BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Belajar a. Pengertian

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Belajar
a. Pengertian Belajar
Menurut
Sardiman (2009:20) belajar itu adalah perubahan tingkah laku atau
penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati,
mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Suprijono (2013: 2), Belajar adalah
perubahan tingkah laku dari hasil pengalaman. Belajar dilakukan dengan mengamati,
membaca, meniru, mencoba sesuatu dari dirinya, mendengarkan, mengikuti petunjuk.
Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru baik secara keseluruhan, sebagai bahan pengalaman
individu tersebut dalam suatu interaksi dengan lingkungannya (Aunurrahman, 2009:35).
Menurut Slameto dan Hamdani (2000:20) “Belajar adalah usaha yang dilakukan
seorang untuk mendapatkan perubahan sikap yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamanya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya.
Dari pendapat para ahli di atas dapat diketahui bahwa belajar adalah suatu aktivitas
yang sengaja dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan
belajar anak yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan
sesuatu itu, atau anak yang tadinya tidak terampil menjadi terampil. Perubahan tingkah
laku dari individu tersebut dikarenakan pengalaman yang terjadi selama proses
pembelajaran terjadi.
2. Pembelajaran
a. Pengertian Pembelajaran
Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku
di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan
pengajaran,
walaupun
mempunyai
konotasi
yang
berbeda.
Dalam
konteks
pendidikan,guru mengajarkan supaya peserta didik dapat mengajar dan mengatasi isi
pelajaran hingga mencapai sesuatu yang objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga
dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta (aspek psikotomotorik)
seorang peserta didik. Pengajaran memberikan kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak
yaitu pekerjaan guru saja sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi
antara guru dengan peserta didik.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
daya suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat,serta pembentukan sikap dan kepercayaan diri pada peserta didik.
Dengan kata lain pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat
belajar dengan baik.
Dalam prosesnya pembelajaran pengembangan kemampuan berkomunikasi yang
baik dengan guru dan sesama siswa yang dilandasi sikap saling menghargai harus perlu
secara terus menerus dikembangkan didalam setiap event pembelajaran. Melalui
kegiatan pembelajaran,setiap siswa harus terus didorong agar mampu memberdayakan
dirinya melalui latihan-latihan pemecahan masalah-masalahnya sendiri,mengambil
keputusan sendiri, dan memikul tanggung jawabnya. Anurrahman (2009:11) mengatakan
dalam proses pembelajaran,mengenal terhadap diri sendiri merupakan hal yang sangat
penting dalam upaya-upaya pemberdayaan diri.
Dari uraian di atas, maka pengenalan terhadap diri sendiri berarti pula mengenal
kelebihan-kelebihan atau kekuatan yang kita miliki untuk mencapai hasil belajar maupun
prestasi belajar yang diharapkan selain itu pengenalan terhadap diri sendiri juga berarti
mengenal kelemahan-kelemahan pada diri sendiri sehingga dapat berupaya mencari
cara-cara konstruktif untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut.
Dari pendapat para ahli di atas maka dapat diketahui bahwa pembelajaran
merupakan suatu proses interaksi antara siswa dan guru dalam suatu komunikasi yang
berlangsung selama proses belajar mengajar sehingga siswa dapat memperoleh
pengetahuan dan mengembangkan potensi dimana guru berfungsi sebagai fasilitator dan
pengarah
b. Komponen Pembelajaran
Dengan demikian diketahui bahwa kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan
yang melibatkan beberapa komponen:
1) Siswa
Seorang yang bertindak sebagai pencari,penerima,dan penyimpan isi pelajaran
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
2) Guru
Seseorang yang bertindak sebagai pengelola,katalisator,dan peran lainya yang
memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif.
3) Tujuan
Pernyataan tentang perubahan perilaku (kognitif, psikomotorik, afektif) yang
diinginkan terjadi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
4) Isi pelajaran
Segala informasi berupa fakta,prinsipdan konsep yang diperlukan untuk
mencapai tujuan.
5) Metode
Bahan pengajaran dengan atau tanpa peralatan yang digunakan untuk menyajikan
informasi yang dibutuhkan mereka mereka untuk mencapai tujuan.
6) Media
Bahan pengajaran untuk atau peralatan yang digunakan untuk menyajikan
informasi kepada siswa.
7) Evaluasi
Cara tertentu digunakan untuk menilai suatu proses dan hasilnya.
3. Teori-Teori Pembelajaran
Di dalam dunia pendidikan, ada banyak teori belajar dan pembelajaran yang berasal dari
literatur psikologi. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara pendidikan dengan
psikologi. Diantaranya adalah dalam menghadapi masalah-masalah belajar, diperlukan
pemecahan solusi yang berdasarkan psikologi. Teori-teori belajar dan pembelajaran tersebut
meliputi, teori konstruktivitik, teori behavioristik, teori medan, teori belajar psikologi sosial,
dan teori-teori yang lainnya Menurut Aunurrahman (2009:39-47)
a. Behavioristik
Pembelajaran selalu memberi stimulus kepada siswa agar menimbulkan respon
yang tepat seperti yang kita inginkan.Hubungan stimulus dan respon ini bila diulang
akan menjadi sebuah kebiasaan,selanjutnya,bila siswa menemukan masalah guru
menyuruhnya untuk mencoba dan mencoba lagi sampai memperoleh hasil.
b. Kognitivisme
Pembelajaran adalah dengan mengaktifkan indera siswa agar memperoleh
pemahaman sedangkan pengaktifan indra dapat dilaksanakan dengan jalan menggunakan
media/alat bantu disamping itu penyampaian pengajaran dengan berbagai variasi artinya
menggunakan banyak metode.
c. Humanistic
Dalam pembelajaran ini guru sebagai pembimbing menberikan pengarahan agar
siswa dapat mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai manusia yang unik untuk
mewujudkan potensi-potensiyang ada dalam dirinya sendiri. Siswa perlu melakukan
sendiri berdasarkan inisiatif sendiri yang melibatkan pribadinya secara utuh dalam
proses belajar agar dapat memperoleh hasil.
d. Sosial
Implementasi dari pembelajaran dan pengajaran dapat dicapai melalui beberapa
cara seperti:Penyampaian harus interktif dan menarik : demontrasi guru hendaklah
jelas,menarik,mudah dan tepat:hasilnya guru atau contoh contoh seperti ditunjukan
hendaklah mempunyai mutu yang tinggi.
