275 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan

advertisement
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Berdasarkan sejumlah temuan penelitian yang telah diuraikan tentang
Pengembangan Internalisasi Nilai Tawhid dalam Pembentukan Akhlakul
Karimah Santri di Pondok Pesantren Al Ittifaq Bandung, kesimpulannya
sebagai berikut:
1. Kesimpulan Umum
Akhlakul Karimah santri dibentuk dengan menginternalisasikan nilai
tawhid dalam kehidupan sehari-hari, di antranya dengan melakukan kerja
sama
di
dalam
kelompok
yang
majemuk
untuk
mengembangkan
kepemimpinan; kemampuan memberi dan menerima tanggung jawab;
kesadaran sosial; kesadaran untuk tolong-menolong; dan ingin berpartisipasi
sosial secara rahman rahim; kemauan dan kemampuan menyumbang dan
menerima pendapat orang lain; kemampuan untuk menyeleksi mana yang
benar dan salah dalam mengambil keputusan; kemampuan memberdayakan
diri dengan menggunakan alat indera; kemampuan memiliki kesiapan fisik dan
mental untuk mengatasi dan memecahkan masalah sendiri, kelompok dan
275
276
masyarakat; kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan apapun.
Semua kemampuan tersebut diarahkan untuk ibadah yakni dalam rangka
melaksanakan fungsi khalifah fil ardi (pemakai, perekayasa dan pemelihara
alam semesta dengan segala isinya sesuai nafas tawhid uluhiyah).
2. Kesimpulan Khusus
Pondok Pesantren Al Ittifaq berhasil menginternalisasikan nilai tawhid
dalam berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut dikarenakan pola pendidikan,
kebijakan,
kurikulum,
dan
implementasi
serta
nilai-nilai
yang
dikembangkannya mengembangkan internalisasi nilai tawhid sebagai syarat
keberhasilan dari pendidikan. Berikut ini adalah rincian setiap konsep
pendidikan yang dijalankan di Pondok Pesantren Al Ittifaq sebagai bukti
adanya pengembangan internalisasi nilai tawhid dalam pembentukan akhlakul
karimah.
a. Pola Pendidikan
Bervisi bahagia dunia dan akherat serta keselarasan dzikir, fikir, dan
ikhtiar.
Visi
pendidikan
Pesantren
Al-Ittifaq
diarahkan
untuk
mengembangkan prinsip keseimbangan, yaitu “keselarasan dua potensi
(dzikir dan fikir) yang dikemas dan diaplikasikan dalam suatu perbuatan
(ikhtiar). Dengan kata lain, terjadinya keselarasan dan sinergi antara
277
perilaku ibadah ritual dan ibadah aktual atau sosial sehingga tercapai
tujuan hidup yang selamat serta bahagia dunia dan akherat”.
Misi Pesantren Al Ittifaq adalah mewujudkan akhlakul karimah
dalam kehidupan dan diarahkan pada upaya penyelenggaraan pendidikan,
pelatihan, pengkaderan, pembinaan, bimbingan, dan pengembangan
dakwah Islamiyah yang solutif dalam karya dan prestasi, dengan perincian
sebagai berikut: Memberikan pemahaman tentang keberadaan diri sebagai
hamba, sehingga dapat memposisikan dirinya sebagai ‘abid (hamba) di
hadapan
Allah
(Ma’bud)
Robbil
Alamin.
Menumbuhkembangkan
semangat pengamalan ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan AsSunnah sebagai syari’at. Mengembangkan ilmu amaliah dan amal ilmiah
serta terbiasa berpikir konstruktif dan mampu bertindak produktif.
Mendidik kepribadian yang mandiri, dinamis, disiplin serta selalu
mensyukuri fasilitas yang diberikan Allah SWT sehingga dapat lebih
memahami diri, lingkungan, agama, dan Tuhannya pada posisi terbaik
sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Tujuan Pendidikan Pondok Pesantren Al-Ittifaq adalah Rahmatan lil
alamin. Adapun rinciannya adalah mendidik insan ber-aqidah benar dan
ber-akhlaq mulia yang bermanfaat bagi diri, lingkungan, dan keluarga.
