GERIATRIC SYNDROME

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
GERIATRIC SYNDROME
Untuk Memenuhi Tugas Clinical Studies 2
Disusun Oleh:
Sanda Prima Dewi
125070201131017
Kelompok 3-A, K3LN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
A. PENGERTIAN USIA LANJUT (GERIATRI)
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan.
Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu
dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial
(BKKBN 1998). Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk
yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai
dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap
serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan
terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta
sistem organ. Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang
sebagai beban
beranggapan
banyak
dari
pada
sebagai
bahwa kehidupan
manfaat,
bahkan
ada
sumber
masa
tua
daya.
tidak
yang sampai
Banyak
lagi
orang
memberikan
beranggapan
bahwa
kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai
beban keluarga dan masyarakat.
WHO
dan
Undang-Undang
Nomor
13
Tahun
1998
tentang
kesejahteraan lanjut usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan
bahwa usia 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah
suatu
penyakit,
mengakibatkan
tetapi
merupakan
perubahan
kumulatif,
proses
yang
merupakan
berangsur-angsur
proses
menurunya
daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar
tubuh.
Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60
tahun ke atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999). Pada lanjut usia akan
terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri
atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahanlahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).
B. FISIOLOGI LANSIA dan PROSES MENUA
Proses penuaan adalah normal, berlangsung secara terus menerus
secara alamiah. Dimulai sejak manusia lahir bahkan sebelumnya dan
umunya dialami seluruh makhluk hidup. Menua merupakan proses
penurunan fungsi struktural tubuh yang diikuti penurunan daya tahan tubuh.
Setiap orang akan mengalami masa tua, akan tetapi penuaan pada tiap
seseorang
berbeda-beda
tergantung
pada
berbagai
faktor
yang
mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut dapat berupa faktor herediter,
nutrisi, stress, status kesehatan dan lain-lain (Stanley, 2006).
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa
dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara
biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami
kemuduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan
kulit
yang
mengendor,
rambut
memutih,
penurunan
pendengaran,
penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ
vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah.
Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ,
tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus
sehat. Sehat dalam hal ini diartikan:
a. Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial,
b. Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari,
c. Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat
(Rahardjo, 1996)
Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahanperubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terusmenerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang
berhasil maka timbullah berbagai masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip
oleh Munandar Ashar Sunyoto (1994) menyebutkan masalah – masalah
yang menyertai lansia yaitu:
a. Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan
b. Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam
pola hidupnya
c. Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah
meninggal atau pindah
d. Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang
bertambah banyak
e. Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan
dengan perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik
yang mendasar adalah perubahan gerak.
Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan
bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi
minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola
hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak
memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran
dan pengalaman pribadinya. Perubahan ynag diminati oleh para lanjut usia
adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan,
ekonomi/pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992)
Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciriciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979 dalam Munandar,
1994) adalah:
a. Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya.
b. Penarikan diri ke dalam dunia fantasi
c. Selalu mengingat kembali masa lalu
d. Selalu khawatir karena pengangguran,
e. Kurang ada motivasi,
f. Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan
g. Tempat tinggal yang tidak diinginkan.
Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain
adalah: minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial
luas, menikmati kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilkukan saat
ini dan memiliki kekhawatiran minimla trehadap diri dan orang lain.
C. DEFINISI SINDROM GERIATRI
Sindrom geriatri adalah serangkaian kondisi klinis pada orang tua
yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien dan dikaitkan dengan
kecacatan. Tampilan klinis yang tidak khas sering membuat sindrom geriatri
tidak terdiagnosis.
Sindrom geriatri meliputi gangguan kognitif, depresi, inkontinensia,
ketergantungan fungsional, dan jatuh. Sindrom ini dapat menyebabkan
angka morbiditas yang signifikan dan keadaan yang buruk pada usia tua
yang lemah. Sindrom ini biasanya melibatkan beberapa sistem organ.
Sindrom geriatrik mungkin memiliki kesamaan patofisiologi meskipun
presentasi yang berbeda, dan memerlukan intervensi dan strategi yang
fokus terhadap faktor etiologi (Panitaetal., 2011).
Dalam menilai kesehatan lansia perlu dibedakan antara perubahan
akibat penuaan dengan perubahan akibat proses patologis. Beberapa
problema klinik dari penyakit
pada lanjut usia yang sering dijumpai.
Sindroma geriatri antara lain adalah:

“the O complex”
: fall, confusion, incontinence,
iatrogenic disorders, impaired homeostasis

“the big three”
:
intelectual
failure,
instability,
incontinence

“the 14 I”
Iatrogenic,
: Immobility, Impaction, Instability,
Intelec-tual
Incontinence,
Impairment,
Isolation,
Immunodefficiency, Infection,
Insomnia,
Impotence,
Inanition, Impairment
of Vision, smelling, hearing, Impecunity
Imobilisasi adalah keadaan tidak bergerak/tirah baring selama 3 hari
atau lebih, diiringi gerak anatomis tubuh yang menghilang akibat perubahan
fungsi fisiologis. Gangguan keseimbangan (instabilitas) akan memudahkan
pasien geriatri terjatuh dan dapat mengalami patah tulang. Inkontinensia urin
didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak terkendali pada waktu yang
tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya, sehingga
mengakibatkan masalah sosial dan higienis. Inkontinensia urin seringkali
tidak dilaporkan oleh pasien atau keluarganya karena malu atau tabu untuk
diceritakan, ketidaktahuan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar
pada orang usia lanjut serta tidak perlu diobati. Gangguan depresi pada usia
lanjut kurang dipahami sehingga banyak kasus tidak dikenali. Gejala depresi
pada usia lanjut seringkali dianggap sebagai bagian dari proses menua.
Infeksi sangat erat kaitannya dengan penurunan fungsi sistem imun pada
usia lanjut. Infeksi yang sering dijumpai adalah infeksi saluran kemih,
pneumonia, sepsis, dan meningitis. Kondisi lain seperti kurang gizi,
multipatologi, dan faktor lingkungan memudahkan usia lanjut terkena infeksi.
