PENGARUH SUPLEMEN CAMPURAN JAMUR

advertisement
PENGARUH SUPLEMEN CAMPURAN JAMUR LINGZHI
(Ganoderma lucidum), KROMIUM ORGANIK, DAN
KEDELAI SANGRAI TERHADAP KANDUNGAN
KOLESTEROL DAN KROMIUM DALAM
SERUM DAN TELUR AYAM
SKRIPSI
MUHAMAD LUKMANNULHAKIM
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
RINGKASAN
MUHAMAD LUKMANNULHAKIM. D24062923. 2010. Pengaruh Suplemen
Campuran Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum), Kromium Organik, dan
Kedelai Sangrai terhadap Kandungan Kolesterol dan Kromium dalam Serum
dan Telur Ayam. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Dr. Ir. Dwierra Evvyernie Amirroenas, MS, M.Sc
Pembimbing Anggota : Ir. Dwi Margi Suci, MS
Jamur lingzhi merupakan fungi yang dapat mendegradasi lignin. Jamur
lingzhi mempunyai komponen yang dapat menurunkan kolesterol dalam darah
seperti adenosin, dan terpenoid. Kacang kedelai mempunyai kadar asam linoleat
yang tinggi. Asam linoleat berperan dalam pertumbuhan, pembentukan sel,
pengaturan metabolisme kolesterol, dan membentuk arakhidonat. Asam linoleat tidak
dapat disintesis sendiri didalam tubuh, oleh karena itu harus diperoleh dari makanan.
Kromium merupakan mineral mikro esensial yang berperan dalam metabolisme
glukosa. Penambahan Cr ragi dan Cr pikolinat dapat menurunkan kadar kolesterol
dalam darah ayam broiler. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh
pemberian pakan suplemen campuran dari jamur lingzhi, kromium organik, dan
kedelai sangrai pada telur dan serum ayam petelur.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan 4 perlakuan ransum dan 3 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 10 ekor
ayam petelur. Perlakuan ransum diantaranya, P1= Ransum basal (kontrol), P2= (P1 +
Lingzhi 5g/50kg BB + Cr organik 3 ppm + Kedelai sangrai 1% dari lemak ransum ),
P3= (P1 + Lingzhi 5g/50kg BB + Kedelai sangrai 1% dari lemak ransum), P4= (P1 +
Cr organik 3 ppm+ Kedelai sangrai 1% dari lemak ransum). Peubah yang diamati
dalam penelitian ini adalah kandungan kolesterol total, LDL dan HDL dalam serum,
kromium dalam telur dan serum, kolesterol dan CLA dalam telur. Uji statistik yang
digunakan adalah ANOVA.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian suplemen campuran dari
jamur lingzhi, Cr organik, dan kedelai sangrai dalam ransum tidak menunjukkan
perbedaan terhadap kandungan kolesterol, LDL, maupun HDL dalam serum darah
meskipun terdapat indikasi penurunannya. Kadar kolesterol serum darah ayam yang
didapat berkisar antara 112,65-129,92 mg/100 ml. Pada penambahan jamur lingzhi
terlihat adanya indikasi penurunan kandungan kolesterol dalam serum. Terdapat
indikasi penurunan kadar LDL dan peningkatan kadar HDL pada penambahan
kromium organik. Pada kandungan kromium dalam telur terlihat adanya indikasi
peningkatan setelah pemberian suplemen kromium organik. Peningkatan yang paling
tinggi terjadi pada perlakuan 2 yaitu sebesar 21,4%. Pada kandungan CLA dalam
telur menunjukkan adanya indikasi peningkatan pada setiap penambahan suplemen
jika dibandingkan dengan kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian
suplemen campuran jamur lingzhi, kedelai sangrai dan Cr organik pada pakan belum
mampu menurunkan kolesterol dalam telur. Pada kandungan kolesterol dalam serum
terlihat adanya indikasi penurunan pada penambahan suplemen lingzhi. Pada
penambahan kromium organik terlihat adanya indikasi penurunan kadar LDL dan
peningkatan kadar HDL. Pada telur terjadi peningkatan kandungan kromium dan
CLA pada penambahan suplemen kromium dan kedelai sangrai.
Kata-kata kunci : Lingzhi, Cr organik, kedelai sangrai, ayam petelur, kolesterol
ABSTRACT
Effect of Mixed Supplements of Lingzhi (Ganoderma lucidum), Organic
Chromium, and Roast Soybean to Content Cholesterol and
Chromium in Serum and Egg Laying Hens.
Lukmannulhakim M., D. E. Amirroenas, and D. M. Suci
The aim of this research was to study effect of supplement containing lingzhi
(Ganoderma lucidum), organic chromium and roast soybean on hens and her egg.
Hundred and twenty laying hens were used under Completely randomized design
with four treatments of supplement and three replications of hens which consisted of
10 hens for each replication. The treatments of supplement were: P1 Control (basic
ration), P2 (control + Lingzhi 5 g / 50kg body weight + organic Cr 3 ppm + roast
soybean 1% fat diet), P3 (control + Lingzhi 5 g / 50kg body weight + roast soybean
1% fat diet), P4(control + Cr organic rations 3 ppm + roast soybean 1% fat diet).
Cholesterol, chromium and CLA content in the serum and egg were evaluated.
Analysis of variance (ANOVA) and Duncan test and also descriptive analysis were
applied in this research. The result showed that the contents of cholesterol, LDL and
HDL in the serum of hens and egg were not influenced by the supplement. The
supplement containing lingzhi showed that blood cholesterol seems to decrease, but
egg cholesterol tend to increase. The content of chromium and CLA in the egg were
increased by addition of chromium and CLA in the ration.
Keywords: Lingzhi, organic chromium, roast soybean, hens, cholesterol.
PENGARUH SUPLEMEN CAMPURAN JAMUR LINGZHI
(Ganoderma lucidum), KROMIUM ORGANIK, DAN
KEDELAI SANGRAI TERHADAP KANDUNGAN
KOLESTEROL DAN KROMIUM DALAM
SERUM DAN TELUR AYAM
MUHAMAD LUKMANNULHAKIM
D24062923
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
Judul
: Pengaruh Suplemen Campuran Jamur Lingzhi (Ganoderma
lucidum), Kromium Organik, dan Kedelai Sangrai terhadap
Kandungan Kolesterol dan Kromium dalam Serum dan Telur
Ayam.
Nama
: Muhamad Lukmannulhakim
NIM
: D24062923
Menyetujui,
Pembimbing Utama,
Pembimbing Anggota,
(Dr. Ir. Dwierra Evvyernie A., MS., M.Sc)
NIP. 19610602 198603 2 001
(Ir. Dwi Margi Suci, MS)
NIP. 19610905 198703 2 001
Mengetahui:
Ketua Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
(Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr)
NIP: 19670506 199103 1 001
Tanggal Ujian: 26 Oktober 2010
Tanggal Lulus:
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 02 Agustus 1989 di Bogor, Jawa Barat.
Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Achmadi dan
Ibu Laswati.
Penulis mengawali pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Negeri Cihideung
Ilir 05 pada tahun 1994 dan diselesaikan pada tahun 2000. Pendidikan lanjutan
pertama dimulai oleh penulis pada tahun 2000 dan diselesaikan pada tahun 2003 di
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri (SLTPN) 1 Ciampea. Penulis kemudian
melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) KORNITA pada tahun 2003 dan
diselesaikan pada tahun 2006.
Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor pada tahun 2006
melalui program USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dan diterima di Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan pada tahun 2007. Penulis
aktif dalam HIMASITER (Himpunan Mahasiswa Nutrisi Ternak) periode 2008-2009
sebagai anggota Biro Khusus Kewirausahaan (BKK) dan UKM Bulutangkis sebagai
anggota pada periode 2007-2008. Penulis pernah mengikuti program magang di Tri’s
Ranch-Tapos, Ciawi, Bogor.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’aalamin. Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT atas segala karunia dan rahmatnya sehingga penelitian dan penulisan
skripsi ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi
Besar Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir
Zaman.
Skripsi ini berjudul ” Pengaruh suplemen campuran jamur lingzhi
(Ganoderma lucidum), kromium organik, dan kedelai sangrai terhadap kandungan
kolesterol dan kromium dalam serum dan telur ayam” sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Skripsi ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan mulai bulan
Juni-September 2009 bertempat di kandang C Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
Bogor.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut
berperan sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Semoga skripsi ini
bermanfaat bagi pembaca.
Bogor, Juli 2010
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN…………………………………………………………….
ii
ABSTRACT………………………………………………………………
iii
LEMBAR PERNYATAAN………………………………………………
iv
LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………
v
RIWAYAT HIDUP……………………………………………………….
vi
KATA PENGANTAR…………………………………………………….
vii
DAFTAR ISI………………………………………………………………
viii
DAFTAR TABEL…………………………………………………………
x
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………...
xi
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………….......
xii
PENDAHULUAN…………………………………………………...……
1
Latar Belakang………………………………………..…………..
Tujuan……………………………………………………..……...
1
2
TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………..…...
3
Ayam Ras Petelur...........................................................................
Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum)............................................
Kromium.........................................................................................
Kromium organik............................................................................
Kedelai Sangrai sebagai sumber CLA (Conjugated Linoleic Acid)
Kolesterol........................................................................................
Absorsi dan Ekskresi Kolesterol.....................................................
Deposisi Kolesterol dalam Telur………………………………….
3
3
6
8
9
10
11
11
MATERI DAN METODE..........................................................................
13
Waktu dan Tempat..........................................................................
Materi..............................................................................................
Ternak..................................................................................
Kandang dan Peralatan........................................................
Ransum................................................................................
Suplemen.............................................................................
Vaksin..................................................................................
Prosedur...........................................................................................
13
13
13
13
13
15
16
16
Jadwal Pemberian Pakan.....................................................
Pencampuran Suplemen kedalam Pakan.............................
Rancangan Percobaan..........................................................
Metode............................................................................................
16
16
16
17
Kolesterol pada Serum Darah .............................................
Kromium pada Telur dan Serum Darah...............................
17
19
Kolesterol dan Asam Lemak pada Telur..............................
19
HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................................
21
Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Kolesterol, LDL dan
HDL dalam Serum dan Kolesterol dalam Kuning Telur...................
Kolesterol Serum dan Telur...............................................................
HDL..................................................................................................
LDL..................................................................................................
Pengaruh Pemberian Suplemen pada Kandungan Kromium............
Pengaruh Pemberian Suplemen pada CLA dalam Telur...................
21
21
24
25
26
28
KESIMPULAN DAN SARAN....................................................................
30
Kesimpulan.......................................................................................
Saran.................................................................................................
