BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Komunikasi Massa Studi tentang

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1
Komunikasi Massa
Studi tentang komunikasi massa termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan
yang lebih luas yang berkenaan dengan komunikasi manusia. Bidang ilmu
pengetahuan tersebut kadangkala disebut “ilmu pengetahuan komunikasi”.1
Komunikasi massa, seperti bentuk komunikasi lainnya (komunikasi
antarpersonal,
komunikasi
kelompok,
atau
komunikasi
organisasi),memiliki
setidaknya enam unsur yakni komunikator (penyampai pesan), pesan, media,
komunikan (penerima pesan), efek dan umpan balik.
Namun definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh
Bittner (Rakhmat, 2003: 188), yakni komunikasi massa adalah pesan yang
dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang ( mass
communication is massages communicated through a mass medium to a large
number of people). Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu
harus menggunakan medai massa2.
1
Ibid.5
Elvinaro Ardianto, Lukiati Komala, Siti Karlinah. Komunikasi Massa suatu pengantar edisi
revisi, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, hal.3
2
8
9
Media komunikasi yang termasuk media massa adalah; radio siaran dan
televisi keduannya dikenal sebagai media elektronik, surat kabar dan majalah
keduannya disebut sebagai media cetak, serta media film. Film sebagai media
komunikasi massa adalah film bioskop.
Ahli komunikasi massa lainnya, Joseph A. DeVito merumuskan definisi
komunikasi massa yang pada intinya merupakan penjelasan tetang pengertian massa
serta media yang digunakannya. Ia mengemukakan definisinya dalam dua item
yakni: “pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa,
kepada khayalak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak
meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang menonton televisi, tetapi ini berarti
bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan. Kedua,
komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang
audio dan/atau visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih
logis bila didefinisikan menurut bentuknya: televis, radio siaran, surat kabar, majalah
dan film” (Effendy, 1986: 26).3
Menyimak berbagai definisi komunikasi massa yang dikemukakan beberapa
ahli komunikasi, tampaknya tidak ada perbedaan yang mendasar atau prinsip, bahkan
defiisi-definisi itu satu sama lain saling meengkapi. Rakhmat merangkum definisidefinisi komunikasi massa tersebut menjadi: “komunikasi massa diartikan sebagai
jenis komunikasi yang ditunjukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen
3
Ibid. Hal 6
10
dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat
diterima secara serentak dan sesaat (Rahmat, 2003: 189)
1.1.1
Fungsi Komunikasi Massa
Fungsi komunikasi massa bagi masyarakat menurut Dominick (2002)
terdiri dari :
1. Surveillance (pengawasan)
Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama : (a)
warning or beware surveillance (pengawasan peringatan); (b) Instrumentas
Surveillance (pengawasan instrumental). Fungsi pengawasan peringatan
terjadi ketika media massa menginformasikan tentang ancaman dari angin
topan, meletusnya gunung merapi, kondisi yang memprhatinkan, tayangan
inflansi atau adanya serangan militer.4 Peringatan ini dengan serta merta
dapat menjadi ancaman. Fungsi pengawasan instrumental adalah
penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau
dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari 5. Berita tentang
film apa yang sedang dimainkan di bioskop, bagaimana saham-saham
dibursa efek, produk-produk baru, ide-ide tentang model, resep masakan
dan sebagainnya, adalah contoh-contoh pengawasan instrumental.6
2. Interpretation (penafsiran)
4
Ibid. Hal 14
Ibid. Hal 15
6
Ibid. Hal 16
5
11
Fungsi penafsiran hampir mirip dengan fungsi pemgawasan. Media massa
tidak hanya memasok fakta-fakta dan, data tetapi juga memberikan
penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Organisasi atau industri
media memilih dan memutuskan pristiwa-peristiwa yang dimuat atau
ditayangkan.
3. Linkage ( pertalian )
Media massa Dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam,
sehingga membentuk linkage (pertalian) berdasarkan kepentingan dan
minat yang sama tentang sesuatu
4. Transmision of Values ( penyebaran nilai-nilai)
Fungsi penyebaran nilai tidak kentara. Fungsi ini juga disebut
socialization (sosialisasi). Sosialisasi mengacu kepada cara, dimana
individu mengadopsi prilaku dan nilai kelompok. Media massa yang
mewakli gambaran masyarakat itu di tonton dan dibaca.7
5. Entertainment (hiburan)
Sulit dibantah lagi bahwa pada kenyataannya hempir semua media
menjalankan fungsi hiburan. Televisi adalah media massa yang
mengutamakan sajian hiburan. Hampir tiga per empat bentuk siaran
televisi setiap hari merupakan tayangan hiburan.
