ANALISIS PENGARUH VARIABEL MAKROEKONOMI DOMESTIK

advertisement
ANALISIS PENGARUH VARIABEL MAKROEKONOMI DOMESTIK
DAN MAKROEKONOMI GLOBAL TERHADAP INDEKS SAHAM
SYARIAH INDONESIA (ISSI) PERIODE 2012 – 2016
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Anggardito Antokolaras
NIM : 1112086000040
JURUSAN EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1438 H / 2017 M
i
ii
iii
iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Identitas Pribadi
Nama
: Anggardito Antokolaras
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Tempat, Tanggal Lahir
: Jakarta, 4 April 1994
Kewarganegaraan
: Indonesia
Status
: Belum Menikah
Tinggi/Berat
: 171 cm / 75 kg
Agama
: Islam
Pendidikan Terakhir
: Madrasah Aliyah
Alamat
: Perum. Villa Pamulang Mas Jln. Puring Mas II
Blok C7/12 RT 003/006 Bambu Apus, Pamulang,
Tangerang Selatan
No. HP
: 0812-9811-9151
E-mail
: [email protected]
Pendidikan Formal
2000 – 2006
: MI Pembangunan UIN Jakarta
2006 – 2009
: MTS Pembangunan UIN Jakarta
2009 – 2012
: MA Pembangunan UIN Jakarta
2012 – 2017
: Program Sarjana (S1) Jurusan Ekonomi Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
v
Pengalaman Organisasi
1. Anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah (2013 – 2014).
2. KKN (Kuliah Kerja Nyata) UIN Jakarta 2015.
Seminar
1. Seminar Motivasi dan Kewirausahaan “Burn Your Spirit! Be A Super
Student” pada tanggal 6 September 2012.
2. Seminar Nasional IAEI “Penyiapan SDM Berbasis Kompetensi Syariah
dalam Pengembangan Perbankan Syariah Era MEA 2015” pada tanggal 11
Oktober 2014.
vi
ABSTRACT
This study aims to determine the Influence Analysis of Domestic
Macroeconomic Variables and Global Macroeconomic to Indonesia Sharia
Shares Index (ISSI) Period 2012 – 2016. The object of this research is the
Indonesia Sharia Shares Index (ISSI) in Indonesia Stock Exchange period July
2012 – July 2016. The analysis method used in this research is Multiple Linear
Regression
using
SPSS
16
and
Microsoft
Excel
2010.
From the results of the hypothesis simultaneously (F test) shows that the
Inflation, Exchange Rate, Bank Indonesia Sharia Certificates (SBIS), BI Rate, and
World Gold Price significantly influence the Indonesia Sharia Shares Index (ISSI)
with a significance value of 0,000. Based on partial hypothesis result (t test)
shows that variable of Inflation, Exchange Rate, Bank Indonesia Sharia
Certificates (SBIS), and BI Rate have a significant effect to Indonesia Sharia
Shares Index (ISSI) while World Gold Price variables have no significant effect to
ISSI.
Keywords : Inflation, Exchange Rate, SBIS, BI Rate, World Gold Price, ISSI,
Multiple Linear Regression.
vii
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Analisis Pengaruh Variabel
Makroekonomi Domestik dan Makroekonomi Global terhadap Indeks Saham
Syariah Indonesia (ISSI) Periode 2012 – 2016. Objek dalam penelitian ini adalah
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) di Bursa Efek Indonesia periode Juli 2012
– Juli 2016. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Regresi
Linier Berganda dengan menggunakan SPSS 16 dan Microsoft Excel 2010.
Dari hasil hipotesis secara simultan (uji-F) menunjukkan bahwa Inflasi,
Kurs, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Suku Bunga, dan Harga Emas
Dunia berpengaruh signifikan terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)
dengan nilai signifikansi 0,000. Berdasarkan hasil hipotesis secara parsial (uji-t)
menunjukkan bahwa variabel Inflasi, Kurs, Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS), dan BI Rate berpengaruh signifikan terhadap Indeks Saham Syariah
Indonesia (ISSI) sedangkan variabel Harga Emas Dunia tidak berpengaruh
signifikan terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).
Kata kunci : Inflasi, Kurs, SBIS, Suku Bunga, Harga Emas Dunia, ISSI, Regresi
Linier Berganda.
viii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Analisis
Pengaruh Variabel Makroekonomi Domestik dan Makroekonomi Global terhadap
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) Periode 2012 – 2016” sebagai salah satu
syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tak lupa
pula shalawat dan salam tercurahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad
SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.
Penulis menyadari bahwa penulisan ini tidak dapat terselesaikan tanpa
dukungan, bantuan, bimbingan serta doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan skripsi ini terutama pada:
1. Kedua orang tua pembimbing sepanjang masa, Papah dan Mamah. Terima
kasih telah mencintai, mendidik, memberikan pelajaran, memotivasi, dan
berdo’a tanpa henti kepada penulis. Serta, adik Saya Laras yang selalu
menghibur dan menghapus segala kejenuhan selama proses penyelesaian
skripsi ini.
2. Bapak Dr. Arief Mufraini, Lc,M.Si selaku Dekan FEB, Bapak Dr.Amilin,
SE., Ak.,M.Si., QIA., BKP selaku Wakil Dekan I Bid. Akademik, Bapak Dr.
Ade Sofyan Mulazid, S.Ag, M.H selaku Wakil Dekan II Bid Administrasi
Umum dan Bapak Dr. Desmadi Saharuddin M.A selaku Wakil Dekan III Bid.
Kemahasiswaan yang telah memberikan jalan bagi saya dalam mengerjakan
skripsi ini.
3. Bapak Yoghi Citra Pratama, M.Si selaku Ketua Jurusan Ekonomi Syariah dan
Ibu Endra Kasni Laila Yuda, S.Ag., M.Si selaku Sekretaris Jurusan Ekonomi
Syariah.
4. Bapak Ali Rama, S.E., M.Ec selaku Dosen Penasihat Akademik.
5. Bapak Dr. Burhanuddin Yusuf MM., MA selaku Dosen Pembimbing Skripsi
I yang dengan kerendahan hati bersedia meluangkan waktunya untuk
memberikan pengarahan, ilmu yang bermanfaat, serta masukan yang sangat
berarti selama penyelesaian skripsi ini.
6. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, terima kasih atas curahan ilmu
yang Bapak dan Ibu berikan kepada kami. Semoga amalmu mendapat
keberkahan dari Allah SWT.
7. Seluruh jajaran karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, atas kerja kerasnya
melayani mahasiswa dengan baik dan meningkatkan citra Fakultas Ekonomi
dan Bisnis.
8. Ari Pramana dan Ulul Albab dengan kerendahan hati telah berbagi ilmu dan
memberikan banyak saran dan dukungan bagi Saya selama penulisan skripsi
ini.
ix
9. Sahabat-sahabat terbaik “FF” Mubasysyir Jamili, Aditya Mulawarman Setya,
Ari Pramana, Ahmad Zacky Siddiq, Ulul Albab Badru Zaman, Dorojatyas
Nuroska Hutomo, Ulfa Rianti, Suci Nuraini, Irianne Sakinah, Annisa
Nurhidayati Arief Daud, dan Fitriyani yang telah menemani dan mengisi harihari selama kuliah, terimakasih atas kebersamaan, perjuangan, dan semua
cerita yang telah terangkai.
10. Sahabat-sahabat MTS Mufti Gilang, Mirza Andre, Enggar, Puspita, Adinda
Viviani, terimakasih telah memberikan motivasi selama penulisan skripsi ini.
11. Wisnu Wardhana teman terbaik IPS yang telah memberikan semangat, kritik,
saran, dan motivasi selama penulisan skripsi ini.
12. Kelompok KKN BRIGHT, yang telah menghabiskan waktu hidup satu bulan
bersama dengan canda dan tawa serta pelajaran hidup yang sangat berguna
bagi saya.
13. Terimakasih teman-teman Ekonomi Syariah angkatan 2012 atas empat tahun
kebersamaan dengan kalian yang penuh warna dan adik-adik Ekonomi
Syariah angkatan 2013 – 2015 yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas
semangat, do’a, dan dukungannya.
14. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun skripsi ini masih terdapat
kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.
Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun masih sangat diperlukan
penulis. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat yang positif bagi semua
pihak.
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Jakarta, 22 Juni 2017
Anggardito Antokolaras
x
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ..........................................................
i
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF .............................
ii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ...............................................
iii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .....................................
iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP .....................................................................
v
ABSTRACT ...................................................................................................
vi
ABSTRAK .................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR ..................................................................................
ix
DAFTAR ISI ................................................................................................
xi
DAFTAR TABEL ......................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang....................................................................................
1
B. Pembatasan Masalah .......................................................................... 14
C. Perumusan Masalah ........................................................................... 14
D. Tujuan Penelitian ................................................................................ 15
E. Manfaat Penelitian .............................................................................. 16
F. Sistematika Penulisan ......................................................................... 17
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori .................................................................................. 19
1. Investasi .......................................................................................... 19
xi
2. Pasar Modal Syariah ....................................................................... 27
3. Saham ............................................................................................ 34
4. Indeks Saham.................................................................................. 42
5. Inflasi ............................................................................................ 40
6. Exchange Rate (ER) USD/IDR ........................................................ 57
7. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) ....................................... 60
8. BI Rate ……………………………………………………………..
66
9. Harga Emas Dunia ......................................................................... 68
B. Keterkaitan Antara Variabel Bebas dengan Variabel Terikat .............. 70
C. Penelitian Terdahulu .......................................................................... 75
D. Kerangka Pemikiran ........................................................................... 79
E. Hipotesis ............................................................................................ 80
BAB III METODE PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................... 83
B. Metode Pengumpulan Data ................................................................. 83
C. Teknik Analisis Data .......................................................................... 84
D. Operasional Variabel Penelitian .......................................................... 95
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian .................................................... 99
B. Analisis dan Pembahasan .................................................................... 112
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................... 134
B. Saran ................................................................................................. 135
xii
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 136
LAMPIRAN ................................................................................................. 139
xiii
DAFTAR TABEL
No.
Keterangan
1.1
Kapitalisasi Pasar Bursa Efek Indonesia
Halaman
6
1.2
Perkembangan Kurs Periode Juli 2012 – Juli 2016
8
1.3
Perkembangan SBIS Periode Juli 2012 – Juli 2016
9
1.4
Perkembangan BI Rate Periode Juli 2012 – Juli 2016
10
1.5
Perkembangan Harga Emas Dunia Periode Juli 2012 – Juli 2016
11
2.1
Penelitian Terdahulu
75
3.1
Kriteria Pengujian Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson
91
4.1
Perkembangan Kurs Periode Juli 2012 – Juli 2016
105
4.2
Perkembangan SBIS Periode Juli 2012 – Juli 2016
107
4.3
Perkembangan BI Rate Periode Juli 2012 – Juli 2016
109
4.4
Perkembangan Harga Emas Dunia Periode Juli 2012 – Juli 2016
111
4.5
Hasil Uji Normalitas Secara Statistik
117
4.6
Hasil Uji Multikolonieritas
118
4.7
Hasil Uji Durbin-Watson
121
4.8
Hasil Uji-F
122
4.9
Hasil Uji-t
123
4.10
Hasil Uji R-Square
131
4.11
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
132
xiv
DAFTAR GAMBAR
No.
1.1
2.1
Keterangan
Perkembangan Inflasi Periode Juli 2012 – Juli 2016
Kerangka Pemikiran
Halaman
7
79
4.1
Perkembangan ISSI Periode Juli 2012 – Juli 2016
101
4.3
Hasil Uji Normalitas Secara Grafik Histogram
113
4.4
Hasil Uji Normalitas Secara Grafik P-p Plot
115
4.5
Hasil Uji Heterokedastisitas Secara Scatterplot
120
xv
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Keterangan
Halaman
1.
Uji Asumsi Klasik
139
2.
Hasil Uji Multikolonieritas
141
3.
Hasil Uji Heterokedastisitas
142
4.
Hasil Uji Autokorelasi
143
5.
Uji Hipotesis
143
6.
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
144
7.
Data Variabel Penelitian (Data Mentah)
145
8.
Tabel Persentase Distribusi Funtuk α = 0,05
149
9.
Tabel Persentase Distribusi t
150
10.
Daftar Saham ISSI
151
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Semenjak krisis ekonomi menghantam Indonesia pada pertengahan 1997,
kinerja pasar modal mengalami penurunan tajam bahkan diantaranya
mengalami kerugian. Kondisi ini tentu akan mempengaruhi Investor untuk
melakukan investasi di pasar modal khusunya saham, dan akan berdampak
terhadap harga pasar saham di bursa. Selain itu, krisis ekonomi juga
menyebabkan variabel-variabel ekonomi seperti suku bunga, inflasi, nilai
tukar, maupun pertumbuhan ekonomi mengalami perubahan yang cukup tajam.
Suku bunga meningkat sampai mencapai angka 68,76% pertahun pada tahun
1998, demikian juga inflasi mencapai angka 77 % pertahun (Statistik Ekonomi
Keuangan Indonesia, 1998 dalam Novianto : 2).
Pada pertengahan tahun 2007, Amerika Serikat dilanda krisis subprime
mortgage dan memuncak pada September 2008 yang ditandai dengan
pengumuman kebangkrutan beberapa lembaga keuangan. Awal mula masalah
tersebut terjadi pada periode 2000-2001, saat saham-saham perusahaan
dotcom4 di Amerika Serikat kolaps, sehingga perusahaan-perusahaan yang
menerbitkan saham tersebut tidak mampu membayar pinjaman ke bank. Untuk
mengatasi hal tersebut, The Fed (Bank Sentral AS) menurunkan suku bunga.
Suku bunga yang rendah dimanfaatkan oleh para perusahaan developer dan
perusahaan pembiayaan perumahan. Rumah-rumah yang dibangun oleh
1
developer dan dibiayai oleh perusahaan pembiayaan perumahan adalah rumahrumah murah, dijual kepada kalangan berpenghasilan rendah yang tidak
memiliki jaminan keuangan yang memadai. Dengan runtuhnya nilai saham
perusahaan-perusahaan tersebut, bank menghadapi gagal bayar dari para
debiturnya (developer dan perusahaan pembiayaan perumahan).
Menurut Crockett (1997), stabilitas keuangan erat kaitannya dengan
kesehatan suatu perekonomian. Semakin sehat sektor keuangan di suatu
negara, semakin sehat pula perekonomian, demikian pula sebaliknya. Dengan
demikian perkembangan sektor keuangan, termasuk di dalamnya pasar modal,
merupakan salah satu indikator yang perlu diperhatikan untuk menjaga
kesehatan atau kestabilan perekonomian. Pergerakan harga saham, obligasi,
dan sebagainya di pasar modal suatu negara disebabkan oleh persepsi investor
terhadap kondisi pasar modal tersebut. Persepsi ini pada akhirnya akan
mempengaruhi dana investasi yang masuk ke negara tersebut, sehingga
mempengaruhi keadaan perekonomian negara yang bersangkutan. Hal tersebut
bukan hanya terjadi di Amerika Serikat, namun juga melanda Eropa dan Asia,
termasuk Indonesia.
Nilai tukar Rupiah terhadap USD mulai merosot sejak pertengahan tahun
2008 dan terus terdepresiasi hingga mencapai level terendah pada awal tahun
2009 yaitu sebesar Rp. 11.900 per 1 USD. Perubahan nilai tukar yang terjadi,
baik apresiasi maupun depresiasi akan mempengaruhi kegiatan ekspor impor di
negara tersebut, karena USD masih merupakan mata uang yang mendominasi
pembayaran perdagangan global.
2
Kenaikan maupun penurunan ekspor dan impor akan mempengaruhi
penerimaan Negara yang diperoleh dari pajak perdagangan internasional.
Depresiasi rupiah pada pertengahan tahun 2008 menyebabkan peningkatan
ekspor yang mempengaruhi penerimaan bea keluar pada khususnya dan pajak
perdagangan internasional pada umumnya. Perubahan nilai ekspor dan impor
juga mempengaruhi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Indeks produksi
merupakan
indikator
perekonomian
yang
sering
digunakan
untuk
menggantikan PDB dikarenakan publikasi datanya yang dilakukan setiap bulan
(Nezky, 2013:90-91).
Kondisi tersebut mulai mempengaruhi kinerja keuangan perusahaanperusahaan di Indonesia, dan tentunya akan mempengaruhi Investor untuk
berinvestasi di pasar modal, khususnya pada surat-surat berharga. Situasi ini
mengakibatkan kegiatan produksi dan investasi menjadi terbatasi karena dunia
perbankan menjadi enggan untuk menyalurkan kredit disebabkan tingginya
ketidakpastian. Pada saat yang sama, bank-bank yang sedang kesulitan
likuiditas, karena tidak mendapatkan pinjaman dari bank yang memiliki
kelebihan likuiditas, terpaksa menetapkan suku bunga tinggi untuk tabungan
dan deposito guna memenuhi kebutuhan akan dana operasional mereka,
walaupun BI sudah menurunkan tingkat suku bunga acuannya. Bagi sebagian
orang, suku bunga yang tinggi merupakan suatu peluang investasi yang
menjanjikan karena adanya kepastian pendapatan yang lebih besar. Akibatnya
bursa saham akan mengalami tekanan karena dana yang tersedia di masyarakat
lebih banyak terserap di tabungan dan deposito (Nurhakim, 2010:2).
3
Faktor tersebut merupakan salah satu faktor yang menyebabkan ekonomi
syariah tumbuh berkembang begitu besar di Indonesia. Karena saat perbankan
konvensional merosot tajam, kondisi sebaliknya justru terjadi pada perbankan
syariah. Perbankan syariah justru dapat menunjukkan kinerja yang relatif lebih
baik dibandingkan dengan lembaga perbankan konvensional. Hal ini dapat
dipahami mengingat tingkat pengembalian pada bank syariah tidak mengacu
pada tingkat suku bunga tetapi berdasarkan prinsip bagi hasil. Kondisi ini
membuat kepercayaan dan harapan masyarakat yang tinggi terhadap perbankan
syariah sebagai alternatif sistem perbankan yang sehat dan juga memenuhi
prinsip-prinsip syariah.
Berdasarkan historis perbankan syariah tersebut, mulai menjamurlah
ekonomi berbasis sistem syariah yang hadir memberikan pilihan kepada
masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonominya atas dasar syariah. Banyak
lembaga
keuangan
yang
dapat
disalurkan
untuk
menyimpan,
menginvestasikan, dan memperoleh daya guna dari harta agar dapat
dimanfaatkan sehingga tidak terjadi penimbunan uang yang menyebabkan
mubazir yang dilarang oleh Islam. Lembaga keuangan tersebut seperti asuransi
syariah, pegadaian syariah, dan tidak terkecuali pasar modal syariah.
Pasar modal merupakan salah satu tonggak penting dalam perekonomian
dunia saat ini yang menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi
perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (Investor). Dana
yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha,
penambahan
modal
kerja,
dan
lain-lain.
Banyak
perusahaan
yang
4
menggunakan institusi pasar modal sebagai media untuk menyerap investasi
dalam memperkuat kondisi keuangannya (Burhanuddin, 2010:131). Kedua,
pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen
keuangan, seperti saham, obligasi, reksadana, dan lain-lain. Dengan demikian,
masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai dengan
karakteristik keuntungan dan risiko masing-masing konsumen. Pasar modal
didefinisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan penawaran umum
dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang
diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek
(Martalena dan Malinda, 2011). Indonesia sebagai salah satu Negara muslim
terbesar di dunia merupakan pasar yang sangat besar untuk pengembangan
industri keuangan syariah. Investasi syariah di pasar modal yang merupakan
bagian dari industri keuangan syariah, mempunyai peranan yang cukup penting
untuk meningkatkan pangsa pasar industri keuangan syariah di Indonesia.
Pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian
banyak pihak khususnya masyarakat bisnis. Perkembangan pasar modal di
Indonesia telah menjadi salah satu alternatif dan sarana investasi yang menarik
bagi para pelaku pasar modal. Salah satu contoh berinvestasi ialah dengan
menanamkan modalnya pada pasar modal syariah. Jakarta Islamic Index (JII)
adalah salah satu alat ukur kinerja pasar modal syariah yang terdiri dari 30
saham syariah yang likuid berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Perkembangan
pasar modal syariah di Indonesia semakin semarak dengan lahirnya Indeks
Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang diterbitkan oleh Bapepam-LK dan
5
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) pada tanggal
12 Mei 2011.
Indeks Saham Syariah Indonesia merupakan salah satu indeks saham
berbasis syariah di Bursa Efek Indonesia. Konstituen ISSI adalah seluruh
saham yang tergabung dalam Daftar Efek Syariah (DES) dan tercatat di BEI.
Alasan yang melatarbelakangi dibentuknya ISSI adalah untuk memisahkan
antara saham syariah dengan saham non syariah yang dahulunya disatukan
didalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Cara ini diharapkan agar
masyarakat yang ingin menginvestasikan modalnya pada saham syariah tidak
lagi salah tempat.
Tabel 1.1
Kapitalisasi Pasar Bursa Efek Indonesia
Tahun
2011
ISSI
(Miliar Rp.)
1.968.091,37
JII
(Miliar Rp.)
1.414.983,81
2012
2.451.334,37
1.671.004,23
2013
2.557.846,77
1.672.099,91
2014
2.946.892,79
1.944.531,70
2015
2.600.850,72
1.737.290,98
2016
3.175.053,04
2.041.070,80
Sumber : www.ojk.go.id, data diolah
Pada tabel 1.1 menunjukkan bahwa dari mulai dibentuknya ISSI pada Mei
2011 tercatat sebesar 1.968.091,37 hingga tahun 2016 mencapai 3.175.053,04
6
yang melebihi cukup tinggi dibandingkan dengan indeks JII. Setiap tahunnya
ISSI memberikan kontribusi yang cukup besar dibandingkan dengan JII. Trend
naik yang dialami ISSI ini menandakan adanya faktor-faktor sensitif yang
dapat mempengaruhi fluktuasi pergerakannya.
Berikut ini adalah data persentase tingkat inflasi yang dialami
Indonesia pada tahun 2016:
Gambar 1.1
Perkembangan Inflasi Periode Juli 2012 – Juli 2016
Sumber : Bank Indonesia, data diolah
Pada Gambar 1.1 diatas menunjukkan bahwa perkembangan inflasi
mengalami fluktuatif setiap tahunnya. Tingkat inflasi tertinggi terjadi pada
bulan Juli tahun 2013 sebesar 8,61 %, kemudian mengalami penurunan yang
tajam pada bulan Juli tahun 2014 sebesar 4,53 %. Pada akhir tahun 2014 inflasi
kembali mengalami kenaikan sampai dengan pertengahan tahun 2015 sebesar
7
7,26 %, kemudian mengalami penurunan yang tajam pada pertengahan tahun
2016 sebesar 3,21 %. Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif
tergantung parah atau tidaknya inflasi tersebut. Apabila inflasi ringan, justru
mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian
lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang
bergairah untuk bekerja, menabung, dan mengadakan investasi. Sebaliknya,
dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali,
keadaan perekonomian menjadi kacau. Tak hanya orang miskin, orang kaya
pun akan terkena dampak dari inflasi. Nilai uang yang mereka miliki akan
sama-sama tergerus. Tapi, tentu saja daya tahan masing-masing orang untuk
bisa memikul dampak inflasi berbeda-beda. Orang miskin merasakan dampak
yang paling pahit.
Tabel 1.2
Perkembangan Kurs Periode Juli 2012 – Juli 2016
Rupiah
Tahun
Bulan
2012
2013
2014
2015
Januari
9.698
12.226
12.625
Februari
9.667
11.634
12.863
Maret
9.719
11.404
13.084
April
9.722
11.532
12.937
Mei
9.802
11.611
13.211
Juni
9.929
11.969
13.332
Juli
9.485
10.278
11.591
13.481
Agustus
9.560
10.924
11.717
14.027
September
9.588
11.613
12.212
14.657
Oktober
9.615
11.234
12.082
13.639
November
9.605
11.977
12.196
13.840
Desember
9.670
12.189
12.440
13.795
Sumber : www.pusatdata.kontan.co.id, data diolah
2016
13.846
13.395
13.276
13.204
13.615
13.180
13.094
8
Pada Tabel 1.2 diatas menunjukkan bahwa nilai kurs tertinggi pada tahun
2012 terjadi pada bulan Desember sebesar 9.670 Rupiah dan terendah pada
bulan Juli sebesar 9,485 Rupiah. Pada tahun 2013 kurs tertinggi terjadi pada
bulan Desember sebesar 12.189 Rupiah dan terendah pada bulan Februari
sebesar 9.667 Rupiah. Pada tahun 2014 kurs tertinggi terjadi pada bulan
Desember sebesar 12.440 Rupiah dan terendah pada bulan Maret sebesar
11.404 Rupiah. Pada tahun 2015 kurs tertinggi terjadi pada bulan September
sebesar 14.657 Rupiah dan terendah pada bulan Januari sebesar 12.626 Rupiah.
Pada tahun 2016 kurs tertinggi pada bulan Januari sebesar 13.846 Rupiah dan
terendah pada bulan Juli 13.094 Rupiah. Sedangkan selama periode penelitian
ini kurs tertinggi terjadi pada bulan September 2015 sebesar 14.657 Rupiah dan
terendah pada bulan Juli 2012 sebesar 9.485 Rupiah.