30
30
UCAPAN TERIMA KASIH........................................................................
31
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................
32
LAMPIRAN..................................................................................................
35
DAFTAR TABEL
Nomor
Halaman
1. Komposisi Pakan dalam Ransum……………………………….
13
2. Komposisi Zat Nutrisi dalam Ransum……………………….....
13
3. Kebutuhan Zat Nutrisi Ayam Petelur…………………………...
14
4. Kandungan Kolesterol, LDL, dan HDL Serum dan Telur Ayam.
21
5. Kandungan Kromium pada Telur dan Serum...............................
26
6. Kandungan CLA dalam telur........................................................
29
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Halaman
1. Jamur Lingzhi (Ganoderma Lucidum)……….…………….......
4
2. Grafik Kandungan Kolesterol dalam Serum……………….…...
23
3. Grafik Kandungan Kolesterol dalam Telur………………...…...
23
4. Grafik Kandungan Kromium dalam Serum ….…………….…..
27
5. Grafik Kandungan Kromium dalam Telur ….…………..….…..
27
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Halaman
1.
ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Kolesterol
Total Serum Darah.........................................................................
2.
ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan LDL Serum
Darah……………………………………………………………..
3.
ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan HDL Serum
darah...............................................................................................
36
36
36
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Unggas merupakan salah satu ternak yang umumnya banyak dipelihara di
masyarakat karena harganya yang relatif murah dan mudah penanganannya. Unggas
merupakan ternak sumber protein hewani, sehingga banyak penduduk Indonesia
mengkonsumsi protein hewani yang berasal dari unggas. Oleh karena tingginya
konsumsi masyarakat akan telur dan daging ayam, maka perlu diperhatikan kualitas
dari produk tersebut. Pengadaan telur dan daging yang sehat dipengaruhi oleh
keadaan induk yang sehat pula, oleh karena itu untuk menjaga berlangsungnya
metabolisme dan produksi yang baik dan stabil diperlukan tambahan suplemen.
Salah satu kendala yang sering dihadapi konsumen saat mengkonsumsi
daging maupun telur ayam adalah kadar kolesterolnya. Kadar kolesterol yang
berlebihan di dalam darah dapat menyebabkan penyakit jantung dan penyumbatan
pembuluh darah yang dapat menyebabkan stroke. Kolesterol itu sendiri merupakan
produk metabolisme di dalam tubuh hewan.
Beberapa jenis jamur tertentu mengandung senyawa-senyawa aktif yang
berfungsi sebagai suplemen kesehatan bagi tubuh. Salah satu yang terkenal adalah
Ganoderma lucidum (Lingzhi). Ganoderma lucidum dikenal dengan nama lingzhi
merupakan salah satu jamur dalam kelas Basidiomycetes yang mempunyai
kemampuan untuk mendegradasi lignin. Jamur lingzhi mempunyai beberapa
kandungan senyawa aktif yang mempunyai efek positif terhadap kesehatan, seperti
adenosin, yang dapat menurunkan kolesterol dan lemak. Selain adenosin senyawa
aktif lain yang terkandung dalam jamur lingzhi adalah polisakarida, terpenoid, asam
ganoderik, germanium, protein, dan serat.
Kacang kedelai merupakan bahan pakan yang mempunyai kandungan asam
linoleat yang cukup tinggi. Asam linoleat adalah asam lemak tidak jenuh berantai
banyak yang tergolong asam lemak esensial. Asam linoleat penting untuk tubuh dan
tidak dapat disintesis sendiri dalam tubuh, oleh karena itu harus diperoleh dari
makanan. CLA (conjugated linoleac acid) adalah isomer dari asam linoleat, atau
dengan kata lain CLA adalah bentuk lain dari asam linoleat. Meskipun CLA
termasuk kedalam komponen lemak, tetapi CLA dapat mengurangi lemak tubuh dan
meningkatkan massa otot.
Kromium merupakan salah satu mineral mikro esensial bagi ternak. Kromium
penting dalam metabolisme glukosa, protein, dan lemak. Selain itu kromium juga
berperan sebagai kofaktor melalui peningkatan respon reseptor insulin terhadap
hormon vitul insulin. Kromium secara biologis aktif sebagai komponen dari GTF
(Glucose Tolerance Factor) yang berfungsi untuk meningkatkan penggunaan
glukosa dan insulin.
Kromium, jamur lingzhi, dan kedelai sangrai mempunyai fungsi yang cukup
baik terhadap kesehatan, maka dari itu dalam penelitian ini digunakan bahan-bahan
tersebut, dengan harapan dapat menghasilkan produk baik telur maupun daging ayam
yang tidak hanya rendah kolesterol, tetapi juga mengandung mineral kromium yang
tinggi dan juga mengandung asam lemak esensial yang dibutuhkan untuk
meningkatkan kesehatan manusia.
Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pemberian pakan
suplemen campuran dari Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum), kromium organik,
dan kedelai sangrai pada telur dan serum ayam petelur.
TINJAUAN PUSTAKA
Ayam Ras Petelur
Terdapat 2 jenis ayam ras petelur, diantaranya adalah ayam petelur ringan dan
ayam petelur medium. Pada penelitian ini digunakan ayam petelur medium. Bobot
tubuh ayam ini masih berada di antara berat ayam petelur ringan dan ayam broiler.
Oleh karena itu ayam ini disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak
kurus, tetapi juga tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat
menghasilkan daging yang banyak. Ayam ini disebut juga dengan ayam tipe
dwiguna. Karena warnanya yang cokelat, maka ayam ini disebut dengan ayam
petelur cokelat yang umumnya mempunyai warna bulu yang cokelat juga. Dipasaran
orang mengatakan telur cokelat lebih disukai dari pada telur putih, kalau dilihat dari
warna kulitnya memang lebih menarik yang cokelat daripada yang putih, tapi dari
segi gizi dan rasa relatif sama. Satu hal yang berbeda adalah harganya dipasaran,
harga telur cokelat lebih mahal daripada telur putih. Hal ini dikarenakan telur cokelat
lebih berat daripada telur putih dan produksi telur cokelat lebih sedikit daripada telur
putih. Selain itu daging dari ayam petelur medium akan lebih laku dijual sebagai
ayam pedaging dengan rasa yang enak (www.disnak.jabarprov.go.id).
Ayam ras petelur tipe medium mulai bertelur pada umur 20 – 22 minggu
dengan lama produksi 15 bulan (Scott et al., 1982). Ayam yang bertelur terlalu cepat,
akan menghasilkan telur yang berukuran kecil dan berlangsung lama. Factor yang
menentukan dewasa kelamin adalah pemberian cahaya tambahan, kualitas dan
kuantitas ransum yang diberikan. Scoot et al., (1982) menyatakan bahwa puncak
produksi ayam petelur tipe medium pada umur 28 – 30 minggu dan mengalami
penurunan dengan perlahan sampai tiba saatnya untuk diafkir, kurng lebih pada umur
1,5 tahun atau 12 bulan produksi.
Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum)
Jamur Ganoderma lucidium termasuk kingdom fungi, klas Basidiomycetes,
subklas Holobasidiomycetes, seri Hymenomycetes, ordo Agaricales, famili
Polyporacae, genus Ganoderma, dan spesies Ganoderma lucidum. Nama
binomialnya adalah Ganoderma lucidum (FR) Karst, yang ditetapkan oleh Karsten.
Kata lain lucidum adalah bersinar atau berkilau yang menunjukkan pernis yang
muncul pada permukaan jamur. Kompleks Ganoderma lucidum terdiri dari buah
yang tebal, bergabus, dan berwarna kuning kemerahan pada awalnya dan berubah
menjadi berwarna kecoklatan pada saat masaknya. Pada batas tubuh buah biasanya
tipis berwarna putih pada awalnya dan menjadi coklat terang pada tahap akhirnya.
Bentuknya bervariasi bundar, semi bundar, dan bentuk kipas atau seperti ginjal
(Chang & Miles, 2004).
Gambar 1. Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum)
Ganoderma lucidum tergolong ke dalam fungi dan merupakan organisme
eukariotik karena memiliki karakteristik umum tertentu seperti pada tanaman dan
hewan. Fungi mempunyai dinding sel, tetapi dinding selnya berbeda dengan dinding
sel tanaman dimana selulosa dan lignin merupakan komponen utamanya, sedangkan
pada fungi, dinding selnya mengandung polisakarida, yaitu glukan dan khitin. Fungi
tidak memiliki khlorofil dan konsekwensinya dia tidak dapat melakukan fotosintesis.
Bebeda dengan organisme lainnya, fungi tidak mencerna makanannya, tetapi secara
umum mensekresi enzim lebih banyak untuk memecah material makanan yang tidak
dapat larut atau sedikit larut menjadi material-material yang lebih kecil dan dapat
larut, yang dapat diserap ke dalam sel-sel fungi (Chang & Miles, 2004).
Dilihat dari sifat hidupnya, Ganoderma lucidum termasuk jamur saprofitik
karena tumbuh pada batang mati atau serbuk gergaji kayu (Suriawiria, 2001). Jamur
ini dikenal juga sebagai jamur busuk putih (white rot fungi) karena merupakan
parasit penyebab busuknya batang kelapa sawit. Adanya enzim ekstraseluler yang
dimiliki oleh Ganoderma lucidum menyebabkan jamur ini mampu merombak serat
kasar terutama lignin dan selulosa dan menggunakannya sebagai energi untuk
pertumbuhan (Vares & Hatakka, 1997).
Khasiat spesifik dari lingzhi dapat dipisahkan berdasarkan komponen lingzhi
itu sendiri. Jamur lingzhi mengandung polisakarida, terpenoid, asam ganoderik,
germanium, protein adenosin, dan serat. Penjelasan komponen-komponen tersebut
adalah sebagai berikut :
Polisakarida
Pada pemisahan tubuh buah lingzhi dengan pelarut air panas akan diperoleh
1,38% polisakarida. Setelah dipurifikasi dan dianalisis dengan Thin Layer
Chromatography dan Gas Chromatography, polisakarida terdiri atas xylosa,
mannosa, arabinosa, galaktosa, dan glukosa dengan perbandingan 1 : 1 : 7 : 5 : 20
(wang et al, 1984). Susanto (1998) menyatakan bahwa lingzhi mempunyai khasiat
mencegah pertumbuhan sel tumor, menyeimbangkan dan meningkatkan sistem
kekebalan tubuh atau dengan kata lain meningkatkan sistem daya tahan tubuh,
mengurangi kadar gula dalam darah, memulihkan fungsi pankreas, menjaga
kerusakan sel, dan membuang racun di dalam tubuh.
Terpenoid
Senyawa terpenoid merupakan senyawa yang disusun oleh unit-unit isoprena.
