Untitled - Journal | Unair

advertisement
Table of Contents
No.
Title
Page
1
Komponen Surveilans Kusta di Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo sebagai
Upaya Penanggulangan Kusta
163 - 171
2
Hubungan antara Obesitas dengan Osteoporosis Studi di Rumah Sakit Husada
Utama Surabaya
172 - 181
3
Perbedaan Kejadian Komplikasi Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Menurut Gula
Darah
182 - 191
4
Hubungan antara Faktor Pengemudi dan Faktor Lingkungan dengan Kepatuhan
Mengendarai Sepeda Motor
192 - 200
5
Evaluasi Penemuan Kasus Avian Influenza di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas
III Sampit
201 - 212
6
Faktor yang Berpengaruh terhadap Kenaikan Titer Antibodi Spesifik Kusta
213 - 223
7
The Relationship between Metabolic Syndrome and Life Symptoms style with
Microvascular Complications
224 - 233
8
Average Blood Sugar and Diabetus Mellitus Type II Management Analysis
234 - 243
9
The Analysis of Secondhand Smoke Effect at House on Women toward
Hypertension
244 - 253
10
Surgical Site Infection (SSI) based on Surveilans Component in Private Hospital
Surabaya in 2012
254 - 265
11
Epidemiological Determinants Low Birth Weight in Malaria Endemic Areas Banjar
District
266 - 276
12
The Effect of Participation in “Paguyuban Sehat Kencing Manis― for Type 2
Diabetics
277 - 290
13
The Evaluation of Integrated Management of Childhood Ilness (IMCI) Pneumonia
in Public Health Center at District Lumajang
291 - 301
14
Description The Activities of Recording and Reporting Maternal Health Monitoring
in PWS-KIA Based on Surveillance Attributes
302 - 315
15
Pregnancy Exercise Influence In Labor And Neonatal Health Status
316 - 324
Vol. 1 - No. 2 / 2013-09
TOC : 8, and page : 234 - 243
Average Blood Sugar and Diabetus Mellitus Type II Management Analysis
HUBUNGAN EMPAT PILAR PENGENDALIAN DM TIPE 2 DENGAN RERATA KADAR GULA DARAH
Author :
Nurlaili Haida Kurnia Putri | [email protected]
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Muhammad Atoillah Isfandiari | [email protected]
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
ABSTRACT
Nowadays there is increasing concerning to non-transmitted diseases. From, two out of ten disease leading to death are
non communicable diseases. One of them is Diabetes Mellitus, which is non-transmitted diseases, increasing
continuously from year to year. Because of these problems, this research is conducted to determine relation between
application of 4 pillars of Diabetes Mellitus management anda average of blood sugar levels. Researcher used
observational studies, with a cross sectional design. The sample used were patients suffering from Diabetes Mellitus for a
long periode. Respondent had got as many as 53 people, interview held by questioner. Data was analyzed by Chi Square
to determine the relationship of each variable that studied. The dependent variable is average of blood sugar levels, while
the independent variables are education, meal regulation, exercise, medication obedience. The result showed, there is
relation between education information and blood sugar levels (p = 0.031). There is relation between meal regulation and
average of blood sugar (p =
0.002). There is the relation between exercise and average of blood sugar levels (p = 0.017). The last result showed that
there is relation between medication obedience and average of blood sugar levels (p = 0.003). Based on result,
researcher concludes there are relationship with average blood sugar. By good education accept, meal regulation,
exercise, and medical obedience had effect on stabilize blood sugar and increase quality of life.
Keywords: the four pillars of Diabetes Mellitus management, blood sugar levels
Keyword : the, four, pillars, of, Diabetes, Mellitus, management, blood, sugar, levels,
Daftar Pustaka :
1. Almatsier, S, (2006). Prinsip Dasar Ilmu Gizi, edisi ke-6. Jakarta : EGC
2. Depkes, (2008). Metode Pencegahan dan Penanggulangan Faktor Risiko Diabetes Melitus. Jakarta : Depkes RI
3. Dinas Kesehatan Kota Surabaya., (2012). Profil Kesehatan Kota Surabaya Tahun 2010.. Surabaya : Dinas
Kesehatan Kota Surabaya
4. Gibney J.M., Margaretts M.B., Kearney M.J., & Arab L, (2009). Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC
5. Mahdiana, R, (2010). Mencegah Penyakit Kronis Sejak Dini.. Yogyakarta : Tora Book
6. Mahendra B, Krisnatuti D, Tobing A, & Alting AZB, (2008). Care Yourself, Diabetes Mellitus. Jakarta : Penebar
Plus
7. Notoatmodjo, S, (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat.. Jakarta : PT. Rineka Cipta
8. Notoatmodjo, S, (2012). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
9. Purnomo, H, (2009). Pencegahan dan Pengobatan Penyakit yang Paling Mematikan. Yogyakarta : Buana Pustaka
10. Suyono, S. , (2009). Kecenderungan Peningkatan Jumlah Penyandang Diabetes, dalam Penatalaksanaan Diabetes
Melitus Terpadu. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
11. Tjokroprawiro, A, (2006). Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes. Jakarta : GPU
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)
HUBUNGAN EMPAT PILAR PENGENDALIAN DM TIPE 2
DENGAN RERATA KADAR GULA DARAH
Average Blood Sugar and Diabetus Mellitus Type II Management Analysis
Nurlaili Haida Kurnia Putri1, Muhammad Atoillah Isfandiari2
1FKM UA, [email protected]
2Departemen Epidemiologi FKM UA, [email protected]
Alamat Korespondensi: Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
ABSTRAK
Saat ini perhatian penyakit tidak menular semakin meningkat. Dari sepuluh penyebab utama kematian, dua diantaranya
adalah penyakit tidak menular. Salah satunya Diabetes Melitus merupakan penyakit tidak menular yang mengalami
peningkatan terus-menerus dari tahun ke tahun. Dengan adanya permasalahan tersebut, dilakukan penelitian untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan penerapan 4 pilar pengendalian Diabetes Melitus dengan rerata kadar gula darah.
