bab i pendahuluan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Masalah kesehatan dengan gangguan sistem pernapasan masih menduduki
peringkat yang tinggi sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Efusi pleura
adalah salah satu kelainan yang mengganggu sistem pernapasan Efusi pleura sendiri
sebenarnya bukanlah diagnosa dari suatu penyakit melainkan hanya lebih merupakan
symptom atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura adalah suatu keadaan
dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura, dimana kondisi ini jika dibiarkan
akan membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson, MD, 1995, Waspadji Sarwono
(1999, 786).
Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung, adanya
neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari
organ lain), tuberculosis paru, infark paru, trauma, pneumoni, syndroma nefrotik,
hipoalbumin dan lain sebagainya. (Allsagaaf H, Amin M Saleh, 1998, 68).
Tingkat kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan, kecepatan
pembentukan cairan dan tingkat penekanan pada paru. Jika efusi luas, expansi paru
akan terganggu dan pasien akan mengalami sesak, nyeri dada, batuk non produktif
bahkan akan terjadi kolaps paru dan akibatnya akan terjadilah gagal nafas. Kondisikondisi tersebut diatas tidak jarang menyebabkan kematian pada penderita efusi
pleura.
Berbagai permasalahan keperawatan yang timbul baik masalah aktual maupun
potensial akibat adanya efusi pleura antara lain adalah ketidak efektifan pola nafas,
gangguan rasa nyaman, kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, gangguan
pemenuhan kebutuhan nutrisi yang menyebabkan penurunan berat badan pasien serta
masih banyak lagi permasalahan lain yang mungkin timbul.
[1]
2. Rumusan Masalah
a. Apakah definisi dari Efusi Pleura?
b. Bagaimana anatomi fisiologi Pleura?
c. Bagaimana patofisiologi dari Efusi Pleura?
d. Bagaimana WOC dari Efusi Pleura?
e. Apakah manifestasi klinis dari Efusi Pleura?
f. Apa saja pemeriksaan diagnostik dari Efusi Pleura?
g. Bagaimana penatalaksanaan dari Efusi Pleura?
h. Bagaiman asuhan keperawatan dari Efusi Pleura?
i. Apa komplikasi yang terjadi akibat efusi pleura?
3. Tujuan
a. Mengetahui definisi dari Efusi Pleura
b. Mengetahui anatomi fisiologi Pleu
ra
c. Mengetahui patofisiologi dari Efusi Pleura
d. Mengetahui WOC dari Efusi Pleura
e. Mengetahui manifestasi klinis dari Efusi Pleura
f. Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari Efusi Pleura
g. Mengetahui penatalaksanaan dari Efusi Pleura
h. Mengetahui asuhan keperawatan dari Efusi Pleura
i. Mengetahui komplikasi dari efusi peura
[2]
BAB II
TINJAUAN TEORI
1. Definisi Efusi Pleura
Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit
primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat
berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa
darah atau pus (Baughman C Diane, 2000).
Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak
diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi
biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang
pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas
yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C
Suzanne, 2002).
2. Anatomi fisiologi Pleura
a. Anatomi
pleura merupakan lapisan pembungkus paru (pulmo). Dimana antara pembungkus
pulmo dextra et sinistra dipisahkan oleh adanya mediastinum. Pleura dari interna ke
eksterna terbagi atas 2 bagian:

pleura viseralis, yaitu pleura yang langsung melekat pada permukaan pulmo

pleura parietaisl bagian pleura yang berbatasan lansung dengan dinding
torak
Kedua lapisan pleura tersebut saling berhubungan pada hilus pulmonalis sebagai
pleura penghubung. Diantara rongga ini terdapat rongga yag di sebut cavum pleura.
Dimana terdapat sedikit cairan pleura yang berfungsi agar tidak terjadi gesekan antar
pleura ketika proses pernafasan
[3]
b. Fisiologi
Permukaan rongga pleura berbatasan lembab sehingga mudah bergerak satu ke
yang lainnya (John Gibson, MD, 1995, 123). Dalam keadaan normal seharusnya tidak
ada rongga kosong diantara kedua pleura karena biasanya hanya terdapat sekitar 10-20
cc cairan yang merupakan lapisan tipis serosa yang selalu bergerak secara teratur
(Soeparman, 1990, 785).
Setiap saat jumlah cairan dalam rongga pleura bisa menjadi lebih dari cukup untuk
memisahkan kedua pleura, maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh
pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga pleura ke dalam
mediastinum. Permukaan superior dari diafragma dan permukaan lateral dari pleura
parietis disamping adanya keseimbangan antara produksi oleh pleura parietalis dan
absorbsi oleh pleura viseralis . Oleh karena itu ruang pleura disebut sebagai ruang
potensial. Karena ruang ini normalnya begitu sempit sehingga bukan merupakan ruang
fisik yang jelas. (Guyton dan Hall, Ege,1997, 607).
Fungsi mekanis pleura adalah meneruskan tekanan negative thoraks kedalam paruparu, sehingga paru-paru yang elastic dapat mengembang. Cairan dalam rongga pleura
bersifat steril karena mesothelia bekerja melakukan fagositosis benda asing dan cairan
yang di produksi nya bersifatsebagai pelican.
Caira rongga pleura sangat sedikit, sekitar 0.3 ml/kg, bersifat hipoonkotik dengan
knsentrasi 1 gr/dl. Gerakan pernafasan dan gravitasi kemungkinan besar ikut mengatur
jumlah produksi reabsorbsi cairan rongga pleura. Reabsorbsi terjadi terutama pada
pembuluh limfe pleura parietalis, dengan kecepatan 0.1 sampai 0.5 ml/kg/jam. Bial
terjadi gangguan produksi dan reabsorbsi akan mengakibatkan terjadinya efusi pleura
(Andra dan Yessi 2013, 170)
3. Patofisiologi Efusi Pleura
Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan
dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara
[4]
lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini terjadi karena
perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan interstisial submesotelial, kemudian
melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura. Selain itu cairan pleura dapat
melalui pembuluh limfe sekitar pleura.
Pleura parietalis dan viseralis letaknya berhadapan satu sama lain dan hanya
dipisahkan oleh selapis tipis cairan serosa. Lapisan tipis cairan ini memperlihatkan
adanya keseimbangan antara transudasi dai kapiler-kapiler pleura dan reabsorpsi oleh
vena visceral dan parietal, dan saluran getah bening. Efusi pleura dapat berupa
transudat atau eksudat.
Efusi cairan dapat berbentuk transudat, terjadinya karena penyakit lain bukan
primer paru seperti gagal jantung kongestif, sirosis hati, sindrom nefrotik, dialisis
peritoneum, hipoalbuminemia oleh berbagai keadaan, perikarditis konstriktiva,
keganasan, atelektasis paru dan pneumotoraks.
Pada kasus ini keseimbangan kekuatan menyebabkan pengeluaran cairan dari
pembuluh darah. Transudasi juga dapat terjadi pada hipoproteinemia, seperti pada
penyakit hati dan ginjal. Penimbunan transudat dalam rongga pleura hidrotoraks.
Cairan pleura cenderung tertimbun pada dasar paru akibat gaya gravitasi. Penimbunan
eksudat disebabkan oleh peradangan atau keganasan pleura, dan akibat peningkatan
permeabilitas kapiler dan atau gangguan absorpsi getah bening. Eksudat dibedakan
dengan transudat dari kadar protein yang dikandungnya dan berat jenis. Transudat
mempunyai berat jenis kurang dari 1,015 dan kadar proteinnya kurang dari 3%;
eksudat mempunyai berat jenis dan kadar protein lebih tinggi, karena banyak
mengandung sel.
Efusi eksudat terjadi bila ada proses peradangan yang menyebabkan permeabilitas
kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat
atau kuboidal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga pleura. Penyebab pleuritis
eksudativa yang paling sering adalah karena mikobkaterium tuberkulosis dan dikenal
sebagai pleuritis eksudativa tuberkulosa. Sebab lain seperti parapneumonia, parasit
(amuba, paragonimiosis, ekinokokkus), jamur, pneumonia atipik (virus, mikoplasma,
fever, legionella), keganasan paru, proses imunologik seperti pleuritis lupus, pleuritis
rematoid, sarkoidosis, radang sebab lain seperti pankreatitis, asbestosis, pleuritis uremia
[5]
dan akibat radiasi. Jika efusi pleura mengandung nanah, keadaan ini disebut empiema.
Empiema disebabkan oleh perluasan infeksi dari struktur yang berdekatan dan dapat
merupakan komplikasi dari pneumonia, abses paru, atau perforasi karsinoma ke dalam
rongga pleura.
Empiema yang tak ditangani dengan drainase yang baik dapat membahayakan
rangka toraks. Eksudat akibat peradangan akan mengalami organisasi, dan terjadi
perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan viseralis. Keadaan ini dikenal dengan
nama fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas, dapat menimbulkan hambatan mekanis
yang berat pada jaringan-jaringan yang terdapat di bawahnya. Pembedahan
pengupasan yang dikenal sebagai dekortikasi, kadangkadang perlu dilakukan guna
memisahkan membran-membran pleura tersebut. Istilah hemotoraks dipakai untuk
menyatakan perdarahan sejati ke dalam rongga pleura dan tidak dimaksudkan untuk
menyatakan efusi pleura yang berdarah. Trauma merupakan penyebab tersering dari
hemotoraks. Duktus torasikus dapat juga menyalurkan getah bening ke dalam rongga
pleura sebagai akibat trauma atau keganasan, keadaan ini dikenal dengan nama
kilotoraks.
PENYAKIT-PENYAKIT DENGAN EFUSI PLEURA
Pleuritis Karena Virus dan Mikoplasma
Efusi pleura karena virus atau mikoplasma agak jarang. Bila terjadi jumlahnya
tidak banyak dan kejadiannya hanya selintas saja. Jenis-jenis virusnya adalah:
echo virus, Coxsackie group, chlamidia, rickettsia dan mikoplasma. Cairan efusi
biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100 – 6.000 per cc. Gejala penyakit
dapat dengan keluhan sakit kepala, demam, malaise, mialgia, sakit dada, sakit perut.
Kadang-kadang
ditemukan
juga
gejala-gejala
perikarditis.
Diagnosis
ditegakkan dengan menemukan virus dalam cairan efusi, tapi cara termudah adalah
dengan mendeteksi antibody terhadap virus dalam cairan efusi.
Pleuritis karena bakteri piogenik
Permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang berasal dari jaringan
parenkim paru dan menjalar secara hematogen, dan jarang yang melalui penetrasi
diafragma, dinding dada atau esofagus.
[6]
Aerob : Streptokokus pneumonia, Streptokokus mileri, Stafilokokus aureus,
Hemophilus sp,Klebsiella, Pseudomonas sp.
Anaerob : Bakteroides sp, Peptostretokokus, Fusobakterium.
Pemberian kemoterapi dengan Ampisilin 4 x 1 gram dan Metronidazol 3x500 mg
hendaknya sudah dimulai sebelum kultur dan sensitivitas bakteri didapat. Terapi
lain yang lebih penting adalah mengalirkan cairan efusi yang terinfeksi tersebut
keluar dari rongga pleura dengan efektif.
Pleuritis tuberkulosa
Permulaan penyakit ini terlihat sebagai efusi yang sero-santokrom dan bersifat
eksudat. Penyakit ini kebanyakan terjadi sebagai komplikasi tuberkulosis paru
melalui fokus subpleura yang roberk atau melalui aliran getah bening. Sebab lain
dapat juga dari robeknya perkijuan ke arah saluran getah bening yang menuju
rongga pleura, iga atau kolumna vertebralis (menimbulkan penyakit paru Pott).
Dapat juga secara hematogen dan menimbulkan efusi pleura hemoragik. Jumlah
leukosit antara 500 – 2.000 per cc. Mula-mula yang dominan adalah sel
polimorfonuklear, tapi kemudian sel limfosit. Cairan efusi sangat sedikit
mengandung kuman tuberkulosis, tapi adalah karena reaksi hipersensitivitas
terhadap tuberkuloprotein. Pada dinding pleura dapat ditemukan adanya granuloma.
Diagnosis utama berdasarkan adanya kuman tuberkulosis dalam cairan efusi
(biakan atau dengan biopsi jaringan pleura.
Pada daerah-daerah dimana frekuensi tuberkulosis paru tinggi dan terutama
pada pasien usia muda, sebagian besar efusi pleura adalah karena pleuritis
tuberkulosa walaupun tidak ditemukan adanya granuloma pada biopsi jaringan
pleura. Pengobatan dengan obat-obat anti tuberkulosis memakan waktu 6-12 bulan.
Dosis dan cara pemberian obat seperti pada pengobatan tuberkulosis paru.
Pengobatan ini menyebabkan cairan efusi dapat diserap kembali, tapi untuk
menghilangkan eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan torakosentesis. Umumnya
cairan diresolusi dengan sempurna, tapi kadang-kadang dapat diberikan
kortikosteroid secara sistematik. (Prednison 1 mg/kg BB selama 2 minggu
kemudian dosis diturunkan secara perlahan).
[7]
Pleuritis fungsi
Pleuritis karena fungsi amat jarang. Biasanya terjadi karena penjalaran infeksi
fungsi dari jaringan paru. Jenis fungsi penyebab pleuritis adalah: Aktinomikosis,
Koksidiomikosis, Aspergillus, Kriptokokus, Histoplasmolisis, Blastomikosis, dll.
Patogenesis timbulnya efusi pleura adalah karena reaksi hipersensitivitas lambat
terhadap organisme fungsi.
Penyebaran fungsi ke organ tubuh lain amat jarang. Pengobatan dengan
AmfoterisinB memberikan respons yang baik. Prognosis penyakit ini relatif baik.
Pleuritis parasit
Parasit yang dapat menginfeksi ke dalam rongga pleura hanyalah amuba.
Bentuk tropozoitnya datang dari parenkim hati menembus diafragma terus ke
parenkim paru dan rongga pleura. Efusi pleura karena parasit ini terjadi karena
peradangan yang ditimbulkannya.
Di samping ini dapat juga terjadi empiema karena amuba yang cairannya
berwarna khas merah coklat. Disini parasit masuk ke rongga pleura secara migrasi
dari parenkim hati. Bisa juga karena adanya robekan dinding abses amuba pada hati
ke arah rongga pleura. Efusi parapneumonia karena amuba dari abses hati lebih
sering terjadi daripada empiema amuba.
Efusi pleura karena kelainan intra abdominal
Efusi pleura dapat terjadi secara steril karena reaksi infeksi dari peradangan
yang terdapat di bawah diafragma seperti pankreas atau eksaserbasi akut
pankreatitis kronik, abses ginjal, abses hati dan abses limpa.
Biasanya efusi terjadi pada pleura kiri tapi dapat juga bilateral. Mekanismenya
adalah karena berpindahnya cairan yang mengandung enzim pankreas ke rongga
pleura melalui saluran getah bening. Efusi ini bersifat eksudat serosa, tapi kadangkadang bisa juga hemoragik. Kadar amilase dalam efusi lebih tinggi daripada dalam
serum. Efusi pleura juga sering setelah 48-72 pasca operasi abdomen seperti
splenektomi, operasi terhadap obstruksi intestinal atau pasca operasi atelektasis.
Biasanya terjadi unilateral dan jumlah efusi tidak banyak (lebih jelas terlihat pada
foto lateral dekubitus). Cairan biasanya bersifat eksudat dan mengumpul pada sisi
[8]
operasi, efusi pleura operasi biasanya bersifat maligna dan kebanyakan akan
sembuh secara spontan.
Efusi pleura karena neoplasma
Neoplasma primer ataupun sekunder (metastasis) dapat menyerang pleura dan
umumnya menyebabkan efusi pleura. Keluhan yang paling sering banyak
ditemukan adalah sesak napas dan nyeri. Gejala lain adalah akumulasi cairannya
kembali dengan cepat walaupun dilakukan torakosentesis berkali-kali.
Efusi bersifat eksudat, tapi sebagian kecil (10%) bisa sebagai transudat. Warna
efusi bisa sero-santokrom ataupun hemoragik (terdapat lebih dari 100.000 sel
eritrosit per cc). Di dalam cairan ditemukan sel-sel limfosit (yang dominan) dan
banyak sel mesotelial. Pemeriksaan sitologi terhadap cairan efusi atau biopsi pleura
parietalis sangat menentukan diagnosis terhadap jenis-jenis neoplasma. Terdapat
beberapa teori tentang timbulnya efusi pleura neoplasma yakni:
· Menumpuknya sel-sel tumor akan meningkatkan permeabilitas pleura
terhadap air dan protein.
· Adanya massa tumor mengakibatkan tersumbatnya aliran pembuluh darah
vena
dan
getah
bening,
sehingga
rongga
pleura
gagal
dalam
memindahkancairan dan protein.
· Adanya tumor membuat infeksi lebih mudah terjadi dan selanjutnya timbul
hipoproteinemia.
Efusi pleura karena karena neoplasma biasanya unilateral, tetapi bisa juga
bilateral karena obstruksi saluran getah bening, adanya metastasis dapat
mengakibatkan pengaliran cairan dari rongga pleura via diafragma. Keadaan efusi
pleura dapat bersifat maligna. Keadaan ini ditemukan 10-20% karsinoma bronkus,
8% dari limfoma maligna dan leukemia. Jenis-jenis neoplasma yang menyebabkan
efusi pleura adalah:
Mesotelioma
Mesotelioma adalah tumor primer yang berasal dari pleura. Tumor ini jarang
ditemukan, bila tumor masih terlokalisasi, biasanya tidak menimbulkan efusi
pleura, sehingga dapat digolongkan sebagai tumor jinak. Sebaliknya bila ia
[9]
tersebar (difus) digolongkan sebagai tumor ganas karena dapat menimbulkan
efusi pleura yang maligna.
Karsinoma bronkus.
Jenis karsinoma ini adalah yang terbanyak menimbulkan efusi pleura.Tumor
bisa ditemukan dalam permukaan pleura karena penjalaran langsung dari paruparu melalui pembuluh getah bening. Efusi dapat juga terjadi tanpa adanya
pleura yang terganggu, yakni dengan cara obstruksi pneumonitis atau
menurunnya aliran getah bening.
Terapi operasi terhadap tumornya masih dapat dipertimbangkan, tetapi bila
pada pemeriksaan sitologi sudah ditemukan cairan pleura, pasien tidak dapat
dioperasi lagi. Untuk mengurangi keluhan sesak napasnya dapat dilakukan
torakosentesis secara berulang-ulang. Tapi sering timbul lagi dengan cepat,
seaiknya dipasang pipa torakotomi pada dinding dada (risikonya timbul
empiema). Tindakan lain untuk mengurangi timbulnya lagi cairan adalah
dengan pleurodesis, memakai zat-zat seperti tetrasiklin, talk, sitotastika,
kuinakrin.
Neoplasma metastatik.
Jenis-jenis
neoplasma
yang
sering
bermetastasis
ke
pleura
dan
menimbulkan efusi adalah: karsinoma payudara (terbanyak), ovarium,
lambung, ginjal, pankreas dan bagian-bagian organ lain dalam abdomen. Efusi
dari pleura yang terjadi dapat bilateral. Jika di lihat melalaui gambaran foto
toraks mungkin tidak terlihat bayangan metastasis di jaringan paru, karena
implantasi tumor dapat mengenai pleura viseralis saja.
Pengobatan terhadap neoplasma metastatik ini sama dengan karsinoma
bronkus yakni dengan kemoterapi dan penanggulangan terhadap efusi
pleuranya.
Limfoma maligna.
Kasus-kasus limfoma maligna (non-Hodgkin dan Hodgkin) ternyata 30%
bermetastasis ke pleura dan juga menimbulkan efusi pleura. Di dalam cairan
efusi tidak selalu terdapat sel-sel ganas seperti pada neoplasma lainnya.
Biasanya ditemukan sel-sel limfosit karena sel ini ikut dalam aliran darah dan
[10]
aliran getah bening melintasi rongga pleura. Di antara sel-sel yang ganas
limfoma malignum.
Terdapat beberapa jenis efusi berdasarkan penyebabnya yakni:
· Bila efusi tejadi dari implantasi sel-sel limfoma dan permukaan pleura,
cairannya adalah eksudat, berisi sel limfosit yang banyak dan sering
hemoragik.
· Bila efusi pleura terjadi karena obstruksi saluran getah bening, cairannya
bias transudat atau eksudat dan ada limfosit.
· Bila efusi terjadi karena obstruksi duktus torasikus, cairannya akan
berbentuk kilus.
· Bila efusi terjadi karena infeksi pleura dan pasien limfoma maligna karena
menurunnya resistensi terhadap infeksi, efusi akan berbentuk empiema
akut atau kronik.
Seperti pada neoplasma lainnya, efusi pleura yang berulang (efusi maligna)
pada limfoma maligna kebanyakan tidak responsif terhadap tindakan
torakostomi dan instilasi dengan beberapa zat kimia. Keadaan dengan efusi
maligna ini mempunyai prognosis yang buruk.
[11]
[12]
[13]
4. Manifestasi klinis Efusi Pleura
Manifestasi klinik efusi pleura akan tergantung dari jumlah cairan yang ada serta
tingkat kompresi paru. Jika jumlah efusinya sedikit (misalnya < 250 ml), mungkin
belum menimbulkan manifestasi klinik dan hanya dapat dideteksi dengan X-ray foto
thoraks. Dengan membesarnya efusi akan terjadi restriksi ekspansi paru dan pasien
mungkin mengalami :

