0, artinya model yang digunakan adalah Fixed Effect Model.
Tabel 5.1. Tabel Uji Chow
Effects Test
Statistic
d.f.
Prob.
Cross-Section F
9,891900
(3,31)
0.0001
Hasil dari Uji Chow pada tabel 5.1 di atas menunjukkan nilai probabilitas
(0.0000) < taraf nyata (5 persen) yang berarti tolah H0, artinya model yang
digunakan adalah Fixed Effect Model.
5.2.2. Pengujian Kriteria Ekonometrika
Menurut Gujarati (2004), untuk memperoleh model yang baik harus
memenuhi asumsi regresi klasik yakni model harus terbebas dari masalahmasalah dalam regresi yaitu heteroskedastisitas, multikolinearitas,autokorelasi,
69 dan normalitas. Untuk mengetahui ada atau tidaknya heteroskedastisitas,
diberikan perlakuan Generalized Least Square (GLS) dan membandingkan Sum
Squared Resid pada Weighted Statistic dengan Sum Squared Resid Unweighted
Statistic. Oleh karena model fixed effect yang digunakan telah diberi perlakuan
GLS dengan cross-section weights maka asumsi adanya heteroskedastisitas dapat
dihilangkan
Kemudian untuk melihat ada atau tidaknya autokorelasi dalam model
yang diuji dapat dilakukan dengan melihat nilai Durbin-Watson (DW) statistik,
yaitu dengan membandingkan nilai DW sebelum diberi bobot dan nilai DW
setelah diberi bobot. Apabila nilai DW sebelum diberi bobot lebih kecil daripada
nilai DW setelah diberi bobot maka asumsi adanya masalah autokorelasi dapat
diabaikan. Dari hasil regresi diperoleh nilai DW sebelum diberi bobot adalah
1,98 dan nilai DW setelah diberi bobot sebesar 2,33 yang berarti nilai DW
sebelum diberi bobot lebih kecil daripada nilai DW setelah diberi bobot. Oleh
karena itu maka asumsi adanya masalah autokorelasi pada model yang diuji dapat
diabaikan atau yang berarti model terbebas dari masalah autokorelasi.
Selanjutnya untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas dapat
dilihat dari nilai probabilitas t-statistik dan nilai probabilitas F-statistik. Dari hasil
regresi yang dilakukan semua variabel bebas yang diuji signifikan pada taraf
nyata lima persen, sedangkan nilai probabilitas F-statistik signifikan pada taraf
nyata sepuluh persen. Dari hasil regresi yang didapat maka model terbebas dari
asumsi adanya masalah multikolinearitas.
Uji normalitas dilakukan untuk mendeteksi apakah error term mendekati
distribusi normal atau tidak yang dapat dilihat dari nilai probabilitas Jarque Bera
70 yang lebih besar dari taraf nyata sepuluh persen. Dari hasil estimasi diketahui
nilai probabilitas Jarque Bera sebesar 0,30 sehingga dapat disimpulkan bahwa
error dalam model telah terdistribusi secara normal.
Tabel 5.2. Hasil Analisis Regresi Model Ekspor Rumput Laut Indonesia
dengan menggunakan Fixed Effect Model
Variabel
XRL
PX
POP
NT
GDP
C
R-squared
Adjusted R-squared
S,E, of regression
F-statistic
Prob(F-statistic)
R-squared
Sum squared resid
Coefficient Std, Error
t-Statistic
0,320683 0,065837
4,870847
-0,568417 0,072417
-7,849210
0,311295 5,055678
0,061573
3,805591 0,934849
4,070807
2,166772 0,469939
4,610753
-31,41768 88,05835
-0,356783
Weighted Statistics
0,981576 Mean dependent var
0,976821 S,D, dependent var
1,125402 Sum squared resid
206,4447 Durbin-Watson stat
0,000000
Unweighted Statistics
0,939671 Mean dependent var
7,606949 Durbin-Watson stat
Prob,
0,0000
0,0000
0,9513
0,0003
0,0001
0,7237
24,24103
10,59408
39,26241
2,335524
8,234193
1,980812
5.2.3. Pengujian Kriteria Statistik
a.
