AR_0149

advertisement
PEMBUATAN PUPUK KOMPOS DARI LIMBAH SAMPAH DOMESTIK
Oleh : Aris Sudarwanto
Balitbang Provinsi Riau
Manusia merupakan penghasil sampah nomor satu di dunia. Sampah dapat dibedakan
menjadi dua, menurut kemampuannya untuk didegradasi, yaitu sampah anorgnik dan organik.
Sampah organik adalah sampah yang dapat didegradasi oleh mikroorganisme menjadi bentuk
senyawa yang lebih kecil. Dan sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat didegradasi
oleh mikroorganisme.
Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran,
daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos.
Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah
pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan
sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk
dijadikan produk Lain.
Sampah yang dihasilkan oleh manusia kebanyakan adalah sampah organik, dimana
sampah organik adalah sampah yang dapat didegradasi oleh bakteri di alam. Selain itu sampah
anorganik dan kaca juga merupakan sampah-sampah yang banyak dihasilkan oleh manusia.
Tanpa disadari manusia itu sendiri merupakan produsen utama sampah diseluruh dunia. Terlebih
jika kita mengerucutkan masalah ini pada willayah tertentu seperti Pekanbaru.
Penduduk Kota Pekanbaru tahun 2012 sebanyak 964.558 jiwa, dengan jumlah penduduk
laki-laki sebesar 490.339 jiwa dan penduduk perempuan 474.219 jiwa. Jumlah penduduk
terbesar terdapat di Kecamatan Tampan, yaitu sebanyak 179.470 jiwa (19,13 persen) (sumber :
BPS Riau). Urbanisasi yang seiring berjalan waktu meningkat dan populasi bertambah,
memunculkan masalah baru di Pekanbaru yaitu sampah. Pekanbaru sendiri merupakan suatu kota
dengan tingkat kepadatan penduduk 1.483,47 jiwa/km2. Banyaknya penduduk berbanding lurus
dengan peningkatan jumlah sampah. Sampah yang dihasilkan rerata oleh masing-masing
penduduk adalah 0,5 kg perhari. Ini berarti sampah dihasilkan sebanyak 741,73 kg/ km2 perhari.
Jumlah ini belum termasuk sampah yang berasal dari unit pelayanan masyarakat seperti
perkantoran, rumah sakit dan sekolah.
Kehidupan masyarakat modern memproduksi sampah lebih banyak daripada masyarakat
tradisional. Kenyataan ini bisa disaksikan di kota-kota besar, yaitu persoalan penanganan sampah
yang tak kunjung terpecahkan (Sumber : Bayu Indrawan, 2009). Sampah merupakan segala
sesuatu yang tidak memiliki nilai ekonomis. Dengan mengonversi barang-barang ini menjadi
sesuatu yang bernilai ekonomis dapat memberikan dampak yang sangat bagus, baik pada sisi
ekonomis maupun lingkungan.
Limbah sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Salah satunya menjadi
pupuk kompos. Pupuk kompos itu sendiri mempunyai banyak kegunaan yakni memperbesar
daya ikat tanah berpasir, menambah daya ikat air tanah, memperbaiki drainase tata udara tanah,
dan mengandung hara. Kompos adalah pupuk organik yang merupakan hasil penguraian atau
dekomposisi bahan organik yang dihasilkan dari tanaman, hewan, sampah, yang dilakukan oleh
mikroorganisme aktif, seperti bakteri dan jamur.
Tidak semua sampah rumah tangga bisa dibuat kompos. Hanya sampah yang berasal dari
kulit buah, sisa sayur, sisa buah, dan sisa makanan dan sampah kebun seperti dedaunan dan
rumput yang dijadikan kompos.
Berikut cara dan langkah-langkah pembuatan pupuk kompos :
Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah komposter, aerator (air pump),
selang, ember, alat pencacah, kayu pengaduk, thermometer, cawan porselin, oven, timbangan
analitik, desikator dan pH meter.
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampah organik yang terdiri dari
sayuran dan buah-buahan, sampah makanan, kertas, bioaktivator EM4, TSP, dedak dan kapur
pertanian.
Pembuatan Kompos
1. Sampah organik dicacah dengan ukuran 3-4 cm. Pencacahan dilakukan untuk
mempercepat proses pembusukan.
2. Sampah yang telah dicacah dimasukkan kedalam 4 buah komposter masing-masing 15
kg. Bioaktivator EM4 dimasukkan kedalam 3 buah komposter masing – masing 150 ml,
225 ml dan 300 ml, dan 1 buah komposter sebagai kontrol tanpa EM4. Selanjutnya
ditambahkan juga TSP 250 gr, dedak 1 kg, dan kapur pertanian 1 kg ke dalam 4 buah
komposter, serta diaerasi dengan cara mengalirkan udara menggunakan aerator pada
masing-masing komposter sebesar 1,5 l/m . Selanjutnya bahan baku kompos dalam
masing-masing komposter diaduk dengan kayu hingga rata. Proses pengomposan berjalan
selama 30 hari (4 minggu).
Setalah 30 (tiga puluh) hari atau 4 (empat) minggu didiamkan, kita harus melakukan
pengamatan fisik kompos. Beberapa kondisi fisik kompos yang perlu diperhatikan ialah :
Warna
Warna kompos yang dihasilkan coklat kehitaman. Uji kenampakan kompos telah
memenuhi standar kualitas kompos ( SNI 19-7030-2004 ).
Bau
Bau kompos yang dihasilkan berbau tanah. Uji bau kompos telah memenuhi standar
kualitas kompos ( SNI 19-7030-2004 ).
Bentuk
Wujud akhir kompos berbentuk remah–remah dan hancur, berbeda dengan bentuk bahan
baku kompos pada awal proses pengomposan. Wujud fisik kompos matang pada penelitian ini
sesuai dengan pendapat Wahyono dkk (2003), bahwa wujud fisik kompos matang hancur dan
tidak menyerupai bentuk aslinya, tidak berbau dan warna kompos gelap coklat kehitaman
menyerupai tanah hutan atau pertanian.
Reduksi/ Penyusutan Kompos
Bahan kompos matang akhir akan mengalami penurunan volume atau berat lebih dari
60% dari berat awal. Reduksi bahan kompos pada masing–masing komposter disebabkan karena
pada saat proses pengkomposan terjadi perombakan bahan–bahan kompos oleh sejumlah
mikroorganisme yang mana mikroorganisme-mikroorganisme tersebut merubah bahan–bahan
kompos yang berupa bahan organik menjadi produk metabolisme berupa karbondioksida (CO2),
air (H2O), humus dan energi. (AS)
Sumber :
Balitbang Provinsi Riau: Kajian Pembuatan Pupuk Kompos Dari Limbah Domestik Tanpa
Menggunakan BBM. 2014. Pekanbaru : Balitbang Provinsi Riau.
Haryono, Nur (2015) :Serba Serbi Pupuk Organik.
Download