BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Token Economy 1. Pengertian Token

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Token Economy
1. Pengertian Token Economy
Token ekonomy adalah sistem perlakuan kepada tiap individu untuk
mendapatkan bukti target perilaku setelah mengumpulkan sejumlah prilaku
tertentu sehingga mencapai kondisi yang diharapkan. Contoh seperti pada lembar
bukti prestasi. Siswa mendapatkan bukti dalam bentuk rewads atau hadiah dari
pekerjaan yang dapat ditunjukannya. (Jason, 2009 ; 35).
Token Economy merupakakan sistem perlakuan pemberian penghargaan
kepada siswa yang diwujudkan secara visual. Token Economy adalah usaha
mengembangkan prilaku sesuai dengan tujuan yang diharapkan melalui
penggunaan penghargaan. Setiap individu mendapat penghargaan setelah
menunjukan prilaku yang diharapkan. Hadiah dikumpul selanjutnya setelah
hadiah terkumpul ditukar dengan penghargaan yang bermakna. (Joson, 2009 ; 66).
Menurut Wallin (1991), Token Economy yang diberikan kepada siswa
merupakan dukungan sekunder untuk memperkuat suasana belajar supaya lebih
kondusif. Oleh karena itu, penghargaan harus menjadi rangsangan yang netral
atau tidak berpihak. Siswa berkompetisi untuk memperolehnya dengan cara
mengumpulkan token sebanyak-banyaknya dalam proses kegiatan belajar
mengajar.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa Token economy adalah
sistem perlakuan kepada tiap individu untuk mendapatkan bukti target perilaku
setelah mengumpulkan sejumlah prilaku tertentu sehingga mencapai kondisi yang
diharapkan, dengan cara subyek mendapat penghargaan setelah menunjukan
prilaku yang diharapkan. Hadiah dikumpul selanjutnya setelah hadiah terkumpul
ditukar dengan penghargaan yang bermakna.
2. Tujuan Token Economy
Bukti Token Economy dapat digunakan untuk memenuhi berbagai tujuan
pendidikan dalam membangun perilaku siswa. Penggunaan sistem time token
ekonomi memiliki tujuan :
a. Meningkatnya kepuasan dalam mendorong peningkatan kompetensi siswa
melalui penghargaan yang kongkrit atau visual sehingga tingkat
kesenangan siswa melakukan sesuatu prestasi benar-benar tampak.
b. Meningkatnya efektivitas waktu dalam pelaksanaan pembelajaran. Belajar
yang efektif adalah yang menggunakan waktu yang pendek dengan hasil
yang terbaik dan terbanyak. Siswa harus menyadari berapa lama mereka
telah belajar dan berapa banyak waktu yang telah mereka gunakan secara
efektif untuk melaksanakan aktivitas belajar.
c. Berkurangnya kebosanan – Suasana belajar yang kolaboratif, rivalitas,
kompetitif yang diberi penguatan oleh pendidik dapat meningkatkan
menurunkan
tingkat
di kebosanan
siswa
sehingga
siswa
dapat
berpartisipasi dalam jangka waktu yang yang lama.
d. Meningkatnya daya respon – Suasana belajar yang kompetitif akan
meningkatkan kecepatan siswa meberikan respon. Setiap respon yang
sesuai dengan tujuan akan segera mendapat penguatan sehingga suasana
belajar menjadi cair, komunikatif dan lebih menyengkan.
e. Berkembangnya penguatan yang lebih alami, – melalui pemberian
penguatan yang tepat waktu akan dan disesuaikan dengan tingkat prestasi
setiap siswa atau setiap kelompok siswa memungkinkan
f. Meningkatnya penguatan untuk sehingga motivasi belajar berkembang –
setiap siswa atau setiap kelompok siswa dalam kelas selalu dalam keadaan
terpacu untuk mewujudkan dan daya pacu ini akan semakin berkembang
jika siswa juga mendapat layanan untuk mengabadikan daya kompetisinya
seperti dengan dukungan rekaman video.
3. Komponen Token Economy
Sebelum kegiatan belajar dilaksanakan pendidik menyiapkan beberapa
komponen yang dibutuhkan, di antaranya:
a. Token atau simbol praktis dan atraktif untuk memicu tumbuhnya motivasi
belajar. Yang dapat digunakan sebagai simbol penghargaan seperti stiker,
guntingan kertas, simbol bintang, atau uang mainan. Token sendiri tidak
selalu dalam bentuk yang berharga, namun setelah siswa mengoleksinya
setelah menunjukan prilaku yang diharapkan mereka dapat menukarkan
token itu dengan sesuatu yang berharga. Dengan demikian setelah satu
rentang waktu tertentu guru harus menyediakan barang penukar token
yang berharga untuk siswa. Yang paling mudah seperti permen, alat tulis
atau benda berharga lain yang dapat sekolah biayai.
b. Definisi target prilaku jelas. Hal itu berarti guru maupun siswa perlu
memahami dengan baik prilaku yang diharapkan. Siswa memahami benar
prilaku seperti apa yang harus ditunjukannya sebagai hasil belajar.
Penjelasan harus singkat namun cukup sebagai dasar pemahaman siswa
mengenai hadiah yang dapat diperlehnya setelah menunjukan prestasi.
c. Dukungan penguatan (reinforcers) dengan barang yang berharga.
Dukungan itu dapat dalam bentuk barang berharga, hak istimewa, atau
aktivitas individu yang dapat ditukar dengan makanan, perangkat
permainan, waktu ekstra.
d. Sistem penukaran token atau simbol. Sukses penyelenggaraan token
ekonomi sangat bergantung pada sukses dalam memberikan penguatan
yang dapat ditukarkan dengan nilai yang sebanding dengan prestasi yang
dicapai.
e. Sistem dokumentasi atau perekaman data. Pemberian penghargaan yang
tepat sangat bergantung pada ketepatan menghimpun data. Oleh karena itu
alat perekam dapat membantu meningkatkan proses ini sehingga informasi
dari proses pembelajaran dapat dikelola dengan tingkat akurasi yang
tinggi.
f. Konsistensi dalam implementasi, untuk menjunjung konsistensi itu
sebaiknya terdapat panduan teknis yang tertulis sebagai pegangan
pelaksanaan tugas sehingga apa yang direncanakan itulah yang
dilaksanakan.