Uji F
Uji F statistik digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel
independennya secara bersama-sama berpengaruh secara nyata terhadap variabel
dependennya pada tingkat kepercayaan 95 persen atau pada taraf nyata ( ) lima
persen. Nilai probabilitas F statistic harus lebih kecil dari taraf nyatanya sehingga
dapat diindikasikan bahwa setidaknya ada satu variabel independen berpengaruh
signifikan terhadap variable dependennya. Berdasarkan Tabel 5.1 nilai
probabilitas F statistic memiliki nilai 0,0000 yang lebih kecil dari taraf nyatanya
(5 persen) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat satu variabel independen
yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependennya.
71 b.
Uji-t
Uji-t statistik digunakan untuk mengetahui apakah koefisien masing – masing
variabel independen secara individu memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap variabel dependennya. Pada persamaan model yang digunakan
ditunjukkan bahwa variabel independen yakni harga ekspor rumput laut
Indonesia, nilai tukar di negara importir, GDP per kapita negara importir, dan
ekspor rumput laut Indonesia pada tahun sebelumnya memiliki nilai probabilitas
lebih kecil dari taraf nyata lima persen, Hal ini berarti bahwa variabel independen
tersebut secara individu berpengaruh signifikan terhadap ekspor rumput laut
Indonesia. Sedangkan variabel populasi penduduk negara importir memiliki
probabilitas yang lebih besar dari taraf nyata lima persen sehingga variabel
tersebut tidak memengaruhi ekspor rumput laut Indonesia secara signifikan.
c.
Koefisien Determinasi (R2)
Pada persamaan regresi untuk ekspor rumput laut Indonesia ke China,
Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat didapatkan nilai R-squared sebesar
0,9815. Nilai ini menunjukkan bahwa 98,15 persen perubahan ekspor rumput
laut Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel bebas (volume ekpor rumput laut
Indonesia pada tahun sebelumnya, harga ekspor rumput laut Indonesia, nilai tukar
di negara importir, GDP per kapita negara importir, dan populasi penduduk
negara importir), sedangkan sisanya 1,85 persen dijelaskan oleh faktor-faktor
diluar model.
72 5.3.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Ekspor Rumput Laut Indonesia ke
China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat
Berdasarkan estimasi dan pengujian asumsi regresi klasik terhadap model
fixed effect, maka dapat disimpulkan bahwa model tersebut layak untuk
digunakan. Berdasarkan hasil estimasi model data panel dengan menggunakan
fixed effect dan setelah melalui serangkaian uji, model terbaik yang diperoleh
dengan hasil estimasi adah sebagai berikut :
LnXRLit = 0,32LNXRLit-1 - 0,56LNPXit + 3,8LNNTit + 2,16LNGDPit +
0,31LNPOPit – 31,41+ μit
Hasil
estimasi
menunjukkan
bahwa
variabel
yang
signifikan
memengaruhi ekspor rumput laut Indonesia ke negara China, Hongkong, Jepang,
dan Amerika Serikat pada periode 2001 – 2010 adalah harga ekspor rumput laut
Indonesia (LNPX), nilai tukar (LNNT), GDP per kapita negara importir
(LNGDP), dan volume ekspor rumput laut Indonesia pada tahun sebelumnya
(XRL), sedangkan variabel populasi penduduk negara importir (LNPOP) tidak
memengaruhi ekspor rumput laut Indonesia.
5.3.1. Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia Pada Tahun Sebelumnya
Dalam hipotesis penelitian yang telah dikemukakan, volume ekspor
rumput laut Indonesia pada tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap
ekspor artinya peningkatan volume ekspor rumput laut Indonesia pada tahun
sebelumnya akan meningkatkan permintaan ekspor rumput laut Indonesia.
Hal tersebut sesuai dari hasil regresi, yaitu sebesar 0,32 yang artinya setiap
kenaikan satu persen dari volume ekspor rumput laut Indonesia ke negara
China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat pada tahun sebelumnya
73 akan meningkatkan ekspor di tahun bersangkutan sebesar 0,32 persen. Nilai
probabilitasnya pun menunjukkan hasil yang signifikan pada taraf nyata
lima persen sehingga volume ekspor rumput laut Indonesia pada tahun
sebelumnya memengaruhi ekspor secara signifikan.
