11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunikasi 2.1.1 Pengertian

advertisement
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi
2.1.1 Pengertian Komunikasi
Komunikasi memiliki peranan yang penting dalam kehidupan manusia,
karena manusia adalah makhluk sosial yang berinteraksi sosial dengan orang lain,
baik secara psikologis maupun fisiologis. Melalui komunikasi akan timbul
persamaan ide, gagasan serta seluruh kegiatan manusia harus dilakukan melalui
komunikasi.
Pengertian komunikasi mengandung makna bersama–sama (common).
Istilah komunikasi atau communication berasal dari bahasa Latin yaitu
communication yang berarti pemberitahuan atau pertukaran. Kata sifatnya
communis yang bermakna umum atau bersama–sama.1
Banyak pula menurut para ahli yang mendefinisikan komunikasi dari
sudut pandang mereka masing–masing seperti Hoveland, Jenis & Kelly,
mendefinisikan komunikasi adalah suatu proses melalui nama seseorang
(komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata–kata)
dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang lainnya
(khalayak).2
Komunikasi dapat juga dilihat dari sisi proses komunikasinya dan
hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh komunikator
kepada komunikan. Pikiran dapat berupa gagasan, informasi, opini dan lainnya
1
Wiryanto. Pengantar Ilmu Komunikasi. PT.Grasindo. Jakarta. 2004. hal 5.
Dani Vardiansyah. Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. PT. Indeks Kelompok Gramedia.
Jakarta. 2005. hal 25.
2
11
12
yang muncul dalam benak seseorang. Sedangkan perasaan dapat berupa
keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian,
kegairahan dan sesuatu yang timbul dari dalam hatinya. Komunikasi akan berhasil
apabila pikiran disampaikan dengan menggunakan perasaan yang disadari,
sebaliknya komunikasi akan gagal jika saat penyampaian tidak terkontrol antara
pikiran dan perasaannya.
Menurut Onong Uchjana Effendy, pengertian komunikasi itu minimal
harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat.
Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informative,
yakni agar orang lain mengerti dan tahu,tetapi juga persuasive, yaitu agar
orang lain bersedia menerima suatu paham dan keyakinan, melakukan
suatu perbuatan atau kegiatan, dan lainnya.3
2.1.2
Unsur – Unsur Komunikasi
Komunikasi terdiri dari berbagai komponen yaitu : 4
1. Pengirim (sender),yaitu pihak yang mengirim pesan
2. Pesan (message) merupakan gagasan atau ide yang disampaikan
pengirim kepada penerima untuk tujuan tertentu
3. Penerima (receiver), yaitu pihak yang menerima pesan
4. Media (media), yaitu sarana bagi komunikator untuk menyampaikan
pesan kepada sasaran yang dituju
5. Pengkodean (encoding), yaitu proses untuk menjabarkan pesan ke
dalam simbol. Simbol dapat berupa lisan, tulisan, isyarat atau lainnya
ke dalam media
6. Penerjemah (decoding), yaitu proses yang dilakukan oleh penerima
pesan untuk sender.
7. Tanggapan (respone), yaitu reaksi penerima setelah menerima pesan
8. Umpan balik (feedback), yaitu bagian dari reaksi yang
dikomunikasikan kembali kepada pengirim pesan
9. Gangguan (noise),yaitu gangguan yang tak terduga selama proses
komunikasi yang dapat mengakibatkan penerima pesan memperoleh
pesan yang berbeda dari yang dikirimkan.
3
Onong Uchjana Effendy. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Remaja Rosdakarya. Bandung.
2006. hal 9.
4
Husein Umar,Metode Riset Komunikasi Organisasi. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta. 2002. hal
5.
13
2.2 Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan
penafsiran pesan diantara unit – unit komunikasi yang merupakan bagian dari
suatu organisasi.5
Sedangkan dari definisi tradisional (fungsional dan objektif ) komunikasi
cenderung menekankan kegiatan penanganan pesan yang terkandung dalam suatu
“batas organisasional”.6
Komunikasi dipandang dari suatu perspektif interpretif(subjektif) adalah
proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi. Proses
interaksi tersebut tidak mencerminkan organisasi, tapi merupakan organisasi
tersebut.