Tabel 1.3
Perkembangan SBIS Periode Juli 2012 – Juli 2016
Triliun
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Tahun
2012
2013
2014
4.709
5.253
5.103
5.331
5.611
5.843
5.343
6.234
5.423
6.680
5.443
6.782
3.036
4.640
5.880
2.918
4.299
6.514
3.412
4.523
6.450
3.321
5.213
6.680
3.242
5.107
6.530
4.993
6.699
8.130
Sumber : www.ojk.go.id, data diolah
2015
8.050
9.040
8.810
9.130
8.858
8.858
8.163
8.585
7.720
7.192
6.495
6.280
2016
6.275
7.188
6.994
7.683
7.225
7.470
8.130
9
Pada tabel 1.3 menunjukkan bahwa nilai SBIS tertinggi pada tahun 2012
terjadi pada bulan Desember sebesar 4.993 dan terendah terjadi pada bulan
Agustus sebesar 2.918. Pada tahun 2013 nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan
Desember sebesar 6.699 dan terendah terjadi pada bulan Agustus sebesar
4.299. Pada tahun 2014 nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan Desember
sebesar 8.130 dan terendah terjadi pada bulan Januari sebesar 5.253. Pada
tahun 2015 nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan April sebesar 9.130 dan
terendah terjadi pada bulan Desember sebesar 6.280. Pada tahun 2016 nilai
SBIS tertinggi terjadi pada bulan Juli sebesar 8.130 dan terendah terjadi pada
bulan Januari sebesar 6.275. Sedangkan selama periode penelitian, nilai SBIS
tertinggi terjadi pada bulan April tahun 2015 sebesar 9.130 dan nilai terendah
terjadi pada bulan Agustus tahun 2012 sebesar 2.918.
Tabel 1.4
Perkembangan BI Rate Periode Juli 2012 – Juli 2016
Persen%
Tahun
2012 2013 2014 2015
2016
Januari
5,75 7,5
7,75
7,25
Februari
5,75 7,5
7,5
7
Maret
5,75 7,5
7,5
6,75
April
5,75 7,5
7,5
6,75
Mei
5,75 7,5
7,5
6,75
Juni
6
7,5
7,5
6,5
Juli
5,75 6,5
7,5
7,5
6,5
Agustus
5,75
7
7,5
7,5
September 5,75 7,25 7,5
7,5
Oktober
5,75 7,25 7,5
7,5
November 5,75 7,5 7,75
7,5
Desember 5,75 7,5 7,75
7,5
Sumber : www.bi.go.id, data diolah
Bulan
10
Berdasarkan Tabel 1.4 diatas menunjukkan bahwa suku bunga tertinggi
terjadi pada bulan November dan Desember tahun 2014 sebesar 7,75 % dan
suku bunga terendah terjadi pada bulan Juli 2012 sampai bulan Mei 2013
sebesar 5,75 %.
Tabel 1.5
Perkembangan Harga Emas Dunia Periode Juli 2012 – Juli 2016
Triliun
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Tahun
2013
2014
2015
1644.75
1251.00
1260.25
1588.50
1326.50
1214.00
1598.25
1291.75
1187.00
1469.00
1288.50
1180.25
1394.50
1250.50
1191.40
1192.00
1315.00
1171.00
1622.50
1314.50
1285.25
1098.40
1648.50
1394.75
1285.75
1135.00
1776.00
1326.50
1216.50
1114.00
1719.00
1324.00
1164.25
1142.35
1726.00
1253.00
1182.75
1061.90
1657.50
1204.50
1206.00
1060.00
Sumber : www.kitco.com, data diolah
2012
2016
1111.80
1234.90
1237.00
1285.65
1212.10
1320.75
1342.00
Pada Tabel 1.5 menunjukkan bahwa nilai tertinggi Harga Emas Dunia
pada tahun 2012 terjadi pada bulan September sebesar 1776.00 dan nilai
terendah terjadi pada bulan Juli sebesar 1622.50. Pada tahun 2013 nilai
tertinggi Harga Emas Dunia terjadi pada bulan Januari sebesar 1644.75 dan
nilai terendah terjadi pada bulan Juni sebesar 1192.00. Pada tahun 2014 nilai
tertinggi Harga Emas Dunia terjadi pada bulan Februari sebesar 1326.50 dan
nilai terendah terjadi pada bulan Oktober sebesar 1164.25. Pada tahun 2015
nilai tertinggi Harga Emas Dunia terjadi pada bulan Januari sebesar 1260.25
11
dan nilai terendah terjadi pada bulan Desember sebesar 1060.00. Pada tahun
2016 nilai tertinggi Harga Emas Dunia terjadi pada bulan Juli sebesar 1342.00
dan nilai terendah terjadi pada bulan Januari sebesar 1111.80. Sedangkan
selama periode penelitian, nilai tertinggi Harga Emas Dunia terjadi pada bulan
September tahun 2012 sebesar 1776.00 dan nilai terendah terjadi pada bulan
Desember tahun 2015 sebesar 1060.00.
Melalui Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menjelaskan pasar modal
sebagai lembaga syariah memberikan kesempatan para Investor untuk
menanamkan dananya pada perusahaan yang sesuai prinsip syariah. ISSI
merupakan Indeks Saham Syariah yang terdiri dari seluruh saham yang tercatat
dalam Bursa Efek Indonesia dan yang tergabung pada Daftar Efek Syariah
(DES). Meskipun baru dibentuk pada Mei 2011 tetapi perkembangan Indeks
Saham Syariah Indonesia (ISSI) mengalami kenaikan yang cukup bagus pada
setiap periode (Nasir, dkk, 2016:53).
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan salah satu indeks pasar
modal berbasis syariah di BEI yang diterbitkan oleh Bapepam-LK sebagai
regulator yang berwenang dan bekerjasama dengan DSN-MUI. Konstituen
ISSI adalah seluruh saham yang tergabung dalam DES dan tercatat di BEI.
Secara historis, walaupun indeks ini tergolong masih baru namun pergerakan
ISSI pada bulan Juli 2012 sampai Juli 2016 bergerak fluktuatif dan trend naik.
Hal ini menandakan ada faktor-faktor yang secara sensitif mempengaruhi
fluktuasi pergerakan ISSI.
12
Meskipun ISSI ini baru saja dibentuk namun perkembangannya
menunjukkan trend yang sangat positif. Pertumbuhan ISSI yang selalu terjadi
setiap periodenya ini tidak terlepas karena pertumbuhan pangsa pasar syariah
yang telah tumbuh dan berkembang di Indonesia beberapa tahun belakangan
ini. Pertumbuhan pangsa pasar syariah yang berawal dari sektor perbankan
yang kemudian merambah ke asuransi dan kini eranya telah masuk pada pasar
modal. Inilah yang dijadikan kesempatan oleh beberapa perusahaan atau
emiten untuk mengeluarkan indeks syariah agar dapat menarik minat para
masyarakat penanam modal yang ingin berinvestasi pada indeks syariah.
Dilihat dari pergerakan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang
mengalami perkembangan signifikan tentu hal tersebut dipengaruhi berbagai
faktor. Menurut Syahrir (1995) terdapat faktor-faktor penting yang mampu
mempengaruhi perkembangan indeks syariah yaitu oleh beberapa variabel
makro ekonomi dan moneter seperti Sertifikat Bank Indonesia Syariah, Inflasi,
Jumlah Uang Beredar (JUB), Nilai Tukar, dan lain-lain. Sedangkan faktor
internal yang mampumempengaruhi adalah seperti kondisi ekonomi nasional,
keamanan, kondisi politik, kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Dalam
penelitian ini variabel makro ekonomi yang digunakan yaitu Inflasi, Exchange
Rate (ER) USD/IDR, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan Harga
Emas Dunia. Beberapa variabel tersebut diperkirakan mampu mempengaruhi
fluktuasi pergerakan indeks saham syariah (Suciningtias dan Khoiroh,
2015:399).
13
Dari fenomena latar belakang masalah diatas, maka penulis tertarik untuk
melakukan
penelitian
yang
berjudul
“Analisis
Pengaruh
Variabel
Makroekonomi Domestik dan Makroekonomi Global Terhadap Indeks
Saham Syariah Indonesia (ISSI) Periode 2012 – 2016”.
B. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang
sesuai dengan tujuan yang ditetapkan agar masalah yang akan diteliti tidak
terlalu meluas. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel bebas yang digunakan adalah Inflasi, Exchange Rate,
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), BI Rate, dan Harga Emas
Dunia.
2. Variabel terikat yang digunakan adalah adalah Indeks Saham Syariah
Indonesia (ISSI).
3. Periode penelitian dari Juli 2012 sampai dengan Juli 2016.
4. Objek penelitian adalah Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang akan
dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh secara parsial antara variabel Inflasi terhadap
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2012 – 2016?
2. Bagaimana pengaruh secara parsial antara variabel Exchange Rate
terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2012 – 2016?
14
3. Bagaimana pengaruh secara parsial antara variabel Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS) terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia
(ISSI) periode 2012 – 2016?
4. Bagaimana pengaruh secara parsial antara variabel BI Rate terhadap
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)?
5. Bagaimana pengaruh secara parsial antara variabel Harga Emas Dunia
terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2012 – 2016?
6. Bagaimana pengaruh secara simultan antara variabel Inflasi, Exchange
Rate, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), dan Harga Emas Dunia
terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2012 – 2016?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial antara variabel Inflasi
terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2012 – 2016.
2. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial antara variabel Exchange
Rate terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2012 –
2016.
3. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial antara variabel Sertifikat
Bank Indonesia Syariah (SBIS) terhadap Indeks Saham Syariah
Indonesia (ISSI) periode 2012 – 2016.
4. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial antara variable BI Rate
terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode 2012 – 2016.
15
5. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial antara variabel Harga
Emas Dunia terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) periode
2012 – 2016.
6. Untuk menganalisis pengaruh secara simultan antara variabel Inflasi,
Exchange Rate, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), BI Rate, dan
Harga Emas Dunia terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)
periode 2012 – 2016.
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Penelitian ini memberikan pengetahuan dan pemahaman bagi
penulis tentang Analisis Pengaruh Variabel Makroekonomi Domestik
dan Makroekonomi Global terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia
(ISSI) Periode 2012 – 2016 dan sebagai syarat kelulusan tugas akhir
penulis, serta media penulisan dalam mengaplikasikan ilmu yang
diperoleh dan dipelajari selama perkuliahan.
2. Bagi Investor
Dapat dijadikan sebagai salah satu referensi untuk pengambilan
keputusan investasi syariah bagi Investor yang ingin menginvestasikan
dananya di pasar modal, terutama saham syariah.
3. Bagi Akademisi
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi
peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti tentang saham syariah,
16
sekaligus sebagai sumber motivasi dan inspirasi untuk mengembangkan
aspek analisis.
4. Bagi Pemerintah
Dapat dijadikan bahan pertimbangan dan referensi dalam
menentukan kebijakan yang tepat untuk mengembangkan saham
syariah yang terdaftar pada Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini untuk mengetahui gambaran secara singkat,
sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini penulis menguraikan masalah-masalah yang akan diteliti,
yakni mengenai latar belakang yang akan diteliti, identifikasi masalah,
pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,
review studi terdahulu dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini diuraikan tentang pasar modal syariah, Indeks Saham Syariah
Indonesia (ISSI), Inflasi, Exchange Rate, Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS), BI Rate, dan Harga Emas Dunia. Serta review studi terdahulu yang
dapat menghindarkan dari tuduhan penjiplakan dan duplikasi.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini dikemukakan data penelitian dan metode yang digunakan
untuk melakukan penelitian.
17
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini dikemukakan tentang analisis data dan pembahasan, yang
menjelaskan analisis bagaimana Inflasi, Exchange Rate, Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS), BI Rate, dan Harga Emas Dunia terhadap Indeks
Saham Syariah Indonesia (ISSI), kemudian dilanjutkan dengan pembahasan
hasil penelitian.
BAB V PENUTUP
Pada bab ini dikemukakan tentang kesimpulan dari hasil penelitian
sekaligus menjawab dari masalah yang telah dirumuskan. Selain itu juga berisi
saran-saran yang ditujukan untuk berbagai pihak dan rekomendasi yang
muncul berkaitan dengan pembahasan skripsi untuk penelitian selanjutnya.
18
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Investasi
a. Teori Investasi
Ada
banyak
pengertian
tentang investasi.
Investasi
pada
hakekatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan
harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa mendatang (Halim,
2005). Menurut Fahmi dan Hadi (2011), investasi dapat didefinisikan
sebagai bentuk pengelolaan dana guna memberikan keuntungan dengan
cara menempatkan dana tersebut pada alokasi yang diperkirakan akan
memberikan
tambahan
keuntungan
atau
coumpouding.
Investasi
dibedakan menjadi real investment dan financial investment. Real
investment adalah investasi pada sektor riil yang melibatkan asset
berwujud seperti tanah, mesin, atau pabrik. Sedangkan financial
investment adalah investasi yang melibatkan kontrak tertulis seperti
saham dan obligasi.
Investasi dalam Islam tidak hanya berorientasi pada keuntungan
semata, namun juga merupakan kegiatan yang bernuansa spiritual dan
dilakukan dengan norma-norma syariah dan juga merupakan hakikat dari
sebuah ilmu yang bersifat amaliyah. Oleh karena itu, investasi sangat
dianjurkan bagi setiap muslim (Nawawi, 2012). Hal ini juga dijelaskan
19
dalam firman Allah SWT dalam (Q.S. 59 : 18) bahwa manusia harus
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Allah SWT
dan Rasul-Nya memberikan petunjuk dan rambu-rambu pokok yang
seyogyanya diikuti oleh setiap muslim yang beriman. Diantara ramburambu tersebut adalah terhindar dari unsur riba, gharar, judi, haram, dan
syubhat.
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2012), menyatakan bahwa
selain
kondisi
industri
perusahaan
analisis
fundamental
juga
menggunakan berbagai indikator makro ekonomi untuk menilai saham.
Perubahan-perubahan seperti inflasi, suku bunga, dan kurs dapat
berpotensi
untuk meningkatkan
atau menurunkan harga
saham
perusahaan-perusahaan yang sahamnya aktif diperdagangkan di bursa.
Perubahan nilai ketiga indikator makro ekonomi ini merupakan risiko
yang dihadapi oleh perusahaan pada seluruh sektor.
Pemikiran ahli ekonomi klasik dengan golongan Keynesian
mengenai investasi (Sukirno, 2010):
1. Pandangan Ahli Ekonomi Klasik
Keyakinan ahli-ahli ekonomi klasik bahwa penawaran akan
selalu menciptakan permintaan dapat dengan jelas dilihat dari
pandangan Jean Baptiste Say (1762 – 1832), seorang ahli
ekonomi Klasik bangsa Perancis. Ia mengatakan “penawaran
menciptakan permintaannya sendiri” atau “supply creates its own
demand”. Ini didasarkan pada dua landasan, yaitu fleksibilitas
20
harga upah dan teori suku bunganya. Teori bunga yang
mendasarkan pada antaraksi tabungan dan investasi yang disebut
dengan teori leonable fund, menyatakan bahwa “penurunan
permintaan agregatif sektor konsumsi rumah tangga akibat
tabungan tetap diimbangi pengeluaran konsumsi pada barangbarang modal oleh sektor bisnis yang dibiayai oleh tabungan
rumah tangga. Teori klasik menekankan bahwa investasi hanya
dipengaruhi dan ditentukan oleh tingkat suku bunga. Menurut
ahli-ahli ekonomi klasik, dalam perekonomian suku bunga selalu
mengalami perubahan, dan perubahan itu akan menyebabkan
seluruh tabungan yang diciptakan sektor rumah tangga pada
waktu perekonomian mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja
penuh akan selalu sama besarnya dengan jumlah investasi yang
dilakukan oleh para pengusaha.
2. Pandangan Keynesian
Teori Keynesian menolak anggapan ekonomi klasik bahwa
rencana investasi dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Keynes
tidak yakin bahwa jumlah investasi yang dilakukan para
pengusaha sepenuhnya ditentukan oleh suku bunga. Keynes tetap
mengakui bahwa suku bunga memegang peranan yang cukup
menentukan didalam pertimbangan para pengusaha melakukan
investasi. Tetapi disamping faktor itu terdapat beberapa faktor
penting lainnya, seperti keadaan ekonomi masa kini, ramalan
21
perkembangannya di masa depan, dan luasnya perkembangan
teknologi yang berlaku. Apabila tingkat kegiatan ekonomi pada
masa kini adalah menggalakkan dan di masa depan diramalkan
perekonomian akan tumbuh dengan cepat, maka walaupun suku
bunga adalah tinggi, para pengusaha akan melakukan banyak
investasi. Sebaliknya, walaupun suku bunga rendah, investasi
tidak akan banyak dilakukan apabila barang-barang modal yang
terdapat dalam perekonomian digunakan pada tingkat yang jauh
lebih rendah dari kemampuannya yang maksimal.
b. Teori Investasi Syariah
Investasi secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang
bertujuan untuk mengembangkan harta (Rodoni, 2009). Selain dari pada itu,
tujuan investasi merupakan suatu komitmen atas sejumlah dana atau sumber
daya lainnya yang dilakukan pada saat sekarang ini, dengan tujuan untuk
memperoleh sejumlah keuntungan dimasa yang akan datang. Menurut
Halim (2005), pada hakikatnya investasi merupakan penempatan sejumlah
dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa
mendatang.
Sedangkan menurut Huda dan Mustafa (2008), investasi merupakan
salah satu ajaran dari konsep Islam yang memenuhi proses tadrij dan
trichotomy pengetahuan tersebut. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa
konsep investasi selain sebagai pengetahuan juga bernuansa spiritual karena
menggunakan norma syariah, sekaligus merupakan hakikat dari sebuah ilmu
22
dan amal, oleh karenanya investasi sangat dianjurkan bagi setiap muslim.
Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 18 sebagai
berikut:
َّ ‫َّللاَ ۚ إِ َّن‬
َّ ‫ت لِ َغ ٍد ۖ َواتَّقُوا‬
َّ ‫ين آ َمنُوا اتَّقُوا‬
ْ ‫َّللاَ َو ْلتَنْظُرْ نَ ْفسٌ َما قَ َّد َم‬
َ ‫يَا أَيُّهَا ال َّ ِذ‬
َ‫َّللا‬
‫ون‬
َ ُ‫َخبِي ٌر بِ َما تَ ْع َمل‬
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Lafal ٍ‫لِ َغد‬
ُ ‫َو ْل َت ْن‬
ْ ‫ظرْ َن ْفسٌ َما َق َّد َم‬
‫ت‬
ditafsirkan dengan : “Hitung dan
introspeksi diri kalian sebelum diintrospeksi, dan lihatlah apa yang telah
kalian simpan (invest) untuk diri kalian dari amal saleh (after here
investment) sebagai bekal kalian menuju hari perhitungan amal pada hari
kiamat untuk keselamatan diri di depan Allah SWT”.
Harta merupakan hak milik Allah, sementara Allah telah menyerahkan
kekuasaan atas harta tersebut kepada manusia, melalui izin dari-Nya, maka
perolehan seorang atas harta tersebut sama dengan kegiatan yang dilakukan
oleh seseorang untuk memanfaatkan serta mengembangkan harta, yang
antara lain yang menjadi miliknya. Sebab ketika seseorang memiliki harta
dan mendiamkan harta secara tidak produktif (idle) dan menumpuk
kekayaan adalah perbuatan yang sangat tidak dibenarkan (Rodoni, 2009).
23
Kewajiban melakukan upaya kerja produktif dan pengembangan harta
kekayaan melalui investasi sangat ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW.
Ahmad Al-Haritsi (2006) dalam bukunya Fiqih Ekonomi Umar bin AlKhattab dalam Rodoni (2009), menulis bahwa Khalifah Umar pernah
menyuruh kaum muslimin untuk menggunakan modal mereka secara
produktif dengan mengatakan : “Siapa saja yang memiliki uang, hendaklah
ia menginvestasikannya dan siapa saja yang memiliki tanah hendaklah ia
menanaminya”.
Menurut Pontjowindo (2003) dalam Huda dan Mustafa (2008), ada
beberapa prinsip dasar transaksi menurut syariah dalam investasi keuangan
yang ditawarkan, yaitu:
a. Transaksi dilakukan atas harta yang memberikan nilai manfaat dan
menghindari setiap transaksi yang zalim. Setiap transaksi yang
memberikan manfaat akan dilakukan bagi hasil.
b. Uang sebagai alat pertukaran bukan komoditas perdagangan dimana
fungsinya adalah sebagai alat pertukaran nilai yang menggambarkan
daya beli suatu barang atau harta. Sedangkan manfaat atau
keuntungan yang ditimbulkannya berdasarkan atas pemakaian
barang atau harta yang dibeli dengan uang tersebut.
c. Setiap transaksi harus transparan, tidak menimbulkan kerugian atau
unsur penipuan disalah satu pihak baik secara sengaja maupun tidak
sengaja.
24
d. Risiko yang mungkin timbul harus dikelola sehingga tidak
menimbulkan risiko yang besar atau melebihi kemampuan
menanggung risiko.
e. Dalam Islam setiap transaksi yang mengharapkan hasil harus
bersedia menanggung risiko.
f. Manajemen yang diterapkan adalah manajemen Islami yang tidak
mengandung unsur spekulatif dan menghormati Hak Asasi Manusia
serta menjaga lestarinya lingkungan hidup.
Menurut investasi syariah, ada hal lain yang turut berperan dalam
investasi. Investasi syariah tidak hanya berorientasi pada persoalan duniawi
sebagaimana yang dikemukakan para ekonom sekuler. Ada unsur lain yang
sangat menentukan berhasil tidaknya suatu investasi di masa depan, yaitu
ketentuan dan kehendak Allah. Islam memadukan antara dimensi dunia dan
akhirat. Setelah kehidupan dunia yang fana, ada kehidupan akhirat yang
abadi. Setiap muslim harus berupaya meraih kebahagiaan di dunia dan
akhirat. Kehidupan dunia hanyalah sarana dan masa yang harus dilewati
untuk mencapai kehidupan yang kekal di akhirat.
Return investasi dalam islam sesuai dengan besarnya sumber daya yang
dikorbankan. Hasil yang akan didapatkan manusia di dunia bisa berlipat
ganda. Itulah nilai yang membedakan investasi Islam dari konvensional.
Investasi yang Islami adalah pengorbanan sumber daya pada masa sekarang
untuk mendapatkan hasil yang pasti, dengan harapan memperoleh hasil
yang lebih besar di masa yang akan datang, baik langsung maupun tidak
25
langsung seraya tetap berpijak pada prinsip-prinsip syariah secara
menyeluruh (kaffah). Selain itu, semua bentuk investasi dilakukan dalam
rangka ibadah kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan lahir batin di
dunia dan akhirat baik bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan
datang.
Menurut Suprayatno (2005), menyebutkan bahwa investasi di Negara
penganut ekonomi Islam dipengaruhi oleh 3 faktor sebagai berikut:
1. Terdapat sanksi untuk pemegang aset kurang atau tidak produktif
(hoarding idle assets).
2. Dilarang melakukan berbagai macam bentuk spekulasi dan segala
macam judi (maysir).
3. Tingkat bunga untuk berbagai macam pinjaman adalah nol (0)
dan sebagai gantinya dipakai sistem bagi hasil.
Dari ketiga kriteria diatas, menunjukkan bahwa dalam ekonomi Islam
tingkat bunga tidak memberikan pengaruh apakah investasi dilakukan atau
tidak. Oleh karena itu, opportunity cost yang digunakan untuk tujuan
investasi adalah tingkat zakat yang dibayarkan atas dana tersebut. Dengan
kata lain, ketika tabungan yang disalurkan tidak disalurkan ke investasi
nyata, maka seseorang akan terbebani zakat (seperti yang telah ditentukan).
26
2. Pasar Modal Syariah
a. Pengertian Pasar Modal Syariah
Secara umum dalam keuangan dikenal dua jenis pasar keuangan
yaitu pasar modal (capital market) dan pasar uang (money market).
Menurut
Manan
(2009),
pasar
modal
adalah
sarana
yang
mempertemukan antara pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus
fund) dengan pihak yang kekurangan dana (defisit fund), dimana dana
yang diperdagangkan merupakan dana jangka panjang. Definisi pasar
modal sesuai dengan Undang Undang Pasar Modal (UUPM) Nomor 8
Tahun 1995, “Pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan
penawaran umum dan perdagangan efek, perusahan publik yang
berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi
yang berkaitan dengan efek-efek”.
Berdasarkan definisi tersebut, terminologi pasar modal syariah
dapat diartikan sebagai kegiatan penawaran umum dan perdagangan efek
syariah yaitu efek sebagaimana dimaksud dalam UUPM adalah surat
berharga
yang akad,
pengelolaan
perusahaannya,
maupun
cara
penerbitannya memenuhi prinsip-prinsip syariah. Karakteristik khusus
yang
membedakan
pasar
modal
syariah
dengan
pasar
modal
konvensional yaitu bahwa produk dan mekanisme transaksi tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah yang bersumber pada AlQuran dan Hadist Nabi Muhammad SAW sebagaimana telah diatur
dalam Fatwa DSN-MUI No.40/DSN-MUI/X/2003 dan No.80/DSN-
27
MUI/III/2011. Adapun efek syariah yang ditransaksikan mencakup
saham syariah, obligasi syariah, reksa dana syariah, Kontrak Investasi
Kolektif Efek Beragun Aset (KIKEBA) syariah, dan surat berharga
lainnya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Menurut Karim
dalam Aziz (2008), transaksi di pasar modal cenderung kepada teori
pertukaran dalam sistem ekonomi Islam. Teori pertukaran dalam
ekonomi Islam terdiri atas dua pilar, yaitu objek pertukaran dan waktu
pertukaran. Pertukaran bila dilihat dari sisi objeknya dapat dibagi
menjadi tiga jenis yaitu pertukaran real asset ('ayn) dan dengan real asset
('ayn), pertukaran real asset ('ayn) dengan financial asset (dayn), dan
pertukaran financial asset (dayn) dengan financial asset (dayn). Bentuk
transaksi di pasar modal merupakan pertukaran antara real asset ('ayn)
dalam bentuk sekuritas dan dengan real asset ('ayn) dalam bentuk uang.
b. Instrumen Pasar Modal
Dalam melakukan transaksi di pasar biasanya ada barang atau jasa
yang diperjualbelikan. Begitu pula dalam pasar modal, barang yang
diperjualbelikan dikenal dengan istilah instrumen pasar modal (Kasmir,
2008:208). Adapun masing-masing jenis instrumen pasar modal dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Saham (Stocks)
Merupakan surat berharga yang bersifat kepemilikan.
