27 BAB II HUKUM WAKALAH DALAM PRAKTEK DI BANK

advertisement
BAB II
HUKUM WAKALAH DALAM PRAKTEK DI BANK TABUNGAN NEGARA
SYARI’AH CABANG BATAM
A. Pengertian Wakalah Dalam Pandangan Hukum Islam
Wakalah (Perwakilan), penyerahan, pendelegasian, atau pemberian mandat
atau power of attorney (bahasa lnggris) akad pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak
kepada pihak lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan. Praktek wakalah dalam
lembaga keuangan syariah mengharuskan adanya, muwakil atau yang mrwakili, wakil
dalam hal bank ini dan taukil atau objek atau wewenang yang diwakilkan.
Sementara Al wakalah dalam fiqh Islam adalah penyerahan tugas dan
tanggung jawab masing-masing pihak yang berdasarkan pada definisi wakalah yaitu
menyerahkan tugasnya atau urusannya kepada orang lain dan diserahkan
tanggungjawabnya untuk bertindak bagi pihaknya. 30
Hikmah disyariatkan wakalah merupakan tugas asal tanggungjawab urusan
seseorang yang terkadang tidak dapat meneruskan tugas itu oleh sebab keuzuran
yang timbul pada pemberi kuasa dengan sebab-sebab dan urusan-urusan lain atau
sakit sehingga berhalangan yang tidak dapat dihindari maka seseorang berhajat
kepada orang lain yang boleh bertindak untuk menyempurnakan tanggung jawab
tersebut maka terpaksa dia mewakilkan bagi pihak dirinya untuk faedah dan
kebaikannya. Hukum berwakalah ada pada hukum syara’ adalah harus berdasarkan
Al Qur’an dan sunnah.
30
Daeng Naja, Op.Cit, hal. 79.
27
Universitas Sumatera Utara
28
Sebagaiman Firman Alllah SWT dalam Surah Al Kahfi ayat 19 yang
bermaksud :
"Hendaklah kamu utuskan seorang daripada kamu ke bandar dengan
membawa uang untuk membeli makanan."31
Diriwayatkan bahawa Rasullullah SAW telah mewakilkan Hakim bin Hazm
membeli kambing untuk membuat qurban. Di riwayat dari Abdullah bin Jaafar r.a.
berkata : Saidina Ali tidak pernah menghadir diri dalam perbicaraan berhubung
dengan harta benda dan beliau mewakilkan Aqil r.a. bagi pihak dirinya. Maka
atas aqad wakalah inilah kita menyediakan khidmat bagi pihak pelanggan untuk
urusan jual beli dan amanah menjaga emas bagi pihak penyimpan emas. Elektronik
dinar atau edinar hanyalah cara simpanan dan transaksi dinar emas.
Masyarakat Islam sejak zaman awal Islam telah menggunakan al wakalah
dalam urusan jual beli, terutamanya yang melibatkan urusan yang jauh, dimana
seseorang tidak dapat menghadirkan dirinya akan mewakilkan urusannya kepada
orang lain. Rasullulah SAW sendiri bertindak sebagai wakil Siti Khadijah dalam
urusan jual beli sebelum baginda diangkat menjadi rasul.
Pengertian lain tentang wakalah berasal dari wazan wakala-yakilu-waklan
yang berarti menyerahkan atau mewakilkan urusan sedangkan wakalah adalah
pekerjaan wakil32. Al-wakalah menurut istilah para ulama didefinisikan sebagai
berikut :
31
32
Rachmadi Usman, Op cit, hal 268
Tim Kashiko, Kamus Arab-Indonesia, Kashiko, 2000, hal. 693.
Universitas Sumatera Utara
29
a. Golongan Malikiyah : “Seseorang menggantikan (menempati) tempat yang
lain dalam hak (kewajiban)
b. Golongan Hanafiyah : “Seseorang menempati diri orang lain dalam
pengelolaan”
c. Golongan Syafi’iyah : “Seseorang menyerahkan sesuatu kepada yang lain
untuk dikerjakan ketika hidupnya”
d. Golongan Hambali : “permintaan ganti seseorang yang didalamnya terdapat
penggantian hak Allah dan hak manusia”
e. Ulama fiqh klasik Al-Dhimyati : “seseorang menyerahkan urusannya kepada
yang lain yang didalamnya terdapat penggantian”
f. Imam Taqy : “Seseorang yang menyerahkan hartanya untuk dikelola kepada
orang lain ketika hidupnya”.33
Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud wakalah
adalah penyerahan dari seseorang kepada orang lain untuk mengerjakan sesuatu
dimana perwakilan tersebut berlaku selama yang mewakilkan masih hidup34.