Untuk terwujudnya iklim dan preoses pembelajaran yang kondusif perlu didukung
oleh berbagai faktor,baik berkenaan dengan kemampuan guru, misal di dalam memilih
bahan ajar,sarana dan fasilitas pendukung serta yang tidak kalah pentingya kesiapan dan
motivasi siswa untuk belajar dan mencapai hasil belajar yang optimal (Anurrahman,
2009:79)
Dalam pemilihan bahan ajar ada beberpa prinsip yang perlu diperhatikan,prinsipprinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi dan
kecukupan. Relevansi adalah materi pembelajaran harus relevan dengan pencapaian
standar kompetensi dan kompetensi dasar.Konsistensi adalah keajegan.Kecukupan
artinya yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai
kompetensi dasar yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa
menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.
4. Model Pembelajaran
a. Pengertian model pembelajaran
Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur
yang sistematis dalam megorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai sebuah
tujuan belajar yang telah ditentukan dan berfungsi sebagai pedoman bagi pengajar untuk
dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan aktivitas belajar (Anurrahman, 2009:146).
b. Fungsi Model Pembelajaran
Menurut Kamulyan, M.S & Risminawati (2012:13), fungsi model pembelajaran
adalah sebagai pedoman perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Karena itu,
pemilihan model sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan dibelajarkan, tujuan
(kompetensi) yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, serta tingkat kemampuan
peserta didik.
c. Ciri Model Pembelajaran
Menurut Kamulyan, M.S & Risminawati (2012:13), Model pembelajaran
mempunyai makna yang lebih luas dari pendekatan, strategi, metode dan teknik. Karena
itu, suatu rancangan pembelajaran atau rencana pembelajaran disebut menggunakan
model pembelajaran apabila mempunyai empat ciri khusus, yaitu rasional teoretik yang
logis yang disusun oleh penciptanya atau pengembangnya, landasan pemikiran tentang
apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pemmbelajaran yang akan dicapai), tingkah laku
yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan lingkungan
belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Menurut Kamulyan,
M.S & Risminawati (2012:14) suatu model pembelajaran akan memuat antara lain:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
Deskripsi lingkungan belajar
Pendekatan, metode, teknik dan strategi
Manfaat pembelajaran
Materi pembelajaran (kurikulum)
Media
Desain pembelajaran
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa ciri model pembelajaran yang baik yaitu
memuat suatu pokok-pokok hal berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar. Diantaranya
yaitu metode yang sesuai dengan kurikulum, manfaat, penggunaan media, dan
dsainpembelajarannya.
d. Macam Model Pembelajaran
Model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajaran,
sintaknya (langkah-langkahnya) dan sifat lingkungan belajarnya. Arends dalam
Kamulyan, M.S & Risminawati (2012:14) menyebutkan enam model pembelajaranyang
sering dan praktis digunakan guru dalam pembelajaran, yaitu presentasi, pengajaran
langsung (direct instruction), pengajaran konsep, pembelajaran kooperatif, pembelajaran
berdasarkan masalah (problem base instruction) dan diskusi kelas. Menurut Kamulyan,
M.S & Risminawati (2012:14) ada banyak model pembelajaran yang dapat digunakan
dalam implementasi pembelajaran di antaranya sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
Model pembelajaran kooperatif
Model pembelajarana kontekstual
Model pembelajaran inkuiri
Model pembelajaran terpadu
Model dengan pendekatan lingkungan
Model pengajaran langsung
Model pembelajaran konstruktivisme, dan
Model pembelajaran interaktif
Macam model pembelajaran di atas memungkinkan guru untuk lebih kreatif dan
inovatif dalam penggunaannya selama proses pembelajaran sehingga interaksi yang terjadi
antara siswa dan guru menjadi lebih baik. Banyaknya metode disini memerlukan pemilihan
yang tepat sesuai dengan materi yang diberikan guru. Metode yang tepat untuk
meningkatkan keaktifan dan melibatkan seluruh siswa dalam pembelajaran yaitu metode
cooperatif, dimana metode ini lebih efektif dalam menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan.
5. Model Pembelajaran Bermain Peran (Role Play)
Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar
dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model
pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode,
dan teknik pembelajaran. Pengembangan model belajar dimaksudkan agar guru memahami
benar bagaimana siswa belajar yang efektif, dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan
digunakan harus sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, materi, fasilitas, dan guru itu
sendiri. Salah satu model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan
komunikasi pada mata pelajaran Humas adalah model role playing.
Menurut Hamalik (2004: 214) model role playing (bermain peran) adalah model
pembelajaran dengan cara memberikan peran-peran tertentu kepada peserta didik dan
mendramatisasikan peran tersebut kedalam sebuah pentas. Bermain peran (role playing)
adalah salah satu model pembelajaran interaksi sosial yang menyediakan kesempatan kepada
siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar secara aktif dengan personalisasi.
Hamalik (2004: 214) mengemukakan bahwa “bentuk pengajaran role playing
memberikan pada siswa seperangkat/serangkaian situasi-situasi belajar dalam bentuk
keterlibatan pengalaman sesungguhnya yang dirancang oleh guru”. Selain itu, role playing
sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana siswa membayangkan
dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain.
Melalui model pembelajaran bermain peran (role playing )siswa mampu masuk
memahami peran orang lain/individu lain dan dengan perilaku seperti orang yang
diperankannya, dengan begitu siswa akan mengetahui dan memperoleh pengetahuan tentang
perilakunya/tindakannya.
Pengertian model pembelajaran bermain peran (role play) juga diungkapkan oleh
Silberman (2010:40) “Role play merupakan salah satu metode yang sangat berguna untuk
menggali sikap dan untuk melatih kemampuan”. Dalam melakukan role play, harus
mengetahui beberapa cara yang berbeda untuk menciptakan alur cerita dan untuk
menampilkanya.
