6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Umum 2.1.1 Definisi Data

advertisement
BAB 2
LANDAS AN TEORI
2.1 Teori Umum
2.1.1
Definisi Data
M enurut Inmon (2002, p388), dikemukakan bahwa “Data is a recording of
facts, concepts, or instructions on a storage medium for communication, retrieval,
and processing by automatic means and presentation as information that is
understandable by human being” yang dapat diartikan bahwa data adalah sebuah
rekaman fakta, konsep, atau instruksi pada sebuah media penyimpanan untuk
komunikasi, pencarian, dan pemrosesan secara otomatis dan dapat memberikan
informasi yang mudah dimengerti oleh pemiliknya atau pihak yang bersangkutan.
Berdasarkan definisi di atas, dapat dilihat bahwa data merupakan suatu
bentuk dasar dari rekaman fakta yang belum diolah atau dimanipulasi. Data yang
didapatkan pada suatu perusahaan umumnya diperoleh dari hasil kegiatan operasi
sehari-hari atau hasil dari transaksi yang dilakukan, yang nantinya dapat digunakan
untuk kepentingan perusahaan.
6
7
2.1.2
Definisi Basis Data
M enurut Connolly dan Begg (2005, p15), database merupakan kumpulan
dari data logical yang berhubungan dan deskripsi dari data tersebut yang dirancang
untuk kebutuhan informasi suatu perusahaan.
Sedangkan menurut Inmon (2002, p388), ”a database is a collection of
interrelated data stored (often with controlled, limited redudancy) according to a
schema” yang dapat diartikan bahwa database adalah sekumpulan penyimpanan data
yang berhubungan (sering dengan pengontrolan, redudansi yang terbatas) yang
berdasarkan suatu skema.
Berdasarkan hal diatas, dapat disimpulkan bahwa database merupakan
kumpulan dari data yang saling berhubungan dan terintegrasi yang mana dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi suatu organisasi.
Database terbagi dalam beberapa kategori umum, sebagai berikut:
1. Paper-based, merupakan database yang paling sederhana yang disimpan dalam
bentuk kumpulan kertas dokumen yang terorganisasi.
2. Legacy Mainframe, biasa dikenal dengan database VSAM (Virtual Storage
Access Method). Legacy Mainframe menggunakan kemampuan mainframe untuk
melakukan proses penyimpanan dan pengaksesan data.
3. RDBM S (Relational Database Management System), merupakan sistem database
untuk jumlah user yang besar dengan integritas data yang lebih baik. RDBM S
memiliki kemampuan untuk menjaga integritas data. Oleh sebab itu skripsi ini
memakai sistem database tersebut. Struktur perintahnya disebut dengan SQL
(Structured Query Language).
8
4. Object-oriented Database, menggunakan sistem objek dalam penyimpanan data.
Data disimpan bukan dalam bentuk tabel melainkan dalam bentuk objek-objek
yang terpisah.
5. DBase, mengandung ISAM (Index Sequential Access Method) yang merupakan
metode pengaksesan data secara berurutan yang memiliki indeks. Pada umumnya
menggunakan file yang terpisah untuk setiap tabelnya. Contoh database yang
menggunakan sistem ini antara lain DBase, FoxPro, M icrosoft Access dan
Paradox.
6. SQL (Structured Query Language) merupakan suatu bahasa akses data atau subbahasa data dan dalam pengertian itu SQL merupakan bahasa yang sangat
terbatas yang hanya mampu mengatur bagimana tabel data dapat dimanipulasi.
SQL terbagi menjadi tiga komponen utama, yaitu DDL (Data Definition
Language) yang mencakup perintah create, alter, dan drop. DM L (Data
Manipulation Language) yang mencakup perintah select, insert, delete, dan
update dan yang terakhir adalah DCL (Data Control Language) yang mencakup
perintah grant, revoke.
2.1.3
Konsep Basis Data
M enurut M cLeod (2001, p259), dua tujuan konsep basis data adalah
meminimumkan pengulangan data (data redundancy) dan mencapai independensi
data. Pengulangan data (data redundancy) adalah duplikasi data, artinya data yang
sama disimpan dalam beberapa file. Independensi data adalah kemampuan untuk
membuat perubahan dalam struktur data tanpa membuat perubahan pada program
yang memproses data. Independensi data dicapai dengan menempatkan spesifikasi
9
data dalam tabel dan kamus yang terpisah secara fisik dari program. Perubahan pada
struktur data hanya dilakukan sekali, yaitu dalam tabel.
2.1.4
Karakteristik Basis Data
M enurut M annino (2001, p4) basis data memiliki beberapa karakteristik,
yaitu:
•
Persistent, artinya data berada pada tempat penympanan yang stabil seperti pada
magnetic disk. Variabel pada computer tidak bersifat persistent karena berada
pada memori utama dan akan menghilang seiring ditutupnya program. Persistent
juga bukan berarti data akan selamanya ada. Ketika data sudah tidak lagi relevan
maka data tersebut akan dibuang atau diarsipkan.
•
Shared, artinya basis data mempunyai banyak kegunaan dan banyak user basis
data menyediakan memori yang umum untuk beragam fungsi dalam suatu
organisasi. Selain itu, pada saat yang bersamaan, basis data dapat digunakan oleh
lebih dari satu user.
•
Interrelated, artinya data tersimpan dalam unit yang terpisah-pisah, tapi dapat
dihubungkan untuk menyediakan data yang dibutuhkan.
10
2.1.5
Komponen Database
M enurut Connolly dan Begg (2005, p18), sistem database terdiri dari empat
komponen penting yaitu:
1. Data
Dilihat dari konfigurasi sistemnya, maka data dalam database dapat merupakan
data yang single-user (hanya satu pengguna yang beroperasi terhadap database)
atau multi-user dimana satu atau lebih user beroperasi secara bersama ke dalam
sistem database. Sehingga, data dalam database terutama untuk sistem yang
besar harus terintegrasi (integrated) dan dapat dipakai bersama (shared).
Pengertian terintegrasi dalam database dapat dipandang sebagai kumpulan
berbagai file yang saling terhubung dan dengan sebagian atau seluruh redudansi
yang di antaranya dihilangkan. Sedangkan pengertian penggunaan bersama
adalah setiap bagian data yang ada di dalam database dapat dipakai oleh lebih
dari satu pengguna untuk penggunaan yang mungkin berbeda.
2. Hardware
Piranti keras yang dibutuhkan untuk manajemen database biasanya masih berupa
mesin standar yang ada dalam arti tidak ada kekhususan tertentu, tapi karena
sifatnya dalam akses yang lebih sangat bervariasi maka suatu manajemen
database akan lebih banyak membutuhkan media penyimpanan harddisk.
Hardware terdiri dari:
•
Penyimpanan secondary (magnetic disk), I/O device seperti disk drives),
device Controller, I/O Channels, dan lainnya.
11
•
Hardware processor dan main memory, digunakan untuk mendukung saat
eksekusi sistem software database.
