EVALUASI AKTIVITAS ANTIDIARE ISOLAT Lactobacillus DARI AIR

advertisement
32
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengujian
Aktivitas
Antibakteri
Lactobacillus
terhadap
E.
coli
Enteropatogenik (EPEC K1.1)
Pada pengujian pertama, yaitu kontak antara isolat Lactobacillus 106 cfu/ml
dengan EPEC K1.1 105 cfu/ml, dari 19 isolat Lactobacillus yang diujikan hanya
terdapat 5 isolat Lactobacillus yang dapat menurunkan jumlah E. coli > 2 log
cfu/ml, yaitu isolat L. rhamnosus B16, L. rhamnosus R14, L. rhamnosus R21, L.
rhamnosus R23, dan isolat R25, sedangkan untuk isolat L. rahmnosus R12, L.
rhamnosus R26, dan L. rhamnosus B10 jumlah E. coli meningkat hingga lebih
dari 105 cfu/ml yaitu meningkat sekitar 1 log cfu/ml. Jika dibandingkan dengan
kontrol EPEC dimana isolat EPEC K1.1 ditumbuhkan dalam susu skim 10% tanpa
penambahan isolat Lactobacillus, ketiga isolat Lactobacillus tersebut cukup dapat
menghambat pertumbuhan E. coli, karena pada kontrol EPEC peningkatan
pertumbuhannya hingga sebesar 3,01 log cfu/ml. Untuk 11 isolat Lactobacillus
lainnya dapat menghambat pertumbuhan EPEC K1.1, tetapi tidak lebih dari 2 log
cfu/ml. Hasil pengujian pertama aktivitas antibakteri Lactobacillus terhadap
EPEC K1.1 dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Penurunan jumlah EPEC K1.1 oleh 19 isolat Lactobacillus 106
cfu/ml
33
Kelima isolat Lactobacillus yang dapat menurunkan jumlah E. coli sebesar
> 2 log cfu/ml dengan konsentrasi Lactobacillus sebesar 106 cfu/ml, yaitu L.
rhamnosus B16, L. rhamnosus R14, L. rhamnosus R21, L. rhamnosus R23, dan
isolat R25 diujikan kembali dengan EPEC 105 cfu/ml tetapi dengan konsentrasi
Lactobacillus sebesar 108 cfu/ml. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
Lactobacillus dengan konsentrasi 108 cfu/ml terhadap EPEC K1.1. Konsentrasi
Lactobacillus yang tinggi ini digunakan dengan pertimbangan bahwa akan terjadi
penurunan sejumlah Lactobacillus di dalam saluran pencernaan karena adanya
kondisi keasaman lambung dan garam empedu. Berdasarkan penelitian Nuraida et
al. (2007) menyatakan bahwa 19 isolat Lactobacillus yang digunakan dalam
pengujian tersebut seluruhnya mengalami total penurunan oleh asam lambung dan
garam empedu sebesar < 3 log cfu/ml dengan pengujian secara in vitro. Dengan
pertimbangan tersebut, diharapkan kelima isolat Lactobacillus (L. rhamnosus
B16, L. rhamnosus R14, L. rhamnosus R21, L. rhamnosus R23, dan isolat R25)
dengan 108 cfu/ml maka akan masih terdapat sisa Lactobacillus yang bertahan
kurang lebih 105-106 cfu/ml yang masih dapat menurunkan EPEC K1.1 sebesar >
2 log cfu/ml. Hasil pengujian tahap kedua antara kelima isolat Lactobacillus
konsentrasi 108 cfu/ml dengan EPEC K1.1 dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7 Penurunan jumlah EPEC K1.1 oleh 5 isolat Lactobacillus 108
cfu/ml
Dari hasil pengujian dengan menggunakan jumlah Lactobacillus kontak
yang lebih besar (108 cfu/ml) terdapat tiga isolat dengan nilai penghambatan
34
tertinggi terhadap EPEC K1.1, yaitu isolat L. rhamnosus R14, L. rhamnosus R23,
dan L. rhamnosus B16. Ketiga isolat tersebut dapat menghasilkan penghambatan
terhadap EPEC K1.1 sekitar 3 log cfu/ml. Berdasarkan hasil tersebut diatas maka
dipilih 3 isolat Lactobacillus yang akan digunakan dalam pengkajian aktivitas
antidiare secara preventif menggunakan hewan percobaan, yaitu L. rhamnosus
R14, L. rhamnosus R23, dan L. rhamnosus B16.
Hasil tersebut juga berkorelasi dengan hasil penelitian Nuraida et al. (2007)
yang menyatakan bahwa ketiga isolat BAL tersebut memiliki daya penghambatan
yang cukup baik terhadap E. coli dengan menggunakan metode difusi agar. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa isolat L. rhamnosus R14 menghasilkan diameter
penghambatan sebesar 2,8 mm, L. rhamnosus R23 menghasilkan diameter
penghambatan sebesar 3,6 mm, dan L. rhamnosus B16 menghasilkan diameter
penghambatan sebesar 4,1 mm.
Efektifitas penghambatan terhadap mikroba tertentu dapat bersifat
menginaktifkan, merusak, atau menghancurkan sel yang berlanjut ke arah
kematian. Menurut Pelczar dan Chan (1986), senyawa antimikroba dapat
digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroba atau membunuh mikroba
dengan mekanisme berupa perusakan dinding sel dengan cara menghambat proses
pembentukannya atau menyebabkan lisis pada dinding sel yang sudah terbentuk,
dan perubahan permeabilitas membran sitoplasma sehingga terjadi kebocoran
nutrisi dari dalam sel. Dengan rusaknya membran sitoplasma akan menyebabkan
terhambatnya pertumbuhan atau matinya sel.
Ada beberapa senyawa yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat yang
bersifat antimikroba, diantaranya adalah asam-asam organik, hidrogen peroksida,
dan senyawa protein atau kompleks spesifik yang disebut bakteriosin (Ouwehand
& Vesterland 2004). Dalam penelitian ini tidak diidentifikasi jenis senyawa
antimikroba yang dihasilkan oleh galur-galur Lactobacillus yang digunakan,
tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa BAL menghasilkan beberapa
senyawa yang menghambat pertumbuhan mikroba. Asam laktat dan asam asetat
adalah salah satu senyawa antimikroba yang dihasilkan oleh BAL. Akan tetapi,
BAL yang digunakan dalam penelitian ini seluruhnya merupakan Lactobacillus
homofermentatif, dimana BAL homofermentatif ini memecah gula terutama
35
menjadi asam laktat sehingga dapat diprediksikan bahwa asam yang dihasilkan
oleh Lactobacillus homofermentatif dan diduga memiliki kemampuan sebagai
antimikroba adalah asam laktat.
Bakteri asam laktat memproduksi asam organik (asam laktat, asam format,
dan asam asetat), diasetil, hidrogen peroksida, karbondioksida, dan bakteriosin
yang berpotensi untuk menghambat beberapa mikroorganisme lain (Davidson &
Hoover 1993). Sebagian besar bakteri asam laktat telah dilaporkan dapat
menginaktivasi bakteri patogen serta menghambat pertumbuhan kapang dan
beberapa substansi antibakteri telah berhasil diisolasi (Gourama & Bullerman
1995).
