26 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Teori Struktur

advertisement
26
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Tinjauan Teoritis
1. Teori Struktur Modal
Teori struktur modal menjelaskan pengaruh yang ditimbulkan pengungkit
keuangan (financial leverage) terhadap biaya modal secara keseluruhan yang harus
ditanggung perusahaan dan nilai sahamnya. Inti dari teori struktur modal adalah
”dapatkah perusahaan mempengaruhi biaya modalnya secara keseluruhan, menjadi
lebih baik dengan mengubah bauran sumber pembelanjaan yang digunakan”
(Warsono 2003:238).
Struktur modal adalah hasil atau akibat dari pengunaan leverage keuangan.
Cara yang terbaik untuk memahami penggunaan yang tepat dari leverage keuangan
adalah menganalisis dampaknya atas kemampuan untuk memperoleh laba. Dalam
manajemen keuangan, leverage adalah penggunaan assets dan sumber dana (sources
of fund) oleh perusahan yang memiliki biaya tetap dengan maksud agar meningkatkan
keuntungan potensial pemegang saham (Sartono, 2001:257).
Menurut Syamsuddin (2000:9) struktur modal merupakan penentuan
komposisi modal, yaitu perbandingan antara hutang dan modal sendiri atau dengan
kata lain struktur modal merupakan hasil atau akibat dari keputusan pendanaan
(financing decision) yang intinya memilih apakah akan mengunakan hutang atau
ekuitas untuk mendanai operasi perusahaan. Sumber dana perusahaan dapat berasal
Universitas Sumatera Utara
27
dari dalam perusahaan yaitu laba ditahan dan dari luar perusahaan yaitu dengan
menggunakan hutang.
Menurut teori struktur modal bahwa struktur modal menggambarkan target
komposisi hutang dan ekuitas dalam jangka panjang pada suatu perusahaan.
Berkaitan dengan target stuktur modal ini ada dua hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, perubahan komposisi struktur modal mempengaruhi nilai perusahaan
melalui peningkatan atau penurunan nilai pasar sekuritas perusahaan. Kedua,
manajemen struktur modal harus memperhatikan faktor-faktor yang menentukan
kombinasi optimal antar hutang dan ekuitas sehingga nilai perusahaan dapat
dimaksimalkan.
Jika struktur modal yang ditemukan memang mempengaruhi nilai perusahaan
dan kita dapat menentukan faktor-faktor yang menentukan struktur modal optimal
maka manajer akan dapat mencari sumber modal dengan biaya yang paling murah,
investor akan dapat menemukan pasar keuangan yang memberikan return maksimum
dengan risiko yang minimum. Tetapi permasalahannya tidak sampai disitu, karena
tersedianya instrumen pembiayaan di pasar modal tidak dapat menyelesaikan tarik
menarik antara hutang-saham karena konsekuensi-konsekuensi masing-masing
instrumen ini (Paramu, 2006:48). Perlu diperhatikan bahwa pemilihan sumber dana
eksternal harus dilakukan dengan mempertimbangkan efisiensi dari masing-masing
sumber pendanaan ini. Dana yang berasal dari hutang mempunyai biaya modal dalam
bentuk biaya bunga. Dana yang berasal dari ekuitas mempunyai biaya modal berupa
Universitas Sumatera Utara
28
dividen. Perusahan akan memilih sumber dana yang paling rendah biayanya diantara
berbagai alternatif sumber dana yang tersedia.
Hutang dan ekuitas adalah kelompok utama dari kewajiban (liabilities)
perusahan, dimana kreditor dan pemegang saham merupakan investor dari
perusahaan. Masing-masing investor ini berhubungan dengan tingkat risiko,
keuntungan dan kontrol yang berbeda terhadap perusahaan. Kreditor memiliki kontrol
yang lebih rendah, oleh karena itu kreditor memperoleh tingkat return yang tetap dan
diproteksi dengan kewajiban kontrak untuk mengamankan investasi. Pemegang
saham memiliki resiko yang lebih besar, oleh karena itu pemegang saham memiliki
kontrol yang lebih besar atas keputusan perusahaan.
Keputusan penganggaran modal (penentuan penggunaan hutang dan ekuitas)
harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat mempengaruhi tingkat resiko
perusahaan. Weston dan Brigham (1990:154) menyatakan bahwa secara konseptual,
perusahaan mempunyai sejumlah resiko yang melekat pada operasinya yaitu risiko
bisnis. Dengan mengunakan hutang dan saham preferen (financial leverage), dimana
return atas hutang atau saham preferen sifatnya tetap maka operasi akan meningkat
yang akibatnya risiko bisnis juga akan meningkat. Perusahaan membebankan seluruh
risiko bisnis ini kepada pemegang saham biasa. Resiko ini disebut dengan resiko
finansial yaitu tambahan resiko yang ditanggung oleh pemegang saham sebagai
akibat dari keputusan pendanaan menggunakan hutang. Dengan demikian, pendanaan
dengan hutang akan menimbulkan resiko finansial yang akan meningkatkan resiko
bisnis yang ditanggung oleh pemegang saham.
Universitas Sumatera Utara
29
Weston dan Brigham (1990:151) menjelaskan bahwa risiko bisnis adalah
ketidakpastian atas proyeksi tingkat pengembalian atas ekuitas (ROE) dari suatu
perusahaan dimasa mendatang, jika perusahaan tidak menggunakan hutang. Risiko
bisnis berbeda-beda diantara industri dan juga diantara perusahaan yang satu dengan
yang lain dalam industri yang sama, begitu juga risiko bisnis dapat berubah dari
waktu ke waktu. Risiko bisnis tergantung pada sejumlah faktor diantaranya adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
Variabilitas permintaan. Apabila permintaan atas produk perusahaan
makin konstan, sementara hal-hal lain tetap, maka risiko bisnis akan
makin kecil.
Variabilitas harga jual. Apabila harga jual atas produk perusahaan
sangat fluktuatif, perusahaan tersebut menghadapi risiko yang lebih
tinggi dari perusahaan sejenis yang harga jual produknya relatif lebih
stabil.
Variabilitas harga masukan. Perusahaan yang memperoleh masukan
dengan harga yang sangat tidak pasti juga menghadapi risiko bisnis
yang tinggi.
