Paper Title (use style: paper title)

advertisement
ISBN : 978-602-73060-1-1
UJI AKTIVITAS NEFROPROTEKTIF EKSTRAK ETANOL DAUN MELATI
( Jasminum sambac (L) Aiton.) DAN DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav)
Tita Nofianti1, Nunung Nurjanah1, Sandi Surya Permana1
1
Program Studi Farmasi, STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya, Jl. Cilolohan no 36, Tasikmalaya
Corresponding author email: [email protected]
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian mengenai aktivitas nefroprotektif ekstrak etanol daun melati
(Jasminum sambac (L) Aiton) dan ekstrak etanol daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav)
terhadap kadar kreatinin darah dan kadar Blood Urea Nitrogen (BUN) tikus putih jantan galur
sprague Dawley yang diinduksi karbon tetraklorida dosis 0,4 mL/kg bb secara oral. Hewan uji
dibagi dalam delapan kelompok yaitu kelompok I merupakan kelompok normal dan kelompok II
merupakan kelompok kontrol, kelompok III, IV dan V merupakan kelompok perlakuan dengan
pemberian ekstrak etanol daun melati masing-masing 0,043g/200g bb tikus; 0,087g/200g bb tikus
dan 0,174g /200g bb tikus. Kelompok VI, VII, VIII merupakan kelompok perlakuan dengan
pemberian ekstrak etanol daun sirih merah masing-masing 0,003 g/200g bb tikus; 0,006 g/200g
bb tikus; 0,012 g/200g bb tikus. Hasil penelitian diperoleh persen penurunan kadar kreatinin untuk
kelompok III, IV, V masing-masing sebesar 18,66%; 20%; 21,33% dan persen penurunan kadar
kreatinin kelompok VI, VII, VIII masing-masing sebesar 5,33% ; 9,33% ; 14,67%. Sedangkan
persen penurunan kadar BUN kelompok III, IV, V masing-masing sebesar 37,09%; 38,85%;
40,11% dan persen penurunan BUN kelompok VI, VII, VIII masing-masing sebesar 8,6%;
33,35%; 37,96%.
Kata kunci : nefroprotektif, daun melati, daun sirih merah
ABSTRACT
Nefroprotective activity research of ethanol extract of jasmine (Jasminum sambac (L) Aiton) and
red betel leaves against blood creatinin level and blood Urea Nitrogen (BUN) level of male
Sprague Dawley rats inducted by 0.04 mL/kg bw CCl4 orally has been condicted. Animal test
divided into eight groups, those are group I normal control and group II is control. Group III, IV,
and V are test group with ethanol extract of leaves of jasmine respectively 0.043g / 200g rat bw;
0.087g / 200g rat bw and 0.174g / 200g rat bw. Group VI, VII and VIII are test group with the
ethanol extract of red betel leaves each 0.003 g / 200g rat bw; 0.006 g / 200g rat bw; 0.012 g /
200g rat bw. The results showed that the percent reduction of creatinine levels for groups III, IV,
V respectively by 18.66%, 20%, 21.33% and at group VI, VII, VIII respectively by 5.33%; 9.33;
14.67%. The percent reduction in the levels of BUN groups III, IV, V respectively by 37.09%;
38.85%; 40.11% and in group VI, VII, VIII respectively of 8.6%; 33.35%; 37.96%.
Keywords
: nefroprotective, jasmine leaves, red betel leaves
Seminar Nasional Farmasi (SNIFA) UNJANI
Peran Apoteker dalam Menjamin Mutu, Efektifitas, Keamanan pada Obat, Makanan dan Kosmetik
Sebagai Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia
86
ISBN : 978-602-73060-1-1
PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia telah lama mengenal
dan menggunakan tanaman berkhasiat obat
sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi
masalah kesehatan. Pengetahuan tentang
tanaman berkhasiat obat berdasar pada
pengalaman dan keterampilan yang secara
turun temurun telah diwariskan dari satu
generasi ke generasi berikutnya (Kumalasari,
2006).
Gagal ginjal adalah suatu penyakit
dimana fungsi organ ginjal mengalami
penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu
bekerja sama dalam hal penyaringan
pembuangan elektrolit tubuh, menjaga
keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh.
WHO memperkirakan di Indonesia akan
terjadi peningkatan penderita gagal ginjal pada
tahun 1995-2025 sebesar 41,4% dan menurut
data dari Persatuan Nefrologi Indonesia
(PERNEFRI) diperkirakan terdapat 70.000
penderita gagal ginjal di Indonesia, angka ini
akan terus meningkat sekitar 10% setiap
tahunnya (Tandi dkk, 2014).