Dari pemaparan para ahli di atas dapat diketahui bahwa metode role play merupakan
metode yang melibatkan siswa dalam sebuah peran-peran dalam melakukan simulasi suatu
materi pembelajaran, sehingga melibatkan semua siswa untuk terlibat aktif dalam proses
pembelajran yang berlangsung. Dengan menggunakan metode role play yang bergantian
dalam menampilan suatu peristiwa yang diperankan masing-masing siswa maka akan
menambah daya serap siswa tentang pemahaman materi yang dipelajari karena pada
dasarnya mengingat karena mempraktikan lebih lama diingat siswa dari pada hanya
mendengarkan.
a. Tinjauan Metode Bermain Peran
Menurut Hamdani (2011:87) “Metode bermain peran (role playing) adalah cara
penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan
siswa”.
Pengembangan
imajinasi
dan
penghayatan
dilakukan
siswa
dengan
memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya
dilakukan lebih dari satu orang, bergantung pada apa yang diperankan. Kelebihan metode
ini adalah seluruh siswa dapat berpartisipasi dan mempunyai kesempatan untuk menguji
kemampuannya dalam bekerja sama.
Menurut Mulyasa (2006:139) melalui bermain peran, para peserta didik mencoba
mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakannya dan
mendiskusikannya
sehingga
secara
bersama-sama
para
peserta
didik
dapat
mengeksplorasi perasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai dan berbagai strategi
pemecahan masalah.
Sebagai suatu metode pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan
sosial. Dari dimensi pribadi model ini berusaha membantu para peserta didik menemukan
makna dari lingkungan sosial yang bermanfaat bagi dirinya. Dalam pada itu, melalui
metode ini para peserta didik diajak untuk belajar memecahkan masalah-masalah pribadi
yang sedang dihadapinya dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan temanteman sekelas. Dari dimensi sosial, model ini memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi-situasi sosial, terutama masalah yang
menyangkut hubungan antarpribadi peserta didik.
Menurut Kamulyan, M.S & Risminawati (2012:66) sintak dari metode pembelajaran
ini adalah guru menyiapkan skenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk
mempelajari skenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi,
menunjuk siswa untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa
membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok dan refleksi.
b. Konsep Peran
Menurut E. Mulyasa (2006:140) peran dapat didefinisikan sebagai suatu
rangkaian perasaan, ucapan, tindakan, sebagai suatu pola hubungan unik yang
ditunjukkan oleh individu terhadap individu lain.
Peran yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh persepsi
individu terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Oleh sebab itu, untuk dapat berperan
dengan baik, diperlakukan pemahaman terhadap peran pribadi dan orang lain.
Pemahaman tersebut tidak terbatas pada tindakan, tetapi pada faktor penentunya, yakni,
perasaan, persepsi dan sikap. Bermain peran berusaha membantu individu untuk
memahami perannya sendiri dan peran yang dimainkan orang lain sambil mengerti
perasaan, sikap dan nilai-nilai yang mendasarinya.
c. Tujuan Bermain Peran dalam Pembelajaran
Tujuan bermain peran (Role playing) menurut E. Mulyasa (2006:140) adalah:
1) Melatih siswa untuk menghadapi situasi yang sebenarnya.
2) Melatih praktik berbahasa lisan secara intensif.
3) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya
berkomunikasi.
4) Dapat menghargai perasaan orang lain.
5) Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab.
6) Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.
d. Pelaksanaan Bermain Peran
Penggunaan metode pembelajaran bermain peran dimaksudkan untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Menurut E. Mulyasa (2006:141) ada
empat asumsi yang mendasari metode ini memiliki kedudukan yang sejajar dengan
metode pengajaran lainnya. Keempat asumsi tersebut ialah:
1) Secara implisit bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan
pengalaman dengan menekankan dimensi “di sini dan kini” (here and now) sebagai
isi pengajaran.
2) Bermain peran memberikan kemungkinan kepada peserta didik untuk
mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tak dapat mereka kenali tanpa
bercermin kepada orang lain.
3) Metode ini mengasumsikan bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf
kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok.
4) Metode mengajar ini mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang
tersembunyi (covert) berupa sikap-sikap nilai-nilai, perasaan-perasaan dan sistem
keyakinan dapat diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara
spontan dan analisisnya.
Shaftel dan Shaftel dalam E. Mulyasa (2006: 143) mengemukakan ada sembilan
tahapan pembelajaran bermain peran meliputi:
1) Menghangatkan Suasana dan Memotivasi Peserta Didik.
Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar
tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan
paling menentukan keberhasilan. Bermain peran akan berhasil apabila peserta didik
menaruh minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru.
2) Memilih Peran dalam Pembelajaran
Pada tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau
karakter, apa yang mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus
mereka kerjakan, kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela
untuk menjadi pemeran.
3) Menyusun Tahap-tahap Peran
4)
5)
6)
7)
8)
9)
Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan
dimainkan. Dalam tahap ini, tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik
dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan.
Menyiapkan Pengamat
Keterlibatan pengamat dapat memperkaya model, terutama mengajukan
alternatif pemeranan. Dengan demikian, pembelajaran akan lebih hidup, terutama
pada saat mendiskusikan peran-peran yang telah dimainkan.
Tahap Pemeranan
Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup, dan
apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan.
Diskusi dan Evaluasi Pembelajaran
Dengan melontarkan sebuah pertanyaan, para peserta didik akan segera
terpancing untuk diskusi. Guru harus mengarahkan diskusi yang dilakukan para
peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Pemeranan Ulang
Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya
pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya.
Diskusi dan Evaluasi Tahap Dua
Diskusi dan evaluasi tahap dua, diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama Hal
ini bertujuan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang dan pemecahan masalah
pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas. Para peserta didik menyetujui cara tertentu
untuk memecahkan masalah, meskipun dimungkinkan adanya peserta didik yang
belum menyetujuinya.
Membagi Pengalaman dan Pengambilan Kesimpulan
Tahap ini tidak harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan
utama bermain peran ialah membantu para peserta didik untuk memperoleh
pengalaman-pengalaman berharga dalam hidupnya melalui kegiatan interaksional
dengan teman-temannya.