Hal ini terjadi karena kemungkinan ketika negara tujuan ekspor
rumput laut Indonesia memutuskan untuk melakukan impor akan melihat
data jumlah impor rumput laut Indonesia di tahun sebelumnya.
5.3.2. Harga Ekspor Rumput Laut Indonesia
Dalam teori permintaan ekspor dinyatakan bahwa jika harga suatu barang
meningkat maka hal tersebut akan menyebabkan jumlah barang yang diminta
akan turun. Dari hasil regresi diketahui bahwa variabel harga ekspor bersifat
inelastis dikarenakan koefisiennya bernilai negatif sebesar 0,56. Hasil tersebut
berarti jika harga ekspor rumput laut Indonesia meningkat sebesar satu persen
maka akan menurunkan volume ekspor rumput laut Indonesia sebesar 0,56
persen dengan asumsi cateris paribus. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang
dikemukakan bahwa harga ekspor rumput laut Indonesia memiliki hubungan
negatif terhadap volume ekspor. Dari hasil regresi juga diketahui bahwa variabel
harga ekspor memengaruhi ekspor rumput laut Indonesia secara signifikan pada
taraf nyata lima persen karena nilai probabilitasnya (0,0000) lebih kecil dari pvalue (0,005). Nilai koefisien yang negatif ini menunjukkan bahwa harga ekspor
rumput laut Indonesia merupakan salah satu hambatan atau faktor yang
memengaruhi besar atau kecilnya ekspor rumput laut Indonesia ke negara-negara
tujuan ekspor, terutama China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat.
74 5.3.3. Nilai Tukar Riil Negara Importir
Dalam hipotesis telah dikemukakan bahwa nilai tukar riil negara tujuan
ekspor memiliki hubungan positf, artinya jika nilai tukar riil tinggi maka akan
menyebabkan volume ekspor rumput laut Indonesia meningkat Nilai tukar riil
yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai tukar domestik negara tujuan
ekspor terhadap mata uang dollar Amerika Serikat, karena sebagian besar negara
di dunia menggunakan dan menerima dollar Amerika Serikat sebagai alat
pembayaran pada transaksi perdagangan internasional.
Dari hasil regresi diperoleh hasil variabel nilai tukar riil bernilai positif
sebesar 3,8 yang artinya jika nilai tukar riil domestik negara importir terhadap
US$ meningkat sebesar satu persen maka akan meningkatkan volume ekspor
rumput laut Indonesia sebesar 3,8 persen dengan asumsi cateris paribus.
Probabilitas variabel nilai tukar riil sebesar 0,000 membuktikan bahwa nilai tukar
riil memengaruhi volume ekspor rumput laut Indonesia secara signifikan pada
taraf nyata lima persen. Jika nilai tukar riil di negara tujuan ekspor seperti China,
Hongkong, dan Jepang) tinggi maka harga barang – barang luar negeri akan lebih
murah daripada harga barang-barang di negara tersebut, sehingga penduduk
negara tersebut akan lebih memilih menggunakan produk dari luar negeri. Hal
inilah yang menyebabkan volume ekspor rumput laut Indonesia meningkat di
negara-negara tujuan ekspor tersebut meningkat.
5.3.4. GDP perkapita Negara Importir
GDP per kapita menjelaskan tentang ukuran daya beli masyarakat
terhadap suatu barang dan jasa. Dari hasil estimasi diperoleh elastisitas GDP per
kapita negara importir sebesar 2,16 yang menunjukkan bahwa jika GDP negara
75 importir meningkat sebesar satu persen maka ekspor rumput laut Indonesia ke
negara tersebut akan meningkat sebesar 2,16 persen, cateris paribus. Hal ini
sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan bahwa GDP per kapita negara tujuan
ekspor berpengaruh positif terhadap ekspor rumput laut Indonesia. Dari hasil
estimasi juga diketahui bahwa GDP per kapita berpengaruh nyata pada taraf
nyata lima persen, yang berarti GDP per kapita negara-negara tujuan ekspor yaitu
China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat memiliki pengaruh yang
signifikan dalam memengaruhi ekspor rumput laut Indonesia.