278
Pondok Pesantren Al-Ittifaq menguraikan secara rinci tujuan yang ingin
dicapai, sebagai berikut: Agar santri memiliki aqidah yang benar, tidak
menyekutukan Allah, dan menjadikan keridhoan Allah Swt sebagai tujuan
hidup; Agar santri memiliki kemampuan beribadah yang tepat sesuai
contoh Rasulullah Saw dan salafus soleh; Agar santri memiliki akhlaq
mulia sebagai implementasi dari ketinggian ajaran Rasulullah SAW
kepada umatnya; Agar santri termotivasi untuk menguasi ilmu secara
maksimal dan menyeluruh sehingga mampu mengembangkan Imtaq dan
Iptek.
Prinsip pendidikan Pondok Pesantren Al-Ittifaq adalah “tidak hanya
sekadar” tetapi “optimal dan maksimal”. Pondok Pesantren Al-Ittifaq ini
menerapkan prinsip-prinsip pendidikan berupa: Tidak sekadar tahu tetapi
lebih lanjut lagi agar dapat berbuat sesuatu dan bermanfaat untuk umat;
Tidak hanya membina karakter satu golongan tertentu tetapi membina
karakter umat pada setiap lapisan masyarakat; Penerapan konsep yang ada
dengan realitas hidup dan kehidupan; Tidak hanya sekedar menyampaikan
materi pendidikan tetapi lebih jauh adalah menumbuhkan daya inovasi dan
prestasi; dan dalam implementasi pengajaran dan pendidikan tidak hanya
singkat, tetapi berkesinambungan.
279
b. Kebijakan Pendidikan
Model pembelajaran adalah rancangan serangkaian proses atau
peristiwa belajar yang akan dialami peserta didik untuk mencapai
kompetensi yang direncanakan. Model pembelajaran di Pondok Pesantren
Al-Ittifaq yakni bermodel INPEKBI (Ilahi, Negeri, Pribadi, Ekonomi,
Kekeluargaan, Birahi, dan Ilmi). Berikut adalah penjelasannya.
1) Prinsip Ilahi, mengandung makna bahwa lembaga pendidikan yang
diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Ittifaq harus mendapat ridho
Allah SWT. Segala sesuatu yang dilakukan tiada lain adalah dalam
konsep ibadah dan untuk mencari keridhoan-Nya. Proses yang dilalui
selama menjadi santri tiada lain sebagai sarana ibadah dan latihan
menuju kedewasaan berpikir dan bertindak yang didasari oleh niat
mengabdi kepada-Nya. Pondok Pesantren Al-Ittifaq mendasarkan
filsafat pendidikannya pada filsafat theocentric. Filsafat ini memandang
bahwa semua aktivitas pendidikan dipandang sebagai ibadah kepada
Allah SWT dan merupakan integral dari totalitas kehidupan muslim.
Dengan demikian, belajar dan mengajar tidak dipandang sebagai alat
tetapi dipandang sebagai tujuan.
280
2) Prinsip Negeri mengandung makna bahwa Pondok Pesantren Al-Ittifaq
bersifat kooperatif terhadap program pemerintah yang sejalan dengan
visi dan misi pesantren terutama dalam pemberdayaan masyarakat.
3) Prinsip Pribadi mengandung makna bahwa Pondok Pesantren Al-Ittifaq
berniat membentuk pribadi yang luhur dengan menghargai segala
perbedaan yang ada, baik keyakinan maupun pemahaman. Perbedaan
yang ada ditanggapi sebagai suatu rahmat untuk mempererat hubungan
silaturahmi. Kepribadian luhur ini dibentuk dengan karakteristik
kemandirian baik selama nyantri di pondok pesantren atau pun kelak
setelah kembali ke masyarakat.
4) Prinsip Ekonomi, mengandung makna bahwa kemapanan ekonomi
menjadi faktor penting. Melakukan usaha ekonomi merupakan bagian
dari ibadah kepada-Nya. Pondok pesantren tidak boleh mengharapkan
belas kasihan dari orang lain. Pembiayaan harus dilakukan dengan
menggali potensi sumber daya yang ada. Adapun setelah upaya yang
dilakukan belum menemui hasil yang maksimal maka segalanya
diserahkan kepada Allah SWT (tawakal).