Tanaman yang dipakai masyarakat
Indonesia sebagai bahan obat tradisional
diantaranya melati ( Jasminum sambac (L)
Aiton.) dan daun sirih merah (Piper crocatum
Ruiz & Pav). Khasiat dari tanaman melati
diantaranya bunga dan daun sebagai anti
radang
(antiinflamasi),
merangsang
pengeluaran keringat (diaforetik), peluru
kencing (diuretik), melancarkan pernapasan.
Akar berkhasiat sebagai pemati rasa
(anastetik), menghilangkan sakit (analgesik)
(Hembing, 2000). Sedangkan tanaman sirih
merah berkhasiat sebagai antioksidan,
antidiabetik, anti kanker, antiseptik dan
antiinflamasi. Kandungan zat lain berupa
senyawa
alkaloid
mempunyai
sifat
antineoplastik yang ampuh menghambat
pertumbuhan sel-sel kanker (Sudewo, 2010).
Secara
empiris
sirih
merah
dapat
menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti
diabetes melitus, hepatitis, penyakit ginjal,
menurunkan kolesterol, mencegah stroke,
asam urat, hipertensi, radang liver, radang
prostat, radang mata, keputihan, maag,
kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit.
Karbon tetraklorida (CCl4) merupakan
xenobiotik yang
lazim digunakan untuk
menginduksi peroksidasi lipid dan keracunan.
Dalam endoplasmik retikulum hati CCl4
dimetabolisme oleh sitokrom P450 2E1
(CYP2E1) menjadi radikal bebas triklorometil
(CCl3*) 1,2.Triklorometil dengan oksigen
akan membentuk radikal triklorometilperoxi
yang dapat menyerang lipid membran
endoplasmik retikulum dengan kecepatan yang
melebihi
radikal
bebas
triklorometil.
Selanjutnya triklorometilperoxi menyebabkan
peroksidasi lipid sehingga mengganggu
homeostasis Ca2+, dan akhirnya menyebabkan
kematian sel (Jeon TI dkk,2003; Lin CC dkk,
1998;
Shanmugasundaram
P
&
Venkataraman S, 2006; dalam Panjaitan
RGP, 2007)
Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan
untuk melihat efek nefroprotektif ekstrak
etanol daun melati dan ekstrak etanol daun
sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) pada
tikus putih jantan yang diinduksi karbon
tetraklorida ditinjau dari kadar Blood Urea
Nitrogen dan kreatinin serum.
METODE
Pengumpulan Tanaman
Pengumpulan
tanaman
melati
(Jasminum sambac (L) Aiton.) dan sirih merah
(Piper crocatum Ruiz & Pav) yang diperoleh
dari perkebunan manoko Kecamatan Lembang
Kabupaten Bandung, bahan tanaman yang
digunakan dalam penelitian ini adalah bagian
daun melati ( Jasminum sambac (L) Aiton.)
dan daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz &
Pav).
Determinasi
Daun melati (Jasminum Sambac (L)
Aiton) dan daun sirih merah (Piper crocatum
Ruiz & Pav) dideterminasi di Herbarium
Jatinangor
Laboratorium
Taksonomi
Tumbuhan Jurusan Biologi Universitas
Padjajaran (UNPAD). Determinasi dilakukan
untuk memastikan identitas dari daun melati
dan daun sirih merah yang digunakan sebagai
sampel.
Pembuatan Simplisia
Daun melati dan daun sirih merah yang
digunakan dalam penelitian ini terlebih dahulu
Seminar Nasional Farmasi (SNIFA) UNJANI
Peran Apoteker dalam Menjamin Mutu, Efektifitas, Keamanan pada Obat, Makanan dan Kosmetik
Sebagai Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia
87
ISBN : 978-602-73060-1-1
dilakukan sortasi basah dari kotoran, kemudian
dicuci dengan menggunakan air mengalir
sampai tidak tersisa kotoran yang menempel.
Kemudian
dirajang
sampai
terbentuk
potongan-potongan kecil untuk mempermudah
dalam proses pengeringan. Daun melati dan
daun sirih merah yang sudah dirajang
kemudian dikeringkan dengan cara menjemur
tanpa terkena langsung oleh sinar matahari,
kemudian disortasi kering dari bahan-bahan
asing yang menempel dan dilakukan
penghalusan serbuk dengan menggunakan
blender.