Keberhasilan bermain peran bergantung pada kemampuan dalam mengungkap
pengalaman pribadi peserta didik. Disamping dapat aneka ragam pengalaman diantara
peserta didik.
Role play digunakan sebagai suatu media pendidikan yang ampuh dimana saja
terdapat peran-peran yang dapat didefinisikan dengan jelas,yang memiliki interaksi yang
mungkin dieksplorasi dalam keadaan yang bersifat simulasi. Menurut Hisyam
Zaini,Bermwy Munthe,dan Sekar Ayu Aryani(2008:101) role play yang pokok
digunakan dikelas yaitu :
Pendekatan Berbasis Isu (Issues based Approach)
Pemain secara aktif mengekplorasi suatu isu dengan mengandalkan peran dari
manusia dalam kehidupan yang berselisih satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan
yang diinginkanya yang dilandasi seperangkat kepentingan pribadi yang jelas. Dalam
pendekatan berbasis isu peserta diminta untuk:
1. Meneliti sikap kepercayaan dan nilai-nilai yang mengelilingi suatu isi.
2. Meneliti sikap kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut oleh manusia tertentu.
3. Mengambil pendirian terhadap isu.
4. Masuk pada suatu skenario dimana pendirian diungkapkan,diartikulasikan,
dipertahankan dan dievaluasi. Relasi terhadap posisi yang sama atau yang berbeda
direpresentasikan oleh pemain role play lain.
5. Menjadikan dirinya berpihak pada pemeran yang memegang posisi yang sama.
6. Berunding atau berdebat dengan mereka yang memerankan atau yang memegang
posisi yang berbeda
7. Mengambil pendirian yang bertentangan dengan isu.
Ada beberapa tahap dalam mengimplementasikan model pembelajaran role play,
diantaranya adanya perencanaan dan persiapan, interaksi,refleksi,dan evaluasi.Sebelum
penerapan guru harus sudah mencantumkan rencana-rencana tentang hal yang
diperlukan dalam penerapan role play. Keberhasilan penerapan model pembelajaran ini
terletak pada rencana atau persiapan yang telah dilaksanakan.
Adapun Uno (2008: 25) menyatakan bahwa:
Model pembelajaran bermain peran (role playing) adalah model yang
pertama, dibuat berdasarkan asumsi bahwa sangatlah mungkin menciptakan analogi
otentik ke dalam suatu situasi permasalahan kehidupan nyata, kedua bahwa bermain
peran dapat mendorong siswa mengekspresikan perasaannya dan bahkan
melepaskan, ketiga bahwa proses psikologis melibatkan sikap, nilai dan keyakinan
kita serta mengarahkan pada kesadaran melalui keterlibatan spontan yang disertai
analisis.
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat diketahui bahwa model role playing
adalah model bermain peran dengan cara memberikan peran-peran tertentu atau
serangkaian situasi-situasi belajar kepada siswa dalam bentuk keterlibatan pengalaman
sesungguhnya yang dirancang oleh guru dan didramatisasikan peran tersebut kedalam
sebuah pentas.
e. Langkah-langkah pembelajaran
Menurut Suherman (2009: 7) dari model pembelajaran role playing kegiatan awal
yang harus dilakukan adalah:
1) Guru menyiapkan skenario pembelajaran
2) Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario tersebut
3)
4)
5)
6)
7)
8)
Pembentukan kelompok siswa
Penyampaian kompetensi
Menunjuk siswa untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya
Kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon.
Presentasi hasil kelompok
Bimbingan penyimpulan dan refleksi.
Selanjutnya menurut Uno (2008: 26) menyatakan bahwa langkah-langkah
pembelajaran role playing adalah sebagai berikut: (1) Persiapan, guru memperkenalkan
siswa pada suatu permasalahaan yang disadari siswa sebagai suatu yang dipelajari dan
dikuasinya; (2) Pemilihan partisipan, siswa dan guru menentukan karakter dari setiap
pemain dan siapa yang memerankan yang di sesuaikan dengan kemampuan siswa; (3)
Penataan ruang,mempersiapkan tempat bagaimana peran akan dimainkan serta apa saja
yang dibutuhkan; (4) observer, guru menunjuk siswa sebagai pengamat akan tetapi siswa
juga aktif dalam pbermain peran; (5) Memainkan peran, permainan dimainkan secara
spontan akan tetapi guru mengarahkan sehingga masih dalam konteks; (6) diskusi dan
evaluasi,guru an siswa mendiskusikan dan mengevaluasi terhadap peran yang telah
dimainkan sehingga memungkinkan adanya usulan dari siswa; (7) Bermain peran
ulang,memainkan peran ulang yang telah di evaluasi sesuai skenario; (8) diskusi dan
evaluasi kedua,pembahasan dan evaluasi diarahkan pada realita sehingga peran yang
dimainkan siswa sesuai pada keadaan real; (9) berbagi pengalaman dan diskusi, siswa
diajak untuk berbagi tentang pengalaman tema yang di mainkan yang dilanjutkan dengan
membuat kesimpulan.
f. Manfaat Model Role Playing
Manfaat yang dapat diambil dari model role playing adalah:
Role playing dapat memberikan semacam hidden practise, dimana siswa tanpa
sadar menggunakan ungkapan-ungkapan atau istilah-istilah baku dan normatif terhadap
materi yang telah dan sedang mereka pelajari. Role playing melibatkan jumlah siswa
yang cukup banyak, cocok untuk kelas besar. Role playing dapat memberikan kepada
siswa kesenangan karena role playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan bermain
siswa akan merasa senang karena bermain adalah dunia siswa. Masuklah ke dunia siswa,
sambil kita antarkan dunia kita (Bobby DePorter, 2000: 51).
Dari uraian di atas manfaat pembelajaran role playing adalah: (1) memberikan
semacam hiden practice,dimana siswa tanpa sadar mengggunakan ungkapan-ungkapan
terhadap materi yang telah dan sedang mereka pelajari; (2) melibatkan jumlah siswa yang
cukup banyak ,cocok untuk kelas besar; (3) memberikan kepada siswa kesenangan karena
role playing pada dasarnya adalah permainan.
g. Kelebihan Metode Bermain Peran
Kelebihan metode bermain peran dalam pembelajaran yaitu:
1) Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2) Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan
waktu yang berbeda.