Dispnea

Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura

Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi

Ruang interkostal menonjol (efusi yang berat)

Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena

Perkusi meredup di atas efusi pleura

Egofoni di atas paru-paru yang tertekan dekat efusi

Suara nafas berkurang di atas efusi pleura

Fremitus vokal dan raba berkurang
5. Pemeriksaan diagnostik Efusi Pleura
Foto toraks (X Ray)
Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan
seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi dari pada bagian medial.
Bila permukaannya horizontal dari lateral ke medial, pasti terdapat udara dalam
rongga tersebut yang dapat berasal dari luar atau dalam paru-paru sendiri. Kadangkadang sulit membedakan antara bayangan cairan bebas dalam pleura dengan adhesi
karena radang (pleuritis). Perlu pemeriksaan foto dada dengan posisi lateral dekubitus.
Cairan bebas akan mengikuti posisi gravitasi. Cairan dalam pleura bisa juga tidak
membentuk kurva, karena terperangkap atau terlokalisasi. Keadaan ini sering terdapat
pada daerah bawah paru-paru yang berbatasan dengan permukaan atas diafragma.
Cairan ini dinamakan juga sebagai efusi subpulmonik Gambarannya pada sinar tembus
sering terlihat sebagai diafragma yang terangkat. Jika terdapat bayangan dengan udara
dalam lambung, ini cenderung menunjukkan efusi subpulmonik. Begitu juga dengan
[14]
bagian kanan dimana efusi subpulmonik sering terlihat sebagai bayangan garis tipis
(fisura) yang berdekatan dengan diafragma kanan.
Untuk jelasnya bisa dilihat dengan foto dada lateral dekubitus, sehingga gambaran
perubahan efusi tersebut menjadi nyata. Cairan dalam pleura kadang-kadang
menumpuk mengelilingi lobus paru (biasanya lobus kanan) dan terlihat dalam foto
sebagai bayangan konsolidasi parenkim lobus, bisa juga mengumpul di daerah
paramediastinal dan terlihat dalam foto sebagai fisura interlobaris, bias juga terdapat
secara paralel dengan sisi jantung, sehingga terlihat sebagai kardiomegali. Cairan
seperti empiema dapat juga terlokalisasi. Gambaran yang terlihat adalah sebagai
bayangan dengan densitas keras di atas diafragma, keadaan ini sulit dibedakan dengan
tumor paru.
Hal lain yang dapat terlihat dari foto dada pada efusi pleura adalah terdorongnya
mediastinum pada sisi yang berlawanan dengan cairan. Di samping itu gambaran foto
dada dapat juga menerangkan asal mula terjadinya efusi pleura yakni bila terdapat
jantung yang membesar, adanya massa tumor, adanya densitas parenkim yang lebih
keras pada pneumonia atau abses paru.
Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada pleura dapat menentukan adanya cairan
dalam rongga pleura. Pemeriksaan ini sangat membentu sebagai penuntun waktu
melakukan aspirasi cairan terutama pada efusi yang terlokalisasi. Pemeriksaan CT
scan/dada dapat membantu. Adanya perbedaan densitas cairan dengan jaringan
sekitarnya, sangat memudahkan dalam menentukan adanya efusi pleura. Pemeriksaan
ini tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal.
Torakosentesis
Aspirasi cairan pleura (torakosentesis)berguna sebagai sarana untuk diagnostik
maupun terapeutik. Pelaksanaannya sebaiknya dilakukan pada pasien dengan posisi
duduk. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga garis aksilaris posterior
dengan memakai jarum abbocath nomor 14 atau 16. Pengeluaran cairan pleura
sebaiknya tidak melebihi 1000-1500 cc pada setiap kali aspirasi. Aspirasi lebih baik
dikerjakan berulang-ulang dari pada satu kali aspirasi sekaligus yang dapat
menimbulkan pleura shock (hipotensi) atau edema paru akut.
[15]
Edema paru dapat terjadi karena paru-paru mengembang terlallu cepat.
Mekanisme sebenarnya belum diketahui betul, tapi diperkirakan karena adanya
tekanan intra pleura yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan aliran darah melalui
permeabilitas kapiler yang abnormal.
Komplikasi torakosentesis adalah: pneumotoraks (ini yang paling sering udara
masuk melalui jarum), hemotoraks (karena trauma pada pembuluh darah interkostalis)
dan emboli udara yang agak jarang terjadi.
Dapat juga terjadi laserasi pleura viseralis, tapi biasanya ini akan sembuh sendiri
dengan cepat. Bila laserasinya cukup dalam, dapat menyebabkan udara dari alveoli
masuk ke vena pulmonalis, sehingga terjadi emboli udara. Untuk mencegah emboli
udara ini terjadi emboli pulmoner atau emboli sistemik, pasien dibaringkan pada sisi
kiri di bagian bawah, posisi kepala lebih rendah dari leher, sehingga udara tersebut
dapat terperangkap di atrium kanan.
Menegakkan diagnosis cairan pleura dilakukan pemeriksaan :

Warna cairan. Biasanya cairan pleura berwarna agak kekuning-kuningan
(seroussantokrom). Bila agak kemerah-merahan, dapat terjadi trauma, infark
paru, keganasan dan adanya kebocoran aneurisma aorta. Bila kuning kehijauan
dan agak purulen, ni menunjukkan adanya empiema. Bila merah coklat ini
menunjukkan adanya abses karena amuba.

Biokimia. Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang
perbedaannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Di samping pemeriksaan tersebut di atas, secara biokimia diperiksa juga cairan
pleura :
·
Kadar ph dan glukosa. Biasanya merendah pada penyakit-penyakit infeksi,
arthritis reumatoid dan neoplasma.
[16]
·
Kadar amilase. Biasanya meningkat pada pankreatitis dan metastasis
adenokarsinoma.

Transudat. Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu
adalah transudat. Transudat terjadi apabila hubungan normal antara tekanan
kapiler hidrostatik dan koloid osmotik menjadi terganggu, sehingga
terbentuknya cairan pada satu sisi pleura akan melebihi reabsorpsi oleh pleura
lainnya. Biasanya hal ini terjadi pada:
1). Meningkatnya tekanan kapiler sistemik,
2). Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner,
3). Menurunnya tekanan koloid osmotik dalampleura,
4). Menurunnya tekanan intra pleura.
Penyakit-penyakit yang menyertai transudat adalah:
1). Gagal jantung kiri (terbanyak),
2). Sindrom nefrotik,
3). Obstruksi vena cava superior,
4). Asites pada sirosishati (asites menembus suatu defek diafragma atau
masuk melalui saluran getah bening),
5). Sindrom Meig (asites dengan tumor ovarium),
6). Efek tindakan dialisis peritoneal,
7). Exvacuo effusion, karena pada pneumotoraks, tekanan intra pleura
menjadi sub-atmosfirsehingga terdapat pembentukan dan penumpukan
transudat.

