universitas indonesia asuhan keperawatan keluarga bapak r

advertisement
UNIVERSITAS INDONESIA
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK R DENGAN MASALAH
KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI KURANG DARI KEBUTUHAN
TUBUH PADA BALITA DI RW 07 KELURAHAN CISALAK PASAR
KECAMATAN CIMANGGIS KOTA DEPOK
KARYA ILMIAH AKHIR NERS
WIJI SARASWATI
1006823601
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
DEPOK
JULI 2013
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
UNIVERSITAS INDONESIA
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK R DENGAN MASALAH
KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI KURANG DARI KEBUTUHAN
TUBUH PADA BALITA DI RW 07 KELURAHAN CISALAK PASAR
KECAMATAN CIMANGGIS KOTA DEPOK
KARYA ILMIAH AKHIR NERS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar ners
WIJI SARASWATI
1006823601
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
DEPOK
JULI 2013
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
HAI"AMAN PtrR}TYATAAN MI$NALITAS
Karya Ilmiah Akhir ini adalah hasil karya saya sendiri,
dan semua sumber
taik f1S dikutip maupun dirujuk
telah saya nyat*an dengan benar.
Nama
Wiji Saraswati, S.Kep.
NPM
Tanda Tangan
Tanggal
9 Juli 2013
Unlvortltas lndonr*la
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Ilmiah Akhir ini diajukan oleh:
Nama
Wiji Saraswati, S.Kep
NPM
r006823601
Program Studi
Profesi Ners
Judul Karya Ilmiah Akhir
Asuhan Keperawatan Keluarga Bapak R dengan
Masalah Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan Tubuh pada Balita di R\Y 07 Kelurahan
Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok-
Telah berhasil dipertahankan di h*dapan Dewan Penguii dan diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan unfuk memperoleh gelar Ners
Keperawatan pada Program Studi Sarjan* Profesi IImu Keperawatan,
Fakultas llmu Keperawatan Universitas Indonesia
DEWA}T PENGUJI
Pembimbing
Ns. Tri Widyastuti H, S.Kep
Penguji
Ns. Dwi Cahya Rahmadiyah, S.Kep
1
Penguji 2
Ns. Jajang Rahmat, S.Kep., M-KeP
Ditetapkan di
Depok
Tanggal
09 Juli 2013
llt
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
?d.[^0
UI
+=
Univensitias lndonesia
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karuniaNya sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir yang berjudul
“Asuhan
Keperawatan
Keluarga
Bapak
R
dengan
Masalah
Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Balita di
RW 07 Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok”. Karya
Ilmiah Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar ners.
Penulis mendapatkan banyak dukungan, arahan, bimbingan, dan doa dari berbagai
pihak dalam penyusunan Karya Ilmiah ini. Untuk itu, dalam kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Dewi Irawaty, MA, PhD, selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia.
2. Ibu Riri Maria, S.Kp., MANP, selaku koordinator Mata Ajar Karya Ilmiah
Akhir.
3. Ibu Ns. Tri Widyastuti, S.Kep., selaku pembimbing karya ilmiah saya yang
selalu sabar dalam memberikan arahannya selama pembuatan karya ilmiah ini.
4. Ibu Ns. Dwi Cahya Rahmadiyah, S.Kep., selaku dosen penguji I.
5. Bpk. Ns. Jajang Rahmat., S.Kep., M.Kep., selaku dosen penguji II.
6. Dr. Hendrik Alamsyah, Kepala Puskesmas Kecamatan Cimanggis Kota
Depok, yang telah memberikan izin sehingga karya ilmiah ini dapat
terlaksana.
7. Sri Rahayu, S.Kep., dan Ponsinah, S.Kep., teman seperjuangan sesama peserta
tugas belajar PemProv. DKI Jakarta.
8. Kedua orang tua dan mertuaku tercinta untuk dukungan, doa dan restunya.
9. Suami tercinta, matahariku, Supriyanto, dan sun shines; Caca, Dea, Rafi, dan
Arsya, sumber inspirasiku yang selalu memberikan semangat dan doa kepada
penulis untuk terus maju.
iv
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
10. Teman-teman profesi peminatan komunitas, “Pioneer Perkesmas” yang saya
cintai yang selalu menguatkan dan saling mendukung selama proses
pembelajaran.
11. Serta semua pihak yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun
tidak langsung yang tak dapat disebutkan namanya satu persatu.
Penulis menyadari keterbatasan dan kekurangan dalam penyusunan skripsi ini,
Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan dalam
penulisan Karya Ilmiah selanjutnya. Akhirnya, semoga karya ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi seluruh pembaca.
Depok, Juli 2013
Penulis
v
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
ABSTRAK
Nama
Program Studi
Judul
: Wiji Saraswati, S.Kep.
: Profesi Ners
: Asuhan Keperawatan Keluarga Bapak R dengan Masalah
Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
Di RW 07 Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis
Kota Depok
Gizi kurang pada balita merupakan salah satu masalah kesehatan pada masyarakat
perkotaan akibat faktor sosial ekonomi dan kemiskinan. Karya ilmiah akhir ini
menggambarkan asuhan keperawatan keluarga Bapak R dengan masalah
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada balita. Tingkat
pengetahuan ibu yang rendah dan asupan makanan yang tidak adekuat
menyebabkan masalah gizi kurang pada An. M. Implementasi inovasi berupa
Penyusunan menu makanan dengan gizi seimbang dan pembuatan makanan
selingan kaya energi dan protein pada balita diberikan selama 6 minggu. Hasil
evaluasi yang dilakukan, An. M mengalami peningkatan berat badan sebanyak
500 gram dan status gizinya meningkat menjadi normal.
Kata kunci: balita, gizi kurang, gizi seimbang, makanan selingan.
vii
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
ABSTRACT
Name
Courses
Title
: Wiji Saraswati, S.Kep.
: Professional Nurses.
: The Family Nursing Care of Mr. R With Nutritional Imbalance Less
Than Body Requirements Problems In Toddler In RW 07 Kelurahan
Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok
Underweight among children under five is one of the health problems in urban communities
due to socio-economic factors and poverty. This final scientific papers describe the family
nursing care of Mr. R with nutritional imbalance less than body requirements problems in
toddlers. A low level of mother knowledge and inadequate food intake causes underweight
among children. Nursing intervention that become the main intervention is arranging a
balance nutrition menu and making a healthy food which rich of energy and protein in
toddler given for 6 weeks. the results of evaluation conducted, the body weight of children
has increased as much as 500 grams and his nutritional status increased to normal.
Key word: underweight, todler, balanced nutrition, healthy food.
viii
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ...................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................iii
KATA PENGANTAR ..............................................................................................iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .............................vi
ABSTRAK ................................................................................................................vii
ABSTRACT ..............................................................................................................viii
DAFTAR ISI .............................................................................................................ix
DAFTAR TABEL ....................................................................................................xi
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................xii
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah ....................................................................................4
1.4 Tujuan Penulisan .........................................................................................5
1.4.1 Tujuan Umum ...................................................................................5
1.4.2 Tujuan Khusus ..................................................................................5
1.5 Manfaat penelitian ......................................................................................5
1.5.1 Pelayanan Kesehatan .........................................................................5
1.5.2 Institusi Pendidikan ...........................................................................6
1.5.3 Keilmuan/Penelitian Keperawatan ....................................................6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................7
2.1 Konsep Perkotaan ........................................................................................7
2.1.1 Definisi ................................................................................................7
2.1.2Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Masyarakat
Perkotaan ............................................................................................8
2.2 Keluarga dengan Balita ...............................................................................9
2.2.1 Masalah Gizi pada Balita ....................................................................11
2.2.2 Peran Perawat Keluarga ......................................................................16
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Gizi Kurang.....................18
2.3.1 Definisi ................................................................................................18
2.3.2 Proses Keperawatan Keluarga ............................................................19
BAB 3 LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA .............................................30
3.1 Pengkajian Keperawatan ..............................................................................30
3.2 Diagnosis Keperawatan................................................................................33
3.3 Perencanaan Keperawatan ...........................................................................33
3.4 Implementasi Keperawatan ..........................................................................35
3.5 Evaluasi Keperawatan ..................................................................................38
3.5.1 Evaluasi Formatif ................................................................................39
3.5.2 Evaluasi Sumatif .................................................................................41
3.5.3 Evaluasi Tingkat Kemandirian Keluarga ............................................41
ix
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
BAB 4 ANALISIS SITUASI....................................................................................42
4.1 Profil Lahan Praktek ....................................................................................42
4.2 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep dan Penelitian terkait
KKMP dan Konsep Kasus Terkait ...............................................................45
4.3 Analisis Intervensi Inovasi Unggulan dengan Konsep dan Penelitian
terkait ...........................................................................................................47
4.4 Alternatif Pemecahan yang dapat dilakukan ................................................48
BAB 5 PENUTUP.....................................................................................................50
5.1 Kesimpulan ...................................................................................................50
5.2 Saran .............................................................................................................52
5.2.1 Kader Posyandu .................................................................................52
5.2.2 Tenaga Kesehatan ..............................................................................52
5.2.3 Keluarga dengan Balita .....................................................................53
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
DAFTAR TABEL DAN DIAGRAM
Tabel
2.1
:
Kategori dan ambang batas status gizi anak berdasarkan
indeks............................................................................................ 21
Tabel
2.2
:
Skoring prioritas masalah keluarga ............................................
xii
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
24
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Laporan asuhan keperawatan keluarga Bapak R
xiii
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kawasan perkotaan merupakan wilayah non rural dengan tingkat kepadatan
penduduk
yang tinggi (Stanhope & Lancaster, 2004). Bintarto (1989)
mengatakan perkotaan memiliki karakteristik kepadatan penduduknya yang
tinggi dan diwarnai dengan strata sosial-ekonomi yang heterogen dan
coraknya
yang
materialistis.
Kepadatan
penduduknya
yang
tinggi
menyebabkan tingginya persaingan sosial ekonomi pada masyarakat
perkotaan. Golongan yang mampu makin berkuasa dan makin kaya sedangkan
golongan miskin bertambah miskin (Sarlito, 1992). Krisis ekonomi yang
berkepanjangan
sejak
tahun
1997
dan
persaingan
sosial
ekonomi
menyebabkan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan yang pada
akhirnya menimbulkan banyaknya masalah kesehatan pada masyarakat
perkotaan (BPPN, 2007).
Masalah kesehatan yang muncul beraneka ragam, salah satunya masalah gizi.
Allender, Rector, dan Warner, (2010) mengatakan bahwa masalah
perekonomian akibat kehilangan pekerjaan dan krisis ekonomi maupun akibat
dari harga yang melambung berdampak terhadap ketidaktersediaan pangan
dan sulitnya akses terhadap bahan pangan yang bermutu. Balita merupakan
salah satu kelompok yang rentan terhadap masalah gizi kurang karena faktor
sosial ekonomi dan kemiskinan (Hitchcock, Schubert, & Thomas,1999).
Anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami resiko kurang gizi karena
keterbatasan suplai makanan, keterbatasan akses terhadap makanan, faktor
orang tua dengan keterbatasan pendidikan, pilihan gaya hidup yang tidak
sehat, dan kurangnya informasi dan akses kesehatan (Hitchcock, Schubert, &
Thomas,1999). DEPKES (2008) dalam Hidayati, (2011) mengatakan asupan
makan balita yang kurang dari kebutuhan dan kebiasaan keluarga yang kurang
Universitas Indonesia
1
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
2
sehat dalam memberikan asupan makanan pada balita dapat mempengaruhi
pemenuhan gizi balita (DEPKES, 2008, dalam Hidayati, 2011). Masalah gizi
kurang pada balita ini dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan
balita jika tidak segera ditangani, sehingga dibutuhkan suatu upaya untuk
menurunkan angka gizi kurang pada balita.
Prevalensi balita dengan masalah gizi kurang di dunia menurut WHO (2012)
diperkirakan sebesar 16 % tahun 2011, menurun sebanyak 36 % dari estimasi
di tahun 1990. Balita dengan masalah gizi kurang di Indonesia sejak tahun
1989 sampai dengan 2000 mengalami penurunan dari 31,17 5 menjadi 17,13
% namun meningkat kembali menjadi 19,24 % pada tahun 2005 (BPPN,
2007). Data prevalensi balita gizi kurang di Indonesia tahun 2010 berdasarkan
BB/U sebesar 4,9 % untuk kategori gizi buruk dan 13 % untuk kategori gizi
kurang dan 21 %-nya tinggal di wilayah perkotaan, sedangkan prevalensi gizi
kurang pada provinsi Jawa Barat berdasarkan BB/U sebanyak 3,1 % untuk
gizi buruk dan 9,9 % untuk kategori gizi kurang (RISKESDAS, 2010).
Laporan penanganan gizi buruk Dinas Kesehatan Kota Depok Tahun 2005
mencatat dari 114.980 balita, didapatkan 1.133 balita (1,03 %) mengalami
gizi buruk dan 9.714 balita (8,8 %) mengalami gizi kurang (Fitriyani, 2009).
Balita yang tinggal di wilayah Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis
Kota Depok mengalami gizi kurang sebanyak 25 % dari 56 balita yang
diambil secara acak (random sampling) pada tahun 2013 oleh mahasiswa
residensi FIK UI. Hasil skrining yang dilakukan mahasiswa profesi ners
Tahun 2013 terhadap 183 balita yang tinggal di wilayah RW 07 Kelurahan
Cisalak
Pasar
Kecamatan
Cimanggis
Kota
Depok
dan
melakukan
penimbangan di posyandu pada bulan Mei 2013 sebanyak 5 balita (2,73 %)
mengalami gizi buruk dan 7 balita (3,83 %) mengalami gizi kurang. Angka
gizi kurang yang masih tinggi tersebut membutuhkan upaya dari berbagai
pihak untuk mengatasinya.
Indonesia bersama 189 negara anggota PBB turut serta dalam deklarasi
pembangunan milennium yang berpihak pada pemenuhan hak-hak dasar
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
3
manusia yang mengarah kepada peningkatan kualitas hidup manusia atau yang
dikenal sebagai Milennium Development Goals strategy (MDGs) melakukan
berbagai upaya untuk menurunkan prevalensi balita gizi kurang dan gizi buruk
dan menjadikannya sebagai salah satu indikator pencapaian targetnya (BPPN,
2007). Upaya penanggulangan masalah gizi tersebut meliputi berbagai bidang
seperti pertanian, pendidikan, dan ekonomi. Upaya yang dilakukan di
antaranya yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan
berpihak pada penanggulangan kemiskinan yang salah satunya melalui
menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok seperti beras serta revitalisasi
pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah; dan meningkatkan akses
masyarakat miskin terhadap pendidikan, kesehatan, dan gizi, termasuk
keluarga berencana (BPPN, 2007). Dinas Kesehatan Kota Depok sendiri telah
melakukan program penyuluhan, pemantauan dan perbaikan gizi melalui
pemberian makanan tambahan terhadap 600 balita selama 90 hari sebagai
upaya mengatasi masalah gizi kurang pada balita (Anonim, 2008, dalam
Fitriyani, 2009). Upaya yang dilakukan melibatkan berbagai tatanan
masyarakat dan salah satunya keluarga melalui asuhan keperawatan keluarga
sebagai salah satu pendekatan untuk menangani masalah gizi pada balita.
Penelitian Widyatuti (2001) mengatakan bahwa asuhan keperawatan keluarga
dapat meningkatkan status gizi pada balita melalui peningkatan pengetahuan
dan keterampilan keluarga dalam pemenuhan gizi balita.
Asuhan keperawatan keluarga komprehensif merupakan proses yang
kompleks, yang memerlukan pendekatan logis dan sistematis dalam bekerja
bersama keluarga dan individu anggota keluarga (Friedman, Bowden & Jones,
2003). Teori model asuhan keperawatan terhadap keluarga beraneka ragam,
namun teori model asuhan keperawatan yang digunakan perawat dalam
melakukan asuhan keperawatan kepada keluarga kali ini yaitu Teori Model
Family Centre Nursing (FCN) menurut Friedman atau asuhan yang berpusat
pada keluarga. Proses keperawatan dalam asuhan keperawatan keluarga model
FCN meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, intervensi dan
evaluasi (Friedman, Bowden & Jones, 2003).
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
4
An. M (35 bulan) merupakan anak ke-tujuh dari keluarga Bpk. R (45 tahun)
yang mengalami masalah ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhan
tubuh. Berat badan An. M berdasarkan BB/U Standar Gizi Nasional
Kemenkes Tahun 2011 berada pada range -3SD sampai dengan -2SD atau
kategori gizi kurang. An. M mengalami sulit makan. Ia cenderung pilih-pilih
dalam mengkonsumsi makanan dan
berdasarkan pengamatan perawat,
makanan yang dikonsumsi An. M tidak sesuai baik secara kualitas maupun
kuantitas sehingga An. M mengalami masalah gizi.
Upaya yang sudah dilakukan perawat untuk mengatasi masalah gizi kurang
pada An. M meliputi meningkatkan pengetahuan keluarga tentang gizi kurang
dan manfaat gizi seimbang pada balita, cara pemilihan dan pengolahan bahan
makanan yang sehat, penyusunan menu makanan dengan gizi seimbang dan
pembuatan makanan selingan kaya energi dan protein pada balita.
Implementasi unggulan yang merupakan inovasi perawat yaitu penyusunan
menu makanan dengan gizi seimbang dan pembuatan makanan selingan kaya
energi dan protein pada balita. Penelitian Fitriyani (2009) mengatakan salah
satu cara untuk meningkatkan dan merubah status gizi balita, diantaranya
melalui pemberian makanan camilan yang sehat. Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (BPPN, (2007)). mengungkapkan bahwa hal utama
untuk memperbaiki gizi pada balita yaitu salah satunya melalui pemenuhan
energi protein pada balita. Hasil yang diperoleh yaitu, An. M menunjukkan
kenaikan berat badan sebesar 500 gram setelah dilakukan implementasi
keperawatan tersebut selama 5 minggu.
1.2.Rumusan Masalah.
Tingginya prevalensi masalah gizi kurang dan gizi buruk pada balita,
khususnya balita yang tinggal di wilayah RW 07 Kelurahan Cisalak Pasar
Kecamatan Cimanggis Kota Depok yaitu berjumlah 12 orang. Beragam upaya
telah dilakukan pemerintah Kota Depok seperti program penyuluhan,
pemantauan dan perbaikan gizi melalui pemberian makanan tambahan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
5
terhadap 600 balita selama 90 hari namun belum mengatasi masalah gizi di
wilayah Kota Depok. Perawat merasa tertarik memberikan asuhan
keperawatan keluarga terhadap keluarga Bpk. R khususnya An. M dengan
masalah ketidakseimbangan nutrisi pada balita.
1.3.Tujuan Penulisan.
1.3.1. Tujuan Umum.
Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan keluarga pada
keluarga Bpk. R khususnya An. M dengan masalah keperawatan
“Ketidakseimbangan nutrisi pada balita”
1.3.2. Tujuan Khusus.
Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan keluarga yang
telah diberikan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan
yang terdiri dari:
a. Pengkajian keperawatan keluarga yang meliputi data umum
keluarga,
riwayat
dan
tahap
perkembangan
keluarga,
lingkungan, struktur dan fungsi keluarga, stress dan koping
keluarga, pemeriksaan fisik keluarga, dan analisa data.
b. Diagnosis keperawatan keluarga yang meliputi analisa data,
perumusan diagnosa
keperawatan,
dan skoring masalah
keperawatan utama.
c. Penyusunan rencana keperawatan beserta implementasinya.
d. Evaluasi yang terdiri dari evaluasi proses dan evaluasi akhir.
1.4.Manfaat Penulisan.
1.4.1. Pelayanan Kesehatan, khususnya Program Upaya Perbaikan Gizi
Masyarakat (UPGM) dan Program Perkesmas di Puskesmas
Kecamatan Cimanggis.
Hasil asuhan keperawatan dapat menjadi data dasar dalam pemberian
asuhan keperawatan keluarga pada keluarga dengan balita gizi kurang,
maupun penerapan intervensi keperawatan inovasi yang mandiri dan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
6
komprehensif terhadap keluarga dengan balita gizi kurang. Para
perawat perkesmas dan petugas program gizi diharapkan dapat lebih
memotivasi keluarga balita dalam pemberian asupan gizi yang adekuat
bagi balitanya, melibatkan peran serta aktif kader posyandu serta
TOMA di wilayah tersebut, dan bekerja sama dengan lintas sektor
terkait dalam mengatasi balita gizi kurang yang ada di wilayah
kerjanya.
1.4.2. Institusi Pendidikan.
Hasil asuhan keperawatan dapat menjadi dasar pengembangan materi
asuhan keperawatan keluarga terhadap keluarga balita dengan gizi
kurang yang dapat digunakan dalam proses pendidikan mahasiswa.