Gangguan penglihatan dan pendengaran juga sering dianggap sebagai hal
yang biasa akibat proses menua. Gangguan penglihatan berhubungan
dengan penurunan kegiatan waktu senggang, status fungsional, fungsi
sosial, dan mobilitas. Pasien geriatri sering disertai penyakit kronis
degeneratif. Penyakit degeneratif yang banyak dijumpai pada pasien geriatri
adalah hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, osteoartritis, dan penyakit
kardiovaskular.
D. KLASIFIKASI GERIATRIC SYNDROME
1. Klasifikasi Demensia
Klasifikasi demensia vaskuler secara klinis menurut Kelompok Studi
Fungsi Luhur PERDOSSI adalah:
a. Demensia pasca stroke
-
Demensia infark serebri
-
Demensia perdarahan intraserebral
b. Demensia vaskuler subkortikal
-
Lesi iskemik substansia alba
-
Infark lakuner subkortikal
-
Infark non lakuner subkortikal
-
Demensia vaskuler tipe campuran (Demensia Alzheimer dan
Demensia Vaskuler)
Klasifikasi demensia (Sjahrir,1999) terbagi atas 2 dimensi:
a.
Menurut umur; terbagi atas:
- Demensia senilis onset > 65 tahun
- Demensia presenilis < 65 tahun
b. Menurut level kortikal:
- Demensia kortikal
- Demensia subkortikal
2. Klasifikasi Inkontinensia
a. Inkontinensia Urin Akut Reversibel
Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak
dapat pergi ke toilet sehingga berkemih tidak pada tempatnya. Bila
delirium teratasi maka inkontinensia urin umumnya juga akan teratasi.
Setiap kondisi yang menghambat mobilisasi pasien dapat memicu
timbulnya inkontinensia urin fungsional atau memburuknya inkontinensia
persisten, seperti fraktur tulang pinggul, stroke, arthritis dan sebagainya.
Resistensi urin karena obat-obatan, atau obstruksi anatomis dapat pula
menyebabkan inkontinensia urin. Keadaan inflamasi pada vagina dan
urethra (vaginitis dan urethritis) mungkin akan memicu inkontinensia urin.
Konstipasi juga sering menyebabkan inkontinensia akut. Berbagai kondisi
yang menyebabkan poliuria dapat memicu terjadinya inkontinensia urin,
seperti glukosuria atau kalsiuria. Gagal jantung dan insufisiensi vena
dapat menyebabkan edema dan nokturia yang kemudian mencetuskan
terjadinya inkontinensia urin nokturnal. Berbagai macam obat juga dapat
mencetuskan terjadinya inkontinensia urin seperti Calcium Channel
Blocker,
agonist
adrenergic
alfa,
analgesic
narcotic,
psikotropik,
antikolinergik dan diuretic. Untuk mempermudah mengingat penyebab
inkontinensia urin akut reversible dapat dilihat akronim di bawah ini :
D --> Delirium
R --> Restriksi mobilitas, retensi urin
I --> Infeksi, inflamasi, Impaksi
P --> Poliuria, pharmasi
b. Inkontinensia Urin Persisten
Inkontinensia urin persisten dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara,
meliputi anatomi, patofisiologi dan klinis. Untuk kepentingan praktek klinis,
klasifikasi klinis lebih bermanfaat karena dapat membantu evaluasi dan
intervensiklinis.
Kategori klinis meliputi :
1) Inkontinensia urin stress (stres inkontinence)
Tak terkendalinya aliran urin akibat meningkatnya
tekanan
intraabdominal, seperti pada saat batuk, bersin atau berolah raga.
Umumnya
disebabkan
oleh
melemahnya
otot
dasar
panggul,
merupakan penyebab tersering inkontinen-sia urin pada lansia di
bawah 75 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita tetapi mungkin
terjadi pada laki-laki akibat kerusakan pada sfingter urethra setelah
pembedahan
transurethral
dan
radiasi.
Pasien
mengeluh
mengeluarkan urin pada saat tertawa, batuk, atau berdiri. Jumlah urin
yang keluar dapat sedikit atau banyak.
2) Inkontinensia urin urgensi (urgency inkontinence)
Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan sensasi
keinginan berkemih. Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan
dengan kontraksi detrusor tak terken-dali (detrusor overactivity).
Masalah-masalah neurologis sering dikaitkan dengan inkontinensia
urin urgensi ini, meliputi stroke, penyakit Parkinson, demensia dan
cedera medula spinalis. Pasien mengeluh tak cukup waktu untuk
sampai di toilet setelah timbul keinginan untuk berkemih sehingga
timbul peristiwa inkontinensia urin. Inkontinensia tipe urgensi ini
merupakan penyebab tersering inkontinen-sia pada lansia di atas 75
tahun. Satu variasi inkontinensia urgensi adalah hiperaktifitas detrusor
dengan kontraktilitas yang terganggu. Pasien mengalami kontraksi
involunter tetapi tidak dapat mengosongkan kandung kemih sama
sekali. Mereka memiliki gejala seperti inkontinensia urin stress,
overflow dan obstruksi. Oleh karena itu perlu untuk mengenali kondisi
tersebut karena dapat menyerupai ikontinensia urin tipe lain sehingga
penanganannya tidak tepat.
3) Inkontinensia urin luapan/overflow (overflow incontinence)
Tidak terkendalinya pengeluaran urin dikaitkan dengan distensi
kandung kemih yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh obstruksi
anatomis, seperti pembesaran prostat, faktor neurogenik pada
diabetes melitus atau sclerosis multiple, yang menyebabkan berkurang
atau tidak berkontraksinya kandung kemih, dan faktor-faktor obatobatan. Pasien umumnya mengeluh keluarnya sedikit urin tanpa
adanya sensasi bahwa kandung kemih sudah penuh.