Wakalah dalam pengertian penyerahan, pendelegasian, atau pemberian
mandat juga terdapat dalam kata Al-hifzhu yang berarti pemeliharaan35. Karena itu
penggunaan kata wakalah atau wikalah dianggap bermakna sama dengan hifzhun
33
Makalah, lzzudin Abdul Manaf, LC MA,Produk-produk syariah,peneliti STEI SEBI
Dr. H. Hendi Suhendi, MSi, Fiqh Muamalah, Jakarta, Rajawali Press, hal. 233.
35
Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah dalam Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori
ke Praktik, Jakarta : Gema Insani, 2008, hal. 120-121.
34
Universitas Sumatera Utara
30
(pemeliharaan), kata yang digunakan dalam pelaksanaan akad wakalah adalah
wakalah, karena antara wakalah dan wikalah mempunyai pengertian yang sama.36
Yang menyebabkan Wakalah menjadi batal atau berakhir adalah:
a.) Bila salah satu pihak yang berakad Wakalah itu tidak dalam kondisi sadar.
b.) Bila maksud yang terkandung dalam akad Wakalah sudah selesai pelaksanaannya
atau dihentikan.
c.) Diputuskannya Wakalah tersebut oleh salah satu pihak yang berWakalah baik
pihak pemberi kuasa ataupun pihak yang menerima kuasa.
d.) Hilangnya kekuasaan atau hak pemberi kuasa atau sesuatu obyek yang
dikuasakan.
B. Praktek Akad Wakalah di Bank Tabungan Negara Syari’ah Cabang Batam
Pada prinsipnya wakalah dalam praktek perbankan syariah terjadi apabila
nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan
pekerjaan jasa tertentu, seperti pembukuan L/C, inkaso dan transfer uang atau dalam
hal pembiayaan. Hal ini juga berlaku di Bank Tabungan Negara Syari’ah Cabang
Batam yang mana dalam pelaksanaannya tetap berpedoman pada Peraturan Bank
lndonesia, Fatwa Majelis Ulama lndonesia dan Fatwa Dewan Syarian Nasional. Akan
tetapi pada praktek akad wakalah di Bank Tabungan Negara Syariah Cabang Batam
ada penyimpangan dalam hal pelaksanaan penandatanganan akad antara akad
wakalah dan akad murabahah, serta adanya penyimpangan yaitu pihak bank hanya
36
H. Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, Rajawali Press, Jakarta, hal. 233
Universitas Sumatera Utara
31
menyelipkan saja akad wakalah tanpa melakukan praktek yang sebenarnya sesuai
anjuran Peraturan Bank Indonesia, Fatwa Majelis Ulama Indonesia dan Fatwa Dewan
Syari’ah Nasional Indonesia.
Di dalam ketentuan hukum lslam jarak waktu penandatanganan akad antara
wakalah dan murabahah terjadi tenggang waktu satu minggu, alasan adanya jarak
waktu ini karena wakalah tidak bisa terjadi jika belum ada kesepakatan antara
nasabah dan bank yang dalam hal ini bertindak sebagai penerima kuasa untuk
membelikan suatu barang yang mana barang tersebut harus ada kesepakatan akan hal
penambahan harga untuk penentuan margin/bagi hasil. Pelanggaran ini terjadi
sebabkan kurangnya pengawasan dari Dewan Pengawas Syariah,
Menurut Surat Keputusan Dewan Syariah Nasional dan Majelis Ulama
Indonesia No.Kep-98/MUI/III/2001 tentang Susunan Pengurus Dewan Syariah
Nasional dan Majelis Ulama Indonesia memberikan tugas kepada Dewan Pengawas
Syariah untuk :
1. Pengawasan secara periodik pada lembaga keuangan syariah
2. Mengajukan usul-usul pengembangan lembaga keuangan syariah kepada
pimpinan lembaga yang bersangkutan dan kepada Dewan Syarian
Nasional
3. Melaporkan perkembangan produk dan operasional lembaga keuangan
syariah yang diawasinya kepada Dewan Syariah Nasional
sekurang-
kurangnya dua kali dalam satu tahun anggaran
Universitas Sumatera Utara
32
4. Merumuskan permasalahan yang memerlukan pembahasan dengan Dewan
Syariah Nasional.
