ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN PASAR CIPUTAT KOTA TANGERANG SELATAN DHIENAR MEIDAWATI DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DANSUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Kepuasan Konsumen Pasar Ciputat Kota Tangerang Selatan adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Juli 2015 Dhienar Meidawati NIM H34080048 ABSTRAK DHIENAR MEIDAWATI. Analisis Kepuasan Konsumen Pasar Ciputat Kota Tangerang Selatan. Dibimbing oleh SUHARNO. Pasar Ciputat adalah pasar tradisional yang menghadapi berbagai masalah dan menimbulkan masalah selama bertahun-tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik konsumen, keputusan pembelian konsumen, dan kepuasan konsumen yang hasilnya berimplikasi terhadap bagaimana seharusnya Pasar Ciputat direnovasi dan direvitalisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, Importance Performance Analysis (IPA), dan Costumer Satisfaction Index (CSI). Berdasarkan penelitian, mayoritas konsumen Pasar Ciputat adalah konsumen perempuan berusia produktif yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, berdomisili di Ciputat dan berasal dari kalangan menegah ke bawah. Tingkat kepuasan konsumen terhadap atribut Pasar Ciputat berdasarkan CSI sebesar 62.4 persen yang dapat dikategorikan puas. Terdapat lima atribut Pasar Ciputat yang memerlukan perbaikan yaitu zonanisasi barang, mobilitas pengunjung dalam pasar, kondisi bangunan pasar, dan penataan PKL. Kata kunci: karakteristik konsumen, keputusan pembelian konsumen, kepuasan konsumen, Pasar Ciputat ABSTRACT DHIENAR MEIDAWATI. Level of Consumer Satisfaction Analysis on Ciputat Traditional Market. Supervised by SUHARNO. For years, Ciputat Traditional Market faces various problems and causes problems. This study aimed to analyze the characteristics of consumers, consumer purchasing decisions, and customer satisfaction which results have implications on how Ciputat Traditional Market should be renovated and revitalized. The method used in this research is descriptive analysis, Importance Performance Analysis (IPA), and Customer Satisfaction Index (CSI). Based on research, the majority of consumers Ciputat market are women work as housewives, live in Ciputat and come from the middle class and lower class. The level of customer satisfaction by CSI is 62.4 percent and is categorized as satisfied. There are five attributes that need improvement, those are goods classification, the mobility of visitors in the market, conditions of the market building, and arrangement of street vendors. Keywords: characteristics of consumers, consumer purchasing decisions, and customer satisfaction, Ciputat Traditional Market ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN PASAR CIPUTAT KOTA TANGERANG SELATAN DHIENAR MEIDAWATI Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah kepuasan konsumen, dengan judul Analisis Kepuasan Konsumen Pasar Tradisional Ciputat Kota Tangerang Selatan. Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Suharno, M.Adev selaku dosen pembimbing atas semua masukan,arahan, waktu, motivasi dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada dosen penguji utama Tintin Sarianti, SP. MM dan dosen penguji komisi pendidikan Yanti Nuraeni Muflikh, SP, M.Agribuss. yang sudah memberikan banyak masukan untuk kesempurnaan skripsi ini. Terima kasih juga kepada Arif Karyadi Uswandi, SP selaku wali akademik selama penulis kuliah di Departemen Agribisnis serta seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor yang telah banyak membantu selama perkuliahan dan juga selama penyusunan skripsi ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada papa, mama, suami, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada pengelola Pasar Ciputat yang telah membantu selama penelitian. Terima kasih juga kepada Hera, Vaudhan, Yulinda, Tsamaniatul, Layra, Jauhar, Haris, yang telah banyak membantu dan dukunganya dalam menyelesaikan skripsi, teman-teman HIPMA, teman-teman agribisnis (khususnya untuk Lorenta, Iriana, Yulinda, Fitri), teman-teman agribisnis minor AGH, pihak yang terlibat dalam penulisan skripsi ini saya ucapkan terima kasih. Semoga skripsi ini bermanfaat. Bogor, Agustus 2015 Dhienar Meidawati DAFTAR ISI DAFTAR TABEL xii DAFTAR GAMBAR xii DAFTAR LAMPIRAN xii PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Penelitian TINJAUAN PUSTAKA 1 3 6 6 6 6 KERANGKA PEMIKIRAN 9 Kerangka Pemikiran Teoritis Pasar Tradisional Permasalahan Utama Pasar Tradisional Daya Tarik Pasar Tradisional Indikator Pengelolaan Pasar Tradisional yang Berhasil Konsumen Karakteristik Konsumen Perilaku Konsumen Kepuasan Konsumen Jasa dan Karakteristik Jasa Penilaian Kualitas Pelayanan Jasa Pengukuran Kepuasan Konsumen Kerangka Pemikiran Operasional METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Jenis dan Sumber Data Desain Penelitian Metode Penarikan Sampel Identifikasi Atribut Metode Pengumpulan Data Metode Pengolahan Data dan Analisis Data Analisis Deskriptif Uji Validitas dan Reliabilitas Importance Performance Analysis (IPA) Customer Satisfaction Index (CSI) 9 9 9 11 11 12 12 13 13 14 1t 15 15 17 17 18 18 18 19 21 21 21 21 22 25 Definisi Operasional GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Status Pasar Ciputat Daya Tampung dan Daya Dukung Pasar Ciputat Permasalahan Utama Pasar Ciputat Permasalahan Hukum Permasalahan Sosial Ekonomi Permasalahan Kebersihan Permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Umum Konsumen Pasar Ciputat Perilaku Konsumsi oleh Responden Konsumen Pasar Ciputat Analisis Kepuasan Konsumen Prioritas Perbaikan Atribut Pasar Ciputat Implikasi Manajerial dalam Peningkatan Kepuasan Konsumen Pasar Ciputat SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 26 27 27 28 28 28 29 30 30 30 30 33 35 36 42 42 42 43 43 45 RIWAYAT HIDUP 38 3 DAFTAR TABEL 1 Alasan yang Menjadikan Konsumen Pasar Tradisional sebagai Tempat Berbelanja 2 Penggunaan Sarana Ruang Dagang di Pasar Ciputat Tahun 2012 3 Atribut Penelitian 4 Skor Penilaian Tingkat Kepentingan Kerja dan Kinerja 5 Kriteria Nilai Customer Satisfaction Index dan Interpretasinya 6 Sebaran Responden Berdasarkan Karakteristik Umum Konsumen Pasar Ciputat 7 Sebaran Perilaku Konsumsi oleh Responden Konsumen Pasar Ciputat 8 Perhitungan Customer Satisfaction Index (CSI) Pasar Ciputat 9 Nilai Rataan Atribut Pasar Ciputat Berdasarkan Tingkat Kepentingan dan Tingkat Kinerja 3 4 19 23 26 31 35 36 37 DAFTAR GAMBAR 1 2 3 4 Model Pengembangan Pasar Tradisional Bagan Alur Kerangka Operasional Diagram Kartesius Tingkat Kepentingan-Kepuasan Kartesius Importance Performance Analysis Pasar Ciputat 5 17 24 38 DAFTAR LAMPIRAN 1 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas 2 Dokumentasi 46 47 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Peran pasar tradisional dalam perekonomian Indonesia sangat vital. Pasar tradisional merupakan salah satu bagian penting dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasarkan data Asosiasi Pemerintah Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia (APKASI)1 dan Komisi Pengusaha Persaingan Usaha (KPPU) tahun 2010, terdapat 13.450 pasar tradisional di Indonesia yang menyerap sekitar 12.650.000 pedagang yangumumnya merupakan pedagang skala mikro dan kecil. Data tersebut turut menunjukkan bahwa dari sudut pandang ekonomi makro, pasar tradisional memiliki keunggulan dalam penyediaan pilihan kesempatan usaha dan penyediaan lapangan kerja. Di luar jumlah tersebut, masih terdapat tenaga kerja pendukung seperti tenaga kebersihan, keamanan, buruh angkut barang dan lainlain. Peran pasar tradisional tidak hanya sebatas penyerapan tenaga kerja. Usaha mikro, kecil, dan menengah di berbagai sektor dapat memanfaatkan pasar tradisional untuk memasarkan produk pertanian, perkebunan, maupun industri rumah tangga lainnya. Pasar tradisional dapat meningkatkan penghasilan pelaku UMKM. Sebagai salah satu bagian rantai pemasaran, pasar tradisional berperan dalam mendistribusikan barang kebutuhan pokok. Di samping itu, pemerintah menjadikan pasar tradisional sebagai indikator inflasi untuk mengendalikan harga. Pasar tradisional bahkan memberikan kontribusi terhadap nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Non Migas pada harga dasar konstan 2000 yang lebih besar dibandingkan pasar modern (Departemen Perdagangan & INDEF 2007). Seiring berjalannya waktu, pasar tradisional menghadapi tantangan dan masalah. Meningkatnya pertumbuhan pasar modern mengakibatkan volume usaha pasar tradisional mengalami penurunan (Susilo & Taufik 2006). Pertumbuhan pangsa pasar ritel modern di Indonesia merupakan yang tercepat di Asia Selatan dan Asia Tenggara, yakni sebesar 1,5 persen per tahun pada tahun 2000 hingga tahun 2009 (Nielsen 2010). Hasil temuan kualitatif Suryadarma et al. (2007) menunjukkan bahwa kondisi ini sebenarnya bersumber pada kondisi internal pasar tradisional. Manajemen pasar tradisional saat ini sangat buruk. Uang sewa yang dinilai cukup tinggi dan retribusi resmi yang ditarik dari pedagang tidak dikembalikan dalam bentuk perawatan dan perbaikan fasilitas. Dari sisi layout bangunan, zonanisasi barang dagangan tak dilakukan secara jelas sehingga dapat ditemukan berbagai jenis barang dagangan bercampur dan saling berdampingan. Hal ini membuat pengunjung kebingungan dalam mencari barang yang diinginkan. Sebagian besar pasar tradisional juga tidak didukung oleh pembuangan air yang baik, sehingga pasar seringkali becek karena air menggenang. Para pedagang juga tidak bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan pasar. Karakter dan perilaku pedagang turut memperburuk kondisi pasar. Kejujuran pedagang dalam berdagang 1 Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 2010. Panduan Pasar Ramah Segar (Pengembangan Pasar Tradisional dalam Rangka Peningkatan Daya Saing). Jakarta: Kemendagri. 2 masih rendah sehingga banyak ditemui pedagang yang melakukan kecurangan seperti penipuan timbangan dan menjual barang yang tak layak dikonsumsi. Keadaan pasar tradisional yang tidak beraturan bertolak belakang dengan karakteristik gaya hidup masyarakat yang menginginkan kenyamanan. Peningkatan penetrasi pasar modern berkorelasi positif dengan tingkat pendapatan per kapita, pangsa penduduk usia kerja (yang berarti menunjukkan faktor kemampuan dan permintaan), permintaan akan peningkatan kenyamanan (Ahmad 2007; Agustina 2007; USDA 2011). Pasar modern dianggap mampu memberikan kenyamanan dalam berbelanja seperti yang diinginkan oleh konsumen karena selain adanya fasilitas yang memadai dan terawat, juga menerapkan one stop shopping. Berdasarkan kondisi tersebut, masyarakat di wilayah perkotaan lebih memilih untuk tidak berbelanja di pasar tradisional. Lokasi pasar yang jauh dari pemukiman warga turut memperparah keadaan. Masyarakat perkotaan memiliki pilihan substitusi berbelanja bahan makanan atau suatu barang di pasar modern dan pedagang keliling. Berkurangnya pengunjung mengakibatkan pedagang pasar tradisional kerap kali keluar dari pasar dan menjadi pedagang keliling atau turut berpartisipasi dalam pasar kaget. Di sisi lain, pasar tradisional sebenarnya tidak benar-benar ditinggalkan konsumennya. Pasar tradisional masih memiliki target pasar yang didominasi lapisan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Hal ini terbukti dari banyaknya pedagang kaki lima (PKL) dan pengunjung di sekitar lokasi bangunan pasar yang terlihat selalu ramai. Terdapat banyak pedagang di sekitar pasar tradisional, namuntidak menempati lokasi bangunan pasar tradisional yang secara legal telah disediakan pemerintah daerah. Salah satu faktor pemicu keengganan pedagang masuk ke dalam wilayah pasar adalah kondisi fisik pasar tradisional yang tidak memberikan kenyamanan berbelanja, sehingga pengunjung kerap mendatangi pedagang yang berada di wilayah luar pasar. Dampak yang ditimbulkan adalah menurunnya kinerja dan mengganggu peran strategis pasar tradisional. Penurunan omset dan keuntungan yang diterima para pedagang di pasar tradisional terjadi di banyak daerah khususnya di wilayah perkotaan, disamping juga terjadi penurunan jumlah pegawai (Putra 2004; Departemen Perdagangan & INDEF 2007; Ningsih 2007; Rosfadhila 2007; Hutabarat 2009; dan Hadiwiyono 2011). Menurut Serikat Pedagang Pasar Indonesia (SPPI)2, setidaknya 1,625 juta pedagang pasar tradisional mengalami kebangkrutan (2007-2008). Pada 2010 terjadi penurunan jumlah pedagang sebanyak 2,4 juta pedagang atau turun 1,5% dibandingkan pada 2009. 3 Data dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menyebutkan bahwa dalam waktu 4 tahun (2007-2011) jumlah pasar tradisional di seluruh Indonesia turun dari 13.540 pasar tradisional menjadi 9.950. Ditinggalkannya pasar tradisional oleh para pedagang mengindikasikan sepinya pengunjung dan akan menyebabkan efek domino seperti munculnya pasar kaget dan pedagang kaki lima (PKL) ilegal, 2 Sulistyawati RL. 2013. Di Indonesia 1,625 Juta Pe12dagang Pasar Bangkrut Akibat Pasar Modern. http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bisni10s/13/06/09/mo4fs1-di-indonesia1625-juta-pedagang-pasar-bangkrut-akibat-pasar-modern [1 Agustus 2013] 3 Rubiyantoro Y. 2011. Nielsen: Jumlah Minimarket Tumbuh 42% pada 2010. http://www.indonesiafinancetoday.com/read/4689/Nielsen-Jumlah-Minimarket-Tumbuh-42-Pada2010 [20 Januari 2012] 3 kekacauan tata kota, menurunnya sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan lain-laindan lain-lain. Pasar tradisional memiliki keunggulan yang berpotensi membuat masyarakat tertarik berbelanja di pasar tradisional. Beberapa alasan tersebut patut dijadikan bahan pijakan pemerintah untuk merevitalisasi pasar tradisional (Tabel 3), karena pasar tradisional masih dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Tabel 1. Alasan Konsumen Menjadikan Pasar Tradisional sebagai Tempat Berbelanja Alasan Hasil Survei (%) Harga lebih murah 80 Harga dapat ditawar 67 Jarak lebih dekat ke rumah 32 Lebih banyak pilihan produk segar 21 Menyediakan semua kebutuhan 15 Menawarkan ragam produk segar yang lengkap 12 Suasana yang lebih hidup 10 Produk segar dapat dibeli dalam jumlah 9 fleksibel Buka lebih awal 8 Sumber: Survey AC Nielsen (2007) dalam Kemendagri (2010) Pasar tradisional di Indonesia memerlukan revitalisasi. Revitalisasi yang dicerminkan dalam bentuk pelayanan dan bangunan fisik akan menarik minat kunjungan dan pembelian di pasar tradisional. Pasar tradisional yang ramai pengunjung akan semakin menghidupkan suasana jual beli karena akan ada banyak pedagang yang tertarik untuk berdagang di ruang dagang pasar tradisional yang disediakan dan menghasilkan keuntungan, sehingga akan mampu bertahan di dalamnya. Agar kondisi tersebut tercapai, revitalisasi harus disesuaikan dengan keinginan konsumen sehingga perusahaan pengelola pasar tradisional akan mampu merumuskan strategi yang tepat untuk mengembangkan pasar tradisional. Perumusan Masalah Salah satu pasar tradisional yang tidak dikelola dengan baikkacau selama bertahun-tahun dan memerlukan revitalisasi adalah Pasar Ciputat yang berlokasi di Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Pengelolaan Pasar Ciputat dilakukan oleh Perusahaan Daerah (PD) Pasar Niaga Kerta Raharja. Pasar ini dibentuk oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang pada tahun 1988 di atas tanah yang dialihfungsikan