ORTOGONALITAS PADA RUANG BERNORMA SKRIPSI Oleh

advertisement
ORTOGONALITAS PADA RUANG BERNORMA
SKRIPSI
Oleh:
AKHMAD SYARIFUDDIN FAUQANORI
NIM. 09610061
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2013
ORTOGONALITAS PADA RUANG BERNORMA
SKRIPSI
Diajukan Kepada:
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si)
Oleh:
AKHMAD SYARIFUDDIN FAUQANORI
NIM. 09610061
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2013
ORTOGONALITAS PADA RUANG BERNORMA
SKRIPSI
Oleh:
AKHMAD SYARIFUDDIN FAUQANORI
NIM. 09610061
Telah Diperiksa dan Disetujui untuk Diuji
Tanggal: 29 Juni2013
Dosen Pembimbing I,
Dosen Pembimbing II,
Hairur Rahman, M.Si
NIP. 19800429 200604 1 003
Abdul Aziz, M.Si
NIP. 19760318 200604 1 002
Mengetahui,
Ketua Jurusan Matematika
Abdussakir, M.Pd
NIP. 19751006 200312 1 001
ORTOGONALITAS PADA RUANG BERNORMA
SKRIPSI
Oleh:
AKHMAD SYARIFUDDIN FAUQANORI
NIM. 09610061
Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi dan
Dinyatakan diterima sebagai Salah Satu Persyaratan
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si)
Tanggal: 11 September 2013
Penguji Utama
Ketua Penguji
Sekretaris Penguji
Anggota Penguji
: Drs. H. Turmudi, M.Si
NIP. 19571005 198203 1 006
________________
: Dr. Usman Pagalay, M.Si
NIP. 19650414 200312 1 001
________________
: Hairur Rahman, M.Si
NIP. 19800429 200604 1 003
________________
: Abdul Aziz, M.Si
NIP. 19760318 200604 1 002
________________
Mengesahkan,
Ketua Jurusan Matematika
Abdussakir, M.Pd
NIP. 19751006 200312 1 001
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: Akhmad Syarifuddin Fauqanori
NIM
: 09610061
Jurusan
: Matematika
Fakultas
: Sains dan Teknologi
Judul
: Ortogonalitas pada Ruang Bernorma
menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar
merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan data, tulisan
atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya
sendiri, kecuali dengan mencantumkan sumber cuplikan pada daftar pustaka.
Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan,
maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Malang, 3 Juli 2013
Yang membuat Pernyataan,
Akhmad Syarifuddin Fauqanori
NIM. 09610061
MOTTO
Bekerjalah untuk Duniamu seakan-akan kamu akan hidup
selamanya. Beribadahlah untuk Akhiratmu seakanakan kamu akan mati esok (Al-Hadits)
When life changes to be harder, change yourself to be
stronger (anonymous)
PERSEMBAHAN
Bismillahirrahmaanirrahiim...
Skripsi ini dipersembahkan untuk:
Ibunda tercinta Lailatul Qadariyah
Ayahanda tercinta Achmad Fadlillah Muchtar
Adik-adik tercinta Fitriyah Nurrahmah, Nurussakinah, dan
Miftahul Huda
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, dan inayah-Nya sehingga skripsi yang
berjudul “Ortogonalitas pada Ruang Bernorma” dapat diselesaikan dengan
baik. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW
yang telah mengantarkan umat manusia menuju jalan kebenaran.
Keberhasilan penulisan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, arahan, dan
bantuan dari berbagai pihak, baik berupa pikiran, motivasi, tenaga maupun do’a.
Karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Prof. Dr. H. Mudjia Raharjo, M.Si, selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang.
2.
Dr. drh. Hj. Bayyinatul Muchtaromah, M.Si, selaku Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
3.
Abdussakir, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Matematika Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang serta
pembimbing akademik yang telah memberikan motivasi dan bimbingan
kepada penulis semasa perkuliahan.
4.
Hairur Rahman, M.Si, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
meluangkan waktunya dan dengan sabar memberikan bimbingan dan arahan
kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
viii
5.
Abdul Aziz, M.Si selaku dosen pembimbing agama yang telah memberikan
bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
6.
Para dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang
telah mengajar, mendidik, dan membimbing penulis selama menempuh
pendidikan di Jurusan Matematika.
7.
Para staf dan karyawan Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang telah
memberikan pelayanan administrasi dengan baik.
8.
Rekan-rekan mahasiswa Jurusan Matematika angkatan 2009 yang telah
memberikan banyak masukan, motivasi, dan pengalaman-pengalaman
berharga selama masa perkuliahan.
9.
Ibunda Lailatul Qadariyah dan ayahanda Achmad Fadlillah Muchtar yang
jasa-jasanya dalam kehidupan penulis tidak dapat diuraikan satu-persatu.
10. Adik-adik penulis Fitriyah Nurrahmah, Nurussakinah, dan Miftahul Huda
yang tidak pernah berhenti memberikan do’a dan dukungan kepada penulis.
11. Achmad Wahyudi, Agus Maulana, Angga Debby Frayudha, Alfi Syahri Yuni,
Lailatul Urusyiyah, Misbakhul Choeroni, Mochammad Fajar Wildan,
Muhamad Imam Mutamaqin, Qosimil Junaidi, Sefiana Noor Cholidah, dan
Yusuf Arifuddin yang telah memberikan banyak masukan dan dukungan
kepada penulis.
12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas
bantuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
ix
Akhirnya, penulis memohon kepada Allah SWT semoga segala kebaikan
yang telah diberikan dibalas oleh-Nya. Semoga skripsi ini memberikan manfaat.
Amin Ya Robbal ‘Alamin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Malang, September 2013
Penulis
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGAJUAN
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PERNYATAAN
HALAMAN MOTTO
HALAMAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR ...................................................................................
DAFTAR ISI ..................................................................................................
DAFTAR SIMBOL .......................................................................................
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
ABSTRAK .....................................................................................................
ABSTRACT ...................................................................................................
‫اﻟﻤﻠﺨﺺ‬
........................................................................................................
viii
xi
xii
xiii
xiv
xv
xvi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................
1.4 Batasan Masalah ..............................................................................
1.5 Manfaat Penelitian ..........................................................................
1.6 Metode Penelitian ...........................................................................
1.7 Sistematika Penulisan .....................................................................
1
4
4
4
5
6
6
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Ruang Vektor ..................................................................................
2.2 Ruang Bernorma .............................................................................
2.3 Ruang Hasilkali Dalam . ..................................................................
2.4 Ruang Semi Hasilkali Dalam .........................................................
2.5 Ortogonalitas ...................................................................................
2.6 Kajian Agama tentang Ortogonalitas ..............................................
8
13
39
54
56
59
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Ortogonalitas-P ................................................................................
3.2 Ortogonalitas-I .................................................................................
3.3 Ortogonalitas-BJ ..............................................................................
3.4 Ortogonalitas-g ................................................................................
62
68
75
79
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan ..................................................................................... 88
4.1 Saran ............................................................................................... 88
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 89
xi
DAFTAR SIMBOL
.
: Norma (norm)
, 
: Hasilkali Dalam (Inner Product)
, 
: Semi Hasilkali Dalam (Semi Inner Product)

