BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kabupaten Bantul merupakan salah satu kota tujuan wisata yang terdapat di Provinsi Yogyakarta. Sebagai salah satu tujuan wisata Kabupaten Bantul menawarkan berbagai keindahan alam dan budaya mulai dari pantai Parangtritis atau tempat kerajinan Kasongan menjadikan Bantul sebagai salah satu destinasi yang sangat diminati wisatawan. Sangat wajar jika setiap tahunnya terjadi peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung, Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul jumlah wisatawan lokal yang berkunjung ke Bantul pada tahun 2012 mencapai 2,3 juta orang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang mencapai 1,5 juta pengunjung. Peningkatan yang terjadi setiap tahunnya ini seharusnya menjadi potensi yang sangat besar bagi UKM ataupun Industri – Industri produk makanan yang berada dibantul karena biasanya para wisatawan tersebut selain menikmati keindahan alam dan budaya, para wisatawan biasanya membeli makanan khas dari lokasi wisata yang mereka kunjungi. Geplak adalah cemilan khas yang berasal dari Kabupaten Bantul. Geplak ini terbuat dari tepung, gula dan parutan kelapa muda. Bentuknya bulat kecil-kecil hasil kepalangan tangan dengan warna yang bermacammacam sehingga menambah daya tarik dari produk yang dulunya menjadi makanan subtitusi pengganti beras di kawasan Bantul. Keberadaan geplak 1 2 sendiri sudah dikenal luas oleh para wisatawan sebagai salah satu makanan oleh – oleh khas jogja. Geplak yang menjadi salah satu makanan khas yang berasal dari Kabupaten Bantul memiliki karakteristik sebagai produk “musiman” yakni tingkat permintaan produk akan tinggi pada saat – saat tertentu seperti hari – hari libur sekolah dan hari besar keagamaan, sehingga para produsen geplak harus cermat dalam melakukan strategi baik dalam hal distribusi persedian, kapasitas produksi, serta sistem pemasaran yang digunakan. Sebagai contoh untuk distribusi persediaan, produsen harus sudah merencanakan terkait pengadaan bahan baku untuk memenuhi tingkat permintaan yang meningkat, karena biasanya harga bahan baku tinggi dan terjadinya kelangkaan. Hal semacam ini harus sudah mampu diantisipasi oleh produsen geplak agar mampu memenuhi permintaan konsumen serta memiliki keunggulan komparatif terhadap para pesaing. Agar mampu bersaing maka suatu industri dituntut tidak hanya mengetahui karakteristik produk yang ditawarkan,namun juga harus selalu mampu mengetahui keinginan konsumen karena keinginan konsumen tersebut selalu berubah – ubah dalam setiap waktunya. Kemampuan untuk selalu mengikuti keinginan konsumen itulah yang nantinya dapat menetukan tingkat penjualan dan eksistensi suatu industri. Inovasi merupakan salah satu solusi untuk menanggapi kebutuhan dan keinginan konsumen yang selalu berubah – ubah. Inovasi yang dapat dilakukan diantaranya berupa inovasi dalam hal pelayanan, inovasi produk, dan inovasi mutu dari produk yang sudah 3 diproduksi. Semakin ketatnya persaingan yang ditunjukkan dengan peningkatan jumlah produsen geplak mengharuskan masing – masing industri geplak melakukan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen agar tetap menjaga eksistensinya di pasaran. Tidak sedikit produsen – produsen makanan yang harus menutup usahanya dikarenakan tidak mampu menutupi biaya produksi yang disebabkan oleh menurunnya jumlah penjualan dan tidak mampu memenuhi keinginan konsumen yang berubah – ubah dari waktu ke waktu. Industri Geplak Ibu Lusi merupakan salah satu produsen geplak yang eksistensinya masih dapat dilihat hingga saat ini walaupun semakin hari jumlah penjualan semakin menurun hingga 50%. Penurunan jumlah penjualan ini salah satu penyebabnya adalah kurang mampunya industri ini menanggapi keinginan konsumen yang berubah – ubah. Menurut keterangan yang disampaikan oleh pemiliknya, dahulu jumlah penjualan geplak sangat tinggi dan menjadi salah satu yang digemari sebagai makanan oleh – oleh bagi penduduk sekitar ataupun para wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Bantul, namun seiring berjalannya waktu Industri Geplak Ibu Lusi mengalami penurunan dalam jumlah penjualan, menurut penuturan pemiliknya, kurangnya kemampuan dalam pemasaran menjadi kendala utama yang kini dialami oleh industri tersebut ditambah semakin baiknya inovasi yang dilakukan oleh para pesaing menjadikan Industri Geplak Ibu Lusi semakin terpuruk. Dari segi kapasitas produksi berdasarkan penuturan Ibu Lusi, Industrinya mampu mengolah hingga menghasilkan 1 kwintal geplak selama 1 4 hari, Namun saat ini Ibu Lusi hanya memproduksi 40-60 kg saja karena tidak mau mengambil resiko tidak laku. Produk yang dihasilkan tersebut biasanya habis terjual dalam waktu 3-7 hari sehingga tingkat penjualan selama satu minggu berkisar 40-60kg. Jika dilihat berdasarkan kemampuan Kapasitas produksi perhari Ibu Lusi bisa dibilang setara dengan Industri Geplak Mbok