Artinya, si pemilik saham merupakan pemilik perusahaan.
Semakin besar saham yang dimilikinya, maka semakin besar pula
28
kekuasaannya di perusahaan tersebut. Keuntungan yang diperoleh
dari saham dikenal dengan nama deviden. Pembagian deviden
ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
2. Obligasi (Bonds)
Surat berharga obligasi merupakan instrumen utang bagi
perusahaan yang hendak memperoleh modal. Keuntungan dari
membeli obligasi diwujudkan dalam bentuk kupon. Berbeda
dengan saham, maka obligasi tidak mempunyai hak terhadap
manajemen dan kekayaan perusahaan. Artinya, perusahaan yang
mengeluarkan obligasi hanya mengakui mempunyai utang kepada
si pemegang obligasi sebesar obligasi yang dimilikinya. Oleh
karena itu, dalam struktur modal perusahaan yang terlihat dalam
neraca, obligasi dimasukkan dalam modal asing atau utang jangka
panjang. Utang ini akan dilunasi apabila telah sampai waktunya.
c. Para Pemain di Pasar Modal
Penjual dan pembeli di pasar modal disebut sebagai para pemain
dalam transaksi di pasar modal. Para pemain terdiri dari para pemain
utama dan lembaga penunjang yang bertugas melayani kebutuhan dan
kelancara pemain utama. Adapun para pemain utama yang terlibat di
pasar modal dan lembaga penunjang yang terlibat langsung dalam proses
transaksi antara pemain utama sebagai berikut (Kasmir, 2008:213):
29
1. Emiten
Perusahaan yang akan melakukan penjualan surat-surat
berharga atau melakukan emisi di bursa disebut emiten. Emiten
melakukan emisi dapat memilih dua macam instrumen pasar
modal apakah bersifat kepemilikan atau utang. Jika bersifat
kepemilikan, maka diterbitkanlah saham dan jika bersifat
instrumen utang, maka yang dipilih adalah obligasi.
2. Investor
Pemain kedua adalah pemodal yang akan membeli atau
menanamkan modalnya di perusahaan yang melakukan emisi,
pemodal ini disebut juga Investor. Tujuan utama para Investor
dalam pasar modal ada tiga, yang diantaranya adalah untuk
memperoleh deviden atau keuntungan berupa bunga yang dibayar
oleh emiten dalam bentuk deviden, menguasai perusahaan
(kepemilikan perusahaan) karena semakin banyak saham yang
dimiliki maka akan semakin besar pula pengusahaan perusahaan,
dan yang terakhir yaitu untuk tujuan berdagang atau menjual
kembali pada saat harga yang tinggi.
3. Lembaga Penunjang
Disamping pemain utama di pasar modal, maka pemain
lainnya yang turut memperlancar proses transaksi perdagangan
efek adalah adanya lembaga penunjang. Fungsi lembaga
penunjang ini antara lain turut serta mendukung beroperasinya
30
pasar modal, sehingga mempermudah baik emiten maupun
investor dalam melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan
dengan pasar modal.
Peran lembaga penunjang yang memegang peranan penting
didalam mekanisme pasar modal adalah sebagai penjamin emisi
(underwriter), perantara perdagangan efek (broker/pialang),
perdagangan efek (dealer), penanggung (guarantor), wali amanat
(trustee), perusahaan surat berharga (securities company),
perusahaan pengelola dana (investment company), dan sebagai
kantor administrasi efek.
d. Analisis Teknikal dan Fundamental pada Pasar Modal Syariah
Dalam melakukan transaksi mata uang tidak terlepas dari
kepiawaian pelaku pasar untuk menganalisis pergerakan indeks saham.
Analisis ini penting dilakukan untuk menentukan arah pergerakan dari
indeks saham tersebut. Ada dua metode analisis, yaitu analisis teknikal
dan analisis fundamental. Analisis teknikal hanya mengandalkan tren
harga kedepan berdasarkan perkembangan harga masa lalu. Sedangkan
analisis fundamental adalah analisis terhadap fundamental suatu negara
pemilik indeks saham, untuk ISSI misalnya, akan dianalisis kondisi
ekonomi, sosial, dan politik Indonesia. Secara umum analisis
fundamental merupakan satu proses memerlukan waktu yang lama
dengan menyelidiki keadaan ekonomi, politik, sosial, industri, dan
laporan keuangan perusahaan.
31
Pada dasarnya analisis fundamental adalah analisis yang dilakukan
terhadap perusahaan itu sendiri yang berhubungan dengan prospek
pertumbuhan dan kemampuan memperoleh keuntungan yang meliputi
tiga tahap analisis (Rodoni, 2005:62):
1. Ekonomi Makro
Analisis
ini
bertujuan
untuk
melihat
faktor
yang
menguntungkan dalam ekonomi makro dalam kaitannya dengan
kegiatan perusahaan itu sendiri. Misalnya, apakah berita yang up
to date tentang kebijakan moneter, surplus atau defisit, anggaran
atau cadangan devisa, tax holiday, political news, dan lain-lain
yang mempengaruhi.
2. Industri
Analisis ini lebih spesifik dan bertujuan untuk melihat
kaitan industri dengan perusahaan, seperti perkembangan
perusahaan pesaing, standar industri, dan pertumbuhan pasar.
3. Perusahaan
Analisis yang bertujuan untuk melihat situasi perusahaan
yang meliputi berbagai aspek perusahaan, seperti keadaan
keuangan
perusahaan,
situasi
pemasaran,
produksi,
dan
manajemen.
Didalam analisis fundamental terdapat dua pendekatan yang biasa
dilakukan, yaitu (Rodoni, 2005:62):
32
a. Pendekatan Top Down
Pendekatan yang dimulai dari tingkatan makro ekonomi
kemudian kepada situasi dan pertumbuhan industri, dan terakhir
adalah situasi dan pertumbuhan perusahaan itu sendiri. Pada tahap
analisis ekonomi dan pasar modal, Investor melakukan analisis
terhadap berbagai alternatif keputusan tentang alokasi investasi
yang akan dilakukan (saham, obligasi, produk derivatif, dan
lainnya). Tahap kedua, yaitu analisis industri meliputi analisis
berdasarkan hasil analisis ekonomi dan pasar untuk menentukan
jenis-jenis industri mana saja yang akan dipilih (tentu saja yang
memiliki prospek baik dan menguntungkan). Tahap ketiga, yang
didasari
tahap
sebelumnya
bertujuan
untuk
menentukan
perusahaan-perusahaan mana saja yang menguntungkan sehingga
layak dijadikan pilihan investasi.
b. Pendekatan Bottom Up
Pendekatan yang dimulai dari tingkatan mikro (perusahaan)
yang kemudian berkembang kepada analisis industri dan terakhir
adalah analisis makro ekonomi.
Analisis fundamental berhubungan dengan estimasi penentu dasar
nilai sekuritas, seperti penjualan masa depan, pengeluaran dan
pendapatan perusahaan. Fundamentalis cenderung melihat ke depan,
memperhatikan hal seperti pendapatan, dan deviden masa depan. Para
fundamentalis sangat mengandalkan analisis jenis ini karena menurut
33
mereka analisis ini bebas dari bias karena mempergunakan data-data
yang valid. Analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham
di masa yang akan datang dengan:
1. Mengestimasi
nilai
faktor-faktor
fundamental
yang
mempengaruhi harga saham di masa datang.
2. Menerapkan
hubungan
variabel-variabel
tersebut
sehingga
diperoleh taksiran harga saham. Menurut Husnan (2001) dalam
Wastriati (2010:24), model ini sering disebut sebagai share price
forecasting model.
3. Saham
a. Definisi Saham Konvensional
Secara konsep saham (stock) dapat didefinisikan sebagai tanda
penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) atas sebagian
kepemilikan perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan
modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan
perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat
Umum Pemegang Saham (BEI, 2014). Berdasarkan hak-hak yang
melekat, saham dapat dibedakan menjadi jenis saham biasa (common
stock) dan saham istimewa (prefered stock). Common stock adalah saham
yang menempatkan pemiliknya paling junior atau paling akhir terhadap
pembagian deviden dan hak atas kekayaan perusahaan apabila
perusahaan tersebut diliquidasi. Prefered stock adalah saham yang
memilki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena
34
memiliki hak klaim atas kekayaan perusahaan dan pembayaran deviden
didahulukan (Fahmi dan Hadi, 2011).
Saham merupakan surat berharga yang paling popular dan dikenal
luas di masyarakat, baik negara maju maupun negara sedang
berkembang. Menurut Darmawi (2006), saham adalah surat bukti
kepemilikan (equity) terhadap perusahaan yang bersangkutan.
Saham atau stock adalah surat bukti tanda kepemilikan terhadap
suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dalam transaksi jual beli di
bursa efek, saham atau sering pula disebut share merupakan instrument
yang paling dominan diperdagangkan (Iskandar, 2003:33).
b. Definisi Saham Syariah
Saham
syariah
merupakan
saham-saham
yang
memiliki
karakteristik sesuai dengan syariah Islam atau yang lebih dikenal dengan
syariah compliant. Dalam melakukan transaksi di pasar modal yang
harus diperhatikan adalah niat bertransaksi, untuk investasi, bukan untuk
judi atau spekulasi. Sesuai Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN)
Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar
Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar
Modal,
yang
mendefinisikan
saham
syariah
merupakan
bukti
kepemilikan atas suatu perusahaan yang memenuhi kriteria tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Selanjutnya, pengertian
saham menurut Fakhruddin dalam Prabowo (2013:14) adalah tanda
penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu
35
perusahaan atau perseroan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas
yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik
perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan
ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di
perusahaan tersebut. Syariah dalam arti luas “al-syariah” berarti seluruh
ajaran Islam yang berupa norma-norma ilahiyah, baik yang mengatur
tingkah laku batin (sistem kepercayaan/doktrinal) maupun tingkah laku
konkrit (legal formal) yang individual dan kolektif. Dalam arti ini, AlSyariah identik dengan din, yang berarti meliputi seluruh cabang
pengetahuan keagamaan Islam, seperti kalam, tasawuf, tafsir, hadist,
fiqih, usul fiqih, dan seterusnya.
Menurut Hamid (2009:47), produk investasi berupa saham pada
prinsipnya sudah sesuai dengan ajaran islam. Dalam teori pencampuran,
Islam mengenal akad syirkah atau musyarakah yaitu suatu kerjasama
antara dua atau lebih pihak untuk melakukan usaha dimana masingmasing pihak menyerahkan sejumlah dana barang atau jasa. Adapun
jenis-jenis syirkah atau musyarakah yaitu wujuh, mufawadhah, inan,
abdan, dan mudharabah. Pembagian tersebut berdasarkan pada jenis
setoran masing-masing pihak dan siapa diantara pihak tersebut yang
mengelola kegiatan usaha tersebut (Rodoni, 2009:61).
Menurut ketentuan Bapepam-LK, suatu saham dapat dikategorikan
sebagai saham syariah jika saham tersebut diterbitkan oleh (Rama,
2015:136-137):
36
a. Emiten dan Perusahaan Publik yang secara jelas menyatakan
dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan
Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip
syariah.
b. Emiten dan Perusahaan Publik yang tidak menyatakan dalam
anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan
Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip
syariah, namun memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip
syariah sebagaimana diatur dalam peraturan IX.A.13,
yaitu tidak melakukan kegiatan usaha:
a) Perjudian dan permainan yang tergolong judi;
b) Perdagangan
yang
tidak
disertai
dengan
penyerahan barang/jasa;
c) Perdagangan
dengan
penawaran/permintaan
palsu;
d) Bank berbasis bunga;
e) Perusahaan pembiayaan berbasis bunga;
f) Jual beli risiko yang mengandung unsur
ketidakpastian (gharar) dan/ atau judi (maisir),
antara lain asuransi konvensioanl;
g) Memproduksi,
memperdagangkan
mendistribusikan,
dan/
atau
menyediakan
37
barang atau jasa haram zatnya (haram lidzatihi), barang atau jasa haram bukan karena
zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh
DSN-MUI; dan/ atau, barang atau jasa yang
merusak moral dan bersifat mudarat;
h) Melakukan transaksi yang mengandung unsur
suap (risywah);
2) Rasio total hutang berbasis bunga dibandingkan total
ekuitas tidak lebih dari 45%, dan
3) Rasio total pendapatan bunga dan total pendapatan
tidak halal lainnya dibandingkan total pendapatan usaha
dan total pendapatan lainnya tidak lebih dari 10%.
c. Jenis-Jenis Saham
Dalam pasar modal ada dua jenis saham yang paling umum dikenal
oleh publik yaitu saham biasa (common stock) dan saham istimewa
(preferred stock), dimana kedua jenis saham ini memiliki arti dan
aturannya masing-masing (Fahmi, 2012):
1. Common Stock
Common stock (saham biasa) adalah suatu surat berharga
yang dijual oleh perusahaan yang menjelaskan secara nominal
(rupiah, dollar, yen, dan sebagainya) dimana pemegangnya diberi
hak untuk mengikuti RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dan
RUPLSB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) serta
38
berhak untuk menentukan membeli right issue (penjualan saham
terbatas) atau tidak, yang selanjutnya diakhir tahun akan
memperoleh keuntungan berupa deviden.
2.
Preferred Stock
Preferred stock (saham istimewa) adalah surat berharga
yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai
nominal
(rupiah,
dollar,
yen,
dan
sebagainya)
dimana
pemegangnya memperoleh pendapatan tetap dalam bentuk
deviden yang akan diterima setiap kuartal (tiga bulanan).
Sebagai catatan, keuntungan yang diperoleh dari saham common
stock adalah lebih tinggi dibandingkan preferred stock. Perolehan
tersebut juga diikuti oleh tingginya risiko yang akan diterima
nantinya. Karena saham preferred stock tidak memiliki nilai jatuh
tempo, maka perhitungannya lebih sederhana (Ahmad, 2004:84).
Common stock (saham biasa) memiliki kelebihan daripada
preferred stock (saham istimewa), dimana pemegangnya diberi hak
untuk ikut RUPS dan RUPSLB yang secara otomatis memberikan
wewenang kepada pemegangnya untuk ikut serta dalam menentukan
berbagai kebijakan perusahaan.
Menurut Fahmi (2012), menyebutkan bahwa common stock ini
memiliki beberapa jenis, yaitu:
a. Blue Chip-Stock (saham unggulan), adalah saham dari
perusahaan yang dikenal secara nasional dan memiliki sejarah
39
laba,
pertumbuhan,
dan
manajemen
yang
berkualitas.
Contohnya saham IBM dan Du Point yang merupakan saham
Blue-Chip. Jika di Indonesia kita bisa melihat pada 5 (lima)
besar saham termasuk kategori LQ 45.
b. Growth
Stock,
adalah
saham-saham
yang
diharapkan
memberikan pertumbuhan laba yang lebih tinggi dari rata-rata
saham lain, dan karenanya mempunyai Price Earning Ratio
(PER) yang tinggi.
c. Defensive Stock (saham-saham defensive), adalah saham yang
cenderung lebih stabil dalam masa resesi atau perekonomian
yang tidak menentu berkaitan dengan deviden, pendapatan, dan
kinerja pasar. Contoh perusahaan yang masuk kategori ini
biasanya perusahaan yang produknya memang dibutuhkan oleh
publik seperti perusahaan yang masuk dalam kategori food and
beverage, yaitu produk gula, beras, minyak goreng, garam, dan
sejenisnya.
d. Seasonal Stock, adalah perusahaan yang penjualannya bervariasi
karena dampak musiman, misalnya karena cuaca hujan dan
liburan. Sebagai contoh, pabrik mainan memiliki penjualan
musiman yang khusus pada saat musim natal.
e. Speculative Stock, adalah saham yang kondisinya memiliki
tingkat spekulasi yang tinggi, yang kemungkinan tingkat
pengembalian hasilnya adalah rendah atau negatif. Ini biasanya
40
dipakai untuk membeli saham pada perusahaan pengeboran
minyak.
d. Manfaat Saham
Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh Investor
dengan membeli atau memiliki saham (Wastriati, 2010):
1. Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan
perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan
perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari
pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin
mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang
saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga
kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui
sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan deviden.
Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa deviden
tunai, artinya kepada setiap pemegang saham diberikan deviden
berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap
saham atau dapat pula berupa deviden saham yang berarti kepada
setiap pemegang saham diberikan deviden sejumlah saham
sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan
bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.
41
2. Capital Gain
Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga
jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan
saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC
dengan harga per saham Rp. 3.000 kemudian menjualnya dengan
harga Rp. 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut
mendapatkan capital gain sebesar Rp. 500 untuk setiap saham
yang dijualnya.
4. Indeks Saham
Indeks saham atau stock index adalah harga atau nilai dengan
perhitungan baku dari sekelompok saham yang dikumpulkan berdasarkan
kategori tertentu. Indeks saham merupakan indikator pergerakan harga dari
seluruh saham yang diwakilinya. Salah satu indikator kondisi perekonomian
Negara dapat dilihat dari kondisi indeks saham gabungan dari saham-saham
seluruh perusahaan go public di Negara tersebut. Indeks saham gabungan
mencerminkan perekonomian suatu Negara sedang melesu atau bergairah
(Suta, 2000).
Menurut Halim (2005), indeks harga saham merupakan ringkasan dari
pengaruh simultan dan kompleks dari berbagai macam variabel yang
berpengaruh, terutama tentang kejadian ekonomi. Sedangkan menurut
Darmaji dan Hendy (2006), indeks harga saham merupakan indikator utama
yang menggambarkan pergerakan harga saham, sehingga Indeks Harga
Saham (IHS) dapat dijadikan barometer kesehatan suatu negara.
42
Ada banyak jenis indeks di pasar modal dunia karena pada umumnya
hampir seluruh Negara memiliki indeks sahamnya sendiri. Bahkan beberapa
negara memiliki lebih dari satu indeks saham. Seperti halnya di Indonesia
yang memiliki Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Jakarta Islamic
Index (JII), serta Indeks Saham Syariah Indonesai (ISSI), Amerika Serikat
memiliki Dow Jones, Dow Jones Islamic Index (DJII), serta NASDAQ. Dari
berbagai jenisindeks yang ada di BEI, yang menjadi objek penelitian ini
adalah ISSI karenaindeks ini merupakan proyeksi dari pergerakan seluruh
saham syariah yang terdaftar di DES dan BEI. Indeks ini pertama kali
diluncurkan di BEI pada tanggal 12 Mei 2011 sebagai indikator kinerja
seluruh saham syariah yang terdaftar di BEI.
Menurut Iskandar (2003:89), di pasar modal sebuah indeks memiliki 5
(lima) fungsi, yaitu:
a. Sebagai indikator untuk mengetahui tingkat perkembangan dan
penurunan pasar.
b. Sebagai indikator tingkat keuntungan dari saham.
c. Sebagai tolak ukur (benchmark) kinerja suatu portofolio investasi.
d. Sebagai dasar pembentukan portofolio dalam strategi pasif.
e. Menggambarkan
perkembangan
produk
derivatif
yang
diperdagangkan bursa.
43
5. Inflasi
a. Teori Inflasi Konvensional
Secara umum inflasi berarti kenaikan tingkat harga secara umum
dari barang atau komoditas dan jasa selama suatu periode waktu tertentu.
Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya
penurunan nilai unit perhitungan moneter terhadap suatu komoditas.
Definisi inflasi oleh para ekonom modern adalah kenaikan yang
menyeluruh dari jumlah uang yang harus dibayarkan (nilai unit
perhitungan moneter) terhadap barang-barang atau komoditas dan jasa
(Greenwald (1982) dalam Karim, 2006:135). Sebaliknya, jika yang
terjadi adalah penurunan nilai unit perhitungan moneter terhadap barangbarang atau komoditas dan jasa didefinisikan sebagai deflasi (deflation).
Inflasi diukur dengan tingkat inflasi (rate of inflation) yaitu tingkat
perubahan dari tingkat harga secara umum. Persamaannya adalah sebagai
berikut:
Tingkat Hargat– Tingkat Hargat-1 X 100 = Rate of Inflation
Tingkat Hargat-1
Umumnya, otoritas yang bertanggung jawab dalam mencatat
statistik perekonomian suatu negara menggunakan ‘Consumer Price
Index’ atau CPI dan ‘Producer Price Index’ atau PPI sebagai pengukur
tingkat inflasi. Hanya saja, kedua metode pengukuran tersebut
mempunyai kelemahan-kelemahan, yang salah satunya adalah karena
menggunakan kumpulan yang mewakili sebuah subset dari seluruh
44
barang dan jasa yang diproduksi oleh keseluruhan perekonomian,
sehingga index harga tersebut tidak merefleksikan secara akurat seluruh
perubahan harga yang terjadi. Selain itu, CPI dan PPI juga kurang dapat
mengakomodasi barang dan jasa yang baru diciptakan walaupun
kelompok dari subset barang dan jasa yang dipakai sebagai pengukur
pada CPI dan PPI tersebut selalu direvisi dari waktu ke waktu
(Landsburg dan Feinstone (1997) dalam Karim, 2006:136).
Para ekonomi cenderung lebih senang menggunakan ‘Implicit
Gross Domestic Product Deflator’ atau GDP Deflator untuk melakukan
pengukuran tingkat inflasi. GDP Deflator adalah rata-rata harga dari
seluruh barang tertimbang dengan kuantitas barang-barang tersebut yang
betul-betul dibeli. Perhitungan dari GDP Deflator ini sangat sederhana,
persamaannya adalah sebagai berikut:
Implicit Price Deflator = Nominal GDP x 100
Real GDP
Untuk dapat mengerti apa dan bagaimana inflasi, perlu dipahami
bahwa
uang
mempunyai
fungsi-fungsi
sebagai
berikut
dalam
perkonomian:
1. Media Pertukaran.
2. Pengukur Nilai.
3. Unit Perhitungan dan Akuntansi.
4. Penyimpan Nilai.
5. Instrumen Terms of Payment.
45
Sedangkan motif orang menyimpan uang adalah:
1. Transactionery Motive.
2. Precautionery Motive.
3. Speculative (Investment) Motive.
Suatu masyarakat yang memakai sistem barter dalam pertukaran
barang dan jasa pada perkonomiannya dapat dianggap tidak akan
mengalami inflasi. Yang terjadi adalah perubahan relatif harga suatu
barang terhadap barang (misalnya ‘x’) yang lainnya (misalnya ‘y’) atau
Px/Py atau istilah ekonominya adalah perubahan Terms of Trade (TOT)
suatu kelompok barang terhadap kelompok barang yang lainnya. Akan
tetapi, hal tersebut akan sangat tidak efisien akibat kesulitan-kesulitan
yang ditimbulkannya karena dalam barter harus ada ‘double concident of
needs’ agar pertukaran barang dapat terjadi. Tanpa adanya uang, akan
banyak dibutuhkan sumber daya (waktu dan usaha) untuk mencari dan
melakukan pertukaran yang saling menguntungkan serta akan banyak
sekali modal yang tertanam dalam persediaan (inventory). Untuk
menghindari kesulitan-kesulitan dan ketidakefisienan tersebut orangorang, bahkan pada masyarakat primitif pun setuju untuk menggunakan
suatu komoditas umum yang dapat menjadi media perantara pertukaran
yaitu ‘uang’.
Uang dalam masyarakat menjadi alat pertukaran yang lazim
diterima dimana barang dan jasa dapat diperdagangkan dengan uang
daripada langsung dipertukarkan dengan barang dan jasa yang lain. Uang
46
itu sendiri dapat berbentuk berbagai macam dan terbuat dari berbagai
bahan (mulai dari logam mulia sampai dengan bahan yang kurang
berharga seperti kertas atau logam biasa). Pada masa kini intrinsic value
uang (= nilai intrinsik = nilai dari bahan yang digunakan sebagai uang)
biasanya jauh lebih kecil daripada nilai nominal dari uang tersebut.
Akibat dari rendahnya nilai intrinsik uang inilah yang menjadi salah satu
sebab terjadinya inflasi.
Sepanjang sejarah, nilai dari penyimpan nilai moneter berubahubah dan tidak dapat diprediksi karena sifat alamiah dari uang itu sendiri.
Orang menabung untuk konsumsi dimasa depan, untuk simpanan dimasa
tua, untuk anak-anaknya. Akan tetapi, apa pun bentuk kekayaan yang
diakumulasikan tersebut (rumah, tanah, mesin, peralatan, human capital,
ataupun saham), tidak ada seorang pun yang dapat memastikan nilainya
pada saat nanti ketika orang tersebut membutuhkannya. Selain itu, tak
seorang pun dapat menyimpan suatu komoditas tertentu yang nanti akan
dibutuhkannya secara tepat. Akan ada selalu ketergantungan pada
kesediaan dari orang lain untuk membayar suatu harga tertentu untuk aset
yang dimiliki (Karim, 2006:135-137).
Menurut Sukirno (2004:27), memberikan definisi bahwa inflasi
adalah suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu
perekonomian. Tingginya inflasi juga dapat mempengaruhi harga saham
dan juga dapat mempengaruhi permintaan pada saham.
47
Menurut
Purnomo
(2013),
indikator
inflasi
berdasarkan
international best practice, antar
a lain:
1. Indeks Harga Konsumen (IHK) IHK adalah indikator utama
inflasi yang paling sering digunakan.
2. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) harga pergadangan
besar dari suatu komoditas adalah harga transaksi yang terjadi
antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli atau
pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar
pertama atas suatu komoditas.
3. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan
pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang
diproduksi di dalam suatu wilayah ekonomi atau suatu Negara.
Inflasi adalah suatu kejadian yang menunjukkan kenaikan tingkat
harga secara umum dan berlangsung secara terus menerus. Dari definisi
tersebut ada tiga kriteria yang perlu diamati untuk melihat telah
terjadinya inflasi, yaitu kenaikan harga, bersifat umum, dan terjadi terus
menerus dalam rentang waktu tertentu. Jenis inflasi dapat dibedakan
berdasarkan tingkatan laju inflasi dan berdasarkan pada penyebabnya.
Berdasarkan tingkatannya inflasi dibedakan menjadi (Murni, 2013):
1. Moderate Inflation, inflasi yang ditandai dengan harga-harga
yang meningkat secara lambat (antara 7% - 10%).
48
2. Galloping Inflation, tingkat inflasi antara 20% - 100% yang dapat
menimbulkan gangguan serius pada perekonomian.
3. Hyper Inflation, tingkat inflasi yang sangat tinggi diatas 100%.
Selain
itu,
inflasi
dapat
digolongkan
karena
penyebab-
penyebabnya yaitu sebagai berikut (Karim, 2006:138):
1. Natural Inflation dan Human Error Inflation. Sesuai dengan
namanya, Natural Inflation adalah inflasi yang terjadi karena
sebab-sebab alamiah yang manusia tidak mempunyai kekuasaan
dalam mencegahnya. Human Error Inflation adalah inflasi yang
terjadi karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia
sendiri.
2. Expected Inflation dan Unexpected Inflation. Pada Expected
Inflation tingkat suku bunga pinjaman riil akan sama dengan
tingkat suku bunga pinjaman nominal dikurangi inflasi atau
secara notasi, ret= Rt– Пet sedangkan pada Unexpected Inflation
tingkat suku bunga pinjaman nominal belum atau tidak
merefleksikan kompensasi terhadap efek inflasi (Barro (1990)
dalam Karim, 2006:138).
3. Demand Pull dan Cost Push Inflation. Demand Pull Inflation
diakibatkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi
Permintaan Agregatif (AD) dari barang dan jasa pada suatu
perekonomian. Cost Pull Inflation adalah inflasi yang terjadi
49
karena adanya perubahan-perubahan pada sisi Penawaran
Agregatif (AS) dari barang dan jasa pada suatu perekonomian.
4. Spiralling Inflation. Inflasi jenis ini adalah inflasi yang
diakibatkan oleh inflasi yang terjadi sebelumnya yang mana
inflasi yang sebelumnya itu terjadi sebagai akibat dari inflasi yang
terjadi sebelumnya lagi dan begitu seterusnya.
5. Imported Inflation dan Domestic Inflation. Imported Inflation bisa
dikatakan adalah inflasi di negara lain yang ikut dialami oleh
suatu negara karena harus menjadi price taker dalam pasar
perdagangan internasional. Domestic Inflation bisa dikatakan
inflasi yang hanya terjadi di dalam negeri suatu negara yang tidak
begitu mempengaruhi negara-negara lainnya.
b. Teori Inflasi Islam
Menurut para ekonom Islam, inflasi berakibat sangat buruk bagi
perekonomian karena (Masri (1996) dalam Karim, 2006:139):
1. Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap
fungsi tabungan (nilai simpan), fungsi dari pembayaran dimuka,
dan fungsi dari unit perhitungan. Orang harus melepaskan diri
dari uang dan aset keuangan akibat dari beban inflasi tersebut.
Inflasi juga telah mengakibatkan terjadinya inflasi kembali, atau
dengan kata lain ‘self feeding inflation’.
2. Melemahkan semangat menabung dan sikap terhadap menabung
dari masyarakat (turunnya Marginal Propensity to Save).
50
3. Meningkatkan kecenderungan untuk berbelanja terutama untuk
non-primer dan barang-barang mewah (naiknya Marginal
Propensity to Consume).
4. Mengarahkan investasi pada hal-hal yang non-produktif yaitu
penumpukan kekayaan (hoarding) seperti tanah, bangunan, logam
mulia, mata uang asing dengan mengorbankan investasi ke arah
produktif seperti pertanian, industrial, perdagangan, transportasi,
dan lainnya.
Selain itu, inflasi juga mengakibatkan masalah-masalah yang
berhubungan dengan akuntansi seperti (Masri (1996) dalam Karim,
2006:139):
1. Apakah penilaian terhadap aset teap dan aset lancar dilakukan
dengan metode biaya historis atau metode biaya aktual?
2. Pemeliharaan modal riil dengan melakukan isolasi keuntungan
inflasioner.
3. Inflasi menyebabkan dibutuhkannya koreksi dan rekonsiliasi
operasi (index) untuk mendapatkan kebutuhan perbandingan
waktu dan tempat.
Ekonom Islam Taqiuddin Ahmad ibn al-Maqrizi (1364 M – 1441
M), yang merupakan salah satu murid dari Ibn Khaldun, menggolongkan
inflasi dalam dua golangan yaitu:
51
1. Natural Inflation.
2. Human Error Inflation (Maqrizi dalam Karim, 2006:140).
1. Natural Inflation
Sesuai dengan namanya, inflasi jenis ini diakibatkan oleh sebabsebab alamiah, dimana orang tidak mempunyai kendali atasnya (dalam
hal mencegah). Ibn al-Maqrizi mengatakan bahwa inflasi adalah inflasi
yang diakibatkan oleh turunnya Penawaran Agregatif (AS) atau naiknya
Permintaan Agregatif (AD).
Jika memakai perangkat analisis konvensional yaitu persamaan
identitas:
MV = PT = Y
dimana:
M = jumlah uang beredar
V = kecepatan peredaran uang
P = tingkat harga
T = jumlah barang dan jasa (kadang dipakai juga notasi Q)
Y = tingkat pendapatan nasional (GDP)
maka Natural Inflation dapat diartikan sebagai:
a. Gangguan terhadap jumlah barang dan jasa yang diproduksi
dalam suatu perekonomian (T). Misalnya T turun sedangkan M
dan V tetap, maka konsekuensinya P naik.
52
b. Naiknya daya beli masayarakat secara riil. Misalnya nilai ekspor
lebih besar daripada nilai impor, sehingga secara netto terjadi
impor uang yang mengakibatkan M turun sehingga jika V dan T
tetap maka P naik.
Lebih jauh, jika dianalisis dengan persamaan:
AD = AS
dan:
AS = Y
AD = C + I + G + (X – M)
dimana:
Y = pendapatan nasional
C = konsumsi
I = investasi
G = pengeluaran pemerintah
(X – M ) = net export
maka:
Y = C + I + G + (X – M)
maka Natural Inflation akan dapat dibedakan berdasarkan
penyebabnya menjadi dua golongan yaitu sebagai berikut:
a. Akibat uang yang masuk dari luar negeri terlalu banyak,
dimana ekspor (X naik) sedangkan impor (M turun)
sehingga
net
export nilainya
sangat
besar, maka
53
mengakibatkan naiknya Permintaan Agregatif (AD naik).
Hal ini pernah terjadi semasa pemerintahan Khalifah
Umar ibn Khattab r.a. Pada masa itu kafilah pedagang
yang menjual barangya di luar negeri membeli barangbarang dari luar negeri lebih sedikit nilainya daripada nilai
barang-barang yang mereka jual (positive net export).
Adanya positive net export akan menjadikan keuntungan,
keuntungan yang berupa kelebihan uang tersebut akan
dibawa masuk ke Madinah sehingga pendapatan dan daya
beli masyarakat akan naik (AD naik). Naiknya Permintaan
Agregatif (AD naik), atau pada grafik dilukiskan sebagai
kurva AD yang bergeser ke kanan, akan mengakibatkan
naiknya tingkat harga secara keseluruhan (P naik). Apa
yang dilakukan oleh Khalifah Umar ibn Khattab r.a. untuk
mengatasi
permasalahan
tersebut?
Beliau
melarang
penduduk Madinah untuk membeli barang-barang atau
komoditi selama 2 hari berturut-turut. Akibatnya adalah
turunnya
Permintaan
Agregatif (AD turun) dalam
perekonomian. Setelah pelarangan tersebut berakhir maka
tingkat harga kembali menjadi normal.
b. Akibat dari turunnya tingkat produksi (AS turun) karena
terjadinya paceklik, perang, ataupun embargo dan boycott.
54
Hal ini pernah terjadi pula semasa pemerintahan Khalifah
Umar ibn Khattab yaitu pada saat paceklik yang
mengakibatkan kelangkaan gandum, atau dilukiskan pada
grafik sebagai kurva AS yang bergeser ke kiri (AS turun),
yang kemudian mengakibatkan naiknya tingkat hargaharga (P naik). Apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar
ibn Khattab r.a. terhadap permasalahan ini? Beliau
melakukan impor gandum dari Fustat-Mesir sehingga
Penawaran Agregatif (AS) barang di pasar kembali naik
(AS naik) yang kemudian berakibat pada turunnya tingkat
harga-harga (P turun).
2. Human Error Inflation
Selain dari penyebab-penyebab yang dimaksud pada Natural
Inflation, maka inflasi-inflasi yang disebabkan oleh hal-hal lainnya
dapat digolongkan sebagai inflasi yang diakibatkan oleh kesalahan
dari manusia itu sendiri (sesuai dengan Q.S. Al-Rum [30] : 41).
Human Error Inflation dapat dikelompokkan menurut penyebabpenyebabnya sebagai berikut:
a. Korupsi dan administrasi yang buruk (Corruption and Bad
Administration).
b. Pajak yang berlebihan (Excessive Tax).
c. Pencetakan uang dengan maksud menarik keuntungan yang
berlebihan (Excessive Seignorage).
55
c. Dampak Inflasi
Inflasi atau kenaikan harga-harga yang tinggi dan terus menerus
telah menimbulkan beberapa dampak buruk terhadap masyarakat dan
perekonomian secara keseluruhan. Kenaikan harga atau inflasi memiliki
dampak terhadap masyarakat dan perekonomian, yaitu sebagai berikut:
1. Dampak terhadap pendapatan (equity effect)
Efek terhadap pendapatan adalah terjadinya pendapatan
yang tidak merata. Ada yang dirugikan dan ada yang
diuntungkan.
2. Dampak terhadap efisiensi (efficiency effect)
Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor
produksi. Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu
mengalami kenaikan yang lebih besar dari barang lain, yang
kemudian produksi barang tersebut mengalami kenaikan.
Kenaikan produksi barang ini pada gilirannya akan mengubah
pola alokasi faktor produksi yang sudah ada.
3. Dampak terhadap output (output effect)
Disaat laju inflasi sangat tinggi maka akan mengurangi
output nasional. Karena dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai
mata uang riil turun dengan drastis, masyarakat cenderung tidak
suka memegang uang kas, transaksi mengarah kearah barter, yang
biasanya diikuti dengan penurunan produksi barang.
56
6. Exchange Rate (ER) USD/IDR
Menurut Fabozzi dan Francis (1996:724), nilai tukar rupiah adalah
harga rupiah terhadap mata uang negara lain. Nilai tukar Rupiah merupakan
nilai dari satu mata Rupiah yang ditranslasikan ke dalam mata uang negara
lain. Misalnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, nilai tukar Rupiah
terhadap Yen, dan lain sebagainya.
Menurut Purnomo (2013), berdasarkan perkembangan sistem moneter
internasional sejak berlakunya Bretton Woods System pada tahun 1944, pada
umumnya penetapan kurs dikenal 3 sistem:
a. Sistem Kurs Tetap atau Stabil (Fixed Exchange Rate System)
Diciptakan berdasarkan perjanjian Bretton Woods pada tahun
1944. Penetapan sistem nilai mata uang tetap (fixed rate) sangat
bergantung pada ketentuan yang diberlakukan oleh pemerintah atau
bank sentral. Biasanya, sistem tetap diikuti dengan aturan
penyesuaian (devaluasi) dari nilai mata uang.
b. Sistem Kurs Mengambang atau Floating Exchange Rate (FER)
Dalam hal ini nilai tukar suatu mata uang atau valas ditentukan
oleh kekuatan permintaan dan penawaran pada bursa valas.
c. Sistem Kurs Terkait (Pagged Exchange Rate System)
Sistem nilai tukar ini dilakukan dengan mengaitkan nilai mata
uang suatu negara dengan negara lain atau sejumlah mata uang
tertentu.
57
Menurut Madura (2000), nilai tukar atau kurs adalah ukuran nilai dari
suatu valuta dari prespektif valuta lain. Sejalan dengan berubahnya kondisi
makroekonomi, nilai tukar juga dapat berubah secara substansional. Nilai
tukar ekuilibrium akan berubah sepanjang waktu seiring dengan berubahnya
permintaan dan penawaran. Faktor-faktor yang memengaruhi perubahan
nilai tukar antara lain laju inflasi relatif, suku bunga relatif, tingkat
pendapatan relatif, kontrol pemerintah, espektasi, sentimen pasar, dan
interaksi antar faktor. Sistem nilai tukar dapat diklasifikasikan menurut
seberapa jauh nilai tukar dapat dikendalikan oleh pemerintah yaitu:
a. Tetap (fixed).
b. Mengambang bebas (free floating exchange rate).
c. Mengambang terkendali (managed float).
d. Terpatok (paged).
Saat ini Indonesia menganut nilai tukar mengambang bebas (free
floating exchange rate) sejak 14 Agustus 1997, dimana pergerakan nilai
tukar Rupiah dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawarannya
tanpa ditentakan batasan-batasan pergerakannya oleh pemerintah.
Exchange Rate (nilai tukar uang) atau yang lebih populer dikenal
dengan sebutan kurs mata uang adalah catatan (quotation) harga pasar dari
mata uang asing (foreign currency) dalam harga mata uang domestik
(domestic currency) atau resiprokalnya, yaitu harga mata uang domestik
dalam mata uang asing (Greenwald (1982) dalam Karim, 2006:157). Nilai
mata uang merepresentasikan tingkat harga pertukaran dari satu mata uang
58
ke mata uang yang lainnya dan digunakan dalam berbagai transaksi, antara
lain transaksi perdagangan internasional, turisme, investasi internasional,
ataupun aliran uang jangka pendek antar negara, yang melewati batas-batas
geografis ataupun batas-batas hukum.
Nilai tukar suatu mata uang dapat ditentukan oleh pemerintah (otoritas
moneter) seperti pada Negara-negara yang memakai sistem fixed exchange
rates ataupun ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan-kekuatan pasar
yang saling berinteraksi (bank komersial – perusahaan multinasional –
perusahaan multinasional – perusahaan manajemen aset – perusahaan
asuransi – bank devisa – bank sentral) serta kebijakan pemerintah seperti
pada negara-negara yang memakai rezim sistem ‘flexible exchange rates’.
Nilai tukar uang dapat dicatat sebagai spot atau immediate delivery
(penyerahan +/- 2 hari) ataupun juga dapat dicatat sebagai transaksi dimuka
(forward transaction) dalam berbagai periode penyerahan. Perbedaan antara
catatan spot dan forward dalam dua mata uang dalam periode waktu yang
terkait.
Karena setiap negara mempunyai hubungan dalam investasi dan
perdagangan dengan beberapa negara lainnya, maka tidak ada satu nilai
tukar yang dapat mengukur secara memadai daya beli (purchasing power)
dari mata uang domestik atas mata uang asing secara umum. Konsep-konsep
dari nilai tukar uang yang efektif telah dikembangkan untuk mengukur ratarata tertimbang (weighted average) harga dari mata uang asing dalam mata
uang domestik. Begitu juga berbagai skema penimbangan (weighting) telah
59
diajukan,
termasuk
didalamnya
timbangan
(weight)
impor
untuk
merefleksikan daya beli terhadap barang-barang impor, timbangan
perdagangan
bilateral
untuk
merefleksikan
pentingnya
hubungan
perdagangan dengan negara asing tertentu, timbangan perdagangan global
untuk merefleksikan pentingnya berbagai mata uang dalam perdagangan
global (dunia), dan juga timbangan elastisitas porsi perdagangan untuk
merefleksikan tingkatan yang berbeda dari daya saing (competitiveness)
sebuah negara dengan negara-negara lainnya.
7. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
Dalam rangka pelaksanaan pengendalian moneter Bank Indonesia
menggunakan piranti moneter yang terdiri dari cadangan wajib minimum,
tingkat bunga diskonto, dan operasi pasar terbuka. Dalam operasi pasar
terbuka, Bank Indonesia melakukan transksi jual beli surat berharga
termasuk didalamnya Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS).
Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional No.63/DSN-MUI/XII/2007
bahwa Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) adalah surat berharga
dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia berjangka
waktu pendek berdasarkan prinsip syariah. Dalam penerbitan intrumen
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) menggunakan akad Ju’alah.
Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional No.62/DSNMUI/XII/2007, ju’alah
adalah janji atau komitmen (iltizam) untuk memberikan imbalan tertentu
(‘iwadh/ju’l) atas pencapaian hasil (natijah) yang berjanji akan memberikan
imbalan tertentu atas pencapaian hasil pekerjaan (natijah) yang ditentukan,
60
dimana tingkat imbalan disesuaikan dengan tingkat diskonto yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Keberadaan SBI sebagai instrumen kebijakan moneter memiliki tingkat
keberhasilan yang signifikan. Akan tetapi SBI dengan sistem diskontonya
tentu saja membuat bank syariah tidak dapat ikut serta dalam upaya
pengendalian jumlah uang beredar tersebut. Untuk itu, kemudian Bank
Indonesia menyiapkan instrumen lain berupa Sertifikat Wadiah Bank
Indonesia. Akan tetapi, karakteristik dasarnya yang berprinsip wadiah
rupanya kurang efektif. Maka dari itu, untuk meningkatkan efektifitas
pengendalian moneter, maka Bank Indonesia menyiapkan sebuah instrumen
yang bernama Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS).
SBIS adalah surat berharga berdasarkan prinsip syariah berjangka
waktu pendek dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank
Indonesia. SBIS tentu saja tidak menggunakan sistem diskonto. Akad yang
dapat
digunakan
dalam
SBIS
adalah
akad
mudharabah
(muqaradhah)/qiradh, musyarakah, ju’alah, wadi’ah, qardh, dan wakalah.
Dari keenam akad diatas, yang saat ini telah digunakan hanyalah SBIS
berdasarkan akad Ju’alah. Ju’alah adalah janji atau komitmen (iltizam)
untuk memberikan imbalan (reward/’iwadh/ju’l) tertentu atas pencapaian
hasil (natijah) yang ditentukan dari suatu pekerjaan.
Menurut Bank Indonesia (2013), Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS) adalah surat berharga sebagai pengakuan utang Bank Indonesia yang
diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. Karakteristik SBIS saat ini adalah:
61
1. Menggunakan akad Ju’alah namun, berdasarkan Fatwa DSNMUI. SBI Syariah juga dapat diterbitkan dengan menggunakan
akad mudharabah, musyarakah, wadi’ah, qardh, dan wakalah).
2. Bersatuan unit sebesar Rp. 1 juta.
3. Berjangka waktu paling kurang satu bulan dan paling lama 12
bulan.
4. Diterbitkan tanpa warkat (scripless).
5. Dapat digunakan kepada Bank Indonesia, dan
6. Tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder (non-negotiable).
Seperti halnya SBI, SBIS adalah juga instrumen Bank Indonesia untuk
operasi pasar terbuka, utamanya melalui mekanisme perbankan syariah.
Mekanisme penerbitan SBIS adalah lewat cara lelang. Pihak yang dapat
diikutsertakan dalam proses pelelangan SBIS adalah sebagai berikut:
a. Bank Umum Syariah (BUS) atau Unit Usaha Syariah (UUS) atau
pialang yang bertindak untuk dan atas nama BUS atau UUS ; dan
b. BUS atau UUS, baik sebagai peserta langsung maupun peserta tidak
langsung, wajib memenuhi persyaratan Financing to Deposit Ratio
(FDR) yang ditetapkan Bank Indonesia.
Bank Indonesia memberikan imbalan terhadap SBIS yang diterbitkan.
Sedangkan hasil dari transaksi lelang SBIS dapat dibatalkan dengan cara
sebagai berikut:
a. Hasil lelang SBIS dapat dibatalkan oleh Bank Indonesia.
62
b. Transaksi SBIS (setelmen lelang SBIS, setelmen first leg Repo
SBIS, dan setelmen second leg Repo SBIS) dinyatakan batal apabila
saldo rekening giro dan saldo rekening surat berharga BUS atau
UUS di Bank Indonesia tidak mencukupi.
Menurut Fatwa DSN-MUI No.63/DSN-MUI/XII/2007 akad pada SBIS
yang digunakan saat ini adalah Ju’alah. Akad Ju’alah adalah janji atau
komitmen untuk memberikan imbalan tertentu atas pencapaian hasil yang
ditentukan dari suatu hasil pekerjaan. Adapun rukun dan syarat syahnya
Ju’alah adalah sebagai berikut:
a. Sighat, hendaknya kalimat itu mengandung arti izin kepada yang
akan bekerja juga tidak ditentukan waktunya.
b. Ja’il, yaitu pihak yang berjanji akan memberikan imbalan tertentu
dari hasil pencapaian atas suatu pekerjaan yang telah dijanjikan
sebelumnya.
c. Maj’ulah adalah orang yang melaksanakan akad Ju’alah.
d. Ma’julaih adalah pekerjaan yang dilaksanakan.
e. Upah.
Syarat syahnya akad Ju’alah adalah sebagai berikut:
a. Orang yang menjanjikan hadiah atau upah harus orang yang cakap
untuk melakukan tindakan hukum, yaitu baliqh, berakal, dan cerdas.
b. Objek Ju’alah harus berupa pekerjaan yang tidak dilarang oleh
syariah.
63
c. Upah atau hadiah yang dijanjikan harus terdiri dari sesuatu yang
berharga atau bernilai dan harus jelas juga nilainya.
d. Ijab harus disampaikan dengan jelas oleh pihak yang menjanjikan
upah walaupun tanpa ucapan qabul dari pihak yang melaksanakan
pekerjaan.
e. Pekerjaan yang mengharapkan hasilnya itu harus mengandung
manfaat yang jelas dan boleh dimanfaatkan menurut hukum syar’i.
Dalam SBIS Ju’alah, Bank Indonesia bertindak sebagai ja’il (pemberi
pekerjaan) dan bank syariah bertindak sebagai maj’ullah (penerima
pekerjaan) dan objek Ju’alah (mahall al-‘aqd) adalah partisipasi bank
syariah untuk membantu tugas Bank Indonesia dalam pengendalian moneter
melalui penyerapan likuiditas dari masyarakat dan menempatkannya di
Bank Indonesia dalam jumlah dan jangka waktu tertentu. Dalam hal supaya
akad ini menjadi sah, rukun, dan syarat Ju’alah pun harus dipenuhi. Menurut
Fatwa DSN-MUI No.64/DSN-MUI/XII/2007 ketentuan akad SBIS Ju’alah
adalah sebagai berikut:
a. SBIS Ju’alah sebagai instrumen moneter boleh diterbitkan untuk
pengendalian moneter dan pengelolaan likuiditas perbankan syariah.
b. Dalam SBIS Ju’alah, Bank Indonesia bertindak sebagai ja’il
(pemberi pekerjaan) ; bank syariah bertindak sebagai maj’ul lah
(penerima pekerjaan) ; dan objek Ju’alah (mahall al-‘aqd) adalah
partisipasi bank syariah untuk membantu tugas Bank Indonesia
dalam pengendalian moneter melalui penyerapan likuiditas dari
64
masyarakat dan menempatkannya di Bank Indonesia dalam jumlah
dan jangka waktu tertentu.
c. Bank Indonesia dalam operasi moneternya melalui penertiban SBIS
mengumumkan target penyerapan likuiditas kepada bank-bank
syariah sebagai upaya pengendalian moneter dan menjanjikan
imbalan (reward/’iwadh/ju’l) tertentu bagi yang turut berpartisipasi
dalam pelaksanaannya.
Adapun ketentuan hukum dari SBIS Ju’alah adalah sebagai berikut:
a. Bank Indonesia wajib memberikan imbalan (reward/’iwadh/ju’l)
yang telah dijanjikan kepada bank syariah yang telah membantu
Bank Indonesia dalam upaya pengendalian moneter dengan
menempatkan dana di Bank Indonesia dalam jangka waktu tertentu,
melalui “pembelian” SBIS Ju’alah.
b. Dana Bank Syariah yang ditempatkan di Bank Indonesia melalui
SBIS adalah wadi’ah amanah khusus yang ditempatkan dalam
rekening SBIS Ju’alah, yaitu titipan dalam jangka waktu tertentu
berdasarkan kesepakatan atau ketentuan Bank Indonesia, dan tidak
dipergunakan oleh Bank Indonesia selaku penerima titipan, serta
tidak boleh ditarik oleh bank syariah sebelum jatuh tempo.
c. Dalam hal bank syariah selaku pihak penitip dana (mudi’)
memerlukan likuiditas sebelum jatuh tempo, ia dapat me-repokan
SBIS Ju’alahnya dan Bank Indonesia dapat mengenakan denda
(gharamah) dalam jumlah tertentu sebagai ta’zir.
65
d. Bank Indonesia berkewajiban mengembalikan dana SBIS Ju’alah
kepada pemegangnya pada saat jatuh tempo.
e. Bank Syariah hanya boleh atau dapat menempatkan kelebihan
likuiditasnya
pada
SBIS
Ju’alah
sepanjang
belum
dapat
menyalurkannya ke sektor riil.
f. SBIS Ju’alah merupakan instrumen moneter yang tidak dapat
diperjualbelikan (non redeable) atau dipindahtangankan, dan bukan
merupakan bagian dari portofolio investasi bank syariah.