: Ortogonalitas
I
: Ortogonalitas-I (Isosceles Orthogonality)
P
: Ortogonalitas-P (Phytagorean Orthogonality)
BJ
: Ortogonalitas-BJ (Birkhoff-James Orthogonality)
g
: Ortogonalitas-g
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Grafik Fungsi f  x   x ............................................................... 21
Gambar 2.2 Grafik Fungsi u  x   2 x  1 ........................................................ 23
Gambar 2.3 Grafik Fungsi c  x   4 x  2 ........................................................ 25
Gambar 2.4 Grafik Fungsi v  x   3 x  2 ......................................................... 27
Gambar 2.5 Grafik Fungsi u  x   v  x   5 x  1 .............................................. 28
Gambar 2.6 Ilustrasi pada Ketaksamaan Young ................................................ 31
Gambar 3.1 Ilustrasi Ortogonalitas-P pada Ruang Bernorma ........................... 62
Gambar 3.2 Ilustrasi Ortogonalitas-I pada Ruang Bernorma ............................ 69
xiii
ABSTRAK
Fauqanori, Akhmad Syarifuddin. 2013. Ortogonalitas pada Ruang Bernorma. Skripsi
Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pembimbing: (I) Hairur Rahman, M.Si
(II) Abdul Aziz, M.Si
Kata Kunci: Ruang Vektor, Ruang Bernorma, Ruang Hasilkali Dalam, dan
Ortogonalitas.
Ortogonalitas merupakan salah satu konsep penting pada ruang hasilkali dalam,
karena ortogonalitas berhubungan dengan besar sudut antara dua vektor. Dua vektor x
dan y pada ruang hasilkali dalam jika dan hanya jika x, y  0 . Berdasarkan penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh J.R. Partington pada tahun 1986 mengenai ortogonalitas
pada ruang hasilkali dalam, diketahui bahwa ortogonalitas pada ruang hasilkali dalam
memenuhi beberapa sifat dasar antara lain: sifat nondegenerasi, simetri, homogenitas,
aditif kanan, resolvabilitas, dan kontinuitas.
Hal yang paling sering dikaji pada ruang bernorma adalah mengenai panjang
vektor dan jarak antara dua vektor. Terdapat beberapa definisi ortogonalitas pada ruang
bernorma, antara lain: ortogonalitas-P (Phytagorean Orthogonality), ortogonalitas-I
(Isosceles Orthogonality), ortogonalitas-BJ (Birkhoff-James Orthogonality), dan
ortogonalitas-g. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sifat-sifat ortogonalitas pada
ruang hasilkali dalam yang dapat dikembangkan pada ruang bernorma.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, yaitu
dengan mengumpulkan data dan informasi yang berhubungan dengan penelitian dengan
bantuan buku-buku, jurnal, artikel, dan sumber-sumber lain yang relevan.
Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa ortogonalitas-P
(Phytagorean Orthogonality) pada ruang bernorma riil memenuhi sifat nondegenerasi,
simetri, homogenitas, dan aditif kanan. Ortogonalitas-I (Isosceles Orthogonality) pada
ruang bernorma riil memenuhi sifat nondegenerasi, simetri, dan aditif kanan.
Ortogonalitas-BJ (Birkhoff-James Orthogonality) pada ruang bernorma riil memenuhi
sifat nondegenerasi, dan homogenitas. Ortogonalitas-g pada ruang semi hasilkali dalam
memenuhi sifat nondegenerasi, homogenitas, dan aditif kanan.
Disarankan untuk penelitian selanjutnya dapat mengkaji sifat-sifat dasar
ortogonalitas yang berlaku pada ruang bernorma-2 bahkan hingga ruang bernorma-n.
Selain itu, juga masih terdapat beberapa definisi ortogonalitas lain pada ruang bernorma,
seperti ortogonalitas-R dan ortogonalitas-D, sehingga masih membuka kemungkinan
untuk melakukan penelitian.
xiv
ABSTRACT
Fauqanori, Akhmad Syarifuddin. 2013. Orthogonality on Normed Space. Thesis.
Department of Mathematics Faculty of Science and Technology Maulana Malik
Ibrahim State Islamic University of Malang.
Advisors: (I) Hairur Rahman, M.Si
(II) Abdul Aziz, M.Si
Keywords: Vector Space, Normed Space, Inner Product Space, and Orthogonality
Orthogonality is one of the important concepts on inner product space, because
orthogonality associated with the angle between two vectros. Two vectors x and y in
inner product space are called orthogonal if only if x, y  0 .
Based on previous research conducted by J.R. Partington in 1986 concerning
orthogonality on inner product space, it is known that the orthogonality in inner product
space satisfy some basic properties such as: nondegeneracy, symetry, homogeneity, right
additivity, resolvability, and continuity.
The most often studied on normed space are the length of vector and the distance
between two vectors. There are several definitions of orthogonality on normed space,
such as: P-orthogonality (Phyatogerean Orthogonality), I-orthogonality (Isosceles
Orthonality), BJ-orthogonality (Birkhoff-James Orthogonality), and g-orthogonality.
Based on these issues, the aim of this research is to examine the properties of
orthogonality in the inner product space which can be developed on a normed space.
The method which is used in this research is library research, by collecting data
and related information to the research with the help of books, journals, articles, and other
sources are relevant.
Based on the discussion, it can be conclude that the P-orthogonality on real
normed space satisfy nondegeneracy, symetry, homogeneity, and right additivity. Iorthogonality on real normed space satisfy nondegeneracy, symetry, and right additivity.
BJ-orthogonality on real normed space satisfy nondegeneracy and homogeneity. Gorthogonality on semi inner product space satisfy nondegeneracy, homogeneity, and right
additivity.
Suggested for the next research to examine the fundamental properties that apply
to the orthogonality 2-normed space even up n-normed space. In addition, there are
several other definitions of orthogonality on normed space, such as R-orthogonality and
D-orthogonality, so it’s still open to the possibility of doing research.
xv
‫اﻟﻤﺨﻠﺼﺔ‬
‫ﻓوق اﻟﻧوري‪ ،‬اﺣﻣد ﺷرﯾف اﻟد ﯾن‪. ٢٠١٣ .‬اﻟﺗﻌﺎﻣد ﻓﻲ اﻷﻣﺎﻛن اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ‪ .‬أطروﺣﺔ ‪.‬ﻗﺳم اﻟرﯾﺎﺿﯾﺎت‪،‬‬
‫ﻛﻠﯾﺔ اﻟﻌﻠوم واﻟﺗﻛﻧوﻟوﺟﯾﺎ ﻓﻲ اﻟﺟﺎﻣﻌﺔ اﻹﺳﻼﻣﯾﺔ ﻣوﻻﻧﺎ ﻣﺎﻟك إﺑراھﯾم ﻣﺎﻻﻧﺞ اﻟدوﻟﺔ ‪.‬اﻟﻣﺷرف‬
‫ﻣﺳﺗﺷﺎر ‪ .١ :‬ﺧﯾر اﻟرﺣﻣن‪ ،‬اﻟﻣﺎﺟﺳﺗﯾر‬
‫‪ .٢‬ﻋﺑد اﻟﻌز ﯾز ‪ ،‬اﻟﻣﺎﺟﺳﺗﯾر‬
‫ﻛﻠﻣﺎت اﻟﺑﺣث ‪ :‬ﻓﺿﺎءات اﻟﻣﺗﺟﮫ‪ ،‬وﻣﺳﺎﺣﺎت اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ‪ ،‬وﻣﺳﺎﺣﺎت اﻟﻣﻧﺗﺞ اﻟداﺧﻠﯾﺔ‪ ،‬واﻟﺗﻌﺎﻣدﯾﺔ‬
‫اﻟﺗﻌﺎﻣد ھﻲ واﺣدة ﻣن اﻟﻣﻔﺎھﯾم اﻟﮭﺎﻣﺔ ﻓﻲ اﻟﻔﺿﺎء اﻟﻣﻧﺗﺞ اﻟداﺧﻠﯾﺔ‪ ،‬ﺑﺳﺑب اﻟﺗﻌﺎﻣد اﻟﻣرﺗﺑطﺔ اﻟزاوﯾﺔ ﺑﯾن اﺛﻧﯾن‬
‫ﻣن ﻧﺎﻗﻼت ‪.‬ﻣﺗﺟﮭﯾن ‪ x‬و ‪ y‬ﻓﻲ اﻟﻔﺿﺎء اﻟﻣﻧﺗﺞ اﻟداﺧﻠﯾﺔ إذا وﻓﻘط إذا ‪ . x, y  0‬اﺳﺗﻧﺎدا إﻟﻰ اﻷﺑﺣﺎث اﻟﺳﺎﺑﻘﺔ‬
‫اﻟﺗﻲ أﺟرﺗﮭﺎ ‪ J.R. Partington‬ﺳﻧﺔ ‪ ١٩٨٦‬ﺑﺷﺄن اﻟﺗﻌﺎﻣد ﻓﻲ اﻟﻣﺳﺎﺣﺎت اﻟداﺧﻠﯾﺔ اﻟﻣﻧﺗﺞ‪ ،‬ﻓﻣن اﻟﻣﻌروف أن اﻟﺗﻌﺎﻣد‬
‫ﻓﻲ اﻟﻣﺳﺎﺣﺎت اﻟداﺧﻠﯾﺔ اﻟﻣﻧﺗﺞ ﺗﻠﺑﯾﺔ ﺑﻌض اﻟﺧﺻﺎﺋص اﻷﺳﺎﺳﯾﺔ ﻣﺛل ‪:‬طﺑﯾﻌﺔ ﻏﯾر اﻻﻧﺣطﺎط‪ ،‬واﻟﺗﻣﺎﺛل‪ ،‬واﻟﺗﺟﺎﻧس‪،‬‬
‫واﻟﻣﺿﺎﻓﺎت اﻟﺣق‪ ،‬وإﻋﺎدة اﻟﻣﻼءة اﻟﻣﺎﻟﯾﺔ‪ ،‬واﻻﺳﺗﻣرارﯾﺔ‪.‬‬
‫وﻏﺎﻟﺑﺎ ﻣﺎ درﺳﮫ ﻓﻲ اﻟﻔﺿﺎء اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ ھو طول اﻟﻣوﺟﮫ واﻟﻣﺳﺎﻓﺔ ﺑﯾن ﻣﺗﺟﮭﯾن ‪.‬ھﻧﺎك ﻋدة‬
‫ﺗﻌرﯾﻔﺎت ﻟﻼﻟﺗﻌﺎﻣد ﻓﻲ اﻷﻣﺎﻛن اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ‪ ،‬ﻣن ﺑﯾن أﻣور أﺧرى ‪:‬اﻟﺗﻌﺎﻣد‪ Phytagorean ) P-‬اﻟﺗﻌﺎﻣدﯾﺔ(‬
‫‪ ،‬اﻟﺗﻌﺎﻣد‪) I-‬اﻟﺗﻌﺎﻣدﯾﺔ ﻣﺗﺳﺎوي اﻟﺳﺎﻗﯾن( ‪ BJ،‬اﻟﺗﻌﺎﻣد )‪ Birkhoff-James‬اﻟﺗﻌﺎﻣدﯾﺔ(‪ ،‬واﻟﺗﻌﺎﻣد‪ .G-‬وﺑﻧﺎء ﻋﻠﻰ ھذه‬
‫اﻟﻘﺿﺎﯾﺎ‪ ،‬وﺗﮭدف ھذه اﻟدراﺳﺔ إﻟﻰ دراﺳﺔ ﺧﺻﺎﺋص اﻟﺗﻌﺎﻣد ﻓﻲ اﻟﻔﺿﺎء اﻟﻣﻧﺗﺞ اﻟداﺧﻠﯾﺔ اﻟﺗﻲ ﯾﻣﻛن ﺗطوﯾرھﺎ ﻋﻠﻰ‬
‫ﻣﺳﺎﺣﺔ اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ‪.‬‬
‫اﻟطرﯾﻘﺔ اﻟﻣﺳﺗﺧدﻣﺔ ﻓﻲ ھذه اﻟدراﺳﺔ ھو اﻟﺑﺣث ﻓﻲ اﻟﻣﻛﺗﺑﺔ‪ ،‬ﻣن ﺧﻼل ﺟﻣﻊ اﻟﺑﯾﺎﻧﺎت واﻟﻣﻌﻠوﻣﺎت اﻟﻣﺗﻌﻠﻘﺔ‬
‫ﺑﮭذا اﻟﺑﺣث ﻣﻊ ﻣﺳﺎﻋدة ﻣن اﻟﻛﺗب واﻟﻣﺟﻼت واﻟﻣﻘﺎﻻت واﻟﻣﺻﺎدر اﻷﺧرى ذات اﻟﺻﻠﺔ‪.‬‬
‫واﺳﺗﻧﺎدا إﻟﻰ اﻟﻣﻧﺎﻗﺷﺔ‪ ،‬ﯾﻣﻛن أن ﻧﺧﻠص إﻟﻰ أن اﻟﺗﻌﺎﻣد‪ Phytagorean ) P-‬اﻟﺗﻌﺎﻣدﯾﺔ( ﻋﻠﻰ ﻣﺳﺎﺣﺔ اﻟوﺣدة‬
‫اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ ﺣﻘﯾﻘﻲ ﯾﻠﺑﻲ ﻏﯾر اﻻﻧﺣطﺎط‪ ،‬واﻟﺗﻣﺎﺛل‪ ،‬واﻟﺗﺟﺎﻧس‪ ،‬واﻟﻣﺿﺎﻓﺎت اﻟﺣق‪ .‬اﻟﺗﻌﺎﻣد‪) I-‬اﻟﺗﻌﺎﻣدﯾﺔ ﻣﺗﺳﺎوي‬
‫اﻟﺳﺎﻗﯾن( ﻋﻠﻰ ﻣﺳﺎﺣﺔ اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ ﺣﻘﯾﻘﻲ ﯾﻠﺑﻲ ﻏﯾر اﻻﻧﺣطﺎط‪ ،‬واﻟﺗﻣﺎﺛل‪ ،‬واﻟﻣﺿﺎﻓﺎت اﻟﺣق‪-BJ .‬‬
‫اﻟﺗﻌﺎﻣدﯾﺔ )‪ Birkhoff-James‬اﻟﺗﻌﺎﻣدﯾﺔ( ﻋﻠﻰ ﻣﺳﺎﺣﺔ اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ ﺣﻘﯾﻘﻲ ﯾﻠﺑﻲ ﻏﯾر اﻻﻧﺣطﺎط‪،‬‬
‫واﻟﺗﺟﺎﻧس‪ .‬اﻟﺗﻌﺎﻣد‪ G-‬ﻋﻠﻰ ﻣﺳﺎﺣﺎت اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ اﻟﺣﻘﯾﻘﯾﺔ ﺗﻠﺑﯾﺔ ﺧﺻﺎﺋص ﻏﯾر اﻻﻧﺣطﺎط‪ ،‬واﻟﺗﺟﺎﻧس‪،‬‬
‫واﻟﻣﺿﺎﻓﺎت اﻟﺣق‪.‬‬
‫واﻗﺗرح إﺟراء اﻟﻣزﯾد ﻣن اﻟﺑﺣوث ﻟدراﺳﺔ اﻟﺧﺻﺎﺋص اﻷﺳﺎﺳﯾﺔ اﻟﺗﻲ ﺗﻧطﺑق ﻋﻠﻰ اﻟﺗﻌﺎﻣد اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ‬
‫اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ اﻟﻔﺿﺎء ‪-2‬ﺣﺗﻰ ﻣﺳﺎﺣﺔ ﺗﺻل ‪-N‬اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ ‪.‬وﺑﺎﻹﺿﺎﻓﺔ إﻟﻰ ذﻟك‪ ،‬ھﻧﺎك ﻋدة ﺗﻌرﯾﻔﺎت أﺧرى‬
‫ﻣن اﻟﺗﻌﺎﻣد ﻓﻲ اﻷﻣﺎﻛن اﻟوﺣدة اﻟطﺑﯾﺔ اﻟﻧروﯾﺟﯾﺔ‪ ،‬ﻣﺛل اﻟﺗﻌﺎﻣد‪ R-‬واﻟﺗﻌﺎﻣد‪ ،D-‬ﻟذﻟك ﻣﺎ زال ﻣﻔﺗوﺣﺎ أﻣﺎم إﻣﻛﺎﻧﯾﺔ اﻟﻘﯾﺎم‬
‫اﻟﺑﺣوث‪.‬‬
‫‪xvi‬‬
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Analisis fungsional merupakan cabang analisis yang menggabungkan
antara aljabar linier dan analisis. Pembahasan pada analisis fungsional meliputi
ruang vektor pada dimensi tak hingga serta pemetaan-pemetaan di antara ruang
vektor. Selain itu juga dibahas tentang konsep kekontinuan dan kekonvergenan
pada ruang vektor. Objek-objek pada analisis fungsional meliputi ruang bernorma,
ruang hasilkali dalam, dan operator-operator linier kontinu pada ruang vektor.
Konsep dasar dari ruang bernorma dan ruang hasilkali dalam adalah ruang
vektor. Pada dasarnya ruang-ruang matematika membentuk suatu hierarki, yakni
ruang-ruang anak dapat mewarisi karakteristik induknya. Misalnya, semua ruang
hasilkali dalam merupakan ruang bernorma, karena hasilkali dalam menginduksi
norma pada ruang hasilkali dalam. Secara umum ruang bernorma didefinisikan
sebagai ruang vektor yang dilengkapi dengan fungsi norma dengan memenuhi
sifat-sifat ruang bernorma. Istilah norma (norm) pada suatu vektor didefinisikan
sebagai panjang dari vektor atau jarak antara dua vektor.
Istilah panjang dan jarak sebenarnya telah dijelaskan dalam Al-Qur’an
baik yang dijelaskan secara langsung maupun secara tidak langsung. Istilah
panjang telah dijelaskan secara langsung dalam Al-Qur’an surat Al-Haqqah ayat
32 yang berbunyi sebagai berikut:
1
2
       
Artinya: “Kemudian belitlah Dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh
hasta (Q.S Al-Haqqah: 32)”.
Pada surat Al-Haqqah ayat 32, terdapat satuan panjang tradisional, yaitu
hasta. Satuan ukuran panjang yang digunakan adalah satuan yang tidak baku
(Abdussakir, 2007:132).
Al-Qur’an secara tidak langsung juga telah menjelaskan konsep jarak,
seperti yang terdapat dalam surat Al-Isra’ ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut:
           
          
Artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu
malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagai tandatanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui (Q.S Al-Isra’: 1)”.
Surat Al-Isra’ ayat 1 menjelaskan tentang peristiwa Isra’ Mi’raj. Peristiwa
Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam dan wajib
diyakini kebenarannya. Isra’ atau perjalanan malam merupakan perjalanan yang
dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Baitul Muqaddas,
sedangkan mi’raj merupakan perjalanan naiknya Nabi Muhammad SAW ke langit
dunia yang terdekat kemudian ke Mustawa (Al Maraghi, 1993:6).
Secara tidak langsung konsep jarak yang dijelaskan pada surat Al-Isra’
ayat 1, yaitu mengenai jarak antara dua tempat, yaitu Masjidil Haram yang dapat
dianalogikan sebagai titik awal dan Masjidil Aqsha atau Baitul Muqaddas yang
3
dapat dianalogikan sebagai titik akhir (tujuan). Dengan adanya titik awal dan titik
akhir maka dapat ditentukan jarak antara dua titik.
Selain surat Al-Isra’ ayat 1, dalam Al-Qur’an juga terdapat ayat yang
secara langsung menjelaskan tentang konsep jarak, seperti yang terdapat pada AlQur’an surat An-Najm ayat 9 yang berbunyi sebagai berikut:
     
