BAB I Pendahuluan_ 2011apr

advertisement
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebutuhan pangan asal hewan dari hari ke hari terus bertambah seiring
dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat gizi bagi
kehidupan manusia. Daging, telur dan susu merupakan bahan pangan hewani
berkualitas tinggi karena mengandung protein yang tersusun dari asam amino
essensial yaitu asam amino yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh ataupun
digantikan oleh sumber makanan lain. Peranan protein hewani terutama daging
cukup penting dalam rangka mencapai standar kelayakan gizi. Perubahan pola
konsumsi serta selera masyarakat, menyebabkan kebutuhan bahan pangan hewani
sebagai kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk hidup cerdas, sehat, kreatif
dan produktif sehingga peningkatan konsumsi protein hewani tersebut diharapkan
dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia.
Seiring dengan perkembangan kebutuhan tersebut, keamanan pangan asal
hewan juga tidak lepas dari perhatian konsumen. Keamanan pangan didefinisikan
sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk pencegahan pangan dari
kemungkinan cemaran biologis, kimia dan bahan lain yang dapat mengganggu,
merugikan dan membahayakan kesehatan manusia (Peraturan Pemerintah Nomor
28 Tahun 2004). Pemerintah dalam merealisasikan penyediaan daging yang aman
menetapkan sebagai daging ASUH, yakni aman, sehat, utuh dan halal. Aman
berarti daging tidak mengandung bahaya yang dapat menimbulkan penyakit dan
mengganggu kesehatan manusia. Sehat berarti daging memiliki zat-zat yang
berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh. Utuh berarti daging tidak
dikurangi atau dicampur dengan bagian lain dari hewan tersebut atau bagian dari
hewan lain. Halal berarti hewan dipotong dan ditangani sesuai syariat agama
Islam. Pangan halal didefinisikan sebagai bahan pangan yang tidak mengandung
unsur atau bahan haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam serta
pengolahannya tidak bertentangan dengan syariat Islam (DEPAG RI 2001).
Pemerintah telah berupaya melindungi konsumen dengan berbagai Undangundang dan Peraturan Pemerintah, namun sampai saat ini pemalsuan produk
pangan khususnya daging olahan masih sering terjadi. Pencampuran daging lain
pada produk daging olahan biasanya bertujuan untuk menekan biaya produksi.
Banyak kasus penipuan dan kontaminasi dengan penggunaan bahan-bahan yang
tidak layak konsumsi dan tidak halal. Kontaminasi bahan tersebut dapat terjadi
pada tahap awal atau tahap akhir produksi dan ada juga yang tanpa disengaja.
Pencampuran dengan daging lain pada produk daging olahan biasanya bertujuan
untuk menekan biaya produksi. Permasalahan yang muncul adalah apabila
pencampuran tersebut menggunakan jenis daging yang tidak boleh dikonsumsi
oleh masyarakat tertentu terkait dengan agama dan budaya. Contoh kasus tersebut
adalah telah beredarnya isu bakso sapi yang dicampur daging tikus di beberapa
daerah akhir-akhir ini mengakibatkan kekhawatiran dan keresahan masyarakat
terkait dengan cemaran biologis dan bahan lain sesuai dengan definisi keamanan
pangan menurut PP no. 28 Tahun 2004 serta keutuhan daging dan produk
olahannya.
Teknik deteksi dan identifikasi jenis hewan menjadi sangat penting dalam
daging dan produk olahan untuk mengetahui keaslian produk guna menjamin
keamanan dan kehalalan pangan serta melindungi konsumen dari pemalsuan
informasi. Metode analisis yang akurat dengan prosedur sederhana dan cepat
sangat diperlukan untuk pelabelan produk daging.