4. Langkah-langakah pelaksanaan Token Economy
Mengacu pada pemikiran Robinson T.J. Newby dan S.L. Ganzell, (1981)
merumusakan bahwa langkah utama dalam pelaksanaan sistem token ekonomi
dapat dikembangkan sebagai berikut :
a. Menentukan target prilaku atau kompetensi yang dapat siswa tunjukan.
Guru memilih masalah penting sebagai target. Definisikan dengan jelas,
harus dalam bentuk penyataan positif, dan harus dalam prilaku hasil
belajar yang dikembangkan dalam bimbingan pembelajaran dalam kelas.
b. Menentukan motode bagaimana langkah-langkah untuk memperoleh
penghargaan dan nilai dari setiap penghargaan. Barkley (1990) memberi
contoh untuk anak-anak umur 4-7 thaun menggunakan guntingan kartu
berbentuk bintang, model perangko atau stiker. Setiap perangkat
penghargaan diletakan siswa di atas meja belajarnya dalam kelas.
c. Identifikasi nilai atraktif penghargaan. Mengembangkan penghargaan
sebagai sesuatu yang berarti, praktis dan atraktif sehingga dapat
meningkatkan
motivasi
belajar
siswa.
Hal
penting
yang
dapat
meningkatkan makna adalah keterlibatan siswa dalam proses memilih dan
menyusun jenis dan nilai penghargaan. Dalam hal ini siswa dapat
memperoleh kebebasan menentukan waktu
d. Menentukan Tujuan, jumlah token yang dapat diperoleh serta nilai yang
diperoleh untuk setiap penghargaan yang diperoleh.
Implementasi kegiatan ini memerlukan langkah lanjut :
a. Penjelasan Program Kepada Siswa. Penjelasan mengenai program harus
jelas. Siswa harus memahami aturan main sebelum belajar dimualai agar
mereka dapat memanfaatkan waktu belajar secara optimal. Sejumlah
penghargaan kepada siswa diberikan di antaranya karena ketepatan dan
kecepatan menunjukan prilaku positif yang diharapkan.
b. Guru memberikan masukan. Guru harus menentukan kapan hadiah akan
didistribusikan, dengan ketentuan seperti apa, dan bagaimana siswa dapat
memperoleh penghargaan, tata tertib seperti bagaimana? Pemberian
penghargaan dapat guru lakukan tidak hanya sebatas dalam kurun waktu
satu dua jam pelajaran, namun dapat pula menggunakan waktu berharihari, berminggu-minggu atau dalam satu semester sepanjang guru dapat
memelihara kondisi tingkat revalitas, persaingan dan daya kolaborasi
dapat terus dikobarkan sehingga berdampak positif terhadap hasil belajar
siswa.
c. Guru pengatur penghargaan. Guru memberikan penghargaan dengan
memperhatikan tercapainya tujuan pembelajaran. Kejuaraan diperoleh dari
pengumpul hadiah terbanyak. Hal itu berarti menjadi siswa yang berlajar
paling efektif sehingga mencapai prilaku yang diharapkan. Jika siswa
berhasil dalam satu hari dan ia tidak mendapatkan di waktu lain adalah
sesuatu yang baiasa.
B. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi belajar terdiri dari dua kata yang memepunyai pengertian sendirisendiri. Namun kedua pengertian tersebut
membentuk satu pengertian
pembahasan. Untuk lebih jelasnya penulis menguraikan satu persatu diantara
keduanya. Motivasi berasal dari bahasa inggris “motive” yang diambil dari kata
asalnya mation yang berarti “gerak atau sesuatu yang bergerak” (Rusyan, 1998).
Sedangkan menurut Sardiman. Motive diartikan sebagai daya dan upaya
yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu (A.M, 2005). Motif dapat
diartikan sembagi daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif
dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern ( kesiapsiagaan). Berawal dari “motif”
itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi
aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk
mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak.
Menurut Sumadi (1990: 70) dalam buku Psikologi Pendidikan, motif
adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan
aktivitas tertentu guna mencapai tujuan. Dalam pengertian ini motif bukanlah
yang dapat diamati, akan tetapi dapat diketahui karena adanya suatu aktivitas itu
dapat kita lihat atau saksikan.
Sedangkan pengertian motivasi hampir sama dengan pengertian motif
yang berbeda hanya kalimatnya saja. Sebagaimana pengertian motivasi yang
dikemukakan oleh Martin Handoko, motivasi adalah suatu tenaga atau faktor yang
terdapat
dalam
diri
manusia
yang
menimbulkan,
mengorganisasikan tingkah laku (Handoko, 1992: 9).
mangarahkan,
dan
Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan
mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi
terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan
dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar (Dimyati,1999:80).
Motivasi dapat didefinisikan dengan segala sesuatu yang menjadi
pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk
memenuhi kebutuhan (Abdul R.S, 2008:182). Oemar Hamalik (2001:158)
menyatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi)
seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai
tujuan. Menurut Ustman Najati, motivasi adalah kekuatan penggerak yang
membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup, yang menimbulkan tingkah laku
serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu (Hamalik,2001:183).
Sartain menggunakan kata motivasi atau dorongan sebagai suatu
pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah
laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive) (Purwanto,
1988:70).
Hoyt dan Miskel memandang motivasi sebagai kekuatan-kekuatan yang
kompleks, dorongan-dorongan, kebutuhan-kebutuhan, pernyataan-pernyataan
ketegangan (tension states), atau mekanisme-mekanisme lainnya yang memulai
dan menjaga kegiatan-kegiatan yang diinginkan ke arah pencapaian tujuan-tujuan
personal (Abdul R.S, 2008:184). Motivasi, sikap dan minat yang memberikan
kemungkinan untuk mendorong dalam berbuat dan bertingkah laku. Untuk
mendorong seseorang mencapai aktivitas dari tujuan yang diinginkan.
Winkel (W.S Winkel, 1996:151) menyatakan bahwa motivasi adalah motif
yang sudah menjadi aktif pada saat tertentu. Sedangkan maksud dari motif adalah
daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan tertentu demi
mencapai suatu tujuan tertentu. Motivasi merupakan pendorongan suatu usaha
yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak
hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan
tertentu (Purwanto, 2004:71).