Asam akan menyebabkan penurunan pH di bawah kisaran pH pertumbuhan
bakteri, di mana asam-asam ini dalam bentuk tidak terdisosiasi yang dapat
berdifusi secara pesat ke dalam sel mikroba. Menurut Ostling dan Lindgren
(1990) asam tidak terdisosiasi akan terurai menjadi anion dan proton, di mana
proton (H+) akan masuk ke dalam sel, akibatnya fungsi metabolisme akan
terganggu seperti terjadinya pengasaman sitoplasma, penghambatan transfer
substrat, sintesis makromolekul, yang secara keseluruhan pertumbuhan bakteri
akan dihambat.
Salah satu senyawa antimikroba yang dihasilkan BAL adalah bakteriosin
yang merupakan senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan pada fase stasioner
yaitu rata-rata setelah 24 jam inkubasi. Bakteriosin berperan lebih baik apabila
bakteri asam laktat terus-menerus dikonsumsi sehingga mampu melekat pada sel
epitelial dan mengkoloni di permukaan usus. Perjalanan makanan maupun bakteri
hanya membutuhkan waktu kira-kira 12 jam dari mulut ke rektum, sehingga
konsumsi bakteri probiotik harus dilakukan secara rutin setiap hari (Surono 2004).
Beberapa jenis bakteriosin yang dihasilkan oleh spesies laktobasili, yaitu
L.acidophilus menghasilkan lactatin (Barefoot & Klaenhammer 1983; Muriana &
Klaenhammer 1991), L.plantarum menghasilkan plantaricin (Franz et al. 1998),
dan L.sake menghasilkan sakacin (Schillinger & Lucke 1989). Menurut Dover et
al. (2007), menyatakan bahwa bakteriosin yang dihasilkan oleh Lactobacillus
rhamnosus adalah lactocin.
36
B. Penentuan Dosis E. coli Patogenik yang Menyebabkan Tikus Diare
Pada uji dosis E. coli enteropatogenik yang menyebabkan diare ini
dilakukan pemberian inokulum EPEC K1.1 pada beberapa tingkat dosis sehingga
tikus menjadi diare. Kriteria diare tikus dibagi menjadi lima golongan, yaitu:
N
= feses normal (berbentuk bulat atau lonjong, berwarna hitam,
menggelinding, dan keras)
TD (1) = tanda diare skor 1 (feses berbentuk bulat atau lonjong, berwarna
hitam, menggelinding, agak lembek)
TD (2) = tanda diare skor 2 (feses berbentuk bulat atau lonjong, berwarna
hitam, tidak menggelinding, lembek)
TD (3) = tanda diare skor 3 (feses tidak berbentuk bulat maupun lonjong,
berwarna agak kecoklatan, sangat lembek, hingga muncul lendir)
TD (4) = tanda diare skor 4 (feses cair tidak berbentuk, berwarna coklat,
hingga muncul lendir)
Kondisi feses yang dinyatakan diare adalah golongan TD (3) dan TD (4),
sedangkan TD (1) dan TD (2) masih dinyatakan feses normal. Gambar golongan
kondisi feses dapat dilihat sebagai berikut:
N
TD (1)
TD (2)
TD (3)
TD (4)
Gambar 8 Penggolongan feses berdasarkan kondisi fisik
Hasil uji dosis EPEC K1.1 yang dapat menimbulkan diare tanpa
menimbulkan kematian dapat dilihat pada Tabel 4 dan Lampiran 3. Pada
kelompok tikus yang hanya diberikan larutan fisiologis tanpa intervensi EPEC
tidak mengalami diare sama sekali. Pada dosis EPEC K1.1 sebesar 108 cfu dapat
menimbulkan diare (tanda diare 3) terhadap empat ekor tikus dari lima ekor tikus
anggota pada hari pertama setelah intervensi. Sedangkan pada hari kedua setelah
37
intervensi, hanya terdapat dua ekor tikus yang mengalami diare (tanda diare 3).
Salah satu tikus yang diare pada H2 merupakan tikus yang mengalami diare pada
H1, hal ini menunjukkan bahwa tikus tersebut belum juga pulih dari efek diare
EPEC. Sedangkan satu ekor tikus lagi merupakan tikus yang pada H1 tidak
mengalami diare. Hal ini menunjukkan bahwa tikus tersebut memiliki sistem
imunitas tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan tikus lainnya pada kelompok
yang sama, sehingga efek timbulnya diare mengalami penundaan sebagai tanda
bahwa EPEC K1.1 membutuhkan waktu yang lama untuk menyebabkan lesi pada
sel epitel usus. Selain itu juga dapat disebabkan oleh tingginya jumlah bakteri
baik dalam usus sehingga menghalangi intervensi dari EPEC. Pada H3, H4, dan
H5 kelima tikus pada kelompok tersebut telah pulih dari efek diare.
Tabel 4 Hasil uji dosis EPEC K1.1 yang menyebabkan tikus diare
Dosis EPEC
K1.1 per hari
Kontrol
108 cfu
107cfu
106 cfu
Jumlah tikus diare/jumlah seluruh tikus
setelah pemberian EPEC K1.1 selama:
1 Hari
2 hari
3 Hari
4 Hari
5 hari
0/5
0/5
0/5
0/5
0/5
4/5
2/5
0/5
0/5
0/5
2/5
0/5
1/5
0/5
2/5
0/5
1/5
3/5
2/5
1/5
Pada kelompok tikus yang diintervensi dengan EPEC K1.1 dengan dosis 107
cfu tampak terdapat dua ekor tikus dari lima ekor tikus yang mengalami diare,
dimana tikus C2 mengalami tanda diare 3, sedangkan tikus C5 mengalami tanda
diare 4. Akan tetapi, pada H2 kedua tikus tersebut telah sembuh dari diare.
Sedangkan pada H3 terdapat satu ekor tikus yang mengalami diare, yaitu tikus C4
dengan tanda diare 4 dan pada H4 tikus tersebut juga telah pulih dari diare. Pada
H5 terdapat dua ekor tikus yang mengalami diare, yaitu tikus C1 dengan tanda
diare 3 dan tikus C3 dengan tanda diare 3 yang dilapisi dengan lendir. Lambatnya
efek EPEC K1.1 terhadap munculnya diare pada tikus dapat disebabkan karena
jumlah EPEC yang lebih rendah sehingga kemampuan EPEC untuk menyebabkan
lesi pada sel epitel usus lebih lambat.
Pada kelompok tikus yang diintervensi dengan EPEC K1.1 dosis 106 cfu
tidak ada satupun tikus yang mengalami diare pada H1, tetapi pada H2 terdapat
38
satu ekor tikus yang mengalami diare, yaitu tikus D3 yang mengalami tanda diare
3 dan pada H3 tikus tersebut telah pulih dari diare. Akan tetapi, pada H3 tersebut
terdapat tiga ekor tikus yang mengalami diare, yaitu tikus D2 dengan tanda diare
4, tikus D4 dengan tanda diare 4, dan tikus D5 dengan tanda diare 3. Pada H4,
tikus D2 dan D4 belum pulih dari diare meskipun gejala diare telah berkurang
menjadi tanda diare 3, sedangkan tikus D3 telah pulih dari diare. Pada H5, tikus
D2 belum juga pulih dari diare, sedangkan tikus D4 dan D5 telah pulih dari diare.