3) Guru dapat mengevaluasi pemahaman setiap siswa melalui pengamatan pada saat
melakukan permainan.
4) Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
5) Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk
memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.
6) Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Di samping
merupakan pengalaman yang menyenangkan yang dan sukar untuk dilupakan.
(http://arearejasaputra.blogspot.com/2012/09/keterampilan-berbicara.html)
6. Keaktifan Belajar
a. Pengertian Keaktifan Belajar
Menurut MC.Keachie dalam Dimyati dan Mujiono (1990:45) berkenaan dengan prinsip
keaktifan mengemukakan bahwa “Individu merupakan manusia belajar yang selalu ingin
tahu”. Menurut Sriyono (1992:75) , ”Keaktifan adalah pada waktu guru mengajar ia
harus mengusahakan agar siswa-siswanya aktif jasmani maupun rohani”. Menurut
Sagala (2006: 124-134) keaktifan jasmani maupun rohani itu meliputi antara lain:
1) Keaktifan indera pendengaran,penglihatan, peraba dan lain-lain.
Siswa harus dirangsang agar dapat menggunakan alat inderanya sebaik mungkin
2) Keaktifan akal: akal anak-anak harus aktif atau diaktifkan untuk memecahkan
masalah, menimbang-nimbang,menyusun pendapat dan mengambil keputusan.
3) Keaktifan ingatan: pada waktu mengajar anak harus aktif menerima bahan
pengajaran yang disampaikan guru dan menyimpannya dalam otak,kemudian
pada suatu saat ia siap mengutarakan kembali.
4) Keaktifan emosi:dalam hal ini siswa hendaklah senantiasa berusaha mencintai
pelajarannya.
Menurut sudjana (1998:72) mengemukakan keaktifan siswa dalam mengikuti
proses belajar mengajar dapat dilihat dalam:
1) Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya.
2) Terlibat dalam pemecahan masalah.
3) Bertanya kepada siswa lain atau guru apabila tidak memahami persoalan yang
dihadapinya.
4) Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan
masalah.
5) Melatih diri dalam memecahkan masalah.
6) Menilai kemampuan dirinya dan hasil hasil yang diperoleh.
Dalam proses belajar mengajar mengajar terjadi aktivitas guru dan siswa. Hal ini
yang memotivasi siswa untuk menderung aktif dalam belajar. Menurut Anurrahman
(2009:119) menyatakan keaktifan siswa dalam belajar merupakan persoalan penting dan
mendasar yang harus dipahami,dan dikembangkan setiap guru dalam proses
pembelajaran.Sehingga keaktifan siswa perlu digali dari potensi yang mereka aktualisasi
melalui aktifitasnya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Trinanda (2008 :11)
menyatakan bahwa, ”Hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran
adalah keaktifan siswa”. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan
interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa maupun dengan lingkungan siswa itu
sendiri.
Menurut
Sriyono
dkk
(dalam
Syafaruddin,2005:213)
menyatakan
bahwa,“Keaktifan siswa adalah pada waktu guru mengajar guru harus mengusahakan
agar siswa aktif jasmani maupun rohani”.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2010: 362), “Belajar aktif ditujukan dengan
adanya ketertiban intelektual dan emosional yang tinggi dalam proses belajar”. Siswa
diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengemukakan pendapat dan idenya,melakukan
eksplorasi terhadap materi yang sedang dipelajari serta menafsirkan hasilnya secara
bersama sama di dalam kelompok. Kegiatan tersebut memungkinkan siswa berinteraksi
aktif dengan lingkungan dan kelompoknya sebagai media untuk mengembangkan
kemampuanya.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diketahui bahwa keaktifan yaitu segala
kegiatan perubahan tingkah laku individu dengan melakukan interaksi dengan lingkungan
untuk mencapai tujuan. Keaktifan siswa dalam belajar tidak akan muncul begitu saja,
akan tetapi tergantung dengan lingkungan dan kondisi dalam kegiatatn belajar. Untuk
menciptakan suasana pembelajaran yang didalamnya siswa dapat berperan aktif, maka
dapat diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa, yaitu:
1) Memberikan dorongan atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka dapat
berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
2) Menjelaskan tujuan intruksional(kemampuan dasar kepada siswa).
3) Meningkatkan kompetensi belajar kepada siswa.
4) Memberikan stimulus (masalah,topik,dan konsep yang akan dipelajari).
5) Memberi petunjuk kepada siswa cara mempelajarinya.
6) Memunculkan aktivitas,partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
7) Memberi umpan balik.
8) Melakukan tagihan-tagihan kepada siswa berupa tes,sehingga kemampuan siswa
selalu terpantau dan terukur.
9) Menyimpulkan setiap materi yang disampaikan di akhir pelajaran.
Pembelajaran aktif menurut Ardinsyah(2011: 78) “Mendenifisikan aktif sebagai
giat (belajar, berusaha) dan megaktifkan memiliki arti menggiatkan”. Sedangkan aktif
menurut Mulyasa (2005:43), “Merupakan keikutsertaan berpola,giat, lincah.Aktif
digunakan dalam berbagai aspek,seperti pendidikan”. Dikatakan pembelajaran yang aktif
jika memiliki beberapa indikator. Menurut Ahmad Tafsir (2008: 171) ada indikator yang
menandai siswa aktif dam pembelajaran yaitu:
1) Segi siswa
a) Keinginan,keberanian menampilkan bakat dan meyelesaikan permasalahan
yang dihadapi.
b) Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam
kegiatan proses berkelanjutan dalam belajar.
c) Penampilan berbagai usaha belajar dalam menjalani dan menyelesaikan
kegiatan belajar sampai mencapai hasil.
d) Kemandirian belajar.
2) Segi Guru
a) Usaha mendorong,membina gairah belajar dan berpartisipasi dalam proses
pengajaran secara aktif.
b) Peran guru yang tidak mendominasikan kegiatan belajar siswa.
c) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut cara dan keadaan
masing-masing.
d) Menggunakan metode mengajar dan pendekatan multimedia.