Artinya: “Maka jadilah Dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur
panah atau lebih dekat (lagi) (Q.S An-Najm: 9)”.
Surat An-Najm ayat 9 secara langsung telah menjelaskan tentang konsep
pengukuran panjang atau jarak menggunakan satuan ukur ujung busur panah
(Abdussakir, 2007:131).
Hasilkali dalam pada ruang vektor riil V
merupakan fungsi yang
mengasosiasikan suatu bilangan riil dengan sepasang vektor pada V , sehingga
memenuhi aksioma-aksioma ruang hasilkali dalam. Jika u dan v vektor-vektor
pada ruang vektor rill V maka hasilkali dalam antara vektor u dan v dinotasikan
dengan u, v . Ruang vektor riil yang dilengkapi dengan fungsi hasilkali dalam
disebut ruang hasilkali dalam riil (Anton & Rorres, 2004:310).
Ortogonalitas merupakan salah satu konsep penting pada ruang hasilkali
dalam, karena ortogonalitas berhubungan dengan besar sudut antara dua vektor.
Dua vektor u dan v pada ruang hasilkali dalam V dikatakan ortogonal jika dan
hanya jika u, v  0 (Anton & Rorres, 2004:327).
4
Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh J.R Partington pada
tahun 1986 diketahui bahwa ortogonalitas pada ruang hasilkali dalam memenuhi
beberapa sifat, antara lain sifat nondegenerasi, simetri, homogenitas, aditif kanan,
resolvabilitas, dan kontinuitas. Hal yang paling sering dikaji pada ruang bernorma
adalah mengenai panjang vektor dan jarak antara dua vektor.
Pada ruang bernorma terdapat beberapa definisi ortogonalitas, antara lain
Orthogonality),
ortogonalitas-P
(Phytagorean
Orthogonality),
ortogonalitas-BJ
ortogonalitas-I
(Birkhoff-James
(Isosceles
Orthogonality),
dan
ortogonalitas-g yang dikembangkan oleh Milicic. Secara umum telah diketahui
bahwa tidak semua ruang bernorma merupakan ruang hasilkali dalam, sehingga
penulis tertarik untuk mengkaji ortogonalitas pada ruang bernorma di mana tidak
semua sifat-sifat ortogonalitas pada ruang hasilkali dalam dapat dikembangkan
pada ruang bernorma. Oleh karena itu, penulis mengambil judul “Ortogonalitas
pada Ruang Bernorma”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah
yaitu, bagaimanakah sifat-sifat dasar ortogonalitas yang berlaku pada ruang
bernorma?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini yaitu
mengetahui sifat-sifat ortogonalitas yang berlaku pada ruang bernorma.
1.4 Batasan Masalah
Adapun yang menjadi batasan masalah pada penelitian ini, antara lain:
5
1. Sifat-sifat dasar ortogonalitas yang dikaji, yaitu pada ortogonalitas-P
(Phytagorean
Orthogonality),
ortogonalitas-I
(Isosceles
Orthogonality),
ortogonalitas-BJ (Birkhoff-James Orthogonality), dan ortogonalitas-g pada
ruang bernorma.
2. Ruang bernorma yang dikaji pada penelitian ini adalah ruang bernorma-1.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini antara lain:
1. Manfaat bagi Penulis
Untuk memperdalam dan mengembangkan wawasan disiplin ilmu yang telah
dipelajari, yaitu ilmu matematika khususnya mengenai analisis. Selain itu,
penelitian ini juga menjadi sarana untuk menyelesaikan pendidikan di tingkat
strata satu.
2. Manfaat bagi Instansi
Mendapatkan sumbangan pemikiran sebagai kontribusi nyata terhadap Jurusan
Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang.
3. Manfaat bagi Pembaca
Sebagai tambahan wawasan, referensi, dan informasi tentang sifat-sifat
ortogonalitas,
yaitu
ortogonalitas-P
(Phytagorean
Orthogonality),
ortogonalitas-I (Isosceles Orthogonality), ortogonalitas-BJ (Birkhoff-James
Orthogonality), dan ortogonalitas-g pada ruang bernorma.
6
1.6 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan
(library research), yaitu dengan mengumpulkan data dan informasi yang
berhubungan dengan penelitian dengan bantuan buku-buku, jurnal, artikel, dan
sumber-sumber lain yang relevan.
Adapun langkah-langkah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendefinisikan ortogonalitas pada ruang hasilkali dalam serta sifat-sifat dasar
ortogonalitas pada ruang hasilkali dalam.
2. Mendefinisikan hubungan antara ruang hasilkali dalam dan ruang bernorma.
3. Mendefinisikan ortogonalitas pada ruang bernorma, yaitu ortogonalitas-P
(Phytagorean
Orthogonality),
ortogonalitas-I
(Isosceles
Orthogonality),
ortogonalitas-BJ (Birkhoff-James Orthogonality), dan ortogonalitas-g.
4. Membuktikan sifat-sifat ortogonalitas, yaitu ortogonalitas-P (Phytagorean
Orthogonality), ortogonalitas-I (Isosceles Orthogonality), ortogonalitas-BJ
(Birkhoff-James Orthogonality), dan ortogonalitas-g pada ruang bernorma
melalui definisi ortogonalitas pada ruang hasilkali dalam.
1.7 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan penelitian ini dibagi menjadi empat bab, dengan
sistematika sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Pada bab ini akan membahas beberapa sub bahasan, yaitu latar belakang,
rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, manfaat penelitian,
metode penelitian, dan sistematika penulisan.
7
Bab II Kajian Pustaka
Pada bab ini akan membahas beberapa sub bahasan yang berisi tentang
teori-teori yang ada kaitannya dengan hal-hal yang penulis bahas, yaitu
ruang vektor (vector space), ruang bernorma (normed space), ruang
hasilkali dalam (inner product space), ruang semi hasilkali dalam,
ortogonalitas, dan kajian agama tentang ortogonalitas.
Bab III Pembahasan
Pada bab ini akan membahas beberapa sub bahasan tentang ortogonalitasP, ortogonalitas-I, ortogonalitas-BJ, dan ortogonalitas-g pada ruang
bernorma serta sifat-sifat dasar ortogonalitasnya.
Bab IV Kesimpulan
Pada bab ini berisi kesimpulan penelitian dan saran untuk penelitian
selanjutnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Ruang Vektor
Definisi 2.1
Ruang vektor (vector space) atas lapangan (field)  adalah himpunan tak
kosong V yang dilengkapi dengan dua fungsi, yaitu fungsi yang memetakan
V x V ke V dan fungsi yang memetakan  x V ke V , yang secara berturut-turut
dinotasikan dengan x  y dan  x, untuk setiap x, y  V dan   , sedemikian
hingga untuk setiap 1,  ,    dan x, y, z  V berlaku:
1. x  y  y  x, x   y  z    x  y   z .
2. Terdapat objek 0  V sedemikian hingga x  0  x .
3. Terdapat objek -x V sedemikian hingga x   -x   0 .
4. 1x  x,    x     x, dalam hal ini 1 merupakan elemen identitas pada
operasi perkalian skalar.
5.   x + y    x   y ,     x   x   x .
Jika    atau    secara berturut-turut maka V merupakan ruang
vektor riil atau ruang vektor kompleks. Anggota dari  disebut skalar, sedangkan
anggota dari V disebut vektor. Operasi x + y disebut penjumlahan vektor (vector
addition), sedangkan operasi  x disebut perkalian skalar (scalar multiplication)
(Rynne & Youngson, 2008:3).
8
9
Contoh 2.1
Buktikan
bahwa
n
ruang
vektor,
jika
u   u1 , u2 ,..., un 
dan
v   v1 , v2 ,..., vn  merupakan vektor-vektor sebarang pada  n dengan operasioperasi standar penjumlahan dan perkalian skalar yang didefinisikan sebagai
u + v   u1  v1 , u2  v2 ,..., un  vn 
dan jika  adalah sebarang skalar, maka perkalian skalar didefinisikan sebagai
 u   u1 ,  u2 ,...,  un  .
Penyelesaian:
Untuk membuktikan bahwa  n merupakan ruang vektor maka perlu
ditunjukkan vektor-vektor pada  n memenuhi sifat-sifat berikut:
1. u + v = v + u dan u   v  w    u  v   w untuk setiap u, v, w   n . Karena
u + v   u1 , u2 ,..., un    v1 , v2 ,..., vn 
  u1  v1 , u2  v2 ,..., un  vn 
  v1  u1 , v2  u2 ,..., vn  un 
 v +u
dan
u   v  w    u1 , u2 ,..., un     v1 , v2 ,..., vn    w1 , w2 ,..., wn  
  u1 , u2 ,..., un    v1  w1 , v2  w2 ,..., vn  wn 
  u1  v1  w1 , u2  v2  w2 ,..., un  vn  wn 
  u1  v1 , u2  v2 ,..., un  vn    w1 , w2 ,..., wn 
  u  v   w.
10
2. Terdapat objek 0   n yang didefinisikan sebagai
0   0, 0,..., 0  .
sedemikian hingga u  0  u. Karena
u  0   u1 , u2 ,..., un    0, 0,..., 0 
  u1  0, u2  0,..., un  0 
  u1 , u2 ,..., un 
 u.
3. Terdapat objek -u   n yang didefinisikan sebagai
-u   u1 , u2 ,..., un  .
sedemikian hingga u   -u   0. Karena
u   -u    u1 , u2 ,..., un    u1 , u2 ,..., un 
  u1   u1  , u2   u2  ,..., un   un  
  u1  u1 , u2  u2 ,..., un  un 
  0,0,...,0 
 0.
4. 1u  u dan    x     x. Karena
1u  1 u1 , u2 ,..., un 
 1u1 ,1u2 ,...,1un 
  u1 , u2 ,..., un 
u
dan
11
   u      u1 ,  u2 ,...,  un 
   u1 , u2 ,..., un 
   u.
5.   u  v    u   v dan     u =  u   u, untuk    dan u, v  n .
Karena
  u  v     u1  v1 , u2  v2 ,..., un  vn 
   u1  v1  ,   u2  v2  ,...,   un  vn  
  u1   v1 ,  u2   v2 ,...,  un   vn 
  u1 ,  u2 ,...,  un    v1 ,  v2 ,...,  vn 
 u   v
dan
    u      u1 , u2 ,..., un 
      u1 ,     u2 ,...,     un 
  u1   u1 ,  u2   u2 ,...,  un   un 
  u1 ,  u2 ,...,  un     u1 ,  u2 ,...,  un 
  u   u.
Teorema 2.1
Misalkan V suatu ruang vektor, x merupakan suatu vektor pada V dan k
adalah suatu skalar maka berlaku:
1. 0x  0 .
2. k 0  0 .
3. 1 x    x .
4. Jika kx  0 maka k  0 atau x  0 . (Anton & Rorres, 2004:233).
12
Bukti:
1. Diketahui bahwa 0 merupakan suatu skalar, maka vektor 0x dapat ditulis
sebagai vektor
 a   a   x ,
di mana a adalah sebarang skalar sehingga
berlaku
0x   a    a   x
 ax   a  x
 0.
2. Diketahui bahwa k merupakan sebarang skalar dan 0 merupakan vektor nol.
Vektor k0 dapat ditulis sebagai vektor k  x   -x   , sehingga berlaku
k 0  k  x   -x  
 kx  k  -x 
 kx  kx
 0.
3. Berdasarkan teorema 2.1 bagian 1 diketahui 0x  0 . Vektor 0x dapat ditulis
sebagai vektor 1   1  x, sehingga berlaku
0x  1   1  x
 1x   1 x
 x   1 x
sehingga diperoleh 1 x   -x.
4. Untuk k  0 dan x  0 maka kx  0, sedangkan untuk k  0 dan x  0 maka
kx  0. Dapat disimpulkan jika kx  0 maka k  0 atau x  0.
13
2.2 Ruang Bernorma
Definisi 2.2
Misalkan X merupakan suatu ruang vektor atas . Suatu norma pada X
merupakan suatu fungsi  : X  , sedemikian hingga untuk semua x, y  X
dan    berlaku:
1. x  0 .
2. x  0 jika dan hanya jika x  0 .
3.  x   x .
4. x  y  x  y . (Rynne & Youngson, 2008:31).
Definisi 2.3
Secara umum, fungsi norma pada  n
untuk 1  p   didefinisikan
dengan
1
x
p
 n
p p
   xi 
 i 1
 
 2.1
Fungsi norma pada  n untuk p  1 didefinisikan dengan
x 1  x1  x2    xn 
 2.2 
Fungsi norma pada  n untuk p  2 didefinisikan dengan
1
 n
2 2
x 2    xi 
 i 1
 
 2.3
Fungsi norma pada  2.3 disebut sebagai norma Euclid, sedangkan untuk p  
fungsi norma pada  n didefinisikan dengan
14
x

 max  x1 , x2 ,..., xn 
 2.4 
(Debnath & Mikusinski, 1990:11).
Contoh 2.2
Misalkan X   2 , di mana k , l  X dengan k   3, 4  dan l   6, 8  .
Fungsi norma pada X didefinisikan seperti pada persamaan  2.3 . Tunjukkan
apakah vektor-vektor pada X memenuhi sifat-sifat ruang bernorma.
Penyelesaian:
1. k  0. Karena
1
 n
2 2
k    ki 
 i 1


1
2 2

2
 k1  k2

2
 3  4
1
2 2

 9  16
 25
 5  0.
2. k  0, jika dan hanya jika k  0.
Jika k  0 maka
1
 n
2 2
k    ki 
 i 1