1.1.2
7
Ibid. Hal 17
Karakteristik Komunikasi Massa
12
Definisi-definisi komunikasi massa itu secara prinsip mengandung
suatu makna yang sama, bahkan antara satu definisi dengan definisi lainnya
dapat dianggap saling melengkapi. Melalui definisi itu pula kita dapat
mengetahui karakteristik komunikasi massa.
Adapun karakteristik komunikasi massa adalah sebagai berikut:
a) Komunikator Terlembagakan
Ciri komunikasi massa yang pertama adalah komunikatornya. Kita
sudah memahami bahwa komunikasi massa itu menggunakan media
massa, baik media cetak maupun media elektronik. Dengan mengingat
kembali pendapat Wright, bahwa komunikasi massa itu melibatkan
lembaga dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks,
mari kita bayangkan secara kronologis proses penyusuna pesan oleh
komunikator sampai pesan diterima oleh komunikan.
b) Pesan Bersifat Umum8
Komunikasi massa itu bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu
ditunjukan untuk sekelompok orang tertentu. Oleh karenannya pesan
komunikasi massa bersifat umum. Namun tidak semua fakta dan peristiwa
yang terjadi di sekeliling kita dapat dimuat di media massa. Pesan
komunikasi massa yang dikemas dalam bentuk apapun harus memenuhi
8
Ibid. Hal 7
13
kriteria penting atau menarik, atau penting sekaligus menarik bagi sebgian
besar komunikan.9
c) Komunikannya Anonim dan Heterogen
Komunikan pada komunikasi masa komunikannya bersifat anonim
dan heterogen.10 Pada komunikasi antarpersonal, komunikator akan
mengenal komunikannya,
11
mengetahui identitasnya, seperti: nama,
pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, bahkan mungkin mengenal sikap
dan perilakunnya, sedangkan dalam komunikasi massa komunikator tidak
megenal komunikan (anonim), karena komunikasinnya menggunakan
media dan tidak tatap muka.
d) Media Massa Meimbulkan Keserempakan
Kelebihan komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi
lainnya, adalah jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapainya
relatif banyak dan tidak terbatas. Bahkan lebih dari itu, komunikan yang
banyak tersebut secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh
pesan yang sama pula.
e) Komunikasi Menggunakan Isi Ketimbang Hubungan
Salah satu prinsip komunikasi adalah bahwa komunikasi mempunyai
dimensi isi dan dimensi hubungan (Mulyana,2000:99). Dimensi isi
menunjukan muatan atau dimensi komunikasi, yaitu apa yang dikatakan,
9
Ibid. Hal 8
Ibid. Hal 9
11
Ibid. Hal 10
10
14
sedangkan
dimensi
hubungan
menunjukan
bagaimana
cara
mengatakannya, yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para
peserta komunikasi itu.
f) Komunikasi Massa Bersifat Satu Arah
Selain ada ciri yang merupakan keunggulan komunikasi massa
dibandingkan dengan komunikasi lainnya, ada juga ciri komunikasi massa
yang merupakan kelemahannya.12 Karena komunikasinnya melalui media
massa, maka komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan
kontak langsung. Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikanpun
aktif menerima pesan, namun diantara keduannya tidak dapat melakukan
dialong sebagaimana
halnya terjadi dalam komunikasi antarpesonal.
Dengan kata lain, komunikasi massa itu bersifat satu arah.
g) Stimulasi Alat Indra Terbatas
Ciri
komunikasi
lainnya
yang
dapat
dianggap
salah
satu
kelemahannya, adalah stimulasi alat indera yang terbatas. Pada
komunikasi antarpersonal yang bersifat tatap muka, maka seluruh alat
indera pelaku komunikasi, komunikator dan komunikan dapat digunakan
secara maksimal. Kedua belah pihak dapat melihat, mendengar secara
langsung, bahkan mungkin merasa.
h) Umpan Balik Tertunda (delayed) dan Tidak Langsung (Indirect)
12
Ibid. Hal 11
15
Komponen umpan balik atau yang lebih populer dengan sebutan
feedback
merupakan
faktor penting dalam proses komunikasi
antarpersonal, komunikasi kelompok, dan komunikasi massa. Efektivitas
komunikasi seringkali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan oleh
komunikan.
Kesimpulan
Dengan demikian menurut penulis media massa merupakan jenis komunikasi
yang menggunakan alat-alat yang kita ketahui dengan sebutan media massa, radio,
film, dll. Dimana media tersebut seperti film bisa sangat cepat tersebar luas oleh para
audience karena adanya saluran media massa tersebut.