8. BI Rate
Menurut Keynes, dalam Wardane (2003), tingkat bunga ditentukan
oleh permintaan dan penawaran akan uang (ditentukan dalam pasar uang).
Perubahan tingkat suku bunga selanjutnya akan mempengaruhi keinginan
untuk mengadakan investasi, misalnya pada surat berharga, dimana harga
dapat naik atau turun tergantung pada tingkat bunga (bila tingkat bunga
naik maka surat berharga turun dan sebaliknya), sehingga ada kemungkinan
pemegang surat berharga akan menderita capital loss atau capital gain
(Novianto : 11-12).
Suku bunga dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Suku bunga nominal adalah suku bunga dalam nilai uang. Suku
bunga ini merupakan nilai yang dapat dibaca secara umum.
66
2. Suku bunga riil adalah suku bunga yang telah mengalami koreksi
akibat inflasi dan didefinisikan sebagai suku bunga nominal
dikurangi laju inflasi.
Suku bunga merupakan faktor penting dalam perekonomian suatu
Negara karena suku bunga mampu mempengaruhi perekonomian secara
umum. tingkat suku bunga mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap
pasar modal (Erawati: 2002). Suku bunga SBI merupakan instrumen
keuangan yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) untuk mengontrol
peredaran uang di masyarakat dengan menggunakan acuan suku bunga BI
(Rismawati: 2010). Suku bunga BI merupakan tingkat suku bunga yang
ditetapkan oleh BI sebagai patokan bagi suku bunga pinjaman maupun
simpanan bagi bank dan atau lembaga-lembaga keuangan di seluruh
Indonesia. Suku bunga merupakan salah satu variabel yang dapat
mempengaruhi harga saham. Perubahan tingkat suku bunga selanjutnya
akan mempengaruhi keinginan seseorang untuk melakukan suatu investasi,
karena secara umum perubahan suku bunga SBI dapat mempengaruhi suku
bunga deposito dan suku bunga kredit di masyarakat (Amin: 2012). Jika
Suku bunga deposito meningkat maka investor cenderung menanamkan
modalnya dalam bentuk deposito karena dapat menghasilkan return yang
besar dengan resiko yang lebih kecil dan sebaliknya. Dalam penelitian ini
suku bunga SBI menggunakan data suku bunga SBI bulanan yang
dipublikasikan oleh Bank Indonesia (Sudarsana dan Candraningrat : 3292).
67
9. Harga Emas Dunia
Sejak tahun 1968, harga emas yang dijadikan patokan seluruh dunia
adalah
harga
emas
berdasarkan
standar
pasar
emas
London
(en.wikipedia.org). Sistem ini dinamakan London Gold Fixing. London
Gold Fixing adalah prosedur dimana harga emas ditentukan dua kali sehari
setiap hari kerja di pasar London oleh lima anggota Pasar London Gold
Fixing Ltd (www.goldfixing.com). Kelima anggota tersebut adalah:
a. Bank of Nova Scottia
b. Barclays Capital
c. Deutsche Bank
d. HSBC
e. Societe Generale
Proses penentuan harga adalah melalui lelang diantara kelima member
tersebut. Pada setiap awal tiap periode perdagangan, Presiden London
Gold Fixing Ltd akan mengumumkan suatu harga tertentu. Kemudian
kelima anggota tersebut akan mengabarkan harga tersebut kepada dealer.
Dealer inilah yang berhubungan langsung dengan para pembeli
sebenarnya dari emas yang diperdagangkan tersebut. Posisi akhir harga
yang ditawarkan oleh setiap dealer kepada anggota Gold London Fixing
merupakan posisi bersih dari hasil akumulasi permintaan dan penawaran
klien mereka. Dari sinilah harga emas akan terbentuk. Apabila permintaan
lebih banyak dari penawaran, secara otomatis harga akan naik, demikian
pula sebaliknya. Penentuan harga yang pasti menunggu hingga tercapainya
68
titik keseimbangan. Ketika harga sudah pasti, maka Presiden akan
mengakhiri rapat dan mengatakan “There are no flags, and we're fixed”.
Proses penentuan harga emas dilakukan dua kali sehari, yaitu pada
pukul 10.30 (harga emas Gold A.M) dan pukul 15.00 (harga emas Gold
P.M). Harga emas ditentukan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat,
Poundsterling Inggris, dan Euro. Pada umumnya Gold P.M dianggap
sebagai harga penutupan pada hari perdagangan dan sering digunakan
sebagai
patokan
nilai
kontrak
emas
di
seluruh
dunia
(www.goldfixing.com).
Emas merupakan salah satu bentuk investasi yang cenderung bebas
resiko (Sunariyah, 2006). Emas banyak dipilih sebagai salah satu bentuk
investasi karena nilainya cenderung stabil dan naik. Sangat jarang sekali
harga emas turun. Dan lagi, emas adalah alat yang dapat digunakan untuk
menangkal inflasi yang kerap terjadi setiap tahunnya. Ketika akan
berinvestasi, Investor akan memilih investasi yang memiliki tingkat imbal
balik tinggi dengan resiko tertentu atau tingkat imbal balik tertentu dengan
resiko yang rendah. Investasi di pasar saham tentunya lebih berisiko
daripada berinvestasi di emas, karena tingkat pengembaliannya yang
secara umum relatif lebih tinggi dari emas (www.investopedia.com).
Kenaikan harga emas akan mendorong Investor untuk memilih
berinvestasi di emas daripada di pasar modal. Sebab dengan resiko yang
relatif lebih rendah, emas dapat memberikan hasil imbal balik yang baik
dengan kenaikan harganya (Adrienne Roberts FT Personal Finance,
69
October 27th 2001, p. 14). Ketika banyak Investor yang mengalihkan
portofolionya investasi kedalam bentuk emas batangan, hal ini akan
mengakibatkan turunnya indeks harga saham di Negara yang bersangkutan
karena aksi jual yang dilakukan Investor.
B. Keterkaitan Antara Variabel Bebas dengan Variabel Terikat
1. Hubungan Inflasi dengan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)
Menurut Suta (2000), salah satu indikator makro ekonomi yang dapat
mempengaruhi pasar modal adalah tingkat harga yang dapat diukur dengan
inflasi. Besar kecilnya inflasi akan mempengaruhi pendapatan riil maupun
suku bunga riil. Perubahan inflasi yang tidak terkendali cenderung membuat
masyarakat ingin melindungi asetnya ke dalam investasi yang lebih aman
seperti berinvestasi pada logam mulia seperti emas daripada berinvestasi
pada saham. Namun, inflasi yang stabil dan terkendali (inertial inflation)
cenderung memberikan rasa aman bagi investor dalam kegiatan investasi
pada pasar modal.
Inflasi adalah kecenderungan dari kenaikan harga-harga secara umum
dan terus menerus. Menurut Nopirin, yang dimaksud dengan inflasi adalah
proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus
selama suatu periode tertentu. Kenaikan harga ini diukur dengan
menggunakan indeks harga. Sebaliknya, jika yang terjadi adalah penurunan
nilai unit perhitungan moneter terhadap barang-barang atau komoditas dan
jasa didefinisikan sebagai deflasi (deflation) (Karim, 2008:510).
70
Inflasi adalah salah satu variabel makro ekonomi yang dapat sekaligus
menguntungkan dan merugikan sebuah perusahaan. Fahmi (2012) melihat
bahwa investasi di negara berkembang (develop countries) dianggap oleh
banyak pihak memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibandingkan dengan di
negara maju. Hal ini dikarenakan peningkatan inflasi akan meningkatkan
biaya perusahaan. Jika peningkatan biaya produksi lebih tinggi dari
peningkatan harga
profitabilitas
yang dapat
perusahaan
akan
dinikmati
turun.
oleh
Secara
perusahaan,
maka
langsung,
inflasi
mengakibatkan turunnya profitabilitas dan daya beli uang. Secara tidak
langsung inflasi mempengaruhi lewat perubahan tingkat bunga.
Penurunan inflasi akan membuat perusahaan memperoleh profitabilitas
lebih besar karena harga bahan baku menjadi lebih murah dengan asumsi
harga penjualan tetap atau bahkan naik. Inflasi dapat menurunkan
keuntungan suatu perusahaan sehingga sekuritas di pasar modal menjadi
komoditi yang tidak menarik. Hal ini berarti inflasi memiliki hubungan yang
negatif dengan harga saham dan pada akhirnya mempengaruhi pendapatan
deviden saham (return).
2. Hubungan Exchange Rate (ER) USD/IDR dengan Indeks Saham
Syariah Indonesia (ISSI)
Menurut Suta (2000), fluktuasi nilai Rupiah terhadap mata uang asing
akan mempengaruhi iklim investasi. Kurs yang terlalu tinggi akan
melemahkan persaingan harga di luar negeri. Secara tidak langsung akan
memengaruhi neraca perdagangan karena menurunnya nilai ekspor
71
dibandingkan dengan nilai impor. Buruknya neraca perdagangan akan
mengurangi kepercayaan Investor terhadap perekonomian Indonesia. Bagi
Investor asing akan cenderung melakukan penarikan modal sehingga terjadi
capital outflow. Menurut Madura (2000), dampak nilai tukar yang melemah
akan meningkatkan persaingan produk domestik di luar negeri.
Menurut
Fahmi
dan
Hadi
(2011),
terdapat hubungan
saling
mempengaruhi antara nilai tukar dan harga saham di pasar modal baik
dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Secara jangka pendek
menguatnya nilai Rupiah berdampak positif pada harga saham secara
keseluruhan dan melemahnya nilai tukar berdampak negatif terhadap harga
saham akibat ekspektasi Investor pada kondisi perekonomian yang lemah.
Kebijakan pemerintah ketika nilai Rupiah terdepresiasi adalah dengan
menaikan suku bunga yang ditujukan untuk menghindari masyarakat
membeli valuta asing dan untuk menarik capital inflow agar Rupiah
terapresiasi. Tapi dengan tingginya suku bunga dapat mengakibatkan
turunnya present value dari future cash flow perusahaan sehingga
mengakibatkan harga saham menjadi turun.
3. Hubungan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dengan Indeks
Saham Syariah Indonesia (ISSI)
Tujuan terbentuknya SBIS sebagai pengendali moneter tentu perubahan
kebijakan yang dibuat oleh Bank Indonesia mampu mempengaruhi bank
syariah ataupun pasar modal syariah. SBIS juga berfungsi sebagai salah satu
instrumen untuk membantu dalam investasi bank syariah apabila terjadi
72
kelebihan dana (Overlikuiditas). Dalam penerbitan SBIS akad yang
digunakan adalah ju’alah. Maka bank syariah yang menempatkan dana pada
SBIS berhak mendapatkan upah (ujrah) atas jasa membantu pemeliharaan
keseimbangan moneter Indonesia. Tingkat imbalan yang diberikan oleh
Bank Indonesia mengacu pada SBI konvensional, sehingga tidak akan
memicu kesenjangan profit yang diperoleh dari penempatan dana tersebut
oleh bank syariah. Ketika imbalan yang diperoleh bank syariah dalam
melakukan investasi SBIS itu besar tentu keuntungan akan diperoleh bank
syariah, selanjutnya return yang dibagi hasilkan pada DPK (Dana Pihak
Ketiga) yaitu para nasabah yang menabung, deposito juga akan tinggi. Hal
tersebut mampu menarik Investor untuk beralih berinvestasi di bank syariah
daripada instrumen investasi lainnya yaitu pasar modal syariah. Ketika
minat Investor turun untuk berinvestasi dipasar modal syariah tentu hal itu
akan memicu menurunnya indeks saham syariah (Suciningtias dan Khoiroh,
2015:403).
4. Hubungan BI Rate dengan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)
Kenaikan tingkat suku bunga dapat meningkatkan beban perusahaan
(emiten) yang lebih lanjut dapat menurunkan harga saham. Kenaikan ini
juga potensial mendorong investor mengalihkan dananya ke pasar uang atau
tabungan maupun deposito sehingga investasi di lantai bursa turun dan
selanjutnya dapat menurunkan harga saham (Novianto : 15)
73
5. Hubungan Harga Emas Dunia dengan Indeks Saham Syariah Indonesia
(ISSI)
Kenaikan harga emas akan mendorong Investor untuk memilih
berinvestasi di emas daripada di pasar modal. Sebab dengan resiko yang
relatif lebih rendah, emas dapat memberikan hasil imbal balik yang baik
dengan kenaikan harganya. Ketika banyak Investor yang mengalihkan
portofolionya
investasi
kedalam
bentuk
emas
batangan,
hal
ini
mengakibatkan turunnya indeks harga saham di Negara yang bersangkutan
karena aksi jual yang dilakukan Investor (Witcaksono, 2010 dalam
Rusbariandi : 4).
Namun, di Indonesia dengan penduduk mayoritas beragama muslim
berinvestasi dalam bentuk emas mempunyai keyakinan dan ketertarikan
tersendiri, apalagi bila didukung dengan kondisi perekonomian yang baik
dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang meningkat. Tingkat permintaan
emas tentunya akan mengalami peningkatan, yang kemudian berdampak
pada meningkatnya harga emas. Peningkatan harga emas ini juga disinyalir
akan meningkatkan laba bagi perusahaan tambang emas sehingga hal ini
memotivasi para Investor untuk berinvestasi pada saham-saham perusahaan
tambang emas. Kejadian ini akan memacu peningkatan harga saham
perusahaan yang nantinya juga akan tercemin dalam indeks harga saham
(Rusbariandi : 4-5).
74
C. Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu akan diuraikan secara ringkas karena
penelitian ini mengacu pada beberapa penelitian sebelumnya. Meskipun ruang
lingkup hampir sama, tetapi karena beberapa variabel, objek, periode waktu
yang digunakan dan penentuan sampel berbeda maka terdapat banyak hal yang
tidak sama, sehingga dapat dijadikan sebagai referensi untuk saling
melengkapi. Berikut ringkasan beberapa penelitian:
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No
1
Nama
Peneliti
Siti
Aisiyah
Sucinin
gtias
dan
Rizki
Khoiro
h
(Jurnal2015)
Judul
Penelitian
Analisis
Dampak
Variabel
Makroekonomi
Terhadap Indeks
Saham Syariah
Indonesia (ISSI)
Metode
Analisis
Hasil Penelitian
Analisis
Regresi
Linier
Berganda
Variabel Inflasi dan Nilai
Tukar IDR/USD
mempunyai pengaruh
negatif signifikan
terhadap Indeks Saham
Syariah Indonesia (ISSI)
selama periode Mei 2011
sampai Nopember 2014.
Dimana semakin tinggi
tingkat inflasi dan Nilai
Tukar IDR/USD akan
menurukan Indeks Saham
Syariah Indonesia (ISSI)
Variabel Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS)
dan Harga Minyak Dunia
mempunyai pengaruh
tidak signifikan terhadap
Indek Saham Syariah
Indonesia (ISSI) selama
periode Mei 2011 sampai
Nopember 2014. Dimana
perubahan tingkat
imbalan Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS)
75
2
Hadelin
a Hafni
(Skripsi
-2015)
Dampak
Fluktuasi
Inflasi,
Sertifikat Bank
Indonesia
Syariah (SBIS),
Exchange Rate
dan Harga Emas
Dunia Terhadap
Jakarta Islamic
Index Periode
(Jan 2010 – Des
2014)
Ordinary
Least
Square
(OLS)
dan perubahan harga
minyak dunia tidak
mampu mempengaruhi
secara kuat pergerakan
Indeks Saham Syariah
Indonesia (ISSI)
Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa
secara parsial variabel
Inflasi memilki pengaruh
positif secara signifikan
dengan koefisien sebesar
0.161132 dan Prob.
sebesar 0.0064, Sertifikat
Bank Indonesia Syariah
memilki pengaruh negatif
secara signifikan dengan
koefisien sebesar 0.363340 dan Prob.
sebesar 0.0001, Exchange
Rate memiliki pengaruh
positif secara tidak
signifikan dengan
koefisien sebesar
0.732745 dan Prob.
sebesar 0.2843 dan Harga
Emas Dunia memilki
pengaruh negatif secara
signifikan dengan
koefisien -0.026329 dan
Prob. sebesar 0.0000.
Secara simultan semua
variabel independen
(Inflasi, Sertifikat Bank
Indonesia Syariah,
Exchange Rate dan Harga
Emas Dunia) memiliki
pengaruh yang signifikan
terhadap Jakarta Islamic
Index dengan F-Statistik
sebesar 13.51905 dan
Prob. sebesar 0.000000.
Kemudian hasil regresi
Adjusted R-Squared
sebesar 0.463342
menunjukkan bahwa
76
3
4
5
variasi variabel dependen
(Jakarta Islamic Index
secara bersama-sama
mampu dijelaskan oleh
variabel-variabel
independen (Inflasi,
Sertifikat Bank Indonesia
Syariah, Exchange Rate,
dan Harga Emas Dunia)
sebesar 46.33%,
sedangkan sisanya sebesar
53.67% dijelaskan oleh
variasi lain yang tidak
diikutsertakan dalam
penelitian ini
Muham Analisis
Vector
ISSI model jangka
mad
Variabel
Autoregre pendek dipengaruhi oleh
Nassir, Makroekonomi ssion
Inflasi dan Jumlah Uang
Fakriah Terhadap Indeks (VAR)
Beredar (JUB) pada
, dan
Saham Syariah
dan Vector tingkat kepercayaan 90%.
Ayuwa Indonesia
Error
ISSI dipengaruhi Inflasi
ndirah
dengan Metode Corection di lag pertama secara
(Jurnal- Pendekatan
Model
signifikanmempengaruhi
2016)
Vector
(VECM)
Indonesia Stock Index
Autoregression
Syariah. ISSI juga
dipengaruhi oleh lag JUB
2
Amalia Analisis
Ordinary
Hasil penelitian ini
Adani
Pengaruh
Least
menunjukkan bahwa ISSI
(Skripsi Tingkat Suku
Square
dipengaruhi oleh Tingkat
-2014) Bunga SBI,
(OLS)
Suku Bunga SBI, Jumlah
Jumlah Uang
Uang Beredar, dan Kurs
Beredar, dan
Rupiah secara simultan.
Kurs Rupiah
Namun secara parsial,
Terhadap Indeks
ISSI dipengaruhi secara
Saham Syariah
signifikan positif oleh
Indonesia (ISSI)
Tingkat Suku Bunga SBI
dan Jumlah Uang
Beredar, sedangkan Kurs
Rupiah berpengaruh
negatif terhadap ISSI
Septian Analisis
OLS
Hasil penelitian
a Prima Pengaruh
(Ordinary menunjukkan bahwa
Rusbari Tingkat Inflasi, Least
parsial Tingkat Inflasi dan
andi
Harga Minyak
Square)
Kurs Rupiah berpengaruh
(Skripsi Dunia, Harga
negatif dan signifikan
77
-2012)
6
7
Emas Dunia,
dan Kurs
Rupiah
Terhadap
Jakarta Islamic
Index di Bursa
Efek Indonesia
(Periode Jan
2005 – Mar
2012)
Gilang Analisis
Rizky
Pengaruh
Dewant Inflasi, Suku
i
Bunga, Jumlah
(Skripsi Uang Beredar,
-2012) Kurs Nilai
Tukat Dollar
Amerika/Rupiah
dan Harga Emas
Dunia Terhadap
Jakarta Islamic
Index di Bursa
Efek Indonesia
(Periode 20092012)
Rahmat Analisis
ika
Pengaruh
Istiqam Inflasi, Jumlah
ah
Uang Beredar,
(Skripsi Sertifikat Bank
-2016) Indonesia
Syariah dan
Harga Minyak
Dunia terhadap
Indeks Saham
Syariah
Indonesia (ISSI)
(Periode Mei
2011 – Mei
2016)
terhadap JII. Harga Emas
Dunia tidak berpengaruh
signifikan terhadap JII.
Sedangkan Harga Minyak
Dunia mempunyai
pengaruh yang positif dan
signifikan terhadap JII
OLS
(Ordinary
Least
Square)
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa
secara parsial Suku Bunga
dan Nilai Tukar Dollar
Amerika/Rupiah
berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap
Jakarta Islamic Index.
Inflasi, Jumlah Uang
Beredar dan Harga Emas
Dunia tidak berpengaruh
signifikan terhadap JII
Analisis
Regresi
Linier
Berganda
Dari hasil uji hipotesis
secara simultan (uji F)
secara simultan bahwa
Inflasi, Jumlah Uang
Beredar, Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS)
dan Harga Minyak Dunia
memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap Indeks
Saham Syariah Indonesia
dengan nilai signifikansi
0,000. Dan berdasarkan
hasil uji hipotesis secara
parsial (uji t) pada Indeks
Saham Syariah Indonesia
(ISSI) menunjukkan
bahwa variable Jumlah
Uang Beredar dan Harga
Minyak Dunia
berpengaruh signifikan
terhadap Indeks Saham
78
Syariah dan variabel
Inflasi dan Sertifikat Bank
Indonesia (SBIS) tidak
berpengaruh terhadap
Indeks Saham Syariah
Indonesia
D. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan sintesa dari serangkaian teori yang
tertuang dalam tinjauan pustaka, yang pada dasarnya merupakan gambaran
sistematis dari kinerja teori dalam memberikan solusi atau alternatif solusi dari
serangkaian masalah yang ditetapkan. Kerangka pemikiran dapat disajikan
dalam bentuk bagan, deskripsi kualitatif, dan atau gabungan keduanya (Hamid,
2010:15). Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dideskripsikan sebagai
berikut:
79
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
INVESTASI
Pasar Modal Syariah
Makroekonomi
Domestik:
Inflasi, Exchange
Rate, SBIS, BI
Rate
Indeks Saham
Syariah Indonesia
(ISSI)
Makroekonomi
Global: Harga
Emas Dunia
Metode Analisis
Regresi Linier Berganda
E. Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan sementara atas suatu hubungan, sebab akibat
dari kinerja variabel yang perlu dibuktikan kebenarannya. Hipotesis dapat
dibedakan dalam hipotesis deskriptif, hipotesis argumentatif, hipotesis kerja,
dan hipotesis statistik, atau hipotesis nol. Hipotesis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah hipotesis statistik atau hipotesis nol yang bertujuan untuk
memeriksa ketidakbenaran sebuah dalil atau teori selanjutnya akan ditolak
melalui bukti-bukti yang sah (Hamid, 2010:16).
80
Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka hipotesis yang
dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variabel Inflasi (X1)
H0.1 : Inflasi tidak berpengaruh terhadap Indeks Saham Syariah
Indonesia.
Ha.1 : Inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks Saham
Syariah Indonesia.
2. Variabel Exchange Rate (ER) USD/IDR (X2)
H0.2 : Exchange Rate tidak berpengaruh terhadap Indeks Saham
Syariah Indonesia.
Ha.2 : Exchange Rate berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks
Saham Syariah Indonesia.
3. Variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (X3)
H0.3: Sertifikat Bank Indonesia Syariah tidak berpengaruh terhadap
Indeks Saham Syariah Indonesia.
Ha.3: Sertifikat Bank Indonesia Syariah berpengaruh secara signifikan
terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia.
4. Variabel BI Rate (X4)
H0.4 : BI Rate tidak berpengaruh terhadap Indeks Saham Syariah
Indonesia.
Ha.4 : BI Rate berpengaruh terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia.
81
5. Variabel Harga Emas Dunia (X5)
H0.5: Harga Emas Dunia tidak berpengaruh terhadap Indeks Saham
Syariah Indonesia.
Ha.5 : Harga Emas Dunia berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks
Saham Syariah Indonesia.
6. Variabel Inflasi (X1), Exchange Rate (X2), Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (X3), BI Rate (X4), dan Harga Emas Dunia (X5)
H0.6 : Inflasi, Exchange Rate, Sertifikat Bank Indonesia Syariah, BI
Rate, dan Harga Emas Dunia tidak berpengaruh secara simultan
terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia.
Ha.6 : Inflasi, Exchange Rate, Sertifikat Bank Indonesia Syariah, BI
Rate, dan Harga Emas Dunia berpengaruh signifikan secara
simultan
terhadap
Indeks
Saham
Syariah
Indonesia.
82
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah seluruh saham
syariah yang terdaftar pada Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) pada
periode waktu Juli 2012 – Juli 2016.
Untuk jenis data yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah
data sekunder. Data sekunder sendiri adalah data yang diperoleh secara tidak
langsung kepada pihak (instansi) lain yang biasa digunakan untuk melakukan
penelitian.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan
data sekunder yang meliputi dua variabel yang akan diteliti dalam penelitian
ini. Kedua variabel tersebut adalah variabel dependen yang diwakili oleh
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) serta variabel independen yang
diwakili oleh Inflasi, Kurs, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), BI Rate,
dan Harga Emas Dunia.
B. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh dari data statistik dan data yang
dipublikasikan secara umum. Data-data yang dikumpulkan adalah sebagai
berikut:
83
1. Data statistik kapitalisasi ISSI pada periode Juli 2012 – Juli 2016
bersumber dari situs resmi Otoritas Jasa Keuangan www.ojk.go.id.
2. Data statistik Inflasi pada periode Juli 2012 – Juli 2016 bersumber dari
situs resmi Bank Indonesia www.bi.go.id.
3. Data statistik Kurs pada periode Juli 2012 – Juli 2016 bersumber dari
situs www.pusatdata.kontan.co.id.
4. Data statistik Sertifikat Bank Indonesia Syariah pada periode Juli 2012
– Juli 2016 bersumber dari situs resmi Otoritas Jasa Keuangan
www.ojk.go.id.
5. Data statistik BI Rate pada periode Juli 2012 – Juli 2016 bersumber dari
situs resmi Bank Indonesia www.bi.go.id.
6. Data statistik Harga Emas Dunia pada periode Juli 2012 – Juli 2016
bersumber dari situs www.kitco.com.
C. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode data
kuantitatif, yaitu dimana data yang digunakan dalam penelitian berbentuk
angka. Dengan pendekatan kuantitatif diharapkan dapat menjelaskan hubungan
antara variabel bebas dengan variabel terikat yaitu bagaimana pengaruh Inflasi,
Kurs, Sertifikat Bank Indonesia Syariah, BI Rate, dan Harga Emas Dunia
terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Penelitian ini menggunakan
metode Analisis Regresi Linier Berganda dengan menggunakan program
komputer (software) SPSS versi 16 dan Micosoft Excel 2010. Berikut ini adalah
metode yang digunakan dalam menganalisis data pada penelitian ini:
84
1. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dimaksudkan untuk menguji apakah nilai
residual yang telah distandarisasi pada model regresi berdistribusi
normal atau tidak. Nilai residual dikatakan berdistribusi normal jika
nilai residual terstandarisasi tersebut sebagian besar mendekati nilai
rata-ratanya. Untuk mendeteksi apakah nilai residual terstandarisasi
berdistribusi normal atau tidak, maka dapat digunakan metode
analisis grafik dan metode statistik.
Disamping itu, pengujian normalitas dengan analisis grafik
dapat memberikan hasil yang subyektif. Artinya, antara orang yang
satu dengan yang lain dapat berbeda dalam menginterpretasikannya,
maka penulis menggunakan uji normalitas dengan KolmogorovSmirnov. Pengujian normalitas distribusi data populasi dilakukan
denngan menggunakan nilai Asymp. Sig. (2-tailed). Kriteria yang
digunakan yaitu H0 diterima apabila nilai Asymp. Sig. (2-tailed) >
dari tingkat alpha yang telah ditetapkan (5%), karenanya dapat
dinyatakan bahwa data berasal dari populasi yang berdistribusi
normal. Apabila data terdistribusi normal, maka data tersebut
mamenuhi persyaratan untuk melakukan pengujian hipotesis dengan
menggunakan uji-t dan uji-F sehingga data tersebut dapat diuji
untuk pengambilan keputusan penelitian (Sudarmanto, 2005).
85
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan bila data tidak normal,
diantaranya adalah:
1) Jika jumlah sampel besar, kita perlu menghilangkan nilai
outliner dari data. Kita bisa membuang nilai-nilai yang
ekstrem, baik atas atau bawah. Nilai ekstrem ini disebut
outliners. Pertama kita perlu membuat grafik, dengan sumbu
x sebagai frekuensi dan y sebagai semua nilai yang ada
dalam data kita. Dari sini kita akan bisa melihat nilai mana
yang sangat jauh dari kelompoknya. Nilai inilah yang
kemudian perlu dibuang dari data kita, dengan asumsi nilai
ini muncul akibat situasi yang tidak biasanya.
2) Melakukan transformasi data, Ada banyak cara untuk
mentransform data kita, misalnya dengan mencari akar
kuadrat dari data kita, dan lain-lain.
3) Menggunakan alat analisis non parametric, analisis ini
disebut juga analisis yang distribution free. Sayangnya
analisis ini seringkali mengubah data menjadi lebih rendah
dari tingkatannya. Misal kalau sebelum data kita termasuk
data interval dengan analisis ini akan diubah menjadi data
ordinal.
b. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi yang terbentuk adanya korelasi antar variabel
86
independen dan bila terjadi korelasi berarti terjadinya problem
multikolinieritas. Model regresi dikatakan baik bila tidak terjadi
korelasi antar variabel independen. Nilai cut off yang umum dipakai
untuk menunjukkan adanya multikolinieritas adalah nilai Tolerance
> 0,10 atau sama dengan VIF < 10 dan nilai korelasi antar variabel
independen < 0,5 maka model dinyatakan tidak terdapat gejala
multikolinieritas (Oramahi, 2007).
Jika model mengandung multikolinieritas yang serius yakni
korelasi yang tinggi antar veriabel independen, maka ada beberapa
cara yang dapat dilakukan untuk menyembuhkannya:
1. Menghilangkan Variabel Independen
Salah satu metode sederhana yang bisa dilakukan adalah
dengan menghilangkan salah satu variabel independen yang
mempunyai hubungan linier kuat. Namun menghilangkan
variabel
independen
di
dalam
suatu
model
akan
menimbulkan bias spesifikasi model regresi.
2. Transformasi Variabel
Transformasi variabel dapat dilakukan dengan cara
melakukan transformasi kedalam bentuk diferensi pertama
(first difference). Bentuk diferensiasi pertama ini akan
mengurangi
masalah
multikolinieritas.
Transformasi
variabel ini akan tetap menimbulkan masalah berkaitan
dengan masalah variabel gangguan. Kesalahan pengganggu
87
Vt mungkin tidak memenuhi salah satu asumsi daripada
model regresi linier klasik yang mengatakan bahwa
kesalahan pengganggu tidak berkorelasi antara yang satu
dengan lainnya, akan tetapi kemungkinan besar berkorelasi
serial (serially correlated).
3. Penambahan Data
Masalah multikolinieritas pada dasarnya merupakan
persoalan sampel. Oleh karena itu, masalah multikolinieritas
seringkali bisa diatasi jika kita menambah jumlah data.
Ketika kita menambah jumlah data karena ada masalah
multikolinieritas antara X1 dan X2 maka akan menyebabkan
varians dari β1 akan mengalami penurunan. Jika varian
mengalami penurunan maka otomatis standard error juga
akan mengalami penurunan. Dengan kata lain, jika
multikolinieritas menyebabkan variabel independen tidak
signifikan mempengaruhi variabel dependen melalui uji-t,
maka dengan penambahan jumlah data maka sekarang
variabel independen menjadi signifikan mempengaruhi
variabel dependen (Widarjono, 2012).
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah
variasi residual absolut sama atau tidak sama untuk semua
pengamatan. Gejala heteroskedastisitas ditunjukkan oleh koefisien
88
regresi dari masing-masing variabel bebas terhadap nilai absolut
residualnya. Jika nilai probabilitas lebih besar dari nilai alpha (Sig.
> α), maka dapat dipastikan model tidak mengandung gejala
heteroskedastisitas (Sudarmanto, 2005).
Ada beberapa cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya
heterokedastisitas, yaitu melihat grafik plot antara nilai prediksi
variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya
SRESID. Dasar analisis: (1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik
yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang,
melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi
heterokedastisitas; (2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik
menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak
terjadi heterokedastisitas (Ghozali, 2012).
Ada beberapa cara mengatasi gejala heterokedastisitas. Salah
satunya menurut J. Supranto (1983), jika varian heteroskedastik
diketahui, maka cara yang paling mudah untuk memecahkan
masalah heteroskedastisitas adalah dengan menggunakan metode
kuadrat
terkecil
tertimbang.
Dimana
timbangannya
untuk
mengurangi pengaruh dari nilai observasi yang ekstrim. Namun
dalam prakteknya varian heteroskedastik jarang diketahui sehingga
kita harus membuat berbagai asumsi tentang varian heteroskedastik
tersebut dan kemudian kita membuat transformasi terhadap data
yang akan dipergunakan didalam model dengan maksud agar data
89
yang
sudah
dirubah
bentuknya
itu
mempunyai
kesalahan
pengganggu dengan varian yang tetap dan tercapai keadaan yang
homoskedastis. Beberapa alternatif solusi jika model menyalahi
asumsi heteroskedastisitas adalah dengan mentransformasikan ke
dalam bentuk logaritma, yang hanya dapat dilakukan jika semua
data bernilai positif. Atau dapat juga dilakukan dengan membagi
semua variabel dengan variabel yang mengalami gangguan
heteroskedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dimaksudkan untuk menguji model linier ada
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode-t dengan
kesalahan pada periode-t sebelumnya (Oramahi, 2007). Adanya
autokorelasi dapat mengakibatkan penaksir mempunyai varians
tidak minimum dan uji-t tidak dapat digunakan, karena akan
memberikan kesimpulan yang salah. Ada beberapa cara untuk
mendeteksi ada tidaknya masalah autokorelasi, yaitu menggunakan
metode Durbin-Watson dan metode Run Test sebagai salah satu uji
statistik non parametrik. Uji Durbin-Watson (Uji D-W) merupakan
uji yang sangat populer untuk menguji ada tidaknya masalah
autokorelasi dari model empiris yang diestimasi (Sudarmanto,
2005).
90
Tabel 3.1
Kriteria Pengujian Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson
DW
Kesimpulan
< D1
Ada Autokorelasi (+)
dL s.d Du
Tanpa Kesimpulan
dU s.d 4 – dU
Tidak Ada Autokorelasi
4 – dU s.d 4 – dL
Tanpa Kesimpulan
> 4 – dL
Ada Autokorelasi (-)
Menurut
Oramahi
(2007),
untuk
mendeteksi
terjadi
autokorelasi atau tidak dapat dilihat melalui nilai Durbin-Watson
(D-W) yang bisa dijadikan patokan untuk mengambil keputusan
adalah:
1) Bila nilai D-W < -2, berarti ada autokorelasi positif.
2) Bila nilai D-W diantara -2 sampai dengan +2, berarti tidak
terjadi autokorelasi.
3) Bila nilai D-W + 2, berarti ada autokorelasi negatif.
Jika ada masalah autokorelasi, maka model regresi yang
seharusnya signifikan (lihat angka F dan signifikansinya), menjadi
tidak layak untuk dipakai. Autokorelasi dapat diatasi dengan
berbagai cara antara lain dengan melakukan transformasi data dan
menambah data observasi.
91
Menurut Imam Ghozali (2012) dalam Fitria Saraswati (2013),
jika pada model regresi terjadi autokorelasi, maka ada beberapa
opsi penyelesaiannya antara lain:
1) Tentukan apakah autokorelasi yang terjadi merupakan pure
autocorrelation dan bukan karena kesalahan spesifikasi
model regresi. Pola residual dapat terjadi karena adanya
kesalahan spesifikasi model yaitu ada variabel penting yang
tidak dimasukkan kedalam model atau dapat juga karena
bentuk fungsi persamaan regresi tidak benar.
2) Jika yang terjadi adalah pure autocorrelation, maka solusi
autokorelasi adalah dengan mentranformasi model awal
menjadi model difference. Misalkan model regresi dengan
dua variabel sebagai berikut:
Yt = β1 + β2Xt + μt
Dan diasumsikan bahwa error mengikuti
autoregressiveAR(1) sebagai berikut:
μt = ρμt – 1 + €t -1 < ρ < 1
Nilai ρ diestimasi berdasarkan Durbin-Watson d statistik
dengan rumus sebagai berikut:
ρ = 1 – d/2
Keterangan:
d = durbin-watson
92
Pada kasus dengan jumlah sampel kecil, Theil dan Nagar
mengajukan rumus untuk menghitung ρ sebagai berikut:
ρ = n2(1 – d/2) + k2
n2 – k2
Keterangan:
n = jumlah observasi
k = jumlah variabel bebas
2. Uji Hipotesis
a. Uji-F
Nilai F hitung digunakan untuk menguji ketepatan model
(goodness of fit). Uji-F ini juga sering disebut sebagai uji simultan,
untuk menguji apakah variabel bebas yang digunakan dalam model
mampu menjelaskan perubahan nilai variabel terikat atau tidak.
Adapun cara pengujian dalam uji F ini, yaitu dengan menggunakan
suatu tabel yang disebut dengan Tabel ANOVA (Analysis of
Variance) dengan melihat nilai signifikasi (Sig. < 0,05 atau 5 %).
Jika nilai signifikasi > 0.05 maka H1 ditolak, sebaliknya jika nilai
signifikasi < 0.05 maka H1 diterima.
b. Uji-t
Uji-t merupakan uji signifikansi yang digunakan untuk
mengukur keberartian koefisien regresi variabel independen satu
per satu. Uji-t dugunakan untuk menguji Apakah variabel
independen tersebut memiliki pengaruh yang berarti terhadap
93
variabel dependennya atau tidak. Uji-t digunakan untuk menentukan
pengujian hipotesis uji-t. Apabila harga koefisien-t yang digunakan
sebagai ukuran, maka nilai koefisien tersebut harus dibandingkan
dengan nilai t-tabel untuk tingkat alpha yang telah ditetapkan
dengan dk yang sesuai. Kriteria yang digunakan yaitu menolak H0
dan menerima Ha apabila t-hitung > t-tabel, serta menerima H0 dan
menolak Ha apabila t-hitung < t-tabel (Sudarmanto, 2005).
c. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi merupakan besarnya kontribusi variabel
bebas terhadap variabel terikatnya. Semakin tinggi koefisien
determinasi, semakin tinggi kemampuan variabel bebas dalam
menjelaskan variasi perubahan pada variabel terikatnya (Suliyanto,
2011). Nilai koefisien determinasi adalah diantara nol dan satu. Bila
nilai koefisien determinasi sama dengan 0 (R2 = 0), artinya variasi
dari Y tidak dapat diterangkan oleh X sama sekali. Sementara bila
nilai koefisien determinasi sama dengan 1 (R2 = 1), artinya variasi
Y secara keseluruhan dapat diterangkan oleh X.
3. Analisis Regresi Linier Berganda
Menurut Umi Narimawati (2008), analisis regresi linier berganda
adalah suatu analisis asosiasi yang digunakan secara bersamaan untuk
meneliti pengaruh dua atau lebih variabel bebas terhadap satu variabel
tergantung dengan skala interval. Metode analisis data yang digunakan
adalah model regresi berganda, yaitu regresi yang digunakan untuk
94
mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen. Pengaruh regresi linier berganda dapat dituliskan
sebagai berikut:
Y = α +β1X1+ β2X2+ β3X3+ β4X4 + β5X5
Keterangan:
Y = LN ISSI
X1 = Inflasi
X2 = LN Kurs
X3 = LN SBIS
X4 = BI Rate
X5 = Harga Emas Dunia
D. Operasional Variabel Penelitian
1. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Indeks harga saham merupakan ringkasan pengaruh simultan dan
kompleks dari berbagai macam variabel yang berpengaruh terutama
kejadian-kejadian ekonomi. Dengan kata lain indeks harga saham dapat
dijadikan sebagai barometer ekonomi suatu Negara dan sebagai dasar
melakukan analisis statistik atas kondisi pasar terakhir. Di Indonesia
terdapat dua indeks saham syariah, yaitu Jakarta Islamic Index (JII) dan
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Dalam penelitian ini indeks saham
syariah yang digunakan adalah ISSI. ISSI merupakan indeks yang telah
diluncurkan oleh BEI pada tanggal 12 Mei 2011 dimana konstituen ISSI
adalah seluruh saham yang tergabung dalam Daftar Efek Syariah dan
95
tercatat di BEI. Hingga saat ini jumlah konstituen ISSI adalah lebih dari 200
saham. Tujuan pembentukan ISSI adalah untuk meningkatkan kepercayaan
Investor dalam melakukan investasi pada saham berbasis syariah dan
memberikan manfaat bagi pemodal dalam menjalankan syariah Islam untuk
melakukan investasi di bursa efek (Pasaribu dan Firdaus, 2013:119).
2. Variabel Bebas (Independent Variable)
Berikut ini adalah variabel-variabel independen yang digunakan dalam
penelitian, yaitu:
a. Inflasi (X1)
Inflasi merupakan variabel bebas pertama. Inflasi adalah proses
kenaikan harga-harga umum secara terus-menerus. Akibat dari
inflasi secara umum adalah menurunnya daya beli masyarakat
karena secara riil tingkat pendapatan juga menurun. Indikator inflasi
yang digunakan adalah Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia.
IHK merupakan pengukur perkembangan daya beli Rupiah yang
dibelanjakan untuk membeli barang dan jasa dari bulan ke bulan.
b. Exchange Rate (ER) USD/IDR (X2)
Kurs valuta asing atau kurs mata uang asing menunjukan harga
atau nilai mata uang suatu Negara dinyatakan dalam nilai mata uang
negara lain. Kurs valuta asing dapat juga didefinisikan sebagai
jumlah uang domestic yang dibutuhkan, yaitu banyaknya rupiah
yang dibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata uang asing
(Sukirno, 2011:397).
96
Menurut Karim (2007:157), nilai tukar uang mempresentasikan
tingkat harga pertukaran dari satu mata uang ke mata uang lainnya
dan digunakan dalam berbagai transaksi, antara lain transaksi
perdagangan internasional, turisme, investasi internasional, ataupun
aliran uang jangka pendek antar negara, yang melewati batas-batas
geografis ataupun batas-batas hukum.
Kurs yang digunakan adalah kurs tengah rupiah terhadap Dollar
Amerika Serikat yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.
c. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) (X3)
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) adalah sertifikat yang
diterbitkan Bank Indonesia yang diterbitkan Bank Indonesia yang
dibuat dalam rangka pengendalian moneter berdasarkan prinsip
syariah dan merupakan salah satu upaya untuk mengatasi bila terjadi
kelebihan likuiditas pada bank syariah (Arifin, 2009:198).
d. BI Rate (X4)
Menurut Keynes, dalam Wardane (2003), tingkat bunga
ditentukan oleh permintaan dan penawaran akan uang (ditentukan
dalam pasar uang). Perubahan tingkat suku bunga selanjutnya akan
mempengaruhi keinginan untuk mengadakan investasi, misalnya
pada surat berharga, dimana harga dapat naik atau turun tergantung
pada tingkat bunga (bila tingkat bunga naik maka surat berharga
turun dan sebaliknya), sehingga ada kemungkinan pemegang surat
97
berharga akan menderita capital loss atau capital gain (Novianto
:11-12).
Suku bunga dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Suku bunga nominal adalah suku bunga dalam nilai uang.
Suku bunga ini merupakan nilai yang dapat dibaca secara
umum.
2. Suku bunga riil adalah suku bunga yang telah mengalami
koreksi akibat inflasi dan didefinisikan sebagai suku bunga
nominal dikurangi laju inflasi.
e. Harga Emas Dunia (X4)
Emas adalah logam mulia padat, lembut, mengkilat, dan salah
satu logam yang paling lentur diantara logam lainnya. Dibandingkan
dengan jenis logam lainnya emas memiliki beberapa kelebihan,
seperti pendapat Jack Weatherford “Dimanapun orang ingin
menyentuhnya, mengenakannya, bermain-main dengannya dan juga
memiliknya, karena berbeda dengan tembaga yang berubah menjadi
hijau, besi yang mudah berkarat dan perak yang memudar, emas
murni tetaplah murni dan tidak berubah”. Sifat-sifat alamiah inilah
yang menyebabkan nilai atau harga emas menjadi amat bernilai
(Dipraja, 2011:7).
98
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Perkembangan Indeks Saham Syariah Indonesia
Dewasa ini perkembangan ekonomi syariah telah tumbuh dan
berkembang pesat pada perekonomian Indonesia, baik dikalangan akademisi
maupun praktisi. Hal ini juga berimplikasi pada berkembangnya pasar
modal syariah yang merupakan bagian dari industri keuangan syariah. Salah
satu indeks pasar modal berbasis syariah yang digunakan oleh Bursa Efek
Indonesia (BEI) adalah Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang
diterbitkan oleh Bapepam-LK sebagai regulator yang berwenang dan
bekerjasama dengan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia
(DSN-MUI) pada 12 Mei 2011 (Pasaribu dan Firdaus, 2013:118).
Konstituen ISSI adalah seluruh saham yang tergabung dalam Daftar
Efek Syariah (DES) dan tercatat di BEI dimana saat ini jumlah konstituen
ISSI sudah lebih dari 200 saham. ISSI digunakan sebagai sarana untuk
memudahkan dan menarik Investor muslim dalam pemilihan investasi di
pasar modal yang seringkali diragukan kehalalannya, meskipun tidak semua
Investor saham syariah adalah mereka yang beragama Islam. Secara singkat,
pasar modal syariah menggunakan prinsip, prosedur, asumsi, instrumen, dan
aplikasi yang bersumber pada nilai Islam yaitu Al-Quran dan As-Sunnah
yang kemudian disajikan dalam bentuk Fatwa DSN-MUI terkait pasar
modal syariah. Berdasarkan Fatwa tersebut kemudian diaplikasikan oleh
99
lembaga pengawas yaitu Bapepam-LK serta pelaksana yaitu Bursa Efek
Indonesia, emiten, dan Investor (Pasaribu dan Firdaus, 2013:118).
Dalam menjalankan peranannya, pasar modal memiliki dua fungsi
utama, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Dalam fungsi ekonomi
pasar modal menyediakan fasilitas untuk mempertemukan dua kepentingan
yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (Investor) dan pihak yang
memerlukan dana (emiten). Dengan adanya pasar modal, pihak yang
memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan
harapan memperoleh imbalan, sedangkan emiten dapat memanfaatkan dana
tersebut untuk kepentingan operasional perusahaan. Dalam fungsi keuangan,
pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh
imbalan bagi Investor, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.
Pasar modal diharapkan mampu meningkatkan aktivitas perekonomian,
karena pasar modal merupakan alternative pendanaan jangka panjang bagi
perusahaan. Sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan skala yang lebih
besar dan pada gilirannya akan meningkatkan laba perusahaan dan
kemakmuran masyarakat luas (Pasaribu dan Firdaus, 2013:118).
Keberadaan pasar modal di Indonesia merupakan salah satu faktor
penting dalam pembangunan perekonomian nasional, terbukti telah banyak
industry dan perusahaan yang menggunakan institusi ini sebagai media
untuk menyerap dana investasi serta sebagai media untuk memperkuat
posisi keuangannya (Pasaribu dan Firdaus, 2013:118).
100
Gambar 4.1
Perkembangan ISSI Periode Juli 2012 – Juli 2016
ISSI
3.500.000,00
3.000.000,00
2.500.000,00
2.000.000,00
1.500.000,00
ISSI
1.000.000,00
500.000,00
Jul-16
Mar-16
Nov-15
Jul-15
Mar-15
Nov-14
Jul-14
Mar-14
Nov-13
Jul-13
Mar-13
Nov-12
Jul-12
-
Sumber : www.ojk.go.id, data diolah
Gambar diatas merupakan perkembangan Indeks Saham Syariah
Indonesia (ISSI) periode Juli 2012 – Juli 2016. Berdasarkan gambar diatas
dapat diketahui bahwa ISSI hampir selalu mengalami pertumbuhan pada
setiap periodenya walaupun ada beberapa penurunan, namun penurunan ini
tidak terlalu signifikan dan kemudian mengalami kenaikan kembali di
periode selanjutnya.
Meskipun ISSI ini baru saja dibentuk namun perkembangannya
menunjukkan trend yang sangat positif. Pertumbuhan ISSI yang selalu
terjadi setiap periodenya ini tidak terlepas karena pertumbuhan pangsa pasar
syariah yang telah tumbuh dan berkembang di Indonesia beberapa tahun
belakangan ini. Pertumbuhan pangsa pasar syariah yang berawal dari sektor
101
perbankan yang kemudian merambah ke asuransi dan kini eranya telah
masuk pada pasar modal. Inilah yang dijadikan kesempatan oleh beberapa
perusahaan atau emiten untuk mengeluarkan indeks syariah agar dapat
menarik minat para masyarakat penanam modal yang ingin berinvestasi
pada indeks syariah.
2. Perkembangan Inflasi
Inflasi merupakan kenaikan dalam tingkat harga barang dan jasa secara
umum selama periode waktu tertentu. Tingkat inflasi dapat diestimasikan
dengan mengukur tingkat presentase perubahan dalam indeks harga
konsumen yang mengindikasikan harga dari sejumlah besar produk
konsumen seperti produk kebutuhan sehari-hari, peumahan, bahan bakar,
layanan kesehatan, dan listrik (Madura, 2007:128).
Berikut ini disajikan gambar perkembangan Inflasi di Indonesia pada
periode Juli 2012 – Juli 2016:
102
Gambar 4.2
Perkembangan Infasi Periode Juli 2012 – Juli 2016
Inflasi
10,00
9,00
8,00
7,00
6,00
5,00
4,00
3,00
2,00
1,00
-
Inflasi
Sumber : www.bi.go.id, data diolah
Pada Gambar 4.2 diatas menunjukkan bahwa perkembangan inflasi
mengalami fluktuatif setiap tahunnya. Tingkat inflasi tertinggi terjadi pada
bulan Juli tahun 2013 sebesar 8,61 %, kemudian mengalami penurunan
yang tajam pada bulan Juli tahun 2014 sebesar 4,53 %. Pada akhir tahun
2014 inflasi kembali mengalami kenaikan sampai dengan pertengahan tahun
2015 sebesar 7,26 %, kemudian mengalami penurunan yang tajam pada
pertengahan tahun 2016 sebesar 3,21 %.
3. Perkembangan Exchange Rate (ER) USD/IDR
Kurs Rupiah adalah nilai tukar Rupiah terhadap uang dari Negara lain,
yaitu banyaknya Rupiah yang dibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata
uang asing. Misalnya kurs yang menunjukkan bahwa US$ 1.00 sama
103
dengan Rp. 8.400, berarti untuk memperoleh satu Dolar Amerika Serikat
dibutuhkan 8.400 Rupiah Indonesia (Sukirno, 2011:397).
Menurut Subalno (2010:25), nilai tukar rupiah adalah harga rupiah
terhadap mata uang Negara lain. Jadi, nilai tukar Rupiah merupakan nilai
dari satu mata Rupiah yang ditranslasikan ke dalam mata uang Negara lain.
Misalnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, nilai tukar Rupiah terhadap
Yen, dan lain sebagainya. Dalam transaksi valuta asing dibedakan menjadi
dua jenis kurs yaitu kurs spot (spot rate) dan kurs berjangka (forward rate).
