BAB 1 - Universitas Sumatera Utara

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penyuluhan dan Pendidikan Kesehatan
Menurut Blum dalam Soekidjo (2003) upaya meningkatkan kesehatan
masyarakat termasuk kepada orangtua yang anaknya mengalami gizi kurang dan
buruk, memerlukan intervensi dengan dua upaya yaitu melalui :
1. Tekanan (enforcement)
Upaya agar masyarakat mau mengadopsi perilaku kesehatan dengan baik
adalah dengan cara tekanan, paksaan atau koersi (coertion). Upaya ini bisa dalam
bentuk undang-undang, peraturan-peraturan, intruksi-intruksi, tekanan-tekanan dan
sanksi- sanksi
2. Edukasi (education)
Upaya agar masyarakat mau mengadopsi perilaku kesehatan dengan benar
dengan cara persuasi, bujukan, himbauan, ajakan, memberikan informasi,
memberikan kesadaran dan lain sebagainya melalui penyuluhan dan pendidikan .
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan kesehatan, yang dilakukan
dengan menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja
sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada
hubungannya dengan kesehatan. Sehingga petugas penyuluhan kesehatan harus
menguasai ilmu komunikasi juga harus menguasai pemahaman yang lengkap tentang
pesan yang akan disampaikan (Azrul & Azwar, 1983).
Universitas Sumatera Utara
Penyuluhan merupakan jenis layanan yang merupakan bagian terpadu dari
bimbingan. Atau merupakan suatu hubungan timbal balik antara dua orang individu,
di mana yang seseorang (yaitu penyuluh) berusaha membantu yang lain (yaitu klien)
untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalahmasalah yang dihadapinya pada waktu yang akan datang. Di sini terlihat klien atau
masyarakat yang bermasalah, dengan perilaku yang tidak sehat, setelah mengikuti
penyuluhan diharapkan klien memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri
dalam memperbaiki perilaku pada saat ini dan mungkin pada saat yang akan datang
( Sukardi & Ketut, 1995).
Penyuluhan kesehatan merupakan kegiatan pendidikan kesehatan. Sehingga
pendidikan
kesehatan
adalah
bagian
dari seluruh upaya kesehatan yang
menitikberatkan pada upaya untuk meningkatkan perilaku sehat, pendidikan
kesehatan mendorong perilaku yang menunjang kesehatan, mencegah penyakit,
mengobati penyakit dan membantu pemulihan. Pendidikan kesehatan adalah suatu
kegiatan yang terencana dengan tujuan untuk mengubah pengetahuan, sikap, persepsi
dan perilaku seseorang atau masyarakat dalam pengambilan tindakan yang
berhubungan dengan kesehatan (WHO, 1992). Sedangkan Glanz, dkk., (1997)
mengatakan bahwa pendidikan kesehatan merupakan alat untuk merubah perilaku
dan kombinasi dari berbagai pengalaman belajar seseorang untuk memberikan
fasilitas/sarana menuju perilaku sehat.
Metode yang digunakan dalam pendidikan kesehatan didasarkan pada tujuan
yang akan dicapai dari pendidikan kesehatan tersebut. Tujuan pendidikan kesehatan,
Universitas Sumatera Utara
menyangkut tiga hal, yaitu peningkatan pengetahuan (knowledge), perubahan sikap
(attitude), dan ketrampilan atau tingkah laku (practice), yang berhubungan dengan
masalah kesehatan masyarakat (Depkes RI, 1997). Menurut Sarwono (1997),
pendidikan kesehatan adalah proses mendidik individu/masyarakat supaya mereka
dapat memecahkan masalah kesehatan yang dihadapi. Beragam teknik pendidikan
meliputi ceramah, seminar, diskusi, lokakarya, simulasi, pameran, demonstransi,
perlombaan, kunjungan lapangan dan tutorial.
Sasaran pendidikan kesehatan disetiap tingkatan masyarakat berbeda antara
satu dengan lainnya. Menurut Simons-Morton, dkk., (1995), ada empat tingkatan
yang dapat dijadikan sasaran pendidikan kesehatan. Keempat tingkatan tersebut
adalah :
1. Tingkatan individu Sasarannya yaitu pengetahuan, sikap, perilaku dan
filosofi dari individu yang menjadi target sasaran.
2. Tingkatan organisasi Sasarannya yaitu kebijakan, praktek/pelaksanaan
program, fasilitas yang tersedia dan sumber daya pendukung.
3. Tingkatan
kelompok
masyarakat
Sasarannya
yaitu
kebijakan,
praktek/pelaksanaan program, fasilitas yang tersedia dan sumber daya
yang tersedia.
4. Tingkatan pemerintahan Sasarannya yaitu kebijakan-kebijakan yang
dikeluarkan dibidang kesehatan, program kesehatan, fasilitas sebagai
sarana pendidikan kesehatan, sumber daya, peraturan-peraturan yang
dibuat di bidang kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Universitas Sumatera Utara
Menurut Pelto, dkk., (2004), adanya training konseling nutrisi yang memiliki
beberapa karakteristik dapat menerangkan efek positif atas perubahan perilaku.
Material konseling nutrisi pada Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dibangun
atas dua dasar yaitu : 1) dapat menyediakan pengetahuan tentang kombinasi makanan
dan praktek asupan makanan terhadap usia anak; 2) sebagai alat pengembangan skill
untuk meningkatkan hubungan dan komunikasi yang lebih efektif.