1.2
Media Massa
Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari
“medium” yang secara harfiah berarti “perantara” atau pengantar” yaitu perantara
atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Menurut Boyer et al, dalam
pointsoft Dictionaire de la langue Francaise (2011) “media est tput support de
diffusion de I’information presse, cinema, radio, televisi et publicit”. Dengan kata
lain, media adalah semua benda yang berfungsi sebagai alat penyiaran atau
16
penyebaran informasi seperti pers, film, radio, televisi, dan iklan. Sejalan dengan
pendapat Boyer.13
1.2.1
Klasifikasi Media
Klasifikasi media berdasarkan adanya 3 ciri yaitu suara (audio),
bentuk (visual), dan gerak (motion). Wibowo dan mukti (1992:270) membagi
media sebagai berikut:14
1. Media audio seperti radio dan tape recorder
2. Media visual seperti foto, ilustrasi, flash card, overhead projector
3. Media proyeksi diam seperti bingkai (slide), film rangkai (film strip),
transparasi, proyektor tak tembus pandang (opque projector)
4. Media grafis seperti grafik, bagan, diagram, sketsa, poster, gambar
kartun, peta dan globe.
5. Media audiovisual seperti televisi, film, dan video
Kesimpulan
Dengan demikian menurut penulis media masaa merupakan alat untuk
penyebaran suatu informasi berupa film, radio, iklan, dll.
13
http://id.wikipedia.org//wiki/media. Diakses pada tanggal 25 Maret 2015 pkl 13.00
http://repository.upi.edu/s_c0751_045412_chapter2.pdf. D iakses pada 25 Maret 2015
13.25
14
17
1.3
Film
Industri film sendiri merupakan industry bisnis yang menggeser anggapan
orang yang masih meyakini bahwa film adalah karya seni, yang diproduksi kreatif
dan memenuhi imajinasi orang-orang yang bertujuan memperoleh estetika
(keindahan yang sempurna). Film adalah bentuk dominan dari komunikasi massa
visual di belahan bumi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, film adalah
selaput tipis yang dibuat dari selluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan
dibuat potret) atau tempat gambar positif (yang akan dimainkan di bioskop).
UU 8/1992 pasal 1 menyatakan definisi film yang dituliskan Nawiroh Vera
dalam buku Pengantar Komunikasi Massa, adalah :
Sebuah karya seni dan budaya yang merupakan salah satu media
komunikasi massa audio dan visual yang dibuat atas asas sinematografi yang
direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan bahan hasil penemuan
teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis dan ukuran melalui proses kimiawi,
proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat
dipertunjukan dan ditayangkan dengan system proyeki mekanik, elektronik dan
sistem lainnya.15
15
Nawiroh Vera. Pengantar Komunikasi Massa. Renata Pratama Media. Jakarta. 2010. Hal
80
18
Semula kata movies berasal dari kata move, gambar bergerak atau gambar
hidup. Menurut Onong Uchyana Effendi, film merupakan medium komunikasi
yang ampuh, bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan dan
pendidikan. Film merupakan salah satu media massa yang efektif dalam
penyebaran ide dan gagasan menjadi sebuah informasi.16
1.3.1
Jenis Film
1. Film Cerita
Film yang mengandung suatu cerita yang lazim dipertunjukan
digedung-gedung bioskop dengan bintang film tenar dan film ini
didistribusikan sebagai barang dagangan. Film cerita berdasarkan
lama ceritanya terbagi menjadi film cerita pendek dan film cerita
panjang. Film cerita pendek merupakan film yang memiliki durasi
cerita biasanya dibawah 60 menit. Sedangkan film cerita panjang
merupakan film yang berdurasi lebih dari 60 menit. Cerita yang
diangkat menjadi topik film bisa berupa cerita fiktif atau
berdasarkan kisah nyata yang dimodifikasi, sehingga ada unsur
menarik, baik dari jalan ceritanya maupun dari segi gambar yang
artistik.
2. Film Berita
16
Onong Uchyana Effendy. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Citra Aditya
Bakti. 2003. Hal 209
19
Film mengenai fakta, peristiwa yang benar-benar terjadi dan
mengandung nilai berita. Kriteria dari berita adalah penting dan
menarik. Dan yang terpenting dalam film berita adalah peristiwa
yang terekam secara utuh.
3. Film Dokumenter
Film yang menyajikan realita melalui berbagai macam cara
untuk berbagai macam tujuan. Film dokumenter tidak lepas dari
tujuan penyebaran informasi, pendidikan, dan propaganda bagi
orang atau kelompok tertentu.