3. Software
Antara fisik database (tempat di mana sesungguhnya suatu database tersimpan
dalam media) dengan pengguna terdapat suatu piranti lunak yang disebut sistem
manajemen database (DBM S) atau DB manajer. Semua kebutuhan akses oleh
pengguna seperti pembentukan file (create), penambahan data (insert),
penghapusan (delete atau drop), dan lain-lain, semua dilaksanakan oleh DBM S.
Satu hal lagi, bahwa DBM S juga berfungsi untuk memberikan satu batas agar
pengguna database tidak perlu memikirkan barbagai hal yang berkaitan dengan
detail pada level piranti keras (misalnya metode akses).
Software bisa berupa DBM S, sistem operasi, software jaringan (jika diperlukan)
dan program aplikasi pendukung lainnya.
4. Pengguna (Users)
Terdapat tiga kelas pengguna database yaitu:
•
Application Programmers, bertanggung jawab untuk membuat aplikasi
database dengan menggunakan bahasa pemrograman yang ada, seperti: C++,
Java, dan lainnya.
•
End Users, Orang yang menggunakan data di dalam database untuk
kebutuhan tugas atau fungsinya. Pengguna ini dapat mengakses database
secara on-line dengan memanfaatkan bahasa query (seperti SQL) maupun
proses batch menggunakan program aplikasi yang sudah dipersiapkan oleh
12
programmer, atau menggunakan program utility yang telah disediakan dalam
DBM S.
•
DA (Data Administrator), seseorang yang berwenang untuk membuat
keputusan stategis dan kebijakan mengenai data yang ada, DBA (DataBase
Administrator), menyediakan dukungan teknis untuk implementasi keputusan
tersebut, dan bertanggung jawab atas keseluruhan kontrol sistem pada level
teknis.
2.1.6
Alasan Penggunaan Database
Keuntungan dari penggunaan database sebagai berikut:
•
Kontrol terpusat pada data operasional
•
Redudansi data dapat dikurangi dan dikontrol
•
Data dapat dipakai bersama (shared)
•
Penerapan standarisasi
•
Penerapan pembatasan keamanan data (security)
•
Integritas data dapat terpelihara
•
Independensi data atau program
Kerugian dari penggunaan database sebagai berikut:
•
M ahal, karena butuh biaya yang lebih besar untuk keperluan hardware, software,
dan perekrutan personil yang lebih berkualitas.
•
Kompleks, karena dengan kemampuan software yang lebih besar, membuat suatu
pemahaman bahwa terlihat rumit dan butuh penguasaan yang lebih tinggi, seperti
13
kebutuhan sistem administrasi, prosedur recovery dan back up, penataan
keamanan data.
2.1.7
Pengertian Sistem Database
M enurut Date (2000, p5), sistem database pada dasarnya merupakan sistem
penyimpanan record yang terkomputerisasi di mana tujuan sebenarnya adalah
menyimpan informasi dan membuat informasi tersebut selalu tersedia pada saat
dibutuhkan. Keseluruhan sistem terkomputerisasi itu memperbolehkan pengguna
menelusuri kembali dan mengubah informasi tersebut sesuai kebutuhan.
2.1.8
Pengertian Informasi
M enurut M cLeod (2001, p15), informasi adalah data yang telah diproses,
atau data yang memiliki arti. Sebagai contoh, data dapat berupa jumlah penerbangan
setiap pilot. Saat data ini diproses, ia dapat diubah menjadi informasi. Jika jumlah
penerbangan setiap pilot dikalikan dengan upah per penerbangan akan menghasilkan
pendapatan kotor pilot. Jika angka-angka pendapatan kotor tiap pilot dijumlahkan,
hasil penjumlahan tersebut adalah total biaya gaji plilot bagi perusahaan. Jumlah
biaya gaji dapat menjadi informasi bagi pemilik perusahaan.
2.1.9
Database Management System (DBMS )
DBM S adalah sebuah sistem perangkat lunak yang memungkinkan pengguna
untuk mendefinisikan (define), membuat (create), memelihara (maintain), dan
mengontrol (control) akses ke basis data (Connolly, 2005, p16).
14
DBM S merupakan perangkat lunak yang berinteraksi dengan program
aplikasi user dan database. Umumnya, sebuah DBM S menyediakan fasilitas sebagai
berikut :
•
M engijinkan user untuk mendefinisikan database (Data Definition Language
(DDL)).
•
M engijinkan user untuk memasukkan, mengubah , menghapus, dan mengambil
data dari basis data (Data Manipulation Language (DM L)).
•
M enyediakan pengendali (control) akses ke basis data yang menyediakan :
a. Sistem keamanan (security system).
b. Sistem integritas (integrity system).
c. Sistem kendali (concurrency control)
d. Sistem pemulihan (recovery control)
e. Katalog yang bisa diakses oleh pengguna (user-accessible catalog)
(Connolly, 2005, p16).
2.1.10 Komponen-Komponen DBMS
M enurut Connolly dan Begg (2005, pp18 - 21), Database Management
System (DBM S) memiliki lima komponen penting yaitu:
1. Hardware (perangkat keras)
Dalam menjalankan aplikasi dan DBM S diperlukan perangkat keras. Perangkat
keras dapat berupa a single personal computer, single mainframe, komputer
jaringan berupa server.
15
2. Software (perangkat lunak)
Komponen perangkat lunak meliputi DBM S software dan program aplikasi
berserta Sistem Operasi (OS), termasuk perangkat lunak tentang jaringan jika
DBM S digunakan dalam jaringan seperti LAN.
3. Data
Data mungkin merupakan komponen terpenting dari DBM S khususnya sudut
pandang dari end user mengenai data.
4. Prosedur
Prosedur berupa panduan dan instruksi dalam membuat desain dan menggunakan
basis data. Pengguna dari sistem dan staf dalam mengelola basis data
membutuhkan prosedur dalam menjalankan sistem dan mengelola basis data itu
sendiri. Demikian prosedur di dalam basis data dapat berupa: login di dalam
basis data, penggunaan sebagian fasilitas DBM S, cara menjalankan dan
memberhentikan DBM S, membuat salinan backup database, memeriksa
hardware dan software yang sedang berjalan, mengubah struktur basis data,
meningkatkan kinerja atau membuat arsip data pada secondary storage.
5. M anusia
Komponen terakhir yaitu manusia sendiri yang terlibat dalam sistem tersebut.
2.1.11 Keuntungan dan Kerugian DBMS
DBM S memungkinkan untuk menciptakan basis data dalam penyimpanan
akses langsung komputer, memelihara isinya, dan menyediakan isi tersebut bagi
pemakai tanpa pemrograman khusus yang mahal. Ketika perusahaan atau pemakai
individu memutuskan apakah akan menggunakan suatu DBM S, keuntungan dan
16
kerugiannya harus dipertimbangkan. M enurut M cLeod (2001, p269), keuntungan
DBM S adalah sebagai berikut:
1. M engurangi pengulangan data.
Jumlah total file dikurangi dengan menghapus file-file duplikat. Juga hanya
terdapat sedikit data yang sama di beberapa file.
2. M encapai independensi data.
Spesifikasi data disimpan dalam skema daripada dalam tiap program aplikasi.
Perubahan dapat dibuat pada struktur data tanpa mengurangi program yang
mengakses data.
