PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP

advertisement
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP
PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN
MATEMATIS SISWA
( Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 19 Bandar Lampung Semester
Ganjil T.P. 2016/2017)
Oleh
WILLY SETIAWAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2017
ABSTRAK
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP
PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN
MATEMATIS SISWA
(Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 19 Bandar Lampung Semester
Ganjil T.P. 2016/2017)
Oleh:
Willy Setiawan
Penelitian eksperimen semu ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model
pembelajaran inkuiri terhadap peningkatan kemampuan penalaran matematis
siswa.
Desain yang digunakan adalah pretest-posttest control group design.
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP 19 Bandarlampung
tahun pelajaran 2016/ 2017 yang terdistribusi dalam 12 kelas. Sampel penelitian
ini adalah siswa kelas VIIIH dan VIIII yang ditentukan dengan teknik purposive
random sampling. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh
kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap
kemampuan penalaran matematis siswa.
Kata kunci: pembelajaran inkuiri, penalaran matematis, pengaruh
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP
PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN
MATEMATIS SISWA
(Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 19 Bandar Lampung Semester
Ganjil T.P. 2016/2017)
Oleh
WILLY SETIAWAN
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Matematika
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2017
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Wonogiri pada tanggal 23 Januari 1995. Penulis merupakan
anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak Suroto dan Ibu Suparti. Penulis
menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 1 Jatipurwo pada tahun 2006,
pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Way Serdang pada tahun 2009,
dan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Way Serdang pada tahun 2012.
Penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Lampung pada tahun 2012 melalui
jalur PMPAP dengan mengambil program studi Pendidikan Matematika. Penulis
melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa Bangun Negara Kecamatan
Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat dan menjalani Program Pengalaman
Lapangan (PPL) di SMP PGRI Pesisir Selatan.
Motto
Belajarlah Dari Kesalahan Masa Lalu, Bekerja
Keras untuk Masa Kini, dan Berharap Hasil Yang
Terbaik pada Masa Depan
Persembahan
Segala Puji Bagi Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna
Sholawat serta Salam Selalu Tercurah Kepada Uswatun Hasanah
Rasululloh Muhammad SAW
Kupersembahkan karya kecil ini sebagai tanda cinta & kasih
sayangku kepada:
 Kedua orang tuaku tercinta, Bapak Suroto dan Ibu Suparti yang
telah memberikan kasih sayang, semangat, dan doa . Sehingga
anak mu ini yakin bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik
untuk hamba-Nya.

Adikku Rehan Cahya Pradita yang telah memberikan dukungan
dan semangatnya padaku.

Seluruh keluarga besar pendidikan matematika 2012, yang
terus memberikan do’anya, terima kasih.

Para pendidik yang telah mengajar dengan penuh kesabaran

Semua sahabat yang begitu tulus menyayangiku dengan segala
kekuranganku

Almamater Universitas Lampung tercinta
SANWACANA
Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat
diselesaikan. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah atas manusia yang
akhlaknya paling mulia, yang telah membawa perubahan luar biasa, menjadi
uswatun hasanah, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap
Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematis Siswa (Studi pada Siswa Kelas
VIII SMP Negeri 19 Bandar Lampung T.P. 2016/2017) adalah salah satu syarat
untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Lampung.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya penyusunan skripsi ini
tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan
terima kasih yang tulus ikhlas kepada:
1. Ayah (Suroto) dan Ibu (Suparti) tercinta, atas perhatian dan kasih sayang yang
telah diberikan selama ini yang tidak pernah lelah untuk selalu mendoakan
yang terbaik.
2. Bapak Dr. Sugeng Sutiarso, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing I yang telah
bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing, memberikan perhatian,
dan memotivasi selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini menjadi lebih
baik.
3. Ibu Dra. Arnelis Djalil, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II yang telah
bersedia meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan sumbangan
pemikiran, kritik, dan saran demi terselesaikannya skripsi ini.
4. Ibu Dra. Rini Asnawati, M.Pd., selaku pembahas yang telah memberikan
masukan dan saran-sarannya.
5. Bapak Dr. H. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Dekan FKIP Universitas
Lampung beserta staff dan jajarannya yang telah memberikan bantuan dalam
menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA yang telah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak Dr. Haninda Bharata, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Matematika yang telah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi
ini.
8. Ibu Widyastuti, S.Pd., M.Pd., selaku pembimbing akademik yang telah
memberikan nasehat serta bimbingan dalam proses perkuliahan.
9. Bapak dan Ibu dosen Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.
10. Kepala SMP Negeri 19 Bandar Lampung yang telah memberikan izin
penelitian.
11. Ibu Sumiarsih, S.Pd., selaku guru mitra yang telah banyak membantu dalam
penelitian.
iii
12. Siswa/siswi kelas VIII H dan VIII I SMP Negeri 19 Bandar Lampung Tahun
Pelajaran 2016/2017, atas perhatian dan kerjasama yang telah terjalin.
13. Adikku Rehan Cahya Pradita dan keluarga besarku yang telah memberikan
doa, semangat, dan motivasi kepadaku.
14. Sahabat kampusku Burhan Yusuf dan Orang yang aku sayang Devi P.
Permatasari yang selalu memberi semangat.
15. Sahabat-sahabat seperjuangan (Philipus, Hasan, Erwan, Irma, Lina, Maret,
Linda, Arif, DLL) terima kasih selalu memberikanku dukungan.
16. Teman-teman karibku tersayang, Angkatan 2012 Pendidikan Matematika yang
selama ini selalu berbagi ilmu, memberi semangat, bantuan , serta
kebersamaan yang terjalin seperti keluarga.
17. Teman-teman KKN di Desa Bangun Negara dan PPL di SMP PGRI Pesisir
Selatan atas kebersamaan yang penuh makna dan kenangan.
18. Pak Liyanto dan Pak Mariman, penjaga gedung G terimakasih bantuannya
selam berada di gedung G.
19. Almamater tercinta yang telah mendewasakanku.
20. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Semoga dengan kebaikan, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan pada
penulis mendapat balasan pahala yang setimpal dari Allah SWT dan semoga
skripsi ini bermanfaat.
Bandar Lampung, Januari 2017
Penulis
Willy Setiawan
iv
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL............................................................................................. viii
DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................
ix
I. PENDAHULUAN ........................................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah..........................................................................
1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................
4
C. Tujuan Penelitian ....................................................................................
5
D. Manfaat Penelitian .................................................................................
5
E. Ruang Lingkup Penelitian ......................................................................
6
II. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................
