laporan praktek farmakoterapi sistem endokrin, reproduksi

advertisement
LAPORAN PRAKTEK FARMAKOTERAPI
SISTEM ENDOKRIN, REPRODUKSI, DAN SIRKULASI
(DEF 4274T)
SEMESTER GENAP
DISUSUN OLEH KELOMPOK A3
ANGGOTA :
Intan Retno Palupi
(135070501111015)
Kana Afidatul Husna
(135070501111023)
Karina Azhari
(135070501111017)
Maria Catur Natalia
(135070500111001)
Meylinda Kartika Sari
(135070501111019)
Mia Nur Diana
(135070501111029)
Mochtaromi Tri Yanto
(135070501111005)
Mustaqim Prayogi
(135070501111019)
Putu Mita Anggraini
(135070501111001)
Retno Pratiwi
(135070500111011)
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
TA 2015/2016
GLAUCOMA
1. DEFINISI
Glaucoma merupakan kerusakan yang dialami mata
karena adanya kerusakan syaraf optik, dan ditandai
dengan menurunnya sensitivitas pandangan dan lapang
pandang
menurun
pula.
Kriteria
khusus
glaucoma
adalah peningkatan tekanan intraocular (Intraocular
Pressure/ IOP) dimana menjadi patogenesis terjadinya
glaucoma.
Terdapat
dua
kriteria
glaucoma,
yaitu
glaucoma sudut terbuka dan glaucoma sudut tertutup.
Tipe lainnya dibedakan menjadi primer, sekunder, dan
kongenital.
Glaucoma
primer
dan
sekunder
dapat
disebabkan karena kombinasi mekanisme sudut terbuka
dan sudut tertutup (Dipiro, et al, 2008).
Glaucoma
primer
adalah
glaucoma
yang
tidak
diketahui penyebabnya. Glaucoma primer sudut terbuka
(primary open angle glaucoma) biasanya merupakan
glaucoma kronis, sedangkan glaucoma primer sudut
tertutup (primary angle closure glaucoma) bisa berupa
glaucoma sudut tertutup akut atau kronis. Glaucoma
sekunder adalah glaucoma yang timbul sebagai akibat
dari
penyakit
mata
lain,
trauma,
pembedahan,
penggunaan
kortikosterois
yang
berlebihan
atau
penyakit sistemik lainnya. Glaucoma kongenital adalah
glaucoma yang ditemuka sejak lahir, dan biasanya
disebabkan oleh sistem saluran pembuangan di mata
tidak berfungsi dengan baik sehingga menyebabkan
pembesaran mata bayi. Di samping itu glaucoma
dengan kebutaan total disebut juga sebagai glaucoma
absolut (Sari, et al, 2016).
2. EPIDEMIOLOGI
Glaukoma
adalah
penyebab
kebutaan
kedua
terbesar di dunia setelah katarak. DiAmerika Serikat,
glaukoma terjadi antara 1 dan 40 kali dari 1000
penduduk tergantungetnisnya. Di Indonesia glaukoma
diderita
oleh
3%
dari
total
populasi
penduduk.
Umumnya penderita glaukoma telah berusia lanjut, Pad
a usia diatas 50 tahun, tingkat resiko penderitaglaukom
a meningkat sekitar 10%. Hampir separuh penderita
glaukoma
tidak
menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut.
Menurut data dari WHO pada tahun
kebutaan
paling
katarak (47,8%),
age-
related
utama
galukoma
mucular
2002, penyebab
di dunia
(12,3%),
degeneration
adalah
uveitis(10,2%),
(AMD)
(8,7%),
trakhoma (3,6%), corneal apacity(5,1%), dan diabetic
retinopathy (4,8%).
Berdasarkan Survei Kesehatan Indera tahun 19931996 , sebesar 1,5% penduduk Indonesia mengalami
kebutaan dengan pravelensi kebutaan akibat glaucoma
sebesar 0,20%. Prevalensi glaukoma hasil Jakarta Urban
Eye Health Study tahun 2008 adalah glaucoma sudut
tertutup sebesar 1,89%, glaukoma primer sudut terbuka
0,48%
dan
glaukoma
sekunder
0,16%
atau
keseluruhannya 2,53%.Menurut hasil Riset Kesehatan
Dasar tahun 2007, responden yang pernah didiagnosis
glaukoma
oleh
tenaga
kesehatan
sebesar
0,46%,
tertinggi diprovinsi DKI Jakarta (1,85%), berturut-turut
diikuti Provinsi Aceh (1,28%), Kepulauan Riau (1,265),
Sulawesi Tengah (1,21%%), Sumatera Barat (1,14%)
dan terendah di Provinsi Riau (0,04) (Depkes RI,2008).
Gambar 1. Persentase responden yang pernah
didiagnosis glaukoma oleh tenaga kesehatan (Depkes
RI, 2008)
3. ETIOLOGI
Glaukoma sering terjadi pada umur diatas 40 tahun.
Beberapa
penyebab
terjadi
glaukoma
antara
lain
adanya penyakit hipertensi, penyakit diabetes dan
penyakit sistemik lainnya, kelainan refraksi berupa
miopi dan hipermetropi, selain itu ras tertentu, tekanan
bola tinggi, miopi (rabun jauh), hipertensi, migrain atau
penyemiptan pembuluh darah otak (sirkulasi buruk),
kecelakaan
atau
operasi
pada
mata
sebelumnya,
menggunakan steroid (cortisone) dalam jangka waktu
lama (Faradilla,2009).
Penyebab glaukoma tergantung pada jenis glukoma
yang yang diderita. Tidak semua glaukoma diketahui
penyebabnya.
Berdasarkan
ada
atau
tidaknya
penyebab, glaukoma dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu
glaukoma
primer
dan
glaukoma
sekunder.
Glaukoma primer yaitu jenis glaukoma yang diturunkan
dan tidak diketahui sebabnya, glaukoma sekunder yaitu
jenis glaukoma yang tidak diturunkan dan diketahui
penyebabnya. Jika dalam satu keluarga diketahui ada
yang menderta glukoma primer,maka keluarga terdekat
memiliki resiko yang besar untuk menderita glukoma
jenis itu juga. Glaukoma sekunder disebabkan oleh
banyak hal antara lain: trauma mata, peradangan,
diabetes (kencing manis), perdarahan dalam mata,
bahkan katarak juga bisa menyebabkan glaukoma. Jika
kedua jenis glaukoma ini digabung insidennya, maka
penderita glaukoma secara keseluruhan akan lebih
banyak
daripada
yang
diestimasi
oleh
WHO
(Oktariana,2012).
4. PATOFISIOLOGI
Aqueous Humor di produksi oleh badan siliaris dan
mengalir kedalam Camera Oculi Posterior (COP), yang
mengalir di antara permukaan iris posterior dan lensa,
di sekitar tepi pupil, dan selanjutnya masuk ke Camera
Oculi Anterior (COA). Aqueous Humor keluar dari COA
pada sudut COA yang dibentuk oleh dasar iris dan
kornea perifer, selanjutnya mengalir melalui trabekulum
dan
masuk
ke
kanal
Schlemm.