Eksudat. Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membran kapiler
yang permeabelnya abnormal dan berisi protein berkonsentrasi tinggi
dibandingkan protein transudat. Terjadinya perubahan permeabilitas membran
adalah karena adanya peradangan pada pleura: infeksi, infark paru atau
neoplasma. Protein yang terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari
saluran getah bening. Kegagalan aliran protein getah bening ini (misalnya pada
pleuritis tuberkulosis) akan menyebabkan peningkatan konsentrasi protein
cairan pleura, sehingga menimbulkan eksudat.
[17]
Sitologi
Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk diagnostik penyakit
pleura, terutama bila ditemukan sel-sel patologis atau dominasi sel tertentu.
· Sel neutrofil: menunjukkan adanya infeksi akut.
· Sel limfosit: menunjukkan adanya infeksi kronik seperti pleuritis tuberkulosa
atau limfoma maligna.
· Sel mesotel: bila jumlahnya meningkat, ini menunjukkan adanya infark paru.
Biasanya juga ditemukan banyak sel eritrosit.
· Sel mesotel maligna: pada mesotelioma.
· Sel-sel besar dengan banyak inti: pada artritis reumatoid.
· Sel L.E: pada lupus eritematosus sistemik.
· Sel maligna: pada paru/metastase.
Bakteriologi
Biasanya
cairan
pleura
steril,
tapi
kadang-kadang
dapat
mengandung
mikroorganisme, apalagi bila cairannya purulen, (menunjukkan empiema). Efusi yang
purulen dapat mengandung kuman-kuman yang aerob atau anaerob. Jenis kuman yang
sering ditemukan dalam cairan pleura adalah: Pneumokokkus, E. Coli, klebsiela,
pseudomonas, enterobacter. Pleuritis tuberkulosa, biakan cairan terhadap kuman tahan
asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20%-30%.
Biopsi pleura
Pemeriksaan histopatologi satu atua beberapa contoh jaringan pleura dapat
menunjukkan 50-75% diagnosis kasus-kasus pleuritis tuberkulosis dan tumor pleura.
Bila ternyata hasil biopsy pertama tidak memuaskan, dapat dilakukan beberapa biopsi
ulangan. Komplikasi biopsy adalah pneumotoraks, hematotoraks, penyebaran infeksi
atau tumor pada dinding dada.
Pemeriksaan Laboratorium
Lekosit
normal
: 4,5 – 11,0
normal
: 150 – 450
Hb
normal
: 11,7 – 15,5
PLT
Eritrosit
normal
: 4,20 – 4,87
Hematokri normal
[18]
: 38 – 44
AGDA ( analisa gas darah)
PH
normal
: 7,35 – 7,45
PCO²
normal
: 31 – 50
PO ²
normal
: 75 – 90
6. Penatalaksanaan Efusi Pleura
Pengobatan Efusi Pleura
Efusi yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi
melalui sela iga. Bila cairan pusnya kental sehingga sulit keluar atau bila empiemanya
multiokular, perlu tindakan operatif. Mungkin sebelumnya dapat dibantu dengan
irigasi cairan garam fisiologi atau larutan antiseptik (betadine). Pengobatan secara
sistemik hendaknya segera diberikan, tetapi ini tidak berarti bila tidak diiringi
pengeluaran cairan yang adekuat.
Untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi (pada efusi pleura
maligna), dapat dilakukan pleurodesis yakni melengketnya pleura viseralis dan pleura
parietalis. Zat-zat yang dipakai adalah tetrasiklin (terbanyak dipakai) bleomisin,
korinebakterium parvum, Tio-tepa, 5 Fluorourasil.
Prosedur Pleurodesis
Pipa selang dimasukkan pada ruang antar iga dan cairan efusi dialirkan ke luar
secara perlahan-lahan. Setelah tidak ada lagi cairan yang keluar, masukkan 500 mg
tetrasiklin (biasanya oksitetrasiklin) yang dilarutkan dalm 20 cc garam fisiologis ke
dalam rongga pleura, selanjutnya diikuti dengan 20 cc garam fisiologis. Kunci selang
selama 6 jam dan selama itu pasien diubah-ubah posisinya, sehingga tetrasiklin dapat
didistribusikan kesaluran rongga pleura. Selang antar iga kemudian dibuka dan cairan
dalam rongga pleura kembali dialirkan keluar sampai tidak ada lagi yang tersisa.
Selang kemudian dicabut. Jika dipakai zat korinebakterium parvum, masukkan 7 mg
yang dilarutkan dalam 20 cc garam fisiologis dengan cara seperti tersebut diatas.
Komplikasi tindakan pleurodesis ini sedikit sekali dan biasanya berupa nyeri pleuritik
atau demam.
WSD
WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara
dan cairan melalui selang dada.
[19]
1. Indikasi
Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus
Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah
toraks
Torakotomi
Efusi pleura
Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi
2. Tujuan Pemasangan
Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura
Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian
Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.
3. Tempat pemasangan
a. Apikal
Letak selang pada interkosta III mid klavikula
Dimasukkan secara antero lateral
Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
b. Basal
Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller
Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura
5. Jenis WSD
 Sistem satu botol
Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan
simple pneumotoraks
 Sistem dua botol
Pada system ini, botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua
adalah botol water seal.
 System tiga botol
Sistem tiga botol, botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol.
System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan.
[20]
7. Asuhan Keperawatan Efusi Pleura
a) Data Dasar Pengkajian Pasien
a) aktifitas/istirahat
Gejala: dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat
b) Sirkulasi
tanda: Takikardi
frekuensi tak teratur/disritmia
s3 atau s4/ irama jantung gallop (gagal jantung sekunder terhadap efusi).
nadi apical (PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan mediastinal
(dengan tegangan pnemotorak).
TD: hipertensi/hipotensi
c) Integritas Ego
tanda: ketakutan, gelisah
d) Makanan/cairan
tanda: adanya pemasangan IV vena sentral/infus tekanan
e) Nyeri/kenyamanan
gejala (tergantung pada ukuran/area yang terlibat):
nyeri dada unilateral, meningkat karena pernapasan, batuk.
Tajam dan nyeri, menusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinan
menyebar ke leher, bahu, abdomen
Tanda: berhati-hati pada area yang sakit
Perilaku distraksi
Mengkerutkan wajah
[21]
f) Pernafasan
Gejala: kesulitan bernafas, lapar nafas
Batuk(mungkin gejala yang ada)
Riwayat bedah dada/trauma; penyakit paru kronis, inflamasi/infeksi paru
(empiema/effusi); penyakit interstisial menyebar (sarkoidosis), keganasan
(mis, obstruksi tumor)
Tanda: pernafasan: peningkatan frekuensi/takipnea
Peningkatan kerja nafas, penggunaan otot aksesori pernafasan pada dada,
leher, retraksi interkostal, ekspirasi abdominal kuat.
Bunyi nafas menurun atau tak ada (sisi yang terlibat).
Fremitus menurun (sisi yang terlibat).
Perkusi dada: bunyi pekak di atas area yang terisi cairan.
Observasi dan palpasi pada dada: gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila
trauma atau kempes; penurunan pengenbangan torak (area yang sakit).
Kulit: pucat, sianosi, berkeringat.
Mental: ansietas, gelisah.
Penggunaan ventilasi mekanik tekanan positif/terapi PEEP
g) Keamanan
gejala: adanya trauma dada
radiasi/kemoterapi untuk keganasan
h) Prioritas Keperawatan
1. Meningkatkan/mempertahankan ekspansi paru untuk oksigenasi/ventilasi
adekuat
2. Meminimalkan/mencegah komplikasi
3. Menurunkan ketidaknyamanan/nyeri
4. Memberikan informasi tentang proses penyakit, program pengobatan, dan
prognosis
[22]
. i) Tujuan Pemulangan
1. Ventilasi/oksigenisasi adekuat dipertahankan
2. Komplikasi dicegah/diatasi
3. Nyeri tak ada/terkontrol
4. Proses penyakit dan prognosisn dan kebutuhan terapi di pahami.
b) Diagnosa Keperawatan
1. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan adanya penurunan
ekspansi paru (Penumpukan cairan dalam rongga pleura).
2. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, reaksi secret
terhadap sirkulasi toksin, batuk menetap.
3. Resiko tinggi terhadap trauma / penghentian jalan nafas berhubungan
dengan penyakit saat ini / proses cedera, system dranage dada, kurang
pendidikan keamanan / pencegahan
4. Ketidakefektifan
bersihan
jalan
nafas
berhubungan
dengan
inflamasi
trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri
pleuritik
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen dengan kebutuhan
6. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
yang diderita
7. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tindakan invasive (WSD)
Penatalaksanaan Keperawatan
1. Diagnosa keperawatan : Ketidak efektifan pernapasan berhubungan dengan
adanya penurunan ekspansi paru (akumulasi cairan).
Tujuan : menunjukkan pola pernafasan normal/efektif
[23]
Kriteria : Tidak mengeluh sesak napas, RR 20 – 24 X/menit. Hasil Lab GDA
dalam batas normal, bebas dispnea, penggunaan otot bantu pernafasan tidak
ada.
Intervensi :
1) mengidentifikasi etiologi/factor pencetus
Rasional: penyebab paru kolaps perlu untuk pemasangan selang dada yang
tepat dan tindakan terapeutik lain
2) Pertahankan Posisi semi fowler.
Rasional : Posisi ini memungkinkan tidak terjadinya penekanan isi perut
terhadap diafragma sehingga meningkatkan ruangan untuk ekspansi paru
yang maksimal. Disamping itu posisi ini juga mengurangi peningkatan
volume darah paru sehingga memperluas ruangan yang dapat diisi oleh
udara.
3) Observasi gejala kardinal dan monitor tanda – tanda ketidakefektifan jalan
napas.
Rasional : Pemantau lebih dini terhadap perubahan yang terjadi sehingga
dapat dimabil tindakkan penanganan segera.
4) Berikan penjelasan tentang penyebab sesak dan motivasi utuk membatasi
aktivitas.
Rasional : Pengertian Klien akan mengundang partispasi klien dalam
mengatasi permahsalahan yang terjadi.
5) Kolaborasi dengan tim medis (dokter) dalam aspirasi caian pleura (Puctie
pleura / WSD), Pemberian Oksigen dan Pemeriksaan Gas darah.
Rasional : Puctie Pleura / WSD mengurangi cairan dalam rongga pleura
sehingga tekanan dalan rongga pleura berkurang sehingga eskpasi paru
dapat maksimal.
2. Diagnosa keperawatan : Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim
paru, reaksi secret terhadap sirkulasi toksin, batuk menetap.
[24]
Tujuan : Setelah dilakukan tindakkan keperawatan diharapakn nyeri dapat
berkurang atau Pasien bebas dari nyeri.
Kriteria : Tidak mengeluh nyeri dada, tidak meringis, Nadi 70 – 80 x/menit.
Intervensi :
1) Lakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik.
Rasional : Analgesik bekerja mengurangi reseptor nyeri dalam mencapai
sistim saraf sentral.
2) Atur posisi klien yang enak sesuai dengan keadaan yaitu miring ke sisi yang
sakit.
Rasional : Dengan posisi miring ke sisi yang sehat disesuaikan dengan gaya
gravitasi,maka dengan miring kesisi yang sehat maka terjadi pengurangan
penekanan sisi yang sakit.
3) Awasi respon emosional klien terhadap proses nyeri.
Rasional : Keadaan emosional mempunyai dampak pada kemampuan klien
untuk menangani nyeri.
4) Ajarkan teknik pengurangan nyeri dengan teknik distraksi.
Rasional : Teknik distrasi merupakan teknik pengalihan perhatian sehingga
mengurangi emosional dan kognitif.
5) Oservasi gejala kardinal
Rasional: Pemantau lebih dini terhadap perubahan yang terjadi sehingga
dapat dimabil tindakkan penanganan segera.
3. Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi terhadap trauma / penghentian jalan nafas
berhubungan dengan penyakit saat ini / proses cedera, system dranage dada, kurang
pendidikan keamanan / pencegahan
Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan trauma /
penghentian jalan nafas tidak terjadi
Kriteria :
[25]