4. Film Kartun
Film yang diproduksi untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Tujuan
utama dari film kartun adalah untuk menghibur. Walaupun tujuan
utamanya adalah untuk menghibur, tapi terdapat pula film-film
kartun yang mengandung unsur - unsur pendidikan didalamnya.17
1.3.2
Film Sebagai Media Massa
Film bermula pada akhir abad ke – 19 sebagai teknologi baru, tetapi
konten dan fungsi yang di tawarkan masih sangat jarang. Film kemudian
berubah menjadi alat presentasi dan distribusi dan tradisi hiburan yang
lebih tua, menawarkn cerita, panggung, musik, drama, humor, dan trik
17
Ibid. Hal 210
20
teknis bagi konsumsi popular. Sebagai media massa, film merupakan
bagian dari respons terhadap penemuan waktu luang, waktu libur dari
kerja, dan sebuah jawaban atas tuntutan untuk cara menghabiskan waktu
luang keluarga yang sifatnya terjangkau dan (biasanya) terhormat.
Industri film yang semakin maju berkembang menjadikan media ini
semakin digemari oleh masyarakat, karena dapat menjadi hiburan dan
penyalur hobi bagi orang-orang tertentu. Melalui film, khalayak dapat
mengkonsumsi informasi dan pesan dengan lebih mendalam karena film
tergolong media audio dan visual. Film merupakan media yang dapat
merefleksikan realitas atau bahkan menciptakan realitas. Film dapat
disebut sebagai media massa karena sebuah film diproduksi oleh sebuah
lembaga (production house). Dalam Film komunikasi yang terjadi
merupakan komunikasi satu arah yang disampaikan kepada penonton.
Film juga menghasilkan umpan balik yang tertunda. Serta film disajikan
kepada masyarakat yang luas, heterogen, yang tersebar dan dalam waktu
yang hampir bersamaan. Ciri-ciri dalam film itu merupakan ciri-ciri yang
dimiliki media komunikasi massa.18
Kesimpulan
18
https://ratnami2.wordpress.com/unsur-unsur-pokok-film/
21
Dengan demikian menurut penulis film adalah suatu ide kreatif yang
menghasilkan karya yang sudah diproduksi dalam sebuah film. Bergantung kepada
ide-ide kreatif yang membuat film seperti, film pendek, film cerita, film kartun, dll.
1.4
Ekspresi Emosional
Ekspresi (emotional expression) Didefinisikan sebagai kecenderungan untuk
mengungkapkan perasaan yang sedang dirasakannya kepada orang lain. Ungkapan
sifat ini “ketika saya marah, semua orang disekeliling saya tahu bahwa saya sedanf
marah; saya selalu mengekspresikan apa yang saya rasakan kepada orang lain atau
sekitar saya; atau saya tidak mampu menahan atau menyembunyikan emosi yang
sedang saya rasakan”.
Menurut Daniel Goleman (2002:411) emosi merujuk pada suatu perasaan
dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian
kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk
bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan
dalam diri individu.19 Emosi dalam makna paling harfiah didefinisikan sebagai
setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu dari setiap keadaan mental
yang hebat atau meluap-luap. Sebagai contoh emosi genbira mendorong perubahan
19
Triantoro Safari dan Nofrans Eka Putra. Manajemen Emosi. Bumi Aksara: Jakarta. 2009.
Hal 12
22
suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih
mendorong seorang berprilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi,
emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi
dapat merupakan motivator prilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat
mengganggu perilaku intensional manusia (Prawitasari,1995).Beberapa tokoh
mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut
Descrates, emosi terbagi atas : Deesire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka),
wonder (heran), love (cinta) dan joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson
mengemukakan tiga macam emosi, yaitu: fear (ketakutan), rage (kemarahan), love
(cinta).20
Menurut pandangan teori kognitif, emosi lebih banyak ditentukan oleh hasil
interpretasi kita terhadap peristiwa. Kita bisa memandang dan menginterpretasikan
sebuah peristiwa dalam persepsi atau penilai negatif, tidak menyenangkan,
menyengsarakan, menjengkelkan, mengecewakan atau sebaliknya dalam persepsi
yang lebih positif seperti sebuah kewajaran, hal yang indah, sesuatu yang
mengharukan, atau membahagiakan.
Interpretasi yang kita buat peristiwa
mengkondisikan dan membentuk perubahan fisiologis kita secara internal.21
20
http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/. Diakses pada tanggal 25 Maret 2015 pkl
19.53
21
Triantoro Safari dan Nofrans Eka Putra. Manajemen Emosi. Bumi Aksara: Jakarta. 2009.