3. M engintegrasikan data dari beberapa file.
Ketika file dibentuk sehingga menyediakan kaitan logis, organisasi fisik tidak
lagi menjadi kendala.
4. M engambil data dan informasi secara cepat.
Hubungan-hubungan logis dan DM L serta query language memungkinkan
pemakai mengambil data dalam hitungan detik atau menit, yang sebelumnya
memungkinkan memerlukan beberapa jam atau hari.
5. M eningkatkan keamanan.
Baik DBM S mainframe maupun komputer mikro dapat menyertakan beberapa
lapis keamanan seperti kata sandi (password), directory pemakai, dan bahasa
sandi (encryption). Data yang dikelola oleh DBM S juga lebih aman daripada
data lain dalam perusahaan.
17
Sedangkan, kerugian dari DBM S adalah sebagai berikut:
1. M emperoleh perangkat lunak yang mahal.
DBM S mainframe masih sangat mahal. DBM S berbasis komputer mikro,
walaupun biayanya hanya beberapa ratus dolar, dapat menggambarkan
pengeluaran yang besar bagi organisasi kecil.
2. M emperoleh konfigurasi perangkat keras yang besar.
DBM S sering memerlukan kapasitas penyimpanan primer dan sekunder yang
lebih besar daripada yang diperlukan oleh program aplikasi lain. Juga,
kemudahan yang dibuat oleh DBM S dalam mengambil informasi mendorong
lebih banyak terminal pemakai yang disertakan dalam konfigurasi daripada jika
sebaliknya.
3. M empekerjakan dan mempertahankan staf DBA.
DBM S
memerlukan
pengetahuan
khusus
agar
dapat
memanfaatkan
kemampuannya secara penuh. Pengetahuan khusus ini disediakan paling baik
oleh para pengelola database (DBA).
2.1.12 Entity-Relationship Modelling
M enurut Budiharto (2002, p4), mendesain basis data merupakan hal yang
sangat penting dalam membuat basis data. Kita menggunakan Entity Relationship
(ER) untuk mendesainnya. ER merupakan sebuah permodelan untuk mendesain
basis data yang baik. Karena tanpa ER ini, bisa dipastikan proses pembuatan basis
data berjalan lama dan tidak teratur. Pada saat mendesain basis data yang perlu
diperhatikan ialah membuat relasi-relasi yang benar diantara tabel. Proses desain
basis data cukup menghasilkan waktu yang lama jika basis datanya besar.
18
Pendokumentasian desain basis data mutlak harus dilakukan dengan baik agar
mudah di dalam pengembangan dan perbaikan nantinya.
2.1.12.1 Entity Type
M enurut Budiharto (2002, p5), tipe entitas
dapat didefinisikan
sebagai sesuatu yang mudah diidentifikasikan. Konsep dari ER yaitu tipe
entitas yang mempresentasikan kumpulan dari objek di dalam kenyataan yang
memiliki sifat / properties yang sama.
2.1.12.2 Attributes
M enurut Connolly dan Begg (2005, pp350-352), atribut adalah sifat
dari sebuah entitas atau tipe relationship. Sifat tertentu dari entitas disebut
sebagai atribut. Atribut menyimpan nilai dari setiap entity occurrence dan
disimpan didalam basis data. Attribute domain adalah sejumlah nilai yang
diperkenankan untuk satu atau lebih atribut. Setiap atribut yang dihubungkan
dengan sejumlah nilai disebut domain. Domain menetapkan nilai potensial
yang sebuah atribut bisa simpan atau sama dengan konsep domain pada model
relasional. Simple attribute adalah sebuah susunan atribut dari komponen
tunggal (single component) dengan keberadaan yang bebas (independent
exsistence). Simple attribute tidak bisa dibagi lagi ke dalam komponen yang
lebih kecil. Contohnya, posisi dan gaji dari entitas pegawai. Sedangkan
Composed attribute adalah sebuah susunan atribut dari banyak komponen
dengan sebuah keberadaan yang bebas dari masing-masingnya. Dalam hal ini
beberapa atribut dapat dipisahkan menjadi komponen yang lebih kecil lagi
19
dengan keberadaan yang bebas dari masing-masingnya. Contohnya atribut
alamat dari entitas kantor cabang yang mengandung nilai (jalan, kota, kode
pos) bisa dipecahkan menjadi simple attribute jalan, kota dan kode pos. Single
value attribute adalah atribut yang hanya menyimpan nilai tunggal untuk suatu
sifat dari entitas. Multi-valued attribute adalah atribut yang bisa menyimpan
nilai lebih dari satu untuk suatu sifat dari entitas. Contohnya atribut telepon
pada entitas kantor cabang yang bisa memiliki lebih dari satu nomor telepon.
Derived attribute (atribut turunan) adalah atribut menunjukkan nilai yang
diperoleh dari atribut yang berhubungan atau kumpulan atribut yang
berhubungan, tidak terlalu dibutuhkan dalam tipe entitas yang sama. Atribut
turunan (derived attribute) mungkin juga menyangkut hubungan dari atribut
pada tipe entitas yang berbeda.
2.1.12.3 Relationship Type
Pengertian Relationship Type menurut Connolly dan Begg (2005,
p346), “Relationship type is a set of association between one or more
participating entity types”, yang dapat diartikan, “Relationship type adalah
sekumpulan hubungan antara satu atau lebih tipe-tipe entitas.” Derajat dari
relationship adalah jumlah dari partisipasi (participating) tipe entitas dalam
sebuah tipe relationship tertentu. Entitas yang berkaitan dalam sebuah tipe
relationship dikenal sebagai participant dalam relationship dan jumlah
participant dalam relationship disebut sebagai derajat (degree) dari
relationship. Oleh karena itu, derajat dari sebuah relationship menunjukkan
jumlah dari entitas yang terkait dalam relationship. Sebuah relationship
20
berderajat dua disebut binary, relationship berderajat tiga disebut sebagai
ternary, dan relationship berderajat empat disebut sebagai quartenar.
2.1.12.4 Kunci (Key)
M enurut Budiharto (2002, p9), key ialah suatu properti yang
menentukan apakah suatu kolom pada tabel sangat penting atau tidak. Terdiri
atas Candidate key, Primary key, Alternate key dan Composite key. Candidate
key: sebuah atribut atau lebih yang secara unik mengidentifikasi sebuah baris.
Atribut ini mempunyai nilai yang unik pada hampir tiap barisnya. Fungsi dari
Candidate key ialah sebagai calon primary key. Primary key: candidate key
yang telah dipilih untuk mengidentifikasi tiap baris secara unik. Primary key
harus merupakan field yang benar– benar unik dan tidak boleh ada nilai NULL.
Alternate key: candidate key yang tidak dipilih sebagai primary key.
Composite key: pada kondisi tertentu, suatu atribut tidak dapat digunakan untuk
mengidentifikasi baris secara unik dan membutuhkan kolom yang lain untuk
digunakan sebagai primary key. Foreign key: jika sebuah primary key
terhubung ke tabel lain. Fungsinya sebagai penghubung antar tabel.
2.1.12.5 S tructural Constraints
M enurut Connoly dan Begg (2005, p356), batasan utama pada
relationship disebut multiplicity, yaitu jumlah (atau range) dari kejadian yang
mungkin terjadi pada suatu entitas yang terhubung ke satu kejadian dari entitas
lain yang berhubungan melalui suatu relasi.