James O. Whitteker (dalam Wasty Soemanto, 1990:193) memberikan
pengertian secara umum mengenai penggunaan motivasi dibidang psikologi,
menurutnya motivasi ialah kondisi atau keadaan yang mengakibatkan atau
memberi dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang
ditimbulkan oleh motivasi tersebut.
Sedangkan Sumadi Suryabrata (2002:114) mengatakan motivasi sebagai
suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk
aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
Maslow (dalam Djaali, 2007:101) mengungkapkan bahwa kebutuhan dasar
hidup manusia itu terbagi atas lima tingkatan, yaitu kebutuhan fisiologis,
kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan akan harga diri dan kebutuhan
akan aktualisasi diri. Manusia memerlukan motivasi yang dapat memberikan
semangat dan kemampuan untuk mengerjakan sesuatu, begitu juga dengan pelajar
atau siswa sangat memerlukan adanya motivasi untuk belajar lebih giat lagi.
Dengan motivasi yang didapat dari orang tua dan guru maka siswa dapat
terdorong untuk melakukan kegiatan belajar.
Sebelum menguraikan apa yang dimaksud dengan motivasi belajar terlebih
akan diuraikan tentang beberapa pengertian tentang belajar. Pada hakekatnya
belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang
menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya sendiri, baik dalam bentuk
pengetahuan dan keterampilan baru maupun dalam bentuk sikap dan nilai yang
positif.
Winkel mendefinisikan belajar sebagai : Suatu aktivitas mental psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan
perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.
Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas.
Winkel (1991:36) memandang bahwa peristiwa belajar terjadi karena
adanya interaksi aktif antara individu dengan lingkungannya. Individu yang
dimaksud harus aktif sendiri, melibatkan diri dengan segala pemikiran, kemauan
dan perasaannya agar perubahan yang terjadi pada dirinya bersifat konstan dan
wajar.
Witherington (1992, dalam Usman Effendi dan S. Praja, 1985:103)
merumuskan pengertian belajar sebagai suatu perubahan dalam kepribadian,
sebagaimana yang dimanifestasikan dalam perubahan penguasaan pola-pola
respon atau tingkah laku yang baru, yang ternyata dalam perubahan keterampilan,
kebiasaan, kesanggupan atau pemahaman.
Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana
perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga
ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
Untuk
lebih
jelasnya
ada
beberapa
pendapat
para
ahli
yang
mengemukakan tentang pengertian belajar;
a. Menurut Slameto belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya (Syaiful, 1990:193).
b. Cronbach mengatakan (dalam Sumadi Suryabrata, 2002:231) belajar yang
sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu si pelajar
menggunakan panca inderanya.
c. Sedangkan Oemar Hamalik berpendapat bahwa belajar adalah suatu bentuk
pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam
cara-cara tingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Syaiful,
2004:13).
Belajar adalah suatu usaha untuk melakukan perubahan dengan cara-cara
tertentu seperti pengalaman, latihan, ketrampilan dan pemahaman yang dilakukan
untuk memperoleh suatu pengetahuan dalam interaksi dengan lingkungannya
yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Setelah mengetahui definisi motivasi dan belajar, untuk lebih jelas maka
terdapat suatu pendapat yang dikemukakan para ahli mengenai motivasi belajar:
Dimyati dan Mujiono (1999;97) memberikan pengertian bahwa motivasi
belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya yang
terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa.
Sedangkan menurut Sardiman (1992;73) mendeskripsikan bahwa motivasi
belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual, peranan yang khas
adalah dalam hal menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat untuk
belajar. Siswa yang mempunyai motivasi belajar kuat akan mempunyai banyak
energi untuk melakukan kegiatan belajar.
Motivasi belajar menurut W.S.Winkel (1991:92) adalah keseluruhan daya
penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar,
menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan
belajar itu demi mencapai suatu tujuan.
Dapat diambil pengertian bahwa motivasi belajar adalah suatu usaha untuk
mendorong keinginan individu agar tercapai suatu hasil yang diinginkan dalam
belajar. Motivasi belajar merupakan hal yang sangat penting dalam pelajaran di
sekolah. Seseorang akan berhasil apabila dalam belajar, kalau pada dirinya ada
keinginan untuk belajar. Keinginan atau dorongan inilah yang disebut dengan
motivasi belajar.
Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar
adalah suatu dorongan atau keinginan kuat untuk belajar yang terpengaruh oleh
kondisi psikologis dan fisiologis, untuk melakukan suatu tujuan yang sudah
ditentukan. Jadi seseorang akan berhasil jika melakukan suatu usaha dengan
perasaan senang dan tumbuh kegairahan dalam belajar, keinginan yang kuat untuk
melakukan tujuan dan mendapatkan hasil yang baik. Dalam proses belajar,
motivasi belajar sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai
motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Dasar
pertimbangan pemilihan teori motivasi menggunakan teori dari W.S. Winkel,
alasan mengapa dalam penelitian peneliti memilih teori dari W.S.Winkel ini
karena teorinya cukup sederhana, penjelasan yang singkat akan tetapi sudah
mencakup semua dan kalimatnya mudah dipahami.
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat diketahui bahwa Motivasi
belajar adalah suatu dorongan yang dapat mengubah tingkah laku individu untuk
melakukan suatu aktivitas belajar sehingga dapat mencapai tujuan tertentu.
Bentuk motivasi tersebut meliputi motivasi intrinsik yang timbul dari dalam diri
individu tanpa adanya pengaruh dari orang lain dan ekstrinsik merupakan
motivasi yang timbul dari luar diri individu karena adanya paksaan, ajakan
sehingga terpaksa untuk melakukan kegiatan belajar.
2. Teori-teori Motivasi
Dibawah ini disebutkan beberapa teori motivasi yaitu :
a. Teori Hedonisme
Hedonisme adalah bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan, atau
kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran di dalam filsafat yang memandang
bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan yang
bersifat duniawi.