Pembuatan Ekstrak Daun Melati dan Daun
Sirih Merah
Daun melati dan daun sirih merah kering
masing-masing sebanyak 200 gram yang telah
menjadi
serbuk
diekstraksi
dengan
menggunakan metode maserasi, dengan
menggunakan pelarut etanol 70 % dimaserasi
sampai semua zat aktif tertarik oleh pelarut.
Ekstrak cair yang dihasilkan dipekatkan
dengan rotary evaporator hingga diperoleh
ekstrak kental.
Penapisan Fitokimia
Pemeriksaan
fitokimia
dilakukan
terhadap simplisia serta ekstrak etanol daun
melati dan ekstrak etanol daun sirih merah
dengan prosedur sebagai berikut :
1. Alkaloid
Bahan atau serbuk simplisia dalam
mortir dibasakan dengan ammonia 10%.
Larutan yang dibasakan tersebut kemudian di
ekstraksi dengan kloroform. Ekstrak kloroform
dikumpulkan, kemudian diasamkan dengan
HCL 1N. Campuran dikocok sampai terjadi
dua fasa. Fasa asam diambil, diuji dengan
pereaksi Mayer dan pereaksi Dragendorff.
Endapan putih dan kuning jingga menandakan
positif terdapat alkaloid. Untuk menghindari
kesalahan adanya reaksi positif palsu, maka
diteteskan etanol. Endapan senyawa-senyawa
alkaloid akan larut dan endapan non alkaloid
tidak larut.
2. Flavonoid
Bahan atau serbuk simplisia dalam
mortir digerus dengan sedikit air, kemudian
masukkan dalam tabung reaksi yang berisi
logam Mg dan 1 ml HCL 2N. Campuran
dipanaskan selama 5-10 menit. Kemudian
saring dan filtrat dibiarkan dingin. Filtrat
kemudian
ditambahkan
amil
alkohol,
kemudian kocok. Warna merah pada lapisan
amil alkohol menunjukkan adanya flavonoid.
3. Tanin dan Polifenol
Bahan atau serbuk simplisia dalam
mortir digerus dengan sedikit air, kemudian
dipanaskan selama 5 menit. Kemudian saring
dan filtratnya dibagi menjadi dua. Filtrat yang
pertama tambahkan larutan gelatin 1% dan
endapan putih menunjukan adanya tanin.
Filtrat kedua ditambahkan larutan FeCl 1% dan
warna biru-hitam menunjukkan adanya
polifenol.
4. Saponin
Bahan atau serbuk simplisia dalam
mortir digerus dengan sedikit air, kemudian
dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
dipanaskan. Kemudian setelah agak dingin,
kocok selama 1-2 menit. Jika terjadi busa
dengan ketinggian 1 cm selama 5 menit, maka
dikatakan positif adanya saponin.
5. Steroid dan Terpenoid
Bahan atau serbuk simplisia dalam
mortir digerus dengan eter. Fase eter diambil
kemudian diuapkan hingga kering, pada residu,
teteskan
preaksi
Liebermann-Buchard.
Terbentuk warna ungu berarti mengandung
senyawa triterpenoid, dan apabila terbentuk
warna hijau-biru berarti mengandung steroid.
6. Kuinon
Bahan digerus dan dipanaskan dengan
air, kemudian saring. Filtrat ditetesi larutan
NaOH. Terbentuknya warna kuning hingga
merah menunjukkan adanya
senyawa
kelompok kuinon.
7. Monoterpen dan Seskuiterpen
Bahan disari dengan eter, kemudian sari
eter diuapkan hingga kering. Pada residu
diteteskan preaksi anisaldehid-H2SO4 atau
vanillin-H2SO4. Terbentuknya warna-warna
menunjukkan adanya senyawa monoterpen
dan seskuiterpen (Fransworth,1996).
Penyiapan Hewan Percobaan
Hewam percobaan yang digunakan
adalah tikus jantan galur Spargue Dawley yang
berumur 2-3 bulan dengan bobot badan sekitar
200-250 gram sebanyak 30 ekor yang
diperoleh dari peternakan Institut Pertanian
Bogor. Tikus yang digunakan dalam penelitian
ini adalah tikus yang sehat yaitu selama proses
Seminar Nasional Farmasi (SNIFA) UNJANI
Peran Apoteker dalam Menjamin Mutu, Efektifitas, Keamanan pada Obat, Makanan dan Kosmetik
Sebagai Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia
88
ISBN : 978-602-73060-1-1
pemeliharaan bobotnya tetap atau tidak
berubah lebih dari 10% dan secara visual
keadaannya normal dengan ciri-ciri bulu
berwarna putih matanya tetap merah, tidak
terlihat sakit, tidak cacat bawaan dan tidak
menunjukkan adanya kelainan tingkah laku
serta tidak ada penyimpangan lainnya.