21
Relasi yang paling umum adalah binary relationship. M acam-macam
binary relationship yaitu one-to-one (1:1), one-to-many (1:*), atau many-tomany (*:*).
Multiplicity dibentuk dari dua macam batasan pada relationalship
yaitu (Connoly dan Begg, 2005, p363):
•
Cardinality, menjelaskan jumlah maksimum dari kejadian relasi yang
mungkin untuk entitas yang berpartisipasi di dalam relasi tersebut.
•
Participation, menetapkan apakah seluruh atau hanya sebagian entitas yang
perpartisipasi dalam suatu relasi.
2.1.13 Data Definition Language (DDL)
M enurut M artina (2003, p58), DDL merupakan bagian dari sistem
manajemen basis data, dipakai untuk mendefinisikan dan mengatur semua atribut
dan properti dari sebuah basis data. DDL digunakan untuk mendefinisikan basis
data, tabel, dan view.
1. Create Table
Pernyataan
create
table
digunakan
untuk
membuat
mengidentifikasikan tipe data untuk tiap kolom.
Bentuk umum :
CREATE TABLE Table_name
( Column_name DataType [ NULL | NOT NULL]
[ , Column_name DataType [ NULL | NOT NULL] ] ... )
table
dengan
22
2. Alter Table
Pernyataan alter table digunakan dapat dipakai untuk menambah atau membuang
kolom dan konstrain.
Bentuk umum :
ALTER TABLE Table_name
[ ADD Column_name DataType [ NULL | NOT NULL ] ]
[ DROP Column_name DataType [ RESTRICT | CASCADE ] ]
[ ADD Constrain_name ]
[ DROP Constrain_name [ RESTRICT | CASCADE ] ]
3. Drop Table
Pernyataan drop table digunakan untuk membuang / menghapus tabel beserta
semua data yang terkait didalamnya.
Bentuk umum :
DROP TABLE Table_name;
4. Create Index
Pernyataan create index digunakan untuk membuat index pada suatu tabel.
Bentuk umum :
CREATE [UNIQUE] INDEX index_name
ON Table_name
( Column_name [ , Column_name ] ... )
5. Drop Index
Pernyataan drop index digunakan untuk membuang atau menghapus index yang
telah dibuat sebelumnya.
Bentuk umum :
23
DROP INDEX Index_name
2.1.14 Data Manipulation Language (DML)
M enurut M artina (2003, p60), DM L dipakai untuk menampilkan, menambah,
mengubah, dan menghapus data didalam objek-objek yang didefinisikan oleh DDL.
1. Select
Pernyataan select digunakan untuk menampilkan sebagian atau seluruh isi dari
suatu tabel dan menampilkan kombinasi isi dari beberapa tabel.
Bentuk umum :
SELECT Fields
FROM Table_name
WHERE Condition
2. Update
Penyataan update digunakan untuk mengubah isi satu atau beberapa atribut dari
suatu tabel.
Bentuk umum :
UPDATE Table_name
SET column1 = value1, column2 = value2, ...
WHERE Condition
3. Insert
Pernyataan insert digunakan untuk menambah satu atau beberapa baris nilai baru
ke dalam suatu tabel.
Bentuk umum :
INSERT Table_name ( Column list ) VALUES ( value list )
24
4. Delete
Pernyataan delete digunakan untuk menghapus sebagian / seluruh isi dari suatu
tabel.
Bentuk umum :
DELETE FROM Table_name
WHERE Condition
2.1.15 Data Flow Diagram
M enurut Whitten (2004, p334), Data Flow Diagram (DFD) is a tool that
depicts the flow of data thorugh a system and the work or processing performed by
that system, dapat diartikan DFD adalah sebuah peralatan yang menggambarkan
aliran data sampai sebuah sistem selesai dan kerja atau proses dilakukan dalam
sistem tersebut. Sinonimnya adalah bubble chart, transformation graph, and process
model.
1. External agents
M enurut Whitten (2003, p334), External Agents are define a person an
organization unit, another system, or another organization unit, another system,
or another organization that lies outside the scope of the project but that
interacts with the system being studied, dapat diartikan sebagai Eksternal Agen
adalah mendefinisikan orang, sebuah unit organisasi, sistem lain atau organisasi
lain yang berada di luar sistem proyek tapi dapat mempengaruhi kerja sistem.
M enurut Whitten (2004, p347) ada beberapa bentuk External Agents:
25
•
Bentuk Gane dan Sarson
External
Agent
•
Bentuk DeM arco/Yourdon
2. Process
M enurut Whitten (2004, p347), Process is work perform on, or in response,
incoming data flows or conditions, dapat diartikan sebagai proses adalah
penyelenggaraan kerja, atau jawaban, datangnya aliran data atau kondisinya.
M enurut Whitten (2004, p347), ada beberapa bentuk proses diantaranya:
•
Bentuk Gane dan Sarson
•
Bentuk DeM arco/Yourdon
26
•
Bentuk SSADM / IDEFO
3. Data Stores
Data Stores is an “inventory” of data, Dapat diartikan sebagai Data Stores
adalah penyimpanan data.
M enurut Whitten (2004, p366), ada beberapa bentuk data stores diantaranya
•
Bentuk Gane dan Sarson
•
Bentuk DeM arco/Yourdon
4. Data Flow
Data Flow is represent an input of data to a process or the output of data (or
information) from a process, dapat diartikan sebagai Data Flow adalah
merepresentasikan sebuah input data ke dalam sebuah proses atau output dari
data (atau informasi) dari sebuah proses.
27
Bentuk Data Flow:
Jenis-jenis DFD adalah sebagai berikut:
1. Level 0 (Diagram Context)
Level ini terdapat sebuah proses yang berada di posisi pusat
2. Level 1 (Diagram Nol)
Level ini merupakan sebuah proses yang terdapat di level 0 yang dipecahkan
menjadi beberapa proses lainnya.
3. Level 2 (Diagram Rinci)
Pada level ini merupakan diagram yang merincikan diagram level 1.
•
Tanda ‘ * ’ digunakan hanya jika proses tersebut tidak bisa dirincikan
lagi.
2.0* artinya proses level rendah yang tidak bisa dirincikan lagi
•
Penomoran yang dilakukan berdasarkan urutan proses
2.1.16 State Transition Diagram
State Transition Diagram (STD) adalah suatu perangkat pemodelan yang
menggambarkan sifat ketergantungan terhadap waktu pada sistem. M enurut
Pressman (2001, p317), STD digunakan untuk mengidentifikasikan sebagaimana
sistem harus berperilaku sebagai resiko dari kejadian eksternal. Untuk mencapai hal
ini STD menampilkan berbagai jenis model perilaku dari hasil dan tingkah laku yang
28
mana transisi dibuat dari satu state ke state yang lain. Penyajian STD merupakan
landasan dasar untuk menentukan perilaku. Biasanya di dalam STD digunakan notasi
seperti:
1. Active
•
State, simbonya persegi panjang.
