REFERAT Embriologi, Neuroanatomi dan Fisiologi Talamus

advertisement
REFERAT
Embriologi, Neuroanatomi dan Fisiologi
Talamus
Pembimbing:
dr. Tunggul Marpaung, Sp.BS, M.Kes
Disusun oleh:
Gabriela Enneria Sibarani
(09-61050-124)
KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH
PERIODE 18 NOVEMBER 2013 – 18 JANUARI 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA 2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan referat yang
berjudul “Embriologi, Neuroanatomi, dan Fisiologi Talamus”.
Terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah banyak
mendukung dan membantu hingga selesainya referat ini.
1
2
dr. Tunggul Marpaung, Sp.BS., M.Kes selaku pembimbing referat.
dr. Anggi Simbolon, selaku asisten pembimbing referat yang senantiasa
3
meluangkan waktu untuk membimbing dalam penulisan referat.
Segenap staf Bagian Ilmu Kedokteran Bedah Fakultas Kedokteran
4
Universitas Kristen Indonesia.
Rekan-rekan kepaniteraan klinik
Ilmu
Kedokteran
Bedah
Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Indonesia yang telah memberikan bantuan
baik material maupun spiritual.
Dalam penyusunan referat ini, penulis merasa masih banyak kekurangan
baik secara teknik maupun materi penulisan, mengingat akan kemampuan yang
dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan pembuatan referat ini.
Jakarta, 13 Januari 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar............................................................................................................................i
Daftar Isi....................................................................................................................................ii
Daftar Gambar...........................................................................................................................iii
1. Pendahuluan………………………………………………………………………………..iv
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………………....iv
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………...…vi
2. Isi............................................................................................................................................1
2.1 Embriologi Talamus……………………………………………………………….............1
2.1.1 Rombensefalon: Otak Belakang........................................................................................3
2.1.2 Mesensefalon: Otak Tengah..............................................................................................5
2.1.3 Prosensefalon: Otak Depan...............................................................................................6
2.2 Anatomi Talamus …………………………………………………………………..........12
2.2.1 Nuklei Talamus...............................................................................................................14
2.2.2 Nuklei Thalami Spesifik dan Hubungan-hubungannya...............................................................15
2.2.3 Nuklei Thalami Nonspesifik dan Hubungan-hubungannya.........................................................17
2.3 Fisiologi Talamus …………………………………………………………………..........18
2.3.1 Sinyal Somatosensorik....................................................................................................19
2.3.2 Sensasi Penglihatan.........................................................................................................28
2.3.3 Sensasi Pendengaran.......................................................................................................30
3. Kesimpulan……………………………………………………………………………...…33
4. Daftar Pustaka……………………………………………………………………………..29
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Pandangan dorsal mudigah pada usia (A) 18 hari; (B) 20 hari..............................................1
Gambar 2. Pandangan dorsal mudigah pada usia (A) 22 hari; (B) 23 hari..............................................1
Gambar 3. Potongan Sagital mudigah pada usia 27 hari.........................................................................2
Gambar 4. Potongan Sagital mudigah pada usia 32 hari.........................................................................2
Gambar 5. Diensefalon..........................................................................................................................12
Gambar 6. Nuklei Talamus....................................................................................................................14
Gambar 7. Hubungan Aferen dan Eferen Kelompok Nuklear Medial (Merah), Dorsal (Ungu/Biru),
dan Lateral (Biru)...................................................................................................................................17
Gambar 8. (A) Traktus Spinoserebelaris Anterior dan Posterior; (B) Kolumna Posterior; (C)
Traktus Spinotalamikus Anterior; (D) Traktus Spinitalamikus Lateralis................................28
Gambar 9. Jaras Sensorik melalui Talamus dan Kapsula Interna ke Korteks Serebri.............32
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem saraf, bersama dengan sistem endokrin, mengurus sebagian besar pengaturan
fungsi tubuh. Pada umumnya, sistem saraf mengatur aktivitas tubuh yang cepat, misalnya
kontraksi otot, perubahan viseral yang berlangsung dengan cepat, dan bahkan juga kecepatan
sekresi beberapa kelenjar endokrin. Sistem endokrin, sebaliknya, terutama mengatur fungsi
metabolik tubuh.
Sejak pembentukannya, sistem saraf mempunyai sifat-sifat mengatur yang sangat
kompleks dan khusus. Ia menerima berjuta-juta rangsangan informasi yang berasal dari
bermacam-macam organ sensorik, dan semua ini bersatu untuk dapat menentukan respon
yang akan diberikan oleh tubuh.
Sistem saraf terdiri atas lebih dari 100 juta neuron. Sinyal yang datang masuk melalui
sinaps pada dendrit-dendrit neuron atau badan sel; untuk berbagai jenis neuron, mungkin
hanya terdapat beberapa ratus atau sampai 200.000 sambungan sinaptik dari serabut yang
masuk. Selain itu, sinyal yang keluar berjalan melalui jalur akson tunggal meninggalkan
neuron, tetapi akson ini memiliki banyak cabang yang berbeda ke bagian-bagian lain sistem
saraf atau tubuh bagian perifer.
Bagian somatik sistem sensorik menghantarkan informasi sensorik dari reseptor di
seluruh permukaan tubuh dan beberapa struktur dalam. Informasi ini akan masuk ke dalam
sistem saraf pusat melalui saraf-saraf perifer dan dihantarkan ke berbagai area sensorik pada:
(a)
(b)
(c)
(d)
(e)
Semua tingkat medula spinalis
Substansia retikuler dari medula, pons, dan mesensefalon
Serebelum
Talamus
Area somestetik dari korteks serebri
Namun di samping area sensorik primer ini, sinyal-sinyal terutama akan disiarkan dengan
baik ke bagian sistem saraf lainnya.
Peran yang paling penting dari sistem saraf adalah mengatur berbagai aktivitas tubuh. Hal ini
dapat dicapai melalui pengaturan:
(a) Kontraksi otot rangka seluruh tubuh
(b) Kontraksi otot polos organ dalam
(c) Sekresi kelenjar eksokrin dan endokrin di sebagian besar tubuh
Seluruh aktivitas ini disebut fungsi motorik sistem saraf, sedangkan otot dan kelenjar disebut
efektor karena otot dan kelenjar ini melaksanakan fungsinya sesuai yang diperintahkan oleh
sinyal sarafnya.
Sistem saraf manusia mempunyai sifat-sifat khas yang diturunkan pada setiap tahap
perkembangan evolusi. Dari sifat-sifat yang diwariskan ini, maka akan didapatkan tiga
tingkat utama dari sestem saraf pusat yang mempunyai sifat-sifat fungsional yang khas, yaitu:
1. Tingkat Medula Spinalis
Medula spinalis bukan hanya suatu saluran untuk menyalurkan sinyal yang
berasal dari perifer tubuh ke otak atau dari arah yang berlawanan, yakni dari otak
kembali ke tubuh. Walaupun medula spinalis telah dipotong setinggi daerah leher atas,
ternyata sebagian besar fungsi medula spinalis masih tetap ada. Contohnya, kontak
antara neuron-neuron dalam medula spinalis dapat menyebabkan timbulnya gerakan
berjalan, refleks untuk menarik bagian tubuh dari suatu objek, refleks untuk
mengeraskan kaki guna menunjang tubuh terhadap gaya berat, dan refleks yang
dipakai
untuk
mengatur
pembuluh-pembuluh
darah
setempat,
gerakan
gastrointestinal, dan masih banyak fungsi lainnya.
Cara kerja bagian atas sistem saraf sering tidak secara langsung mengirimkan
sinyal ke bagian perifer tubuh, melainkan dengan mengirim sinyal ke pusat-pusat
pengatur dalam medula spinalis, yang memerintah pusat-pusat medula spinalis untuk
berfungsi.
2. Tingkat Otak Bagian Bawah
Banyak, tetapi tidak semua. Aktivitas bawah sadar dari tubuh diatur oleh
bagian bawah otak, yaitu pada medula oblongata, pons, mesensefalon, hipotalamus,
talamus, serebelum, dan ganglia basalis. Pengaturan bawah sadar dari tekanan arteri
dan pernafasan terutama dicapai di dalam medula dan pons. Pengaturan
keseimbangan merupakan fungsi gabungan dari bagian serebelum serebelum yang
lebih dahulu terbentuk dari substansia retikuler dari medula, pons, dan mesensefalon.
Refleks untuk makan, seperti salivasi sebagai respon terhadap rasa makanan, dan
jilatan bibir diatur oleh daerah-daerah dalam medula, pons, mesensefalon, amigdala,
dan hipotalamus; sebagian besar pola emosi, seperti marah, sifat menyerang, aktivitas
seksual, reaksi terhadap nyeri, atau reaksi terhadap rasa senang, semuanya ini dapat
timbul pada binatang yang tidak mempunyai korteks serebri.
3. Tingkat Otak Bagian Atas atau Tingkat Korteks
Sesudah semua fungsi sistem saraf yang dapat terjadi pada tingkat medula spinalis
dan otak bagian bawah, korteks serebri merupakan gudang memori yang sangat besar.
Korteks itu tidak pernah berfungsi sendiri, tetapi selalu berhubungan dengan pusatpusat bagian bawah atau dari sistem saraf.
Tanpa adanya korteks serebri, maka fungsi pusat-pusat otak bagian bawah
sering sangat tidak teliti lagi. Tempat penyimpanan atau gudang informasi yang luas
dalam korteks biasanya akan mengubah fungsi-fungsi ini menjadi tindakan yang lebih
tepat dan tertentu.
Akhirnya, korteks serebri itu berguna untuk proses berpikir, tetapi tidak dapat
bekerja sendiri. Pada kenyataanya, pusat-pusat di bagian bawah otaklah yang
menimbulkan kesadaran dalam korteks serebri, sehingga akan membuka bank memori
menjadi mesin otak untuk berpikir.
1.2.
Rumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan, maka timbullah pertanyaan
yang perlu dijawab dalam tulisan ini. Ada beberapa masalah yang dapat dirumuskan dan akan
dibahas dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut.
i.
Apa itu talamus?
ii.
Bagaimana embriologi, anatomi dan fisologi dari talamus?
2.1. Embriologi Talamus
Sistem saraf pusat (SSP) muncul pada awal minggu ketiga sebagai suatu lempeng penebalan
ektoderm berbentuk sandal, lempeng saraf (neural plate) di regio middorsal di depan primitive node
(nodus primitif). Tepi-tepi lempeng ini segera membentuk lipatan saraf(neural fold).
Gambar 1. Pandangan dorsal mudigah pada usia (A) 18 hari; (B) 20 hari
Seiring dengan perkembangan lebih lanjut, lipatan saraf tersebut terus meninggi, saling
mendekati di garis tengah, dan akhirnya menyatu membentuk tabung saraf (neural tube). Penyatuan
dimulai di daerah servikal dan berlanjut ke arah sefalik dan kaudal. Jika penyatuan telah dimulai,
ujung-ujung bebas tabung saraf membentuk neuroporus kranialis dan kaudalis yang berhubungan
dengan rongga amnion di atasnya. Penutupan neuroporus kranialis berlangsung ke arah kranial dari
tempat penutupan awal di regio servikal dan dari suatu tempat di otak depan yang terbentuk
belakangan. Tempat yang belakangan ini berjalan ke arah kranial, untuk menutup regio paling rostral
tabung saraf, dan ke arah kaudal untuk bertemu dengan penutupan dari daerah servikal. Penutupan
akhir neuroporus kranialis terjadi pada stadium 18 sampai 20 somit (hari ke 25); penutupan
neuroporus kaudalis terjadi sekitar 2 hari kemudian.
Gambar 2. Pandangan dorsal mudigah pada usia (A) 22 hari; (B) 23 hari
Ujung sefalik tabung saraf memperlihatkan tiga dilatasi, vesikel otak primer:
(a) Prosensefalon, atau otak depan (forebrain)