dan bangunan pasar didirikan pada tahun 1992. Dilihat dari sisi pemanfaatan fasilitas ruang dagang di Pasar Ciputat, jumlahnya sangat kecil. Ruang yang disediakan untuk berdagang terdiri atas kios, los, dan lapak yang terdapat dalam bangunan berlantai tiga tingkat. Pedagang yang terdapat di dalam bangunan Pasar Ciputat tersebut banyak yang meninggalkan Pasar Ciputat dan lebih memilih untuk berjualan di area sekitar pasar. Kondisi pasar yang sepi pedagang dapat dilihat dari data jumlah kios, los, 4 dan lapak yang terpakai (Tabel 2). Dari tiga lantai yang tersedia, lantai kedua dan ketiga sangat sepi pedagang dan pembeli. Pemandangan yang terlihat adalah kioskios tertutup yang rusak, usang, dan kotor. Tabel 2. Penggunaan Sarana Ruang Dagang di Pasar Ciputat Tahun 2012 Jenis Sarana Kondisi Jumlah Persentase Sedia 1.126 36.85% Kios Buka Kios Buka 463 63,15% Kios Tutup Tutup 711 Sedia 238 10,5% Los Buka Los Buka 35 89,5% Los Tutup Tutup 213 Sedia 276 24,28% Lapak Buka Lapak Buka 67 75,72% Lapak Tutup Tutup 209 Sumber: Pengelola Pasar Ciputat (2012), diolah Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa penggunaan sarana ruang dagang Pasar Ciputat masih rendah. Dari keseluruhan sediaan ruang dagang, hanya 36.85 persen kios yang buka, 10.5 peren los buka, dan 24.28 persen lapak buka. Informasi pemanfaatan sarana ruang dagang tersebut menunjukkan bahwa Pasar Ciputat telah ditinggalkan oleh banyak konsumen. Konsumen tidak lagi masuk mendatangi pasar untuk berbelanja. Pedagang yang merasa dirugikan oleh ketiadaan konsumen tidak akan bertahan berdagang di dalam pasar. Para pedagang memilih untuk keluar dari pasar dan berjualan sebagai pedagang kaki lima (PKL) di area sekitar Pasar Ciputat. Alasan mengapa masih ada pedagang yang bertahan di dalam bangunan pasar adalah karena enggan kehilangan pelanggan yang telah hapal dengan posisi dagang yang cukup strategis. Penataan pasar tradisional di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai kepentingan yang sangat kompleks karena melibatkan tiga pihak. Ketiga pihak tersebut adalah para pelaku pasar yang terdiri atas pedagang, pembeli, pemerintah (Gambar 2). Tiap pelaku pasar perlu mengakomodasi kepentingannya sendiri dan menyesuaikan dengan kepentingan kedua pihak lain. Dua pelaku utama pasar adalah pedagang sebagai pelaku operasional dan pemerintah sebagai pelindung, pembina, dan pengelola pasar. Di sisi lain, terdapat dua jenis konsumen pasar yang perlu diakomodasi pemerintah yaitu pedagang dan pembeli. Pola hubungan ketiga pelaku pasar ini cenderung menimbulkan trade off dan permasalahan pada pengembangan pasar tradisional di Indonesia. Ketiga elemen tersebut adalah kunci yang harus berjalan selaras agar pasar tradisional di Indonesia tetap bertahan, mengalami pertumbuhan, dan perkembangan. Penyelesaian masalah tidak dapat ditanggung hanya oleh satu pihak. 5 (A) Pedagang AB (B) Pembeli A B ABC A BC AC (C) Pemerintah Gambar 1. Model Pengembangan Pasar Tradisional Sumber: Agustiar (1996) dalam Mattanete (2008) Dari sisi pemerintah sebagai pemilik dan pengelola pasar, Pasar Ciputat masih ada dalam kondisi ketidakjelasan status kepemilikan. Pasar Ciputat terdapat di wilayah pemekaran sejak tahun 2008, Kota Tangerang Selatan, namun hak pengelolaan belum juga diserahterimakan oleh pemerintah Kabupaten Tangerang ke pemerintah Kota Tangerang Selatan hingga tahun 2014. Akibatnya, pemerintah Kota Tangerang Selatan tidak dapat berbuat banyak dalam melakukan perubahan padahal pemda Kota Tangerang Selatan berencana untuk benar-benar memaksa dan menertibkan para PKL di luar bangunan Pasar Ciputat agar mau menempati ruang dagang yang tersedia. Dari sisi pedagang, sebagian besar pedagang mengaku enggan pindah ke dalam bangunan pasar. Penyebabnya adalah sepinya pengunjung, harga sewa yang tinggi, dan buruknya kondisi ruang dagang. Wilayah Pasar Ciputat hingga tahun 2015 masih dipenuhi orang-orang yang berbelanja, namun hal ini terjadi di lingkar luar bangunan pasar. Bagian dalam pasar sepi pengunjung. Salah satu kunci untuk menghidupkan kembali suasana Pasar Ciputat yang ramai dengan kegiatan jual beli adalah meningkatkan jumlah dan minat pengunjung Pasar Ciputat. Dengan banyaknya konsumen yang datang ke dalam bangunan pasar akan mendorong pedagang untuk berdagang di dalam pasar atau menempati area yang telah disediakan oleh pengelola dan tidak menjadi pedagang kaki lima. Untuk menarik kembali pengunjung datang, diperlukan revitalisasi pasar dengan pengelolaan yang profesional. Revitalisasi tersebut harus berupa tindak lanjut dari hal-hal yang dianggap menarik atau penting bagi konsumen (pengunjung/ pembeli) untuk datang berbelanja di Pasar Ciputat. Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian ini diperlukan untuk menjawab beberapa permasalahan, yaitu: 1. Bagaimana karakteristik umum dan perilaku konsumsi konsumen Pasar Ciputat? 2. Bagaimana penilaian konsumen terhadap kualitas pelayanan Pasar Ciputat? 3. Bagaimana implikasi manajerial untuk meningkatkan kepuasan konsumen Pasar Ciputat? 6 Tujuan Penelitian Berdasarkan pemaparan yang telah diuraikan maka adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Menganalisis karakteristik dan perilaku konsumsi konsumen Pasar Ciputat. 2. Menganalisis penilaian konsumen terhadap kualitas pelayanan Pasar Ciputat. 3. Memformulasikan implikasi manajerial untuk meningkatkan kepuasan konsumen Pasar Ciputat. Manfaat Penelitian 1. Bagi mahasiswa, diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan sebagai aplikasi dari teori yang didapatkan selama perkuliahan dan juga sebagai referensi penelitian selanjutnya. 2. Bagi pengelola Pasar Ciputat dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan data mengenai konsumen dan masukan untuk perbaikan pengelolaan Pasar Ciputat. 3. Bagi pedagang, diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai mengenai pembeli agar pedagang bisa menyesuaikan keputusankeputusan bertindak dalam berdagang yang berimplikasi terhadap kenaikan pendapatan. 4. Bagi institusi pendidikan, Dinas Perdagangan dan pihak lain yang berkepentingan, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi yang berguna untuk penelitian lain dan lanjutan, serta untuk pengembangan pasar daerah lain. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik konsumen, menganalisis proses keputusan pembelian, kepuasan konsumen dan merumuskan strategi pengembangan Pasar Ciputat. Terdapat dua pihak berkepentingan yang mengkonsumsi jasa pasar tradisional, yakni pedagang dan pembeli, namun yang dimaksud dan diteliti pada penelitian ini adalah pembeli. Pemilihan konsumen tersebut didasarkan pada tidak memperhitungkan jenis produk agribisnis atau nonagribisnis, karena keduanya terdapat pada Pasar Ciputat. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian-penelitian mengenai kepuasan konsumen terhadap atributatribut produk dan jasa telah banyak dilakukan. Penelitian kepuasan konsumen pasar tradisional juga pernah dilakukan. Pasar tradisional termasuk dalam perusahaan yang menyediakan fasilitas jasa sehingga penilaian kepuasan konsumen mengacu terhadap kinerja jasa yang diberikan suatu pasar tradisional. Penilaian terhadap kinerja pasar tradisional bisa juga dilakukan terhadap produk 7 (barang) yang diperdagangkan, meskipun sebenarnya pasar tradisional menyediakan jasa pelayanan fasilitas tempat untuk bertemunya pedagang menjajakan dagangan dan pembeli. Mattanete (2008) meneliti kepuasan konsumen terhadap pengelolaan Pasar Citeureup I dan strategi pengembangannya. Konsumen yang diteliti disini adalah para pedagang Pasar Citeureup I. Pedagang juga merupakan jenis konsumen pasar tradisional, namun memanfaatkan fasilitas pasar tradisional untuk menjual barang dagangan. Mattanete melakukan penelitian tersebut berdasarkan fakta bahwa jumlah penggunaan sewa lapak, kios, radius, dan kaki lima atau jumlah pedagang semakin menurun dari tahun ke tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi tangible (kenyataan/ bentuk fisik) pasar tradisional oleh merupakan hal yang dianggap penting untuk dikelola meskipun demikian kepuasan pedagang terhadap dimensi ini rendah. Untuk itu, berdasarkan analisis Importance Performance Analysis (IPA) yang menjadi prioritas utama untuk diperbaiki oleh Pasar Citeureup I didominasi oleh kondisi fisik dan kebersihan pasar. Secara keseluruhan tingkat kepuasan pedagang berdasarkan Customer Satisfaction Index (CSI adalah 56,023 persen atau cukup puas. Dalam memformulasikan strategi, Mattanete menggunakan Matriks faktor internal dan eksternal (IFE-EFE Matrix/ Internal Factors Evaluation-External Factor Evaluation Matrix), analisis matriks Kekuatan-Kelemahan-Ancaman-Peluang (SWOT), dan analisis Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitative Strategic Planning Matrix – QSPM). Prioritas strategi yang terpilih untuk pengembangan Pasar Citeureup I adalah penataan tempat-tempat usaha di Pasar Citeureup I, peningkatan kualitas pelayanan untuk menarik konsumen untuk berkunjung dan berbelanja di Pasar Citeureup I, dan menyelenggarakan suatu event (acara) pada waktu-waktu tertentu. Berdasarkan prioritas strategi pengembangan yang dirumuskan, terlihat jelas bahwa fokus utama adalah menarik pengunjung, sehingga kepuasan pengunjung akan pasar tradisional juga perludikaji. Berbeda dengan penelitian Mattanete, objek penelitian pada Pasar Ciputat dilakukan pada pengunjung pasar. Istiningtyas (2008) menganalisis kebijakan dan strategi pengembangan di Pasar Tradisional Bogor. Hasil analisis PHA menunjukkan bahwa aspek yang paling penting dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional yaitu aspek ekonomi, aspek manajemen, aspek sosial dan aspek teknis. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek ekonomi yaitu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat dan meningkatkan PAD. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek manajemen yaitu penataan dan pembinaan PKL, meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek sosial yaitu terciptanya kondisi pasar yang aman, nyaman dan bersih bagi konsumen, menciptakan pasar yang berdaya saing kompetitif. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek teknis yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar dan kondisi fisik pasar yang lebih bersih dan rapi. Fissamawati (2009) juga meneliti tentang keputusan konsumen pasar tradisional, khususnya dalam pembelian sayuran di Pasar Tradisional Baru Bogor dan menganalisis kepuasan konsumen tersebut terhadap atribut sayuran di Pasar Baru. Konsumen yang dijadikan responden adalah pembeli eceran yang memakai sayuran untuk keperluan konsumsi rumah tangga. Tujuan dari penelitian tersebut 8 adalah menganalisis penilaian konsumen sayuran terhadap tingkat kepentingan dan kinerja dari atribut-atribut sayuran di pasar tradisional Pasar Baru Bogor, pedagang sayur keliling dan swalayan, serta tingkat kepuasan konsumen dalam keputusan pembelian sayuran di Pasar Baru Bogor. Dari 30 orang yang menjadi responden, sebanyak 73,33persen merupakan ibu rumah tangga yang tidak bekerja sehingga memiliki waktu untuk berbelanja di pasar tradisional. Sebanyak 30persen dari total responden, keluarganya memiliki pendapatan di bawah Rp 1.000.000 per bulan dan sebanyak 23,33persen responden memiliki pendapatan keluarga diantara Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000. Hal menjadi pertimbangan terbesar responden untuk pergi ke Pasar Baru adalah bahwa harga sayuran yang ditawarkan di Pasar Baru lebih murah dibandingkan di pasar swalayan dan pedagang keliling, juga karena jenis sayuran di Pasar Baru lebih beragam. Fissamawati mengukur tingkat kepentingan konsumen menggunakan Importance Performance Analysis (IPA) dan kepusan konsumen menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kualitas sayuran, harga sayuran, keamanan tempat parkir, dan keragaman sayuran merupakan atribut-atribut penting yang menentukan konsumen untuk berbelanja sayuran. Secara keseluruhan konsumen menyatakan puas terhadap pembelian sayuran di Pasar Baru dengan CSI sebesar 69,07 persen. Hal ini mendukung hasil survei AC Nielsen dimana sayuran merupakan salah satu produk penting pada pasar tradisional. Berdasarkan hasil pengisian kuisioner pada penelitian Fissamawati (2009) menunjukkan bahwa dalam sebulan 36,67 persen dari total responden melakukan pembelian sayuran di Pasar Baru lebih dari delapan kali, sebanyak 6,67 persen melakukan pembelian 5-6 kali, dan 26,67 persen sebanyak 3-4 kali. Frekuensi pembelian tersebut mengindikasikan konsumen telah mengenal lama mengenai Pasar Baru di mana apabila konsumen ingin membeli sayuran di Pasar Baru, konsumen sebenarnya hanya mengandalkan pengalaman atau tidak lagi memerlukan proses keputusan pembelian yang mendetail. Penulis berkeyakinan bahwa pembelian berulang sayuran oleh responden tersebut di Pasar Baru adalah karena kedekatan lokasi pasar dengan tempat tinggal. Hal ini turut menguatkan hasil penelitian Survey AC Nielsen (2007) dalam Kemendagri (2010) tentang alasan kunjungan ke pasar tradisional. Penulis juga tidak berfokus pada konsumen sayuran seperti yang dilakukan Fissamawati, karena fokus penelitian ini adalah untuk merekomendasikan strategi yang tepat untuk perbaikan pengelolaan Pasar Ciputat secara umum. Baik Fissamawati dan penulis sama-sama menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) untuk menggambarkan tingkat kepuasan konsumen dan Importance Performance Analysis (IPA) untuk menilai tingkat kepentingan konsumen. Hasil penelitian-penelitian tersebut turut menjadi acuan peneliti dalam penentuan atribut yang akan digunakan dalam penelitian. Fokus terbesar atribut yang digunakan adalah pada dimensi tangible dan keberadaan PKL di luar pasar. 9 KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Pasar Tradisional Pasar tradisional menurut Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. Pemerintah daerah bertanggung jawab dalam kegiatan operasional seharihari, dimana para pedagang diharuskan membayar biaya retribusi setiap hari. Karakteristik pasar tradisional di Indonesia adalah terdiri atas lapak kecil/kios yang dimiliki atau disewa oleh para pedagang kecil (150-680 kios per pasar).4 Luas lapak atau kios sekitar 2-10 m2 dan barang-barang yang dijual berupa bahanbahan segar, barang-barang produksi rumah tangga, dan barang-barang pokok rumah tangga (Collett & Wallace 2006 dalam Suryadarma et al 2007). Sebagian besar pasar tradisional di Indonesia menjual produk makanan, meskipun ada beberapa pengecualian pasar tradisional di Jakarta, yang dikenal sebagai pusat barang elektronik, pusat tekstil dan pusat kedokteran (Aye & Widjaya 2005). Pasar tradisional masih menjadi pemasok utama makanan, khususnya di luar daerah perkotaan di Jawa. Produk-produk yang dijual biasanya merupakan produk-produk sisa dan juga yang telah gagal dalam pemeriksaan kualitas (quality control). Harga yang berlaku pada pasar tradisional menjadi referensi bagi harga di sektor modern (World Bank 2007). Pasar tradisional merupakan spot market di mana transaksi jual beli terjadi pada satu ruang dan waktu yang sama di antara penjual dan pembeli secara langsung. Definisi ini membedakannya dengan pasar modern di mana konsumen melayani diri sendiri tanpa ada tatap muka secara langsung dengan penjual meski transaksi terjadi pada ruang dan waktu yang sama. Pada Pasar Ciputat terdapat pedagang dengan banyak jenis barang dagangan seperti peralatan rumah tangga, kebutuhan sandang, bahan makanan, makanan siap saji, dan lain-lain. Pasar Ciputat termasuk pasar tradisional basah (wet market) karena pada umumnya produk yang dijual adalah produk segar yang belum diolah. Permasalahan Utama Pasar Tradisional Permasalahan utama yang ada pada pasar tradisional di Indonesia adalah berasal dari pedagang di pasar tradisional itu sendiri dan pengelolaan serta manajemen pasar. 