0
2
 k1  k2
 0.
2
0
1
2 2

1
2 2

15
Jika k  0 maka k1  k2  0 atau k  0.
3.  k   k , Ambil   2. Karena
1
 n
2 2
 k     ki 
 i 1


2
  k1   k2

1
2 2

2
 2   3  2  4
1
2 2

 6 2  82
 36  64
 100
 10
1
1
2 2
 n
2 2

k

i 

 i 1

 
 k  

2
  k1  k2
 2
  3 
2
1
2 2
4

1
2 2

 2  9  16
 2  25
 2 5
 10
4. k  l  k  l . Karena
1
 n
2 2
k    ki 
 i 1


  3
2
 k1  k 2
2
4
1
2 2


1
2 2
16
 9  16
 25
5
1
 n 2 2
l    li 
 i 1


2
 l1  l2

2
1
2 2

 6  8
1
2 2

 36  64
 100
 10
1
 n
2 2
k  l    ki  li 
 i 1


2
 ki  l1  k2  l2

  3   6

2
 9  4
2
1
2 2

 4   8 
1
2 2

1
2 2

 81  16
 97
 9,848...
Jadi, vektor k   3, 4  dan l   6, 8  pada ruang vektor X memenuhi
sifat-sifat ruang bernorma.
17
Definisi 2.4
Diberikan himpunan A  . Liput terbuka (open cover) dari A adalah
koleksi dari himpunan terbuka G  Ga  di  yang termuat pada himpunan A,
sehingga

A   Ga .
 2.5
a 1
Jika G ' merupakan koleksi bagian dari himpunan G sedemikian hingga
gabungan dari himpunan G ' yang juga termuat pada himpunan A, maka G '
disebut liput bagian (subcover) dari G. Jika G ' memuat berhingga himpunan,
maka G ' disebut liput bagian berhingga (finite subcover) dari G .
Himpunan K   dikatakan kompak (compact) jika setiap liput terbuka
(open cover) dari K memiliki liput bagian (subcover) berhingga (Bartle &
Sherbert, 2000:319-320).
Interval  0, 3 pada himpunan bilangan riil merupakan contoh himpunan
kompak (compact set).
Misal A   0,3 , liput terbuka (open cover) dari
himpunan bilangan riil yang juga termuat di A, yaitu
O   ,   .
Berdasarkan liput terbuka (open cover) O , diperoleh liput bagian
(subcover) yang juga termuat di A, yaitu
O '   1,1 ,  0, 2  , 1,3  .
18
Karena liput buka (open cover) dari interval  0,3 memiliki liput bagian
(subcover) yang banyaknya berhingga, sehingga interval  0,3 dari himpunan
bilangan riil merupakan himpunan kompak (compact set).
Diberikan ruang kompak (compact space) K dan C  K  merupakan suatu
ruang vektor dari fungsi-fungsi kontinu f di K . Fungsi norma pada C  K 
didefinisikan dengan


f  sup f  x  : x  K .
 2.6 
Dalam hal ini supremum merupakan batas atas terkecil dan K merupakan
suatu interval tertutup pada bilangan riil (Alsina, dkk., 2003:6).
Contoh 2.3
Tunjukkan apakah fungsi
f  x   x 2 dan g  x   3 x pada C  0,1
memenuhi sifat-sifat ruang bernorma.
Penyelesaian:
1. f  0. Karena
f  sup
x 0,1
 f  x 
 
 sup  0 , 1 
 sup x 2
x 0,1
2
 sup 0,1
 1  0.
2
19
2. f  0 jika dan hanya jika f  x   0.
Jika f  x   0 maka
f  sup
x 0,1
 f  x 
 
 sup x 2
x 0,1
   0.
 sup 0
2
Sebaliknya, jika f  0 maka f  x   0.
Jadi, terbukti bahwa f  0 jika dan hanya jika f  x   0.
3.  f   f . Ambil   3. Karena

 f  sup  f  x 
x 0,1

 sup  x 2
x 0,1

 sup  3 1



, 3 0 
 sup  12 ,   02
2
2
 sup  3 , 0   3
 f   sup
x 0,1
 f  x
 
  sup x 2
x 0,1

 3  sup 12 , 02
 3  sup  1 , 0 
 3 1  3

20
4. f  g  f  g . Karena
f  sup
x 0,1
 f  x 
 
 sup x 2
x 0,1

 sup 02 , 12

 sup 0,1
1

g  sup g  x 
x 0,1

 sup  3 x 
x 0,1
 sup  0 , 3 
 sup 0,3
3
f  g  sup
x 0,1
 f  x  g  x 

 sup x 2   3x 
x 0,1


 sup 02   3  0  , 12   3 1

 sup  0 , 2 
 sup 0, 2
 2.
Jadi, fungsi f  x   x 2 dan g  x   3 x pada C  0,1 memenuhi sifat-sifat
ruang bernorma.
21
Definisi 2.5
Ruang L1 didefinisikan sebagai ruang dari fungsi kontinu pada interval
tertutup  a, b sedemikian hingga
b
 f  t  dt  .
 2.7 
a
Fungsi norma pada L1 didefinisikan dengan
b
f 1   f  t  dt .
a
Contoh norma pada L1
Misalkan f  L1  1,1 dengan f  x   x . Tentukan f 1 .
Penyelesaian:
b
f 1   f  x  dx
a
1

 x dx
1
Diberikan fungsi f  x   x .
Gambar 2.1: Fungsi f  x   x
 2.8
22
Berdasarkan gambar 2.1 didapatkan
 x, x  0

x   0, x  0
  x, x  0

Sehingga integral tentu dari fungsi nilai mutlak dapat ditulis menjadi
1
0
1
 x dx    xdx   xdx
1
1
0
0
1
1 
1 
  x2   x2 
2  1 2  0
 1 1
 0  0
 2 2
1 1
 
2 2
 1.
Ruang Lp didefinisikan sebagai ruang dari fungsi kontinu bernilai riil pada
interval  a, b sedemikian hingga
b
 f t 
p
 2.9 
dt  .
a
Fungsi norma pada Lp didefinisikan dengan
b
f
p


p
   f  t  dt 
a

1
p
 2.10
(Alsina, dkk., 2003:6).
Contoh 2.4
Tunjukkan apakah fungsi u  x   2 x  1 dan v  x   3 x  2 pada L1  1,1
memenuhi sifat-sifat ruang bernorma.
23
Penyelesaian:
1. u  0 . Karena
1
u 
 u  x  dx
1
1

 2 x  1 dx.
1
Diberikan suatu fungsi u  x   2 x  1 .
Gambar 2.2: Fungsi u  x   2 x  1
Berdasarkan gambar 2.2 didapatkan
1

 2 x  1, x  2
2x 1  
1  2 x, x   1

2
Sehingga integral tentu dari suatu fungsi nilai mutlak dapat ditulis menjadi
1
1
2
1
 2 x  1 dx   1  2 x  dx    2 x  1 dx
1
1
2
1
1
1
 x  x 2  2  x 2  x  1
1
2
24
9 1

4 4
10
  0.
4

2. u  0 jika dan hanya jika u  x   0 .
Jika u  x   0 maka
1
u 
 u  x  dx
1
1

 0 dx
1
1
  0 dx
1
 0.
Jika u  0 maka u  x   0 .
3.  u   u . Ambil   2 , maka diperoleh
1
 u    u  x  dx
1
1

   2 x  1 dx
1
1

 2   2 x  1 dx
1
1

 4 x  2 dx
1
Diberikan suatu fungsi c  x   4 x  2
25
Gambar 2.3: Fungsi c  x   4 x  2
Berdasarkan gambar 2.3 diperoleh
2

 4 x  2, x  4
4x  2  
 2  4 x, x   2

4
Sehingga integral tentu dari suatu fungsi nilai mutlak dapat ditulis menjadi
 12

1


1 4 x  2 dx   1  2  4 x  dx  1  4 x  2  dx 




2
1
1
1 

  2 x  2 x 2  2  2 x 2  2 x  1 
1
2 


9 1

2 2

10
2
1
 u 
 u  x  dx
1
1

  2 x  1 dx
1
26
1
 2
  2 x  1 dx
1
1
 2
 2 x  1 dx
1
 12

1


 2   1  2 x  dx    2 x  1 dx 
1
 1

2


1
1 

2 2
 2  x  x   x 2  x  1 
1
2 

9 1
 2   
4 4
10
 2
4

20

4
4. u  v  u  v . Karena
1
u 
 u  x  dx
1
1

 2 x  1 dx
1
1
2

1
 1  2 x  dx    2 x  1 dx
1
2
1
1
2
1
 x  x  2  x 2  x  1
1
2
9 1
 
4 4

10
4
27
1
v 
 v  x  dx
1
1

 3x  2 dx
1
Diberikan suatu fungsi v  x   3 x  2
Gambar 2.4: Fungsi v  x   3 x  2
Berdasarkan gambar 2.4 diperoleh
2

 3 x  2, x   3
3x  2  
2  3 x, x   2

3
Sehingga integral tentu dari suatu fungsi nilai mutlak dapat ditulis menjadi

1

3 x  2 dx 
1
2
3
  3x  2  dx 
1
1
  3x  2  dx

2
3
2
2
  
 

3 2
 3 3 2
 3

  x  2x

x  2x
 2
 1   2
 1 

 


3 75 78


18 18 18
28
1
uv 
 u  x  v  x
1
1

  2 x  1   3x  2  dx
1
1

 5 x  1 dx
1
Diberikan suatu fungsi u  x   v  x   5 x  1
Gambar 2.5: Fungsi u  x   v  x   5 x  1
Berdasarkan gambar 2.5 didapatkan
1

 5 x  1, x   5
5x  1  
5 x  1, x   1

5
Sehingga integral tentu dari suatu fungsi nilai mutlak dapat ditulis menjadi
1

1
5
1
 5x  1 dx    5x  1 dx    5x  1 dx
1
1

1
5
1
  
1 

5
5
 5

   x2  x    x2  x  
 2
 1   2
1 
5 

 
16 36 52
 

10 10 10
29
Jadi, fungsi u  x   2 x  1 dan v  x   3 x  2 pada L1  1,1 memenuhi
sifat-sifat ruang bernorma.
Definisi 2.6
Ruang l1 didefinisikan sebagai ruang vektor yang anggotanya merupakan
barisan-barisan tak hingga dari bilangan riil atau kompleks yang dapat ditulis
dengan x  i   1 ,  2 ,... sedemikian hingga


i
 , untuk setiap       .
 2.11
i 1
Fungsi norma pada ruang l1 didefinisikan dengan

x   i .
 2.12
i 1
Contoh norma pada l1
Misalkan x  l1 dengan x  i   1, 0, 0,.... Tentukan x 1 .
Penyelesaian:

x 1   i
i 1
 1   2  3   4  
 1  0  0  0 
1
Sedangkan ruang l p didefinisikan sebagai ruang vektor yang anggotanya
merupakan barisan-barisan dari bilangan riil atau kompleks yang dapat ditulis
dengan x  i   1 ,  2 ,... sedemikian hingga


i 1
p
i
 , untuk setiap       .
 2.13
30
Fungsi norma pada ruang l p didefinisikan dengan
1
 
p p
x    i  .
 i 1

 2.14
Contoh norma pada l p
Misalkan x  l p dengan x  i   0,1, 0, 0,.... Tentukan x p .
Penyelesaian:
1
x
p
 
p p
   i 
 i 1


0
p
p
p

p
 1   2  3   4  
p
p
p

p
 1  0  0 
1
p
1
p
1
(Kreyszig, 1978:61).
Teorema 2.2 Ketaksamaan Young
Misalkan p, q  1 sedemikian hingga
ab 
1 1
  1 , maka berlaku
p q
a p bq
 , untuk semua a, b  0
p q
 2.15
Bukti:
Perhatikan gambar 2.6, diberikan fungsi y  x p  1, dengan x  0. Daerah
A1 yang dibatasi oleh kurva y  x p  1, y  0, dan x  a . Daerah A2 yang
dibatasi kurva y  x p  1, x  0, dan y  b .
31
y
y  x p 1
b
A2
A1
a
x
Gambar 2.6: Ilustrasi pada Ketaksamaan Young
(sumber: Fabian, dkk., 2010:5)
Berdasarkan ilustrasi gambar jelaslah bahwa
a
A1   x p 1dx
0
a

1

x  p 11 
p 1  1
0
a
1 
 xp 
p 0

1 p
a .
p
Jika y  x
p 1
maka  y 
b
A2   y q 1dx
0
b

1

y  q 11 
q 1  1
0
b
1 
 yq 
q 0
1
p 1

 x
1
p 1 p 1

atau x  y
1
p 1
 y q 1. Sehingga diperoleh
32

1 q
b .
q
Berdasarkan perhitungan diperoleh
a p bq
ab  A1  A2 

p q
(Fabian, dkk., 2010:5).
Teorema 2.3 Ketaksamaan Holder
Misalkan p, q  1 sedemikian hingga
1 1
  1 dan n   . Maka untuk
p q
semua ak , bk   di mana k  1, 2,3,..., n berlaku
1
n

i 1
1
n
 n
p p 
q q
ak bk    ak    bk 
 i 1
  i 1
 
 2.16
Bukti:
Asumsikan bahwa ak , bk  0 dengan ak dan bk keduanya tak nol.
Kemudian untuk k  1, 2, 3,..., n. Ak dan Bk didefinisikan dengan
ak
Ak 
n

p
  ak 
 k 1

1
p
bk
dan Bk 
n

q
  bk 
 k 1 
1
q

 2.17 
Karena
n
n
A
p
k
k 1
  Bk q  1.
 2.18
k 1
Berdasarkan teorema 2.2 untuk k  1, 2,..., n diperoleh
Ak Bk 
1 p 1 q
Ak  Bk .
p
q
 2.19
33
Jumlahkan ketaksamaan pada  2.19  sehingga diperoleh
n
 Ak Bk 
k 1
1 n
1 n q 1 1
p
A

Bk    1.
 k q
p k 1
p q
k 1
 2.20
Substitusikan persamaan  2.17  pada  2.20  sehingga diperoleh


n 
ak


1
k 1 
 n p p
   ak 

  k 1



bk

 1.
1 
n
q 

q
  bk  
 k 1  
 2.21
Persamaan  2.21 dapat ditulis menjadi
1
1
n
 n p  p  n q q
a
b


k k
  ak    bk 
k 1
 k 1
  k 1 
(Fabian, dkk., 2010:4-5).
Contoh 2.5
Misalkan u dan v vektor-vektor pada  3 , di mana u   4, 2,6  dan
v = 1,3,3 . Tunjukkan apakah vektor u dan v pada 3 memenuhi ketaksamaan
Holder, jika diketahui p  3 .
Penyelesaian:
Untuk p  3 maka
1 1
 1
p q
1
1
 1
q
3
1 2

q 3
34
q
3

2
Karena
 3

  ui vi   u1v1  u2 v2  u3v3
 i 1

  4 1  2  3  6  3
 4  6  18
 28
1
 3 3 3
3
3
3
  ui   u1  u2  u3
 i 1 


 43  23  63


1
3
1
3
1
  288  3
 6, 60...
2
2
3
3 3
 3 32  3  32

2
2
v

v

v

v
 i   1
2
3 
 i 1  

2
3
3 3
 32

2
 1  3  6 2 


2
 11, 0392... 3
 5, 062...
1
2
2
3
 3 3 3  3 2  3
3
3
3
u
v
  i    i   u1  u2  u3
 i 1   i 1 
3
3 3
 32

2
2
v

v

v
 1
2
3 


  6, 60... 5, 062...