State adalah kumpulan keadaan atau atribut yang memberi perincian
seseorang atau benda pada waktu dan kondisi tertentu. Contohnya seperti:
proses user mengisi password, menentukan instruksi berikutnya.
Simbol state :
•
Transition State / Perubahan state, simbolnya tanda panah berarah.
Simbol Transition State:
•
Condition
Kejadian pada lingkungan eksternal yang bisa terdeteksi oleh sistem. Hal ini
akan mengakibatkan perubahan terhadap state dari keadaan state menunggu
X ke state menunggu Y. Contohnya seperti interrupt signal maupun data
•
Action
Action adalah hal yang dilakukan sistem apabila ada perubahan state atau
merupakan reaksi terhadap kondisi. Action menghasilkan keluaran dari
tampilan pesan, cetakan atau alat output lainnya
29
2. Passive
Sistem ini tidak melakukan kontrol terhadap lingkungan, tapi lebih bersifat
menerima data atau memberi reaksi saja (sistem yang menerima atau
mengumpulkan data dari signal yang dikirim oleh satelit).
Berikut adalah gambar STD yang sederhana:
2.1.17 Kamus Data dan Normalisasi
2.1.17.1 Kamus Data
M enurut M cLeod (2001, p308), kamus data adalah suatu penjelasan
tertulis mengenai data yang berada di dalam basis data. Kamus data ini
dimaksudkan untuk melengkapi pembuatan model proses yang menggunakan
diagram alir data.
2.1.17.2 Normalisasi
Pengertian
normalisasi
Connolly
dan
Begg
(2005,
p388),
“Normalization is a technique for producing a set of relations with desireable
properties, given the data requirements of an enterprise”, yang dapat diartikan
“Normalisasi adalah sebuah teknik untuk menghasilkan relasi dengan propertiproperti yang diinginkan,
memberikan
kebutuhan
data dari sebuah
30
perusahaan.”
Tujuan Dari normalisasi adalah sebagai berikut:
● M enghilangkan kumpulan relasi dari inserting, updating, dan delete
dependency yang tidak diharapkan.
● M engurangi kebutuhan restrukturisasi kumpulan relasi dan meningkatkan
life spam program aplikasi.
● M embuat model relasional yang lebih informative.
● M embuat sekecil mungkin terjadinya data rangkap.
● M enghidarkan adanya data yang tidak konsisten terutama bila dilakukan
penghapusan atau penambahan data sebagai akibat adanya data rangkap.
● M enjamin bahwa identitas tabel secara tunggal sebagai determinan semua
atribut.
Berikut adalah proses normalisasi:
1. Bentuk Normal Pertama (First Normal Form / 1NF)
Aturan bentuk normal pertama (1NF) menurut Connolly dan Begg
(2005, p403), “A reliation in which the intersection of each row and
column contains one and only one value”, yang dapat diartikan,
“Sebuah relasi dimana tiap baris dan kolom berisi hanya berisi satu
nilai.” Bentuk normal pertama dicapai bila tiap nilai atribut adalah
tunggal. Kondisi ini dapat diperoleh dengan melakukan eliminasi
terjadinya data ganda (repeating groups). Pada kondisi normal pertama
ini kemungkinan masih terjadi adanya data rangkap.
31
2. Bentuk Normal Kedua (Second Normal Form / 2NF)
Aturan bentuk normal kedua (2NF) menurut Connolly dan Begg (2005,
p407), “A relation that is in first normal form and every non-primary
key attribute is fully function dependent on the primary key”, yang
dapat diartikan, “sebuah relasi dalam bentuk normal pertama dan setiap
atribut bukan primary key yang bergantung secara fungsional kepada
primary key” Bentuk normal kedua adalah berdasarkan konsep
ketergantungan fungsional penuh (full functional dependency). Full
functional dependency dinyatakan dengan jika A dan B adalah atribut
dari suatu relasi (relation), B adalah fungsional ketergantungan penuh
(fully functinal dependency) pada A jika B adalah secara fungsional
bergantung pada A, tapi bukan merupakan himpunan bagian dari A.
Bentuk normal kedua menciptakan sebuah relasi pada bentuk normal
pertama dan semua atribut yang bukan primary key adalah fungsional
tergantung penuh pada primary key.
3. Bentuk Normal Ketiga (Third Normal Form / 3NF)
Aturan bentuk normal ketiga (3NF) menurut Connolly dan Begg (2002,
p508), “A reliation that is in first and second normal form, and in
which non-primary key attribute is transitively dependent on the
primary key”, yang dapat diartikan, “sebuah relasi dalam bentuk
normal pertama dan kedua dan setiap atribut bukan primary key yang
bergantung secara transitif kepada primary key” Bentuk normal ketiga
adalah berdasarkan pada konsep peralihan ketergantungan (transistive
dependency). Transitive dependency adalah sebuah kondisi dimana A,
32
B dan C adalah atribut dari sebuah relasi bahwa jika AÆB dan BÆC,
maka C adalah transitive dependent pada A melewati B (menyatakan
bahwa A bukan functional dependent pada B atau C). Pada bentuk
normal ketiga, sebuah relasi pada bentuk normal pertama dan kedua
dan dimana tidak ada atribut non-primary key secara transitif
bergantung (transitively dependent) pada primary key.
2.1.18 Database Application Lifecycle
Tahapan penerapan lifecycle dalam metodologi perancangan basis data
menurut Connolly and Begg (2005, p284), Database Systems A Practical sebagai
berikut:
33
Gambar 2.1 Tingkatan dari Aplikasi Database Lifecycle
34
2.1.18.1 Perencanaan Basis Data (Database Planning)
M enurut Connolly dan Begg (2005, pp285-286), perencanaan basis
data (database planning) merupakan aktivitas manajemen yang mengizinkan
tingkatan dari aplikasi basis data untuk direalisasikan se-efisien dan se-efektif
mungkin. Database Planning harus diintegrasikan dengan keseluruhan strategi
sistem informasi dari perusahaan. Ada 3 hal penting dalam menyusun sebuah
strategi sistem informasi , yaitu :
1. Identifikasi dari tujuan dan rencana perusahaan dengan penentuan
kebutuhan sistem informasi berikutnya
2. Evaluasi dari sistem informasi saat ini untuk menentukan kelebihan dan
kelemahan yang ada saat ini.
3. Penilaian dari kesempatan-kesempatan TI yang mungkin menghasilkan
keuntungan
kompetitif.
Langkah
mendefinisikan secara jelas tentang
penting
dari
tahap
ini
adalah
pernyataan misi untuk proyek basis
data. Pernyataan tersebut mendefinisikan tujuan utama dari aplikasi basis
data. Bila pernyataan tersebut selesai maka langkah selanjutnya adalah
mengidentifikasikan sasarannya. Pernyataan dan sasaran ini perlu didukung
oleh informasi-informasi tambahan yang menentukan pekerjaan apa saja
yang harus diselesaikan, sumber-sumber yang mendukungnya, dan biaya
yang harus dikeluarkan.