4) Inkontinensia urin fungsional
Inkontinensia
fungsional
merupakan
keadaan
seseorang
yang
mengalami pengeluaran urin secara tanpa disadari dan tidak dapat
diperkirakan. Keadaan inkontinensia ini ditandai dengan tidak adanya
dorongan untuk berkemih, merasa bahwa kandung kemih penuh,
kontraksi kandung kemih cukup kuat untuk mengeluarkan urin
(Hidayat,2006). Inkontinensia fungsional merupakan inkontinen-
sia dengan fungsi saluran kemih bagian bawah yang utuh tetapi
ada
faktor
lain,
seperti
gangguan
kognitif
berat
yang
menyebabkan pasien sulit untuk mengidentifikasi perlunya
urinasi (misalnya, demensia Alzheimer) atau gangguan fisik
yang menyebabkan pasien sulit atau tidak mungkin menjangkau
toilet untuk melakukan urinasi
5) Inkontinensia Refleks
Inkontinensia refleks merupakan keadaan di mana seseorang
mengalami pengeluaran urin yang tidak dirasakan, terjadi pada interval
yang dapat diperkirakan bila volume kandung kemih mencapai jumlah
tertentu. Inkontinensia tipe ini kemungkinan disebabkan oleh adanya
kerusakan neurologis (lesi medulla spinalis). Inkontinensia refleks
ditandai dengan tidak adanya dorongan untuk berkemih, merasa
bahwa kandung kemih penuh, dan kontraksi atau spasme kandung
kemih tidak dihambat pada interval teratur (Hidayat, 2006).
6) Inkontinensia Total
Inkontinensia total merupakan keadaan dimana seseorang mengalami
pengeluaran urin yang terus menerus dan tidak dapat diperkirakan.
Kemungkinan penyebab inkontinensia total antara lain: disfungsi
neorologis,
kontraksi independen dan refleks detrusor
karena
pembedahan, trauma atau penyakit yang mempengaruhi saraf medulla
spinalis, fistula, neuropati (Hidayat, 2006).
E. TEORI PROSES MENUA
1. Teori – teori biologi
1. 1
Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk
spesies – spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari
perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul – molekul / DNA
dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai
contoh yang khas adalah mutasi dari sel – sel kelamin (terjadi
penurunan kemampuan fungsional sel)
1. 2
Pemakaian dan rusak
Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel – sel tubuh lelah
(rusak)
1. 3
Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)
Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu
zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap
zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
1. 4
Teori “immunology slow virus” (immunology slow virus theory)
Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan
masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan
organ tubuh.
1. 5
Teori stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan
tubuh.
Regenerasi
jaringan
tidak
dapat
mempertahankan
kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres
menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
1. 6
Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya
radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen
bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal
bebas ini dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
1. 7
Teori rantai silang
Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan
ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini
menyebabkan kurangnya elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.
1. 8
Teori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang
membelah setelah sel-sel tersebut mati.
2. Teori kejiwaan sosial
2. 1
Aktivitas atau kegiatan (activity theory)
 Ketentuan
akan
meningkatnya
pada
penurunan
jumlah
kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia
lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak
dalam kegiatan sosial.
 Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari
lanjut usia.
 Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu
agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.
2. 2
Kepribadian berlanjut (continuity theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut
usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini
menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang
lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.
2. 3
Teori pembebasan (disengagement theory)
Teori
ini
menyatakan
bahwa
dengan
bertambahnya
usia,
seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari
kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial
lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas
sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss), yakni :
 Kehilangan peran
 hambatan kontak sosial
 Berkurangnya kontak komitmen
Sedangkan Teori penuaan secara umum menurut Lilik Ma’rifatul (2011)
dapat dibedakan menjadi dua yaitu teori biologi dan teori penuaan
psikososial
1. Teori Biologi
1. 1
Teori seluler
Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu
dan kebanyakan sel–sel tubuh “diprogram” untuk membelah 50
kali. Jika sel pada lansia dari tubuh dan dibiakkan di laboratrium,
lalu diobrservasi, jumlah sel–sel yang akan membelah, jumlah sel
yang akan membelah akan terlihat sedikit. Pada beberapa sistem,
seperti sistem saraf, sistem musculoskeletal dan jantung, sel pada
jaringan dan organ dalam sistem itu tidak dapat diganti jika sel
tersebut dibuang karena rusak atau mati. Oleh karena itu, sistem
tersebut
beresiko
akan
mengalami
proses
penuaan
dan
mempunyai kemampuan yang sedikit atau tidak sama sekali untuk
tumbuh dan memperbaiki diri (Azizah, 2011)
1. 2
Sintesis Protein (Kolagen dan Elastis)
Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya pada
lansia. Proses kehilangan elastiaitas ini dihubungkan dengan
adanya perubahan kimia pada komponen protein dalam jaringan
tertentu. Pada lansia beberapa protein (kolagen dan kartilago, dan
elastin pada kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan struktur
yang berbeda dari protein yang lebih muda. Contohnya banyak
kolagen pada kartilago dan elastin pada kulit yang kehilangan
fleksibilitasnya
serta
menjadi
lebih
tebal,
seiring
dengan
bertambahnya usia (Tortora dan Anagnostakos, 1990). Hal ini
dapat lebih mudah dihubungkan dengan perubahan permukaan
kulit yang kehilangan elastisitanya dan cenderung berkerut, juga
terjadinya penurunan mobilitas dan kecepatan pada system
1. 3
musculoskeletal (Azizah, 2011).
Keracunan Oksigen
Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel di
dalam tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang
mengandung zat racun dengan kadar yang tinggi, tanpa
mekanisme
pertahan
diri
tertentu.
Ketidakmampuan
mempertahankan diri dari toksink tersebut membuat struktur
membran sel mengalami perubahan dari rigid, serta terjadi
kesalahan genetik (Tortora dan Anaggnostakos, 1990). Membran
sel tersebut merupakan alat untuk memfasilitas sel dalam
berkomunikasi dengan lingkungannya yang juga mengontrol
proses pengambilan nutrisi dengan proses ekskresi zat toksik di
dalam tubuh. Fungsi komponen protein pada membran sel yang
sangat penting bagi proses di atas, dipengaruhi oleh rigiditas
membran tersebut. Konsekuensi dari kesalahan genetik adalah
adanya
penurunan
reproduksi
sel
oleh
mitosis
yang
mengakibatkan jumlah sel anak di semua jaringan dan organ
berkurang. Hal ini akan menyebabkan peningkatan kerusakan
sistem tubuh (Azizah, 2011).
1. 4
Sistem Imun
Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa
penuaan. Walaupun demikian, kemunduran kemampuan sistem
yang terdiri dari sistem limfatik dan khususnya sel darah putih,
juga merupakan faktor yang berkontribusi dalam proses penuaan.
Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca tranlasi,
dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun
tubuh
mengenali
dirinya
sendiri.