Kemampuan untuk menyesuaikan harga keluaran dengan harga
masukan. Sejumlah perusahaan mengalami kesulitan dalam menaikkan
harga produknya apabila biaya masukan naik. Makin besar kemampuan
untuk menyesuaikan harga keluaran, makin kecil risiko bisnis. Faktor
ini khususnya penting selama tingkat inflasi tinggi.
Proporsi biaya tetap: leverage operasi. Jika sebagian biaya perusahaan
merupakan biaya tetap dan karena itu tidak menurun apabila permintaan
menurun, maka hal ini akan memperbesar risiko bisnis perusahaan.
Risiko finansial adalah risiko yang ditanggung pemegang saham, yang
melebihi risiko bisnis yang mendasar sebagai akibat dari penggunaan leverage
keuangan (Weston dan Brigham, 1990:154). Pada tingkat risiko hutang yang tinggi,
perusahaan mungkin akan terbentur pada keengganan dari pihak kreditor untuk
memerikan tambahan hutang. Hal ini akan manaikan biaya hutang baru yang
mungkin akan lebih tinggi dari keuntungan pajak dari penggunaan hutang, dan
Universitas Sumatera Utara
30
selanjutnya akan menjadi beban para pemegang saham. Para pemegang saham dan
kreditor juga akan mengalami resiko kebangkrutan yang dapat mengarah pada
penurunan total harga pasar perusahaan dan kenaikan biaya modal.
Manajer keuangan perlu memperhatikan konsep kedua risiko ini, karena para
pemegang saham biasa pada umumnya menuntut kompensasi dalam bentuk premi
risiko untuk risiko yang lebih tinggi. Dengan demikian tingkat pengembalian yang
disyaratkan akan semakin tinggi. Dengan pengertian risiko bisnis diatas, berarti
bahwa sumber risiko bisnis ini banyak terkait dengan keputusan investasi perusahaan,
sedangkan sumber risiko finansial berkaitan dengan besarnya proposi hutang dalam
struktur modal perusahaan (Warsono, 2003:237).
Penentuan struktur modal dalam suatu perusahaan juga perlu memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi strutur modal itu sendiri untuk mengambil
keputusan yang rasional dengan pandangan positif bahwa struktur modal optimal
dapat ditentukan.. Menurut Weston dan Copeland (1999:20) bahwa ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan oleh manajer keuangan dalam memilih struktur modal, agar
keputusan yang diambil mendapatkan hasil yang baik, antara lain sebagai berikut:
1. Tingkat Pertumbuhan Penjualan
Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan penjualan dan laba yang tinggi
cenderung menggunakan hutang sebagai sumber dana eksternal yang lebih
besar dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang tingkat pertumbuhan
penjualannya rendah. Hal ini konsisten dengan hasil penelitian Thies dan
Universitas Sumatera Utara
31
klock dalam Mayangsari (2001:10), yang menunjukkan bahwa pertumbuhan
penjualan berpengaruh positif dan signifikan dengan leverage.
2. Stabilitas Penjualan
Semakin stabil penjualan suatu perusahaan, semakin besar kemungkinan
perusahaan membelanjai kegiatannya dengan hutang. Karena stabilitas
penjualan akan mempengaruhi stabilitas pendapatan, yang akhirnaya akan
digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman.
3. Struktur Aktiva
Dalam suatu perusahaan, struktur aktiva akan mempunyai pengaruh terhadap
sumber-sumber pembelanjaan dalam beberapa cara. Pertama pada perusahaan
yang sebagian modalnya tertanam dalam aktiva tetap. Pemenuhan kebutuhan
dana akan diutamakan dari modal sendiri dan modal asing hanya sebagai
pelengkap. Hal ini disebabkan oleh penggunaan aktiva tetap akan
menimbulkan adanya beban yang berupa fixed cost. Dan apabila perusahaan
memakai modal asing, untuk membelanjai aktiva tetapnaya maka biaya tetap
yang ditanggungnya juga akan semakin besar. Kedua, perusahaan yang
sebagian besar aktivanya berupa aktiva tetap komposisi penggunaan hutang
akan lebih didominasi oleh hutang jangka panjang. Jangka waktu dana terikat
dalam aktiva tetap lebih lama dibandingkan dengan aktiva lainnya.
Penggunaan hutang lebih ditekankan pada hutang jangka panjang, hal ini juga
dimaksudkan untuk menjaga likuiditas perusahaan.
Universitas Sumatera Utara
32
4. Kebijakan Diveden
Kebijakan dividen akan memiliki pengaruh terhadap tingkat penggunaan
hutang suatu perusahaan. Kebijakan dividen yang stabil menyebabkan adanya
keharusan bagi perusahaan untuk menyediakan sejumlah dana guna
membayar sejumlah dividen yang tetap tersebut. Dan apabila perusahaan
menggunakan tingkat hutang yang tinggi maka ada kemungkinan bahwa
dalam jangka panjang perusahaan tidak mampu membayar dividen yang stabil
serta memenuhi beban tetap hutang. Hasil penelitian Paramu (2006)
menemukan bukti bahwa kebijakan didviden berhubungan negatif dengan
keputusan struktur modal.
5. Profitabilitas
Jika perusahaan memilki rate return yang tinggi, maka kebutuhan dana dapat
diperoleh dari laba ditahan karena laba ditahannya yang tinggi sudah memadai
untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaanya. Vera, Rudolf, L.,
Tobing dan Akromul Ibad (2005) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa
profitabilitas berhubungan terbalik dengan tingkat leverage baik pada
perusahaan multinasional maupun domestik.
6. Besaran Perusahaan
Pada
kenyataannya
bahwa
semakin
besar
suatu
perusahan,
maka
kecendrungan penggunaan dana eksternal juga semakin besar. Hal ini
disebabkan perusahaaan besar memiliki kebutuhan dana yang besar dan salah
satu alternatif pemilihan dana yang tersedia adalah pendanaan eksternal. Vera,
Universitas Sumatera Utara
33
Rudolf, L., Tobing dan Akromul Ibad (2005) menemukan bahwa profitabilitas
berhubungan negatif terhadap tingkat leverage perusahaan.