Seperti halnya pada kelompok sebelumnya, pada kelompok ini efek timbulnya
diare juga lebih lambat dibandingkan dengan kelompok tikus yang diintervensi
dengan EPEC K1.1 dengan dosis 108 cfu. Hal ini bertentangan dengan penelitian
Bhunia dan Wampler (2005) yang menyatakan bahwa pemberian EPEC dengan
dosis 106 cfu/ml menunjukkan difusi adhesi sebagian pada sel epitelial usus dan
menunjukkan A/E lession dalam 24 jam. Pada penelitian ini efek tercepat yang
menimbulkan diare pada tikus adalah dosis EPEC sebesar 108 cfu. Hal ini
disebabkan karena tikus yang digunakan pada penelitian ini bukanlah kelompok
gnotobiotik, yaitu kelompok hewan percobaan yang tubuhnya tidak mengandung
organisme atau mikroorganisme (germ free) dan hewan percobaan yang tubuhnya
mengandung satu atau lebih organisme yang diketahui spesiesnya (Malole &
Pramono 1989). Akan tetapi, tikus yang digunakan dalam penelitian ini adalah
hewan kelompok konvensional yang dipelihara dengan cara aseptis untuk
menghindari kontaminasi mikroorganisme lain, sehingga kemungkinan di dalam
saluran pencernaan tikus sudah pernah terinfeksi EPEC dan memicu sistem imun
spesifik.
Sebelumnya diduga akan terjadi penurunan berat badan tikus percobaan
selama diare, akan tetapi selama uji coba dosis EPEC K1.1 diketahui bahwa berat
badan tikus masih meningkat selama pengujian. Diare yang dialami tikus memang
tidak mengakibatkan tikus kekurangan cairan terlalu banyak, feses tikus yang
diare tidak sampai menjadi cair, tetapi hanya lembek, berukuran lebih besar, dan
berwarna lebih pucat. Grafik pertambahan berat badan tikus selama pengujian
dapat dilihat pada Gambar 9.
Kebanyakan pasien diare yang disebabkan oleh infeksi EPEC mengalami
gejala ringan yang terdiri dari diare cair, mual, dan kejang abdomen. Lamanya
39
penyakit ini rata-rata 5 hari. Demam timbul pada kurang dari 1/3 pasien. Feses
berlendir tetapi sangat jarang terdapat sel darah merah atau sel darah putih (Zein
et al. 2004).
Gambar 9 Pertambahan berat badan tikus selama pengujian dosis EPEC K1.1
yang menyebabkan tikus diare
Akan tetapi, efek diare oleh EPEC K1.1 pada pengujian dosis ini sedikit
menurunkan tingkat konsumsi ransum tikus meski tidak terlalu signifikan
(cenderung stabil) (Gambar 10). Berkurangnya tingkat konsumsi ransum tikus
dapat disebabkan oleh timbulnya stress pada tikus ketika dilakukan penyondean
isolat EPEC K1.1. Akan tetapi, hal ini tidak berpengaruh terhadap berat badan
tikus (berat badan tikus tetap meningkat).
Dilihat dari tingkat keparahan diare yang ditimbulkan dan waktu yang
diperlukan untuk munculnya gejala diare tersebut maka disimpulkan bahwa dosis
EPEC K1.1 yang dapat menimbulkan diare tanpa menimbulkan kematian adalah
EPEC K1.1 dengan dosis 108 cfu. Sehingga dosis ini digunakan dalam pengujian
aktivitas antidiare dengan menggunakan tikus percobaan.
40
Gambar 10 Jumlah ransum yang dikonsumsi tikus selama pengujian dosis
EPEC K1.1 yang menyebabkan diare
C. Pengujian Aktivitas Antidiare Isolat Lactobacillus Asal ASI
1. Pengaruh Intervensi Isolat Lactobacillus terhadap Kejadian Diare
Akibat Infeksi EPEC K1.1
Pengaruh intervensi isolat Lactobacillus terhadap kejadian diare
akibat infeksi EPEC K1.1 dapat dilihat pada Tabel 5 dan Lampiran 4. Dari
hasil pengujian pengaruh intervensi isolat Lactobacillus terhadap kejadian
diare akibat infeksi EPEC K1.1 diperoleh bahwa pada kelompok tikus
yang hanya diberikan larutan fisiologis (kontrol negatif) tidak terdapat satu
ekor tikus pun yang mengalami diare, kondisi feses kelompok ini normal
selama masa pengujian, sedangkan pada kelompok yang hanya
diintervensi dengan EPEC K1.1 pada H8 tanpa diintervensi Lactobacillus
(kelompok kontrol EPEC) terdapat tiga ekor tikus dari enam ekor tikus
anggota mengalami diare pada H1 setelah intervensi EPEC (tikus B4, B5,
dan B7). Gejala diare yang terjadi pada ketiga tikus adalah tanda diare 3,
dimana feses tidak berbentuk bulat maupun lonjong, berwarna agak
kecoklatan, sangat lembek, hingga muncul lendir. Akan tetapi, pada H2
tikus B4 dan B5 telah pulih dari diare sedangkan tikus B7 masih
mengalami diare dengan gejala tanda diare 3.
41
Tabel 5 Pengaruh intervensi isolat Lactobacillus terhadap kejadian diare
akibat infeksi EPEC K1.1
Kelompok
Tikus
Kontrol negatif
Kontrol EPEC
R14
R23
B16
H0
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
Jumlah tikus diare/jumlah seluruh tikus
Perlakuan Lactobacillus
H1
H3
H7
H8
H9 H10 H11
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6 3/6(a) 1/6(a) 0/6
0/6
(b)
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6 1/6
2/6(b)
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6 2/6(b) 0/6
0/6
0/6
Intervensi EPEC K1.1
Keterangan :
(a) = menunjukkan tanda diare 3
(b) = menunjukkan tanda diare 2
Tiga ekor tikus lain yang tidak mengalami diare pada kelompok
kontrol EPEC kemungkinan telah memiliki sistem imun yang baik untuk
menangkal serangan EPEC. Sistem imun merupakan semua mekanisme
yang digunakan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap
bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup
(Baratawidjaja 2002). Sistem imun terbagi menjadi dua, yaitu sistem imun
non spesifik dan sistem imun spesifik. Sistem imun non spesifik
merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan
berbagai mikroorganisme dan tidak berubah oleh infeksi. Sel yang penting
adalah fagosit dan sel NK (natural killer), sedangkan molekul yang
penting pada sistem imun non spesifik adalah lisozim, komplemen, protein
fase akut, dan interferon. Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan
untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. Benda yang
pertama kali muncul dalam tubuh segera dikenal oleh sistem imun spesifik
sehingga terjadi sensitasi sel-sel imun tersebut. Bila sel sistem imun yang
sudah tersensitasi tersebut terpapar kembali dengan benda asing yang sama
maka benda asing yang terakhir akan dikenal lebih cepat kemudian
dihancurkan. Sel yang penting pada sistem imun ini adalah limfosit T dan
B, sedangkan molekul yang penting adalah antibodi, sitokin, dan mediator.
Sistem imun spesifik inilah yang kemungkian terjadi pada tikus lain yang
H12
0/6
0/6
0/6
0/6
0/6
42
tidak mengalami diare, kemungkinan tikus-tikus tersebut telah terpapar
oleh EPEC sebelumnya dalam jumlah yang cukup tinggi mengingat tikus
yang digunakan bukanlah tikus germ free,
ditandai dengan rata-rata
jumlah awal E. coli pada awal pengujian yang sangat tinggi, dan
memungkinkan tikus-tikus tersebut telah memiliki sistem pertahanan yang
sangat kuat.