3) Segi Program
a) Tujuan pembelajaran sesuai dengan minat,kebutuhan dan kemampuan siswa.
b) Program cukup jelas bagi siswa dan menantang siswa untuk melakukan
kegiatan belajar.
4) Segi Situasi
a) Hubungan erat antara siswa dan guru,siswa dengan siswa,guru dengan
guru,serta dengan unsur pimpinan sekolah.
b) Siswa bergairah belajar.
5) Segi Sarana Pembelajaran
a) Sumber belajar yang memadai.
b) Fleksibelitas bagi kegiatan belajar.
c) Dukungan media pembelajaran.
d) Kegiatan belajar di dalam maupun di luar kelas (Tafsir,1994:145).
Secara harfiah keaktifan berasal dari kata aktif yang berarti sibuk, giat (Kamus
Besar Bahasa Indonesia: 17). Aktif mendapat awalan ke- dan –an, sehingga menjadi
keaktifan yang mempunyai arti kegiatan atau kesibukan.Jadi, keaktifan belajar adalah
kegiatan atau kesibukan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah
maupun di luar sekolah yang menunjang keberhasilan belajar siswa.
Keaktifan tersebut tidak hanya keaktifan jasmani saja, melainkan juga keaktifan
rohani. Menurut Sriyono (1992: 75) menyatakan bahwa keaktifan jasmani dan rohani
yang dilakukan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1) Keaktifan indera; pendengaran, penglihatan, peraba, dan sebagainya. Peserta didik
harus dirangsang agar dapat menggunakan alat inderanya sebaik mungkin. Mendikte
dan menyuruh mereka menulis sepanjang jam pelajaran akan menjemukan.
Demikian pula dengan menerangkan terus tanpa menulis sesuatu di papan tulis.
Maka pergantian dari membaca ke menulis, menulis ke menerangkan dan seterusnya
akan lebih menarik dan menyenangkan.
2) Keaktifan akal; akal peserta didik harus aktif atau dikatifkan untuk memecahkan
masalah, menimbang, menyusun pendapat dan mengambil keputusan.
3) Keaktifan ingatan; pada saat proses belajar mengajar peserta didik harus aktif
menerima bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru, dan menyimpannya dalam
otak. Kemudian pada suatu saat ia siap dan mampu mengutarakan kembali.
4) Keaktifan emosi dalam hal ini peserta didik hendaklah senantiasa berusaha
mencintai pelajarannya, karena dengan mencintai pelajarannya akan menambah
hasil belajar peserta didik itu sendiri.
5) Sebenarnya semua proses belajar mengajar peserta didik mengandung unsur
keaktifan, tetapi antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya tidak sama.
Oleh karena itu, peserta didik harus berpartisipasi aktif secara fisik dan mental
dalam kegiatan belajar mengajar. Keaktifan peserta didik dalam proses belajar
merupakan upaya peserta didik dalam memperoleh pengalaman belajar, yang mana
keaktifan belajar peserta didik dapat ditempuh dengan upaya kegaiatan belajar
kelompok maupun belajar secara perseorangan.
Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator
adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan
apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti: sering bertanya kepada guru atau siswa lain,
mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang
diberi tugas belajar, dan lain sebagainya (Rosalia, 2005:4).
Dapat diambil suatu pengertian bahwa keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa
itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif,
dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin.
Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan
dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.
b. Jenis-Jenis Keaktifan Belajar
Perbuatan belajar merupakan perbuatan yang sangat kompleks dan proses yang
berlangsung pada otak manusia. Dengan melakukan perbuatan belajar tersebut peserta
didik akan menjadi aktif di dalam kegaiatan belajar. Jenis-jenis keaktifan belajar siswa
dalam proses belajar sangat beragam. Curiculum Guiding Commite of the Winsconsin
Cooperative
Educational
Program dalam
Oemar
Hamalik
(2009:
20-21)
mengklasifikasikan aktivitas peserta didik dalam proses belajar menjadi: 1)kegiatan
penyelidikan: membaca, berwawancara, mendengarkan radio, menonton film dan alatalat AVA lainnya;
2) kegiatan penyajian: laporan, panel and round table
discussion, mempertunjukkan visual aid, membuat grafik dan chart; 3) kegiatan latihan
mekanik: digunakan bila kelompok menemui kesulitan sehingga perlu diadakan ulangan
dan latihan; 4) kegiatan apresiasi: mendengarkan musik, membaca, menyaksikan
gambar; 5) kegiatan observasi dan mendengarkan: bentuk alat-alat dari siswa sebagai
alat bantu belajar; 6) kegiatan ekspresi kreatif: pekerjaan tangan, menggambar, menulis,
bercerita, bermain, membuat sajak, bernyanyi dan bermain musik; 7) bekerja dalam
kelompok: latihan dalam tata kerja demokratis, pembagian kerja antara kelompok dalam
melaksanakan rencana; 8) percobaan: belajar mencobakan cara-cara mengerjakan
sesuatu, kerja laboratorium dengan menekankan perlengkapan yang dapat dibuat oleh
peserta didik di samping perlengkapan yang telah tersedia, serta; 9) kegiatan
mengorganisasi dan menilai: diskriminasi, menyeleksi, mengatur dan menilai pekerjaan
yang dikerjakan oleh mereka sendiri.
Jenis keaktifan siswa dalam proses belajar ada delapan aktivitas, yaitu:
mendengar, melihat, mencium, merasa, meraba, mengolah ide, menyatakan ide dan
melakukan latihan. Secara sederhana kedelapan aktivitas tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1) Mendengar, dalam proses belajar yang sangat menonjol adalah mendengar dan
melihat. Apa yang kita dengar dapat menimbulkan tanggapan dalam ingatan-ingatan
yang turut dalam membentuk jiwa sesorang.
2) Melihat, peserta didik dapat menyerap dan belajar 83% dari penglihatannya. Melihat
berhubungan dengan penginderaan terhadap objek nyata, seperti peragaa atau
demonstrasi. Untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dalam belajar melalui
proses mendengar dan melihat, sering digunakan alat bantu dengar dan pandang atau
yang sering di kenal dengan istilah alat peraga.