Melalui
collector
channels, humor akuos masuk ke dalam vena episklera
dan bercampur dengan darah. Tekanan intra okuler
(TIO)
merupakan
keseimbangan
antara
kecepatan
pembentukan Aqueous Humor dengan resistensi aliran
kasus keluarnya dari COA.pada sebagian besar kasus
gloukoma,
lebih
banyak
disebabkan
karena
abnormalitas aliran keluar Aqueous Humor dari COA
dibandingkan peningkatan produksi Aqueous Humor
(Dipiro et al., 2008).
Patofisiologi dari glaukoma sudut tertutup dengan
block pupil meliputi faktor-faktor yaitu aposisi lensa dan
iris yang mengakibatkan pencembungan iris perifer dan
predisposisi anatomi mata yang menyebabkan bagian
anterior
iris
perifer
menyumbat
trabekulum.
Patofisiologi glaukoma sudut tertutup tanpa block pupil
terjadi
melalui
penarikan
2
mekanisme
anterior
dan
yaitu
posterior.
mekanisme
Pada
penarikan
anterior, iris perifer ditarik kearah depan menutup
trabekulum
karena
kontraksi
membrane
eksudat
inflamasi atau serat fibrin. Pada mekanisme penarikan
posterior iris perifer mencembung kearah depan karena
lensa vitreus atau badan siliaris. Kerusakan saraf optik
di
POAG
dapat
terjadi
pada
berbagai
tekanan
intraokular, dan laju perkembangan adalah sangat
bervariasi.
Pasien
mungkin
menunjukkan
tekanan
dalam 20 sampai 30 mmHg selama bertahun-tahun
sebelum perkembangan penyakit adalah melihat di
optik disk atau bidang visual. Itulah sebabnya glaukoma
sudut terbuka sering disebut sebagai “sneak thief of
sight” (Diwindra, 2009).
Patofisiologi pada glaucoma close angel respon
melalui mekanisme TIO elevasi di CAG lebih jelas
daripada
POAG.
Dalam
CAGterjadi
penyumbatan
trabecular meshwork . dalam kebanyakan kasus yang
membahayakan
nilai
IOP
tinggi
(>
40
mm
Hg)
mengakibatkan kerusakan saraf optik. IOP sangat tinggi
(>
60
mm
Hg)
permanen
dapat
mengakibatkan
bidang
kerugian
visual
dalam
hitungan jam hingga hari. Salah satu jenis CAG, yang
dikenal sebagai " creeping " sudut tertutup, terjadi pada
pasien dengan sudut sempit yang dapat mengakibatkan
terus meningkat sehingga drajat penglihatan pasien
semakin hari akan semakin berkurang (Dipiro et al.,
2008).
5. TERAPI NON-FARMAKOLOG
Penatalaksanaan
terapi
berdasarkan
American
Academy Of Ophthalmology (2004)
1. Terapi medikamentosa:
1.1. Agen osmotik
1.2. Karbonik anhidrase inhibitor
1.3. Miotik kuat
1.4. Beta-bloker
1.5. Apraklonidin
2. Observasi respon terapi:
2.1.
Monitor ketajaman visus, edema kornea, dan
ukuran pupil.
2.2. Ukur tekanan intraokular setiap 15 menit.
2.3. Periksa sudut dengan gonioskopi.
3. Parasintesis
4. Bedah Laser:
4.1. Laser iridektomi
4.2 Laser iridoplasti
5. Bedah insisi
5.1. iridektomi bedah insisi
5.2. Trabekulektomi
6. Ekstraksi lensa
7. Tindakan profilaksis
5.1 Observasi respon terapi
Merupakan periode penting untuk melihat respon
terapi yang dapat menyelamatkan visus penderita,
sehingga keputusan harus segera dibuat (paling kurang
dalam 2 jam setelah mendapat terapi medika mentosa
intensif), untuk tindakan selanjutnya, observasinya
meliputi:
1. Monitor ketajaman visus, edema kornea dan
ukuran pupil.
2.Ukur tekanan intraokular setiap 15 menit ( yang
terbaik dengan tonometer aplanasi).
3.Periksa sudut dengan gonioskopi, terutama
apabila tekanan intraokularnya sudah turun dan
kornea sudah mulai jernih.
Pada masa observasi ini yang dilihat adalah respon
terapi. Respon terapi bisa baik, jelek, ataupun sedang.
Bila respon terapi baik, maka akan terjadi perbaikan
visus, kornea menjadi jernih, pupil kontriksi, tekanan
intraokular menurun, dan sudutnya terbuka kembali.
Pada keadaan ini dapat dilakukan tindakan selanjutnya
dengan
laser
iridektomi.
Jika
respon
terapinya
jelek,akan didapatkan visus yang tetap jelek, kornea
tetap edema, pupil dilatasi dan terfiksir, tekanan
intraokular tinggi dan
sudutnya tetap tertutup.Pada
kondisi ini dapat dilakukan tindakan selanjutnya dengan
laser iridoplasti. Jika respon terapinya sedang, dimana
didapatkan visus sedikit membaik, kornea agak jernih,
pupilnya tetap dilatasi, tekanan intraokular tetap tinggi
(sekitar
30
mmHg),
sudut
sedikit
terbuka,
pada
keadaan seperti ini penanganannya menjadi sulit.
Pengulangan indentasi gonioskopi dapat dicoba untuk
membuka sudut yang telah tertutup. Bila respon
terhadap tindakan tersebut berhasil, dapat dilanjutkan
dengan laser iridektomi atau alternatif lainnya seperti
laser iridoplasti. Sebelumnya diberikan dahulu tetesan
gliserin
untukmengurangi
edema
kornea
supaya
visualisasinya jelas. Pada keadaan edema kornea sulit
untuk melakukan tindakan laser, karena power laser
terhambat oleh edema kornea sehingga penetrasi laser
ke iris tidak efektif pada keadaan ini dan laser
iridektomi dapat mengalami kegagalan. Jika penetrasi
laser tidak berhasil maka pembukaan sudutyang baik
tidak tercapai (American Academy Of Ophthalmology,
2004).
Menurut Amra (2007), terdapat beberapa terapi
non farmakologi yang dapat diberikan jika nilai IOP
pasien masih tinggi antara lain :
5.2 Parasintesis
Jika pemakaian terapi medikamentosa secara
intensif masih dianggap lambat dalam menurunkan
tekanan intraokular ke tingkat yang aman, dan
kadang-kadang justru setelah pemberian 2 atau 4
jam
masih
tetap
tinggi.
Sekarang
ini
mulai
diperkenalkan cara menurunkan tekanan intraokular
yang cepat dengan tehnik parasintesis, seperti yang
dilaporkan oleh Lamb DS dkk, tahun 2002, yang
merupakan penelitian pendahuluan (pilot study).
Pada 10 mata dari 8 pasien dengan glaucoma akut,
yang
rata-rata
tekanan
intraokular
66,6
mmHg