5. Untuk melakukan pengawasan tersebut, anggota Dewan Pengawas
Syariah harus memiliki kualifikasi keilmuan yang integral, yaitu ilmu fiqh
muamalah dan ilmu ekonomi keuangan Islam modern. Kesalahan besar
perbankan syari’ah saat ini adalah mengangkat Dewan Pengawas Syariah
karena kharisma dan kepopulerannya di tengah masyarakat, bukan karena
keilmuannya di bidang ekonomi dan perbankan syari’ah.
Masih banyak anggota Dewan Pengawas Syariah yang belum mengerti
tentang teknis perbankan dan Lembaga Keuangan Syariah, apalagi ilmu ekonomi
keuangan Islam seperti akuntansi, akibatnya pengawasan dan peran-peran strategis
lainnya sangat tidak optimal. Dewan Pengawas Syariah juga harus memahami ilmu
yang terkait dengan perbankan syariah seperti ilmu ekonomi moneter misalnya,
dampak bunga terhadap investasi, produksi, unemployment.
Dampak bunga terhadap inflasi dan volatilitas currency, Dengan memahami
ini, maka tidak ada lagi ulama yang menyamakan margin jual beli murabahah dengan
bunga. Tetapi faktanya, masih banyak ulama yang tidak bisa membedakan margin
murabahah dengan bunga, karena minimnya ilmu yang mereka miliki. Karena
pengangkatan Dewan Pengawas Syariah bukan didasarkan pada keilmuannya, maka
sudah bisa dipastikan, fungsi pengawasan Dewan Pengawas Syariah tidak optimal,
akibatnya penyimpangan dan praktek syariah menjadi hal yang mungkin dan sering
Universitas Sumatera Utara
33
terjadi. Sehingga perbankan syariah sangat rentan terhadap kesalahan-kesalahan yang
bersifat syar’ah.
Tuntutan target, tingkat keuntungan yang lebih baik, serta penilaian kinerja
pada setiap cabang bank syari’ah, yang masih dominan didasarkan atas kinerja
keuangan, akan dapat mendorong para pimpinan dan praktisi yang bisa melanggar
ketentuan syari’ah. Hal ini akan semakin rentan terjadi pada bank syari’ah dengan
tingkat pengawasan syariah yang rendah.
Oleh karena itu masih banyak ditemukannya pelanggaran aspek syari’ah yang
dilakukan oleh lembaga-lembaga perbankan syariah, khususnya perbankan yang
konversi ke syariah atau membuka unit usaha syariah. Sering kali kasus-kasus yang
menyimpang dari syar’ah Islam di bank syari’ah, lebih dahulu diketahui oleh Bank
Indonesia daripada oleh Dewan Pengawa Syariah, sehingga Dewan Pengawas
Syari’ah baru mengetahui adanya penyimpangan syari’ah setelah mendapat informasi
dari Bank Indonesia.
Demikianlah lemahnya pengawasan Dewan Pengawas Syariah di bank-bank
syari’ah. Bank syariah harus menyadari bila mereka sering mengabaikan kepatuhan
prinsip syariah, mereka akan menghadapi risiko reputasi (reputation-risk) yang
bermuara pada kekecewaan masyarakat dan sekaligus merusak citra lembaga
perbankan syari’ah. Bank Indonesia selalu menyampaikan banyaknya indikasi
Universitas Sumatera Utara
34
pelanggaran syari’ah yang dilakukan oleh lembaga perbankan syari’ah dalam praktek
operasionalnya.37
Dari indikator pengawasan dan pemeriksaan yang dilaporkan Bank Indonesia,
masih ditemui berbagai sistem operasional bank syariah yang belum sesuai dengan
prinsip kepatuhan pada nilai-nilai syariah.38 Bank Syariah
seharusnya segera
meluruskan pihak manajemen bank syariah terkait.