Tumpuk yang merupakan salah satu pesaing utama, namun dari segi penjualan produk Mbok Tumpuk dapat terjual habis maksimal 3 hari atau tingkat penjualan berkisar 2-3 kwintal perminggu. Pemilihan Industri Mbok Tumpuk sebagai industri pembanding pada penelitian ini yang pertama adalah berdasarkan kapasitas produksi perhari yang lebih besar yakni mencapai 1 Kwintal/hari dan yang kedua adalah berdasarkan penuturan pemilik Geplak Ibu Lusi, Geplak Mbok Tumpuk merupakan pesaing utama. Industri geplak Ibu Lusi belum menerapkan strategi pemasaran yang khusus, baik dari produk ataupun penjualan. Menurut penuturan pemilik, industrinya hanya sekedar memproduksi geplak atau makanan lainnya dan yang penting laku terjual walaupun dalam penjualan tidak mengalami peningkatan. Hal ini berbeda dengan industri pesaing yakni Industri Geplak Mbok Tumpuk yang memiliki strategi pendekatan terhadap konsumen, yakni dengan cara menjaga harga tetap stabil. Menurut pengelola Mbok Tumpuk ada beberapa cara untuk menjaga loyalitas konsumen yakni dengan cara menjaga kestabilan harga geplak. Industri Geplak Mbok Tumpuk juga sudah memiliki situs sendiri yang sedikit banyak dapat membantu komunikasi dengan konsumen. 5 Kemampuan produksi yang besar serta peluang pengembangan usaha yang dimiliki Industri Geplak Ibu Lusi pada kenyataannya tidak dapat dimanfaatkan oleh Industri Geplak Ibu Lusi secara maksimal terlihat tingkat penjualan yang semakin hari semakin menurun, oleh karena itu dilakukan penilitian yang dimaksud untuk mengetahui penyebab timbulnya penurunan penjualan berdasarkan analisisa kepuasan konsumen dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis dan dikombinasikan analisa Benchmarking terhadap pesaing, sehingga output yang diharapkan nantinya dapat membantu Industri Geplak Ibu Lusi mempertahankan eksistensi dan meningkatkan daya saing terhadap kompetitornya. B. Perumusan Masalah Masalah yang kerap dihadapi oleh perusahaan adalah kemampuan untuk menjaga loyalitas konsumen dan upaya bersaing dengan kompetitor dikarenakan semakin banyak dan semakin berkembangnya industri geplak di Bantul. Kurang mampunya menjaga loyalitas konsumen yang mengakibatkan Penurunan penjualan sudah dialami oleh Industri Ibu Lusi sejak gempa pada tahun 2006 yang melanda Kota Bantul berdampak pada kondisi lokasi produksi sehingga industri Geplak Ibu Lusi harus menutup industrinya selama beberapa bulan, hal ini menjadi salah satu pemicu hilangnya pelanggan. Hal tersebut ditambah parah dengan kurang mampunya produk Geplak yang dihasilkan dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen pasca Gempa 6 tersebut, terlihat pada penurunan volume penjualan sejak tahun 2006 hingga saat ini mengakibatkan industri sangat sulit bersaing dengan para kompetitor – kompetitornya. Sebelum Tahun 2006 Industri Geplak Ibu Lusi mampu menjual 1 kwintal dalam waktu satu minggu, namun kini hanya mampu menjual 40 - 60Kg Geplak. Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi bagaimana Industri Geplak Ibu lusi dapat berkembang dan memiliki daya saing dengan melakukan analisis terhadap atribut - atribut Kepuasan konsumen, kinerja industri dan kinerja industri pesaing, serta strategi pemasaran yang tepat. C. Batasan Penelitian 1. Penelitian dilakukan untuk menganalisa Kepuasan Konsumen terhadap kualitas Geplak dan bagaimana upaya industri untuk memenuhi Kepuasan tersebut. 2. Objek yang diteliti adalah produk Geplak yang di produksi oleh Industri Geplak Ibu Lusi. 3. Penelitian dilakukan sebelum dan setelah lebaran. 4. Responden penelitian ini adalah konsumen yang sedang membeli geplak Bu Lusi dan Konsumen yang pernah mengkonsumsi geplak Ibu Lusi serta minimal pernah sekali mengkonsumsi geplak Mbok Tumpuk. 5. Industri pembanding sejenis dipilih berdasarkan tingkat produksi, masukan dari konsumen dan keterangan – keterangan dari pihak Ibu Lusi. 7 D. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui kinerja produk Industri Geplak Bu Lusi yang dibandingkan dengan pesaingnya. 2. Mengetahui prioritas perbaikan kinerja produk atau layanan yang harus dilakukan Industri Ibu Lusi menggunakan metode Potential Gain Value Customer (PGCV). 3. Menyusun usulan perbaikan kinerja produk atau layanan untuk Industri Geplak Ibu Lusi. 4. Mengetaui segmen pasar, target pasar dan posisi produk. E. Manfaat Penelitian 1. Bagi industri penelitian ini memberikan gambaran informasi tingkat kepuasan konsumen saat ini serta kinerja industri yang dibandingkan dengan kinerja industri pesaing. 2. Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan bagi pihak industri dalam menentukan prioritas perbaikan teknis yang harus segera dilakukan demi memenuhi keinginan konsumen. 3. Bagi peneliti/mahasiswa penelitian ini dapat dijadikan sebagai media belajar, menambah pengetahuan dan pemahaman, serta memperluas wawasan dari teori yang diperoleh dikuliah dengan penerapannya dalam permasalahan nyata.