bab 1 pendahuluan

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengembangan Sumber Daya Manusia (Human Resource Development) di
dalam perusahaan merupakan hal yang sangat penting dan sangat berpengaruh
terhadap kelangsungan hidup perusahaan. Jika SDM dimanfaatkan dengan maksimal
dan dikelola dengan tepat, maka perusahaan dapat bergerak maju, bahkan bisa
mengungguli para pesaing mereka.
Pengelolaan SDM yang baik akan menghasilkan kepuasan kerja (job
satisfaction) dalam diri karyawan. Menurut pendapat Robbins (2012:74) istilah
kepuasan kerja merujuk kepada sikap umum seorang individu terhadap pekerjaan
yang dilakukannya. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja tinggi menunjukan
sikap yang positif terhadap pekerjaannya, seseorang yang tidak puas dengan
pekerjaannya menunjukan sikap yang negatif terhadap pekerjaan tersebut.
Ada banyak hal yang dapat memengaruhi kepuasan kerja karyawan,
diantaranya seperti kondisi lingkungan organisasi dan manajemen; jenjang karir;
hubungan antar karyawan; gaji dan insentif; dan masih banyak lagi. Sudah menjadi
tanggung jawab manajer SDM untuk memastikan kepuasan kerja karyawan di dalam
perusahaan. Jika seandainya kepuasan kerja buruk, akan menimbulkan dampak buruk
bagi perusahaan. Dampak tersebut seperti menurunnya kinerja kerja karyawan,
menurunkan motivasi kerja, meningkatkan turnover, meningkatkan stress kerja,
menurunkan produktifitas karyawan, dan memberikan citra buruk perusahaan di
mata masyarakat luas. Tetapi, jika SDM dapat dikelola dengan baik akan
menghasilkan kepuasan kerja yang tinggi bagi karyawan. Sehingga karyawan akan
merasa senang dalam bekerja dan tidak menganggap tugas yang diberikan sebagai
beban hidup yang harus dikerjakan, namun sebagai kewajiban yang dijalankan
dengan tulus dan ikhlas. Jika karyawan senang maka tugas yang diberikan akan
dikerjakan dengan baik dan akan cepat selesai, sehingga tujuan perusahaan dapat
tercapai seperti yang diharapkan dan keuntungan serta citra perusahaan menjadi
meningkat.
Terdapat survei yang dilakukan Accenture dengan judul "Defining Success
Your Way" pada tahun 2013, yang mengungkapkan bahwa peningkatan kepuasan
1
2
akan pekerjaan disebabkan oleh lingkungan kerja yang lebih menyenangkan dan
kondusif untuk peningkatan kinerja karyawan. Melalui survei ini, Accenture
mengungkapkan lingkungan yang ideal dan paling diinginkan para pekerja untuk
meningkatkan kepuasan mereka dalam bekerja. Survei ini melaporkan bahwa 59
persen responden mengaku bahwa lingkungan kerja yang baik dan bisa memberikan
kepuasan kerja, adalah lingkungan kerja yang mengerti bagaimana cara menghargai
karyawannya dalam segala hal. Neneng Goenadi, selaku Executive Director dan
Country Lead Accenture Indonesia mengatakan bahwa adanya pengertian dan
penghargaan dari bos atau perusahaan bisa meningkatkan semangat pekerja untuk
bisa lebih berprestasi, dan meningkatkan kinerja mereka dengan lebih baik. Hal
tersebut akan memengaruhi kepuasan kerja karyawan. Survei ini dilakukan
Accenture terhadap 4.100 responden yang merupakan eksekutif dari organisasi
menengah sampai besar di 33 negara di dunia dan salah satunya Indonesia. Masingmasing negara yang berpartisipasi dalam survei ini memberikan minimal 100
responden, yang kemudian dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan
jabatan.
Terdapat banyak sekali alasan manusia dalam bekerja. Tidak semua
karyawan bekerja hanya untuk uang semata. Banyak diantara mereka yang bekerja
demi pemenuhan kebutuhan, atau sebagai pengembangan diri. Tidak selalu
kompensasi tinggi yang menjadi penyemangat seseorang dalam bekerja. Sehingga
dapat dikatakan bahwa, kompensasi yang tinggi tidak dapat menjadi patokan dalam
mengukur kepuasan kerja karyawan. Banyak karyawan yang memilih untuk bekerja
di suatu perusahaan dikarenakan manajemen pengembangan sumber daya manusia di
perusahaan tersebut baik.