Klien mengenal kebutuhan / mencari bantuan untuk mencegah komplikasi

Drainage paten

Tidak ada tanda-tanda distress pernafasan
Intervensi :
1) Kaji dengan pasien tujuan / fungsi unit drainage dada.
Rasional : informasi tentang bagaimana system bekerja memberikan
keyakinan, menurunkan, ansietas pasien
2) Pasangkan kateter thorak ke dinding dada dan berikan panjang selang
ekstra sebelum memindahkan / mengubah posisi pasien.
Rasional : mencegah terlepas kateter dada / selang terlipat dan menurunkan
nyeri / ketidaknyamanan berhubungan dengan penarikan / mengerekkaan
selang.
3) Amankan unit draignage pada TT pasien / pada sangkutan / tempat tertentu
pada area dengan lalu lintas
Rasional : mempertahankan posisi duduk tinggi dan menurunkan resiko
kecelakaan jatuh / unit pecah.
4) Anjurkan klien untuk menghindari berbaring / menarik selang
Rasional : menurunkan resiko obstruksi draignase / terlepasnya selang
5) Identifikasi perubahan / situasi yang harus dilaporkan kepada perawat.
Contoh: perubahan bunyi gelembung, lapar udara tiba-tiba dan nyeri dada,
lepasnya alat
Rasional: intervensi tepat waktu dapat mencegah komplikasi serius.
6) Observasi tanda distress pernafasan bila kateter thorak lepas / tercabut
Rasional : efusi pleura dapat terulang / memburuk karena mempengaruhi
fungsi pernafasan dan memerlukan intervensi darurat.
4. Diagnosa keperawatan : Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
inflamasi trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri
pleuritik
[26]
Tujuan : Setelah dilakukan tindakkan perawatan diharapakn ada perbaikan
ventilasi
Kriteria : bunyi nafas lepas jelas, analisa darah dalam batas normal frekuensi
nafas 16-20 kali per menit, frekuensi nadi 60-100 kali permenit, tidak ada batuk
meningkatnya volume inspirasi.
Intervensi :
1) Lakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian oksigen dan analgesic
Rasional : dengan penambahan suplay O2 diharapkan sesak nafas berkurang
sehingga klen dapat istirahat.
2) Beri suasana yang nyaman pada klien dan beri posisi yang menyenangkan
yaitu kepala lebih tinggi:
Rasional: Suasana yang nyaman mengurangi rangsangan ketegangan dan
sangat membantu untuk bersantai dan dengan posisi lebih tinggi diharapkan
membantu paru – paru untuk melakukan ekspansi optimal.
3) Berikan penjelasan terhadao klien pentingnya istirahat tidur.
Rasional : dengan penjelasan diharapkan klien termotivasi untuk memenuhi
kebutuhan istirahat secara berlebihan.
4) Tingkat relaksasi menjelang tidur.
Rasional : Diharapkan dapat mengurangi ketegangan otot dan pikiran lebih
tenang.
5) Bantu klien untuk melakukan kebiasaannya menjelang tidur.
Rasional : Dengan tetap tidak mengubah pola kebiasaan klien
mempermudah klien untuk beradaptasi dengan lingkungan.
5. Diagnosa
keperawatan
:
Intoleransi
aktifitas
berhubungan
dengan
ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakkan perawatan diharapkan klien dapat
melakukan aktivtas dengan bebas.
[27]
Kriteria : Klien dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
Intervensi :
1) Bimbing klien melakukan mobilisasi secara bertahap.
Rasional : Dengan latihan secara bertahap klien dapat melakukan aktivitas
sesuai kemampuan.
2) Latih klien dalam memenuhi kebutuhan dirinya.
Rasonal : Diharapkan ada upaya menuju kemandirian.
3) Ajarkan pada klien menggunakan relaksasi yang merupakan salah satu
teknik pengurangan nyeri.
Rasional : Pengendalian nyeri merupakan pertahanan otot dan persendian
dengan optimal.
4) Jelaskan tujuan aktifitas ringan.
Rasional : Dengan penjelasan diharapkan klien kooperatif.
5) Observasi reaksi nyeri dan sesak saat melakukan aktifitas.
Rasional : Dengan mobilisasi terjadi penarikan otot, hal ini dapat
meningkatkan rasa nyeri.
6) Anjurkan klien untuk mentaati terapi yang diberikan.
Rasional : Diharapkan klien dapat kooperatif.
6. Diagnosa Keperawatan : ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
tentang penyakit yang diderita.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan cemas berkurang.
Kriteia : Klien tenang, klien mampu bersosialisasi.
Intervensi :
1) Berikan
dorongan
pada
klien
untuk
mendiskusikan
mengemukakan persepsinya tentang kecemasannya.
[28]
perasaannya
Rasional : Membantu klien dalam memperoleh kesadaran dan memahami
keadaan diri yang sebenarnya.
2) Jelaskan pada klien setiap melakukan prosedur baik keperawatan maupun
tindakan medis.
Rasional : Dengan penjelasan diharapkan klien kooperatif dan mengurangi
kecemasan klien
3) Kolaborasi dengan dokter untuk penjelasan tentang penyakitnya.
Rasional : Dengan penjelasan dari petugas kesehatan akan menambah
kepercayaan terhadap apa yang dijelaskan sehingga cemas klien berkurang.
7. Diagnosa Keperawatan : resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tindakan invasif
(WSD)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan tidak ada tanda-tanda
infeksi.
Kriteia : suhu tubuh 370C, kadar leukosit 5000-10000 / mm3, luka sembuh setelah
selang dada di angkat
Intervensi :
1. Pantau:

Keadaan luka sewaktu mengganti balutan

Suhu setiap 4 jam sekali

Keadaan balutan pada setiap akhir pergantian shift
Rasional : untuk mengganti indikasi adanya proses kemajuan atau
penyimpangan dari pasien.
2. Berikan antibiotic sesuai anjuran dan evaluasi kefektifannya. Atur jadwal
pengobatan yang telah ditentukan sehingga kadar dipertahankan.
Rasional : antibiotic sering digunakan untuk pencegahan infeksi
[29]
8. Komplikasi
1. Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik
akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viseralis. Keadaan
ini disebut dengan fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat menimbulkan
hambatan mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang berada dibawahnya.
Pembedahan
pengupasan(dekortikasi)
perlu
dilakukan
untuk
memisahkan
membrane-membran pleura tersebut.
2. Atalektasis
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh
penekanan akibat efusi pleura.
3. Fibrosis paru
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat paru
dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara perbaikan jaringan
sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang menimbulkan peradangan. Pada
efusi pleura, atalektasis yang berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian
jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis.
4. Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik pada
sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan mengakibatkan
kolaps paru.
[30]
BAB III
TINJAUAN KASUS
I. PENGKAJIAN
Waktu : 25/01/2013
Tempat : Ruang Mawar RSUD Dr. M Djamil
1. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. A
Umur
: 50 Tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Suku/Bangsa
: Sunda/Indonesia
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Petani
Pendidikan
: SD
Alamat
: Siteba RT 001 RW 001
Kota Padang
Tanggal Masuk Rumah Sakit
: 20/01/2013
Cara Masuk Rumah Sakit
: Masuk melalui UGD atas rujukan
Puskesmas Belimbing
Diagnosa Medis
: Efusi Pleura Dekstra
Alasan dirawat
: Napas sesak, batuk, dada nyeri
Demam, cepat lelah saat beraktifitas
Keluhan Utama
: Napas sesak
Upaya yang telah dilakukan
: Berobat ke Puskesmas Belimbing
Terapi/Operasi yang pernah dilakukan
: Terapi tidak diketahui / Operasi
tidak pernah
[31]
2. RIWAYAT KEPERAWATAN
1) Riwayat Penyakit Sekarang
Tn. A dirawat di RSUD Dr. M Djamil sejak 5 hari yang lalu atas rujukan
Puskesmas belimbing dengan keluhan napas sesak, batuk, demam, dada sebelah kanan
nyeri dan sering cepat lelah saat beraktifitas. Pada saat dikaji Tn. A masih sesak napas,
batuk berdahak, nyeri dada sebelah kanan menjalar ke punggung, nyeri sedang, skala
nyeri 5 (1-10), napas bertambah sesak setelah beraktifitas dan berkurang pada saat
beristirahat pada posisi semi fowler.
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Sejak 1 tahun yang lalu klien sering mengeluh batuk-batuk, namun keluhan
hilang setelah berobat ke puskesmas atau dokter.
3) Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan diantara anggota keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit
yang bersifat herediter, seperti DM, Asma, dan lain-lain.
GENOGRAM
Perempuan
Klien
Laki-laki
meninggal
[32]
4) Keadaan Kesehatan Lingkungan
Menurut pengakuan klien, merasa nyaman dengan lingkungan fisik maupun
sosialnya. Klien tinggal di pedesaan. Rumah klien bersifat permanen dengan lantai
keramik. Luas rumah kurang lebih 100 m2 yang terdiri dari 3 kamar tidur, ruang tamu,
ruang keluarga, dapur dan kamar mandi. Ventilasi dan pencahayaan rumah melalui jendela
kaca yang bisa dibuka tutup. Sumber air minum dari sumur pompa, sarana pembuangan air
limbah (SPAL) menggunakan septik tank.
5) Riwayat Kesehatan Lainya
Tidak ada riwayat penggunaan narkotikapsikotropika dan zat adiktif.
3. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
1) Keadaan Umum :
Penampilan
: Tampak sesak, napas cepat dan dangkal, ekspresi
wajah meringis saat berubah posisi.
Kesadaran : Composmentis, GCS 15 (E4V5M6)
2) Tanda-tanda Vital :
Suhu : 37,5 o C
Nadi : 100 x/menit
Tekanan Darah : 160/90 mmHg
Respirasi : 32 x/menit
3) Pengkajian
a. Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Pengindaran
[33]
a Penglihatan
Konjungtiva kedua mata ananemis, sklera kedua mata anikterik, reflex
cahaya (+), reflex kornea (+), ptosis (-), distribusi kedua alis merata, tajam
penglihatan normal (klien dapat membaca huruf pada koran pada jarak baca
sekitar 30 cm) , strabismus (-), lapang pandang pada kedua mata masih dalam
batas normal, tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan pada kedua mata.
b Penciuman
Fungsi penciuman baik ditandai dengan klien dapat membedakan bau kopi
dan kayu putih.
c Pendengaran
Tidak ada lesi pada kedua telinga, tidak ada serumen, fungsi pendengaran
pada kedua telinga baik ditandai dengan klien dapat menjawab seluruh
pertanyaan tanpa harus diulang, tidak ada nyeri tekan pada kedua tulang
mastoid, tidak ada nyeri tekan pada tragus, tidak ada massa pada kedua telinga.
d Pengecapan/Perasa
Fungsi pengecapan baik, klien dapat membedakan rasa manis, asam, asin
dan pahit.
e Peraba
Klien dapat merasakan sentuhan ketika tangannya dipegang, klien dapat
merasakan sensasi nyeri ketika dicubit.
2. Sistem Pernafasan
Mukosa hidung merah muda, lubang hidung simetris, tidak ada lesi pada
hidung, polip (-), keadaan hidung bersih, sianosis (-), tidak ada nyeri tekan pada
area sinus, tidak ada lesi pada daerah leher dan dada, tidak ada massa pada daerah
leher, bentuk dada simetris, nyeri tekan pada daerah dada sebelah kanan,
pergerakan dada tidak simetris, pernapasan cuping hidung (+), retraksi interkosta
(+), ronchi (+), batuk berdahak, mukus kental, pola nafas cepat dan dangkal.
[34]
3. Sistem Pencernaan
Keadaan bibir simetris, mukosa bibir lembab, stomatitis (-), terdapat gigi yang
tanggal pada geraham kanan bawah, lidah berwarna merah muda, tidak ada nyeri
saat menelan, tidak ada pembesaran hepar, bising usus 9 x / menit.
4. Sistem Kardiovaskuler
Tidak ada peningkatan vena jugularis, Capillary Refill Time (CRT) kembali < 2
detik, bunyi perkusi dullness pada daerah ICS 2 lineasternal dekstra dan sinistra,
terdengar jelas bunyi jantung S1 pada ICS 4 lineasternal sinistra dan bunyi jantung
S2 pada ICS 2 lineasternal sinistra tanpa ada bunyi tambahan, irama jantung
reguler.
5. Sistem Urinaria
Tidak ada keluhan nyeri atau sulit BAK, tidak terdapat distensi pada kandung
kemih, tidak ada nyeri tekan pada daerah supra pubis.
6. Sistem Endokrin
Pada saat dilakukan palpasi tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tremor (-),
tidak ada tanda kretinisme, tidak ada tanda gigantisme.
7. Sistem Muskuloskeletal
a) Ekstremitas Atas
Kedua tangan dapat digerakkan, reflek bisep dan trisep positif pada kedua
tangan. ROM (range of motion) pada kedua tangan maksimal, tidak ada atrofi
otot kedua tangan, terpasang infuse pada tangan kiri.
b) Ekstremitas Bawah
Kedua kaki dapat digerakkan dan klien dapat berjalan ke kamar mandi,
reflek patella (+), reflek babinski (-), tidak ada lesi, tidak ada edema, tidak ada
atropi otot.
[35]
8. Sistem Reproduksi
Tidak ada lesi, tidak ada benjolan pada penis dan kedua testis. Klien sudah
menikah dan mempunyai 3 orang anak.
9. Sistem Integumen
Warna kulit sawo matang, keadaan kulit kepala bersih, rambut tumbuh
merata, uban (+), turgor kulit baik, tidak ada lesi.
10. Sistem Persyarafan
Orientasi klien terhadap orang, tempat dan waktu baik.
a) Nervus I (Olfaktorius)
Fungsi penciuman hidung baik, terbukti klien dapat membedakan bau kopi dan
kayu putih.
b) Nerfus II (Optikus)
Fungsi penglihatan baik, klien dapat membaca koran pada jarak sekitar 30 cm.
c) Nerfus III (Oculomotorius)
Reflek pupil mengecil sama besar pada saat terkena cahaya, klien dapat
menggerakkan bola matanya ke atas.
d) Nerfus IV (Tochlearis)
Klien dapat menggerakkan bola matanya kesegala arah.
e) Nerfus V (Trigeminus)
Klien dapat merasakan sensasi nyeri dan sentuhan.
f) Nerfus VI (Abdusen)
Klien dapat menggerakkan matanya ke kanan dan ke kiri.
[36]
g) Nerfus VII (Facialis)
Klien dapat menutup kedua mata, menggerakkan alis dan dahi, klien dapat
tersenyum, ada rangsangan nyeri saat dicubit.
h) Nerfus VIII (Aksutikus)
Fungsi pendengaran baik, klien dapat menjawab pertanyaan perawat tanpa diulang.
i) Nerfus IX (Glosofaringeal)
Fungsi pengecapan baik, klien dapat membedakan rasa manis, asin dan pahit.
j) Nerfus X (Vagus)
Reflek menelan baik.
k) Nerfus XI (Asesorius)
Leher dapat digerakkan ke segala arah, klien dapat menggerakkan bahunya.
l) Nerfus XII (Hipoglosus)
Klien dapat menggerakkan dan menjulurkan lidahnya.
b. Pola Aktifitas Sehari-hari
1. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Klien berpandangan bahwa sehat itu sangat berharga karena saat sakit ia tidak
dapat melakukan aktivitas dengan bebas. Klien berusaha untuk selalu berperilaku
hidup sehat seperti cuci tangan sebelum makan dan gosok gigi sebelum tidur dan
sesudah makan, mengkonsumsi makanan bergizi serta tidak menyalahgunakan
obat-obatan, klien suka merokok.
2. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Dirumah : klien makan teratur 3 x/hari, minum sebanyak ± 8-9 gela/hari,
terbiasa minum ai putih, tidak ada kesulitan menelan, klien tidak pernah diet
khusus , postur tubuh kurus, tidak ada riwayat alergi makanan.
[37]
Di rumah sakit : klien makan teratur 3 x/hari, diet bubur, porsi makan habis
1 porsi.
3. Pola Eliminasi
BAK/BAB dilakukan di toilet secara mandiri, frekuensi BAK 3-4 kali sehari
dengan warna urine kuning jernih dan berbau ammonia. Sudah 2 hari belum BAB,
Flatus (+). Di rumah atau di rumah sakit klien tidak pernah menggunakan obatobat untuk memperlancar BAB maupun BAK.
4. Pola Aktifitas dan Latihan
Di Rumah Sakit sehari-hari hanya berbaring di tempat tidur. Di rumah klien
setiap hari rajin ke sawah. Penggunaan alat bantu (-), tidak ada kesulitan gerak.
Di rumah klien tidur jam 22.00 sampai dengan jam 04.30 dan jarang tidur siang.
Di Rumah sakit klien tidur jam 22.00 sampai dengan 05.00, gangguan tidur (-).
5. Pola Kognitif dan Perseptual
Klien dapat melihat dengan baik, klien mampu melihat dengan jelas tulisan
dari jarak kurang lebih 30 cm. Indra perasa klien juga berfungsi baik, klien
dapat mengecap rasa asin, manis dan pahit.
Klien mengetahui penyakitnya dengan bertanya kepada dokter dan perawat,
klien dapat menyebutkan bahwa penyakit yang dideritanya adalah penyakit parparu basah.
6. Persepsi dan Konsep Diri
Klien merasakan sakitnya sebagai sebuah stressor dan menganggapnya sebagai
sesuatu yang harus diselesaikan. Secara lengkap konsep diri klien dapat diuraikan
sebagai berikut :
a) Body image / gambaran diri
Klien mengatakan menerima dengan keadaan tubuhnya walaupun merasa cemas
dengan kondisinya sekarang.
[38]
b) Ideal diri
Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan pulang ke rumah, berkumpul dengan
keluarganyan dan kembali bekerja.
c) Harga diri
Sejak klien dirawat di Rumah Sakit, semua kebutuhan klien banyak dibantu
oleh keluarganya serta perawat sehingga klien merasa sangat diperhatikan.
d) Identitas diri
Klien mampu menyebutkan nama, umur, pekerjaan dan lain-lain pada saat
dilakukan pengkajian.
e) Peran diri
Klien adalah seorang kepala keluarga dengan 3 orang anak dan merasa dengan
konsisi sakitnya klien tidak dapat menjalankan perannya.
7. Pola Hubungan dan Peran
Klien adalah anak pertama dari empat bersaudara. Klien sudah menikah dan
mempunyai 3 orang anak, hubungan klien dengan anggota keluarga, saudara dan
dengan lingkungan tempat tinggal klien baik. Klien juga kooperatif terhadap dokter
dan perawat.
8. Pola Reproduksi Seksual
Klien pertama kali mimpi basah pada saat kelas 1 SMP, klien sekarang
sudah menikah dan mempunyai 3 orang anak.
9. Pola Penanggulangan Stress
Klien selalu menganggap masalah sebagai suatu cobaan hidup yang harus
dijalaninya, klien berpandangan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
Setiap ada masalah selalu dimusyawarahkan dalam keluarga.
10. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
[39]
Di lingkungan tempat tinggalnya terdapat kepercayaan masyarakat yang
berpandangan bahwa ketika sakit tidak boleh keramas, memotong rambut dan
kuku (pamali), dan apabila ada luka tidak boleh mengkonsumsi makanan yang
anyir-anyir. 11. Personal Higiene
Di Rumah Sakit klien mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari, keramas
belum pernah tetapi rambut klien tampak bersih, gunting kuku juga belum pernah
karena kukunya masih pendek. Semua aktivitas personal hygiene dilakukan dengan
bantuan keluarga.
12. Ketergantungan
Klien tidak mempunyai riwayat ketergantungan terhadap obat-obat tertentu,
termasuk alkohol. Klien seorang perokok.
c. Aspek Psikologis
Klien selalu menanyakan tentang kondisi penyakitnya, berapa lama penyakitnya
akan sembuh sehingga klien bisa beraktivitas seperti biasanya, klien juga selalu
menanyakan tindakan yang dilakukan. Ekspresi wajah klien tampak lesu.
d. Aspek Sosial/Interaksi
Hubungan klien dengan anggota keluarga, saudara dan dengan lingkungan tempat
tinggal klien baik. Klien juga kooperatif terhadap dokter dan perawat.
e. Aspek Spiritual
Klien selalu menanyakan tentang kondisi penyakitnya, berapa lama penyakitnya
akan sembuh sehingga klien bisa beraktivitas seperti biasanya, klien juga selalu
menanyakan tindakan yang dilakukan. Ekspresi wajah klien tampak lesu.
[40]
4. DIAGNOSTIC TEST
A. Laboratorium
JENIS
HASIL
PEMERIKSAAN
NILAI
ANALISA
NORMAL
HB
11,9
12-18
Normal
Leukosit
16.600
4000-10.000
Tinggi
LED
30
0-20
Tinggi
PCV
36
37-48
Normal
Trombosit
203.000
150.000-300.000
Normal
GDS
180
< 150
Di atas normal
Cholesterol
82
150-220
Normal
Asam urat
3,2
2-7,0
Normal
Creatinin
0,9
0,8-1,5
Normal
SGOT
34
s/d 29
Di atas normal
SGPT
26
s/d 29
Normal
BTA
Negatif
B. Radiologi
Rontgen
: Paru paru kanan terlihat sampai iga ke delapan, tertutup
oleh cairan pleura.
USG
C. EKG
::-
[41]
D. TERAPI :
No.
Nama Obat
Dosis
Jam
1
IVFD : RL
2
3
Ceftazidin
Metronidaz
ol
Ranitidin
Parasetamol
RHEZ
Tramadol
Mucohexin
12
tts/menit
2 x 1 gr
3 x 1 gr
2x1
3x1
1x1
2x1
3x1
4
5
6
7
8
Sediaan
Intra vena
Cara
Pemberiaa
n
Flabot
08-20
08-16-24
Intra vena
Intra vena
Flakon
Flakon
08-20
08-16-24
08
08-20
08-16-04
Intra vena
Per oral
Per oral
Per oral
Per oral
Ampul
Tablet
Tablet
Tablet
Tablet
5. ANALISA DAN SINTESA DATA
DATA
Data subjektif
 Klien mengeluh
batuk berdahak
Data objektif
 Ronchi (+)
 Mukus putih
kekuningan
kental
 PCH (+)
 Retraksi
interkostal (+)
 Leukosit : 16.600
 LED : 30
 Rontgen : efusi
pleura kanan
ETIOLOGI
Proses peradangan pada
MASALAH
Bersihan jalan napas tidak
efektif
rongga pleura
Merangsang sel goblet
Produksi mukus
meningkat
Mukus tertahan di saluran
napas
Akumulasi secret di
saluran napas
Upaya batuk buruk
Bersihan jalan napas tidak
efektif
Data subjektif
 Klien mengeluh
sesak napas
Data objektif
 Respirasi 32
x/menit
 Nadi 100 x/menit
 Pola napas cepat
dan dangkal
Efusi Pleura Akumulasi
cairan pada rongga pleura
Tekanan intra pleura
meningkat
Ekspansi paru menurun
Napas cepat & dangkal
[42]
Pola napas tidak efektif
Pola napas tidak efektif
Data subjektif
 Klien mengeluh
nyeri dada
sebelah kanan
menjalar ke
punggung
Data objektif
 Skala nyeri 5 (110)
 Klien tampak
meringis saat
berubah posisi
Data Subyektif :
 Klien mengeluh
tidak tahu tentang
pengelolaan
penyakitnya
Data Obyektif :
 Klien sering
bertanya
mengenai keadaan
penyakitnya
 Klien sering
mengulang
pertanyaan yang
sama
Efusi Pleura
Nyeri dada
Proses inflamasi pada
rongga pleura dan cairan
menekan dinding pleura
Rangsangan pada
reseptor nyeri
Nyeri
Kurang informasi
Kurang pengetahuan
Keterbatasan kognitif
Perilaku tidak
sesuai/Ungkapan verbal
dari ketidaktahuan
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS
8. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan adanya penurunan
ekspansi paru (Penumpukan cairan dalam rongga pleura)
9. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan inflamasi
trakeobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum, nyeri
pleuritik
10. Nyeri dada berhubungan dengan penekanan dinding pleura oleh cairan efusi
pleura
[43]
11. Kurangnya pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, aturan
pengobatan, dan pemeriksaan diagnostic berhubungan dengan kurang
terpajan informasi
III. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
TUJUAN DAN
HASIL
YANG
DIHARAPKAN
Ketidakefektifan bersihan jalan
nafas berhubungan dengan
inflamasi trakeobronkial,
pembentukan edema, peningkatan
produksi sputum, nyeri pleuritik,
yang ditandai dengan :
Setelah dilakukan
tindakan perawatan
selama 2 x 24 jam
bersihan jalan napas
efektif, dengan
kriteria :
TGL
25/01
/2013
Data subjektif