Karbon Tetraklorida
Dosis
karbon tetraklorida
yang
digunakan ialah 0,4 mL/kg bb tikus. Larutan
karbon tetraklorida dibuat dengan cara
pengenceran menggunakan minyak kelapa
untuk meningkatkan absorpsi. Sebanyak 4,24 g
karbon tetraklorida dilarutkan dalam minyak
kelapa dan dicukupkan volumenya hingga 100
mL (Cahyaningsih dkk, 2011).
200 𝑔𝑔
1000 𝑔𝑔
x 0,4 ml = 0,08 ml / 200 g bb tikus
Pengelompokan Hewan Percobaan
Tikus Sebanyak 30 ekor diaklimatiasi
selama 14 hari dalam kandang. Pada waktu
tersebut, dilakukan pengamatan terhadap
keadaan umum seperti kondisi mata yang
jernih dan bulu yang tidak berdiri. Selain itu
dilakukan penimbangan berat badan setiap 3
hari sekali. Kemudian setelah 14 hari
dilakukan pemilihan 25 ekor tikus yang sehat
untuk selanjutnya dibagi secara acak ke dalam
5 kelompok.
Tabel 1 Pembagian Kelompok Hewan
Percobaan
No.
I
Kelompok
Kontrol normal
II
Kontrol Negatif
III
Dosis 1 EEDM
IV
Dosis 2 EEDM
V
Dosis 3 EEDM
Perlakuan
Diberi CMC 0,5% selama 7 hari
tanpa pemberian sediaan uji secara
oral
dan
larutan
karbon
tetraklorida secara oral.
Diberi CMC 0,5% tanpa sediaan
uji dan pada hari ke-7, 2 jam
setelah pemberian CMC 0,5%
diberikan
larutan
karbon
tetraklorida secara oral
Diberi sediaan uji dosis 0,0439
g/200g bb tikus secara oral selama
7 hari dan 2 jam setelah pemberian
dosis 1 diberi larutan karbon
tetraklorida secara oral.
Diberi sediaan uji dosis 0,087
g/200g bb tikus secara oral selama
7 hari dan 2 jam setelah pemberian
dosis 1 diberi larutan karbon
tetraklorida secara oral.
Diberi
sediaan
uji
dosis
0,174g/200g bb tikus secara oral
selama 7 hari dan 2 jam setelah
pemberian dosis 1 diberi larutan
karbon tetraklorida secara oral.
III
Dosis 1
EEDSM
IV
Dosis 2
EEDSM
V
Dosis 3
EEDSM
Diberi sediaan uji dosis 0,003
g/200g bb tikus secara oral selama
7 hari dan 2 jam setelah pemberian
dosis 1 diberi larutan karbon
tetraklorida secara oral.
Diberi sediaan uji dosis 0,0061
g/200g bb tikus secara oral selama
7 hari dan 2 jam setelah pemberian
dosis 2 diberi larutan karbon
tetraklorida secara oral.
Diberi sediaan uji dosis 0,012
g/200g bb tikus secara oral selama
7 hari dan 2 jam setelah pemberian
dosis 3 diberi larutan karbon
tetraklorida secara oral.
Keterangan :
1. EEDM (Ekstrak etanol daun melati)
2.
EEDSM (Ekstrak etanol daun sirih merah)
Setelah 24 jam pemberian larutan karbon
tetraklorida dilakukan pengambilan sampel
darah untuk pengukuran kadar Blood Urea
Nitrogen dan kreatinin serum (Cahyaningsih,
2011).
Pemeriksaan Kadar Kreatinin
Pemeriksaan dilakukan dengan metode
jaffe reaction, Fixed Time. Pengambilan
sampel darah dilakukan dengan cara
memotong ekor tikus atau mengambil dibagian
vena jungularia dan darahnya ditampung
dalam
tabung
setrifugasi,
kemudian
disentrifuga selama 20 menit dengan kecepatan
2000 rpm dengan tujuan untuk memisahkan
serum yang akan digunakan untuk
pemeriksaan
(Gandasoebrata,
1995).
Kemudian serum dimasukkan kedalam
eppendorf dan direaksikan dengan reagen uji
sesuai Tabel 2.