5) Prinsip Keluarga, mengandung makna bahwa kehidupan keseharian di
Pondok Pesantren Al-Ittifaq haruslah berdasarkan azas kekeluargaan.
281
Setiap orang hendaknya menyadari posisinya masing-masing, dengan
hak dan kewajiban yang melekat kepadanya. Santri selaku anak dan
kiyai selaku orang tua atau pun interaksi antar santri semuanya
didasarkan pada prinsip kekeluargaan. Dengan demikian, melaui prinsip
kekeluargaan ini, mereka yakin bahwa hubungan yang harmonis antara
individu akan tercipta dengan baik.
6) Prinsip Birahi, mengandung makna bahwa pondok pesantren bertujuan
mengembangkan kedewasaan para santri dalam berpikir dan bertindak
serta siap untuk menempuh jenjang pernikahan. Kebanggaan pondok
pesantren manakala santrinya menunjukkan kedewasaannya, memiliki
dorongan dari dalam diri santri untuk hidup mandiri. Pondok pesantren
memfasilitasi terjadinya pernikahan sehingga tidaklah mengherankan
apabila di dalam program kegiatan tahunan terutama setiap bulan Rajab,
sering diadakan pernikahan massal bagi santri dan masyarakat sekitar.
7) Prinsip Ilmi, mengandung makna bahwa para santri diharapkan mampu
mengembangkan
potensinya
untuk
menyerap,
menguasai,
dan
mengamalkan ilmu pegetahuan dan teknologi yang telah dikuasainya
selama nyantri di pondok pesantren Al Ittifaq. Para santri diharapkan
memiliki bekal dan dapat kembali ke tengah-tengah masyarakat dan
282
mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya. Ilmi berarti pula beretos
belajar, kerja tinggi, disiplin tinggi, dan menghargai teknologi.
c. Model Pendekatan Pembelajaran
Model pendekatan pembelajaran yangn dilakukan di Pondok
Pesantren Al Ittifaq meliputi:
1) Internalisasi Nilai Tawhid dan Usaha Agribisnis
2) Kegiatan Sosial
3) Penyelenggaraan Pendidikan Formal (Kholafiah)
4) Kehidupan Bersama dalam Satu Pondok
5) Pelatihan Berbagai Keterampilan
6) Majelis Ta’lim
7) Program Pemberdayaan Santri Melalui Motto 5M (Melamun, Mikir,
Maos, Muni, Mirengake)
8) Program Kedisiplinan dalam Ibadah.
d. Kurikulum Pendidikan
Struktur kurikulum pendidikan di Pondok Pesantren Al-Ittifaq secara
garis besarnya adalah menginternalisasikan nilai agama (tawhid) dengan
agribisnis dengan materi pelajaran pembiasaan akhlak, sosial, emosional
dan kemandirian berbasis nilai tawhid. Selain itu memproseskan general
283
life skill (personal dan sosial) dan specific life skill (akademik dan
vokasional agribisnis). Untuk menunjang pelaksanaan struktur kurikulum
tersebut, mereka menggunakan media dan sarana lingkungan alam dan
sosial di wilayah sekitar yang bekerjasama dengan berbagai instansi
terkait. Untuk melihat keberhasilan, pondok pesantren ini menggunakan
sistem evaluasi bertipe kinestetik (bergerak, menyentuh, dan melakukan).
Untuk lebih memotivasi para santri agar sesuai dengan tujuan pendidikan,
pimpinan mereka memberlakukan secara ketat rewards dan punishmen
berdasarkan hasil kesepatakan sebelumnya dengan prinsip keadilan.
Kurikulum pendidikan di pondok pesantren ini arah pengembangannya
disesuaikan dengan tujuan hidup manusia berdasarkan nilai Islam yakni
konsep khalifah fil ardi (pemakai, perekayasa, dan pemelihara alam
semesta dengan segala isinya sesuai nafas tawhid uluhiyah).
e. Implementasi Kurikulum
Di dalam mengimplementasikan kurikulum, Pondok Pesantren Al
Ittifaq selalu membuat perencanaan terlebih dahulu yang perencanaannya
tidak terlepas dari 5M yakni meyakinkan, menggalang, menggerakkan,
melindungi, dan memantau, dengan konsep pesantren virtual kontekstual.