2.1.18.2 Definisi Sistem Basis Data (System Definition)
M enurut Connolly dan Begg (2005, p286) definisi sistem (Sytem
definition) adalah memaparkan jangkauan dan batasan dari aplikasi basis data
35
dan pandangan-pandangan utama para pemakai. Sebelum mendesain suatu
aplikasi basis data penting untuk terlebih dahulu mengidentifikasikan batasanbatasan dari sistem yang sedang diteliti dan bagaimana kaitannnya dengan
bagian lain sistem informasi perusahaan. Perlu dipikirkan untuk kebutuhan
yang akan datang selain dari keadaan saat ini. Dan tak lupa untuk
mengidentifikasi pandangan pemakai yang merupakan aspek penting dari
pengembangan aplikasi basis data karena membantu untuk memastikan bahwa
tidak ada pemakai utama basis data yang terlupa ketika pengembangan aplikasi
baru tersebut.
2.1.18.3 Analisis dan Pengumpulan Kebutuhan (Requirement Collection
and Analysis)
M enurut Connolly dan Begg (2005, pp288-291), analisis dan
pengumpulan kebutuhan (requirement collection and analysis) adalah proses
pengumpulan dan analisis informasi tentang bagian dari perusahaan yang akan
didukung oleh aplikasi basis data, dan menggunakan informasi ini untuk
mengidentifikasi kebutuhan pemakai terhadap sistem baru. Informasi yang
dikumpulkan termasuk:
1. Penjabaran dari data yang digunakan,
2. Detail mengenai bagaimana data digunakan,
3. Kebutuhan tambahan apapun untuk aplikasi basis data yang baru. Informasi
ini kemudian dianalisis untuk mengidentifikasikan kebutuhan yang
dimasukkan untuk aplikasi basis data yang baru tersebut.
Ada 3 macam pendekatan untuk mengatur kebutuhan dari sebuah
36
aplikasi basis data dengan berbagai pandangan pemakai, yaitu:
1. Pendekatan Centralized
Kebutuhan untuk tiap pandangan pemakai disatukan menjadi satu set
kebutuhan untuk aplikasi basis data. Umumnya pendekatan ini dipakai jika
basis datanya tidak terlalu kompleks.
2. Pendekatan View Integration
Kebutuhan untuk tiap pandangan pemakai digunakan untuk membangun
sebuah model data yang terpisah yang merepresentasikan tiap pandangan
pemakai tersebut. Hasil dari data-data model tersebut kemudian disatukan
di bagian desain basis data.
3. Kombinasi keduanya.
2.1.18.4 Desain Basis Data (Database Design)
M enurut Connolly dan Begg (2005, p291), perancangan basis data
(database design) merupakan proses pembuatan suatu desain untuk sebuah
basis data yang akan mendukung operasional dan sasaran suatu perusahaan.
Ada 2 pendekatan untuk mendesain sebuah basis data, yaitu:
1. Pendekatan bottom-up
Yang dimulai pada tingkat awal dari atribut (yaitu, properti dari entiti dan
relationship), yang mana melalui analisis dari asosiasi antar atribut,
dikelompokkan menjadi hubungan yang merepresentasikan jenis-jenis
entitas dan hubungan antar entitas. Pendekatan ini cocok untuk mendesain
basis data yang simpel dengan jumlah atribut yang tidak banyak.
37
2. Pendekatan top-down
Digunakan pada basis data yang lebih kompleks, yang dimulai dengan
pengembangan dari model data yang mengandung beberapa entitas dan
hubungan tingkat tinggi dan kemudian memakai perbaikan top-down
berturut-turut untuk mengidentifikasi entitas, hubungan dan atribut
berkaitan tingkat rendah. Pendekatan ini biasanya digambarkan melalui ER
(Entity Relationship). Pada tahap ini ada bagian yang disebut data
modelling yang digunakan untuk membantu pemahaman dari data dan
untuk memudahkan komunikasi tentang kebutuhan informasi.
Dengan dibuatnya model data dapat membantu memahami:
1. Pandangan tiap pemakai mengenai data.
2. Kealamian data itu sendiri, kebebasan representasi fisiknya.
3. Kegunaan dari data berdasarkan pandangan pemakai. Kriteria untuk
model data, yaitu:
1. Structural validity
Konsistensi dengan cara yang didefinisikan perusahaan dan
menyusun informasi.
2. Simplicity
Kemudahan untuk pemahaman baik bagi yang profesional di bidang
sistem informasi maupun pemakai yang nonteknis.
3. Expressibility
Kemampuan untuk membedakan antara data yang berbeda, dan
hubungan antar data.
38
4. Nonredundancy
Penghapusan informasi yang tak ada hubungannnya, khususnya
representasi dari tiap potongan informasi tepatnya hanya sekali.
5. Shareability
Tidak spesifik untuk aplikasi dan teknologi khusus apapun dan
dengan demikian dapat digunakan oleh banyak orang.
6. Extensibility
Kemampuan mengembangkan untuk mendukung kebutuhan baru
dengan efek yang minimal bagi pemakai yang ada.
7. Integrity
Konsistensi terhadap cara yang digunakan perusahaan dan mengatur
informasi.
8. Diagramatic representation
Kemampuan untuk merepresentasikan sebuah model menggunakan
notasi diagram yang dapat dipahami dengan mudah. M enurut
Connolly dan Begg (2002, pp419-437) Database Design dibagi
dalam tiga tahapan yaitu conseptual database design, logical
database design, dan physical database design.
2.1.18.5 Seleksi DBMS (DBMS Selection)
M enurut Connolly dan Begg (2005, pp295-299), pemilihan DBM S
yang sesuai untuk mendukung aplikasi basis data. Yang mencakup:
1. M endefinisikan syarat-syarat referensi studi
M enentukan sasaran, batasan masalah, dan tugas yang harus dilakukan.
39
2. M endaftar 2 atau 3 jenis barang
M embuat daftar barang-barang, misalkan dari mana barang ini didapat,
berapa biayanya, serta bagaimana bila ingin mendapatkannya.
3. M engevaluasi barang
Barang-barang yang ada dalam daftar di teliti lebih lanjut untuk mengetahui
kelebihan dan kekurangan barang tersebut.
4. M erekomendasikan pilihan dan membuat laporan
M erupakan langkah terakhir dari seleksi DBM S yaitu mendokumentasikan
proses dan untuk menyediakan pernyataan mengenai simpulan dan
rekomendasi terhadap salah satu produk DBM S.
2.1.18.6 Desain Aplikasi (Application Design)
M enurut Connolly dan Begg (2005, pp299-301), perancangan aplikasi
(application design) adalah merancang antarmuka pemakai (user interface) dan
program aplikasi, yang akan memproses basis data. Ditinjau dari gambar 2.1
bahwa, perancangan basis data dan perancangan aplikasi adalah aktivitas
bersamaan pada database application lifecycle. Dalam kasus sebenarnya,
adalah tidak mungkin untuk menyelesaikan perancangan aplikasi sebelum
perancangan basis data selesai. Dalam perancangan aplikasi harus memastikan
semua pernyataan fungsional dari spesifikasi kebutuhan pemakai (user
requirement spesification) yang menyangkut perancangan aplikasi program
yang mengakses basis data dan merancang transaksi yaitu cara akses ke basis
data dan perubahan terhadap isi basis data (retrieve, update dan kegiatan
keduanya). Artinya bagaimana fungsi yang dibutuhkan bisa terpenuhi dan
40
merancang antarmuka pemakai (user interface) yang tepat. Antarmuka yang
dirancang harus memberikan informasi yang dibutuhkan dengan cara untuk
menciptakan ‘user-friendly’. Kebanyakkan antarmuka pemakai yang diabaikan
akan niscaya membuat masalah. Bagaimanapun, antarmuka harus diakui
sebagai komponen dari sistem yang penting, dimana agar mudah dipelajari dan
mudah
digunakan,
sehingga
pemakai
akan
cenderung
untuk
memberdayagunakan informasi yang disajikan.