Sejak dini Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) dan pengawas bank syari’ah,
harus meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di bank syari’ah. Hal ini
penting agar bank syari’ah tidak menjadi bank yang bermasalah. Khusus terhadap
prinsip-prinsip syari’ah, bankir syari’ah harus sepenuhnya konsisten terhadap
penerapan prinsip-prinsip syari’ah, karena umumnya di dunia ini kegagalan bank
syari’ah dapat terjadi, karena ketidak-konsistenan dalam menjalankan prinsip
syari’ah. Peran DPS sangat menentukan dalam mengawasi operasi bank syari’ah agar
tetap memenuhi prinsip-prinsip syari’ah. DPS harus secara aktif dan rutin melakukan
pengawasan terhadap bank syari’ah.
Kelangkaan ulama integratif sebagaimana disebut di atas, bahwa DPS harus
menguasai fiqh mu’amalah bersama perangkatnya (ilmu ushul fiqh, qawa’id fiqh,
tafsir dan hadits ekonomi), juga harus menguasai ilmu ekonomi keuangan dan
perbankan Islam modern. Tapi kenyataannnya persyaratan tersebut sangat sulit
37
sumber : http://blog.umy.ac.id/rodes2008/peran-dan-fungsi-dewan-pengawas-syariah-dps/
Topik : Peran dan Fungsi Dewan Pengawas Syariah Tautan http://www.gudangmateri.com/2011/01/
peran- dan-fungsi-dewan-pengawas-syariah.html.
38
Seminar Bank lndonesia dalam hal pengawasan bank syariah di Hotel mulya Jakarta oleh
Deputi Bank Indonesia Maulana lbrahim.
Universitas Sumatera Utara
35
diwujudkan, karena kita kekurangan ulama yang memahami kedua disiplin keilmuan
tersebut sekaligus.
Fenomena itu tidak saja di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Dalam
lembaga DPS bank syariah misalnya, harus mengetahui konsep dan mekanisme
operasional perbankan syari’ah, struktur dan terminologi bank dan LKS, legal
documentation, mengatahui dasar-dasar akuntansi sehingga bisa membaca laporan
keuangan, dan tentu saja pemahaman yang baik tentang fikih muamalah . Karena itu
Yasaar sebagai lembaga yang khusus menangani shariah board mulai merekrut
ulama muda potensial yang menguasai ilmu ekonomi keuangan.
Dengan ilmu yang integral tersebut pengawasan bisa lebih optimal dan
mereka bisa merumuskan menetapkan serta pembuatan fatwa hukum ekonomi
syari’ah di Indonesia, ulama muda potensial dapat direkrut di program Doktor
Ekonomi Ekonomi Islam yang mulai tumbuh dan berkembang di berbagai Perguruan
Tinggi. Keunggulan mereka ini adalah dikarenakan para Doktor Ekonomi memiliki
dua keahlian keilmuan sekaligus, yaitu pertama, fiqih mumalah, ushul fiqh, qawaid
fiqh serta ayat dan hadits ekonomi dan kedua, mereka juga mengerti tentang praktek
perbankan dan LKS yang disertai bekal ilmu ekonomi keuangan modern, sehingga
mereka bisa melakukan pengawasan dengan baik, bukan sekedar pajangan kharisma.
Universitas Sumatera Utara
36
C. Perbedaan Akad Pembiayaan Kredit Kepemilikan Rumah di Bank Syari’ah
dan Bank Konvensional
1. Akad Pembiayaan KPR di Bank Syariah
Bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah Islam adalah bank yang
dalam beroperasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang
menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam.39
Sebagaimana bank konvensional, bank syariah memiliki fungsi sebagai
intermediasi yang menjembatani para penabung dan investor. Hubungan antara bank
syariah dengan nasabah lebih bersifat partner dari pada lender atau borrower,
sehingga bank ini dapat bertindak sebagai pembeli, penjual, atau pihak yang
menyewakan. Produk yang ditawarkan bank syariah sangat bervariasi dengan prinsip
saling menguntungkan (fairness) dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan.