1.4.3. Keilmuan/Penelitian Keperawatan.
Hasil asuhan keperawatan diharapkan dapat memberikan manfaat
dalam pengembangan ilmu pengetahuan keperawatan, terutama yang
berkaitan
dengan
implementasi
inovasi
yang
mandiri
dan
komprehensif dalam mengatasi balita gizi kurang. Hasil asuhan
keperawatan keluarga ini sekaligus dapat menjadi landasan/dasar bagi
pengembangan penelitian keperawatan tentang implementasi inovasi
mandiri
bagi
keluarga
dengan
balita
gizi
kurang
untuk
mengembangkan asuhan keperawatan yang bermutu bagi masyarakat
luas.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini akan menguraikan tinjauan teoritis tentang konsep perkotaan/urban,
masalah gizi pada anak balita, keluarga dengan anak balita, dan asuhan
keperawatan keluarga.
2.1. Konsep Perkotaan.
2.1.1. Definisi.
Perkotaan dideskripsikan sebagai wilayah geografis nonrural dan
memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi; lebih dari 99
orang/mil² atau kota kabupaten dengan populasi lebih dari 20.000
namun kurang dari 50.000 penduduk (Stanhope & Lancaster, 2004).
CDC (2001) dalam Stanhope dan Lancaster (2004) perkotaan ke
dalam lima tingkatan wilayah (tiga subklasifikasi metropolitan dan
dua subklasifikasi nonmetropolitan) sebagai berikut:
a. Subklasifikasi Metropolitan:
1) Pusat kota: Daerah di dalam kota besar (1 juta atau lebih
populasi) yang mengandung semua atau sebagian dari
pusat kota terbesar.
2) Pinggiran kota besar: kabupaten yang memiliki ciri-ciri
seperti kota besar (1 juta atau lebih populasi).
3) Kota kecil: kabupaten yang ada di dalam area kota besar
dengan penduduk kurang dari 1 juta orang.
b. Subklasifikasi Nonmetropolitan:
1) Wilayah
dengan
sebuah
kota
dengan
populasi
penduduknya 10.000 orang atau lebih.
2) Wilayah tanpa kota dengan populasi penduduknya 10.000
orang atau lebih.
Universitas Indonesia
7
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
8
Masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community.
Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat – sifat
kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan
masyarakat pedesaan, yaitu jumlah dan kepadatan penduduk,
lingkungan hidup, mata pencaharian, corak kehidupan sosial,
stratifikasi sosial, mobilitas, pola interaksi, solidaritas serta kedudukan
dalam
hirarki
sistem
administrasi
nasional
(Waluya,
2007).
Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan merupakan bagian dari
keperawatan komunitas, yang lebih memfokuskan pada pelayanan
terhadap masyarakat di wilayah perkotaan dengan berbagai macam
masalah yang ditimbulkan sebagai dampak dari urbanisasi, kemajuan
teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat (Marriner, 2001).
2.1.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Masyarakat
Perkotaan.
Galea dan Vlahov (2005) dalam Allender, Rector, dan Warner (2010)
mengatakan faktor yang bertanggung jawab terhadap kesehatan
masyarakat perkotaan adalah lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan
akses pelayanan kesehatan dan sosial. Banyaknya kaum pendatang
yang datang ke perkotaan meningkatkan persaingan dalam ekonomi
menyebabkan meningkatnya kemerosotan perekonomian, kehilangan
pekerjaan, banyaknya pengangguran, dan menyebabkan meningkatnya
masalah kesehatan (Allender, Rector, & Warner, 2010). Masalah
perekonomian juga berdampak terhadap ketidaktersediaan pangan
yang dapat menyebabkan malnutrisi (Allender, Rector, & Warner,
2010).
Persaingan ekonomi yang ketat dan krisis ekonomi berkepanjangan
yang melanda sejak tahun 1997 menyebabkan meningkatnya angka
kemiskinan yang pada akhirnya menimbulkan masalah gizi.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
9
Rendahnya daya beli dan ketidak tersediaannya pangan yang bergizi,
faktor sosial ekonomi, serta rendahnya tingkat pendidikan dan
pengetahuan orang tua menimbulkan masalah gizi pada balita (BPPN,
2007). Anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami resiko
kurang gizi karena keterbatasan suplai makanan, keterbatasan akses
terhadap makanan, faktor orang tua dengan keterbatasan pendidikan,
pilihan gaya hidup yang tidak sehat, dan kurangnya informasi dan
akses kesehatan (Hitchcock, Schubert, & Thomas,1999). Balita
merupakan salah satu kelompok yang beresiko mengalami masalah
gizi akibat kelaparan, kelompok lainnya yaitu bayi, ibu hamil, dan
orang lanjut usia (Davis & Sherer, 1994 dalam Hitchcock, Schubert,
& Thomas,1999). Adisasmito (2008) menyatakan faktor sosial yang
berkontribusi dalam masalah gizi kurang pada balita yaitu rendahnya
kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi anak,
sehingga anak makan sekadarnya atau asal kenyang namun miskin
gizi.
2.2 Keluarga dengan Balita.
Keluarga merupakan dua orang atau lebih yang disatukan oleh kebersamaan
dan kedekatan emosional serta yang mengidentifikasikan dirinya sebagai
bagian dari keluarga (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Keluarga dengan
anak balita menjadi lebih kompleks dan lebih sibuk karena pada tahapan ini
anak balita yang merupakan anak pra sekolah banyak belajar terutama tentang
kemandirian karena mereka harus mencapai otonomi dan kemandirian yang
cukup agar mampu menangani diri mereka sendiri ketika orang tua sedang
tidak berada di sisi mereka (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).
Friedman,
Bowden,
dan
Jones,
(2003)
menyatakan
bahwa
tugas
perkembangan keluarga dengan anak balita yaitu memenuhi kebutuhan
anggota keluarganya akan rumah, ruang, privasi, dan keamanan yang
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
10
memadai, menyosialisasikan anak, mengintegrasikan anak kecil sebagai
anggota keluarga baru sambil tetap memenuhi kebutuhan anak yang lain, dan
mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam keluarga maupun di
luar keluarga. Sedangkan fokus pelayanan kesehatan pada keluarga dengan
anak balita meliputi pencegahan penyakit menular pada anak, pencegahan
kecelakaan dan keamanan rumah, hubungan sibling, keluarga berencana,
kebutuhan tumbuh kembang anak, dan praktik kesehatan yang baik, meliputi
kebutuhan akan nutrisi, tidur, dan olah raga.
Allender, Rector, dan Warner, (2010) menyatakan masalah-masalah
kesehatan yang sering muncul pada balita yaitu kelaparan, kecelakaan dan
cedera, dan penyakit infeksi yang sebenarnya dapat dicegah melalui
imunisasi. KEMENKES (2013) menyatakan penyebab utama kematian pada
bayi dan balita terutama masalah neonatal (prematuritas, asfiksia, BBLR,
infeksi), penyakit infeksi (Diare, Pneumonia, Malaria, Campak) dan masalah
gizi (kurang dan buruk).
Balita merupakan salah satu kelompok yang beresiko mengalami masalah
gizi akibat kelaparan (Davis & Sherer, 1994 dalam Hitchcock, Schubert, &
Thomas,1999). Anak pada usia balita merupakan kelompok resiko yang
rentan terhadap penyakit, sehingga melindungi anak terhadap resiko
penularan penyakit menjadi penting, misalnya melalui imunisasi, dan anak
yang menderita penyakit infeksi mudah sekali mengalami penurunan berat
badan yang pada akhirnya menimbulkan masalah gizi pada balita. (Arora,
2009). Sebaliknya, nutrisi yang buruk menimbulkan banyak masalah
kesehatan, terutama pada warga miskin. Kurangnya dana dan pengetahuan
mengakibatkan diet yang mungkin sangat kurang mengandung nutrisi
esensial, khususnya protein, vitamin, dan zat besi yang pada akhirnya
menimbulkan masalah gizi kurang dan retardasi pertumbuhan (Wong, 2002).
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
11
Gizi kurang dan terutama gizi buruk memiliki kontribusi terhadap 30%
kematian pada balita (KEMENKES, 2013).
2.2.1 Masalah Gizi pada Balita.
a. Definisi.
Gizi adalah proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi,
transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat yang
tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan
dan fungsi normal organ-organ, serta menghasilkan energi
(Supariasa & Bakri, 2002). Gizi adalah proses metabolisme tubuh
dan pemanfaatan nutrien (Guyton & Hall, 2006). Nutrisi adalah
jumlah keseluruhan interaksi antara organisme dan makanan yang
dikonsumsi (Kozier, 2004). Berdasarkan definisi di atas maka dapat
disimpulkan bahwa gizi atau nutrisi adalah hasil dari interaksi tubuh
terhadap makanan yang dikonsumsi.
Malnutrisi merupakan suatu kondisi fisik yang disebabkan oleh diet
yang tidak sesuai atau akibat ketidakmampuan tubuh untuk
menyerap atau memetabolisme nutrisi. Malnutrisi mencakup gizi
lebih dan gizi kurang. Gizi lebih yaitu banyaknya energi makanan
yang dikonsumsi lebih dari kebutuhan yang mengakibatkan
menumpuknya lemak tubuh. Sedangkan gizi kurang yaitu kurangnya
total
energi
makanan
dan
nutrisi
yang
dikonsumsi
yang
mengakibatkan rendahnya berat badan dan atau defisiensi nutrient
atau zat gizi (Arora, 2009).
Gizi kurang adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh kurangnya
asupan energi dan protein yang ditandai dengan BB/PB-BB/TB 2SD sampai dengan -3SD atau pada anak usia 6-59 bulan dengan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
12
LILA 11,5 cm-12,5 cm (KEMENKES, 2011). Kurang gizi menurut
Adisasmito (2008) yaitu penyakit malnutrisi ringan yang diakibatkan
kekurangan energi dan protein. Berdasarkan definisi di atas, maka
dapat disimpulkan kurang gizi yaitu suatu kondisi fisik yang
diakibatkan karena kurangnya asupan energi dan protein.
b. Faktor Penyebab Gizi Kurang.
Gizi kurang dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya
yaitu faktor sosial. Adisasmito (2008) mengatakan faktor sosial yang
berkontribusi dalam masalah gizi kurang yaitu rendahnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi anak, sehingga
anak makan sekadarnya atau asal kenyang namun miskin gizi. Faktor
lainnya yang turut berpengaruh yaitu kemiskinan, terutama pada
negara-negara berkembang yang menyebabkan tak terpenuhinya
ketersediaan pangan akibat rendahnya pendapatan masyarakat. Arora
(2009) menyatakan kemiskinan, rendahnya tingkat pengetahuan, dan
minimnya akses ke pelayanan kesehatan berkontribusi dalam
menyebabkan masalah gizi kurang.
Serimshaw (1959) dalam Sulistiyawati (2011) menyatakan terdapat
hubungan yang sangat erat antara infeksi dengan malnutrisi.
Interaksi yang sinergis antara malnutrisi dengan penyakit dapat
berpengaruh terhadap status gizi dan mempercepat terjadinya
malnutrisi. Adisasmito (2008) juga mengungkapkan infeksi sekecil
apa pun berpengaruh terhadap tubuh dan kondisi malnutrisi dapat
memperlemah daya tahan tubuh yang pada akhirnya dapat
mempermudah masuknya beragam penyakit.
BPPN (2007) menyatakan terdapat dua penyebab gizi kurang dan
gizi buruk, yaitu penyebab langsung dan tak langsung. Penyebab
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
13
langsungnya yaitu kurangnya asupan gizi dan serangan penyakit
infeksi, sedangkan penyebab tidak langsungnya yaitu meliputi;
rendahnya daya beli dan ketidaktersediaan pangan yang bergizi,
keterbatasan pengetahuan tentang pangan yang bergizi, faktor sosial
ekonomi, tingkat pendidikan yang rendah, dan perilaku masyarakat.
Hitchcock, Schubert, dan Thomas(1999) menyatakan terdapat 4
faktor resiko yang menyebabkan kekurangan nutrisi, yaitu: faktor
sosial ekonomi, faktor suplai makanan, faktor biologis, dan faktor
perilaku. Terdapat dua faktor langsung penyebab gizi kurang pada
anak balita yang saling mempengaruhi yaitu faktor makanan dan
penyakit infeksi. Balita yang kurang asupan makanan gizi
seimbangnya rentan untuk terserang penyakit infeksi, sedangkan
penyakit infeksi dapat menyebabkan asupan gizi tak dapat diserap
tubuh dengan baik yang pada akhirnya berakibat pada gizi buruk
(RANPG, (2007), dalam Puspitasari, (2012)). Sedangkan Muljati,
dkk (1992) dalam Puspitasari (2012) menyatakan bahwa anak
dengan masalah gizi kurang lebih banyak dijumpai pada keluarga
dengan jumlah anak banyak, pendapatan keluarga yang rendah
mungkin masih dapat mencukupi untuk 1-2 anak, tetapi tidak cukup
untuk 3 anak atau lebih. Kartono (1993) dalam Puspitasari (2012)
menyatakan semakin besar nomor urut kelahiran anak dalam
keluarga, semakin cenderung untuk menderita gizi kurang.
c. Tanda dan Gejala Gizi Kurang.
KEMENKES, (2011) mengklasifikasikan anak dengan masalah gizi
sebagai berikut:
1) Anak gizi kurang. Bila pada pemeriksaan ditemukan tanda
BB/TB
< -2SD sampai dengan -3SD, LILA 11,5 sampai
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
14
dengan 12,5 cm, tidak ada edema, nafsu makan baik, dan
tidak ada komplikasi medis.
2) Gizi buruk tanpa komplikasi. Bila pada pemeriksaan
ditemukan satu atau lebih tanda anak tampak sangat kurus,
terdapat edema minimal pada kedua punggung kaki atau
tanpa edema, BB/PB atau BB/TB
<-3SD, LILA <11,5 cm
(untuk anak usia 6-59 bulan), dan nafsu makan baik.
3) Gizi buruk dengan komplikasi. Bila pada pemeriksaan
ditemukan tanda anak tampak sangat kurus, terdapat edema
pada seluruh tubuh, BB/PB atau BB/TB < -3SD, LILA <11,5
cm (untuk anak usia 6-59 bulan), dan disertai satu atau lebih
tanda komplikasi medis seperti: anoreksia, pneumonia berat,
anemia berat, dehidrasi berat, demam sangat tinggi, dan
penurunan kesadaran sehingga anak memerlukan penanganan
secara rawat inap.
d. Dampak Gizi Kurang.
Dampak gizi kurang pada balita menurut Almatsier, (2002) yaitu:
1) Mudah sakit. Kondisi gizi kurang yang kadang disertai
dengan kurangnya asupan mikro/makro nutrien yang sangat
diperlukan tubuh dapat menurunkan daya tahan tubuh anak
sehingga mudah terserang infeksi yang dapat mempengaruhi
banyak organ dan sistem tubuh.
2) Pertumbuhan. Kurangnya mikro/makro nutrien merugikan
performance anak seperti stunting atau postur tubuh anak
yang pendek.
3) Perkembangan. Anak yang kurang gizi dapat mengganggu
perkembangan mental dan otak.
4) Perilaku. Anak yang kurang gizi menunjukkan perilaku tidak
tenang, mudah tersinggung, cengeng, dan apatis.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
15
e. Penatalaksanaan Gizi Kurang.
Arora (2009) mengatakan upaya yang bisa dilakukan untuk
mengatasi masalah gizi kurang pada balita meliputi: (1). Memastikan
keamanan pangan baik secara kuantitas maupun nutrisi. (2). Berikan
pendidikan kesehatan pada keluarga tentang kebutuhan nutrisi pada
anak balita, termasuk pentingnya pemberian ASI dan pengenalan
makanan tambahan. (3). Lindungi anak terhadap infeksi melalui
imunisasi dan penggunaan air bersih dan sanitasi. (4). Pastikan anak
mendapatkan perawatan berkualitas saat anak sakit. (5). Lindungi
anak dari defisiensi mikronutrien terutama iodium, zat besi, dan
vitamin A. (6). Berikan perhatian khusus terhadap kebutuhan nutrisi
ibu hamil untuk mencegah bayi lahir dengan berat badan rendah.
Intervensi prioritas yang disarankan UNICEF (2009) dalam
mengatasi kurang gizi meliputi: (1). Pemberian makanan tambahan
terjadwal dan adekuat menggunakan makanan lokal, termasuk
pemberian suplemen multi mikronutrien, terutama yang berbahan
dasar lemak. (2). Lanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia 2
tahun. (3). Pemberian zinc bila anak diare. (4). Konsumsi garam
yang beryodium. (5). Pemberian vitamin A dan obat cacing. (6).
Mencuci tangan dengan menggunakan sabun. (7). Manajemen
malnutrisi akut berat. Sedangkan jenis makanan lokal untuk
pemulihan gizi yang dianjurkan oleh KEMENKES (2011) adalah
jenis makanan yang padat energi.
Upaya perbaikan gizi utama yang harus dilakukan untuk mengatasi
masalah gizi menurut BPPN (2007) meliputi: Pemenuhan energi
protein, pemenuhan gizi zat besi, yodium, vitamin A, dan zat gizi
mikro lainnya, pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI) pada bayi dan anak (6-24 bulan), pemberian vitamin A pada
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
16
bayi dan balita, dan surveilans gizi di lembaga pelayanan kesehatan
yang terdekat dengan masyarakat seperti posyandu.
Upaya lain untuk mengatasi masalah gizi kurang pada balita yaitu
melalui peningkatan pengetahuan ibu tentang gizi dan pola asuh
anak yang baik dan juga melalui pemberdayaan masyarakat, seperti
kader. Alibas, (2006) menyatakan bahwa pengetahuan ibu tentang
gizi dan keterlibatan TP-PKK, dalam hal ini kader, berpengaruh
terhadap prevalensi gizi kurang. Retno (2012) juga menyatakan ada
hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu dengan
status gizi balita setelah mendapat PMT-P di DKI Jakarta. Depkes,
(2002) dalam Puspitasari (2012) menyatakan rendahnya pengetahuan
dan pendidikan ibu merupakan penyebab dasar kurang gizi karena
sangat
mempengaruhi
tingkat
pengetahuan
keluarga
dalam
mengelola sumber daya yang ada untuk mendapatkan kecukupan
bahan makanan, serta pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan gizi
dan sanitasi lingkungan. Harsiki (2002) menyatakan terdapat
hubungan yang bermakna antara pola asuh anak, konsumsi energi
dan protein dengan keadaan gizi anak balita.
2.2.2 Peran Perawat Keluarga.
Perawat di dalam memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga
memiliki beberapa peran. Berikut ini merupakan peran perawat
keluarga menurut Friedman, Bowden, dan Jones,( 2003):
a. Pendidik. Rankin dan Stallings, (2001) dalam (Friedman, Bowden,
& Jones, 2003) menyatakan memberikan pendidikan kesehatan
pada klien tanpa melibatkan keluarga seringkali mengakibatkan
perawatan diri dan pemulihan yang buruk. Strategi pendidikan
kesehatan merupakan proses yang memfasilitasi pembelajaran
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
17
untuk mendukung perilaku yang sehat dan mengubah perilaku
yang tidak sehat.
b. Model Peran. Model peran selain sebagai strategi pendidikan juga
merupakan bentuk yang sangat efektif untuk mendidik anggota
keluarga tentang bagaimana memodifikasi perilaku.
c. Konselor. Konseling merupakan suatu proses bantuan interaktif
antara konselor dan klien yang ditandai oleh elemen inti
penerimaan, empati, ketulusan, dan keselarasan (Banks, 1992,
dalam Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Konseling digunakan
untuk membantu keluarga dalam mengatasi masalah mereka
secara efektif dengan menggunakan kompetensi yang ada secara
optimal.
d. Manajer Kasus. Manajemen kasus merupakan suatu proses
penetapan, pengintegrasian, dan pemantauan kebutuhan klien yang
kompleks dengan mengupayakan keseimbangan antara kualitas
perawatan dan efisiensi penggunaan sumber (Bower, 1992, dalam
Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Perawat sebagai manajer
kasus mengelola rangkaian pelayanan atau pengorganisasian multi
disiplin pada berbagai tatanan. Zander (1989) dalam Friedman,
Bowden, & Jones, (2003) menyatakan bahwa peran perawat
profesional memiliki tiga dimensi baru sebagai manajer kasus
yang meliputi kewenangan untuk mengordinasikan pelayanan
klien, akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil klinik dan finansial
yang diinginkan, dan memerlukan komitmen waktu yang lebih
besar.
e. Advokat. Perawat keluarga menurut Canino dan Spurlock, (1994)
dalam Friedman, Bowden, dan Jones, (2003) dalam menjalankan
perannya sebagai advokat melalui empat cara yaitu dengan
membantu klien memperoleh layanan yang mereka butuhkan dan
menjadi
hak
mereka,
dengan
melakukan
tindakan
yang
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
18
menciptakan sistem layanan kesehatan yang lebih responsif
terhadap kebutuhan klien, dengan memberikan advokasi untuk
memasukkan pelayanan yang lebih sesuai dengan sosial budaya,
dan dengan memberikan advokasi untuk kebijakan sosial yang
lebih responsif.
f. Kordinator. Perawat keluarga di komunitas seringkali sebagai
kunci dalam pemberian layanan kesehatan keluarga yang
komprehensif dan berkelanjutan. Perawat selain menjalankan
fungsi utamanya memberikan implementasi keperawatan, perawat
juga mendukung anggota tim yang lain dan menginterpretasikan
sasaran keperawatan dan pelayanan, serta mengoordinasikan
layanan kesehatan dengan
berbagai
agensi
lainnya
yang
memberikan bantuan kepada keluarga.
g. Kolaborator. Perawat sebagai anggota tim kesehatan, berkolaborasi
dan merencanakan perawatan komprehensif yang berorientasi
pada keluarga dengan anggota tim yang lain, dan juga dengan
klien keluarga.
h. Konsultan. Konsultasi menurut Caplan (1970) dalam Friedman,
Bowden, dan Jones, (2003) merupakan suatu proses intervensi
antara dua orang profesional; konsultan yang merupakan spesialis
dan consultee yang berkonsultasi dan memerlukan bantuan
konsultan. Perawat keluarga sering berperan sebagai konsultan
bagi perawat, tenaga profesional, dan para profesional lainnya
ketika informasi klien dan keluarga serta bantuan diperlukan.