Kooij (2010) dalam Long, Xuan, Ismail, Rasid, dan Kowang (2014)
mengemukakan bahwa pengembangan SDM merupakan faktor penentu penting dari
kepuasan kerja. Oleh karena itu perusahaan perlu memberikan program
pengembangan SDM secara rutin ke seluruh karyawannya. Pengembangan SDM
dapat didefinisikan sebagai seperangkat kegiatan yang sistematis dan terencana yang
dirancang oleh suatu organisasi untuk memberikan anggotanya kesempatan
mempelajari keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan saat
ini dan masa depan (Werner dan DeSimone, 2011:4). Jika karyawan diberikan
program pengembangan SDM, mereka akan merasa bahwa perusahaan menghargai
3
kebutuhan mereka dalam hal aktualisasi diri, sehingga akan menimbulkan kepuasan
kerja. Terdapat penelitian yang dilakukan oleh ASTD (American Society for Training
and Developmental's). Hasil penelitian ini menggambarkan hubungan antara
manajemen sumber daya manusia dan fungsi pengembangan sumber daya manusia.
Penelitian tersebut menjabarkan tiga fungsi utama dalam pengembangan SDM, yaitu
Training & Development; Organizational Development; dan Career Development
(Werner dan DeSimone, 2011:10).
Jen (2009) dalam Long, Xuan, Ismail, Rasid, dan Kowang (2014)
berpendapat bahwa semua organisasi bergantung pada tingkat kepuasan dan
keterlibatan karyawan dalam mencapai tujuan organisasi. Hal ini dapat dilakukan
melalui rencana pelatihan secara keseluruhan yang sistematis. Penelitian yang
dilakukan Costen dan Salazar (2011) dalam Long, Xuan, Ismail, Rasid, dan Kowang
(2014) menyatakan bahwa pelatihan dan pengembangan (training & development)
merupakan elemen penting yang mempengaruhi kepuasan kerja.
Johnson (2011) dalam Long, Xuan, Ismail, Rasid, dan Kowang (2014)
mengungkapkan bahwa pengembangan organisasi (organization development) tidak
hanya akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan, tetapi juga menciptakan
lingkungan kerja yang lebih efisien. Selain itu, Korsvold (2010) dalam Long, Xuan,
Ismail, Rasid, dan Kowang (2014) juga mengungkapkan bahwa proses organization
development adalah untuk memajukan kepuasan kerja karyawan.
Menurut Kaswan (2014:48), pengembangan karir (career development)
merupakan usaha yang terorganisasi, dan terencana yang terdiri atas aktivitas atau
proses terstruktur yang menghasilkan usaha perencanaan karir timbal balik antara
karyawan
dan
organisasi.
Melalui
pengembangan
karir,
organisasi
bisa
meningkatkan sikap karyawan terhadap pekerjaan, tingkat kepuasan kerja, alokasi
SDM yang efisien, dan loyalitas di antara karyawan. Long, Xuan, Ismail, Rasid, dan
Kowang (2014) mengemukakan bahwa karyawan saat ini menuntut lebih dari
pekerjaan mereka dalam hal pemenuhan dan kepuasan pribadi. Karyawan lebih
memilih untuk diberdayakan dan memperoleh kesempatan untuk pengembangan diri.
Pertamina Lubricants merupakan anak perusahaan dari PT Pertamina Persero
yang bergerak dalam bidang pengolahan, penjualan, dan pendistribusian minyak
pelumas Pertamina. Pertamina Lubricants merupakan satu-satunya perusahaan lokal
4
yang mendominasi pangsa lubricants (pelumas/oli). Perusahaan ini baru saja melepas
diri menjadi perusahaan sendiri pada November 2013, dari yang sebelumnya
merupakan unit bisnis pelumas yang bernaung di bawah induk PT Pertamina Persero.