7. Resiko Bisnis
Dalam perusahaan, resiko bisnis akan meningkat jika penggunaan hutang
tinggi. Hal ini juga akan meningkatkan kemungkinan kebangkrutan. Resiko
bisnis ditunjukkan oleh variabilitas pendapatan yang akan diterima pada masa
yang akan datang. Paramu 2006 (46-54) menemukan pengaruh negatif antara
risiko bisnis dan tingkat leverage yang berarti bahwa semakin tinggi tingkat
risiko bisnis suatu perusahaan akan cenderung untuk menurunkan rasio
hutang.
8. Operating Leverage
Dalam suatu perusahaan tingkat operating levarage pada suatu tingkat hasil
akan ditunjukkan oleh perubahan dalam laba atau rugi operasi. Jika hal-hal
lain tetap sama, perusahaan dengan leverage opersai yang makin kecil
cenderung lebih mampu untuk memperbesar leverage keuangan karena ia
akan mempunyai resiko bisnis yang lebih kecil.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa struktur modal yang optimal
secara pasti sulit untuk ditetapkan. Tugas manajemen ialah secara umum menetapkan
akibat dari faktor modal luar dalam struktur modal terhadap laba bagi pemegang
saham, batas-batas resiko yang ditanggung oleh perusahaan, kemudian dengan
mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal tersebut,
Universitas Sumatera Utara
34
menentukan kebijakan-kebijakan yang mungkin dapat dapat memberikan keuntungan
jangka panjang yang tinggi bagi pemilik.
Penentuan struktur modal bagi suatu perusahaan merupakan salah satu bentuk
keputusan keuangan yang penting, karena keputusan ini dapat berpengaruh terhadap
pencapaian tujuan manajemen keuangan perusahaan. Tujuan pokok manajemen
keuangan adalah merancang dan merencanakan penggunaan dana seefisien mungkin
sehingga dapat memaksimalkan nilai perusahaan. Menurut Keown
(2000: 443)
bahwa biaya modal rata-rata tertimbang dapat diminimumkan dengan menggunakan
hutang. Hutang merupakan sumber dana ekternal yang sangat diperlukan apabila
perusahaan mengalami pertumbuhan. Keputusan penggunaan dana ekternal diambil
setelah sumber dana internal tidak cukup untuk membiayai keseluruhan dana yang
dibutuhkan perusahaan. Pembayaran bunga dan pokok pinjaman memiliki prioritas
sebelum sisa keuntungan tersedia untuk para pemegang saham. Dengan
menggunakan hutang maka dividen sebagai bagian laba yang dihasilkan perusahaan
dapat ditingkatkan sehingga meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Untuk
mewujudkannya diperlukan perencanaan struktur modal optimal yang sesuai dengan
strategi perusahaan.
Pembahasan tentang struktur modal tidak akan terlepas dari pemahaman dari
teori irrelevant dari Modigliani dan Miller (1958) dalam artikelnya yang berjudul
”The Cost of Capital, Corporation Finance and The Theory of Investment”, yang
menatakan bahwa:
Universitas Sumatera Utara
35
”Dalam sebuah pasar modal sempurna, keputusan keuangan perusahaan
menjadi tidak relevan lagi, dengan kata lain penggunaan sumber
pembiayaan tidak mempengaruhi cost of capital dan pada akhirnya tidak
mempengaruhi nilai perusahaan (value of the firm) atau kekayaan
pemegang saham yang tergambar dari harga saham perusahaan.
Penggunaan hutang dalam struktur modal tidak mempunyai pengaruh
terhadap nilai perusahaan, tetapi penggunaan hutang dalan stuktur
modal dapat meningkatkan nilai perusahaan, sebesar penggunaan
pembayaran pajak karena biaya bunga yang dibayar (Arifin, 2005:86)”.
Modigliani dan Miller memperkenalkan teori struktur modalnya dengan asumsi
bahwa saham dan obligasi diperdagangkan pada pasar modal yang sempurna, oleh
karena itu teori ini tidak dapat langsung diterapkan karena asumsi tersebut
bertentangan dengan prakteknya, dimana terdapat biaya hutang dan tidak selalu
konstan, biaya tekanan finansial dan biaya keagenan juga selalu ada.
Kajian mengenai teori struktur modal terus berkembang sejak teori irrelevant
dari Modigliani dan Miller (MM) diperkenalkan, melalui proposisi (MM) yang
menunjukkan perkembangan teori (MM) dengan memasukkan pengaruh pajak.
Dimana ditemukan bahwa perusahaan yang memiliki leverage akan memiliki nilai
lebih tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan tanpa leverage. Kenaikan nilai
perusahaan terjadi karena pembayaran bunga atas hutang yang merupakan pengurang
pajak, oleh karena itu laba operasi yang mengalir kepada investor menjadi semakin
besar. Selanjutnya perkembangan terakhir dalam struktur modal melibatkan aspekaspek yang berkaitan dengan asimetric information dan agency cost atau konflik antar
pihak dalam perusahaan (Paramu, 2006: 42). Kajian-kajian ini melahirkan hipotesis
yang berhubungan dengan struktur modal yang berkembang diantaranya : static
Universitas Sumatera Utara
36
trade-off theory, agency cost of debt, pecking order theory, market debt theory, free
cash flow theory dan risk management theory. Teori-teori yang berhubungan dengan
penelitian ini adalah trade off theory dan free cash flow.
a. Trade-off Theory
Menurut Arifin (2005:80) teori trade off menjelaskan bahwa struktur modal
suatu perusahaan ditentukan dengan mempertimbangkan manfaat pengurangan pajak
ketika hutang meningkat disatu sisi dan meningkatnya agency cost ketika hutang
meningkat pada sisi yang lain. Ketika manfaat pengurangan pajak masih lebih tinggi
dibandingkan dengan perkiraan agency cost maka perusahaan masih bisa
meningkatkan utangnya dan peningkatan hutang harus dihentikan ketika pengurangan
pajak atas tambahan hutang tersebut sudah lebih rendah dibanding dengan
peningkatan agency cost. Teori trade off ini merupakan evolusi atau pengembangan
dari teori irrelevance-nya Modigliani dan Miller dengan mempertimbangkan pajak
penghasilan dan efek dari adanya biaya keagenan dan tekanan finansial.Teori tradeoff menyatakan bahwa struktur modal optimal ditemukan dengan menyeimbangkan
keuntungan pajak akibat peningkatan hutang dengan biaya tekanan finansial dari
tambahan hutang, sehingga biaya dan keuntungan dari pertambahan hutang seimbang.