Klien mengeluh batuk
berdahak
Data objektif

Ronchi (+)

Mukus putih
kekuningan kental
 Retraksi interkostal (+)

Leukosit : 16.600
 LED : 30
 Rontgen : efusi pleura
kanan
RENCANA
TINDAKAN
1. Berikan posisi
semi fowler (30° 45°)
2. Ajarkan pasien
untuk nafas dalam
dan batuk efektif
keluar (+)
-)
Respirasi : 16-20
x/menit
3. Lakukan postural
drainage
4. Kolaborasi
pemberian
ekspectoran pada
pasien
5. Anjurkan pasien
untuk banyak
minum, terutama
air hangat
[44]
RASIONAL
1. Peninggian kepala
tempat tidur
mempermudah fungsi
pernafasan dengan
menggunakan
gravitasi, dan untuk
meningkatkan
ekspansi paru.
2. Nafas dalam
membantu memenuhi
kecukupan O2 dan
memobilisasi secret
untuk membersihkan
jalan nafas dan
membantu mencegah
komplikasi
pernafasan.
3. Memobilisasi
secret untuk
membersihkan jalan
nafas dan membantu
mencegah komplikasi
pernafasan.
4. Obat yang
membantu untuk
mengencerkan dahak
sehingga mudah
dikeluarkan.
5. Untuk
mengencerkan secret
sehingga lebih mudah
untuk dikeluarkan.
25/01
/2013
Ketidak efektifan pola nafas
berhubungan dengan menurunnya
ekspansi paru (penumpukan
cairan dalam rongga pleura), yang
ditandai dengan :
Data subjektif
 Klien mengeluh sesak
napas
Data objektif
 Respirasi 32 x/menit
 Nadi 100 x/menit
 Pola napas cepat dan
dangkal
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
2x24 jam pasien
mampu
mempertahankan
fungsi paru secara
normal, dengan
kriteria :
-)
Irama dan
kedalaman napas
dalam batas normal
Frekuensi napas
16-20 x/menit
1. Identifikasi
faktor penyebab.
2. Kaji kualitas,
frekuensi dan
kedalaman
pernafasan,
laporkan setiap
perubahan yang
terjadi.
3. Baringkan pasien
dalam posisi yang
nyaman, dalam
posisi duduk,
dengan kepala
tempat tidur
ditinggikan 60 – 90
derajat.
4. Observasi tandatanda vital
(Lakukan auskultasi
suara nafas tiap 2-4
jam.
5. Lakukan
auskultasi suara
napas tiap 2-4 jam
6. Bantu dan
ajarkan pasien
untuk batuk dan
nafas dalam yang
efektif.
7. Kolaborasi untuk
pemberian O2 dan
obat-obatan.
25/01
/2013
Nyeri dada berhubungan dengan
penekanan dinding pleura oleh
cairan efusi pleura, yang ditandai
dengan :
Data subjektif
 Klien mengeluh nyeri
dada sebelah kanan
menjalar ke punggung
Data objektif
 Klien tampak meringis
saat berubah posisi
 Skala nyeri 5 (1-10)
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
2 X 24 jam pasien
tidak mengalami
nyeri, dengan
kriteria hasil :
Klien
mengungkapkan
secara verbal rasa
nyeri hilang.
[45]
1. Observasi TTV
2. Kaji lokasi dan
intensitas nyeri.
3. Observasi reaksi
non verbal dari
ketidaknyamanan.
4. Dorong
menggunakan
teknik manajemen
relaksasi.
1. Dapat menentukan
jenis effusi pleura
sehingga dapat
mengambil tindakan
yang tepat.
2. Dengan mengkaji
kualitas, frekuensi
dan kedalaman
pernafasan, kita dapat
mengetahui sejauh
mana perubahan
kondisi pasien.
3. Penurunan
diafragma
memperluas daerah
dada sehingga
ekspansi paru bisa
maksimal.
4. Peningkatan RR
dan tachicardi
merupakan indikasi
adanya penurunan
fungsi paru.
5. Auskultasi dapat
menentukan kelainan
suara nafas pada
bagian paru-paru.
6. Menekan daerah
yang nyeri ketika
batuk atau nafas
dalam. Penekanan
otot-otot dada serta
abdomen membuat
batuk lebih efektif.
7. Pemberian oksigen
dapat menurunkan
beban pernafasan dan
mencegah terjadinya
sianosis.
1. Sebagai data awal
untuk melihat
keadaan umum klien
2. Sebagai data dasar
mengetahui seberapa
hebat nyeri yang
dirasakan sehingga
mempermudah
intervensi
selanjutnya.
3. Reaksi non verba
menandakan nyeri
(1-10)
lien dapat
rileks.
TTV dalam batas
normal
25/01
/2013
Kurangnya
pengetahuan
(kebutuhan belajar) mengenai
kondisi, aturan pengobatan, dan
pemeriksaan
diagnostic
berhubungan dengan kurang
terpajan informasi:
Data subjektif