Produk yang ditawarkan bank syariah berupa pengerahan dana masyarakat,
penyaluran dan jasa perbankan lainnya.40
Produk pembiayaan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang digunakan
dalam perbankan syari’ah memiliki berbagai macam perbedaan dengan Kredit
Kepemilikan Rumah (KPR) di perbankan konvensional. Hal ini merupakan implikasi
dari perbedaan prinsipal yang diterapakan perbankan syari’ah dan perbankan
39
Edy Wibowo, Untung Hendy Widodo, Mengapa Memilih Bank Syariah, Ghalia Indonesia,
Bogor, 2005, hal. 87.
40
Ahmad Ramzy Tadjoeddin, et.al, Berbagai Aspek Ekonomi Islam, Tiara Wacana dan P3EI
UII, Yogyakarta, 1992, hal. 167-170.
Universitas Sumatera Utara
37
konvensional, yaitu konsep bagi hasil dan kerugian (profit and loss sharing) sebagai
pengganti sistem bunga perbankan konvensional.
Dalam produk pembiayaan kepemilikan rumah ini, terdapat beberapa
perbedaan antara perbankan syari’ah dan perbankan konvensional, di antaranya
adalah pemberlakuan sistem kredit dan sistem mark up, kebolehan dan
ketidakbolehan tawar menawar (bargaining position) antara nasabah dengan bank,
prosedur pembiayaan dan lain sebagainya.
Dari segi pengistilahan, untuk produk pembiayaan pemilikan rumah, perlu
dipikirkan suatu bentuk pengistilahan yang relevan. Karena istilah KPR cenderung
memunculkan asumsi terjadinya kredit, padahal dalam perbankan syari’ah tidak
menggunakan sistem kredit. Untuk menghindari hal itu (tetapi tetap menggunakan
istilah KPR), beberapa bank syari’ah (seperti BTN Syari’ah) memaknai KPR dengan
”Kebutuhan Pemilikan Rumah“.
Dalam menjalankan produk KPR, bank syari’ah memadukan dan menggali
skim-skim transaksi yang dibolehkan dalam Islam dengan operasional Kredit
Kepemilikan Rumah (KPR)perbankan konvensional. Adapun skim yang banyak
digunakan oleh perbankan syari’ah di Indonesia dalam menjalankan produk
pembiayaan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) adalah skim murabahah, istisna’ dan
ijaroh, khususnya ijarah muntahiya bi tamlik (IMBT).41
41
Helmi Haris, Pembiayaan Kepemilikan Rumah (Sebuah Inovasi Pembiayaan Perbankan
Syari’ah), Jurnal Ekonomi Islam, Vol. I Nomor.1, Juli 2007, hal. 4.
Universitas Sumatera Utara
38
Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Syariah menggunakan sistem berbasis
murabahah (jual beli). Secara etimologi, murabahah berasal dari kata ribh, yang
berarti keuntungan.42 Sedangkan dalam pengertian terminologis, murabahah adalah
jual beli barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang disepakati antara
penjual dengan pembeli.43
Dengan mengacu pada skim murabahah, dapat disimpulkan syarat-syarat
yang harus dipenuhi dalam transaksi KPR Syari’ah adalah sebagai berikut:44
1. Pihak bank harus memberitahukan biaya pembelian rumah kepada
nasabah KPR Syari’ah.
2. Kontrak transaksi KPR Syari’ah ini haruslah sah.
3. Kontrak tersebut harus terbebas dari riba
4. Pihak bank syari‘ah harus memberikan kejelasan tentang rumah yang
dijadikan obyek transaksi KPR Syari‘ah.
5. Penjual harus menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan proses
perolehan barang tersebut.
Sedangkan persyaratan yang ditetapkan oleh Majelis Ulama’ Indonesia (MUI)
tentang aplikasi murabahah dalam perbankan syari’ah, yaitu:
1. Bank dan nasabah harus mengadakan akad murabahah yang bebas riba.
2. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh Syari‘at Islam.
3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pemberian barang yang telah
disepakati kualitasnya.
42
Abdullah al-Muslih & Shalah ash-Shawi, Fikih Ekonomi Keuangan Islam, Daarul Haq,
Jakarta, 2004, hal. 198.