Pada kelompok tikus yang diintervensi EPEC K1.1 pada H8 dan
telah diintervensi isolat Lactobacillus rhamnosus B16 terdapat dua ekor
tikus yang mengalami sedikit gejala diare, yaitu tanda diare 2 (masih
tergolong feses normal) pada H1 setelah intervensi EPEC. Hal ini
menunjukkan bahwa isolat Lactobacillus rhamnosus B16 cukup dapat
mencegah terjadinya diare akibat EPEC K1.1 karena efek diare yang
ditimbulkan lebih ringan dibandingkan dengan kelompok tikus yang tidak
diintervensi Lactobacillus terlebih dahulu. Hal ini juga terjadi pada
kelompok tikus yang diintervensi EPEC K1.1 dan telah diintervensi
dengan isolat Lactobacillus rhamnosus R14 terlebih dahulu. Satu ekor
tikus mengalami gejala diare 2 pada H3 setelah intervensi EPEC dan dua
ekor tikus mengalami gejala diare 2 pada H4 setelah intervensi EPEC.
Gejala diare 2 tersebut segera sembuh setelah satu hari. Hal ini juga
menunjukkan bahwa isolat Lactobacillus rhamnosus R14 cukup dapat
mencegah efek diare menjadi lebih ringan dan memperlambat munculnya
gejala diare tersebut.
Melalui pengujian tersebut juga diperoleh hasil bahwa kelompok
tikus yang diintervensi EPEC K1.1 dan telah diintervensi isolat
Lactobacillus rhamnosus R23 sebelum dan sesudahnya tidak ada satu ekor
tikus pun yang mengalami diare. Hal ini menunjukkan bahwa isolat
Lactobacillus rhamnosus R23 dapat mencegah terjadinya diare secara
sempurna.
Berdasarkan hasil penelitian Budiarti dan Mubarik (2007), EPEC
K1.1 dapat menghasilkan enzim protease ekstraseluler yang dapat
mendegradasi mucin sehingga dapat melekat pada sel epitel usus dan
menimbulkan diare pada inang. EPEC adalah salah satu dari kelas patogen
43
yang dapat menyebabkan lesi attaching dan effacing (A/E) pada sel usus.
Ciri dari patogen A/E adalah terletak pada tumpuannya di permukaan sel
epitel inang dan menyebabkan kerusakan pada mikrovili usus. EPEC
melekat dan berkolonisasi pada epitel mukosa duodenum dan proximal
jejunum, selanjutnya menimbulkan kerusakan pada epitel jejunal melalui
pembentukan mikrokoloni yang ditunjukkan dengan pelekatan yang
terlokalisasi (Moat et al. 2002). Selain itu, bakteri ini juga melekat dan
berkolonisasi pada kolon/usus besar bagian ascending dan transverse (Jay
2000).
Jumlah tikus yang diare dan tingkat keparahan pada kelompok
perlakuan isolat Lactobacillus lebih sedikit daripada jumlah tikus yang
diare pada kelompok kontrol EPEC K1.1, hal tersebut menunjukan bahwa
terdapat indikasi manfaat pencegahan diare akibat infeksi EPEC K1.1 oleh
konsumsi isolat Lactobacillus.
2. Pengaruh Pemberian Isolat Lactobacillus dan EPEC K1.1 terhadap
Berat Badan dan Konsumsi Ransum Tikus
Selama masa pengujian aktivitas antidiare berat badan tikus terus
meningkat dan tidak terjadi penurunan berat badan walaupun sudah
diinfeksi dengan EPEC K1.1. Dilihat dari penampakan feses, diare yang
ditimbulkan memang tidak mengakibatkan tikus banyak kekurangan
cairan, sehingga berat badan tikus masih relatif stabil bahkan meningkat.
Begitu pula dengan tingkat konsumsi ransum yang masih cenderung stabil
selama pengujian berlangsung. Grafik pertambahan berat badan tikus dan
tingkat konsumsi ransum selama pengujian dapat dilihat pada Gambar 11
dan 12.
44
Gambar 11 Pertambahan berat badan tikus selama pengujian aktivitas
antidiare
Gambar 12 Jumlah ransum yang dikonsumsi tikus selama pengujian
aktivitas antidiare
3. Pengaruh Perlakuan Isolat Lactobacillus dan EPEC K1.1 terhadap
Jumlah E. coli pada Feses Tikus
Hasil yang diperoleh pada pengujian pengaruh perlakuan isolat
Lactobacillus dan EPEC K1.1 terhadap jumlah E. coli dalam feses tikus
dapat dilihat pada Gambar 13. Pada kelompok kontrol negatif dimana
selama pengujian seluruh tikus hanya diberikan larutan fisiologis,
mengalami kenaikan dan penurunan jumlah E. coli secara wajar
(cenderung stabil). Pada kelompok kontrol EPEC dimana tikus kelompok
45
tersebut diintervensi dengan EPEC K1.1 tanpa intervensi isolat
Lactobacillus menunjukkan kenaikan jumlah E. coli yang sangat drastis
terutama sehari setelah intervensi EPEC (pengamatan H8), sedangkan
pada hari-hari selanjutnya hingga akhir masa pengujian jumlah E. coli
mengalami penurunan sedikit demi sedikit. Hal ini berkorelasi dengan
jumlah tikus yang mengalami diare pada pengamatan H8 yang berjumlah 3
ekor tikus yang menunjukkan bahwa EPEC telah dapat menyebabkan lesi
attaching dan effacing (A/E) pada sel usus sehingga terjadi diare pada
ketiga tikus tersebut.
Intervensi EPEC K1.1
Gambar 13 Perubahan jumlah E. coli pada feses tikus pada kelompok
kontrol negatif, kontrol EPEC, perlakuan isolat L.
rhamnosus R14, L. rhamnosus R23, dan L. rhamnosus
B16.
Pada kelompok perlakuan isolat L. rhamnosus R14 tampak
menunjukkan sedikit kenaikan jumlah E. coli sehari setelah intervensi
EPEC, tetapi kemudian menurun dengan drastis pada pengamatan H10.
Hal ini berkorelasi dengan tidak adanya tikus yang mengalami diare pada
pengamatan H8 meskipun pada pada H10 dan H11 terdapat beberapa ekor
tikus yang mengalami diare, tetapi hal ini telah menunjukkan bahwa
L. rhamnosus R14 cukup dapat mencegah diare pada tikus. Pada kelompok
perlakuan isolat L. rhamnosus R23 tampak menunjukkan sedikit
46
penurunan jumlah E. coli sehari setelah intervensi EPEC (pengamatan H8)
dan terus mengalami penurunan secara perlahan hingga akhir periode
perlakuan. Hal ini berkorelasi dengan tidak adanya tikus yang mengalami
diare selama periode perlakuan yang menunjukkan bahwa L. rhamnosus
R23 sangat baik dalam mencegah diare pada tikus. Pada kelompok
perlakuan isolat L. rhamnosus B16 tampak menunjukkan sedikit kenaikan
jumlah E. coli sehari setelah intervensi EPEC (pengamatan H8), tetapi
kemudian mengalami penurunan pada pengamatan H11 hingga akhir
periode perlakuan. Hal ini berkorelasi dengan adanya dua ekor tikus yang
mengalami diare pada H8 tetapi diare yang terjadi tidak parah, sehingga
dapat dikatakan bahwa L. rhamnosus B16 cukup dapat mencegah diare
pada tikus.
Bernet et al. (1994) menyatakan bahwa L. acidophilus LA 1
menghambat asosiasi sel dan masuknya sel enteropatogen penyebab diare.