Dengan visi "World Class Lubricants Company" dan misi “Memasarkan produk
pelumas, base oil, dan spesialisasi di pasar domestik dan pasar internasional, melalui
penciptaan nilai tambah pada konsumen dan stakeholder” , mengantarkan Pertamina
Lubricants sebagai satu-satunya perusahaan lokal yang mendominasi pangsa
pelumas. Dikutip dari pernyataan, Supriyanto D.H., Dirut PT Pertamina Lubricants,
market share-nya di industri ini dari tahun ke tahun semakin tumbuh, yakni
menembus angka 60%, meninggalkan jauh para pesaingnya (http://swa.co.id/).
Pada tahun 2014, Pertamina Lubricants mengadakan pengukuran tingkat
kepuasan kerja karyawan terhadap kerja departemen human resource Pertamina
Lubricants secara khusus, dan secara umum terhadap perusahaan PT Pertamina
Lubricants. Pengukuran dilakukan dengan cara survei dan wawancara kepada
karyawan Pertamina Lubricants. Berdasarkan data yang diberikan perusahaan,
didapat fakta bahwa masih banyak karyawan yang merasa belum mendapatkan
program pengembangan apapun selama setahun terakhir, padahal dulu ketika
perusahaan masih menjadi unit bisnis Pertamina Persero, karyawan cukup rutin
mendapatkannya. Selain itu banyak karyawan yang merasa perusahaan belum
memberikan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan karyawan.
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Pertamina Lubricants merupakan
anak perusahaan yang baru saja melepas diri menjadi anak perusahaan Pertamina
Persero. Seluruh kegiatan Pertamina Lubricants masih mengadaptasi dari Pertamina
Persero. Berdasarkan data yang didapat dari perusahaan, didapat fakta bahwa terjadi
kesulitan dalam penerapan job description karena masih berpatokan dengan sistem
yang dulu ketika masih di Pertamina Persero.
Selain itu untuk permasalahan dalam career development, karyawan merasa
bahwa informasi mengenai pengembangan karir kurang jelas seperti tidak tahu kapan
akan dipromosikan, bagaimana tahapannya, dan seperti apa prosedurnya. Masih
banyak juga jabatan/posisi yang kosong dalam jangka waktu yang cukup lama
sehingga karyawan merasa beban kerja yang diberikan terlalu tinggi.
5
Pertamina Lubricants juga melakukan penilaian kepuasan karyawan terhadap
kinerja human resource dalam mengelola pengembangan SDM. Hasilnya, sebagian
besar karyawan (50%) yang terlibat dalam pengambilan data secara umum merasa
tidak puas dengan kinerja human resource PT Pertamina Lubricants dalam
menangani pengelolaan SDM. Berikut merupakan grafik yang menunjukkan
kepuasan karyawan terhadap pengelolaan pengembangan SDM:
Gambar 1.1 Grafik Kepuasan Karyawan Terhadap Pengelolaan Pengembangan
SDM PT Pertamina Lubricants
Sumber: PT. Pertamina Lubricants
Data menunjukkan tingkat kepuasan karyawan terhadap pengelolaan
pengembangan SDM masih jauh dari kata puas. Karena hanya 10% karyawan yang
merasa puas dengan pengelolaan pengembangan SDM yang dilakukan perusahaan.
Sebagian besar karyawan sebanyak 50% merasa tidak puas, dan sebanyak 35%
netral. Bahkan sekitar 5% merasa sangat tidak puas dengan pengelolaan
pengembangan SDM yang diberikan perusahaan. Sebagian besar karyawan merasa
tidak puas dengan kinerja human resource PT Pertamina Lubricants dalam
menangani pengelolaan pengembangan SDM terutama dalam hal pemberian
pelatihan pengembangan diri yang dirasa tidak sesuai dengan kebutuhan karyawan.
Selain itu berdasarkan data wawancara yang dilakukan perusahaan, banyak karyawan
di Pertamina Lubricants yang mengaku belum mendapatkan program pengembangan
dalam
setahun
terakhir.
Hal
tersebut
menunjukkan
bahwa
pengembangan SDM belum diterapkan dengan efektif dan efisien.
pengelolaan
6
Maka, berdasarkan uraian diatas PT Pertamina Lubricants memiliki
permasalahan kepuasan kerja karyawan yang masih rendah, terutama kepuasan
dalam hal pengembangan SDM. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian
dengan
judul:
“ANALISIS
KEPUASAN
KERJA
DALAM
PERSPEKTIF PRAKTIK PENGEMBANGAN SDM PADA PT. PERTAMINA
LUBRICANTS”
1.2 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1. Apakah ada pengaruh yang signifikan pada Training & Development terhadap
kepuasan kerja karyawan?