5.3.5. Populasi Penduduk Negara Importir
Populasi penduduk negara importir akan memberikan pengaruh positif
terhadap ekspor suatu barang. Hal ini disebabkan karena dari setiap penambahan
penduduk negara tujuan ekspor maka akan diikuti oleh penambahan barang yang
dikonsumsi, sehingga apabila negara tersebut tidak dapat memenuhi konsumsi
seluruh penduduknya maka negara tersebut akan melakukan impor dari negara
lain. Dalam hipotesis dikemukakan bahwa populasi penduduk di negara China,
Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat sebagai negara tujuan ekspor rumput
laut Indonesia memiliki keterkaitan positif, artinya semakin besar jumlah
penduduk di negara tersebut maka akan meningkatkan ekspor rumput laut
Indonesia ke negara-negara tersebut.
Berdasarkan hasil regresi data panel menggunakan model yang telah diuji
diperoleh nilai koefisien variabel populasi sebesar 0,31. Hal ini berarti apabila
penduduk negara importir bertambah satu persen maka akan meningkatkan
ekspor rumput laut Indonesia ke negara tersebut sebesar 0,31 persen, cateris
paribus. Hasil tersebut sesuai dengan hipotesis yang telah dikemukakan, namun
76 variabel populasi tidak berpengaruh nyata terhadap ekspor rumput laut Indonesia
karena nilai p-value (0,0005) lebih besar dari taraf nyata lima persen (0,95). Dari
hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa populasi bukanlah faktor yang
memengaruhi naik atau turunnya jumlah ekspor rumput laut Indonesia secara
signifikan ke negara China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat.
5.4.
Rekomendasi Kebijakan Bagi Pemerintah Untuk Meningkatkan
Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia dan Tingkat Kesejahteraan
Petani Rumput Laut Indonesia
Berdasarkan hasil analisis terkait faktor – faktor yang memengaruhi
ekspor rumput laut Indonesia ke negara China, Hongkong, Jepang, dan Amerika
Serikat maka dapat dirumuskan sebuah kebijakan yang nantinya diharapkan
mampu menyelesaikan berbagai persoalan terkait ekspor rumput laut Indonesia
termasuk peningkatan kesejahteraan petani rumput laut Indonesia. Dari faktorfaktor yang ada, terdapat variabel dimana pemerintah tidak mampu melakukan
intervensi atau membuat kebijakan yang dapat merubah volume atau nilai ekspor
rumput laut Indonesia, antara lain variabel GDP per kapita negara importir dan
populasi penduduk negara importir. Pemerintah dapat merumuskan suatu
kebijakan melalui variabel harga ekspor, volume ekspor sebelumnya, dan nilai
tukar. Agar dapat terus meningkatkan volume ekspor rumput lautnya, Indonesia
perlu menjaga dan meningkatkan kualitas rumput laut yang diproduksi dalam
negeri. Peningkatan kualitas tersebut merupakan suatu kewajiban untuk dapat
bersaing dengan negara pengekspor lainnya, seperti China dan Filipina.
Peningkatan kualitas yang ada dapat dilaksanakan jika Pemerintah secara berkala
mampu memberikan pelatihan dan pendidikan terkait proses budidaya rumput
laut yang baik agar petani rumput laut yang selama ini ala kadarnya dalam
77 membudidaya dapat mengoptimalkan produksinya. Selain itu pemerintah juga
perlu memberikan kemudahan akses bagi para petani rumput laut, baik pada saat
proses pembibitan, panen, pemasaran, dll agar proses budidaya yang ada lebih
efektif dan efisien sehingga meminimalkan biaya produksi. Apabila rumput laut
Indonesia memenuhi standar kualitas yang ada dan dihasilkan dengan biaya
produksi rendah maka rumput laut Indonesia dapat bersaing dari sisi harga
dengan negara pengekspor lainnya dengan kualitas yang tetap terjaga.