Jika
mutasi
isomatik
menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel,
maka hal ini akan dapat menyebabkan sistem imun tubuh
menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai
selasing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi
dasar terjadinya peristiwa autoimun. Disisi lain sistem imun tubuh
sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses
menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun,
sehingga sel kanker leluasa membelah-belah (Azizah, 2011).
1. 5
Teori Menua Akibat Metabolisme
Menurut MC Kay et all., (1935) yang dikutip Darmojo dan Martono
(2004), pengurangan “intake” kalori pada rodentia muda akan
menghambat
pertumbuhan
dan
memperpanjang
umur.
Perpanjangan umur karena jumlah kalori tersebut antara lain
disebabkan karena menurunnya salah satu atau beberapa proses
metabolisme. Terjadi penurunan pengeluaran hormon yang
merangsang
pruferasi
sel
misalnya
insulin
dan
hormon
pertumbuhan.
2. Teori Psikologis
2. 1
Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory)
Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara
keaktifannya setelah menua. Sense of integrity yang dibangun
dimasa
mudanya
tetap
terpelihara
sampai
tua.
Teori
ini
menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah meraka
2. 2
yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial (Azizah, 2011).
Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut
usia. Identity pada lansia yang sudah mantap memudahkan dalam
memelihara
dengan
2. 3
hubungan
masalah
di
dengan
masyarakat,
masyarakat,
kelurga
melibatkan
dan
diri
hubungan
interpersonal (Azizah, 2011).
Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya
usia,
seseorang secara pelan tetapi pasti mulai melepaskan diri dari
kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya
(Azizah, 2011).
F.
ETIOLOGI GERIATRIC SYNDROME
Aging merupakan proses alamiah yang terjadi terus menerus dan dimulai
sejak manusia dilahirkan. Terdapat banyak definisi proses menua, namun teori yang
paling banyak dianut saat ini adalah teori radikal bebas dan teori telomer.
1. Teori radikal bebas menyatakan proses menua terjadi akibat akumulasi
radikal bebas yang merusak DNA, protein, lipid, glikasi non-enzimatik, dan
turn over protein. Kerusakan di tingkat selular akhirnya menurunkan fungsi
jaringan dan organ.
2. Teori telomer menyatakan hilangnya telomer secara progresif menyebabkan
proses menua. Telomer merupakan sekuens DNA yang terletak di ujung
kromosom yang berfungsi mencegah pemendekan kromosom selama
replikasi DNA. Telomer akan memendek setiap kali sel membelah. Bila
telomer terlalu pendek maka sel berhenti membelah dan menyebabkan
replicative senescence.
Masalah umum pada proses menua adalah penurunan fungsi fisiologis dan
kognitif yang bersifat progresif serta peningkatan kerentanan usia lanjut pada kondisi
sakit. Laju dan dampak proses menua berbeda pada setiap individu karena
dipengaruhi faktor genetik serta lingkungan.
Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi sistem organ seperti sistem
sensorik, saraf pusat, pencernaan, kardiovaskular, dan sistem respirasi. Selain itu
terjadi pula perubahan komposisi tubuh, yaitu penurunan massa otot, peningkatan
massa dan sentralisasi lemak, serta peningkatan lemak intramuskular. Perlu diingat
bahwa perubahan fisik yang berhubungan dengan proses menua normal bukanlah
penyakit. Individu yang menunjukkan karakteristik menua dikatakan mengalami
usual aging, sedangkan individu yang tidak atau memiliki sedikit karakteristik menua
disebut successful aging (SA).
SA merupakan konsep multidimensi yang berkaitan dengan kondisi fisik,
psikologis, dan fungsi sosial. Dimensi operasional SA yang paling sering dipakai
adalah menurut Rowe dan Kahn yang meliputi tiga aspek, yaitu bebas dari penyakit
dan hendaya, fungsi kognitif yang baik, dan tetap aktif di dalam kehidupan. SA berarti
memerpanjang usia dan mengupayakan agar penyakit terkait usia terjadi di usia
setua dan sedekat mungkin dengan kematian. Pemeliharaan fungsi fisik yang baik
tercermin pada kemampuan untuk melakukan aktivitas harian, mulai dari hal
sederhana seperti makan, berpakaian, dan naik tangga sampai kegiatan yang lebih
kompleks seperti belanja dan menggunakan alat transportasi. Model SA biologis
dapat dicapai dengan pencegahan primer seperti berhenti merokok, latihan jasmani,
penggunaan vaksin yang tepat, dan penurunan kolesterol.
Aspek SA yang kedua adalah aspek psikologis yang menekankan pada
pentingnya kepuasan subjektif usia lanjut terhadap kehidupannya. Perspektif
subjektif tersebut mempunyai nilai yang sama penting dengan penilaian objektif
mengenai kesehatan. Rasa puas akan dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu kebebasan
untuk bertindak, rasa kompeten, dan rasa keterikatan dengan sesama. Model SA
psikologis akan tercapai jika terdapat mekanisme kompensasi yang baik terhadap
keterbatasan akibat usia dan optimalisasi kemampuan yang tersisa, sehingga usia
lanjut, bahkan dengan multipatologi, dapat mengalami SA.
Aspek sosial menekankan pada kemampuan usia lanjut untuk berinteraksi
positif dengan sesama dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Fungsi sosial yang
baik ditunjukkan dengan mempunyai pekerjaan yang mendapat penghasilan,
menghadiri kegiatan keagamaan, dan aktif pada kegiatan amal. Aspek sosial juga
dapat menjadi faktor protektif terhadap kejadian mistreatment pada usia lanjut.
G. MANIFESTASI KLINIS GERIATRIC SYNDROME
Menurut Brocklehurst, Allen et al dikenal istilah geriatric giants sebagai
berikut:
1. Sindroma serebral
Pada lanjut usia terjadi penurunan aliran darah otak sekitar 30
mL/100gram jaringan otak/menit. Metabolisme otak juga menurun karena
terjadi atrofi neuron. Normal pada dewasa nilainya 50 mL/100 gram/menit.
Penurunan aliran darah otak hingga 23 mL/100 gram/menit dapat
menimbulkan sindroma serebral, yaitu perubahan patologik pembuluh darah
otak. Gejala yang timbul dapat berupa gejala umum (rigiditas, peningkatan
refleks, tendensi condong ke belakang, sulit berjalan) gejala klinis daerah
yang diperdarahi karotis (TIA, stroke, arteritis) dan vertebrobasiler (drop
attack, TIA).