284
Untuk melaksanakan apa yang direncanakan, mereka melakukan
pendidikan secara praktis dengan pola integrated farming system dengan
harapan menjadikan peserta didik sesuai dengan motto Gapuraning
Rahayu Nawa Ing Buwana (Rahmatan lil alamin) yang artinya; 1) orangorang yang sanggup mengolah alam, mengambil manfaat dari padanya dan
sanggup
menguasai
alam;
2) sangggup
memerintah
masyarakat,
menguasainya dan sanggup mengatur serta memimpin masyarakat agar
mengolah bumi ini untuk kepentingan umat manusia; 3) sanggup
mempertahankan diri dari serangan luar dan dapat
mengokohkan
persatuan rakyat yang ada di negara-negaranya.
Pola tersebut dilaksanakan sejalan dengan perintah Allah Swt
sehingga program apapun harus memiliki dasar nilai tawhid sehingga hasil
yang ditargetkannya mencapai kesempurnaan berupa keseimbangan baik
hasil
fisik
(kesejahteraan
dan
kemakmuran)
maupun
non
fisik
(terbentuknya jiwa yang berakhlakul karimah; ikhlas, sederhana, tolongmenolong, ukhuwah Islamiyah, dan kesanggupan beribadah, belajar, dan
disiplin). Hal tersebut sebagaimana yang diharapkan Allah Swt yakni
diupayakan seperti ibadurrahman yang digambarkan dalam QS. Al
Furqan: 63-77 yakni manusia yang penyayang karena Allah Swt.
285
Pengembangan pendirian pondok pesantren ini sama dengan pondok
pesantren lain yakni “untuk beribadah kepada Allah Swt”. Salah satu tugas
beribadah kepada Allah Swt adalah membentuk pemimpin dan penguasa di muka
bumi (Khalifah fil ardi) yang senantiasa berdzikir kepada Allah Swt. Wujud dari
tujuan pendidikan pondok pesantren tersebut umumnya berorientasi pada
pembentukan insan ber-aqidah benar dan ber-akhlaq mulia yang bermanfaat bagi
diri, lingkungan dan keluarga yang memiliki ciri-ciri pertama pribadi ulil albab
yang kaffah. Ciri dari ulil albab di antaranya: memiliki iman dan takwa;
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi; mampu mengamalkan ilmu dalam
kehidupan sehari-hari; bermanfaat bagi dirinya, keluarga, bangsa, negara, dan
agamanya (rahmatan lil alamiin). Kedua masyarakat ibadurrahman yakni yang
rahman rahim sebagaimana tujuan dari pendidikan umum yakni bermanfaat bagi
diri, keluarga, dan lingkungan.
Berikut adalah gambar Pengembangan Internalisasi Nilai Tawhid dalam
Pembentukan Akhlakul Karimah di Pesantren tersebut.