Pendidikan masyarakat mengandung pengertian usaha manusia untuk
meningkatkan kepribadian, ketrampilan, pengetahuan, sikap, dan perilaku agar dapat
diserap atau dipraktekkan oleh masyarakat. Dengan mengacu pada pengertian
tersebut, penyuluhan adalah usaha mengubah perilaku masyarakat, keluarga, terutama
kepala dan ibu rumah tangga, agar mereka mengetahui, menyadari, mempunyai
kemampuan dan kemauan, serta tanggung jawab untuk memecahkan masalah dalam
kehidupannya (Kartasapoetra, 1994).
2.2. Komunikasi dan faktor Efektifitas Penyuluhan
Secara umum, komunikasi adalah suatu pernyataan antar manusia, baik secara
perorangan maupun berkelompok yang bersifat umum dengan menggunakan
lambang-lambang tertentu yang berarti. Dalam kerangka penyuluhan, maka ilmu
komunikasi jelas sangat diperlukan sebagai dasar dalam mentransfer pesan yang akan
disampaikan oleh penyuluh kepada sasaran. Sasaran komunikasi dalam penyuluhan
kesehatan adalah masyarakat yang pada umumnya adalah kepala dan ibu rumah
tangga, Wanita Usia Subur (WUS), Pasangan Usia Subur (PUS), ibu hamil, ibu nifas,
ibu menyusui, dan sebagainya. Jika pengertian komunikasi diatas dikaitkan dengan
Universitas Sumatera Utara
bidang kesehatan secara umum, maka komunikasi penyuluhan di bidang kesehatan
dapat diartikan sebagai pernyataan antara manusia, baik secara individu maupun
kelompok berkaitan dengan kegiatan penyuluhan di bidang kesehatan yang sifatnya
khusus, menyangkut bidang yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat dengan
menggunakan lambang-lambang tertentu (Lucie, 2005)
Upaya seseorang atau sekelompok orang untuk dapat memperoleh informasi
sekaligus teknologi yang tepat guna dan sesuai dengan kondisi sasaran, hanya dapat
dilakukan jika sasaran memperoleh penyuluhan dengan benar. Pemahaman yang
mendalam tentang peran penyuluhan sebagai proses penyebarluasan informasi,
penerangan, perubahan perilaku, sampai proses transformasi sosial (Suriatna, 1988).
Menurut Widjaja (1986), komunikasi sebagai bentuk penyampaian pesan,
maka perlu diketahui apakah pesan yang disampaikan telah efektif sampai kepada
sasaran komunikasi. Untuk hal tersebut, maka seorang komunikator perlu melakukan
evaluasi dalam bentuk umpan balik atau Feedback. Umpan balik dari komunikator ke
komunikan dapat bersifat langsung (Direct Feed-Back) maupun tidak langsung
(Indirect Feed-Back).
Dapat dilihat pada gambar 1 sebagai berikut :
KOMUNIKATOR
PESAN
KOMUNIKAN
UMPAN BALIK
Gambar 1 : Umpan Balik Langsung dari Proses Komunikasi
Sumber
: Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Lucie (2005).
Universitas Sumatera Utara
Gambar 1 menunjukkan bahwa seorang komunikator perlu mengetahui secara
langsung pesan yang disampaikan kepada komunikan, apakah telah dapat diterima
dengan baik dan jelas dalam bentuk umpan balik, sehingga pesan yang disampaikan
selanjutnya dapat lebih diperjelas informasinya.
KOMUNIKATOR
PESAN
KOMUNIKAN
PIHAK LAIN III
UMPAN BALIK
PIHAK LAIN II
PIHAK LAIN I
Gambar 2 : Umpan Balik Tidak Langsung dari Proses Komunikasi
Sumber
: Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Lucie (2005).
Gambar 2 menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan kepada komunikan
apakah pesan tersebut telah mengena pada sasaran, dapat diketahui melalui adanya
pihak lain yang memberikan umpan balik pada komunikator, adanya umpan balik
memberikan kesempatan atau peluang komunikator untuk melanjutkan pesan atau
memperbaiki pesan yang disampaikan sehingga tercapai tujuan (Soekartawi, 1988).
Menurut Lucie (2005), didalam membahas faktor efektivitas penyuluhan,
maka banyak unsur-unsur yang sangat berperanan dalam tercapainya efektifitas suatu
penyuluhan, ada empat unsur yaitu :
Universitas Sumatera Utara
1. Metode penyuluhan
Menurut Van den Ban dan Hawkins (1996), pilihan seseorang terhadap satu
metode/tekhnik penyuluhan sangat tergantung kepada tujuan khusus yang ingin
dicapainya dan situasi kerjanya. Karena beragamnya metode penyuluhan yang
dapat digunakan dalam kegiatan penyuluhan, maka perlu diketahui penggolongan
metode penyuluhan menurut jumlah sasaran yang hendak dicapai. Berdasarkan
pendekatan sasaran yang ingin dicapai, penggolongan metode ada tiga, dapat
dilihat pada tabel 3 sebagai berikut :
Tabel. 2.1. Beberapa Keuntungan dan Kerugian dari Tiga Metode Penyuluhan.