Hal ini dapat terjadi melalui (1) non-spesific steric hindrance reseptor
enterosit apical dari patogen oleh seluruh sel Lactobacillus, (2) aksi
antimikroba dari molekul yang disekresikan Lactobacillus dengan
spektrum yang luas (seperti bakteriosin), (3) stimulasi sekresi suatu
substansi antimikroba oleh sel usus (seperti defensin), setelah sel
Lactobacillus terikat.
4. Pengaruh Perlakuan Isolat Lactobacillus dan EPEC K1.1 terhadap
Jumlah Lactobacillus pada Feses Tikus
Jumlah Lactobacillus dalam feses tikus kelompok kontrol negatif
dan kelompok kontrol EPEC K1.1 bervariasi selama masa pengujian.
Grafik jumlah Lactobacillus pada feses tikus selama pengujian manfaat
pencegahan diare oleh isolat Lactobacillus dapat dilihat pada Gambar 14.
Pada kelompok kontrol negatif jumlah Lactobacillus cenderung
stabil pada kisaran 8,16-8,89 log cfu/g. Pada kelompok kontrol EPEC
tampak terjadi penurunan jumlah Lactobacillus yang sangat drastis pada
pengamatan H8 dan H9 meskipun kemudian mengalami kenaikan kembali
hingga akhir periode perngujian. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian
EPEC 108 cfu pada tikus dapat menyebabkan terjadinya gangguan
47
keseimbangan mikrobiota usus ditandai dengan penuruan jumlah
Lactobacillus karena terjadinya kompetisi dalam kolonisasi sel epitelial
usus
Intervensi EPEC K1.1
Gambar 14
Perubahan jumlah Lactobacillus pada feses tikus pada
kelompok kontrol negatif, kontrol EPEC, perlakuan isolat
L. rhamnosus R14, L. rhamnosus R23, dan L. rhamnosus
B16.
Pada kelompok tikus perlakuan L.rhamnosus R14 tampak jumlah
Lactobacillus yang cenderung stabil selama periode pengujian. Pada
kelompok tikus perlakuan L. rhamnosus R23 tampak kenaikan jumlah
Lactobacillus pada pengamatan H9 dan selanjutnya cenderung stabil
hingga akhir periode pengujian. Pada kelompok tikus perlakuan L.
rhamnosus B16 menunjukkan jumlah Lactobacillus yang cenderung stabil
selama periode pengujian. Hasil tersebut diatas menunjukan adanya
pengaruh perlakuan isolat L. rhamnosus R14, L. rhamnosus R23, dan L.
rhamnosus B16 terhadap jumlah Lactobacillus dalam feses tikus. Hal
tersebut mengindikasikan bahwa ketiga isolat Lactobacillus tersebut dapat
bertahan dalam kondisi ekstrim saluran pencernaan tikus, sehingga cukup
mampu menurunkan jumlah E. coli dalam feses tikus dan mampu
mencegah terjadinya diare. De Roos dan Katan (2000) menyebutkan
48
bahwa probiotik dapat mencegah diare karena menghambat pertumbuhan
bakteri patogen dengan memproduksi bakteriosin atau dapat berkompetisi
dengan patogen untuk berikatan dengan sel epitel, serta pengaruhnya
terhadap sistem imun.
Hasil tersebut diatas menunjukan adanya pengaruh perlakuan isolat
Lactobacillus rhamnosus R14, Lactobacillus rhamnosus R23, dan
Lactobacillus rhamnosus B16 terhadap kandungan Lactobacillus dalam
feses
tikus.
Lactobacillus
Hal
tersebut
mengindikasikan
bahwa
ketiga
isolat
tersebut dapat bertahan dalam saluran pencernaan tikus
sehingga meningkatkan jumlah isolat Lactobacillus dalam feses tikus.
Daya tahan hidup setelah melalui saluran pencernaan merupakan syarat
mikroorganisme untuk dapat memberikan manfaat kesehatan setelah
dikonsumsi. Stres yang pertama terjadi pada sel bakteri yang memasuki
saluran pencernaan adalah terpapar pada asam lambung (Drouault et al.
1999; Chou & Weimer 1999). Dengan demikian, bakteri yang berpotensi
sebagai probiotik harus tahan terhadap pH rendah pada lambung di
samping ketahanannya juga terhadap garam empedu pada usus duabelas
jari.
5. Pengaruh Perlakuan Isolat Lactobacillus dan EPEC K1.1 terhadap
Jumlah Lactobacillus pada Sekum, Kolon, dan Feses Tikus pada akhir
Masa Pengujian
Selain pada feses, pengamatan terhadap mikrobiota usus pada
penelitian ini juga dilakukan pada bagian sekum dan kolon. Sekum
merupakan bagian proksimal usus besar. Pada hewan non-ruminansia
seperti tikus, proses fermentasi oleh mikrobiota sebagian besar terjadi di
bagian sekum (Blay et al. 1999).
Usus besar (kolon) merupakan bagian yang mempunyai fungsi
biologis yang penting, yaitu untuk absorpsi dan sekresi air, elektrolit, serta
bahan-bahan sisa pencernaan. Saat ini perhatian banyak ditujukan pada
fungsi-fungsi usus besar (kolon) yang berkaitan dengan
nutrisi dan
kesehatan, terutama yang berhubungan dengan kehidupan mikrobiota di
dalamnya (Gibson 2000).
49
Pengaruh perlakuan isolat Lactobacillus dan EPEC K1.1 terhadap
jumlah Lactobacillus pada sekum dan kolon dapat diketahui melalui
penghitungan jumlah Lactobacillus dari isi sekum dan kolon tikus yang
diambil pada H13 setelah intervensi EPEC K1.1 (pada akhir masa
perlakuan). Hasil pengujian pengaruh perlakuan isolat Lactobacillus dan
EPEC K1.1 terhadap jumlah Lactobacillus pada sekum dan kolon dapat
dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Hasil pengujian pengaruh perlakuan isolat Lactobacillus dan
EPEC K1.1 terhadap jumlah Lactobacillus pada sekum, kolon,
dan feses tikus pada H12
Jumlah Lactobacillus (log cfu/g)
Kelompok
tikus
Sekum
Kolon
Feses
Kontrol negatif
8,62
8,56
8,16
Kontrol EPEC
8,65
8,30
8,34
R14
8,43
8,16
8,90
R23
8,40
8,49
8,67
B16
8,64
8,34
8,31
Dari hasil pengujian pengaruh perlakuan isolat Lactobacillus dan
EPEC K1.1 terhadap jumlah Lactobacillus pada sekum dan kolon tikus
tampak bahwa jumlah Lactobacillus pada sekum tikus hampir sama
dengan jumlah Lactobacillus pada kolon tikus (perbedaan tidak
signifikan), begitu pula dengan jumlah Lactobacillus dalam feses tikus
pada H12 (akhir masa pengujian berlangsung). Hal ini juga dikuatkan
dengan
hasil
analisis
ragam
yang menunjukkan
bahwa
jumlah
Lactobacillus dalam sekum, kolon, dan feses tikus masing-masing tidak
berbeda nyata (P>0.05) (Lampiran 8).