43
Adiwarman A. Karim, Bank Islam; Analisis Fiqih dan Keuangan, IIIT Indonesia, Jakarta,
2003, hal. 161.
44
Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah ; Dari Teori Ke Praktek, Gema Insani Press, Jakarta, 2001,
hal. 102.
Universitas Sumatera Utara
39
4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri,
bukan atas nama pembeli atau nasabah dan pembelian ini harus sah dan
bebas dari riba.
5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian,
misalnya, jika pembelian dilakukan secara hutang.
6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pesanan)
dengan harga jual senilai harga perolehan (harga beli ditambah dengan
pajak pertambahan nilai/ PPN, biaya angkut dan biaya lain yang terkait
dengan pembelian) ditambah dengan keuntungan. Dalam kaitan ini, bank
harus memberitahukan secara jujur harga pokok barang kepada nasabah
berikut biaya yang diperlukan.
7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada
jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut,
pihak bank dapat mengadakan perjanjian secara khusus dengan nasabah.
9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang
sendiri dari pihak ketiga, maka akad jual beli murabahah harus dilakukan
setelah barang secara prinsip menjadi milik bank.45
Sedangkan ketentuan murabahah kepada nasabah yang diawali dengan akad
wakalah antara lain :
45
Majelis Ulama’ Indonesia, Himpunan Fatwa-Fatwa Dewan Syari’ah Nasional, DSN MUI
bekerjasama dengan Bank Indonesia, Jakarta, 2003, hal. 17.
Universitas Sumatera Utara
40
1). Nasabah mengajukan permohonan secara murabahah kepada bank. Jika
bank setuju, maka akan diterbitkan offering letter kepada nasabah. Jika
nasabah setuju pembelian barang dilakukannya sendiri secara wakalah
atas nama bank, maka nasabah harus mengembalikan surat penawaran
tersebut kepada bank.
2). Dalam surat penawaran, bank dibolehkan meminta nasabah untuk
membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan.
3). Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih
dahulu asset yang dipesannya secara sah dari pedagang yang bonafide
sesuai dengan syarat-syarat dalam perjanjian.
4). Bank kemudian menawarkan asset tersebut kepada nasabah dan nasabah
harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan perjanjian yang telah
disepakatinya, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat;
kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli.
5). Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut karena barang
tidak sesuai, bank menanggung biaya risiko. Dan apabila nasabah
menolak membeli barang tersebut padahal barang sudah sesuai dengan
pesanan, maka biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.
6). Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh
bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.
7). Jika kontrak jual beli menggunakan uang muka atau memakai sistem
kontrak (urbun) sebagai altematif maka :
Universitas Sumatera Utara
41
a.) Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal
membayar sisa harga.
b.) Jika nasabah batal membeli barang tersebut, uang muka menjadi milik
bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat
pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah
wajib melunasi kekurangannya. Dan jika lebih, Bank wajib
mengembalikan sisa uang muka tersebut.
Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius dengan
pesanannya. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat
dipegang, antara lain dalam bentuk barang yang telah dibeli dari bank.
Secara prinsip, penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak
ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas
barang tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan
atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank.
Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib
segera melunasi seluruh angsurannya. Akan tetapi, jika penjualan barang tersebut
menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai
kesepakatan awal. la tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta
kerugian itu diperhitungkan.
Ketentuan diskon dalam murabahah ditentukan bahwa harga (tsaman) dalam
jual beli adalah suatu jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak, baik sama
dengan nilai (qimah) benda yang menjadi obyek jual beli, lebih tinggi maupun lebih
Universitas Sumatera Utara
42
rendah. Harga dalam jual beli murabahah adalah harga beli dan biaya yang
diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan. Jika dalam jual beli
murabahah bank mendapat diskon dari supplier, harga sebenarnya adalah harga
setelah diskon, karena itu diskon adalah hak nasabah. Akan tetapi, jika pemberian
diskon terjadi setelah akad, pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan
perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad. Pembagian diskon setelah akad
hendaklah diperjanjikan dan ditandatangani.