7
A. Kajian Teori ..................................................... ......................................
7
1. Kemampuan Penalaran Matematis......................................................
7
2. Model Pembelajaran Inkuiri................................................................
9
3. Penelitian yang Relevan...................................................................... 17
B. Kerangka Pikir................................................................... ..................... 19
C. Anggapan Dasar ...................................................................................... 21
D. Hipotesis Penelitian................................................................................. 22
1. Hipotesis Umum ............................................................................... 22
2. Hipotesis Khusus............................................................................... 22
III. METODE PENELITIAN .......................................................................... 23
A.Populasi dan Sampel ................................................................................ 23
B.Desain Penelitian...................................................................................... 24
C. Data Penelitian ........................................................................................ 24
D. Teknik Pengumpulan Data...................................................................... 25
E. Prosedur Penelitian .................................................................................. 25
F. Instrumen Penelitian ................................................................................ 26
G. Teknik Analisis Data............................................................................... 31
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN......................................... 36
A. Hasil Penelitian ....................................................................................... 36
B. Pembahasan ............................................................................................. 41
V. SIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 45
A. Simpulan ................................................................................................. 45
B. Saran........................................................................................................ 45
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Rata-rata Nilai Ujian Tengah Semester (UTS) ................................ 23
Tabel 3.2 Pretest-Posttest Kontrol Desain ....................................................... 24
Tabel 3.3 Pedoman Penskoran Penilaian Kemampuan Penalaran
Matematis ........................................................................................ 27
Tabel 3.4 Kriteria Koefesien Reliabilitas ......................................................... 29
Tabel 3.5 Interpretasi Indeks Kesukaran.......................................................... 30
Tabel 3.6 Interpretasi Nilai Daya Pembeda...................................................... 31
Tabel 3.7 Kriteria Indeks Gain ......................................................................... 32
Tabel 3.8 Rekapitulasi Uji Normalitas Data Gain Kemampuan
Penalaran Matematis ........................................................................ 33
Tabel 4.1 Data Skor Awal Kemampuan Penalaran Matematis Siswa ............. 36
Tabel 4.2 Data Skor Akhir Kemampuan Penalaran Matematis Siswa............. 37
Tabel 4.3 Data Gain Kemampuan Penalaran Matematis Siswa....................... 38
Tabel 4.4 Hasil Uji Non Parametrik Mann-Whitey U Data Kemampuan
Penalarani Matematis ....................................................................... 39
Tabel 4.5 Pencapaian Indikator Kemampuan Penalaran Matematis................ 40
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran A.1 Silabus Pembelajaran................................................................. 51
Lampiran A.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Kelas Eksperimen...................................................................... 54
Lampiran A.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol ....... 69
Lampiran A.4 Lembar Kerja Kelompok (LKK)............................................... 84
Lampiran B.1 Kisi-Kisi Soal Pretest-Posttest.................................................. 112
Lampiran B.2 Pretest-Posttest ......................................................................... 113
Lampiran B.3 Kunci Jawaban Soal Pretest-Posttest........................................ 115
Lampiran B.4 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Penalaran
Matematis.................................................................................. 117
Lampiran B.5 Form Penilaian Validitas........................................................... 118
Lampiran C.1 Nilai Tes Kemampuan Penalaran Matematis Siswa pada
Kelas Uji Coba .......................................................................... 120
Lampiran C.2 Analisis Reliabilitas Tes Kemampuan Penalaran Matematis.... 121
Lampiran C.3 Analisis Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran Tes
Kemampuan Penalaran Matematis............................................ 122
Lampiran C.4 Nilai Tes Kemampuan Penalaran Matematis Siswa
Kelas Eksperimen...................................................................... 123
Lampiran C.5 Nilai Tes Kemampuan Penalaran Matematis
Kelas Kontrol ............................................................................ 125
Lampiran C.6 Skor Gain Kemampuan Penalaran Matematis Siswa
Kelas Eksperimen...................................................................... 127
ix
Lampiran C.7 Skor Gain Kemampuan Penalaran Matematis Siswa
Kelas Kontrol ............................................................................ 128
Lampiran C.8 Uji Normalitas Data Gain Kemampuan
Penalaran Matematis Siswa Kelas Eksperimen ........................ 129
Lampiran C.9 Uji Normalitas Data Gain Kemampuan
Penalaran Matematis Siswa Kelas Kontrol ............................... 132
Lampiran C.10 Uji Non Parametrik Hipotesis Penelitian Kemampuan
Penalaran Matematis Siswa ..................................................... 135
Lampiran C.11 Pencapaian Indikator Kemampuan Penalaran Matematis
Awal Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol.............................. 139
Lampiran C.12 Pencapaian Indikator Kemampuan Penalaran Matematis
Akhir Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ............................. 143
Lampiran D.1 Surat Keterangan Pra-Penelitian ............................................... 147
Lampiran D.2 Surat Keterangan Penelitian...................................................... 148
x
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sarana paling penting untuk mewujudkan kemajuan
bangsa dan negara. Selain itu, proses pendidikan juga membangun peradaban dan
karakter bangsa.
Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 (Depdiknas, 2003),
pendidikan nasio-nal bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi
manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, ca-kap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Seiring dengan berjalannya waktu
pendidikan di Indonesia mengalami peru-bahan sistem dan menuju kearah yang
lebih baik.
Dalam upaya tercapainya tujuan pendidikan nasional, peningkatan mutu pendidikan menjadi faktor penting yang harus dilakukan. Jika negara memiliki mutu
pen-didikan yang baik maka akan melahirkan sumber daya manusia yang
berkualitas.
Pendidikan matematika merupakan salah satu pendidikan yang
sangat dibutuhkan oleh manusia.
Pembelajaran matematika pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)
seharus-nya memberikan bekal ilmu kepada peserta didik dan menumbuhkan
kemampuan berpikir menggunakan nalar untuk memecahkan masalah. Menurut
2
Standar Isi Pe-lajaran Matematika (Depdiknas, 2006) salah satu tujuan
pembelajaran matematika SMP yaitu menggunakan penalaran pada pola dan sifat,
melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti,
atau menjelaskan gaga-san dan pernyataan matematika.
Peraturan Dirjen
Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 tanggal 11 November 2004 tentang Penilaian
Perkembangan Anak Didik Sekolah Menengah Pertama (SMP), Depdiknas (2004)
mengemukakan bahwa aspek peni-laian matematika dalam rapor dikelompokkan
menjadi tiga aspek, yaitu pemaha-man konsep, penalaran dan komunikasi, dan
pemecahan masalah. Oleh sebab itu, kemampuan penalaran menjadi salah satu
faktor penting yang harus dimiliki siswa.
Hasil The Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun
2011 menunjukkan bahwa penguasaan matematika siswa SMP kelas 8 di
Indonesia relatif rendah, yaitu berada pada peringkat 38 dari 45 negara. Indonesia
hanya mampu mengumpulkan nilai rata-rata kemampuan matematika 386 poin
dari skor rata-rata internasional yaitu 500 poin. Salah satu domain pada TIMSS
adalah rea-soning (penalaran), pada domain ini Indonesia mendapat rata-rata
presentase yang menjawab benar yaitu 17% dari 30% rata-rata presentase yang
menjawab benar se-cara internasional. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan
penalaran matematis siswa di Indonesia masih rendah.
Rendahnya kemampuan penalaran matematis juga dialami oleh siswa SMP Negeri
19 Bandar Lampung. Hal ini diketahui dari salah satu guru matematika yang mengajar di sekolah tersebut. Beliau mengatakan bahwa siswa terlihat kesulitan
dalam mengerjakan soal-soal penalaran. Selain itu, merujuk pada salah satu soal
3
yang di-berikan oleh guru dengan soal sebagai berikut:”Suhu udara di kota
London -5° C, sedangkan suhu udara di kota Jakarta 24° C. Berapakah selisih
suhu dikedua kota tersebut”?
Hanya sebagian kecil siswa yang menjawab dengan benar persoalan di atas. Hal
ini menunjukkan bahwa kemampuan penalaran matematis siswa di SMP Negeri
19 Bandar Lampung masih rendah.
Salah satu faktor penyebab rendahnya
kemampuan penalaran matematis yaitu siswa kurang aktif dalam proses
pembelajaran. Hal ini dikarenakan guru masih menggunakan model pembelajaran
yang konvensional.
Mursell (1995) berpendapat bahwa suatu pembelajaran konvensional atau tradisional menurut pola buku dan tugas resitasi, pembelajaran konvensional cenderung
berpusat pada guru sedangkan siswa kurang terlibat dalam pembelajaran sehingga
anak menjadi malas dan terkesan pasif. Pelajaran matematika menjadi pelajaran
yang kurang diminati oleh siswa dan cenderung menjadi pelajaran yang ditakuti
oleh para siswa. Faktor ini yang menuntut para guru untuk lebih kreatif dan
inovatif dalam pembelajaran sehingga pelajaran matematika menjadi pelajaran
yang mena-rik dan menyenangkan.
Oleh sebab itu perlu pemilihan model
pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa.