Peneliti menggunakan penelitian observasional, dengan studi cross sectional. Sampel yang digunakan pada penderita
diabetes lama yang melakukan pemeriksaan gula darah 3 kali secara berturut-turut. Di mana didapatkan 53 responden,
peneliti melakukan wawancara dengan bantuan kuesioner untuk mengumpulkan data, serta dilakukan analisis menggunakan
Chi Square untuk mengetahui hubungan pada masing-masing variabel yang diteliti. Variabel terikat dalam penelitian ini
adalah rerata kadar gula darah, sedangkan variabel bebasnya adalah penyerapan edukasi, pengaturan makan, olahraga,
kepatuhan pengobatan. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan penyerapan edukasi dengan rerata kadar gula
darah (p = 0,031). Dan ada hubungan antara pengaturan makan dengan rerata kadar gula darah (p = 0,002). Pada variabel
berikutnya, ada hubungan olahraga dengan rerata kadar gula darah (p = 0,017). Dan ada hubungan kepatuhan pengobatan
dengan rerata kadar gula darah (p = 0,003). Berdasarkan dari hasil analisis, kesimpulan yang diperoleh adalah terdapat
hubungan di semua variabel. Dengan penyerapan edukasi yang baik, pengaturan makan, olahraga, dan kepatuhan
pengobatan mempunyai dampak menstabilkan glukosa darah dan meningkatkan kualitas hidup.
Kata kunci: empat 4 pilar pengendalian Diabetes Melitus, rerata kadar gula darah
ABSTRACT
Nowadays there is increasing concerning to non-transmitted diseases. From, two out of ten disease leading to death are
non communicable diseases. One of them is Diabetes Mellitus, which is non-transmitted diseases, increasing continuously
from year to year. Because of these problems, this research is conducted to determine relation between application of 4
pillars of Diabetes Mellitus management anda average of blood sugar levels. Researcher used observational studies, with
a cross sectional design. The sample used were patients suffering from Diabetes Mellitus for a long periode. Respondent
had got as many as 53 people, interview held by questioner. Data was analyzed by Chi Square to determine the relationship
of each variable that studied. The dependent variable is average of blood sugar levels, while the independent variables
are education, meal regulation, exercise, medication obedience. The result showed, there is relation between education
information and blood sugar levels (p = 0.031). There is relation between meal regulation and average of blood sugar (p =
0.002). There is the relation between exercise and average of blood sugar levels (p = 0.017). The last result showed that
there is relation between medication obedience and average of blood sugar levels (p = 0.003). Based on result, researcher
concludes there are relationship with average blood sugar. By good education accept, meal regulation, exercise, and
medical obedience had effect on stabilize blood sugar and increase quality of life.
Keywords: the four pillars of Diabetes Mellitus management, blood sugar levels
PENDAHULUAN
untuk bersikap mandiri dalam menjaga kesehatannya
dan menyadari pentingnya pelayanan kesehatan yang
bersifat promotif dan preventif tanpa mengabaikan
upaya kuratif dan rehabilitatif (Depkes RI, 2000).
Saat ini perhatian penyakit tidak menular
semakin meningkat karena frekuensi kejadiannya
pada masyarakat semakin meningkat. Dari sepuluh
Paradigma sehat sebagai suatu gerakan
nasional dalam rangka pembangunan kesehatan
menuju Indonesia sehat 2015 merupakan upaya
meningkatkan kesehatan bangsa yang bersifat
proaktif. Upaya ini bertujuan mendorong masyarakat
234
Nurlaili, dkk., Hubungan Empat Pilar Pengendalian DM…
penyebab utama kematian, dua diantaranya adalah
penyakit tidak menular. Keadaan ini terjadi di
dunia, baik di negara maju maupun di negara
dengan ekonomi rendah dan menengah. Organisasi
kesehatan dunia (WHO) mempergunakan istilah
penyakit kronis (chronic diseases) untuk penyakitpenyakit tidak menular. Penyakit tidak menular
disebut juga sebagai new communicable diseases
karena penyakit ini dianggap dapat menular, yakni
melalui gaya hidup (Bustan, 2007).
Salah satunya adalah penyakit diabetes melitus
(DM) merupakan sebuah penyakit, di mana kondisi
kadar glukosa di dalam darah melebihi batas
normal. Hal ini disebabkan karena tubuh tidak
dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara
adekuat. Insulin adalah hormon yang dilepaskan
oleh pankreas dan merupakan zat utama yang
bertanggung jawab untuk mempertahankan kadar
gula darah dalam tubuh agar tetap dalam kondisi
seimbang. Insulin berfungsi sebagai alat yang
membantu gula berpindah ke dalam sel sehingga
bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai
cadangan energi (Mahdiana, 2010).
Penyakit Diabetes Melitus (DM) merupakan
penyakit tidak menular yang mengalami peningkatan
terus menerus dari tahun ke tahun. Diabetes adalah
penyakit metabolik yang ditandai dengan kadar
gula darah yang tinggi (hiperglikemia) yang
diakibatkan oleh gangguan sekresi insulin, dan
resistensi insulin atau keduanya. Hiperglikemia yang
berlangsung lama (kronik) pada Diabetes Melitus
akan menyebabkan kerusakan gangguan fungsi,
kegagalan berbagai organ, terutama mata, organ,
ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah lainnya
(Suastika K., et al., 2011).
Diabetes Melitus yang ditandai oleh
hiperglikemia kronis. Penderita DM akan ditemukan
dengan berbagai gejala, seperti poliuria (banyak
berkemih), polidipsia (banyak minum), dan
polifagia (banyak makan) dengan penurunan berat
badan. Hiperglikemia dapat tidak terdeteksi karena
penyakit Diabetes Melitus tidak menimbulkan gejala
(asimptomatik) dan sering disebut sebagai pembunuh
manusia secara diam-diam “Silent Killer” dan
menyebabkan kerusakan vaskular sebelum penyakit
ini terdeteksi. Diabetes Melitus dalam jangka panjang
dapat menimbulkan gangguan metabolik yang
menyebabkan kelainan patologis makrovaskular dan
mikrovaskular (Gibney dkk., 2008).
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan
adanya kecenderungan peningkatan angka insiden
dan prevalensi Diabetes Melitus tipe II di berbagai
235
penjuru dunia. WHO memprediksi adanya
peningkatan jumlah penyandang Diabetes Melitus
yang cukup besar untuk tahun-tahun mendatang.
Berdasarkan data organisasi kesehatan dunia
(WHO) Indonesia merupakan urutan ke-4 terbesar
dalam jumlah penderita Diabetes Melitus di dunia.