Senyawa ini mengandung atom karbon, hidrogen, dan oksigen yang tidak aromatik.
Terpenoid ini juga bersifat anti tumor. Parjimo & Soenanto (2008) menyatakan
bahwa terpenoid dan asam ganoderik mempunyai khasiat untuk menguatkan sistem
pencernaan, menghindari alergi, menurunkan kolesterol, dan menyembuhkan
penyakit kulit.
Germanium
Menurut Susanto (1998) germanium secara klinis dapat menambah oksigen
dalam darah untuk disebarkan ke otak, menyeimbangkan fungsi bioelektrik dalam
tubuh,
menyeimbangkan
tekanan darah,
meningkatkan metabolisme
tubuh
menguatkan saluran darah, mencegah kesemutan serta dapat menyembuhkan orang
yang terkena stroke.
Protein
Protein yang terdapat dalam lingzhi berupa protein struktural maupun protein
enzim. Lingzhi banyak menghasilkan enzim, misalnya amilase, oksidase, invertase,
koagulase, laktase, protease, renetase, pektinase, selulase, dan beberapa golongan
peroksidase. Untuk kepentingan kesehatan manusia enzim yang berperan adalah
karboksil proteinase.
Adenosin
Menurut Susanto (1998) salah satu epimer dari adenosin yang terkandung
dalam lingzhi bekerja menghambat aktivitas agregasi kumpulan darah, dengan
demikian adenosin secara medis akan dapat menurunkan kadar koleterol dan lemak,
menurunkan penimbunan lemak, mencegah trombogenesis, menstabilkan hormon
endokrin, menyeimbangkan metabolime, dan menyeimbangkan pH darah.
Serat
Menurut Susanto (1998) serat merupakan kandungan yang terbanyak di dalam
lingzhi. Akan tetapi serat ini secara klinis tidak banyak berfungsi, sehingga dalam
proses kapsulasi serat dibuang.
Kromium
Kromium merupakan mineral mikro esensial yang sangat penting dalam
metabolisme glukosa, protein, dan lemak (NRC, 1997). Selain itu kromium juga
diketahui bertanggung jawab dalam pengaturan kolesterol darah (Ohh & Lee, 2005).
Unsur kromium dalam tubuh dapat membentuk senyawa kompleks yang disebut
glucose tolerance factor (GTF). Molekul tersebut terlibat dalam interaksi antara
insulin dan sel reseptor yang memungkinkan banyaknya pasokan glukosa ke dalam
sel (Linder, 1992). Sumber alami GTF adalah kapang, organ hati, merica, keju, dan
daging. (Winarno, 2002)
Fungsi utama Cr untuk meningkatkan aktivitas insulin di dalam metabolisme
glukosa dan untuk mempertahankan transfer glukosa dari darah ke dalam sel-sel.
Kromium membentuk suatu kompleks dengan insulin dan reseptor insulin
menfasilitasi respon jaringan yang sensitif terhadap insulin (NRC, 1997). Kegunaan
Cr sebagai suatu faktor nutrien ditetapkan untuk pertama kalinya ketika diketahui
bahwa brewers yeast secara positif dapat mempengaruhi metabolisme karbohidrat
pada organisme tingkat tinggi dan meningkatkan aktivitas hormon insulin (NRC,
1997).
Linder (1992) menyatakan bahwa kemungkinan sistem pengangkutan Cr
adalah, setelah diserap di usus, Cr kemudian diangkut oleh protein pengangkut Fe
(iron carrier protein) dari plasma darah. Namun demikian, belum diketahui apakah
GTF yang diserap melalui usus akan masuk kedalam darah tanpa perubahan bentuk
atau juga terikat dengan transferin. Setelah melalui penyerapan di usus, hampir
semua Cr masuk ke dalam hati dan akan digabungkan kedalam GTF. Sejumlah GTF
tertentu disekresikan ke dalam darah dan akan tersedia untuk membantu aktivitas
insulin. Kadar gula darah yang meningkat, menyebabkan insulin akan disekresi dan
peningkatan insulin akan meningkatkan aliran GTF ke dalam darah, sehingga GTF
akan meningkatkan pengaruh insulin yang disekresi tersebut.
Peranan Cr dalam metabolisme antara lain meningkatkan potensi aktivitas
insulin, yakni sebagai komponen dari GTF yang dapat meningkatkan asupan glukosa
ke dalam sel. Selain esensial dalam metabolisme karbohidrat, Cr juga dibutuhkan
dalam metabolisme lemak dan protein (Mertz, 1998). Peran Cr terkait dengan kinerja
hormoninsulin, yaitu memacu pembentukan glikogen sebagai energi cadangan yang
berasal dari kelebihan glukosa sebagai sumber energi metabolis baik di organ hati
maupun otot. Suplementasi Cr dapat meningkatkan pasokan glukosa oleh sel,
produksi CO2 dari oksidasi glukosa dan pembentukan glikogen dari glukosa.
Glukosa yang berasal dari hasil hidrolisa karbohidrat di saluran pencernaan akan
masuk ke dalam darah yang sebagian dimanfaatkan sebagai sumber energi dalam sel
dan sebagian lagi disimpan sebagai energi cadangan dalam bentuk glikogen baik di
hati maupun daging (Underwood, 1971).
Kromium (VI) jauh lebih tosik dibandingkan kromium (III). Kromium oksida
(Cr2O3) telah digunakan sebagai marker pada sapi dan domba selama beberapa
minggu dengan dosis 3000 ppm tanpa efek yang merugikan, demikian juga pada
ayam yang diberi 1000 ppm kromium klorida (Crl3) (III) (NRC, 1997). Kedua
bentuk tersebut terdapat dalam bentuk Cr (III). Keracunan kromium terutama
berhubungan dengan senyawa Cr (VI), karena Cr (VI) dapat berikatan dengan
protein dan asam nukleat serta berikatan dengan materi genetik yang menyebabkan
Cr (VI) bersifat karsinogenik.
Linder (1992) menyatakan bahwa defisien kromium dapat menyebabkan
hiperkolesterolemia. Mekanisme interaksi Cr dan metabolisme kolesterol belum
jelas, walaupun suplementasi dengan preparat Cr aktif dapat menurunkan kadar
kolesterol plasma ataupun serum darah. Hal tersebut dapat disebabkan oleh
pengaruhnya dalam menghambat enzim reduktase hidroksimetilglutaril coenzim- A
dari hati, yang analog dengan aktivitas vanadium.
Kromium yang diabsorbsi, diekskresikan terutama di dalam urin melalui filtrasi
glomerular atau terikat dengan transforter molekular organik yang rendah dan
sejumlah kecil hilang melalui rambut, keringat, dan empedu. Laju ekskresi urin
selama 24 jam untuk manusia normal dilaporkan 0,22 µg/hari, yang konsisten
dengan laju absorbsi yang relatif rendah, diperkirakan 0,5% dari laju konsumsi
kromium harian. Ekskresi kromium di dalam urin meningkat setelah pemberian
kromium secara oral pada orang yang sehat dan ekskresi kromium dalam urin lebih
tinggi pada penderita diabetes. Stres dan exercise juga dapat meningkatkan ekskresi
kromium melalui urin. Ekskresi kromium melalui urin merupakan indikator dari
status kromium makanan. Bentuk suplementasi Cr sangat mempengaruhi ekskresi
kromium melalui urin (Mertz, 1993). Menurut Romanoff & Romanoff (1963),
kromium didalam telur kadang-kadang muncul sehingga belum dapat dipastikan
berapa kadar normal kromium didalam telur. Menurut Richards (1997), kadar
kromium dalam telur ayam adalah sebesar 0,263 ppm pada kuning telur dan 0,029
ppm pada putih telur, sedangkan pada satu butir telur terdapat kandungan kromium
sebesar 0,103 ppm.
Kromium Organik
Komplek Cr organik terdapat dalam bentuk Cr chelate, Cr proteinat dan Cr
pikolinat (Lindemann, 1996). Senyawa Cr chelate berasal dari proses chelate garam
mineral yang terlarut dengan asam amino atau protein yang terhidrolisis (Lindemann,
1996). Protein merupakan polimer alam yang tersusun dari berbagai asam amino
melalui ikatan peptida. Asam amino memiliki gugus amino dan gugus karboksil yang
terikat pada karbon yang bersebelahan. Berat molekul protein sangat besar sehingga
bila protein dilarutkan dalam air akan membentuk suatu disperse koloidal. Gugus
karboksil yang terdapat pada bahan sumber protein akan mengion saat larut dalam air
membentuk COO-, sedangkan gugus amino akan bermuatan positif membentuk NH3+
(Winarno, 2002).
Cr proteinat merupakan Cr organik yang didapat dari protein ragi (high Cr
yeast). Salah satu ragi yang banyak mengandung Cr adalah ragi brewer (brewer
yeast) karena banyak mengandung komplek aktif biologis Cr organik yang dikenal
dengan GTF (Groff & Gropper, 2000). Senyawa Cr pikolinat terbentuk dari Cr3+
yang mengikat 3 molekul asam pikolinat. Apabila 3 molekul asam pikolinat atau
nikotinat diikat oleh Cr3+ maka akan terbentuk Cr pikolinat atau Cr nikotinat. Pada
keadaan alami Cr berikatan dengan asam nikotinat sehingga Cr yang berasal dari
asam nikotinat lebih disukai karena sifat alaminya. Asam pikolinat dan asam
nikotinat keduanya merupakan isomer yang hanya berbeda pada posisi penempelan
asam karboksilat pada cincin piridin. Pada asam pikolinat gugus karboksil berada
pada posisi tiga, sedangkan asam nikotinat pada posisi dua. Kedua bentuk tersebut
sama efektifnya dalam mempengaruhi metabolisme energi (Groff & Gropper, 2000).
Asam pikolinat dan nikotinat dapat dihasilkan oleh kapang dari metabolisme
triptopan.
Kedelai Sangrai sebagai Sumber CLA (Conjugated Linoleic Acid)
Asam lemak merupakan asam organik rantai panjang yang mengandung atom
karbon 4 sampai 24, mempunyai gugus hidroksil tunggal dan ekor hidrokarbon
nonpolar yang panjang (Lehninger, 1990). Lemak ini diklasifikasikan berdasarkan
tingkat kejenuhannya, yaitu sebagai asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh.
Asam lemak jenuh mempunyai titik didih yang tinggi, titik didih tersebut akan
meningkat dengan semakin bertambahnya jumlah atom karbon. Asam lemak tidak
jenuh mempunyai titik didih yang lebih rendah dan reaktif dibandingkan asam lemak
jenuh dalam jumlah atom karbon yang sama (Anggorodi, 1984).