Saat ini banyak sekali model-model pembelajaran yang dapat digunakan dalam
pro-ses pembelajaran. Salah satu dari model pembelajaran tersebut adalah model
pem-belajaran inkuiri. Menurut Sanjaya (2010) aktivitas yang dilakukan siswa
dalam model pembelajaran inkuiri diarahkan untu mencari dan menemukan
sendiri jawa-ban dari sesuatu yang dipertanyakan. Hal itu tentu akan melatih
4
siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga akan berdampak
terhadap hasil belajar siswa khususnya kemampuan penalaran matematika siswa.
Menurut Goos, Stillman, & Vale dalam Shelly dkk (2013) pembelajaran inkuiri
pa-da matematika menghasilkan pemahaman lebih dalam dan fleksibel. Oleh
karena itu model pembelajaran inkuiri sangat cocok jika diterapkan dalam
pembelajaran matematika.
Sanjaya (2010)
berpendapat
bahwa
dalam
pembelajaran inkuiri me-mungkinkan siswa untuk belajar dengan memanfaatkan
berbagai sumber, sehingga siswa akan menjadi aktif dalam mencari dan mengolah
sendiri informasi yang me-reka dapat. Hal itu akan membuat siswa lebih aktif
dalam belajar dan menjadikan siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran,
sehingga akan tercipta suasana menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran.
Selain itu, dalam pembelajaran inkuiri diharapkan siswa mampu mengembangkan
kemampuan berpikir menggunakan nalar dalam pemecahan masalah matematika.
Dalam hal ini guru berperan membimbing siswa untuk menemukan sendiri pengetahuannya sesuai dengan tujuan pembelajaran. Trianto (2011) mengungkapkan
bahwa guru hanya perlu menjadi fasilitator dan mengarahkan agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksinya.
Dari pemaparan permasalahan, penulis mengadakan penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri terhadap Peningkatan Kemampuan Penalaran
Matematis Siswa”.
B. Rumusan Masalah
5
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka
rumu-san masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Apakah
penerapan model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap peningkatan
kemampuan penalaran ma-tematis siswa kelas VIII SMP Negeri 19 Bandar
Lampung?”
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka
pene-litian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh peningkatan
kemam-puan penalaran matematis siswa yang belajar matematika menggunakan
model pembelajaran inkuiri.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi tentang
pembelajaran matematika yang terkait dengan model pembelajaran inkuiri dan peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk:
1) Bagi guru dan calon guru
Penelitian ini dapat menjadi referensi untuk guru ataupun calon guru
matematika sekaligus memberikan inovasi
untuk menentukan model
pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa.
2) Bagi peneliti
6
Melalui hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan bagi
peneliti dimasa yang akan datang.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Dengan memperhatikan judul penelitian, ada beberapa istilah yang perlu
dijelaskan agar tidak terjadi perbedaan persepsi antara peneliti dengan pembaca.
1. Pengaruh merupakan suatu daya atau tindakan yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain. Dalam penelitian ini, model pembelajaran inkuiri dikatakan berpengaruh jika peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa
yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi
di-bandingkan dengan pembelajaran konvensional.
2. Kemampuan penalaran matematis adalah kemampuan untuk berpikir mengenai
permasalahan-permasalahan matematis secara logis untuk memperoleh suatu
pe-nyelesaian dan menjelaskan atau memberikan alasan atas penyelesaian dari
suatu permasalahan.
3. Model pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang mendorong
siswa menemukan prinsip umum, mencari, dan memecahkan masalah yang
dibe-rikan oleh guru. Guru sebagai fasilitator, bertindak sebagai penunjuk
jalan yang membantu siswa dalam memahami materi.
4. Pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang biasa digunakan
oleh guru dalam pembelajaran. Dalam hal ini, pembelajaran yang dimaksud
yaitu memberi materi melalui ceramah, latihan soal kemudian pemberian tugas
(teacher center).
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kemampuan Penalaran Matematis
Dalam beberapa literatur istilah penalaran matematis disebut juga dengan mathematical reasoning. Shadiq (2004:2) berpendapat bahwa penalaran (jalan pikiran
atau reasoning) sebagai: “Proses berpikir yang berusaha menghubung-hubungkan
fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju kepada suatu kesimpulan”. Selain itu, Brodie (2010:7) menjelaskan bahwa, “Mathematical reasoning
is reasoning about and with the object of mathematics”. Pernyataan tersebut
memi-liki arti bahwa penalaran matematis adalah penalaran mengenai dan dengan
objek matematika. Menurut Tim Balai Pustaka dalam Shofiah (2007: 14) istilah
pena-laran mengandung tiga pengertian, diantaranya:
a) cara (hal) menggunakan nalar, pemikir atau cara berpikir logis,
b) hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan
dengan perasaan atau pengalaman,
c) proses mental dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari
beberapa fakta atau prinsip.
Menurut Yaniawati (2010) kemampuan bernalar memungkinkan peserta didik
untuk dapat memecahkan permasalahan dalam kehidupannya, di dalam dan di luar
sekolah. Kurniawati (2006) berpendapat bahwa penalaran dapat juga diartikan
8
cara berfikir yang berupaya memperlihatkan hubungan antara dua hal atau lebih
yang diakui kebenarannya dengan langkah-langkah tertentu yang berakhir dengan
suatu kesimpulan hasil.
Penalaran merupakan tahapan berpikir matematika tingkat tinggi, mencakup kapasitas untuk berpikir secara logis dan sistematis.
Baroody berpendapat dalam
Jacob (2000), terdapat tiga tipe penalaran utama, yaitu:
a. Penalaran intuitif merupakan penalaran yang memerlukan suatu pengetahuan
siap atau memainkan suatu dugaan.
b. Penalaran induktif merupakan penalaran yang memerlukan pengamatan terhadap contoh-contoh khusus dan tajam yang menyebabkan suatu pola utama
atau aturan.
c. Penalaran deduktif merupakan suatu konklusi yang perlu diikuti dari apa yang
kita ketahui dan kita dapat mampu mengeceknya secara langsung.
Secara umum, penalaran terdiri atas penalaran deduktif dan penalaran induktif.
Menurut Matlin (2009), penalaran deduktif berarti membuat beberapa kesimpulan
logis berdasarkan informasi yang diberikan. Menurut Suherman (2001), matematika dikenal sebagai ilmu deduktif. Ini berarti proses pengerjaan matematika
harus bersifat deduktif. Matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan
pengamatan (induktif), tetapi harus berdasarkan pembuktian deduktif.
Siswa dikatakan mampu melakukan penalaran matematika bila ia mampu menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam
membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika.
Dalam kaitan ini, pada penjelasan teknis Peraturan Dirjen
9
Dikdasmen Depdiknas Nomor 506/C/Kep/PP/2004 tanggal 11 November 2004
tentang rapor diuraikan bahwa indikator siswa yang memiliki kemampuan dalam
penalaran matematika adalah:
a. Mengajukan dugaan
Siswa menentukan jawaban sementara atas permasalahan yang diberikan.
b. Melakukan manipulasi matematika.
Siswa mengatur atau mengerjakan soal dengan cara yang pandai sehingga
tercapai tujuan yang dikehendaki.
c. Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap
kebenaran solusi.
Siswa dapat menarik kesimpulan yang logis dengan memberikan alasan pada
langkah penyelesaiannya.
d. Menarik kesimpulan dari pernyataan.
Siswa dapat menyajikan pernyataan matematika baik secara lisan, tertulis,
gambar dan diagram.
e. Memeriksa kesahihan suatu argumen.
Siswa memeriksa kebenaran dari suatu pendapat.
f. Menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.
Siswa
dapat
menggunakan
pola-pola
yang
diketahui
kemudian
menghubungkannya untuk menganalisa situasi matematik yang terjadi.