(b) Mesensefalon, atau otak tengah (midbrain)
(c) Rhombensefalon, atau otak belakang (hindbrain)
Secara bersamaan ujung ini membentuk dua fleksura:
(a) Fleksura servikalis di taut otak belakang dan korda spinalis
(b) Fleksura sefalika di regio otak tengah
Gambar 3. Potongan Sagital mudigah pada usia 27 hari
Ketika mudigah berusia 5 minggu, prosensefalon terdiri dari dua bagian:
(a) Telensefalon yang dibentuk oleh bagian tengah dan dua kantong luar lateral, hemisferum
serebri primitif, dan
(b) Diensefalon yang ditandai oleh pertumbuhan keluar vesikel mata (vesikula optika). Suatu alur
dalam, istmus rombensefalon, memisahkan mesensefalon dari rombensefalon
Rombensefalon juga terdiri dari dua bagian yang dibatasi oleh fleksura pontina:
(a) Metensefalon yang kemudian membentuk pons dan serebelum, dan
(b) Mielensefalon
Gambar 4. Potongan Sagital mudigah pada usia 32 hari
Lumen korda spinalis, kanalis sentralis, bersambungan dengan lumen vesikel otak. Rongga
rombensefalon adalah ventrikel keempat, rongga diensefalon adalah ventrikel ketiga, dan ronggarongga di hemisferum serebri adalah ventrikel lateral. Lumen mesensefalon menghubungkan ventrikel
ketiga dan keempat. Lumen ini menjadi sangat sempit dan kemudian dikenal sebagai akueduktus
Sylvius. Ventrikel lateral berhubungan dengan ventrikel ketiga melalui foramen interventrikulare
Monro.
Di kedua sisi dari garis tengah di rombensefalon dan mesensefalon terdapat lempeng basal
dan lempeng alar yang jelas terpisah dan masing-masing mempresentasikan daerah motorik dan
sensorik. Namun, di prosensefalon, lempeng alar mengalami aksentuasi sementara lempeng basal
mengalami regresi.
2.1.1 ROMBENSEFALON: OTAK BELAKANG
Rombensefalon terdiri dari mielensefalon, bagian paling kaudal vesikel otak, dan
metensefalon yang berjalan dari fleksura pontina ke istmus rombensefalon
Mielensefalon
Mielensefalon adalah vesikel otak yang menghasilkan medula oblongata. Bagian ini berbeda dari
korda spinalis karena dinding lateralnya mengalami eversi. Lempeng alar dan basal yang dipisahkan
oleh sulkus limitans dapat dibedakan dengan jelas. Lempeng basal, serupa dengan yang terdapat di
korda spinalis, mengandung nukleus-nukleus motorik. Nukleus-nukleus ini dibagi menjadi tiga
kelompok:
(a) Kelompok eferen somatik medial
(b) Kelompok eferen viseral khusus intermediat, dan
(c) Kelompok eferen viseral umum lateral
Kelompok pertama mengandung neuron-neuron motorik yang membentuk lanjutan sel kornu
anterior ke arah sefalik. Karena berlanjut ke arah rostral ke mesensefalon, kelompok eferen somatik
ini disebut kolumna motorik eferen somatik. Di mielensefalon, kelompok ini mencakup neuronneuron nervus hipoglosus yang menyarafi otot lidah. Di metensefalon dan mesensefalon, kolumna
masing-masing mengandung neuron nervus abdusens, nervus troklearis, dan nervus okulomotorius.
Saraf-saraf ini menyarafi otot mata.
Kelompok eferen viseral khusus meluas ke metensefalon, membentuk kolumna motorik viseral
khusus. Neuron-neuron motoriknya menyarafi otot lurik arkus faring. Di mielensefalon kolumna ini
diwakili oleh neuron-neuron nervus aksesorius, nervus vagus, dan nervus glosofaringeus.
Kelompok eferen viseral umum mengandung neuron-neuron motorik yang menyarafi otot
involunter saluran nafas, saluran cerna, dan jantung.
Lempeng alar mengandung tiga kelompok nukleus pemancar sensorik (sensory relay nuclei).
Yang paling lateral dari ketiganya, kelompok aferen somatik (sensorik), menerima impuls dari telinga
dan permukaan kepala melalui nervus vestibulokoklearis dan nervus trigeminus. Kelompok
intermediat, atau aferen viseral khusus,menerima impuls dari papil pengecap lidah dan dari palatum,
orofaring, dan epiglotis. Kelompok medial, atau aferen viseral umum, menerima informasi
interoseptif dari saluran cerna dan jantung.
Lempeng atap mielensefalon mengandung satu lapisan sel ependim yang ditutupi oleh mesenkim
vaskular, pia mater. Kombinasi keduanya dikenal sebagai tela koroidea. Karena proliferasi aktif
mesenkim vaskular, terbentuk sejumlah tonjolan invaginasi berbentuk kantong ke dalam rongga
ventrikel di bawahnya. Invaginasi-invaginasi seperti umbai ini membentuk pleksus koroideus, yang
menghasillkan cairan serebrospinal.
Metensefalon
Metelsefalon, serupa dengan mielensefalon, ditandai oleh lempeng basal dan alar. Dua komponen
baru adalah:
(a) Serebelum, suatu pusat koordinasi untuk postur dan gerakan, dan
(b) Pons, jalur untuk serabut saraf antara korda spinalis dan korteks serebri serta korteks serebeli
Masing-masing lempeng basal metensefalon mengandung tiga kelompok neuron motorik:
(a) Kelompok eferen somatik medial, yang menghasilkan nukleus abdusens
(b) Kelompok eferen viseral khusus, mengandung nukleus nervus trigeminus dan nervus fasialis,
yang menyarafi otot arkus faring pertama dan kedua, dan
(c) Kelompok eferen viseral umum yang akson-aksonnya menyarafi kelenjar submandibula dan
sublingual
Lapisan marginal lempeng basal metensefalon meluas sewaktu membentuk jembatan untuk serabutserabut saraf yang menghubungkan korteks serebri dan korteks serebeli dengan korda spinalis. Karena
itu, bagian metensefalon ini dikenal sebagai pons (jembatan). Selain serabut-serabut saraf, pons
mengandung nukleus pons yang berasal dari lempeng alar metensefalon dan mielensefalon.
Lempeng alar metensefalon mengandung tiga kelompok nukleus sensorik:
(a) Kelompok aferen somatik lateral yang mengandung neuron nervus trigeminus dan sebagian
kecil kompleks vestibulokoklear
(b) Kelompok aferen viseral khusus, dan
(c) Kelompok aferen viseral umum
Serebelum
Bagian dorsolateral lempeng alar menekuk ke arah medial dan membentuk bibir rombik. Di
bagian kaudal metensefalon, bibir ini terpisah jauh, tetapi tepat di bawah mesensefalon kedua bibir ini
saling mendekat di garis tengah. Akibat semakin dalamnya fleksura pontina, bibir-bibir rombik
menekan ke arah sefalokaudal dan membentuk lempeng serebelum. Pada mudugah 12 minggu,
lempeng ini memperlihatkan bagian tengah yang kecil, vermis, dan dua bagian lateral, hemisfer.
Kemudian segera terbentuk suatu alur transversal yang memisahkan nodul dari vermis dan flokulus
lateral dari hemisfer. Secara filogenetis, lobus flokulonodularis ini adalah bagian paling primitif dari
serebelum.
Pada awalnya, lempeng serebelum terdiri dari lapisan neuroepitel, mantel, dan marginal.
Selama perkembangan lebih lanjut, sejumlah sel yang terbentuk oleh neuroepitel bermigrasi ke
permukaan
serebelum untuk
membentuk
lapisan
granular
eksterna.
Sel-sel
lapisan
ini
mempertahankan kemampuannya untuk membelah dan membentuk suatu zona proliferatif di
permukaan serebelum.
Pada bulan keenam perkembangan, lapisan granular eksterna menghasilkan berbagai jenis sel.
Sel-sel ini bermigrasi ke arah sel Purkinje yang telah berdiferensiasi dan menghasilkan sel granular.
Sel keranjang (basket cell) dan sel stelata dihasilkan oleh sel-sel proliferatif di substansia alba
serebelum. Korteks serebeli yang terdiri dari sel Purkinje, neuron Golgi II, dan neuron yang
dihasilkan oleh lapisan granular eksterna, mencapai ukuran definitifnya setelah lahir. Nukleus-nukleus
serebelum dalam, misalnya nukleus dentatus, mencapai posisi akhirnya sebelum kelahiran.
2.1.2 MESENSEFALON: OTAK TENGAH
Di mesensefalon, masing-masing lempeng basal mengandung dua kelompok nukleus motorik:
(a) Kelompok eferen somatik medial, yang diwakili oleh nukleus okulomotorius dan nervus
troklearis yang menyarafi perototan mata, dan
(b) Kelompok eferen viseral umum kecil yang diwakili oleh nukleus Edinger-Westphal yang
menyarafi m.sfingter pupilae.
Lapisan marginal masing-masing lempeng basal membesar dan membentuk krus serebri. Krusa ini
berfungsi sebagai jalur untuk serabut saraf yang turun dari korteks serebri ke pusat-pusat yang lebih
rendah di pons dan korda spinalis. Pada awalnya, lempeng alar mesensefalon tampak sebagai dua
elevasi longitudinal yang dipisahkan oleh sebuah cekungan dangkal di garis tengah. Pada
perkebangan lebih lanjut, terbentuk suatu alur transversal yang membagi masing-masing elevasi
tersebut menjadi kolikulus anterior (superior) dan kolikulus posterior (inferior). Kolikulus posterior
berfungsi sebagai stasiun pemancar sinaptik untuk refleks auditorik; kolikulus anterior berfungsi
sebagai pusat korelasi dan refleks untuk impuls penglihatan. Kolikulus dibentuk oleh neuroblas yang
bermigrasi secara bergelombang menuju zona marginal di atasnya. Di sini, sel-sel ini tersusun dalam
lapisan-lapisan.
2.1.3 PROSENSEFALON: OTAK DEPAN
Prosensefalon terdiri dari telensefalon yang membentuk hemisferum serebri, dan diensefalon,
yang membentuk cawan optik(optic cup) dan tangkai optik (optic stalk), hipofisis, talamus,
hipotalamus, serta epifisis.
Diensefalon
Diensefalon, yang berkembang dari bgaian medial prosensefalon, diperkirakan terdiri dari
suatu lempeng atap dan dua lempeng alar tetapi tidak memiliki lempeng lantai dan basal (yang
menarik sonic hedgehog,suatu penanda garis tengah ventral, diekspresikan oleh lantai diensefalon
yang mengisyaratkan bahwa sebenarnya terdapat suatu lempeng lantai). Lempeng atap diensefalon
terdiri dari suatu lapisan sel ependim yang ependim yang ditutupi oleh mesenkim vaskular. Bersamabersama, lapisan-lapisan ini menghasilkan pleksus koroideus ventrikel ketiga.bagian paling kaudal
lempeng atap berkembang menjadi korpus pineale, atau epifisis. Korpus ini mula-mula tampak
sebagai penebalan epitel di garis tengah, tetapi pada minggu ketujuh struktur ini mulai mengalami
evaginasi. Akhirnya, badan ini berubah menjadi organ solid di atap mesensefalon yang berfungsi
sebagai saluran penghantar gelap dan terang sehingga mempengaruhi irama endokrin dan perilaku.
Pada orang dewasa, kalsium sering mengendap di epifisis dan kemudian berfungsi sebagai patokan
dalam radiografi tengkorak.
Lempeng alar membentuk dinding lateral diensefalon. Suatu alur, sulkus hipotalamikus,
membagi lempeng menjadi bagian dorsal dan ventral, masing-masing adalahtalamus dan hipotalamus.
Akibat aktivitas proliferatif, talamus secara bertahap menonjol ke dalam lumen diensefalon.
Ekspansi ini sering sedemikan hebatnya sehingga regio talamus dari sisi kanan dan kiri menyatu di
garis tengah, membentuk massa intermedia atau koneksus intertalamikus.
Hipotalamus yang membentuk bagian bawah lempeng alar, berdiferensiasi menjadi sejumlah
area nukleus yang mengatur fungsi alat dalam, termasuk tidur, pencernaan, suhu tubuh, dan perilaku
emosi. Salah satu dari kelompok-kelompok ini, korpus mamilare, membentuk suatu tonjolan
tersendiri di permukaan ventral hipotalamus di kedua sisi garis tengah.
Hipofisis terbentuk dari dua bagian yang sama sekali berbeda:
(a) Penonjolan ektoderm stomodeum tepat di depan membrana bukofaringealis yang dikenal
sebagai kantong Rathke, dan
(b) Perluasan ke arah bawah dari diensefalon, infundibulum.
Ketika mudigah mencapai usia sekitar 3 minggu, kantong Rathke tampak sebagai evaginasi
rongga mulut dan kemudian tumbuh ke arah dorsal menuju infundibulum. Pada akhir bulan kedua,
kantong ini kehilangan hubungannya dengan rongga mulut dan kemudian berhubungan erat dengan
infundibulum.
Selama perkembangan lebih lanjut, sel-sel di dinding anterior kantong Rathke bertambah
banyak dengan pesat dan membentuk lobus anterior hipofisis atau adenohipofisis. Suatu perluasan
kecil dari lobus ini, pars tuberalis, tumbuh di sepanjang tangkai infundibulum dan akhirnya
mengelilinginya. Dinding posterior kantong Rathke berkembang menjadi pars intermedia yang pada
manusia tampaknya tidak banyak berperan.
Infundibulum menghasilkan tangkai (stalk) dan pars nervosa, atau lobus posterior hipofisis
(neurohipofisis). Bagian ini terdiri dari dari sel-sel neuroglia. Selain itu, bagian ini juga mengandung
sejumlah serabut saraf dari daerah hipotalamus.
Telensefalon
Telensefalon, bagian paling rostral dari vesikel otak, terdiri dari dua penonjolan lateral,
hemisferum serebri, dan suatu bagian di tengah, lamina terminalis. Rongga-rongga hemisfer, ventrikel