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Gizi Kurang.
2.3.1 Definisi.
Asuhan keperawatan keluarga komprehensif merupakan proses yang
kompleks, yang memerlukan pendekatan logis dan sistematis dalam
bekerja bersama keluarga dan individu anggota keluarga, sedangkan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
19
praktik keperawatan keluarga adalah asuhan keperawatan yang
diberikan kepada keluarga dan anggota keluarga dalam keadaan sehat
maupun sakit dengan tujuan untuk membantu keluarga mencapai
kesejahteraan keluarga yang lebih tinggi (Friedman, Bowden, &
Jones, 2003). Banyak model keperawatan konseptual yang dapat
diterapkan pada keperawatan keluarga, diantaranya yaitu Model
Lingkungan Nightingale, Teori Pencapaian Tujuan King, Model
Adaptasi Roy, Model Sistem Kesehatan Newman, Model Perawatan
Diri Orem, dan lain-lain, namun model yang akan dibahas kali ini
yaitu Teori Model Keperawatan Keluarga Family Centre Nursing
(FCN) menurut Friedman. Widyatuti (2001) menyatakan asuhan
keperawatan keluarga dapat meningkatkan status gizi pada balita.
2.3.2 Proses Keperawatan Keluarga.
Proses keperawatan merupakan inti dan esensi dari keperawatan, pusat
dari seluruh tindakan keperawatan, dapat diterapkan pada seluruh
tatanan, dengan berbagai teori, kerangka konsep atau referensi.
Tahapan dari proses keperawatan meliputi; pengkajian, diagnosis,
perencanaan, dan evaluasi yang saling membentuk lingkaran yang
terus menerus dari pemikiran dan tindakan yang bersifat dinamis dan
terus berputar (Friedman, Bowden, & Jones, 2003).
a. Pengkajian.
Proses pengkajian keluarga merupakan proses pengumpulan
informasi/data
menggunakan
yang
alat
terus
menerus
pengkajian
secara
keluarga
sistematik
kemudian
diklasifikasikan dan dianalisis untuk diinterpretasikan artinya
(Friedman, Bowden, & Jones (2003). Proses pengumpulan data
keluarga dapat diperoleh melalui berbagai sumber: (1).
Wawancara terhadap satu anggota keluarga atau lebih tentang
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
20
peristiwa yang lalu dan sekarang (bertanya dan mendengarkan,
genogram, ecomap). (2). Temuan obyektif (observasi rumah
keluarga dan fasilitasnya, observasi interaksi keluarga, dll). (3).
Penilaian subyektif (pengalaman yang dilaporkan anggota
keluarga, dll). (4). Informasi tertulis maupun lisan dari berbagai
rujukan, berbagai agensi yang bekerja dengan keluarga, dan
anggota tim kesehatan lain.
Komponen yang dikaji dalam model FCN meliputi:
1) Data inti keluarga, yang terdiri dari data umum, komposisi
keluarga, tipe bentuk keluarga, latar belakang kebudayaan,
nilai dan keyakinan, dan status sosial ekonomi keluarga.
2) Data lingkungan, yang terdiri dari karakteristik rumah,
karakteristik
lingkungan
dan
komunitas,
mobilitas
geografis keluarga, dan sosialisasi keluarga dengan
komunitas.
3) Struktur keluarga, yang terdiri dari pola komunikasi,
struktur kekuasaan, struktur peran, dan nilai keluarga.
4) Fungsi keluarga, yang terdiri dari fungsi afektif, fungsi
sosialisasi, fungsi perawatan kesehatan, stress, koping, dan
adaptasi keluarga.
Pengkajian status gizi menurut Zega (2012) dapat dilakukan
secara langsung maupun tidak langsung. Pengkajian secara
langsung
dilakukan
melalui
pemeriksaan
antropometri,
biokimia, kondisi klinis anak, dan pola diet. Sedangkan
pengkajian tak langsung status gizi dilakukan melalui survey
konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
21
KEMENKES (2011) menetapkan standar antropometri penilaian
status
gizi
anak
berdasarkan
SK
MENKESRI
nomor:
1995/MENKES/SK/XII/2010 seperti pada tabel 2.1.
Tabel 2.1. Kategori dan ambang batas status gizi anak berdasarkan
indeks.
INDEKS
KATEGORI
AMBANG BATAS
Z Score
Berat Badan menurut
Gizi buruk
< -3SD
Umur (BB/U) anak
Gizi kurang
-3SD sampai dengan -2SD
Gizi baik
-2SD sampai dengan 2SD
Gizi lebih
>2SD
umur 0-60 bulan.
Panjang
Badan
Sangat pendek
< -3SD
menurut
Umur
Pendek
-3SD sampai dengan -2SD
(PB/U) atau Tinggi
Normal
-2SD sampai dengan 2SD
Badan menurut Umur
Tinggi
>2SD
Sangat kurus
< -3SD
Kurus
-3SD sampai dengan -2SD
(BB/PB) atau Berat
Normal
-2SD sampai dengan 2SD
Badan
menurut
Gemuk
>2SD
Tinggi
Badan
Sangat kurus
< -3SD
Kurus
-3SD sampai dengan -2SD
(IMT/U) anak umur
Normal
-2SD sampai dengan 2SD
0-60 bulan.
Gemuk
>2SD
(TB/U) anak umur 060 bulan.
Berat Badan menurut
Panjang
Badan
(BB/TB) anak umur
0-60 bulan.
Indeks Massa Tubuh
menurut
Umur
(Sumber: KEMENKES, 2011).
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
22
b. Diagnosis Keperawatan.
Diagnosis keperawatan yaitu keputusan klinik tentang respon
individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan
atau proses kehidupan baik yang aktual maupun potensial
(NANDA, 2001, dalam Friedman, Bowden, & Jones, 2003).
Diagnosis keperawatan ini yang nantinya akan menjadi dasar
dalam pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil
yang menjadi akuntabilitas perawat.
Terdapat tiga label diagnosis keperawatan menurut Rosenberg
dan Smith dalam NANDA, (2011), yaitu:
1) Diagnosis Risiko. Diagnosis ini menggambarkan respon
seseorang terhadap kondisi kesehatan/proses kehidupan
yang mungkin akan berkembang dalam individu, keluarga,
atau komunitas yang lemah.
2) Diagnosis Promosi Kesehatan. Diagnosis ini merupakan
penilaian klinis terhadap motivasi seseorang, keluarga,
atau komunitas dan keinginan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan aktualisasi seluruh potensi kesehatan
yang dimiliki yang diekspresikan oleh kesiapan untuk
memperkuat perilaku sehat tertentu seperti nutrisi dan olah
raga.
3) Diagnosis Sejahtera. Diagnosis ini menggambarkan respon
seseorang
terhadap
tingkat
kesejahteraan
individu,
keluarga, atau komunitas yang telah memiliki kesiapan
untuk meningkat.
Berikut ini adalah salah satu diagnosis keperawatan keluarga
terkait nutrisi menurut NANDA (2011):
1) Ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
23
2) Ketidakseimbangan nutrisi; lebih dari kebutuhan tubuh.
3) Risiko ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhan
tubuh.
4) Risiko ketidakseimbangan nutrisi; lebih dari kebutuhan
tubuh.
Setelah masalah kesehatan keluarga teridentifikasi, masalah
tersebut disusun berdasarkan urutan prioritas kepentingan
keluarga karena seringkali terdapat ketidaksesuaian antara cara
pandang profesi terhadap kebutuhan keluarga dan cara pandang
keluarga terhadap masalahnya sendiri (Friedman, Bowden, &
Jones, 2003). Prioritas masalah ditetapkan bersama keluarga
dengan menggunakan sistem skoring prioritas masalah menurut
Bailon dan Maglaya (1978) dalam Stanhope dan Lancaster
(2004) seperti yang tercantum pada tabel 2.2. pada lembar
halaman berikutnya.
Skor yang ada kemudian dihitung dan dijumlahkan. Diagnosis
keperawatan dengan nilai tertinggi merupakan masalah utama
yang akan diselesaikan terlebih dahulu. Adapun rumus
penghitungan skor yang digunakan adalah sebagai berikut:
Skoring :
Skor
x Bobot
Angka tertinggi
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
24
Tabel 2.2. Skoring prioritas masalah keluarga.
No
1
2
3
4
Kriteria
Skor
Bobot
Sifat masalah
ï‚·
Aktual (Tidak/kurang sehat)
3
ï‚·
Ancaman kesehatan
2
ï‚·
Keadaan sejahtera
1
1
Kemungkinan masalah dapat diubah
ï‚·
Mudah
2
ï‚·
Sebagian
1
ï‚·
Tidak dapat
0
2
Potensi masalah untuk dicegah
ï‚·
Tinggi
3
ï‚·
Sedang
2
ï‚·
Rendah
1
1
Menonjolnya masalah
ï‚·
Masalah berat, harus segera ditangani
2
ï‚·
Ada masalah, tetapi tidak perlu segera
1
1
ditangani
ï‚·
Masalah tidak dirasakan
0
(Sumber: Stanhope & Lancaster (2004))
c. Perencanaan.
Perawat terlibat dalam menyusun rencana keperawatan bersama
keluarga untuk mencapai hasil yang diharapkan. Perawat
membantu keluarga menentukan tujuan kesehatan mereka
dengan memberikan informasi yang relevan tentang hal yang
menjadi masalah mereka. Penetapan tujuan meliputi tujuan
jangka panjang, tujuan jangka pendek, serta kriteria hasil yang
dapat digunakan untuk mengevakuasi hasil asuhan yang dapat
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
25
dicapai dan diinginkan oleh keluarga. Penetapan tujuan dan
kriteria hasil dilakukan dengan prinsip SMART (Lawson &
Peate, 2009) yaitu: (1). Spesifik (tepat, objektif). (2).
Measurable (dapat diukur). (3). Achievable (mampu laksana,
dapat dicapai. (4). Realistik (sesuai kondisi keluarga).(5). Time
oriented (target waktunya jelas).
d. Intervensi Keperawatan.
Intervensi keperawatan yang diberikan mengacu pada lima tugas
keluarga menurut Friedman 1986 dalam Maglaya, et al (2009)
yang terdiri dari: mampu mengenal masalah kesehatan keluarga,
mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah
kesehatan yang ada, mampu merawat anggota keluarganya yang
sakit, mampu memodifikasi lingkungan keluarga, dan mampu
memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada. Bentuk
intervensi keperawatan yang dapat diberikan pada keluarga
menurut Friedman, Bowden, dan Jones (2003) meliputi
modifikasi perilaku, membuat kontrak, manajemen kasus
(termasuk koordinasi dan advokasi), kolaborasi, konsultasi,
konseling,
strategi
lingkungan,
pemberdayaan
advokasi
keluarga,
keluarga,
modifikasi
modifikasi
gaya
hidup,
dukungan jaringan (kelompok swabantu dan dukungan sosial
lainnya),
rujukan
kasus,
model
peran,
dll.
Intervensi
keperawatan lain terkait masalah gizi menurut Hitchcock,
Schubert, dan Thomas(1999) meliputi memberikan edukasi
tentang
piramida
mendemonstrasikan
makanan,
teknik
pemilihan
memasak
yang
makanan,
benar,
dan
perencanaan makan, pengkajian lanjutan terhadap kebiasaan
makan anak dan keluarga dan sumber daya ekonomi, misalnya
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
26
perawat dapat mendampingi keluarga untuk memperoleh
program subsidi makanan tambahan.
Implementasi unggulan mahasiswa selama melakukan asuhan
keperawatan keluarga terhadap An. M dengan masalah
ketidakseimbangan nutrisi pada balita yaitu “Penyusunan menu
makanan dengan gizi seimbang dan pembuatan makanan
selingan kaya energi dan protein pada balita”. Implementasi ini
menggabungkan antara pemenuhan gizi yang seimbang dengan
memenuhi komponen tri guna makanan yang terdiri dari zat
tenaga (karbohidrat dan lemak), zat pembangun (protein), dan
zat pengatur (vitamin dan mineral) dengan pemberian makanan
selingan/camilan sehat di sela waktu makan anak yang terutama
kaya akan energi (karbohidrat dan lemak) dan protein.
Implementasi yang sudah dilakukan perawat terkait inovasi ini
meliputi pemberian edukasi pada keluarga balita tentang gizi
seimbang balita dan manfaat gizi seimbang balita. Keluarga juga
diberikan edukasi tentang makanan selingan/camilan sehat yang
kaya akan energi dan protein, contoh jenis-jenis makanan
selingan/camilan sehat, serta cara membuat makanan selingan
lokal yang kaya akan energi dan protein seperti puding kaya
energi dan protein dengan harga yang ekonomis. Perawat
melakukan demonstrasi bersama keluarga tentang pemilihan
bahan makanan sesuai fungsinya, cara pengolahan bahan
makanan yang benar agar zat gizi yang terkandung di dalamnya
tidak hilang, cara membuat makanan tambahan/camilan sehat
yang kaya energi dan protein, dan memotivasi keluarga
melakukan redemonstrasi ulang. Perawat memotivasi keluarga
untuk menyusun jadwal menu seimbang keluarga beserta jadwal
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
27
pemberian makanan selingan atau camilan sehat kaya energi dan
protein di sela jam makan anak selama satu minggu.
Nutrisi yang adekuat merupakan kunci penting mengatasi gizi
kurang pada anak. Pemberian makanan tambahan terjadwal dan
adekuat menggunakan makanan lokal terutama yang berbahan
dasar lemak merupakan salah satu intervensi utama mengatasi
gizi kurang pada balita. (UNICEF, 2009). Penelitian Fitriyani
(2009) dan Suhardjo (1996) dalam Retno (2008) mengatakan
salah satu cara untuk meningkatkan dan merubah status gizi
balita,
diantaranya
melalui
pemberian
makanan
tambahan/camilan. Pemberian makanan camilan atau makanan
tambahan, tentu saja harus dipilih baik dari jenis, komposisi
maupun jumlahnya. Putri (2011)
mengungkapkan ada
hubungan antara kasus gizi kurang dengan asupan energi.
Makanan yang dianjurkan untuk pemulihan gizi menurut
KEMENKES (2011) salah satunya adalah makanan lokal padat
energi yang diperkaya dengan vitamin dan mineral.
e. Evaluasi.
Evaluasi pada keperawatan keluarga berdasarkan pada seberapa
efektif intervensi yang dilakukan dan bagaimana respon
keluarga. Evaluasi dapat dilakukan mengacu pada kriteria hasil
yang telah ditetapkan pada saat menyusun perencanaan bersama
keluarga. Evaluasi dapat dilakukan secara formatif maupun
sumatif. Evaluasi formatif dilakukan selama proses asuhan
berlangsung, sedangkan evaluasi sumatif dilakukan untuk
menilai kualitas asuhan keperawatan yang telah diberikan
(Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Bentuk evaluasi formatif
disusun dengan menggunakan format SOAP seperti berikut ini:
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
28
Subyektif
: Pernyataan klien mengenai perasaan maupun
keluhan keluarga setelah interaksi dengan
perawat.
Obyektif
: Hasil pengamatan perawat terhadap kondisi
keluarga maupun hasil pengukuran dengan
menggunakan alat terukur.
Analisis
: Analisa perawat terhadap respon keluarga.
Planing
: Rencana tindak lanjut perawat terhadap hasil
analisis.
Evaluasi tingkat kemandirian keluarga juga dinilai di akhir
interaksi. Kriteria evaluasi tingkat kemandirian keluarga
menurut DEPKES (2002) meliputi hal sebagai berikut:
1) Kriteria 1
: Menerima petugas.
2) Kriteria 2
: Menerima yankes sesuai rencana.
3) Kriteria 3
: Menyatakan masalah kesehatan secara
benar.
4) Kriteria 4
: Memanfaatkan fasilitas kesehatan sesuai
anjuran.
5) Kriteria 5
: Melaksanakan
perawatan
sederhana
sesuai anjuran.
6) Kriteria 6
: Melaksanakan
tindakan
pencegahan
secara aktif.
7) Kriteria 7
: Melaksanakan tindakan promotif secara
aktif.
Kesimpulan penilaian yaitu:
1) Kemandirian I
: Jika memenuhi kriteria 1 dan 2.
2) Kemandirian II
: Jika memenuhi kriteria 1 s.d 5.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
29
3) Kemandirian III
: Jika memenuhi kriteria 1 s.d 6.
4) Kemandirian IV
: Jika memenuhi kriteria 1 s.d 7.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
BAB 3
LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA
3.1. Pengkajian Keperawatan.
Keluarga Bpk R (45 Thn) merupakan tipe keluarga extendeed family, dimana
terdapat salah satu orang tua, yaitu Nenek L (65 Thn), ibu dari Ibu Rs (42
Thn) dan adik Ibu Rs, Tn. D (38 Thn), yang juga tinggal dalam satu rumah
bersama keluarga inti. Tahap perkembangan keluarga Bpk. R saat ini berada
pada Tahap VI; Keluarga melepaskan anak dewasa muda, dimana anak
pertama Bpk. R sudah menikah dan keluar dari rumah untuk tinggal bersama
suaminya.
Tugas
perkembangan
keluarga
pada
tahap
ini
adalah:
Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab pada saat anak remaja
telah dewasa dan semakin otonomi, memfokuskan kembali hubungan
pernikahan, dan berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak.
Tugas perkembangan tersebut belum dapat terpenuhi seluruhnya, karena Bpk.
R masih memiliki anak balita, yaitu An. M (35 Bln), dan fokus perhatian
keluarga saat ini berpusat terutama pada An. M, anak ke tujuh dari Bpk R.
Riwayat kesehatan dalam keluarga yang berkaitan dengan gizi balita; Nenek
L memiliki riwayat DM sejak dua tahun yang lalu. Ia biasa mengontrol gula
darahnya di puskesmas dan minum obat glibenklamid dan metformin. Gula
darah sewaktunya saat ini 170 mg/dl. An. M tidak pernah menderita sakit
berat, sakit yang pernah diderita yaitu batuk pilek, demam dan diare. An. M
juga tidak pernah menderita flek paru dan tidak ada riwayat sakit paru dalam
keluarga.
Bpk. R memiliki peran sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama.
Bpk. R bekerja sebagai supir bus pariwisata antar kota dan antar propinsi
dengan penghasilan 2-3 juta per bulannya, dan pulang ke rumah seminggu
sekali. Penghasilan Bpk. R tidak menentu karena tergantung seberapa sering
Bpk. R membawa bis. Penghasilan Bpk. R kadang tidak mencukupi
kebutuhan keluarga dengan anaknya yang banyak. Ibu Rs membantu Bpk. R
Universitas Indonesia
30
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
31
memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan bekerja sebagai pembantu rumah
tangga dengan penghasilan Rp. 800.000,- per bulannya. Ibu Rs bekerja mulai
jam 06.00 pagi sampai dengan jam 18.00. Peran ibu Rs mengasuh anakanaknya yang masih kecil dibantu oleh Nenek. L. Selain mengasuh An. M
dan kakak-kakaknya yang lain, Nenek L juga berdagang kecil-kecilan di
warung depan rumah mereka.
Port d’entry pada keluarga Bpk. R adalah pada An. M, dimana saat ini An. M
memiliki badan yang kurus dan sulit makan. Nenek L mengatakan An. M
memang sulit makan. Ia biasa makan disuapi Nenek L 2-3 kali sehari. Porsi
yang dihabiskan An. M dalam satu kali makan kadang hanya 5 sendok makan
saja. Nenek L mengatakan, biasanya bila An. M sedang sulit makan, ia tidak
memberikan makanan pengganti, namun ia membiarkan An. M mengambil
jajanan seperti biskuit maupun ciki-cikian dari warungnya.
An. M tidak mengalami gangguan tumbuh kembang. An. M memiliki tumbuh
kembang yang sesuai untuk anak berusia 35 bulan. An. M mampu turun naik
tangga, berdiri dengan satu kaki selama 5 detik, melompat dengan kedua
kaki, menunjuk satu atau lebih bagian tubuhnya, mendengarkan cerita,
bermain bersama teman, dan mengikuti aturan permainan. An. M kadang
masih harus dibantu dalam melepas pakaian sendiri dan makan.