2.1.18.7 Prototyping
M enurut Connolly dan Begg (2005, pp303-304), prototyping adalah
membuat model kerja dari aplikasi basis data, yang membolehkan perancang
atau user untuk mengevaluasi hasil akhir sistem, baik dari segi tampilan
maupun fungsi yang dimiliki sistem. Tujuan dari pengembangan prototype
aplikasi basis data adalah untuk memungkinkan pemakai menggunakan
prototype untuk mengidentifikasi keistimewaan sistem atau kekurangannya,
dan
memungkinkan
perancang
untuk
memperbaiki
atau
melengkapi
keistimewaan (feature) dari aplikasi basis data baru. Ada dua strategi
prototyping yang umum digunakan sekarang, yaitu, requirement prototyping
dan evolutionary prototyping. Requirement prototyping adalah menggunakan
prototype untuk menetapkan kebutuhan dari tujuan aplikasi basis data dan
ketika kebutuhan sudah terpenuhi, prototype tidak digunakan lagi atau dibuang
(discard). Sedangkan evolutionary prototype menggunakan tujuan yang sama,
tapi perbedaan pentingnya adalah prototype tetap digunakan untuk selanjutnya
dikembangkan menjadi aplikasi basis data yang bekerja.
41
2.1.18.8 Implementasi (Implementation)
M enurut
Connolly
dan
Begg
(2005,
p304),
Implementasi
(implementation) adalah membuat definisi basis data secara eksternal,
konseptual, dan internal dan program aplikasi. Implementasi merupakan
realisasi dari basis data dan perancnagan aplikasi. Implementasi basis data
dicapai menggunakan Data Definition Language (DDL) dari DBM S yang
dipilih atau graphical user interface (GUI). Pernyataan DDL digunakan untuk
membuat struktur basis data dan file basis data kosong. Pandangan pemakai
(user view) lainya juga diimplementasikan dalam tahapan ini. Bagian dari
aplikasi program adalah transaksi basis data yang diimplementasikan dengan
menggunakan Data Manipulation Language (DM L) dari sasaran DBM S,
mungkin termasuk host programming language.
2.1.18.9 Data Conversion and Loading
M enurut Connolly dan Begg (2005, p305), data conversion and
loading adalah mancakup pengambil data dari sistem yang lama untuk
dipindahkan kedalam sistem yang baru. Tahapan ini dibutuhkan ketika sistem
basis data baru menggantikan sistem yang lama. Pada masa sekarang,
umumnya DBM S memiliki kegunaan (utility) untuk memasukan file kedalam
basis data baru. Biasanya membutuhkan spesifikasi dari sumber file dan
sasaran basis data-nya. Kegunaan ini memungkinkan pengembang (developer)
untuk mengkonversi dan menggunakan aplikasi program lama untuk digunakan
oleh sistem baru. Ketika conversion and loading dibutuhkan, prosesnya harus
direncanakan untuk memastikan kelancaran transaksi untuk keseluruhan
42
operasi.
2.1.18.10 Testing
M enurut Connolly dan Begg (2005, p305), testing adalah proses
menjalankan program aplikasi untuk menemukan kesalahan-kesalahan.
Sebelum digunakan, aplikasi basis data yang baru dikembangkan harus diuji
secara menyeluruh. Untuk mencapainya harus hati-hati dalam menggunakan
perencanaan strategi uji danmenggunakan data asli untuk semua proses
pengujian. Di dalam definisi testing ini tidak menggunakan pandangan yang
biasa, testing adalah proses demonstrasi tanpa kesalahan. Dalam kenyataan
testing tidak luput dari kesalahan. Jika testing menunjukkan keberhasilan,
maka pengujian akan menemukan kesalahan pada program aplikasi dan
mungkin basis data strukturnya. Didalam merancang basis data, users dari
sistem baru seharusnya terlibat di dalam proses testing. Situasi yang ideal
untuk melakukan uji sistem adalah menguji basis data pada perangkat keras
yang berbeda, tapi hal ini sering tidak dilakukan. Jika data yang asli digunakan,
perlu back-up untuk mengantisipasi kesalahan atau error. Setelah testing
selesai, sistem aplikasi siap digunakan dan diserahkan ke users.
2.1.18.11 Operational Maintenance
M enurut Connolly dan Begg (2005, p306) operational maintenace
adalah proses memantau dan memelihara sistem setelah diinstal. Pada tahapan
sebelumnya, basis data benar-benar di uji dan diimplementasikan. Sekarang
sistem beralih ketahapan pemiliharaan. Yang termasuk aktivitas dari tahapan
43
pemeliharaan adalah sebagai berikut:
1. M emantau kinerja dari sistem. Jika kinerjanya menurun dibawah level
yang dapat diterima, mungkin basis data perlu direorganisasi.
2. Pemeliharaan dan upgrade aplikasi basis data-nya (jika diperlukan). Ketika
basis data sepenuhnya bekerja, pemantauan harus memastikan kinerjanya
dapat berada dalam tingkat yang dapat diterima. Sebuah DBM S biasanya
menyediakan berbagai kegunaan (utilities) untuk membantu administrasi
basis data termasuk kegunaan (utilities) untuk mengisi data ke dalam basis
data dan untuk memantau sistem. Kegunaan ini memperbolehkan sistem
pemantauan untuk memberikan informasi seperti tentang pemakaian basis
data, dan strategi eksekusi query. Database administrator dapat
menggunakan informasi ini untuk memperbaiki sistem agar dapat
memberikan kinerja yang lebih baik.
2.1.19 Desain Konseptual, Logikal, dan Fisik Basis Data
2.1.19.1 Desain Konseptual Basis Data
M erupakan suatu proses pembuatan model dengan menggunakan
informasi yang diperoleh dari perusahaan, bebas dari semua physical
consideration.Conseptual database design seluruhnya independen
implementasi seperti target DBM S software,
program
aplikasi,
dari
bahasa
pemrograman, atau physical consideration lainnya. Jelasnya Conseptual
database design merupakan tahapan pertama dari tahapan perancangan basis
data dan menciptakan model data konseptual (conseptual data model) dari
bagian perusahaan yang akan dibuat basis datanya. Model data (data model)
44
dibuat dengan menggunakan suatu dokumentasi informasi yaitu spesifikasi
kebutuhan yang dimiliki oleh user. M embangun model data lokal konseptual,
tujuannya untuk membangun suatu model data konseptual lokal dari suatu
perusahaan atau badan. Langkah-langkah untuk membuat model data
konseptual dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Identify entity types
Untuk menentukan entitas utama yang dibutuhkan, dengan kata lain
membuat kelas–kelas dari objek–objek yang ada berikut penjelasannya.