Penurunan aliran darah otak pada lansia dapat disebabkan oleh
sebab mekanik maupun akibat perubahan autoregulasi aliran darah otak.
Secara mekanik didapatkan bahwa pada lansia terbentuk osteofit pada
vertebra sehingga menimbulkan jepitan pada arteri vertebralis yang
menyuplai darah ke otak lewat susunan vertebrobasiler. Selain itu
degenerasi diskus intervertebralis membuat arteri vertebralis menjadi
berkelok-kelok dengan akibat turunnya aliran darah menuju ke otak. Dengan
demikian gerakan leher dapat membuat lansia kekurangan sirkulasi darah
otak dan tiba-tiba terjatuh.
Karena autoregulasi sebagai mekanisme proteksi otak mengalami
penurunan, sedikit perubahan tekanan darah atau diameter arteri otak akan
mengurangi aliran darah otak yang sulit dikompensasi oleh lansia. Kelainan
vaskuler arteriosklerosis mengurangi perfusi otak yang menimbulkan infark
lakuner. Hipoksemia akibat gangguan respirasi atau kardiovaskuler (gagal
jantung, bronkopneumonia, interaksi obat) juga menurunkan aliran darah
otak. Diabetes dan hipertensi menurunkan aliran darah otak dengan
timbulnya angiopati.
2. Konfusio Akut dan Dementia
A. Konfusio akut adalah gangguan menyeluruh fungsi kognitif yang
ditandai oleh memburuknya secara mendadak derajat kesadarah dan
kewaspadaan
dan
proses
berpikir
yang
berakibat
terjadinya
disorientasi. Hampir semua penyakit dan obat-obatan menyebabkan
konfusi akut, yaitu:
 Hipoperfusi serebral (mis: hipotensi, infark miokardial, kondisi curah
jantung rendah, aritmia)
 Hipoxia serebral (mis: pneumonia, PPOK, gagal jantung kongestif,
emboli paru) atau hiperkarbia
 Dehidrasi (dehidrasi ringan , kekurangan volume intravascular)
 Gangguan elektrolit ( mis: hipo dan hipernatremia, hipo dan
hipercalcemia, hipo dan hipermagnesemia)
 Hipo dan hipercalcemia dan kondisi hiperosmolar
 Infeksi ( mis: sistitis, urosepsis, pneumonia, peritonitis, dan infeksi
SSP s2perti meningitis dan encephalitis)
 Demam atau hipotermia
 Nyeri atau ketidaknyamanan ( termasuk retensi urin atau konstipasi
atau impaksi fecal berat)
 Proses intrakranial (mis: stroke, hematoma subdural, neoplasma,
infeksi)
 Intoksikasi atau “withdrawal states” (mis: alkohol, dan obat lainnya)
 Efek obat yang tidak diinginkan (mis: efek kolinergik sentral,
antihistamin)
Daftar kemungkinan penyebab termasuk kondisi yang biasa terjadi
pada lanjut usia ini kemungkinan tidak menyeluruh. Pada kebanyakan
kasus konfusi akut atau delirium, tidak mungkin untuk mengidentifikasi
atau memastikan penyebab tunggalnya. Lebih sering, mengidentifikasi
denga faktor-faltor multipel yang mengakibatkan, membatu ataupun
memperburuk konfusi.
Pada hakekatnya semua obat yang mempengaruhi fungsi SSP
mempunyai kemungkinan mengakibatkan konfusi:
 Obat-obatan Sedatif atau hinoptik (mis:
benzodiazepine,


barbiturat)
Analgesik (mis: opiat, OAINS?)
Penghambat histamin ( untuk gangguan GI, insomnia, pruritus,







alergi)
Agen antisekretorik ( obat-obatan yang menyerupai atropinik)
Antidiare
Agen inkontinensia
Antidepresan trisiklik
Antipsikotik ( mis: chlorpromazine, thioridazine, mesoridazine)
Obat-obatan antiaritmia (mis: lidokain, prokainamid)
obat-obatan antineoplasma
B. Dementia adalah suatu sindrom klinik yang meliputi hilangnya fungsi
intelektual dan ingatan sedemikian berat sehingga menyebabkan
disfungsi hidup sehari-hari. Perjalanannya bertahap dan tidak ada
gangguan kesadaran. Biasanya dementia tidak didiagnosis karena
dianggap wajar oleh masyarakat. Gangguan memori yang menurun
tanpa perubahan fungsi kognitif dan ADL dinamakan Mild Cognitive
Impairment. Sebagian
keadaan ini
akan berkembang menjadi
dementia.
Diagnosis dementia ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan
Mini Mental State Examination dan penyebab pastinya dengan
pemeriksaan patologi. Dementia dibagi menjadi 4 golongan: dementia
degeneratif primer/Alzheimer (50-60%), dementia multi infark (10-20%),
dementia reversibel/sebagian reversibel (20-30%), dan gangguan lain
(5-10%).
Penyebab dementia yang reversibel dapat dibuat matriks jembatan
keledai berikut:
D
E
M
E
N
T
: drugs
: emotional (emosi, depresi)
: metabolik/endokrin
: eye and ear (mata dan telinga)
: nutrisi
: tumor trauma
I
A
Prinsip
: infeksi
: arteriosklerosis
tatalaksana dementia
adalah
optimalisasi
fungsi
pasien,
mengenali dan mengatasi komplikasi, rawat berkelanjutan, informasi pada
keluarga, dan nasihat pada keluarga.
3. Gangguan otonom
Pada lansia terjadi penurunan kolin-esterase dan aktivitas reseptor
kolin yang berakibat penurunan fungsi otonom.Beberapa gangguannya
adalah hipotensi ortostatik, gangguan pengaturan suhu, kandung kemih,
gerakan esofagus dan usus besar.