3) Mencium, sebenarnya penginderaan dalam proses belajar bukan hanya mendengar
dan melihat, tetapi meliputi penciuman. Seseorang dapat memahami perbedaan
objek melalui bau yang dapat dicium.
4) Merasa, yang dapat memberi kesan sebagai dasar terjadinya berbagai bentuk
perubahan bentuk tingkah laku bisa juga dirasakan dari benda yang dikecap.
5) Meraba, untuk melengkapi penginderaan, meraba dapat dilakukan untuk
membedakan suatu benda dengan yang lainnya.
6) Mengolah ide, dalam mengolah ide peserta didik melakukan proses berpikir atau
proses kognitif. Dari keterangan yang disampaikan kepadanya, baik secara lisan
maupun secara tulisan, serta dari proses penginderaan yang lain yang kemudian
peserta didik mempersepsi dan menanggapinya.
7) Menyatakan ide, tercapainya kemampuan melakukan proses berpikir yang kompleks
ditunjang oleh kegiatan belajar melalui pernyataan atau mengekspresikan ide.
Ekspresi ide ini dapat diwujudkan melalui kegiatan diskusi, melakukan eksperimen
atau melalui proses penemuan melalui kegiatan semacam itu, taraf kemampuan
kognitif yang dicapai lebih baik dan lebih tinggi dibandingkan dengan hanya
sekedar melakukan penginderaan, apalagi penginderaan yang dilakukan hanya
sekedar mendengar semata-mata.
8) Melakukan latihan: bentuk tingkah laku yang sepatutnya dapat dicapai melalui
proses belajar, di samping tingkah laku kognitif, tingkah laku afektif (sikap) dan
tingkah laku psikomotorik (keterampilan) untuk meningkatkan keterampilan
tersebut memerlukan latihan-latihan tertentu.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat diambil suatu pengertian
bahwa jenis-jenis kegiatan keaktifan peserta didik dalam proses belajar dapat
dikelompokkan menjadi keaktifan jasmani dan keaktifan rohani, di mana bentuk dari
kedua jenis keaktifan tersebut sangat beragam, diantaranya adalah: keaktifan panca
indera, akal, ingatan dan emosional.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar
Muhibbin Syah (2012: 146) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi
keaktifan belajar peserta didik dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu faktor
internal (faktor dari dalam peserta didik), faktor eksternal (faktor dari luar peserta didik)
dan faktor pendekatan belajar (approach to learning). Secara sederhana faktor-faktor
yang mempengaruhi keaktifan belajar peserta didik tersebut dapat diuraiakan sebagai
berikut:
Faktor internal peserta didik, merupakan faktor yang berasal dari dalam diri
peserta didik itu sendiri, yang meliputi:
1) Aspek fisiologis, yaitu kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang
menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat
mempengaruhi semangat dan intensitas peserta didik dalam mengikuti pelajaran.
2) Aspek psikologis, belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu,
semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang.
Adapun faktor psikologis peserta didik yang mempengaruhi keaktifan belajarnya
adalah sebagai berikut: a) inteligensi, tingkat kecerdasan atau inteligensi (IQ)
peserta didik tidak dapat diragukan lagi dalam menentukan keaktifan dan
keberhasilan belajar peserta didik. Ini bermakna bahwa semakin tinggi tingkat
inteligensinya maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses, begitu juga
sebaliknya; b) sikap, adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa
kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap
terhadap objek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif; c)
bakat, adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir yang berguna
untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masingmasing; d) minat, adalah kecenderungan atau kegairahan yang tinggi atau keinginan
yang besar terhadap sesuatu; dan e) motivasi, adalah kondisi psikologis yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi belajar adalah kondisi
psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar.
Faktor eksternal peserta didik, merupakan faktor dari luar siswa yakni kondisi
lingkungan di sekitar siswa. Adapaun yang termasuk dari faktor ekstrenal di antaranya
adalah: 1) lingkungan sosial, yang meliputi: para guru, para staf administrasi dan temanteman sekelas; serta 2) lingkungan non sosial, yang meliputi: gedung sekolah dan
letaknya, rumah tempat tinggal keluarga peserta didik dan letaknya, alat-alat belajar,
keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan peserta didik.
Hal yang sama dikemukakan oleh Abu Ahmadi (2008: 78) bahwa faktor yang
mempengaruhi keaktifan belajar peserta didik diklasifikasikan menjadi dua macam,
yakni: 1) faktor intern (faktor dari dalam diri manusia itu sendiri) yang meliputi faktor
fisiologis dan psikologi; serta 2) faktor ektern (faktor dari luar manusia) yang meliputi
faktor sosial dan non sosial. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi keaktifan peserta didik dalam proses belajar adalah faktor internal
(faktor dari dalam peserta didik) dan faktor eksternal (faktor dari luar peserta didik).
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan merupakan penelaah hasil penelitian yang terdahulu yang
diperlakukan untuk mempertajam penelitian yang dilakukan. Adapun penelitian yang
relevan dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:
1.
Penelitian yang dilakukan oleh Yağmur Çerkez, Zehra Altınay, Fahriye Altınay &
Elnara Bashirova dalam jurnal Journal of Education and Learning; Vol. 1, No. 2; 2012
ISSN 1927-5250 E-ISSN 1927-5269 dengan judul Drama and Role Playing in Teaching
Practice: The Role of Group Works. Penelitian ini menunjukkan bahwa drama dan
bermain peran merupakan metode belajar yang efektif untuk para siswa dan mereka
mendapatkan rasa percaya diri dan dapat membangun ikatan persahabatan. Selain itu,
mereka dapat mengembangkan komunikasi, manajemen dan keterampilan.
2.
Penelitian yang dilakukan oleh Suchismita Bhattacharjee, PhD dan Somik Ghosh, PhD
(2013) dalam jurnal ASC Annual International Conference Proceedings dengan judul
Usefulness of Role-Playing Teaching in Construction Education: A Systematic Review.