Berdasarkan pengamatan perawat, An. M makan disuapi oleh Nenek L
berbarengan dengan kakaknya, An. Ry dalam satu porsi nasi untuk bersama.
An. M kadang mau makannya, namun kadang ia tidak mau makan karena
tidak menyukai jenis lauk yang dikonsumsi. Setiapkali makan, tampak porsi
nasi lebih banyak dihabiskan oleh kakaknya, sementara An. M tampak hanya
makan 3-5 suap karena kalah cepat dengan kakaknya. Selain itu, jenis
makanan yang dikonsumsi juga tidak memenuhi kriteria gizi seimbang. An.
M kadang hanya disuapi menggunakan lauk saja yang diberi kuah santan atau
menggunakan sayur saja tanpa lauk.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
32
Hasil pemeriksaan fisik yang sudah dilakukan perawat pada tanggal 17 Mei
2013 yaitu, berat badan An. M 11 kg, tinggi badan 90 cm, IMT 12,94, dan
LILA 13 cm. An. M tampak kurus dengan rambut tipis hitam kemerahan.
Anak M tampak aktif, konjungtiva tak anemis, tak terdapat cairan pada
hidung dan telinga, tak terdapat perbesaran kelenjar getah bening pada leher
dan ketiak, Thoraks simetris, tak terdapat ronkhi maupun wheezing, BJ I dan
II reguler, tak terdapat murmur maupun gallop. Abdomen flat, supel, bising
usus 12 kali/menit. Tak terdapat edema pada ekstremitas dan massa otot
teraba lunak. Berdasarkan Standar Gizi Nasional KEMENKES, 2011,
didapatkan hasil:
a. Berdasarkan BB/U anak M masuk dalam range -3SD sampai dengan 2SD atau kriteria gizi kurang.
b. Berdasarkan BB/PB anak M masuk dalam range -3SD sampai dengan
-2SD atau kriteria kurus.
c. Berdasarkan PB/U anak M masuk dalam range -1SD sampai dengan
median atau kriteria normal.
d. Berdasarkan LILA; anak M masuk dalam kriteria kurus.
e. Berdasarkan IMT; anak M masuk dalam kriteria gizi kurang.
Nenek L dan Ibu Rs mengatakan yang ia ketahui tentang gizi seimbang balita
yaitu pemenuhan makan 4 sehat 5 sempurna. Nenek L dan Ibu Rs belum
mengetahui tentang gizi kurang. Mereka mengetahui An. M badannya kurus
namun tidak mengetahui bila An. M masuk kriteria gizi kurang, karena
selama ini An. M sendiri yang pergi ke posyandu tanpa diantar orang tuanya
dan ia tidak memiliki KMS. Ibu Rs pernah diingatkan adiknya tentang
anaknya yang kurus dan ia disarankan untuk memeriksakan anaknya, namun
hal tersebut belum ia lakukan. Ibu Rs juga merencanakan untuk memberikan
anaknya suplement, namun hal tersebut juga belum ia lakukan. Nenek L
maupun Ibu Rs belum melakukan tindakan apapun dan juga belum membawa
An. M ke fasilitas kesehatan untuk mengatasi masalah gizi anaknya tersebut.
Tingkat kemandirian keluarga saat pengkajian yaitu Mandiri I.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
33
3.2. Diagnosis Keperawatan.
Berdasarkan data di atas, maka didapatkan masalah keperawatan keluarga
pada keluarga Bpk. R saat ini yaitu: (1). Ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh pada An. M. (2). Risiko gangguan tumbuh kembang
pada An. M.
Setelah diketahui masalah keperawatan yang dialami keluarga saat ini,
perawat bersama-sama dengan keluarga lalu menghitung skoring masalah
melalui pembobotan masalah dengan menggunakan metode skoring dan
didapatkan masalah keperawatan prioritas yaitu: “Ketidakseimbangan nutrisi;
kurang dari kebutuhan tubuh pada An. M” dengan skor 5.
3.3. Perencanaan Keperawatan.
Tujuan umum untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan nutrisi; kurang
dari kebutuhan tubuh pada An. M
yaitu: Setelah dilakukan asuhan
keperawatan keluarga selama 6 minggu, keluarga mampu memenuhi
kebutuhan nutrisi An. M dengan kriteria hasil: Berat badan An M berada pada
rentang -2 SD sampai dengan +2 SD;
BB/U dan BB/PB Standar Gizi
Nasional KEMENKES (2011). Rencana keperawatan yang telah disusun
bersama keluarga untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan nutrisi;
kurang dari kebutuhan tubuh pada An. M adalah sebagai berikut.
Tujuan khusus pertama untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan nutrisi;
kurang dari kebutuhan tubuh pada An. M yaitu: Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 1 x 45 menit, keluarga mampu mengenal gizi dan gizi
kurang pada balita. Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan khusus
pertama meliputi menjelaskan pengertian gizi kurang pada keluarga dengan
menggunakan media lembar balik dan leaflet, menjelaskan penyebab gizi
kurang, tanda dan gejala dari gizi kurang, dan mengidentifikasi bersama
keluarga adakah anggota keluarganya yang memiliki tanda-tanda gizi kurang.
Perawat memotivasi keluarga untuk mengulang materi yang telah
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
34
disampaikan dan memberikan reinforcement positif atas usaha keluarga serta
pemahaman keluarga yang sudah benar.
Tujuan khusus ke dua untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan nutrisi;
kurang dari kebutuhan tubuh pada An. M yaitu: setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 1 x 45 menit, keluarga mampu mengambil keputusan
tindakan yang tepat untuk mengatasi balita (An. M) yang mengalami gizi
kurang. Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan khusus ke dua meliputi:
menjelaskan pada keluarga tentang akibat dari gizi kurang, memotivasi
keluarga untuk mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi An. M
yang mengalami gizi kurang, dan memberikan reinforcement positif atas
keputusan tepat yang diambil oleh keluarga.
Tujuan khusus ke tiga untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan nutrisi;
kurang dari kebutuhan tubuh pada An. M
yaitu:
Setelah dilakukan
intervensi keperawatan selama 5 x 45 menit, keluarga mampu merawat anak
balitanya (An. M) yang mengalami gizi kurang. Rencana Keperawatan untuk
mencapai tujuan khusus ke tiga yaitu menjelaskan pada keluarga tentang cara
mengatasi masalah gizi kurang, menjelaskan dan mendemonstrasikan porsi
makan sesuai menu seimbang untuk An. M yang berusia 35 bulan, dan
memotivasi keluarga untuk melakukan redemonstrasi penyusunan porsi
makan sesuai menu seimbang untuk An. M yang berusia 35 bulan. Perawat
juga menjelaskan triguna makanan dan mendemonstrasikan pemilihan bahan
makanan berdasarkan triguna makanan, dan memotivasi keluarga untuk
menyebutkan kembali triguna makanan, redemonstrasi pemilihan bahan
makanan berdasarkan triguna makanan, dan menyusun jadwal menu harian
berdasarkan triguna makanan selama 1 minggu. Perawat menjelaskan dan
mendemonstrasikan cara mengolah makanan yang sehat dan memotivasi
keluarga untuk menyebutkan kembali dan meredemonstrasikan cara
mengolah makanan yang sehat. Perawat menjelaskan tentang pentingnya
pemberian PMT/makanan selingan sehat yang kaya energi dan protein,
manfaat, serta contohnya, dan mendemonstrasikan bersama keluarga cara
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
35
membuat camilan sehat kaya energi dan protein (puding tinggi karbohidrat
dan tinggi protein), memotivasi keluarga untuk menyebutkan kembali tentang
pentingnya pemberian PMT/makanan selingan sehat yang kaya energi dan
protein, manfaat, serta contohnya,
melakukan
redemonstrasi
pembuatan
dan memotivasi keluarga untuk
camilan
sehat;
puding
tinggi
karbohidrat dan tinggi protein, dan menyusun menu makanan selingan yang
sehat bagi balita selama satu minggu. Perawat juga memberikan
reinforcement positif atas usaha keluarga selama interaksi.
Tujuan khusus ke empat untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan nutrisi;
kurang dari kebutuhan tubuh pada An. M
yaitu:
Setelah dilakukan
intervensi keperawatan selama 1 x 45 menit, keluarga mampu memodifikasi
lingkungannya untuk mengatasi anak balitanya (An. M) yang mengalami gizi
kurang. Rencana Keperawatan untuk mencapai tujuan khusus tersebut di atas
meliputi menjelaskan pada keluarga cara penyajian makanan yang dapat
merangsang nafsu makan anak, menjelaskan cara mengatasi ank yang sulit
makan, dan cara memodifikasi lingkungan yang
mendukung untuk
meningkatkan status gizi anak balita.
Tujuan khusus ke lima untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan nutrisi;
kurang dari kebutuhan tubuh pada An. M
yaitu:
Setelah dilakukan
intervensi keperawatan selama 1 x 45 menit, keluarga mampu memanfaatkan
fasilitas kesehatan yang ada. Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan
khusus tersebut yaitu menjelaskan pada keluarga jenis-jenis fasilitas
kesehatan yang dapat ia gunakan yang terdapat di sekitar lingkungan tempat
tinggal terkait dengan peningkatan status gizi balita, manfaat mengunjungi
fasilitas kesehatan, dan memotivasi keluarga untuk memanfaatkan atau
mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan tersebut.
3.4. Implementasi Keperawatan.
Perawat melakukan implementasi keperawatan keluarga pada keluarga Bpk.
R selama ± 6 minggu dengan kegiatan sesuai dengan yang telah direncanakan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
36
bersama keluarga
dengan fokus kegiatan pada implementasi inovasi
mahasiswa yaitu pemenuhan gizi seimbang balita dan pemberian makanan
tambahan kaya energi dan protein, sebagai berikut:
Implementasi keperawatan yang dilakukan perawat bersama keluarga untuk
mencapai tujuan khusus yang pertama yaitu, perawat menjelaskan pengertian
gizi dan gizi kurang pada keluarga dengan menggunakan media lembar balik
dan leaflet, menjelaskan penyebab gizi kurang, tanda dan gejala dari gizi
kurang, dan mengidentifikasi bersama keluarga adakah anggota keluarganya
yang memiliki tanda-tanda gizi kurang. Perawat memotivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah disampaikan dan memberikan reinforcement
positif atas usaha keluarga serta pemahaman keluarga yang sudah benar.
Implementasi keperawatan yang dilakukan perawat bersama keluarga untuk
mencapai tujuan khusus ke dua yaitu, perawat menjelaskan pada keluarga
tentang akibat dari gizi kurang, memotivasi keluarga untuk mengambil
keputusan yang tepat dalam mengatasi An. M yang mengalami gizi kurang,
dan memberikan reinforcement positif atas keputusan tepat yang diambil oleh
keluarga.
Implementasi keperawatan yang dilakukan perawat bersama keluarga untuk
mencapai tujuan khusus ke tiga yaitu, perawat menjelaskan pada keluarga
tentang
cara
mengatasi
masalah
gizi
kurang,
menjelaskan
dan
mendemonstrasikan porsi makan sesuai menu seimbang untuk An. M yang
berusia 35 bulan, dan memotivasi keluarga untuk melakukan redemonstrasi
penyusunan porsi makan sesuai menu seimbang untuk An. M yang berusia 35
bulan. Perawat juga menjelaskan triguna makanan dan mendemonstrasikan
pemilihan bahan makanan berdasarkan triguna makanan, dan memotivasi
keluarga untuk menyebutkan kembali triguna makanan, redemonstrasi
pemilihan bahan makanan berdasarkan triguna makanan, dan menyusun
jadwal menu harian berdasarkan triguna makanan selama 1 minggu. Perawat
menjelaskan dan mendemonstrasikan cara mengolah makanan yang sehat dan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
37
memotivasi keluarga untuk menyebutkan kembali dan meredemonstrasikan
cara mengolah makanan yang sehat. Perawat menjelaskan tentang pentingnya
pemberian PMT/makanan selingan sehat yang kaya energi dan protein,
manfaat, serta contohnya, dan mendemonstrasikan bersama keluarga cara
membuat camilan sehat kaya energi dan protein (puding tinggi karbohidrat
dan tinggi protein), memotivasi keluarga untuk menyebutkan kembali tentang
pentingnya pemberian PMT/makanan selingan sehat yang kaya energi dan
protein, manfaat, serta contohnya,
melakukan
redemonstrasi
pembuatan
dan memotivasi keluarga untuk
camilan
sehat;
puding
tinggi
karbohidrat dan tinggi protein, dan menyusun menu makanan selingan yang
sehat bagi balita selama satu minggu. Perawat juga memberikan
reinforcement positif atas usaha keluarga selama interaksi.
Implementasi keperawatan yang dilakukan perawat bersama keluarga untuk
mencapai tujuan khusus ke empat yaitu; perawat menjelaskan pada keluarga
cara penyajian makanan yang dapat merangsang nafsu makan anak,
menjelaskan cara mengatasi ank yang sulit makan, dan cara memodifikasi
lingkungan yang mendukung untuk meningkatkan status gizi anak balita.
Perawat juga memberikan reinforcement positif atas usaha keluarga selama
interaksi.
Implementasi keperawatan yang dilakukan perawat bersama keluarga untuk
mencapai tujuan khusus ke lima yaitu meliputi; perawat menjelaskan pada
keluarga jenis-jenis fasilitas kesehatan yang dapat ia gunakan yang terdapat di
sekitar lingkungan tempat tinggal terkait dengan peningkatan status gizi
balita, manfaat mengunjungi fasilitas kesehatan, dan memotivasi keluarga
untuk memanfaatkan atau mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan
tersebut.
Implementasi
inovasi
unggulan
perawat
untuk
mengatasi
masalah
ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh pada An. M, yaitu
“Penyusunan menu makanan dengan gizi seimbang dan pembuatan makanan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
38
selingan kaya energi
dan protein pada
balita”.
Implementasi
ini
menggabungkan antara pemenuhan gizi yang seimbang dengan memenuhi
komponen tri guna makanan yang terdiri dari zat tenaga (karbohidrat dan
lemak), zat pembangun (protein), dan zat pengatur (vitamin dan mineral)
dengan pemberian makanan selingan/camilan sehat di sela waktu makan anak
yang terutama kaya akan energi (karbohidrat dan lemak) dan protein.
Perawat mengedepankan implementasi ini untuk mengatasi masalah gizi
kurang pada balita. Balita harus mendapatkan asupan nutrisi yang adekuat
baik dari kualitas maupun kuantitas untuk meningkatkan berat badan anak.
Implementasi ini dilakukan selama ± 6 minggu bersamaan dengan proses
asuhan lainnya dan menjadi dasar asuhan keperawatan yang diberikan pada
keluarga. Implementasi yang sudah dilakukan perawat terkait inovasi ini
meliputi pemberian edukasi pada keluarga balita tentang gizi seimbang balita
dan manfaat gizi seimbang balita. Keluarga juga diberikan edukasi tentang
makanan selingan/camilan sehat yang kaya akan energi dan protein, contoh
jenis-jenis makanan selingan/camilan sehat, serta cara membuat makanan
selingan lokal yang kaya akan energi dan protein seperti puding kaya energi
dan protein dengan harga yang ekonomis. Perawat melakukan demonstrasi
bersama keluarga tentang pemilihan bahan makanan sesuai fungsinya, cara
pengolahan bahan makanan yang benar agar zat gizi yang terkandung di
dalamnya tidak hilang, dan memotivasi keluarga melakukan redemonstrasi
ulang. Perawat memotivasi keluarga untuk menyusun jadwal menu seimbang
keluarga beserta jadwal pemberian makanan selingan atau camilan sehat kaya
energi dan protein di sela jam makan anak selama satu minggu, dan
melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan keluarga mematuhi
program yang telah disepakati bersama.
3.5. Evaluasi Keperawatan.
Perawat membuat pertemuan sebanyak 11 kali dengan keluarga selama proses
asuhan yang terdiri dari 2 pertemuan selama tahap pengkajian, 8 pertemuan
implementasi, dan 1 pertemuan evaluasi akhir dan terminasi. Evaluasi
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
39
dilakukan selama proses asuhan untuk menilai keberhasilan implementasi
pada setiap interaksi dan evaluasi tahap akhir pada akhir interaksi sebelum
dilakukannya terminasi.
3.5.1. Evaluasi Formatif.
a. Evaluasi Subyektif.
Keluarga mengatakan sudah memahami tentang apa itu gizi kurang,
penyebab serta tanda dan gejala gizi kurang, dan pentingnya gizi
seimbang pada balita. Ibu Rs dan Nenek L mengatakan sudah
memahami pentingnya pemberian makanan selingan/camilan yang
kaya zat energi dan protein. Ibu Rs sudah mengetahui bahwa anaknya,
An. M mengalami masalah gizi kurang dan memutuskan akan
merawat anaknya tersebut agar tidak terjadi komplikasi yang tidak ia
inginkan. Ibu Rs mengatakan saat ini ia sendiri yang memasak dan
menyiapkan makanan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat bersama
perawat. Ibu Rs juga mengatakan ia dan suaminya sepakat bahwa Ibu
Rs akan lebih konsentrasi mengurus anaknya tersebut, mengatur pola
makannya dan berhenti kerja untuk sementara waktu. Ibu Rs
mengatakan saat ini ia yang menyuapi An. M dan sudah dipisahkan
dalam porsinya sendiri, tidak disatukan lagi dengan kakaknya. Ibu Rs
mengatakan An. M kadang masih sulit makan, namun ia sudah
menyiasatinya dengan pemberian makanan dalam porsi kecil tapi
sering. Ibu Rs juga sudah memberikan makanan selingan sesuai
jadwal menu yang sudah dibuat. Ia mengatakan bahwa An. M
menyukai makanan selingan yang ia buat, terutama bila dibuat dalam
bentuk yang menarik, seperti puding yang dicetak bentuk pesawat.
Nenek L mengatakan saat ini ia yang mengantarkan cucunya ke
posyandu untuk memantau berat badan cucunya. Nenek L juga
membatasi jajanan tidak sehat yang dikonsumsi cucunya yang
diperoleh dari warung tempatnya berjualan.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
40
b. Evaluasi Obyektif.
Keluarga terlihat antusias dan kooperatif dalam mengatasi masalah
gizi kurang pada An. M terutama Ibu Rs dan Nenek L. Pada awal
interaksi, keluarga belum mengetahui tentang gizi kurang, penyebab,
tanda dan gejala gizi kurang, dan manfaat gizi seimbang. Keluarga
juga menganggap badan An. M yang kurus bukan merupakan suatu
kondisi gizi kurang, sehingga keluarga tidak mengambil sikap apa pun
dalam mengatasinya. Setelah akhir interaksi,
Ibu Rs dapat
menyebutkan kembali pengertian, penyebab dan tanda dan gejala gizi
kurang dan manfaat gizi seimbang, Ibu Rs juga dapat menyebutkan
cara mengatasi gizi kurang melalui pemberian makanan dengan gizi
yang seimbang dan pemberian makanan selingan/camilan sehat yang
mengandung karbohidrat, lemak, dan protein. Ibu Rs mampu
menyebutkan dua contoh camilan sehat. Berdasarkan pengamatan
perawat, An. M makan sudah dalam porsi yang terpisah dari
kakaknya. Jenis makanan yang dikonsumsi pun sudah memenuhi
kriteria gizi seimbang. Keluarga terlihat kadang belum mematuhi
jadwal menu yang telah disepakati bersama, namun sudah
menggantinya dengan komponen yang sesuai. Keluarga juga tampak
sudah menyiapkan makanan tambahan berupa camilan sehat seperti
bubur kacang hijau yang diberi susu, puding kaya energi dan protein,
dan jagung keju susu. An. M tampak menyukai camilan sehatnya. An.
M terlihat lebih ceria. Berat badan An. M setelah intervensi selama 1
bulan mengalami peningkatan sebanyak 500 gram.
c. Analisa Hasil.
Tujuan yang telah ditetapkan perawat dalam kriteria hasil TUK 1
sampai dengan TUK 5 sudah mampu dicapai oleh keluarga. Berat
badan An. M saat ini berdasarkan Standar Gizi Nasional KEMENKES
(2011) berdasarkan kriteria BB/U dan BB/PB berada pada range -2SD
sampai dengan -1SD atau kategori gizi baik.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
41
d. Planing.
Perawat
memotivasi
keluarga
untuk
meningkatkan
kembali
pengetahuan keluarga tentang gizi balita dengan banyak membaca
majalah tentang gizi balita maupun banyak bertanya terhadap kader
posyandu
atau
petugas
puskesmas.
Perawat
memberikan
reinforcement positif atas keberhasilan keluarga memperbaiki status
gizi balitanya dan memotivasi keluarga untuk mempertahankan sikap
positif
yang
telah
dilakukan
keluarga
dalam
memodifikasi
lingkungannya untuk meningkatkan nutrisi anak. Perawat juga bekerja
sama dengan kader posyandu untuk terus memantau gizi An. M.