Metode
1. Penyuluhan
Massal
Keuntungan/kebaikan
• Tidak terlalu resmi, kesehatan massal
• Penuh kepercayaan
Kekurangan
• Memakan waktu
lebih banyak
• Biaya lebih besar
• Bersifat kurang
efisien pengaruhnya
2. Penyuluhan
• Relatif lebih efisien, kesehatan
• Masalah
Kelompok
kelompok
pengorganisasian
• Komunikator tidak tersamar
• Pendekatan aktifitas
pembentukan
kelompok bersama
• Kesulitan dalam
pengorganisasian
aktifitas diskusi
• Memerlukan
pembinaan calon
pimpinan kelompok
yang cakap dan
dinamis
3. Penyuluhan • Waktu lebih efisien
• Komunikator
Perorangan • Adanya persiapan yang mantap
tersamar
• Langsung dapat dirasakan
• Sifatnya lebih
formal
• Pengaruhnya
relative sukar
• Relatif lebih mudah
diukur
Sumber : Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Lucie
(2005).
Universitas Sumatera Utara
Banyak cara dalam menyampaikan informasi melalui pendidikan kesehatan,
salah satunya adalah dengan ceramah. Menurut Maulana (2009), ceramah adalah
pidato yang disampaikan oleh seorang pembicara didepan sekelompok pengunjung
atau pendengar. Metode ini dipergunakan jika berada dalam kondisi berikut :
a. Waktu penyampaian informasi terbatas
b. Orang yang mendengarkan sudah termotivasi
c. Pembicara menggunakan gambar dalam kata-kata
d. Kelompok terlalu besar untuk memakai metode lain
e. Ingin menambahkan atau menekankan apa-apa yang sudah dipelajari
f. Mengulangi, memperkenalkan atau mengantarkan apa yang sudah dicapai.
g. Sasaran dapat memahami kata-kata yang digunakan.
P
E
N
D
A
H
U
L
U
A
N
Kurang efektif, tidak
intensif, kemampuan
penyuluhan agar mengetahui
dan menaruh perhatian
Metode Pendekatan
Massal
Metode Pendekatan
Kelompok
Metode Pendekatan
Perorangan
Kurang efektif, agak
intensif, kemampuan
penyuluhan mendorong
masyarakat agar menilai
dan mencoba
Efektif, intensif,
kemampuan penyuluhan
masyarakat mulai
menerapkan.
KEBERHASILAN
Gambar 3 : Keterkaitan Metode Massal, Kelompok, dan Perorangan
dengan Keberhasilan Penyuluhan
Sumber
: Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Lucie (2005).
Universitas Sumatera Utara
2. Media penyuluhan
Yaitu alat bantu penyuluhan, yang dalam peranannya berfungsi sebagai perantara
yang dapat dipercaya menghubungkan antara penyuluh dengan sasaran sehingga
pesan atau informasi akan lebih jelas dan nyata. Menurut Mardikanto (1993),
media adalah alat bantu atau benda yang dapat diamati, didengar, diraba atau
dirasakan oleh indera manusia yang berfungsi untuk memperagakan atau
menjelaskan uraian yang disampaikan penyuluh agar materi penyuluhan mudah
diterima dan dipahami. Alat peraga atau media, selain sebagai alat memperjelas
juga dapat berfungsi sebagai berikut yaitu 1) Menarik perhatian atau memusatkan
perhatian, sehingga konsentrasi sasaran terhadap materi tidak terpecah;
2) Menimbulkan kesan mendalam, artinya apa yang disuluhkan tidak mudah
untuk dilupakan; serta 3) Alat untuk menghemat waktu yang terbatas, terutama
jika penyuluh harus menjelaskan materi yang cukup banyak. Dapat dilihat pada
gambar 4 sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara
Bendag
point. You
can
Bendathe
summary of
an
• Sampel, model, Specimen
(benda yang diawetkan),
pamphlet, leaflet, folder,
brosur/booklet
• Placard, poster, flipchard,
photo, flannelgraph,
transparency, sheet
Alat Peraga
Penyuluhan
Gambar
Diproyeksikan
or the
summary of
m Lambang
Grafik
the
• Slide-film, movie-film,
filmstrip, video-film, film
televisi/TV
• Grafik (garis, batang),
diagram, schema, dan
peta
Gambar 4 : Ragam Alat Bantu Peraga Penyuluhan
Sumber
: Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Lucie (2005).
Universitas Sumatera Utara
3. Materi penyuluhan
Yaitu segala sesuatu yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan, baik yang
menyangkut ilmu atau teknologi. Materi yang baik dalam penyuluhan adalah
yang sesuai dengan kebutuhan sasaran, menarik karena dapat memperbaiki
produktivitas sumber daya manusia, yang lebih penting lagi dapat memecahkan
masalah yang sedang dihadapi oleh sasaran penyuluhan. Kartasaputra (1994)
mengemukakan bahwa, materi penyuluhan agar dapat diterima, dimanfaatkan dan
diaplikasikan oleh sasaran penyuluhan dengan baik, harus : a) sesuai dengan
kemampuan sasaran penyuluhan; b) tidak bertentangan atau sesuai/selaras dengan
adat/kepercayaan yang berkembang di daerah setempat; c) mampu mendatangkan
keuntungan; d) bersifat praktis, mudah dipahami dan diaplikasikan sesuai tingkat
pengetahuan; e) mengesankan, dapat dimanfaatkan dengan hasil nyata dan dapat
dinikmati.
4. Waktu dan tempat penyuluhan
Seorang penyuluh harus mengetahui kapan sasaran ada di lapangan, di rumah
dalam keadaan santai, di kantor, ketika berada dalam kegiatan kelompok,
sosialisasi masyarakat, dan sebagainya.
Komunikasi akan lebih efektif apabila disampaikan secara langsung
berhadapan. Menurut penelitian, teknik komunikasi yang efektif adalah dengan
mengemukakan kesimpulan komunikasi secara eksplisit kepada subyek yang
sikapnya hendak diubah, dan dengan mengulang-ulangargumentasi yang mendukung
sikap yang dituju (Middlebrook, 1974). Akan tetapi pengulangan pesan yang terlalu
sering justru dapat mendatangkan penolakan dari individu yang dijadikan target.
Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh (Cacioppo dan Petty, 1979 dalam Azwar
Universitas Sumatera Utara
2003) ditemukan bahwa pengulangan akan menaikkan perubahan sikap, tetapi apabila
diteruskan maka pengulangan itu justru akan menurun efeknya. Ternyata banyaknya
pengulangan yang optimal adalah tiga kali, sedangkan kalau lebih dari tiga kali
individu akan mengalami kebosanan dan dapat malah menolak pesan yang
disampaikan (Watson, dkk., 1984).
2.3. Media Audio Visual
Kata media berasal dari bahasa Latin Medius, yang secara harfiah berarti
”tengah”, ”perantara atau pengatur”. Dalam bahasa arab, media adalah perantara atau
pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Arsyad, 2006). Sedangkan
menurut Gerlach & Ely (1971), mengatakan bahwa media apabila dipahami secara
garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang
membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam
pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan merupakan media. Secara lebih
khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai
alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan
menyusun kembali informasi visual/verbal.
Alat-alat audio visual adalah alat-alat yang “audible” artinya dapat didengar
dan alat-alat yang “visible” artinya dapat dilihat. Alat-alat audiovisual gunanya untuk
membuat cara berkomunikasi menjadi efektif. Sasaran komunikasinya yaitu berupa
pengajaran, penerangan dan penyuluhan. Alat-alat audio-visual antara lain termasuk
gambar, foto, slide, model, pita kaset tape recorder, film bersuara dan televisi.
Pendidikan visual artinya penyajian pengetahuan melalui pengalaman melihat, atau
suatu metode untuk menyampaikan informasi berdasarkan prinsip psikologis yang
Universitas Sumatera Utara
menyatakan bahwa seseorang memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu
yang dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya (Machfoedz, dkk., 2005).
Media audio dan audio-visual merupakan bentuk media pembelajaran yang murah
dan terjangkau. Disamping itu menarik dan memotivasi siswa untuk mempelajari
materi lebih banyak, menurut Arsyad (2006).
Menurut beberapa faktor dalam filsafat dan sejarah pendidikan, pengetahuan
disalurkan ke otak melalui satu indera atau lebih. Para ahli indera berpendapat, bahwa
75% dari pengetahuan manusia sampai ke otaknya melalui mata dan yang selebihnya
melalui pendengaran dan inderaindera yang lain. Alat-alat audio visual dapat
menyampaikan pengertian atau informasi dengan cara yang lebih konkrit atau lebih
nyata daripada yang disampaikan oleh kata-kata yang diucapkan, dicetak atau ditulis.
Oleh karena itu alat-alat audio visual membuat suatu pengertian atau informasi
menjadi lebih berarti (Lucie, 2005).
Salah satu penyebab yang utama dari tidak efisiennya cara belajar dan
berkomunikasi adalah bahwa manusia adalah pelupa. Kalau sekiranya anak-anak atau
orang dewasa mengekalkan 25% saja lebih banyak dari yang mereka ketahui,
keadaan lingkungan kita pasti lebih baik dari sekarang (Suleiman, 1988).
Media audio visual mempunyai karakteristik yang melekat padanya, meliputi
sifat positif dan negatif; disebut positif karena dapat memperoleh manfaat yang lebih
maksimal, jangkauan luas, seketika (serentak), menarik, kontak relatif mudah, efek
dramatisasi, penentuan waktu penayangan mudah, gabungan (gambar, suara, gerak,
warna, juga tulisan). Sedangkan sifat negatif, sekilas pandang dan dengar, frekuensi
harus tinggi, mahal, tidak ada segmentasi, terbatas (harus pendek), membutuhkan
waktu produksi yang rumit dan lama (Phyllis, 1989).
Universitas Sumatera Utara
Menurut Machfoedz, dkk., (2005), alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang
digunakan oleh pendidik dalam penyampaian bahan pendidikan/pengajaran. Alat
bantu ini disebut “alat peraga” karena berfungsi untuk membantu dan memperagakan
sesuatu dalam proses pendidikan pengajaran. Semakin banyak indra yang digunakan
untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan jelas pula pengertian/pengetahuan
yang diperoleh. Dale (1969), membagi alat peraga tersebut menjadi 11 macam, dan
sekaligus menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat tersebut dalam suatu
kerucut pada gambar 5 berikut yaitu :
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Keterangan : 1) Kata-kata; 2) Tulisan; 3) Rekaman/Radio; 4) Film; 5) Televisi;
6) Pameran; 7) Field Trip 8) Demonstrasi; 9) Sandiwara; 10) Benda
Tiruan; 11) Benda Asli.
Gambar 5
Sumber
: Kerucut Edgar Dale
: Pendidikan Kesehatan Bagian Dari
Oleh Machfoedz (2005a), Halaman 84
Promosi
Kesehatan
Gambar kerucut tersebut dapat dilihat bahwa lapisan yang paling dasar adalah
benda asli dan yang paling atas adalah kata-kata. Hal ini berarti bahwa dalam proses
pendidikan,
benda
asli
mempunyai
intensitas
yang
paling
tinggi
untuk
Universitas Sumatera Utara
mempersepsikan bahan pendidikan dan pengajaran. Sedangkan penyampaian bahan
yang hanya dengan kata-kata saja sangat kurang efektif atau intensitasnya paling
rendah. Jelas bahwa dalam penggunaan alat peraga adalah salah satu prinsip proses
pendidikan.