Implikasi dari teori ini adalah adanya anggapan bahwa semua orang
cenderung menghindari hal-hal yang menyulitkan dan lebih menyukai melakukan
perbuatan yang mendapatkan kesenangan. Siswa di kelas merasa gembira dan
bertepuk tangan mendengar pengumuman dari kepala sekolah bahwa guru
matematika yang mereka benci tidak dapat mengajar karena sakit.
Menurut teori Hedonisme, para siswa harus diberi motivasi secara tepat
agar tidak malas belajar matematika, dengan cara memenuhi kesenangannya.
b. Teori Naluri
Naluri merupakan suatu kekuatan biologis bawaan, yang mempengaruhi
anggota tubuh untuk berlaku dengan cara tertentu dalam keadaan tepat. Sehingga
semua pemikiran dan perilaku manusia merupakan hasil dari naluri yang
diwariskan dan tidak ada hubungannya dengan akal.
Menurut teori naluri, seseorang tidak memilih tujuan dan perbuatan, akan tetapi
dikuasai oleh kekuatan-kekuatan bawaan yang akan dilakukan.
c. Teori Reaksi yang Dipelajari
Menurut teori ini, apabila seorang pemimpin atau seorang pendidik akan
memotivasi anak buah atau anak didiknya, pemimpin atau pendidik itu hendaknya
mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang-orang
yang dipimpinnya.
d. Drive Theory
Teori ini merupakan perpadanan antara teori naluri dengan teori reaksi
yang dipelajari. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya sesuatu
dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Misalnya suatu
daya pendorong pada lawan jenis. Semua orang dalam semua kebudayaan
mempunyai daya pendorong pada lawan jenis. Namun cara-cara yang digunakan
berlainlainan bagi tiap individu, menurut latar belakang dan kebudayaan masingmasing.
e. Teori Arousal
Teori ini dikemukakan oleh Elizabeth Duffy. Menurutnya, organisme tidak
selalu berusaha menghilangan ketegangan tetapi justru tidak sebaliknya, di mana
organisme berusaha meningkatkan ketegangan dalam dirinya
f. Teori Atribusi
Teori ini dikemukakan oleh kelompok teori kognitif yang berusaha
menggambarkan secara sistematik penjelasan-penjelasan perihal kenapa seseorang
berhasil atau gagal dalam suatu aktivitas. Misalnya, guru yang tidak enak
mengajar,
kesehatan
yang
tidak
optimal,
pelajaran
tidak
menarik,
ketidakberuntungan, kurang usaha, kurangnya kemampuan, pekerjaan terlalu sulit,
salah strategi dan lain-lain (Purwanto, 1988:187-192).
g. Teori Kebutuhan
Menurut Maslow, manusia memiliki lima tingkatan kebutuhan, yaitu:
1) Kebutuhan Fisiologis
Yaitu kebutuhan dasar yang bersifat primer dan vital, menyangkut
fungsifungsi biologis, seperti kebutuhan akan pangan, sandang dan papan,
kesehatan dan kebutuhan seks.
2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security).
Seperti perlindungan dari bahaya dan ancaman, penyakit, perang,
kelaparan,dan perlakuan tidak adil.
3) Kebutuhan sosial
Yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai
pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan dan kerja
sama.
4) Kebutuhan akan penghargaan
Termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, status,
pangkat.
5) Kebutuhan akan aktualisasi diri
Seperti antara lain kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki,
mengembangkan diri secara maksimum, kreativitas dan ekspresi diri.
Dari teori motivasi tersebut dapat disimpulkan bahwa teori motivasi itu
terdapat tujuh teori yaitu, teori hedonisme yang mengatakan bahwa manusia itu
memiliki tujuan hidup yang utama yaitu untuk mencari kesenangan.
Sedangkan teori naluri mempunyai naluri yang bersifat bawaan sehingga
semua pemikiran dan perilaku manusia merupakan hasil dari naluri, teori reaksi
yang dipelajari merupakan teori apabila akan memotivasi seseorang maka terlebih
dahulu harus mengetahui latar belakang baik kehidupan ataupun kebiasaannya.
Drive theory yaitu pendorong untuk melakukan kepada arah yang umum.
teori arousal yaitu peningkatan ketegangan pada seseorang. teori atribusi yang
menggambarkan penjelasan perihal keberhasilan dan kegagalan seseorang. teori
kebutuhan yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, social, penghargaan dan
aktualisasi diri.
Sebagaimana firman Allah dalam Surat Asy-Syam ayat 8:
Artinya: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) dan ketaqwaannya”
(Surat Asy-Syam 8).
Dijelaskan bahwa jiwa itu hidup dan memiliki berbagai kebutuhankebutuhan psikologis dan fisiologis. Dalam diri manusia tingkatan kebutuhan
tersebut selalu ingin dapat terpenuhi dan tidak akan puas dengan satu kebutuhan
saja.
3. Komponen Motivasi Belajar
Di bawah ini terdapat dua bentuk motivasi belajar menurut W.S Winkel
(1991:95) yaitu:
a. Motivasi Instrinsik
Bentuk motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri
tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri,
misalnya siswa belajar karena ingin mengetahui seluk beluk suatu masalah
selengkap-lengkapnya, ingin menjadi orang yang terdidik, semua keinginan itu
berpangkal pada penghayatan kebutuhan dari siswa berdaya upaya, melalui
kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan itu. Namun sekarang kebutuhan ini
hanya dapat dipenuhi dengan belajar giat, tidak ada cara lain untuk menjadi orang
terdidik atau ahli, lain belajar. Biasanya kegiatan belajar disertai dengan minat dan
perasaan senang.
W.S. Winkel mengatakan bahwa: “Motivasi Intrinsik adalah bentuk
motivasi yang berasal dari dalam diri subyek yang belajar” (W.S Winkel,
1991:95).
Namun terbentuknya motivasi intrinsik biasanya orang lain juga
memegang peran, misalnya orang tua atau guru menyadarkan anak akan kaitan
antara belajar dan menjadi orang yang berpengetahuan. Biarpun kesadaran itu
pada suatu ketika mulai timbul dari dalam diri sendiri, pengaruh dari pendidik
telah ikut menanamkan kesadaran itu. Kekhususan dari motivasi intrinsik ialah
kenyataan, bahwa satu-satunya cara untuk mencapai tujuan yang ditetapkan ialah
belajar.
b. Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena
ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang
demikian akhirnya ia mau belajar.