Komunikasi organisasi adalah perilaku pengorganisasian yang terjadi dan
bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu bertransaksi dan
memberi makna atas apa yang sedang terjadi. Lebih jelasnya, komunikasi
organisasi adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang
menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi.7
5
R. Wayne Pace, Don F . Faules. Komunikasi Organisasi. Strategi meningkatkan Kinerja
Perusahaan. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2005. hal 31.
6
Ibid. hal 33
7
Ibid
14
2.3 Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesan – pesan dari
seorang dan diterima oleh orang lain atau sekelompok orang dengan efek dan
umpan balik yang berlangsung.8
Ciri – ciri komunikasi antarpribadi yaitu:9
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Bersifat spontan
Tidak berstruktur
Terjadi secara kebetulan
Tidak mengejar tujuan yang direncanakan
Identitas keanggotaannya tidak jelas
Terjadi hanya sambil lalu.
Sifat komunikasi antar pribadi dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu
komunikasi diadik (dyadic communication) dan komunikasi kelompok kecil
(small group communication).10
1. Komunikasi diadik adalah komunikasi yang berlangsung antar dua orang
dalam situasi tatap muka.
2. Komunikasi kelompok kecil adalah proses komunikasi yang berlangsung
antar 3 orang atau lebih secara tatap muka, dimana anggota – anggotanya
saling berinteraksi satu sama lainnya.
Devito
(1976)
mengemukakan
bahwa
komunikasi
antarpribadi
mengandung lima karakteristik berikut ini :11
Komunikasi antarpribadi bersifat keterbukaan (0penness)

Yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di
dalam menghadapi hubungan antarpribadi. Keterbukaan atau sikap
keterbukaan sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi
antarpribadi yang efektif. Keterbukaan adalah pengungkapan reaksi atau
tanggapan kita terhadap situasi yang dihadapi srta memberikan informasi
tentang masa lalu yang relevan untuk memberikan tanggapan kita di masa
kini tersebut.
8
Alo Liliweri. Manajemen Strategis Public Reations. Ghalia Indonesia. Jakarta. 2004. hal 12.
Wiryanto, op.cit., hal. 13
10
Hafied Cangara. Pengantar Ilmu Komunikasi. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2011. hal 32.
11
Dasrun Hidayat, op.cit., Hal 43-49
9
15
Johnson Supratiknya (1995) mengartikan keterbukaan diri yaitu
membagikan kepada orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah
dikatakan atau dilakukan atau perasaan kita terhadap kejadian-kejadian
yang baru saja kita saksikan. Secara psikologis, apabila individu mau
membuka diri kepada orang lain maka orang lain yang diajak bicara akan
merasa aman dalam melakukan komuniaksi antarpribadi yang akhirnya
orang lain tersebut akan turut membuka diri.

Komunikasi antarpribadi bersifat empati (emphaty)
Yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain. Komunikasi antarpribadi
dapat berlangsung kondusif apabila komunikator (pengirim pesan)
menunjukan rasa empati pada komunikan (penerima pesan). Sugiyo
(2005), empati dapat diartikan sebagai mengayati perasaaan orang lain
atau turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sementara Surya
(Sugiyo,2005) mendefinisikan bahwa empati adalah sebagai suatu
kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna, baik yang nampak
maupun yang terkandung, khususnya dalam aspek perasaan, pikiran, dan
keinginan. Individu dapat menempatkan diri dalam suasana perasaan,
pikiran, dan keinginan orang lain sedekat mungkin apabila individu
tersebut dapat berempati. Apabila empati tersebut tumbuh dalam proses
komunikasi antarpribadi maka suasana hubungan komunikasi akan dapat
berkembang dan tumbuh sikap saling pengertian dan penerimaan. Empati
tidak saja berkaitan dengan aspek kognitif, tetapi juga mengandung aspek
afektif, dan ditunjukan dalam gerakan, cara berkounikasi (mengandung
dimensi kognitif, afektif, perceptual, somatic/kinesthetic, apperceptual,
dan communicative).