sebelum tindakan parasintesis. Setelah dilakukan
parasintesis
dengan
mengeluarkan
cairan
akuos
sebanyak 0,05 ml, didapatkan penurunan tekanan
intraokular secara cepat yaitu pada 15 menit setelah
parasintesis tekanan intraokular menjadi sekitar 17,1
mmHg, setelah 30 menit menjadi 21,7 mmHg,
setelah 1 jam 22,7 mmHg, setelah 2 jam atau lebih
20,1 mmHg. Cara ini juga dapat menghilangkan rasa
nyeri dengan segera pada pasien.
5.3 Laser Iridektomi
Iridektomi
glaukoma
sudut
iridektomi
juga
diindikasikan
tertutup
pada
dengan
diindikasikan
keadaan
blok
untuk
pupil,
mencegah
terjadinya blok pupil pada mata yang beresiko, yang
ditetapkan melalui evaluasi gonioskopi. Iridektomi
laser juga dilakukan pada serangan glaukoma akut
dan
pada
mata
kontra-lateral
dengan
potensial
glaucoma akut.
Iridektomi laser tidak dapat dilakukan pada
mata dengan rubeosis iridis, karena dapat terjadi
perdarahan. Resiko perdarahan juga meningkat pada
pasien yang menggunakan anti-koagulan sistemik,
seperti
aspirin.
Argon
laser
lebih
diutamakan
pemakaiannya dari pada Nd:YAG laser pada individu
yang membutuhkan terapi laser iridektomi. Walaupun
laser
iridektomi
tidak
membantu
dalam
kasus
glaukoma sudut tertutup yang bukan disebabkan
oleh mekanisme blok pupil, tetapi kadang-kadang
laser iridektomi perlu dilakukan untuk mencegah
terjadinya blok-pupil pada pasien dengan sudut bilik
mata sempit.
Pada glaukoma sudut tertutup akut, sering
mengalami kesulitan saat melakukan iridektomi laser
karena kornea keruh, sudut bilik mata depan dangkal,
pembengkakan iris. Dokter harus berusaha untuk
menghentikan serangan akut dengan tindakan medis
sebelum melakukan operasi. Sebelum dilakukan laser
harus diberikan terapi inisial gliserin topikal untuk
memperbaiki edema kornea, agar mudah untuk
mempenetrasi
kripta
iris.
Hati-hati
pada
saat
melakukan iridektomi perifer dan jangan terhalang
oleh palpebra. Terapi-awal dengan pilokarpin dapat
membantu melebarkan dan menipiskan iris. Terapiawal
dengan
aproklonidin
dapat
membantu
menurunkan tekanan intraokular.
Pada umumnya iridektomi menggunakan argon
laser, tetapi pada keadaan kongesti, edem dan
inflamasi akibat serangan akut, tehnik ini sulit
dilakukan. Setelah dilakukan indentasi gonioskopi,
kekuatan inisial laser diatur dalam
0,02-0,1 detik,
ukuran tembakan 50 µm, dan kekuatan 800-1000
mW. Biasanya tehnik yang digunakan adalah tehnik
pewarnaan iris. Komplikasi dari argon laser adalah
sinekia
posterior,
katarak
lokal,
meningkatnya
tekanan intraokular (dapat merusak nervus optikus),
iritis, lubang iridektomi lebih cepat tertutup kembali
dan terbakarnya kornea dan retina.
Argon laser dan Nd:YAG laser sama-sama dapat
digunakan
untuk
iridektomi.
Namun,
pemakaian
Nd:YAG laser lebih disukai. Karena lebih cepat, lebih
mudah, dan energi yang dibutuhkan lebih sedikit dari
pada argon laser. Lebih lanjut lagi, keefektifan dari
Nd:YAG laser ini tidak berpengaruh pada keadaan iris
dan lubang iridektomi yang dihasilkan Nd:YAG laser
lebih jarang tertutup kembali dari pada argon laser.
Setelah indentasi gonioskopi, inisial laser diatur 2-8
mJ. Komplikasi yang dapat terjadi adalah terbakarnya
kornea, kapsul anterior lensa robek, perdarahan
(biasanya tidak lama), tekanan intraokular meningkat
setelah operasi, inflamasi dan lubang iridektomi
lambat tertutup kembali. Untuk mencegah kerusakan
lensa,
operator
harus
berhati-hati
pada
saat
mempenetrasi Nd:YAG laser ke iris. Lokasi penetrasi
harus seperifer mungkin.
Perdarahan dapat terjadi di tempat iridektomi,
khususnya pada Nd:YAG laser. Pada perdarahan
ringan dapat diatasi dengan terapi antikoagulasi.
Namun
pada
pasien
yang
mengalami
kelainan
pembekuan darah dapat diatasi dengan argon laser.
Karena argon laser dapat membantu proses koagulasi
pembuluh darah. Peningkatan tekanan intraocular
dapat terjadi setelah operasi, terutama pada pasien
LTP, mereka dapat diobati dengan penatalaksanaan
LTP.
Apabila
terjadi
Inflammasi
maka
dapat
disembuhkan dengan menggunakan kortikosteroid
topikal.
Pada umumnya komplikasi yang sering terjadi
pada laser iridektomi meliputi kerusakan lokal pada
lensa
dan
kornea,
ablasio
retina,
pendarahan,
gangguan visus dan tekanan intraokular meningkat.
Kerusakan
lensa
dapat
dihindari
dengan
cara
menghentikan prosedur dan segera penetrasi iris
untuk
iridektomi lebih ke superior iris perifer.
Ablasio retina sangat jarang, tetapi masih ditemukan
pada prosedur Nd:YAG laser iridektomi.
5.4 Laser Iridoplasti
Merupakan tindakan alternatif jika tekanan
intraokular gagal diturunkan secara intensif dengan
terapi medika mentosa. Bila tekanan intraokularnya
tetap sekitar 40 mmHg, visus jelek, kornea edema
dan pupil tetap dilatasi. Pada laser iridoplasti ini
pangaturannya berbeda dengan pengaturan pada
laser iridektomi. Disini pengaturannya dibuat sesuai
untuk
membakar
berkontraksi,
iris
sehingga
agar
iris
otot
spingter
bergeser
iris
kemudian
sudutpun terbuka. Agar laser iridoplasti berhasil
maka titik tembakan harus besar, powernya rendah
dan
waktunya
lama.
Aturan
yang
digunakan
ukurannya 500 µm (200-500 µm), dengan power 500
mW (400-500 mW), waktunya 0,5 detik (0,3-0,5
detik).
Pada
penelitian
ahli
terhadap
20
mata
penderita glaukoma akut, dari tekanan intraokular
rata-rata
sebelum
iridoplasti
43,2
mmHg
turun
menjadi ratarata 17 mmHg, pada 2 jam setelah
dilakukan iridoplasti laser.
5.5 Bedah Insisi
Iridektomi insisi dilakukan pada pasien yang
tidak berhasil dengan tindakan
laser iridektomi.
Seperti :