Winkel mengatakan “Motivasi Ekstrinsik, aktivitas belajar dimulai dan
diteruskan berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak
berkaitan dengan aktivitas belajar sendiri” (W.S. Winkel, 1991:94).
Perlu ditekankan bahwa dorongan atau daya penggerak ialah belajar,
bersumber pada penghayatan atau suatu kebutuhan, tetapi kebutuhan itu
sebenarnya dapat dipengaruhi dengan kegiatan lain, tidak harus melalui kegiatan
belajar. Motivasi belajar selalu berpangkal pada suatu kebutuhan yang dihayati
oleh orangnya sendiri, walaupun orang lain memegang peran dalam menimbulkan
motivasi itu, yang khas dalam motivasi ekstrinsik bukanlah ada atau tidak adanya
pengaruh dari luar, melainkan apakah kebutuhan yang ingin dipenuhi pada
dasarnya hanya dapat dipenuhi dengan cara lain. Berdasarkan uraian di atas maka
motivasi belajar ekstrinsik dapat digolongkan antara lain :
1. Belajar demi memenuhi kewajiban.
2. Belajar demi menghindari hukuman.
3. Belajar demi memperoleh hadiah materi yang dijanjikan.
4. Belajar demi meningkatkan gengsi sosial.
5. Belajar demi memperoleh pujian dari orang yang penting (guru dan orang
tua).
6. Belajar demi tuntutan jabatan yang ingin dipegang atau demi memenuhi
persyaratan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk motivasi
meliputi, motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik merupakan
motivasi yang tumbuh dari dalam individu sendiri tanpa ada paksaan dari orang
lain. Timbulnya motivasi yang ada dalam diri individu merupakan suatu
kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mencapai apa yang diinginkan untuk meraih
cita-cita dan menjadi orang yang terdidik, misalnya belajar tanpa disuruh untuk
belajar.
Sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang timbul dari
pengaruh orang lain. Jadi motivasi timbul karena adanya suatu paksaan, suruhan
dan ajakan, misalnya belajar karena diajak oleh teman, gengsi, untuk
mendapatkan pujian, untuk memenuhi kewajiban, sehingga individu terpaksa
untuk belajar.
4. Bentuk-bentuk Motivasi dalam Belajar
Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka
mengarahkan belajar anak didik, sebagai berikut:
a. Pemberian angka atau grade Angka
adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik.
Pemberian angka atau grade biasanya bervariasi, didasarkan atas
perbandingan interpersonal dalam prestasi akademis atau dari hasil
ulangan, ada anak yang mendapat angka baik dan anak yang mendapat
angka jelek. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan
rangsangan pada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih
meningkatkan prestasi belajar mereka di masa mendatang. Angka atau
nilai yang baik mempunyai potensi yang besar untuk memberikan
motivasi kepada anak didik untuk belajar lebih giat.
b. Pemberian penghargaan atau ganjaran
Teknik ini dianggap berhasil bila menumbuhkembangkan minat siswa.
Pemberian penghargaan dapat membangkitkan minat anak untuk
mempelajari atau mengerjakan sesuatu. Tujuan pemberian penghargaan
dalam belajar adalah bahwa setelah seseorang menerima penghargaan
karena telah melakukan kegiatan belajar dengan baik, ia akan terus
termotivasi untuk melakukan kegiatan belajarnya sendiri di luar kelas.
c. Kompetisi
Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk
mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar. Persaingan, baik
dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan.
Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar
mengajar yang kondusif. Untuk menciptakan suasana yang demikian,
metode mengajar memegang peranan. Guru bisa membentuk anak didik ke
dalam beberapa kelompok belajar di kelas, ketika pelajaran sedang
berlangsung. Semua anak didik dilibatkan ke dalam suasana belajar,
dengan guru bertindak sebagai fasilitator, sementara setiap anak didik aktif
belajar sebagai subjek yang mempunyai tujuan tertentu, sehingga masingmasing anak termotivasi sendiri untuk mencapai tujuannya itu.
d. Ego-Involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya
tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras
dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk
motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan sekuat
tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya.
Penyelesaian tugas dengan baik adalah symbol kebanggaan dan harga diri.
Begitu juga dengan anak didik sebagai subjek belajar. Anak didik akan
belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
e. Memberi ulangan
Ulangan bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya
menyiapkan diri jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. Oleh karena
itu, ulangan merupakan strategi yang cukup baik untuk memotivasi anak
didik agar lebih giat belajar.
f. Keberhasilan dan tingkat apresiasi
Istilah “tingkat apresiasi” menunjuk kepada tingkat pekerjaan yang
diharapkan pada masa depan berdasarkan keberhasilan atau kegagalan
dalam tugas-tugas yang mendahuluinya. Konsep ini berkaitan erat dengan
konsep seseorang tentang dirinya dan kekuatan-kekuatannya. Dalam
hubungan ini guru dapat menggunakan prinsip bahwa tujuan-tujuan harus
dapat dicapai dan para siswa merasa bahwa mereka akan mampu
mencapainya. Dengan mengetahui hasil yang mereka capai, anak didik
akan terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi bila hasil belajar itu
mengalami
kemajuan,
maka
anak
didik
akan
berusaha
untuk
mempertahankannya atau bahkan meningkatkan intensitas belajarnya.
g. Pujian
Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan sebagai alat
motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus
merupakan motivasi yang baik, guru bisa memanfaatkan pujian untuk
memuji keberhasilan anak didik dalam mengerjakan pekerjaan di sekolah.
Pujian diberikan sesuai dengan hasil kerja, bukan dibuat-buat atau
bertentangan sama sekali dengan hasil kerja anak didik. Pujian harus
diberikan secara merata kepada anak didik sebagai individu, bukan kepada
yang cantik atau yang pintar. Dengan begitu anak didik tidak antipati
terhadap guru, tetapi menganggapnya sebagai figure yang disenangi dan
dikagumi.
h. Hukuman
Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi bila dilakukan
dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan
efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan
pendekatan edukatif, bukan karena dendam. Pendekatan edukatif
dimaksud sebagai hukuman yang mendidik dan bertujuan memperbaiki
sikap dan perbuatan anak didik yang dianggap salah. Sehingga dengan
hukuman yang diberikan itu anak didik tidak mengulangi kesalahan atau
pelanggaran. Minimal mengurangi frekuensi pelanggaran, namun akan
lebih baik bila anak didik berhenti melakukannya di hari mendatang.
i.
Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar berarti ada unsure kesengajaan, ada maksud untuk
belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala kegiatan
tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu
memang ada motivasi untuk belajar, sehingga perlu dikembangkan dengan
menyediakan lingkungan belajar yang kreatif sebagai pendukung
utamanya. Disini motivasi ekstrinsik sangat diperlukan, agar hasrat untuk
belajar itu menjadi perilaku belajar.
j.
Minat
Minat berpengaruh besar terhadap aktivitas belajar. Anak didik yang
berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya dengan
sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya. Anak didik mudah
menghafalkan pelajaran yang menarik minatnya. Proses belajar akan
berjalan lancer bila disertai minat. Minat merupakan alat motivasi yang
utama yang dapat membangkitkan gairah belajar anak didik.
k. Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang ingin dicapai oleh guru, sebaiknya diberitahukan
kepada anak didik, sehingga tujuan yang diakui dan diterima baik oleh
anak didik merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan
memahami tujuan yang dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan
menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus belajar.
5. Motivasi Belajar Dalam Perspektif Islam
Motivasi adalah suatu keinginan atau dorongan yang terjadi didalam setiap
individu untuk memperoleh suatu tujuan yang diinginkan. Setiap manusia
mempunyai suatu dorongan yang ingin dicapainya. Dalam kitab suci Al-Qur’an
yang berbunyi:
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (allah);
(tetapkan atas) fitrah allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrahnya itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama
yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum
: 30)
Sebuah motif dalam wujud fitrah, sebuah potensi dasar. Potensi dasar yang
memiliki makna sifat bawaan, mengandung arti bahwa sejak diciptakan manusia
memiliki sifat bawaan yang menjadi pendorong untuk melakukan berbagai
macam bentuk perbuatan, tanpa disertai dengan peran akal, sehingga terkadang
manusia tanpa disadari bersikap dan bertingkah laku untuk menuju pemenuhan
fitrahnya.
Motivasi itu akan melahirkan tujuan belajar, minat terhadap belajar,
kepercayaan pada diri sendiri dan keuletan yang dimiliki oleh siswa. Oleh sebab
itu motivasi memiliki pengaruh besar terhadap prestasi belajar siswa di sekolah.
Motivasi apapun yang dilakukan siswa maka dialah yang berhak
mengenyam buah keberhasilan sesuai dengan jerih payahnya. Hal itu sebagaimana
firman Allah dalam surat Al-Zilzilah: 7-8, yang menjelaskan tentang pentingnya
setiap orang bertanggung jawab terhadap setiap niat atau motivasi, usaha dan hasil
karyanya:
Artinya: Barang siapa yang mengerjakan sesuatu amal kebajikan seberat atom
pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang
mengerjakan perbuatan jahat seberat atom pun niscaya dia akan melihat
balasannya pula.
Kata niat jika disejajarkan lebih tinggi daripada motivasi karena motivasi
seorang muslim harus timbul karena niat pada Allah. Pada prakteknya kata
motivasi dan niat hampir sama-sama dipakai dengan arti yang sama, yaitu bisa
kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dorongan (drive) atau
kekuatan. Walaupun dalam bahasa inggris intention diartikan niat dan motivation
dengan motivasi namun dalam berbagai penelitianpun kata motivasi yang
digunakan. Memurnikan niat karena Allah semata merupakan landasan amal yang
ikhlas.
Maksud niat disini adalah pendorong kehendak manusia untuk
mewujudkan suatu tujuan yang dituntutnya. Allah SWT menyebutkan pada
sebagian ayat Al-Quran tentang motivasi-motivasi fisiologis terpenting yang
berfungsi menjaga individu dan kelangsungan hidupnya. Misalnya lapar, dahaga,
bernapas dan rasa sakit. Dalam Surat Thaha ayat 117-121 tiga motivasi terpenting
untuk menjaga diri dari lapar, haus, terik matahari, cinta, kelangsungan hidup,
ingin berkuasa.
Sebagian ayat al-Qur’an menunjukkan pentingnya motivasi memenuhi
kebutuhan perut dan perasaan takut dalam kehidupan. Allah SWT menyebutkan
pada sebagian ayat Al-Quran tentang motivasi-motivasi fisiologis terpenting yang
berfungsi menjaga individu dan kelangsungan hidupnya. motivasi psikologis yang
dipelajari manusia di tengah pertumbuhan sosialnya, di dalam fase pertumbuhan,
berkembang kecenderungan individu untuk memiliki, berusaha memiliki harta
yang dapat memenuhi kebutuhan dan jaminan keamanan hingga masa yang akan
datang.
Motivasi adalah kuatnya dorongan dari dalam diri yang membangkitkan
semangat pada manusia yang kemudian hal itu menciptakan adanya tingkah laku
dan mengarahkannya pada suatu kesuksesan. Motivasi itu menjalankan fungsi
utama bagi manusia di mana ia mendorong untuk lebih bertanggung jawab dengan
memenuhi kebutuhan hidup yang hakiki dan eksistensi dirinya.
Al-Qur’an memerintahkan orang-orang beriman, yang mempunyai
kemampuan fisik untuk bekerja keras dan selalu mencari ilmu. Allah juga
menjanjikan pertolongan bagi siapa saja yang berjuang dan berlaku baik dalam
kehidupannya seperti yang difirmankan oleh Allah dalam Surat Al-Ankabut ayat
69 :
Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benarbenar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Al-Qur’an Surat Al-Qashas ayat 77 di jelaskan bahwa:
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Dijelaskan bahwasannya setiap manusia berusaha untuk mencari apa yang
sudah dianugerahkan kepada Allah, dengan dorongan untuk memenuhi kebutuhan
hidup yaitu kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikologis di
dunia, maka manusia berusaha mencari semua apa yang berguna dan yang
diinginkan yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT di dunia. Dan manusia
tidak
boleh
melupakan
kebahagiaan
di
akhirat
ketika
Allah
telah
menganugerahkan kenikmatan.
Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang manusia sebagai makhluk yang
direncanakan Allah SWT untuk berusaha. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an
tersebut dapat disimpulkan tentang potensi manusia untuk memotivasi diri dan
mencapai tujuan yang diinginkan.
C. Pembelajaran Bahasa Indonesia
1. Pengertian Pembelajaran Bahasa Indonesia
Untuk mengetahui pengertian bahasa, kita meninjau dari dua segi, yaitu
dari segi teknis dan segi praktis. Secara teknis, bahasa adalah seperangkat ujaran
yang bermakna, yang dihasikan dari alat ucap manusia. Pengertian secara praktis,
bahasa merupakan alat komunikasi antara anggota masyarakat yang berupa sistem
lambing bunyi yang bermakna, yang dihasilkan dari alat ucap manusia.
Dari pengertian secara praktis ini dapat kita ketahui bahwa bahasa dalam
hal ini mempunyai dua aspek, yaitu aspek sistem (lambang) bunyi dan aspek
makna. Bahasa disebut sistem bunyi atau sistem lambang bunyi karena bunyibunyi bahasa yang kita dengar atau kita ucapkan itu sebenarnya bersistem atau
memiliki keteraturan.
Dalam hal ini istilah sistem bunyi hanya terdapat didalam bahasa lisan,
sedangkan didalam bahasa tulis bahasa sistem bunyi itu digambarkan dengan
lambang-lambang tertentu yang disebut huruf. Dengan demikian bahasa selain
dapat disebut sistem bunyi, juga disebut system lambang. (Mustakim, 1994 : 2)
2. Fungsi Pembelajaran Bahasa Indonesia
Fungsi Bahasa Indonesia adalah sebagai wahana komunikasi bagi
manusia, baik komunikasi lisan maupun komunikasi tulis. Fungsi adalah fungsi
dasar bahasa yang belum dikaitkan dengan status dan nilai-nilai sosial. Dalam
kenyataan sehari-hari, bahasa tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat,
yang didalamnya sebenarnya terdapat status dan nilai-nilai sosial. Bahasa selalu
mengikuti dan mewarnai kehidupan manusia sehari-hari, baik manusia sebagai
anggota suku maupun bangsa. (Imam, 1990 : 1)
Didalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia
berfungsi sebagai berikut:
a. Sebagai lambang kebangaan nasional
b. Sebagai lambang jati diri atau identitas nasional
c. Sebagai alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang
sosial,budaya, dan bahasanya
d. Sebagai alat perhubungan antarbudaya dan antar daerah. (Mustakim, 1990
: 14)
Adapun fungsi pembelajaran Bahasa Indonesia seperti dipaparkan
dibawah ini:
a. Untuk
meningkatkan
produktivitas
pendidikan,
denagan
jalan
mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan
waktunya secara lebih baik, dan mengurangi beban guru dalam
menyajikan
informasi,
sehingga
dapat
lebih
banyak
membina
danmengembangkan gairah belajar siswa.
b. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual,
dengan jalan mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional, serta
memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan
kemampuannya.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, denganjalan
perencanaan
program
pendidikan
yang
lebih
sistematis,
serta
pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi pleh penelitian oleh
prilaku.
d. Lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan menongkatkan kemampuan
manusia dengan berbagai media komunikasi, serta penyajian informasi dan
data secara lebih konkrit.
e. Memungkinkan belajar secara seketika, karena dapat mengurangi jurang
pemisah antara pelajran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas
yang sifatnya konkrit, serta memberikan pengetahuan yang sifatnya
langsung.
f. Memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih luas, terutama dengan
alat media massa. (Solchan, 1996 : 4)
3. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran bahasa indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut:
a.
Berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang
berlaku, baik secara lisan maupun tulis
b.
Menghargai dan bangga menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa
persatuan dan bahasa negara
c.
Memehami bahasa indonesia dan menggunakan dengan tepat dan kreatif
untuk berbagai tujuan
d.
Menggunakan
bahasa
indonesia untuk
meningkatkan kemampuan
intelektual, serta kematangan emosionaldan sosial
e.
Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,
memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemapuan
bahasa
f.
Menghargai dan membanggakan sastra indonesia sebagai khasanah
budaya dan intelektual manusia indonesia. .(Solchan, 1996 : 6)
4. Aspek-Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran bahasa indonesia terdiri dari beberapa aspek-aspek sebagai
berikut:
a. Mendengarkan
Kegiatan mendengar adalah kegiatan yang utama dan pertama bagi orang
yang belajar bahasa. Anak sejak semula belajar bahasa dari orang tuanya
dengan jalan mendengar. Dengan kegiatan mendengar maka siswa-siswa
dapat melakukan kegiatan meniru,menangkap, dan melakukan yang
didengarkannya.
b. Berbicara
Kegiatan berbicara adalah kegiatan yang sifatnya produktif setelah
kegiatan mendengar dilakukan. Tujuan pembelajaran berbicara pada
umumnya ialah agar menggunakan bahsa secara lisan. Supaya kegiatan
berbicara itu efektif.
c. Membaca
Kegiatan membaca dapat dimulai setelah siswa mengenal huruf. Membaca
dalam pengertian bahasa pemulaan seringkali siswa-siswa diajar
“membaca gambar” atau menceritakan yang dilihatnya pada gambar
sebelum mengenal huruf. Kegiatan demikian disebut “kegiatan membaca
gambar”.
d. Menulis Kegiatan belajar yang tercangkup dalam kegiatan menulis adalah:
1) Menyalin
Kegiata menyalin adalah kegiatan yang ditujukan kepada keterampilan
menulis.
2) Mengarang
Mengarang berarti merangkai atau menyusun hasil pikiran dalam
bahasa tulis. Dapat diartikan juga mengarang adalah menuliskan hasil
pikiran-pikiran mengenai yang didengar, dilihat atau dialami.