Jumlah Lactobacillus dalam sekum, kolon, dan feses baik antara
kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan isolat Lactobacillus juga
tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, meskipun sebagian besar
kelompok memiliki jumlah Lactobacillus yang lebih tinggi di dalam
50
sekum dibandingkan di dalam kolon dan feses. Hal ini juga diperkuat
dengan analisis ragam yang menunjukkan bahwa perlakuan L. rhamnosus
R14, L. rhamnosus R23, L. rhamnosus B16 masing-masing tidak
berpengaruh nyata terhadap jumlah Lactobacillus pada sekum (P>0.05)
(Lampiran 5). Demikian pula dengan jumlah Lactobacillus pada kolon
tikus yang menunjukkan bahwa jumlah Lactobacillus pada kolon hampir
sama untuk semua perlakuan. Hal ini juga diperkuat dengan analisis ragam
yang menunjukkan bahwa kelompok perlakuan L. rhamnosus R14, L.
rhamnosus R23, L. rhamnosus B16 masing-masing tidak berpengaruh
nyata terhadap jumlah Lactobacillus pada kolon (P>0.05) (Lampiran 6).
Jumlah Lactobacillus dalam feses tikus untuk perlakuan L. rhamnosus
R14, L. rhamnosus R23, L. rhamnosus B16 masing-masing juga tidak
berpengaruh nyata (P>0.05) (Lampiran 7).
Lebih tingginya jumlah Lactobacillus dalam sekum dibandingkan
dalam kolon dan feses pada sebagian besar kelompok tikus dapat
disebabkan oleh adanya kolonisasi bakteri lain dalam kolon yang
cenderung sangat tinggi jumlahnya. Jumlah bakteri di dalam kolon dapat
mencapai 106-107 cfu/g dan didominasi oleh Enterococcus dan Bacteroides
(Salminen & Wright 1998).
Lima kelompok utama bakteri yang terdapat pada saluran
pencernaan
manusia
normal
adalah
Lactobacillus,
Enterococcus,
Bacteriodes, Enterobacteriaceae, serta kelompok bakteri Gram positif yang
anaerob dan tidak berspora.
Pada bagian jejunum kelima kelompok
tersebut memiliki jumlah yang relatif sama sekitar 102-103 cfu/g. Jumlah
bakteri pada bagian jejunum relatif rendah karena lokasinya paling dekat
dengan sekresi garam empedu. Pada bagian
ileum mulai terjadi
pertumbuhan bakteri. Jumlah bakteri di dalam ileum sekitar 102 cfu/g
(kelompok
Gram
positif)
sampai
105
cfu/g
(Lactobasillus
dan
Enterococcus) (Salminen & Wright 1998).
Meskipun secara umum perlakuan isolat Lactobacillus tidak
berpengaruh nyata terhadap jumlah Lactobacillus baik pada sekum, kolon,
dan feses tetapi jumlah Lactobacillus dalam sekum, kolon, dan feses masih
51
cenderung tinggi. Masih tingginya jumlah Lactobacillus dalam sekum
kelompok tikus perlakuan Lactobacillus rhamnosus R14, Lactobacillus
rhamnosus R23, dan Lactobacillus rhamnosus B16 pada hari ke-5 setelah
intervensi EPEC K1.1 menunjukkan bahwa ketiga isolat masih dapat
survive di dalam sekum meskipun telah melewati rintangan kondisi asam
lambung dan garam empedu dalam usus. Diantara ketiga isolat
Lactobacillus, isolat Lactobacillus rhamnosus B16 memiliki kemampuan
paling baik bertahan di dalam sekum dibandingkan ketiga isolat
Lactobacillus lainnya. Berdasarkan hasil penelitian Nuraida et al. (2007)
isolat probiotik asal ASI yang digunakan dalam penelitian ini tahan
terhadap pH 2 selama 5 jam dan tahan terhadap garam empedu 0.5%
selama 5 jam.
Toleransi bakteri asam laktat yang cukup tinggi terhadap asam
biasanya juga disebabkan karena bakteri tersebut mampu mempertahankan
pH sitoplasma lebih alkali daripada pH ekstraseluler (Hutkins & Nannen,
1993). Untuk mempertahankan pH sitoplasma supaya lebih basa sel harus
mempunyai barier terhadap aliran proton. Barier ini umumnya adalah
membran sitoplasma. Perbedaan kerentanan membran sitoplasma terhadap
kondisi asam menentukan toleransi bakteri tersebut pada pH rendah.
Menurut Siegumfeldt et al. (2000), pada BAL terjadi perubahan dinamis
pH intraseluler seiring dengan terjadinya penurunan pH ekstraseluler
sehingga tidak terjadi gradien proton yang besar. Bagi BAL gradien proton
yang besar tidak menguntungkan sebab translokasi proton menggunakan
banyak energi. Selain itu gradien proton yang besar mengakibatkan
akumulasi anion, asam organik dalam sitosol yang bersifat toksik bagi sel
tersebut.
Menurut Smet et al. (1995) beberapa Lactobacillus mempunyai
enzim dengan aktivitas untuk menghidrolisa garam empedu (bile salt
hydrolase). Enzim ini mampu mengubah kemampuan fisika-kimia yang
dimiliki oleh garam empedu, sehingga tidak bersifat racun bagi
Lactobacillus. Hal inilah yang dimungkinkan menjadi penyebab beberapa
isolat Lactobacillus tahan terhadap keberadaan garam empedu.
52
6. Pengaruh Perlakuan Isolat Lactobacillus dan EPEC K1.1 terhadap
Jumlah E.coli pada Sekum, Kolon, dan Feses Tikus pada Akhir Masa
Pengujian
Pengaruh perlakuan isolat Lactobacillus dan EPEC K1.1 terhadap
jumlah E. coli pada sekum dan kolon dapat diketahui melalui
penghitungan jumlah Lactobacillus dari isi sekum dan kolon tikus yang
diambil pada hari ke-5 setelah intervensi EPEC K1.1 (pada akhir masa
perlakuan). Hasil pengujian pengaruh perlakuan isolat Lactobacillus dan
EPEC K1.1 terhadap jumlah E. coli pada sekum dan kolon dapat dilihat
pada Tabel 7.
Tabel 7 Hasil pengujian pengaruh perlakuan isolat Lactobacillus dan
EPEC K1.1 terhadap jumlah E. coli pada sekum, kolon, dan
feses tikus pada H12
Jumlah E. coli (log cfu/g)
Kelompok
tikus
Sekum
Kolon
Feses
Kontrol negatif
7,94
7,64
7,90
Kontrol EPEC
7,63
7,72
7,78
R14
7,82
7,45
7,35
R23
7,82
7,67
7,12
B16
7,31
7,52
7,07
Dari hasil pengujian pengaruh perlakuan isolat Lactobacillus dan
EPEC K1.1 terhadap jumlah E. coli pada sekum dapat terlihat bahwa
jumlah E. coli pada kelompok perlakuan isolat Lactobacillus cenderung
lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Hal ini
berarti bahwa ketiga isolat Lactobacillus dapat menurunkan jumlah E. coli
dalam sekum. Akan tetapi, pada kelompok kontrol EPEC justru
menunjukkan jumlah E. coli yang agak rendah dalam sekum. Hal ini
menunjukkan bahwa E. coli tidak cukup survive dalam sekum karena letak
sekum yang sangat dekat dengan bagian atas saluran usus dimana empedu
diseksresikan ke dalam usus. Cairan empedu merupakan campuran dari
53
asam empedu, kolesterol, asam lemak, fosfolipid, pigmen empedu, dan
sejumlah xenobiotik terdetoksifikasi. Sekresi pankreas juga mengandung
serangkaian enzim pencernaan, dimana enzim yang bersifat lipolitik
diaktifkan oleh empedu. Kombinasi tersebut bersifat bakterisidal bagi
mikroorganisme komensal dalam tubuh manusia kecuali bagi beberapa
genus penghuni usus yang tahan terhadap empedu (Hill 1995). Kerentanan
EPEC terhadap empedu dapat disebabkan karena mengalami kebocoran
materi intraseluler yang sangat besar sehingga menyebabkan kematian.