Asam linoleat (linoleic acid) tergolong ke dalam asam lemak tidak jenuh
ikatan ganda (Polyunsaturated Fatty Acid) yang esensial untuk tubuh. Asam linoleat
berperan dalam
metabolisme
pertumbuhan,
pemeliharaan
kolesterol, menurunkan
hepatik, transport
membran
sel,
tekanan darah, menghambat
lipid, prekursor dalam
sintesis
prostaglandin,
pengaturan
lipogenesis
membentuk
arakhidonat dan dalam proses reproduksi (Pudjiadi, 1997). Sedangkan pada
unggas, kekurangan asam linoleat dapat mengakibatkan suatu penyakit defisiensi
dengan gejala-gejala : pertumbuhan anak ayam terganggu, hati berlemak dan
ketahanan yang berkurang terhadap infeksi pernafasan. Pada ayam petelur gejalagejalanya adalah produksi telur berkurang, telur kecil, dan daya tetas rendah. Asam
linoleat penting untuk tubuh dan tidak dapat disintesis sendiri dalam tubuh, oleh
karena
itu harus diperoleh dari makanan. Kacang kedelai merupakan sumber
makanan yang kaya akan asam linoleat.
Conjugated Linoleic Acid (CLA) adalah isomer asam linoleat yang setiap
posisi memiliki ikatan ganda, yaitu konfigurasi cis trans, cis cis, dan trans trans.
Secara umum, minyak tumbuhan mengandung asam linoleat tinggi dan memberikan
respons terbesar dalam peningkatan CLA lemak susu (Kelly, 1998). Kandungan
CLA tinggi dapat melawan kanker dan malaria. Disamping itu, CLA dapat
menghambat perkembangan kanker kulilt, dan kanker lambung pada tikus, mencegah
aterosklerosis, dan menormalkan toleransi glukosa yang lemah pada penderita
diabetes melitus.
Kolesterol
Kolesterol adalah sterol yang terpenting dari organ-organ hewan. Sterol
diklasifikasikan ke dalam golongan lipid (lemak). Kolesterol terdapat dalam lemak
hewan, empedu, darah, jaringan urat syaraf, hati, ginjal, dan korteks adrenal
(Anggorodi, 1984). Muchtadi et al. (1993) menyatakan bahwa kolesterol dalam
tubuh dapat berasal dari dua sumber yaitu dari makanan dan biosintesis de novo.
Muchtadi et al. (1993) menyatakan bahwa lebih kurang 20% total kolesterol
adalah HDL dan 65% adalah LDL. HDL merupakan lipoprotein yang mengandung
Apo A dan mempunyai efek antiaterogenik kuat. Fungsi utama HDL adalah
mengangkut kolesterol bebas yang terdapat dalam endotel jaringan perifer termasuk
pembuluh darah ke reseptor HDL di hati untuk dikeluarkan lewat empedu. LDL
merupakan lipoprotein pengangkut kolesterol terbesar untuk disebarkan ke seluruh
endotel jaringan perifer pembuluh nadi. LDL mempunyai efek aterogenik, yaitu
mudah melekat pada dinding sebelah dalam pembuluh darah dan menyebabkan
penumpukan lemak yang dapat menyempitkan pembuluh darah.
Swenson (1984) menyatakan bahwa kadar kolesterol darah ayam berkisar
antara 125 – 200 mg/100ml. Penelitian Salim (2001) menunjukkan kandungan
kolesterol ayam buras yang diberi ransum standar rataannya 130,16 mg/100ml,
sedangkan yang diberi ransum standar + 9% lemak sapi rataannya 155,66 mg/100ml
dan ayam buras yang diberi ransum standar + 9% minyak kelapa rataannya 128,33
mg/100ml. Menurut Laihad (2000) penambahan teh hijau dalam ransum sangat nyata
menurunkan kadar kolesterol total serum darah ayam broiler. Ayam yang menerima
5% teh hijau mempunyai kadar kolesterol terendah 130,30 mg/100ml, sedangkan
ayam yang tidak diberi teh hijau mempunyai kadar kolesterol tertinggi yaitu 166,69
mg/100ml.
Nisa (2005) menyatakan bahwa kadar kolesterol darah ayam petelur yang
didapat pada penelitiannya berkisar antara 143,87 – 183,40 mg/100ml. Sedangkan
kadar HDL darah ayam berkisar antara 43,617 – 53,847 mg/100ml. Dan untuk kadar
LDL darah ayam berkisar antara 65,789 – 84,193 mg/100ml.
Absorbsi dan Ekskresi Kolesterol
Menurut Mayes et al. (1983) kolesterol dalam tubuh berupa kolesterol eksogen
dan kolesterol endogen. Kolesterol eksogen yang masuk ke dalam tubuh berasal dari
makanan, sedangkan kolesterol endogen dibentuk sendiri oleh sel-sel tubuh, terutama
di hati. Di dalam tubuh tidak dapat dibedakan antara kolesterol yang berasal dari
sintesis dalam tubuh dan kolesterol yang berasal dari makanan. Dinding usus halus
akan menyerap kolesterol tersebut.
Jalur utama pembuangan kolesterol dari tubuh (200-300 mg/hari) melalui
konversi oleh hati menjadi asam empedu. Senyawa ini disekresikan di dalam
empedu, bersama-sama dengan kolesterol bebas akan dialirkan melalui saluran
empedu ke dalam duodenum. Sekitar 98% dari asam empedu diabsorpsi ulang
(reabsorpsi) oleh hati melalui sirkulasi. Di dalam hati, asam empedu diekskresi dan
disekresi kembali ke dalam empedu. Di dalam empedu ini terdapat 2.000-3.000 mg
asam empedu yang akan selalu mengalami daur ulang. Asam empedu yang tidak
diserap, didegradasi dalam usus besar dan diekskresi di dalam feses. Jalur minor
untuk pembuangan kolesterol (40 mg/hari) dilakukan melalui sintesis hormon
steroid. Sekitar 1 mg/hari diekskresi dalam urin dan sekitar 50 mg/hari diekskresikan
sebagai keringat atau hilang melalui rambut atau kulit (Muchtadi et al., 1993).
Deposisi Kolesterol dalam Telur
Nimpf & Schneider (1991) melaporkan bahwa kolesterol telur disintesis di
dalam hati ayam petelur dan ditranspor untuk perkembangan folikel melalui plasma
VLDL (Very low density lipoprotein), untuk selanjutnya dideposisikan oleh receptor
mediated endocytosis. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi deposisi kolesterol
dalam telur, antara lain genetik, nutrien dan obat-obatan. Han & Lee (1992)
menyatakan bahwa telur yang diproduksi oleh ayam petelur coklat mengandung
kolesterol dalam jumlah yang berbeda dengan telur yang diproduksi oleh ayam
petelur putih. Ayam petelur putih memproduksi telur dengan kandungan kolesterol
sebesar 1,741 mg/100 mg yolk atau sekitar 316,34 mg/yolk dengan berat yolk
sebesar 18,17 gram. Sedangkan ayam petelur coklat memproduksi telur dengan
kandungan kolesterol sebesar 1,708 mg/100 mg yolk atau sekitar 308, 29 mg/ yolk
dengan berat yolk sebesar 18,05 gram.
Wijiastuti (1994) menyatakan bahwa kadar kolesterol kuning telur pada ayam
petelur penelitiannya berkisar antara 0,825 – 2,237 mg/100mg yolk. Griffin (1992)
melaporkan bahwa setiap telur kadar kolesterolnya bervariasi. Bervariasinya kadar
kolesterol tersebut bergantung dari besar kecilnya telur (North & Bell, 1990)
MATERI DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2009,
bertempat di kandang C Laboratorium Nutrisi Unggas Departemen Ilmu Nutrisi dan
Teknologi Pakan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Materi
Ternak
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah 120 ekor ayam ras petelur
strain Lohmann yang berumur 26 minggu dengan bobot badan rata-rata 1,67±0,135
kg yang dialokasikan ke dalam 4 perlakuan dengan 3 ulangan secara acak, dan setiap
ulangan terdiri dari 10 ekor ayam.
Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan adalah kandang baterei yang terbuat dari kawat
dengan 60 petak dan masing-masing petak berisi 2 ekor yang dilengkapi dengan
tempat pakan dan tempat air minum. Peralatan yang digunakan adalah lampu sebagai
alat penerangan, timbangan, termometer ruang, ember plastik, dan kertas label.
Ransum
Ransum disusun berdasarkan tabel komposisi zat nutrisi menurut Lesson &
Summer (2005), dengan menggunakan bahan-bahan : jagung kuning, dedak padi,
MBM, tepung ikan, bungkil kedelai, minyak kelapa, premix, DCP, dan CaCO3. Air
minum yang diberikan berasal dari air sumur yang ada di dekat kandang. Komposisi
dan kandungan zat nutrisi ransum penelitian terdapat pada Tabel 1 dan 2.
Tabel 1. Komposisi Bahan Pakan dalam Ransum
Bahan Makanan
Jumlah (%)
Jagung kuning
52
Dedak padi
16
MBM
7
Bungkil kedelai
10
Tepung ikan
5,75
Minyak kelapa
1,75
DCP
1
CaCO3
6
Premix
0,5
Total
100
Table 2. Komposisi Zat Makanan dalam Ransum
Kandungan Zat Nutrisi
Jumlah
Energi metabolis (kkal/kg)1
2851,48
Protein kasar (%)2
17,44
Lemak kasar (%)2
5,25
Serat kasar (%)2
5,28
Kalsium (%)
2
Fosfor total (%)
Lysin (%)
1
Methionin (%)1
3,44
2
0,44
1,0
0,4
Keterangan:1) Kandungan zat makanan berdasarkan Lesson & Summer, 2005
2) Kandungan zat makanan berdasarkan analisis proksimat Laboratorium Ilmu
dan Teknologi Pakan (2009).
Tabel 3. Kebutuhan Zat Nutrisi Ayam Petelur
Kandungan Zat Nutrisi
Energi metabolis (kkal/kg)
Jumlah
2850
Protein kasar (%)
18
Lemak kasar (%)
<10
Serat kasar (%)
<5
Kalsium (%)
3–4
Fosfor total (%)
0,43
Lysin (%)
0,8
Methionin (%)
0,4
Sumber : Lesson & Summer, (2005)
Suplemen
Suplemen yang digunakan adalah Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum),
kromium organik, dan kedelai sangrai. Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum) yang
digunakan adalah tubuh buah Lingzhi dikeringkan di bawah sinar matahari kemudian
digiling halus. Jamur lingzhi yang diberikan sebanyak 5gram/50kg BB ayam. Bobot
badan ayam pada penelitian ini rata-rata sebesar 1,67 kg, sehingga jamur lingzhi
yang diberikan sebanyak 0,167 gram/ekor/hari. Kedelai sangrai dibuat dari kacang
kedelai yang disangrai terlebih dahulu selama 15 menit dengan suhu sekitar 1000C
kemudian didinginkan lalu digiling halus. Kacang kedelai yang diberikan sebanyak
1% dari lemak ransum. Lemak ransum sebesar 5,25% dikalikan dengan pemberian
ransum/ekor/hari yaitu 110 gram. Didapatkan hasil sebesar 5,775 gram. Kemudian
5,775 gram dikalikan 1 %, dan didapatkan nilai sebesar 0,05774 gram/ekor/hari.