Multipleks PCR merupakan salah satu variasi dari teknik PCR dengan
beberapa primer yang digunakan bersama-sama untuk amplifikasi pada beberapa
daerah target. Teknik multipleks PCR sangat berguna untuk identifikasi jenis atau
sumber daging karena dapat mendeteksi dengan cepat dan akurat. Teknik ini
memiliki beberapa keunggulan salah satunya adalah dapat mendeteksi sampel
dalam keadaan mentah maupun sudah mengalami proses pengolahan yang
mengaplikasikan pemanasan dengan suhu tinggi dan dengan persentase
kandungan cemaran daging yang relatif rendah.
Penggunaan DNA mitokondria (mtDNA) didasarkan pada beberapa alasan
diantaranya yaitu DNA mitokondria memiliki jumlah beberapa kali lipat lebih
banyak daripada DNA nukleus yang memungkinkan keberhasilan amplifikasi
PCR dengan ketersediaan DNA cetakan hasil ekstraksi yang mencukupi untuk
deteksi terutama pada sampel yang telah terdegradasi atau dalam jumlah sedikit,
laju mutasi mtDNA lebih cepat daripada DNA nukleus dan keragaman urutan
basa nukleotida memudahkan identifikasi jenis hewan yang berkaitan erat dalam
satu famili atau genus. DNA mitokondria diwariskan seluruhnya dari ibu,
sehingga mtDNA bersifat unik
untuk pelacakan garis keturunan terutama di
wilayah yang sangat kekal seperti wilayah gen cyt b dibandingkan DNA nukleus
yang diwariskan dari kedua tetua yang dapat mengakibatkan ambiguitas karena
keragaman yang tinggi antar individu. Penelitian tentang identifikasi jenis daging
telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan penggunaan DNA mitokondria.
Gen-gen yang paling sering digunakan sebagai penanda jenis hewan atau daging
diantaranya adalah sitokrom b (cyt b), 12S dan 16S subunit ribosom RNA dan
daerah displacement loop (D-loop).
Beberapa peneliti telah menggunakan gen sitokrom b (cyt b) untuk
membedakan material yang berasal dari jenis hewan yang berbeda. Adanya variasi
urutan pada cyt b menyebabkan gen ini banyak digunakan sebagai penanda untuk
pengelompokan jenis hewan. Kekhasan dari gen cyt b diantaranya yaitu adanya
daerah yang hampir sama untuk semua jenis hewan tetapi juga terdapat daerah
yang spesifik untuk setiap jenis hewan. Kedua daerah tersebut berada dalam satu
gen sehingga dalam penggunaannya untuk membedakan beberapa jenis hewan
relatif lebih akurat.
Metode deteksi dan identifikasi jenis daging dan produk olahan terus
dikembangkan sebagai suatu upaya perlindungan konsumen dan pelaksanaan
pelabelan pangan. Teknik amplifikasi DNA spesifik untuk setiap jenis hewan pada
keamanan dan kehalalan pangan dapat digunakan untuk verifikasi, sertifikasi
(pengesahan), maupun untuk monitoring kebanyakan protein hewani dan produkproduk berkaitan untuk kegunaan authentikasi aman dan halal secara efisien dan
efektif.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik spesifik (kekhasan)
dan menentukan sensitivitas gen sitokrom b (cyt b) sebagai marka spesifik untuk
tikus dan menguji efektivitas primer spesifik yang berasal dari sekuen cyt b pada
famili Muridae, ordo Rodensia terutama tikus sebagai penciri jenis hewan dan
salah satu aplikasinya yaitu untuk mendeteksi adanya cemaran daging tikus pada
produk pangan asal daging.
Manfaat
Pemanfaatan dan pengembangan penanda spesifik tersebut diharapkan dapat
membantu dalam menyediakan teknologi yang aplikatif untuk melindungi
konsumen dari pemalsuan informasi khususnya pada produk pangan asal daging.
Hipotesis
Penanda genetik spesifik gen sitokrom b (cyt b) pada kambing (Capra
hircus), ayam (Gallus gallus), sapi (Bos taurus), domba (Ovis aries), babi (Sus
scrofa), kuda (Equus cabalus) dan tikus (Rattus norvegicus) memiliki fragmen
DNA unik yang mencirikan masing-masing jenis hewan tersebut.
Download