Hal 14-15
23
1.4.1
Macam-Macam Emosi
Daniel Goleman (dalamMakmun, 2003) mengemukakan beberapa
macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan pendapat tokoh lainnya,
yaitu:22
a. Amarah : Beringah, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus
asa
c. Rasa takut : Cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali,
waspada, tidak tenang, ngeri
d. Kenikmatan : Bahagia, gembira, riang, puas, senang, terhibur, bangga
e. Cinta : Penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat,
bakti, hormat dan kemesraan
f. Terkejut : Terkesiap, terkejut
g. Jengkel : Hina, jijik, muak, mual, tidak suka
h. Malu : Malu hati, kesal
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman
pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu
mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap
stimulus yang ada.
Penelitian Gohm dan Clore (2002) menjalankan empat sifat laten pengalaman
22
Makmun, Abin.B, Psikologi Pendidikan. PT Rosda Karya Remaja: Bandung. 2003. Hal 65
24
emosional ketika kita sedang berada dalam sebuah suasana emosi tertentu.23
1. Kejelasan (emotional clarity), Dijabarkan sebagai kemampuam seseorang
dalam mengidentifikasikan dan membedakan emosi spesifik yang bisa
dirasakan. Contoh ungkapan “saya sulit menamakan emosi yang sedang saya
rasakan, saya selalu mampu menamakan tiap emosi yang sedang saya
rasakan, atau saya mampu mengetahui secara tepat tiap emosi yang sedang
saya rasakan”.
2. Intensitas (emotional intensity). Diartikan seberapa kuat atau besar intensitas
emosi spesifik yang dapat dirasakannya. Contoh ungkapan “ketika saya
merasakan bahagia, saya seperti berada diatas awan, ketika saya merasakan
kebahagiaan, saya merasa seperti dipenuhi oleh energy kebahagiaan yang tak
terkira; atau ketika saya berhasil dalam suatu pekerjaan, reaksi saya biasa
saja, tenang dan diam”.
3. Perhatian (emotional attention). Dijelaskan sebagai kecenderungan seseorang
untuk mampu memahami, menilai dan menghargai emosi spesifik yang
sedang dirasakannya. Contoh ungkapan “saya memerhatikan secara penuh
bagaimana saya merasakan sesuatu, atau saya percaya untuk mengikuti kata
hati saya”.
4. Ekspresi (emotional expression). Didefinisikan sebagai kecenderungan untuk
mengungkapkan perasaan yang sedang dirasakannya kepada orang lain.
23
Triantoro Safari dan Nofrans Eka Putra. Manajemen Emosi. Bumi Aksara: Jakarta. 2009.
Hal 17-18
25
Ungkapan sifat ini “ketika saya marah, semua orang disekeliling saya tahu
bahwa saya sedanf marah; saya selalu mengekspresikan apa yang saya
rasakan kepada orang lain atau sekitar saya; atau saya tidak mampu
menahan atau menyembunyikan emosi yang sedang saya rasakan”.
1.4.2
Ciri-Ciri Emosi
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri – ciri
sebagai berikut24:
a.
Lebih bersifat subyektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti
pengamatan dan berpikir
b.
Bersifat fluktuatis (tidak tepat)
c.
Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera
Menurut Planalp (Retnowati, dkk, 2003) pengungkapan emosi terdiri
atas aspek – aspek berikut25:
1. Isyarat raut muka, misalnya menangis ketika sedih.
2. Isyarat gerak (gesture), misalnya merangkul bahu sahabat sebagai ungkapan
rasa sayang.
24
Makmun, Abin.B, Psikologi Pendidikan. PT Rosda Karya Remaja: Bandung. 2003. Hal 67
Triantoro Safari dan Nofrans Eka Putra. Manajemen Emosi. Bumi Aksara: Jakarta. 2009.
Hal 83
25
26
3. Pengungkapan kata-kata, misalnya menggerutu ketika menemui teman yang
mengingkari janji.
4. Kontrol, misalnya memikirkan waktu yang tepat untuk mengungkapkan
kemarahan kepada teman.
Kesimpulan
Dengan demikian menurut penulis ekspresi emosional itu sangat penting di
dalam sebuah karya film, karena dari peran ekspresi emosional lah yang membuat
audience semakin penasaran dengan film tersebut, hingga bisa sampai membuat para
audience terbawa perasaan dengan suatu film yang kita lihat.
1.5
Analisis Semiotika Charles Sanders Pierce
Semiotik sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia
sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan “tanda”.
Dengan demikian semiotik mempelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda.