Hipotensi ortostatik adalah penurunan tekanan sistolik/diastolik sebanyak
20 mmHg pada saat berubah dari posisi tidur ke posisi tegak setelah 1-2
menit.Hal ini terjadi akibat penurunan isi sekuncup jantung dan
perpindahan darah ke posisi bawah tubuh.Biasanya tidak menimbulkan
gejala karena mekanisme kompensasi. Namun pada lansia dapat terjadi
adanya penurunan elastisitas pembuluh darah, gangguan barorefleks
akibat tirah baring lama, hipovolemia, hiponatremia, pemberian obat
hipotensif, atau penyakit SSP maupun neuropati lain (parkinson, CVD,
diabetes mellitus). Gejala bisa berupa penurunan kesadaran atau
jatuh.Penatalaksanaannya adalah meninggikan kepala waktu tidur.Terapi
farmakologis
dapat
menggunakan
hormon
mineralokortikoid,
simpatomimetik, atau vasokonstriktor lainnya seperti fluorokortison,
kafein, pindolol.
Gangguan regulasi suhu juga ditemukan pada lansia sehingga mereka
rentan mengalami hipertermia maupun hipotermia.Hipertermia adalah
suhu inti tubuh > 40,6oC, disfungsi saraf pusat hebat (psikosis, delirium,
koma).Sementara itu hipotermia adalah penurunan suhu inti tubuh di
bawah 35oC.
4. Inkontinensia
Inkontinensia adalah pengeluaran urin (atau feses) tanpa disadari,
dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan
masalah gangguan kesehatan atau sosial. Ini bukan konsekuensi normal
dari pertambahan usia. Penyebab inkontinensia berasal dari kelainan
urologik (radang, batu, tumor), kelainan neurologik (stroke, trauma
medula spinalis, dementia), atau lainnya (imobilisasi, lingkungan).
Inkontinensia dapat akut di saat timbul penyakit atau yang kronik/lama.
Inkontinensia akut yang biasanya reversibel dapat diformulasi
dengan akronim DRIP
yang merupakan Delirium, Restriksi mobilitas
retensi, Infeksi inflamasi impaksi feses, Pharmasi poliuri. Juga dengan
akronim DIAPPERS : Delirium, Infection, Atrophic vaginitis/uretheritis,
Pharmaceuticals, Physiologic factor, Excess urine output, Restricted
mobility, Stool impaction.
Inkontinensia menetap dapat terjadi akibat aktivitas detrusor
berlebih (over active bladder), aktivitas detrusor yang menurun (overflow),
kegagalan uretra (stress type), atau obstruksi uretra.
Tatalaksana inkontinensia urin meliputi behavioral training (bladder
training, pelvic floor exercise), farmakologis, pembedahan. Obat yang
digunakan dapat meliputi antikolinergik antispasmodik (imipramin) untuk
tipe urgensi/stres, α-adrenergik agonis (pseudoefedrin, fenilpropanolamin)
untuk tipe stres atau urgensi, estrogen agonis(oral/topikal) untuk tipe stres
atau urgensi, kolinergik agonis (betanekol), α-arendergik antagonis
(terasozine) untuk tipe overflow atau urgensi karena pembesaran prostat.
Pembedahan meliputi juga kateterisasi sementara (2-4 kali sehari) atau
menetap.
5. Jatuh
Jatuh adalah kejadian tidak diharapkan dimana seorang jatuh dari
tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah atau sama
tingginya. Sebanyak 30% lansia ≥ 65 tahun mengalami jatuh. Kondisi
jatuh dipengaruhi stabilitas badan yang ditunjang oleh sistem sensorik
(penglihatan, pendengaran, vestibuler, proprioseptif), susunan saraf
pusat, kognisi, dan fungsi muskuloskeletal. Ia juga dipengaruhi faktor
ekstrinsik seperti pengaruh obat dan kondisi lingkungan. Penyebab jatuh
ada beragam, antara lain kecelakaan, nyeri kepala dan atau vertigo,
hipotensi ortostatik, obat-obatan (diuretik, antihipertensi, antidepresan
trisiklik, sedatif, antipsikotik, hipoglikemk, alkohol), proses penyakit
(aritmia, TIA, stroke, parkinson), idiopatik, dan sinkop (drop attack,
penurunan CBF).
Jatuh menimbulkan komplikasi perlukaan jaringan lunak dan
fraktur (terutama pelvis, kolum femoris), imobilisasi, disabilitas, risiko
meninggal. Jatuh perlu dicegah dengan identifikasi semua faktor risiko
intrinsik maupun ekstrinsik, penilaian pola berjalan dan keseimbangan
(tes romberg), dan pemeriksaan rutin. Setiap lansia selalu harus
ditanyakan riwayat jatuh dan evaluasi status kesehatan. Tatalaksana jatuh
adalah pencegahan sesuai dengan etiologi yang dirasa memberi risiko
terjadinya jatuh.
6. Kelainan tulang dan patah tulang
Setiap tahun 0,5-1% dari berat tulang wanita pasca menopause
dan pria > 80 tahun menurun. Penurunan ini timbul di bagian trabekula.
Kelainan tulang yang timbul dapat berupa osteoporosis, osteomalasia,
osteomielitis, dan keganasan tulang.
Patah tulang/fraktur pada usia lanjut terutama akibat osteoporosis, ada 3
jenis yang terutama, yaitu fraktur sendi koksa (collum femoris), fraktur
pergelangan tangan (colles), dan kolumna vertebralis (crush, multipel,
atau baji).
7. Dekubitus
Dekubitus adalah kerusakan kulit sampai jaringan di bawah kulit,
menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada
suatu area secara terus menerus sehingga timbul gangguan sirkulasi
darah
setempat.Ulkus
dekubitus
terjadi
terutama
pada
tonjolan
tulang.Usia lanjut memiliki potensi dekubitus karena jaringan lemak
subkutan berkurang, jaringan kolagen dan elastis berkurang, efisiensi
kapiler pada kulit berkurang. Pada penderita imobil, tekanan jaringan
akan melebihi tekanan kapiler, sehingga timbul iskemi dan nekrosis.
Proses ini dipengaruhi oleh tekanan, daya regang, gesekan, dan
kelembaban.
Semua pasien lansia yang imobil harus dinilai skala Norton untuk risiko
dekubitus.Skor di bawah 14 berkaitan dengan risiko tinggi timbulnya
ulkus.Pencegahan ulkus dapat dilakukan dengan membersihkan kulit,
mengurangi gesekan dan regangan dengan berpindah posisi, asupan gizi
yang cukup, menjaga kelembaban kulit.Perlu diingat komplikasi ulkus
dekubitus adalah sepsis.