Pada
situasi
dengan jelas
iris
tidak
dapat
dilihat
karena edema kornea, hal
ini sering terjadi pada pasien glaukoma
akut berat yang berlangsung 4 – 8
minggu.

Sudut bilik mata depan dangkal, dengan
kontak irido-korneal yang luas.

Pasien yang tidak kooperatif.

Tidak tersedianya peralatan laser.
5.6 Iridektomi Bedah Insisi
Jika iridektomi bedah insisi yang dipilih, maka
pupil
dibuat
semiosis
menggunakan
miotik
mungkin,
tetes
dengan
atau
asetilkolin
intrakamera. Peritomi superior
3 mm, walaupun
beberapa
tidak
ahli
mata
memilih
melakukan
peritomi. Kemudian dilakukan insisi 3 mm pada
korneasklera
1
mm
di
belakang
limbus.
Insisi
dilakukan agar iris prolap. Bibir insisi bagian posterior
ditekan, sehingga iris perifer hampir selalu prolapse
lewat insisi, dan kemudian dilakukan iridektomi. Bibir
insisi bagian posterior ditekan lagi diikuti dengan
reposisi pinggir iridektomi. Luka insisi kornea ditutup
dengan satu jahitan atau lebih, dan bilik mata depan
dibentuk
kembali
dengan
NaCl
0,9%
melalui
parasintesis. Setelah operasi selesi, fluoresen sering
digunakan untuk menetukan ada tidaknya kebocoran
pada bekas insisi. Oleh karena kebocoran dapat
meningkatkan komplikasi seperti bilik mata depan
dangkal.
5.7 Ekstraksi Lensa
Apabila blok pupil jelas terlihat berhubungan
dengan
katarak,
ektraksi
lensa
dapat
dipertimbangkan sebagai prosedur utama. Walaupun
iridektomi laser dapat menghentikan serangan akut
akibat
blok
pupil,
namun
operasi
katarak
baik
dilakukan agar lebih aman untuk waktu yang akan
datang.
6. TERAPI FARMAKOLOGI
6.1. Agen osmotik
Agen ini lebih efektif untuk menurunkan tekanan
intra okular, pemberiannya dianjurkan kepada pasien
yang tidak mengalami emesis. Pemberian anti emetik
dapat membantu mencegah muntah akibat
emesis. Agen osmotik oral pada penggunaannya
tidak boleh diencerkan dengan cairan atau es, agar
osmolaritas dan efisiensinya tidak menurun.
Gliserin, dosis efektif 1 - 1,5 gr/kg BB dalam 50%
cairan. Dapat menurunkan tekanan intraokular dalam
waktu 30-90 menit setelah pemberian, dan dipastikan
agen
ini
bekerja
penggunaannya,
selama
gliserin
5
-
dapat
6
jam.
Selama
menyebabkan
hiperglikemia dan dehidrasi. Hati-hati terhadap pasien
diabetes dan lansia dengan gagal ginjal serta penyakit
kardiovaskular.
Karena
agen
ini
sendiri
dapat
menyebabkan mual dan muntah.
Mannitol, merupakan oral osmotik diuretik kuat yang
dapat memberikan keuntungan dan aman digunakan
pada pasien diabetes karena tidak dimetabolisme.
Dosis yang dianjurkan adalah 1 - 2 gram/kgBB dalam
50% cairan. Puncak efek hipotensif kular terlihat dalam
1 - 3 jam dan berakhir dalam 3-5 jam. Bila intoleransi
gastrik danmual menghalangi penggunaan agen oral,
maka manitol dapat diberikan secara intravena dalam
20% cairan dengan dosis 2 gr/kgBB selama 30 menit.
Mannitol dengan berat melekul yang tinggi, akan lebih
lambat berpenetrasi pada mata sehingga lebih efektif
menurunkan tekanan intraokular. Maksimal penurunan
tekanan dijumpai dalam 1 jam setelah pemberian
manitol intravena.Ureum intravena, merupakan agen
osmotik yang dahulu sering digunakan, mempunyai
berat
melekul
berpenetrasi
mannitol
yang
pada
dalam
rendah.
mata,
Urea
sehingga
menurunkan
lebih
tidak
tekanan
cepat
seefektif
intraokular.
Karena agen ini merupakan salah satu alternatif, maka
penggunaan urea harus dengan pengawasan yang
ketat untuk menghindari komplikasi kardiovaskular.
6.2. Karbonik anhidrase inhibitor
Digunakan untuk menurunkan tekanan intraokular
yang tinggi, dengan menggunakan dosis maksimal
dalam
bentuk
intravena,
oral
atau
topikal.
Asetazolamid,merupakan pilihan yang sangat tepat
untuk
pengobatan
Efeknya
dapat
darurat
pada
menurunkan
glaukoma
tekanan
akut.
dengan
menghambat produksi humour akuos, sehingga sangat
berguna untuk menurunkan tekanan intraokular secara
cepat, yang digunakan secara oral dan intravena.
Asetazolamid dengan dosis inisial 2x250 mg oral, dapat
diberikan
kepada
pasien
yang
tidak
mempunyai
komplikasi lambung. Dosis alternatif intravena 500 mg
bolus, efektifterhadap pasien nousea. Penambahan
dosis maksimal asetazolamid dapat diberikan setelah 46 jam untuk menurunkan tekanan intraokular yang
lebih rendah. Karbonik anhidrase inhibitor topikal dapat
digunakan sebagai inisial terapi pada pasien emesis.
Sekarang diketahui bahwa, karbonik anhidrase inhibitor
oral sedikit atau tidak ada sama sekali efek samping
sistemik.
Menurut
pengalaman
penulis
pemberian
karbonik anhidrase inhibitor oral sangat diperlukan
dalam pengobatan gloukoma akut.
6.3. Miotik kuat
Pilokarpin 2% atau 4% setiap 15 menit sampai 4 kali
pemberian sebagai inisial terapi, diindikasikan untuk
mencoba menghambat serangan awal gloukoma akut.
Penggunaannya ternyata tidak efektif pada serangan
yang sudah lebih dari 1-2 jam. Hal ini terjadi karena
muskulus spingter pupil sudah iskhemik sehingga tidak
dapat
merespon
terhadap
pilokarpin.
Pilokarpin
diberikan satu tetes setiap 30 menit selama 1-2 jam.
Pada umumnya respon pupil negatif terhadap serangan
yang telah berlangsung lama sehingga menyebabkan
atrofi otot spingter akibat iskhemia.
6.4. Beta bloker
Merupakan
terapi
tambahan
yangefektif
untuk
menangani serangan sudut tertutup. Beta bloker dapat
menurunkan
tekanan
intraokular
dengan
cara
mengurangi produksi humor akuos. Timolol merupakan
beta bloker nonselektif dengan aktifitas dan konsentrasi
tertinggi di bilik mata belakang yangdicapai dalam
waktu 30 – 60 menit setelah pemberian topikal. Beta
bloker tetes mata nonselektif sebagai inisial terapi
dapat diberikan 2 kali dengan interval setiap 20 menit
dan dapat diulang dalam 4, 8, dan 12 jam kemudian.
6.5. Apraklonidin
Merupakan agen alfa2-agonis yang efektif untuk
hipertensi okular, apraklonidin bekerja dengan cara
menurunkan
produksi
akuos
memberikan
efek
pada
Apraklonidin
0,5%
dan
humor
dan
outflowhumor
1%,
keduanya
tidak
akuos.
telah
menunjukkan efektifitas yang sama dan rata-rata dapat
menurunkan tekanan intraokular 34% setelah 5 jam
pemakaian topikal. Apraklonidin dapat digunakan pada
pengobatan
dengan
glaukoma
terapi
medis
akut
yang
lainnya.
dikombinasikan
Setelah
tekanan
intraokular menurun dan miosis pupil telah dicapai,
terapi topikal dengan pilokarpin, beta bloker, karbonik
anhidrase inhibitor dan apraklonidin dapat diteruskan
sampai tindakan operasi dilakukan atau
reopening