Selain itu untuk menjaga volume ekspor rumput laut Indonesia tetap pada
kisaran yang menguntungkan, pemerintah perlu mengadakan komunikasi politik
secara aktif dengan negara-negara tujuan ekspor yang memberlakukan hambatan
non tarif terhadap rumput laut Indonesia, contohnya negara Chili. Sejak awal
2012 Chili memberlakukan peraturan yakni hanya akan mengimpor rumput laut
Indonesia yang dihasilkan dari proses budidaya saja dan bukan yang berasal dari
perikanan tangkap. Hal tersebut dilakukan Chili dengan alasan untuk menjaga
ekosistem laut dan mendukung kelestarian lingkungkan. Peraturan tersebut
membuat Indonesia perlu mencari strategi yang tepat karena produksi rumput laut
Indonesia tidak semua berasal dari budidaya. Hal lain dilakukan oleh negara
China yang mengharuskan petani rumput laut Indonesia memiliki surat kelayakan
untuk melakukan ekspor rumput laut ke negara nya. Kedua hal tersebut perlu
mendapat perhatian khusus dari pemerintah selaku penyelenggara negara agar
dampaknya tidak sampai merusak peta ekspor rumput laut Indonesia.
Pemerintah melalui instansi terkait juga perlu melakukan intervensi dalam
pengelolaan valuta asing untuk tetap menjaga nilai tukar rupiah stabil karena
nilai tukar riil negara importir berpengaruh nyata terhadap volume ekspor rumput
78 laut Indonesia. Ketika nilai tukar negara importir apresiasi maka untuk
menstabilkan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia perlu menjual cadangan mata
uang asing yang bersangkutan di pasar valuta asing.
79 BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai faktor-faktor
yang memengaruhi ekspor komoditi rumput laut Indonesia ke negara China,
Hongkong, Jepang dan Amerika Serikat pada tahun 2001 hingga 2010
diperoleh beberapa kesimpulan, diantaranya:
1. Volume ekspor rumput laut Indonesia ke negara China, Jepang, dan
Amerika Serikat memiliki tren yang terus meningkat dari tahun 2001
hingga 2010 walaupun nilainya masih berfluktuasi.
2. Hasil analisis model menunjukkan bahwa dari variabel yang diuji
terdapat empat variabel yang menunjukkan hasil yang signifikan pada
taraf nyata lima persen dan satu variabel tidak signifikan pada taraf
nyata lima persen. Variabel yang berpengaruh secara nyata adalah
volume ekspor rumput laut Indonesia pada tahun sebelumnya, harga
rumput laut Indonesia, nilai tukar riil, dan GDP per kapita negara
importir. Sedangkan variabel yang tidak memengaruhi ekspor rumput
laut Indonesia ke negara China, Hongkong, Jepang, dan Amerika
Serikat adalah variabel populasi penduduk negara tujuan ekspor.
Seluruh variabel yang diujikan sesuai dengan hipotesis yang
dikemukakan yakni volume ekspor rumput laut Indonsia pada tahun
sebelumnya, nilai tukar riil, populasi penduduk negara importir, dan
GDP perkapita negara importir berpengaruh positif terhadap ekspor
80 rumput laut Indonesia sedangkan variabel harga ekspor rumput laut
Indonesia berpengaruh negatif terhadap ekspor rumput laut Indonesia
ke negara China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat
6.2 Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan maka saran yang dapat digunakan
untuk rekomendasi kebijakan, diantaranya :
1. Dibutuhkan intervensi dalam pengelolaan valuta asing oleh Bank
Indonesia untuk tetap menjaga nilai tukar rupiah stabil karena nilai
tukar riil negara importir berpengaruh nyata terhadap volume ekspor
rumput laut Indonesia.
2. Pemerintah perlu menstimulus industri rumput laut Indonesia dengan
cara secara berkala melakukan audiensi aktif dengan para produsen
rumput laut Indonesia untuk tetap menjaga produktivitas dan kualitas
dari rumput laut yang dihasilkan. Pemerintah melalui institusi terkait
juga harus mampu melakukan negosiasi dengan negara-negara
pengimpor agar tidak terjadi politik-politik yang dapat melemahkan
posisi Indonesia dalam pasar rumput laut dunia.
3. Dalam penelitian ini masih terdapat faktor-faktor yang belum
dianalisis terkait dengan ekspor rumput laut Indonesia seperti variabel
harga ekspor rumput laut negara pesaing, variabel konsumsi rumput
laut domestik, dan variabel luas lahan produksi rumput laut Indonesia.