Dengan adanya keuntungan pajak dan biaya tekanan finansial dari teori tarde
off menyimpulkan bahwa setiap perusahaan memiliki struktur modal optimalnya,
yaitu suatu titik dimana yang memaksimumkan nilai perusahaan dan meminimumkan
biaya rata-rata tertimbang modalnya. Artinya, setiap perusahan harus menetapkan
Universitas Sumatera Utara
37
target struktur modalnya, yaitu pada posisi keseimbangan biaya dan keuntungan dari
pendanaan dengan hutang, sebab pada posisi itu nilai perusahaan menjadi maksimum.
Berdasarkan trade off, faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan target struktur
modal optimal perusahaan adalah keuntungan dari pajak, biaya tekanan fianasial dan
biaya keagenan (agency cost).
Dalam Atmaja (1994:320) dijelaskan bahwa menurut teori trade off semakin
besar penggunaan utang, semakin besar keuntungan dari penggunaan hutang tapi
biaya kebangkrutan dan biaya agency cost
juga meningkat bahkan lebih besar.
Kesimpulannya adalah penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan
tetapi hanya sampai pada titik tertentu setelah titik tesebut, penggunaan hutang justru
akan menurunkan nilai perusahaan kerena kenaikan keuntungan dari penggunaan
hutang tak sebanding dengan kenaikan biaya financial distress dan agency problem.
Titik balik tersebut disebut struktur modal yang optimal menunjukkan jumlah hutang
optimal.
Teori trade off menjelaskan bahwa, apabila stuktur modal telah berada dibawah
target struktur modal optimalnya, maka setiap penambahan hutang akan
meningkatkan nilai perusahaan. Tetapi apabila posisi struktur modal telah berada
diatas terget struktur modal optimal maka setiap penambahan hutang akan
menurunkan nilai perusahaan.
Keuntungan penggunaan utang yaitu adanya manfaat perlindungan pajak dalam
perhitungan pajak, dimana bunga hutang dikurangkan terlebih dahulu sehingga
penggunaan utang mengakibatkan keringanan pajak untuk arus kas perusahaan.
Universitas Sumatera Utara
38
Dalam hal ini, tampaknya pemerintah memberi subsidi berupa pengurangan beban
pajak kepada perusahaan dengan pendanaan yang menggunakan hutang dibandingkan
dengan perusahaan yang pendanaannya dengan ekuitas. Sebab biaya pendanaan
dengan ekuitas (dividen) tidak dapt mengurangi penghasilan kena pajak, malah
merupakan objek pajak orang pribadi saat dividen dibayarkan. Sedangkan kerugian
penggunaan hutang berhubungan dengan timbulnya biaya keagenan dan biaya
kebangkrutan yang meningkat seiring penambahan utang (Arifin, 2005:92).
Menurut Arifin (2005: 89-93), penggunaan hutang memiliki biaya-biaya yang
berbeda dengan ekuitas. Pertama adalah biaya kebangkrutan atau kepailitan, perhatian
utama pada saat meminjam uang (hutang) adalah peningkatan ekspektasi biaya
kepailitan yang mengikutinya. Ekspektasi biaya kepailitan adalah produk dari
kemungkinan terjadinya biaya kepailitan, yaitu biaya langsung dan tidak langsung
dari proses kepailitan tersebut. Perusahaan dengan pendanaan lebih banyak
menggunakan hutang memiliki kemungkinan mengalami tekanan finansial (financial
distress) yang tinggi dimasa yang akan datang. Karena semakin basar beban tetap
(biaya bunga) yang harus dikeluarkan perusahaan maka semakin besar kemungkinan
perusahaan mengalami kesulitan keuangan yang mengarah ke kebangkrutan.
Ancaman kebangkrutan bukan hanya kebangkrutan itu sendiri, tetapi juga berbagai
masalah yang ditimbulkannya, seperti karyawan penting keluar, pemasok menolak
memberikan kredit, pelanggan mencari perusahaan lain yang lebih stabil sehingga
penjualan menurun, sampai pada pemberi pinjaman meminta suku bunga yang lebih
tinggi serta menetapkan syarat-syarat yang lebih ketat dalam kontrak pinjaman.
Universitas Sumatera Utara
39
Kedua adalah biaya keagenan (agency cost), yaitu biaya yang timbul sebagai
akibat dari konflik kepentingan antara pemegang saham dengan kreditor. Pemegang
saham dan kreditor tidak selalu sejalan dengan tindakan yang dilakukan oleh
manajemen perusahaan, sebab mereka memiliki klaim yang berbeda terhadap arus
kas perusahaan. Pemegang saham sebagai penerima klaim residual atas arus kas
cenderung mengutamakan tindakan yang dapat meningkatkan nilai sahamnya,
walaupun tindakan itu meningkatkan resiko yang mengakibatkan kreditor tidak akan
menerima pembayaran sesuai perjanjian. Sebaliknya, kereditor lebih menginginkan
tindakan yang dapat meningkatkan keamanan dari klaimnya. Keadaan ini akan
mengakibatkan ruang gerak manajemen dibatasi yang mana konflik kepentingan
antara
pemegang
saham
dan
kreditor
mengakibatkan
kreditor
melakukan
pengambilan tindakan proteksi dengan ketentuan hutang yang ketat yang dibuat
dalam kontrak (convenant), hal ini mengakibatkan pihak manajemen perusahaan
tidak
dapat
mengambil
keputusan-keputusan
yang
optimal
dalam
usaha
meningkatkan nilai perusahaan. Untuk memastikan bahwa aturan-aturan dalam
kontrak diikuti oleh perusahaan akan menimbulkan biaya monitor yang ditanggung
oleh perusahaan.
Kebijakan struktur modal melibatkan perimbangan antara resiko dan tingkat
pengembalian. Dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian yang
terkandung dalam penggunaan hutang pada struktur modal, maka teori trade off
menyatakan bahwa apabila keuntungan dari penggunaan hutang lebih besar dari
biaya-biaya penggunaan hutang sebaiknya perusahaan menggunakan hutang, apabila
Universitas Sumatera Utara
40
sebaliknya, maka perusahaan sebaiknya menggunakan ekuitas. Teori tradeoff
merupakan model yang sangat konsisten dengan upaya mencari struktur modal agar
nilai perusahaan dapat dimaksimumkan. Porsi struktur modal optimal terletak pada
titik dimana keuntungan penggunaan hutang sama dengan biaya penggunaan hutang.