Pada tahun 2006 jumlah penderita Diabetes Melitus
di Indonesia mencapai 14 juta orang. Dari Jumlah
tersebut baru 50% penderita yang sadar mengidap
dan sekitar 30% diantaranya melakukan pengobatan
rutin. Faktor lingkungan dan gaya hidup yang tidak
sehat, seperti makan berlebihan, berlemak, kurang
aktivitas dan stress berperan sangat besar sebagai
pemicu Diabetes Melitus. Selain itu Diabetes Melitus
juga bisa muncul karena adanya faktor keturunan
(Sidhartawan, 2008).
WHO memperkirakan prevalensi global
Diabetes Melitus akan meningkat dari 171 juta
orang pada tahun 2000 menjadi 366 juta tahun
2030 (Riskesdes, 2007). Sekitar 60% jumlah pasien
tersebut terdapat di Asia (Mahendra dkk, 2008).
Indonesia berada pada peringkat ke-4 terbanyak
kasus Diabetes Melitus di dunia (Purnomo, 2009).
Pada tahun 2000 di indonesia terdapat 8,4 juta
penderita Diabetes Melitus dan diperkirakan akan
menjadi 21,3 juta pada tahun 2030 (Soegondo dan
sukardji, 2008).
Dalam Diabetes Atlas tahun 2000 (International
Diabetes Federation) tercantum penduduk Indonesia
diatas 20 tahun sebesar 125 juta dan dengan asumsi
prevalensi Diabetes Melitus 4,6%. Berdasarkan pola
pertambahan penduduk seperti saat ini, diperkirakan
pada tahun 2020 akan ada sejumlah 178 juta
penduduk berusia di atas 20 tahun dengan asumsi
prevalensi Diabetes Melitus 4,6% akan didapatkan
8,2 juta pasien Diabetes Melitus.
Berdasarkan laporan nasional Riskesdas (2007),
Prevalensi penyakit Diabetes Melitus di Indonesia
berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah
0,7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1,1%.
Data ini menunjukkan cakupan diagnosis Diabetes
Melitus oleh tenaga kesehatan mencapai 63,6%,
lebih tinggi dibandingkan cakupan penyakit asma
maupun penyakit jantung. Prevalensi Diabetes
Melitus menurut provinsi, berkisar antara 0,4% di
Lampung hingga 2,6% di DKI Jakarta. Terdapat
17 provinsi yang mempunyai prevalensi Diabetes
Melitus lebih tinggi dari angka nasional. Dari data
Jawa Timur menunjukkan prevalensi Diabetes
Melitus berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan
adalah 1,0% sedangkan prevalensi DM (D/G)
sebesar 1,3%.
236
Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 1, No. 2 September 2013: 234–243
Gambar 1. Distribusi Penderita Diabetes Melitus
Menurut Tahun. Sumber: Dinas
Kesehatan Kota Surabaya, 2013
Di Surabaya sendiri seperti yang kita ketahui
terdapat perkembangan dari tahun 2009 sejumlah
15.961, meningkat pada jumlah 21.729 pada tahun
2010, kemudian meningkat kembali pada tahun 2011
menjadi 26.613. Penderita Diabetes Melitus ini terus
mengalami peningkatan pada tahun 2009 hingga
2011, namun pada tanggal 2012 terjadi penurunan
menjadi sebesar 21.268.
Suatu jumlah yang sangat besar dan merupakan
beban yang sangat berat untuk dapat ditangani
sendiri oleh dokter spesialis/subspesialis bahkan
semua tenaga kesehatan yang ada. Mengingat bahwa
Diabetes Melitus akan memberikan dampak terhadap
kualitas sumber daya manusia dan peningkatan biaya
kesehatan yang cukup besar. Semua pihak, baik
masyarakat maupun pemerintah, seharusnya ikut
serta dalam usaha penanggulangan Diabetes Melitus,
khususnya dalam upaya pencegahan (Perkeni,
2006).
Walaupun Diabetes Melitus merupakan penyakit
kronik yang tidak dapat menyebabkan kematian
secara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila
pengelolaannya tidak tepat. Pengelolaan Diabetes
Melitus memerlukan penanganan secara multidisiplin
yang mencakup terapi non-obat dan terapi obat.
Penyakit Diabetes Melitus memerlukan perawatan
medis dan penyuluhan untuk self management yang
berkesinambungan untuk mencegah komplikasi akut
maupun kronis.
Hasil dari Diabetes Control and Complication
Trial (DCCT) menunjukkan bahwa pengendalian
Diabetes Melitus yang baik dapat mengurangi
komplikasi kronik Diabetes Melitus antara 20–30%.
Bila diremehkan, komplikasi penyakit Diabetes
Melitus dapat menyerang seluruh anggota tubuh.
Dapat menyebabkan kerusakan gangguan fungsi,
kegagalan berbagai organ, terutama mata, organ,
ginjal, jantung, saraf dan pembuluh darah lainnya.
Karena itu Diabetes Melitus juga dikenal sebagai
“Mother of Disease” karena merupakan induk
atau ibu dari penyakit – penyakit lainnya seperti
hipertensi, pembuluh darah, jantung, stroke, gagal
ginjal dan kebutaan.
Pada saat ini penyakit tidak menular seperti
hipertensi dan Diabetes Melitus merupakan penyakit
yang sering terjadi di masyarakat sehingga perlu
dilakukan tindakan intervensi dalam kegiatan
Program PPTM (Penanggulangan Penyakit Tidak
Menular). Dengan memperbanyak skrining,
penyuluhan kesehatan, perencanaan makan, rutin
melakukan olahraga serta penyiapan logistiknya
terutama obat diharapkan penderita diabetes dalam
kondisi stabil.
Diabetes Melitus merupakan kelainan metabolik
dengan etiologi multifaktorial. Penyakit ini ditandai
oleh hiperglikemia kronis dan mempengaruhi
metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak.
Patofisiologi Diabetes Melitus akan ditemukan
dengan berbagai gejala, seperti poliuria (banyak
berkemih), polidipsia (banyak minum), dan
polifagia (banyak makan) dengan penurunan berat
badan. Hiperglikemia dapat tidak terdeteksi karena
penyakit Diabetes Melitus tidak menimbulkan
gejala (asimptomatik) dan menyebabkan kerusakan
vaskular sebelum penyakit terdeteksi (Gibney, dkk.,
2008).
Diabetes Melitus tipe II merupakan jenis yang
paling banyak dijumpai. Biasanya terjadi pada usia
45 tahun, tetapi bisa pula timbul pada usia di atas 20
tahun. Sekitar 90-95% penderita Diabetes Melitus
tipe II.