2. Model Pembelajaran Inkuiri
Sukamto dalam Trianto (2007) mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengor-
10
ganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar
dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar.
Suatu model pembelajaran
dikatakan baik jika memenuhi sebagai berikut (Trianto, 2007) :
a. Sahih (valid)
Aspek validitas dikaitkan dengan dua hal yaitu :
1. Apakah model yang dikembangkan didasarkan pada rasional teoritik yang
kuat;
2. Apakah terdapat konsistensi internal.
b. Praktis
Aspek kepraktisan hanya dipenuhi jika:
1. Para ahli dan praktisi menyatakan bahwa apa yang dikembangkan dapat diterapkan;
2. Kenyataan menunjukkan bahwa apa yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan.
c. Efektif
Parameter keefektifannya sebagai berikut:
1. Ahli dan praktisi berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa model
tersebut efektif;
2. Secara operasional model tersebut memberikan hasil sesuai dengan yang
diharapkan.
Inkuiri berasal dari bahasa inggris “inquiry”
yang secara harfiah berarti
penyelidi-kan. Pembelajaran inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang
melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan
11
menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga siswa dapat
merumuskan sendiri penemu-annya dengan penuh percaya diri (Trianto, 2011).
Jauhar (2011) berpendapat bahwa inkuiri merupakan proses yang bervariasi dan
meliputi kegiatan observasi, merumuskan pertanyaan yang relevan, mengevaluasi
buku dan sumber informasi lain secara kritis, merencanakan pendidikan atau
investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan percobaan dengan
menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi
data, serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya.
Model pembelajaran inkuiri melibatkan siswa
secara aktif dalam melakukan
pengamatan dan percobaan untuk mengetahui jawaban dari suatu permasalahan.
Pengamatan dan percobaan ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep dan
meningkatkan keterampilan proses berpikir siswa. Selain itu, siswa akan terlibat
penuh dalam proses pembelajaran sehingga akan membangkitkan minat siswa
untuk mempelajari materi. Hal itu senada dengan pendapat Sanjaya (2010) bahwa
pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan
pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Menurut Gulo (2008)
pembe-lajaran inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual saja,
tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan
keterampilan proses pembelajaran inkuiri merupakan suatu proses yang bermula
dari meru-muskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dan
membuat kesimpulan.
12
Meskipun model pembelajaran inkuiri berpusat pada kegiatan siswa, namun
pemegang peranan penting sebagai pembuat desain pengalaman belajar tetaplah
guru.
Kadang kala guru perlu menjelaskan, memberi pertanyaan, memberi
komen-tar dan saran pada siswa.
Menciptakan suasana kondusif dalam
pembelajaran de-ngan mengguanakan fasilitas media dan materi pembelajaran
yang bervariasi juga merupakan kewajiban guru. Diptoadi dalam Wena (2009)
mengungkapkan dalam model pembelajaran inkuiri, guru mempunyai beberapa
tugas penting yaitu:
1. Mengarahkan pertanyaan siswa.
2. Menciptakan suasana kebebasan ilmiah dimana siswa tidak merasa dinilai pada
waktu mengemukakan pendapatnya.
3. Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan teoritis yang lebih jelas
dengan mengemukakan bukti yang menunjang.
4. Meningkatkan interaksi antar siswa.
Peranan guru dalam pembelajaran inkuiri menurut Gulo (2008) yaitu sebagai
berikut:
1. Motivator
Memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berpikir.
2. Fasilitator
Menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan.
3. Penanya
Menyadarkan siswa pada kekeliruan yang mereka buat.
4. Administrator
Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan kelas.
13
5. Pengarah
Memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
6. Manajer
Mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.
7. Rewarder
Memberi penghargaan pada prestasi yang ingin dicapai siswa.
Menurut Utami dalam Azizah (2014) pokok-pokok yang harus dipenuhi oleh guru
dalam pengalaman belajar inkuiri adalah sebagai berikut:
1. Berilah pengalaman permulaan untuk menarik minat agar menanyakan mengenai suatu masalah, konsep, situasi atau gagasan, antara lain dengan
penggunaan media bermain peran, dan demonstrasi.
2. Berilah siswa materi pelajaran dan situasi yang memungkinkan untuk
berekplo-rasi.
3. Sediakan sumber-sumber informasi dengan memanfaatkan sumber-sumber
yang ada dalam masyarakat.
4. Sediakan peralatan untuk merangsang siswa melakukan percobaan
5. Sediakan waktu untuk berdiskusi, bereksperimen, mencoba-coba dan sebagainya.
6. Berilah bimbingan dan penguatan terhadap gagasan dan hipotesis siswa.
7. Berilah dorongan dan penghargaan terhadap pemecahan masalah yang dapat
diterima dan terhadap strategi pemecahan.
14
Rahayu dan Ramli (2007) berpendapat bahwa belajar dengan menggunakan
model pembelajaran inkuiri terdiri atas lima tahapan yaitu:
1. Penyajian masalah dalam bentuk teka-teki
Dalam tahap ini guru membawa situasi masalah dan menentukan prosedur
inkuiri pada siswa (berbentuk pertanyaan yang hendaknya dijawab ya/tidak).
Contohnya guru memberi pertanyaan langsung seperti “benar atau salah jika
dua garis yang saling sejajar akan memiliki gradien yang sama?”. Hal ini akan
mengarahkan siswa membuat dugaan penyelesaian dari permasalahan yang
diberikan guru.
2. Pengumpulan dan verifikasi data
Dalam tahap ini siswa dituntut untuk mengumpulkan informasi tentang
peristiwa yang mereka lihat atau alami. Misalnya setelah diberikan suatu
permasalahan seperti pada tahapan pertama, siswa akan dituntut untuk
mengumpulkan infor-masi yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan
dari guru tersebut.
3. Eksperimen atau percobaan
Dalam tahap ini siswa melakukan percobaan untuk mengeksplorasi dan
menguji secara langsung. Hal ini dilakukan untuk lebih memperkuat argumen
dari siswa. Dalam hal ini siswa akan membuat dua persamaan garis lurus yang
memiliki gradien yang sama, kemudian akan dibuktikan garis tersebut saling
sejajar atau tidak dengan menggambar kedua garis tersebut dalam bidang
koordinat. Pada tahap ini siswa diarahkan untuk dapat menyajikan suatu
permasalahan matema-tika secara lisan , tertulis, gambar, dan diagram serta
melakukan manipulasi ma-tematika.
15
4. Mengorganisasi data dan merumuskan penjelasan
Dalam tahap ini guru membimbing siswa untuk merumuskan penjelasan.
Siswa diminta untuk menjelaskan apa yang didapat dari pengumpulan
informasi dan dari percobaan yang telah dilakukan terhadap permasalahan
yang diberikan. Pada tahap ini siswa dapat menarik kesimpulan, menyusun
bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap beberapa solusi.
5. Mengadakan analisis tentang proses ilmiah
Dalam tahap ini siswa diminta untuk mengalisis pola–pola penemuan mereka.
Hal ini dilakukan agar siswa dapat menyimpulkan jawaban mereka ditinjau
dari tahapan-tahapan yang sudah mereka lakukan. Pada tahap ini siswa dapat
menen-tukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.
Selain itu, menurut Eggen dan Kauchak dalam Trianto (2007) tahapan-tahapan
mo-del pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
1. Mengajukan Pertanyaan atau Permasalahan
Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan diajukan. Untuk
meyakinkan bahwa pertanyaan sudah jelas, pertanyaan tersebut dituliskan di
papan tulis. Kemudian siswa diminta untuk merumuskan hipotesis.
2. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan
yang dapat diuji dengan data. Untuk mempermudah proses ini, guru menanyakan
kepa-da siswa gagasan mengenai hipotesis yang mungkin. Dari semua gagasan
yang ada dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan permasalahan yang diberikan.