Dengan kata lain, posisi struktur modal optimal perusahaan terletak pada titik dimana
nilai perusahaan maksimum, dan titik dimana biaya modal minimum. Struktur modal
optimum adalah suatu keseimbangan optimal antara resiko (risk) dan pengembalian
(return) yang dapat memaksimumkan harga saham (Brigham, 1990:150).
b. Teory Free Cash Flows
Tahun 1996, Profesor Michael C. Jensen memperluas konsep biaya agensi
kedalam area manajemen struktur modal. Kontribusinya berputar di sekitar konsep
yang dinamakan Jensen ”free cash flow” atau arus kas bebas. Jensen mendefenisikan
free cash flow sebagai kelebihan arus kas diatas kebutuhan dana untuk mendanai
semua proyek yang memiliki net present value (NPV) yang positif, yang
didiskontokan dengan biaya modal yang relevan. Keown et., al (2000:56)
menjelaskan bahwa free cash flows merupakan bagian arus kas perusahaan yang tidak
bisa diinvestasikan secara menguntungkan di dalam perusahaan, dan penggunaan
dibawah kontrol manajemen perusahaan, pada prinsipnya manajer seharusnya
menggunakan arus kas bebas untuk mendanai proyek, membayar dividen kepada
pemegang saham atau menahannya sebagai salado kas.
Universitas Sumatera Utara
41
Teori free cash flows menyatakan bahwa manajer yang memiliki arus kas
bebas yang terlalu banyak, akan cenderung melakukan investasi secara tidak optimal.
Jensen (dalam Keown et., al 2000:56) menjelaskan bahwa manajer sering tergoda
mengguanakan arus kas bebas untuk memperbesar ukuran perusahaan atau ekspansi
walau kedalam operasi yang merugi. Pada dasarnya free cash flow seharusnya
dibayarkan
kepada
pemegang
saham,
karena
perusahaan
tidak
dapat
menginvestasikannya ke dalam proyek yang memiliki NPV positif. Akan tetapi
membayarkan kelebihan kas (free cash flow) kepada pemegang saham berarti
mengurangi dana dibawah kontrol manajemen. Hal ini membatasi kamampuan
manajer untuk mendorong pertumbuhan dan meningkatkan kemungkinan harus
menggunakan dana ekternal untuk mendanai investasi proyek yang akan datang. Hal
inilah yang menyebabkan manajemen berusaha menahan kelebihan arus kas dan
mendorong penggunaannya untuk mamaksimumkan kepentingan manajen.
Pada prinsipnya, dewan direksi dan pemegang saham harus bisa menahan
investasi yang tidak menguntungkan ini, tapi dalam prakteknya manajemen biasanya
memiliki lebih banyak informasi mengenai investasi potensial dari pada direktur dan
pemegang saham yang membuat sulit menebak rekomendasi manajer. Manajer
perusahaan dengan arus kas bebas yang banyak mungkin akan mencoba
menggunakan kas itu untuk meningkatkan kekuatannya dengan mengorbankan
pemegang saham. Sehingga masalah keagenan (agency problem) dapat muncul
sebagai akibat kelebihan likuiditas dalam bentuk free cash flow.
Universitas Sumatera Utara
42
Jensen (dalam Keown et., al 2000:561) menjelaskan bahwa pemecahan atas
arus kas bebas adalah lewat menggunakan pengungkit. Manajemen dapat
menggunakan arus kas bebas perusahaan ditambah perolehan dari penerbitan hutang
baru, untuk membeli kembali saham dari pemegang saham luar yaitu untuk
melakukan management buyout. Ini akan membantu memecahkan masalah arus kas
bebas lewat beberapa cara. Pertama, pengembalian pribadi bagi manajer sekarang
lebih bisa dikaitkan pada laba perusahaan yang memeberikan mereka insentif untuk
lebih efisien. Struktur keuangan perusahan mempengaruhi insentif manajer, direktur,
dan pemegang saham besar dengan kepentingan operasional dalam bisnis dan tingkat
hutang yang tingggi dapat meningkatkan keinginan manajemen untuk bekerja keras
dan membuat keputusan yang menigkatkan laba.
Cara lain adalah menggunakan pengungkit kembali (leveraging) atau
menghilangkan arus kas yang ada dalam perusahaan, agar proyek investasi dimasa
depan harus didanai secara eksternal, maka proyek di masa ini harus melewati tes
pasar untuk diterima oleh bankir luar atau pembeli obligasi. Akhirnya pembayaran
bunga yang tinggi akibat penggunaan pengungkit kembali menerapkan disiplin bagi
manajer. Dimana untuk memenuhi pembayaran ini mereka harus berusaha untuk
memotong operasi yang merugi, menghindari investasi yang merugikan, dan
mengambil tindakan lainyang mempromosikan efisiensi.
Control hypotesis dari teori free cash flow menyatakan bahwa hutang dapat
memotivasi manajemen dan organisasi menjadi lebih efisien. Manajer dengan free
cash flow yang substansial dapat dibayarkan untuk menambah dividen, membeli
Universitas Sumatera Utara
43
kembali saham, pembayaran kas lainnya, investasi pada proyek return rendah, dan
pemborosan. Teori free cash flow menyatakan bahwa penambahan pembayaran
dividen akan menguntungkan pemegang saham, sebab pembayaran dividen akan
mengurangi kemampuan manajer melakukan tindakan pemborosan.
Penambahan hutang memiliki komitmen pembayaran kembali bunga dan
pokok pinjaman yang mengurangi free cash flow dan mengurangi kemampuan
manajer untuk melakukan pemborosan yang membuat manajeman menjadi lebih
disiplin, sehingga penggunaan aktiva lebih produktif. Lebih lanjut dalam (Martono
dan Hardjito, 2001:248), bahwa dengan adanya tingkat hutang yang tinggi, maka
manajemen berada pada posisi yang ”terdesak” karena harus memastikan arus kas
yang dihasilkan mencukupi pembayaran hutang. Oleh karena itu manajemen memilki
insentif untuk menggunakan dana yang ada bagi investasi yang menguntungkan dan
berusaha menghindari timbulnya beban yang akan memboroskan dana.