3.5.2. Evaluasi Sumatif.
Asuhan keperawatan keluarga terhadap keluarga Bpk. R, khususnya An. M
telah tercapai. Status gizi An.M saat ini sesuai dengan kriteria hasil berada
pada range -2SD sampai dengan -1SD Standar Gizi Nasional KEMENKES
(2011) atau kategori Gizi Baik.
3.5.3. Evaluasi Tingkat Kemandirian Keluarga.
Tingkat
kemandirian
keluarga
pada
saat
awal
interaksi
adalah
Kemandirian I yang ditandai dengan keluarga menerima petugas dan
menerima yankes sesuai rencana, namun belum dapat menyatakan masalah
kesehatan secara benar. Keluarga Bpk. R di akhir interaksi menunjukkan
kemajuan, yaitu keluarga sudah dapat menyatakan masalah kesehatan
secara benar, memanfaatkan posyandu sesuai anjuran, melaksanakan
perawatan sederhana sesuai anjuran, dan melaksanakan tindakan
pencegahan secara aktif melalui pemberian makanan sesuai gizi seimbang
dan pemberian makanan selingan sehat kaya energi dan protein di sela jam
makan anak, sehingga dapat dikatakan tingkat kemandirian keluarga pada
keluarga Bpk. R mengalami peningkatan dari Kemandirian I menjadi
Kemandirian III.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
BAB 4
ANALISIS SITUASI
4.1. Profil Lahan Praktik.
Kota Depok resmi menjadi Kotamadya berdasarkan Undang-Undang No.15
Tahun 1999. Kecamatan Cimanggis sendiri ikut masuk dalam wilayah Kota
Depok sejak diresmikannya Kota Depok tersebut, sehingga tidak lagi masuk
dalam wilayah Kota Bogor, dengan luas wilayah 5.100,97 Ha. Kecamatan
Cimanggis sendiri sejak tanggal 30 Oktober 2009, sesuai Perda Kota Depok
No. 8 Tahun 2007 resmi dimekarkan dengan Kecamatan Tapos dan
membawahi enam kelurahan yang terdiri dari: (1). Kelurahan Pasir Gunung
Selatan. (2). Kelurahan Tugu. (3). Kelurahan Mekarsari. (4). Kelurahan
Cisalak Pasar. (5). Kelurahan Curug, dan (6). Kelurahan Harjamukti. Akibat
dari pemekaran tersebut, Kecamatan Cimanggis mengalami perubahan luas
wilayah menjadi 1.974,98 Ha.
Kelurahan Cisalak Pasar memiliki 8 RW yang mayoritas penduduknya ratarata memiliki status ekonomi menengah ke bawah dan hanya 1 RW saja yang
memiliki status ekonomi rata-rata penduduknya menengah ke atas karena
merupakan pemukiman komplek perumahan. Kelurahan Cisalak Pasar
memiliki satu Puskesmas Kelurahan yang berada di bawah naungan
Puskesmas Kecamatan Cimanggis dan letaknya berdekatan dengan Kantor
Kelurahan, namun belum dioperasionalkan karena minimnya tenaga
kesehatan yang dimiliki Puskesmas Kecamatan Cimanggis. Sehingga fasilitas
pelayanan kesehatan tingkat pertama berada di bawah tanggung jawab
Puskesmas Kecamatan Cimanggis, sesuai asas wilayah, yang berjarak kurang
lebih 1,5 km dari Kelurahan Cisalak Pasar. Kelurahan Cisalak Pasar memiliki
satu buah pasar yang terletak di perbatasan RW03 dan RW 04 yang jaraknya
berdekatan dengan rumah warga. Terdapat beberapa masalah kesehatan
berdasarkan hasil pengkajian mahasiswa residen spesialis komunitas FIK UI
yang salah satunya adalah masalah gizi kurang pada balita terutama pada
balita di RW 07.
Universitas Indonesia
42
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
43
RW 07 merupakan pemukiman padat penduduk dengan jumlah penduduk ±
2248 jiwa yang terdiri dari 1243 jiwa laki-laki dan 1005 jiwa perempuan.
Mayoritas penduduknya memiliki tingkat pendidikan akhirnya SMA,
beragama Islam, dan berasal dari suku Jawa. Pekerjaan yang dimiliki
mayoritas penduduknya yaitu karyawan swasta dengan pendapatan rata-rata
lebih dari satu juta rupiah perbulannya.
Wilayah RW 07 mudah diakses karena letaknya yang berdekatan dengan
pasar. Terdapat angkutan umum yang melintasi jalan utama, sedangkan
sebagian besar wilayah hanya bisa diakses dengan kendaraan roda dua karena
kepadatannya. Pembuangan sampah dikelola oleh RW, namun masih ada
sebagian warga yang membakar sampah di halaman rumahnya. Terdapat
saluran air got yang mengalir lancar, namun di beberapa pemukiman nampak
tersumbat oleh sampah dedaunan. Sumber air minum warga sebagian besar
menggunakan air tanah yang berasal dari sumur warga.Terdapat satu buah
pasar yang berdekatan dengan RW 07 yang mudah diakses warga dengan
berjalan kaki. Selain itu pada tiap RT juga banyak dijumpai tukang-tukang
sayur dan juga warung makanan siap saji ataupun warung kecil yang menjual
jajanan anak yang sebagian besar mengandung MSG, sehingga mudah bagi
warga RW 07 untuk mengakses sumber bahan pangan.
Fasilitas pelayanan kesehatan yang biasa digunakan warga yaitu Puskesmas
Kecamatan Cimanggis, Praktek bidan, Praktek dokter swasta, Posyandu dan
Posbindu. Posyandu maupun Posbindu merupakan UKBM yang dilaksanakan
sebulan sekali berdasarkan swadaya masyarakat dengan pembinaan dari
Puskesmas Kecamatan Cimanggis. Teerdapat satu buah Posbindu dan tiga
buah Posyandu di wilayah RW 07. Posyandu Flamboyan 1 mengelola balita
dan ibu hamil yang ada di wilayah RT 01 dengan kunjungan rata-rata
perbulannya berjumlah ± 60 balita dan dilaksanakan tanggal 11 setiap
bulannya. Posyandu Flamboyan 2 mengelola balita dan ibu hamil yang ada di
wilayah RT 03, 04, 05, 06, dan 07 dengan rata-rata kunjungan perbulannya ±
60 balita yang dilaksanakan pada tanggal 19 setiap bulannya. Sedangkan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
44
Flamboyan 3 mengelola balita dan ibu hamil yang ada di wilayah RT 02
dengan rata-rata kunjungan perbulannya mencapai ± 40-50 balita dan
dilaksanakan pada tanggal 17 setiap bulannya.
Seluruh posyandu yang ada di wilayah RW 07 belum melakukan sistem 5
meja dengan alasan keterbatasan tenaga kader yang ada. Berdasarkan
pengamatan pada saat penimbangan, terdapat 3-5 orang kader pada masingmasing posyandu saat penimbangan berlangsung. Jenis makanan tambahan
yang disediakan posyandu juga beraneka ragam. Posyandu Flamboyan 1
berdasarkan pengamatan selama dua kali penimbangan menggunakan
makanan siap saji seperti sosis, wafer, biskuit, dan susu. Pada posyandu
Flamboyan 2 memberikan makanan tambahan berupa telur rebus, bubur,
biskuit, dan susu. Sedangkan posyandu Flamboyan 3 memberikan bubur
kacang hijau dan puding sebagai makanan tambahan saat penimbangan.
Perawat melakukan wawancara dengan kader dengan hasil; sebagian besar
kader sudah pernah dilatih tentang gizi seimbang balita, namun saat ditanya
seputar gizi seimbang balita pada sebagian kader, kader mengatakan sudah
lupa. Jarang dilakukan supervisi dari puskesmas terhadap aktivitas posyandu.
Posyandu juga jarang melakukan penyuluhan kesehatan baik yang dilakukan
oleh kader maupun oleh pihak puskesmas. Masalah kesehatan rata-rata yang
dialami oleh balita di RW 07 yaitu batuk, pilek, panas, dan diare. Pada
skreening gizi yang dilakukan mahasiswa terhadap balita yang melakukan
penimbangan pada tiga posyandu di RW 07, didapatkan data 5 orang balita
memiliki status gizi buruk dengan kriteria BB/U kurang dari -3SD dengan 1
orang diantaranya mengalami gangguan tumbuh kembang dan 8 orang balita
mengalami gizi kurang dengan kriteria BB/U berada pada range -3SD sampai
dengan -2SD.
Wawancara yang dilakukan perawat terhadap ibu-ibu balita yang balitanya
memiliki masalah gizi, 100% ibu kurang pengetahuannya tentang gizi
seimbang balita, 82,35% belum melakukan pengolahan bahan makanan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
45
dengan benar, 58,82% balitanya mengalami sulit makan, dan 82,35% ibu
tidak melakukan modifikasi makanan anak.
4.2. Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep dan Penelitian Terkait
KKMP dan Konsep Kasus Terkait.
Keluarga Bpk. R berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi menengah ke
bawah. Penghasilan rata-rata Bpk. R sebenarnya masih di atas Upah
Minimum Regional (UMR) Kota Depok, namun dengan jumlah anak
sebanyak tujuh orang ditambah dengan anggota keluarga lain yang tinggal
dalam satu rumah dengannya menjadikannya kadang sulit memenuhi
kebutuhan rumah tangganya sehingga ia masuk dalam kategori sosial
ekonomi menengah ke bawah.
An. M (35 bln) yang merupakan anak ke tujuh Bpk. R, berdasarkan
pengkajian yang telah dilakukan perawat memiliki BB 11 kg dengan TB 92
cm, dimana berdasarkan BB/U maupun BB/PB Standar Gizi Nasional
KEMENKES Tahun 2011 berada pada range -3SD sampai dengan -2SD atau
kategori gizi kurang atau kurus. Hasil pengamatan perawat, asupan makanan
An. M tidak adekuat baik secara kualitas maupun kuantitas. An. M sehariharinya berada dibawah pengasuhan Nenek L, ia seringkali makan disuapi
berdua dengan kakaknya dalam satu porsi nasi. An. M kadang makan hanya
3-5 sendok saja dan makanan yang disajikan keluarga juga tidak memenuhi
kriteria gizi seimbang, misalnya tempe atau tahu saja yang diberi kuah santan,
atau sayur tumis kacang panjang tanpa lauk, sehingga An. M mengalami
masalah kesehatan ketidakseimbangan nutrisi pada balita. Hal ini sejalan
dengan Adisasmito (2008) yang menyatakan faktor sosial yang berkontribusi
dalam masalah gizi kurang pda balita yaitu rendahnya kesadaran masyarakat
akan pentingnya makanan bergizi bagi anak, sehingga anak makan
sekadarnya atau asal kenyang namun miskin gizi. BPPN (2007) juga
menyatakan bahwa penyebab langsung gizi kurang yaitu kurangnya asupan
gizi.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
46
Fokus perhatian keluarga terutama pada pemenuhan kebutuhan pokok,
sehingga peran ibu yang seharusnya mengasuh anak juga turut membantu
suami mencari nafkah, ayah yang jarang pulang untuk menghemat
pengeluaran keluarga, dan peran nenek yang seharusnya sudah menikmati
masa tuanya namun masih harus mengasuh cucu sambil berdagang,
menjadikan tugas pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak balita menjadi
terabaikan. Hal ini sejalan dengan Harsiki (2002) yang menyatakan terdapat
hubungan yang bermakna antara pola asuh anak, konsumsi energi dan protein
dengan keadaan gizi anak balita.
Bpk. R tinggal di daerah pemukiman padat penduduk di wilayah RW 07
Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok yang merupakan
wilayah perkotaan subklasifikasi nonmetropolitan dengan karakteristik
penduduknya yang padat, corak kehidupan sosial yang beragam, dan adanya
stratifikasi sosial sesuai dengan definisi masyarakat perkotaan menurut
Waluya (2007). Masalah gizi merupakan salah satu masalah kesehatan yang
dapat timbul pada masyarakat perkotaan sebagai dampak dari masalah
ekonomi dan kemiskinan yang berakibat pada ketidakmampuan memenuhi
kebutuhan nutrisi. Banyaknya kaum pendatang yang datang ke perkotaan
meningkatkan persaingan dalam ekonomi yang menyebabkan meningkatnya
kemerosotan perekonomian, kehilangan pekerjaan, banyaknya pengangguran,
dan menyebabkan meningkatnya masalah kesehatan (Allender, Rector, &
Warner, 2010).
Penghasilan Bpk.R sebenarnya masih di atas UMR Kota Depok, namun
jumlah anak yang banyak (tujuh orang), tingkat pendidikan ibu yang rendah
dan pengetahuan terkait gizi balita yang kurang menyebabkan An. M
mengalami masalah gizi. Hal ini sejalan dengan BPPN (2007) yang
menyatakan salah satu penyebab masalah gizi pada balita yaitu rendahnya
daya beli dan ketidaktersediaannya pangan yang bergizi, faktor sosial
ekonomi, serta rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
47
Anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami resiko kurang gizi karena
keterbatasan suplai makanan, keterbatasan akses terhadap makanan, faktor
orang tua dengan keterbatasan pendidikan, pilihan gaya hidup yang tidak
sehat, dan kurangnya informasi dan akses kesehatan (Hitchcock, Schubert, &
Thomas,1999). Muljati, dkk (1992) dalam Puspitasari (2012) menyatakan
bahwa anak dengan masalah gizi kurang lebih banyak dijumpai pada keluarga
dengan jumlah anak banyak, pendapatan keluarga yang rendah mungkin
masih dapat mencukupi untuk 1-2 anak, tetapi tidak cukup untuk 3 anak atau
lebih. Kartono (1993) dalam Puspitasari (2012) menyatakan semakin besar
nomor urut kelahiran anak dalam keluarga, semakin cenderung untuk
menderita gizi kurang. Harsiki (2002) menyatakan terdapat hubungan yang
bermakna antara pola asuh anak, konsumsi energi dan protein dengan
keadaan gizi anak balita.
4.3. Analisis Intervensi Inovasi Unggulan dengan Konsep dan Penelitian
Terkait
Balita untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal memerlukan
asupan nutrisi yang adekuat, baik dari kualitas maupun kuantitasnya,
sehingga
intervensi
unggulan
yang
diangkat
oleh
perawat
adalah
“Penyusunan menu makanan dengan gizi seimbang dan pembuatan makanan
selingan kaya energi dan protein pada balita”.
Implementasi yang dilakukan oleh perawat selama memberikan asuhan
keperawatan keluarga terhadap An. M dengan masalah keperawatan
ketidakseimbangan nutrisi pada anak balita yaitu berupa pemberian edukasi
tentang gizi seimbang balita dan jenis makanan tambahan lokal yang dapat
dibuat keluarga dengan harga yang ekonomis namun kaya energi dan protein,
dan juga jenis jajanan sehat balita. Selain itu perawat bersama keluarga juga
menyusun menu seimbang balita dan jadwal pemberian makanan tambahan
kaya energi dan protein serta melakukan demonstrasi pemilihan bahan
makanan dan pengolahan bahan makanan yang baik agar nutrisi yang
terkandung dalam bahan makanan tidak hilang saat pengolahan dan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
48
demonstrasi pembuatan nuget sayur sebagai trik mengatasi balita yang sulit
makan sayur dan pembuatan makanan selingan berupa puding ekonomis
namun kaya energi dan protein.
Hal ini sejalan dengan penelitian Fitriyani (2009) yang mengatakan salah satu
cara untuk meningkatkan dan merubah status gizi balita, diantaranya melalui
pemberian makanan camilan. Dan penelitian Putri (2011)
yang
mengungkapkan ada hubungan antara kasus gizi kurang dengan asupan
energi. UNICEF (2009) juga menganjurkan nutrisi yang adekuat merupakan
kunci penting mengatasi gizi kurang pada anak dan pemberian makanan
tambahan terjadwal dan adekuat menggunakan makanan lokal terutama yang
berbahan dasar lemak merupakan salah satu intervensi utama mengatasi gizi
kurang pada balita. Sedangkan jenis makanan lokal untuk pemulihan gizi
yang dianjurkan oleh KEMENKES (2011) adalah jenis makanan yang padat
energi.
Perawat melakukan evaluasi terhadap berat badan balita setelah dilakukan
intervensi selama satu bulan dan diperoleh kenaikan berat badan balita
sebesar 500 gram, dengan berat badan awal 11 kg menjadi 11,5 kg. Sehingga
An. M yang semula memiliki status gizi kurang (berada pada rentang -3SD
sampai dengan -2SD) saat ini memiliki status gizi baik (berada pada rentang 2SD sampai dengan 2SD). Perawat menemukan beberapa kendala dalam
menerapkan intervensi unggulan ini yaitu berupa ketidakpatuhan keluarga,
dalam hal ini nenek klien, untuk menaati menu dan jadwal makanan yang
telah disepakati. Namun dengan motivasi dan edukasi yang terus menerus
maka hal ini dapat diatasi. Pada evaluasi akhir didapatkan tingkat
kemandirian keluarga juga meningkat dari Kemandirian Keluarga Tingkat 1
menjadi Kemandirian Tingkat III.
4.4. Alternatif Pemecahan yang Dapat Dilakukan.
Perawat merasakan perlu adanya peningkatan pengetahuan yang terusmenerus tentang pentingnya gizi seimbang balita dan pemberian makanan
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
49
tambahan kaya energi dan protein terhadap orang tua balita khususnya yang
balitanya memiliki masalah gizi kurang. Selain itu perlu adanya
pendampingan kader terhadap keluarga yang memiliki balita gizi kurang
untuk membantu keluarga mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya
serta memberikan motivasi agar keluarga mampu mengatasi masalah
kesehatannya. Kader posyandu juga seyogyanya menjadi role model bagi
keluarga balita dalam memberikan jenis makanan tambahan yang sehat di
posyandu yang dikelolanya. Alibas, (20--) menyatakan bahwa pengetahuan
ibu tentang gizi dan keterlibatan TP-PKK, dalam hal ini kader, berpengaruh
terhadap prevalensi gizi kurang. Retno (2012) juga menyatakan ada hubungan
yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu dengan status gizi balita
setelah mendapat PMT-P di DKI Jakarta. DEPKES (2002) dalam puspitasari
(2012) menyatakan rendahnya pengetahuan dan pendidikan ibu merupakan
penyebab dasar kurang gizi karena sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan
keluarga dalam mengelola sumber daya yang ada untuk mendapatkan
kecukupan bahan makanan, serta pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan
gizi dan sanitasi lingkungan.
Pihak Puskesmas, khususnya program gizi, juga harus rutin memantau
kegiatan posyandu dan bekerja sama dengan kader posyandu melakukan
skrining gizi balita setiap bulannya, agar balita gizi kurang dapat terdeteksi
sejak dini dan dicarikan alternatif pemecahan masalahnya, salah satunya
melalui pemberian gizi seimbang balita dan pemberian makanan tambahan
kaya energi dan protein, sehingga balita tersebut tidak berlarut mengalami
masalah gizi kurang yang dapat berdampak pada menurunnya status gizi
balita menjadi gizi buruk ataupun terjadinya gangguan tumbuh kembang pada
balita. Selain itu, pengaktifan meja 4 posyandu dapat menjadi sarana bagi ibu
balita yang balitanya mengalami sulit makan sehingga masalah gizi kurang
pada balita dapat dihindari dan petugas puskesmas beserta kader posyandu
dapat secara gencar melakukan tindakan promotif dalam pencegahan masalah
gizi pada balita.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
BAB 5
PENUTUP
5.1. Kesimpulan.
Gizi kurang merupakan salah satu masalah kesehatan yang muncul pada masyarakat
perkotaan. Masalah gizi muncul salah satunya sebagai akibat dari faktor sosial ekonomi
dan kemiskinan pada masyarakat perkotaan. Ketidaktersediaannya bahan pangan yang
bermutu karena harga pangan yang melambung dengan kondisi perekonomian warga
yang menurun turut berkontribusi dalam menimbulkan masalah gizi. Balita sebagai salah
satu kelompok yang rentan terhadap masalah gizi karena faktor sosial ekonomi dan
kemiskinan mengalami masalah gizi terutama balita yang berasal dari keluarga miskin
atau tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah karena keterbatasan suplai makanan,
keterbatasan akses terhadap makanan, faktor orang tua dengan keterbatasan pendidikan,
pilihan gaya hidup yang tidak sehat, dan kurangnya informasi dan akses kesehatan .
Asupan makan balita yang kurang dari kebutuhan dan kebiasaan keluarga yang kurang
sehat dalam memberikan asupan makanan pada balita turut berkontribusi dalam
mempengaruhi pemenuhan gizi balita.