Umberto Eco menyebutkan tanda tersebut sebagai “kebohongan” (Gottdiener, 1995,
dalam Listiorin, 1999) dalam tanda ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya dan
bukan merupakan tanda itu sendiri. Menurut Saussure, persepsi dan pandangan kita
tentang realitas, diskontruksikan oleh kata-kata dan tanda-tanda lain yang cukup
mengejutkan dan dianggap revolusioner, karena hal itu berarti tanda membentuk
persepsi manusia, lebih dari sekedar merefleksikan realitas yang ada (Bignell, 1997,
dalam listiorini, 1999). Itu pula yang memunculkan pendapat Paul Watson, salah
seorang pendiri Greenpeace, tentang prilaku media massa. Menurutnya, konsep
27
kebeneran yang dianut oleh media massa bukanlah kebenaran sejati. Tetapi suatu
yang dianggap masyarakat sebagai kebenaran.
Secara etimologis istilah semiotik berasal dari kata yunani semeion yang
berarti “tanda”. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai suatu yang berdasarkan
konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap melalui sesuatu yang
lain dalam batasan tertentu.26
Semiotik adalah studi mengenai tanda, atau cara-cara tanda di gunakan dalam
menafsirkan peristiwa-peristiwa. Semiotik melihat pada cara pesan yang disusun,
jenis-jenistanda yang digunakan, dan makna dari tanda-tanda yang di maksudkan
dan dipahami oleh produsen serta konsumen. Pendeknya semiotik adalah alat untuk
menganalisis apa makna isi pesan media.27
Secara singkat kita dapat menyatakan bahwa analisis semiotik (semiotical
analysis) merupakan cara atau metode untuk menganalisis dan memberikan maknamakna terhadap lambang-lambang atau teks. Teks yang dimaksud dalam hubungan
ini adalah segala bentuk serta system lambing (signs) baik yang terdapat pada
media massa (seperti berbagai paket tayangan televisi, karikatur media cetak, film,
sandiwara radio dan berbagai bentuk iklan) maupun yang terdapat pada media
massa (seperti karya tulis, patung, candi, monument, fashion show dan menu
masakan food festival). Urusan analisis semiotik adalah melacak makna-makna
26
Alex Sobur, Analisis Teks Media, Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik, Dan Analisis Framing.
27
Pawito. Penelitian komunikasi kualitatif. Yogyakarta : LKS Yogyakarta, 2007, hlm 155156
28
yang diangkut dengan teks berupa lambing-lambang (signs).dengan kata lain
pemaknaan terhadap lambang-lambang dalam tekslah yang menjadi pusat perhatian
analisis semiotik. Pusat dari konsentrasi ini adalah tanda. Kajian mengenai tanda
dan cara tanda-tanda tersebut bekerja disebut semiotik dan kajian ini akan
menyediakan fokus alternatif di dalam buku ini. Semiotika bagaimana kita
menyebutnya memiliki tiga wilayah kajian:
1.
Tanda itu sendiri, ilayah itu mengkaji berbagai jenis tanda berbeda,
cara-cara berbeda dari tanda-tanda tersebut berhubungan dengan
orang yang menggunakannya. Tanda adalah konstruksi manusia
dan hanya bisa dipahami dalam kerangka penggunaan/konteks
orang-orang yang menempatkan tanda-tanda tersebut.
2.
Kode-kode atau sistem dimana tanda-tanda diorganisasi. Kajian
melingkupi bagaimana beragam kode telah dikembangkan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat atau budaya, atau untuk
mengeksploitasi saluran-saluran komunikasi yang tersedia bagi
pengirim kode-kode tersebut.
3.
Budaya tempat dimana kode-kode dan tanda-tanda beroperasi. Hal
ini pada gilirannya bergantung pada penggunaan dari kode-kode
dan tanda-tanda untuk eksistensi dan bentuknya sendiri.
Dalam teori yang digunakan penulis menggunakan teori Charles Sanders Peirce.
Semiotik untuk media massa ternyata tak hanya terbatas sebagai kerangka teori,
29
namun sekaligus juga bisa sebagai metode analisis. Kita, misalnya, dapat
menjadikan teori segi tiga makna (triangle meaning) peirce yang terdiri atas sign
(tanda), object (objek), dan interpretant (interpretant). Menurut peirce, salah satu
bentuk tanda adalah kata. Sedangkan objek adalah suatu yang dirujuk tanda,
Sementara interpretan adalah tanda yang ada dalam bentuk seseorang tentang objek
yang di rujuk sebuah tanda. Apabila ketiga elemen makna itu berinteraksi dalam
benak seseorang, maka muncullah makna tentang sesuatu yang di wakili oleh tanda
tersebut. Yang dikupas teori segitiga makna adalah persoalan bagaimana makna
muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang pada waktu
berkomunikasi. Hubungan segitiga makna peirce lazimnya ditampilkan sebagai
tampak dalam gambar berikut.28
Gambar 1 : Elemen Makna Peirce
Interpretant
Representement
Objek
Sebuah tanda atau representamen menurut Charles Peirce adalah yang
bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas.