Empedu bersifat sebagai senyawa aktif permukaan sehingga dapat
menembus dan bereaksi dengan sisi membran sitoplasma yang bersifat
lipofilik, menyebabkan perubahan dan kerusakan struktur membran. Sifat
aktif permukaan dari empedu juga mengakibatkan aktifnya enzim lipolitik
yang disekresikan pankreas (Hill 1995). Enzim tersebut juga dapat
bereaksi dengan asam lemak pada membran sitoplasma bakteri
menyebabkan perbedaan permeabilitas dan karakteristiknya sehingga
dapat mempengaruhi katahanannya terhadap garam empedu, mengingat
EPEC merupakan Gram negatif yang memiliki kandungan lipid yang
cukup tinggi, yaitu 11-22%. Sebaliknya Lactobacillus yang merupakan
Gram positif dengan kandungan lipid hanya 1-4% pada dinding selnya
menyebabkan Lactobacillus lebih tahan terhadap garam empedu
dibandingkan dengan EPEC. Hal ini yang juga menjadi salah satu sebab
jumlah Lactobacillus dalam sekum cenderung lebih tinggi dibandingkan
dengan jumlah E. coli.
Jumlah E. coli pada kolon cenderung tinggi pada kelompok kontrol
EPEC. Hal ini dapat disebabkan E. coli cukup mampu mengkolonisasi
kolon karena rendahnya jumlah Lactobacillus dalam kolon sehingga EPEC
dapat tumbuh dengan lebih baik. Akan tetapi, pada kelompok perlakuan
isolat Lactobacillus jumlah E. coli pada kolon cenderung lebih rendah
dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dapat disebabkan karena
tingginya jumlah Lactobacillus dalam kolon sehingga menghambat
pertumbuhan E. coli. Meskipun pada kelompok perlakuan isolat B16
terjadi kenaikan jumlah E. coli pada kolon. Hal ini berarti isolat B16 tidak
54
cukup dapat menurunkan E. coli di dalam kolon meski jumlah E. coli
dalam sekum cukup rendah.
Berdasarkan analisis ragam tampak jumlah E. coli pada sekum
hampir sama untuk semua perlakuan. Analisis ragam menunjukkan bahwa
kelompok perlakuan L. rhamnosus R14, L rhamnosus R23, L rhamnosus
B16 masing-masing tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah E. coli pada
sekum (P>0.05). Berdasarkan analisis ragam untuk jumlah E. coli pada
kolon juga menunjukkan bahwa kelompok perlakuan L. rhamnosus R14,
L. rhamnosus R23, L. rhamnosus B16 masing-masing tidak berpengaruh
nyata terhadap jumlah E. coli pada kolon (P>0.05). Hal ini menunjukkan
bahwa perlakuan isolat Lactobacillus tidak cukup dapat menurunkan E.
coli di dalam kolon. Analisis ragam untuk jumlah E. coli dalam sekum,
kolon, dan feses juga menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan satu
sama lain (P>0.05).
Meskipun secara umum perlakuan isolat Lactobacillus tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap jumlah Lactobacillus dan E.
coli baik pada sekum maupun kolon, tetapi ketiga isolat Lactobacillus
telah menunjukkan kemampuannya dalam mencegah diare, dengan
pencegahan terbaik oleh isolat L. rhamnosus R23. Hasil pengujian
aktivitas antidiare dengan menggunakan tikus percobaan tidak selalu
berkorelasi dengan hasil pengujian aktivitas antibakteri dengan metode
kontak. Pada hasil pengujian aktivitas antibakteri dengan metode kontak
diperoleh hasil bahwa L. rhamnosus R23 memiliki daya penghambatan
paling rendah dibandingkan dengan L. rhamnosus R14 dan L. rhamnosus
B16, meskipun sebenarnya tidak terlalu signifikan. Hal ini dapat
disebabkan karena dalam pengujian aktivitas antibakteri dengan metode
kontak, kondisi selama pengujian tidak sama persis seperti kondisi dalam
saluran pencernaan tikus, dimana selama dalam saluran cerna isolat
Lactobacillus mengalami berbagai rintangan seperti asam lambung dan
garam empedu, serta faktor yang paling penting lagi adalah kemampuan
isolat Lactobacillus untuk menempel pada usus. Semua kondisi ini tidak
55
dialami Lactobacillus selama uji kontak, sehingga adanya perbedaan hasil
memang dapat terjadi diantara kedua metode.
Menurut Qin et al. (2005), probiotik dapat meningkatkan ekspresi
dari transmembrane binding protein, menjaga struktur tight junction,
meningkatkan kolonisasi bakteri usus oleh infeksi abdominal pada tikus,
menurunkan bacterial translocation rate (BTR), dan menjaga fungsi
barrier. Pada kelompok kontrol yang tidak diberikan probiotik, tampak
terjadinya gangguan bakteri usus dan kerusakan dinding mukosa, tetapi
fungsi dinding usus dapat meningkat dengan penggunaan probiotik.
Penempelan bakteri patogen pada permukaan usus tergantung dari
tahap pertama dalam infeksi usus, yang dapat dihambat oleh bloking
reseptor secara fisik oleh penempelan spesifik atau oleh steric hindrance.
Beberapa
probiotik
lactobacilli
dengan
manfaat
kesehatan
telah
menunjukkan penempelan terhadap mukosa usus (Tuomloa et al. 1999).
Penempelan pada mukosa epithelium dapat menghambat pengikatan
organism patogen secara kompetitif (Mack et al. 1999).
Michail dan Abernathy (2002) menyatakan bahwa Lactobacillus
ditemukan dapat menghambat pengikatan EPEC pada monolayer epitelial
usus selama Lactobacillus diberikan pada inang sebelum infeksi EPEC
(efek pencegahan). Efek proteksi dari Lactobacillus plantarum dalam
mengurangi perubahan EPEC-induced secretory dapat disebabkan oleh
penghambatan pengikatan EPEC atau mekanisme kompetitif.
Lactobacilli dan bifidobacteria asal ASI yang berhasil diisolasi oleh
Nuraida et al. (2007) secara in vitro mampu menghambat beberapa bakteri
patogen seperti E.coli, Bacillus cereus, Staphilococcus aureus dan
Salmonella typhimurium. Ketiga isolat Lactobacilus yang digunakan
dalam pengujian memiliki daya penghambatan yang cukup baik terhadap
E. coli dengan menggunakan metode difusi agar. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa isolat L. rhamnosus R14 menghasilkan diameter
penghambatan sebesar 2,8 mm, L. rhamnosus R23 menghasilkan diameter
penghambatan sebesar 3,6 mm, dan L. rhamnosus B16 menghasilkan
diameter penghambatan sebesar 4,1 mm.