Beragam upaya dilakukan pada berbagai tatanan untuk mengatasi masalah gizi kurang
pada balita, salah satunya melalui keluarga, sebagai salah satu pendekatan intervensi
untuk menangani masalah gizi pada balita. Teori model keperawatan yang digunakan
dalam melakukan asuhan keperawatan kepada keluarga yaitu model Family Centre
Nursing (FCN) menurut Friedman atau asuhan yang berpusat pada keluarga. Asuhan
keperawatan yang dilakukan terdiri dari pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan,
perencanaan, implementasi keperawatan, dan evaluasi.
An. M (35 bln), keluarga Bpk. R (45 Thn), berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan
perawat memiliki BB 11 kg dengan TB 90 cm, dimana berdasarkan BB/U maupun
BB/PB Standar Gizi Nasional KEMENKES Tahun 2011 berada pada range -3 SD
sampai dengan -2SD atau kategori gizi kurang atau kurus. Keluarga Bpk. R berasal dari
keluarga dengan sosial ekonomi menengah ke bawah. Hasil pengamatan perawat, asupan
Universitas Indonesia
50
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
51
makanan An. M tidak adekuat baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga An. M
mengalami masalah kesehatan ketidakseimbangan nutrisi pada balita.
Implementasi yang sudah dilakukan perawat bersama keluarga meliputi menjelaskan
pada keluarga tentang gizi kurang dan pentingnya gizi seimbang balita, cara pemilihan
dan pengolahan bahan makanan yang sehat, penyusunan menu makanan dengan gizi
seimbang bagi balita dan pembuatan makanan selingan/camilan sehat kaya energi dan
protein dengan harga ekonomis namun padat gizi, pembuatan jadwal makan balita, cara
memodifikasi lingkungan untuk mengatasi anak yang sulit makan,dan pemanfaatan
fasilitas kesehatan untuk mengatasi masalah gizi pada balita.
Implementasi inovasi perawat yaitu “Penyusunan menu makanan dengan gizi seimbang
dan pembuatan makanan selingan kaya energi dan protein” yang diberikan kepada balita
bersama-sama keluarga sesuai jadwal yang telah disepakati bersama keluarga.
Implementasi tersebut sudah dilakukan perawat bersama keluarga selama satu bulan dan
saat dilakukan evaluasi berhasil meningkatkan berat badan balita sebesar 500 gram.
Status gizi An. M saat ini berdasarkan BB/U dan BB/TB Standar Gizi Nasional
KEMENKES (2011) berada pada range -3SD sampai dengan -2SD atau Kategori Gizi
Baik atau Normal. Hal ini sejalan dengan penelitian Fitriyani (2009) yang mengatakan
salah satu cara untuk meningkatkan dan merubah status gizi balita, diantaranya melalui
pemberian makanan camilan. Pemberian makanan camilan atau makanan tambahan,
tentu saja harus dipilih baik dari jenis, komposisi maupun jumlahnya. Putri (2011)
mengungkapkan ada hubungan antara kasus gizi kurang dengan asupan energi. Sehingga
KEMENKES (2011) menganjurkan makanan untuk pemulihan gizi salah satunya adalah
jenis makanan lokal yang padat energi dan diperkaya dengan vitamin dan mineral.
Evaluasi akhir terhadap asuhan keperawatan keluarga yang dilakukan perawat terhadap
keluarga Bpk. R, khususnya An. M dengan masalah ketidakseimbangan nutrisi pada
balita telah tercapai, dimana status gizi An. M saat ini Gizi Baik atau Normal, dan
berhasil meningkatkan tingkat kemandirian keluarga dari Tingkat Kemandirian 1
menjadi Tingkat Kemandirian III.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
52
5.2. Saran.
5.2.1. Bagi Kader Posyandu.
Kader agar terus bersemangat dalam memotivasi keluarga dengan masalah gizi
kurang maupun yang beresiko mengalami kurang gizi melalui penyusunan menu
makanan dengan gizi seimbang dan pembuatan makanan selingan kaya energi dan
protein pada balita. Kader sebaiknya dapat menjadi role model bagi ibu-ibu yang
balitanya mengalami gizi kurang melalui pemberian makanan yang padat gizi sebagai
makanan tambahan yang diberikan bagi balita di posyandu yang dikelolanya. Kader
sebagai perpanjangan tangan puskesmas harus lebih meningkatkan pengetahuannya
tentang gizi seimbang balita dan memberikan edukasi terkait gizi balita di meja 4
posyandu untuk meningkatkan pengetahuan ibu-ibu balita tentang pentingnya gizi
seimbang bagi balita.
Kader dapat memberikan dukungan bagi keluarga yang balitanya mengalami masalah
gizi kurang berupa pendampingan keluarga; 1 kader mendampingi 8-10 keluarga
balita. Deteksi dini terhadap masalah gizi kurang dapat dilakukan di posyandu
terhadap balita yang berat badannya tidak naik atau turun dalam dua kali
penimbangan. Kader juga dapat mengaktifkan sistem pelaporan hasil penimbangan
balita di posyandunya kepada puskesmas dan memberikan label khusus atau tanda
khusus pada Kartu Menuju Sehat (KMS) balita bagi balita yang memiliki masalah gizi
maupun yang beresiko terhadap masalah gizi, misalnya label kuning pada KMS balita
yang beresiko mengalami masalah gizi dan label merah pada KMS balita yang sudah
mengalami masalah gizi.
5.2.2. Bagi Tenaga Kesehatan.
Pengalaman perawat dalam merawat balita dengan masalah ketidakseimbangan nutrisi
pada balita dengan menerapkan implementasi inovasi unggulan penyusunan menu
makanan dengan gizi seimbang dan pembuatan makanan selingan kaya energi dan
protein pada balita dengan masalah gizi, dapat dipertimbangkan sebagai salah satu
cara yang dapat dilakukan pihak puskesmas untuk mengatasi masalah gizi kurang
pada balita yang ada di wilayah Cisalak Pasar. Peran tenaga kesehatan dalam
memberikan motivasi dan dukungan terhadap kader posyandu dapat menjadi
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
53
penyemangat bagi kader untuk berperan serta aktif mangatasi masalah gizi kurang di
wilayahnya. Supervisi dan monev terhadap kinerja posyandu perlu ditingkatkan dalam
rangka deteksi dini terhadap masalah gizi kurang yang ada di wilayah Cisalak Pasar.
Support atau dukungan sosial berupa dukungan emosional maupun dukungan
informasi terhadap keluarga dengan masalah gizi kurang dapat meningkatkan
semangat keluarga mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya. Tenaga
kesehatan juga dapat membentuk kelompok swa bantu untuk menolong keluarga yang
balitanya mengalami masalah gizi. Masalah gizi balita merupakan masalah bersama
yang harus dipecahkan bersama baik dari lintas program maupun lintas sektoral dan
bukan merupakan aib yang harus ditutupi.
5.2.3. Bagi Keluarga dengan Balita.
Peran serta keluarga dan keterlibatan aktif keluarga dalam mengatasi masalah gizi
pada balita merupakan faktor yang sangat penting yang dapat mempengaruhi
keberhasilan intervensi. Keluarga balita sebaiknya aktif menggali informasi tentang
gizi seimbang balita dan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada untuk mengatasi
masalah kesehatan anggota keluarganya. Dukungan dari sesama keluarga yang
balitanya memiliki masalah gizi dapat membantu berbagi informasi, pengalaman, dan
trik mengatasi masalah gizi anak balita sehingga balita tidak mengalami masalah gizi
kurang ataupun gizi buruk yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan tumbuh
kembang pada balita.
Implementasi inovasi yang dilakukan perawat berupa penyusunan menu makanan
dengan gizi seimbang dan pembuatan makanan selingan kaya energi dan protein pada
balita dengan masalah gizi kurang terbukti dapat menaikkan status gizi balita
sehingga dapat disarankan untuk digunakan pada keluarga untuk mencegah masalah
kurang gizi pada balita maupun untuk mengatasi masalah gizi pada balita.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
DAFTAR PUSTAKA
Adisasmito, W. (2008). Analisis politik nasional dan millennium development
goal (mdg). Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia.
Adisasmito, W. (2008). Rancangan undang-undang RI tentang pemberian
makanan tambahan dan pemeriksaan kesehatan berkala bagi anak usia 1
(satu) sampai dengan 12 (dua belas) tahun. Depok: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia.
Alibas, S. (2006). Efektifitas program perbaikan gizi dalam pencegahan dan
penanggulangan kurang gizi di kabupaten dan kota propinsi sulawesi
tenggara. Tesis. Depok: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Allender, J. A. Rector, C. & Warner, K. D. (2010). Community health nursing:
Promoting and protecting the public’s health. (7th ed). Lippincott
Williams & Wilkins..
Almatsier, S. (2009). Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Arora. C. (2009). Child nutrition. India: ABD Publisher.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2007). Riset kesehatan dasar
2007. Balitbangkes.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2007). Laporan perkembangan
pencapaian millennium development goals Indonesia 2007. Kementerian
Negara
Perencanaan
Pembangunan
Nasional/Badan
Perencanaan
Pembangunan Nasional.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2007). Rencana aksi nasional
pangan dan gizi 2006-2010. Bappenas.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2010). Riset kesehatan dasar
2010. Balitbangkes.
Badan Pusat Statistik. (2008). Analisis dan perhitungan tingkat kemiskinan 2008.
Jakarta. http://daps.bps.go.id.
Bintarto. (1989). Interaksi desa-kota. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Brown, Judith. (2005). Nutrition through the life cycle. USA: Wadsworth.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
(2000). Situasi pangan dan gizi Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
(2003), Panduan umum gizi seimbang (panduan untuk petugas). Jakarta:
Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
(2004). Angka kecukupan gizi yang dianjurkan bangsa Indonesia. Jakarta:
Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
(2008). Pedoman perawat kesehatan masyarakat di puskesmas. Jakarta:
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
(2008). Profil kesehatan Indonesia 2008. Jakarta. http://www.depkes.go.id.
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
(2010). Keputusan menteri kesehatan nomor 908/Menkes/SK VIII/2010
tentang
pedoman
penyelenggaraan
pelayanan
keluarga.
Jakarta.
http://www.yanmedik.depkes.go.id.
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
(2011). Laporan nasional riset kesehatan dasar tahun 2010. Badan
Perencanaan dan Penelitian Kesehatan. http://www.litbang.depkes.go.id.
Dinkes Kota Depok. (2010). Profil kesehatan kota depok 2010. Depok: Tidak
dipublikasikan.
Fitriyani, Poppy. (2009). Studi fenomenologi pengalaman keluarga memenuhi
kebutuhan nutrisi balita gizi kurang di kelurahan pancoran mas depok..
Tesis. Program Studi Pasca Sarjana. Kekhususan Keperawatan Komunitas.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Depok.
Friedman, M. M., Bowden, V.R. & Jones, E.G. (2003). Family nursing :
Research, theory and practice. (4th ed). California: Appleton and Lange.
Harsiki, M. M. T. (2002). Hubungan pola asuh anak dan faktor lain dengan
keadaan gizi anak balita keluarga miskin di pedesaan dan perkotaan propinsi
sumatra
barat tahun 2002. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
Helvie. O. C., (1998). Advanced practice nursing in the community. New Delhi:
Sage Publications.
Hidayati, Nur. (2011). Hubungan tugas kesehatan keluarga, karakteristik
keluarga dan anak dengan status gizi balita di wilayah puskesmas kelurahan
pancoran mas, kota depok. Tesis. Program Studi Pasca Sarjana. Kekhususan
Keperawatan Komunitas, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia,
Depok.
Hitchock, J., Schubert, P., & Thomas, S. (1999). Community health nursing:
caring in action. Delmar Publishers. International Thomson Publishing
Company.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Keputusan menteri
kesehatan RI nomor: 1995/MENKES/SK/XII/2010. Tentang standar
antropometri penilaian status gizi anak.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Panduan penyelenggaraan
pemberian makanan tambahan pemulihan bagi balita gizi kurang. Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Anak. (2013). Pertemuan
nasional integrasi gizi dan kesehatan anak dalam rangka akselerasi
pencapaian MDG 1 dan 4. Artikel. www.gizikia.depkes.go.id.
Kozier, Erb et al. (2004). Fundamental of nursing: Concepts, process and
practice. (7th ed). New Jersey: Pearson.
Marriner, Ann, Ph.D. (2001). Teori ilmu keperawatan para ahli dan berbagai
pandangannya. (Nursing theorists and their work). Alih bahasa: Ismail
Ekawijaya.& Ridlo Riyono. Jakarta: EGC.
Maglaya, Araceli S., et al. (2009). Nursing practice in the community. (5th ed).
Philippine : Argonauta Corporation.
Puspitasari, D.A. (2012). Perubahan status gizi pada anak balita gizi kurang yang
mengikuti pemulihan gizi buruk di klinik gizi PPTK dan EK. (Analisa data
sekunder klinik gizi pusat teknologi terapan kesehatan dan epidemiologi
klinis dari tahun 2006-2010). Skripsi. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
Putri. (2011). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian wasting pada
anak umur 6-59 bulan di Indonesia tahun 2010. (Analisis data RISKESDAS
2010). Tesis. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Sariningsih. (2002). Kasus terhadap orang tua balita dari keluarga miskin di
kelurahan babakan surabaya kecamatan kiaracondong kota bandung. Depok:
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Sarlito. W. S. (1992). Psikologi lingkungan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia.
Soekirman, et all. (2006). Hidup sehat gizi seimbang dalam siklus kehidupan
manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
Stanhope & Lancaster. (2004). Community health nursing. (5th ed). St Louis
United States: Mosby Inc.
Supariasa, IDN. et al. (2002). Penilaian status gizi. Jakarta: EGC.
Sulistyawati. (2011). Pengaruh pemberian diet formula 75 dan 100 terhadap
berat badan balita gizi buruk rawat jalan di wilayah kerja puskesmas
pancoran mas kota depok. Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia.
UNICEF. (2009). Tracking progress on child and maternal nutrition; A survival
and development priority.
UNICEF. (2012). Levels and trends in child malnutrition: Unicef. Who. The world
bank joint child malnutrition estimates.
United Nations Declaration (UND). 2000. Millenium Development Goals: a
Compact
among
Nations
to
End
Human
Poverty
in
2015.
http://mdgs.un.org.
Universitas Indonesia. (2008). Pedoman teknis penulisan tugas akhir mahasiswa
universitas indonesia. Tidak dipublikasikan.
Waluya. B. (2007). Sosiologi menyelami fenomena sosial di masyarakat untuk
kelas XI sekolah
menengah atas/madrasah aliyah; Program ilmu
pengetahuan social. Bandung: PT Setia Purna Inves.
Widyatuti. (2001). Meningkatkan status gizi balita melalui asuhan keperawayan
keluarga di wilayah Kelurahan Rawa Bunga Kecamatan Jatinegara, Jakarta
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
Timur. Laporan penelitian. Jakarta: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia, Depok.
Wong, D.L, et all. (2002). Buku ajar keperawatan pedriatik, Vol.2 Edisi 6.
Jakarta: EGC.
Universitas Indonesia
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA.
1. PENGKAJIAN.
a. Data Umum.
1) Nama kepala keluarga
: Bpk. R.
2) Umur
: 45 tahun.
3) Alamat
: Jl. Mawar RT 02/07 No. 57 Kelurahan
Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok.
4) Komposisi anggota keluarga
:
No Nama
Umur
Jenis Kelamin
Hubungan
Pendidikan Pekerjaan
keluarga
1
Bpk. R
45 Th
Laki-laki
Kepala
SMA
Supir bus
SD
Pembantu
Keluarga
2
Ibu. Rs
42 Th
Perempuan
Istri
Rumah
Tangga
3
Nenek. L
65 Th
Perempuan
Nenek
SD
Dagang
4
Tn.D
38 Th
Laki-laki
Adik Ipar
SMA
Karyawan
Swasta
5
Nn. St
19 Th
Perempuan
Anak
SMA
Karyawan
Swasta
6
An. Ss
15 Th
Perempuan
Anak
SMP
Pelajar
7
An. Rm
12 Th
Perempuan
Anak
SD
Pelajar
8
An. V
8 Th
Perempuan
Anak
SD
Pelajar
9
An. Ry
6 Th
Laki
Anak
PAUD
Pelajar
10
An. M
35 bl
Laki
Anak
Belum
sekolah
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
-
5) Genogram:
35
bln
Keterangan:
Keluarga Bpk. R merupakan type extendeed family, dimana dalam satu keluarga terdiri dari
keluarga inti dan orang lain selain keluarga inti, yaitu nenek L dan Tn. D. Bpk. R merupakan
anak pertama dari empat bersaudara yang berasal dari suku Betawi-Sunda, sedangkan Ibu Rs
merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Keluarga Bpk. R memiliki tujuh orang anak
dimana anak pertamanya sudah menikah dan tinggal bersama keluarga barunya. Port d’entry
dari keluarga Bpk. R yaitu pada An.M dimana status gizi An.M saat ini berada pada rentang 3 Standar Deviasi sampai -2 Standar Deviasi atau kategori Kurus.
6) Type Keluarga.
Keluarga Bpk. R merupakan Type Extendeed Family, dimana dalam satu
keluarga terdiri dari keluarga inti dan orang lain selain keluarga inti, yaitu
ibu kandung Ibu. Rs atau nenek dari An. M dan adik ibu Rs.
7) Suku.
Bpk. R dan Ibu. Rs berasal dari Suku Betawi-Sunda. Keluarga Bpk. R
tinggal di rumah keluarga Ibu. Rs bersama dengan ibu kandung Ibu. Rs.
Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah Bahasa Indonesia. Tidak ada
nilai yang terkait budaya yang diyakini keluarga yang dapat merugikan
kesehatan.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
8) Keyakinan/agama.
Bpk. R dan Ibu. Rs beragama Islam dan sehari-hari menjalankan shalat
lima waktu, puasa ramadhan, dan mengaji. Ibu Rs menyatakan tidak ada
masalah dalam menjalankan ibadahnya sehari-hari. Selain itu tidak ada
keyakinan yang dianut ia dan keluarganya terkait kesehatan yang dapat
merugikan kesehatan.
9) Kelas sosial dan status ekonomi.
Bpk R bekerja sebagai supir bis pariwisata antar kota dan antar propinsi
dengan penghasilan tak menentu ± 2-3 juta per bulannya. Penghasilan
Bpk. R sebenarnya masih di atas rata-rata Upah Minimum Regional
(UMR) Kota Depok, namun karena jumlah tanggungan dalam keluarga
juga banyak, menyebabkan penghasilannya tersebut sering tidak
mencukupi kebutuhan keluarga. Ibu Rs membantu Bpk. R bekerja untuk
mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Ibu Rs bekerja sebagai pembantu
rumah tangga dengan penghasilan ± Rp. 800.000 per bulan. Ibu Rs
mengatakan kadang Nenek L masih ikut membantu memenuhi kebutuhan
keluarga dengan menggunakan uang pensiun peninggalan suaminya dan
hasil berdagang kecil-kecilan di depan rumah mereka.
10) Aktivitas rekreasi keluarga.
Bpk. R dan Ibu Rs jarang memiliki aktivitas rekreasi secara khusus.
Aktivitas rekreasi yang dilakukan keluarga bersama-sama hanya menonton
televisi bersama. Ibu Rs mengatakan sulit untuk berekreasi bersama-sama
dengan jumlah anak yang banyak.
b. Riwayat dan Tahap Perkembangan.
1) Tahap Perkembangan Keluarga Inti.
Tahap perkembangan keluarga saat ini menurut Duvall dan Miller dalam
Allender, et al (2010) adalah berada pada Tahap VI; Keluarga melepaskan
anak dewasa muda, di mana anak pertama Bpk. R sudah menikah dan
keluar dari rumah untuk tinggal bersama suaminya. Tugas perkembangan
keluarga pada tahap ini adalah: Menyeimbangkan kebebasan dengan
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
tanggung jawab pada saat anak remaja telah dewasa dan semakin otonomi,
memfokuskan kembali hubungan pernikahan, dan berkomunikasi secara
terbuka antara orang tua dan anak.
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.
Tahap perkembangan keluarga Bpk R seharusnya ia dan Ibu Rs sudah
memiliki anak yang dewasa dan dapat lebih memfokuskan kembali
hubungan pernikahan. Tahap ini belum dapat mereka penuhi karena
mereka memiliki banyak anak yang salah satunya masih balita dan
memiliki masalah gizi kurang, sehingga fokus perhatian keluarga saat ini
berpusat terutama pada An. M, anak ke tujuh dari Bpk. R dan Ibu Rs.
3) Riwayat keluarga Inti.
Bpk R menikah dengan ibu Rs saat ia berusia 22 tahun dan ibu Rs 19
tahun. Mereka tinggal bersama di rumah orang tua Ibu Rs karena saat itu
pekerjaan Bpk R belum menentu. Bpk R dan Ibu Rs melalui proses
berpacaran dahulu selama ± 2 tahun dan menikah atas keinginan sendiri
tanpa paksaan dari siapa pun. Bpk R dan Ibu Rs saling mencintai
walaupun Bpk R lebih banyak tidur di mess tempatnya bekerja untuk
menghemat pengeluaran. Bpk R jarang pulang ke rumah. Ia pulang kadang
seminggu sekali karena merasa sayang dengan mahalnya ongkos yang
harus ia keluarkan. Ibu Rs memahami kendala yang dirasakan suaminya
dan tidak keberatan dengan kondisi yang ada.