Kromium organik berasal dari kacang kedelai rebus yang dicampur dengan kromium
inorganik kemudian difermentasi dengan Rhizopus sp lalu dikeringkan dan digiling
halus (Asnawati, 2008). Kromium organik yang diberikan sebanyak 3 ppm. 3 ppm
yaitu 3 gram kromium yang diberikan pada pakan sebanyak 1000 kg. Jadi apabila
pakan yang diberikan sebanyak 110 gram/ekor/hari, maka kromium yang diberikan
sebanyak 0,00033 gram/ ekor/hari.
Vaksinasi
Vitamin yang digunakan adalah antistres yang diberikan selama 3 hari setelah
kedatangan ayam di kandang dan pada saat penimbangan awal untuk mengatasi
terjadinya stres pada ayam tersebut. Dilakukan vaksinasi dengan vaksin ND-IB
melalui suntik pada bagian dada, dan vaksinasi ND-Lasota melalui tetes mata pada
bagian mata kiri.
Prosedur
Jadwal Pemberian Pakan
Pemberian air minum diberikan ad libitum, sedangkan untuk pakan diberikan
sebanyak 110 gram per ekor per hari. Untuk jadwal pemberian pakan dan air minum
dilakukan sebanyak 3 kali dalam sehari, yaitu pada saat pagi, siang, dan sore. Jadwal
pemberian pakan dan minum pagi hari dilakukan pada jam sekitar 07.00 – 08.00
WIB, jadwal pemberian pakan dan minum siang hari dilakukan pada jam sekitar
12.00 – 13.00 WIB, dan jadwal pemberian pakan dan air minum sore hari dilakukan
pada jam sekitar 16.00 – 17.00 WIB.
Pencampuran Suplemen Ke dalam Pakan
Pencampuran suplemen campuran ke dalam pakan dilakukan setiap seminggu
sekali pada saat proses pembuatan pakan. Untuk Jamur Lingzhi (Ganoderma
lucidum) digunakan dosis 5 g/50 kg dari bobot badan ayam. Kromium organik
digunakan dosis 3 ppm, sedangkan untuk Kedelai sangrai digunakan dosis 1 % dari
total lemak ransum. Suplemen yang sudah ditimbang kemudian dicampurkan terlebih
dahulu. Setelah itu campuran suplemen tersebut kemudian dicampurkan dengan
ransum secara bertahap, yaitu apabila berat total campuran suplemen 10 gram maka
campurkan dengan 10 gram ransum. Setelah itu 20 gram tersebut dicampurkan lagi
dengan 20 gr ransum, begitu seterusnya sampai suplemen tercampur rata dengan
ransum.
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan 4 perlakuan ransum dan 3 ulangan, tiap ulangan 10 ekor ayam per
ulangan. Rancangan percobaan ini digunakan pada peubah kolesterol, LDL dan HDL
dalan serum darah. Peubah kromium dalam serum dan telur, kolesterol dan
conjugated linoleac acid (CLA) dalam telur dianalisa secara deskriptif.
Penelitian ini menggunakan 4 jenis ransum perlakuan. Ransum perlakuan
tersebut adalah sebagai berikut :
P1
= Kontrol (tanpa tambahan suplemen).
P2 = P1 + Pakan suplemen berupa Ganoderma lucidum sebanyak 5 g/50 kg bobot
badan, Kromium organik sebanyak 3 ppm, dan Kedelai sangrai sebanyak 1%
dari lemak dalam ransum.
P3 = P1 + Pakan suplemen berupa Ganoderma lucidum sebanyak 5 g/50 kg bobot
badan, dan Kedelai sangrai sebanyak 1% dari lemak dalam ransum.
P4 = P1 + Pakan suplemen berupa Kromium organik sebanyak 3 ppm, dan Kedelai
Sangrai sebanyak 1% dari lemak dalam ransum.
Metode matematiknya adalah
Yij = µ + Pi + єij
Keterangan:
Yij : Pengamatan perlakuan ke-i dan ulagan ke-j
µ
: Rataan Umum
Pi : Pengaruh perlakukan ke-i dan
Єij : Galat perlakuan ke-I dan ulangan ke-j
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah :
1. Kolesterol (Kolesterol total, HDL, dan LDL) pada serum darah, dan telur.
2. Kromium pada telur dan serum darah.
3. Conjugated linoleac acid (CLA) pada telur.
Metode
Kolesterol (Kolesterol total, HDL, dan LDL) pada Serum Darah.
Pengambilan darah dilakukan pada setiap ulangan sebanyak 2 sampel.
Pengambilan darah ini dilakukan pada akhir penelitian, yaitu lima minggu perlakuan.
Darah diambil dari vena jugularis yang terdapat pada bagian leher ayam sebanyak 3
ml dengan syringe ukuran 3 ml dan syringe yang digunakan untuk masing-masing
sampel berbeda, kemudian darah sebanyak 24 sampel dimasukan ke dalam tabung.
Sampel darah yang diperoleh disentrifuse dengan kecepatan 2.500 rpm kurang lebih
15 menit. Supernatan berupa serum diambil dengan pipet steril dan ditempatkan pada
tabung Eppendorf dan siap untuk dianalisis.
Pengukuran kadar kolesterol darah dilakukan dengan menggunakan metode
Kit (Diagnostic system international 2005 dalam Hanafiah 2008). Serum diambil satu
sampel secara acak dari setiap perlakuan dan ulangan. Persiapan yang perlu
dilakukan yaitu tabung blanko diisi 10 µl aquadest dan 1.000 µl reagen kit, tabung
standar diisi 10 µl larutan standar kolesterol dan 1.000 µl reagen kit, tabung sampel
diisi 10 µl serum darah dan 1.000 µl reagen kit. Campuran kemudian dihomogenkan
dengan vortex kemudian diinkubasi pada suhu 20-25°C selama 10-20 menit.
Absorbansi dibaca pada panjang gelombang (λ) 546 nm dalam waktu 1 jam setelah
pencampuran dengan alat spektofotometer.
Kolesterol (mg/dl) = Absorbansi Sampel X Konsentrasi standar kolesterol (mg/dl)
Absorbansi standar
Pengukuran kadar kolesterol-HDL dengan menggunakan metoda Kit
(Diagnostic system international 2005 dalam Hanafiah 2008). Serum sebanyak 500
µl ditambah dengan 1000 µl larutan Kit, dicampur sampai homogen, kemudian
didiamkan selama 10 menit pada suhu 20-25°C. Disentrifius selama 10 menit dengan
4000 putaran per menit. Serum dipisahkan dari endapan dalam waktu dua jam setelah
sentrifugasi. Sebanyak 100 µl supernatan ditambah 1000 µl CHOD-PAP dicampur,
diikubasi selama 10 menit pada suhu 20-25°C. Blanko diisi 100 µl aquades ditambah
1000 µl reagen CHOD-PAP, tabung standar diisi 100 µl standar kolesterol dan 1000
µl reagen CHOD-PAP. Absorbansi dibaca pada panjang gelombang (λ) 546 nm
dalam waktu 1 jam setelah pencampuran dengan alat spektofotometer.
HDL (mg/dl) =
Absorbansi sampel 3
Absorbansi standar HDL
X
Konsentrasi standar HDL (mg/dl)
Nilai kolesterol-LDL dihitung menggunakan metode perhitungan secara tidak
langsung yang dikenal dengan nama Metode Friedwald (Friedwald et al., 1972)
yaitu:
LDL (mg/dl)
= Kolesterol total – Kolesterol HDL - Trigliserida
5
Kromium pada Telur dan Serum Darah.
Untuk analisis kromium pada telur dan serum darah diambil 2 sampel pada
setiap perlakuan sehingga total ada 8 sampel yang dianalisis. Sebelum dianalisis di
AAS atau spektrofotometer dilakukan preparasi terlebih dahulu dengan langkah
sebagai berikut.
Sampel ditimbang ± 1 g lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer ukuran 125
ml/100 ml, ditambahkan 5 ml HNO3 (p) dan didiamkan selama 1 jam pada suhu ruang
di ruang asam. Lalu dipanaskan di atas hot plate dengan temperatur rendah selama 46 jam (dalam ruang asam). Didiamkan selama semalam (sampel ditutup), lalu
ditambahkan 0,4 ml H2SO4 (p) , kemudian dipanaskan di atas hot plate sampai larutan
berkurang (lebih pekat), biasanya ± 1 jam. Kemudian ditambahkan 2-3 tetes larutan
campuran HClO4: HNO3 (2:1). Sampel masih tetap di atas hot plate, karena
pemanasan terus dilanjutkan sampai ada perubahan warna dari coklat ke kuning tua
lalu menjadi kuning muda (biasanya ± 1 jam). Setelah ada perubahan warna,
pemanasan masih dilanjutkan selama 10-15 menit, lalu dipindahkan dan didinginkan.
Kemudian ditambahkan 2 ml aquades dan 0,6 ml HCl
(p).
Dipanaskan kembali agar
sampel larut (±15 menit) kemudian dimasukkan kedalam labu takar 100 ml. Apabila
ada endapan disaring dengan Glass Wool. Hasil pengabuan basah dianalisis dengan
menggunakan spektrofotometer untuk analisis berbagai mineral.
Kolesterol dan Asam Lemak pada Telur.
Untuk analisis kolesterol dalam telur diambil 1 sampel telur pada setiap
perlakuan sehingga total ada 4 telur yang dianalisis. Untuk analisis kolesterol dalam
telur ini dilakukan dengan metode Liebermann Buchner (Kleiner dan Dotti, 1958).