Komunikasi antarpribadi bersifat dukungan (supportiveness)
Yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung
efektif. Dalam komunikasi antarpribadi
diperlukan sikap member
dukungan dari pihak komunikator agar komunikan mau berpartisipasi
dalam komunikasi. Hal senada dikemukakan Sugiyo (2005), dalam
komunikasi antarpribadi perlu adanya suasana yang mendukung atau
memotivasi, lebih – lebih dari komunikator. Rahmat (2005)
mengemukakan bahwa “sikap suportif adalah sikap yang mengurangi
sikap defensive. Orang yang defensive cenderung lebih banyak melindungi
diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikan daripada
mmemahami pesan orang lain. Dukungan emrupakan pemberian dorongan
atau pengobaran semangat kepada orang lain dalam suasana hubungan
komuniaksi, karena itu, dengan adanya dukungan dalam situasi tersebut,
komuniaksi antarpribadi akan bertahan lama karena tercipta suasana yang
mendukung.

Komunikasi antarpribadi bersifat positif (positiveness)
16
Seseorang harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong
orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi
kondusif untuk interaksi yang efektif.
Rasa positif merupakan kecendrungan seseorang untuk mampu bertindak
berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebihan,
menerima diri sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain,
memiliki keyakinan atas kemampuannya untuk mengatasi persoalan, peka
terhadap kebutuhan orang lain, pada kebiasaan social yang telah diterima.
Dapat member dan menerima pujian tanpa pura-pura member dan
menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.
Rasa positif adalah adanya kecendrungan bertindak pada diri komunikator
untuk memberikan penilaian yang positif pada diri komunikan. Dalam
komunikasi antarpribadi, hendaknya antara komunikator dengan
komunikan Komunikan saling menunjukan sikap positif karena dalam
hubungan komuniaksi tersebut akan muncul suasana menyenangkan
sehingga pemutusan hubungan komunikasi tidak dapat terjadi.
Komunikasi antarpribadi bersifat kesetaraan atau kesamaan

(equality)
Yaitu pengakuan secara diam-iam bahwa kedua belah pihak menghargai,
berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.
Kesetaraan merupakan perasaan sama dengan orang lain, sebagai manusia
tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan
tertentu, altar belakang keluarga atau sikap orang lain terhadapnya.
Rahmat (2005) mengemukakan bahwa prsamaan atau kesetaraan adalah
siakp memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis, tidak
menunjukan diri sendiri lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain,karena
status, kekuasaan, kemampuan, intelektual kekayaan atau kecantikan.
Dalam persaman tidak mempertegas perbedaan, artinya tidak menggurui,
tetapi berbincang pada tingkat yang sama,yaitu mengomunikasikan
penghargaan dan rasa hirmat pada perbedan pendapat merasa nyaman,
yang akhirnya proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan lancar.
2.4 Kualitas Komunikasi Antarpribadi
Ada banyak sekali definisi dan pengertian kualitas, yang sebenarnya
definisi atau pengertian yang satu hampir sama dengan definisi atau
17
pengertian yang lain. Pengertian kualitas menurut beberapa ahli yang
banyak kenal antara lain : 12
Juran (1962) ”kualitas adalah kesesuaian dengan tujuan atau manfaatnya”.
Crosby (1979) ”kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan yang
meliputi availibility, delivery, reliability, maintainability, dan cost
effectiveness”.
Elliot (1993) ”kualitas adalah sesuatu yang berbeda untuk orang yang
berbeda dan tergantung pada waktu dan tempat, atau dikatakan sesuai
dengan tujuan”.
Kepemimpinan lebih dari sekedar seperangkat keterampilan dan keahlian.
Kepemimpinan mempunyai kualitas personal halus yang agak sulit dilihat,
tetapi sangat berpengaruh. Kualitas-kualitas ini termasuk antusiasme,
integritas, keberanian, dan kemanusiaan. Kualiatas-kualiatas ini walaupun
kelihatan halus, tetapi berpengaruh besar bagi organisasi. Pemimpin
dituntut untuk mempunyai pemikiaran yang terbuka,yang mau menerima
ide-ide baru, rela menerima kritikan dan mau belajr serta mendengarkan
kebenaran yang disampaikan oleh bawahannya. Pemimpin menciptakan
kualitas hubungan yang baik dengan bawahan, kualiatas komunikasi yang
manusiawi, dan kualitas kesejahteraan antara pemimpin dan bawahannya.