Penulisan skenario yang perlu diperhatikan antara lain : pemikiran tentang
cerita penyuluhan kesehatan, topik atau tema penyuluhan, jalan cerita dan esensi,
pengembangan
gagasan,
penyatuan
gagasan
dalam
urutan
yang
sesuai,
pengembangan cerita dan sebagainya sehingga menarik untuk ditonton. Bahasa yang
digunakan untuk pesan penyuluhan kesehatan melalui media audio visual harus
menarik, sederhana dan mudah dimengerti, cukup jelas sesuai dengan pesan yang
akan disampaikan, sehingga mampu menggambarkan apa yang menjadi maksud yang
sebenarnya, juga harus disesuaikan tampilan jenis gambar. Pengaturan audio visual
dengan baik dapat memberi berbagai makna dalam suatu arus informasi yang
berkualitas sehingga bisa diterima dalam belajar dan memungkinkan keadaan lebih
baik (Norfolk, 2004).
Pengaruh media audio visual paling lekat berhubungan dengan perilaku suatu
propaganda. Media audio visual dapat menimbulkan beberapa perubahan, misalnya
perubahan perilaku, meningkatkan pengetahuan, mempengaruhi tahap bertahan,
menguatkan
nilai,
menengahi
faktor,
mempengaruhi
perspektif
psikologis.
Mengkonstruksi pendengar untuk membentuk pandangan mereka sendiri tentang
kenyataan sosial di tempat mereka berinteraksi dengan simbol yang ditawarkan media
(Boyd, dkk., 1987).
Alat visual untuk mengkonkritkan suatu ajaran dilengkapi dengan
digunakannya alat audio sehingga dikenal adanya alat audio visual atau Audio Visual
Universitas Sumatera Utara
Aids (AVA). Video sistem dalam penggunaannya sebagai peralatan putar ulang dari
suatu program (rekaman), terdiri dari minimal satu buah video tape recorder (video
cassette recorder/VCR) dan satu buah monitor atau lebih. Berbagai jenis VCR yang
ada di pasaran dibuat dengan berbagai tujuan penggunaannya. Ada yang untuk
keperluan broadcast, untuk keperluan pendidikan, pengajaran, penyuluhan, keperluan
industri dan keperluan rumah tangga atau hiburan (Sadiman, dkk., 2003).
Dari sini dapat disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih mempermudah cara
penyampaian dan penerimaan informasi atau bahan pendidikan (Mahfoedz, dkk.,
2005).
Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Feby. Dkk., (2004) pada post-test
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rerata pengetahuan pada kelompok
intervensi lebih tinggi (21,61) dibandingkan dengan kelompok control (20,35).
Promosi kesehatan melalui ceramah dibantu VCD dan Leaflet ternyata lebih
meningkatkan pengetahuan guru penjakes tentang GAKI dibandingkan kelompok
yang hanya mendapat promosi melalui ceramah dibantu media VCD.
Hasil penelitian dilakukan oleh Pelto, dkk. (2004) menunjukkan bahwa
dengan intervensi training konseling nutrisi merubah perilaku dokter dan
memperbaiki pengetahuan pemberi perawatan, hasilnya ibu yang menerima nasehat
dari perawat yang terlatih memiliki tingkat pengingatan pesan tinggi terhadap
makanan khusus yaitu dari 27% menjadi 95%, praktek asupan dan rekomendasi
penyajian makanan dari 20% menjadi 90% serta proporsi pesan yang diingat
mengenai pentingnya ibu menyusui anak dari 30% menjadi 60%. Audio visual
merupakan alat bantu yang paling tepat saat ini. Seiring perkembangan teknologi
yang begitu pesat dan pembuatan/pemakaian media audio visual tidaklah begitu
Universitas Sumatera Utara
mahal lagi. Sebagian besar masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan
memiliki sarana Audio visual dirumah masing-masing (Arsyad, 2006).
2.4. Media Poster Kalender
Menurut Angkowo dkk (2007), Sutikno (2009), yang membagi media
berdasarkan jenisnya, media poster dan leafleat merupakan media gambar. Raharjo
(1991) dalam Junita (2009) berdasarkan jenis media, poster dan leafleat merupakan
media visual. Menurut Notoatmodjo (2007), berdasarkan
pembuatan dan
penggunaan media, poster dan leafleat merupakan alat peraga yang sederhana, mudah
dibuat sendiri dan dapat dipergunakan di berbagai tempat. Menurut Sadiman (2003)
dalam Junita (2009) media poster dan leafleat merupakan media yang lazim dipakai
dalam kegiatan belajar mengajar di Indonesia. Menurut Smaldiono (2005) dalam
Herliana (2007) mengemukakan bahwa media poster dan leafleat merupakan media
yang dapat disajikan dalam berbagai format. Taufik (2007) menjelaskan bahwa media
poster dan leaflet merupakan alat peraga yang sering digunakan dalam kegiatan
promosi kesehatan masyarakat.
Poster Kalender adalah pesan singkat dalam bentuk gambar, pesan-pesan
kesehatan dan Kalender selama 1 tahun, dengan tujuan untuk mempengaruhi individu
atau kelompok agar tertarik pada suatu objek materi yang diinformasikan.
Munir (2000), meneliti tentang pengaruh model pelatihan jarak jauh dan
klasikal terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan tata laksana
infeksi saluran pernafasan akut balita bagi paramedis di Kabupaten Karanganyar.