Pada Diabetes Melitus tipe II, pankreas,
pankreas masih dapat membuat insulin, tetapi
kualitas insulin yang dihasilkan buruk dan tidak
dapat berfungsi dengan baik sebagai kunci untuk
memasukkan glukosa ke dalam sel. Akibatnya,
glukosa dalam darah meningkat. Kemungkinan
lain terjadinya Diabetes Melitus tipe 2 adalah sel
jaringan tubuh dan otot penderita tidak peka atau
sudah resisten terhadap insulin (insulin resistance)
sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel
dan akhirnya tertimbun dalam peredaran darah.
Keadaan ini umumnya terjadi pada pasien yang
gemuk atau mengalami obesitas.
Maka hal utama yang diperlukan adalah
pengendalian Diabetes Melitus dengan pedoman 4
pilar pengendalian Diabetes Melitus, yang terdiri
dari edukasi, pengaturan makan, olahraga, kepatuhan
pengobatan (Perkeni, 2011). Dengan tujuan agar
237
Nurlaili, dkk., Hubungan Empat Pilar Pengendalian DM…
penyandang Diabetes Melitus dapat hidup lebih
lama, karena kualitas hidup kebutuhan.
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan
Penyerapan Edukasi, Pengaturan Makan,
Olahraga, Kepatuhan Pengobatan
METODE
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian
observasional yang bersifat analitik yaitu penelitian
yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara
variabel penelitian. Rancangan penelitian yang
digunakan adalah cross sectional yaitu penelitian
yang bertujuan untuk mengamati hubungan antara
faktor risiko terhadap akibat yang terjadi dalam
bentuk penyakit atau keadaan (status) kesehatan
tertentu dalam waktu yang bersamaan (Noor,
2008).
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh
pasien lama penderita Diabetes Melitus yang
melakukan pemeriksaan kadar gula darah dalam
waktu tiga bulan secara berturut-turut. Sampel pada
penelitian ini adalah pasien lama penderita Diabetes
Melitus yang melakukan cek kadar gula darah acak
secara rutin selama tiga bulan berturut-turut di
Puskesmas Pacarkeling Surabaya yang diperoleh
sebanyak 53 responden.
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan
Rerata Kadar Gula Darah di Puskesmas
Pacarkeling Tahun 2013
Rerata Kadar Gula
Darah
Jumlah
Persentase
(%)
Normal
Tidak normal
36
17
32,1
67,9
Total
53
100,0
Jumlah
Persentase
(%)
Baik
Kurang
Sesuai
Tidak sesuai
Olahraga
Tidak
olahraga
1 kali
2 kali
3 kali
> 3 kali
Tidak
olahraga
< 30 menit
30 menit
> 30 menit
Tidak
olahraga
Patuh
30
23
32
21
34
19
56,6
43,4
60,4
39,6
64,2
35,8
0
3
11
20
19
0
5,8
20,7
37,7
35,8
0
6
28
19
0
11,3
52,9
35,8
25
47,2
Tidak patuh
28
52,8
Variabel
Kategori
Penyerapan
Edukasi
Pengaturan
Makan
Olahraga
Rutinitas
Lama
melakukan
olahraga
Kepatuhan
Pengobatan
Variabel yang diteliti meliputi; variabel bebas
yaitu penerapan 4 pilar pengendalian Diabetes
Melitus (yang terdiri dari penyerapan edukasi,
pengaturan makan, olahraga, kepatuhan pengobatan)
dan variabel terikat yaitu rerata kadar gula darah.
Data primer didapatkan dengan wawancara
menggunakan bantuan kuesioner. Data sekunder
Tabel 3. Tabulasi Silang antara Penyerapan Edukasi, Pengaturan Makan, Olahraga, Kepatuhan Pengobatan
dengan Rerata Kadar Gula Darah
Jumlah
Variabel
Penyerapan Edukasi
Kategori
Baik
Kurang
Pengaturan Makan
Sesuai
Tidak sesuai
Olahraga
Olahraga
Tidak olahraga
Kepatuhan pengobatan
Patuh
Tidak patuh
Normal (< 160 mg/dl)
Tidak Normal (≥ 160 mg/dl)
n
%
n
%
24
12
27
9
27
9
22
14
45,3
22,7
50,9
17,1
50,9
17,1
41,5
26,4
6
11
5
12
7
10
3
14
11,3
20,7
9,4
22,7
13,2
18,8
6,6
26,4
238
Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 1, No. 2 September 2013: 234–243
didapatkan dari rekam medis Puskesmas Pacarkeling,
Surabaya. Selanjutnya, dilakukan analisis statistik
untuk mengetahui hubungan variabel bebas dengan
variabel terikat dengan menggunakan uji chi-square
dengan α = 5%.
HASIL
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian
besar responden memiliki rerata kadar gula darah
normal (< 160 mg/dl), yaitu sebesar 36 (67,9%)
responden, dan sebanyak 17 (32,1%) responden
mempunyai rata-rata kadar gula darah tidak normal
(≥ 160 mg/dl). Distribusi ini berdasarkan hasil
rata-rata kadar gula darah responden selama 3 bulan
berturut-turut.
Distribusi Penyerapan Edukasi
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar
responden memiliki tingkat pengetahuan baik, yaitu
sebesar 30 (56,6%) responden. Sedangkan responden
yang memiliki tingkat penyerapan kurang, yaitu
sebesar 23 (43,4%). Distribusi ini berdasarkan
penyerapan edukasi yang diperoleh responden yang
dapat dilihat pada tabel 2.
Distribusi Pengaturan Makan
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar
responden memiliki tingkat pengaturan yang sesuai
dengan anjuran tenaga kesehatan, yaitu sebesar 32
(60,4%) responden. Sedangkan responden yang
memiliki pengaturan makan tidak sesuai, yaitu
sebesar 21 (39,4%). Distribusi ini berdasarkan
pengaturan makan yang diperoleh responden yang
dapat dilihat pada tabel 2.
Distribusi Olahraga
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 34
responden yang melakukan olahraga dan sebanyak
20 (37,7%) responden melakukan olahraga ≥ 3
kali dalam seminggu. Sedangkan yang tidak
melakukan olahraga, yaitu sebesar 19 (35,8%). Dari
hasil penelitian olahraga, terdapat 34 responden
yang melakukan olahraga. Sebanyak 20 (37,7%)
responden melakukan olahraga ≥ 3 kali dalam
seminggu dan sebanyak 28 (52,9%) responden
melakukan olahraga > 30 menit. Distribusi ini
berdasarkan aktivitas olahraga yang dilakukan oleh
responden yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Distribusi Kepatuhan Pengobatan
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar
responden tidak patuh melakukan pengobatan, yaitu
sebesar 28 (52,8%) responden. Sedangkan responden
yang patuh melakukan pengobatan sebesar
25 (47,2%). Distribusi ini berdasarkan kepatuhan
pengobatan yang dilakukan responden yang dapat
dilihat pada Tabel 2.