28
Alex sobur, op.cit, Hal 115
30
Sesuatu yang lain itu oleh Peirce di sebut
interpretant , dinamakan sebagai
interpretant dari tanda yang pertama, pada gilirannya akan mengacu pada objek
tertentu. Dengan demikian menurut Peirce sebuah tanda atau representamen
memiliki relasi ‘triadik’ langsung dengan interpretan dan objeknya. Apa yang
dimaksud dengan proses ‘semiosis’ merupakan suatu proses yang memadukan
entitas (berupa representamen) dengan entitas lain yang disebut sebagai objek.
Proses ini oleh Peirce disebut sebagai signifikasi.29
1. Tanda (Representment) adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang
dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu
yang merujuk hal lain diluar tanda itu sendiri.
2. Objek (Acuan Tanda) adalah konteks social yang menjadi referensi
dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.
3. Makna (Interpretant) adalah konsep pemikiran dari orang yang
menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau
makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk
sebuah tanda.
Berdasarkan objeknya, Peirce membagi tanda atas icon (ikon), index (indeks),
dan symbol (simbol). Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan
petandanya bersifat bersamaan bentuk ilmiah. Atau dengan kata lain, ikon adalah
hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan; misalnya, potret
dan peta. Indeks adalah tanda yang menunjukan adanuya hubungan alamiah antara
29
Dadan Rusmana, M.Ag. Filsafat Semiotika, Bandung, CV Pustaka Setia, 2014, Hal:39
31
tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang
langsung mengacu pada kenyataan. Contoh yang paling jelas ialah asap sebagai tanda
adanya api. Tanda dapat pula mengacu ke denotatum melalui konvensi.
Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut dengan
simbol. Jadi tanda adalah yang menunjukan hubungan alamiah antara penanda
dengan petandanya. Hubungannya diantaranya bersifat arbiter atau semena, hubungan
berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat. Berdasarkan interpretant, tanda (sign,
representement) dibagi atas rheme, dicent sign, atau dicisign dan argument. Rheme
adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan misalnya,
orang yang mata nya merah bisa saja itu menandakan bahwa orang itu baru saja
menangis, atau menderita penyakit mata, atau mata di masuki insekta, atau baru
bangun, atau ingin tidur. Dicent sign atau dicisign adalah tanda sesuai kenyataan.
Misalnya, jika ada suatu jalan yang sering terjadi kecelakaan, maka di tepi jalan
dipasang rambu lalu lintas yang menyatakan bahwa disitu sering terjadi kecelakaan.
Argument adalah tanda yang langsung memberikan alas an tentang sesuatu.30
Berdasarkan berbagai klasifikasi tersebut, Peirce membagi tanda menjadi
sepuluh jenis:31
1.
Qualisign, yakni kualitas sejauh yang dimiliki tanda. Kata keras menunjukkan
kualitas tanda. Misalnya, suaranya keras yang menandakan orang itu marah atau
ada sesuatu yang diinginkan.
30
31
Drs, Alex Sobur, Semiotika Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya, Bandung Hal 41
Ibid. Hal 42-43
32
2.
Iconic Sinsign, yakni tanda yang memperlihatkan kemiripan. Contoh: foto,
diagram, peta, dan tanda baca.
3.
Rhematic Indexical Sinsign, yakni tanda berdasarkan pengalaman langsung, yang
secara langsung menarik perhatian karena kehadirannya disebabkan oleh sesuatu.
Contoh: pantai yang sering merenggut nyawa orang yang mandi di situ akan
dipasang bendera bergambar tengkorak yang bermakna berbahaya, dilarang
mandi di sini.
4.
Dicent Sinsign, yakni tanda yang memberikan informasi tentang sesuatu.
Misalnya, tanda larangan yang terdapat di pintu masuk sebuah kantor.
5.
Iconic Legisign, yakni tanda yang menginformasikan norma atau hukum.
Misalnya, rambu lalu lintas.
6.
Rhematic Indexical Legisign, yakni tanda yang mengacu kepada objek tertentu,
misalnya kata ganti penunjuk. Seseorang bertanya, “Mana buku itu?” dan
dijawab, “Itu!”
7.