3. Merancang pemecahan masalah
16
Dalam tahap ini siswa dengan bimbingan guru akan menentukan langkahlangkah dalam pemecahan masalah.
4. Melakukan percobaan atau eksperimen
Dalam tahap ini siswa akan melakukan percobaan untuk memperoleh informasi
dari permasalahan yang ada.
5. Mengumpulkan dan menganalisis Data
Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dapat berupa table, matrik, atau grafik. Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh. Faktor penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran benar atau
salah. Setelah memperoleh kesimpulan, dari data percobaan, siswa dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Bila ternyata hipotesis itu salah atau
ditolak siswa dapat menjelaskan sesuai dengan proses inkuiri yang telah dilakukannya.
6. Membuat Kesimpulan
Langkah penutup dari pembelajaran inkuiri adalah membuat kesimpulan
kesim-pulan sementara berdasarkan data yang diperoleh oleh siswa.
Menurut Sanjaya (2010) tujuan umum dari model pembelajaran inkuiri yaitu
untuk membantu siswa dalam mengembangkan disiplin intelektual dan
keterampilan yang diperlukan dengan memberikan pertanyaan–pertanyaan dan
mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka.
Sanjaya juga
17
berpendapat tentang kelebihan dan kekurangan model pembelajran inkuiri adalah
sebagai berikut:
1. Kelebihan model pembelajaran inkuiri
a. Model pembelajaran inkuiri secara seimbang menekankan pengembangan
aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
b. Model pembelajaran inkuiri lebih memberikan ruang kepada siswa untuk
belajar sesuai gaya belajar mereka.
c. Model pembelajaran inkuiri dianggap sesuai dengan perkembangan
psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan
tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d. Model pembelajaran inkuiri tidak membuat siswa yang memiliki
kemampuan belajar bagus terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
2. Kekurangan model pembelajran inkuiri
a. Model pembelajaran inkuiri akan menyulitkan dalam mengontrol kegiatan
dan keberhasilan siswa.
b. Model pembelajran inkuiri akan menyulitkan dalam perencanaan karena terbentur dengan kebiasaan belajar siswa.
c. Guru sulit menyesuaikan dengan waktu yang telah ditentukan, karena dalam
mengimplementasikan model pembelajaran inkuiri dibutuhkan waktu yang
panjang.
d. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa
dalam mengusai materi maka model pembelajaran inkuiri akan sulit
diimplemen-tasikan oleh setiap guru.
3. Penelitian yang relevan
18
a. Juliantine (2009) dalam penelitian yang berjudul “Implementasi Model Inkuiri
Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani”. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa siswa memiliki kesempatan untuk menciptakan sendiri pengalaman belajarnya dalam memecahkan suatu masalah yang dimulai dari identifikasi masalah, membuat hipotesis, merancang percobaan, meakukan percobaan,
melaku-kan percobaan untuk memperoleh informasi, mengumpulkan dan
menganalisis data, dan membuat kesimpulan. Pada prinsipnya tema utama dari
model pembe-lajaran inkuiri adalah siswa sebagai pemecah masalah (problem
solver). Meski-pun terdapat beberapa strategi pembelajaran yang didasarkan
pada inkuiri yang digunakan dalam pendidikan jasmani saat ini, namun
seluruhnya mempunyai karakteristik umum yaitu pendekatan pembelajarannya
merupakan proses peme-cahan masalah.
Secara khusus, permasalahannya
harus dipecahkan dengan do-main kognitif sebelum siswa dapat merumuskan
permasalahan yang diajukan dari pertanyaan guru.
b. Selly, Yuwono, dan Muksar (2013) dalam penelitiannya yang berjudul
“Penera-pan Pembelajaran Inkuiri Untuk Meningkatkan Penalaran Matematika
Siswa Kelas VII-4 SMP Negeri 4 Balikpapan”. Hasil penelitiannya yaitu
penerapan pembelajaran inkuiri yang dapat meningkatkan penaalaran
matematika dengan langkah-langkah:
1. Orientasi
Membangkitkan semangat dan partisipasi siswa untuk siap mengikuti
pembelajaran dengan mengingatkan pengetahuan prasyarat diawal pembelajaran melalui pertanyaan yang menarik dan menantang.
2. Merumuskan masalah
19
Melatih siswa berpikir divergen melalui pemberian LKS yang memuat
masalah terbuka, dan siswa memahami serta mencermati masalah.
3. Membuat hipotesis
Melatih siswa belajar secara mandiri dengan mengerjakan LKS yang
didis-kusikan bersama kelompoknya.
4. Menguji hipotesis
Mendiskusikan ide atau gagasan penyelesaian yang diperoleh masingmasing anggota kelompok, membahas beberapa alternatif penyelesaian.
5. Menyajikan hasil
Beberapa kelompok mempresentasikan jawaban, meminta kelompok lainnya memberikan tanggapan, koreksi, atau alternatif pemecahan masalah.
6. Refleksi
Melakukan pengecekan kembali langkah-langkah penyelesaian dan membuat kesimpulan.
B. Kerangka Pikir
Penelitian tentang penerapan model pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa terdiri dari satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah model pembelajaran inkuiri sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan penalran matematis siswa.
20
Salah satu kemampuan berpikir yang harus dikembangkan dalam pembelajaran
matematika adalah kemampuan penalaran matematis.
Dengan kemampuan
penala-ran matematis akan memudahkan siswa untuk berpikir mengenai cara
penyelesaian dari permasalahan-permasalahan matematis, memilah apa yang
penting dan tidak penting dalam menyelesaikan sebuah permasalahan tersebut,
dan menjelaskan atau memberikan alasan atas penyelesaian dari suatu
permasalahan.
Penggunaan model pembelajaran inkuri ini diharapkan akan berdampak pada kemampuan penalaran matematis siswa, perkembangan kognitif utama yang dialami
adalah formal operasional, yang mampu berpikir abstrak dengan menggunakan
simbol-simbol tertentu atau mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal yang
tidak terikat lagi oleh objek-objek yang bersifat konkrit, seperti peningkatan kemampuan analisis, kemampuan mengembangkan suatu kemungkinan berdasarkan
dua atau lebih kemungkinan yang ada, kemampuan menarik generalisasi dan
inferensasi dari berbagai kategori objek yang beragam.
Dalam model
pembelajaran inkuiri ini lah siswa akan aktif melakukan percobaan yang memberi
kesempatan siswa agar mampu memperkirakan jawaban dari suatu masalah
dengan meng-gunakan nalarnya.
Dalam model pembelajaran inkuiri juga dibagi dalam beberapa tahapan, tahapan
yang pertama guru menyajikan suatu permasalahan matematika. Permasalahan
ter-sebut dapat berupa pertanyaan maupun pernyataan yang harus dibuktikan
kebena-rannya oleh siswa. Dalam tahapan ini siswa dituntut untuk memahami
21
permasa-lahan yang diberikan oleh guru dan menyajikannya ke dalam
pernyataaan ma-tematika baik itu secara lisan, tertulis, gambar, atau diagram.
Tahapan yang kedua guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapat mereka dalam bentuk hipotesis. Siswa dibimbing untuk mengajukan dugaan-dugaan yang relevan dengan permasalahan yang diberikan oleh
guru. Setelah siswa membuat hipotesis, tahapan selanjutnnya atau tahapan ketiga
adalah siswa dibimbing untuk merencanakan atau merancang langkah-langkah
yang akan digunakan untuk memecahkan masalah yang ada.
Tahapan keempat model pembelajaran inkuiri yaitu siswa diberi kesempatan
untuk melakukan percobaan atau eksperimen terhadap permasalahan yang
dibrikan.
Percobaan tersebut dapat berupa manipulasi matematika atau hal
lainnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi atas permasalahan yang ada.