Hasil Tabulasi Silang
Penyerapan Edukasi
Dari Tabel 3, hasil tabulasi silang penelitian
tentang penyerapan edukasi diketahui bahwa
sebagian besar responden dengan penyerapan
edukasi baik memiliki rerata kadar gula darah
< 160 mg/dl yaitu sebanyak 45,3%. Sebagian
besar responden dengan penyerapan edukasi
kurang memiliki rerata kadar gula < 160 mg/dl
yaitu sebanyak 22,7%. Berdasarkan uji statistik
dengan Uji Chi Square didapatkan ρ = 0,031 (ρ < α),
yang berarti penelitian ini ada hubungan antara
penyerapan edukasi yang diperoleh dengan rerata
kadar gula darah acak.
Pengaturan Makan
Pada tabel 3 dapat dilihat hasil tabulasi silang
tentang pengaturan makan yang diketahui bahwa
sebagian besar responden dengan pengaturan
makan yang sesuai memiliki rerata kadar gula darah
< 160 mg/dl yaitu sebanyak 50,9%. Sebagian besar
responden dengan pengaturan makan yang tidak
sesuai memiliki rerata kadar gula ≥ 160 mg/dl
yaitu sebanyak 22,7%. Berdasarkan uji statistik
dengan Uji Chi Square didapatkan ρ = 0,002
(ρ < α), yang berarti penelitian ini ada hubungan
antara pengaturan makan yang diperoleh dengan
rerata kadar gula darah acak.
Olahraga
Pada Tabel 3 dapat dilihat hasil penelitian
ini tentang tabulasi silang kegiatan olahraga
yang diketahui bahwa sebagian besar responden
melakukan olahraga memiliki rerata kadar gula
darah < 160 mg/dl yaitu sebanyak 50,9%. Sebagian
besar responden dengan tidak melakukan olahraga
memiliki rerata kadar gula ≥ 160 mg/dl yaitu
sebanyak 18,8%. Berdasarkan uji statistik dengan
Uji Chi Square didapatkan ρ = 0,017 (ρ < α), yang
Nurlaili, dkk., Hubungan Empat Pilar Pengendalian DM…
berarti penelitian ini ada hubungan antara olahraga
dengan rerata kadar gula darah acak.
Kepatuhan Pengobatan
Pada tabel 3 dapat dilihat hasil penelitian
ini tentang tabulasi silang kepatuhan pengobatan
yang diketahui bahwa sebagian besar responden
dengan kepatuhan pengobatan yang baik memiliki
rerata kadar gula darah < 160 mg/dl yaitu sebanyak
41,5%. Sebagian besar responden yang tidak patuh
melakukan pengobatan memiliki rerata kadar gula
≥ 160 mg/dl yaitu sebanyak 26,4%. Berdasarkan uji
statistik dengan Uji Chi Square didapatkan ρ = 0,003
(ρ < α), yang berarti penelitian ini ada hubungan
antara kepatuhan pengobatan dengan rerata kadar
gula darah acak.
PEMBAHASAN
Hubungan Penyerapan Edukasi dengan Rerata
Kadar Gula Darah
Kegiatan penyuluhan kesehatan dapat dilakukan
melalui penyuluhan kelompok dan penyuluhan masa,
sedangkan kegiatannya dilakukan oleh Puskesmas,
Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan maupun lembagalembaga lainnya. Edukasi merupakan pendidikan
atau latihan mengenai pengetahuan dan keterampilan
dalam pengelolaan Diabetes Melitus yang diberikan
setiap pasien Diabetes Melitus.
Menurut Basuki (2009), penyandang Diabetes
Melitus perlu mendapatkan informasi minimal
yang diberikan setelah diagnosis ditegakkan,
mencakup pengetahuan dasar tentang diabetes,
pemantauan mandiri, sebab-sebab tingginya kadar
glukosa darah, obat hipoglikemia oral, perencanaan
makan, perawatan, kegiatan jasmani, tandatanda hipoglikemi dan komplikasi. Penyandang
diabetes yang mempunyai pengetahuan cukup
tentang diabetes, kemudian selanjutnya mengubah
perilakunya, sehingga akan dapat mengendalikan
kondisi penyakitnya dan penyandang diabetes dapat
hidup lebih berkualitas.
Edukasi dan informasi yang tepat dapat
meningkatkan kepatuhan penderita dalam menjalani
program pengobatan yang komprehensif, sehingga
pengendalian kadar glukosa darah dapat tercapai.
Dengan kepatuhan yang lebih, maka akan lebih
mudah menyerap informasi berkaitan dengan
penyakitnya sehingga pasien Diabetes Melitus relatif
dapat hidup normal bila mengetahui kondisinya dan
cara penatalaksanaan penyakitnya tersebut.
239
Dari hasil uji statistika menggunakan uji
Chi Square menunjukkan ada hubungan antara
penyerapan edukasi dengan rerata kadar gula
darah acak. Berdasarkan pada hasil penelitian
didapatkan sebagian besar penderita Diabetes
Melitus berpengetahuan baik dengan rerata kadar
gula darah normal. Hal ini menandakan pengetahuan
yang baik dapat mengubah tingkah laku. Dengan
demikian masih diperlukan pula adanya pendidikan
dan latihan mengenai pengetahuan dan keterampilan
dalam pengelolaan Diabetes Melitus yang diberikan
kepada setiap pasien diabetes, diharapkan dapat
meningkatkan pengetahuan sehingga dapat
mengubah perilaku penyandang Diabetes Melitus
untuk lebih baik.
Pemberdayaan penyandang diabetes
memerlukan partisipasi aktif pasien, keluarga dan
masyarakat. Tim kesehatan mendampingi pasien
dalam menuju perubahan perilaku sehat. Dengan
pemantauan tersebut didapat kondisi kadar gula
darah terkontrol.
Hubungan Pengaturan Makan dengan Rerata
Kadar Gula Darah
Pengaturan makan merupakan gambaran tentang
pola makan/kebiasaan makan meliputi jenis dan
frekuensi makan. Pengaturan ini merupakan bagian
dari penatalaksanaan Diabetes Melitus secara total.