sudut bilik mata. Pemeriksaan ulang gonioskopi harus
dilakukan,
jika
perlu
gliserin
tetes
mata
dapat
digunakan untuk menjernihkan kornea.Sekarang ini,
dilakukan gonioskopi indentasi untuk mendorong akuos
dari sentral ke perifer agar sudut yang telah tertutup
dapat terbuka kembali. Tehnik ini telah diuji sebagai
terapi untuk serangan sudut tertup akut. Meskipun
sudut
telah
sukses
membuka
kembali
dengan
gonioskopi indentasi, tetapi tidak dapat menggantikan
terapi definitif yaitu: iridektomi perifer.
7. KASUS PRAKTEK FARMAKOTERAPI
DOKUMEN FARMASI PASIEN
INSTALASI FARMASI RSUD GAGAL TOTAL
No.
DMK
:
12.34.XX
MRS : 31 Maret
2015
KRS : Inisial Pasien :
Ny. Cita Citaku
Umur/BB/Tinggi
: 50 th / 54 kg / Alamat : Malang
Asuransi : BPJS
Keluhan Utama :
mata kanan
terasa nyeri, merah, pandangan
di mata kanan nampak ada area
Kepatuhan : Alergi : Merokok/Alkoh
tak terlihat
Keluhan Tambahan :
sering
ol : Obat
pusing dan mual
Diagnosis : primary open angle
Tradisional : OTC : -
glaucoma OD, katarak OD
Riwayat Penyakit : DM (+), HT
(+)
Riwayat Obat : atenolol 1 dd 50
mg, metformin 3 dd 500 mg
PROFIL TERAPI OBAT PASIEN
Tanggal
Nama Obat
Acetazolamide
Regimen
4 dd I tab
tab
2 dd gtt I
Timol 0,5%
OD
Latanoprost
1 dd gtt I
0,005%
OD
Atenolol
1 dd 50
31/
1/
2/
3/
4/
3
4
4
4
4
√
√
//
√
√
//
√
√
√
√
√
√
√
√
mg
3 dd 500
Metformin
mg
Salbutamol
3 dd 2 mg
√
√
tab
√
√
√
√
√
√
√
√
2 dd 500
Nabic tab
mg
PEMERIKSAAN MATA
OD
3/60
36
Edema (+) spasme
Parameter
Visus
IOP
Palpebra
OS
6/15
12
Tenang
(+)
Keruh grade II
Lensa
Jernih
DATA KLINIK
31/
1/4
2/4
3/4
4/4
130
120
100
110
110
/80
/80
/70
/70
/70
80
74
82
80
88
24
26
22
18
18
Suhu (37
36,
37,
36,
36,
37,
± 0,5oC)
5
5
5
5
4
Pusing
+
+↓
-
-
-
Mual
+
+
-
-
-
3
TD (<
120/80)
mmHg
Nadi (80100
x/menit)
RR (< 20
x/menit)
Nyeri
+
+↓
+↓
-
-
Sesak
+
+
+↓
+↓
-
DATA LABORATORIUM
Data
Laboratori
31/
2/
4/
4
4
4
7,35-7,45
7,3
7,4
20-26 mEq/L
18
20
Nilai Normal
um
3
780
4-10,10 /µl
WBC
0
12-17g/dl
12
GDA
< 200 mg/dL
190
SGOT
0-35 U/L
16
SGPT
0-37 U/L
18
Scr
0,6-1,2 mg/dL
1,4
BUN
7-20 mg/dL
22
Hb
pH
HCO3
8. PEMBAHASAN KASUS
8.1 Subjektif
Data
Identitas
Kondisi Pasien
MRS : 31 Maret
px
2015
KRS : Inisial Pasien : Ny.
Cita Citaku
Alamat : Malang
Uraian
Keluhan
Asuransi : BPJS
mata
kanan Keluhan
utama
terasa
merah,
pandangan
mata
nyeri
nyeri, karena
adanya
penghambatan
di keluarnya
kanan dan
tekanan
humor
intraokular
dengan
sehingga
cepat
menimbulkan
desakan
yang
aliran
aqueous
nampak ada area meningkat
tak terlihat
disebabkan
pada
saraf
menimbulkan
optis
nyeri
hebat.
Keluhan
mata
memerah
disebabkan karena adanya
peningkatan
intraokular
tekanan
oleh
karena
banyaknya cairan sehingga
mendesak pembuluh darah
pada mata sehingga tekanan
darah
menjadi
meningkat
dan vasokonstriksi dan mata
memerah.
Keluhan
pasien
keterbatasan
pada
terkait
penglihatan
beberapa
area
merupakan
salah
satu
manifestasi
klinik
dari
glaukoma, dan katarak yang
mana
protein
terdapat
pada
menyebabkan
Keluhan
koagulasi
lensa
dapat
keterbatasan
dalam melihat.
sering pusing dan Kondisi mual dapat terjadi
tambahan
mual
karena
beberapa
kondisi
pasien, diantaranya kondisi
glaukoma pada pasien yang
dapat menyebabkan gejala
mual muntah, hal tersebut
terjadi
akibat
saraf-saraf
tertentu
di
mata
mengirimkan
suatu
sinyal
pada pembuluh darah otak
untuk
menurunkan
serotonin
kadar
juga
menyebabkan
dapat
terjadinya
mual.
Kondisi
mual
juga
terjadi
karena
mual
pusing
glaukoma,
klinik
dari
dimana
glaukoma
yaitu
dan
merupakan
manifestasi
adanya
dapat
kondisi
menyebabkan
gangguan
halo
visual,
rainbow
yang
menyebabkan rasa mual dan
pusing.
Kondisi
mual
juga
dikarenakan
dapat
peningkatan
BUN pada pasien, hal ini
Diagnosis
primary
angle
ditunjukkan
pada
data
laboratorium
yang
mana
kadar BUN meningkat.
open Glaukoma
sudut
terbuka
glaucoma primer merupakan neuropati
OD, katarak OD
optik
kronis
dengan
progresifitas yang perlahanlahan dengan karakteristik
adanya
ekskavatio
syaraf
optik,
dari
gangguan
lapang
pandangan,
hilangnya
sel
dan
akson
ganglion retina dan memiliki
sudut
iridocorneal
yang
Glaukoma
sudut
terbuka.
terbuka
primer
ini
lebih
sering dijumpai pada usia
dewasa
(Lisegang,
et
al.,
2005). Pada glaukoma sudut
terbuka
penyebab
yang
paling sering terjadi adalah
peningkatan
intraokuli
tekanan
walaupun
pada
beberapa kasus tidak terjadi
peningkatan
tekanan
intraokuli (Lisegang, et al.,
2005 ). Peningkatan tekanan
intraokuli dapat merusak selsel
ganglion
retina
menyebabkan
syaraf
dan
kerusakan
optik
sehingga
progresifitas
glaukoma
berlanjut.
Katarak
dimana
pada
adalah
terjadi
serabut
keadaan
kekeruhan
atau
bahan
lensa di dalam kapsul lensa
atau
juga
patologik
suatu
lensa
keadaan
di
mana
lensa menjadi keruh akibat
hidrasi
cairan
denaturasi
lensa
protein
atau
lensa.
Katarak disebabkan hidrasi
(penambahan
cairan
lensa),denaturasi
lensa,
protein
proses
penuaan
(degeneratif). Katarak OD 
pupil
keruh
dan
ada
bayangan coklat
Katarak
juga
manifestasi
merupakan
klinik
pada
glaukoma, dimana terdapat
istilah chatarac complicata,
yang
mana
terjadi
mata
dikarenakan
pada
kondisi
glaukoma
dapat
menyebabkan hidrasi protein
pada lensa, sehingga terjadi
koagulasi protein pada lensa
yang
Riwayat
penyakit
DM dan HT
menyebabkan
pandangan
mata
kabur.
Diabetes
Melitus
Hipertensi
menjadi
dan
diperkirakan
berperan dalam kerusakkan
saraf
optik
mekanis
Melalui
keduanya
melalui
jalur
dan
vaskular.
jalur
mekanis,
dapat
mengakibatkan peningkatan
tekanan
intraokuler
sementara
vaskular,
melalui
jalur
keduanya
dapat
mengakibatkan
penurunan
tekanan perfusi okuler.
Diabetes mellitus merupakan
faktor resiko dari glaukoma
dimana
penderita
POAG
dengan DM tipe 2
lebih
tinggi (7.8 %) dibandingkan
tanpa
diabetes
(3.9
%).
Diabetes dapat memprodusi
AGE
product
yang
merupakan
mana
oksidan
ssehingga membuat adanya
gangguan yaitu komplikasi
mikrovaskular
yang
akan
mempengaruhi autoregulasi
dari pembuluh darah pada
retina
dan
saraf
Penelitian
optik.
membuktikan
adanya kerusakan vaskular
tersebut
akan
mempengaruhi
saraf
optik
yang mana akan merubah
optic disk, yang mana akan
menimbulkan
neuropati
glaucomatuos optic.
DM
eningkatan
menyebabkan
kadar
sorbitol
dalam
lensa
yang
lama
sangat
menyebabkan
terjadinya
kerusakan
yang
permanen pada serat dan
protein
lensa
mengakibatkan
yang
kekeruhan
pada lensa.
hipertensi
dapat
merusak
pembuluh
darah
di
mata
sehingga mereka tidak dapat