Oleh karena itu untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk
menambahkan variabel-variabel tersebut agar dapat mengendalikan
variabel-variabel tersebut dan merumuskan kebijakan yang tepat.
81 DAFTAR PUSTAKA
Andayani, S. 2011. Analisis Faktor yang Memengaruhi Penawaran Ekspor
Rumput Laut Indonesia. [Skripsi]. Program Studi Ilmu Ekonomi.
Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor
Badan Pusat Statistik. 2011. Statistik Ekspor Indonesia. BPS. Jakarta
Badan Pusat Statistik. 2012. Statistik Ekspor Indonesia. BPS. Jakarta
BI. 2011.
Pola Pembiayaan UsahaKecil : Budidaya Rumput Laut
(Metode Tal Letak Dasar). Direktorat Kredit, BPR, dan UMKM.
Bank Indonesia. Jakarta.
DKP. 2007a. Budidaya Rumput Laut (Euchema Cottonii). Direktorat
Jenderal Pengolahan
dan
Pemasaran Hasil Perikanan.
Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Jakarta.
DKP. 2007b. Rumput Laut. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Jakarta.
DKP. 2007c. Investasi Usaha Pengolahan dan Pemasaran Rumput Laut.
Hasil
Direktorat Jenderal
Pengolahan
dan
Pemasaran
Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Jakarta.
DKP. 2008. Statistik Perikanan Indonesia. 2008. Departemen Kelautan
dan Perikanan RI. Jakarta.
DKP. 2011a. Peluang Usaha dan Investasi Industi Rumput Laut di Indonesia.
Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan.
Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Jakarta.
DKP.
2011b. Profil Peluang Usaha dan Investasi Rumput Laut edisi I.
Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan.
Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Jakarta.
DKP.
2011c. Profil Peluang Usaha dan Investasi Rumput Laut edisi II.
Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan.
Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Jakarta.
Juanda, B. 2009. Ekonometrika : Pemodelan dan Peramalan . IPB Press, Bogor.
Oktaviani, R dan Tanti. 2009. Teori Perdagangan Internasional dan Aplikasinya
di Indonesia. IPB Press, Bogor.
82 Rajagukguk, M. 2009. Analisis Daya Saing Rumput Laut Indonesia di Pasar
Internasional. [Skripsi]. Program Studi Agribisnis. Fakultas
Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.Bogor.
Risman, A. 2007. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Ekspor
Rumput Laut Indonesia. [Skripsi]. Program Studi Manajemen
Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sulaeman, S. 2006. Pengembangan Agribisnis Komoditi Rumput Laut Melalui
Model Klaster Bisnis. Kementerian Negara Koperasi dan UKM.
Jakarta.
Yusuf, Risna. 2006. Analisis Potensi Pasar Rumput Laut di Indonesia.
Jurnal Kebijakan dan Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan
Perikanan, Vol.1 No. 1, p 101-110
Wirawan, A. 2007. Model Permintaan Rumput Laut Indonesia di Pasar
Jepang. [Skripsi]. Program Studi Manajemen Bisnis dan
Ekonomi Perikanan- Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
83 LAMPIRAN
84 Lampiran 1. Daerah Penyebaran Rumput Laut di Indonesia
Jenis
CHOLORPHYCEAE
1 Caulerpa racemosa
Caulerpa
2 sertularioides
3 Caulerpa serrulata
4 Caulerpa peltata
5 Ulva reticulata
6 Ulca lactula
7 Codium tomentosum
8 Chaetomorpha crasa
Lokasi
Kep. Seribu, Jawa Tengah, Lombok, NTT, Maluku
Kep. Seribu, Jawa Tengah, Maluku, Sumba,
Sumatera Utara, P. Komodo
Kep. Seribu, Kep. Tukang Besi, Jawa Tengah,
Timor, Maluku, Irian
Bangka, Sulawesi, Kep. Seribu, Bone
P. Komodo, Kep. Seribu, Jawa Tengah, Kep. Take
Bone Rate
P. Sulu, P. Kei, Sulawesi, Jawa Tengah, Lombok,
Sumba, Banda
Sulawesi, Lombok, Maluku
Maluku
PHAEOPHYCEAE
1 Dictyota dichotoma
2 Hormophysa sp.
Hydroclathus
3 clathatus
4 Padina australis
5 Sargassum siliquosum
6 Turbinaria conoides
Kep. Seribu, Sulawesi, Kep. Kangean, Bali, P.