Arifin (2005:92) menjelaskan bahwa mekanisme untuk mengurangi free cash
flows dan hubungannya dengan upaya meminimalisasi potensi konflik keagenan ini
dikelompokkan sebagai mekanisme bonding, yaitu suatu mekanisme yang dipakai
oleh manajer untuk membuktikan bahwa mereka tidak akan menghamburkan dana
perusahaan dan berani mengambil resiko kehilangan pekerjaan jika tidak dapat
mengelola
perusahaan
dengan
serius.
Karena
jika
manajer
tidak
dapat
memaksimumkan nilai perusahaan sesuai dengan tujuan pemilik dengan sumber daya
yang ada atau jika terjadi kepailitan maka manajer akan kehilangan pekerjaannya atau
jabatannya.
Universitas Sumatera Utara
44
2. Profitabilitas
Brigham dan Houston (2001) menjelaskan bahwa profitabilitas adalah
hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan. Menurut Syamsuddin
(2000:63-65) rasio profitabilitas terdiri dari dua jenis rasio yang menunjukkan laba
dalam hubungannya dengan penjualan dan rasio yang menunjukkan laba dalam
hubungannya dengan investasi. Kedua rasio secara bersama-sama menunjukkan
efektifitas, rasio profitabilitas dalam hubungannya antara penjualan dan laba dapat
dibedakan sebagai berikut:
1.
Gross Profit Margin
Rasio ini merupakan perbandingan penjualan bersih dikurangi harga
pokok penjualan dengan penjualan bersih atau rasio antara laba kotor
dengan penjualan bersih.
2.
Operating Profit Margin
Rasio ini merupakan perbandingan antara laba operasi dengan penjualan,
rasio ini menggambarkan apa yang biasanya disebut ”pure profit” yang
diterima atas setiap rupiah dari penjualan yang dilakukan.
3.
Net Profit Margin
Net profit margin atau marjin laba bersih merupakan keuntungan
penjualan setelah menghitung seluruh biaya dan pajak penghasilan.
Margin ini menunjukkan perbandingan antara laba bersih setelah pajak
dengan penjualan.
Universitas Sumatera Utara
45
Rasio profitabilitas dalam hubungannya antara laba dengan investasi adalah
sebagai berikut :
1.
Return On Investment (ROI)
Rasio ini merupakan rasio perbandingan antara laba setelah pajak dengan
aktiva total.
2.
Return On Equity (ROE)
Return on equity sering disebut dengan rentabilitas modal sendiri yang
merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan modal
sendiri. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa banyak
keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri.
3.
Rentabilitas Ekonomi
Rasio ini disebut juga Earning Power yang dimaksudkan untuk mengukur
kemampuan perusahaan memperoleh laba usaha dengan aktiva yang
dimiliki perusahaan. Rasio ini dapat diperoleh dengan membandingkan
antara laba usaha dengan total aktiva.
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur hasil akhir dari berbagai
kebijakan dan keputusan manajemen dalam menjalankan perusahaan. Rasio ini
menggambarkan tingkat efektifitas pengelolaan perusahaan oleh manajemen, oleh
sebab itu akan diperhatikan oleh pemilik modal. Karena investor jangka panjang
sangat berkepentingan dengan analisa profitabilitas ini misalnya bagi pemegang
saham akan melihat keuntungan yang benar-benar akan diterima dalam bentuk
dividen.
Universitas Sumatera Utara
46
3. Pengaruh Struktur Modal terhadap Profitabilitas Perusahaan
Literatur-literatur manajemen keuangan cenderung menghubungkan
optimalisasi struktur modal dengan nilai perusahaan yang ditunjukkan oleh
peningkatan harga saham. Struktur modal dapat juga dihubungkan dengan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitabilitas). Teori struktur
modal menjelaskan bahwa kebijakan pendanaan dalam menentukan target struktur
modal optimal bertujuan untuk mengoptimalkan nilai perusahaan.Keown et.,al (2000)
menjelaskan bahwa nilai akhir saham biasa sebagian tergantung tingkat pengembalian
yang diharapkan pemegang saham (investor) dalam wujud dividen tunai. Jika biaya
modal dapat diminimumkan maka arus dividen sebagai bagian laba yang dihasilkan
perusahaan dapat dimaksimumkan. Hal ini akan memaksimumkan juga harga saham
perusahaan di bursa.
menyatakan bahwa profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh
laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri.
Dengan demikian bagi investor jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan
analisa profitabilitas ini karena akan menggambarkan keuntungan yang akan
diperolehnya dalam bentuk dividen.
Kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang menjadi bagian pemegang
saham dengan menggunakan modal sendiri dapat diamati melalui rasio Return on
equity (ROE). Sartono (1996) menjelaskan bahwa: ”return on equity atau return on
net worth megukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi
pemegang saham perusahaan. Rasio ini dipengaruhi oleh besar kecilnya utang
Universitas Sumatera Utara
47
perusahaan, apabila proporsi utang semakin besar maka rasio ini juga akan semakin
besar”.
Jika rasio ROE besar maka menunjukkan struktur modal perusahaan lebih
besar proporsi penggunaan hutang untuk menghasilkan laba perusahaan, maka bagian
laba yang akan dibagikan kepada pemegang saham lebih besar karena tidak ada
tambahan pemegang saham baru. Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin banyak
penggunaan sumber pendanaan hutang maka semakin besar profitabilitas perusahaan
dihubungkan dengan kemakmuran pemegang saham.
B.
Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang struktur modal dan pengaruhnya terhadap profitabilitas
masih jarang dilakukan. Beberapa penelitian tentang struktur modal dan profitabilitas
yaitu:
Mayangsari (2001) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi
pengaruh struktur asets, tingkat pertumbuhan, besaran perusahaan, profitabilitas,
operating leverage, deviden payout ratio dan perubahan modal kerja terhadap sumber
pendanaan perusahaan.Analisis dilakukan terhadap 63 perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEJ selama tahun 1996 dan menggunakan purposive sampling method,
dengan kriteria saham teraktif dari sisi frekuensi perdagangan dan melakukan
pembagian dividen pada tahun 1996. Alat analisis yang digunakan adalah metode
regresi dengan terlebih dahulu menguji berbagai macam asumsi klasik. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa variabel-variabel yang secara statistis signifikan
Universitas Sumatera Utara
48
mempengaruhi
kebijakan
pendanaan
eksternal
adalah
besaran
perusahaan,
profitabilitas, struktur asset, dan perubahan modal kerja.