Cara kerja metode ini adalah sebagai berikut; sebanyak 0,1 mg kuning telur diaduk di
dalam tabung reaksi bersama 10 ml alkohol eter. Pengadukan dilakukan sampai
terbentuk larutan yang homogen. Kemudian disentrifuse dengan kcepatan 3000 rpm
selama 10 menit. Setelah itu dipindahkan ke dalam gelas piala serta dipanaskan pada
penangas air sampai kering, ekstraknya dilarutkan dengan kloroform sedikit demi
sedikit sambil dilakukan pemindahan ke dalam tabung reaksi sampai volume 10 ml,
lalu ditambahkan asam asetat anhidrid sebanyak 2 ml dan 4 tetes asam sulfat pekat,
diaduk sampai warna hijau. Larutan tersebut disimpan selama 15 menit di dalam
ruang
gelap.
Selanjutnya
dilakukan
pembacaan
dengan
menggunakan
spectrofotometer sehingga didapatkan nilai absorban sampel. Nilai kolesterol
didapatkan dari perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Kolesterol (mg%) =
Absorbans sampel
Absorbans standar
X
Konsentrasi standar
Berat sampel
Untuk kandungan asam lemak diambil 1 sampel telur pada setiap perlakuan
sehingga total ada 4 telur yang dianalisis. Untuk analisis asam lemak ini dilakukan
dengan metode AOAC (AOAC, 1990)
dan prepasinya dilakukan dengan
menggunakan gas kromatografi (GC) dengan menimbang sebanyak 0,02-0,05 g
sampel dan dilarutkan dengan 2,0 ml NaOH dalam metanol 0,5 M, kemudian
dipanaskan pada suhu 80 °C selama 20 menit. Setelah penambahan larutan BF3
dalam metanol sebanyak 2,0 ml, sampel dipanaskan kembali pada suhu 80 °C selama
20 menit dan selanjutnya ditambahkan NaCl jenuh dan heksan, masing-masing
sebanyak 2,0 ml. Sampel (2,0 μl) dimasukkan dalam kolom silikagel GC. GC
dijalankan dengan pelarut H2 (g) dan N2 (g) pada suhu awal 150°C dan suhu injektor
200 °C. Deteksi sampel diukur dengan FID pada suhu 250 °C.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Perlakuan Terhadap Kandungan Kolesterol, LDL dan HDL dalam
Serum dan Kolesterol dalam Kuning Telur.
Perlakuan penelitian menggunakan 3 suplemen yaitu jamur lingzhi, kedelai
sangrai, dan kromium organik yang dicampur, kemudian diberikan pada ayam
petelur yang berumur 26 minggu. Berdasarkan hasil sidik ragam, pemberian
perlakuan suplemen campuran ketiganya tidak berbeda nyata terhadap kandungan
kolesterol total, HDL, dan LDL baik pada P2 (Jamur lingzhi, kedelai sangrai,
kromium organik), P3 (Jamur lingzhi, kedelai sangrai) maupun P4 (kedelai sangrai,
kromium organik).
Tabel 4. Kandungan Kolesterol, LDL, dan HDL Serum Darah dan Kolesterol dalam
Kuning Telur Ayam Petelur.
P1
P2
(LZ+CrO+KS)
P3
(LZ+KS)
P4
(CrO+KS)
Kolesterol
Serum
(mg/100ml)
138,88±41,72
119,56±17,71
112,65±22,86
129,92±37,88
LDL Serum
(mg/100ml)
55,28±12.51
54,28±29,99
58,67±28,57
52,64±26,16
HDL Serum
(mg/100ml)
36,90±10,31
40,55±1,90
38,19±6,10
41,47±10,80
Kolesterol
Kuning Telur
(mg/100mg)
2,107
2,290
2,323
2,073
Peubah
Keterangan : P1 = Kontrol (Tanpa tambahan suplemen); P2 = P1 + Jamur Lingzhi + Cr organik +
Kedelai sangrai; P3 = P1 + Jamur Lingzhi + Kedelai sangrai; P4 = P1 + Kedelai
Sangrai + Cr organik; LZ= Jamur lingzhi; CrO = kromium organik; KS = Kedelai
sangrai.
Kolesterol Serum dan Telur
Pemberian suplemen campuran pada P2 (Lingzhi, Kedelai sangrai, kromium
organik), P3 (Lingzhi, Kedelai sangrai) maupun P4 (Kedelai sangrai, kromium
organik) belum mempengaruhi secara nyata terhadap kandungan kolesterol dalam
serum. Pemberian suplemen campuran dari jamur lingzhi + kedelai sangrai +
kromium organik pada ayam petelur menghasilkan kadar kolesterol serum darah
ayam berkisar antara 112,65-129,92 mg/100 ml (Tabel 4). Kadar kolesterol tersebut
masih dalam kadar yang normal sesuai dengan pernyataan Swenson (1984), yang
menyatakan bahwa kolesterol darah ayam berkisar antara 125-200 mg/100ml.
Suplementasi kromium organik belum dapat menurunkan kadar kolesterol
dalam serum darah ayam petelur yang terlihat pada kandungan kolesterol antara P2
dan P3. Tidak terlihatnya peran kromium organik disebabkan oleh ransum cukup
mengandung kromium. Menurut Underwood (1971), penambahan Cr pada ransum
yang rendah akan Cr dapat menurunkan level kolesterol didalam darah dan
menghambat kecenderungan peningkatan kolesterol seiring dengan meningkatnya
umur. Selain itu, tidak terlihatnya peran kromium organik dalam menurunkan
kolesterol serum darah ayam, disebabkan pula oleh dosis kromium yang diberikan
sebesar 3 ppm belum dapat menurunkan kolesterol seperti hasil penelitian
Suksombat, (2005) bahwa penambahan Cr ragi, dan Cr pikolinat dapat menurunkan
kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah ayam broiler.
Suplementasi jamur lingzhi dapat menurunkan kadar kolesterol dalam serum
darah ayam petelur yang terlihat pada kandungan kolesterol antara P2 dan P4.
Suplementasi jamur lingzhi sebesar 5g/50kg BB sudah dapat memperlihatkan peran
adenosin dan terpenoid yang terkandung dalam jamur lingzhi. Susanto (1998)
menyatakan bahwa jamur lingzhi mempunyai beberapa komponen seperti adenosin
dan terpenoid yang diketahui dapat menurunkan kadar kolesterol. Salah satu epimer
dari adenosin yang terkandung dalam lingzhi bekerja menghambat aktivitas agregasi
kumpulan darah, dengan demikian adenosin secara medis akan dapat menurunkan
kadar kolesterol dan lemak, terpenoid ampuh melenturkan otot polos pembuluh darah
dan memperbaiki viskositas atau kekentalan darah, artinya, bisa mencegah koagulasi
atau penggumpalan darah, merangsang sirkulasi darah.
Pada setiap perlakuan yang mendapatkan suplemen baik pada P2, P3, dan P4
terlihat kecenderungan kadar kolesterol dalam serum darah yang lebih rendah
dibandingkan dengan P1 (Kontrol). Penurunan kadar kolesterol serum tersebut selain
disebabkan oleh jamur lingzhi, dan kromium organik seperti yang telah dijelaskan,
juga diduga disebabkan oleh suplemen kedelai sangrai yang diberikan. Kedelai
sangrai merupakan sumber asam lemak linoleat yang termasuk ke dalam asam lemak
tidak jenuh. Menurut Winarno, (2002) makanan yang banyak mengandung lemak
tidak jenuh dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
Berikut adalah grafik kandungan kolesterol dalam serum (Gambar 2) dan
kolesterol dalam telur (Gambar 3) :
Gambar 2. Grafik Kandungan Kolesterol dalam Serum.
Gambar 3. Grafik Kandungan Kolesterol dalam Telur.
Pada kandungan kolesterol dalam telur tidak menunjukkan adanya penurunan,
akan tetapi terlihat adanya kecenderungan peningkatan, terutama pada P2 dan P3
(Gambar 2). Terjadinya peningkatan kolesterol dalam telur pada P2 dan P3
berkorelasi negatif dengan kandungan kolesterol dalam serum yang mengindikasikan
adanya penurunan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sloan et al., (1994) bahwa
kolesterol dalam darah secara nyata berkolerasi negatif dengan kolesterol dalam
telur, disaat kadar kolesterol dalam darah tinggi, maka kolesterol dalam telur rendah,
begitu juga sebaliknya. Kadar kolesterol dalam kuning telur yang didapat pada
penelitian ini berkisar antara 2,073 – 2,323 mg/100 mg. Hal ini sesuai dengan
penelitian Wijiastuti (1994) yang menyatakan bahwa kadar kolesterol kuning telur
pada ayam petelur penelitiannya adalah berkisar antara 0,825 – 2,237 mg/100mg
kuning telur.
Sebagian besar kolesterol yang ditemukan dalam kuning telur disintesis di hati
ternak unggas, ditransfer melalui darah dalam bentuk lipoprotein dan kemudian
dideposisikan ke follikel (Hammad et al., 1996). Secara logika dapat diasumsikan
bahwa ada hubungan antara level kolesterol dalam kuning telur dengan yang
kolesterol yang ada dalam darah. Kolesterol yang berasal dari tubuh berasal dari
kolesterol eksogen dan endogen. Kolesterol eksogen berasal dari makanan,
sedangkan kolesterol endogen dibentuk sendiri oleh sel-sel tubuh terutama di hati.
High Density Lipoprotein (HDL)
HDL merupakan kolesterol yang membawa lipoprotein dengan kerapatan tinggi
(high density lipoprotein). Fungsi utama HDL adalah mengangkut kolesterol bebas
yang terdapat dalam pembuluh darah ke reseptor HDL di hati untuk dikeluarkan
melalui empedu.
Pemberian suplemen campuran pada P2 (Lingzhi, Kedelai sangrai, kromium
organik), P3 (Lingzhi, Kedelai sangrai) maupun P4 (Kedelai sangrai, kromium
organik) belum mampengaruhi secara nyata terhadap kandungan HDL dalam serum.
Hal ini disebabkan karena dosis penggunaan suplemen masih terlalu rendah sehingga
belum mampu memperlihatkan pengaruh yang signifikan. Pemberian suplemen
campuran dari jamur lingzhi + kedelai sangrai + kromium organik pada ayam petelur
menghasilkan kadar HDL serum darah ayam berkisar antara 38,19-41,47 mg/100 ml.
(Tabel 4).
Suplementasi kromium organik terlihat dapat menaikkan kadar HDL dalam
serum darah ayam petelur yang terlihat pada kandungan HDL antara P2 dan P3.
Terlihat bahwa pada P2 yang mendapat suplemen kromium organik terlihat indikasi
lebih tinggi kandungan HDL dalam serum dibandingkan P3. Kromium itu sendiri
berperan dalam meningkatkan potensi aktivitas insulin yaitu dengan cara sebagai
komponen GTF, disaat kadar glukosa dalam darah tinggi maka GTF akan
mempengaruhi insulin yang disekresikan. Dengan tersedianya kromium, maka resiko
penyakit diabetes militus akan rendah. Menurut Muchtadi (1993) menyatakan bahwa
kadar HDL dalam serum darah akan rendah pada penderita diabetes militus.