lateral, berhubungan dengan lumen diensefalon melalui foramen interventrikulare Monro.
Hemisferum serebri muncul pada awal minggu kelima perkembangan sebagai evaginasi
bilateral di dinding lateran proensefalon. Pada pertengahan bulan kedua bagian basal dari hemisfer
(yaitu bagian yang pada awalnya membentuk perluasan talamus ke arah depan) mulai tumbuh dan
menonjol ke dalam lumen ventrikel lateral dan ke dalam lumen ventrikel lateral dan ke dalam lantai
foramen Monro. Pada potongan melintang, regio yang tampak bergaris-garis dan karenanya dikenal
sebagai korpus striatum.
Di regio tempat dinding hemisfer melekat ke atap diensefalon, dinding tidak membentuk
neuroblas dan tetap sangat tipis. Di sini dinding hemisfer terdiri dari suatu lapisan sel ependim yang
ditutupi oleh mesenkimvaskular, dan bersama-sama keduanya membentuk pleksus koroideus. Pleksus
koroideus seharusnya membentuk atap hemisfer, tetapi akibat pertumbuhan tak seimbang dari
berbagai bagian hemisfer, pleksus ini menonjol ke dalam ventrikel lateral di sepanjang fisura
koroidea. Tepat di atas fisura koroidea, dinding hemisfer menebal , membentuk hipokampus. Struktur
yang fungsi primernya adalah penciuman ini, menonjol ke dalam ventrikel lateral.
Dengan perluasan selanjutnya, hemisfer menutupi aspek lateral diensefalon, mesensefalon,
dan bagian sefalik metensefalon. Korpus striatum, karena merupakan bagian dari dinding hemisfer,
juga meluas ke arah posterior dan dibagi menjadi dua bagian:
(a) Bagian dorsomedial, nukleus kaudatus, dan
(b) Bagian ventrolateral, nukleus lentiformis
Pembagian ini dilakukan oleh akson-akson yang berjalan dari dan ke korteks hemisfer dan menembus
massa nukleus korpus striatum. Berkas serabut yang terbentuk dikenal sebagai kapsula interna. Pada
saat yang sama, dinding medial hemisfer dan dinding lateral diensefalon menyatu, serta nukleus
kaudatus dan talamus menjadi terletak sangat dekat.
Pertumbuhan hemisferum serebri yang terus menerus ke arah anterior, dorsal, dan inferior,
masing-masing menyebabkan terbentuknya lobus frontelis, temporalis, dan oksipitalis. Namun,
seiring dengan melambatnya pertumbuhan di bagian yang terletak di atas korpus striatum, daerah
antara lobus frontalis dan lobus temporalis menjadi tertekan dan dikenal sebagai insula. Bagian ini
kemudian ditutupi oleh pertumbuhan lobus-lobus di sekitarnya dan pada saat lahir hampir tertutup
seluruhnya. Selama tahap terakhir kehidupan janin, permukaan hemisferum serebri tumbuh
sedemikian pesat sehingga muncul banyak tonjolan (girus) yang dipisahkan oleh fisura dan sulkus di
permukaannya.
Korteks serebri berkembang dari palium yang memiliki dua regio:
(a) Paloepalium, atau arkipalium, tepat lateral dari korpus striatum, dan
(b) Neopalium, antara hipokampus dan paleopalium
Di neopalium, gelombang-gelombang neuroblas bermigrasi ke posisi subpia dan kemudian
berdiferensiasi menjadi neuron matur. Saat gelombang neuroblas berikutnya tiba, sel-sel tersebut
bermigrasi melalui lapisan sel yang telah terbentuk sampai mencapai posisi subpia. Karena itu
neuroblas yang terbentuk awal memperoleh posisi yang lebih dalam di korteks, sedangkan yang
terbentuk belakangan memperoleh posisi lebih superfisial.
Saat lahir, korteks tampak berlapis-lapis akibat diferensiasi sel dalam lapisan-lapisan. Korteks
motorik mengandung sejumlah besar sel piramidalis, dan area sensorik ditandai oleh sel granular.
Diferensiasi sistem olfaktorius bergantung pada interaksi epitel-mesenkim. Interaksi ini
terjadi antara sel krista neuralis dan ektoderm prominensia frontonasalis untuk membentuk plakoda
olfaktoria dan antara sel krista neuralis yang sama dengan lantai telensefalon untuk membentuk
bulbus olfaktorius. Sel-sel di plakoda nasalis berdiferensiasi menjadi neuron sensorik primer epitel
nasal yang akson-aksonnya tumbuh dan berkontak dengan neuron sekunder dalam pembentukan
bulbus olfaktorius. Pada minggu ketujuh, kontak ini terbentuk sempurna. Seiring dengan berlanjutnya
pertumbuhan otak, bulbus olfaktorius dan traktus olfaktorius neuron sekunder memanjang, dan
bersama-sama keduanya membentuk nervus olfaktorius.
Pada orang dewasa, terdapat sejumlah berkas serabut, komisura yang menyilang garis tengah,
menghubungkan paruh kanan dan kiri hemisfer. Berkas-berkas serabut terpenting menggunakan
lamina terminalis. Berkas menyilang yang pertama kali tampak adalah komisura anterior. Berkas ini
terdiri dari serabut-serabut yang menghubungkan bulbus olfaktorius dan area otak terkait di satu
hemisfer sisi lainnya.
Komisura kedua yang muncul adalah komisura hipokampus atau komisura forniks. Seabutserabutnya berasal dari hipokampus dan berkumpul di lamina terminalis dekat dengan lempeng atap
diensefalon. Dari sini serabut-serabut tersebut berlanjut, membentuk suatu sistem arkus tepat di luar
fisura koroidea, ke korpus mamilare dan hipotalamus.
Komisura yang terpenting adalah korpus kalosum. Struktur ini muncul pada minggu ke-10
perkembangan dan menghubungkan area non-olfaktorius korteks serebri kiri dan kanan. Pada
awalnya,, korpus kalosum membentuk suatu berkas kecil di lamina terminalis. Namun, akibat
ekspansi neopalium yang terus-menerus, struktur ini meluas mula-mula ke anterior lalu ke posterior,
membentuk arkus di atas atap tipis diensefalon.
Selain ketiga komisura yang terbentuk di lamina terminalis, tiga lainnya juga muncul. Dua di
antaranya, komisura posterior dan komisura habenularum, tepat di sebelah bawah dan rostral tangkai
kelenjar pineal. Yang ketiga, kiasma optikum, yang muncul di dinding rostral diensefalon,
mengandung serabut-serabut dari separuh medial retina.
REGULASI MOLEKULAR PEMBENTUKAN OTAK
Pembentukan pola anteroposterior (kraniokaudal) sistem saraf pusat dimulai pada awal
perkembangan, saat gastrulasi dan induksi saraf. Setelah lempeng saraf tebentuk, sinyal-sinyal untuk
oemisahan otak menjadi regio otak depan, otak tengah, dan otak belakang datang dari gen-gen
homeobox yang diekspresikanoleh notokord, lempeng prekordal, dan lempeng saraf. Otak belakang
memilike delapan segmen, rombomber yang memiliki variasi pola ekspresi kelas Antennapedia gen
homeobox, gen-gen HOX. Gen-gen ini diekspresikan dalam pola yang tumpang tindih (nested),
dengan gen-gen di ujung paling 3’ dari kelompok yang memiliki batas lebih anterior dan gen-gen
paralog memiliki ranah (domain) ekspresi yang identik. Gen-gen di ujung 3’ juga diekspresikan lebih
awal daripada yang terletak di ujung 5’ sehingga terbentuk hubungan temporal dengan pola ekspresi.
Karena itu, gen-gen ini memberikan nilai posisional di sepanjang sumbu antroposterior otak belakang,
menentukan identitas rombomer, dan menentukan turunan-turunannya. Bagaimana regulasi ini terjadi
masih belum diketahui, meskiipun retinoid (asam retinoat) berperan penting dalam mengatur ekspresi
HOX. Sebagai contoh, asam retinoat yang berlebihan menggeser ekspresi gen HOX ke arah anterior
dan menyebabkan rombomer yang terletak lebih kranial berdiferensiasi menjadi tipe yang lebih
kaudal. Defisiensi asam retinoat menyebabkan otak belakang mengecil. Juga terdapat respon
diferensial terhadap asam retinoat oleh gen-gen HOX; gen-gen yang terletak di ujung 3’ kelompok
yang lebih oeka daripada yang berada di ujung 5’.
Spesifikasi area otak depan dan otak tengah juga diatur oleh gen-gen yang mengandung suatu
hoeodomain. Namun, gen-gen ini bukan dari kelas Antennapedia yang batas ekspresi paling
anteriornya berhenti di rombomer 3’. Karena itu, diperkirakan terdapat gen-gen baru yang memiliki
peran menentukan pola untuk regio otak ini yang secara evolusi merupakan “kepala baru”. Pada tahap
lempeng saraf, LIM1 yang diekspresikan di lempeng prekordal, dan OTX2 yang diekspresikan di
lempeng saraf, penting untuk menetukan area otak depan dan otak tengah, dengan LIM1 menunjang
ekspresi OTX2. Gen-gen ini juga diekspresikan pada tahap-tahap awal gastrulasi, dan gen-gen ini
membantu menentukan keseluruhan regio kranial epiblas. Setelah lipatan saraf dan arkus faring
muncul, gen-gen homoebox lain, termasuk OTX1, EMX1, dan EMX2 diekspresikan dalam pola
spesifik dan tumpan tindih (nested) di regio otak depan dan otak tengah serta untuk menspesifikasi
identitas are-area ini. Jika batas-batas ini sudah dipastikan, dua pusat pengatur lain mucul: anterior
neural ridge (ANR) di taut antara batas kranial lempeng saraf dan ektoderm non-saraf dan istmus
antara otak tengah dan otak belakang. Di kedua lokasi, faktor pertumbuhan fibroblas 8 (FGF8) adalah
molekul pembawa sinyal kunci, memicu ekspresi faktor transkripsi FOXG1. FOXG1 kemudian
mengatur perkembangan telensefalon (hemisferum serebri) dan spesifikasi regional di dalam otak
depan, termasuk telensefalon basal dan retina.
Di istmus di taut antara daerah otak tengah dan otak belakang, FGF8 diekspresi kan dalam
bentuk cincin mengelilingi lokasi ini. FGF8 menginduksi ekspresi engrailed 1 dan 2 (EN1 dan EN2),
dua gen yang mengandung homeobox yang diekspresikan secara gradien memancar ke arah anterior
dan posterior dari istmus. EN1 mengatur perkembangan di seluruh ranah yang mengekspresikannya,
termasuk otak tengah dorsal (tektum) dan oak belakang anterior (serebelum)., sedangkan EN2 hanya
berperan dalam pembentukan serbelum. FGF8 juga menginduksi ekspresi WNT1 dalam bentuk pita
melingkar di anterior dari regio ekspresi FGF8. WNT1 berinteraksi dengan EN1 dan EN2 untuk
mengatur perkembangan regio ini, termasuk serebelum. Pada kenyataannya, WNT1 mungkin
membantu spesifikasi awal daerah otak tengah karena gen ini diekspresikan di regio ini pada tahap
lempeng saraf. FGF8 juga diekspresikan pada awal perkembangan di memsoderm yang terletak di
bawah taut antara otak tengah dan belakang sehingga mungkin mengatur ekspresi WNT1 dan
pembentukan pola awal di daerah ini. Konstriksi istmus terletak sedikit lebih posterior daripada taut
otak tengah-belakang yang sebenarnya yang berada di batas kaudal ekspresi OTX2.
Pembentukan pola dorsoventral (mediolateral) juga terjadi di daerah otak depan dan otak
tengah. Pembentukan pola ventral dikendalikan oleh SHH seperti di seluruh sistem saraf pusat
sisanya. SHH yang disekresikan oleh lempeng prekordal, memicu ekspresi NKX2.1, suatu gen yang
mengandung homeodomain yang mengatur perkembangan hipothalamus. Yang utama, sinyal SHH
memerlukan pemecahan protein dan bagian terminal karboksil melaksanakan proses ini. Setelah
protein SHH dibelah, kolesterol berikatan secara kovalen dengan terminal karboksil produk terminal
amino. Bagian terminal amino mempertahankan semua sifat sinyal SHH, dan keterkaitannya dengan
kolesterol membantu pendistribusiannya.
Pembentukan pola dorsal (lateral) tabung saraf dikendalikan oleh protein morfogenetik tulang
4 dan 7 (BMP4 dan BMP7) yang diekspresikan di ektoderm non-sarafdi samping lempeng saraf.
Protein-protein ini memicu ekspresi MSX1 di garis tengah dan menekan ekspresi FOXG1. Setelah
tabung saraf tertutup, terjadi ekspresi BMP2 dan 4 di lempeng atap dan protein-protein ini mengatur
ekspresi faktor transkripsi LHX2 di korteks. Ekspresi ini kemudian memicu suatu jenjang gen yang
mengatur pola regio ini.
Pola ekspresi gen-gen yang mengatur pola anterior-posterior (kraniokaudal) dan dorsoventral
(mediolateral) otak bertumpang tindih dan berinteraksi di batas daerah-daerah tersebut. Selain itu,
berbagai regio otak mampu berespon terhadap sinyal spesifik dan tidak terhadap yang lain. Sebagai
contoh, hanya bagian kranial dari lempeng saraf yang mengekspresikan NKX2.1 sebagai respons
terhadap SHH. Demikian juga, hanya lempeng saraf anterior menghasilkan FOXG1 sebagai respons
terhadap FGF8; otak tengah mengekspresikan EN2 sebagai respons terhadap sinyal FGF8 yang sama.
Karena itu, kompetensi untuk berespons juga membantu menentukan perbedaan regional.
2.2 Anatomi Talamus
Gambar 5. Diensefalon
Diensefalon terletak di antara batang otak dan telensefalon. Diensefalon memiliki empat komponen:

Epithalamus, yang terdiri dari habenula dan nukleus habenularis, komissura habenularum,

epifisis, dan komissura epithalamika (posterior)
Thalamus, kompleks neuron yang besar yang meliputi sekitar empat perlima volume

diensefalon
Subthalamus, yang terutama terdiri dari nukleus subthalami (korpus Luysii) dan terletak di

bawah thalamus dan di dorsolateral korpus mamilare
Hipothalamus, yang dipisahkan dari thalamus oleh sulkus hipothalamikus, dan mengandung
berbagai kelompok neuron yang berbeda fungsi. Struktur ini merupakan pusat hierarki
tertinggi (“ganglion kepala”) sistem saraf otonom pada masing-masing sisi, kolumna fornisis
berjalan turun melalui dinding lateral hipothalamus dan berakhir di korpus mamilaris
Thalamus ditemukan pada kedua sisi ventrikel ketiga dan terdiri dari berbagai nukleus dengan
fungsi berbeda. Struktur ini merupakan stasiun relay untuk sebagian besar jaras aferen yang naik ke
korteks serebri. Beberapa jenis impuls (misalnya, impuls nosiseptif) mungkin telah diterima,
diintegrasikan, dan diberikan warna afektif, dengan cara yang tidak tepat, di thalamus, tetapi
pengalaman kesadaran sesungguhnya tidak dibentuk hingga impuls sensorik mencapai korteks serebri.
Selain itu, thalamus memiliki hubungan yang luas dengan ganglia basalia batang otak, serebelum, dan
area kortikal motorik serebri dan dengan demikian merupakan komponen utama sistem regulasi
motorik.
Nukleus yang terpenting pada subthalamus adalah nukleus subthalamikus, yang fungsinya
berkaitan erat dengan ganglia basalis.
Epithalamus terutama terdiri dari epifisis (glandula pinealis/korpus pineale) dan nukleus
habenularis; berperan dalam regulasi irama sirkardian.
Bagian paling basal diensefalon adalah hipothalamus, yang mengkoordinasikan fungsi tubuh
yang vital seperti respirasi, sirkulasi, keseimbangan cairan, suhu, dan asupan nutrisi dan dengan
demikian berada pada hierarki teratas organ regulasi sitem saraf otonom. Struktur ini juga
mempengaruhi aktivitas kelenjar endokrin melalui aksis hipothalamus – hipofisis.
Sistem saraf otonom berperan untuk suplai persarafan organ internal, pembuluh darah,
kelenjar keringat, kelenjar saliva, dan kelenjar lakrimalis. Disebut “otonom” karena fungsinya
sebagian besar tidak bergantung pada kesadaran, selain itu sistem saraf otonom juga (lebih jarang)
disebut sistem saraf vegetatif. Lengan aferennya di perifer terdiri dari dua bagian yang secara anatomi
dan fungsional berbeda, sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Lengan aferennya tidak terbagi
dengan cara seperti ini.
Karena fungsi diensefalon yang beragam, lesi diensefalon dapat memiliki efek yang sangat
bervariasi, tergantung pada lokasi dan luasnya lesi. Lesi thalamus menyebabkan hemiparesis dan
defisit hemisensorik, gangguan pergerakan, gangguan kesadaran, dan sindrom nyeri, sedangkan lesi
hipothalamus mengganggu berbagai fungsi vital secara tunggal atau kombinasi, dan menyebabkan
disfungsi endokrin.
Posisi diensefalon tepat di bagian oral mesensefalon; diensefalon tidak berlanjut di sepanjang
aksis batang otak, tetapi menekuk ke arah rostral, sehingga terletak di dekat aksis longitudinal serebri.
Diensefalon terletak di tengah otak, di bagisn ventral dan kaudal lobus frontalis, dan terletak di dekat
bagian terbawah ventrikel ketiga dari kedua sisi.
Thalamus membentuk bagian teratas dinding ventrikel ketiga, dan hipothalamus bagian
terbawahnya. Di dorsal, diensefalon berdekatan dengan korpus kalosum, ventrikel lateral,dan
hemisfer serebri. Atap ventrikel ketiga dibentuk oleh tela khoroidea yang tipis dan pleksus khoroideus
yang melekat. Perluasan diensefalon ke arah rostral dibatasi oleh lamina terminalis dan komisura
anterior, perluasan ke arah kaudalnya oleh komisura posterior, komisura habenularum, dan korpus
pinealis (epifisis). Foramen interventrikularis Monro, yang menghubungkan ventrikel lateral dengan
ventrikel ketiga, terdapat di kedua sisi bagian anterior hingga bagian rostral thalamus, tepat di bawah
krus fornicis. Bagian basal diensefalon merupakan satu-satunya bagian yang terlihat dari luar: dapat
terlihat pada permukaan bawah otak di antara khiasma optikum, traktus optikus, dan pedunkulus
serebri. Struktur diensefalon yang terlihat di area ini adalah korpus mamilare dan tuber sinereum,
bersamaan dengan infundibulumnya (tangkai hipofisis), yang mengarah ke bawak menuju kelenjar
hipofisis.
Kedua separuh bagian hipothalamus yang berhadapan satu sama lain menyeberangi ventrikel
ketiga berhubungan pada 70-80% kasus dengan adhesi interthalamik (massa intermedia), yang bukan
merupakan jaras serabut tetapi merupakan adhesi sekunder substansia grisea yang datang dari masingmasing sisi. Di laterar, diensefalon berbatasan dengan kapsula interna.
Globus palidus secara embriologis merupakan bagian diensefalon, meskipun dipisahkan oleh
kapsula interna dan dengan demikian terletak di ganglia basalia.
2.2.1 Nuklei Talamus
Membatasi sisi ventrikel ketiga, pada masing-masing sisi otak, terdapat kompleks neuron
yang besar dan berbentuk oval dengan diameter sekitar 3 x 1.5 cm. Kompleks ini, thalamus, bukan
merupakan kumpulan sel yang sama, tetapi yang berbeda, tetapi yang berbeda, dengan fungsinya dan
hubungan eferen dan aferennya masing-masing. Setiap separuh bagian talamus (kanan dan kiri)
terbagi menjadi tiga regio utama oleh lapisan tipis substansia alba yang membentuk huruf Y (lamina
medularis interna). Nuklei anteriores terletak di sudut huruf Y tersebut, nuklei ventrolaterales di
lateral, dan nuklei mediales di medial. Nuklei ventrolaterales kemudian terbagi lagi menjadi
kelompok nuklear lateral dan medial. Nukleus ventralis meliputi nukleus ventralis anterior (VA), dan
nukleus ventralis lateralis (VL), nukleus ventralis posterolateralis (VPL), dan nukleus posteromedialis
(VPM). Nukleus lateralis meliputi nukleus lateralis dorsalis dan nukleus lateralis posterior. Lebih ke
kaudal, ditemukan pulvinar, dengan korpus genikulatum laterale dan mediale yang melekat pada sisi
bawahnya. Ada beberapa kelompok kecil neuron di dalam lamina medularis interna (nuklei
interlaminares), serta sebuah kompleks sel yang lebih besar, yang terletak di sentral, nukleus
sentromedianus (atau centre median). Di lateral, lamina medularis eksterna memisahkan thalamus dari
kapsula interna; nukleus retikularis thalami merupakan lapisan sel tipis yang terletak bedekatan
dengan lamina medularis eksterna. Tiga kelompok nuklear utama (anterior, ventrolateral dan medial)
secara sitologis dan fungsional terbagi lagi menjadi sekitar 120 nukleus yang lebih kecil.
Gambar 6. Nuklei Talamus
Talamus merupakan stasiun relay utama terakhir untuk semua impuls asendens (kecuali
impuls olfaktorius) sebelum melanjutkan ke korteks, melalui serabut talamokortikalis. Berbagai jaras
aferen pada setiap nukleus thalami memiliki terminasi yang berbeda, yang kemudian berproyeksi ke
area kortikal yang sesuai. Seperti medula spinalis dan batang otak (misalnya, lemniskus medialis),
nuklei thalami dan proyeksi thalamokortikalis mempertahankan organisasi somatotropik titik ke titik
yang tepat.
Nuklei thalami yang menerima input dari area tubuh perifer tertentu dan menghantarkan
impuls ke area kortikal yang bersesuaian (lapangan proyektif primer) disebut nuklei thalami spesifik
(atau nuklei thalami primer). Nuklei thalami yang berproyeksi ke arah kortikal asosiasi unimodal dan
multimodal (nuklei thalami sekunder dan tersier) juga termasuk nuklei spesifik. Sehingga perbedaan
sifat nuklei spesifik adalah proyeksi langsung ke korteks serebri.
Sebaliknya, nuklei thalami nonspesifik meneri input aferennya dari berbagai organ sensorik
yang berbagai, biasanya setelah sinaps penghubung di formasio retikularis dan / atau salah satu nuklei
thalami primer. Serabut ini hanya berproyeksi secara tidak langsung ke korteks serebri (misalnya,
melalui ganglia basalia), termasuk area asosiasi.
2.2.2 Nuklei Thalami Spesifik dan Hubungan-hubungannya
Nuklei dengan Hubungan ke Area Kortikal Primer
(A) Nukleus ventralis posterolateralis (VPL) dan nukleus ventralis posteromedialis (VPM)
Semua serabut somatosensorik berjalan naik di dalam lemniskus medialis, traktus
spinothalamikus,
traktus
trigeminothalamikus,
dan
berakhir
di
stasiun
relay
di
nuklei
ventrioposteriores thalami. Nukleus ventralis posterolateralis merupakan stasiun relay untuk
lemniskus medialis, sedangkan untuk nukleus ventralis posteromedialis merupakan sasiun relay untuk
aferen trigeminus. Nuklei ini, kemudian memproyeksikan serabut ke area korteks somatosensorik
tertentu. Selain itu, serabut gustatorik dari nukleus traktus solitarius berakhir di ujung medial nukleus
ventralis posteromedialis, yang kemudian berproyeksi ke regio postsentralis yang menutupi insula.
(B) Korpus genikulatum lateralis dan medialis
Korpus genikulatum medialis dan lateralis juga merupakan salah satu di antara nuklei thalami
spesifik. Traktus optikus berakhir di korpus genikulatum lateralis, yang menghantarkan impuls visual
secara retinotropik, melalui radiasio optika, ke korteks visual (area 17). Impuls auditorik dibawa di
lemniskus lateralis ke korpus genikulatum medialis dan dihantarkan secara tonotropik, melalui
radiasio akustika, ke korteks auditorik (giri temporales transversi Heschl, area41) di lobus temporalis.
(C) Nukleus ventralis oral dan nukleus ventralis anterior
Nukleus ventralis oralis posterior (V.o.p, bagian nukleus ventralis lateralis) menerima input
dari nukleus dentatus dan nukleus ruber melalui traktus dentikulothalamikus dan berproyeksi ke
korteks motorik (area 4), sedangkan nukleus ventralis oralis anterior (V.o.a) dan nukleus ventralis
anterior (VA) yang keduanya juga merupakan anggota kelompok nukleus ventralis, yang menerima
input dari globus palidus dan berproyeksi ke korteks premotorik.
Nuklei yang Berproyeksi ke Area Asosiasi Korteks Serebri
Nukleus anterior, nukleus medialis, dan pulvinar merupakan nuklei thalami sekunder dan
tersier, yaitu nuklei thalami spesifik yang berproyeksi ke area korteks asosiasi unimodal dan
multimodal. Nuklei tersebut sebagian besar menerima inputnya tidak secara langsung dari perifer,
tetapi setelah melewati relay sinaptik, yang biasanya terletak di salah satu nuklei thalami primer.
Nukleus anterior secara timbal balik berhubungan dengan korpus mamilare dan forniks
melalui traktus mamilothalamikus (Vicq d’Azyr); memiliki hubungan titik-ke-titik dua arah dengan
girus cinguli (area 24) dan dengan demikan merupakan bagian yang terintegrasi dengan sistem limbik.
Nukleus medialis thalami memiliki hubungan titik-ke-titik dua arah dengan area asosiasi
lobus frontalis dan regio premotoris. Nukleus ini menerima input aferen dari nuklei thalami lain
(nukleus ventralis dan intralaminaris), dan dari hipothalamus, nukles mesensefali, dan globus palidus.
Destruksi nukleus medialis oleh sebuah tumor atau proses lainnya menyebabkan sindrom lobus
frontalis dengan perubahan kepribadian (hilangnya representasi diri), seperti yang ditemukan setelah
leukotomi frontal. Impuls viseral yang mencapai nukleus ini melalui hipothalamus mempengaruhi
keadaan afektif individu, menyebabkan rasa kesejahteraan atau kesedihan, mood baik atau buruk, dan
sebagainya.
Pulvinar memiliki hubungan titik-ke-titik secara timbal balik dengan area asosiasi lobus
parietalis dan lobus oksipitalis. Area asosiasi ini dikelilingi oleh korteks somatosensorik, visual, dan
auditorik primer dan dengan demikian kemungkinan berperan penting pada pengumpulan berbagai
jenis informasi sensorik yang datang. Pulvinar menerima input neural dari nuklei thalami lain,
terutama nuklei intralaminares.
Nukleus lateralis dorsalis dan nukleus lateralis posterior tidak menerima inout neural apapun
dari luar thalamus dan hanya berhubungan dengan nuklei thalami lain. Dengan demikian struktur ini
disebut nuklei integratif.
2.2.3 Nuklei Thalami Nonspesifik dan Hubungan-hubungannya
Nuklei intralaminares adalah komponen sistem proyeksi thalami nonspesifik yang terpenting.
Nuklei ini terletak di dalam lamina medularis interna, dan yang terbesar di antara nuklei tersebut
adalah nukleus sentromedianus. Kompleks sel ini menerima input aferennya melalui serabut asendens
dari formasio retikularis batang otak dan nukleus emboliformis serebeli, serta globus palidus medialis
dan nuklei thalami lainnya. Serabut-serabut ini tidak berproyeksi ke korteks serebri tetapi menuju ke
nukleus kaudatus, putamen, dan globus palidus. Serabut tersebut kemungkinan juga mengirimkan
impuls eferen secara difus ke seluruh nuklei thalami, yang kemudian, berproyeksi ke are sekunder
korteks serebri yang luas. Nukleus sentromedianus merupakan komponen yang penting pada
kompleks sel intralaminaris, yang membentuk bagian thalamik ascending reticular activating system
(ARAS atau sistem kewaspadaan). Bagian lain sistem kewaspadaan ini kemungkinan melibatkan
subthalamus dan hipothalamus.
Gambar 7. Hubungan Aferen dan Eferen Kelompok Nuklear Medial (Merah), Dorsal (Ungu/Biru),
dan Lateral (Biru)
2.3 Neurofisiologi Talamus
Fungsi thalamus sangat rumit karena banyaknya jumlah nukleus yang dimilikinya dan hubungan
aferen dan eferennya yang sangat bervariasi

Pertama-tama, thalamus merupakan titik pertemuan subkortikal terbesar untuk semua impuls

sensorik propioseptif dan eksteroseptif
Selain itu, struktur ini merupakan stasiun relay untuk semua impuls yang timbul di reseptor
sensorik kutaneus dan reseptor sensorik viseral, impuls auditorik dan visual, dan impuls dari
hipothalamus, serebelum, dan formasio retikularis batang otak; semua impuls diproses di
thalamus sebelum ditransmisikan ke struktur lainnya. Thalamus mengirimkan komponen
eferen ke striatum, tetapi sebagian besar outputnya berjalan ke korteks serebri. Semua impuls
sensorik (semua impuls olfaktori) harus berjalan melewati thalamus sebelum dapat disadari.
Dengan demikian, thalamus dulu disebut “pintu gerbang kesadaran”, meskipun persepsi bau
yang disadari menunjukkan bahwa konsep ini tidak sempurna dan kemungkinan

menyesatkan.
Namun, thalamus bukan serta merta sebagai stasiun relay, tetapi pusat integrasi dan
koordinasi yang penting; keempat impuls aferen berbagai modalitas, dari regio tubuh yang
berbeda, diintegrasikan dan diberikan pewarnaan afektif. Substrat neural fenomena dasar
tertentu seperti nyeri, rasa tidak senang, dan rasa nyaman telah terdapat di thalamus sebelum

ditransmisikan ke atas menuju korteks.
Melalui hubungan timbal-baliknya (lengkung umpan-balik) dengan korteks motorik, beberapa