5 Permasalahan yang berakar dari pedagang yaitu: 4 5 Suryadarma D. 2011. Are Supermarkets to Blame for The Decline of Traditional Food Traders? A Case Study of Indonesia. http://www.crawfordfund.org/assets/files/conference/conf2011/Daniel_Suryadarmadecline_of_traditional_food_traders.pdf [2 Februari 2012] www.usdrp-indonesia.org/files/downloadCategory/72.pdf [2 Februari 2012] 10 1. Jumlah pedagang yang ingin berjualan di pasar tradisional semakin meningkat, yang berarti bahwa kebutuhan tempat juga semakin meningkat. Tidak tersedianya tempat akan menimbulkan pemaksaan dan pengabaian tata ruang pasar. Kesadaran para pedagang yang rendah terhadap kedisiplinan, kebersihan 2. dan ketertiban. Kondisi ini dikarenakan para pedagang yang umumnya berpendidikan rendah, sedangkan para pengelola pasar membiarkannya tanpa ada tindakan proses edukasi atau pelatihan secara berkala terhadap pada pedagang. 3. Pemahaman yang rendah terhadap perilaku konsumen. Para produsen dan pedagang tidak bisa perubahan selera konsumen karena terbatasnya pengetahuan dan informasi. Permasalahan yang terdapat pada pengelolaan dan manajemen pasar tradisional yaitu: 1. Visi dan misi tidak jelas dalam menentukan arah dan bentuk pasar tradisional yang akan dikembangkan ke depan. Masih ada pasar yang buka pada hari pasaran (Slamet 2009). 2. Pengelola pasar belum berfungsi dan bertugas secara efektif dalam melakukan pembinaan terhadap pedagang, menciptakan kondisi pasar yang kondusif dan layak, serta mengupayakan kelancaran distribusi barang sehingga tercipta kestabilan harga barang. Pasar tradisional lambat dan kurang responsif dalam memenuhi aneka kebutuhan masyarakat, dagangan siap saji pun terkesan kurang higienis (Slamet 2009). Kecenderungan orientasi pemerintah daerah masih lebih mengarah pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah daripada peningkatan pelayanan kepada masyarakat. 3. Standard Operation Procedure (SOP) yang tidak jelas. Masih banyak salah kelola yang tidak sesuai SOP dan pelanggaran yang terjadi namun tidak ada sanksi yang tegas. Manajemen keuangan yang tidak akuntabel dan transparan. Pengelola 4. mudah menyatakan terjadinya kondisi yang rugi walau fakta di lapangan menunjukan bahwa sangat potensial untuk mendapatkan keuntungan. 5. Kurang perhatian terhadap pemeliharaan sarana fisik. Bangunan yang seharusnya mampu bertahan lebih dari 25 tahun menjadi kumuh dan memiliki umur ekonomis lebih singkat akibat tidak dilakukan pemeliharaan yang tepat dan berkala. Saat musim hujan, pasar akan menjadi lembab dan becek (Ediati 2009; Slamet 2009). 6. Pedagang kaki lima yang tidak tertib. Banyak pedagang kaki lima yang tidak tertampung dalam pasar (Slamet 2009). Pedagang kaki lima cenderung menempati pinggiran jalan untuk menjajakan dagangannya. Premanisme. Praktek premanisme mengganggu kelancaran dan efisiensi 7. transaksi antara pembeli dan penjual. Yang menjadi korban secara langsung adalah para pedagang karena adanya praktek pemerasan, secara tak langsung konsumen akan merasakan akibatnya karena barang dijual dengan harga yang lebih tinggi. 8. Tidak ada pengawasan terhadap barang yang dijual dan standardisasi ukuran dan timbangan. Pengawasan yang sulit terhadap barang yang dijual di pasar tradisional dikarenakan sifat pasar yang terbuka. 11 9. 10. 11. Kurang tersedianya fasilitas umum yang memadai seperti tempat parkir yang sempit, toilet yang kotor dan kadang tidak berfungsi dengan baik, tempat pembuangan sampah sementara yang tak terurus dan menimbulkan bau menyengat, serta koridor atau lorong yang sempit. Penataan los/kios/lapak yang tidak beraturan. Tata letak dan pengelompokkan pedagang masih jauh dari kenyamanan (Slamet 2009). Pengelola pasar tidak bertindak tegas dalam bertindak untuk memberlakukan sanksi terhadap pelanggar pemakai ruangan yang bukan peruntukannya. Pasar yang becek, berbau tidak sedap, keamanan yang tidak terjamin, dan praktek dagang yang tidak sehat menimbulkan kekecewaan dan ketidakpercayaan konsumen sehingga konsumen memilih meninggalkan pasar tradisional (Zumrotin 2002 dalam Mattanete 2008). Daya Tarik Pasar Tradisional Slamet (2009) menyatakan bahwa pasar tradisional memiliki kelebihan daya tarik bagi masyarakat, yaitu: 1. Memiliki keunggulan persaingan alamiah. Terdapat ikatan emosional antara pedagang dan pelanggan yang menyebabkan kelanggengan berdagang di pasar tradisional. 2. Tempat yang strategis, dekat dengan hunian penduduk. 3. Harga barang relatif lebih murah dan terdapat sistem tawar-menawar. Indikator Pengelolaan Pasar Tradisional yang Berhasil Prestasi keberhasilan pengelolaan pasar tradisional umumnya dilihat dari pemasukan retribusi, padahal seharusnya harus dapat dilihat secara berimbang antara pemasukan pasar dengan dampak eksternalitas ekonomi bagi masyarakat (Slamet 2009). Indikator keberhasilan pengelolaan pasar tradisional berdasarkan Buku Putih Pasar Tradisional Departemen Perdagangan, yaitu: 1. Manajemen yang transparan. Konsekuen dengan peraturan dan tegas dalam menegakkan sanksi jika terjadi pelanggaran. Adanya sistem keamanan dengan satuan pengamanan pasar bekerja 2. dengan penuh tanggung jawab dan bisa melakukan koordinasi dan kerjasama dengan para penyewa/pedagang. 3. Kebersihan terjaga dengan tidak adanya sampah disembarang tempat. Tempat sampah harus tersedia bagi pengunjung dan pedagang. Pengangkutan sampah dari tempat pembuangan sampah sementara dilakukan secara berkala oleh armada pengangkut sampah. 4. Tercipta ketertiban di dalam pasar dengan dijalankannya peraturan oleh para pedagang. 5. Pemeliharaan bangunan pasar dilakukan baik oleh pedagang dan pengelola. Pedagang turut membantu manajemen pasar memelihara saluran air, ventilasi udara, lantai pasar, kondisi kios, dan lain-lain. 6. Pasar sebagai sarana pendukung interaksi sosial, dimana orang-orang dapat berkumpul untuk berinteraksi dan berekreasi dalam suasana damai dan harmonis. 7. Pemeliharaan pelanggan oleh pedagang agar para pelanggan merasa betah berbelanja dan kembali berbelanja di pasar tradisional. Tidak ada praktek penipuan seperti dalam penggunaan timbangan dsb. Pasokan barang dijaga 12 8. 9. 10. selalu tersedia dan harga dijaga kompetitif sesuai dengan kualitas dan jenis barang yang dijual. Produktifitas pasar cukup tinggi, agar pemanfaatan pasar sebagai tempat kegiatan transaksi menjadi optimal. Terjadi pembagian waktu yang cukup rapi dan tertib: (a) Pukul 05.30 s/d 09.00 pasar diperuntukkan bagi para pedagang kaki lima khusus makanan sarapan/jajanan pasar; (b) Pukul 04.00 s/d 17.00 pasar diperuntukkan bagi para pedagang kios & lapak dan penjualan makanan khas; (c) Pukul 06.00 s/d 24.00 pasar diperuntukkan bagi para pedagang ruko; (d) Pukul 16.00 s/d 01.00 pasar diperuntukkan bagi para pedagang kafe tenda. Penyelenggaraan kegiatan (event). Promosi dan “hari pelanggan”. Daya tarik pasar harus diciptakan dengan karakteristik dan keunikan agar pelanggan tetap setia berbelanja di pasar tradisional. Hal yang bisa dilakukan misalnya adalah program penjualan barang dengan promosi. Manajemen pasar bekerjasama dengan para pedagang menentukan hari–hari tertentu sebagai “hari pelanggan”, dimana para pedagang melakukan kegiatan yang unik. Konsumen Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, mendefinisikan konsumen sebagai orang yang memakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Sumarwan (2004) menjelaskan bahwa istilah konsumen sering diartikan menjadi dua jenis konsumen yaitu konsumen individu dan konsumen organisasi. Konsumen individu merupakan pembeli produk atau jasa akhir, sering disebut sebagai konsumen akhir. Konsumen organisasi biasanya meliputi yayasan, lembaga sosial, organisasi bisnis, industri, perguruan tinggi, dan lain-lain. Semua organisasi tersebut membeli produk dan jasa untuk menjalankan organisasinya. Pada industri, produk dan jasa yang dibeli kemudian dihgunakan sebagai bahan baku untuk diolah kembali dan menghasilkan produk atau jasa baru. Karakteristik Konsumen Karakteristik konsumen mampu mempengaruhi perilaku. Sumarwan (2004) menerangkan, perbedaan budaya telah menyebabkan adanya perbedaan kelompok, termasuk di dalamnya kelompok konsumen berdasarkan perbedaan karakteristik demografi, ekonomi, dan sosial. Variabel-variabel karakteristik demografi yaitu usia, agama, suku bangsa, Warga Indonesia Keturunan, pendapatan, jenis kelamin, status pernikahan, jenis keluarga, pekerjaan, lokasi geografi, jenis rumah tangga, dan kelas sosial. Karakteristik ekonomi konsumen dapat terlihat dari pendapatan dan besarnya pengeluaran. Keadaan sosial konsumen terbagi ke dalam beberapa tingkatan kelas yang sangat dipengaruhi oleh variabel-variabel ekonomi, interaksi, dan politik (Gilbert & Kahl dalam Engel et al dalam Sumarwan 2004). Pendidikan merupakan hal yang paling mempengaruhi perilaku konsumen dalam keputusan pembelian. Konsumen yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung akan melakukan pencarian informasi lebih banyak dan selektif sebelum memutuskan melakukan pembelian barang atau jasa. 13 Perilaku Konsumen Menurut Engel et al (1995), perilaku konsumen merupakan tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, menggunakan (memakai, mengonsumsi), dan menghabiskan produk (barang dan jasa) termasuk proses yang mendahului dan mengikuti tindakan ini. Perilaku konsumen dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan, perbedaan individu, dan proses psikologis. Pengaruh lingkungan meliputi budaya, kelas sosial, pengaruh pribadi, keluarga, atau situasi. Perbedaan individu meliputi sumberdaya konsumen, motivasi, ketelibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Proses psikologis pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap, dan perilaku. Ketiga faktor tersebut berimplikasi pada proses keputusan konsumen dan strategi pemasaran.Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Sumarwan (2004), perilaku konsumen diartikan sebagai perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang diharapkan akan memuaskan kebutuhan . Perilaku konsumen terdiri dari semua tindakan konsumen untuk memperoleh, menggunakan, dan membuang barang atau jasa. Sebelum bertindak, seseorang seringkali mengembangkan keinginan berperilaku yaitu keinginan konsumen untuk berperilaku menurut cara tertentu dalam rangka memiliki, membuang, dan menggunakan produk atau jasa, berdasarkan kemungkinan tindakan yang akan dilakukan. Dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan kegiatan evaluasi. Dengan studi perilaku konsumen dapat diketahui bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia seperti waktu, uang, usaha, dan energi. Dengan memahami sebab dan cara konsumen mengambil keputusan konsumsi, pemasar dapat merancang strategi pemasaran dengan lebih baik agar konsumen mau memilih produk tertentu dan merek tertentu yang ditawarkan pemasar tersebut. Kepuasan Konsumen Bagaimana tingkat kesesuaian permintaan atau harapan konsumen dengan yang disediakan oleh perusahaan akan memunculkan kepuasan dan ketidakpuasan terhadap produk tersebut. Segala sesuatu yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen maka perusahaan sebagai penyedia produk dan jasa memiliki kewajiban untuk menyediakan dan melayani permintaan konsumen. Menurut Oliver (1997) dalam Umar (2003), kepuasan konsumen didefenisikan sebagai evaluasi purnabeli dimana persepsi terhadap kinerja dan produk yang dipilih memenuhi atau melebihi harapan sebelum pembelianSedangkan menurut Kotler (2005) mendefenisikan kepuasan sebagai perasaan senang atau kecewa seseorang sebagai hasil perbandingan antara prestasi atas produk yang dirasakan dan yang diharapkan. Engel et al (1994) menyatakan bahwa kepuasan adalah evaluasi pasca pembelian dimana pilihan konsumen tersebut memenuhi atau melebihi harapan konsumen. Bila alternatif yang dipilih tidak memenuhi keinginan konsumen maka akan menimbulkan ketidakpuasan konsumen. Engel membagi tingkat penialaian konsumen menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Pengakuan Positif. 14 Pengakuan positif menggambarkan prestasi suatu perusahaan lebih baik dari pada yang diharapkan oleh konsumen. Pengakuan positif menunjukkan bahwa perusahaan memberikan kepuasan terhadap konsumen. 2. Pengakuan Sederhana Pengakuan sederhana menggambarkan bahwa prestasi suatu perusahaan sama dengan yang diharapkan konsumen. Pengakuan sederhana memberikan kepuasan kepada konsumen dan memungkinkan untuk terjadinya pembelian ulang. 3. Pengakuan Negatif Pengakuan negatif menunjukkan bahwa prestasi yang diperoleh perusahaan lebih buruk dari yang diharapkan oleh konsumen. Pengakuan negatif disebabkan oleh ketidakpuasan konsumen dan membuat konsumen tidak akan melakukan pembelian ulang. Jasa dan Karakteristik Jasa Jasa merupakan suatu pemberian kinerja atau tindakan tak kasat mata dari satu pihak kepada pihak lain (Rangkuti 2003). Menurut Kotler (2007), jasa dirumuskan sebagai suatu tindakan atau unjuk kerja yang di tawarkan oleh salah satu pihak ke pihak lain yang secaran prinsip ketidaknyataan (intangible) dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun. Produksinya bisa terkait dan bisa juga tidak terikat pada suatu produk fisik. Jasa memiliki empat ciri utama yaitu: 1. Ketidaknyataan (intangibility) Jasa adalah tidak nyata, tidak dapat dilihat, di rasakan, di raba, di dengar atau di cium sebelum produknya di konsumsi. Pembeli akan mencari tanda/bukti dari mutu jasa tersebut dari tempat orang, peralatan, bahan komunikasi, bahan simbol-simbol dan harga yang dilihat untuk meyakinkan diri. 2. Keadaan tidak dapat terpisahkan (inseparability) Jasa-jasa umumnya di produksi secara khusus dan di konsumsi pada waktu bersamaan. Jika jasa di berikan oleh seseorang maka orang tersebut baik penyedia, maupun konsumen akan mempengaruhi jasa tersebut. Keragaman (variability) 3. Sifat jasa-jasa akan beragam karena tergantung kepada siapa yang menyediakan jasa dan kapan serta di mana jasa tersebut di sediakan. Di sini pembeli jasa akan berhati-hati terhadap keragaman seperti ini dan seringkali membicarakannya dengan orang lain sebelum memilih seorang penyedia jasa. 4. Keadaan tidak tahan lama (perishability) Keadaan tidak tahan lama dan jasa-jasa bukanlah suatu masalah jika permintaannya adalah stabil, karena mudah untuk melakukan persiapan pelayanan sebelumnya. Jika permintaan terhadapnya adalah berfluktuasi, maka perusahaan jasa menghadapi masalah yang sulit. Penilaian Kualitas Pelayanan Jasa Para konsumen sepakat bahwa kunci yang memastikan baiknya kualitas pelayanan adalah selama pelayanan itu dapat memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan dari produk jasa (Zeithaml et al. 1990). Skala kualitas pelayanan dibuat untuk mengukur perbedaan antara harapan konsumen dari jasa dan persepsi 15 dari pelayanan aktual yang diberikan. Berikut adalah lima dimensi yang mendasarinya: 1. Tangibles (keberwujudan), berupa penampilan fasilitas fisik, peralatan, karyawan, dan peralatan komunikasi. Reliability (keandalan), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan 2. yang sesuai dengan janji yang ditawarkan. 