1
3
 33, 409...
Berdasarkan perhitungan diperoleh bahwa
3
3
u v
i i
i 1
1
3
3
3
2
2
3


 
   ui 3    vi  ,
 i 1   i 1 
35
sehingga vektor u   4, 2,6  dan v = 1,3,3 pada 3 memenuhi ketaksamaan
Holder.
Teorema 2.4 Ketaksamaan Cauchy-Schwarz
Ketaksamaan Cauchy-Schwarz merupakan salah satu ketaksamaan yang
penting dalam cabang aljabar dan analisis. Ketaksamaan Cauchy-Schwarz
merupakan konsep pengembangan dari ketaksamaan Holder dengan syarat p  2
dan q  2, sehingga ketaksamaan Cauchy-Schwarz dapat ditulis menjadi
1
1
n
n
2
2
 n
2 
2
a
b

a
b

k k
 k   k 
k 1
 k 1
  k 1
 
 2.22
Bukti:
Untuk a   a1 , a2 ,..., ak  dan b   b1 , b2 ,..., bk  di mana ak , bk   dengan
k  1, 2,..., n  . Ambil fungsi  yang didefinisikan dengan
n
2
 2.23
  x     ak x  bk  .
k 1
Fungsi pada persamaan  2.23 dapat ditulis menjadi
n
  x     ak 2 x 2  2ak bk  bk 2  
 2.24
k 1
Berdasarkan persamaan  2.24  , diketahui bahwa fungsi   x  merupakan suatu
kuadrat. Misalkan
n
n
n
A   ak 2 ,
B  2 ak bk ,
C   bk 2 .
k 1
k 1
k 1
 2.25
36
Persamaan  2.24  dapat ditulis menjadi bentuk
Ax 2  Bx  C  0.
 2.26
Karena persamaan kuadrat pada  2.26  selalu bernilai positif atau nol,
yang mengimplikasikan bahwa persamaan kuadrat pada  2.26  tidak memiliki
akar-akar riil atau memiliki akar riil kembar, sehingga nilai diskriminannya harus
lebih kecil atau sama dengan nol. Substitusikan nilai A, B, dan C pada fungsi
diskriminan,
D  B 2  4 AC  0
2
 n

 n
 n

  2 ak bk   4   ak 2    bk 2   0
 i 1

 i 1
  i 1

2
 n

 n
 n

 4   ak bk   4   ak 2    bk 2   0.
 i 1

 i 1
  i 1

 2.27 
Masing-masing ruas pada persamaan  2.27  dibagi dengan 4, sehingga diperoleh
2
 n
  n 2  n 2 
a
b
  k k     ak   bk  
 i 1
  i 1
 i 1

(Cohen, 2003:88).
Contoh 2.6
Misalkan a dan b merupakan vektor-vektor pada  2 , di mana a   3, 4 
dan b   1, 2  . Tunjukkan bahwa vektor a dan b pada  2 memenuhi
ketaksamaan Cauchy-Schwarz.
Penyelesaian:
Ketaksamaan Cauchy-Schwarz berlaku untuk nilai p  2  q. Karena
37
2
 2

2
  ai bi    a1b1  a2b2 
 i 1

  3   1  4  2 
  3  8 
2
2
 52
 25
 2 2
2
2
  ai   a1  a2
 i 1 
 32  42
 9  16
 25
 2 2
2
2
  bi   b1  b2
 i 1 
2
  1  22
 1 4
 5.
Berdasarkan perhitungan diperoleh bahwa
2
 2
  2 2  2 2 
a
b
  i i     ai    bi  ,
 i 1
  i 1   i 1 
sehingga vektor a   3, 4  dan b   1, 2  pada  2 memenuhi ketaksamaan
Cauchy-Schwarz.
Teorema 2.5 Ketaksamaan Minkowski
Misalkan 1  p  
n  .
dan
Maka untuk semua
ak , bk  ,
k  1, 2,..., n diperoleh
1
1
1
 n
 n
 n
p p
p p
p p
  ak  bk     ak     bk 
 k 1

 k 1
  k 1
 
 2.28
38
Bukti:
Asumsikan bahwa p  1,   dan q  1,   sedemikian hingga
1 1
  1.
p q
Asumsikan juga bahwa ak , bk  0, dengan menggunakan ketaksamaan Holder
pada teorema 2.3 dan  p  1 q  p diperoleh
n
  ak  bk 
p
k 1
n
   ak  bk 
p 1
 ak  bk 
k 1
n
=  ak  bk 
p 1
k 1
n
ak    ak  bk 
p 1
bk
k 1
1
1
n
 n
p p
 p 1 q  q 
    ak  bk 
    ak   
 k 1
  k 1

1
1
n
 n
p p
 p 1 q  q 
   ak  bk 
    bk  
 k 1
  k 1

1
1
n
 n
p q 
p p
    ak  bk      ak   
 k 1
  k 1

n
1
q
n

p 
p 
   ak  bk      bk  
 k 1
  k 1

1
p
 2.28
1
Masing-masing ruas pada
untuk
 2.28
 n
p q
dibagi dengan    ak  bk   dan
 k 1

1
1
 1  diperoleh
p
q
n
a
k
 bk 
p
k 1
1
 n
p q
a

b


 k k 
 k 1

1
1
1
 n

 n
 n
p q  
p p
p p 
   ak  bk       ak       bk   
 k 1
   k 1
  k 1
 



1
 n
p q
a

b


 k k 
 k 1

39
1
 n
p
   ak  bk  
 k 1

1
q
1
1
 n
 n
p p
p p
    ak       bk  
 k 1
  k 1

1
1
1
 n
 n
 n
p p
p p
p p
a

b

a

b






 k k 
 k   k 
 k 1

 k 1
  k 1

(Fabian, dkk., 2010:5).
2.3 Ruang Hasilkali Dalam
Definisi 2.7
Jika diketahui V sebagai ruang vektor riil. Hasilkali dalam pada V adalah
fungsi ,  : V x V   sedemikian hingga untuk semua x, y , z  V dan  ,   
memenuhi sifat-sifat berikut:
1. x, x  0 .
2. x, x  0 , jika dan hanya jika x  0 .
3.  x   y, z   x, z   y, z .
4. x, y  y, x . (Rynne & Youngson, 2008:51).
Definisi 2.8
Jika diketahui V sebagai ruang vektor kompleks. Hasilkali dalam pada V
adalah fungsi ,  : V x V   sedemikian hingga untuk semua x, y , z  V dan
 ,    memenuhi sifat-sifat berikut:
1. x, x   dan x, x  0 .
2. x, x  0 jika dan hanya jika x  0 .
3.  x   y, z   x, z   y, z .
40
4. x, y  y , x . (Rynne & Youngson, 2008:53).
Contoh 2.7
Tunjukkan apakah vektor-vektor u, v, dan w pada K memenuhi sifatsifat ruang hasilkali dalam, jika K dilengkapi dengan fungsi hasilkali dalam yang
didefinisikan dengan
u, v  u1v1  2u2v2  3u3v3 
Penyelesaian:
Untuk u, v, w  K dan  ,    berlaku:
1. u, u  0. Karena
u, u  u1u1  2u2u2  3u3u3
 u12  2u2 2  3u32  0,
karena ui 2 selalu bernilai positif, untuk i  1, 2,3.
2. u, u  0 jika dan hanya jika u  0.
Jika u  0 maka
u, u  u1u1  2u2u2  3u3u3
 u12  2u2 2  3u32
 02  2  0 2  3  02
 0.
Jika u, u  0 maka u1  u2  u3  0 atau u  0 .
3.  u   v, w   u, w   v, w
 u   v, w   u1   v1  w1  2  u2   v2  w2  3  u3   v3  w3
41
  u1w1   v1w1    2 u2 w2  2  v2 w2  
 3 u3 w3  3 v3 w3 
  u1w1  2 u2 w2  3 u3 w3     v1w1  2  v2 w2  3 v3 w3 
   u1w1  2u2 w2  3u3 w3     v1w1  2v2 w2  3v3 w3 
  u, w   v , w
4. u, v  v, u .
u, v  u1v1  2u2v2  3u3v3
 v1u1  2v2u2  3v3u3
 v, u .
Jadi, vektor-vektor u, v dan w pada K memenuhi sifat-sifat ruang
hasilkali dalam.
Definisi 2.9
Fungsi hasilkali dalam pada ruang bernorma C  a, b , yaitu ruang dari
himpunan fungsi kontinu pada interval  a, b didefinisikan dengan
b
f , g   f  x  g  x  dx
 2.30
a
(Cohen, 2003:255 ).
Contoh 2.8
Tunjukkan apakah fungsi
f  x   x 2 , g  x   2 x, dan h  x   x pada
C  1,1 memenuhi sifat-sifat ruang hasilkali dalam, jika fungsi hasilkali dalam
pada C  1,1 didefinisikan dengan
42
1
f,g 
 f  x  g  x  dx.
1
Penyelesaian:
1. f , f  0. Karena
1
f,f 
 f  x  f  x  dx
1
1

4
 x dx
1
1
1 
 x5 
5  1

1
5
5
1   1
5

1
1   1 
5

2
 0.
5


2. f , f  0 jika dan hanya jika f  x   0.
Jika f  x   0 maka
1
f,f 
 f  x  f  x  dx
1
1

2
  f  x   dx
1
1
  02 dx
1
 0.
Jika f , f  0 maka f  x   0.
43
3.  f   g, h   f , h   g,h . Ambil   2 dan   3. Karena
1
 f   g, h 
   f  x     f  x    h  x  dx
1
1

   x
2

   2 x  xdx
1
1

 x2 x
2

 x  3  2 x dx
1
1
1
  2 x 3dx   6 x 2 dx
1
1
1
1
2 
6 
 x 4   x3 
4  1 3  1
 0
12 12

3
3
1
1
 f , h   g, h    f  x  h  x  dx    g  x  h  x  dx
1
1
1
1
 2  f  x  h  x  dx  3  g  x  h  x  dx
1
1
1
1
 2  x 3dx  3  2 x 2 dx
1
1
1
1
1 
2 
 2 x 4   3 x3 
4  1
3  1
 4
  2  0   3 
 3
12

3
4. f , g  g,f . Karena
1
f,g 
 f  x  g  x  dx
1
1

  x   2 x  dx
2
1
44
1
  2 x 3dx
1
1
2 
 x4   0
4  1
1
g, f   g  x  f  x  dx
1
1

  2 x   x  dx
2
1
1
  2 x 3dx
1
1
2 
 x4   0
4  1
Jadi, fungsi
f  x   x2 ,
g  x   2 x, dan
h  x  x
pada
C  1,1
memenuhi sifat-sifat ruang hasilkali dalam.
Teorema 2.6
Misalkan H merupakan ruang hasilkali dalam, di mana x, y, z  H dan
 ,    , maka berlaku:
1. 0, y  x, 0  0 .
2. x,  y   z   x, y   x, z .
3.  x   y ,  x   y  
2
x, x    x, y   y , x  
2
y, y .
(Rynne & Youngson, 2008:56).
Bukti:
1. Vektor 0
dapat ditulis sebagai penjumlahan vektor
0, y,  -y   H berlaku
y   -y  ,
untuk
45
0, y  y   -y  , y . Sehingga berdasarkan sifat-sifat ruang hasilkali dalam
diperoleh
0, y  y   -y  , y
 y, y   -y  , y
 y, y  y, y
0
dan
x, 0  x, x   -x 
 x   -x  , x
 x, x   -x  , x
 x, x  x, x
 0.
2. Berdasarkan definisi 2.8 diperoleh
x,  y   z   y   z, x
  y, x   z, x
  x, y   x, z .
3. Berdasarkan definisi 2.8 diperoleh
 x   y ,  x   y   x,  x   y   y ,  x   y
  x   y,  x   x   y,  y
  x ,  x   y ,  x   x,  y   y ,  y
  x,  x   y ,  x   x,  y   y,  y
   x, x    x, y    y , x    y , y
46
  x, x   x, y   y, x   y , y