Kunci keberhasilan dalam pengaturan makan adalah
keterlibatan secara menyeluruh dari seluruh tim
(petugas kesehatan, keluarga dan pasien).
Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa
ada hubungan antara pengaturan makan dengan
rerata kadar gula darah acak. Hal ini dikarenakan
pengaturan makan dapat menstabilkan kadar
glukosa darah dan lipid-lipid dalam batas normal
(Syahbudin, 2007). Hal ini harus diperhatikan
oleh semua pihak karena semakin bertambah usia
seseorang maka akan terjadi penurunan fungsi organ
tubuh yaitu fungsi otak yang berhubungan dengan
daya ingat. Sehingga dengan bertambahnya umur
penderita Diabetes Melitus maka kemampuan untuk
melakukan perencanaan makan sehari-hari juga akan
semakin menurun.
Makanan akan menaikkan glukosa darah,
satu sampai dua jam setelah makan, glukosa darah
mencapai angka paling tinggi. Dengan mengatur
perencanaan makan yang meliputi jumlah, jenis dan
jadwal, diharapkan dapat mempertahankan kadar
glukosa darah dan lipid dalam batas normal dan
penderita mendapatkan nutrisi yang optimal.
240
Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 1, No. 2 September 2013: 234–243
Sumber tenaga yang paling sering di konsumsi
adalah nasi dengan frekuensi tiga kali sehari. Hal
ini dikarenakan nasi merupakan sumber makanan
pokok mayoritas masyarakat suku jawa, sehingga
sangat susah untuk diubah agar makanan pokok ini
lebih bervariasi.
Karbohidrat atau hidrat arang adalah suatu gizi
yang fungsi utamanya sebagai penghasil energi,
di mana setiap gramnya menghasilkan 4 kalori.
Karbohidrat ini lebih banyak dikonsumsi sehari-hari
sebagai makanan pokok, terutama di negara sedang
berkembang. Hal ini disebabkan sumber bahan
makan yang mengandung karbohidrat lebih murah
harganya dibandingkan sumber bahan makanan
kaya lemak maupun protein. Karbohidrat banyak
ditemukan pada serealia (beras, gandum, jagung,
kentang dan sebagainya), serta pada biji-bijian
(Ostman, 2001).
Penukar nasi umumnya digunakan sebagai
makanan pokok, satu porsi setara dengan ¾ gelas
atau 100 gram, mengandung 175 kalori, 4 gram
protein, dan 40 gram karbohidrat, untuk menentukan
berapa kebutuhan karbohidrat total per hari dapat
ditentukan dengan melihat kebutuhan energi sehari.
Sumber protein yang paling sering dikonsumsi
adalah ayam ras dengan frekuensi satu kali dalam
satu minggu. Hal ini dikarenakan responden merasa
terlalu mahal beli daging sapi maupun kambing,
sebagai gantinya maka responden mengonsumsi
daging ayam. Sumber protein nabati yang paling
sering dikonsumsi adalah tahu dengan frekuensi
tiga kali sehari. Hal ini dikarenakan tahu mudah
didapat dan harga terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat. Menurut Suyono (2007), berkurangnya
aktivitas insulin pada diabetes dapat menghambat
sintesis protein. Asupan protein sebesar 0,8 g/kg BB
ideal dapat mempertahankan protogenesis, dengan
catatan 50% daripadanya harus berasal dari protein
hewani.
Sayuran golongan A yang paling sering
dikonsumsi responden adalah wortel dengan
frekuensi sehari sekali. Hal ini dikarenakan wortel
merupakan jenis sayuran yang sangat mudah di
dapat dan sudah menjadi kebiasaan masyarakat
mengonsumsi wortel dalam sayur sop. Sayuran
golongan B yang paling sering dikonsumsi
responden adalah kubis dan toge dengan frekuensi
konsumsi kubis sehari sekali dan toge dikonsumsi
seminggu sekali. Hal ini dikarenakan kubis dan toge
merupakan sayuran yang mudah didapatkan dan
harganya terjangkau. Menurut Tjokroprawiro (2006),
sayuran golongan A mengandung 6% karbohidrat
dan penggunaannya harus diperhitungkan
kalorinya. Sayur golongan B hanya mengandung
3% karbohidrat, sehingga dapat dikonsumsi dengan
leluasa namun tidak berlebihan.
Buah golongan A yang paling sering dikonsumsi
responden adalah jeruk manis dan nanas dengan
frekuensi dua kali dalam satu bulan untuk jeruk
manis dan satu kali dalam satu bulan untuk nanas.
Hal ini dikarenakan harga jeruk dan nanas yang
dapat dijangkau seluruh masyarakat, mudah
didapatkan dan rasa buah yang menyegarkan.
Buah golongan B yang paling sering dikonsumsi
responden adalah pepaya dengan frekuensi sehari
sekali. Hal ini dikarenakan buah pepaya mudah
didapatkan, harga terjangkau, dapat dikonsumsi oleh
banyak orang di rumah. Menurut Tjokroprawiro
(2006), buah-buahan yang dianjurkan untuk
dimakan adalah buah yang kurang manis yang
sering digolongkan menjadi golongan buah B. Buahbuahan yang manis digolongkan menjadi golongan
buah A, golongan buah ini dilarang diberikan kepada
penderita diabetes. Buah golongan A ini boleh
dimakan asal dalam jumlah sedikit atau jarang, dan
dimakan sesudah sayur golongan B.
Sayur, buah dan kacangan mengandung banyak
sekali serat yang dapat memperlambat absorpsi
glukosa, sehingga dapat ikut berperan mengatur
gula darah dan memperlambat kenaikan gula darah,
makanan yang cepat dirombak dan lambat diserap
masuk ke aliran darah akan menurunkan gula darah
(Almatsier, 2006).
Sayuran dibagi menjadi 2 golongan, yaitu sayur
golongan A dan sayur golongan B. Sayur golongan
A mengandung 6% karbohidrat dan penggunaannya
harus dibatasi serta diperhitungkan kalorinya.
Sedangkan sayur golongan B mengandung 3%
karbohidrat, sehingga dapat dikonsumsi agak
bebas.
Buah-buahan juga dibagi menjadi 2 golongan,
yaitu buah golongan A dan buah golongan B. Buah
golongan A merupakan sebutan untuk buah-buahan
yang manis, yang seringkali mengecilkan perawatan
dan harus dilarang diberikan kepada penderita
Diabetes Melitus, contohnya: sawo, mangga, jeruk,
rambutan, durian, anggur. Buah golongan A ini
boleh dimakan asal dalam jumlah sedikit, jarang dan
dimakan sesudah sayur golongan B.