Didalam akad murabahah, mengenai ketentuan penundaan pembayaran,
nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian
hutangnya. Apabila nasabah tidak dapat memenuhi atau menyelesaikan hutangnya
sesuai dengan yang diperjanjikan, bank berhak mengenakan denda kecuali jika dapat
dibuktikan bahwa nasabah tidak mampu melunasi. Besarnya denda sesuai dengan
yang diperjanjikan dalam akad dan dana yang berasal dari denda diperuntukkan
sebagai dana social (qardhul hasan). Jika nasabah menunda-nunda pembayaran
dengan sengaja, atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka
penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapai
kesepakatan melalui musyawarah.
Murabahah berdasarkan pesanan dapat bersifat mengikat atau tidak mengikat
nasabah untuk membeli barang yang dipesannya. Dalam murabahah mengikat tidak
dapat dibatalkan. Apabila aktiva murabahah yang telah dibeli bank dalam transaksi
murabahah mengikat sebelum diserahkan kepada pembeli mengalami penurunan
nilai maka penurunan nilai tersebut menjadi beban penjual. Dalam murabahah juga
Universitas Sumatera Utara
43
diperkenankan adanya perbedaan dalam harga barang untuk cara pembayaran yang
berbeda.
Bank
dapat
memberikan
muqashah
(potongan)
apabila
nasabah
mempercepat pembayaran cicilan, atau melunasi piutang murabahah sebelum jatuh
tempo. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui
Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
Jadi didalam akad bank syari’ah, hubungan antara bank dengan nasabah
adalah hubungan kemitraan, artinya adanya transparansi atas kegunaan uang yang
dipakai tersebut. Hal ini didasarkan pada Hadist Nabi saw, yang mengatakan bahwa
setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba, sedangkan para ulama
sepakat bahwa riba itu haram. Karena itu dalam perbankan syari’ah, pinjaman tidak
disebut dengan kredit, tapi pembiayaan (financing), dengan kata lain bahwa nasabah
tidak secara langsung menerima uang dari pihak bank, melainkan banklah yang
membayarkan uang tersebut kepada pengembang sebagai supplier. Nasabah
diwajibkan untuk membayar harga, yang telah disepakati dengan pihak bank, secara
mencicil. Kesepakatan harga (yang didalamnya sudah terkandung mark up) ini tidak
berubah sampai berakhirnya kontrak.
Pada Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) bank syari’ah, akad yang dipakai
adalah nasabah dan bank berkongsi dalam pengadaan suatu barang. Untuk membeli
rumah tersebut, nasabah harus membayar kepada bank sebesar jumlah yang dimiliki
oleh bank, karena pembayarannya dilakukan secara angsuran, penuruan porsi
kepemilikan bank pun berkurang secara proporsional sesuai besarnya angsuran.
Universitas Sumatera Utara
44
Barang yang telah dibeli secara kongsi tersebut baru akan menjadi milik nasabah
setelah porsi nasabah menjadi seratus persen dan bank nol persen. Dalam syari’ah
Islam, barang milik perkongsian bisa disewakan kepada siapapun, termasuk kepada
anggota perkongsian itu sendiri, dalam hal ini adalah nasabah.
Dengan merujuk pada skim murabahah, penentuan harga atau keuntungan
dan angsuran dalam KPR Syari’ah haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan
berikut:46
1). Keuntungan atau mark-up yang diminta bank harus diketahui oleh
nasabah.
2). Harga jual bank adalah harga beli (harga perolehan) bank ditambah
keuntungan.
3). Harga jual tidak boleh berubah selama masa perjanjian.
4). Sistem pembayaran dan jangka waktunya disepakati bersama.
2. Akad Pembiayaan KPR di Bank Konvensional
Pengertian Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya
secara konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa lalu lintas
pembayaran, Usaha Bank Umum Konvensional menghimpun dana dari masyarakat
dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, serta sertifikat deposito,
tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu memberikan kredit,
46
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
45
menerbitkan surat pengakuan hutang, berjangka pendek dan berjangka panjang
berupa obligasi atau sekuritas kredit.47
Kegiatan umum lain bank konvensional sebagai berikut :
1). Investasi yang halal dan haram.
2). Memakai perangkat bunga.
3). Profit oriented
4). Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kreditur-debitur.
5). Tidak terdapat dewan sejenis.