3. Responsiveness (cepat tanggap), yaitu kemauan karyawan dalam membantu pelanggan dan memberikan pelayan yang cepat. 4. Assurance (jaminan), yaitu pengetahuan dan kesopansantunan dari karyawan serta kemampuan untuk memberikan kepercayaan atau keamanan. 5. Emphaty (empati), yaitu kepedulian dan perhatian secara individual yang diberikan perusahaan kepada konsumen. Pengukuran Kepuasan Konsumen Menurut Kotler (2000) terdapat empat perangkat alat atau metode untuk mengukur kepuasan konsumen. Keempat perangkat tersebut yaitu: 1. Sistem Keluhan dan Saran Perusahaan yang fokus pada pelanggan akan memberikan kemudahan bagi pelanggannya untuk menyalurkan kritik dan saran. Sistem yang digunakan tiap perusahaan bisa saja berbeda seperti layanan telepon bebas pulsa maupun menggunakan situs web dan e-mail sebagai alat komunikasi dua arah. Survei Kepuasan Konsumen 2. Perusahaan yang responsif akan mengukur kepuasan pelanggan secara langsung melalui survey berkala dengan bertanya langsung atau mengirim daftar pertanyaan konsumen yang ditetapkan sebagai responden. Dengan surey, perusahaan juga dapat mengetahui keinginan konsumen untuk membeli ulang dan mengukur kesediaan konsumen untuk merekomendasikan produk suatu perusahaan kepada orang lain. 3. Belanja Siluman (Ghost Shopping) Perusahaan dapat membayar orang untuk berperan sebagai pembeli guna melaporkan titik kuat dan titik lemah yang sering dialami sewaktu membeli produk perusahaan dan pesaingnya. Pembelanja siluman juga dapat menyampaikan masalah tertentu untuk menguji apakah staf penjualan perusahaan dapat mengatasi situasi tersebut dengan baik atau tidak. 4. Analisis Pelanggan yang Hilang (Lost Customer Analysis) Analisis pelanggan yang hilang penting dilakukan untuk mempelajari alasan konsumen berhenti membeli atau berganti pemasok. Perusahaan juga perlu mengetahui seberapa besar tingkat kehilangan tersebut. Jika tingkat kehilangan pelanggan meningkat menunjukkan bahwa perusahaan gagal dalam memuaskan pelanggannya. Kerangka Pemikiran Operasional Seiring berjalannya waktu, terjadi persaingan bisnis yang semakin kreatif dimana penyedia jasa atau perusahaan berlomba-lomba memainkan struktur konsumen yang ada. Kepuasan konsumen adalah yang dituju dan menjadi prioritas utama. Tingkat kepentingan dan harapan konsumen serta pelaksanaan 16 atau kinerja yang dilakukan perusahaan haruslah sesuai. Perusahaan harus memperhatikan hal-hal yang dianggap penting oleh para konsumen, agar merasa puas untuk data mempertahankan kelangsungan usaha bahkan memenangkan persaingan. Pasar tradisional adalah sektor publik yang tanggung jawab pengelolaannya dipegang oleh pemerintah daerah. Di dalamnya terdapat keputusan-keputusan atau kebijakan-kebijakan yang berkaitan bagaimana pasar akan berjalan. Kebijakan yang dibuat ada yang bersinggungan langsung dan tidak langsung kepada dua tipe konsumen pasar tradisional, yakni pedagang dan pengunjung pasar. Dalam hal yang berkaitan dengan pedagang, pengelolaan diutamakan dengan menyeimbangkan antara kewajiban dan hak yang diterima pedagang, meski pada akhirnya bertahannya para pedagang akan ditentukan dengan keramaian pengunjung pasar. Mengingat betapa pentingnya peran pasar tradisional, tugas pemerintah sebagai pengelola adalah membuat pengunjung menyukai untuk datang ke pasar tradisional. Ramainya pengunjung akan berpengaruh terhadap kelangsungan keberadaan pedagang dan naiknya pendapatan daerah. Dengan meningkatkan pengelolaan pasar, nantinya akan berdampak kepada sejauh mana tingkat kepuasan, terutama tingkat kepuasan pengunjung di lingkungan pasar. Pengelola Pasar Ciputat harus memiliki pengetahuan terkait dengan karakteristik konsumennya, memperhatikan tingkat kepuasan konsumen, serta memahami faktor-faktor yang dianggap penting dan menjadi pertimbangan konsumen dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Penelitian ini akan dilakukan melalui survey lapangan kepada konsumen (pengunjung) Pasar Ciputat. Analisis yang digunakan untuk menjawab tingkat kinerja dan harapan konsumen tersebut melalui Importance Performence Analysis, sedangkan untuk mengetahui tingkat kepuasan menggunakan metode Costumer Satisfaction Index. Pada tingkat kepuasan konsumen akan dilakukan pembobotan terhadap tingkat kepentingan dan tingkat kinerja pada atribut Pasar Ciputat menurut konsumen, sehingga akan diperoleh indeks kepuasan konsumen secara keseluruhan. Atribut yang digunakan dalam penelitian ini terdapat dua belas buah, yakni kelengkapan produk, zonanisasi produk, mobilitas pengunjung dalam pasar,kondisi bangunan pasar, kondisi kebersihan pasar, bangunan pasar bertingkat, keamanan pasar, penataan pedagang kaki lima, pedagang informatif, kejujuran pedagang, harga murah, dan harga dapat ditawar. Gambar kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 2. 17 Pasar Tradisional Ciputat Tangerang Selatan Bagian dalam bangunan pasar sepi pedagang dan pengunjung, bagian luar wilayah bangunan ramai pengunjung. Pengelola Pasar Ciputat memerlukan pengetahuan tentang perilaku konsumen (pengunjung) untuk mempertahankan pelanggan. Analisis Deskriptif Karakteristik Konsumen Importance Performance Analysis (IPA) Perilaku Konsumsi Konsumen Customer Satisfaction Index (CSI) Kepuasan Konsumen Rekomendasi strategi pengelolaan Pasar Ciputat. Gambar 2. Bagan Alur Kerangka Operasional METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Kondisi Pasar Ciputat Kota Tangerang Selatan merupakan suatu keadaan yang secara umum dihadapi pasa tradisional lain di Indonesia. Dipilihnya Pasar Ciputat, diantara banyak pasar tradisional lain dengan kondisi serupa, sebagai lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Pasar Ciputat berada pada lokasi strategis yakni di perbatasan Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan dan mudah dijangkau. Selama bertahun-tahun, pasar ini tidak 18 mengalami perubahan yang signifikan. Jalanan di wilayah Pasar Ciputat menghadapi kemacetan yang salah satunya bersumber dari keberadaan PKL. Gundukan sampah organik dan non organik yang bercampur memenuhi pasar dan jalan raya. Gedung pasar sudah sangat kumuh dan sepi penghuni (pedagang), namun wilayah luar gedung pasar ramai PKL. Buruknya kondisi Pasar Ciputat ini kontras terhadap pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan moden di Ciputat yang mampu menyediakan barang kebutuhan yang sama, sehingga perbaikan kualitas pelayanan Pasar Ciputat perlu diperbaiki. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2014. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan langsung melalui wawancara dan pengisian kuesioner kepada pihak pengelola Pasar Ciputat dan pengunjung pasar sebagai responden. Data sekunder yang digunakan merupakan data dari instansi dan literatur terkait lainnya yang relevan dengan penelitian sebagai pelengkap data primer. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian metode deskriptif dan metode survei. Metode deskriptif dilakukan dengan pencarian fakta dengan interpretasi terhadap sifat-sifat dari beberapa fenomena kelompok atau individu. Metode deskriptif digunakan untuk mendapatkan karakteristik konsumen Pasar Ciputat. Penelitian ini juga menggunakan metode survei berupa sampel. Metode survei digunakan untuk memperoleh fakta-fakta dari karakteristik perilaku dan kepuasan konsumen Pasar Ciputat. Metode Penarikan Sampel Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode non probability sampling, dimana setiap pengunjung Pasar Ciputat yang terpilih sebagai responden atau sampel dalam penelitian ini tidak memiliki peluang atau kemungkinan sama. Metode non probability sampling yang digunakan yaitu convenience sampling yang merupakan suatu model yang memilih responden berdasarkan kemudahan atau kenyamanan peneliti dalam mendapatkan dan menemukan contoh untuk dipilih. Metode ini dipakai karena Adapun kriteriakriteria responden yang menggunakan teknik conveninece sampling, yaitu : 1. Konsumen sudah pernah berkunjung ke Pasar Ciputat lebih dari dua kali dalam sebulan dan bersedia mengisi kuesioner. 2. Responden berumur diatas 16 tahun dengan alasan pada usia remaja lanjut tersebut (16-18 tahun), responden dianggap telah dapat menentukan pilihan secara rasional (Sumarwan et al 2011). 3. Pada satu rombongan keluarga, hanya satu orang yang berhak mengisi kuesioner agar jawaban dalam kuesioner tidak saling mempengaruhi yakni orang yang menjadi bertugas mengambil keputusan pembelian dalam keluarga. 4. Dalam satu rombongan teman atau kenalan, maka yang dipilih adalah orang yang merekomendasikan untuk berkunjung ke Pasar Ciputat. 19 5. Jumlah sampel penelitian pada penelitian berjumlah 100 orang. Menurut Siagian (2002), syarat minimal sampel data dan terdistribusi normal dalam statistik adalah 30 sampel, sehingga 100 orang sudah memenuhi syarat minimal. Aktifitas di Pasar Ciputat sudah dimulai sejak subuh dan para pedagang lapak atau kiosnya ketika barang dagangan habis atau pengunjung pasar sudah sepi. Penulis mencoba mengambil data responden dari keseluruhan waktu aktif pasar yakni dari subuh hingga pukul tiga sore. Keengganan konsumen untuk menjadi responden di waktu-waktu tertentu mengakibatkan data yang terkumpul hanya berasal dari konsumen yang berkunjung ke Pasar Ciputat pada kisaran pukul 06.00 pagi hingga pukul 11.00 siang (WIB). Identifikasi Atribut Atribut yang digunakan dalam penelitian ini merupakan intisari dari dimensi penilaian kualitas pelayanan jasa dan bauran pemasaran. Atribut yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teori, penelitian terdahulu, dan mempertimbangkan hasil observasi lapangan. Terdapat duabelas atribut yang dipakai pada penelitian ini yang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Atribut Kepuasan Konsumen Pasar Tradisional Ciputat No. Atribut Penelitian 1 Kelengkapan produk 2 Zonanisasi produk 3 Mobilitas pengunjung dalam pasar 4 Kondisi bangunan pasar 5 Kondisi kebersihan pasar 6 Bangunan pasar bertingkat 7 Keamanan pasar 8 Penataan PKL 9 Pedagang informative 10 Kejujuran pedagang 11 Harga murah 12 Harga dapat ditawar Terdapat lima dimensi penilaian kualitas pelayanan jasa, yakni tangibles (keberwujudan), reliability (keandalan), responsiveness (cepat tanggap), assurance (jaminan), dan emphaty (empati). Dalam penelitian ini, tidak semua dimensi diatur sebagai atribut penelitian, seperti dimensi empati dan responsieness. Objek penelitian kepuasan ini adalah konsumen yang datang berkunjung membeli barang dari pedagang, sehingga ada bagian dimana konsumen tidak bersinggungan langsung dengan perngelola atau perusahaan pasar sebagai penyedia jasa. Jasa yang disediakan oleh pengelola pasar tercermin dalam fasilitas fisik pasar, maka untuk dimensi tangibles, wujud tersebut terakomodasi dalam atribut kelengkapan produk, zonanisasi produk, mobilitas pengunjung dalam pasar, kondisi bangunan pasar, kondisi kebersihan pasar, dan bangunan pasar bertingkat. Dimensi assurance tercermin secara tidak langsung pada atribut 20 pedagang informatif dan kejujuran pedagang karena pendidikan etika berdagang masih menjadi kewajiban pihak pengelola pasar untuk diberikan kepada para pedagang. Atribut keamanan pasar termasuk dalam dimensi assurance yang mewakili hubungan langsung antara pengelola pasar dengan konsumen pasar. Atribut harga murah dan harga dapat ditawar mewakili dimensi reliability. Atribut ini dipilih berdasarkan karakteristik khas pasar tradisional yang sudah menjadi rahasia umum, yakni harganya yang cenderung lebih murah dibandingkan di tempat lain dan harga yang fleksibel karena dapat ditawar. Berdasarkan bauran pemasaran (7P), tidak semua elemen bauran pemasaran dapat diformulasikan menjadi atribut penelitian. Pertama, elemen bauran pemasaran harga (price) diwakili oleh atribut harga murah dan harga dapat ditawar. Kedua, bauran pemasaran orang (people) diwakili oleh atribut pedagang informatif dan kejujuran pedagang. Ketiga, elemen produk diwakili oleh atribut kelengkapan produk. Keempat, elemen tempat (place) diwakili oleh atribut zonanisasi produk, kondisi bangunan pasar, kondisi kebersihan pasar, dan bangunan pasar bertingkat. Kelima, elemen orang (people) diwakili oleh atribut pedagang informative dan kejujuran pedagang. Keenam, elemen proses (process) diwakili oleh atribut mobilitas pengunjung dalam pasar. Elemen promosi tidak dijadikan atribut penelitian karena pengelola Pasar Ciputat tidak pernah mengaakan kegiatan promosi sehingga tidak ada yang perlu dinilai dari elemen ini oleh responden penelitian. Selain penentuan atribut berdasarkan dimensi kualitas pelayanan jasa dan bauran pemasaran, penulis juga mempertimbangkan hasil observasi lapangan. Atribut-atribut penelitian dibangun berdasarkan permasalahan utama yang dihadapi Pasar Ciputat. Banyak faktor pada Pasar Ciputat yang sebenarnya dapat dinilai oleh responden penelitian, namun penulis mempertimbangkan banyak sedikitnya jumlah konsumen yang memiliki pengalaman dengan faktor-faktor tersebut. Sebagai contoh, Pasar Ciputat dilengkapi dengan fasilitas mushola dan toilet. Berdasarkan pengamatan, sangat jarang sekali ada konsumen Pasar Ciputat yang menggunakan mushola dan toilet ketika berkunjung ke Pasar Ciputat. Akan sangat menyulitkan penulis jika harus menyaring satu per satu calon responden dengan menanyakan apakah konsumen pernah menggunakan mushola dan toilet untuk mendapatkan 100 responden pernah memakai fasilitas tersebut sehingga dapat memberikan penilaiannya. Penentuan atribut penelitian juga didasarkan pada hasil penelitian terdahulu. Tujuannya adalah agar hasilnya dapat dijadikan perbandingan antara penelitian terdahulu dengan penelitian objek terkini. Atribut kelengkpaan produk, harga murah, dan harga dapat ditawar diambil dari hasil survey AC Nielsen (2007) yang menyatakan bahwa hal-hal tersebut merupakan beberapa alasan konsumen berbelanja di pasar tradisional. Atribut bangunan pasar bertingkat diambil dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa struktur bangunan pasar bertingkat menciptakan sejumlah persoalan. Struktur bertingkat yang ada saat ini dinilai mengganggu keamanan dan kenyamanan pedagang dan pembeli. 6 Di 6 Budiyati S. 2007. Pasar Tradisional dengan Struktur Bangunan Bertingkat: Siapa yang Diuntungkan? SMERU Newsletter 22 (April-Juni): 17-20 http://www.smeru.or.id/newslet/2007/news22.pdf [10 Desember 2011]. 21 antaranya yakni konstruksi anak tangga ke lantai atas atau bawah yang tinggi dan curam, ruang-ruang berdagang yang sempit, kurang tersedianya tempat sampah, air bersih, saluran air, pengaturan ruang udara/ventilasi, dan tempat parkir. Metode Pengumpulan Data Data responden didapatkan melalui wawancara terhadap konsumen terpilih. Pertanyaan yang diajukan mengacu pada kuisioner yang telah disiapkan. Yang pertama dilakukan adalah screening yang bertujuan untuk mengambil konsumen yang cocok dengan kriteria penelitian. Apabila memenuhi kriteria, maka konsumen tersebut akan diambil sebagai responden dan akan dilanjutkan ke pengisian identitas diri untuk mengetahui karakteristik konsumen Pasar Ciputat. Pengisian kuesioner dilanjutkan ke pertanyaan mengenai proses keputusan pembelian dan kepuasan konsumen. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di dalam kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan dengan menggunakan skala likert. Metode Analisis Data Analisis Deskriptif Analisis deskriptif yaitu suatu penganalisaan kasus, kondisi sosial, perilaku manusia, dan sebagainya dengan cara member gambaran atau penjelasan secara naratif. Pada penelitian ini, analisis deskriptif digunakan untuk menjabarkan gambaran umum perusahaan, karateristik pengunjung yang berkunjung ke Pasar Ciputat, proses pengambilan keputusan, dan tingkat kepuasan. Data yang dianalisis secara deskriptif disajikan dalam suatu alinea uraian secara naratif atau dalam tabulasi frekuensi sederhana berdasarkan jawaban responden. Uji Validitas dan Realibilitas Variabel-variabel dalam kuesioner penelitian perlu diuji terlebih dahulu, agar kesimpulan penelitian nantinya tidak keliru dan tidak memberikan gambaran yang jauh berbeda dari keadaan sesungguhnya (Suliyanto 2005). Pengujian kuesioner dilakukan dengan uji validitas dan reliabilitas. Pengujian kelayakan kuesioner dilakukan kepada 30 responden konsumen. Hal ini dikarenakan bahwa ukuran minimum sampel yang digunakan sebagai desain penelitian adalah 30 orang (Gay & Umar 2003). Penentuan atribut dilakukan dengan penelusuran dan berdasarkan studi literatur, penelitian terdahulu, dan wawancara dengan pihak pengelola Pasar Ciputat. Atribut-atribut mutu pelayanan yang terdapat pada kuesioner merupakan penjabaran dan penyesuaian dari dimensi kualitas jasa. 1. Uji Validitas Kuesioner yang disusun periset dalam pengumpulan data harus mengukur apa yang ingin diukurnya (Umar 2005). Uji validitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Suliyanto 2005). Apabila terdapat konsistensi antara variabel satu dengan variabel lainnya, maka validitas tercapai. 22 Pada penelitian ini, pengujian validitas kuesioner dilakukan dengan menggunakan software SPSS 16.0 for Windows. Validitas suatu atribut dapat diketahui pada hasil output SPSS pada tabel berjudul Item-Total Statistics, tepatnya dari nilai Corrected Item-Total Correlation. Suatu atribut dikatakan valid jika nilai Corrected Item-Total Correlation lebih dari 0,3 dan dikatakan tidak valid jika nilainya kurang dari 0,3 (Nugroho 2005). Atribut yang tidak valid kemudian harus dihilangkan dari kuisioner dan tidak ditanyakan kepada responden pada saat pengambilan data dalam penelitian. Berdasarkan uji validitas yang dilakukan terhadap 12 atribut pertanyaan dalam kuesioner, 12 atribut pertanyaan memiliki validitas yang baik. 2. Uji Realibilitas Menurut Suliyanto (2005), reliabilitas pada dasarnya merupakan sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. Jika pengukuran dilakukan secara berulang dan tetap menghasilkan hasil pengukuran yang relatif sama, maka alat ukur tersebut dianggap memiliki tingkat reliabilitas yang baik. Pengujian reliabilitas yang digunakan pada penelitian ini menggunakan uji reliabilitas internal dimana uji ini dapat menghilangkan kelemahan-kelemahan pada uji reliabilitas eksternal sehingga uji ini menjadi lebih praktis dan efisien dengan satu kali pengetesan (Suliyanto 2005). Teknik pengukuran reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Cronbach karena skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Linkert (1-5). Perhitungan reliabilitas menggunakan bantuan software SPSS 16.0 for Windows. Reliabilitas suatu atribut dapat dilihat pada tabel Reliability Coefficients sebagai hasil output SPSS. Nilai koefisien reliabilitas Alpha Cronbach berkisar antara 0-1. Koefisien reliabilitas yang dianggap baik adalah dengan nilai lebih besar dari 0,7. Semakin tinggi nilai koefisien reliabilitas, semakin reliabel sebuah kuesioner. Hasil uji reliabilitas dalam penelitian ini menunjukkan bahwa semua atribut Pasar Ciputat dinyatakan sangat reliabel karena memiliki Alpha 0.847 berada pada rentang Alpha 0.81 – 1.00. Dengan demikian semua atribut dalam penelitian ini sudah konsisten dalam pengukurannya. Important Performance Analysis (IPA) Teknik IPA digunakan untuk mengukur sejauh mana tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan konsumen terhadap kinerja atribut yang melekat pada produk atau jasa. Dalam teknik IPA, penggunaan diagram kartesius diperlukan untuk menjabarkan unsur-unsur tingkat kesesuaian kepentingan dan kepuasan. Penilaian tingkat kepentingan dan kinerja jasa oleh konsumen disusun berdasarkan nilai skor skala 5 tingkat (Likert) (Tabel 4), yang sengaja dirancang agar konsumen menjawab dalam berbagai tingkatan pada variabel-variabel yang menguraikan jasa (Supranto 2006). Penggunaan skala likert digunakan untuk mengkonversi data kualitatif (ordinal) menjadi data kuantitatif. 23 Tabel 4. Skor Penilaian Tingkat Kepentingan Konsumen dan Tingkat Kinerja Pasar Ciputat Skor (Nilai) Kepentingan Kinerja 1 Sangat Tidak Penting Sangat Tidak Baik 2 Tidak Penting Tidak Baik 3 Cukup Penting Cukup Baik 4 Penting Baik 5 Sangat Penting Sangat Baik Sumber: Supranto (2006) Skor yang diperoleh dari penilaian persepsi kinerja Pasar Ciputat merefleksikan tanggapan konsumen setelah adanya pengalaman melakukan konsumsi atau atribut aktual yang dirasakan oleh pedagang dan konsumen. Skor penilaian tingkat kepentingan merupakan penilaian seberapa penting atributatribut yang melekat pada Pasar Ciputat dianggap penting oleh atau dapat dikatakan sebagai seberapa besar kepentingan terhadap suatu atribut. Kedua variabel tersebut diwakili huruf X dan Y, dimana X adalah tingkat kinerja/kepuasan, sedangkan Y adalah tingkat kepentingan pedagang dan konsumen. Berdasarkan hasil penilaian tingkat kepentingan dan kinerja maka dihasilkan suatu perhitungan mengenai tingkat kesesuaian. Tingkat kesesuaian akan menentukan urutan prioritas peningkatan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen (Supranto 2006). Rumus yang digunakan yakni (Supranto 2006): Keterangan: Tki = Tingkat kesesuaian responden Xi = Skor penilaian kinerja perusahaan Yi = Skor penilaian kepentingan konsumen Jika Tki <100 persen, maka kinerja produk atau jasa[ belum sesuai dengan keinginan anggota. Jika Tki ≥100 persen, maka kinerja telah sesuai dengan keinginan anggota. Skor penilaian tingkat kinerja dan kepentingan kemudian masing-masing dijumlahkan dan dibagi oleh jumlah responden. Hasilnya akan membentuk diagram, berupa rata-rata skor kinerja ( ) untuk sumbu horizontal dan rata-rata skor kepentingan ( ) untuk sumbu vertikal. Formulasinya adalah sebagai berikut: Keterangan: = Skor rata-rata tingkat pelaksanaan/kepuasan = Skor rata-rata tingkat kepentingan n = Jumlah responden 24 Sebelum tingkat kepuasan dan kepentingan dipetakan dalam diagram kartesius, perlu dihitung terlebih dahulu rata-rata skor tingkat kepuasan dan kepentingan terhadap seluruh atribut. Rumusnya yaitu: Keterangan: = Rata-rata skor tingkat kepuasan = Rata-rata skor tingkat kepentingan K = Jumlah atribut yang mempengaruhi kepuasan konsumen Hasil perhitungan tersebut Setelah rata-rata skor tersebut didapatkan, selanjutnya tingkat unsur-unsur tersebut dipetakan dalam digram kartesius. Menurut Rangkuti (2008), diagram kartesius merupakan suatu bangun yang dibagi menjadi empat bagian atau kuadran yang dibatasi oleh dua buah garis yang berpotongan tegak lurus pada titik ( , seperti yang terlihat pada Gambar 4. (Kepentingan ) T inggi Kuadran I Prioritas Utama Attibutes to Improve Re ndah Kuadran II Pertahankan Prestasi Maintain Performance Kuadran III Prioritas Rendah Attributes to Maintain Kuadran IV Berlebihan Main Priority T (Kepuasan ) inggi Gambar 3. Diagram Kartesius Tingkat Kepentingan-Kepuasan Sumber: Supranto (2006); Rangkuti (2008) Setiap kuadran pada diagram kartesius tersebut mengandung makna interpretasi. Supranto (2006) dan Rangkuti (2008) mengemukakan pengertian dari masing-masing kuadran tersebut, yakni: 1. Kuadran I Kuadran I memuat bahwa atribut dinilai penting namun pelaksanaan atau kinerja atribut masih rendah. Hal ini dianggap konsumen mengecewakan atau tak memuaskan. Keinginan konsumen belum dapat dipenuhi oleh pihak manajemen perusahaan. Untuk meningkatkan kepuasan konsumen, perusahaan perlu meningkatkan kinerja atribut. 25 2. Kuadran II Kuadran II memuat atribut yang dinilai penting dan kinerja atribut yang dianggap berhasil dilaksanakan perusahaan sesuai dengan yang dirasakan oleh konsumen. Tingkat kepuasan konsumen dinilai relatif tinggi, sehingga perusahaan wajib mempertahankan atribut yang ada pada kuadran II. 3. Kuadran III Kuadran III memuat atribut-atribut yang ada dianggap kurang penting dan kurang memuaskan. Pada kuadran ini, peningkatan variabel perlu dikaji kembali karena pengaruhnya yang tidak terlalu besar terhadap kepuasan konsumen dan pelaksanaannya oleh perusahaan biasa-biasa saja. 4. Kuadran IV Kuadran IV memuat atribut yang dianggap kurang penting oleh pelanggan tetapi kinerjanya atau pelaksanaannya dinilai berlebihan, meski dianggap kurang penting tetapi sangat memuaskan. Atribut-atribut yang kurang penting ini dapat dikurangi sehingga perusahaan dapat menghemat biaya. Customer Satisfaction Index (CSI) Customer Satisfaction Index (CSI) atau indeks kepuasan pelanggan merupakan salah satu alat ukur yang dapat mendukung analisis IPA. CSI diperlukan sebagai alat ukur yang mampu mempresentasikan atau untuk mengetahui kepuasan pelanggan secara menyeluruh dengan melihat tingkat kepentingan dari atribut-atribut produk atau jasa. Hasilnya akan berguna untuk pengembangan program pemasaran untuk kepuasan konsumen (Supranto 2006). Berdasarkan Aritonang (2005) metode pengukuran CSI meliputi tahap-tahap berikut: 1. Menentukan Mean Importance Score (MIS) dan Mean Satisfaction Score (MSS). Nilai ini berasal dari rata-rata kepentingan dan rata-rata tingkat kinerja tiap responden. 2. 3. Keterangan: n = Jumlah responden Yi = Nilai kepentingan atribut Y ke-i Xi = Nilai kepentingan atribut X ke-i Menentukan Weight Factors (WF) yang merupakan fungsi dari Mean Importance Score atau nilai dari rata-rata tingkat kepentingan (MIS-i) masing-masing atribut terhadap total MIS seluruh atribut yang dinyatakan dalam bentuk persen. Menentukan Weight Score (WS) yang merupakan fungsi dari Mean Satisfaction Score (MSS) dikali dengan Weight Factor (WF). 26 4. Menghitung Customer Satisfaction Index yaitu fungsi dari jumlah WS dibagi skala maksimal yang digunakan (penelitian ini menggunakan skala maksimal 5), kemudian dikalikan 100 persen. Tingkat kepuasan responden secara menyeluruh dapat dilihat dari kriteria tingkat kepuasan konsumen. Angka indeks pada kriteria nilai CSI ditentukan menggunakan skala numerik dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: Rs = Rentang skala M = Skor tertinggi n = Skor terendah b = Jumlah kelas Rentang kepuasan yang digunakan ada pada kisaran 0%-100% dimana 100% menunjukkan kepuasan tertinggi. Skala maksimal yang digunakan pada penelitian ini adalah 5, dengan demikian rentang skalanya adalah sebagai berikut: Berdasarkan hasil perhitungan rentang skala yakni sebesar 20%, maka diperoleh rentang skala penilaian kepuasan (Tabel 5). Tabel 5. Kriteria Nilai Customer Satisfaction Index dan Interpretasinya Angka Indeks Interpretasi 0% < CSI ≤ 20% Sangat Tidak Puas 20% < CSI ≤ 40% Tidak Puas 40% < CSI ≤ 60% Cukup Puas 60% < CSI ≤ 80% Puas 80% < CSI ≤ 100% Sangat Puas Definisi Operasional Variabel-variabel dalam penelitian bisnis menggambarkan suatu fenomena yang harus diperjelas arti dan kandungannya. Hal ini dikarenakan variabel ilmu bisnis umumnya tidak dapat diukur langsung. Definisi operasional diperlukan untuk menggambarkan variabel agar pandangan setiap pembaca menjadi sama. 1. Konsumen adalah orang dengan usia ≥ 16 tahun yang pernah berbelanja dan berapa di Pasar Ciputat yang berperan dalam pembelian. 2. Responden adalah konsumen Pasar Ciputat yang berusia ≥ 16 tahun, pernah berbelanja di Pasar Ciputat dua kali atau lebih, dan bersedia mengisi kuesioner. 3. Usia adalah rentang waktu responden dari lahir hingga saat ini. 4. Jenis kelamin adalah identitas responden dalam berperilaku sebagai perempuan atau laki-laki. 5. Status pernikahan adalah ikatan kewajiban terhadap rumah tangga responden saat ini telah menikah atau belum menikah. 27 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. Jenis pekerjaan adalah pencaharian yang dijadikan pokok penghidupan atau sesuatu yang dilakukan untuk mendapat nafkah responden saat ini. Pendidikan terakhir adalah pendidikan terakhir yang telah ditempuh responden. Tingkat pendapatan adalah jumlah uang yang diterima responden selama satu bulan terakhir berdasarkan pekerjaan yang dijalani. Jenis barang yang sering dibeli adalah jenis barang yang paling sering dibeli pada keseluruhan kunjungan konsumen di Pasar Ciputat. Kelengkapan barang adalah tersedianya beraneka macam pilihan produk di Pasar Ciputat. Zonanisasi produk adalah pembagian wilayah dagang yang ditentukan oleh manajemen Pasar Ciputat berdasarkan jenis barang dagangannya. Mobilitas pengunjung dalam pasar adalah kondisi jalan sebagai tempat berlalu lalang pengunjung Kondisi bangunan pasar adalah kondisi fisik bangunan pasar Ciputat yang dinilai berdasarkan faktor penerangan, sirkulasi udara, tinggi langit-langit, Kondisi kebersihan pasar adalah kondisi yang mencerminkan ada atau tidaknya sampah yang dibuang di sembarang tempat dan ada atau tidaknya air yang menggenang dan ketersediaan tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Bangunan pasar bertingkat adalah keadaan bangunan pasar yang dibuat bertingkat untuk menampung para pedagang. Keamanan pasar adalah kondisi pasar yang bebas dari tindak kejahatan kriminal dan terdapat petugas keamanan yang siaga untuk menertibkan wilayah pasar serta sigap terhadap pengaduan konsumen. Penataan PKL adalah keadaan pengaturan pedagang kaki lima yang berefek terhadap mobilitas pengunjung dan kerapihan pasar. Pedagang informatif adalah karakteristik pedagang yang bersedia dan mampu memberikan informasi secara jelas tentang barang dagangannya. Kejujuran pedagang adalah karakteristik yang dimiliki pedagang yang jujur dan dapat dipercaya tanpa melakukan kecurangan terhadap atas barang yang dijual, seperti tidak mengurangi timbangan, jujur dengan kondisi barang yang dijual, dan lain-lain. Harga murah adalah perbandingan harga jual barang di Pasar Ciputat yang lebih terjangkau dibandingkan engan harga jual di pasar modern dan pasar tradisional atau jenis pedagang lain. Harga dapat ditawar adalah kondisi harga barang dagangan di Pasar Ciputat yang fleksibel yakni dapat ditawar. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Status Pasar Ciputat Pasar Ciputat dibangun pada tahun 1992 oleh PD Pasar Niaga Kerta Raharja Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang di atas lahan seluas 5.670 m2. Pembangunan Pasar Ciputat didasarkan pada kebutuhan akan pusat perdagangan di Ciputat yang telah menjadi suatu kawasan strategis dan menjadi salah satu 28 pusat lalu lintas menuju Jakarta. Di tahun yang sama, Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang melakukan Perjanjian Kerjasama dengan PT. Betania Multi Sarana dalam pembangunan pusat perbelanjaan dan peremajaan pasar, serta terminal Ciputat (Perjanjian Kerjasama Bersyarat Nomor 551.221755-Um/1992 dan Nomor 004/BMS/VI/1992). Pada tahun 2004, ditetapkan klasifikasi Pasar Ciputat, berdasarkanSurat Keputusan (SK) Bupati Tangerang Nomor 511.2/Kep.249-Huk/2004 tentang Penetapan Klasifikasi Pasar Daerah Kabupaten Tangerang. Berdasarkan SK tersebut Pasar Ciputat dikategorikan sebagai Pasar Kelas I. Hal ini didasarkan pada corak berdagangnya yang berupa eceran dan waktu kegiatan yang dilakukan pada siang/ malam hari. Daya Tampung dan Daya Dukung Pasar Ciputat Pada dasarnya, Pasar Ciputat telah memenuhi fungsi suatu pasar dengan kemampuannya menampung dan mendukung kegiatan jual beli antara pedagang dan masyarakat. Daya tampung Pasar Ciputat menjelaskan kemampuannya dalam menyediakan fasilitas dan menampung sejumlah masyarakat yang memanfaatkannya. Daya dukung Pasar Ciputat merupakan bentuk pemanfaatan masyarakat akan daya tampung dan fasilitas yang tersedia. Dari lahan seluas 5.670 m2, sebanyak 85 persen lahan dibangun bagunan pasar dan 25 persen lahan dibiarkan terbuka. Bangunan pasar terdiri atas tiga lantai seluas 14.516 m2. Tiap lantai dihubungkan dengan tangga yang curam dan sempit. Pembagian lantai adalah sebagai berikut: Lantai basement (berada di bawah permukaan tanah) seluas 4.839 m2, 1. terdiri dari: - Blok AK yang berisi kios-kios (terletak di bagian timur) - Blok BK yang berisi kios-kios (terletak di bagian barat) - Blok BL yang berisi los-los (terletak di bagian barat) 2. Lantai dasar seluas 4.839 m2, yang terdiri dari: - Blok CK yang berisi kios-kios (terletak di bagian timur) - Blok DK yang berisi kios-kios (terletak di bagian barat) 3. Lantai atas seluas 4.839 m2, yang terdiri dari: - Blok EK yang berisi kios-kios (terletak di bagian timur) - Blok FK yang berisi kios-kios (terletak di bagian timur) - Blok GK yang berisi kios-kios (terletak di bagian barat) Di dalam bangunan, terdapat fasilitas MCK sebanyak lima unit di lantai paling atas. Area terbuka dimanfaatkan untuk kebutuhan parkir kendaraan, ruang terbuka hijau dan non hijau, sirkulasi pengunjung dan barang, gudang, dan tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Pembuatan gedung tiga lantai Pasar Ciputat telah didasarkan pada sistem zonanisasi produk. Lantai basement Pasar Ciputat diperuntukkan barang dagangan berupa sembako dan produk agribisnis segar seperti daging dan sayuran. Lantai dasar dan atas diperuntukkan pedagang dengan barang dagangan non pangan, seperti sepatu, kosmetik, baju, celana, kerudung, dan lain-lain. Seiring berjalannya waktu, terjadi percampuran para pedagang beda jenis produk di tiap lantainya. Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan berbelanja pada konsumen. Konsumen menjadi kesulitan dalam menemukan letak barang yang dijual. 29 Permasalahan Utama Pasar Ciputat Permasalahan Hukum Sumber dari segala sumber permasalahan Pasar Ciputat adalah ketidakjelasan kepemilikan Pasar Ciputat. Pokok masalah dalam hal status kepemilikan adalah belum diserahterimakan pengelolaan Pasar Ciputat oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang kepada Pemerintah Daerah Kota Tangerang Selatan. Aset Pasar Ciputat harus dipindahtangankan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang dengan adanya pembentukan Kota Tangerang Selatan pada 2008 (Undang-Undang No. 51 Tahun 2008). Kegiatan dan lokasi pasar Ciputat secara hukum tidak lagi berada di Kabupaten Tangerang, tetapi berada di wilayah Kota Tangerang Selatan, tepatnya di Kecamatan Ciputat Timur. Hal ini mendasari bahwa pengelolan dan aset dikuasai Pemda Kota Tangerang Selatan. Penyerahan aset dan dokumen kepada Pemda Kota Tangerang Selatan harus dilakukan paling lambat lima tahun sejak pelantikan Pejabat Walikota. Hingga tahun 2015, Pasar Ciputat masih menghadapi permasalahan hukum. Enam tahun berselang terhitung sejak pelantikan pejabat walikota pada tahun 2009, status hukum aset dan pengelolaan Pasar Ciputat belum secara resmi dimiliki Pemda Kota Tangerang Selatan. Pemda Kabupaten Tangerang belum rela kehilangan pendapatan daerah yang berasal dari Pasar Ciputat. Status hukum yang mengambang memberi dampak terhadap kepentingan ekonomi Kota Tangerang Selatan dan menjadikan kebijakan pengelolaan pasar tidak fokus. Selain konflik antar pemerintah daerah, terdapat pula sengketa atau konflik hukum dengan PT. Betania Multi Sarana. Berdasarkan perjanjian Kerjasama Bersyarat No. 551.22/1755-Um/1992 dan No. 004/BMS/VI/ 1992 tentang Kerjasama Pembangunan Pusat Perbelanjaan dan Peremajaan Pasar serta Terminal Ciputat antara Pemda Kabupaten Tangerang dengan PT. Betania Multi Sarana. Berdasarkan Perjanjian Kerjasama Bersyarat tersebut, hak pengelolaan pasar dan bangunan menjadi milik Pemda Kabupaten Tangerang sedangkan PT. Betania Multi Sarana hanya memiliki hak pemakaian/ pemanfaatan/ penggunaan bangunan selama masa perjanjian (30 tahun). Pungutan pajak dan retribusi tetap masuk ke kas Pemda Kabupaten Tangerang. Yang terjadi adalah, pungutan pajak dan retribusi dikuasai oleh PT. Betania Multi Sarana akibat adanya perbedaan penafsiran antara kedua belah pihak mengenai hak-hak yang telah diatur dalam perjanjian. Berdasarkan Surat Peringatan I PD. Pasar Niaga Kerta Raharja tertanggal 26 Agustus 2010, kerugian Pemda Kabupaten Tangerang dari kehilangan retribusi pasar dan parkir selama 12 tahun (1997-2009) adalah sebesar Rp 6.480.432.000. Permasalahan Sosial Ekonomi Dunia bisnis dari waktu ke waktu semakin dinamis dan kreatif. Pasar Ciputat menghadapi gempuran eksternal dengan keberadaan pasar modern yang memiliki fungsi dasar sama seperti pasar tradisional, namun mampu memberikan kenyamanan dan kemudahan lebih bagi konsumen. Di Ciputat, telah berdiri pasarpasar modern baik berukuran besar (hypermarket) maupun kecil (minimarket), seperti Tip Top, Giant, Carrefour, Ramayana, Makro, Alfamart, Indomaret, dan lain-lain. Dari sisi konsumen, terjadi pergeseran tuntutan gaya hidup. Dengan semakin membaiknya kondisi keuangan, maka pola hidup cenderung akan 30 semakin meningkat. Konsekuensinya adalah terjadi perubahan standard konsumen akan kenyamanan berbelanja, keamanan, kualitas, dan lain-lain. Terdapat pula permasalahan yang bersumber dari pihak luar yang mengintervensi hubungan pengelola pasar dengan para pedagang. Permasalahan Kebersihan Dalam masalah kebersihan, belum ada kerjasama dan kesadaran yang baik dari semua stakeholder Pasar Ciputat. Pedagang tidak memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempat yang disediakan. Sampah cenderung diletakkan dimana saja. Dari sisi pengelola, tidak ada keteraturan jadwal pengangkutan dan ketegasan penegakan peraturan dan penindakaan pelanggaran pembuangan sampah. Tempat penampungan sampah sementara pun tidak dibagi berdasarkan jenis sampah organik dan non organik. Menumpuknya sampah menyebabkan turunnya sanitasi lingkungan dan menimbulkan bau tidak sedap. Permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) Menjamurnya PKL di luar gedung Pasar Ciputat bersumber pada beberapa hal. Pertama, tingginya harga sewa kios di dalam gedung. Sebagian besar kioskios tersebut tidak dimiliki secara langsung oleh pedagang, namun dimiliki oleh investor yang membeli untuk kemudian disewakan kembali dengan harga yang lebih tinggi. Banyak pedagang mengakui tidak sanggup untup membayar harga sewa kios atau lapak di dalam gedung yang bernilai belasan juta per tahun. Para pedagang banyak yang lebih memilih berdagang sebagai PKL dengan pungutan harian berjualan yang murah. Kedua, sedikitnya jumlah konsumen yang masuk ke dalam gedung pasar. Banyak pedagang tidak mau ambil risiko merugi dengan mengeluarkan uang sewa yang tinggi namun tidak mampu menjual barang karena ketiadaan pengunjung/ konsumen. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Umum Konsumen Pasar Ciputat Latar belakang konsumen dapat menjadi faktor bagi konsumen memilih untuk berbelanja di Pasar Ciputat. Memiliki pengetahuan mengenai perbedaan pada latar belakang konsumen dapat membantu pengelola Pasar Ciputat dalam membuat suatu perencanaan bisnis terutama dalam menentukan strategi pemasaran. Informasi mengenai karakteristik konsumen penting untuk dimiliki suatu perusahaan agar teknik pemasaran dan penjualan tepat sasaran. Konsumen yang menjadi responden dipilih saat sedang melakukan kunjungan di Pasar Ciputat dan setidaknya pernah melakukan pembelian minimal sebanyak dua kali. Jumlah responden diambil sebanyak 100 orang. Karakteristik responden dapat menjadi suatu pengetahuan mengenai latar belakang sosial dan ekonomi dari setiap responden. Karakteristik yang menjadi faktor pembeda antar responden antara lain usia, jenis kelamin, domisili, status pernikahan, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan pendapatan rata-rata per bulan (uang saku bagi pelajar). Data 31 sebaran responden berdasarkan karakteristik umum konsumen Pasar Ciputat dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Sebaran Responden Pasar Ciputat Berdasarkan Karakteristik Demografi Karakteristik Umum Kategori Modus (%) Usia 17 – 25 tahun 11 26 – 35 tahun 32 36 – 45 tahun 28 46 – 55 tahun 29 56 – 65 tahun 1 >65 tahun 1 Jenis Kelamin Perempuan 97 Laki-laki 3 Domisili Kecamatan Ciputat 96 Luar Kecamatan Ciputat 4 Status Pernikahan Belum menikah 0 Menikah 100 Pendidikan Terakhir SD 5 SLTP 5 SLTA 88 Diploma 0 Sarjana 2 Pascasarjana 0 Pekerjaan Pelajar/Mahasiswa 0 Pegawai Negeri/BUMN 1 Pegawai Swasta 0 Ibu Rumah Tangga 96 Wirausaha 3 Pensiunan 0 Pendapatan/Uang <Rp 500.000 10 Saku per bulan Rp 500.000 – Rp 1.499.000 79 Rp 1.500.000 – Rp 2.499.000 9 Rp 2.500.000 – Rp 3.499.000 2 Rp 3.500.000 – Rp 4.500.000 0 Lebih dari Rp 4.500.000 0 Usia Depkes RI (2009) mengkategorikan usia manusia menjadi masa balita (0 – 5 tahun), masa kanak – kanak (5 – 11 tahun), masa remaja awal (12 – 16 tahun), masa remaja akhir (17 – 25 tahun), masa dewasa awal (26 – 35 tahun), masa dewasa akhir (36 – 45 tahun), masa lansia awal (46 – 55 tahun), masa lansia akhir (56 – 65 tahun), dan masa manula (lebih dari 65 tahun). Dalam penelitian ini usia terendah dibatasi pada 17 tahun karena dianggap sudah bisa memberikan penilaian. Hasil survei pada Tabel 6 menunjukkan bahwa usia produktif mendominasi usia responden konsumen Pasar Ciputat. 32 Jenis Kelamin Berdasarkan hasil survey, dari 100 orang responden didapatkan bahwa konsumen Pasar Ciputat didominasi oleh perempuan, dengan rincian sebanyak 97 orang perempuan dan 3 orang laki-laki. Hal ini dapat menunjukkan kegiatan perbelanjaan diserahkan kepada perempuan dan atau barang-barang yang dijual di Pasar Ciputat lebih menarik perhatian kaum perempuan. Domisili Pasar Ciputat lebih banyak didatangi konsumen yang berdomisili di wilayah Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Data menunjukkan sebanyak 96% responden berdomisili di Kecamatan Ciputat. Pasar Ciputat dikategorikan sebagai Pasar Kelas 1 dimana sifat kegiatannya bercorak eceran. Dengan banyaknya konsumen yang tinggal di Ciputat, dapat menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan sehari-hari bisa didapatkan secara eceran di Pasar Ciputat yang lokasinya dekat dari tempat tinggal sehingga tidak memerlukan waktu lama dalam menjangkaunya. Status Pernikahan Keseluruhan responden konsumen Pasar Ciputat diketahui telah menikah. Hal ini didukung dengan dominasi data usia yang berada pada rentang produktif dan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Pendidikan Terakhir Biasanya semakin tinggi pendidikan, maka akan semakin tinggi seleranya. Konsumen Pasar Ciputat didominasi oleh lulusan SMA sebanyak 88%, diikuti lulusan SD dan SMP masing-masing sebanyak 5%, dan lulusan S1 sebanyak 2%. Menurut Sumarwan (2011), tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi cara berpikir, cara pandang, dan persepsinya dalam suatu masalah. Konsumen yang memiliki pendidikan yang lebih baik akan sangat rensponsif terhadap informasi dan mempengaruhi konsumen dala menentukan pilihan produk maupun merek. Pekerjaan Sebanyak 96% konsumen berprofesi sebagai ibu rumah tangga, 1% pegawai negeri/BUMN, dan sebanyak 3% berwirausaha. Hal ini dapat menunjukkan keputusan pembelian terbanyak berada pada tangan para istri. Pendapatan atau Uang Saku Menurut Asian Development Bank (2010), masyarakat akan dikategorikan sebagai golongan menengah ke bawah jika memiliki pendapatan Rp 500.000 – Rp 2 500.000, golongan menengah dengan pendapatan Rp 2.500.000 – 3.500.000, dan golongan menengah atas mempunyai pendapatan lebih dari Rp 3.500.000 per bulannya. Data menunjukkan, konsumen Pasar Ciputat banyak datang dari golongan menengah ke bawah. Ada sebanyak 10% konsumen berpendapatan dibawah Rp 500.000, 75% berpendapatan pada kisaran Rp 500.000 – Rp 1.499.000, dan 9% berpendapatan pada kisaran Rp 1.500.000 – Rp 2.499.000. 33 Perilaku Konsumsi dari Konsumen Pasar Ciputat Setiap konsumen memiliki perilaku dan karakteristik yang berbeda dalam menggunakan produk dan jasa Pasar Ciputat. Perilaku konsumsi produk dan jasa yang diamati dari setiap responden meliputi sumber informasi, motivasi berbelanja di Pasar Ciputat, frekuensi berbelanja di Pasar Ciputat, posisi lapak/kios pedagang waktu berbelanja di Pasar Ciputat, dan jenis produk yang sering dibeli. Informasi mengenai keberadaan dan produk-produk yang ditawarkan oleh Pasar Ciputat dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti internal dan eksternal. Sumber internal berdasarkan pada pengalaman pribadi, sedangkan sumber eksternal dapat bersumber dari teman, keluarga, media masa, dan lain-lain. Sebaran responden berdasarkan sumber informasi dapat dilihat pada Tabel 7. Sebanyak 100% konsumen mendapatkan informasi tentang Pasar Ciputat dan pengetahuan produk-produk yang dijual di dalamnya berdasarkan sumber internal atau pengalaman pribadi. Kebiasaan dan pengalaman berbelanja di Pasar Ciputat membuat konsumen telah memiliki informasi yang cukup tentang barang apa saja yang dapat ditemui, kisaran harga jual produk, letak-letak pedagang barang tertentu dan pedagang langganan. Setiap konsumen memiliki alasan yang berbeda-beda saat berbelanja di Pasar Ciputat. Peneliti melihat motivasi berbelanja berdasarkan tujuan penggunaan produk yang dibeli di Pasar Ciputat dan alasan kenapa membeli di Pasar Ciputat. Untuk pertanyaan alasan kenapa membeli di Pasar Ciputat, peneliti menyediakan tujuh alasan bagi responden untuk dipilih sebagai alasan utama. Tujuh alasan yang disediakan antara lain jenis dan kelengkapan barang, suasana tempat, harga, pelayanan lokasi (jarak), kejujuran pedagang, dan kualitas barang. Dari tujuh alasan tersebut hanya tiga alasan yang dipilih oleh 100 responden, yakni faktor harga (89%), jarak ke Pasar Ciputat (8%), dan jenis dan kelengkapan barang (3%). Konsumen mengenali kebutuhan pribadi (keluarga) akan barang konsumsi perlu dipenuhi setiap hari. Hal ini diperkuat dengan data bahwa sebanyak 100% responden beralasan datang ke lokasi perdagangan adalah untuk mencari atau membeli barang yang dibutuhkan untuk keperluan pribadi. Motif ini diperkuat fakta bahwa demografi konsumen didominasi oleh para ibu rumah tangga yang membutuhkan bahan makanan segar untuk diolah setiap harinya. Produk agribisnis segar bersifat mudah rusak (perishable) sehingga hanya memiliki umur pendek untuk layak dikonsumsi, sehingga biasanya konsumen tidak menumpuk bahan makanan di rumah namun lebih memilih membeli kembali tiap harinya. Pasar Ciputat adalah pasar yang didalamnya dapat ditemui barang kebutuhan sehari-hari dan vital, seperti