Tabel 2 Prosedur Pemeriksaan Kreatinin
Serum
Reagen
Blanko
Standard Test
Reagen 1 +
500 µl
500 µl
500 µl
reagen 2
Pencampuran R1 dan R2 (1:1) , dilakukan 30 menit
sebelum digunakan
Standard
Sampel
-
75 µl
-
75 µl
Campur sampai homogen, kemudian
inkubasi 30 detik pada suhu 370C, kemudian
baca absorbansi (A1) pada panjang gelombang
500 nm dan tepat 1 menit pada suhu 370C
Seminar Nasional Farmasi (SNIFA) UNJANI
Peran Apoteker dalam Menjamin Mutu, Efektifitas, Keamanan pada Obat, Makanan dan Kosmetik
Sebagai Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia
89
ISBN : 978-602-73060-1-1
setelah pembacaan pertama baca absorbansi
(A2).
Perhitungan
𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇
𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠
creatinine
hasil
:
π‘₯π‘₯ 𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾. 𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆
C
(2mg/dl)
=
=
Pemeriksaan Kadar Blood Urea Nitrogen
(BUN)
Pemeriksaan dilakukan dengan metode
enzimatik, Fixed Time. Pengambilan sampel
darah dilakukan dengan cara memotong ekor
tikus atau mengambil dibagian vena jungularia
dan darahnya ditampung dalam tabung
setrifugasi, kemudian disentrifuga selama 20
menit dengan kecepatan 2000 rpm dengan
tujuan untuk memisahkan serum yang akan
digunakan untuk pemeriksaan (Gandasoebrata,
1995). Kemudian serum dimasukkan kedalam
eppendorf dan direaksikan dengan reagen uji
sesuai Tabel 3.
Blanko
500 µl
Standard
500 µl
-
5 µl
-
Ekstrak Etanol Daun Melati dan Daun Sirih
Merah
Hasil ekstrak etanol 200 gram serbuk
kering daun melati diperoleh ekstrak kental
64,45 gram dengan nilai DER (Drug Extrach
Ratio) 3,102 gram. Sedangkan hasil ekstrak
etanol 200 gram serbuk kering sirih merah
diperoleh ekstrak kental 47,6809 gram dengan
dengan nilai DER 4,194 gram.
Skrining Fitokimia
Tabel 3 Prosedur Pemeriksaan Blood Urea
Nitrogen
Reagen
Reagen 1 +
Reagen 2
(5:1)
Standard
Sampel
Berdasarkan hasil determinasi di
Herbarium
Jatinangor
Laboratorium
Taksonomi
Tumbuhan
Departeman
Biologi FMIPA UNPAD. Menunjukkan
bahwa sempel yang digunakan dalam
penelitian ini benar-benar tanaman melati
(Jasminum sambac (L.) Aiton) dan
tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz &
Pav).
Test
500
µl
5 µl
Campur dan inkubasi selama 60 detik
pada suhu 370C, baca absorbansi pada panjang
gelombang 340 nm (A1) dan baca absorbansi
pada selang waktu 120 detik (A2).
Perhitungan
:
C
=
𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇
π‘₯π‘₯ 𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾. 𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆𝑆 (80 mg/dl) =
𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠
UREA
BUN (Blood Urea Nitrogen) = 0,467 x UREA
Analisis Data
Metode
yang
digunakan
untuk
menganalisis hasil percobaan yaitu analisis
data menggunakan SPSS 20 dengan metode
statistik ANOVA diantaranya uji normalitas,
uji homogenitas, dan uji LSD.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Determinasi Tumbuhan
Tabel 4 Hasil Skrining Fitokimia simplisia,
ekstrak daun melati dan daun sirih
merah
Golongan
Senyawa
Simplisia
Melati
Ekstrak
Sirih
Merah
-
Melati
-
Sirih
Merah
-
Alkaloid
-
Flavonoid
Polifenol
+
+
+
+
+
+
+
+
Tanin
-
-
-
-
Saponin
Kuinon
Monoterpen dan
Sesquiterpen
Steroid
Triterpenoid
+
+
+
-
+
+
+
-
+
-
-
+
-
-
Keterangan : (+) terdeteksi
(-) tidak terdeteksi
Dari
hasil
skrining
fitokimia
diperkirakan senyawa metabolit sekunder yang
berkhasiat sebagai nefroprotektif yaitu
flavonoid. Aktivitas nefroprotektif dari
flavonoid yaitu sebagai antioksidan. Dimana
antioksidan
yang
dimiliki
flavonoid
disebabkan oleh adanya gugus hidroksi fenolik
dalam struktur molekulnya, juga melalui daya
Seminar Nasional Farmasi (SNIFA) UNJANI
Peran Apoteker dalam Menjamin Mutu, Efektifitas, Keamanan pada Obat, Makanan dan Kosmetik
Sebagai Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia
90
ISBN : 978-602-73060-1-1
tangkap terhadap radikal bebas (Maharani,
2012).