2
x, x    x, y   y, x  
2
y, y .
Definisi 2.10
Ruang hasilkali dalam merupakan ruang vektor yang dilengkapi dengan
fungsi hasilkali dalam. Fungsi norma pada suatu ruang hasilkali dalam
didefinisikan dengan
x 
x, x
 2.31
(Debnath & Mikusinski, 1990:90).
Teorema 2.7
Untuk setiap x dan y pada suatu ruang hasilkali dalam H berlaku
x, y  x y .
 2.32
Persamaan x, y  x y berlaku jika dan hanya jika x dan y bergantung linier.
Bukti:
Jika y  0 maka persamaan  2.32  terpenuhi karena kedua ruas samasama bernilai nol  0  . Asumsikan bahwa y  0 maka diperoleh
0  x   y, x   y
 x, x  x,  y   y , x   y ,  y
 x, x   y , x   y , x   y ,  y
 x, x   x, y   y , x    y , y
 x, x   x, y   y , x   y , y
 x, x   x, y   y , x  
2
y, y .
 2.33
47
Ambil  
 x, y
, substitusikan  pada persamaan
y, y
 2.33
sehingga
diperoleh
0  x, x   x, y   y , x  
 x, x 
 x, y
x, y 
y, y
x, y x, y
 x, x 

y, y
 x, x 
x, y y , x
y, y
2
 x, y
y, y
x, y y , x
y, y
y, y
y, x 

 x, y
y, y
2
y, y
x, y x, y
y, y
.
Kemudian kalikan kedua ruas dengan y, y sehingga diperoleh
0  x, x y , y 
x, y y , x
y, y
y, y
 x, x y , y  x, y y , x .
Atau dapat ditulis dengan
x, y y, x  x, x y, y
x, y x, y  x, x y , y
x, y
2
 x y

2
.
Sehingga didapatkan x, y  x y (Debnath & Mikusinski, 1990:90).
Teorema 2.8
Untuk setiap x dan y pada suatu ruang hasilkali dalam H berlaku
xy  x  y .
 2.34
48
Bukti:
Jika diambil   1 maka persamaan  2.33 dapat ditulis sebagai
2
x  y  x  y, x  y
 x, x  x, y  y , x  y , y
 x, x  x, y  x, y  y , y
 x, x  2 Re x, y  y , y
 x, x  2 x, y  y , y
 Ketaksamaan Schwarz 
 x, x  2 x y  y , y
2
 x 2 x y  y
 x  y

2
2
.
Sehingga diperoleh x  y  x  y (Debnath & Mikusinski, 1990:91).
Teorema 2.9 Hukum Jajaran Genjang (Parallelogram Law)
Untuk setiap x dan y pada suatu ruang hasilkali dalam H berlaku
2
2

2
xy  xy  2 x  y
(Debnath & Mikusinski, 1990:91-92).
Bukti:
Berdasarkan definisi 2.10 diperoleh
2
x  y  x  y, x  y
 x, x  y  y , x  y
 x  y, x  x  y, y
 x, x  y , x  x , y  y , y
2

(2.35)
49
2
 x  y , x  x, y  y
2
 2.36 
2
x  y  x  y, x  y
 x, x  y  y , x  y
 x  y, x  x  y , y
 x, x  y, x  x, y  y, y
2
 x  y, x  x, y  y
2
 2.37 
Jumlahkan persamaan  2.36  dan  2.37  , sehingga diperoleh
2
2

2
x  y  x  y  x  y , x  x, y  y
2
2 x 2 y
2
+  x
2
 y , x  x, y  y
2

2
Contoh 2.9
Misalkan u dan v merupakan vektor-vektor pada ruang vektor  2 yang
dilengkapi dengan fungsi norma
 , di mana u   3, 4  dan v   6,8 .
Tunjukkan bahwa vektor u dan v pada  2 memenuhi hukum jajaran genjang.
Penyelesaian:
Karena u dan v merupakan vektor-vektor pada  2 maka berlaku
2
2
u   ui
2
i 1
2
 u1  u2
2
 3  4
 9  16
 25
2
2
50
2
2
v   vi
2
i 1
2
 v1  v2
2
6 8
2
2
 36  64
 100
2
2
2
u + v   ui  vi
i 1
2
 u1  v1  u2  v2
2
 3  6  4  8
2
 3  12
2
2
2
 9  144  153
2
2
u - v   ui  vi
2
i 1
2
 u1  v1  u2  v2
2
 3  6  4  8
2
 9  4
2
2
2
 81  16  97.
Berdasarkan
perhitungan
diperoleh

2
2 u  v
2
  250
dan
u  v  u  v  250, sehingga vektor u   3, 4  dan v   6,8 pada  2
2
2
memenuhi hukum jajaran genjang.
51
Contoh 2.10
Misalkan f dan g merupakan fungsi-fungsi kontinu pada C  0,1 , di
mana f  x   1 dan g  x   x , untuk setiap x   0,1 . Tunjukkan apakah fungsifungsi pada C  0,1 memenuhi hukum jajaran genjang.
Penyelesaian:
f  sup
x 0,1
 f  x 
 sup  1
 1.

g  sup g  x 
x 0,1

 sup  x 
x 0,1
 sup  0 , 1
1

Sehingga diperoleh 2 f
f  g  sup
x 0,1
2
 g
2
  2 1  1   4 .
2
2
 f  x  g  x 
 sup  1  x 
2
f  g  sup
x 0,1
 f  x  g  x
 sup  1  x 
 1.
2
2
Sehingga diperoleh f  g  f  g  22  12  5 .
52
Berdasarkan

2
2 f  g
2
  f g
perhitungan
2
diperoleh
bahwa
2
 f  g , sehingga fungsi-fungsi f  x   1 dan g  x   x
pada C  0,1 tidak memenuhi hukum jajaran genjang.
Teorema 2.10 Identitas Polarisasi (Polarization Identity)
Untuk setiap x dan y vektor-vektor pada suatu ruang hasilkali dalam H
berlaku

2
2
2
4 x , y  x  y  x  y  i x  iy  i x  iy
Bukti:
Berdasarkan definisi 2.10 diperoleh
2
x  y  x  y, x  y
 x, x  y  y, x  y
 x  y, x  x  y, y
 x, x  y, x  x, y  y, y
2
 x  y, x  x, y  y
2
2
x  y  x  y, x  y
 x, x  y  y, x  y
 x  y, x  x  y, y
 x, x  y, x  x, y  y, y
2
 x  y, x  x, y  y
2
2

 2.38
53
2
i x  iy  i  x  iy , x  iy

 i  x, x  i y  i y , x  i y

 i  x, x  x, i y  i y , x  i y , i y  .
Karena y  -y sehingga

2
i x  iy  i x, x  x, iy  iy , x  iy , i  -y 
 i  x, x  x, iy  i y , x  i y , i y


 i x, x  i x, y  i y , x  i 2 y , y
 i  x, x  i x, y  i y , x  y , y
2
 i x  y , x  x, y  i y
2
i x  iy  i

x  iy , x  i y




2
2
 i  x, x  i y  i y , x  i y

 i  x , x  x, i y  i y , x  i y , i y  .
Karena y  -y sehingga
2
i x  i y  i  x, x  x, i y  i y , x  i y , i y

 i  x, x  i x, y  i y , x  y , y

2
2
 i x  y , x  x, y  i y .
Berdasarkan perhitungan diperoleh
 xy
2
2
2
 x  y  i x  iy  i x  iy
(Rynne & Youngson, 2008:58).
2
  4 x, y
54
2.4 Ruang Semi Hasilkali Dalam
Definisi 2.11
Diberikan ruang vektor riil V . Semi hasilkali dalam pada V adalah fungsi
u, v  pada V
x V yang memenuhi aksioma berikut:
1.  ku  v, w   k u, w    v, w  .
2. u, u   0 , untuk u  0 .
3.
 u, v 
2
 u, u  v, v  .
4. u, v    v, u  .
Untuk semua u, v, w  V dan untuk semua k   . Ruang vektor yang dilengkapi
dengan fungsi semi hasilkali dalam disebut ruang semi hasilkali dalam (Alimin,
2009:28).
Contoh 2.11
Misalkan u   2, 0, 2  , v   3, 2,1 , dan w   0, 4, 6  merupakan vektorvektor pada ruang vektor riil
X . Apabila fungsi semi hasilkali dalam
didefinisikan dengan
u, v  u1v1  u2v2  3u3v3 .
Tunjukkan apakah vektor-vektor u, v, dan w memenuhi sifat-sifat ruang hasilkali
dalam.
Penyelesaian:
1
1.  ku  v, w   k u, w    v, w  . Ambil k  , maka
2
55
1
2
 ku  v, w     2, 0, 2    3, 2,1 ,  0, 4, 6  

 1, 0,1   3, 2,1 ,  0, 4,6  
  4, 2, 2  ,  0, 4, 6  
 4  0  2   4   3  2  6
 0  8  36
 28
1
 2, 0, 2  ,  0, 4, 6     3, 2,1 ,  0, 4, 6  
2
1
  2  0  0   4   3  2  6    3  0  2   4   3  1  6 
2
1

   36     0  8  18 
2

 18  10  28
k u, w    v , w  
2. u, u   0 , untuk u  0 .
u, u    2, 0, 2  ,  2, 0, 2 
 2  2  0  0  3 2  2
 4  0  12
 16  0.
3.
 u, v 
2
 u, u  v, v  .
 u, v 
2
  2, 0, 2  ,  3, 2,1 
 2  3  0  2  3  2 1
 606
 12
2
 144
2
2
2
56
u, u  v, v    2, 0, 2  ,  2, 0, 2    3, 2,1 ,  3, 2,1 
  2  2  0  0  3  2  2  3  3  2  2  3 1 1
  4  0  12  9  4  3 
 16 16
 256
4. u, v    v, u  .
u, v    2, 0, 2  ,  3, 2,1 
 2  3  0  2  3  2 1
 606
 12
 v, u    3, 2,1 ,  2, 0, 2  
 3  2  2  0  3 1  2
 606
 12.
Jadi, vektor-vektor u, v, dan w pada ruang vektor riil X memenuhi sifatsifat ruang semi hasilkali dalam.
2.5 Ortogonalitas
Konsep sudut antara vektor merupakan perkembangan dari konsep
hasilkali dalam. Berdasarkan ketaksamaan Schwarz pada teorema 2.7, jika x dan
y merupakan vektor-vektor tak nol pada ruang hasilkali dalam H maka berlaku
1 
x, y
x y
 1,
 2.39
dan sudut antara vektor x dan y didefinisikan dengan
 x, y 

 x y 
  cos 1 
(Rynne & Youngson, 2008:60).
 2.40
57
Definisi 2.12
Misal H merupakan ruang vektor yang dilengkapi dengan fungsi hasilkali
dalam. Vektor x, y  H dikatakan ortogonal jika x, y  0. Jika vektor x dan y
saling ortogonal dapat ditulis x  y (Rynne & Youngson, 2008:60).
Definisi 2.13
Misalkan  X , , 

sebagai ruang hasilkali dalam, untuk setiap x, y , z  X
memenuhi sifat-sifat berikut:
1. Sifat Nondegenerasi, jika x  x maka x  0.
2. Sifat Simetri, jika x  y maka y  x .
3. Sifat Homogenitas, jika x  y maka  x   y , untuk setiap  ,    .
4. Sifat Aditif Kanan, jika x  y dan x  z maka x   y  z  .
5. Sifat Resolvabilitas, jika x, y  X maka terdapat    sedemikian hingga
x   x  y  .
6. Sifat Kontinuitas, jika x n  x , y n  y dan xn  y n , untuk semua n maka
x  y . (Gunawan dkk., 2005:1).
Contoh 2.12
Jika diketahui x dan y sebagai vektor-vektor pada 3 , di mana
x   1, 0, 2  dan y   2, 0,1 dengan fungsi hasilkali dalam pada 3 yang
didefinisikan dengan
x, y  x1 y1  x2 y2  x3 y3 .
Buktikan bahwa vektor x dan y ortogonal di 3 .
58
Penyelesaian:
Karena
x, y  x1 y1  x2 y2  x3 y3
  1  2  0  0  2 1
  2   0  2
0
Sehingga terbukti bahwa vektor x dan y saling ortogonal di 3 .
Contoh 2.13
Jika
diketahui
fungsi
u  x   sin x
dan
v  x   cos x ,
di
mana
u, v  L2   ,   maka buktikan bahwa u dan v ortogonal di L2   ,   .
Penyelesaian:
Hasilkali dalam (inner product) pada L2   ,   didefinisikan dengan

u, v 
 sin x cos x dx.