Selanjutnya tahapan kelima yaitu mengumpulkan dan menganalisis data. Dalam
tahapan ini siswa diminta untuk mempresentasikan hasil dari percobaan yang
telah dilakukan. Selain itu, siswa bersama dengan guru akan mengkaji kembali
proses pemecahan masalah yang digunakan siswa.
Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan merupakan baagian dari tahapan terakhir model pembelajaran inkuiri. Dalam tahapan ini siswa diharapkan
mampu untuk memeriksa kesahihan dari argumen yang mereka kemukakan
dengan memberikan alasan atau bukti atas argumen tersebut.
Berdasarkan tahapan-tahapan dalam model pembelajaran inkuiri, dapat memungkinkan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran
22
dengan mengguanakan model pembelajaran inkuiri akan lebih tinggi daripada
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
konvensional. Dengan demikian penerapan model pembelajaran inkuiri dapat berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa.
C. Anggapan Dasar
Penelitian ini mempunyai anggapan dasar sebagai berikut:
1. Semua siswa kelas VIII semester ganjil SMP Negeri 19 Bandar Lampung
tahun pelajaran 2016/2017 memperoleh materi yang sama dan sesuai dengan
kuriku-lum tingkat satuan pendidikan.
2. Faktor lain yang mempengaruhi kemampuan penalaran matematis siswa selain
model pembelajaran dikontrol sehingga memberikan pengaruh yang sangat
kecil dan dapat diabaikan.
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan pertanyaan dalam rumusan masalah yang diuraikan sebelumnya,
maka hipotesis dari penelitian ini adalah:
1. Hipotesis Umum
Model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap peningkatkan kemampuan
penalaran matematis siswa.
2. Hipotesis Khusus
23
Peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran inkuiri lebih tinggi daripada peningkatan penalaran matematis siswa
yang mengikuti pembelajaran konvensional.
III. METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 19 Bandar Lampung yang terletak di
Jl. Turi Raya No.1 Kec.Tanjung Seneng-Bandar Lampung.
Populasi dalam
peneliti-an ini adalah seluruh siswa kelas VIII semester ganjil SMP Negeri 19
Bandar Lam-pung tahun ajaran 2016/2017 yang terdiri dari 12 kelas yaitu kelas
VIIIA sampai VIIIL. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik
Purposive Ran-dom Sampling.
Pengambilan sampel secara purposive dengan pertimbangan bahwa kelas yang
dipi-lih diajar oleh guru yang sama sehingga memiliki pengalaman belajar yang
sama. Pemilihan guru diambil secara acak dari 4 guru matematika yang ada. Dari
4 guru matematika tersebut, terpilih salah satu guru yang mengajar pada kelas
VIIIH, VIIII, VIIIJ, VIIIK, dan VIIIL. Berdasarkan data dari guru, hasil rata-rata
nilai Ujian Tengah Semester Ganjil kelas VIIIH, VIIII, VIIIJ, VIIIK, dan VIIIL
SMP Negeri 19 Bandar Lampung tahun pelajaran 2016/2017 seperti pada table
berikut.
Tabel 3.1 Rata-Rata Nilai Ujian Tengah Semester (UTS)
No
1
2
3
Kelas
VIIIH
VIIII
VIIIJ
Banyak Siswa
30
31
29
Rata-rata
68,33
69,82
65,22
24
4
5
VIIIK
VIIIL
28
30
66,50
64,66
Setelah dilakukan pemilihan secara acak terpilih kelas VIIIH yang berjumlah 30
siswa sebagai kelas eksperimen dan VIIII yang berjumlah 31 siswa sebagai kelas
kontrol.
B. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experiment (eksperimen semu).
Desain yang digunakan adalah the pretest–posttest control group design seperti
yang diungkapkan oleh Fraenkel dan Wallen (1993: 248) sebagai berikut:
Tabel 3.2. Pretest – Posttest Kontrol Desain
Kelompok
E
K
Pretest
Y1
Y1
Perlakuan
Pembelajaran
Inkuiri
Konvensional
Keterangan:
E
: kelas eksperimen
K
: kelas kontrol
Y1
: dilaksanakan pretest instrumen tes pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol
Y2
: dilaksanakan posttest instrumen tes pada kelas eksperimen
dan kelas control
C. Data Penelitian
Posttest
Y2
Y2
25
Data dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif tentang kemampuan
penalaran matematis siswa yang diperoleh dari skor pretest, skor postest dan skor
gain (peningkatan).
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan tes.
Teknik tes ini digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan penalaran matematis siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
E. Prosedur Penelitian
Prosedur pelaksanaan dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1. Tahap Persiapan
a. Melakukan penelitian pendahuluan untuk mengetahui populasi dan cara mengajar guru selama pembelajaran.
b. Menentukan sampel penelitian.
c. Menyusun proposal penelitian.
d. Membuat perangkat pembelajaran untuk kelas kontrol yang menggunakan
model pembelajaran konvensional dan untuk kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri.
e. Membuat instrumen penelitian berupa tes kemampuan penalaran matematis.
f. Melakukan validasi dan uji coba instrumen penelitian.
g. Melakukan perbaikan instrumen penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Memberikan pretest kemampuan penalaran matematis pada kelas kontrol dan
kelas eksperimen sebelum mendapat perlakuan.
26
b. Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional untuk kelas kontrol dan model pembelajaran inkuiri untuk kelas
eksperimen.
c. Melakukan posttest kemampuan penalaran matematis pada kelas kontrol dan
kelas eksperimen setelah mendapat perlakuan
3. Tahap Pengolahan Data
a. Mengumpulkan data penelitian yang diperoleh dari hasil tes kemampuan awal
dan kemampuan akhir penalaran matematis siswa.
b. Mengolah dan menganalisis data penelitian untuk menjawab rumusan masalah
dan kemudian disimpulkan.
c. Menyusun laporan penelitian.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dalam bentuk soal
uraian dengan materi persamaan garis lurus. Tes yang diberikan pada setiap kelas
baik soal-soal untuk pretest dan posttest adalah sama. Tes ini diberikan kepada
siswa secara individual, pemberiannya bertujuan untuk mengukur peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa.
Penyusunan instrumen tes dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
a. Melakukan pembatasan materi yang diujikan.
b. Menentukan tipe soal, jumlah butir soal dan waktu pengerjaan soal.
c. Membuat
kisi-kisi
soal
berdasarkan
indikator kemampuan penalaran
matematis.
d. Membuat soal tes dan kunci jawaban berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat.
27
e. Membuat petunjuk mengerjakan soal.
f. Melakukan penilaian terhadap soal tes berdasarkan pedoman penskoran.
g. Melakukan uji validitas instrumen.
h. Mengujicobakan instrumen.
i. Menganalisis reliabilitas, daya beda, dan tingkat kesukaran.
j. Merevisi item soal yang tidak memenuhi kriteria soal yang dipakai berdasarkan
analisis yang sudah dilakukan.