Dari kedua jenis transaksi tersebut, transaksi valuta asing yang paling
dikenal transaksi seketika (on the spot). Transaksi spot yang lazirn
digunakan dalam melakukan pembayaran dan penerimaan valuta asing
adalah dalam jangka waktu dua hari kerja setelah disepakatinya transaksi
tersebut. Sedangkan transaksi berjangka (forward transaction) merupakan
kesepakatan yang dicapai pada hari ini namun baru berlaku beberapa waktu
kemudian (misalnya 3 bulan). Dalarn penelitian ini kurs yang dipakai adalah
kurs spot (spot rate).
Berikut ini adalah tabel perkembangan Exchange Rate (Kurs) periode
Juli 2012 – Juli 2016:
104
Tabel 4.1
Perkembangan Kurs Periode 2012 – 2016
Rupiah
Tahun
2012
2013
2014
2015
Januari
9.698
12.226
12.625
Februari
9.667
11.634
12.863
Maret
9.719
11.404
13.084
April
9.722
11.532
12.937
Mei
9.802
11.611
13.211
Juni
9.929
11.969
13.332
Juli
9.485
10.278
11.591
13.481
Agustus
9.560
10.924
11.717
14.027
September
9.588
11.613
12.212
14.657
Oktober
9.615
11.234
12.082
13.639
November
9.605
11.977
12.196
13.840
Desember
9.670
12.189
12.440
13.795
Sumber : www.pusatdata.kontan.co.id, data diolah
Bulan
2016
13.846
13.395
13.276
13.204
13.615
13.180
13.094
Pada Tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa nilai kurs tertinggi pada
tahun 2012 terjadi pada bulan Desember sebesar 9.670 Rupiah dan terendah
pada bulan Juli sebesar 9,485 Rupiah. Pada tahun 2013 kurs tertinggi terjadi
pada bulan Desember sebesar 12.189 Rupiah dan terendah pada bulan
Februari sebesar 9.667 Rupiah. Pada tahun 2014 kurs tertinggi terjadi pada
bulan Desember sebesar 12.440 Rupiah dan terendah pada bulan Maret
sebesar 11.404 Rupiah. Pada tahun 2015 kurs tertinggi terjadi pada bulan
September sebesar 14.657 Rupiah dan terendah pada bulan Januari sebesar
12.626 Rupiah. Pada tahun 2016 kurs tertinggi pada bulan Januari sebesar
13.846 Rupiah dan terendah pada bulan Juli 13.094 Rupiah. Sedangkan
selama periode penelitian ini kurs tertinggi terjadi pada bulan September
105
2015 sebesar 14.657 Rupiah dan terendah pada bulan Juli 2012 sebesar
9.485 Rupiah.
4. Perkembangan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 63/DSN-MUI/XII/2007
bahwa Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) adalah surat berharga
dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia berjangka
waktu pendek berdasarkan prinsip syariah. Dalam penerbitan intrumen
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) menggunakan akad ju’alah.
Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 62/DSN-MUI/XII/2007,
ju’alah adalah janji atau komitmen (iltizam) untuk memberikan imbalan
tertentu (‘iwadh/ju’l) atas pencapaian hasil (natijah) yang ditentukan dari
suatu pekerjaan. Ja’il adalah pihak yang berjanji akan memberikan imbalan
tertentu atas pencapaian hasil pekerjaan (natijah) yang ditentukan. Dimana
tingkat imbalan disesuaikan dengan tingkat diskonto yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia. Menurut Bank Indonesia (www.bi.go.id), SBIS diterbitkan
oleh Bank Indonesia sebagai salah satu instrumen operasi pasar terbuka
dalam rangka pengendalian moneter yang dilakukan berdasarkan prinsip
Syariah. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) bagi bank syariah
dijadikan sebagai alat instrumen investasi, sebagaimana Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) di bank konvensional (Ardana, 2016:121).
Berikut ini adalah tabel perkembangan Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS) periode Juli 2012 – Juli 2016:
106
Tabel 4.2
Perkembangan SBIS
Triliun
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Tahun
2012
2013
2014
2015
4.709
5.253
8.050
5.103
5.331
9.040
5.611
5.843
8.810
5.343
6.234
9.130
5.423
6.680
8.858
5.443
6.782
8.858
3.036
4.640
5.880
8.163
2.918
4.299
6.514
8.585
3.412
4.523
6.450
7.720
3.321
5.213
6.680
7.192
3.242
5.107
6.530
6.495
4.993
6.699
8.130
6.280
Sumber : www.ojk.go.id, data diolah
2016
6.275
7.188
6.994
7.683
7.225
7.470
8.130
Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa nilai SBIS tertinggi pada tahun
2012 terjadi pada bulan Desember sebesar 4.993 dan terendah terjadi pada
bulan Agustus sebesar 2.918. Pada tahun 2013 nilai SBIS tertinggi terjadi
pada bulan Desember sebesar 6.699 dan terendah terjadi pada bulan Agustus
sebesar 4.299. Pada tahun 2014 nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan
Desember sebesar 8.130 dan terendah terjadi pada bulan Januari sebesar
5.253. Pada tahun 2015 nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan April sebesar
9.130 dan terendah terjadi pada bulan Desember sebesar 6.280. Pada tahun
2016 nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan Juli sebesar 8.130 dan terendah
terjadi pada bulan Januari sebesar 6.275. Sedangkan selama periode
penelitian, nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan April tahun 2015 sebesar
107
9.130 dan nilai terendah terjadi pada bulan Agustus tahun 2012 sebesar
2.918.
5. Perkembangan BI Rate
Suku bunga merupakan faktor penting dalam perekonomian suatu
negara karena suku bunga mampu mempengaruhi perekonomian secara
umum. tingkat suku bunga mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap
pasar modal (Erawati, 2002). Suku bunga SBI merupakan instrumen
keuangan yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) untuk mengontrol peredaran
uang di masyarakat dengan menggunakan acuan suku bunga BI (Rismawati,
2010). Suku bunga BI merupakan tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh
BI sebagai patokan bagi suku bunga pinjaman maupun simpanan bagi bank
dan atau lembaga-lembaga keuangan di seluruh Indonesia. Suku bunga
merupakan salah satu variabel yang dapat mempengaruhi harga saham.
Perubahan tingkat suku bunga selanjutnya akan mempengaruhi keinginan
seseorang untuk melakukan suatu investasi, karena secara umum perubahan
suku bunga SBI dapat mempengaruhi suku bunga deposito dan suku bunga
kredit di masyarakat (Amin, 2012). Jika suku bunga deposito meningkat
maka Investor cenderung menanamkan modalnya dalam bentuk deposito
karena dapat menghasilkan return yang besar dengan resiko yang lebih kecil
dan sebaliknya. Dalam penelitian ini suku bunga SBI menggunakan data
suku bunga SBI bulanan yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia
(Sudarsana dan Candraningrat : 3292).
108
Tabel 4.3
Perkembangan BI Rate Periode Juli 2012 – Juli 2016
Persen%
Tahun
2012 2013 2014 2015
Januari
5,75 7,5
7,75
Februari
5,75 7,5
7,5
Maret
5,75 7,5
7,5
April
5,75 7,5
7,5
Mei
5,75 7,5
7,5
Juni
6
7,5
7,5
Juli
5,75 6,5
7,5
7,5
Agustus
5,75
7
7,5
7,5
September 5,75 7,25 7,5
7,5
Oktober
5,75 7,25 7,5
7,5
November 5,75 7,5 7,75
7,5
Desember 5,75 7,5 7,75
7,5
Sumber : www.bi.go.id, data diolah
Bulan
2016
7,25
7
6,75
6,75
6,75
6,5
6,5
Berdasarkan Tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa suku bunga tertinggi
terjadi pada bulan November dan Desember tahun 2014 sebesar 7,75 % dan
suku bunga terendah terjadi pada bulan Juli 2012 sampai bulan Mei 2013
sebesar 5,75 %.
6. Perkembangan Harga Emas Dunia
Emas mempunyai standar nilai internasional yang mudah dipantau,
emas sangat liquid (mudah diuangkan). Emas sebagai salah satu bentuk
investasi yang tidak terpengaruh oleh inflasi dan aman terhadap depresiasi
nilai tukar. Emas di dunia berasal dari dalam bumi berupa bongkahan
campuran batu dan emas, yang harus melalui proses pemurnian atau refinery
109
untuk dijadikan emas murni 24 karat atau 99,9 %. Emas murni 24 K
umumnya berwujud dalam bentuk batangan (gold bar), koin emas dan
perhiasan (Susilo, 2011 dalam Rusbariandi : 7).
Harga emas di negara manapun mengikuti harga emas dunia yang
ditentukan di London (pasar emas london) setiap hari. Harga emas dunia
ditentukan berdasarkan supply and demand emas dari seluruh penjuru dunia,
bukan ditentukan dari satu daerah saja. Standar internasional emas dalam
US$ per troy ounce/oz (1 troy oz = 31.1 gr). Pasar emas london menjadi
rujukan pasar emas global dalam menentukan patokan harga emas hampir di
setiap negara (termasuk dengan harga Dinar Dirham Islam). Selain di
London, pusat perdagangan emas lainnya adalah New York, Zurich, Tokyo,
Sydney dan Hongkong, dimana Hongkong menjadi pusat perdagangan di
Asia (Firman, 2012 dalam Rusbariandi : 7).
Berikut ini adalah tabel perkembangan Harga Emas Dunia periode Juli
2012 – Juli 2016:
110
Tabel 4.4
Perkembangan Harga Emas Dunia Periode Juli 2012 – Juli 2016
Triliun
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Tahun
2012
2013
2014
2015
1644.75
1251.00
1260.25
1588.50
1326.50
1214.00
1598.25
1291.75
1187.00
1469.00
1288.50
1180.25
1394.50
1250.50
1191.40
1192.00
1315.00
1171.00
1622.50
1314.50
1285.25
1098.40
1648.50
1394.75
1285.75
1135.00
1776.00
1326.50
1216.50
1114.00
1719.00
1324.00
1164.25
1142.35
1726.00
1253.00
1182.75
1061.90
1657.50
1204.50
1206.00
1060.00
Sumber : www.kitco.com, data diolah
2016
1111.80
1234.90
1237.00
1285.65
1212.10
1320.75
1342.00
Pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa nilai tertinggi Harga Emas Dunia
pada tahun 2012 terjadi pada bulan September sebesar 1776.00 dan nilai
terendah terjadi pada bulan Juli sebesar 1622.50. Pada tahun 2013 nilai
tertinggi Harga Emas Dunia terjadi pada bulan Januari sebesar 1644.75 dan
nilai terendah terjadi pada bulan Juni sebesar 1192.00. Pada tahun 2014 nilai
tertinggi Harga Emas Dunia terjadi pada bulan Februari sebesar 1326.50 dan
nilai terendah terjadi pada bulan Oktober sebesar 1164.25. Pada tahun 2015
nilai tertinggi Harga Emas Dunia terjadi pada bulan Januari sebesar 1260.25
dan nilai terendah terjadi pada bulan Desember sebesar 1060.00. Pada tahun
2016 nilai tertinggi Harga Emas Dunia terjadi pada bulan Juli sebesar
1342.00 dan nilai terendah terjadi pada bulan Januari sebesar 1111.80.
Sedangkan selama periode penelitian, nilai tertinggi Harga Emas Dunia
111
terjadi pada bulan September tahun 2012 sebesar 1776.00 dan nilai terendah
terjadi pada bulan Desember tahun 2015 sebesar 1060.00.
B. Analisis dan Pembahasan
1. Uji Asumsi Klasik
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel (X) terhadap variabel
terikat
(Y),
maka
penelitian
ini
menggunakan
analisis
untuk
membandingkan dua variabel yang berbeda. Pada analisis regresi untuk
memperoleh model regresi yang bisa dipertanggungjawabkan, maka asumsiasumsi berikut harus dipenuhi:
a. Uji Normalitas Data
Menurut Ghozali (2009:147), uji normalitas bertujuan apakah
dalam model regresi variabel dependen (terikat) dan variabel
indepedent (bebas) mempunyai kontribusi atau tidak.
Terdapat
dua
cara
untuk
mendeteksi
apakah
residual
berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji
statistik (uji kolmogorov-smirnov), adapun penjelasan mengenai uji
normalitas data dalah sebagai berikut (Ghozali, 2009:147):
1) Uji Normalitas Secara Grafik
Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas
residual adalah dengan melihat grafik histogram yang
membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang
mendeteksi distribusi normal. Adapun hasil uji normalitas
112
dengan melihat dari segi grafik yang ditunjukkan pada grafik
histogram berikut ini:
Gambar 4.3
Hasil Uji Normalitas Secara Grafik Histogram
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
Menurut Ghozali (2009:147), salah satu cara termudah
untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat
grafik histogram yang membandingkan antara data observasi
dengan distribusi yang mendekati distribusi normal.
113
Berdasarkan Gambar 4.3 diatas, histogram Regression
Residual membentuk kurva seperti lonceng maka nilai
residual tersebut dinyatakan normal atau data berdistribusi
normal.
Menurut Ghozali (2009:147), namun demikian hanya
dengan melihat histogram hal ini dapat menyesatkan
khususnya untuk jumlah yang sampelnya kecil. Metode yang
paling handal adalah dengan melihat normal propability plot
yang membandingkan distribusi kumulatif dan distribusi
normal. Distribusi normal akan membentuk suatu garis lurus
diagonal dan plotting data residual akan dibandingkan
dengan garis diagonal (Ghozali, 2009:147). Adapun hasil uji
normalitas dengan melihat dari segi grafik yang ditunjukkan
pada gambar P-p plot berikut ini:
114
Gambar 4.4
Hasil Uji Normalitas Secara Grafik P-p Plot
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
Berdasarkan Gambar 4.4 diatas, dapat dilihat pada grafik
normal plot titik-titik menyebar disekitar garis normal, serta
penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Grafik ini
menunjukkan bahwa model regresi layak dipakai karena
memenuhi asumsi normalitas (Ghozali, 2009:112).
2) Hasil Uji Normalitas Secara Statistik
Uji normalitas secara grafik dapat menyesatkan kalau
tidak hati-hati secara visual kelihatan normal, padahal secara
statistik bisa sebaliknya. Oleh sebab itu dianjurkan
115
disamping uji grafik dilengkapi dengan uji statistik (Ghozali,
2009:149).
Menurut Sufren dan Yonathan (2013:65), normalitas
data juga dapat dilihat dengan menggunakan KolmogorovSmirnov Test. Kolmogorov-Smirnov Test yang paling sering
digunakan di SPSS dalam hal mengecek normalitas.
Untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak
dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test adalah
dengan memperhatikan angka pada Asymp. Sig (2-tailed),
data berdistribusi normal apabila nilai signifikansi > 0,05 dan
data tidak berdistribusi tidak normal apabila nilai signifikansi
< 0,05 (Sufren dan Yonathan, 2013:68).
Adapun
hasil
uji
normalitas
secara
statistik
menggunakan hasil uji kolmogorov-smirnov adalah sebagai
berikut:
116
Tabel 4.5
Hasil Uji Normalitas Secara Statistik
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
49
Normal Parametersa
Mean
Std. Deviation
Most Extreme Differences
.0000000
.01909712
Absolute
.074
Positive
.065
Negative
-.074
Kolmogorov-Smirnov Z
.517
Asymp. Sig. (2-tailed)
.952
a. Test distribution is Normal.
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
Berdasarkan tabel 4.5 diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa nilai unstandardized residual sebesar 0,952 ini
menandakan bahwa nilai Sig. lebih besar dari > 0,05 , ini
mengartikan bahwa data terdistribusi secara normal dan
memenuhi asumsi klasik normalitas data.
b. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas berguna untuk mengetahui apakah dalam
model regresi yang terbentuk ada korelasi yang tinggi atau sempurna
diantara variabel bebas atau tidak bebas. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Untuk
117
mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas didalam model
regresi dapat dilihat dari nilai Tolerance dan Variance Inflation
Factor (VIF). Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan
adanya multikolonieritas adalah nilai Tolerance > 0,10 atau sama
dengan VIF < 10, maka model dinyatakan tidak terdapat gejala
multikolonieritas. Dari uji multikolonieritas yang dilakukan penulis,
tidak ditemukan gejala multikolonieritas terlihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6
Hasil Uji Multikolonieritas
Model
Colinearity Statistic
Tolerance
VIF
INFLASI
.490
2.041
LN_KURS
.117
8.549
LN_SBIS
.319
3.132
BI RATE
.217
4.615
LN_HARGA_EMAS
.166
6.019
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
Berdasarkan Tabel 4.6 diatas, menunjukkan bahwa nilai
Tolerance Inflasi sebesar 0,490 (0,490 > 0,10), nilai Tolerance Kurs
sebesar 0,117 (0,117 > 0,10), nilai Tolerance SBIS sebesar 0,319
(0,319 > 0,10), nilai Tolerance BI Rate sebesar 0,217 (0,217 > 0,10),
dan nilai Tolerance Harga Emas sebesar 0,166. Nilai VIF Inflasi
118
sebesar 2,041 (2.041 < 10,00), nilai VIF Kurs sebesar 8,549 (8,549 <
10,00), nilai VIF SBIS sebesar 3,132 (3,132 < 10,00), nilai VIF BI
Rate sebesar 4,615 (4,615 < 10,00), dan nilai VIF Harga Emas
sebesar 6,019 (6,019 < 10,00).
Kesimpulan dari hasil nilai Tolerance menunjukkan > 0,10 dan
nilai VIF < 10,00 ini berarti bahwa variabel Inflasi, Kurs, SBIS, BI
Rate, dan Harga Emas tidak menunjukkan adanya gejala
multikolonieritas.
c. Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalah
model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari satu residual
pengamatan ke residual pengamatan lainnya. Heterokedastisitas
menunjukkan bahwa variasi variabel tidak sama untuk semua
pengamatan. Sebaliknya, jika varian variabel sama untuk semua
pengamatan
maka
disebut
dengan
homokedastisitas.
Yang
diharapkan pada model regresi adalah yang homokedastisitas.
Berikut adalah hasil dari uji heterokedastisitas menggunakan
Analisis Grafik dengan Scatterplot:
119
Gambar 4.5
Hasil Uji Heterokedastisitas Secara Scatterplot
Sumber : Data diolah dengan SPSS 22
Berdasarkan Gambar 4.5 diatas, menunjukkan bahwa plot
menyebar secara acak diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu
Regression Studentized Residual (sumbu Y). Hal ini dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heterokedastisitas pada model
regresi (Ghozali, 2009:107).
d. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah ada
korelasi antara anggota serangkaian data observasi yang diuraikan
menurut waktu (time series) atau ruang (cross section). Beberapa
penyebab munculnya masalah autokorelasi dari sebagian data time
120
series dalam analisis regresi adalah adanya kelembaman (inertia)
artinya data observasi pada periode sebelumnya dan periode
sekarang,
kemungkinan
besar
akan
mengandung
saling
ketergantungan (interdependence).
Uji Durbin-Watson (Uji D-W) merupakan uji yang sangat
populer untuk menguji ada tidaknya masalah autokorelasi dari model
empiris yang diestimasi. Berikut adalah hasil dari uji autokorelasi:
Tabel 4.7
Hasil Uji Durbin-Watson
b
Model Summary
Model
R
R Square
.823a
1
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.678
.641
.02018
Durbin-Watson
1.066
a. Predictors: (Constant), LN_HARGA_EMAS, INFLASI, LN_SBIS, BI_RATE,
LN_KURS
b. Dependent Variable: LN_ISSI
Sumber : Data diolah dengan SPSS 22
Berdasarkan Tabel 4.7 diatas, nilai Durbin-Watson sebesar
1,066. Uji Autokorelasi dilihat dari nilai Durbin-Watson dengan nilai
diantara -2 sampai 2. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada
autokorelasi positif maupun negatif.
121
2. Uji Hipotesis
a. Hasil Uji Secara Simultan (Uji-F)
Pengujian ini bertujuan untuk membuktikan apakah variabelvariabel independen secara simultan (bersama-sama) mempunyai
pengaruh terhadap variabel dependent (Ghozali, 2009:88). Hasil uji
statistik F dapat dilihat pada tabel dibawah ini, jika nilai probabilitas
lebih kecil dari 0,05 maka Ha di terima dan menolak Ho sedangkan jika
nilai probabilitas lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima dan menolak Ha.
Hasil pengujian hipotesis dengan Uji-F adalah sebagai berikut:
Tabel 4.8
Hasil Uji-F
ANOVAb
Model
Sum of Squares
1Regression
df
Mean Square
.037
5
.007
Residual
.018
43
.000
Total
.054
48
F
18.116
Sig.
.000a
a. Predictors: (Constant), LN_HARGA_EMAS, INFLASI, LN_SBIS, BI_RATE, LN_KURS
b. Dependent Variable: LN_ISSI
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
Berdasarkan Tabel 4.8 diatas, dapat dilihat nilai F hitung sebesar
18,166 dengan nilai tingkat signifikan 0,000. Karena nilai signifikan
lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak atau Ha diterima. Dapat
disimpulkan bahwa variabel Inflasi, Kurs, Sertifikat Bank Indonesia
122
Syariah (SBIS), BI Rate, dan Harga Emas Dunia berpengaruh secara
simultan terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Karena
tingkat probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka model regresi dapat
digunakan untuk memprediksi variabel dependen Indeks Saham
Syariah Indonesia (ISSI).
b. Hasil Uji Secara Parsial (Uji-t)
Menurut Ghozali (2009:88), hasil uji-t menunjukkan seberapa jauh
pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam
menerangkan
variasi
variabel
dependent
dan
digunakan
untuk
mengetahui ada atau tidaknya pengaruh masing-masing variabel
independent secara individual terhadap variabel dependent yang diuji
pada tingkat signifikansi 0,05.
Tabel 4.9
Hasil Uji-t
Coefficientsa
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
Model
B
Std. Error
1(Constant)
7.585
1.061
9.517E-5
.000
LN_KURS
-.616
LN_SBIS
Beta
t
Sig.
7.147
.000
.348
2.818
.007
.147
-1.057
-4.178
.000
.308
.040
1.173
7.662
.000
BI_RATE
.020
.008
.448
2.409
.020
LN_HARGA_EMAS
.009
.121
.016
.075
.941
INFLASI
a. Dependent Variable : LN_ISSI
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
123
Berdasarkan Tabel 4.9 diatas menunjukkan bahwa variabel Inflasi,
Kurs, SBIS, dan BI Rate menunjukkan pengaruh yang signifikan
terhadap ISSI. Sedangkan Harga Emas tidak menunjukkan pengaruh
yang signifikan terhadap ISSI.
Berikut adalah hasil penjelasan mengenai pengaruh antar variabel
independen terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI):
1) Uji-t Terhadap Variabel Inflasi
Variabel Inflasi secara statistik menunjukkan nilai
signifikansi sebesar 0,007. Nilai tersebut lebih kecil dari 0,05
(0,007 < 0,05) dan nilai t hitung > t tabel (2.818 > 1.680).
Maka
H0
ditolak dan Ha diterima,
disimpulkan
bahwa
variabel
Inflasi
sehingga
dapat
secara
parsial
berpengaruh secara signifikan terhadap ISSI.
Hasil
penelitian
ini
mendukung
penelitian
yang
dilakukan oleh Siti Aisiyah Suciningtias dan Rizki Khoiroh
(2015)
yang
menunjukkan
bahwa
variabel
Inflasi
berpengaruh signifikan terhadap Indeks Saham Syariah
Indonesia (ISSI). Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan
inflasi akan memberikan arti bagi ISSI selama periode Juli
2012 sampai Juli 2016. Dimana ketika tingkat inflasi
meningkat maka akan menurunkan Indeks Saham Syariah
Indonesia (ISSI).
124
Kenaikan Inflasi menyebabkan kenaikan harga-harga
secara umum. Kondisi demikian mampu meningkatkan biaya
produksi dari meningkatnya harga bahan baku sedangkan
daya beli masyarakat akan semakin melemah. Melemahnya
daya beli masyarakat menyebabkan beberapa perusahaan
kurang mampu menjual produk perusahaan sehingga
mempengaruhi
melemahnya
tingkat
penjualan
profitablitas
dan
menyebabkan
perusahaan.
Menurunnya
profitabilitas perusahaan juga akan berpengaruh pada
menurunnya harga saham perusahaan tersebut. Menurunya
harga saham perusahaan dinilai kurang menarik dan kurang
menguntungkan bagi Investor sebab return yang akan
dibagikan perusahaaan pada pemegang saham juga akan
menurun. Hal tersebut yang membuat pertimbangan bagi
para Investor dan lebih memilih untuk menahan diri agar
tidak berinvestasi pada perusahaan yang terdaftar di pasar
modal syariah sehingga hal tersebut berpengaruh pada
permintaan saham syariah dan ketika penawaran saham
syariah lebih tinggi dari pada permintaan maka akan
menurunkan
Indek
Saham
Syariah
Indonesia
(ISSI)
(Suciningtias dan Khoiroh, 2015:407-408).
125
2) Uji-t terhadap Variabel Kurs
Variabel Kurs secara statistik menunjukkan hasil
signifikansi sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil dari 0,05
(0,000 < 0,05) dan nilai t hitung > t table (-4,178 > 1.680).
Maka H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat
disimpulkan bahwa variable Kurs secara parsial berpengaruh
secara signifikan terhadap ISSI.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang
dilakukan oleh Millati Azka (2016) yang menunjukkan
bahwa variabel Kurs berpengaruh signifikan terhadap Indeks
Saham Syariah Indonesia (ISSI). Exchange Rate dapat
berpengaruh positif maupun negatif terhadap pasar modal
bergantung pada kondisi perekonomian negara. Kurs yang
rendah akan lebih diharapkan dan berdampak positif bagi
perusahaan yang berorientasi ekspor. Hussin et al. (2012),
Fatmawati (2013), Novianto (2011), Pasaribu dan Firdaus
(2013), Prabowo (2013), Rusbariand et al. (2012), dan
Antonio et al. (2013) dalam penelitiannya menunjukkan
bahwa penurunan Exchange Rates berdampak negatif
terhadap harga saham. Hal ini dapat dipahami bahwa bagi
Investor pelemahan kurs menandakan prospek perekonomian
yang suram akibat kondisi fundamental perekonomian negara
tersebut tidaklah kuat.