Dicent Indexical Legisign, yakni tanda yang bermakna informasi dan menunjuk
subjek informasi. Tanda berupa lampu merah yang berputar-putar di atas mobil
ambulans menandakan ada orang sakit atau orang yang celaka yang tengah
dilarikan ke rumah sakit.
8.
Rhematic Symbol atau Symbolic Rheme, yakni tanda yang dihubungkan dengan
objeknya melalui asosiasi ide umum. Misalnya, kita melihat gambar harimau.
Lantas kita katakan, harimau. Mengapa kita katakan demikian, karena ada
33
asosiasi antara gambar dengan benda atau hewan yang kita lihat yang namanya
harimau.
9.
Dicent Symbol atau proposition (proposisi), adalah tanda yang langsung
menghubungkan dengan objek melalui asosiasi dalam otak. Kalau seseorang
berkata, “Pergi!” penafsiran kita langsung berasosiasi pada otak, dan sertamerta
kita pergi. Padahal proposisi yang kita dengar hanya kata. Kata-kata yang kita
gunakan membentuk kalimat, semuanya adalah proposisi yang mengandung
makna yang berasosiasi di dalam otak. Otak secara otomatis dan cepat
menafsirkan proposisi itu, dan seseorang segera menetapkan pilihan atau sikap.
10. Argument, yakni tanda yang merupakan iferens seseorang terhadap sesuatu
berdasarkan alasan tertentu. Seseorang berkata, “Gelap” Orang itu berkata gelap
sebab ia menilai ruang itu cocok dikatakan gelap. Dengan demikian argumen
merupakan tanda yang berisi penilaian atau alasan, mengapa seseorang berkata
begitu. Tentu saja penilaian tersebut mengandung kebenaran.
Kesimpulan
Dengan demikian menurut penulis dalam penelitian Semiotika Charles
Sanders Pierce yaitu, di dalam penelitian ini harus jelas dimanakah yang disebut
tanda, objek dan interpretant. Serta di dalamnya terbagi lagi yang disebut dengan
jenis tanda seperti; Qualisign, iconic sinsign, rhematic indexical sinsign, dicent
sinsign, iconic legisign, rhematic indexical legisign, dicent indexical legisign,
rhematic symbol atau symbolic rheme, dicent symbol atau proposition dan argument.
34
Berikut adalah bentuk penyederhanaan kerangka kerja analisis semiotika
Charles Sander Peirce:
Table 1: kerangka kerja analisis semiotika Charles Sander Peirce:
Representment
Deskripsi RUPA TANDA ,
Deskripsi keberadaan tanda
dengan memperlihatkan
kategori tanda dan kualitas
tanda, Qualisign, Sinsign, atau
Legisign.
Qualisign, yakni kualitas
sejauh yang dimiliki tanda. Kata
cantik menunjukkan kualitas
tanda.misalnya, objek wanita
yang ada pada foto
menggunakan make up dan
costume bagus menandakan
orang itu cantik dari segi
penampilan .
Sinsign, yakni tanda yang
memeperlihatkan kemiripan
contoh: foto, diagram, peta, dan
tanda baca
Legisign, yakni tanda yang
menginformasikan norma atau
hukum. Misalnya, rambu lalu
lintas.
32
Objek
Interpretant
Deskripsi ACUAN TANDA
Deskripsi MAKNA TANDA
dengan menghubungkan rupa
dengan memperhatikan rupa
tanda dan acuan tanda, serta
tanda dan acuan tanda, serta
memperlihatkan kategori
memperlihatkan kualitas
tanda, Icon, Index, atau
makna Rheme, Dicisign, atau
Symbol
Argument
Icon hubungan representement
Rheme , yakni tanda yang
dan object yang memiliki
mengacu kepada objek
keserupaan atau “tiruan tak
tertentu, misalnya kata ganti
serupa” dengan bentuk objek
penunjuk. Seseorang bertanya,
Indeks hubungan
“ Mana buku itu?” dan di
representement dan object
jawab “Itu!”
yang terjadi karena terdapat
Dicisign, yakni tanda yang
keterkaitan atau hubungan
memeberikan informasi
kausal antara dasar dan
tentangsesuatu. Misalnya,
objeknya.
tanda larangan yang terdapat di
Symbol atau tanda sebenernya
pintu masuk sebuah kantor.
hubungan representement dan Argument, yakni tanda yang
object yang terbentuk karena
berupa iferens seseorang
32
adanya konvens
terhadap sesuatu berdasarkan
alasan tertentu.
Dadan Rusmana, M.Ag. Filsafat Semiotika, Bandung, CV Pustaka Setia, 2014, Hal: 110
Download