Komodo
Sumatera Utara
Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Timor, Sumbawa,
Kep. Seribu
Jawa, Sumatera, Ambon, Sumba, Sulawesi, Kep.
Seribu
Jawa, Sulawesi, P. Kei, Sumatera Utara, Lombok,
Aru, Irian
Jawa, Sumatera, Sulawesi, Irian, Maluku, Flores
85 Lampiran 2. Daerah Penyebaran Rumput Laut di Indonesia (Lanjutan)
Jenis
Lokasi
RHODOPHYCEAE
1
Acanthophora sp.
Kep. Kangean, Lombok, Sumatera Utara, Kep. Seribu, Dobo,
Bawean
2
Corallposis minor
Bali
3
Euchema cottonii
Bali, Maluku, Sulawesi Tengah, Selat Alas, Sumba
4
Euchema edule
Kep. Seribu, Jawa Tengah, Bali, Madura, Sumatera Utara,
Riau, Sulawesi, Maluku, Lombok, P. Komodo
5
Euchema muricatum
Seram, P. Komodo, Bali, Sulawesi, Kep. Seribu
6
Euchema spinosu
Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah,
Kep. Seribu, Maluku, Jawa Tengah, Bali, NTT, NTB
7
Euchema striatum
Kep. Seribu
8
Gelidiopsis rigida
Lingga
9
Gelidium sp.
Jawa, Ambon, Riau, Sumatera Utara, Bali, NTB, NTT
10
Gracillaria coronopifolia
Sumatera Utara, Jawa Tengah
11
Gracillaria lichenoides
Bangka, Maluku, NTB
12
Gracillaria sp.
Pantai Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Sulawesi, Kep. Seribu, Kep. Tukang Besi, Bali, NTT
13
Gracillaria taenoides
Bangka
14
Gymnogongrus javanicus
Bangka
15
Hypnea cerviorni
Riau, Jawa Tengah, NTT, Maluku, Bali
16
Hypnea sp.
Kalimantan, Jawa, Bali, Maluku, NTT, NTB
17
Sarcodia montegneana
Lombok
86 Lampiran 3. Output Eviews dengan Menggunakan Metode Fixed Effect
Dependent Variable: XRL
Method: Panel EGLS (Cross-section SUR)
Date: 09/27/12 Time: 23:37
Sample: 2001 2010
Periods included: 10
Cross-sections included: 4
Total panel (balanced) observations: 40
Linear estimation after one-step weighting matrix
White cross-section standard errors & covariance (d.f. corrected)
Variable
Coefficient
XRLT
PX
POP
NT
GDP
C
0.320683
-0.568417
0.311295
3.805591
2.166772
-31.41768
Std. Error
t-Statistic
0.065837 4.870847
0.072417 -7.849210
5.055678 0.061573
0.934849 4.070807
0.469939 4.610753
88.05835 -0.356783
Prob.
0.0000
0.0000
0.9513
0.0003
0.0001
0.7237
Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
Weighted Statistics
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
F-statistic
Prob(F-statistic)
0.981576
0.976821
1.125402
206.4447
0.000000
Mean dependent var
S.D. dependent var
Sum squared resid
Durbin-Watson stat
24.24103
10.59408
39.26241
2.335524
Unweighted Statistics
R-squared
Sum squared resid
0.939671
7.606949
Mean dependent var
Durbin-Watson stat
8.234193
1.980812
87 Lampiran 4. Chow Test
Effects Test
Statistic
d.f.
Prob.
Cross-section F
9,981900
(3,31)
0.0001
88 Lampiran 5. Uji Normalitas
7
Series: Standardized Residuals
Sample 2001 2010
Observations 40
6
5
4
3
2
1
Mean
Median
Maximum
Minimum
Std. Dev.
Skewness
Kurtosis
3.55e-16
0.172468
1.964003
-2.204325
1.003359
-0.561631
2.600214
Jarque-Bera
Probability
2.369244
0.305862
30
40
0
-2
-1
0
1
2
2
1
0
-1
-2
-3
5
10
15
20
25
StandardizedResiduals
35
Download