M isalkan :
Staff,
yang
menggambarkan
seluruh
tingkatan
staff
yang
ada.
PropertyForRent, menggambarkan semua properti yang disewakan.
2. Identify relationship types
Untuk menentukan hubungan–hubungan penting yang ada antara jenisjenis entitas yang telah diidentifikasi. M isalkan:
•
Staff Manages PropertyForRent, yaitu staf mengatur entitas property.
•
PrivateOwner Owns PropertyForRent, yaitu entitas PropertyOwner
memiliki yang ada pada entitas PropertyForRent.
•
PropertyForRent AssociatedWith Lease, yaitu entitas PropertyForRent
saling bekerja sama dengan entitas Lease. Biasanya dilanjutkan dengan
membuat diagram hubungan tersebut yang disebut ER diagram serta
menentukan hubungan kemajemukannnya.
45
3. Identify and associate attributes with entity or relationship types
Untuk menentukan attribut yang berkaitan dengan entitas yang telah
ditentukan. M isalkan untuk entitas staff ditentukan atribut seperti staffNo
(yang mengandung nomor–nomor kode setiap staf), name, position, sex.
Begitu pun untuk setiap entitas lainnya.
4. Determine attribute domains
Untuk menentukan domain untuk tiap – tiap atribut yang ada. Suatu domain
adalah suatu kelompok nilai yang dari mana satu atau lebih atribut
mengambil nilainya. M isalkan:
•
Domain atribut untuk nilai staffNo yang valid misalnya panjang
maksimalnya lima karakter dengan dua karakter pertama harus huruf
dan yang ketgia berikutnya berupa angka yang berkisar antara 1-999.
•
Nilai yang mungkin untuk attribut sex dari entiti Staff misalnya huruf M
atau F saja.
5. Determine candidate and primary key attributes
Untuk mengidentifikasikan candidate key dan primary key dari kumpulan
atribut pada tiap-tiap entitas. Primary key merupakan satu atribut yang
dipakai sebagai ciri khas dari suatu entitas. M isalkan pada entitas Staff
primary key-nya adalah staffNo yang mewakili atribut lainnya, sehingga
pada saat kita mengakses suatu basis data hanya dengan memasukkan nilai
staffNo kita dapat mengetahui nilai-nilai atribut lainnya yang ada dalam
entitas Staff.
46
6. Validate local conceptual model against user transactions
Untuk memastikan bahwa model konsep tersebut mendukung proses
transaksi yang dibutuhkan. M isalkan menggambarkan transaksi dengan
memeriksa semua informasi yang ada. Contohnya dengan adanya
hubungan Staff manages PropertyForRent kita dapat mengetahui detil dari
properti dan staf yang menangani properti tersebut.
2.1.19.2 Desain Logikal Basis Data
M erupakan suatu proses pembuatan model dengan menggunakan
informasi yang diperoleh dari perusahaan serta berdasarkan pada model data
spesifik, tapi bebas dari particular DBMS dan physical consideration lainya.
M odel data konseptual yang dibangun pada fase sebelumnya diperhalus dan
dipetakan pada model data logikal. M odel data logikal didasarkan pada target
model data untuk basis data (contoh: model data relasional). M odel data logikal
merupakan sumber informasi untuk fase selanjutnya, yang dinamakan physical
database design. Aktivitas pada logical database design adalah terdiri dari dua
langkah besar, dimana langkah pertama adalah membangun sebuah model data
logikal lokal dari model data konseptual lokal yang menggambarkan
pandangan (view) tertentu dari perusahaan dan kemudian mengesahkan model
ini untuk memastikan strukturnya telah benar atau menggunakan teknik
normalisasi. Sedangkan langkah kedua atau langkah selanjutnya adalah untuk
mengkombinasikan model data logikal local individual ke dalam sebuah model
data logikal global tunggal yang menggambarkan perusahaan. Hasil akhir dari
tahapan ini berupa sebuah kamus data yang berisi semua atribut beserta key-
47
nya (primary key, alternate key dan foreign key) dan ERD keseluruhan (relasi
global) dengan semua atribut key-nya.
2.1.19.3 Desain Fisik Basis Data
M erupakan proses pembuatan deskripsi dari suatu implementasi basis
data pada secondary storage, hal ini mendeskripsikan base relation, organisasi
file, dan indeks yang digunakan untuk mencapai efisiensi akses kedalam data,
dan associated integrity constraints yang lainya dan security measures.
Physical database design merupakan fase ketiga dan terakhir dari proses desain
basis data. Dimana desainer memutuskan bagaimana basis data tersebut
diimplementasikan. Secara garis besar, tujuan utama dari physical database
design adalah untuk mendeskripsikan bagaimana desainer bermaksud untuk
mengimplementasikan secara fisik dari logical database design. Tujuan utama
dari physical database design adalah untuk mendeskripsikan bagaimana
perancang bermaksud untuk mengimplementasikan secara fisik dari logical
database design. Untuk model relasional, ini meliputi:
1. M embuat sejumlah atau kumpulan tabel relasional dan costraints pada
table tersebut dari informasi yang didapatkan dalam model data logikal
(logical data model).
2. M engidentifikasi struktur penyimpanan tertentu dan metode akses terhadap
data untuk mencapai performa optimal dari sistem basis data.
3. M erancang proteksi keamanan untuk sistem.
48
2.2 Teori Khusus
2.2.1
Definisi Persediaan
M enurut M ulyadi (2001, p553), sistem persediaan bertujuan untuk mencatat
mutasi tiap jenis persediaan yang disimpan di gudang. Sistem ini berkaitan erat
dengan sistem pembelian, sistem retur pembelian, dan sistem akuntansi biaya
produksi. Dalam perusahaan manufaktur, persediaan terdiri dari : persediaan produk
jadi, persediaan produk dalam proses, persediaan barang, persediaan bahan
penolong, persediaan bahan habis pakai pabrik, dan persediaan suku cadang.
2.2.2
Definisi Pembelian
M enurut M ulyadi (2001, p299), sistem pembelian digunakan dalam
perusahaan untuk pengadaan barang yang diperlukan oleh perusahaan. Transaksi
pembelian digolongkan menjadi dua yaitu pembelian lokal dan impor. Pembelian
lokal adalah pembelian dari pemasok dalam negeri sedangkan pembelian impor
adalah pembelian dari pemasok luar negeri.
2.2.3
Definisi Penjualan
M enurut M ulyadi (2001, p204), kegiatan penjualan terdiri dari transaksi
penjualan barang atau jasa baik secara kredit maupun tunai. Penjualan menurut cara
bayarnya dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Penjualan tunai, yaitu penjualan yang dilaksanakan oleh perusahaan dengan cara
mewajibkan pembeli dengan melakukan pembayaran harga barang terlebih
dahulu sebelum barang diserahkan kepada pembeli.
2. Penjualan kredit, yaitu penjualan yang dilakukan dengan cara memenuhi order
49
dari pelanggan dengan mengirimkan barang atau menyerahkan jasa dan untuk
jangka waktu tertentu perusahaan memiliki piutang kepada pelanggannya.
Download