Buah golongan B merupakan sebutan untuk
buah-buahan yang kurang manis, misalnya pepaya,
kedondong, pisang (kecuali pisang raja, pisang
Nurlaili, dkk., Hubungan Empat Pilar Pengendalian DM…
emas, pisang tanduk), apel, tomat, jambu air, jambu
bol, salak, belimbing, bengkoang, semangka yang
kurang manis.
Jenis susu yang paling dikonsumsi adalah susu
tanpa lemak dengan frekuensi satu hari sekali. Hal ini
dikarenakan sebagian besar responden mengontrol
kadar gula darah dengan mengonsumsi susu untuk
penderita Diabetes Melitus. Susu tanpa lemak
tidak mengandung lemak dan jumlah kalorinya
lebih rendah dibandingkan susu rendah lemak dan
susu tinggi lemak. Menurut Tjokroprawiro (2006),
200 gram susu skim cair mengandung 75 kalori,
yang terdiri atas protein 7 gram dan karbohidrat
10 gram.
Hubungan Penerapan Olahraga dengan Rerata
Kadar Gula Darah
Olahraga merupakan suatu program latihan
jasmani dengan tujuan mengurangi resistensi insulin
sehingga kerja insulin lebih baik dan mempercepat
pengangkutan glukosa masuk ke dalam sel untuk
kebutuhan energi. Olahraga secara teratur 34 kali seminggu dengan durasi kurang lebih 30
menit dapat menjaga kebugaran dan menurunkan
berat badan. Selain itu, dapat untuk memperbaiki
sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki
kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang bersifat
aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging,
dan berenang. Untuk yang relatif sehat, intensitas
latihan jasmani bisa ditingkatkan, sementara yang
sudah mendapatkan komplikasi Diabetes Melitus
dapat dikurangi.
Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak
dan bermalas-malasan, misalnya; menonton televisi,
menggunakan internet, main game komputer
dan lain-lain. Sebaiknya kebiasaan tersebut
diubah, misalnya mengubah kebiasaan ke pasar
menggunakan kendaraan bermotor dengan berjalan
kaki ke pasar, mengganti kebiasaan menggunakan
lift dengan naik tangga, parkir kendaraan dengan
jarak yang tidak berdekatan dengan pintu masuk
sehingga dapat berjalan dari tempat parkir. Slain
itu bisa memperbanyak aktivitas fisik tinggi pada
waktu liburan, misalnya jalan cepat, golf, olah otot,
bersepeda, sepak bola.
Manfaat olahraga bagi penderita diabetes
antara lain menurunkan kadar gula darah, mencegah
kegemukan, ikut berperan dalam mengatasi
kemungkinan terjadinya komplikasi aterogenik,
gangguan lipid darah, peningkatan tekanan darah,
hiperkoagulasi darah (Ilyas, 2009). Menurut Chaveau
dan Kaufman dalam Depkes (2008), latihan fisik
pada penderita Diabetes Melitus dapat menyebabkan
241
peningkatan pemakaian glukosa darah oleh otot
yang aktif sehingga latihan fisik secara langsung
dapat menyebabkan penurunan kadar lemak tubuh,
mengontrol kadar glukosa darah, memperbaiki
sensitivitas insulin, menurunkan stres.
Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa
ada hubungan antara olahraga dengan rerata kadar
gula darah acak pada penderita Diabetes Melitus.
Hal ini dikarenakan olahraga dapat menurunkan
kadar glukosa darah. Salah satu olahraga yang bisa
dilakukan adalah senam, senam diabetes sangat
penting dilakukan karena senam tersebut bisa
mengolah semua organ tubuh manusia, mulai otak
hingga ujung kaki (Brian J. Sharkey, 2003). Sebab
dampak penyakit diabetes menyerang seluruh tubuh.
Dampak paling ringan adalah kaki kesemutan.
Sedangkan yang terparah adalah menderita stroke.
Gerakan yang bervariasi membuat otak bekerja
sehingga dapat meningkatkan daya ingat dan
memperkuat konsentrasi. Hal ini merupakan terapi
untuk mencegah terjadinya dimensia (pikun).
Selain itu, ada beberapa responden yang tidak
melakukan aktivitas olahraga, ini bisa disebabkan
karena kesibukan masing-masing individu yang
belum dapat meluangkan waktunya, belum
terbentuknya kebiasaan melakukan olahraga teratur
dan kurang tersedianya sarana dan prasarana
yang memadai dalam melakukan keteraturan
olahraga. Selain itu juga karena faktor usia yang
sudah mendekati usia lansia di mana usia tersebut
mengalami penurunan terhadap kerja fungsi otototot dan syaraf sehingga tidak dapat melakukan
olahraga secara teratur.
Dalam Perkeni (2006) disebutkan bahwa
olahraga secara teratur dapat memperbaiki kendali
glukosa darah, mempertahankan atau menurunkan
berat badan, serta dapat meningkatkan kadar
kolesterol HDL. Olahraga selain untuk menjaga
kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan
memperbaiki kendali glukosa darah.
Ada baiknya bila sebelum melakukan olahraga
melakukan konsultasi dengan dokter untuk
menentukan jenis olahraga yang tepat dan sesuai
dengan kemampuannya.
Hubungan Kepatuhan Pengobatan dengan
Rerata Kadar Gula Darah
Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa ada
hubungan antara kepatuhan pengobatan dengan
rerata gula darah acak pada penderita Diabetes
Melitus. Hal ini dikarenakan bila penderita minum
obat secara teratur dan diimbangi dengan gaya
242
Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 1, No. 2 September 2013: 234–243
hidup yang sehat akan menurunkan kadar gula darah
diabetisi.
Perilaku keteraturan konsumsi obat anti
diabetes responden menjadi salah satu upaya untuk
pengontrolan dalam pengendalian glukosa darah
ataupun komplikasi yang dapat ditimbulkan. Bila
penderita Diabetes Melitus tidak patuh dalam
melaksanakan program pengobatan yang telah
dianjurkan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya
maka akan dapat memperburuk kondisi penyakitnya.
Keberhasilan dari pengobatan Diabetes Melitus ini
selain dengan pengobatan secara medik, dalam
bentuk pemberian obat juga dipengaruhi dengan pola
diet dan olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh.