mengkompensasi perubahan
dalam aliran darah ketika
tekanan mata meningkat
Menurut
teori
turunnya
aliran
iskemik,
darah
di
dalam lamina kribrosa akan
menyebabkan iskemia dan
tidak
tercukupinya
yangvdiperlukan
transport
energi
untuk
aksonal.
Iskemik
dan transport aksonal akan
memacu
apoptosis.
terjadinya
Pada
proses
iskemik, terjadi mekanisme
autoregulasi yang abnormal
sehingga
tidak
dapat
mengkompensasi
perfusi
yang
terjadi
kurang
dan
resistensi (hambatan) aliran
humor
akuous
pada
trabekular meshwork yang
akhirnya
menyebabkan
peningkatan
tekanan
intraokuli
(TIO)
(Lewis,
1993).
HT memiliki resiko 2.61 kali
lebih besar untuk mengalami
POAG
dibandingkan
normotensi.
penelitian
Dalam
dibahas
hipertensi
terhadap
glaukoma,
darah
resiko
yaitu
yang
tekanan
tinggi
menurunkan
akan
tekanan
diastolik perfusi aliran darah
ke
mata
perbedaan
dan
adanya
antara
tekanan
diastolik pada arteri dan IOP.
Akan tetapi mekanisme yang
pasti
terjadi
adalah
penurunan aliran darah ke
mata
yang
menimbulkan
keparahan glaukoma.
Riwayat
atenolol 1 dd 50 Atenolol
obat
mg metformin 3 antihipertensi
dd 500 mg
merupakan
obat
golongan
ß-
blocker. Atenolol merupakan
obat antihipertensi selektif
pada
reseptor
Mekanisme
aksi
antihipertensi
ß1.
sebagai
adalah
memblok reseptor ß1 yang
terdapat
supaya
pada
jantung
terjadi vasodilatasi
yang
dipengaruhi
penurunan
detak
oleh
jantung.
Dosis
dewasa
diadministrasikan secara 50
sampai 100 mg/hari. Efek
samping
yang
ditimbulkan
adalah lelah 13%, bradikardi
8%,
mual,
muntah
diare
(McEvoy, 2011).
Pasien
mengalami
riwayat
penyakt hipertensi disertai
diabetes mellitus, menurut
JNC 8, terapi yang dapat
diberikan
dengan
pada
pasien
riwayat
penyakit
seperti diatas adalah ACE
inhibitor
atau
calcium
channel blocker, atau ARB.
Tekanan
darah
normal
berdasarkan JNC 8 adalah <
(kurang dari) 140/90.
Metformin merupakan obat
golongan
dapat
biguanida
menurunkan
glukosa
darah
yang
kadar
dengan
menurunkan produksi gula
hepatik.
Juga
metformin
dapat mrnurunkan absorbsi
glukosa
dan
pada
pencernaan
meningkatkan
respon
insulin. Pendosisan dilakukan
sebagai berikut, dosis awal
secara peroral 500 mg sehari
2 kali, ditingkatkan denga
500
mg
sehari
3
kali
(maksimal
dosis
2500
mg/hari
dalam
dosis
terbagi). Efek samping obat
yang
muncul
adalah
mual;
muntah;
diarrhea;
anorexia (McEvoy, 2011).
Penggunaan
metformin
berinteraksi
dengan
asetazolamid
(McEvoy,
2011).
Riwayat
-
alergi
Riwayat
Kepatuhan : -
sosial
Merokok/Alkohol :
Obat Tradisional :
OTC : -
8.2 Objektif
OD
Parame
OS
URAIAN
3/60
ter
Visus
6/15
Pemeriksaan
visus
digunakan
untuk mengetahui keterbatasan
lapang
pandang
pada
mata,
dimana hasil pemeriksaan pada
pasien
menunjukkan
bahwa
pada mata kanan pasien, pasien
hanya
dapat
melihat
atau
menghitung jari pada jarak 3
meter, sedangkan pada orang
normal
dapat
melihat
atau
menghitung jari pada jarak 60
meter. Hal ini dikatakan pasien
memiliki
keterbatasan
pandangan melihat sebesar 75
%. Sedangkan pada mata kiri,
pasien
hanya
dapat
melihat
atau menghitung jari pada jarak
6 meter, sedangkan pada orang
normal
dapat
melihat
atau
menghitung jari pada jarak 15
36
IOP
12
meter.
Pengukuran
Intra
Pressure
digunakan
untuk
tekanan
cairan
mengetahui
pada
Ocular
mata
yang
merupakan
awal dari diagnosis glaukoma.
Pada mata kanan pasien IOP
sebesar
36
mmHg,
dimana
dalam batas normal adalah < 21
mmHg. Sedangkan pada mata
kiri
IOP
sebesar
12
mmHg,
dimana masih dalam rentang
Edema
Palpebra
Tenang
normal.
Palpebra
pasien
mengalami
(+)
edema, yang mana ada tekanan
spasm
pada mata.
e (+)
Keruh
Lensa
Jernih
Lensa
mata
yang
keruh
grade
menunjukkan adanya koagulasi
II
protein pada lensa mata yang
merupakan gejala katarak.
DATA KLINIK
URAIAN
Tekanan darah
normal,
TD
dimana
pasien
pasien
masih
dalam
mengalami
batas
riwayat
(< penyakt hipertensi disertai diabetes mellitus,
120/80)
menurut JNC 8, tekanan darah normal adalah <
mmHg
(kurang dari) 140/90.
Nadi (80-100 Dalam batas normal
x/menit)
RR tinggi pada 31/3 – 2/4 terjadi karena kondisi
sesak pada pasien. Kondisi sesak pada pasien
dapat dikarenakan kondisi asidosis yang terjadi
pada pasien, dimana pada awal masuk rumah
RR
(<
20 sakit pasien mengalami sesak, akan tetapi tidak
x/menit)
ada diagnosis khusus.
Suhu (37 ± Dalam batas normal
0,5oC)
Kondisi pusing dapat dipengaruhi oleh keadaan
pasien, dimana pasien mengalami glaukoma
yang menyebabkan penglihatan pasien yang
disebut halo rainbow yang menyebabkan pasien
Pusing
mengalami pusing.
Kondisi mual dapat dipengaruhi oleh keadaan
pasien, dimana pasien mengalami glaukoma
yang menyebabkan penglihatan pasien yang
disebut halo rainbow yang menyebabkan pasien
mengalami mual. Kondisi mual pada pasien juga
dapat disebabkan oleh karena BUN pasien
meningkat, yang merupakan penunjuk kadar
Mual
Nyeri
urea dalam darah.
Kondisi nyeri pada
mata
disebakan
oleh
meningkatnya IOP yang menyebabkan saraf
optik
mengalami
desakan
oleh
cairan
dan
mengakibatkan rasa nyeri pada mata.
Kondisi sesak pada pasien dapat dikarenakan
kondisi
asidosis
yang
terjadi
pada
pasien,
dimana pada awal masuk rumah sakit pasien
mengalami
Sesak
sesak,
akan
tetapi
tidak
ada
diagnosis khusus.
DATA LABORATORIUM
Data
URAIAN
Laboratori
um
WBC
Hb
GDA
SGOT
SGPT
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Tes kreatinin berguna untuk mendiagnosa fungsi
ginjal
karena
nilainya
mendekati
glomerular
filtration rate (GFR). Kreatinin adalah produk
antara
hasil
peruraian
kreatinin
otot
dan
fosfokreatinin yang diekskresikan melalui ginjal.
Produksi kreatinin konstan selama masa otot
konstan. Konsentrasi kreatinin serum meningkat
pada
gangguan
fungsi
ginjal
baik
karena
gangguan fungsi ginjal disebabkan oleh nefritis,
penyumbatan
Scr
BUN
saluran urin, penyakit otot atau dehidrasi akut.
BUN adalah produk akhir dari metabolisme
protein, dibuat oleh hati. Pada orang normal,
ureum dikeluarkan melalui urin. Kadar dalam
darah tergantung produksi (tergantung sintesa &
asupan protein) dan ekskresi (ginjal 90%,GIT &
kulit 10 %). Kadar urea dinyatakan BUN (blood
urea nitrogen) atau urea. Fungsi ginjal menurun
Asidosis
pH
Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis
tubulus renalis (ATR) atau rhenal tubular acidosis
(RTA), yang bisa terjadi pada penderita gagal
ginjal atau penderita kelainan yang
mempengaruhi kemampuan ginjal untuk
HCO3
membuang asam.
8.3 Assesment
Kategori
Drug