Sebaliknya, manajemen menciptakan jarak emosional, lebih menuntut
pemenuhan kebutuhan sepihak dan lebih banyak mendasarkan diri pada
kekuasaan jabatan tanpa kualitas pribadi yang tinggi.13
Sementara itu tingkat kualitas dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) yaitu
(1). Sempurna atau tebaik; (2).Asal Jadi, dan (3). Buruk.14
Kualitas
juga
merupakan
standard
seseorang/kelompok/lembaga/organisasi/
yang
mengenail
harus
kualitas
dicapai
oleh
Sumber
Daya
Manusia, kualitas cara kerja, proses dan hasil kerja atau produk yang berupa
barang dan jasa.15
12
Dorothea Wahyu Ariani. Manajemen Kualitas Pendekatan Sisi Kualitatif. Ghalia Indonesia.
Jakarta. 2004. hal.8.
13
Triantoro Safaria. Kepemimpinan. Graha Ilmu. Yogyakarta. 2004. hal 30-31
14
Triguno. Budaya Kerja. PT Golden Trayon Press. Jakarta,1996, hal 75.
15
Ibid. hal 76.
18
Komunikasi antarpribadi merupakan komponen yang sangat penting
dalam suatu perusahaan. Maka dalam komunikasi antarpribadi pimpinan terhadap
karyawan dibutuhkan suatu kualitas yang baik, karena kualitas yang baik akan
mempengaruhi kinerja karyawan. Kualitas Komunikasi antarpribadi pimpinan
terhadap karyawan yang terjalin dengan baik dapat membantu peningkatan kinerja
karyawan. Sebaliknya apabila kualitas komunikasi antarpribadi pimpinan tehadap
karyawan tidak baik maka akan membuat kinerja karyawan menjadi menurun.
2.5 Pemimpin
Seorang pemimpin paling sedikit harus mampu memimpin bawahan untuk
mencapai tujuan oraganisasi, mampu menangani hubungan antarkaryawan,
mempunyai interaksi antarpersonal yang baik, dan mempunyai kemampuan untuk
bisa menyesuaikan diri dengan keadaan beberapa sifat pemimpin yang berguna
dan dapat dipertimbangkan adalah sebagai berikut:16





Keinginan untuk menerima tanggung jawab
Kemampuan untuk “perceptive”
Kemampuan untuk bersikap objektif
Kemampuan untuk menentukan prioritas
Kemampuan untuk berkomunikasi
Pemimpin harus mampu menyatukan seluruh jiwa, hati, dan pikiran
mereka untuk kemajuan orang lain, melalui penghargaan, kepercayaan,
kemauan untuk mendengarkan, dan kepekaan hati nurani, maka seorang
pemimpin akan dihargai. Pemimpin yang baik harus menjadi manusia
pembelajar, yang senantiasa belajar dari kehidupannya, lingkungan
sekitarnya, dan orang lain, tidak pandang aoakah orang tersebut
merupakan bawahannya atau atasannya. Untuk menjadi seorang pemimpin
yang berkualitas, dituntut untuk menggembleng dirinya sendiri, senantiasa
16
Sadili Samsudin. Manajemen Sumber Daya Manusia. CV Pustaka Setia. Bandung. 2006. Hal
293-294
19
membuka wawasannya, memperdalam pengetahuannya, dan mencari
pengalaman yang luas.17
Pemimpin memiliki sifat kepribadian seperti vitalitas dan stamina fisik,
kecerdasan dan kearifan dalam bertindak, kemauan menerima tanggung
jawab, kompeten dalam menjalankan tugas, memahami kebutuhan
pengikutnya, memiliki keterampilan dalam berhubungan dengan orang
lain, kebutuhan untuk berprestasi, mampu memotivasi dan member
semangat, mamou memecahkan masalah, meyakinkan, memiliki kapasitas
untuk menang, memiliki kapasitas untuk mengelola-memutuskanmenentukan prioritas, mampu memegang kepercayaan, memiliki
pengaruh, mampu beradaptasi atau memiliki fleksibilitas.18
Sifat-sifat ideal yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu
taqwa, sehat, cakap, jujur, tegas, setia, cerdik, berani, berilmu, efisien,
disiplin, manusiawi, bijaksana, besemangat, percaya diri, berjiwa matang,
bertindak adil, berkemauan keras, berdaya cipta asli, berwawasan situasi,
berpengharapan baik, mampu berkomunikasi, mampu berdaya tanggap
tajam, mampu menyusun rencana, mampu membuat keputusan, mampu
melakukan control, bermotivasi kerja sehat, memiliki rasa tanggung jawab,
satunya kata dengan perbuat an, dan mendahulukan kepentingan orang
lain.19
Kepemimpinan adalah pengaruh. Dimana kepemimpinan terjadi karena
adanya proses pengaruh. Pemimpin mempengaruhi bawahan atau pengikut kearah
yang diinginkan.20
2.6 Kinerja Karyawan
2.6.1 Pengertian Kinerja Karyawan
Pengertian kinerja karyawan menunjuk pada kemampuan karyawan dalam
melaksanakan kesuluruhan tugas-tugas yang menjadi tanggungjawab karyawan.