Media yang dipakai adalah media film. Hasilnya menunjukkan bahwa model
pelatihan klasikal disertai dengan media film tentang infeksi saluran pernafasan akut
Universitas Sumatera Utara
balita dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan bagi paramedis. Dewi
(2004), meneliti upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan pada ibu
balita dalam pemberian makanan sumber vitamin A alami. Metode yang dipakai
adalah ceramah dengan media modul, subyek penelitian ibu balita. Hasilnya
menunjukkan bahwa pelatihan metode ceramah dengan media modul dapat
meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Kemudian Sulistyanto (2006),
meneliti tentang pengaruh pelatihan kader dengan media audio visual terhadap
pengetahuan, sikap serta perilaku kader posyandu di Kecamatan Sintang Propinsi
Kalimantan Barat. Hasilnya menunjukkan bahwa pelatihan dengan media audio
visual dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku kader Posyandu.
Berdasarkan hasil beberapa penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan
media pembelajaran perlu dipertimbangkan secara mendasar karena tidak satupun
media pembelajaran yang cocok untuk semua individu, segala keadaan, segala
macam karakteristik peserta didik dan segala tujuan yang ingin dicapai, media
pembelajaran dapat dianggap sebagai salah satu komponen penting pada kegiatan
pembelajaran dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran. Media pembelajaran yang
dipakai seorang pendidik merupakan hal yang paling esensial dalam menyajikan
materi pembelajaran kepada peserta didik.
Tiap orang yang dididik memiliki kemampuan indera yang tidak sama, baik
pendengaran maupun penglihatan, kemampuan dan minat membaca. Dengan variasi
di dalam pendidikan kelemahan indera yang dimiliki peserta didik dapat dikurangi.
Untuk mendapat perhatian peserta pendidik dapat memulai dengan berbicara terlebih
dahulu, kemudian menulis di papan tulis dan menggunakan media serta dilanjutkan
Universitas Sumatera Utara
dengan melihat contoh konkrit. Dengan variasi seperti itu dapat memberi stimulus
terhadap indera peserta (Sutikno, 2009).
2.5. Perilaku
Menurut Blum (1974), dalam Maulana (2009), perilaku adalah faktor
terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang memengaruhi kesehatan individu,
kelompok, atau masyarakat. Oleh sebab itu, untuk membina dan meningkatkan
kesehatan masyarakat, intervensi atau upaya yang ditujukan kepada faktor perilaku
sangat penting dan strategis, mengingat pengaruh yang ditimbulkannya.
Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap
stimulus atau objek yang berhubungan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan
kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Menurut Bloom (1908) dalam
Maulana (2009), membagi perilaku manusia dalam 3 (tiga) domain yaitu kognitif
(pengetahuan), afektif ( sikap) dan psikomotor (tindakan atau keterampilan).
Pengetahuan merupakan proses mencari tahu, dari yang tadinya tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak dapat menjadi dapat. Dalam proses mencari tahu ini
mencakup berbagai metode dan konsep-konsep baik melalui proses pendidikan
maupun pengalaman. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman, dari guru, orang tua,
teman, buku dan media massa (WHO, 1992).
Pengetahuan yang dicakup dalam kognitif memiliki enam tingkatan yaitu :
1) tahu, yaitu mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya; 2)
memahami, yaitu sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang
obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi secara benar; 3) aplikasi,
yaitu mampu menggunakan rumus-rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam
Universitas Sumatera Utara
situasi yang lain, misalnya dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan
masalah; 4) analisis, yaitu suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
subyek kendala komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi
tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisa dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat
menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya;
5) sintesis, yaitu menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru; dan
6) evaluasi, yaitu berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap
suatu materi (Green & Lewis, 1986).
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan melalui wawancara dengan
menggunakan kuesioner berisi materi yang ingin diukur dari responden (Azwar,
2003). Sedangkan menurut Simon-Morton, dkk., (1995), pengetahuan merupakan
hasil stimulasi informasi yang diperhatikan dan diingat. Informasi dapat berasal dari
berbagai bentuk termasuk pendidikan formal maupun non formal, percakapan harian,
membaca, mendengar radio, menonton TV dan dari pengalaman hidup.
Menurut Widayatun (1999), sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak.
Sikap juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan mental dan saraf dari kesiapan yang
diatur melalui pengalaman yang memberi pengaruh dinamika atau terarah terhadap
respons individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya. Menurut
Van den Ban dan Hawkins (1996), sikap dapat pula didefinisikan sebagai perasaan,
pikiran dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanent mengenai
aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. Komponen sikap adalah pengetahuan,
perasaan-perasaan, dan kecenderungan untuk bertindak.
Universitas Sumatera Utara
Sikap mempunyai fungsi yang berbeda bagi setiap orang yaitu :
1) pengetahuan; dengan sikapnya, seseorang akan mampu mengorganisasikan dan
menginterpretasikan berbagai macam informasi yang diterima, 2) ekspresi diri;
sehingga individu dapat menyatakan nilai-nilai atau keyakinannya, 3) sarana
peningkatan harga diri; dengan mengetahui fungsi sikap bagi seseorang maka
komunikator dapat menentukan strategi komunikasi yang tepat dengan memberikan
pesan persuasi yang berisi informasi yang relevan bagi fungsi sikap yang
bersangkutan (Azwar, 2003).