Interaction
Assesment
Problem
Metformin dan Acetazolamide berinteraksi
secara signifikan, dengan menurunkan kadar
bikarbonat
keadaan
sehingga
asidosis
dapat
memperparah
pasien
(medscape).
Sedangkan metformin tidak dapat dihentikan
karena
sebagai
sehingga
pengobatan
perlu
DM
dihentikan
pasien
yang
Acetazolamide.

Salbutamol
dan
timol
Antagonisme
pada
efek
mengakibatkan
bronkospasme
pasien
(McEvoy,2011).
asma
berinteraksi
paru
berat
yang
pada
Sedangkan
pasien sesak maka berbahaya.

Acetazolamide dan DM dapat berinteraksi
dengan mengganggu kontrol glukosa darah
pasien (Lacy et al,2007). Sehingga dapat
Dosis
dan
Regiman

memperparah kondisi DM pasien.
Untuk terapi POAG seharusnya monoteraphy
dengan pilihan utama (first line) prostaglandin
analog (latanoprost) atau B-blocker (timolol)
(Kimble,2013). Sehingga yang
digunakan
harusnya
latanoprost
saja
dengan
dosis
larutan 0.005% 1 tetes (1.5 mcg) pada mata
1x/hari pada malam hari. Karena jika Bblocker mungkin bisa memperparah sesak
pasien.

Pemberian Natrium bicarbonat pada pasien
sudah tepat karena jika pH masih > 7,2.
Sedangakan menurut (Dipiro,2008) urgensi
pemberian Na bic secara IV untuk asidosis
dengan pH < 7,2. Sehingga bisa diatasi
dengan Na bic secara oral dengan dosis Per
Oral dengan dosis 325 mg hingga 2 gram,
terbagi 1 sampai 4 kali/hari
(untuk pasien
kurang dari < 60 tahun, maksimum dosis 16
g/hari; dan pasien > 60 tahun maksimum
dosis 8 g/hari) (Tatro,2003).

Pemberian metformin sudah sesuai untuk
pengobatan DM pasien 3 dd 500 mg, sudah
sesuai dosis dan indikasinya.

Pemberian Atenolol (B1 selektif bloker) 1 dd
50 mg untuk hipertensi sudah tepat sesuai
indikasi karena tidak memperparah sesak dan
asidosis pasien. Namun dengan peningkatan
BUN
dan
adanya
SCr
renal
pasien
yang
disorder
menandakan
perlu
dilakukan
penggantian obat yang renoprotective seperti
Ketidaktepa

ACE Inhibitor dan ARB.
Salbutamol
tidak
tepat
dikarenakan
tan indikasi
penggunaan baru tanggal 2 april sementara
dan Indikasi
RR pada tanggal 2 april sudah membaik dan
yang
sesak
tidak
diterapi
pasien
Penggunaan
juga
sudah
acetazolamide
berkurang.
juga
sudah
dihentikan.
Selain
itu
pasien
memiliki
hipertensi sehingga penggunaan salbutamol
kurang tepat. Selain itu sesak napas yang
dialami pasien mungkin dikarenakan kondisi
asidosis
untuk
yang
menyebabkan hiperventilasi
kompensasi
dan
efek
samping
acetazolamide sehingga mungkin yang perlu
dicover adalah kondisi penyebabnya tersebut.

Pasien mengluhkan nyeri, pusing dan mual
namun
tidak
diberikan
ada
mungkin
obat-obatan
meringankan
analgesik
terapi
simptomatis
prn
seperti
bisa
yang
dapat
pasien
seperti
parasetamol
untuk
mengatasi nyeri yang dialami pasien, atau
antiemetik
seperti
domperidon
untuk
mengatasi mual pasien.

Pasien memiliki diagnosis katarak namun
tidak
ditindak
lanjuti,
dapat
disarankan
kepada pasien untuk diberikan obat-obatan
Diberikan
tetes
mata
mydriatic,seperti
phenylephrine (2,5%) atau tropikamid (0,5%).
Dipilih tropikamid dengan MoA Mencegah otot
sfingter iris dan otot tubuh ciliary untuk
merespon
dapat
rangsangan kolinergik
melancarkan
outflow
dari
sehingga
aqueous
humor (AAO,2011). Atau mungkin dilakukan
Efek

operasi.
Efek
Samping
Acetazolamide
yang
Samping
meningkatkan RR dan juga asidosis, dan juga
obat
insufisiensi ginjal (Lacy et al,2007). Sehingga
dapat memperparah kondisi sesak pasien,
asidosis pasien dan juga gangguan ginjal
pasien.

Efek samping atenolol 1-10% pada GI yaitu
konstipasi, diare, dan mual (Lacy et al,2007).
Sehingga kemungkinan dapat memperparah
kondisi mual pasien.
Ketidak

Penggunaan
Acetazolamide
kurang
tepat
tepatan
karena banyak mengakibatkan efek yang
jenis obat
merugikan pada pasien, seperti : berinteraksi
dengan
metformin
yang
mengakibatkan
penurunan kadar bikarbonat pasien yang
dapat memperparah kondisi asidosis pasien,
meningkatkan RR yang memperparah sesak
pasien, dan menyebabkan insufisiensi ginjal
sehingga memperparah renal disorder pasien.
Dan
selain
itu
pengobatan
dengan
Acetazolamide ini biasanya digunakan pada
pilihan kedua jika terapi firstline pada POAG
tidak merespon.