Nakman Harahap (2003) meneliti bagaimana pengaruh struktur modal terhadap
profitabilitas baik pada kondisi laba maupun rugi. Penelitian ini menggunakan
sumber data sekunder yang diolah dan disediakan perusahaan melalui publikasi di
BEJ, jenis data yang digunakan yaitu data kuantitatif yang terdiri dari laporan
keuangan dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2001 pada perusahaan industri pulp
and paper yang terdaftar di BEJ. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi
linear sederhana. Penelitian yang dilakukan atas dasar minimnya bukti empiris
tentang pengaruh struktur modal terhadap profitabilitas ini menunjukkan bahwa
struktur modal denagan variabel debt to equity ratio sangat berpengaruh terhadap
profitabilitas yaitu return on equity.
Paramu
(2006)
melakukan
karakteristik perusahaan
penelitian
untuk
menganalisis
bagaimana
pada berbagai jenis industri indonesia mempengaruhi
keputusan struktur modal. Penelitian ini menngunakan variabel independen
determinan struktur modal, yaitu biaya hutang, biaya keagenan, risiko bisnis, ukuran
perusahaan, kebijakan dividen, profitabilitas, kepemilikan internal dan kepemilikan
ekternal. Penelitian ini dilakukan terhadap sektor industri yang paling tidak memiliki
perusahaan yang terdaftar di BEJ secara konsisten selama periode 1998-2002 dengan
menggunakan data sekunder yaitu laporan keuangan sebagai data penelitian. Alat
analisi yang digunakan adalah metode regresi linear berganda dengan spesifikasi lag
indevenden variabel dan chow test untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan
Universitas Sumatera Utara
49
pengaruh karakteristik perusahan terhadap keputusan struktur modal secara agregat.
Secara simultan biaya hutang, biaya agency, risioko bisnis, ukuran perusahaan,
dividen payout ratio, profitabilitas, kepemilikan internal dan eksternal berpengaruh
secara signifikan terhadap struktur modal. Sedangkan hasil penelitian secara parsial
menyimpulkan semakin tinggi biaya hutang akan semakin tinggi penggunaan debt
financing sehingga proporsi perlindungan pajak semakin besar.
Vera, Rudolf L. Tobing dan Akromul Ibad (2005) melakukan penelitian untuk
mengetahui perbedaan struktur pendanaan perusahaan multinasional dan perusahaan
domestik di Indonesia dilihat dari determinan utama struktur pendanaan perusahaan.
Analisis dilakukan secara pooling dengan combined model, yaitu kombinasi antara
time series dan cross section dengan menggunakan multistage sampling with
purposive method. Model analisis yang digunakan adalah model regresi linear
berganda. Penelitian ini menyatakan bahwa struktur pendanaan perusahaan
multinasional dan perusahaan domestik berbeda secara signifikan. Hasil analisis
menunjukkan tingkat profitabilitas perusahaan, biaya kebangkrutan, dan ukuran
perusahaan sama-sama berpengaruh signifikan pada tingkat leverage perusahaan.
C.
Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian
1. Kerangka Konseptual
Struktur modal menjadi penting diperhatikan untuk meningkatkan nilai
perusahaan karena penetapan struktur modal dalam kebijakan pendanaan perusahaan
menentukan profitabilitas perusahaan. Menurut Syamsuddin (2000:10) strutur modal
Universitas Sumatera Utara
50
adalah bauran dari hutang dan ekuitas. Pemilihan struktur modal merupakan masalah
yang menyangkut komposisi pendanaan yang akhirnya berarti penentuan apakah
perusahaan akan menggunakan hutang atau modal sendiri untuk mendanai
perusahaan. Sumber dana perusahaan berasal dari sumber dana internal dan sumber
dana eksternal. Sumber dana internal berasal dari arus kas perusahaan sedangkan
sumber dana eksternal diperoleh dari kreditor dalam bentuk hutang dan dari ekuitas
pemegang saham.
Hutang dan ekuitas adalah dua kelompok utama dari kewajiban (liabilities)
perusahaan, dimana kreditor dan pemegang saham merupakan investor dari
perusahaan. Struktur hutang terdiri dari hutang lancar (hutang jangka pendek) dan
hutang jangka panjang. Struktur sekuritas terdiri dari nilai ekuitas dan laba ditahan.
Setiap unsur dari stuktur modal tersebut dapat ditentukan nilainya apabila
dibandingkan dengan aktiva yang mencerminkan total investasi yang berasal dari
hutang
dan ekuitas pemegang saham. Masing-masing investor ini berhubungan
dengan tingkat resiko, keuntungan dan kontrol yang berbeda terhadap perusahaan.
Struktur modal merupakan perimbangan penggunaan hutang dan modal
sendiri dalam pendanaan perusahaan. Struktur modal dapat diformulasikan kedalam
beberapa rasio (Riyanto, 2001:333) antara lain yaitu: Debt to Asset Ratio (DAR), Debt
to Equity Ratio (DER), Long term Debt To Asset Ratio (LDAR) dan Equity to Asset
Ratio (EAR). Variabel struktur modal yang digunakan penulis pada penelitian ini
adalah Debt to Equity Ratio (DER), Debt to Assets Ratio (DAR). DER merupakan
perbandingan antara jumlah hutang dengan jumlah modal sendiri sedangkan DAR
Universitas Sumatera Utara
51
merupakan perbandingan antar jumlah hutang dengan aktiva perusahaan. Struktur
modal merupakan variabel bebas yang menggambarkan proporsi hutang atas aktiva
(rasio leverage) dan proporsi hutang atas ekuitas pemegang saham (rasio hutang).
Brigham dan Houston (2001:5) menyatakan bahwa kebijakan struktur modal
melibatkan perimbangan (trade-off) antara resiko dan pengembalian, yang pada
akhirnya memutuskan apakah menggunakan hutang atu modal sendiri untuk
mendanai perusahaan. Tujuan pokok manajemen struktur modal adalah menciptakan
suatu bauran atau kombinasi sumber pembelanjaan permanen yang mampu
memaksimumkan harga saham, dan meminimumkan biaya modal. Keown et,al
(2000) menjelaskan bahwa biaya modal dapat diminimumkan dengan menggunakan
leverage (pengungkit) keuangan. Perusahaan dinyatakan menggunakan leverage
keuangan apabila dalam pendanaannya memiliki beban tetap, salah satu diantaranya
adalah hutang.