H. PENATALAKSANAAN GERIATRIC SYNDROME
Dalam merawat dan menatalaksana pasien geriatri tercakup dua
komponen penting yakni pendekatan tim dan P3G yang merupakan bagian
comprehensive geriatric management (CGM). Pendekatan paripurna pasien
geriatri merupakan prosedur pengkajian multidimensi. Diperlukan instrumen
diagnostik yang bersifat multidisiplin untuk mengumpulkan data medik,
psikososial, kemampuan fungsional, dan keterbatasan pasien usia lanjut.
Pendekatan multidimensi berusaha untuk menguraikan berbagai masalah
pada pasien geriatri, mengidentifikasi semua aset pasien, mengidentifikasi
jenis pelayanan yang dibutuhkan, dan mengembangkan rencana asuhan
yang berorientasi pada kepentingan pasien. Pendekatan paripurna pasien
geriatri berbeda dengan pengkajian medik standar dalam tiga hal, yaitu fokus
pada pasien usia lanjut yang memiliki masalah kompleks; mencakup status
fungsional dan kualitas hidup; memerlukan tim yang bersifat interdisiplin
(Soedjono, 2007). Berikut beberapa penatalaksanaan secara umum sindrom
geriatrik, diantaranya :
1. Pemberian asupan diet protein, vitamin C,D,E, & mineral yang cukup.
Orang usia lanjut umumnya mengonsumsi protein kurang dari angka
kecukupan gizi (AKG). Penelitian multisenter di 15 propinsi di Indonesia
mendapatkan bahwa 47% usia lanjut mengonsumsi protein kurang dari
80% AKG. Proporsi protein yang adekuat merupakan faktor penting;
bukan dalam jumlah besar pada sekali makan. Hal penting lainnya adalah
kualitas protein yang baik, yaitu protein sebaiknya mengandung asam
amino esensial. Leusin adalah asam amino esensial dengan kemampuan
anabolisme protein tertinggi sehingga dapat mencegah sarkopenia.
Leusin dikonversi menjadi hydroxy-methyl-butyrate (HMB). Suplementasi
HMB meningkatkan sintesis protein dan mencegah proteolisis (Setiati et
al, 2013)
2. Pengaturan olah raga secara teratur. Perlu pemantauan rutin kemampuan
dasar seperti berjalan, keseimbangan, fungsi kognitif. Aktivitas fisik dapat
menghambat penurunan massa dan fungsi otot dengan memicu
peningkatan massa dan kapasitas metabolik otot sehingga memengaruhi
energy expenditure, metabolise glukosa, dan cadangan protein tubuh.
Resistance training merupakan bentuk latihan yang paling efektif untuk
mencegah sarkopenia dan dapat ditoleransi dengan baik pada orang tua.
Program resistance training dilakukan selama 30 menit setiap sesi, 2 kali
seminggu (Waters et al, 2010). Aktivitas fisik tanpa asupan nutrisi yang
adekuat menyebabkan keseimbangan protein negatif dan menyebabkan
degradasi otot (Sullivan et al, 2009). Kombinasi resistance training
dengan intervensi nutrisi berupa asupan protein yang cukup dengan
kandungan leusin, merupakan intervensi terbaik untuk memelihara
kesehatan otot orang usia lanjut (Setiati et al, 2013)
3. Pencegahan infeksi dengan vaksin
4. Antisipasi kejadian yang dapat menimbulkan stres misalnya pembedahan
elektif dan reconditioning cepat setelah mengalami stres dengan renutrisi
dan fisioterapi individual (Setiati et al, 2011)
5. Terapi pengobatan pada pasien usia lanjut secara signifikan berbeda dari
pasien pada usia muda, karena adanya perubahan kondisi tubuh yang
disebabkan oleh usia, dan dampak yang timbul dari penggunaan obatobatan yang digunakan sebelumnya. Masalah polifarmasi pada pasien
geriatri sulit dihindari dikarenakan oleh berbagai hal yaitu penyakit yang
diderita banyak dan biasanya kronis, obat diresepkan oleh beberapa
dokter, kurang koordinasi dalam pengelolaan, gejala yang dirasakan
pasien tidak jelas, pasien meminta resep, dan untuk menghilangkan efek
samping obat justru ditambah obat baru. Karena itu diusulkan prinsip
pemberian obat yang benar pada pasien geriatri dengan cara mengetahui
riwayat
pengobatan
lengkap,
jangan
memberikan
obat
sebelum
waktunya, jangan menggunakan obat terlalu lama, kenali obat yang
digunakan, mulai dengan dosis rendah, naikkan perlahan-lahan, obati
sesuai patokan, beri dorongan supaya patuh berobat dan hati-hati
mengguakan obat baru (Setiati dkk., 2006).
Penatalaksanaan Resiko Jatuh:
a. Perhatikan penggunaan alat bantu melihat (kacamata) dan alat bantu
dengar (earphone)
b. Evaluasi dan ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman
c. Evaluasi kemampuan kognitif
d. Beri lansia alat bantu berjalan seperti hand rails, walkers, dsb
Penatalaksanaan Gangguan Tidur:
a. Tingkatkan aktifitas rutin setiap hari
b. Ciptakan lingkungan yang nyaman
c. Kurangi konsumsi kopi
d. Berikan benzodiazepine seperti Temazepam (7,5-15 mg)
e. Anti depresan seperti Trazadone untuk insomnia kronik
I.
PENCEGAHAN GERIATRIC SYNDROME
Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lima upaya
kesehatan yaitu: peningkatan (promotif), pencegahan (preventif), diagnosis
dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan dan pemulihan.
1. Promosi (Promotif)
Upaya promotif merupakan tindakan secara langsung dan tidak langsung
untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mencegah penyakit. Upaya
promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk meningkatkan
dukungan klien, tenaga provesional dan masyarakat terhadap praktik
kesehatan yang positif menjadi norma-norma sosial. Upaya promotif di
lakukan untuk membantu organ-organ mengubah gaya hidup mereka dan
bergerak ke arah keadaan kesehatan yang optimal serta mendukung
pemberdayaan seseorang untuk membuat pilihan yang sehat tentang
perilaku hidup mereka.
Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia adalah sebagai berikut :
a. Mengurangi cedera, di lakukan dengan tujuan mengurangi
kejadian jatuh, mengurangi bahaya kebakaran dalam rumah,
meningkatkan penggunaan alat pengaman dan mengurangi
kejadian keracunan makanan atau zat kimia.
b. Meningkatkan keamanan di tempat kerja yang bertujuan untuk
mengurangi
terpapar
dengan
bahan-bahan
kimia
dan
meningkatkan pengunaan sistem keamanan kerja.
c. Meningkatkan perlindungan dari kualitas udara yang buruk,
bertujuan untuk mengurangi pengunaan semprotan bahan-bahan
kimia, mengurangi radiasi di rumah, meningkatkan pengolahan
rumah tangga terhadap bahan berbahaya, serta mengurangi
kontaminasi makanan dan obat-obatan.
d. Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mutu yang
bertujuan untuk mengurangi karies gigi serta memelihara
kebersihan gigi dan mulut.
2. Pencegahan (Preventif)
a. Melakukan pencegahan primer, meliputi pencegahan pada lansia
sehat, terdapat faktor risiko, tidak ada penyakit, dan promosi
kesehatan. Jenis pelayanan pencegahan primer adalah: program
imunisasi, konseling, berhenti merokok dan minum beralkohol,
dukungan nutrisi, keamanan di dalam dan sekitar rumah, manajemen
stres, penggunaan medikasi yang tepat.
b. Melakukan pencegahan sekunder, meliputi pemeriksaan terhadap
penderita tanpa gejala dari awal penyakit hingga terjadi gejala penyakit
belum tampak secara klinis dan mengindap faktor risiko. Jenis pelayan
pencegahan sekunder antara lain adalah sebagai berikut: kontrol
hipertensi, deteksi dan pengobatan kangker, screening: pemeriksaan
rektal, papsmear, gigi mulut dan lain-lain.
c. Melakukan pencegahan tersier, dilakukan sebelum terdapat gejala
penyakit dan cacat, mecegah cacat bertambah dan ketergantungan,
serta perawatan dengan perawatan di rumah sakit, rehabilisasi pasien
rawat jalan dan perawatan jangka panjang.
3. Diagnosis dini dan Pengobatan
a. Diagnosis dini dapat dilakukan oleh lansia sendiri atau petugas
profesional dan petugas institusi. Oleh lansia sendiri dengan
melakukan tes dini, skrining kesehatan, memanfaatkan Kartu Menuju
Sehat (KMS) Lansia, memanfaatkan Buku Kesehatan Pribadi (BKP),
serta penandatangan kontrak kesehatan.
b. Pengobatan: Pengobatan terhadap gangguan sistem dan gejala yang
terjadi meliputi sistem muskuloskeletal, kardiovaskular, pernapasan,
pencernaan, urogenital, hormonal, saraf dan integumen.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A. Alimul. (2006). Pengantsar kebutuhan dasar manusia: aplikasi
konsep dan proses keperawatan. Jakarta: Salemba Medika Indonesia.
hlm. 1335-1340.
John EC, Vincent AC. Vision impairment and hearing loss among community
dwelling older American: implications for health and functioning. Am J of
Pub Health. 2004;94(5):823-9.
JKI 9. Cocsco TD, Prina AM, Parales J, Stephan BCM, Brayne C. Lay
perspectives of successful ageing: a systematic review and metaethnography. BMJ Open 2013;3:200-70.
Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. 2008. Essentials of clinical
geriatris. 6th ed. New York, NY:McGraw-Hill.
Kanning M, Schlicht. A bio-psycho-social model of successful aging through the
variable “physical activity”. Eur Rev Aging Phys Act. 2008;5:79-87.
Marina L, Ionas L. Active aging and successful ageing as explicative models of
positive evolutions to elderly people. Scientific Annals of the ‘Al. I. Cuza’
University. Sociology & Social Work. 2012;5:79-91.
Panita L , Kittisak S, Suvanee S, Wilawan H. 2011. Prevalence and recognition of
geriatri syndromes in an outpatient clinic at a tertiary care hospital of
Thailand. Medicine Department; Medicine Outpatient Department, Faculty
of Medicine, Srinagarind Hospital, Khon Kaen University, Khon Kaen
40002, Thailand. Asian Biomedicine.5(4): 493-497.
Pranarka, Kris. 2011. Simposium geriatric syndromes:revisited. Semarang:Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.
Jakarta: Prima Medika
Setiati S, Harimurti K, Dewiasty E, Istanti R, Sari W, Verdinawati T. Prevalensi
geriatric giant dan kualitas hidup pada pasien usia lanjut yang dirawat di
Indonesia: penelitian multisenter. In Rizka A (editor). Comprehensive
prevention & management for the elderly: interprofessional geriatric care.
Jakarta: Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia; 2013:183.
Setiati S, Harimurti K, Dewiasty E, Istanti R, Yudho MN, Purwoko Y, et al. Profile
of nutrient intake in urban metropolitan and urban non-metropolitan
Indonesia elderly population and factors associated with energy intake:
multi-centre study. In press. 2013.
Setiati S, Harimurti K, Roosheroe AG. 2006. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid
III.
Setiati S, Rizka A. Sarkopenia dan frailty: sindrom geriatri baru. Dalam: Setiati S,
Dwimartutie N, Harimurti K, Dewiasty E (editor). Chronic degenerative
disease in elderly: update in diagnostic & management. Jakarta;
Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia; 2011:69-75.
Setiati S, Santoso B, Istanti R. Estimating the annual cost of overactive bladder in
Indonesia. Indones J Intern Med. 2006:38(4):189-92.
Stanley M, Patricia GB.2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta:
EGC
Sullivan DH, Johnson LE. Nutrition and aging. In: Halter JB, Ouslander JG. Tinetti
ME. Studenski S, High KP, Astana S (editors). Hazzard’s geriatric
medicine and gerontology. 6th ed. New York: Mc Graw Hill; 2009.p.43957.
Waters DL, Baumgartner RN, Garry PJ, Vellas B. Advantages of dietary,
exercise-related, and therapeutic interventions to prevent and treat
sarkopenia in adult patients: an update. Clinical Interventions in Aging.
2010(5):259-70.
Download