Kadar Kreatinin Serum (mg/dL)
1.6
Kadar Kreatinin
(mg/dL)
1.4
1.2
1
0.8
EEDSM
0.6
EEDM
0.4
0.2
0
Normal Kontrol Dosis 1
Negatif
Dosis 2
Dosis 3
Pemeriksaan kreatinin dilakukan dengan
menggunakan metode Jaffe, metode ini
merupakan metode fixed time yang dilakukan
dengan dua kali pembacaan pada panjang
gelombang 480-520 nm. Metode ini
berdasarkan reaksi pembentukan kompleks
berwarna kuning-orange antara larutan alkali
dengan asam pikrat. Absorbansi dari kompleks
ini sebanding dengan konsentrasi kreatinin
dalam sampel.
Kreatinin
adalah
protein
yang
merupakan hasil akhir metabolisme otot yang
dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang
hampir konstan dan diekskresi dalam urin
dengan kecepatan yang sama. Kreatinin
diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi
filtrasi dan sekresi, konsentrasinya relatif
konstan dalam plasma dari hari ke hari
(Corwin, 2009).
Berdasarkan hasil pemeriksaan aktivitas
nefroprotektif dari ekstrak etanol daun melati
menunjukkan bahwa kadar kreatinin pada
kelompok normal adalah 0,67 mg/dL, pada
kelompok kontrol negatif diperoleh kadar yang
lebih tinggi dari kelompok normal yaitu
sebesar 0,75 mg/dL. Pada kelompok III, IV dan
V diperoleh kadar yang lebih rendah dari
kelompok normal dan kontrol negatif yaitu
masing-masing sebesar 0,61 mg/dL, 0,60
mg/dL, 0,59 mg/dL. Sedangkan pada
kelompok VI,VII,VIII diperoleh kadar
kreatinin masing-masing sebesar 0,71 mg/dL,
0,68 mg/dL, 0,64 mg/dL.
Rata-rata kadar kreatinin serum pada
kelompok III dan VI sudah memberikan efek
penurunan kadar kreatinin serum, hal tersebut
dilihat dari rata-rata kadar kreatinin serum
kelompok III yang lebih kecil dari kelompok
normal. Rata-rata kadar kreatinin serum
kelompok IV, V, VII dan VIII juga
menunjukkan hasil yang lebih kecil
dibandingkan dengan rata-rata kadar kreatinin
serum kelompok normal. Dengan demikian
dari keenam kelompok uji yaitu kelompok III,
VI,V,VI,VII dan VIII, dapat memberikan efek
penurunan kadar kreatinin yaitu masingmasing sebesar 18,66% ; 20% ; 21,33% ;
5,33% ;9,33% dan 14,67%.
Hasil pengolahan data statistik uji
normalitas bahwa signifikansi dari semua
kelompok uji > 0,05 yaitu 0,685 > 0,05,
sehingga Ho diterima artinya ke delapan
kelompok uji diambil dari populasi yang
terdistribusi
normal.
Berdasarkan
uji
Homogenitas bahwa signifikansi > 0,05 (0,183
> 0,05) sehingga Ho diterima artinya
kedelapan kelompok uji semua varian
homogen. Karena data kedelapan kelompok uji
tersebut terdistribusi normal dan semua varian
datanya homogen maka, dilanjutkan dengan uji
ANOVA.
Hasil ANOVA diperoleh bahwa
signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak, artinya
terdapat perbedaan yang bermakna diantara
semua kelompok uji dengan tingkat
kepercayaan 95%. Untuk mengetahui apakah
kadar kreatinin dari ketujuh kelompok
mempunyai perbedaan bermakna jika
dibandingkan dengan kelompok kontrol
negatif, maka dilakukan uji lanjutan LSD
(Least Significance Difference).
Berdasarkan uji lanjutan LSD (Least
Significance Difference) ke tujuh data
kelompok perlakuan, dibandingkan dengan
kelompok kontrol negatif didapat hasil sebagai
berikut untuk kelompok normal, III,
IV,V,VI,VII, dan VIII diperoleh hasil
signifikasi masing-masing sebesar 0,078 ;
0,140 ; 0,150 ; 0,160 ; 0,038 ; 0,074 ; 0,108.