Secara trigonometri diketahui bahwa
sin x cos x 
1
sin 2 x.
2
Sehingga persamaan u, v dapat ditulis menjadi
59

u, v 
1
 2 sin 2 x dx



1
sin 2 x dx
2 


 1
    cos 2 x 
 2
 
 1
     cos  2   cos  2  
 2
 1
     1  1
 2
 1
  0
 2
 0.
Karena

u, v 
 sin x cos x dx  0

sehingga vektor u dan v pada L2   ,   saling ortogonal (Reddy, 1997:91).
2.6 Kajian Agama tentang Ortogonalitas
Secara bahasa ortogonal dapat diartikan sebagai hubungan saling tegak
lurus antara dua garis. Ortogonalitas merupakan salah satu konsep penting pada
ruang hasilkali dalam. Melalui konsep ortogonalitas dapat diketahui besarnya
sudut antara dua vektor. Dua vektor u dan v dikatakan saling ortogonal pada
ruang hasilkali dalam V jika dan hanya jika
2004:327).
u, v  0 (Anton & Rorres,
60
Secara tidak langsung konsep ortogonalitas telah dikaji dalam Al-Qur’an.
Hal ini tercantum pada Al-Qur’an surat ‘Ali Imran ayat 112 yang berbunyi
sebagai berikut:
                 
                
  
Artinya: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali mereka
berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan
manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan
mereka diliputi kerendahan yang demikian itu karena mereka kafir
kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang
benar, yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui
batas (Q.S ‘Ali Imran: 112)”.
Al-Qur’an surat ‘Ali Imran ayat 112 memberikan dorongan kepada umat
manusia, khususnya kepada kaum muslim agar senantiasa berpegang kepada tali
(agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Berpegang teguh kepada tali
(agama) Allah dapat dimaknai sebagai suatu bentuk ketaatan seorang hamba
kepada Tuhannya, yaitu Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya, melalui serangkaian ibadah yang dapat dilakukan.
Rangkaian ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji merupakan sebagian
contoh dari serangkaian ibadah yang berhubungan langsung kepada Allah SWT,
yang dalam hal ini dapat dianalogikan sebagai suatu vektor yang bergerak secara
vertikal.
Sedangkan berpegang pada tali (perjanjian) dengan manusia dapat
diartikan sebagai suatu usaha untuk menjalin hubungan yang baik antar sesama
manusia. Hal ini sejalan dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang
61
tidak dapat hidup sendiri dan harus berinteraksi dengan makhluk lain.
Berdasarkan kedua analogi tentang vektor yang bergerak secara vertikal dan
horizontal didapatkan hubungan antara dua vektor, yaitu saling tegak lurus
(ortogonal).
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Ortogonalitas-P (Phytagorean Orthogonality)
Definisi 3.1
Pada ruang bernorma riil  X , .  , suatu vektor x dikatakan ortogonalitasP ke y atau dapat ditulis  x  p y  jika dan hanya jika berlaku
xy
2
2
2
 x  y , untuk setiap x, y  X .
Pada ruang hasilkali dalam, ortogonalitas-P  x  p y  ekuivalen dengan
ortogonalitas pada ruang hasilkali dalam
x  y .
Ortogonalitas-P pada suatu
ruang bernorma ditunjukkan pada gambar  3.1
xy
y
xy
x
Gambar 3.1: Ilustrasi Ortogonalitas-P
pada Ruang Bernorma
Asumsikan bahwa x  y , sehingga berlaku
2
x  y  x  y, x  y
 x, x  y  y, x  y
 x, x  x, y  y, x  y, y
62
63
 x, x  x, y  x, y  y , y
 x, x  2 x, y  y , y
 x, x  y , y
2
 x  y
2

Teorema 3.1
Diberikan  X , .  ruang bernorma atas lapangan bilangan riil, untuk setiap
x, y , z  X dan  ,    berlaku:
1. Sifat Nondegenerasi, jika x  p x maka x  0 , untuk x  X .
2. Sifat Simetri, jika x  p y maka y  p x , untuk setiap x, y  X .
3. Jika x  p y maka x  p  -y  , untuk setiap x, y  X .
4. Sifat Homogenitas, jika x  p y maka  x  p  y , untuk setiap  ,    dan
x, y  X .
5. Sifat Aditif Kanan, jika x  p z dan y  p z maka  x  y   p z , untuk setiap
x, y , z  X .
Bukti:
1. Berdasarkan definisi 3.1 diperoleh
2
2
xx  x  x
02 x
2
2
2
x  0.
Berdasarkan teorema 2.6 diperoleh
2
x  x, x  0 jika dan hanya jika x  0 .
64
2. Karena
2
x  y   1 -x  y 
  1
2
 -x  y 
  -x  y 
 yx
2
2
2
2
dan
2
2
2
2
x  y  y  x 
Sehingga diperoleh hubungan jika x  p y maka y  p x , untuk setiap x, y  X
3. Berdasarkan definisi 3.1 diperoleh
2
2
2
x  p  -y  jika dan hanya jika x   -y   x   -y  .
2
x  y  x  y, x  y
 x, x  y  y, x  y
 x  y, x  x  y, y
 x, x  y , x  x, y   -y  , y
 x, x  x, y  x, y  y , y
 x, x  2 x, y  y , y .
Asumsikan bahwa x  y atau x, y  0 sehingga diperoleh
2
x  y  x, x  y , y
 x , x  2 x, y  y , y
 x , x  2 x, y  y , y
65
 x, x  y , x  x, y  y , y
 x  y, x  x  y, y
 x, x  y  y, x  y
 x  y, x  y
 xy
2
 x   -y 
2
dan
2
2
x  y  x, x  y , y
 x, x   -y  ,  -y 
 x x  -y -y
2
2
 x  -y .
4. Untuk setiap x, y  X dan  ,    sedemikian hingga ada  x,  y  X .
Berdasarkan definisi 3.1 diperoleh
2
 x   y   x   y,  x   y
  x,  x   y   y ,  x   y
  x   y,  x   x   y,  y
  x,  x   y ,  x   x,  y    y ,  y
  x,  x   y,  x   x,  y   y,  y
  x,  x   x,  y   x,  y   y ,  y
  x,  x  2  x,  y   y ,  y .
Asumsikan bahwa x  y atau x, y  0 sehingga diperoleh
66
2
 x   y   x,  x  2  x,  y   y ,  y
  x,  x  2 x, y   y ,  y
  x,  x   y ,  y
2
2
 x  y

Karena
2
2
x 
2
x  y  
2
2
2
y .
2
x 
2
y
2
sehingga  x  p  y , untuk setiap
 ,    dan x, y  X .
5. Berdasarkan definisi 3.1 diperoleh
2
2
2
2
2
2
x  p z jika dan hanya jika x  z  x  z
dan
y  p z jika dan hanya jika y  z  y  z .
x  y  z
2
  x  y   z,  x  y   z
  x  y  ,  x  y   z  z,  x  y   z
  x  y   z,  x  y    x  y   z, z
 x  y , x  y  z, x  y  x  y, z  -z, z
 x, x  x, y  y , x  y , y  z, x  z, y  x, z 
y, z  z, z
 x, x  x, y  x, y  y , y  x, z  y , z  x, z 
y, z  z, z
 x, x  2 x, y  y , y  2 x, z  2 y , z  z , z .
Asumsikan bahwa x  z atau x, z  0 dan y  z atau y , z  0 sehingga
diperoleh
67
x  y  z
2
 x, x  2 x, y  y, y  z, z

2
 x  2 x, y  y
2
2
 z
2
2
 xy  z .
Karena
x  y  z
2
2
 xy  z
2
sehingga
x  y p z ,
untuk setiap
x, y , z  X .
Contoh 3.1
Misalkan pada X  l1 , yang dilengkapi dengan norma

x 1   i .
i 1
Ambil x   3, 6, 0, 0,... dan y   8, 4, 0, 0,... . Tunjukkan bahwa vektor x
ortogonalitas-P ke y .
Penyelesaian:
Berdasarkan definisi 3.1 diketahui bahwa
2
2
x  P y jika dan hanya jika x  y  x  y
sehingga diperoleh
2
x1
 

   i 
 i 1

2
  1  2  3  
2
  3  6  0  0  
 92
 81
2
2
68
2
y1
 

   i 
 i 1 
2
  1   2  3   4  
  8  4  0  0  
2
2
 122
 144
2
x-y 1
 

   i  i 
 i 1

2
  1  1  2   2  3  3  4   4  

 3  8  6   4   0  0  0  0  

2
2
 152
 225
2
2
2
Karena x  y 1  x 1  y 1 , sehingga vektor x ortogonalitas-P ke y.
3.2 Ortogonalitas-I (Isosceles Orthogonality)
Definisi 3.2
Pada ruang bernorma riil  X , .  , suatu vektor x dikatakan ortogonalitas-I
ke y atau dapat ditulis  x  I y  jika dan hanya jika berlaku
x  y  x  y , untuk setiap x, y  X .
Pada ruang hasilkali dalam, ortogonalitas-I
ortogonalitas pada ruang hasilkali dalam
x  y .
ruang bernorma ditunjukkan pada gambar  3.2 
 x I y 
ekuivalen dengan
Ortogonalitas-I pada suatu
69
xy
y
xy
x
Gambar 3.2: Ilustrasi Ortogonalitas-I
pada Ruang Bernorma
Asumsikan bahwa x  y , sehingga diperoleh
2
x  y  x  y, x  y
 x, x  2 x, y  y , y
 x, x  2 x, y  y, y
 x, x  x, y  x, y  y , -y
 x, x  x, y  y , x  y, -y
 x, x  y  y , x  y
 x  y, x  y
2
 xy .
2
Karena x  y  x  y
2
sehingga berlaku x  y  x  y .
Teorema 3.2
Diberikan  X , .  ruang bernorma atas lapangan bilangan riil, untuk setiap
x, y , z  X dan    berlaku:
1. Sifat Nondegenerasi, jika x  I x maka x  0 , untuk x  X .
2. Sifat Simetri, jika x  I y maka y  I x , untuk setiap x, y  X .
3. Jika x  I y maka x  I  y , untuk setiap    dan x, y  X .
70
4. Sifat Aditif Kanan, jika x  I z dan y  I z maka  x  y   I z , untuk setiap
x, y , z  X .
Bukti:
1. Berdasarkan definisi 3.2 diperoleh
xx  xx
2x  0
2 x 0
x  0.
Berdasarkan teorema 2.6 diperoleh
x, x  0 jika dan hanya jika x  0 .
x 
2. Berdasarkan Definisi 3.2 diperoleh
2
x  y  x  y, x  y
 x, x  y  y, x  y
 x  y, x  x  y, y
 x, x  y , x  x, y  y , y
 x, x  x, y  x, y  y , y
 x, x  2 x, y  y , y
 y , y  2 x, y  x, x
2
 y  2 x, y  x
 yx
dan
2
2
71
2
x  y  x  y, x  y
 x, x  y  y , x  y
 x  y, x  x  y, y
 x, x  y , x  x, y   -y  , y
 x, x  x, y  x, y  y , y
 x, x  2 x, y  y , y
 y, y  2 x, y  x, x
2
 y  2 x, y  x
 yx
2
2
Karena
xy  xy  y x  y x
sehingga diperoleh jika x  I y maka y  I x , untuk x, y  X .
3. Untuk x, y  X dan    sedemikian hingga ada  y  X . Berdasarkan
definisi 3.2 diperoleh
2
x   y  x   y, x   y
 x, x   y   y, x   y
 x   y, x  x   y,  y
 x, x   y , x  x,  y   y,  y
 x, x  x,  y  x,  y   y ,  y
 x, x  2 x,  y   y ,  y
 x, x  2 x, y   2 y, y
2
2
 x  2 x, y   2 y .
72
Asumsikan bahwa x  y atau
x, y  0 sehingga persamaan di atas dapat
ditulis menjadi
2
2
x   y  x  2 x, y   2 y
2
 x, x  2 x, y   2 y, y
 x, x  2 x,  y   y,  y
 x, x  x,  y  x,  y   y ,  y
 x, x   y , x  x,  y   y ,  y
 x   y, x  x   y,  y
 x, x   y   y, x   y
 x   y, x   y
2
 x y .
Sehingga diperoleh x   y  x   y . Karena x   y  x   y sehingga
diperoleh hubungan jika x  I y maka x  I  y , untuk setiap    dan
x, y  X .
4. Berdasarkan definisi 3.2 diperoleh
x  I z jika dan hanya jika x  z  x  z
dan
y  I z jika dan hanya jika y  z  y  z .
73
x  y  z
2
  x  y   z,  x  y   z
  x  y  ,  x  y   z  z,  x  y   z
  x  y   z,  x  y    x  y   z, z
  x  y  ,  x  y   z ,  x  y    x  y  , z  z, z
 x, x  x, y  y , x  y , y  z , x  z , y  x, z 
y, z  z, z
 x, x  x, y  x, y  y , y  x, z  y , z  x, z 
y, z  z, z
 x, x  2 x, y  y , y  2 x, z  2 y , z  z, z
Asumsikan bahwa x  z atau x, z  0 dan y  z atau y , z  0 sehingga
diperoleh
x  y  z
2
 x, x  2 x, y  y, y  2 x, z  2 y , z  z, z
 x, x  2 x, y  y, y  2 x, z  2 y, z  z, z
 x, x  x, y  x, y  y , y  x, z  y, z  x, z 
y , z  z, z
 x, x  x, y  y, x  y , y  z, x  z, y  x, z 
y , z  z, z
  x  y  ,  x  y   z,  x  y    x  y  , z   -z  , z
  x  y   z,  x  y    x  y   z, z
  x  y  ,  x  y   z  z,  x  y   z
  x  y   z,  x  y   z
2
 x  y  z .
74
x  y  z
Karena
  x  y   z sehingga berlaku jika x  I z dan y  I z
maka  x  y   I z .
Contoh 3.2
Misalkan pada X  l1 , yang dilengkapi dengan norma

x 1   i .
i 1
Ambil
x  1,1, 0, 0,... dan y   2, 1, 0, 0,... . Tunjukkan bahwa vektor
ortogonalitas-I ke y .
Penyelesaian:
Berdasarkan definisi 3.2 diketahui bahwa
x  I y jika dan hanya jika x  y  x  y
sehingga diperoleh

x + y 1   i  i
i 1
 1  2  1   1  0  0  0  0  
 3  0  0  0 
3

x - y 1   i  i
i 1
 1  2  1   1  0  0  0  0  
 1 2  0  0 
3
Karena x  y 1  x  y 1 sehingga vektor x ortogonalitas-I ke y .
x
75
3.3 Ortogonalitas-BJ (Birkhoff-James Orthogonality)
Definisi 3.3
Pada ruang bernorma riil  X , .  , suatu vektor x dikatakan ortogonalitasBJ ke y atau dapat ditulis  x  BJ y  jika dan hanya jika berlaku
x  ty  x , untuk setiap t   .
Pada ruang hasilkali dalam, ortogonalitas-BJ  x  BJ y  ekuivalen dengan
ortogonalitas pada ruang hasilkali dalam  x  y  . Ekuivalensi pada ortogonalitasBJ ditunjukkan sebagai berikut:
Asumsikan x  y atau x, y  0 , untuk setiap t   berlaku
2
x  ty  x  ty , x  ty
 x, x  ty  ty, x  ty
 x, x  x, ty  ty , x  ty , ty
 x, x  t x, y  t y , x  t 2 y , y
 x, x  2t x, y  t 2 y, y
2
2
 x  2t x, y  t 2 y .
Karena
2
2
2
2
2
x  2t x, y  t 2 y  x
x  ty  x ,
sehingga diperoleh x  ty  x .
76
Teorema 3.3
Diberikan  X , .  ruang bernorma atas lapangan bilangan riil, untuk setiap
x, y  X dan  ,  , t   maka berlaku:
1. Sifat Nondegenerasi, jika x  BJ x maka x  0 , untuk x  X .
2. Sifat Homogenitas, jika x  BJ y maka  x  BJ  y , untuk setiap  ,  skalar
dan x, y  X .
3. Jika x  BJ y maka x  I y , untuk setiap x, y  X .
Bukti:
1. Berdasarkan definisi 3.3 diperoleh
2
x  tx  x  tx, x  tx
 x, x  tx  tx, x  tx
 x, x  x, tx  tx, x  tx, tx
 x, x  t x, x  t x, x  t 2 x, x
2
2
2
 x  t x  t x  t2 x
2
2
 x  2t x  t 2 x
2
2
2
2
2
2
x  2t x  t 2 x  x
x  tx  x
2
2
x  tx  x .
Ketaksamaan di atas berlaku jika dan hanya jika x  0 . Berdasarkan teorema
2.6, x  0 berlaku jika dan hanya jika x  0 .
77
2. Asumsikan x  BJ y , di mana  ,   0 dan t   , sehingga diperoleh
 x  t  y   x   y , di mana  
t
.