di antaranya melewati ganglia basalia dan serebelum, thalamus memodulasi fungsi motorik.
Beberapa nuklei thalami juga merupakan komponen ascending reticular activating system
(ARAS), sistem kewaspadaan spesifik yang berasal dari otak. Impuls pengaktivasi dari ARAS
dihantarkan oleh nuklei thalami tertentu (nukleus ventralis anterior, nukleus intralaminaris,
terutama nukleus sentromedian, nukleus retikularis) ke seluruh neokorteks. ARAS yang intak
penting untuk kesadaran yang normal.
2.3.1 Sinyal Somatosensorik
Hampir seluruh informasi sensorik yang berasal dari segmen somatik tubuh memasuki
medula spinalis melalui saraf-saraf spinal pada radiks dorsalis (dengan pengecualian
beberapa serabut kecil yang memasuki radiks ventralis). Dari titik masuk pada medula
spinalis ini dan kemudian ke otak, sinyal sensorik akan dibawa melalui salah satu dari dua
jaras sensorik bolak-balik yang akan bersilangan lagi di setinggi talamus:
(A) Sistem Kolumna Dorsalis – Lemniskus Medialis
Sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis, sesuai dengan namanya,
terutama menjalarkan sinyal dalam kolumna dorsalis medula spinalis dan selanjutnya,
setelah bersinaps dan menyilang ke sisi berlawanan dalam medula akan naik melaui
lemniskus medialis di batang otak menuju talamus.
Sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis terdiri atas serabut-serabut saraf
besar bermielin yang menjalarkan sinyal ke otak dengan kecepatan 30 sampai 110
m/detik. Serabut-serabut saraf sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis
mempunyai sifat orientasi ruang yang sangat tinggi sesuai dengan asal serabut saraf.
(B) Sistem Anterolateral
Sinyal dalam sistem anterolateral, setelah keluar dari radiks dorsalis substansia
grisea melalui medula spinalis, akan menyilang ke sisi yang berlawanan dan naik
melalui substansia alba anterior dan lateral medula spinalis untuk berakhir pada
batang otak di semua ketinggian dan juga di talamus. Sistem anterolateral terdiri atas
serabut saraf bermielin yang jauh lebih kecil (rata-rata diameternya 4 mikrometer)
yang akan menjalarkan sinyal dengan kecepatan beberapa meter per setik sampai 40
m/detik. Sistem anterolateral mempunyai sifat orientasi ruang yang jauh lebih kecil.
Perbedaan ini akan mempengaruhi jenis informasi sensorik apa yang dapat dijalarkan
oleh kedua sistem di atas. Yakni, informasi sensorik yang harus dijalarkan dengan cepat dan
dalam waktu yang singkat terutama akan dijalarkan oleh sistem kolumna dorsalis – lemniskus
medialis, sedangkan informasi yang tak perlu dijalarkan dengan cepat atau dengan tempo
yang lama terutama akan dijalarkan oleh sistem anterolateral. Sistem anterolateral
mempunyai kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh sistem dorsalis, yakni kemampuan
untuk manjalarkan modalitas sensasi yang sangat luas, misalnya sensasi nyeri, hangat, dingin,
dan taktil yang kasar. Sistem dorsalis hanya terbatas untuk sensasi mekanoreseptif.
Jenis-jenis sensasi yang dapat dijalarkan oleh kedua sistem di atas
Sistem
Kolumna
Dorsalis
– Sistem Anterolateral
1.
Lemniskus Medialis
Sensasi raba membutuhkan rangsangan Rasa nyeri
2.
dengan derajat lokalisasi tinggi
Sensasi raba membutuhkan penjalaran Sensasi termal, meliputi sensasi hangat
impuls dengan intensitas gradasi yang dan dingin
3.
halus
Sensasi fasik, misalnya sensasi getaran
Sensari raba dan tekan kasar yang mampu
menentukan tempat perabaan dan tempat
4.
penekanannya pada tubuh
Sensasi terhadap sinyal gerakan pada Sensasi geli dan gatal
5.
6.
kulit
Sensasi posisi tubuh
Sensasi seksual
Sensasi tekan yang berkaitan dengan
derajat penentuan intensitas tekanan
Anatomi Sistem Kolumna Dorsalis – Lemniskus Medialis
Sewaktu memasuki medula spinalis melewati saraf spinal dalam radiks dorsalis, serabut saraf
besar bermielin yang berasal dari mekanoreseptor khusus segera terbagi menjadi bentuk
cabang medial dan cabang lateral. Cabang medial naik melalui kolumna dorsalis dan dengan
jaras kolumna dorsalis akan meneruskan jalannya ke otak.
Cabang lateral memasuki radiks dorsalis substansia grisea medula spinalis dan
kemudian bercabang banyak sekali, bersinaps dengan neuron-neuron di hampir semua bagian
intermediat dan anterior substansia grisea medula spinalis. Neuron-neuron yang dieksitasi
akan melakukan tiga fungsi:
(1) Beberapa di antaranya mengeluarkan serabut kedua yang masuk kembali ke kolumna
dorsalis untuk membentuk kurang lebih 15 persen dari seluruh serabut kolumna
dorsalis, dan beberapa serabut kedua lainnya memasuki kolumna posterolateralis,
membentuk traktus spinoservikalis yang bergabung kembali dengan sistem kolumna
dorsalis di leher dan medula bagian bawah.
(2) Banyak neuron menimbulkan refleks medula spinalis lokal
(3) Yang lainnya dapat merangsang traktus spinoserebelaris
Serabut-serabut saraf yang memasuki kolumna dorsalis akan melewati kolumna naik
menuju medula oblongata, di mana serabut-serabut ini akan bersinaps pada nuklei kolumna
dorsalis (nuklei grasilis dan nuklei kuneatus). Dari nuklei ini, neuron kedua akan segera
menyilang ke sisi yang berlawanan dan selanjutnya akan naik melewati jaras bilateral batang
otak yang disebut lemniskus medialis. Dalam jaras yang melewati batang otak ini, lemniskus
medialis bergabung dengan serabut-serabut tambahan yang berasal dari nukleus sensorik
utama nervus trigeminal; serabut-serabut ini akan membantu fungsi sensorik yang sama
untuk kepala seperti serabut kolumna dorsalis membantu untuk tubuh.
Di talamus, serabut lemniskus medialis yang berasal dari kolumna dorsalis berakhir
pada nukleus posterolateral ventralis, sedangkan serabut-serabut yang berasal dari nuklei
trigeminal berakhir di nukleus posteromedial ventralis. Kedua nuklei ini, bersama dengan
nuklei talami posterior, tempat beberapa serabut dari sistem anterolateral berakhir berakhir,
bersama-sama dikenal sebagai kompleks ventrobasal. Dari kompleks ventrobasal ini, ada
penjuluran serabut saraf yang ketiga, yakni yang terutama menuju girus postsentralis dari
korteks serebri yang disebut area somato sensorik I.
Orientasi Spasial Serabut Saraf pada Sistem Kolumna Dorsalis – Lemniskus Medialis
Salah satu perbedaan yang terdapat dalam sistem kolumna dorsalis – lemniskus
medialis adalah adanya orientasi spasial yang jelas pada serabut saraf yang berasal dari
bagian-bagian tubuh dan orientasi ini tetap dipertahankan. Contohnya, dalam kolumna
dorsalis, serabut-serabut yang berasal dari bagian bawah tubuh terletak berhadapan dengan
bagian pusat medula spinalis, sedangkan serabut yang memasuki medula spinalis pada
segmen medula spinalis yang lebih tinggi akan diletakkan di sebelah lateral.
Dalam talamus, orientasi spasial yang jelas masih tetap dipertahankan, dengan bagian
terakhir tubuh digambarkan oleh sebagian besar bagian lateral kompleks ventrobasal, dan
kepala serta wajah digambarkan di bagian medial kompleks tersebut. Walaupun demikian,
oleh karena lemniskus medialis menyilang di medula oblongata, maka sisi kiri tubuh akan
digambarkan di sisi kanan talamus, dan sisi kanan tubuh akan digambarkan di sisi kiri
talamus.
Anatomi Jaras Anterolateral
Jaras anterolateral, kebalikan dengan jaras kolumna dorsalis, menjalarkan sinyal
sensorik yang tidak memerlukan pemisahan lokalisasi secara rinci dari sumber sinyal dan
yang tidak memerlukan pemisahan lokalisasi secara rinci dari sumber sinyal dan yang tidak
memerlukan pembedaan gradasi intensitas yang kecil. Jenis sinyal yang dijalarkan antara lain
rasa nyeri, panas, dingin, raba, kasar, geli dan gatal, serta sensasi sensual.
Serabut-serabut anterolateral terutama berasal dari laminae I, IV, V, dan VI radiks
dorsalis tempat berakhirnya sebagian besar serabut-serabut saraf sensorik radiks dorsalis
setelah memasuki medula spinalis. Selanjutnya, serabut-serabut akan menyilang pada
komisura anterior medula spinalis menuju kolumna alba anterolateral sisi berlawanan, di
mana serabut-serabut itu akan naik ke otak. Serabut-serabut ini lebih cenderung naik ke atas
daripada menyebar di seluruh kolumna anterolateral. Namun, dari penelitian-penelitian
anatomik diduga ada diferensiasi sebagian jaras menjadi divisi anterior, yang disebut traktus
spinotalamikus lateral. Jaras anterolateral juga meliputi jaras spinoretikularis (yang menuju
ke tektum mesensefalon) dan traktus spinotektalis (yang menuju ke tektum mesensefalon).
Ujung-ujung atas jaras anterolateral akan memperbanyak diri terutama menjadi dua
kali lipat melalui nuklei retikuler batang otak dan dalam kedua macam kompleks nuklei
talami yang berbeda, yakni kompleks ventrobasal dan nuklei intralaminar. Pada umumnya,
sinyal taktil akan dijalarkan terutama ke dalam kompleks ventrobasal, berakhir pada nuklei
talami medial dan lateral posterior ventral di mana sinyal taktil kolumna dorsalis berakhir.
Dari sini, sinyal taktil akan dijalarkan ke korteks somatosensorik bersama dengan sinyalsinyal yang berasal dari kolumna dorsalis.
Sebaliknya, hanya beberapa sinyal nyeri saja yang diproyeksikan pada kompleks
ventrobasal. Malah sebagian besar sinyal nyeri memasuki nuklei retikularis batang otak dan
kemudian disebarkan dari batang otak dan kemudian disebarkan dari batang otak ke nuklei
intralaminar talami.
Pada umumnya, seperti halnya dalam sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis,
pada penjalaran dalam jaras anterolateral juga diterapkan prinsip-prinsip yang sama, di
samping adanya perbedaan-perbedaan berikut:
(1) Kecepatan penjalarannya hanya setengah sampai sepertiga kecepatan penjalaran
dalam sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis, batasannya antara 8 dan 40
m/detik
(2) Derajat sinyal lokalisasi spasial rendah, khususnya bagi jaras rasa nyeri
(3) Derajat intensitas juga sangat kecil, sebagian besar kekuatan sensasinya sudah dapat
dikenali dalam tahap 10 sampai 20 derajat, dibandingkan dalam sistem kolumna
dorsalis – lemniskus medialis yang baru dapat dikenali bila sudah mencapai 100
derajat
(4) Kemampuan menjalarkan sinyal yang berulang-ulang dan cepat sangat kecil