Kepatuhan penderita adalah perilaku penderita
dalam mengambil suatu tindakan untuk pengobatan
seperti diet, kebiasaan hidup sehat dan ketepatan
berobat. Hal ini berkenaan dengan kemauan dan
kemampuan penderita untuk mengikuti cara hidup
sehat yang berkaitan dengan nasehat, aturan
pengobatan yang ditetapkan, mengikuti jadwal
pemeriksaan. Sangat sulit menilai tingkat kepatuhan
penderita dalam mengikuti anjuran dokter untuk
dapat mengendalikan kadar glukosa darah, baik
menyangkut jadwal minum obat dan dosis, maupun
pola hidup (pola makan, olahraga, dan lain-lain).
Menurut data WHO (2013), tingkat kepatuhan
pengobatan pada penderita Diabetes Melitus
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya;
karakteristik pengobatan dan penyakit (kompleksitas
terapi, durasi penyakit dan pemberian perawatan),
faktor intrapersonal (umur, gender, rasa percaya
diri, stres, depresi dan penggunaan alkohol), faktor
interpersonal (kualitas hubungan pasien dengan
penyedia layanan kesehatan dan dukungan sosial)
dan faktor lingkungan (situasi berisiko tinggi dan
sistem lingkungan).
Pengobatan akan dapat berjalan dengan baik
jika diberikan bersama dengan pengaturan makan
dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Namun
masih banyak penderita penyakit Diabetes Melitus
yang tidak rutin dalam mengonsumsi obat-obatan
yang diberikan oleh dokter. Kebanyakan para
penderita Diabetes Melitus mengonsumsi obatobatan apabila merasakan keluhan saja. Hal tersebut
bisa dimungkinkan karena berbagai faktor seperti
responden kurang mendapat informasi tentang
upaya pengendalian glukosa darah yang lengkap dan
kepatuhan responden dalam melaksanakan anjuran
yang diberikan dokter.
Mengubah aturan minum obat yang tidak sesuai
dengan anjuran dokter dapat mengurangi efektivitas.
Karena setiap obat memiliki fungsi dan waktu kerja
yang berbeda sehingga penggunaannya juga harus
tepat sesuai aturan agar obat bekerja secara efektif.
Namun, apabila selama minum obat penderita
merasakan keluhan, dapat melakukan konsultasi
kembali dengan dokter.
Pengobatan diabetes memerlukan waktu yang
lama karena diabetes akan diderita seumur hidup dan
sangat kompleks karena membutuhkan pengobatan
dan perubahan gaya hidup sehingga seringkali
pasien menjadi tidak patuh dan cenderung putus asa
dengan program terapi yang lama, kompleks dan
tidak menghasilkan kesembuhan.
Keteraturan pemeriksaan gula darah di
pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh responden
seringkali hanya sebatas untuk mengetahui
perkembangan dari diabetes yang dialami dan
pemberian obat tanpa ada sikap atau langkah
berkelanjutan untuk mengendalikannya. Selain
itu, kurangnya informasi atau konseling pada
saat pemeriksaan bisa menjadi salah satu faktor
belum efektifnya proses pemeriksaan teratur
terhadap pengaruhnya dalam pengendalian glukosa
darah. Karena salah satu tujuan dari dianjurkan
pemeriksaan teratur yang dilakukan oleh penderita
Diabetes Melitus adalah sebagai upaya dalam deteksi
dini terjadinya komplikasi serta upaya penanganan
klinis yang baik.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Hasil penelitian pada penerapan 4 pilar
pengendalian Diabetes Melitus dengan rerata kadar
gula darah, yaitu sebagian besar responden dengan
penyerapan edukasi baik, melakukan pengaturan
makan, melakukan olahraga ≥ 3 kali seminggu
dengan frekuensi > 30 menit, dan sebagian besar
penderita Diabetes Melitus tidak patuh melakukan
pengobatan, dan rerata kadar gula darah dalam
batas normal. Terdapat juga beberapa responden
yang belum tahu tentang edukasi Diabetes Melitus,
pengaturan makan, olahraga, dan keteraturan
berobat.
Saran
Perlu dilakukan sosialisasi tentang 4 pilar
pengendalian Diabetes Melitus yang dilakukan oleh
petugas melalui POSBINDU maupun di kegiatan
lainnya.
Nurlaili, dkk., Hubungan Empat Pilar Pengendalian DM…
REFERENSI
Almatsier, S., 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, edisi
ke-6. Jakarta: EGC.
Depkes. 2008. Metode Pencegahan dan
Penanggulangan Faktor Risiko Diabetes Melitus.
Jakarta: Depkes RI.
Dinas Kesehatan Kota Surabaya. 2012. Profil
Kesehatan Kota Surabaya Tahun 2010. Surabaya:
Dinas Kesehatan Kota Surabaya.
FKM UNAIR. 2008. Pedoman Penulisan dan
Tata Cara Ujian Skripsi. Surabaya: Universitas
Airlangga.
Gibney J.M., Margaretts M.B., Kearney M.J., & Arab
L. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.
Mahdiana, R. 2010. Mencegah Penyakit Kronis Sejak
Dini. Yogyakarta: Tora Book.
Mahendra B, Krisnatuti D, Tobing A, & Alting AZB.
2008. Care Yourself, Diabetes Mellitus. Jakarta:
Penebar Plus.
Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
243
Perkeni. 2006. Konsensus Pengelolaan dan
Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia.
(http://www.kedokteran.info/konsensuspengelolaan-dan-pencegahan-diabetes-mellitustipe-2-di-indonesia-2006.html.PDF).
Purnomo, H. 2009. Pencegahan dan Pengobatan
Penyakit yang Paling Mematikan. Yogyakarta:
Buana Pustaka.
Soegondo S. & Sukardji K. 2008. Hidup Secara
Mandiri dengan Diabetes Mellitus Kencing Manis
Sakit Gula. Jakarta: FKUI.
Soegondo S., Soewondo P., & Subekti I. 2007.
Penatalaksanaan Diabetes Terpadu. Jakarta:
FKUI.
Suyono, S. 2009. Kecenderungan Peningkatan Jumlah
Penyandang Diabetes, dalam Penatalaksanaan
Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: Balai Penerbit
FK UI.
Tjokroprawiro, A. 2006. Hidup Sehat dan Bahagia
Bersama Diabetes. Jakarta: GPU.
World Diabetes Foundation. 2005. Atlas Diabetes.
Executive Summary, second edition.
Download