3) Dikte
Pelajaran dekte juga termasuk kegiatan menulis. Yang ditulis adalah
bahasa lisan yang diungkapkan oleh guru. Oleh karena itu dekte juga
termasuk kegiatan mendengar. ( Broto, 1980 : 208 )
D. Pengaruh Token Economy Terhadap Motivasi Belajar
Seorang
Guru,
seringkali
merasa kebingungan
bagaimana
harus
mengontrol perilaku anak didiknya. Kadang kali guru dan orang tua merasa
frustasi dengan tingkah laku anak. Mereka sungguh kebingungan bagaimana cara
menghentikan perilaku negatif anak. Sering dijumpai reaksi guru atau orang tua
yang muncul adalah membentak, menaikan tekanan suara, berteriak, bahkan
melakukan kekerasan fisik pada anak misalnya mencubit, menampar, menarik
rambut, memukul atau menekan bagian tubuh anak dengan kencang dan berbagai
tindak keras lainnya. Tindak kekerasan ini baik secara fisik ataupun mental kini
dikenal sebagai bullying. Dan di Indonesia tindakan ini sudah dipikirkan sebagai
tindakan melanggar hukum.
Anak masih belajar mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Apabila
kita hanya memberikan reaksi negatif saja pada anak maka banyak resiko dan
dampak buruk yang yang akan muncul. Mulai self-concept, percaya diri, selfefficacy akan menjadi lemah, menjadi agresif ; berperilaku keras pada
lingkungannya, mengalami hambatan yang serius dalam perkembangannya dan
bisa jadi anak akan mengalami gangguan jiwa apabila terus menerus mengalami
kekerasan mental maupun fisik.
Anak juga perlu dihargai, layaknya seperti kita merasa perlu dihargai atas
pekerjaan atau perilaku baik yang kita lakukan (golden rules), kita sering berpikir
kita ingin diperlakukan orang seperti kita memperlakukan orang dengan baik,
begitu pula anak-anak juga ingin dihargai diberikan penguatan. ( Eko, 2005 : 2)
Pola didik guru dan orang tua di Indonesia menurut saya masih dibilang
primitif karena sikap guru dan orang tua masih reaktif menanggapi perilaku anak
dengan perilaku yang tanpa dipikirkan lebih jauh lagi. Apabila saat ini generasi
Indonesia dibilang tidak kompetitif dengan negara lain ini juga karena pengaruh
pola didik yang masih primitif, sehingga kualitas soft-skiil masih tertinggal karena
sisi afektif anak tidak pernah diperhatikan dengan baik. Tentu kita ingin
menyelamatkan anak dan bangsa kita, dengan salah satu teknik Token Economy
kita dapat mendidik dengan baik.
Menurut De Decce dan Grawford (1974), menyatakan bahwa ada empat
fungsi guru sebagai pengajar yang berhubungan dengan cara pemeliharaan dan
peningkatan motivasi belajar anak didik, untuk tercapainya tujuan pengajaran:
1. Menggairahkan anak didik
Dalam proses belajar mengajar, guru harus berusaha menghindari hal-hal yang
monoton dan membosankan. Guru harus memelihara minat anak didik dalam
belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu kepada anak didik untuk
berpindah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam situasi belajar.
2. Memberikan harapan realistis
Guru harus bisa memelihara harapan-harapan anak didik yang realistis dan
memodifikasi harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis. Harapan yang
diberikan harus yang bisa dijangkau oleh anak didik dan dengan pertimbangan
yang matang.
3. Memberikan insentif
Guru diharapkan memberikan hadiah kepada anak didik yang mengalami
keberhasilan, baik berupa pujian, angka yang baik, dan sebagainya. Sehingga anak
didik terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan
pengajaran.
4. Mengarahkan perilaku anak didik
Guru dituntut untuk bisa mengarahkan perilaku anak didik dengan cara
memberikan respon terhadap anak didik yang tidak terlibat langsung dalam
kegiatan belajar di kelas, misalnya anak yang pendiam, yang membuat keributan,
yang berbicara semaunya dan sebagainya, harus diberikan teguran secara arif dan
bijaksana. Menghentikan perilaku anak didik yang negatif dengan memberi gelar
yang tidak baik adalah kurang manusiawi. Cara mengarahkan perilaku anak didik
adalah dengan memberikan penugasan, mendekatinya, memberikan hukuman
yang mendidik, menegur dengan sikap lemah lembut dan dengan perkataan yang
baik.
E. Penelitian Terdahulu
Hasil studi kepustakaan pelaksanaan token ekonomy tidak selalu berhasil
menghasilkan prilaku siswa sebagaimana yang diharapkan. Di Amerika sistem ini
hanya dapat berhasil dilakukan oleh 40% guru saja (Rosen, Taylor, O’Leary, &
Sanderson, 1990). Hasil kajian itu menunjukan bahwa program intensifikasi
belajar Token economy dalam kelas tidak selalu siswa perlukan bahkan tidak
diperlukan oleh sebagian besar siswa.
Dalam Penelitian Anita A’isah, Prasetyo Budi Widodo, Imam Setyawan
Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Dalam Jurnalnya Yang Berjudul
“pengaruh penerapan metode modifikasi perilaku Token economy terhadap
regulasi diri siswa Peserta mata pelajaran matematika” Menunjukkan bahwa
Perlakuan Modifikasi Perilaku Token Economy Dapat Meningkatan Regulasi Diri
Siswa Yaitu Siswa Peserta Mata Pelajaran Matematika Di SDN Srondol 02
Banyumanik.
Pada dasarnya program ini tidak mudah dilaksanakan, memerlukan banyak
waktu, memerlukan banyak latihan serta perlu panduan konsultan serta melakukan
perbaikan berulang-ulang sehingga guru terampil memacu siswa melalui
pemberian penghargaan yang dihargai oleh para siswa sehingga siswa benar-benar
menyukainya, dan dapat termotivasi.
F. Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara
terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul
(Arikunto, 2006:71). Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh metode
token economy terhadap motivasi belajar siswa. Artinya apabila metode token
economy baik untuk diterapkan maka motivasi belajar siswa akan bernilai tinggi.
Dan sebaliknya apabila metode token economy buruk untuk diterapkan maka
motivasi belajar siswa akan bernilai rendah.
Download