Jadi, jelas bahwa sistem anterolateral merupakan sistem penjalaran yang lebih kasar
daripada sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis. Walaupun demikian, sistem ini
hanya menjalarkan beberapa model sensasi yang tertentu saja dan tidak semuanya dalam
sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis.
Fungsi Talamus pada Sensasi Somatik
Bila korteks somatosensorik manusia rusak, maka penderita akan kehilangan sebagian
besar rasa taktil yang kritis, tapi hanya sedikit rasa taktil kasar yang dapat pulih kembali.
Oleh karena itu, talamus dapat dianggap mempunyai sedikit kemampuan untuk
mendiskriminasi sensasi taktil meskipun talamus sebenarnya mempunyai fungsi normal
menyiarkan jenis informasi ini ke korteks.
Sebaliknya, hilangnya korteks somatosensorik mempunyai sedikit pengaruh pada
kemampuan persepsi seseorang terhadap sensasi nyeri dan cukup besar pengaruhnya pada
persepsi suhu. Oleh karena itu, ada banyak alasan untuk mempercayai bahwa batang otak,
talamus, dan regio basal otak lainnya yang berkaitan mungkin sangat berperan dalam
diskriminasi rasa ini.
Selain sinyal somatosensorik yang dijalarkan dari perifer ke otak, sinyal kortikofungal
juga dijalarkan dengan arah kebalikan dari korteks serebral ke daerah penyiaran sensorik
yang lebih rendah di talamus, medula oblongata, dan medula spinalis; mengendalikan
sensitivitas sensorik yang masuk. Sinyal kortikofugal bersifat menghambat, dengan demikian
ketika intensitas yang masuk menjadi terlalu besar, sinyal kortikofugal secara otomatis
mengurangi penjalaran dalam nuklei penyiaran. Hal ini terjadi dalam dua cara, pertama
dengan mengurangi penyebaran sinyal sensorik lateral ke neuron yang berdekatan, dan
karena itu, meningkatkan deajat kontras pola sinyal. Kedua, dengan menjaga sistem sensorik
untuk tetap bekerja dalam rentang sensitivitas yang tidak terlampau lambat sehingga sinyal
menjadi tidak memberi efek, atau terlalu tinggi sehingga sistem terbanjiri melebihi
kapasitasnya untuk membedakan pola sensorik. Prinsip pengendali sensorik kortikofugal ini
dipergunakan oleh semua sistem sensorik yang berbeda-beda, tidak hanya sistem somatik
saja.
Sinyal Nyeri
Sekalipun semua reseptor merupakan ujung serabut saraf bebas, dalam menjalarkan
sinyal rasa nyeri ke sistem saraf pusat ujung-ujung serabut saraf ini menggunakan dua jaras
yang terpisah. Kedua jaras ini paling sedikit berhubungan dengan dua tipe rasa nyeri yakni,
jaras rasa nyeri tajam yang cepat dan jaras rasa nyeri lambat yang kronik.
Sinyal nyeri tajam yang cepat dirangsang oleh stimuli mekanik atau suhu; sinyal ini
dijalarkan melalui saraf perifer ke medula spinalis oleh serabut-serabut kecil tipe Aδ pada
kecepatan penjalaran antara 6 sampai 30 m/detik. Sebaliknya, tipe rasa nyeri lambat
khususnya dirangsang oleh stimuli nyeri tipe kimiawi tetapi juga oleh stimuli mekanik dan
suhu yang menetap; nyeri lambat kronik ini dijalarkan oleh serabut tipe C dengan kecepatan
penjalaran antara 0,5 sampai 2 m/detik.
Karena sistem persarafan rasa nyeri ini bersifat rangkap, maka stimulus rasa nyeri
yang hebat dan datangnya mendadak akan menimbulkan sensasi nyeri yang sifatnya
“rangkap”: rasa nyeri tajam yang dijalarkan ke otak oleh jaras serabut Aδ, yang selanjutnya
akan diikuti oleh sedetik atau lebih rasa nyeri lambat yang dijalarkan oleh jaras serabut C.
Rasa nyeri tajam dengan cepat akan memberitahu penderita adanya suatu kerusakan, dan
karena itu membuat penderita segera bereaksi memindahkan dirinya dari stimulus tadi.
Sebaliknya, rasa nyeri lambat cenderung menjadi bertambah hebat dari waktu ke waktu.
Sensasi ini akan menyebabkan seseorang menderita rasa nyeri yang tak tertahankan yang
sifatnya terus-menerus dan lama.
Sewaktu memasuki medula spinalis dari radiks spinalis dorsalis, serabut rasa nyeri
berakhir pada neuron-neuron di kornu dorsalis. Di sini, terdapat dua sistem untuk mengolah
sinyal-sinyal rasa nyei pada jalurnya ke otak.
Jaras Nyeri Rangkap Dua pada Medula Spinalis dan Batang Otak – Traktus
Neospinotalamikus dan Traktus Paleospinotalamikus
Sewaktu memasuki medula spinalis, sinyal rasa nyeri melewati dua jaras ke otak, melalui
traktus neospinotalamikus dan melalui traktus paleospinotalamikus.
1. Traktus Neospinotalamikus untuk Rasa Nyeri Cepat
Serabut rasa nyeri cepat tipe Aδ terutama dialaui oleh rasa nyeri mekanik dan
nyeri suhu akut. Serabut ini berakhir pada lamina I (lamina marginalis) pada kornu
dorsalis,
dan
di
sini
merangsang
neuron
pengantar
kedua
dari
traktus
neospinotalamikus. Neuron ini akan mengirimkan sinyal ke serabut panjang yang
terletak di dekat sisi lain medula spinalis dalam komisura anterior dan selanjutnya
naik ke otak dalam kolumna anterolateralis.
Beberapa serabut traktus neospinotalamikus berakhir di daerah retikularis
batang otak, tetapi sebagian besar melewati semua jalur ke talamus, berakhir di
kompleks ventrobasal di sepanjang kolumna dorsalis – traktus lemniskus medialis
untuk sensasi raba. Ada beberapa yang berakhir di kelompok nuklear posterior. Dari
sini sinyal akan dijalarkan ke daerah lain pada basal otak dan juga ke korteks
somatosensorik.
Nyeri jenis cepat dan tajam dapat dilokalisasikan dengan jauh lebih pasti di
berbagai bagian tubuh daripada nyeri yang lambat dan kronik. Namun, bahkan nyeri
cepat pun, ketika hanya reseptor nyeri saja yang terangsang tanpa secara bersamaan
merangsan reseptor raba, ini masih kurang bisa dilokalisasikan, seringkali hanya
dalam luas daerah perangsangan 10 sentimeter atau lebih. Ternyata ketika reseptor
raba yang merangsan sistem lemniskus medialis kolumna dorsalis juga dirangsang,
lokasi nyeri dapat ditentukan dengan pasti.
Diduga bahwa glutamat merupakan
substansi
neurotransmiter
yang
disekresikan di medula spinalis pada ujung-ujung serabut nyeri saraf tipe Aδ. Ini
adalah salah satu dari sekian banyak transmiter eksitasi yang banyak digunakan dalam
sistem saraf pusat, biasanya memiliki masa kerja yang berlangsung hanya beberapa
milidetik saja.
2. Jaras Paleospinotalamikus untuk Menjalarkan Nyeri Lambat – Kronik
Jaras paleosinotalamikus adalah sistem yang jauh lebih tua, dan penjalaran
rasa nyeri terutama dibawa dalam serabut nyeri tipe C lambat – kronik di perifer,
walaupun jaras ini menjalarkan beberapa sinyal dari serabut tipe Aδ juga. Dalam jaras
ini, serabut-serabut perifer berakhir hampir seluruhnya di lamina II dan III kornu
dorsalis, yang bersama-sama disebut substansia gelatinosa, seperti yang digambarkan
oleh serabut radiks dorsalis paling lateral. Sebagian besar sinyal kemudian melewati
satu atau lebih neuron-neuron serabut pendek tambahan di dalam kornu dorsalisnya
sebelum memasuki lamina V melalui lamina VII, juga di kornu dorsalis. Di sini,
neuron terakhir dalam rangkaian merangsang akson-akson panjang yang sebagian
besar menyambungkan serabut-serabut dari jaras cepat, yang mula-mula melewati
komisura anterior ke sisi berlawanan dari medula spinalis dan kemudian naik ke otak
dalam jaras anterolateral yang sama.
Dari percobaan penelitian diduga bahwa ujung serabut nyeri tipe C yang
memasuki medula spinalis mungkin mengeluarkan transmiter glutamat dan transmiter
substansi P. Transmiter glutamat bekerja segera dan hanya berlangsung beberapa
milidetik saja. Sebaliknya, substansi P dilepaskan jauh lebih lambat, mencapai
pemekatan dalam waktu beberapa detik atau bahkan beberapa menit. Kenyataannya,
ada dugaan bahwa sensasi nyeri ganda dapat menghasilkan sebagian maupun
keseluruhan dari kenyataan bahwa transmiter glutamat memberikan sensari nyeri
cepat, sedangkan transmiter substansi P memberikan sensasi yang lebih lambat. Jelas
bahwa glutamat adalah neurotransmiter yang paling berperan dalam menjalarkan rasa
nyeri cepat ke dalam sistem saraf pusat, sedangkan substansi P (dan peptida lainnya
yang berkaitan) berhubungan dengan rasa nyeri lambat – kronik.
Jaras paleospinotalamikus lambat – kronik berakhir secara luas dalam batang
otak. Hanya sepersepuluh sampai seperempat serabut yang melewati seluruh jalur
talamus. Namus demikian, secara prinsip, serabut-serabut ini berakhir di satu dari tiga
daerah berikut: nukleus retikularis medula, pons, dan mesensefalon; area tektal dari
mesensefalon dalam sampai kolikul superior dan inferior; atau daerah substansia abuabu preduktal, yang mengelilingi aqueduktus Sylvius. Daerah yang lebih rendah dari
batatng otak ini tampaknya penting dalam mengapresiasikan rasa sakit dan nyeri. Dari
area nyeri batang otak, banyak neuron-neuron serabut pendek yang memancarkan
sinyal nyeri naik ke intralaminar dan nukleus lateral pusat dari talamus dan ke dalam
bagian tertantu hipotalamus dan daerah lain yang berdekatan di dasar otak.
Lokalisasi nyeri yang dijalarkan dalam jaras paleospinotalamikus bersifat
buruk. Sebagai contoh, nyeri jenis kronik lambat dapat selalu dilokalisasikan hanya
pada bagian tubuh yang luas seperti untuk satu lengan atau tungkai, tetapi tidak untuk
daerah yang lebih rinci dari lengan atau tungkai. Hal ini dipertahankan oleh jaras yang
berkonektivitas difus dan multisinaptik ini.
Pembuangan secara komplit area sensorik korteks serebri tak akan
mengganggu kemampuan untuk merasakan nyeri. Oleh karena itu, ada anggapan
bahwa impuls nyeri yang memasuki formasio retikularis, talamus, dan pusat-pusat
yang lebih rendah lainnya dapat menimbulkan persepsi nyeri yang disadari. Ada
anggapan bahwa korteks berperan penting dalam menginterpretasikan kualitas nyeri
meskipun persepri nyeri secara prinsip merupakan fungsi dari pusat-pusat yang lebih
rendah.
Sensasi Suhu
Gradasi termal dapat dibedakan oleh paling sedikit tiga macam reseptor sensorik:
reseptor dingin, reseptor hangat, dan reseptor rasa nyeri. Reseptor rasa nyeri hanya
dirangsang oleh gradasi panas atau dingin yang ekstrem, karena itu bersama dengan reseptor
dingin dan reseptor hangat bertanggung jawab terhadap terjadinya sensasi sangat dingin
(freezing cold) dan sensasi panas yang menyengat (burning hot).