Pedoman pemberian skor kemampuan penalaran matematis siswa menurut
Wardani dalam Nailil (2011) disajikan pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3. Pedoman Penskoran Penilaian Kemampuan Penalaran Matematis
No
A
B
C
D
E
Indikator
Kemampuan
Penalaraan
Menyajikan
pernyataan
matematika secara
lisan, tertulis, gambar
dan diagram
Mengajukan dugaan
(conjegtures)
Melakukan
manipulasi
matematika
Menarik kesimpulan,
menyusun bukti,
memberikan alasan
atau buktiterhadap
beberapa solusi
Memeriksa kesahihan
suatu argument
Respon Siswa Terhadap soal
Skor
 Salah sama sekali (tidak menjawab)
 Salah Menyajikan pernyataan matematika
 Menyajikan pernyataan matematika dengan
selengkapnya
0
1
2
 Tidak mengajukan dugaan sama sekali
 Membuat dugaan yang benar, tetapi belum
lengkap
 Membuat Mengajukan dugaan dengan
prosedur dan memperoleh jawaban yang benar
 Tidak ada jawaban atau jawaban salah
 Melakukan manipulasi matematikadengan
benar tetapi belum lengkap
 Melakukan manipulasi matematika yang
benar dan mendapatkan hasil benar
 Tidak ada kesimpulan atau tidak ada
keterangan
 Menarik kesimpulan dengan benar tetapi bukti
dan alasan yang diberikan belum lengkap
 Menarik kesimpulan dengan benar serta bukti
dan alasan yang tepat
 Tidak memeriksa kesahihan sama sekali
 Memberikan kesahihan tetapi kurang tepat
 Memberikan kesahihan denga benar
0
1
2
0
1
2
0
1
2
0
1
2
28
F
 Tidak memberikan pola matematis secara
generalisasi
 Memberikan pola matematis tetapi tidak
lengkap
 Memberikan pola matematis dengan lengkap
dan benar
Menentukan pola atau
sifat dari gejala
matematis untuk
membuat
generalisasi.
0
1
2
a. Uji Validitas
Validitas yang digunakan yaitu validitas isi. Validitas isi bertujuan untuk mengetahui sejauh mana instrumen tes kemampuan penalaran matematis mencerminkan
kemampuan penalaran matematis siswa terkait materi pembelajaran yang telah
ditentukan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini soal tes dikonsultasikan kepada
guru mata pelajaran matematika kelas VIII. Penilaian terhadap kesesuaian isi tes
dengan kisi-kisi tes yang diukur dan penilaian terhadap kesesuaian bahasa yang
digunakan dalam tes dengan kemampuan bahasa siswa dilakukan dengan menggunakan daftar ceklis oleh guru. Hasil penilaian terhadap instrumen tes yang
dibuat yaitu semua soal dinyatakan valid berdasarkan penilaian guru mitra.
(Lampiran B.5 halaman 118)
b. Uji Reliabilitas
Perhitungan reliabilitas tes kemampuan penalaran matematis dapat dihitung
dengan menggunakan rumus Alpha (Arikunto, 2013: 122) sebagai berikut.
r11 =
(
)
1−

t
2
b
2
Keterangan:
r11
: koefisien reliabilitas instrumen tes
29
n
: banyaknya item

t
2
b
2
: jumlah varians skor tiap-tiap item tes
: varians total.
Menurut Guilford dalam Suherman (1990) harga r11 yang diperoleh diimplementasikan ke dalam indeks reliabilitas sebagai berikut.
Tabel 3.4. Kriteria Koefisien Reliabilitas
Koefisien reliabilitas
0,20
0,20 <
0,40
0,40 <
≤ 0,60
0,60 <
0,80
0,80 <
1,00
Kriteria
Sangat Rendah
Rendah
Cukup
Tinggi
Sangat tinggi
Berdasarkan hasil perhitungan uji coba instrumen tes, diperoleh bahwa nilai koefisien reliabilitas tes adalah 0,79. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen tes yang
digunakan memiliki reliabilitas yang tinggi. Hasil perhitungan reliabilitas tes uji
coba soal dapat dilihat pada Lampiran C.2 halaman 121.
c. Indeks Kesukaran
Untuk menghitung tingkat kesukaran soal, digunakan rumus yang dikutip dari
Arikunto (2013) sebagai berikut.
P=
Keterangan:
P
: Indeks kesukaran
B
: Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar
30
JS
: jumlah seluruh siswa peserta tes
Untuk menginterpretasikan tingkat kesukaran suatu butir soal digunakan kriteria
indeks kesukaran menurut Arikunto (2013) sebagai berikut.
Tabel 3.5. Interpretasi Indeks Kesukaran
Besarnya P
Kriteria
0,00 – 0,30
0,31 – 0,70
0,71 – 1,00
Soal Sukar
Soal Sedang
Soal Mudah
Soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal yang memiliki kriteria
mudah, sedang, atau sukar. Berdasarkan hasil perhitungan uji coba instrumen tes,
diperoleh bahwa nilai tingkat kesukaran tes adalah 0,22 sampai dengan 0,91. Hal
ini menunjukkan bahwa instrumen tes yang diujicobakan memiliki tingkat
kesukaran yang sukar, sedang dan mudah. Hasil perhitungan tingkat kesukaran uji
coba soal dapat dilihat pada Lampiran C.3 halaman 122.
d. Indeks Daya Pembeda
Daya beda tiap butir soal menyatakan seberapa jauh soal tersebut mampu membedakan siswa yang dapat menjawab dengan benar (berkemampuan tinggi) dengan
siswa yang tidak dapat menjawab dengan benar (berkemampuan rendah). Untuk
menghitung daya pembeda, data terlebih dahulu diurutkan dari siswa yang
memperoleh nilai tertinggi sampai terendah, selanjutnya diambil 50% siswa yang
memperoleh nilai tertinggi (disebut kelompok atas) dan 50% siswa yang memperoleh nilai terendah (disebut kelompok bawah).
31
Arikunto (2013) mengungkapkan menghitung daya pembeda ditentukan dengan
rumus :
=
−
= PA – PB
Keterangan :
D
: indeks daya pembeda satu butri soal tertentu
JA
: Banyak peserta kelompok atas
JB
: Banyak peserta kelompok bawah
BA
: Banyak peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar
BB
: Banyak peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar
PA
: Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar ( P sebagai indeks
kesukaran)
PB
: Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab
Menurut arikunto (2013) hasil perhitungan daya pembeda diinterpretasi berdasarkan klasifikasi yang disajikan pada Tabel 3.6.
Tabel 3.6. Interpretasi Nilai Daya Pembeda
Nilai
0,00 – 0,20
0,21 – 0,40
0,41 – 0,70
0,71 – 1,00
Interpretasi
Jelek
Cukup
Baik
baik sekali
Soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal yang berdaya pembeda
cukup, baik atau baik sekali. Berdasarkan hasil perhitungan uji coba instrumen
tes, diperoleh bahwa nilai daya pembeda tes adalah 0,23 sampai dengan 0,77. Hal
ini menunjukkan bahwa instrumen tes yang diujicobakan memiliki daya pembeda
32
yang cukup sampai baik sekali. Hasil perhitungan daya pembeda uji coba soal
dapat dilihat pada Lampiran C.3 halaman 122.
G. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil pretes dan posttes dianalisis untuk mendapatkan
skor peningkatan (gain) pada kedua kelas.
Analisis ini bertujuan untuk
mengetahui be-sarnya peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa pada
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Menurut Meltzer (Noer, 2010:105) besarnya
peningkatan di-hitung dengan rumus gain ternormalisasi (normalized gain) = g,
yaitu :
=
−
−
Hasil perhitungan indeks gain kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan
klasifikasi dari Meltzer (Noer, 2010:105) seperti terdapat pada Tabel 3.7.
Tabel 3.7. Kriteria Indeks Gain
Indeks Gain (g)
g > 0,7
0,3 < g ≤ 0,7
g ≤ 0,3
Kriteria
Tinggi
Sedang
Rendah
Hasil perhitungan skor gain kemampuan penalaran matematis siswa selengkapnya
dapat dilihat pada Lampiran C.6 dan C.7 halaman 127 dan 128. Dalam penelitian
ini analisis data mula-mula dilakukan dengan cara uji normalitas.
1.
Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data indeks gain berasal dari
populasi yang berdistribusi normal atau tidak berdistribusi normal. Uji ini meng-
33
gunakan uji Kolmogorov-Smirnov Z.
Adapun rumusan hipotesis uji adalah
sebagai berikut:
: data berasal dari populasi yang berdistribusi normal
: data berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal
Uji normalitas ini menggunakan chi-kuadrat:
=∑
(
)
Keterangan :
= frekuensi hasil pengamatan.