2. Apakah ada pengaruh yang signifikan pada Organization Development terhadap
kepuasan kerja karyawan?
3. Apakah ada pengaruh yang signifikan pada Career Development terhadap
kepuasan kerja karyawan?
4. Apakah ada pengaruh yang signifikan pada Training & Development,
Organization Development, dan Career Development terhadap kepuasan kerja
karyawan secara simultan?
1.3 Ruang Lingkup
Melihat luasnya permasalahan yang dapat di bahas dalam bidang
pengembangan sumber daya manusia, maka penulis membatasi ruang lingkup
masalah pada Training & Development, Organization Development dan Career
Development dimana variabel tersebut akan diteliti apakah berpengaruh secara
signifikan pada Kepuasan Kerja atau tidak. Peneliti menggunakan seluruh populasi di
Oil Centre PT Pertamina Lubricants untuk dijadikan objek dalam penelitian ini.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan:
1. Untuk mengetahui pengaruh Training & Development karyawan terhadap
kepuasan kerja karyawan di PT Pertamina Lubricants.
7
2. Untuk mengetahui pengaruh Organization Development terhadap kepuasan kerja
karyawan di PT Pertamina Lubricants.
3. Untuk mengetahui pengaruh Career Development terhadap kepuasan kerja
karyawan di PT Pertamina Lubricants.
4. Untuk
mengetahui
pengaruh
Training
&
Development,
Organization
Development, dan Career Development terhadap kepuasan kerja karyawan secara
simultan di PT Pertamina Lubricants.
Manfaat:
1. Bagi PT Pertamina Lubricants
Perusahaan dapat mengetahui tingkat kepuasan kerja karyawan sehingga dapat
menjadi bahan masukan dan juga pedoman bagi perusahaan dalam hal
pengembangan SDM di kemudian hari.
2. Bagi Penulis
Penelitian ini menambah wawasan penulis untuk memahami teori manajemen
sumber daya manusia yang sudah dipelajari di bangku kuliah, dan penerapan
praktik pengembangan SDM di dalam kehidupan nyata.
3. Bagi pembaca
Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan atau pengetahuan pembaca
pada topik-topik SDM dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
karyawan di suatu organisasi atau perusahaan. Selain itu, juga dapat menjadi
bahan acuan atau referensi untuk digunakan pada penelitian lebih lanjut.
1.5 State of Art
Berdasarkan jurnal dengan judul “An Analysis on Academicians Job
Satisfaction in the Perspective of HRD Practices” (2014), terdapat bukti empiris
yang menegaskan saran dari hipotesis di mana ada hubungan antara Human Resource
Development (HRD) dan kepuasan kerja. Oleh karena itu, unsur-unsur HRD tidak
boleh diabaikan dalam penelitian akademik dalam menyelidiki kepuasan kerja bagi
karyawan. Selain itu, pengembangan SDM dapat menjadi batu loncatan bagi para
peneliti untuk mendapatkan lebih banyak wawasan tentang efek pengembangan
SDM pada kepuasan kerja.
Dalam jurnal “Impact of HR Practices on Job Satisfaction: An Empirical
Evidence from corporate sector of Punjab – Pakistan” (2013), dapat disimpulkan
8
bahwa praktik Human Resource memiliki pengaruh terhadap kepuasan kerja dalam
karyawan organisasi di Pakistan. Lingkungan organisasi merupakan faktor efektif
antara hubungan praktek SDM dan kepuasan kerja. Peran pengawas paling efektif
untuk kepuasan kerja menurut penelitian ini.
Jurnal “Determinants of Academics' Job Satisfaction: Empirical Evidence
from Private Universities in Bangladesh” (2015) memaparkan bahwa terdapat enam
faktor yang bisa menimbulkan kepuasan kerja, faktor-faktor tersebut yaitu paket
kompensasi, pertumbuhan karir, keamanan kerja, kondisi kerja, dukungan supervisor,
dan kekompakan tim. Selain menimbulkan kepuasan kerja, faktor-faktor tersebut
juga bisa mempengaruhi keputusan karyawan apakah mereka tetap bertahan, atau
meninggalkan tempat mereka bekerja sekarang.
Download