56
7. Pengaruh Perlakuan Isolat Lactobacillus dan EPEC K1.1 terhadap
Kondisi Mikrobiota Kolon Tikus
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kolon (usus besar)
merupakan
ekosistem
yang
sarat
dengan
kolonisasi
mikrobiota
(mengandung 1012 bakteri/gram isi kolon), sehingga usus besar menjadi
bagian tubuh dengan aktivitas metabolik paling tinggi. Diperkirakan 95%
dari semua sel hidup dalam tubuh manusia adalah bakteri usus besar
(Gibson 2000). Kolon mempunyai ekosistem mikrobiota yang sangat
kompleks, didiami sekurang-kurangnya 50 genera bakteri, yang terdiri atas
lebih 400 spesies bakteri yang berbeda. Oleh karena itu, pada akhir
pengujian aktivitas antidiare ini dilakukan pengamatan terhadap kondisi
mikrobiota usus besar (kolon) tikus dengan SEM (Scanning Electron
Microscopy). Pengamatan dilakukan terhadap satu ekor tikus pada tiap
kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol EPEC, perlakuan R14,
perlakuan R23, dan perlakuan B16. Hal ini dimaksudkan untuk
mengetahui kondisi mikrobiota kolon tikus dan membandingkan pada tiap
kelompok. Hasil foto SEM juga dibandingkan dengan pewarnaan Gram
yang juga dilakukan terhadap isolat Lactobacillus rhamnosus R14,
Lactobacillus rhamnosus R23, Lactobacillus rhamnosus B16, dan juga
isolat EPEC K1.1.
Scanning
Electron
Microscopy
(SEM)
digunakan
untuk
memvisualisasikan kondisi habitat mikrobiota pada permukaan epitelial
saluran pencernaan tikus. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan
terhadap kolon tikus. Hal ini dianggap cukup mewakili terhadap kondisi
mikrobiota kolon tikus pada akhir masa pengujian. Hasil pengamatan
kolon tikus dengan SEM dapat dilihat pada Gambar 15 dan dibandingkan
dengan hasil pewarnaan Gram pada EPEC K1.1, Lactobacillus rhamnosus
R14, Lactobacillus rhamnosus R23, dan Lactobacillus rhamnosus B16
pada Gambar 16.
Pada gambar A yaitu kolon dari tikus kelompok kontrol negatif
tampak bakteri yang berbentuk batang dan diduga kuat sebagai
Lactobacillus sebagai mikrobiota yang secara alami terdapat dalam usus
57
mengingat bahwa kelompok kontrol tersebut tidak diberi perlakuan apapun
dan hanya diberikan larutan fisiologis. Lactobacillus yang tampak pada
gambar tersebut sangat sedikit.
Pada Gambar B yang merupakan kolon tikus kelompok kontrol
EPEC justru tidak tampak adanya bakteri yang berbentuk batang. Hal ini
berkorelasi dengan banyaknya jumlah tikus yang diare pada kelompok
kontrol EPEC karena rendahnya kolonisasi Lactobacillus pada kolon
sehingga tidak dapat menekan pertumbuhan E. coli yang menyebabkan
diare.
A
B
D
C
E
Keterangan: bagian gambar yang berada dalam lingkaran putih merupakan bakteri
yang diduga sebagai Lactobacillus
Gambar 15
Kondisi mikrobiota kolon tikus pada akhir masa pengujian aktivitas
antidiare dengan Scanning Electron Microscope Model –JSM 5310
LV menggunakan perbesaran 10000x. (A) kontrol negatif, (B)
kontrol EPEC, (C) perlakuan L. rhamnosus R14, (D) perlakuan
L.rhamnosus R23, dan (E) perlakuan L.rhamnosus B16.
Pada Gambar C yaitu kolon tikus dari kelompok perlakuan isolat
Lactobacillus rhamnosus R14 tampak kolonisasi usus oleh beberapa
bakteri berbentuk batang yang diduga kuat merupakan Lactobacillus. Pada
58
gambar tersebut tampak bakteri dengan jumlah yang lebih banyak
dibandingkan dengan Gambar A dan B. Hal ini membuktikan bahwa tikus
dari kelompok tersebut didominasi oleh isolat Lactobacillus mengingat
tikus dari kelompok tersebut diintervensi dengan isolat Lactobacillus
rhamnosus R14. Guna memperkuat dugaan ini dapat dilakukan
pembandingan dengan hasil pewarnaan Gram terhadap isolat Lactobacillus
rhamnosus R14. Pada hasil pewarnaan Gram tampak bahwa isolat
Lactobacillus rhamnosus R14 merupakan isolat bakteri berbentuk batang
pendek menyerupai bakteri yang tampak dalam foto hasil SEM pada
Gambar C.
EPEC K1.1
Lactobacillus rhamnosus R14
Lactobacillus rhamnosus R23
Lactobacillus rhamnosus B16
Gambar 16
Hasil pengamatan mikroskop dengan perbesaran 1000x dari
pewarnaan Gram beberapa isolat yang digunakan dalam
pengujian aktivitas antidiare
Seperti halnya Gambar C, pada Gambar D yaitu gambar kolon tikus
dari kelompok perlakuan isolat Lactobacillus rhamnosus R23 juga tampak
kolonisasi permukaan kolon tikus oleh beberapa bakteri berbentuk batang
yang diduga kuat sebagai Lactobacillus. Akan tetapi, pada Gambar D
59
Lactobacillus yang tampak lebih banyak dengan membentuk gerombolan
pada permukaan usus. Hal ini dapat membuktikan bahwa kolon tikus yang
diintervensi
isolat
Lactobacillus
rhamnosus
R23
lebih
banyak
mengandung Lactobacillus. Guna memperkuat dugaan ini dapat dilakukan
membandingan
dengan
hasil
pewarnaan
Gram
terhadap
isolat
Lactobacillus rhamnosus R23. Pada hasil pewarnaan Gram tampak bahwa
isolat Lactobacillus rhamnosus R23 merupakan isolat bakteri berbentuk
batang pendek menyerupai bakteri yang tampak dalam foto hasil SEM
pada gambar D. Hal ini berkorelasi dengan kemampuan L. rhamnosus R23
yang sangat baik dalam mencegah diare.
Pada gambar E yaitu gambar kolon tikus dari kelompok perlakuan
isolat Lactobacillus rhamnosus B16 tampak adanya beberapa bakteri yang
berbentuk batang cukup panjang dan beberapa lagi bakteri berbentuk
batang pendek. Berdasarkan pembandingan dengan hasil pewarnaan Gram,
bakteri yang berbentuk batang panjang tersebut menyerupai dengan EPEC
K1.1 seperti terlihat pada Gambar 16. Akan tetapi, hasil pewarnaan Gram
pada isolat B16 juga menunjukkan bentuk bakteri yang cukup panjang jika
dibandingkan dengan kedua isolat Lactobacillus lainnya. Sebagai
perbandingan dapat dilihat Gambar 17 yang merupakan hasil pewarnaan
Gram campuran antara isolat B16 dengan EPEC K1.1.
Gambar 17 Hasil pewarnaan Gram isolat EPEC K1.1 dan Lactobacillus
rhamnosus B16 dengan perbesaran 1000x
60
Menurut Buchanan dan Gibbons (1974), E. coli merupakan bakteri
yang berbentuk batang, berukuran lebar 1.1-1.5 mikron dan panjang 2.06.0 mikron, terdapat dalam bentuk berpasangan atau tunggal, bersifat motil
dengan flagela peritrikat atau non motil dan seringkali flagela ini tampak
dalam
pengamatan
menggunakan
Scanning
Electron
Microscope.
Sedangkan pada gambar hasil SEM tidak tampak adanya flagela, sehingga
dapat dipastikan bahwa bakteri tersebut merupakan Lactobacillus batang
panjang dan tidak menutup kemungkinan bahwa bakteri tersebut adalah
Lactobacillus rhamnosus B16.
Download