Menurut teori tradeoff semakin besar penggunaan hutang, semakin besar
keuntungan dari penggunaan hutang yang di peroleh dari pajak penghasilan. Tetapi
biaya kebangkrutan dan biaya agensi juga akan meningkat bahkan lebih besar, jika
satu-satunya pengaruh dalam perusahaan hanya pajak penghasilan. Dapat
disimpulkan bahwa penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan tetapi
hanya sampai pada titik tertentu. Setelah titik tersebut, penggunaan hutang justru akan
menurunkan nilai perusahaan karena kenaikan keuntungan dari penggunaan hutang
tidak sebanding dengan kenaikan biaya kebangkrutan dan biaya keagenan. Tititk
balik tersebut disebut dengan struktur modal optimal yang menunjukkan jumlah
Universitas Sumatera Utara
52
hutang perusahaan yang optimal. Teori ini disebut teori tradeoff karena struktur
modal optimal dapat ditemukan dengan menyeimbangkan keuntungan penggunaan
hutang (tax shield benefits of leverage) dengan biaya kebangkrutan dan biaya agensi
(Atmaja, 1994:320)
Arifin (2005:93) menjelaskan bahwa tradeoff theory merupakan teori yang
sangat konsisten dalam upaya mencari struktur modal optimal agar nilai perusahaan
dapat dimaksimumkan. Dengan teori tradeoff dimana bunga hutang dapat
dikurangkan pada perhitungan penghasilan kena pajak, maka kecendrungan kebijakan
pendanaan adalah menggunakan huutang yang mengakibatkan rasio hutang dalam
struktur modal akan meningkat (Weston dan Copeland, 1990:53). Berdasarkan teori
tradeoff apabila perusahaan belum mencapai struktur modal optimal maka setiap
penambahan hutang akan maningkatkan nilai perusahaan sebaliknya, apabila
perusahaan telah mencapai struktur modal opimalnya maka setiap penambahan
hutang akan menurunkan nilai perusahaan. Dengan demikian jika diasumsikan
perusahaan berusaha untuk mencapai struktur modal yang optimal maka teori trade
off manunjukkan hubungan yang positif antara struktur modal dengan nilai
perusahaan.
Paramu (2006) menemukan bahwa pengaruh hutang terhadap rasio hutang
berpengaruh signifikan. Dijelaskan bahwa profitabilitas perusahaan mengandung
konsekuensi pembayaran pajak secara proporsional. Namun karena cost of debt akan
mengurangi jumlah pajak yang dibayarkan, ada kecendrungan meningkatnya
profitabilitas akan semakin mendorong perusahaan untuk melakukan debt financing.
Universitas Sumatera Utara
53
Arifin (2005:92) menjelaskan bahwa semakin besar hutang perusahaan maka
semakin kecil dana ”menganggur” yang dapat dipakai manajer untuk pengeluaranpengeluaran yang tidak perlu, yang membuat manajer menjadi disiplin sehingga
penggunaan aset menjadi lebih produktif dan efisien yang pada akhirnya dapat
meningkatkan nilai perusahaan.
Martono dan Hardjito (2000:248) menjelaskan bahwa berdasarkan teori free
cash flows dengan adanya tingkat hutang yang tinggi, maka manajemen berada pada
posisi yang terdesak karena harus memastikan arus kas yang dihasilkan mencukupi
pembayaran hutang sehingga adanya hutang memotivasi manajemen untuk lebih
disiplin. Selain itu perusahaan yang menggunakan hutang akan lebih efisien karena
manajemen berusaha menghilangkan biaya-biaya yang tidak perlu, sedangkan
perusahan dengan sedikit pinjaman memiliki kecendrungan untuk tidak terlalu
mengawasi pemakaian biaya-biaya yang sebenarnya dapat dikurangi.
Menurut Brigham dan Houston (2001) profitabilitas adalah hasil bersih dari
serangkaian
kebijakan
dan
keputusan.
Analisa
rasio-rasio
profitabilitas
menggambarkan bagaimana manajemen perusahaan beroparesi dalam menggunakan
dananya. Rasio profitabilitas memperlihatkan pengaruh kombinasi likuiditas,
aktivitas, dan leverage terhadap perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
Syamsuddin (2000:63) menjelaskan bahwa profitabilitas dapat ditentukan dengan
bebrapa rasio yaitu: Ratio Return On Aktiva (ROA) atau sering disebut dengan Ratio
return On Investasi (ROI), Ratio Return On Equity (ROE), Gross Profit Margin
(GPM), Operating Profit Margin (OPM), Net Profit Margin (NPM)dan earning
Universitas Sumatera Utara
54
power. Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return On
Equity (ROE). Sartono (2001) menyatakan bahwa semakin besar penggunaan hutang
dalam struktur modal maka semakin meningkat ROE suatu perusahaan tersebut.
Model kerangka pemikiran dibawah ini akan menegaskan bahwa semakin
tinggi porsi penggunaan hutang dalam struktur modal, yang ditunjukkan oleh
besarnya Debt to Equity Ratio, Debt to Assets Ratio maka semakin meningkat pula
kemampuan perusahaan menghasilkan laba, ditunjukkan melalui meningkatnya
Return On Equity. Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah
dikemukakan sebelumnya maka model kerangka konseptual dapat digambarkan
seperti sibawah ini.
H1
Debt to Assets Ratio
(X1)
Debt to Equity Ratio
(X2)
H3
Return On Equity
(Y)
H2
Gambar 2.1
Diagram Kerangka Konseptual
Universitas Sumatera Utara
55
2. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pemikiran penelitian, maka
diajukan hipotesis sebagai berikut :
H1
: Ada pengaruh variabel Debt to Assets Ratio terhadap Return On Equity
H2
: Ada pengaruh variabel Debt to Equity Ratio terhadap Return On Equity
H3
: Ada pengaruh variabel Debt to Equity Ratio dan variabel Debt to Assets
Ratio secara bersama-sama terhadap Return On Equity
Universitas Sumatera Utara
Download