Walaupun hasil sidik ragam menunjukkan tidak berbeda nyata, tetapi
kandungan HDL pada P2, P3 dan P4 memiliki kecenderungan lebih tinggi apabila
dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan kadar HDL dalam darah berkolerasi
negatif terhadap resiko menderita ateroskelerosis. Hal ini disebabkan karena HDL
dapat mengangkut kolesterol bebas yang berada di dinding pembuluh darah dan
membawanya kembali ke hati dan dikeluarkan lewat empedu.
Low Density Lipoprotein (LDL)
LDL merupakan lipoprotein pengangkut kolesterol terbesar untuk disebarkan ke
seluruh epitel jaringan perifer pembuluh nadi yang mempunyai efek aterogenik, yaitu
mudah melekat pada dinding bagian dalam pembuluh darah dan menyebabkan
penumpukan lemak yang dapat menyempitkan pembuluh arah.
Pemberian suplemen campuran pada P2 (Lingzhi, Kedelai sangrai, kromium
organik), P3 (Lingzhi, Kedelai sangrai) maupun P4 (Kedelai sangrai, kromium
organik) belum mampengaruhi secara nyata terhadap kandungan LDL dalam serum.
Hal ini disebabkan karena dosis penggunaan suplemen masih terlalu rendah sehingga
belum mampu memperlihatkan pengaruh yang signifikan pada penurunan kadar LDL
dalam serum darah ayam. Pemberian suplemen campuran dari jamur lingzhi +
kedelai sangrai + kromium organik pada ayam petelur menghasilkan kadar LDL
serum darah ayam berkisar antara 52,64-58,67 mg/100 ml. (Tabel 4). Kadar LDL
tersebut masih lebih rendah dibadingkan dengan penelitian Nisa (2005) yang
menggunakan tepung sambiloto mendapat kadar LDL serum darah ayam petelur
berkisar antara 65,789 – 84,193 mg/100ml.
Suplementasi kromium organik dapat menurunkan kadar LDL dalam serum
darah ayam petelur yang terlihat pada kandungan LDL antara P2 dan P3. Pada P2
yang mendapat suplemen kromium, lebih rendah kadar LDLnya dibandingkan
dengan P3. Hal ini disebabkan karena kromium dapat menghambat enzim reduktase
hidroksimetilglutaril coenzim- A, yang berperan dalam sintesis kolesterol dalam
tubuh.
Suplementasi jamur lingzhi belum dapat menurunkan kadar LDL dalam
serum darah ayam petelur yang terlihat pada kandungan LDL antara P2 dan P4.
LDL merupakan kolesterol berbahaya yang membawa lipoprotein dengan
kerapatan rendah (low density lipoprotein) karena dapat menimbulkan timbunan
kolesterol dalam pembuluh darah. Kadar LDL di dalam darah diharapkan tidak
melebihi 4 kali jumlah HDL, karena resiko aterosklerosis akan tinggi apabila kadar
LDL melebihi 4 kali dari kadar HDL. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kadar
LDL tidak melebihi 2 kali dari kadar HDL.
Pengaruh Pemberian Suplemen pada Kandungan Kromium
Starich dan Blincoe (1983) menyatakan bahwa kromium organik dapat diserap
20 sampai 30 kali lebih efisien dari sumber anorganik. Senyawa kromium seperti
Cr2O3 telah lama dikenal sebagai marker untuk mengetahui konsumsi pakan,
kecernaan nutrien dan mineral yang dikeluarkan. Kromium dalam bentuk organik
mempunyai keutamaan yaitu lebih mudah larut, mudah diabsorbsi dan tidak bersifat
toksik dibandingkan dengan Cr anorganik.
Tabel 5. Kandungan Kromium pada Telur dan Serum.
Peubah
P1
0,0526±0,03
P2
(LZ+CrO+KS)
0,0361±0,004
P3
(LZ+KS)
0,0181±0,02
P4
(CrO+KS)
0,0121±0,01
Serum (ppm)
Telur (ppm)
1,8700±0,22
2,2700±0,31
1,9700±0,20
2,1100±0,18
Keterangan : P1 = Kontrol; P2 = P1 + Lingzhi + Cr organik + Kedelai sangrai; P3 = P1 +
Lingzhi + Kedelai sangrai; P4 = P1 + Cr organik + Kedelai sangrai; LZ= Jamur
lingzhi; CrO = kromium organik; KS = Kedelai sangrai.
Pada Tabel 5 tercantum hasil kandungan kromium pada telur dan serum darah
ayam. Pada kandungan kromium dalam serum, terjadi penurunan pada P2, P3, dan
P4. Sedangkan sebaliknya terjadi kenaikan kandungan kromium dalam telur pada P2,
P3, dan P4. Hal ini menunjukkan bahwa kromium yang ada di dalam darah
terdeposisi ke dalam telur sehingga kadar kromium dalam telur mengalami
peningkatan pada penambahan suplemen kromium organik.
Pada kandungan kromium dalam serum terlihat lebih rendah pada P2, P3, dan
P4 dibandingkan kontrol (P1). Hal ini menunjukkan bahwa kromium sangat cepat
untuk dieksresikan. Pada kandungan kromium dalam telur terlihat adanya
kecenderungan lebih tinggi pada pemberian suplemen (Gambar 3). Pada perlakuan
yang mendapat suplemen tambahan terlihat adanya kecenderungan peningkatan
kandungan kromium pada telur.
Berikut adalah grafik kandungan kolesterol dalam serum (Gambar 2) dan
kolesterol dalam telur (Gambar 3) :
Gambar 4. Grafik Kandungan Kromium dalam Serum.
Gambar 5. Grafik Kandungan Kromium dalam Serum.
Peningkatan
yang
tinggi
terjadi
pada
perlakuan
yang
mendapatkan
suplementasi kromium organik yaitu pada perlakuan 2 dan 4. Pada perlakuan 2 dan 4
terjadi peningkatan kandungan kromium dalam telur berturut-turut sebesar 21,4%
dan 12,8%. Kandungan kromium pada telur meningkat karena adanya penambahan
kromium organik ke dalam pakan sehingga ketersediaan kromium menjadi tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa kromium organik memiliki ketersediaan yang cukup
tinggi, yaitu sebesar 25 sampai 30% (NRC, 1997). Terjadinya peningkatan kromium
dalam telur pada pemberian kromium juga dapat menunjukkan bahwa adanya
deposisi kromium pada telur. Kandungan kromium dalam telur pada poenelitian ini
berkisar antara 1,87 - 2,27 ppm, hasil ini lebih besar dibandingkan dengan penelitian
Richards (1997), yang menyatakan bahwa kadar kromium didalam telur ayam adalah
sebesar 0,103 ppm.
Jalan utama bagi Kromium untuk masuk ke dalam organisme adalah melalui
sistem pencernaan. Tempat absorbsi paling aktif adalah jejunum, sedangkan absorbsi
di dalam ileum dan duodenum kurang efisien. Absorbsi Cr akan meningkat seiring
dengan tingginya level karbohidrat dan adanya asam amino. Kromium yang diserap
kemudian diangkut melalui protein Fe (iron carrier protein) dari plasma darah yaitu
transferrin. Setelah melalui penyerapan di usus, hampir semua Cr masuk ke dalam
hati dan akan digabungkan dengan faktor toleransi glukosa. Sejumlah faktor toleransi
glukosa tertentu disekresikan ke dalam darah dan akan tersedia untuk membantu
aktivitas insulin. Unsur Cr yang tidak digunakan lagi kemudian dieksresikan melalui
urin.
Pengaruh Pemberian Suplemen pada CLA dalam Telur
Conjugated Linoleac Acid (CLA) merupakan isomer dari asam linoleat yang
setiap posisi memiliki ikatan ganda yaitu konfigurasi cis trans, cis cis, dan trans
trans. Secara umum, minyak tumbuhan mengandung asam linoleat tinggi dan
memberikan respons terbesar dalam peningkatan CLA pada lemak susu (Kelly,
1998).
Tabel 6. Kandungan CLA dalam telur.
Perlakuan
P1
CLA (%)
0,42
P2
(LZ+CrO+KS)
0,48
P3
(LZ+KS)
0,5
P4
(CrO+KS)
0,44
Keterangan : P1 = Kontrol;P2 = P1 + Lingzhi + Cr organik + Kedelai sangrai;P3 = P1 + Lingzhi
+ Kedelai sangrai;P4 = P1 + Cr organik + Kedelai Sangrai; LZ= Jamur lingzhi; CrO
= kromium organik; KS = Kedelai sangrai.
Kandungan CLA dalam telur menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan
pada setiap perlakuan jika dibandingkan dengan kontrol walaupun tidak begitu besar
(Gambar 4). Peningkatan kadar CLA dalam telur pada perlakuan 2 adalah sebesar
14,3% dibandingkan dengan perlakuan 1 atau kontrol, pada perlakuan 3 sebesar
19,1% dan pada perlakuan 4 sebesar 4,2%. Peningkatan yang hampir sama pun
didapat oleh Alvarez et al., (2004) yang mendapatkan peningkatan kandungan CLA
dalam telur sebesar 10,5% pada penambahan 3% CLA. Menurut Adawiah (2005)
suplementasi kedelai sangrai pada sapi perah dapat meningkatkan kadar asam lemak
tak jenuh pada susu, khususnya asam linoleat bahkan kadar CLA meningkat hingga
101,5%. Meski merupakan komponen lemak, namun CLA dapat mengurangi lemak
tubuh dan meningkatkan massa otot dengan lemak sedikit.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pemberian suplemen campuran jamur lingzhi, kedelai sangrai dan Cr organik
pada pakan ayam petelur belum mampu menurunkan kolesterol dalam telur.
Kandungan kolesterol dalam serum terlihat adanya indikasi penurunan pada
penambahan suplemen lingzhi. Pada penambahan kromium organik terlihat adanya
indikasi penurunan kadar LDL dan peningkatan kadar HDL. Pada telur terjadi
peningkatan kandungan kromium dan CLA pada penambahan suplemen kromium
dan kedelai sangrai.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang mekanisme dan identifikasi
kandungan zat aktif pada jamur lingzhi serta penentuan dosis optimum pemberian
suplemen jamur lingzhi, Cr organik, maupun kedelai sangrai untuk mengetahui efek
positif yang lebih nyata pada ayam petelur dan produknya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Bismillahirrahmannirrahim.