17
Triantoro Safaria, op.cit., hal 19-20
Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi. Kepemimpinan dan Perilaku Organisai. PT Raja Grafindo
Persada. Jakarta. 2003. Hal 19.
19
Soekarso dan Agus Sosro. Teori Kepemimpinan. Mitra Wacana Media. Jakarta. 2010. Hal 89.
20
Ibid. Hal 17.
18
20
Tugas-tugas tersebut biasanya berdasarkan indicator-indikator keberhasilan yang
sudah ditetapkan.
Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan
kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya. Secara definitive
Bernardin dan Russsell, menjelaskan kinerja merupakan catatan outcome
yang dihasilkan dari fungsi pegawai tertentu atau kegiatan yang dilakukan
selama periode waktu tertentu. Sedang kinerja suatu jabatan secara
keseluruhan sama dengan jumlah (rata-rata) dari kinerja fungsi pegawai
atau kegiatan yang dilakukan. Pengertian kinerja disini tidak bermaksud
menilai karakteristik individu tetapi mengacu pada serangkaian hasil yang
diperoleh selama periode waktu tertentu.21
Kinerja adalah hasil yang diperoleh oleh suatu organisasi baik organisasi
tersebut bersifat profit oriented dan non profit oriented yang dihasilkan selama
satu periode waktu.22
Istilah kinerja berasal dari kata Job Performance atau Actual Performance
(prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang).23
Kinerja karyawan dikualifikasikan dalam penelitian adalah merupakan
indicator utama, Husein Umar mengidentifikasikan indikator-indikator kinerja
yaitu:
1.
tanggung jawab
2.
efisiensi
3.
mutu pekerjaan
4.
kerjasama
21
Ambar Teguh Sulistiyani & Rosidah. Manajemen Sumber Daya Manusia. Graha Ilmu.
Yogyakarta. 2003. Hal 223-224
22
Irham Fahmi. Manajemen Kinerja : Teori dan Aplikasi. Alfabeta. Bandung. 2010. Hal 2.
23
Anwar Prabu Mangkunegara. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. PT Remaja
Rosdakarya. 2009. hal 67.
21
5.
kehadiran
6.
pengetahuan tentang pekerjaan
7.
kejujuran
8.
inisiatif,
9.
sikap
10.
keandalan.24
Peneliti memilih teori Husein Umar untuk menjadi dimensi dalam
pengukuran penilaian kinerja karyawan pada Bank Ganesha Cabang Tangerang
karena teori ini dapat memperlihatkan hasil dari kinerja karyawan pada Bank
Ganesha Cabang Tangerang.
2.6.2
Faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja
Menurut Timpe faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja, yaitu :25
A.
Kinerja baik dipengaruhi oleh dua factor :
1. Internal (pribadi)
a.Kemampuan yang tinggi
b.Kerja keras yang baik
2. Eksternal (lingkungan)
a.Pekerjaan mudah
b.Nasib baik
c.Bantuan dari rekan-rekan
d.Pemimpin yang baik
B.
24
Kinerja buruk dipengaruhi dua factor :
Husein Umar. Evaluasi Kinerja Perusahaan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2002. hal
102.
25
Timpe. Evaluasi dan kinerja SDM. Remaja Rosdakarya. Jakarta. 2005. hal 33.