4) Riwayat Kesehatan keluarga sebelumnya.
Bpk R tidak memiliki riwayat penyakit jantung, diabetes, paru, dan ginjal
dalam keluarganya. Bpk R merokok 1 bungkus sehari. Ibu Rs memiliki
riwayat hipertensi yang ia derita sejak gadis dan tidak pernah kontrol
teratur. Ia tidak mengkonsumsi obat apa pun dan hanya minum obat jika
ada keluhan saja. Hipertensi tersebut ia peroleh diturunkan dari ayahnya
yang sudah meninggal ± 2 tahun ynag lalu. Tekanan darahnya saat ini
yaitu 140/90 mmHg.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
Nenek L menderita Diabetes sejak 2 tahun yang lalu. Ia rutin
mengkonsumsi obat Glibenklamid dan Metformin dan kontrol dua minggu
sekali ke puskesmas. Gula darah sewaktunya saat ini 170 mg/dl.
An. M tidak pernah menderita sakit berat, sakit yang pernah diderita yaitu
batuk pilek, demam dan diare. An. M juga tidak pernah menderita TB Paru
dan tidak ada riwayat sakit paru dalam keluarga.
c. Lingkungan.
1) Karakteristik Rumah.
Keluarga Bpk R tinggal di rumah permanen berukuran 7x10 meter yang
berada di Jalan Mawar RT 02/07 No. 57 Kelurahan Cisalak Pasar,
Cimanggis, Depok yang berlantai tegel. Kamar tidur ada 3 buah dan ruang
tamu berfungsi sebagai kamar tidur juga di malam hari, dan memiliki satu
buah kamar mandi yang terletak di dalam rumah dengan pencahayaan
yang cukup yang berasal dari lampu listrik. Lantai kamar mandi terbuat
dari keramik dan tidak licin. Pencahayaan ruangan rumah secara
keseluruhan dan ventilasi kurang karena jendela tidak berfungsi terhalang
oleh warung yang menyatu di teras rumah.
2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW.
Karakteristik tetangga kebanyakan adalah kaum pendatang, namun cukup
erat kekeluargaannya. Sebagian besar warga beragama Islam, bersuku
Jawa, dan memiliki pendidikan akhir SMA.
3) Mobilitas geografis keluarga.
Keluarga Bpk. R sudah lama tinggal di rumah tersebut sejak mereka
menikah. Alat transportasi keluarga yaitu motor. Rumah keluarga Bpk R
dekat dengan pasar. Fasilitas kesehatan yang terdekat dengan keluarga
yaitu Puskesmas Mekarsari yang mudah diakses dengan jalan kaki ataupun
dengan kendaraan roda dua.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat.
Bpk R jarang berkumpul dengan keluarganya. Bpk. R
lebih banyak
memanfaatkan waktunya di rumah untuk beristirahat. Ia tidak pernah
mengikuti kegiatan yang ada di lingkungan rumahnya. Nenek L yang lebih
sering mengikuti kegiatan yang ada di lingkungan rumah mereka, selain
karena ia mantan kader, ia juga senang mengikuti pengajian maupun
acara-acara yang diadakan di lingkungan rumah mereka.
5) Jaringan/sosial support Keluarga.
Hubungan kekeluargaannya dengan anak-anaknya erat. Bpk R sering
memantau keluarganya melalui telepon jika ia tak ada di rumah. Ibu Rs
juga selalu menelepon suaminya jika ada masalah atau hal yang perlu
didiskusikan dengan suaminya. Ibu Rs mengatakan jika ada anggota
keluarga yang sakit maka anggota keluarga yang lain juga ikut mendukung
kesembuhannya.
d. Struktur Keluarga.
1) Pola komunikasi keluarga.
Pola komunikasi dalam keluarga dua arah. Ibu Rs selalu membicarakan
segala sesuatunya dengan suaminya meskipun melalui telepon. Nenek L
juga kerap dimintai pendapatnya dalam mengatasi masalah yang ada di
keluarga.
2) Struktur kekuatan Keluarga.
Pengambil keputusan dalam keluarga adalah Bpk R. Namun jika ada
masalah dalam keluarga biasanya Bpk R mendiskusikannya dengan
istrinya juga. Tetapi kadang Ibu R mengambil keputusan sendiri tanpa
berkomunikasi dengan suaminya, terutama untuk keputusan yang sifatnya
mendesak, namun sesudahnya ia akan menceritakannya pada suaminya.
3) Struktur Peran.
Bpk R berperan sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Ibu Rs
berperan sebagai ibu rumah tangga namun ia juga membantu suaminya
mencukupi kebutuhan rumah tangga. Ibu Rs banyak dibantu oleh Nenek L
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
dalam mengasuh anak-anaknya yang masih kecil karena ia bekerja
seharian, sejak pagi hingga sore hari. Nenek L mengasuh cucu-cucunya. Ia
merasa hal tersebut bukan sebagai beban dan menjalankannya dengan
senang hati karena bisa membantu mengawasi cucu-cucunya. Nenek L
juga berdagang kecil-kecilan di teras depan rumah mereka untuk
memenuhi kebutuhannya dan juga kadang membantu memenuhi
kebutuhan anaknya karena ia menyadari anaknya membutuhkan biaya
yang tidak sedikit untuk membesarkan cucu-cucunya.
4) Nilai dan norma budaya.
Nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga adalah disesuaikan dengan
nilai dalam agama Islam, namun tidak ada nilai dan keyakinan yang
mereka anut yang bertentangan dengan kesehatan.
e. Fungsi Keluarga.
1) Fungsi Afektif.
Bpk. R dan Ibu Rs saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Mereka saling menyayangi, walaupun Bpk R hanya pulang seminggu
sekali, namun Ibu Rs memahami apa yang dilakukan suaminya untuk
kepentingan keluarga. Walaupun Ibu Rs dan Bpk. R memiliki banyak
anak, namun mereka saling menghargai satu sama lain dan tidak pernah
terlibat pertengkaran hebat di antara mereka.
2) Fungsi Sosialisasi.
Keluarga Bpk. R menghormati tetangga mereka dan hidup rukun dengan
tetangganya, walaupun mereka lebih banyak menghabiskan waktu di
rumah bila sedang tidak bekerja. Nenek L terkadang masih mengikuti
kegiatan yang ada di lingkungan mereka, terutama jika ada tetangga yang
kesusahan, seperti meninggal. Nenek L juga rajin mengikuti pengajian dan
semasa mudanya ia pernah menjadi kader posyandu.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
3) Fungsi perawatan keluarga.
Tidak terdapat nilai dan keyakinan tertentu yang diyakini keluarga yang
merugikan kesehatan. Bpk. R memiliki kebiasaan merokok 1 bungkus
sehari, namun bila di rumah ia biasa merokok di luar rumah.Ibu Rs
memiliki riwayat hipertensi sejak gadis dan tidak pernah kontrol kecuali
bila ada keluhan. Ia juga tidak memantang makanan apa pun. Nenek L
menderita kencing manis sejak dua tahun yang lalu, dan ia rutin kontrol
tiap dua minggu sekali. Saat ini ia minum obat glibenklamid dan
metformin. An. M menderita gizi kurang saat ini. Ia memang sulit makan.
Kadang makan hanya 3-5 sendok saja. An. M kadang suka pilih-pilih lauk.
Bila menurutnya rasanya tak enak, ia tak mau makan. An. M senang jajan
ciki-cikian yang ia ambil dari warung tempat neneknya berdagang. Tak
ada makanan pengganti yang diberikan keluarga bila An. M tidak mau
makan. Ibu Rs sudah mengetahui anaknya kurus, namun tidak tahu bila
anaknya mengalami gizi kurang. Ia tidak pernah mengantar anaknya ke
posyandu karena biasanya anaknya sendiri yang pergi ke posyandu atau
ditemani neneknya. Ibu Rs maupun nenek L tidak mengetahui apa itu gizi
kurang, penyebab serta tanda dan gejalanya. Ia juga tidak mengetahui
tentang pentingnya gizi seimbang bagi balita. Ia pernah mendengar 4 sehat
5 sempurna dulu, tapi tidak pernah mempraktekkannya juga.
Mereka
mengatakan tidak mengetahui komponen zat gizi dan manfaat dari masingmasing komponen zat gizi.
Ibu Rs mengatakan ia belum melakukan
tindakan apapun dalam menyikapi anaknya yang kurus selain menyuapi
anaknya makan. Ia ingin beli vitamin untuk menaikkan berat badan
anaknya namun belum ia lakukan. Ibu Rs mengatakan ia tidak pernah
menyiapkan makanan khusus bagi anaknya yang sulit makan. Ibu Rs
mengatakan ia belum pernah membawa An. M ke pelayanan kesehatan
untuk mengatasi masalahnya.
f. Stress dan Koping Keluarga.
1) Stressor Jangka Pendek.
Saat ini keluarga memikirkan An. M yang badannya kurus dan sulit
makan.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
2) Stressor Jangka Panjang.
Ibu Rs mengatakan tak ada beban yang menjadi pemikirannya saat ini. Ia
berusaha tenang saja karena khawatir tekanan darahnya akan naik. Hanya
kondisi An. M saja yang membuatnya khawatir sejak dijelaskan oleh
petugas.
3) Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah.
Setiap kali menghadapi masalah, keluarga selalu mencoba ikhlas. Keluarga
percaya bahwa segala sesuatu sudah merupakan ketentuan dari Allah yang
harus dijalani. Begitu pula masalah kesehatan, keluarga merasa sudah
berupaya minum obat warung, sudah merasa cukup. Kecuali nenek L yang
harus kontrol, namun kadang ia lebih suka membeli obat gulanya saja di
apotik
4) Strategi Kopng Yang Digunakan.
Bersikap terbuka dan saling menghargai, serta mengkomunikasikan
segalanya, merupakan cara yang digunakan keluarga dalam menghadapi
setiap masalah yang menimpa.
5) Strategi adaptasi disfungsional.
Ibu. Rs kadang suka menangis sendirian jika ada masalah yang terasa berat
dan suaminya tidak ada di rumahnya sehingga ia harus menanganinya
sendiri.
g. Harapan keluarga
Dengan informasi yang diperoleh dari perawat puskesmas, Ibu Rs berharap
anaknya dapat terkontrol dan dibantu dalam mengatasi masalah kurang gizi pada
anggota keluarganya
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
h. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan Fisik An. M
No.
Pemeriksaan
Hasil
Tanda-tanda vital
Nadi:100 x/mnt, suhu:
Tinggi badan
90 cm
Berat badan
11 kg
Kepala
Rambut tipis, hitam kemerahan, distribusi merata,
, RR: 20 x/mnt
tak ada luka maupun ketombe pada kulit kepalanya.
Mata
Conjungtiva tak anemis, dan sklera tak ikterik.
Telinga
Telinga
simetris,
pembengkakan,
tak
tak
terdapat
tampak
nyeri
ataupun
serumen
maupun
pengeluaran cairan. Fungsi pendengaran baik
Hidung
Proporsi tepat di tengah, tak nampak pengeluaran
cairan maupun lendir, mukosa lembab, tak ada
pembengkakan.
Mulut dan gigi
Proporsi tepat di tengah, mukosa lembab, mulut dan
gigi bersih, tak terdapat karies gigi.
Leher
Tak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan KGB.
Dada/Thoraks
Dada simetris, BJ I dan II reguler, tak terdapat
murmur dan gallop, tak terdapat ronchi dan
wheezing.
Abdomen
Perut bulat, warna kulit kemerahan, Bising usus
15x/mnt,
tak
terdapat
nyeri
abdomen
dan
epigastrium, tak teraba massa dan pembesaran hepar.
Ekstremitas
Akral hangat, tak terdapat pitting edema,
Kulit
Warna kulit sawo matang, turgor kulit elastis,
lembab, tidak ada lesi, integritas kulit utuh.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
ANALISA DATA.
NO
SIMPTOM
1.
DATA SUBJEKTIF:
ï‚· Nenek L mengatakan bahwa An. M
mengalami sulit makan dan kadang
makan hanya 3-5 sendok saja, ia
cenderung pilih-pilih makanan, dan
senang jajan ciki-cikian.
ï‚· Ibu Rs mengatakan bahwa ia
mengetahui anaknya kurus, namun
ia tidak tahu anaknya tersebut
menderita kurang gizi.
ï‚· Ibu Rs maupun nenek L tidak
mengetahui apa itu gizi kurang,
penyebab serta tanda dan gejalanya.
Ia juga tidak mengetahui tentang
pentingnya gizi seimbang bagi
balita. Ia pernah mendengar 4 sehat
5 sempurna dulu, tapi tidak pernah
mempraktekkannya juga. Mereka
mengatakan
tidak
mengetahui
komponen zat gizi dan manfaat dari
masing-masing komponen zat gizi.
ï‚· Ibu Rs mengatakan ia belum
melakukan tindakan apapun dalam
menyikapi anaknya yang kurus
selain menyuapi anaknya makan. Ia
ingin beli vitamin untuk menaikkan
berat badan anaknya namun belum
ia lakukan. Ibu Rs mengatakan ia
tidak pernah menyiapkan makanan
khusus bagi anaknya yang sulit
makan. Ibu Rs mengatakan ia belum
pernah membawa An. M ke
pelayanan
kesehatan
untuk
mengatasi masalahnya.
ï‚· Ibu Rs dan Nenek L mengatakan
mereka tidak pernah mengantar An.
M ke posyandu, namun anaknya
sendiri yang pergi ke posyandu.
ETIOLOGI
Ketidakmampuan
keluarga
merawat anggota
keluarga
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
PROBLEM
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh pada
An. M.
DATA OBJEKTIF:
ï‚· Hasil pemeriksaan fisik yang sudah
dilakukan perawat pada tanggal 17
Mei 2013 yaitu, berat badan An. M 11
kg, tinggi badan 92 cm, IMT 12,94,
dan LILA 13 cm. An. M tampak kurus
dengan rambut tipis hitam kemerahan.
Anak M tampak aktif, konjungtiva tak
anemis, Berdasarkan standard gizi
nasional KEMENKES (2011) An. M
berada pada kriteria gizi kurang.
2.
DATA SUBJEKTIF:
ï‚· Ibu Rs mengatakan anaknya tampak
kurus dan pendek. Ia sulit makan
namun masih tetap aktif.
DATA OBJEKTIF:
ï‚· Hasil pemeriksaan fisik yang sudah
dilakukan perawat pada tanggal 17
Mei 2013 yaitu, berat badan An. M 11
kg, tinggi badan 92 cm, IMT 12,94,
dan LILA 13 cm. An. M tampak kurus
dengan rambut tipis hitam kemerahan.
Anak M tampak aktif, konjungtiva tak
anemis, Berdasarkan standard gizi
nasional KEMENKES (2011) An. M
berada pada kriteria gizi kurang.
Ketidakmampuan Risiko
gangguan
keluarga
tumbuh kembang pada
merawat anggota An. M.
keluarga
DATA SUBJEKTIF:
ï‚· .Ibu Rs mengatakan ia memiliki
riwayat hipertensi sejak gadis dan
tidak pernah kontrol kecuali bila ada
keluhan. Ia juga tidak memantang
makanan apa pun.
DATA OBJEKTIF:
ï‚· Pemeriksaan fisik ibu Rs; Td 130/80
mmHg, Nd. 88 x/mnt Rr 20x/mnt.
ï‚· Tak terdapat distensi vena jugularis,
BJ i dan II reguler, tak terdapat
murmur dan gallop.
Ketidakmampuan Kletidakefektifan
keluarga
manajemen kesehatan
merawat anggota diri pada Ibu Rs
keluarga
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
a. Skoring Diagnosa keperawatan keluarga.
1) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An. M.
.
NO
1.
KRITERIA
Sifat masalah: aktual
SKOR
PEMBENARAN
3/3X1=1
Masalah merupakan masalah aktual
yang sudah terjadi.
2.
Kemungkinan
masalah
2/2x2=2
untuk diubah: mudah
Keluarga Bpk. R merupakan keluarga
dengan sosial ekonomi menengah ke
bawah, namun keluarganya saling
mendukung
jika
ada
anggota
keluarganya yang sakit. Nenek L
merupakan
terhadap
mantan
bahan
kader.
makanan
Akses
mudah
karena keluarga Bpk R tinggal di
perkotaan dan dekat dengan pasar.
3.
Potensial masalah untuk
3/3x1=1
dicegah: tinggi.
Tak
terdapat
tanda
komplikasi.
Dampak dapat dicegah karena anak
tidak terkena penyakit infeksi dan ibu
serta
neneknya
perduli
untuk
mengatasi masalah kesehatan yang
dialami An. M
4.
Menonjolnya masalah: ada
2/2x1=1
Ibu. Rs sudah mengetahui anaknya
masalah dan harus segera
kurus dan pernah berupaya ingin
diatasi
memberikan suplemen. Ia tak ingin
anaknya masuk ke dalam gizi buruk.
Jumlah skoring:
5
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
2) Risiko gangguan tumbuh kembang pada An. M
NO
1.
KRITERIA
SKOR
PEMBENARAN
Sifat masalah: risiko
2/3x1=1
Merupakan masalah resiko dan belum
terjadi.
2.
Kemungkinan
masalah
2/2x2=2
untuk diubah: mudah
Keluarga saling peduli, nenek L
merupakan mantan kader posyandu
dan menginginkan cucunya sehat.
3.
Potensial masalah untuk
3/3x1=1
dicegah: tinggi
Jika masalah nutrisi anak terpenuhi
dan anak tidak menderita infeksi berat
maka gangguan tumbuh kembang
dapat dicegah.
4.
Menonjolnya
masalah:
0/2x1=0
masalah tidak dirasakan.
Keluarga belum mengetahui bahwa
dampak dari kurang gizi adalah
gangguan tumbuh kembang.
Jumlah skoring:
4
3) Ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Ibu Rs.
NO
1.
KRITERIA
Sifat masalah: aktual
SKOR
PEMBENARAN
3/3X1=1
Masalah sudah terjadi dan diderita ibu
Rs sejak gadis.
2.
Kemungkinan
masalah
1/2x2=1
untuk diubah: cukup
Terdapat sumber daya dalam keluarga
yaitu Nenek L yang mantan kader
sekaligus ibu dari ibu Rs. Namun ibu
Rs belum memiliki Jamkesda maupun
Jamkesmas.
3.
Potensial masalah untuk
dicegah: tinggi.
3/3x1=1
Hipertensi
yang diderita
Ibu Rs
merupakan Hipertensi grade I yang
sebenarnya
dicegah
mudah
dikontrol
komplikasinya
pengaturan
diet
dan
dan
melalui
obat
anti
hipertensi dan kontrol tekanan darah
teratur.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
4.
Menonjolnya masalah: ada
masalah,
tidak
1/2x1=1/2
perlu
Ibu Rs mengetahui masalahnya ini
sejak gadis, namun ia merasa hal
diselesaikan segera.
tersebut bukanlah suatu masalah dan
hanya minum obat jika ia merasakan
ada keluhan saja.
Jumlah skoring:
3 1/2
b. Berdasarkan sistem skoring di atas, didapatkan urutan prioritas masalah
keperawatan keluarga Bpk. R adalah sebagai berikut:
1) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An.
M.berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota
keluarga dengan gizi kurang
2) Risiko gangguan tumbuh kembang pada An. M berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan gizi kurang
3) Ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Ibu Rs
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa
Keperawatan
Gangguan
pemenuhan
kebutuhan
nutrisi: kurang
dari kebutuhan
tubuh pada An.
M
Umum
Setelah
dilakukan
asuhan
keperawatan
keluarga
selama
6
minggu,
keluarga
mampu
memenuhi
kebutuhan
nutrisi An. M
dengan kriteria
hasil:
Berat
badan An M
berada
pada
rentang -2 SD
sampai dengan
+2 SD; BB/U
dan
BB/PB
Standar Gizi
Nasional
KEMENKES
(2011).
Tujuan
Tujuan Khusus
1. Setelah dilakukan
intervensi
keperawatan selama
1x45 menit, keluarga
mampu mengenal
masalah kurang gizi.
1.1 Menyebutkan definisi
gizi.
Kriteria
Respon
verbal
Kriteria Evaluasi
Standar
Keluarga menyebutkan Gizi yaitu zat-zat
yang ada di dalam makanan yang
diperlukan tubuh untuk kelangsungan
kehidupannya.
Keluarga menyebutkan Gizi yaitu zat-zat
yang ada di dalam makanan yang
diperlukan tubuh untuk kelangsungan
kehidupannya.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
Intervensi Keperawatan
a. Diskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
mengenai pengertian gizi.
b. Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
mengenai pengertian gizi yang
benar.
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai pengertian
gizi dengan menggunakan media
d.
e.
f.
g.