Alhamdulillahirabbil’aalamin. Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT
atas segala nikmat, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Dr. Ir. Dwierra Evvyernie Amirroenas, MS. M.Sc. dan Ir. Dwi Margi Suci, M.S. sebagai
dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, saran, dan nasihat yang telah diberikan selama
penelitian dan penyusunan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir.
Ibnu Katsir Amrullah selaku dosen pembahas seminar, kepada Dr. Ir. Muhammad Ridla,
M.Agr dan Dr. Rudi Afnan, S.Pt. M.Sc. Agr selaku dosen penguji sidang.
Terima kasih penulis ucapkan kepada kedua orang tua yang selalu
mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini baik moril maupun materil.
Semoga penulis dapat memenuhi harapan dan memberikan yang terbaik.
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada mas Mulyanto,
Ahmad Matchik dan ibu Lanjarsih yang telah membantu dalam penelitian di
kandang. Teman satu tim penelitian mba Tania atas kerjasama, pengertian dan
kebersamaannya. Terima kasih penulis ucapkan juga kepada Rolis, Raisa, ibu Yenny,
Suli, Efi, dan mba romantis atas semua saran dan masukannya. Fajar, Inul, Indra, dan
Adi atas segala bantuannya. Serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu
persatu yang telah memberikan dukungan selama pelaksanaan penelitian dan
penyusunan skripsi ini kepada penulis.
Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya
serta pembaca umumnya.
Bogor, Oktober 2010
Penulis
DAFTAR PUSTAKA
Adawiah. 2005. Respons produktivitas dan kualitas susu pada suplementasi sabun
mineral dan mineral organik serta kacang kedelai sangrai dalam ransum
ternak ruminansia. Disertasi. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Álvarez, C., P. Cachaldora, J. Méndez, & P. García. 2004. Effects of conjugated
linoleic acid addition on its deposition in eggs of laying hens, fed with no
other fat source. Spanish Journal of Agricultural Research. 2 (2): 203-209
Anggorodi, R. 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta.
AOAC. 1990. Official Methods of Analysis. 15th Edition. Association of Official
Analytical Chemists. Washington.
Asnawati, K. 2008. Inkorporasi kromium pada media kedelai yang difermentasikan
dengan Rhizopus sp. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Bappenas,
2006. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat
www.disnak.jabarprov.go.id. [03 September 2010]
Pedesaan.
Chang, S. & P. G. Miles. 2004. Mushrooms: Cultivation, Nutritional Value,
Medicinal Effect, and Enviromental Impact. 2nd Edition. CRC Press. New
York.
Friedewald, N. T., R. I. Levy, & R. I. Frieddericson. 1972. Estimation of the
concentration of low density lipoprotein cholesterol plasma without use of
the preparative ultracentrifugation. Clin. Chem. 18 (6): 499-502.
Groof J. L. & S. S. Grooper. 2000. Advanced Nutrition and Human Metabolism. 3rd
Edition. Wadswoth Thomson Learning. Belmont CA.
Grevatt P. C. 1998. Toxicological review of hexavalent chromium. Protection
Agency. Washington DC.
Griffin, H. D. 1992. Manipulation of egg yolk cholesterol : a physiologist’s view.
World’s Poult. Sci. 48 : 101 – 112.
Hammad, S. M., H. S. Siegel & H. L. Marks. 1996. Dietary cholesterol effects on
plasma and yolk cholesterol fraction in selected lines of Japanese quail.
Poult. Sci. 75:933-942.
Han, C. K, & N. H. Lee. 1992. Yolk cholesterol content in egg the mayor domestic
strain of breeding. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 5 (3) : 461 – 464.
Hanafiah, T. H. 2009. Kadar kolesterol serum darah ayam petelur yang diberi air
rebusan daun sirih. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Irene, A. 2001. Pemanfaatan medium Ganoderma lucidum yang berasal dari empelur
kelapa sawit sebagai pakan ayam broiler. Skripsi. Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kelly, M. L. 1998. Dietary fatty acid sources affect conjugated linoleic acid
concentration in milk from lactating dairy cows. J Nutr 128:881-885
Kleiner, I. S. & L. B. Dotti. 1962. Laboratory Instruction in Biochemistry. 6th
Edition. The C. V. Mosby company. New York.
Laihad, J. T. 2000. Pengaruh penambahan teh hijau dalam pakan pada kolesterol
ayam broiler. Disertasi. Fakultas Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Leeson, S & J. D. Summers. 2005. Commercial Poultry Nutrition. 3rd Edition.
Ontario. Canada.
Linder, M. C. 1992. Nutrisi dan Metabolisme Mikromineral dalam : Biokimia Nutrisi
dan Metabolisme dengan Pemakaian secara Klinis. Cetakan Pertama.
Terjemahan: A. Parakkasi. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Lindemann, M. D. 1996. Organic chromium-the missing link in farm animal
nutrition. Feeding Times 1:8-16
Lehninger, A. L. 1990 Dasar-dasar Biokimia. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Mayes, P. A., D. W. Martin & V. W. Rodwell. 1983. Harper’s Review of
Biochemistry. 19th Edition. Lange Medical Publications. Maruzen Asia.
Ayer Rajah. Singapore.
Mertz W. 1993. Chromium in human nutrition. J. Nutr. 123:626-633.
Mertz W. 1998. Chromium research from a distance: from 1959 to 1980. J. American
Coll. Nutr 17 : 544-547.
Muchtadi, D., N. S. Palupi, & M. Astnawan. 1993. Metabolisme Zat Gizi. Pusat
Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
National Research Council. 1997. The Role of Chromium in Animal Nutrition.
National Academic Press, Washington, D. C.
Nimpf, J. & W. J. Schneider, 1991. Receptor-mediated lipoprotein transport in laying
hens. J. Nutr. 121 : 1471 – 1474.
Nissa, Z. 2005. Evaluasi penggunaan tepung sambiloto (Andrographis paniculata
Nees) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida serum ayam petelur umur
33-40 minggu. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
North, M. O. & D. D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. 4
Edition. An Avi Book Published by V. N. Reinhold, New York.
th
Ohh, S. J. & J. Y. Lee. 2005. Dietary chromium-methionine chelate supplementation
and animal performance. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 18. : 898- 907
Parjimo, H. & H. Soenanto. 2008. Jamur Ling Zhi Raja Herbal, Seribu Khasiat. PT.
Agromedia Pustaka. Jakarta.
Pudjiadi. 1997. Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. 3rd Edition, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.
Richards, M. P. 1997. Trace mineral metabolism in the avian embryo. Poult.Sci.
76:152-164.
Romanoff, A. L. & A. J. Romanoff. 1963 The Avian Egg. John Wiley and Sons Inc.
New York.
Salim, M. N. 2001. Pengaruh lemak sapi dan minyak kelapa terhadap kadar
kolesterol darah dan histopatologi aorta ayam (Gallus gallus). Media
Kedokteran Hewan. Fakultas Kedokteran Hewan 17 : 26-28.
Scott, M. L., M. C. Nesheim & R. J. Young. 1982. Nutrition of The Chicken. 3rd
Edition. M. L. Scott and Associates. Ithaca, New York.
Sloan, D. P., RH. Harms, G. B. Russell & W. G. Smith. 1994. The relationship of
egg cholesterol to serum cholesterol, serum calcium, feed consumption
and dietary cholecalciferol .Poult. Sci. 73:472-475.
Starich, G. H. & C. Blincoe. 1983. Dietary chromium form and availabilities. The
Science of the Total Environment 28:443-454
Steel, R. G. D. & J. H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika. Suatu
Pendekatan Biometrik. Edisi Kedua. Terjemahan: B. Sumantri. PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Suksombat, W & S. Kanchanatawee. 2005. Effects of various sources and levels of
chromium on performance of broilers. J. Anim. Sci. 18 (11) : 1628-1633
Suriawiria. 2001. Budidaya Ling Zhi dan Maitake Jamur Berkhasiat Obat. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Susanto. A. 1998. Sifat-sifat biokimiawi dan fabrikasi ganoderma, jamur patogen
pohonan. J. Perlindungan Tanaman Indonesia. 4 (2): 83-91.
Swenson, M. J. 1984. Duke’s Phsiology of Domestic Animals. 10 th Edition.
Publishing Assocattes a Division of Cornell University. Ithaca and
London.
Underwood, E. J. 1971. Trace Element in Human and Animal Nutrition. 3rd Edition.
Academic Press, New York.
Undewood, E. J. & N. F Suttle. 2001. The mineral Nutrition of livestock. 3rd Edition.
CABI Publishing. New York.
Vares, T. & P. Hatakka. 1997. Lignin-degrading activity and ligninolytic enzymes of
different white rot fungi: Effect of manganese and malonate. Canadian
Journal of Botany. 75 (1): 61-71.
Wijiastuti, L. 1994. Pengaruh penggunaan ampas tempe dalam ransum terhadap
kandungan kolesterol kuning telur dan performans ayam petelur strain
Lohhman fase II. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Winarno, F. G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Cetakan Kedelapan. PT.Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1. ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Kolesterol
Total Serum Darah.
SK
Perlakuan
Error
Total
Keterangan:
db
3
8
11
db
Fhit
F0,05
F0,01
JK
KT
Fhit
F0.05
F0.01
1195.91 398.6367 0.397531 2,306
3,355
8022.25 1002.781
9218.17
= derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah
= nilai F yang diperoleh dari hasil pengolahan data
= hasil pengolahan data dengan taraf kesalahan sebesar 5%
(α = 0,05)
= hasil pengolahan data dengan taraf kesalahan sebesar 1% (α
= 0,01)
Lampiran 2. ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan LDL Serum
Darah
SK
Perlakuan
Error
Total
Keterangan:
db
JK
KT
Fhit
F0.05
F0.01
3
81.22 27.07333 0.04235
2.306
3.355
8 5114.18 639.2725
11 5195.4
db
= derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah
Fhit = nilai F yang diperoleh dari hasil pengolahan data
F0,05 = hasil pengolahan data dengan taraf kesalahan sebesar 5%
(α = 0,05)
F0,01 = hasil pengolahan data dengan taraf kesalahan sebesar 1% (α
= 0,01)
Lampiran 3. ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan HDL Serum
Darah
SK
Perlakuan
Error
Total
Keterangan
db
db
Fhit
F0,05
F0,01
JK
KT
Fhit
F0.05
F0.01
3
82.99 27.66333 0.386184 2,306
3,355
8
573.06 71.6325
11 656.0473
= derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah
= nilai F yang diperoleh dari hasil pengolahan data
= hasil pengolahan data dengan taraf kesalahan sebesar 5% (α
= 0,05)
= hasil pengolahan data dengan taraf kesalahan sebesar 1% (α
= 0,01)
Download