Penelitian ini menunjukkan bahwa melalui metode bermain peran, seorang guru tidak
hanya meyampaikan fakta dan informasi dari subjek, tetapi juga dapat menggambarkan
citra yang lebih jelas dari kenyataan. Dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran
telah terbukti dapat meningkatkan antusiasme siswa dan suasana kelas tidak menjadi
monoton.
3.
Penelitian yang dilakukan oleh Tien Kartini dalam jurnal pendidikan dasar Nomor 8
Oktober 2007 dengan judul penggunaan metode role playing untuk meningkatkan minat
siswa dalam pembelajran pengetahuan sosial di kelas V SDN Cileunyi I Kecamatan
Cileunyi Kabupaten Bandung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan
metode role playing sangat efektif dalam meningkatkan minat belajar anak. Efektivitas
penggunaan metode tersebut dapat dilihat dari dijumpainya beberapa perubahan yang
positif, baik yang terjadi pada guru IPS itu sendiri maupun yang terjadi pada diri siswa,
terutama perubahan adanya peningkatan minat belajar siswa dalam mengikuti
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
4.
Penelitian yang dilakukan oleh Peny Puji Astuti dengan judul Efektivitas Metode
Bermain Peran (Role Playing) untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi pada
Anak. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan metode “Bermain Peran (Role Play)
efektif untuk meningkatkan keterampilan komunikasi pada anak. Siswa yang diberikan
perlakuan berupa metode bermain peran (Role Play) memiliki skor keterampilan
komunikasi yang lebih tinggi disbanding dengan anak yang tidak diberi perlakuan
bermain peran (role play). Hal ini membuktikan bahwa keterampilan komunikasi dapat
ditingkatkan dengan metode bermain peran (role play).
5.
Penelitian yang dilakukan oleh Rita Hermawati dengan judul Peningkatan Hasil Belajar
dengan metode role playing pada mata diklat pelayanan prima kelas X busana di SMK
Maarif 2 Sleman. Penelitian ini menunujukkan bahwa dengan metode role playing dapat
meningkatkan hasil belajar pada pelayanan prima Siswa kelas X busana B dengan
melihat aktivvitas belajar siswa dan ketercapaian hasil belajar siswa.
6. Penelitian yang dilakukan oleh Anders Drachen, Marinka Copier, Michael Hitchens
dengan judul Role-Playing Games, experimentation, culture, storytelling, penelitiannya
telah difokuskan pada pemakai interaksi, pengalaman bermain dan pembentukan karakter
dalam suatu budaya, cerita, proses permainan. Penelitian role-playing game merupakan
salah satu metode yang tepat dalam pembelajaran tipe pembelajaran yang berbasis
permainan/bermain peran. Peneletian ini menyajikan keadaan seni dari berbagai sudut
dan kepentingan, memberikan gambaran tentang topik hangat saat ini dan arah penelitian
masa depan, demean bermain peran peserta didik menjadi lebih memahami tugas mereka
masing-masing dan suasana kelas menjadi lebih aktif dan hidup.
7. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Mohamad Jafre Zainol Abidin, Siti
Rafizah
Fatimah Osman,dalam penelitiannya mengenai model role playing, menunjukkan
peningkatan yang signifikan dalam konsep diri dan keterampilan komunikatif dalam
menghadapi dengan situasi di mana mereka harus berinteraksi sosial dan dalam
mengembangkan konsep diri sosial, konsep diri emosional, kompetensi tata bahasa,
kompetensi strategis, dan kekompakan ide. Pengalaman dalam bermain peran akan
membantu mereka untuk mengembangkan pikiran mereka dan membuat mereka lebih
kreatif.
C. Kerangka Berpikir
Keberhasilan proses pembelajaran di kelas ditentukan oleh berbagai faktor yang
tentunya saling berkaitan satu sama lain. Diantara berbagai faktor tersebut salah satu faktor
yang signifikan mempengaruhi faktor tersebut adalah metode pembelajaran yang digunakan.
Metode pembelajaran bermain peran merupakan metode yang
akan digunakan untuk
meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar dalam mata pelajaran Humas (Hubungan
masyarakat) atau protokol dengan standar kompetensi menerapkan keterampilan
komunikasi.
Metode ini juga dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar
berinteraksi.Siswa bisa untuk saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna
mencapai prestasi yang maksimal dan model ini dianggap sesuai dengan perkembangan
psikologi belajar modern. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya
pengalaman serta pembelajaran akan menjadi lebih bermakna.Langkah selanjutnya,
menyusun langkah-langkah tindakan secara urut dengan memperhatikan karakterisitik dari
objek yang hendak diberi tindakan. ebagai langkah akhir tindakan adalah menganalisis data
berdasarkan sumber data untuk menarik kesimpulan tindakan melalui metode pembelajaran
bermain peran.
Dari alur penalaran di atas, maka dapat digambarkan kerangka berpikir sebagai berikut:
KONDISI
AWAL
Penggunaan
model
pembelajaran
konvensional
1. Siswa merasa
bosan pada saat
pembelajaran
berlangsung
2.
Rendahnya
prestasi belajar
siswa
SIKLUS I
TINDAKAN
PENERAPAN
Implementasi
model
pembelajaran
bermain
peran(role play)
Siswa diberikan
konsep pembelajaran
yang akan
disampaikan
SIKLUS II
Meningkatkan
keaktifan belajar
siswa
KONDISI
AKHIR
Pemahaman materi dan minat
belajar meningkat sehingga
keaktifankelas XI Jurusan
Administrasi Perkantoran SMK
Negeri I Karanganyar meningkat
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
D. Hipotesis Tindakan
Hipotesis yang dapat dikemukakan adalah bahwa dengan menerapkan metode
bermain peran (role play) dapat meningkatkan keaktifan belajar pada materi mengelola rapat
dalam Mata Pelajaran Humas/Protokol siswa Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran
SMK Negeri ITahun Ajaran 2014/2015.
IMPLEMENTASI MODEL
PEMBELAJARAN BERMAIN
PERAN (ROLE PLAY)
PENINGKATAN
KEAKTIFAN BELAJAR
SISWA
Gambar 2.2 Hipotesis Tindakan
Download