Pada umumnya, penjalaran sinyal suhu hampir selalu sejajar, namun tidak persis sama
seperti sinyal nyeri. Sewaktu memasuki medula spinalis, sinyal akan menjalar dalam traktus
Lissauer sebanyak beberapa segmen di atas atau bawah, dan selanjutnya akan berakhir
terutama pada lamina I, II, III radiks dorsalis, sama seperti untuk rasa nyeri. Sesudah ada
percabangan satu atau lebih neuron dalam medula spinalis, maka sinyal akan dijalarkan ke
serabut termal asenden yang menyilang ke traktus sensorik anterolateral sisi berlawanan dan
akan berakhir di area retikular batang otak dan kompleks ventrobasal talamus.
Beberapa sinyal suhu dari kompleks ventrobasal akan dipancarkan menuju korteks
somatosensorik. Adakalanya, dengan penelitian mikroelektroda ditemukan suatu neuron pada
area somatosensorik I yang dapat langsung berespons terhadap stimulus dingin atau hangat
pada daerah kulit yang spesifik. Selanjutnya, telah diketahui bahwa pembuangan girus
postsentralis pada manusia dapat mengurangi tapi tidak melenyapkan kemampuan untuk
membedakan gradasi suhu.
Gambar 8. (A) Traktus Spinoserebelaris Anterior dan Posterior; (B) Kolumna Posterior;
(C) Traktus Spinotalamikus Anterior; (D) Traktus Spinitalamikus Lateralis
2.3.2 Sensasi Penglihatan
Setelah meninggalkan retina, impuls saraf berjalan ke belakang melalui nervus
optikus. Di kiasma optikum semua serabut dari bagian nasal retina menyeberangi garis
tengah, tempat mereka bergabung dengan serabut-serabut yang berasal dari bagian temporal
retina mata yang lain sehingga tebentuklah traktus optikus. Serabut-serabut dari traktus
optikus bersinaps di nukleus genikulatum lateral dorsalis, dan dari sini serabut-serabut
genikulokalkarina berjalan melalui radiasi optika (atau traktus genikulokalkarina), menuju
korteks penglihatan primer yang terletak di area kalkarina lobus oksipitalis.
Selain itu, serabut penglihatan melalui tempat-tempat lain di otak:
(1) Dari traktus optikus menuju nukleus suprakiasmatik di hipotalamus, mungkin untuk
pengaturan irama sirkardian
(2) Ke nuklei pretektalis, untuk mendatangkan gerakan refleks mata agar dapat
difokuskan ke arah objek yang penting dan untuk mengaktifkan refleks pupil terhadap
cahaya
(3) Ke kolikulus superior, untuk pengaturan arah gerakan cepat kedua mata
(4) Menuju nukleus genikulatum lateral ventralis pada talamus dan kemudian ke daerah
basal otak sekitarnya, diduga untuk membantu mengendalikan beberapa fungsi sikap
tubuh
Jadi, jaras penglihatan secara kasar dapar dibagi menjadi sistem lama untuk otak tengah
dan dasar otak depan, serta sistem baru untuk penjalaran langsung ke dalam korteks
penglihatan. Sistem baru pada manusia menghasilkan persepsi seluruh aspek bentuk
penglihatan, warna, dan penglihatan sadar lainnya.
Serat saraf optik dari sistem penglihatan baru semuanya berakhir di nukleus
genikulatum lateral dorsalis, yang terletak di ujung dorsal talamus dan juga secara sederhana
disebut korpus genikulata lateralis. Nukleus genikulata lateralis dorsalis melakukan dua
fungsi utama: Pertama, nukleus ini memancarkan informasi penglihatan dari traktus optikus
ke korteks penglihatan melalui radiasi optik (juga disebut traktus genikulokalkarina). Fungsi
pemancaran ini bersifat akurat, sehingga didapatkan penjalaran dari titik ke titik secara pasti
dengan ketelitian derajat tinggi pada seluruh jalur dari retina ke korteks penglihatan.
Setelah melewati kiasma optikus, separuh dari serat-serat pada setiap traktus optikus
berasal dari satu mata dan separuh lainnya berasal dari mata yang lain, hal ini mewakili titiktitik yang berhubungan pada kedua retina. Namun, sinyal dari kedua mata tetap terpisah di
nukleus genikulata lateralis dorsalis. Nukleus ini terdiri dari enam lapisan inti. Lapisan II, III,
dan V (dari ventral ke dorsal) menerima sinyal dari bagian temporal retina ipsilateral,
sedangkan lapisan I, IV, dan VI menerima sinyal dari retina mata kontralateral. Daerahdaerah di kedua retina yang sesuai akan berhubungan dengan sel-sel saraf yang hampir
tumpang tindih dalam lapisan-lapisan yang berpasangan, dan penjalaran serupa yang bersifat
paralel dilakukan pada seluruh jalur kembali ke korteks penglihatan.
Fungsi utama yang kedua dari nukleus genikulata lateralis dorsalis adalah
membentengi penjalaran sinyal-sinyal ke korteks penglihatan, yakni untuk mengendalikan
seberapa besar sinyal yang diperbolehkan melewati korteks. Nukleus menerima sinyal-sinyal
pengatur pembentengan ini dari dua sumber utama: dari serat kortikofugal yang kembali
dalam arah balik dari korteks penglihatan primer ke nukleus genikulata lateralis dan dari
daerah retikular mesensefalon. Keduanya ini bersifat inhibitor, dan bila dirangsang dapat
benar-benar mematikan penjalaran yang melalui bagian-bagian tertentu dari nukleus
genikulata lateralis dorsalis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kedua lingkaran
pembentengan ini dapat membantu mengatur informasi penglihatan yang dimungkinkan
untuk dapat lewat.
Nukleus genikulata lateralis dorsalis tebagi dalam bentuk lain:
(1) Lapisan I dan II yang disebut lapisan magnoselular, karena lapisan ini berisi neuronneuron besar. Lapisan ini menerima masukan hampir seluruhnya dari sel ganglion
retina tipe Y yang besar. Sistem magnoselular ini menyediakan jaras penghantaran
yang bersifat cepat ke korteks penglihatan.
(2) Lapisan III sampai lapisan VI disebut lapisan parvoselular karena mengandung
banyak sekali neuron-neuron berukuran kecil sampai sedang. Neuron-neuron ini
menerima masukan hampir seluruhnya dari sel ganglion retina tipe X yang
menjalarkan warna dan menyampaikan informasi spasial yang akurat dari titik ke titik
tetapi pada kecepatan penghantaran yang sedang saja, dan tidak dengan kecepatan
tinggi.
2.3.3 Sensasi Pendengaran
Serabut saraf dari ganglion spiralis corti memasuki nukleus koklearis dorsalis dan
ventralis yang terletak pada bagian atas medula. Pada titik ini, semua sinaps serabut dan
neuron tingkat dua berjalan terutama ke sisi yang berlawanan dari batang otak dan berakhir di
nukleus olivarius superior. Beberapa serat tingkat kedua lainnya juga berjalan secara
ipsilateral ke nukleus olivarius superior pada sisi yang sama. Dari nukleus olivarius superior,
jaras pendengaran kemudian berjalan ke atas melalui lemniskus lateral; beberapa serabut
berakhir di nukleus lemniskus lateralis. Banyak yang memintas nukleus ini dan berjalan ke
kolikulus inferior, tempat semua atau hampir semua serabut ini berakhir. Dari sini, jaras
berjalan ke nukleus genikulata medial, tempat semua serabut bersinaps. Dan akhirnya, jaras
berlanjut melalui radiasio auditorius ke korteks auditorus, yang terutama terletak pada girus
superior lobus temporalis.
Sinyal dari kedua telinga dijalarkan melalui jaras kedua sisi otak dengan penjalaran
yang sedikit lebih besar pada jaras kontralateral. Pada sekurang-kurangnya tiga tempat dalam
batang otak, terjadi persilangan antara kedua jaras ini, yaitu dalam korpus trapezoid; dalam
komisura Probst antara dua inti lemniskus lateral; dan dalam komisura yang menghubungkan
dua kolikuli inferior.
Banyak serabut kontralateral dari traktus auditorius berjalan langsung ke dalam sistem
aktivari retikular dari batang otak. Sistem ini menonjol secara difus ke atas dalam batang otak
dan ke bawah ke dalam medula spinalis dan mengaktivasi seluruh sistem saraf untuk
memberi respon terhadap suara yang keras. Kolateral lain menuju ke vermis serebelum, yang
juga diaktivasi seketika itu juga jika ada suara keras yang timbul mendadak.
Derajat tinggi orientasi spasial dipertahankan dalam traktus serabut yang berasal dari
koklea pada semua jalur ke korteks. Pada kenyataannya, ada tiga penyajian spasial dari
frekuensi suara dalam inti koklear, dua menyajikan frekuensi suara dalam kolikuli inferior,
satu dengan tepat menyajikan untuk frekuensi suara yang berlainan dalam korteks auditorius,
dan sekurang-kurangnya lima lainnya dengan tepat menyajikan dalam korteks auditorius dan
daerah lainnya yang berhubungan dengan pendengaran.
2.3.4 Sensasi Pengecap
Impuls pengecap dari dua pertiga anterior mula-mula akan diteruskan ke saraf kelima,
kemudian melalui korda timpani menuju ke nervus fasialis, dan akhirnya ke traktus solitarius
pada batang otak. Sensasi pengecap dari papila sirkumvalata pada bagian belakang lidah dan
dari daerah posterior rongga mulut yang lain akan ditransmisikan melalui nervus
glossofaringeus ke traktus solitarius tetapi pada ketinggian yang sedikit lebih rendah.
Akhirnya, beberapa sinyal pengecap akan ditransmisikan ke traktus solitarius dari basis lidah
dan bagian-bagian lain dari daerah faring melalui nervus vagus.
Semua serabut pengecap bersinaps pada nukleus traktus solitarius dan mengeluarkan
neuron susunan kedua ke daerah kecil dari nukleus medial posterior sentral talamus yang
terletak sedikit medial dari ujung talamus daerah fasial dari sistem lemniskus medalis –
kolumna dorsalis. Dari talamus, neuron ketiga ditransmisikan ke ujung bawah girus
postsentralis pada korteks parietalis tempat neuron melingkar ke dalam fisura sylvian dan ke
dalam daerah operkularinsular, juga di fisura sylvian. Daerah ini terletak sedikit lateral,
ventral, dan rostral terhadap daerah lidah dari area somatik I. Dari deskripsi jaras pengecap
ini, dengan segera dapat terlihat bahwa jaras ini sangat paralel dengan jaras somatik dari
lidah.
Dari traktus solitarius, sejumlah besar impuls ditransmisikan di dalam batang otak itu
sendiri langsung ke nukleus salivatorius inferior dan superior, dan ini sebaliknya akan
mentransmisikan impuls ke glandula submandibularis, sublingualis, dan parotis untuk
membantu mengendalikan sekresi saliva selama proses penelanan makanan.
Gambar 9. Jaras Sensorik melalui Talamus dan Kapsula Interna ke Korteks Serebri
KESIMPULAN
Thalamus ditemukan pada kedua sisi ventrikel ketiga dan terdiri dari berbagai nukleus dengan
fungsi berbeda. Fungsi thalamus sangat rumit karena banyaknya jumlah nukleus yang dimilikinya dan
hubungan aferen dan eferennya yang sangat bervariasi:

Pertama-tama, thalamus merupakan titik pertemuan subkortikal terbesar untuk semua impuls

sensorik propioseptif dan eksteroseptif
Selain itu, struktur ini merupakan stasiun relay untuk semua impuls yang timbul di reseptor
sensorik kutaneus dan reseptor sensorik viseral, impuls auditorik dan visual, dan impuls dari
hipothalamus, serebelum, dan formasio retikularis batang otak; semua impuls diproses di
thalamus sebelum ditransmisikan ke struktur lainnya. Thalamus mengirimkan komponen
eferen ke striatum, tetapi sebagian besar outputnya berjalan ke korteks serebri. Semua impuls
sensorik (semua impuls olfaktori) harus berjalan melewati thalamus sebelum dapat disadari.
Dengan demikian, thalamus dulu disebut “pintu gerbang kesadaran”, meskipun persepsi bau
yang disadari menunjukkan bahwa konsep ini tidak sempurna dan kemungkinan

menyesatkan.
Namun, thalamus bukan serta merta sebagai stasiun relay, tetapi pusat integrasi dan
koordinasi yang penting; keempat impuls aferen berbagai modalitas, dari regio tubuh yang
berbeda, diintegrasikan dan diberikan pewarnaan afektif. Substrat neural fenomena dasar
tertentu seperti nyeri, rasa tidak senang, dan rasa nyaman telah terdapat di thalamus sebelum

ditransmisikan ke atas menuju korteks.
Melalui hubungan timbal-baliknya (lengkung umpan-balik) dengan korteks motorik, beberapa

di antaranya melewati ganglia basalia dan serebelum, thalamus memodulasi fungsi motorik.
Beberapa nuklei thalami juga merupakan komponen ascending reticular activating system
(ARAS), sistem kewaspadaan spesifik yang berasal dari otak. Impuls pengaktivasi dari ARAS
dihantarkan oleh nuklei thalami tertentu (nukleus ventralis anterior, nukleus intralaminaris,
terutama nukleus sentromedian, nukleus retikularis) ke seluruh neokorteks. ARAS yang intak
penting untuk kesadaran yang normal.
DAFTAR PUSTAKA
1. Baehr M, Frotscher M. Diagnosis Topik Neurologi DUUS, Anatomi, Fisiologi,
Tanda, Gejala. Jakarta: EGC; 2012. p. 231-243
2. Sadler TW. Langman Embriologi Kedokteran. Jakarta: EGC; 2010. p. 347-354.
3. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC; 2010
4. Saalmann Y.B, Kastner S. Cognitive and Perceptual Functions of the Visual
Thalamus. Neuron 71. 2011.
5. Guilery RW, Sherman SM. Thalamic Relay Functions and Review Their Role in
Corticocortical Communication: Generalization from the Visual System. Neuron,
Vol. 33, p. 163-175. 2002
Download