bahan makanan. Kebutuhan akan makanan merupakan kebutuhan harian yang tidak bisa untuk tidak dipenuhi. Hasil penelitian berupa ada sebanyak 87% konsumen melakukan kunjungan setiap hari ke Pasar Ciputat adalah bentuk kewajaran dalam memenuhi kebutuhan makan manusia. Terdapat pula 5% konsumen yang berkunjung sekali seminggu, 3% berkunjung tiga kali seminggu, 1% berkunjung sebanyak 4 kali, dan 3% berkunjung sebanyak 6 kali. Bagi konsumen yang tidak setiap hari datang ke Pasar Ciputat, konsumen biasanya melakukan kunjungan di hari kerja. Waktu 34 utama konsumen berkunjung ke Pasar Ciputat adalah di pagi hari, yakni di awal waktu kegiatan manusia dimulai sehingga bagi yang berbelanja bahan makanan dapat mengolahnya untuk suguhan siang dan malam hari di rumah. Beraneka ragam jenis barang dapat ditemui di Pasar Ciputat, mulai dari produk segar, berbagai macam produk pangan dan sandang, serta peralatan rumah tangga. Pedagang produk agribisnis segar adalah yang paling mendominasi pemakai lahan dagang di kios-kios dan lapak-lapak, sehingga dalam satu sapuan panangan mata yang terlihat seperti hanya produk agribisnis segar. Produk agribisnis segar pula yang ternyata banyak dibeli sebagai tujuan utama kedatangan para konsumen ke Pasar Ciputat. Pedagang-pedagang yang letak lapaknya terdapat di luar bangunan pasar lebih menarik konsumen, yaitu sebanyak 92% konsumen. Di luar bangunan pasar, produk agribisnis segar adalah yang paling banyak dijual. Barang kebutuhan lain seperti sandang juga dapat ditemui meskipun tidak sebanyak pedagang produk agribisnis segar. Hal ini sesuai dengan pengakuan konsumen bahwa tujuan utama berkunjung ke Pasar Ciputat adalah membeli produk agribisnis segar, seperti sayuran, ikan, daging, dan bumbu. Konsumen-konsumen tersebut mengakui terkadang tetap masuk ke dalam bangunan pasar untuk melihat-lihat membeli barang yang tidak dijual di lapak luar. Alasan lain yang mendasari pemilihan posisi lapak pedagang di luar bangunan pasar adalah udara terbuka. Konsumen tidak merasa nyaman masuk ke dalam bangunan pasar yang berlangit-langit pendek, sumpek, sempit, gelap dan ditambah percampuran berbagai macam bau tidak enak. 35 Tabel 7. Sebaran Perilaku Konsumsi dari Konsumen Pasar Ciputat Perilaku Konsumsi Keterangan Persentase (%) Sumber Informasi Sendiri (Internal) 100 Pihak lain (Eksternal) 0 Tujuan Penggunaan Untuk Pemakaian Pribadi 100 Untuk Diperdagangkan Kembali 0 Alasan Memilih Jenis dan Kelengkapan Barang 3 Mengunjungi Pasar Suasana Tempat 0 Ciputat Harga 89 Pelayanan 0 Lokasi (Jarak) 8 Kejujuran Pedagang 0 Kualitas 0 Frekuensi Kunjungan ke 1 Kali 5 Pasar Ciputat dalam 2 Kali 0 Seminggu 3 Kali 3 4 Kali 1 5 Kali 0 6 Kali 3 7 Kali 87 Letak Pedagang di Pasar Dalam Bangunan Pasar 8 Ciputat Luar Bangunan Pasar/PKL 92 Jenis Barang yang Sering Produk Agribisnis Segar 100 Dibeli Makanan dan Minuman Kemasan 0 Jajanan Pasar 0 Peralatan Rumah Tangga 0 Sandang 0 Hari Kunjungan Hari Kerja Saja 13 Hari Libur Saja 0 Hari Kerja dan Hari Libur 87 Tidak Tentu 0 Waktu Kunjungan Subuh (04.00 – 06.00 WIB) 0 (Pukul) Pagi hari (06.00 s/d 11.00 WIB) 100 Siang hari (11.00 s/d 15.00 WIB) 0 ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN Indeks Kepuasan Konsumen Setiap produk barang atau jasa yang dipasarkan memiliki atributnya masing-masing yang dapat mempengaruhi citra dan penjualan. Perusahaan harus berusaha untuk mengetahui tingkat kepentingan atribut bagi konsumen, karena atribut-atribut tersebut tidak dapat dipengaruhi oleh perusahaan. Tingkat kepentingan konsumen merupakan penilaian seberapa penting suatu atribut yang melekat pada suatu produk barang atau jasa bagi konsumen. Dengan mengetahui 36 tingkat kepentingan konsumen, perusahaan dapat menyesuaikan dengan kinerja yang harus dilakukan. Dengan menggunakan metode Importance and Performance Analysis (IPA) maka dapat diketahui atribut yang mana yang akan menjadi prioritas untuk diperbaiki dan ditingkatkan oleh perusahaan. Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 12, nilai dari Costumer Satisfaction Index (CSI) untuk Pasar Ciputat adalah sebesar 62.4 persen. Nilai ini berada pada rentang 0.61 – 0.80. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum indeks kepuasan konsumen Pasar Ciputat berada pada kriteria “puas” berdasarkan kriteria-kriteria yang diatur penulis. Nilai CSI sebesar 62.4 persen menunjukkan bahwa masih ada sebesar 37.6 persen kepuasan konsumen yang belum terpenuhi pada kinerja atribut Pasar Ciputat. Hal ini perlu menjadi perhatian pihak pengelola Pasar Ciputat untuk memperbaiki kinerja atribut yang belum memenuhi harapan konsumen agar tercipta kepuasan konsumen 100 persen. Tabel 8. Perhitungan Customer Satisfaction Index (CSI) Pasar Ciputat Atribut Kelengkapan Produk Zonanisasi Produk Mobilitas Pengunjung dalam Pasar Kondisi Kebersihan Pasar Kondisi Bangunan Pasar Bangunan Pasar Bertingkat Keamanan pasar Penataan PKL Pedagang Informatif Kejujuran Pedagang Harga Murah Harga Dapat Ditawar Jumlah Rata-rata A1 Rataan Skor Kepentingan 4.4 Rataan Skor Kinerja 4.5 Weight Factors (%) 8.58 Weight Score 0.39 A2 A3 4.23 4.29 2.6 2.02 8.26 8.37 0.21 0.17 A4 4.18 1.9 8.15 0.15 A5 4.42 1.66 8.61 0.14 A6 3.24 1.86 6.32 0.12 A7 A8 A9 4.1 4.36 4.41 4.05 1.79 4.01 7.99 8.49 8.60 0.32 0.15 0.34 A10 4.44 3.96 8.65 0.34 A11 A12 4.69 4.54 4.72 4.03 9.14 8.85 0.43 0.36 100% 3.12 51.3 37.06 4.28 3.09 CSI = (3.12/5) x 100% = 62.4% Prioritas Perbaikan Atribut Pasar Ciputat 37 Nilai Costumer Satisfaction Index (CSI) Pasar Ciputat baru mencapai 62.4 persen dari 100 persen. Kesenjangan kepuasan yang cukup besar yakni 37.6 persen mengindikasikan perlunya pihak pengelola Pasar Ciputat untuk memperbaiki kinerja atribut – atribut untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan atribut adalah dengan metode Importance Perfomance Analysis (IPA). Metode ini akan menampilkan kinerja atribut yang harus diperbaiki melalui diagram kartesius yang terbagi dalam empat kuadran. Letak atribut dalam kuadran diperoleh dari nilai rata – rata kepentingan dan nilai rata – rata kinerja atribut. Nilai rata-rata kepentingan dan nilai rata-rata kinerja atribut dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 9. Nilai Rataan Atribut Pasar Ciputat Berdasarkan Tingkat Kepentingan dan Tingkat Kinerja Rataan Rataan Atribut Skor Skor Kepentingan Kinerja Kelengkapan Produk A1 4.4 4.5 Zonanisasi Produk A2 4.23 2.6 Mobilitas Pengunjung dalam Pasar A3 4.29 2.02 Kondisi Kebersihan Pasar A4 4.18 1.9 Kondisi Bangunan Pasar A5 4.42 1.66 Bangunan Pasar Bertingkat A6 3.24 1.86 Keamanan pasar A7 4.1 4.05 Penataan PKL A8 4.36 1.79 Pedagang Informatif A9 4.41 4.01 Kejujuran Pedagang A10 4.44 3.96 Harga Murah A11 4.69 4.72 Harga Dapat Ditawar A12 4.54 4.03 Jumlah 51.3 37.06 Rataan 4.28 3.09 Diagram kartesius Importance Performance Analysis (IPA) untuk atribut – atribut Pasar Ciputat dapat dilihat pada Gambar 4. Sumbu X menggambarkan tingkat kinerja atribut dan sumbu Y menggambarkan tingkat kepentingan atribut. Garis tengah kepentingan dalam diagram kartesius diambil dari nilai rataan keseluruhan tingkat kepentingan konsumen (3.902), sedangkan garis tengah kinerja diambil dari nilai rataan keseluruhan tingkat kinerja (3.09) sehingga akan terbagi menjadi empat kuadran. Nilai rataan keseluruhan tingkat kepentingan (harapan) konsumen adalah acuan yang digunakan peneliti untuk memenuhi kepuasan konsumen. Masing-masing kuadran dalam diagram kartesius menggambarkan keadaan yang berbeda. 38 A A A 8 1 11 A A 5 12 A 3 A 4 A 10 A 9 A A 2 7 A 6 Keterangan: A1. Kelengkapan Produk A2. Zonanisasi Produk A3.Mobilitas Pengunjung dalam Pasar A4. Kondisi Kebersihan Pasar A5. Kondisi Bangunan Pasar A6. Bangunan Pasar Bertingkat A7. Keamanan Pasar A8. Penataan PKL A9. Pedagang Informatif A10. Kejujuran Pedagang A11. Harga Murah A12. Harga Dapat Ditawar Gambar 4. Diagram Kartesius Importance Performance Analysis Pasar Ciputat Kuadran I (Prioritas Utama) 1. Mobilitas Pengunjung dalam Pasar (A3) Setiap harinya Pasar Ciputat dikunjungi ribuan orang. Fakta lapangan bahwa letak lapak antar pedagang begitu dekat satu sama lain membuat pengunjung semakin berdesak-desakan dalam berlalu lalang. Di dalam bangunan pasar pun, letak antar kios begitu berdekatan daan diperparah oleh pedagang yang memanfaatkan jalan untuk meletakkan stock barang sehingga jalan semakin sempit. Konsumen menginginkan kenyamanan dalam berlalu lalang dan hal ini belum dapat dipenuhi oleh Pasar Ciputat. Kondisi selasar jalan dapat dilihat pada Lampiran 2. 2. Kondisi Bangunan Pasar (A5) Bangunan Pasar Ciputat telah berdiri sejak tahun 1992. Kondisinya kini sangat suram dan kotor. Bangunan sangat tidak terawat dengan adanya kerusakan dimana-mana. Penerangan di dalam bangunan juga sangat minim. Sirkulasi udara yang tidak baik dan langit-langit rendah membuat suasana dalam pasar menjadi sumpek. Konsumen menganggap kondisi bangunan pasar adalah sesuatu yang penting untuk diciptakan dan dijaga. Kondisi yang begitu buruk membuat konsumen kecewa dan tidak puas. Konsumen menilai penting atribut kondisi bangunan pasar. Pengakuan bahwa konsumen lebih memilih berbelanja pada pedagang yang letaknya berada di luar bangunan pasar memperkuat hasil bahwa 39 atribut ini penting untuk diperhatikan. Hal ini pula yang turut menyebabkan banyaknya kios dalam gedung yang kosong atau tidak diisi pedagang. Kondisi bangunan dapat dilihat pada Lampiran 2. 3. Penataan PKL (A8) Jumlah pedagang kaki lima (PKL) yang sangat banyak merupakan salah satu masalah utama Pasar Ciputat. PKL inilah yang menjadi salah satu penyebab kemacetan lalu lintas Ciputat. Para pedagang mengaku terpaksa berjualan di luar gedung pasar atau kaki lima karena dua alasan, yakni tidak sanggup membayar sewa kios yang tinggi dan sulitnya mendapatkan pembeli. Kesulitan mendapat pembeli berhubungan dengan keengganan pengunjung untuk masuk ke dalam gedung pasar. Pengelola perlu mengakomodasi para PKL yang memiliki kemampuan rendah dalam membayar sewa dengan merenovasi bangunan pasar agar disenangi pengunjung dan menyediakan lebih banyak lapak dengan harga sewa rendah. Kuadran II (Pertahankan Prestasi) 1. Kelengkapan Produk (A1) Pasar tradisional secara umum memiliki konsep one stop shopping, yakni tempat dimana semua jenis barang dapat ditemui sehingga dalam satu kali kunjungan pengunjung dapat memilih dan membeli barang yang dicari dalam satu tempat tanpa perlu pergi ke tempat lain. Jenis barang yang diperdagangkan di Pasar Ciputat berupa produk agribisnis segar, aneka sandang, kosmetik, perhiasan, dan makanan olahan atau jajanan pasar. Konsumen menilai kelengkapan atau keberagaman produk yang tersedia di pasar sebagai sesuatu yang penting. Konsumen menganggap barang yang diperdagangkan di Pasar Ciputat telah beragam dengan penilaian kepuasan akan keberagaman ini lebih tinggi dari harapan konsumen. 2. Pedagang yang Informatif (A9) Saat konsumen tidak mengerti dan tidak yakin akan spesifikasi barang yang akan dibeli dari pedagang, biasanya konsumen akan bertanya untuk mendapatkan informasi yang lebih detail. Jawaban yang jelas sangat diperlukan oleh konsumen. Pedagang yang mengerti bahwa cara menjawab dan jawaban yang diberikan akan berpengaruh besar terhadap keyakinan konsumen untuk membeli. Konsumen Pasar Ciputat pun menganggap sikap pedagang yang informatif merupakan hal penting. Konsumen dinilai puas terhadap sikap pedagang di Pasar Ciputat yang informatif. Meskipun merasa puas, konsumen mengaku pernah menemui pedagang yang kurang informatif. Ada kalanya pedagang tidak menjawab pertanyan yang diajukan sama sekali dan ada kalanya pertanyaan dijawab namun dijawab secara diplomatis. Untuk mempertahankan kepuasan konsumen dan mengatasi beberapa pedagang yang tidak informatif, pihak pengelola pasar memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi berdagang kepada para pedagang secara berkala. 3. Kejujuran Pedagang (A10) Salah satu kejahatan yang dilakukan pedagang adalah tidak jujur. Demi meraup keuntungan dan menghindari kerugian, biasanya pedagang yang tidak jujur akan melakukan cara-cara licik. Konsumen Pasar Ciputat menganggap pedagang yang jujur adalah hal penting. Berdasarkan diagram kartesius, 40 konsumen dinilai puas terhadap kejujuran pedagang di Pasar Ciputat. Beberapa bentuk dari kejujuran tersebut adalah mengembalikan uang kembalian sesuai dengan jumlah yang benar, ukuran timbangan yang tidak dikurangi, menjual barang yang layak, dan lain-lain. Bagi konsumen yang merasa dicurangi, biasanya pada pembelian berikutnya akan mencari pedagang lain di pasar. Edukasi etika berdagang wajib diberikan kepada para pedagang oleh pihak pengelola pasar untuk mempertahankan kepuasan ini. Sidak timbangan dan barang yang dijual juga perlu dilakukan untuk mengetahui apakah ada oknum pedagang nakal. 4. Harga Murah (A11) Berdasarkan hasil penelitian, harga murah merupakan motif utama konsumen berbelanja di Pasar Ciputat. Hal ini terbukti dengan penilaian konsumen bahwa harga murah adalah sesuatu yang penting. Konsumen merasa puas dengan harga murah yang ditawarkan oleh pedagang-pedagang di Pasar Ciputat. Harga murah yang ditawarkan bisa jadi dipengaruhi oleh harga pasar yang berlaku secara umum, sehingga pedagang tidak secara bebas menentukan harga sendiri untuk mendapat keuntungan lebih. Dalam menjaga kesensitifitasan harga pasar, pihak pengelola melakukan update berkala harga bahan-bahan sembako yang ditulis pada sebuah papan besar di kantor pengelola untuk dijadikan acuan. Harga Dapat Ditawar (A12) 5. Salah satu karakteristik pasar tradisional yang menjadi daya tariknya adalah harga yang dapat ditawar. Ketika konsumen tidak puas dengan harga yang ditawarkan pedagang, maka konsumen akan mengajukan banding. Konsumen juga menginginkan harga yang dapat ditawar atau didiskon ketika melakukan pembelian banyak. Konsumen Pasar Ciputat menganggap atribut ini penting, dan konsumen merasa puas. Apabila ada pedagang yang tidak ingin ditawar, alasan utamanya adalah bahwa pedagang tersebut telah mengikuti harga pasaran. Dalam hal ini, sebenarnya tidak banyak yang dapat dilakukan oleh pihak pengelola dan pedagang mengingat harga yang dipatok sudah murah dan salah satu karakter konsumen adalah selalu menginginkan harga termurah. Sebagai bentuk apresiasi terhadap konsumen dan dalam rangka promosi, Pasar Ciputat dapat sesekali melakukan kegiatan promosi berupa pembagian kupon potongan. Kuadran III (Prioritas Rendah) Zonanisasi Barang (A2) 1. Pasar Ciputat adalah pasar tradisional yang di dalamnya dapat ditemui beraneka macam barang, baik yang berbau, bersifat basah, bersifat kering, mudah busuk, dan lain-lain. Percampuran barang dengan karakteristik berbeda akan mempengaruhi kualitas barang dagangan. Pedagang daging perlu dikelompokkan dengan sesama pedagang daging. Pedagang ikan perlu dikelompokkan dengan pedagang ikan. Pedagang sayur perlu dikelompokkan dengan pedagang sayur, pedagang pakaian dengan pedagang pakaian, dan seterusnya. Selanjutnya, kelompok pedagang ikan jangan sampai diletakkan berdekatan dengan pedagang pakaian. Konsumen menilai penting untuk memisahkan area pasar berdasarkan jenis barang yang dijual, namun karena atribut ini berada di bawah skor rataan kepentingan maka atribut ini dianggap bukan merupakan prioritas, Secara umum, konsumen menilai belum puas terhadap zonanisasi barang dagangan di Pasar Ciputat. Masih terjadi percampuran produk meskipun secara teori pengelola telah 41 memetakan posisi dagang. Meskipun atribut ini bukan prioritas utama, namun tetap dapat dilakukan perubahan untuk meningkatkan kepuasan konsumen dan keteraturan di pasar, 2. Kondisi Kebersihan Pasar (A4) Kebersihan pasar dianggap hal yang penting bagi konsumen, namun tingkat kepentingannya berada dibawah rataan sehingga atribut bukan merupakan prioritas. Pasar Ciputat pun belum memuaskan konsumen dalam hal ini. Pasar Ciputat terkenal dengan kekumuhan dan sampahnya. Di sepanjang jalan, terdapat gundukan sampahorganik dan non organik. Genangan air hujan yang terjadi akibat buruknya drainase mengakibatkan sampah-sampah tersebut makin menimbulkan bau tak sedap. Pasar Ciputat telah memiliki area penampungan sampah sementara, namun sampah-sampah tersebut jarang diangkut ke tempat pembuangan akhir. Dinas kebersihan Kota Tangerang Selatan perlu lebih giat dalam menangani permasalahan sampah ini karena selain tidak sedap dipandang mata dan dihirup baunya, dapat menimbulkan berbagai macam penyakit dan mengontaminasi produk agribisnis segar yang dijual. 