Dari ketujuh kelompok terdapat perbedaan
yang bermakna terhadap kadar kreatinin serum
darah tikus jika dibandingkan dengan
kelompok kontrol negatif.
Kadar Serum BUN (mg/dL)
Seminar Nasional Farmasi (SNIFA) UNJANI
Peran Apoteker dalam Menjamin Mutu, Efektifitas, Keamanan pada Obat, Makanan dan Kosmetik
Sebagai Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia
91
ISBN : 978-602-73060-1-1
Pemeriksaan Blood Urea Nitrogen
(BUN) dilakukan dengan menggunakan
metode Urease-GLDH, metode ini merupakan
metode fixed time yang dilakukan dengan dua
kali pembacaan pada panjang gelombang 340
nm. Metode ini berdasarkan reaksi enzimatik.
Dimana urea dengan bantuan urease akan
menghasilkan amoniak dan CO2, kemudian
amoniak bersama dengan 2-oxoglutarate dan
NADH yang dikatalis enzim GD akan
menghasilkan L-glutamat, NAD+, dan air.
Banyaknya NADH yang dioksidasi menjadi
NAD+ sebanding dengan banyaknya ureum
yang dianalisis secara fotometri.
Pengukuran Blood Urea Nitrogen
(BUN) dapat memberikan gambaran mengenai
keadaan fungsi ginjal, tetapi Blood Urea
Nitrogen (BUN) juga dapat dipengaruhi oleh
suatu keadaan yang tidak berkaitan dengan
ginjal, salah satunya adalah karena
peningkatan atau pernurunan asupan protein
dalam makanan (Corwin, 2009). Hal tersebut
terjadi karena hati mengubah amonia menjadi
urea, sehingga semakin banyak protein yang
termetabolisme maka semakin banyak pula
urea yang terbentuk.
Berdasarkan
hasil
pemeriksaan
menunjukkan bahwa kadar BUN serum tikus
setiap kelompok memiliki perbedaan, yaitu
kelompok normal sebesar 10,09 mg/dL,
kelompok negatif sebesar 15,88 mg/dL,
kelompok III sebesar 9,99 mg/dL, kelompok
IV sebesar 9,71 mg/dL, dan kelompok V
sebesar 9,53 mg/dL, kelompok VI sebesar
14,8 mg/dL, kelompok VII sebesar 10,8
mg/dL, kelompok VIII sebesar 10,0
mg/dL. Dengan penurunan kadar BUN
yaitu kelompok normal sebesar 57.38 %,
kelompok III sebesar 37,09%, kelompok
IV sebesar 38,85 %, kelompok V sebesar
40,11 %, kelompok VI sebesar 6,80%,
kelompok VII sebesar 31,99%, kelompok
VIII sebesar 37.02%.
Hasil pengolahan data statistik uji
normalitas bahwa signifikansi dari semua
kelompok uji > 0,05 yaitu 0,492 > 0,05,
sehingga Ho diterima artinya ke delapan
kelompok uji diambil dari populasi yang
terdistribusi
normal.
Berdasarkan
uji
Homogenitas bahwa signifikansi > 0,05 (0,306
> 0,05) sehingga Ho diterima artinya
kedelapan kelompok uji semua varian
homogen. Karena data kedelapan kelompok uji
tersebut terdistribusi normal dan semua varian
datanya homogen maka, dilanjutkan dengan uji
ANOVA.
Hasil ANOVA diperoleh bahwa
signifikansi < 0,05 maka Ho ditolak, artinya
terdapat perbedaan yang bermakna diantara
semua kelompok uji dengan tingkat
kepercayaan 95%. Untuk mengetahui apakah
kadar BUN dari ketujuh kelompok mempunyai
perbedaan bermakna jika dibandingkan dengan
kelompok kontrol negatif, maka dilakukan uji
lanjutan LSD (Least Significance Difference).
Berdasarkan uji lanjutan LSD (Least
Significance Difference) ke tujuh data
kelompok perlakuan, dibandingkan dengan
kelompok kontrol negatif didapat hasil sebagai
berikut untuk kelompok normal, III,
IV,V,VI,VII, dan VIII diperoleh hasil
signifikasi masing-masing sebesar 5,790;
5,884 ; 6,164 ; 6,351; 1,030 ; 5,0420 ; 5,790.