286
Gambar 5.1
Pengembangan Internalisai Nilai Tawhid dalam Pembentukan Akhlakul
Karimah pada Santri di Pondok Pesantren Al-Ititifaq, sebagai berikut:
NILAI TAWHID
POLA PENDIDIKAN
KURIKULUM
Struktur: Integratif
KERJASAMA
Visi: Keseimbangan
Media: Lingkungan Hidup
Misi: Dakwah Solutif
PBM: 80% Praktek dengan
Tujuan: Manfaat
Prinsip Keseimbangan
Prinsip: Maksimal,
Evaluasi: Kinestetik
Optimal
Reward &Punishment
KESADARAN
Status Arah Pengembangan:
KOLEKTIF
Khalifah fil Ardi
KEBIJAKAN
Model Pendekatan
Kurikulum: INPEKBI
RAHMATAN LIL
ALAMIN
IMPLEMENTASI
Model Pembelajaran:
Integratif, kegiatan sosial,
Perencanaan: 5 M (Meyakinkan,
kholafiyah, kebersamaan,
Menggalang, Menggerakkan,
pendidikan keterampilan,
Mengawasi dan Melindungi)
Majelis Ta’lim,
Pelaksanaan: terintegrasi
Pemberdayaan Santri dan
pemberdayaan 5 M
Hasil: Fisik (Pusat kegiatan),
Pelestarian Lingkungan Hidup
Nonfisik (Individu ulil albab,
menuju Baladan Aamina (Negeri
Muni, Mirengake),
Aman Penuh Limpahan Rizki)
Kedisiplinan ibadah
Masyarakat Ibadurrahman)
(Melamun, Mikir, Maos,
Pengembangan Internalisai Nilai Tawhid dalam
Pembentukan Akhlakul Kharimah Santri
di Pondok Pesantren Al-Ittifaq
287
B. Rekomendasi
Berdasarkan hasil peneltian di Pondok Pesantren Al Ittifaq ini ternyata
keberhasilan pengembangan internalisasi nilai tawhid dalam pembentukan
akhlakul karimah di lembaga pendidikan tersebut terwujud jika: Pertama,
sebuah lembaga tersebut merupakan lembaga independen, kalaupun tidak
lembaga tersebut memiliki hak otonom dalam mengelola semua potensi yang
tersedia. Kedua, semua penyelenggara pendidikan memiliki visi dan misi yang
sama yakni ingin mencari keridhan Allah Swt sebagaimana tersebut dalam Al
Quran: 103 yaitu: bersatu dalam sebuah ikatan agama Allah Swt dan tidak
bercerai berai karenanya. Ketiga, sebuah lembaga yang dipimpin oleh
pimpinan yang memiliki jiwa pengabdian karena Allah Swt dan bawahan yang
percaya dan taat kepada pemimpinnya. Keempat, teknis pendidikan dilakukan
dengan lebih banyak praktik namun tetap menjaga prinsip keseimbangan
dengan teori yang diajarkan.
Berdasarkan hal tersebut peneliti merekomendasikan kepada:
1. Pimpinan Pondok Pesantren Al Ittifaq, agar tetap mempertahankan dan
terus memperbaiki internalisasi nilai tawhid dalam kehidupan nyata santri
serta mengembangkan kurikulum yang mampu mengembangkan materi
288
ilmu keagamaan dari posisi pesantren tradisional menuju pesantren modern
sehingga mencetak ulama yang umaro dan umaro yang ulama.
2. Para Ustad/Ustadzah Pondok Pesantren Al Ittifaq, agar mengembangkan
internalisasi nilai tawhid ke dalam materi pelajaran yang mampu
meningkatkan motivasi dan inovasi para santri serta berakhlakul karimah,
sehingga kehidupannya kelak lebih bermartabat, berkembang dan maju.
3. Para peneliti berikutnya, agar mewujudkan pengembangan internalisasi
nilai tawhid dalam pembentukan akhlakul karimah santri di pondok
pesantren Al Ittifaq ini ke dalam model pendidikan di lembaga-lembaga di
Indonesia baik formal, non formal, maupun informal.
4. Kementrian Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan agar sungguhsungguh mewujudkan internalisasi nilai tawhid dalam aturan dan kebijakan
sehingga nilai tawhid menjadi “ruh” setiap pelaksanaan aturan yang dibuat
demi tegak dan berkembangnya dunia pendidikan yang dapat diandalkan
keteladananya.
5. Kementrian Agama, agar di dalam mengembangkan pesantren/madrasah
atau lembaga pendidikan Islam lainnya tidak meng-“ekor” pola
pengembangan pesantren/madrasah yang membelajarkan ilmu pengetahuan
289
sekular dan tetap menjadikan nilai tawhid serta akhlakul karimah sebagai
“basis” dalam pengembangan dunia pesantren/madrasah pada umumnya.
6. Pelaksana/peminat/aktivis pendidikan karakter, bahwa pembangunan
karakter anak bangsa dan akhlakul karimah dapat dikembangkan melalui
internalisasi nilai tawhid yang kokoh dalam setiap jenjang pendidikan
terutama pembelajaran yang mengasah penalaran peserta didik secara
sistematis, maka bangunlah nalar tersebut dengan mengoptimalkan potensi
pendengaran, penglihatan, dan hati peserta didik secara seimbang dengan
menjadikan nilai tawhid sebagai core dan pondasinya.
Download