3. Bangunan asar Bertingkat (A6) Berdasarkan hasil penelitian, nilai rata – rata kepentingan dan kinerja atribut ini masih lebih rendah dibandingkan dengan nilai keseluruhan harapan konsumen. Artinya, konsumen tidak terlalu mementingkan atribut ini karena pasar dengan lantai bertingkat menurut konsumen cukup menyusahkan. Konsumen tidak senang untuk turun naik tangga ketika berbelanja di pasar tradisional. Desain pasar bertingkat tidak cocok bagi konsumen Pasar Ciputat. Kuadran IV (Berlebihan) Atribut yang masuk ke dalam kuadran ini adalah keamanan pasar. Pasar tradisional merupakan area publik yang dikunjungi ribuan orang per harinya. Wilayah pasar yang merupakan kegiatan jual beli atau proses pertukaran uang sehingga kejahatan criminal dapat terjadi. Konsumen Pasar Ciputat menilai keamanan di pasar merupakan sesuatu yang penting sehingga konsumen memiliki perasaan tenang dalam berkunjung atau bertransaksi. Secara umum, konsumen menganggap atribut keamanan pasar adalah penting, namun karena nilainya berada di bawah rata-rata nilai kepentingan dan memiliki kinerja yang memuaskan, maka atribut ini dianggap berlebihan. Konsumen mengaku telah merasa aman melihat fakta bahwa selama berkunjung ke Pasar Ciputat konsumen tidak pernah mengalami kasus kriminal seperti pencopetan. IMPLIKASI MANAJERIAL DALAM PENINGKATAN KEPUASAN KONSUMEN PASAR CIPUTAT Hasil analisis dari Customer Satisfaction Index (CSI) dan Importance Performance Analysis (IPS) memaparkan mengenai atribut-atribut yang dianggap penting untuk melekat pada Pasar Ciputat dan tingkat kepuasan konsumen terhadap atribut-atribut tersebut. Informasi tersebut dapat digunakan juga untuk merumuskan implikasi berupa saran-saran alternatif yang dapat meningkatkan kepuasan konsumen Pasar Ciputat. 42 Atribut-atribut dinilai berdasarkan dimensi pada penilaian kualitas pelayanan jasa, yakni tangibles (keberwujudan), reliability (keandalan), responsiveness (cepat tanggap), assurance (jaminan), dan emphaty (empati). Terdapat atribut-atribut yang telah dinilai konsumen sesuai dengan kinerja atribut tersebut dalam memberikan perasaan puas dan tidak puas. Atribut yang telah membuat konsumen merasa puas perlu dipertahankan dan ditingkatkan lagi kinerjanya. Untuk atribut yang masih kurang memuaskan konsumen agar diperbaikin kinerjanya. Atribut-atribut yang telah membuat konsumen merasa puas diantaranya kelengkapan produk, pedagang informatif, kejujuran pedagang, harga murah, keamanan pasar dan harga dapat ditawar. Sedangkan atribut yang kinerjanya kurang dan memberikan kepuasan bagi konsumen diantaranya mobilitas pengunjung dalam pasar, kondisi bangunan pasar, penataan PKL, zonanisasi barang, kondisi kebersihan, pasar, dan bangunan pasar bertingkat. Jasa yang disediakan oleh pengelola pasar tercermin dalam fasilitas fisik pasar, maka untuk dimensi tangibles, wujud tersebut terakomodasi dalam atribut kelengkapan produk, zonanisasi produk, mobilitas pengunjung dalam pasar, kondisi bangunan pasar, kondisi kebersihan pasar, dan bangunan pasar bertingkat. Semua atribut ini memiliki kepuasan yang cukup rendah, sehingga fokus perbaikan Pasar Ciputat ada pada fisik bangunan. Ketika merenovasi bangunan pasar, pengelola perlu melakukan perhitungan jarak lalu lintas pengunjung dengan cermat. Untuk penerapan bagi pedagang di luar bangunan pasar, pengelola perlu bertindak tegas dalam memberikan batasan-batasan jarak. Dalam hal zonanisasi produk, pihak pengelola perlu bersikap konsisten dalam menegakkan peraturannya sendiri dan juga bersikap tegas apabila ada pedagang nakal yang berpindah tempat dari penempatan yang telah ditetapkan. Dari segi bangunan pasar, banyak yang perlu ditata ulang. Jalan selasar yang dilalui pengunjung perlu diperlebar dan dibebaskan dari barang dagang yang ditempatkan pedagang keluar menjorok ke jalan agar pengunjung dapat berlalu lalang dengan lebih leluasa. Pengelola perlu melakukan pemerlaharaan bangunan secara rutin agar tidak ada tumpukan sampah di sembarang tepat, air yang menggenang, lampu mati, dan kerusakaan. Bangunan juga sebaiknya tidak dibuat bertingkat. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Konsumen Pasar Ciputat didominasi oleh kelompok usia produktif, 1. kalangan ekonomi menengah ke bawah, berstatus telah menikah, perempuan berprofesi sebagai ibu rumah tangga, berpendidikan akhir SLTA, dan berdomisili di Ciputat. Perilaku konsumen Pasar Ciputat adalah datang berdasarkan sumber informasi internal, datang dengan tujuan utama membeli produk agribisnis segar dan untuk konsumsi pribadi, memiliki daya tarik harga murah sehingga menjadi alasan konsumen membeli di Pasar Ciputat, konsumen datang berbelanja setiap hari, dan 43 2. 3. konsumen lebih memilih untuk berbelanja dari pedagang yang berada di luar gedung pasar karena merasa tidak nyaman untuk masuk ke dalam gedung pasar. Kondisi Pasar Ciputat yang tidak terawat, kotor, dan tidak beraturan masih memiliki konsumen dengan karakteristik tersebut. Hal ini sesuai dengan daya tarik pasar tradisional yang memiliki daya tarik harga barang murah dan lebih banyak tersedianya produk segar, sehingga apapun kondisinya Pasar Ciputat masih memiliki segmentasi pasar. Diukur dengan Costumer Satisfaction Index (CSI), kepuasan konsumen yang baru terpenuhi adalah 62.4 persen dan termasuk dalam kategori puas. Untuk mencapai kepuasan konsumen 100 persen, Pasar Ciputat harus memperbaiki beberapa atribut yang sudah dipetakan dalam diagram kartesius Importance Performance Analysis (IPA). Atribut yang diprioritaskan untuk diperbaiki adalah zonanisasi barang dagangan, mobilitas pengunjung dalam pasar, kondisi bangunan pasar, dan penataan PKL. Saran Di tengah keterbatasan penelitian yang tidak mencakup keseluruhan konsumen pasar sebagai objek penelitian, dari penelitian ini dapat ditarik informasi penting yang harus dikerjakan pemerintah dalam mengejar pelayanan yang ditawarkan pasar modern. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat saran untuk Pasar Ciputat, yaitu secepat mungkin setelah permasalahan sengketa kepemilikan Pasar Ciputat selesai antara Kabupaten Tangerang dengan Kota Tangerang Selatan, perlu dilakukan renovasi dan revitalisasi Pasar Ciputat. Sesuai dengan hasil penilaian Importance Performance Analysis (IPA), renovasi dan revitalisasi Pasar Ciputat dapat mempertimbangkan atribut-atribut yang dianggap penting dan tidak memuaskan konsumen. Pengelola perlu memperhatikan pembuatan bangunan pasar yang dapat menampung semua pedagang sehingga tidak ada lagi PKL, yang memberikan kenyamanan pengunjung dan kemudahan mencari barang. Faktor kebersihan juga perlu diperbaiki dengan menempatkan banyak TPS di berbagai titik dan meningkatan intensitas pengangkutan sampah. Di masa depan juga perlu dikaji mengenai kepuasan pedagang di Pasar Ciputat agar kebijakan yang diambil pemerintah dapat menengahi berbagai kepentingan stakeholder Pasar Ciputat. DAFTAR PUSTAKA Agustina D. 2009. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Jumlah Pasar Modern di Kota dan Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor (ID): FEM IPB. Aye L, Widjaya ER. 2005. Environmental and economic analyses of waste disposal options for traditional markets in Indonesia [Internet]. [diunduh 2 Februari 2012]. Tersedia pada: http://www.aseanenvironment.info/Abstract/43004921.pdf 44 Ahmad T. 2007. Regulasi Persaingan Usaha di Industri Ritel. SMERU Newsletter 22. (April-Juni): 27-32 [Internet]. [diunduh 25 Mei 2013] Tersedia pada: http://www.smeru.or.id/newslet/2007/news22.pdf Aritonang R Lerbin R. 2005. Kepuasan Pelanggan Pengukuran dan Penganalisisan dengan SPSS. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama. Ediati M. 2009. The Outburst of Modern Market Development (Hypermart, Mall and The Kinds). TEKNIK 30 (3): 210-219 Engel JF, Blackweel RD, Winiard PW. 1994. Perilaku Konsumen Edisi Keenam Jilid 1. Budiyanto FX, penerjemah. Jakarta (ID): Binarupa Aksara. Terjemahan dari: Consumer Behaviour 6th Edition. Fissamawati F. 2009. Analisis Keputusan Pembelian Konsumen Sayuran di Pasar Tradisional (Studi Kasus di Pasar Baru Nogor) [Skripsi]. Bogor (ID): FEM IPB. Gay, Umar K. 2003. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. Jakarta (ID): Rineke Putra. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 2010. Panduan Pasar Ramah Segar (Pengembangan Pasar Tradisional dalam Rangka Peningkatan Daya Saing). Jakarta (ID): Kemendagri. Kotler P. 2005. Manajemen Pemasaran Edisi Kesebelas Jilid 2. Molan B, penerjemah. Jakarta (ID): Indeks. Terjemahan dari: Marketing Management 11th Edition. Koler P, Keller KL. 2007. Manajemen Pemasaran Edisi Keduabelas Jilid 2. Molan B, Penerjemah. Jakarta (ID): Indeks. Terjemahan dari: Marketing Mangement 12th Edition. Hadiwiyono. 2011. Analisis Kinerja Pasar Tradisional di Era Persaingan Global di Kota Bogor [skripsi]. Bogor (ID): FEM IPB. Hutabarat MR. 2009. Dampak Kehadiran Pasar Modern Brastagi Supermarket Terhadap Pasar Tradisional Sei Sikambing di Kota Medan [skripsi]. Medan (ID): Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Mattanete H. 2008. Analisis Kepuasan Pedagang Terhadap Pengelolaan Pasar dan Strategi Pengembangan Pasar (Kasus di Pasar Citeureup I Kabupaten Bogor) [Tesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana IPB. Nielsen. 2010. Retail and Shopper Trends Asia Pacific 2010 [Internet]. [diunduh 6 Maret 2012] Tersedia pada: http://sg.nielsen.com/site/documents/2010RetailandShopperTrends2010.pd f Ningsih ES. 2007. Dampak Pembangunan Pusat Perbelanjaan Modern Terhadap Penyerapan dan Pengurangan Tenaga Kerja di Kota Bogor [skripsi]. Bogor (ID): FEM IPB. Nugroho BA. 2005. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Yogyakarta (ID): Penerbit Andi. [PP] Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko [Internet]. [diunduh 25 Mei 2013]. Tersedia pada: www.usdrpindonesia.org/files/downloadContent/159.pdf Pusat Penelitian dan Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan, INDEF. 2007. Kajian Dampak Ekonomi Keberadaan 45 Hipermarket Terhadap Ritel/Pasar Tradisional. Ringkasan Hasil Penelitian Kerjasama. Jakarta (ID): Depdag, PT Indef Eramadani. Putra A. 2004. Pengaruh Pengambangan Pasar Modern Terhadap Kehidupan Pasar Tradisional di Pusat Pasar Medan [tesis]. Medan (ID): Program Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara. Rangkuti F. 2008. Measuring Customer Satisfaction: Teknik Mengukur dan Strategi Meningkatkan Kepuasan Pelanggan & Analisis Kasus PLN-JP. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Rosfadhila M. 2007. Mengukur Dampak Keberadaan Supermarket Terhadap Pasar Tradisional. SMERU Newsletter 22 (April-Juni): 11-17 [Internet]. [diunduh pada25 Mei 2013]. Tersedia pada: http://www.smeru.or.id/newslet/2007/news22.pdf Slamet R. 2009. Analisa Daya Tarik dan Strategi Manajemen Pasar Tradisional. Jurnal Ilmiah Ekonomi Akuntansi Manajemen Pelita Ilmu 3 (1): 67-72 Suliyanto. 2005. Analisis Data dalam Aplikasi Pemasaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Sumarwan U. 2004. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Supranto J. 2006. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan Pangsa Pasar. Jakarta: Rineka Cipta. Suryadarma D, Poesoro A, Budiyati S, Akhmadi, Rosfadhila M. 2007. Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesia. Jakarta: SMERU. Susilo A, Taufik. 2006. Dampak Keberadaan Pasar Modern Terhadap Usaha Ritel Koperasi/Waserda dan Pasar Tradisional. Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM 6: 85-99. [USDA] United States Department of Agriculture. 2011. The Expansion of Modern Grocery Retailing and Trade in Developing Countries. J Economic Research Report Number 122 (July) Umar H. 2005. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. [UU] Undang-undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Provinsi Banten [Internet]. [diunduh 11 Desember 2011]. Tersedia pada: http://www.scribd.com/doc/87263592/UU-No-51Tahun-2008-Kota-Tangerang-Selatan [UU] Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perilaku Konsumen [Internet]. [diunduh 27 Juli 2013]. Tersedia pada:http://www.bnn.go.id/portal/_uploads/perundangan/2006/08/25/perli ndungan-konsumen-ok.pdf World Bank. 2007. Horticultural Producers and Supermarket Development in Indonesia. Jakarta: World Bank. 46 LAMPIRAN Lampiran 1. Uji Validitas dan Reliabilitas Case Processing Summary N C Valid 30 ases Exclu ded % 100. 0 0 a Total 30 .0 100. 0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach 's Alpha N of Items .847 12 Item-Total Statistics Scale VAR0 0001 VAR0 0002 VAR0 0003 VAR0 0004 VAR0 0005 VAR0 0006 VAR0 0007 VAR0 0008 Scale Corrected Cronbach Mean if Item Variance if Item Item-Total 's Alpha if Item Deleted Deleted Correlation Deleted 44.4667 5.016 .550 .834 44.5000 5.086 .712 .831 44.4000 5.007 .374 .845 44.5333 4.947 .376 .846 44.8667 4.257 .432 .865 44.4667 4.671 .885 .814 44.4667 4.671 .885 .814 44.4667 4.671 .885 .814 47 VAR0 0009 VAR0 0010 VAR0 0011 VAR0 0012 44.5000 5.293 .452 .841 44.5000 5.293 .452 .841 44.2667 4.685 .420 .847 44.4333 4.737 .659 .825 Lampiran 2. Dokumentasi Kondisi Badan Jalan Raya yang Dipenuhi PKL Kondisi Sampah Tangga yang Dipenuhi Kios-kios yang Tutup Tidak Terpakai Selasar Jalan yang Sempit dan Dipenuhi Barang Dagangan Mengganggu Mobilitas Pengunjung 48 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 25 Mei 1990 dari ayah Sutarjo dan Ibu Ida Halida. Penulis adalah putri pertama dari tiga bersaudara. Tahun 2008 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cisauk dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB dan diterima di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai staf pengurus divisi marketing Eco-Agrifarma tahun 2008-2009, anggota Klub Kajian Pertanian HIPMA 2009-2010, bendahara umum Himpunan Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis (HIPMA) periode 2010-2011, Leader of AIESEC IPB Expansion Team pada 2010-2011, serta berbagai kepanitian acara kampus. Penulis juga mengikuti kegiatan magang di perusahaan pembenihan dan ekspor yakni CV. Multi Global Agrindo pada tahun 2010, menjadi staf pengajar dan pemasaran LPIA Ciputat pada tahun 2011, dan menjalankan bisnis online sejak April 2012.