Menurut Walgito (2003), ada beberapa faktor determinan sikap yang dianggap
penting, yaitu : 1) Faktor fisiologis, seseorang akan ikut menentukan bagaimana sikap
seseorang. Berkaitan dengan ini adalah faktor umur dan kesehatan. Pada umunya
orang muda sikapnya lebih radikal daripada sikap orang yang lebih tua, sedangkan
pada orang dewasa sikapnya lebih moderat; 2) Faktor pengalaman langsung terhadap
obyek sikap akan dipengaruhi langsung oleh pengalaman orang yang bersangkutan
dengan obyek tersebut; 3) Faktor kerangka acuan, merupakan faktor penting dalam
sikap seseorang, karena kerangka acuan ini berperan terhadap obyek sikap; dan 4)
Faktor komunikasi sosial yang berwujud informasi seseorang kepada orang lain.
Menurut Mantra (1997), perilaku manusia adalah respons individu terhadap
stimulasi baik yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Perilaku manusia itu
sesuatu yang unik dan khusus, artinya dia tidak sama antar dan inter manusia baik
dalam hal kepandaian, bakat, sikap, minat maupun kepribadian (Widayatun, 1999).
Tindakan manusia ada tiga jenis yaitu : 1) tindakan ideal, artinya tindakan
yang dapat diamati yang dilakukan oleh individu atau masyarakat untuk mengurangi
atau membantu memecahkan masalah; 2) Tindakan sekarang, artinya perilaku yang
Universitas Sumatera Utara
dilaksanakan saat ini, dan 3) tindakan yang diharapkan, yakni tindakan yang
diharapkan dilaksanakan oleh sasaran (Azwar, 2003).
Kurt Lewin dalam Brigham (1991), merumuskan suatu model hubungan
tindakan yang mengatakan bahwa tindakan (B) adalah fungsi karakteristik individu
(P) dan lingkungan (E) yaitu :
B=f (P.E)
Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai,
biografik, sifat kepribadian dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan
kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan
tindakan. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan tindakan,
bahkan kadang-kadang kekuatannya lebih besar daripada karakteristik individu. Hal
inilah yang menjadikan prediksi tindakan lebih kompleks.
Menurut Sutarlinah (1983), perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan
merupakan proses belajar yang ditujukan untuk peningkatan, pemeliharaan,
pengurangan, dan penghilangan serta perkembangan dari tingkah laku lama. Menurut
Mantra (1997), ada beberapa rangsangan yang dapat menyebabkan orang berubah
pengetahuan, sikap dan tindakan, yaitu : 1) rangsangan fisik; 2) rangsangan rasional;
3) rangsangan emosional; 4) ketrampilan; 5) jaringan perorangan dan keluarga;
6) struktur sosial; 7) biaya; dan 8) perilaku yang bersaing.
Pendidikan bukanlah satu-satunya cara merubah pengetahuan, sikap dan
tindakan individu atau kelompok, namun secara umum ada tiga macam cara untuk
merubah individu atau kelompok yaitu menggunakan kekuasaan atau kekuatan,
memberikan informasi, diskusi dan partisipasi (Sarwono, 1997).
Universitas Sumatera Utara
Menurut Rukminto (2001), merencanakan perubahan pengetahuan, sikap, dan
tindakan pada individu atau pada sekelompok masyarakat melalui intervensi
komunitas tidak mudah. Pada kenyataan di lapangan, ada berbagai kendala yang
sering ditemui, kendala tersebut meliputi kendala yang berasal dari kepribadian
individu dan kendala yang berasal dari sistem sosial yang berkembang dilingkungan
kelompok masyarakat tersebut. Kendala individu antara lain adalah kestabilan,
kebiasaan, hal-hal utama yang diyakini, seleksi ingatan dan persepsi, ketergantungan,
superego, rasa tidak percaya serta rasa tidak aman. Kendala sistem sosial antara lain
meliputi kesepakatan terhadap norma tertentu, kesatuan dan kepatuhan terhadap
sistem dan budaya, hal-hal yang bersifat sakral, kelompok kepentingan, penolakan
terhadap orang luar yang datang ke dalam komunitas tersebut.
2.6 Pengertian dan Tanda-tanda Gizi Buruk
Menurut Arisman (2004), gizi buruk adalah keadaan yang terjadi akibat
kekurangan pangan dalam kurun waktu tertentu pada satu wilayah, sehingga
mengakibatkan kurangnya asupan zat gizi yang diperlukan, pada akhirnya berdampak
pada kondisi status gizi menjadi kurang atau buruk dan keadaan ini terjadi pada
semua golongan umur (anak dan orang dewasa). Kondisi kurang gizi disebabkan oleh
rendahnya konsumsi energi atau protein dalam asupan makanan sehari-hari hingga
tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG), cara menghitungnya yaitu :
1. Dengan cara menimbang berat badan secara teratur setiap bulan, bila
perbandingan berat badan dengan umurnya dibawah 60% standart
WHONCHS, maka dapat dikatakan anak tersebut terkena gizi buruk.
Universitas Sumatera Utara
2. Dengan mengukur tinggi badan dan lingkar lengan atas bila tidak sesuai
dengan standart anak yang normal waspadai akan terjadi gizi buruk.