Dari ketujuh kelompok terdapat perbedaan
yang bermakna jika dibandingkan dengan
kelompok kontrol negatif terhadap kadar BUN
serum darah tikus.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian uji
nefroprotektif ekstrak etanol daun melati dan
daun sirih merah dapat disimpulkan :
1. Pemberian ekstrak etanol daun melati
dapat menurunkan kadar kreatinin serum
tikus putih jantan galur sprague dawley
dengan dosis 0,043 g/200 g BB sebesar
18,66%, dosis 0,087 g/200 g BB sebesar
20% dan dosis 0,174 g/200 g BB 21,33%.
Sedangkan ekstrak etanol daun sirih
merah dengan dosis 0,003 g/200 g BB
sebesar 5,33%, dosis 0,006 g/200 g BB
sebesar 9,33 %, dan dosis 0,012 g/200 g
BB sebesar 14, 67%.
2. Ekstrak etanol daun melati dapat
menurunkan kadar BUN serum tikus putih
jantan galur sprague dawley dengan 0,043
g/200 g BB sebesar 37,09%, dosis 0,087
g/200 g BB sebesar 38,85% dan dosis
0,174 g/200 g BB sebesar 40,11%.
Sedangkan Ekstrak etanol daun sirih
merah dengan dosis 0,003 g/200 g BB
sebesar 6,8 %, dosis 0,006 g/200 g BB
Seminar Nasional Farmasi (SNIFA) UNJANI
Peran Apoteker dalam Menjamin Mutu, Efektifitas, Keamanan pada Obat, Makanan dan Kosmetik
Sebagai Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia
92
ISBN : 978-602-73060-1-1
sebesar 31,99%, dan dosis 0,012 g/200 g
BB sebesar 37,02%.
UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kepada STIKes Bakti Tunas
Husada Tasikmalaya yang telah memfasilitasi
penelitian serta publikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Cahyaningsih RA, Azizahwati, D Kusmana.
2011. Efek Nefroprotektif Infus Daun
Sukun (Artocarpus altilis (Park.) Fsb.)
Pada Tikus Jantan Yang Diinduksi
Karbon Tetraklorida. Majalah Ilmu
Farmasi Vol.8; hal:59-71
Corwin Elizabeth J. 2009. Handbook of
pathophysiology, 3th Edition. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC. hal:725-730
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum
Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI Direktorat
Jendral Pengawasan Obat dan Makanan
Direktorat Pengawasan Obat Tradisional;
hal:1-12
Fransworth, N. R. 1996. Biological and
Phytochemical screening of plant. Journal
of Pharmaceutical Science. Vol. 5; p:245257
Gandasoebrata
R.
1995.
Penuntun
Labolatorium Klinik Jakarta: Dian
Rakyat. hal;85-86
Hariana, H. Arief. 2008. Tumbuhan Obat dan
Khasiatnya. Jakarta : Penebar Swadaya;
hal:114
Hembing. 2000. Tumbuhan Berkhasiat Obat
Indonesia. Jakarta: Prestasi Insan
Indonesia; hal:121-125
Jeon TI, Hwang SG, Park NG, Shin SI,
Choi SD, Park DK. 2003.
Toxicology 187 : hal 67-73.
Kumalasari, L.O.R. 2006. Pemanfaatan Obat
Tradisional
dengan
Pertimbangan Manfaat dan
Keamanannya. Majalah Ilmu
Kefarmasian. Vol. III, No.1.
Lin CC, Yen MH, Lo TS, Lin JM.1998 J.
Ethnopharmacol. 60 : hal 9-17.
Maharani, H. 2012. Uji Potensi Nefroprotektif
Senyawa Dimer Dari Isoeugenol
Terhadap Histplogi Ginjal Mencit (mus
musculus ) Jantan Galur DDY. Depok:
FMIFA UI; hal:12-13
Panjaitan RGP, Ekowati Handharyani Chairul,
Masriani, Zulfa Zakiah, Wasmen Manalu.
2007. Pengaruh Pemberian Karbon
Tetraklorida Terhadap Fungsi Hati dan
Ginjal Tikus. Makara Kesehatan Vol. 11,
NO. 1, Juni 2007: hal 11-16
Sudewo, B. 2010. Basmi Penyakit dengan Sirih
Merah. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.
Shanmugasundaram P, Venkataraman S.
2006. J. Ethnopharmacol. 104 : hal
124-128
Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia.
Padmawinata K, Soediro I, penerjemah;
Niksolihin S, editor. Bandung: ITB.
Terjemahan
dari:
Phytochemical
Methods.
Seminar Nasional Farmasi (SNIFA) UNJANI
Peran Apoteker dalam Menjamin Mutu, Efektifitas, Keamanan pada Obat, Makanan dan Kosmetik
Sebagai Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Indonesia
93
Download