22
1.Internal (pribadi)
a.Kemampuan yang rendah
b.Upaya dilakukan sedikit
2. Eksternal (lingkungan)
a. Pekerjaan yang sulit
b. Nasib buruk
c. Rekan-rekan kerja tidak produktif
d. Pemimpin yang tidak simpatik
2.7 Employee Relations
Inti tugas public relations adalah sinkronisasi antara informasi dari
eprusahaan dengan reaksi dan tanggapan public sehingga mencapai
suasana akrab, saling mengerti, dan muncul suasana yang
emnyenangkan dalam interaksi perusahaan dengan public. Persesuaian
yang menciptakan hubungan harmonis dimana suatu sama lain saling
member dan menerima hal – hal yang bisa menguntungkan kedua
belah pihak. Berdasarkan adanya dua jenis public bagi suatu badan
atau perusahaan (public intern dan ekstern), maka tujuan public
relations pun diarahkan melalui dua macam tugas,yaitu didalam
dengan sebutan internal public relations, dan di luar external public
relations, yang termasuk public internal relations adalah hubungan
karyawan.26
Dalam suatu perusahaan pasti membutuhkan peranan karyawan
walaupun baiknya suatu manajemen dan betapa besarnya modal yang ada
karena peranan karyawan akan menentukan berhasil tidaknya tujuan
perusahaan.
Hubungan karyawan adalah bagian khusus dari PR yang membangun
dan mempertahankan hubungan yang baik dan saling bermanfaat antara
manajer dan karyawan tempat organisasi menggantungkan kesuksesannya.27
Hubungan karyawan dapat dilaksanakan dalam dua bentuk kegiatan
pada suatu perusahaan :
26
Kustadi Suhandang. Public Relations Pedoman Kerja perusahaan. Nuansa Cendekia. Bandung.
2012. hal – 73.
27
Scott M Cutlip, Allen H Center, Glen M Broom. Effective Public Relations : edisi kesembilan.
Kencana. Jakarta. 2006. hal – 11.
23
1. Hubungan seacra formal
2. Hubungan secara informal
Hubungan secara formal menyangkut pada hubungan rasional dalam
situasi kerja dalam suatu prusahaan. Dalam hal ini dapat diwujudkan
kepada tata hubungan berupa kewajiban yang harus dijalankan oleh
setiap public karyawan berdasarkan garis organisasi yang sudah
ditetapkan oleh pimpinan.
Hubungan secara informal pada masalah yangs ama, yaitu hubngan
yang diselenggarakan dalam suatu perusahaan antara seorang
pemimpin dengan bawahan yang emnyangkut kepada hubungan yang
besifat irasional dan emosional dalam situasi kerja dengan ditandai
adanya bentuk hubungan yang erat atau pribadi melalui pernyataan
mengenai perasaan, keinginan serta hasrat dari masing- masing
karyawan. Dengan singkat dapat ditegaskan disini, hubungan yang
bersifat informal ini dapat diwujudkan melalui pengamatan dari sikap,
pendapat dan tingkah laku pribadi.28
Dalam suatu perusahaan pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai.
Tujuan tersebut akan tecapai apabila terdapat dukungan penuh dari pihak
dalam perusahaan maupun luar perusahaan. Pada dalam perusahaan tedapat
karyawan yang menjadi inti bagian untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh
karena itu, dibutuhkan suatu hubungan karyawan yang seimbang dan baik
agar membuat tujuan perusahaan tercapai.
2.8
Kerangka Pemikiran
Gambar I
Kerangka Pemikiran
28
Kualitas Komunikasi
Kinerja
Antarpribadi Pimpinan
Karyawan
Danandjaja,op.cit., hal – 24.
24
Keterangan :
X : Kualitas Komunikasi Antarpribadi Pimpinan
Y : Kinerja Karyawan
Dalam kerangka pemikiran ini peneliti menjelaskan mengenai Hubungan
Kualitas Komunikasi Antarpribadi terhadap Kinerja Karyawan.
2.9 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
peneliti. Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu kesimpulan yang masih harus
diuji kebenarannnya.29
Dalam skripsi ini peneliti akan menjelaskan beberapa hipotesis sebelum
mengetahui masalah yang ada dalam obyek penelitian ini. Berdasarkan uraianuraian pada Tinjauan Pustaka di atas, peneliti menyusun hipotesis sebagai berikut:
bentuk hipotesis dari penelitian ini adalah :
Ho : Kualitas komunikasi antarpribadi pimpinan tidak mempunyai hubungan
secara signifikan dengan kinerja karyawan
Ha : Kualitas komunikasi antarpribadi pimpinan mempunyai hubungan secara
signifikan dengan kinerja karyawan
29
Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Alfa Beta. Bandung. 2002. hal 39.
25
Maka hipotesis yang diuji dalam penelitian ini “ Jika kualitas komunikasi
antarpribadi pimpinan berjalan dengan baik maka kinerja karyawan Bank Ganesha
menjadi tinggi”.
Download