126
3) Uji-t terhadap Variabel SBIS
Variabel SBIS secara statistik menunjukkan hasil
signifikansi sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil dari 0,05
(0,000 < 0,05) dan nilai t hitung > t tabel (7,662 > 1.680).
Maka H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel SBIS secara parsial berpengaruh
secara signifikan terhadap ISSI.
Hasil
penelitian
ini
mendukung
penelitian
yang
dilakukan oleh Dimas Prabowo (2013) yang menunjukkan
bahwa variabel SBIS berpengaruh secara signifikan terhadap
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). Hal ini dapat
tercermin dalam perekonomian bahwa antara ISSI dan SBIS
sama-sama merupakan instrumen investasi syariah, keduanya
saling bersinergi dalam meningkatkan iklim investasi di
Indonesia, khususnya di pasar modal syariah. Selain itu
menurut penelitian yang dilakukan oleh Sri Wulan Fatmawati
dan Irfan Syauqi Beik (2012) perilaku masyarakat yang ingin
menanamkan modalnya di indeks syariah juga masih
mengamati variabel inflasi ini. Hal inilah yang kemudian
menimbulkan adanya hubungan antara SBIS dan ISSI.
4) Uji-t terhadap Variabel BI Rate
Variabel BI Rate secara statistik menunjukkan hasil
signifikansi sebesar 0,020. Nilai tersebut lebih kecil dari 0,05
127
(0,020 < 0,05) dan nilai t hitung > t tabel (2.409 > 1.680).
Maka H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat
disimpulkan bahwa
variabel
BI
Rate secara
parsial
berpengaruh secara signifikan terhadap ISSI.
Hasil
penelitian
ini
mendukung
penelitian
yang
dilakukan oleh Ni Made Anita Dewi Sudarsana dan Ica Rika
Candraningrat yang menunjukkan bahwa variabel BI Rate
berpengaruh secara signifikan terhadap ISSI. Suku bunga
merupakan faktor penting dalam perekonomian suatu negara
karena suku bunga mampu mempengaruhi perekonomian
secara umum. tingkat suku bunga mempunyai pengaruh yang
sangat kuat terhadap pasar modal (Erawati, 2002). Suku
bunga SBI merupakan instrumen keuangan yang diterbitkan
Bank Indonesia (BI) untuk mengontrol peredaran uang di
masyarakat dengan menggunakan acuan suku bunga BI
(Rismawati, 2010). Suku bunga BI merupakan tingkat suku
bunga yang ditetapkan oleh BI sebagai patokan bagi suku
bunga pinjaman maupun simpanan bagi bank dan atau
lembaga-lembaga keuangan di seluruh Indonesia. Suku
bunga
merupakan
salah
satu
variabel
yang
dapat
mempengaruhi harga saham. Perubahan tingkat suku bunga
selanjutnya akan mempengaruhi keinginan seseorang untuk
melakukan suatu investasi, karena secara umum perubahan
128
suku bunga SBI dapat mempengaruhi suku bunga deposito
dan suku bunga kredit di masyarakat (Amin, 2012). Jika
Suku bunga deposito meningkat maka Investor cenderung
menanamkan modalnya dalam bentuk deposito karena dapat
menghasilkan return yang besar dengan resiko yang lebih
kecil dan sebaliknya.
5) Uji-t Terhadap Harga Emas Dunia
Variabel Harga Emas secara statistik menunjukkan hasil
signifikansi sebesar 0,941. Nilai tersebut lebih besar dari 0,05
(0,941 > 0,05) dan nilai t hitung < t tabel (0,075 < 1.680).
Maka H0 diterima dan Ha ditolak, sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel Harga Emas secara parsial tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap ISSI.
Hasil
penelitian
ini
mendukung
penelitian
yang
dilakukan oleh Septian Prima Rusbariandi (2012) yang
menunjukkan bahwa variabel independen Harga Emas Dunia
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks Harga
Saham. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa sebenarnya
investasi pada emas dan saham syariah bersifat substitusi.
Namun pada kenyataannya investasi pada emas merupakan
investasi yang sangat disenangi oleh Investor. Mengingat
harga emas relatif mengalami peningkatan terus menerus,
sehingga risiko relatif rendah. Berbeda dengan investasi pada
129
saham syariah, yang relatif masih muda dan berisiko, karena
faktor yang mempengaruhinya jauh lebih kompleks.
c. Uji Adjusted R-Square
Koefisien determinasi atau R Square (R2) merupakan besarnya
kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Semakin tinggi
koefisien determinasi, semakin tinggi kemampuan variabel bebas dalam
menjelaskan variasi perubahan pada variabel terikatnya. Koefisien
determinasi memiliki kelemahan, yaitu bias terhadap jumlah variabel
bebas yang dimasukkan dalam model regresi di mana setiap penambahan
satu variabel bebas dan jumlah pengamatan dalam model akan
meningkatkan nilai R2 meskipun variabel yang dimasukkan tersebut tidak
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikatnya. Untuk
mengurangi kelemahan tersebut maka digunakan koefisien determinasi
yang telah disesuaikan, Adjusted R Square (R2 adj).
Koefisien determinasi yang telah disesuaikan berarti bahwa
koefisien tersebut telah dikoreksi dengan memasukkan jumlah variabel
dan ukuran sampel yang digunakan. Dengan menggunakan koefisien
determinasi yang disesuaikan maka nilai koefisien determinasi yang
disesuaikan itu dapat naik atau turun oleh adanya penambahan variabel
baru dalam model. Berikut adalah hasil uji Adjusted R Square:
130
Tabel 4.10
Hasil Uji R-Square
Model Summaryb
Std. Error of the
Model
R
R Square
.823a
1
.678
Adjusted R Square
.641
Estimate
.02018
a. Predictors: (Constant), LN_HARGA_EMAS, INFLASI, LN_SBIS, BI_RATE,
LN_KURS
b. Dependent Variable: LN_ISSI
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
Berdasarkan Tabel 4.10 diatas, nilai R Square sebesar 0,678
atau 67,8% dan Adjusted R Square sebesar 0,641 atau 64,1%. Dapat
disimpulkan bahwa pengaruh Inflasi, Kurs, SBIS, BI Rate, dan Harga
Emas adalah 64,1% sedangkan sisanya 35,9% (100% - 64,1%)
dipengaruhi variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam
penelitian ini, misalnya seperti Harga Minyak Dunia, Indeks Dow
Jones, dan lain-lain. Adapun angka koefisien korelasi (R) menunjukkan
nilai sebesar 0,823 yang menandakan bahwa hubungan antara variabel
bebas dan variabel terikat sangat kuat karena memiliki nilai lebih dari
0,5 (R > 0,5) atau 0,823 > 0,5.
3. Analisis Regresi Linier Berganda
Berdasarkan data-data yang disajikan pada tabel diatas, selanjutnya
akan dianalisis dengan bantuan aplikasi SPSS 16 untuk mengetahui
besarnya pengaruh Inflasi, Kurs, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS),
131
BI Rate, dan Harga Emas Dunia. Hasil pengolahan data dengan SPSS dapat
dilihat dibawah ini:
Tabel 4.11
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Coefficientsa
Unstandardized
Standardized
Collinearity
Coefficients
Coefficients
Statistics
Model
B
1(Constant)
7.585
1.061
9.517E-5
.000
LN_KURS
-.616
.147
LN_SBIS
.308
.040
1.173
BI_RATE
.020
.008
LN_HARGA_EMAS
.009
.121
INFLASI
Std. Error
Beta
t
Sig.
Tolerance
VIF
7.147
.000
2.818
.007
.490
2.041
-1.057 -4.178
.000
.117
8.549
7.662
.000
.319
3.132
.448
2.409
.020
.217
4.615
.016
.075
.941
.166
6.019
.348
a. Dependent Variable: LN_ISSI
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
Berdasarkan Tabel 4.11 diatas, diperoleh model persamaan regresi
sebagai berikut:
Y = α +β1X1+ β2X2+ β3X3+ β4X4 + β5X5
Keterangan:
Y = LN ISSI
X1 = Inflasi
X2 = LN Kurs
X3 = LN SBIS
X4 = BI Rate
132
X5 = Harga Emas
Pada persamaan regresi diatas menunjukkan nilai konstanta sebesar
7,585 artinya jika variabel Inflasi, Kurs, SBIS, BI Rate, dan Harga Emas
dianggap konstan atau bernilai 0, maka ISSI nilainya adalah 7,585.
Nilai β1 sebesar 0.00009517 artinya jika nilai Inflasi meningkat 1%
maka akan meningkatkan ISSI sebesar 0.00009517 dengan asumsi bahwa
variabel lain bernilai konstan atau tetap.
Nilai β2 sebesar -0.016 artinya jika nilai Kurs meningkat 1% maka
akan menurunkan ISSI sebesar 0,016 dengan asumsi bahwa variabel lain
bernilai konstan atau tetap.
Nilai β3 sebesar 0,308 artinya jika nilai SBIS meningkat 1% maka
akan meningkatkan ISSI sebesar 0,308 dengan asumsi bahwa variabel lain
bernilai konstan atau tetap.
Nilai β4 sebesar 0,020 artinya jika nilai BI Rate meningkat 1%
maka akan meningkatkan ISSI sebesar 0,020 dengan asumsi bahwa
variabel lain bernilai konstan atau tetap.
Nilai β5 sebesar 0,009 artinya jika nilai Harga Emas meningkat 1%
maka akan meningkatkan ISSI sebesar 0,009 dengan asumsi bahwa
variabel lain bernilai konstan atau tetap.
133
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan
sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan dari penelitian mengenai Analisis
Pengaruh Variabel Makroekonomi Domestik dan Makroekonomi Global
terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) Periode 2012 – 2016:
1. Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa:
a. Variabel Inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks
Saham Syariah Indonesia (ISSI).
b. Variabel Kurs berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks
Saham Syariah Indonesia (ISSI).
c. Variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) berpengaruh
secara signifikan terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia
(ISSI).
d. Variable BI Rate berpengaruh secara signifikan terhadap Indeks
Saham Syariah Indonesia (ISSI).
e. Variabel Harga Emas Dunia tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).
2. Hasil pengujian secara simultan menunjukkan bahwa Variabel Inflasi,
Kurs, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), BI Rate, dan Harga
Emas Dunia berpengaruh terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia
134
(ISSI) dengan nilai probabilitas F-statistik sebesar 0,000 karena tingkat
probabilitas lebih kecil dari 0,05.
B. Saran
1. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan variabel independen
eksternal. Saran peneliti sebaiknya pada penelitian selanjutnya
menggunakan faktor internal investasi khususnya pada pasar modal dan
faktor eksternal yang lebih beragam.
2. Dalam penelitian ini, periode penelitiannya adalah 2012 – 2016.
Penelitian berikutnya diharapkan lebih memperbaharui dan menambah
periode penelitian agar hasil yang didapat lebih maksimal.
3. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode Analisis Regresi
Linier Berganda. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat
menggunakan metode yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang
maksimal.
4. Bagi peneliti, hasil penelitian ini merupakan salah satu referensi yang
bermanfaat untuk penelitian selanjutnya dengan memperhatikan
keterbatasan
yang
ada.
135
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Burhanuddin. 2010. “Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah”.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Darmadji, dkk. “Pasar Modal di Indonesia”. Edisi Kedua. Salemba Empat
: Jakarta. 2006.
Ghozali, Imam. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM
SPSS 20 Edisi 6”. Semarang : Badan Penerbit Universitas
Diponegoro. 2012.
__________. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM
SPSS 20 Edisi 7”. Semarang : Badan Penerbit Universitas
Diponegoro. 2013.
Halim, Abdul. “Analisis Investasi”. Edisi Kedua. Salemba Empat : Jakarta.
2005.
Hamid, Abdul. 2009. “Pasar Modal Syariah”. Jakarta : Lembaga
Penelitian UIN Jakarta.
Huda, dkk.. “Investasi Pada Pasar Modal Syariah”. Edisi Revisi. Jakarta :
Kencana. 2008.
__________. “Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis”. Edisi Pertama.
Jakarta : Kencana. 2008.
Karim, Adiwarman. "Ekonomi Makro Islami". Edisi Kedua. PT. Raja
Grafindo Persada : Jakarta. 2008.
Kasmir. 2008. "Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya". Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada.
Manan, Abdul. “Aspek Hukum dalam Penyelenggaraan Investasi di Pasar
Modal Syariah Indonesia”. Edisi Pertama. Jakarta : Kencana. 2009.
Martalena dan Malinda. 2011. “Pengantar Pasar Modal”. Edisi Pertama.
Yogyakarta : Andi.
Murni, Asfia. 2006. "Ekonomika Makro". Bandung : Refika Aditama.
Rama, Ali. 2015. “Sistem Ekonomi dan Keuangan Islam”. Jakarta :
Puslitpen UIN Jakarta.
Rodoni, Ahmad. 2005. “Analisis Teknikal dan Fundamental pada Pasar
Modal”. Jakarta : Center for Social Economics Studies (CSEC)
Press.
__________. 2009. “Investasi Syariah”. Jakarta : Lembaga Penelitian
UIN Jakarta.
Santoso, Singgih. “Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik”. Penerbit PT.
Elex Media Komputindo Gramedia : Jakarta. 2002.
Sukirno, Sadono. 2011. “Makroekonomi Teori Pengantar”. Edisi Ketiga.
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
__________. 2010. “Makroekonomi Teori Pengantar”. Jakarta : Rajawali
Pers.
Sunariyah. “Pengantar Pengetahuan Pasar Modal”. YKPN Yogyakarta.
2004.
136
Suprayatno, Eko. “Ekonomi Islam” : Pendekatan Ekonomi Makro Islam
dan Konvensional”. Graha Ilmu : Jakarta. 2005.
Widarjono, Agus. "Ekonometrika Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan
Bisnis". Ekonosia FE UII : Yogyakarta. 2007.
Jurnal
Ardana, Yudhistira. 2016. “Variabel Makroekonomi Terhadap Indeks
Saham Syariah Indonesia (Periode Mei 2011 – September 2015
dengan Model ECM)”. Media Trend Vol. 11 No. 2 Oktober 2016,
hal. 117-130.
Rowland Pasaribu dan Mikail Firdaus. 2013. "Pengaruh Variabel
Makroekonomi terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia". Vol. 7
No. 2. Jurnal Ekonomi dan Bisnis STIE YKPN : Yogyakarta.
Muhammad Nasir, dkk. “Analisis Variabel Makroekonomi terhadap
Indeks Saham Syariah Indonesia dengan Metode Pendekatan
Vector Autoregression”. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Volume 15,
No. 1, FEB 2016.
Nezky, Mita. 2013. “Pengaruh Krisis Ekonomi Amerika Serikat terhadap
Bursa Saham dan Perdagangan Indonesia”. Buletin Ekonomi
Moneter dan Perbankan.
Ni Made Sudarsana dan Ica Candraningrat. “PENGARUH SUKU
BUNGA SBI, NILAI TUKAR, INFLASI DAN INDEKS DOW
JONES TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN DI
BEI”. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
Novianto, Aditya. 2011. “Analisis Pengaruh Nilai Tukar Dolar
Amerika/Rupiah, Tingkat Suku Bunga SBI, Inflasi, dan Jumlah
Uang Beredar (M2) terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI)”.
Nurhakim. 2010. “Pengaruh Perubahan Nilai Tukar, Inflasi, Suku Bunga,
dan Beta terhadap Return Saham Jakarta Islamic Index pada
Periode Bullish dan Bearish”.
Siti Aisiyah Suciningtias dan Rizki Khoiroh. “Analisis Dampak Variabel
Makro Ekonomi terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)”.
Jurnal UNISSULA Vol. 2 No. 1, 2015.
Skripsi
Adani, Amalia. “Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Jumlah
Uang Beredar, dan Kurs Terhadap Indeks Saham Syariah
Indonesia (ISSI)”. Jakarta (ID) : Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Azizah, Amalia Nur. “Pengaruh Jumlah Uang Beredar (M2), Inflasi, dan
Investasi Kepemilikan Saham Asing Terhadap Indeks Saham
Syariah Indonesia (Periode Juli 2011 – Juli 2014)”. Jakarta (ID) :
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
137
Fuadi, Anwar. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jakarta
Islamic Index (JII) Periode Januari 2006 – September 2013”.
Jakarta : UIN Jakarta.
Harfian, Ridho Alfin. “Analisis Pengaruh Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS), Nilai Tukar Rupiah, Inflasi, dan Indeks Harga
Saham Terhadap Indeks Saham Gabungan Jakarta Islamic Index
(Periode Oktober 2009 – Desember 2012). Jakarta : UIN Jakarta.
Prabowo, Dimas. “Analisis Pengaruh Inflasi, Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS), dan Jumlah Uang Beredar (JUB) Terhadap Indeks
Syariah Yang Terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia
(ISSI)”. Jakarta (ID) : Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Wastriati. 2010. "Analisis Pengaruh Variabel Ekonomi Makro terhadap
Nilai Jakarta Islamic Index".
Website
Wikipedia
www.kitco.com
www.ojk.go.id
www.bi.go.id
www.duniainvestasi.com
www.investopedia.com
www.pusatdata.kontan.co.id
138
LAMPIRAN
Lampiran 1 : Uji Asumsi Klasik
a. Hasil Uji Normalitas Secara Grafik Histogram
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
139
b. Hasil Uji Normalitas Secara Grafik P-p Plot
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
140
c. Hasil Uji Normalitas Secara Statistik
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
49
Normal Parameters
a
Mean
.0000000
Std. Deviation
Most Extreme Differences
.01909712
Absolute
.074
Positive
.065
Negative
-.074
Kolmogorov-Smirnov Z
.517
Asymp. Sig. (2-tailed)
.952
a. Test distribution is Normal.
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
Lampiran 2 : Hasil Uji Multikolonieritas
Model
Colinearity Statistic
Tolerance
VIF
INFLASI
.490
2.041
LN_KURS
.117
8.549
LN_SBIS
.319
3.132
BI RATE
.217
4.615
LN_HARGA_EMAS
.166
6.019
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
141
Lampiran 3 : Hasil Uji Heterokedastisitas
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
Lampiran 4 : Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model
R
.823a
1
R Square
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.678
.641
.02018
Durbin-Watson
1.066
a. Predictors: (Constant), LN_HARGA_EMAS, INFLASI, LN_SBIS, BI_RATE,
LN_KURS
b. Dependent Variable: LN_ISSI
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
142
Lampiran 5 : Uji Hipotesis
a. Hasil Uji Secara Simultan (Uji-F)
b
ANOVA
Model
Sum of Squares
1Regression
df
Mean Square
.037
5
.007
Residual
.018
43
.000
Total
.054
48
F
18.116
Sig.
.000a
a. Predictors: (Constant), LN_HARGA_EMAS, INFLASI, LN_SBIS, BI_RATE,
LN_KURS
b. Dependent Variable: LN_ISSI
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
b. Hasil Uji Secara Parsial (Uji-t)
Coefficients
a
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
Model
B
Std. Error
1(Constant)
7.585
1.061
9.517E-5
.000
LN_KURS
-.616
LN_SBIS
Beta
t
Sig.
7.147
.000
.348
2.818
.007
.147
-1.057
-4.178
.000
.308
.040
1.173
7.662
.000
BI_RATE
.020
.008
.448
2.409
.020
LN_HARGA_EMAS
.009
.121
.016
.075
.941
INFLASI
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
143
c. Hasil Uji Adjusted R-Square
Model Summaryb
Std. Error of the
Model
R
R Square
.823a
1
Adjusted R Square
.678
Estimate
.641
.02018
a. Predictors: (Constant), LN_HARGA_EMAS, INFLASI, LN_SBIS, BI_RATE,
LN_KURS
b. Dependent Variable: LN_ISSI
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
Lampiran 6 : Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Coefficients
a
Unstandardized
Standardized
Collinearity
Coefficients
Coefficients
Statistics
Model
B
1(Constant)
7.585
1.061
9.517E-5
.000
LN_KURS
-.616
.147
LN_SBIS
.308
.040
1.173
BI_RATE
.020
.008
LN_HARGA_EMAS
.009
.121
INFLASI
Std. Error
Beta
t
Sig.
Tolerance
VIF
7.147
.000
2.818
.007
.490
2.041
-1.057 -4.178
.000
.117
8.549
7.662
.000
.319
3.132
.448
2.409
.020
.217
4.615
.016
.075
.941
.166
6.019
.348
a. Dependent Variable: LN_ISSI
Sumber : Data diolah dengan SPSS 16
144
Lampiran 7 : Data Variabel Penelitian (Data Mentah)
a. Inflasi
Persen%
Tahun
2012 2013 2014 2015
Januari
4,57 8,22 6,96
Februari
5,31 7,75 6,29
Maret
5,9 7,32 6,38
April
5,57 7,25 6,79
Mei
5,47 7,32 7,15
Juni
5,9
6,7
7,26
Juli
4,56 8,61 4,53 7,26
Agustus
4,58 8,79 3,99 7,18
September 4,31 8,4 4,53 6,83
Oktober
4,61 8,32 4,83 6,25
November 4,32 8,37 6,23 4,89
Desember 4,3 8,38 8,36 3,35
Sumber : www.bi.go.id, data diolah
Bulan
2016
4,14
4.42
4.45
3.60
3.33
3.45
3.21
b. Kurs
Rupiah
Tahun
2013
2014
2015
2016
Januari
9.698 12.226 12.625
13.846
Februari
9.667 11.634 12.863
13.395
Maret
9.719 11.404 13.084
13.276
April
9.722 11.532 12.937
13.204
Mei
9.802 11.611 13.211
13.615
Juni
9.929 11.969 13.332
13.180
Juli
9.485 10.278 11.591 13.481
13.094
Agustus
9.560 10.924 11.717 14.027
September 9.588 11.613 12.212 14.657
Oktober
9.615 11.234 12.082 13.639
November 9.605 11.977 12.196 13.840
Desember 9.670 12.189 12.440 13.795
Sumber : www.pusatdata.kontan.co.id, data diolah
Bulan
2012
145
c. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
Triliun
Tahun
2013
2014
2015
Januari
4.709
5.253
8.050
Februari
5.103
5.331
9.040
Maret
5.611
5.843
8.810
April
5.343
6.234
9.130
Mei
5.423
6.680
8.858
Juni
5.443
6.782
8.858
Juli
3.036 4.640
5.880
8.163
Agustus
2.918 4.299
6.514
8.585
September 3.412 4.523
6.450
7.720
Oktober
3.321 5.213
6.680
7.192
November 3.242 5.107
6.530
6.495
Desember 4.993 6.699
8.130
6.280
Sumber : www.ojk.go.id, data diolah
Bulan
2012
2016
6.275
7.188
6.994
7.683
7.225
7.470
8.130
d. BI Rate
Persen%
Tahun
2012 2013 2014 2015
Januari
5,75 7,5
7,75
Februari
5,75 7,5
7,5
Maret
5,75 7,5
7,5
April
5,75 7,5
7,5
Mei
5,75 7,5
7,5
Juni
6
7,5
7,5
Juli
5,75 6,5
7,5
7,5
Agustus
5,75
7
7,5
7,5
September 5,75 7,25 7,5
7,5
Oktober
5,75 7,25 7,5
7,5
November 5,75 7,5 7,75
7,5
Desember 5,75 7,5 7,75
7,5
Sumber : www.bi.go.id, data diolah
Bulan
2016
7,25
7
6,75
6,75
6,75
6,5
6,5
146
e. Harga Emas Dunia
Triliun
Tahun
2012
2013
2014
2015
Januari
1644.75 1251.00 1260.25
Februari
1588.50 1326.50 1214.00
Maret
1598.25 1291.75 1187.00
April
1469.00 1288.50 1180.25
Mei
1394.50 1250.50 1191.40
Juni
1192.00 1315.00 1171.00
Juli
1622.50 1314.50 1285.25 1098.40
Agustus 1648.50 1394.75 1285.75 1135.00
September 1776.00 1326.50 1216.50 1114.00
Oktober 1719.00 1324.00 1164.25 1142.35
November 1726.00 1253.00 1182.75 1061.90
Desember 1657.50 1204.50 1206.00 1060.00
Sumber : www.kitco.com, data diolah
Bulan
2016
1111.80
1234.90
1237.00
1285.65
1212.10
1320.75
1342.00
147
e. Kapitalisasi ISSI
Miliar
Bulan
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des
2012
2.356.326,08
2.346.810,54
2.486.873,61
2.555.085,73
2.491.195,85
2.451.334,37
Tahun
2013
2014
2015
2.503.227,79 2.615.657,86 2.997.601,71
2.676.295,37 2.723.490,09 3.045.812,76
2.763.653,98 2.803.512,82 3.068.467,89
2.837.700,26 2.838.689,95 2.852.497,67
2.909.766,36 2.887.030,80 2.960.219,00
2.751.397,77 2.821.554,16 2.863.813,60
2.616.430,24 2.959.197,62 2.813.505,41
2.442.591,45 2.993.518,56 2.591.624,10
2.475.359,61 2.954.724,03 2.449.104,28
2.581.612,37 2.896.273,23 2.576.748,18
2.442.512,55 2.944.676,98 2.556.257,33
2.557.846,77 2.946.892,79 2.600.850,72
Sumber : www.ojk.go.id, data diolah
2016
2.598.203,24
2.689.933,17
2.796.012,59
2.824.409,18
2.804.579,10
3.029.643,77
3.172.188,14
148
Lampiran 8 : Tabel Persentase Distribusi F untuk α = 0,05
149
Lampiran 9 : Tabel Persentase Distribusi t
150
Lampiran 10 : Daftar Saham ISSI
151
152
Download