6). Pada bank konvensional, kepentingan pemilik dana (deposan) adalah memperoleh
imbalan berupa bunga simpanan yang tinggi, sedang kepentingan pemegang
saham adalah diantaranya memperoleh spread yang optimal antara suku bunga
simpanan dan suku bunga pinjaman (mengoptimalkan interest difference). Dilain
pihak kepentingan pemakai dana (debitor) adalah memperoleh tingkat bunga yang
rendah (biaya murah). Dengan demikian terhadap ketiga kepentingan dari tiga
pihak tersebut terjadi antagonisme yang sulit diharmoniskan. Dalam hal ini bank
konvensional berfungsi sebagai lembaga perantara saja.
7). Tidak adanya ikatan emosional yang kuat antara Pemegang Saham, Pengelola
Bank dan Nasabah karena masing-masing pihak mempunyai keinginan yang
bertolak belakang.
47
Julius R Latumaerissa, Bank dan Lembaga Keuangan lain, Salemba Empat, Jakarta, 2011,
hal.135.
Universitas Sumatera Utara
46
8). Sistem bunga:
Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu
untung untuk pihak Bank. Besarnya prosentase berdasarkan pada jumlah uang
(modal) yang dipinjamkan. Jumlah pembayaran bunga tidak mengikat meskipun
jumlah keuntungan berlipat ganda saat keadaan ekonomi sedang baik. Eksistensi
bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk agama Islam.
Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan proyek yang
dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.
Pelaksanaan pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada bank
konvensional dan bank unit syariah berdasarkan prinsip kehati-hatian memiliki
perbedaan dalam hal :
a. Perjanjian,
b. Jangka waktu,
c. Ketentuan biaya
d. Perhitungan bunga atau bagi hasil.
Persamaan yang ada di Bank Syariah dan Bank Konvensional adalah :
a. Syarat pelaksanaan pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR),
b. Jaminan,
c. Pelaksanaan pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Flowchart
d. pelaksanaan pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Sedangkan perbedaan pelaksanaan pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
pada bank konvensional adalah system perhitungan angsuran, dimana pada bank
Universitas Sumatera Utara
47
konvensional terkenal dengan system bunga. Sedangkan pada bank unit syariah lebih
terkenal system angsuran dengan bagi hasil, dimana kedua belah pihak mengadakan
perjanjian sesuai dengan akad Murabahah atau akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik
(IMBT).
Selain itu, penelitian ini pun membahas tentang permasalahan pelaksanaan
pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada bank kovensional dan bank unit
syariah yang dihadapin oleh Bank Tabungan Negara Syariah cabang Batam , antara
lain :
1.
Nasabah
2.
Masalah jaminan
3.
Terjadinya kredit macet
Dengan demikian, dalam melakukan pelaksanaan pemberian Kredit Pemilikan
Rumah (KPR) pada bank kovensional dan bank unit syariah haruslah berdasarkan
prinsip kehati-hatian karena berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
tentang Perbankan adalah Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai
dengan ketentuan :
1. Kecukupan modal
2. Kualitas aset
3. Kualitas manajemen
4. Likuidasi
5. Rentabilitas
6. Rolvabilitas
Universitas Sumatera Utara
48
Sesuai dengan peraturan berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008
tentang unit syariah adalah Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah dalam melakukan
kegiatan usahanya wajib menerapkan prinsip kehati-hatian.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam KPR perbankan
konvensional, sistem yang digunakan adalah kredit, sehingga nasabah menerima
langsung sejumlah uang dari bank yang kemudian dibayarkan oleh nasabah kepada
pengembang perumahan. Jadi hubungan yang terjadi antara pihak bank dengan
nasabah adalah hubungan hutang piutang. Nasabah harus membayar kepada pihak
bank dengan cara mengangsur dengan melihat pada rate suku bunga pasar. Dalam
konteks ini, cost akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Karena waktu
memiliki harga tersendiri, maka setiap perpanjangan waktu akan menaikkan harga.
Jadi dengan ditundanya masa pembayaran selama sekian waktu, maka secara tidak
langsung orang yang berhutang harus membayar uang tambahan pengembalian pada
pihak bank.
Universitas Sumatera Utara
Download