Penggunaan timolol agaknya kurang tepat
karena bukan merupakan β-Selektif blocker
yang
dapat
ebrpengaruh
terhadap
bronkospasm pasien sehingga memperparah
kondisi sesak pasien. Dan untuk pengobatan
awal
POAG,
dapat
dengan
monotherapy
dengan first line prostaglandin analog atau βblocker sehingga dipilihkan latanoprost saja.
8.4 Plan
Sasaran
Dokter
Plan
-
Memberikan
saran
menggunakan
pada
latanoprost
dokter
untuk
sejak
awal
sebagai inisial terapi karena PG analog
efektif untuk penanganan pertama dan
cenderung aman (Single terapi).
-
Menyarankan untuk tidak menggunakan
beta
blocker
terlebih
dahulu
untuk
mengatasi kondisi glaucoma, melainkan
melihat dahulu efikasi dari terapi tunggal
menggunakan latanoprost.
-
Menyarankan untuk monitoring efektivitas
dari latanoprost dan beta blocker terlebih
dahulu
dan
acetazolamide
tidak
dari
menggunakan
awal,
Penggunaan
NaBic disarankan tidak diberikan terlebih
dahulu karena pH pasien masih diatas 7
walaupun masuk dalam kategori asiodosis
dikarenakan
samping
asidosis
dari
ini
karena
acetazolamide.
efek
Dengan
demikian maka jika acetazolamide belum
diberikan maka kondisi asidosis dapat
dicegah. Namun jika kondisi ini terjadi
maka terapi untuk adidosisnya adalah
dengan menggunakan resusittasi cairan
terlebih
dahulu.
Namun
jika
tidak
membaik dan pH dibawah 7 maka perlu
pemberian Na Bic.
-
Disarankan
penghentian
penggunaan
salbutamol karena baru diberikan pada
tanggal 2 april, dimana keadaan sesak
pasien sudah berkurang sehingga tidak
perlu
diberikan
salbutamol.
Dan
juga
kemungkinan sesak pasien dikarenakan
hiperventilasi
akobat
kompensasi
asidosisnya sehingga dengan perbaikan
asidosis
pasien
maka
sesaknya
akan
hilang.
-
Disarankan untuk pemberian parasetamol
dan anti mual seperti domperidon untuk
mengatasi kondisi simtomatis pasien jika
pasien
merasa
tidak
nyaman,
namun
penggunaannya hanya pro renata.
-
Menyarankan untuk katarak pasien jika
pasien
terganggu
Operasi
Jika
untuk
memang
melakukan
perlu,
maka
dilakukan pemantauan IOP yang ketat.
Keadaan glaucoma pasien harus stabil
saat melakukan operasi. Ketika IOP tidak
terkontrol dengan baik, atau ada moderat
untuk berkembang ke saraf optik dan
perubahan bidang visual, ekstraksi katarak
gabungan
dan
trabeculectomy
dapat
dilakukan (AAO,2011).
-
Disarankan
untuk
pergantian
obat
hipertensi menjadi obat golongan ARB
yaitu pemberian Losartan. Dengan dosis
yang disarankan yaitu 25-100 mg/hari
diberikan dalam 1 hingga 2 dosis terbagi.
Tidak ada informasi bahwa pemberian
dosis besar akan meningkatkan benefit.
Namun jika efektivitas tidak tercapai pada
pemberian sekali sehari dapat disarankan
untuk melakukan peningkatan dosis atau
pemberian
2
kali
sehari
(McEvoy
et
al,2011).
Perawat
-
menyarankan pemberian oksigen karena
-
pasien datang mengeluhkan sesak.
Monitoring efek terapi dari latanoprost,
sehingga
untuk
mengetahui
perlu
pergantion obat atau tidak
-
Monitoring efek terapi lainnya seperti nilai
pH kembali normal, RR normal, keluhan
pasien yang meliputi nyeri dan mual dapat
teratasi
-
Pemberian latanoprost malam hari karena
tekanan intra ocular bisa tiba-tiba tinggi
ketika malam hari
Pasien
-
Monitoring efek samping obat :
-
Latanoprost :pigmentasi iris, iritasi mata
Resusitasi cairan : oedem
Losartan :pusing, diare
Metformin : gangguan GI
Jika gangguan pandangan pasien ingin
dikoreksi maka disarankan menggunakan
kacamata
dibandingkan
dengan
lensa
kontak
-
Mengedukasi pasien cara pemakaian obat
tetes mata sesuai dengan prosedur yang
benar .
-
Untuk DM pasien maka pasien diedukasi
untuk menejemen diet pasien dan juga
olahraga yang teratur
-
Untuk
hipertensi
diedukasi
untuk
mengurangi
asupan
garam,
hindari
makanan yang terlalu banyak lemak agar
ttidak
timbul
penyumbatan
darah oleh lemak.
pembuluh
DAFTAR PUSTAKA
AAO.
2011. Cataracts.
American
Academy
of
Ophthalmology.USA.
Amra, A.A., 2007, Penatalaksanaa Glaukoma Akut, Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan.
Depkes
RI.2008.Situasi
dan
Analisis
Glaucoma.Infodatin:Jakarta
Dwindra,Mayenru. 2009. Glaukoma. Fakultas kedokteran
universitas Riau : Pekanbaru
Dipiro,
Joseph
T.,
et
Pathophysiologic
al.
2008.
Pharmacotherapy
7th
Approach,
Ed,
A
McGraw-Hill
companies.Inc, UK.
Garg, Pragati, et al. 2014. A Study on Systemic Risk Factor
for
Primary
Open
Angle
Glaucoma.
International
Journal of Life Science and Pharma Glaucoma. Vol 4.
Kimble , Coda and Young. 2013. Applied Therapeutic The
Clinical Use of Drug. Lippincott Williams &Wilkins,
Awolters Kluwer Business. USA
Liesegang, et al. 2011. Basic and Clinical Science Course
Section 8 :External Disease and Cornea. American
Academy of Opthalmology. San Fransisco : 646-671
Lacy, Charles F., et al.2007.Drug Information Handbook : A
Comprehensive
Healthcare
Resource
Professional
for
!7th
all
Clinicians
Edition.
and
American
Pharmacists association-Lexi comp. USA.
McEvoy, Gerald K., Elaine K. Snow.,Linda Kester.,Lathy
Litvak et al.2011.AHFS Dru Information Essensials.
American
Society
of
Health-System
Pharmacists.Maryland
Nova Faradilla.2009.Glaukoma dan Katarak Senelis.Faculty
of Medicine.University of Riau.Pekanbaru.
Sari, Ellysabet Dian Yunivita dan Muhammad Aditya. 2016.
Glaukoma Akut dengan Katarak Imatur Okuli Dekstra
et Sinistra. J Medula Unila. Vol 4(3): 46-51.
Tatro, David S., Larry R. Borgsdofr., et al.2003. A to Z Drug
Facts. Facts and Comparisons.
Virna
Dwi
Oktariana.Gaukoma.
http://www.lkc.or.id/wp-
content/uploads/2012/03/GLAUKOMA.pdf.
Download