Klien mengeluh tidak
tahu tentang pengelolaan
penyakitnya
Data objektif
 Klien sering bertanya
mengenai keadaan
penyakitnya
 Klien sering mengulang
pertanyaan yang sama
setelah diberikan
pendidikan
kesehatan selama 1
x 30 menit klien
dan keluarga
mengerti tentang
pengelolaan
penyakitnya ,
dengan kriteria
hasil :
Pasien dan
keluarga mampu
menjelaskan
kembali tentang
penyakitnya
Mengenal
kebutuhan
perawatan dan
pengobatan tanpa
cemas
[46]
5. Kolaborasikan
obat analgetik
sesuai indikasi
yang dirasakan klien
hebat
4. Untuk mengurangi
ras nyeri yang
dirasakan klien
dengan non
farmakologis
5. Mempercepat
penyembuhan
terhadap nyeri
1. Kaji pengetahuan
klien tentang
penyakitnya
2. Jelaskan tentang
proses penyakit
(tanda dan gejala),
identifikasi
kemungkinan
penyebab. Jelaskan
kondisi
tentangklien
3. Jelaskan tentang
program
pengobatan dan
alternatif
pengobantan
4. Diskusikan
perubahan gaya
hidup yang
mungkin digunakan
untuk mencegah
komplikasi
5. Diskusikan
tentang terapi dan
pilihannya
1. Mempermudah
dalam memberikan
penjelasan pada klien
2. Meningkatan
pengetahuan dan
mengurangi cemas
3. Mempermudah
intervensi
4. Mencegah
keparahan penyakit
5. Memberi
gambaran tentang
pilihan terapi yang
bisa digunakan
IV. IMPLEMENTASI TINDAKAN KEPERAWATAN
TGL
25/01/20
13
JAM
14.30
WIB
NO. DX
KEPERA
WATAN
TINDAKAN KEPERAWATAN
1
1. Membaringkan pasien dalam posisi
semi fowler
2. Mengajarkan pasien untuk latihan
nafas dalam dan batuk efektif
3. Menganjurkan pasien untuk banyak
minum terutama air hangat
4. Kolaborasi pemberian ekspectoran
pada pasien : OBH syrup 1 sendok
makan
25/01/20
13
15.00
WIB
16.00
WIB
1. Mengobservasi TTV
1. Mengobservasi tanda-tanda vital
3. Memberikan obat analgetik,
tramadol 1 tablet peroral
14.00
WIB
1. TD : 140/90 mmHg, Suhu
36,6oc, Nadi 96 kali/menit,
Respirasi 28 kali/menit.
2. Klien tampak lebih nyaman
dalam posisi ½ duduk
3. Klien dapat mengikuti
latihan yang diberikan
4. Terpasang oksigen 3
liter/menit dengan kanul nasal
3
2. Mengkaji lokasi dan intensitas nyeri
25/01/20
13
1. Pasien merasa lebih nyaman
dalam posisi semi fowler
2. Pasien mengikuti latihan
yang diberikan
3. Pasien mengatakan setuju
akan minum air hangat
4. Pasien mengatakan setelah
minum OBH dahak lebih
encer
2
2. Membaringkan pasien dalam posisi
duduk, dengan kepala tempat tidur
ditinggikan 60-90 derajat
3. Membantu dan mengajarkan kepada
pasien untuk batuk dan napas dalam
yang efektif.
4. Kolaborasi dalam pemberian oksigen
25/01/20
13
RESPON
1. TD : 140/90 mmHg, Suhu
36,6oc, Nadi 96 kali/menit,
Respirasi 28 kali/menit.
2. Nyeri dada sebelah kanan
menjalar ke punggung, skala 5
(1-10)
3. Reaksi efek samping obat ()
4
1. Memberikan pendidikan kesehatan
tentang batuk efektif yang meliputi :



Pengertian batuk efektif
Tujuan dan manfaat batuk
efektif
Cara batuk efektif
[47]
1. Setelah diberikan Penkes
selama 1x30 menit klien dan
keluarga mampu menjelaskan
kembali tentang pengertian,
tujuan , manfaat batuk efektif
dan mampu
mendemonstrasikan cara batuk
efek
V. CATATAN PERKEMBANGAN
TGL
25/01/20
13
JAM
14.30
WIB
NO. DX
KEPERA
WATAN
1
EVALUASI
Subyektif :
 Klien mengatakan batuk berdahak.
Obyektif :
 Mukus kental, ronchi (+), respirasi 28 x/menit
Analisa :
 Masalah belum teratasi
Planning :
1. Berikan posisi semi fowler (30° - 45°)
2. Ajarkan pasien untuk nafas dalam dan batuk efektif
3. Lakukan postural drainage
4. Kolaborasi pemberian ekspectoran pada pasien
5. Anjurkan pasien untuk banyak minum, terutama air hangat
Implementasi :
1. Membaringkan pasien dalam posisi semi fowler
2. Mengajarkan pasien untuk nafas dalam dan batuk efektif
3. Menganjurkan pasien untuk banyak minum terutama air hangat
4. Kolaborasi pemberian ekspectoran pada pasien : OBH syrup 1 sendok
makan
Evaluasi :


15.00
WIB
2
Mukus kental, ronchi (+)
Lanjutkan intervensi
Subyektif :
 Klien mengatakan napas sesak
Obyektif :
 Respirasi 28 x/menit, Nadi 96 x/menit, TD 140/90 mmHg, pola
napas cepat dan dangkal
Analisa :
 Masalah belum teratasi
Planning :
1. Identifikasi faktor penyebab.
2. Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap
perubahan yang terjadi.
3. Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman, dalam posisi duduk,
dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 – 90 derajat.
4. Observasi tanda-tanda vital (Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4
jam.
5. Lakukan auskultasi suara napas tiap 2-4 jam
6. Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.
[48]
7. Kolaborasi untuk pemberian O2 dan obat-obatan.
Implementasi :
1. Mengobservasi TTV
2. Membaringkan pasien dalam posisi duduk, dengan kepala tempat tidur
ditinggikan 60-90 derajat
3. Membantu dan mengajarkan kepada pasien untuk batuk dan
napas dalam yang efektif.
4. Kolaborasi dalam pemberian oksigen
Evaluasi :
 Klien masih mengeluh napas sesak, pola napas cepat dan
dangkal

16.00
WIB
3
Lanjutkan intervensi
Subyektif :
 Klien mengatakan nyeri dada sebelah kanan
Obyektif :
 Klien tampak meringis saat berubah posisi, skala 5 (1-10)
Analisa :
 Masalah belum teratasi
Planning :
1. Observasi TTV
2. Kaji lokasi dan intensitas nyeri.
3. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan.
4. Dorong menggunakan teknik manajemen relaksasi.
5. Kolaborasikan obat analgetik sesuai indikasi
Implementasi :
1. Mengobservasi tanda-tanda vital
2. Mengkaji lokasi dan intensitas nyeri
3. Memberikan obat analgetik, tramadol 1 tablet peroral
Evaluasi :
 Klien masih mengeluh nyeri dada

Lanjutkan intervensi
[49]
VI. EVALUASI
TGL
26/01/20
13
JAM
14.30
WIB
NO. DX
KEPERA
WATAN
1
EVALUASI
Subyektif :
 Klien mengatakan batuk berdahak.
Obyektif :
 Mukus kental, ronchi (+), respirasi 28 x/menit
Analisa :
 Masalah belum teratasi
Planning :
1. Berikan posisi semi fowler (30° - 45°)
2. Ajarkan pasien untuk nafas dalam dan batuk efektif
3. Lakukan postural drainage
4. Kolaborasi pemberian ekspectoran pada pasien
5. Anjurkan pasien untuk banyak minum, terutama air hangat
Implementasi :
1. Membaringkan pasien dalam posisi semi fowler
2. Mengajarkan pasien untuk nafas dalam dan batuk efektif
3. Menganjurkan pasien untuk banyak minum terutama air hangat
4. Kolaborasi pemberian ekspectoran pada pasien : OBH syrup 1 sendok
makan
Evaluasi :


15.00
WIB
2
Mukus kental, ronchi (+)
Lanjutkan intervensi
Subyektif :
 Klien mengatakan napas sesak
Obyektif :
 Respirasi 28 x/menit, Nadi 88 x/menit, TD 120/80 mmHg, pola
napas cepat dan dangkal
Analisa :
Masalah belum teratasi
Planning :
1. Identifikasi faktor penyebab.
2. Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap
perubahan yang terjadi.
3. Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman, dalam posisi duduk,
dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 – 90 derajat.
4. Observasi tanda-tanda vital (Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4
jam.
5. Lakukan auskultasi suara napas tiap 2-4 jam
6. Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.
7. Kolaborasi untuk pemberian O2 dan obat-obatan.
[50]
Implementasi :
1. Mengobservasi TTV
2. Membaringkan pasien dalam posisi duduk, dengan kepala tempat tidur
ditinggikan 60-90 derajat
3. Membantu dan mengajarkan kepada pasien untuk batuk dan napas
dalam yang efektif.
4. Kolaborasi dalam pemberian oksigen
Evaluasi :
 Klien masih mengeluh napas sesak, pola napas cepat dan
dangkal
 Lanjutkan intervensi
3
16.00
WIB
Subyektif :
 Klien mengatakan nyeri dada sebelah kanan
Obyektif :
 Klien tampak meringis saat berubah posisi, skala 5 (1-10)
Analisa :
 Masalah belum teratasi
Planning :
1. Observasi TTV
2. Kaji lokasi dan intensitas nyeri.
3. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan.
4. Dorong menggunakan teknik manajemen relaksasi.
5. Kolaborasikan obat analgetik sesuai indikasi
Implementasi :
1. Mengobservasi tanda-tanda vital
2. Mengkaji lokasi dan intensitas nyeri
3. Memberikan obat analgetik, tramadol 1 tablet peroral
Evaluasi :
 Klien masih mengeluh nyeri dada
 Lanjutkan intervensi
[51]
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pleura parietalis dan viseralis letaknya berhadapan satu sama lain dan hanya
dipisahkan oleh selapis tipis cairan serosa. Lapisan tipis cairan ini memperlihakan
adanya keseimbangan antara transudasi dai kapiler-kapiler pleura dan reabsorpsi oleh
vena visceral dan parietal, dan saluran getah bening. Efusi pleura adalah istilah yang
digunakan untuk penimbunan cairan dalam rongga pleura. Efusi pleura dapat berupa
transudat atau eksudat.
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari dalam
kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan
transudat atau cairan eksudat biasanya Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan
jantung kongestif (gagal jantung kiri), sindroma nefrotik, asites (oleh karena sirosis
hepatis), syndroma vena cava superior, tumor, sindroma meig. Eksudat disebabkan
oleh infeksi, TB, preumonia dan sebagainya, tumor, infark paru, radiasi, penyakit
kolagen.
Dalam mendiagnosis asuhan keperawatan pada pasien dengan efusi pleura dengan
mengidentifikasi apa factor pecetus dari efusi pleura itu sendiri. Selanjutnya di lakukan
pemeriksaan yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, kaji respon pasien dan kaji
pemeriksaan diagnostic. .
Dengan membesarnya efusi akan terjadi restriksi ekspansi paru dan pasien mungkin
mengalami :

Dispneu bervariasi

Nyeri pleuritik biasanya mendahului efusi sekunder akibat penyakit pleura

Trakea bergeser menjauhi sisi yang mengalami efusi

Ruang interkostal menonjol (efusi yang berat)

Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang terkena

Perkusi meredup di atas efusi pleura
[52]

Egofoni di atas paru-paru yang tertekan dekat efusi

Suara nafas berkurang di atas efusi pleura

Fremitus vokal dan raba berkurang
2. Saran
Maka dalam penangan pasien dengan efusi pleura prioritas keperawatan,:
1. Meningkatkan/mempertahankan ekspansi paru untuk oksigenasi/ventilasi
adekuat
2. Meminimalkan/mencegah komplikasi
3. Menurunkan ketidaknyamanan/nyeri
4. Memberikan informasi tentang proses penyakit, program pengobatan, dan
prognosis
[53]
Download