Menurut Budiarso (1986), penyebab utama dari gizi kurang dan buruk adalah
tidak sesuainya zat gizi yang diperoleh dari makanan dengan kebutuhan tubuh. Akan
tetapi kejadiannya bukanlah akibat satu sebab saja, melainkan juga ada penyebabpenyebab lain yang mendorong terjadinya, antara lain adanya berbagai penyakit
infeksi pada anak seperti campak, diare yang hebat. Konsekuensi masalah kurang gizi
dapat dilihat pada gambar 6 sebagai berikut :
Pertumbuhan
terganggu
Rentan terhadap
penyakit
Kecerdasan
terhambat
Perkembangan
terganggu
Resiko kematian
meningkat pada
balita gizi buruk
GIZI KURANG
&
GIZI BURUK
DADAFAFAan
interesting
Penyakit infeksi
Asupan Energi, protein dan
zat gizi mikro kurang
Gambar 6 : Konsekuensi Masalah Kurang Gizi
Sumber
: Survei
Kesehatan
Rumah
Kesehatan Oleh Budiarso (1986).
Tangga,
Buletin
Penelitian
Universitas Sumatera Utara
Menurut hasil penelitian Butte, dkk., (2001), bahwa peran Air Susu Ibu (ASI)
menunjang pertumbuhan anak sampai usia 4 bulan di Texas. Pertumbuhan bayi yang
diamati ternyata sesuai dengan standart NCHS. Ditunjukkan pula hubungan antara
asupan ASI dengan pertumbuhan. Pada penelitian yang dikerjakan oleh peneliti lain
menunjukkan rasio berat badan 10-30% lebih tinggi pada bayi yang mendapatkan
ASI dibandingkan dengan yang mendapat susu formula. Ini menunjukkan bahwa bayi
yang mendapatkan ASI lebih efisien menggunakan energi. Penelitian lain yang
dilakukan di Washington DC-Baltimore oleh Ahn dan MacLean (2001), bahwa pada
kelompok sosial ekonomi tinggi, kurva berat badan dan panjang badan anak
bertambah dengan lama pemberian ASI eksklusif sampai umur 6 bulan akan
menjamin pertumbuhan normal anak.
Indonesia sebagai negara sedang berkembang lainnya mempunyai masalah
gizi cukup besar, ditandai masih banyaknya kasus gizi kurang pada anak balita dan
anak usia sekolah. Anak yang menderita kurang gizi akan berdampak pada
pertumbuhan, kecerdasan, dan rentan penyakit terlebih lagi apabila kekurangan gizi
terjadi sejak masa janin dalam kandungan, kemungkinan besar terjadi Bayi Berat
Lahir Rendah (BBLR) kurang dari 2500 gram. Hubungan ini dapat dilihat pada
gambar 7 (Susenas, 2000) :
Universitas Sumatera Utara
Gizi Buruk pada Ibu Hamil
Gizi Buruk pada Bayi dan Balita
Kematian Ibu dan Bayi
Menurunnya Kualitas SDM
Indonesia Bahkan
“Lost Generation”
Gambar 7 : Hubungan Penderita Kurang Gizi dengan terjadinya BBLR
Sumber
: Penanggulangan Masalah Gizi Buruk, Revitalisasi Puskesmas Dan
Posyandu oleh Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat (2005).
2.7. Landasan Teori
Menurut Blum (1974) dalam Soekijo (2003) rangka meningkatkan kesehatan
masyarakat termasuk kepada orangtua yang anaknya mengalami gizi kurang dan
buruk, memerlukan intervensi salah satunya dengan upaya edukasi(education) yaitu
upaya agar masyarakat mau mengadopsi perilaku kesehatan dengan benar dengan
cara persuasi, bujukan, himbauan, ajakan, memberikan informasi, memberikan
kesadaran dan lain sebagainya melalui penyuluhan dan pendidikan .
Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap
stimulus atau objek yang berhubungan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan
kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Menurut Bloom (1908) dalam
Maulana (2009), membagi perilaku manusia dalam 3 (tiga) domain yaitu kognitif
(pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (tindakan atau keterampilan).
Universitas Sumatera Utara
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan kesehatan, yang dilakukan
dengan menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja
sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada
hubungannya dengan kesehatan pesan yang akan disampaikan (Azrul & Azwar,
1983).
Media audio visual adalah sasaran komunikasi berupa pengajaran, penerangan
dan penyuluhan. Alat-alat audio-visual antara lain termasuk gambar, foto, slide,
model, pita kaset tape recorder, film bersuara dan televisi. Pendidikan visual artinya
penyajian pengetahuan melalui pengalaman melihat, atau suatu metode untuk
menyampaikan informasi berdasarkan prinsip psikologis yang menyatakan bahwa
seseorang memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dilihat daripada
sesuatu yang didengar atau dibacanya (Machfoedz, 2009).
Poster Kalender adalah pesan singkat dalam bentuk gambar, pesan-pesan
kesehatan dan Kalender selama 1 tahun, dengan tujuan untuk mempengaruhi individu
atau kelompok agar tertarik pada suatu objek materi yang diinformasikan.
Universitas Sumatera Utara
2.8. Kerangka Konsep
Berdasarkan landasan teori maka kerangka konsep penelitian ini adalah :
Variabel Independen
Variabel Dependen
Penyuluhan dengan ceramah
disertai media audio visual
Perilaku
- Pengetahuan
- Sikap
- Tindakan
Penyuluhan dengan ceramah
disertai poster kalender
Gambar 8
Kerangka Konsep Penelitian Pengaruh Metode Ceramah dengan Media Audio
Visual dan dengan Poster Kalender terhadap Perilaku Gizi Ibu Balita
Gizi Kurang dan Gizi Buruk
Berdasarkan kerangka konsep dapat dijelaskan bahwa metode ceramah
dengan media audio visual dan metode ceramah dengan media poster kalender
diharapkan mempunyai pengaruh terhadap perilaku ibu.
Universitas Sumatera Utara
Download