Berdasarkan persamaan di atas berlaku
 x  y   x  x .
Sehingga terbukti jika x  BJ y maka  x  BJ  y , untuk setiap  ,  skalar dan
x, y  X .
3. Berdasarkan definisi 3.3 diperoleh
2
x  ty  x  ty , x  ty
 x, x  ty  ty, x  ty
 x, x  x, ty  ty , x  ty, ty
 x, x  t x, y  t y , x  t 2 y , y
 x, x  2t x, y  t 2 y, y
2
2
 x  2t x, y  t 2 y .
x, y  0 sehingga persamaan di atas dapat
Asumsikan bahwa x  y atau
ditulis menjadi
2
2
x  ty  x  2t x, y  t 2 y
2
 x, x  2t x, y  t 2 y , y
 x, x  t x, y  t y, x  t 2 y , y
 x, x  x,  ty    ty  , x   ty  ,  ty 
 x, x   ty    ty  , x   ty 
 x   t y  , x   t y 
78
 x  ty , x  ty
 x  ty
2
sehingga diperoleh x  ty  x  ty .
Karena x  ty  x dan x  ty  x  ty , sehingga diperoleh x  ty  x .
Contoh 3.3
Misalkan pada X  l1 , yang dilengkapi dengan norma

x 1   i .
i 1
x  1, 0, 0, 0... dan y   1,1, 0, 0,... .
Ambil
Tunjukkan bahwa vektor
ortogonalitas-BJ ke y .
Penyelesaian:
Berdasarkan definisi 3.3 diketahui bahwa
x  ty  x , untuk setiap t  
sehingga diperoleh

x 1   i
i 1
 1  2  3  i  
 1  0  0  0 
1

x + ty 1   i  ti
i 1
 1  t1  2  t2  3  t3  4  t4  
 1 t  t  0  0 
x
79
Untuk t  0 diperoleh

x + ty 1   i  ti
i 1
 1  t1  2  t2  3  t3  4  t4  
 1 t  t  0  0 
 t 1  t
 2t  1.
Untuk t  0 diperoleh

x + ty 1   i  ti
i 1
 1  t1  2  t 2  3  t3  4  t4  
 1   t    t   0  0  
 1 t  t
 2t  1.
Untuk t  0 diperoleh

x + ty 1   i  ti
i 1
 1  t1  2  t2  3  t3  4  t4  
 1 t  t  0  0 
 1 0  0
 1.
Karena x  ty 1  x 1 sehingga vektor x ortogonalitas-BJ ke y .
3.4 Ortogonalitas-g
Definisi 3.4
Misalkan g adalah suatu semi hasilkali dalam pada X , di mana X
merupakan ruang bernorma riil dan x, y  X , sehingga x dikatakan ortogonal-g
ke y , ditulis x  g y jika dan hanya jika g  x, y   0.
80
Diberikan g
sebagai suatu fungsional yang didefinisikan dengan
g : X 2   di mana
g  x, y  
x
   x, y      x, y  
2 
dengan
   x, y   lim
t 0
Untuk menunjukkan bahwa
g
x  ty  x
.
t
merupakan suatu fungsional yang
dinotasikan dengan g : X 2   dapat ditunjukkan sebagai berikut:
Berdasarkan definisi 3.4 berlaku
g  x, y  
x  ty  x
. Karena
t
di mana:    x, y   lim
t 0
g  x, y  
x
   x, y      x, y  
2 
x
   x, y      x, y  
2 
x 
x  ty  x
x  ty  x 

 lim
 tlim

t 0
2  0
t
t


x 
x  ty  x 
 2 tlim

2  0
t

 x lim
x  ty  x
t
t 0
 lim
t 0
 lim
t 0
 lim
t 0
2
x x  ty  x x
t
x, x  ty  x, x
t
x, x  x, ty  x, x
t
81
x, ty
 lim
t
t 0
 lim
t x, y
t
t 0
 x, y
di mana telah diketahui sebelumnya bahwa suatu hasilkali dalam yang dinotasikan
dengan ,  : X x X  .
Teorema 3.4
Misalkan g merupakan suatu semi hasilkali dalam pada X dan x, y  X
maka berlaku:
2
1. g  x, x   x , untuk semua x  X .
2. g  x,  y    g  x, y  , untuk semua x, y  X dan  ,   .
2
3. g  x, x  y   x  g  x, y  , untuk semua x, y  X .
4. g  x, y   x y , untuk semua x, y  X .
Bukti:
1. Berdasarkan definisi 3.4 berlaku
g  x, x  
di mana:    x, x   lim
t 0
x  tx  x
.
t
x
   x, x      x, x  
2 
82
g  x, x  
x
   x, x      x, x  
2 

x 
x  tx  x
x  tx  x 
 lim
tlim

t 0
2  0
t
t


x 
x  tx  x 
 2 tlim


0
2 
t

x  tx  x
 x lim
t
t 0
 lim
x x  tx  x x
t
t 0
 lim
x, x  t x  x, x
t
t 0
 lim
x, x  t x  x, x
t
t 0
 lim
x, x  x, t x  x, x
t
t 0
 lim
t 0
 lim
t 0
2
x, t x
t
t x, x
t
2
 x, x  x .
2. Berdasarkan definisi 3.4 berlaku
g  x,  y  
di mana:    x,  y   lim
t 0
x
   x,  y      x,  y  
2 
 x  t y   x
t
, untuk  ,   .
83
g  x ,  y  


x
   x,  y      x,  y  
2 
x 
 lim
2 t 0
 x  t y   x
t
x 
 2 lim
2  t 0
 lim
t 0
 x  t y   x 
t


 x  t y   x 


t
 x  t y   x
  x lim
t
t 0
 x  x  t y   x  x
 lim
t
t 0
 x,  x  t  y   x,  x
 lim
t
t 0
 x,  x   x, t  y   x,  x
 lim
t
t 0
 x, t  y
 lim
t
t 0
t  x,  y
 lim
t 0
t
 lim  x,  y
t 0
  lim x, y
t 0
  x, y
   g  x, y  .
3. Berdasarkan definisi 3.4 berlaku
g  x, x  y  
di mana:    x, x  y   lim
t 0
x
   x, x  y      x, x  y  
2 
x  t x  y  x
t
.
84
g  x, x  y  
x
   x, x  y      x, x  y  
2 

x  t x  y  x
x  t x  y  x 
x 
 lim
 lim

t 0
2  t 0
t
t


x  t x  y  x 
x 
 2 lim

2  t 0
t

 x lim
x  t x  y  x
t
t 0
 lim
x x  t x  y  x x
t
t 0
 lim
x, x  tx  ty  x, x
t
t 0
 lim
x, x  x, tx  x, ty  x, x
t
t 0
 lim
t 0
 lim
t 0
 lim
t 0
x, tx  x, ty
t
t x, x  t x, y
t
t  x, x  x, y

t
 lim  x, x  x, y
t 0

 lim x, x  lim x, y
t 0
t 0
 x, x  x, y
2
 x  g  x, y  .
4. Diketahui g  x, y   x, y , di mana x, y  .
Jika x, y  0 maka g  x, y   x, y , jika dan hanya jika
85
 x, y  g  x, y   x, y .
Sehingga diperoleh
g  x, y   x, y  x y .
Teorema 3.5
Misalkan g merupakan suatu hasilkali dalam pada X , di mana
x, y , z  X dan  ,    sehingga berlaku:
1. Sifat Nondegenerasi, jika x  g x maka x  0.
2. Sifat Homogenitas, jika x  g y maka  x  g  y.
3. Sifat Aditif Kanan, jika x  g y dan x  g z maka x  g  y  z  .
Bukti:
1. Berdasarkan teorema 3.4 diperoleh
2
g  x, x   x .
Jika x  g x atau g  x, x   0 maka
2
x  0. Berdasarkan teorema 2.6
diperoleh
2
x  x, x  0 jika dan hanya jika x  0.
2. Berdasarkan teorema 3.4 diperoleh
g  x,  y    g  x, y  .
Jika x  g y atau g  x, y   0 maka
86
g  x,  y    g  x, y 
  .0
 0.
3. Berdasarkan teorema 3.4 diperoleh
2
g  x, x  y   x  g  x, y  .
Jika x  g y atau g  x, y   0 dan x  g z atau g  x, z   0 maka
g  x, y  z   x, y  g  x, z 
 00
 0.
Contoh 3.4
Misalkan
x dan y
merupakan barisan-barisan pada
l1 ,
di mana
x   1, 2, 0, 0,... dan y  1,1, 0, 0,... . Fungsional g didefinisikan dengan

g  x, y    sgn  x k   y k 
k 1
Tunjukkan bahwa barisan x dan y pada l1 saling ortogonalitas-g.
Penyelesaian:
Ingat kembali mengenai fungsi signum yang didefinisikan dengan
 1, x  0

sgn  x    0, x  0
1, x  0

sehingga diperoleh
87

 sgn  x   y
k
k
 sgn  x1   y1  sgn  x2   y2  sgn  x3   y3  sgn  x4   y4  
k 1
 sgn  1 1  sgn  2  1  sgn  0   0  sgn  0   0  
 1 1  1 1  0  0  0  0  
 1  1  0  0  
 0.
Karena g  x, y   0 , sehingga vektor x dan y saling ortogonalitas-g.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari uraian pada BAB III dapat disimpulkan bahwa ortogonalitas-P
(Phytagorean Orthogonality) pada ruang bernorma riil memenuhi sifat
nondegenerasi, simetri, homogenitas, dan aditif kanan. Ortogonalitas-I (Isosceles
Orthogonality) pada ruang bernorma riil memenuhi sifat nondegenerasi, simetri,
dan aditif kanan. Ortogonalitas-BJ (Birkhoff-James Orthogonality) pada ruang
bernorma riil memenuhi sifat nondegenerasi, dan homogenitas. Ortogonalitas-g
pada ruang bernorma riil memenuhi sifat nondegenerasi, homogenitas, dan aditif
kanan.
4.2 Saran
Pada skripsi ini, penulis hanya memfokuskan masalah pada ruang
bernorma-1. Disarankan untuk penelitian selanjutnya dapat mengkaji sifat-sifat
dasar ortogonalitas yang berlaku pada ruang bernorma-2 bahkan hingga ruang
bernorma-n. Selain itu, juga masih terdapat beberapa definisi ortogonalitas lain
pada ruang bernorma, seperti ortogonalitas-R dan ortogonalitas-D, sehingga yang
masih membuka kemungkinan untuk melakukan penelitian.
88
DAFTAR PUSTAKA
Abdussakir. 2007. Ketika Kyai Mengajar Matematika. Malang: UIN Malang
Press.
Alimin, S.. 2009. Kajian Semi Hasilkali Dalam. Skripsi. Tidak Diterbitkan.
Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Alsina, C., Sikorska, J., dan Tomas. M.S.. 2003. Norm Derivatives and
Characterzations of Inner Product Spaces. Singapore: World Scientific.
Al Maraghi, A.M.. 1993. Terjemah Tafsir Al Maraghi Jilid 4. Semarang: CV
Toha Putra.
Anton, H. dan Rorres, C.. 2004. Aljabar Linier Elementer Versi Aplikasi Edisi
Delapan Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Bartle, R.G. dan Sherbert, D.R.. 2000. Introduction to Real Analysis Third
Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Cohen, G.. 2003. A Course in Modern Analysis and its Applications. Cambridge:
Cambridge University Press.
Debnath, L. dan Mikusinski, P.. 1990. Introduction to Hilbert Spaces with
Applications. San Diego: Academic Press.
Fabian, M. Habala., P. Hajek, P., dan Zizler, V.. 2010. Banach Space Theory.
New York: Springer-Verlag.
Gunawan, H., Nursupiamin., dan Kikianty, E.. 2005. Beberapa Konsep
Ortogonalitas di Ruang Norm. Bandung: Departemen Matematika Istitut
Teknologi Bandung.
Kreyszig, E.. 1978. Introductory Functional Analysis with Applications. New
York: Wiley Classics Library.
Reddy, B.D.. 1998. Introductory Functional Analysis. New York: SpringerVerlag.
Rynne, B.P. dan Youngson, M.A.. 2008. Linear Functional Analysis. New York:
Springer-Verlag.
89
Download