= frekuensi yang diharapkan.
Dengan kriteria uji (Sudjana,2005) :
ditolak jika
nyata 5%.
<
dengan taraf
Rekapitulasi uji normalitas data gain kemampuan penalaran matematis disajikan
pada Tabel 3.7. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C.8 dan
C.9 halaman 129 dan 132.
Tabel 3.8. Rekapitulasi Uji Normalitas Data Gain Kemampuan Penalaran
Matematis
Kelas
Eksperimen
Kontrol
13,89657
9,645978
7,81
7,81
Keputusan Uji
ditolak
ditolak
Keterangan
Tidak Normal
Tidak Normal
Berdasarkan hasil uji normalitas, diketahui bahwa data gain kemampuan
penalaran matematis pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berasal dari
populasi yang tidak berdistribusi normal.
2.
Uji Hipotesis
34
Setelah melakukan uji normalitas diperoleh data yang berdistribusi tidak normal,
maka dalam pengujian menggunakan uji non-parametrik Mann-Whitney U atau
uji-U.
Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut :
: tidak ada perbedaan peringkat antara peningkatan kemampuan penalaran
matematis siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri dengan peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti model
pembelajaran konvensional.
: ada perbedaan peringkat antara peningkatan kemampuan penalaran
matema-tis siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri dengan
peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti
model pembela-jaran konvensional.
Untuk menguji hipotesis digunakan rumus sebagai berikut:
=
=
Keterangan:
+
+
(
)
(
)
− Σ
− Σ
= jumlah sampel kelas eksperimen
= jumlah sampel kelas kontrol
= jumlah peringkat 1
= jumlah peringkat 2
Σ
Σ
= jumlah ranking pada sampel
= jumlah ranking pada sampel
Nilai U yang digunakan adalah nilai U yang paling kecil, karena dalam
penelitian ini untuk
dan
statistiknya sebagai berikut:
lebih besar dari 20, dilakukan uji z dengan
35
=
(
.
)
Dengan kriteria pengujiannya adalah tolak
jika
>
dan terima
jika sebaliknya. Jika hipotesis nol ditolak maka perlu dianalisis lanjutan untuk
me-ngetahui apakah penerapan model inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan
pe-nalaran matematis siswa.
Adapun analisis lanjutan tersebut menurut
Ruseffendi (1998) adalah melihat data sampel mana yang rata-ratanya lebih
tinggi.
45
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan
model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan
penala-ran matematis siswa kelas VIII SMP Negeri 19 Bandarlampung tahun
pelajaran 2016/2017. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata peningkatan kemampuan
penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran inkuiri lebih tinggi
daripada pening-katan kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti
pembelajaran kon-vensional
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut, dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
1.
Bagi guru, model pembelajaran inkuiri dapat digunakan sebagai salah satu
alternatif dalam pembelajaran matematika untuk membantu siswa dalam mengembangkan penalaran matematis siswa. Namun dalam penerapannya harus
diimbangi dengan perencanaan yang matang dan pengelolaan yang tepat agar
suasana belajar semakin kondusif sehingga memperoleh hasil yang optimal.
2.
Bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian lanjutan mengenai
model pembelajaran inkuiri hendaknya lebih memperhatikan pembagian
46
waktu sebaik mungkin agar proses pembelajaran sesuai dengan yang
diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2013. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Azizah, Laily. 2014. Pengaruh Pembelajaran Matematika Model Inkuiri terhadap
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa MI. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah
Brodie, Karin. 2010. Teaching Mathematical Reasoning in Secondary School
Classroom. New York: Springer.
Depdiknas.2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
_________.2006. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi
Sekolah Menengah. Jakarta: Depdiknas
_________.2004. Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 tanggal 11
November 2004 tentang Penilaian Perkembangan Anak Didik Sekolah
Menengah Pertama (SMP)
Fraenkel, Jack R dan Norman E Wallen. 1993. How to Design and Evaluate
Research in Education. Singapura: McGraw-Hill.
Gulo, W. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Grasindo
Jacob, C. 2000. Matematika Sebagai Penalaran: Suatu Upaya Meningkatkan
Kreativitas Berpikir. Makalah Disajikan Pada Seminar Nasional
Peningkatan Kualitas Pendidikan Matematika Pada Pendidikan Dasar.
Jurusan Matematika. FMIPA Universitas Negeri Malang, 18 November
2000.
Jauhar, Mohammad. 2011. Implementasi PAIKEM dari Behavioristik sampai
Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustakarya.
Juliantine, Tite. 2009. Implementasi Model Inkuiri Dalam Pembelajaran
Pendidikan Jasmani. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
Kurniawati, Lia. 2006. “Pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah
untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematika
Siswa SMP”. Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Vol. 1 No. 1. Jakarta: IAIN Indonesia Social Equity Project
Matlin, Margaret W. (2009). Cognitive Psychology Seventh Edition International
Student Version. Printed In Asia: John Wiley & Sons, Inc.
Mursell, J. Nasution, prof. 1995. Mengajar dengan Sukses Edisi Kedua. Jakarta:
PT
Bursa Effek Surabaya Bumi Aksara.
Noer, Sri Hastuti. 2010. Jurnal Pendidikan MIPA. Jurusan P.MIPA. Unila.
Nailil, Faroh. 2011. Pengaruh Kemampuan Penalaran dan Komunikasi
Matematika Terhadap Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Materi
Pokok Himpunan Pada Peserta Didik Semester 2 Kelas VII MTs NU Nurul
Huda Mangkang Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011. Semarang: IAIN
Walisongo
Rahayu, D. Gelar & Ramli, Munaspito. 2007. (Pendidikan Baru dalam Proses
Pembelajaran Matematika) Matematika dan Sains Dasar Sebuah Antologi.
Jakarta: UIN Jakarta
Ruseffendi. 1998. Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung : IKIP
Bandung Press.
Sanjaya, wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta : Kencana
Shadiq, Fajar.(2004). Penalaran, Pemecahan masalah dan Komunikasi Dalam
Pembelajaran matematika. Makalah disajikan pada Diklat Instruktur
/Pengembang Matematika SMP Jenjang Dasar tanggal 10 s.d. 23 Oktober
2004.
Shelly, Yuwono, I & Muksar, M. 2013. Penerapan Pembelajaran Inkuiri Untuk
Meningkatkan Penalaran Matematika Sisiwa Kelas Vii-4 Smp Negeri 4
Balikpapan. Jurnal Penelitian Pendidikan Vol. 1 No. 1. [online]. Diakses di
http://fmipa.um.ac.id/index.php/component/attachments/190.html
pada
tanggal 7 agustus 2016
Shofiah, S. M. 2007. Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Konstruktivisme dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Penalaran Induktif Siswa.
Bandung: UPI Bandung.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Tarsito. Bandung
Suherman, E. 1990. Petunjuk Praktis untuk Melaksanakan Evaluasi Pendidikan
Matematika. Bandung: Wijayakusumah
Suherman, Erman, dkk.. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Bandung: JICA- Universitas Pendidikan Indonesia.
TIMSS. 2011 . International Results in Mathematics. [online]. Tersedia di http://timssandpirls.bc.edu/timss2011/downloads/T11_IR_Mathematics_FullBoo
k.pdf. diakses pada tanggal 7 Agustus 2016)
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorentasi Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka.
______. 2011. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorentasi Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka
Trihendradi, Cornelius. 2005. Step by Step SPSS 17.0 Analisis Data Statistik.
Yogyakarta: Andi Offset
Yaniawati, R. Poppy. 2010. e-learning Alternatif Pembelajaran Kontemporer.
Bandung: Arfino Raya.
Wena, Made. 2009. Strategi pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi
Aksara.
Download