1.2 Menyebutkan definisi
kurang gizi
Respon
verbal
Keluarga menyebutkan Kurang gizi
adalah suatu keadaan dimana tubuh tidak
mendapatkan zat-zat tubuh tertentu dari
makanan.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
1.3 Menyebutkan tanda
dan gejala masalah kurang
Respon
verbal
Anggota keluarga mampu menyebutkan
4 dari 5 tanda dan gejala kurang gizi,
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
a.
lembar balik.
Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan
Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti
Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan
Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga
Diskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
mengenai pengertian kurang
gizi.
Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
mengenai pengertian kurang gizi
yang benar.
Berikan informasi kepada
keluarga mengenai pengertian
kurang gizi dengan
menggunakan media lembar
balik
Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan.
Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti.
Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan.
Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
Diskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
gizi.
yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
badan kurus.
Rambut tipis dan mudah dicabut.
Lemah dan pucat.
Kulit kering dan kusam.
Kaki, tangan, dan sekitar mata
bengkak.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
1.4 Menyebutkan
penyebab timbulnya
masalah kurang gizi.
Respon
verbal
Anggota keluarga mampu menyebutkan
3 dari 4 penyebab kurang gizi, yaitu:
a. makanan yang masuk ke dalam
tubuh kurang dari kebutuhan
tubuh.
b. Makanan yang masuk ke dalam
tubuh tidak seimbang.
c. Makan tidak teratur.
d. Adanya penyakit tertentu.
a.
b.
c.
d.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
e.
mengenai tanda dan gejala
kurang gizi.
Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
mengenai tanda dan gejala
kurang gizi.
Berikan informasi kepada
keluarga mengenai tanda dan
gejala kurang gizi dengan
menggunakan media lembar
balik
Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan
Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti
Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan
Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
Diskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
mengenai penyebab kurang gizi.
Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
mengenai penyebab kurang gizi
yang benar.
Berikan informasi kepada
keluarga mengenai penyebab
timbulnya kurang gizi dengan
menggunakan media lembar
balik
Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan
Berikan penjelasan ulang
f.
g.
1.5 Mengidentifikasi
anggota keluarga yang
mengalami kurang gizi.
Respon
verbal
Keluarga mengatakan anak mengalami
kurang gizi dengan menyebutkan tanda
dan gejala tubuh yang kekurangan zat
gizi.
a.
b.
2. Setelah dilakukan
intervensi keperawatan
selama 1x45 menit,
keluarga mampu
mengambil keputusan
dalam merawat anggota
keluarga yang
mengalami kurang gizi.
2.1 Menyebutkan akibat
kurang gizi.
Respon
verbal
Anggota keluarga mampu menyebutkan
2 dari 3 akibat kurang gizi, yaitu:
a. Gangguan pertumbuhan.
b. Mudah terserang penyakit.
c. Menurunkan daya
pikir/kecerdasan
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
terhadap materi yang belum
dimengerti
Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan
Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga
Tanyakan kepada keluarga,
adakah anggota keluarga yang
mempunyai tanda dan gejala
tubuh kekurangan gizi.
Berikan reinforcement positif
atas apa yang telah dikemukan
keluarga yang tepat dan benar.
a. Diskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
mengenai akibat kurang gizi.
b. Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
mengenai akibat kurang gizi.
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai kurang gizi
dengan menggunakan media
lembar balik
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan
e. Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti.
2.2 Mengambil keputusan
untuk mengatasi anggota
keluarga yang mengalami
kurang gizi.
3. Setelah dilakukan
intervensi
keperawatan selama
5x45 menit, keluarga
mampu merawat
anggota keluarga
yang mengalami
kurang gizi.
3.1. Menyebutkan cara
mengatasi masalah kurang
gizi.
Respon
afektif
Keluarga memutuskan untuk merawat
anak yang mengalami kurang gizi.
Respon
verbal
Anggota keluarga mampu menyebutkan
3 dari 4 cara mengatasi kurang gizi,
yaitu:
a. Makan makanan yang seimbang
(triguna makanan).
b. Makanan sesuai dengan
kebutuhan balita (1200 kkal).
c. Makan yang teratur.
d. Menggunakan prinsip penyajian
makanan.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan
g. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga
a. Bantu keluarga untuk mengenal
dan menyadari adanya masalah
kurang gizi sesuai dengan materi
yang telah diberikan.
b. Bantu keluarga untuk
memutuskan merawat anggota
keluarga yang mengalami kurang
gizi
c. Berikan reinforcement atas
keputusan yang telah diambil
a. Dorong keluarga untuk
menceritakan apa yang
dilakukan untuk meningkatkan
berat badan anak M
b. Diskusikan cara mengatasi
kurang gizi atau cara untuk
meningkatkan berat badan anak
M
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai cara
mengatasi kurang gizi atau cara
untuk meningkatkan berat badan
anak M dengan menggunakan
media lembar balik.
d. Motivasi keluarga untuk
menjelaskan kembali materi
yang telah disampaikan.
e. Berikan reinforcement terhadap
kemampuan yang dicapai oleh
keluarga.
3.2 Menyebutkan dan
mendemonstrasikan porsi
makanan untuk balita usia
35 bulan
Respon
verbal dan
psikomotor
Keluarga menyebutkan porsi makan
untuk balita usia 35 bulan dalam sehari
ialah:
a. Nasi 3 porsi (1 porsi= ¾ gelas
atau 100gr);
b. Sayuran 3 porsi (1 porsi= ½
gelas setelah dimasak);
c. Buah 3 porsi;
d. Lauk nabati 3 porsi (1 porsi= 1
potong sedang);
e. Lauk hewani 3 porsi (1 porsi = 1
potong sedang);
f. Susu 1 porsi (1 gelas)
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
a. Diskusikan bersama keluarga apa
yang diketahui keluarga
mengenai porsi makan balita
b. Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
mengenai porsi makan yang
benar.
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai porsi makan
balita menggunakan media
lembar balik dan demonstrasi
d. Anjurkan keluarga untuk
melakukan redemonstrasi
mengenai penakaran porsi makan
balita usia 35 bulan.
e. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan.
f. Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti.
g. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan.
h. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
3.3 Menyebutkan dan
mendemonstrasikan
triguna makanan.
Respon
verbal
Keluarga menyebutkan komponen
Triguna makanan beserta 2 contohnya :
a. zat tenaga, sebagai sumber tenaga
untuk beraktivitas dan sumber
makanan pokok (karbohidrat)
seperti, nasi, roti, gula, singkong,
ubi, dll.
b. Zat pembangun, sebagai pupuk
untuk proses berpikir, terdapat
dalam lauk pauk (protein dan
lemak), seperti ikan, telur, tempe,
daging, susu, dll.
c. zat pengatur, sebagai pengatur
lalu lintas (polisi) makanan,
terdapat dalam buah dan sayur
(vitamin dan mineral) seperti,
wortel, jeruk, nanas, bayam,
kangkung, dll.
a. Diskusikan bersama keluarga apa
yang diketahui keluarga
mengenai triguna makanan.
b. Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
mengenai triguna makanan
yang benar.
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai triguna
makanan dengan menggunakan
media lembar balik
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan.
e. Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti.
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan.
g. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
Respon
verbal,
afektif,
psikomotor
Anggota keluarga mampu
mendemonstrasikan pemilihan makanan
berdasarkan triguna makanan
a. Demonstrasikan cara pemilihan
makanan berdasarkan triguna
makanan kepada keluarga.
b. Anjurkan keluarga untuk
mendemonstrasikan kembali
c. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
mengenai materi yang diberikan
d. Motivasi keluarga untuk
mendemonstrasikan secara
mandiri.
e. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
3.4 Menyusun jadwal
menu harian berdasarkan
triguna makanan
Respon
verbal,
afektif,
psikomotor
3.5 Menyebutkan cara
mengolah makanan.
Respon
verbal
3.6 Mendemonstrasikan
cara mengolah makanan.
Respon
verbal,
afektif, dan
psikomotor.
Anggota keluarga mampu menyusun
jadwal menu berdasarkan triguna
makanan
a. Dorong keluarga untuk
menceritakan bagaimana
penyusunan menu
b. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai cara menyusun
jadwal menu berdasarkan triguna
makanan
c. Anjurkan keluarga untuk membuat
menu harian berdasarkan triguna
makanan
d. Motivasi keluarga untuk
menjelaskan kembali materi yang
telah disampaikan.
e. Berikan reinforcement terhadap
kemampuan yang dicapai oleh
keluarga.
Anggota keluarga mampu menyebutkan a. Dorong keluarga untuk
3 dari 4 cara mengolah makanan, yaitu:
menceritakan cara mengolah
a. Sayuran dan buah dicuci di air
makanan.
yang mengalir terlebih dahulu
b. Berikan informasi kepada
baru dipotong-potong.
keluarga mengenai cara mengolah
b. Sayuran dimasak jangan terlalu
makanan dengan menggunakan
lama.
media lembar balik.
c. Alat-alat masak dan makan dicuci c. Motivasi keluarga untuk
bersih.
menjelaskan kembali materi yang
d. Cuci tangan sebelum mengolah
telah disampaikan.
makanan.
d. Berikan reinforcement positif
terhadap kemampuan yang dicapai
oleh keluarga.
Perawat dan keluarga mengolah
a. Demonstrasikan cara mengolah
makanan yang sederhana, yaitu memasak
makanan kepada keluarga.
sayur bayam. Caranya sebagai berikut:
b. Anjurkan keluarga untuk
Sayuran dicuci di air mengalir kemudian
mendemonstrasikan mengolah
dipotong-potong . Rebus air hingga
makanan bersama perawat.
mendidih, masukkan potongan bayam
c. Berikan kesempatan kepada
dan irisan bawang merah dan bawang
keluarga untuk bertanya mengenai
putih, tambahkan dua lembar daun salam,
materi yang diberikan
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
masukkan garam dan gula sesuai selera.
Sayuran tidak dimasak terlalu lama.
Sebelum dan sesudah mengolah
makanan, perawat dan keluarga mencuci
tangan
d. Motivasi keluarga untuk
mendemonstrasikan secara
mandiri.
e. Berikan reinforcement positif atas
usaha keluarga
a. Diskusikan bersama keluarga apa
yang diketahui keluarga
mengenai cemilan sehat
b. Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
mengenai cemilan sehat yang
benar.
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai cemilan sehat
dengan menggunakan media
lembar balik
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan.
e. Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti.
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan.
g. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
a. Diskusikan bersama keluarga
komponen-komponen zat gizi
yang harus ada dalam camilan
sehat, yaitu terutama zat energi
dan protein.
b. Demonstrasikan bersama
keluarga cara membuat camilan
yang sederhana; puding kaya
energi dan protein.
c. Motivasi keluarga untuk
3.7 Menyebutkan cemilan
sehat, manfaat, serta
contohnya
Respon
verbal
Keluarga dapat menyebutkan cemilan
sehat ialah cemilan/ makan selingan yang
disediakan di sela jam makan balita yang
terbuat dari bahan makanan yang aman
yang mengandung komponen gizi untuk
membantu memenuhi kebutuhan gizi
seimbang baita. Manfaatnya ialah:
a. Aman bagi balita
b. Mengandung komponen gizi
terutama zat energi dan protein
c. Mudah dibuat dirumah oleh ibu
balita
d. Bahan mudah diperoleh dengan
harga terjangkau
e. Membantu memenuhi kebutuhan
nutrisi anak
Contohnya yaitu nagasari, bubur
sumsum, kacang hijau, bukan makanan
MSG, buah, susu UHT.
3.8 Mendemonstrasikan
pembuatan cemilan/
selingan sehat yaitu
puding TKTP
Respon
verbal,
afektif, dan
psikomotor.
Perawat dan keluarga mengolah contoh
cemilan yang sederhana, yaitu membuat
puding tinggi karbohidrat tinggi protein
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
melakukan redemonstrasi
pembuatan puding kaya energi
dan protein.
d. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
3.9 Menyusun jadwal
makanan selingan/camilan
sehat di sela jam makan
anak.
4. Setelah dilakukan
intervensi
keperawatan selama
1x45 menit, keluarga
mampu memodifikasi
lingkungan untuk
merawat balitanya
dengan masalah gizi
kurang.
4.1 Menyebutkan cara
penyajian makanan.
Respon
verbal,
afektif,
psikomotor
Anggota keluarga mampu menyusun
jadwal makanan selingan/camilan sehat
di sela jam makan anak.
a. Dorong keluarga untuk
menceritakan bagaimana jadwal
pemberian makanan tambahan
yang disediakan keluarga bagi
balita.
f. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai cara menyusun
jadwal menu makanan selingan di
sela jam makan anak.
g. Anjurkan keluarga untuk
menyusun jadwal makanan
selingan/camilan sehat di sela jam
makan anak.
h. Motivasi keluarga untuk
menjelaskan kembali materi yang
telah disampaikan.
i. Berikan reinforcement positif
terhadap kemampuan yang dicapai
oleh keluarga.
Respon
verbal &
afektif
Anggota keluarga mampu menyebutkan
3 dari 4 cara menyajikan makanan, yaitu:
a. Jenis makanan bervariasi setiap
harinya.
a. Diskusikan bersama keluarga
bagaimana cara menyajikan
makanan.
b. Berikan pujian kepada keluarga
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
b. Mengkombinasikan jenis
makanan hewani dan nabati.
c. Perhatikan jadwal menu
makanan.
d. Jumlah makanan sesuai dengan
kebutuhan
c.
d.
e.
f.
g.
4.2 Menyebutkan cara
mengatasi anak yang tidak
mau makan.
Respon
verbal &
afektif
Anggota keluarga mampu menyebutkan
4 dari 5 prinsip cara mengatasi anak
yang tidak bersedia makan, yaitu:
a. Jangandipaksa tapi, ikuti
keinginan anak
misalnya, sambil
bermain.
b. Beri makan sesuai selera
anak dan tidak
membosankan.
c. Jangan memberi
makanan yang manis
sebelum makan.
d. Sajikan makanan dalam
bentuk menarik.
e. Berikan makanan dalam
porsi kecil tapi, sering.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
tentang pemahaman keluarga
yang benar.
Berikan informasi kepada
keluarga mengenai cara
menyajikan makanan dengan
menggunakan media flip chart.
Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan.
Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti.
Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan.
Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
a. Diskusikan bersama keluarga
bagaimana cara mengatasi anak
yang tidak bersedia makan
b. Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
yang benar.
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai cara
mengatasi anak yang tidak
bersedia makan dengan
menggunakan media lembar
balik.
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan.
e. Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti.
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
g.
4.3 Memodifikasi
lingkungan yang
mendukung untuk
meningkatkan status gizi
balita.
Respon
verbal &
afektif
Anggota keluarga mampu menyebutkan
3 dari 4 lingkungan yang mendukung
untuk meningkatkan status gizi balita,
yaitu:
a. Makan bersama anggota
keluarga yang lain.
b. Menggunakan alat makan
yang menarik.
c. Makan sambil bercerita.
d. Jenis makanan bervariasi
dan menarik.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
5. Setelah dilakukan
intervensi
keperawatan selama
1x45 menit keluarga
mampu menggunakan
fasilitas kesehatan
yang ada untuk
meningkatkan gizi
balita.
5.1 Menyebutkan fasilitas
pelayanan kesehatan yang
terdapat disekitar
lingkungan tempat tinggal
terkait dengan
Respon
verbal
Keluarga dapat menyebutkan fasilitas
kesehatan yang dapat dikunjungi:
a. Posyandu.
b. Puskesmas
c. Rumah sakit
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
dijelaskan.
Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
Diskusikan bersama keluarga
tentang modifikasi lingkungan
untuk meningkatkan status gizi
balita.
Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
yang benar.
Berikan informasi kepada
keluarga mengenai modifikasi
lingkungan untuk meningkatkan
status gizi balita dengan
menggunakan media lembar
balik.
Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
mengenai materi yang dibahas
Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dibahas
Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
a. Diskusikan bersama keluarga
mengenai fasilitas kesehatan
yang ada disekitar tempat
tinggal
b. Motivasi keluarga untuk
peningkatan status gizi
balita.
d. Klinik dokter
5.2 Menjelaskan manfaat
mengunjungi fasilitas
pelayanan kesehatan
sesuai jadwal
5.3 Mengunjungi fasilitas
pelayanan kesehatan
Risiko gangguan
tumbuh
kembang pada
Setelah dilakukan
pertemuan selama 3x45
menit, diharapkan
Keluarga dapat menyebutkan manfaat
kunjungan:
a. Mendapatkan pemeriksaan
kesehatan anak.
b. Mendapatkan penyuluhan atau
pendidikan kesehatan.
c. Memeriksa status gizi anak.
Respon
afektif
Keluarga rutin mengunjungi pelayanan
kesehatan untuk pemeriksaan kesehatan
anak dan status gizi anak.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
mengulang fasilitas kesehatan
yang dapat dikunjungi
c. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga
a. Diskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
mengenai manfaat mengunjungi
fasilitas pelayanan kesehatan
b. Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
mengenai manfaat tersebut
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai manfaat
mengunjungi fasilitas pelayanan
kesehatan dengan menggunakan
media lembar balik.
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan
e. Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan
g. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga
a. Motivasi keluarga untuk
berkunjung ke fasilitas
kesehatan.
b. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga untuk
menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan.
An. M
keluarga mampu:
1. Mengenal tahapan
tumbuh kembang anak
yang normal sesuai
usia
1.1 Menyebutkan definisi
pertumbuhan dan
perkembangan
1.2 Menyebutkan kembali
aspek-aspek pertumbuhan
Respon
Verbal
Keluarga dapat menyebutkan definisi
pertumbuhan dan perkembangan:
a. Pertumbuhan yaitu bertambahnya
ukuran fisik dan struktur tubuh
sebagian/keseluruhan.
b. Perkembangan yaitu
bertambahnya strukstur dan
fungsi tubuh yang lebih kompleks
dalam kemampuan; gerak kasar,
gerak halus, bicara dan bahasa,
dan sosialisasi dan kemandirian.
Respon
Verbal
Keluarga dapat menyebutkan kembali 2
dari 5 aspek pertumbuhan dan
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
a. Diskusikan bersama keluarga
mengenai definisi pertumbuhan
dan perkembangan anak.
b. Berikan pujian kepada keluarga
terhadap pemahaman yang
benar.
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai definisi
pertumbuhan dan
perkembangan, 5 aspek
perkembangan yang harus
dipantau, faktor-faktor yang
mempengaruhi kualitas tumbuh
kembang anak, dan tugas
pertumbuhan dan perkembangan
anak usia 4 bulan dengan
menggunakan media lembar
balik.
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
terhadap materi yang kurang
dipahaminya.
e. Berikan penjelasan ulang
mengenai materi yang belum ia
pahami.
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang kembali materi yang
telah disampaikan.
g. Berikan reinforcement positive
atas usaha keluarga.
a. Diskusikan bersama keluarga
mengenai aspek pertumbuhan
& perkembangan yang
harus dipantau.
perkembangan yang harus dipantau:
a. Tinggi badan dan berat badan.
b. Gerak kasar/motorik kasar;
kemampuan anak melakukan
pergerakan dan sikap tubuh yang
melibatkan otot-otot besar.
c. Gerak halus/motorik halus;
kemampuan anak melakukan
pergerakan yang melibatkan otototot kecil dan koordinasi.
d. Kemampuan bicara dan bahasa;
kemampuan memberikan respon
terhadap suara, berbicara,
berkomunikasi, mengikuti
perintah, dsb.
e. Sosialisasi dan kemandirian;
kemampuan mandiri anak,
bersosialisasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
1.3 Menyebutkan faktorfaktor yang
mempengaruhi
pertumbuhan dan
perkembangan anak
Respon
Verbal
Keluarga dapat menyebutkan kembali 2
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan anak:
a. Keturunan.
b. Umur.
c. Nutrisi.
d. Hormon.
e. Penyakit infeksi.
f. Lingkungan.
g. Stimulasi dan rangsangan.
a.
b.
c.
d.
e.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
dan perkembangan yang harus
dipantau.
Berikan pujian kepada keluarga
terhadap pemahaman yang
benar.
Berikan informasi kepada
keluarga mengenai 5 aspek
pertumbuhan & perkembangan
yang harus dipantau
Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
terhadap materi yang kurang
dipahaminya.
Berikan penjelasan ulang
mengenai materi yang belum ia
pahami.
Motivasi keluarga untuk
mengulang kembali materi yang
telah disampaikan.
Berikan reinforcement positive
atas usaha keluarga.
Diskusikan bersama keluarga
mengenai faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi kualitas
tumbuh kembang anak
Berikan pujian kepada keluarga
terhadap pemahaman yang
benar.
Berikan informasi kepada
keluarga mengenai faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi
kualitas tumbuh kembang anak
Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
terhadap materi yang kurang
dipahaminya.
Berikan penjelasan ulang
mengenai materi yang belum ia
f.
g.
1.4 Mengidentifikasi tugas
pertumbuhan dan
perkembangan anak usia
35 bulan
Keluarga mampu mengidentifikasi tugas
pertumbuhan dan perkembangan anak
usia 35 bulan:
a. Berjalan naik tangga sendiri.
b. Berdiri satu kaki selama 2-6
detik.
c. Melompat dengan kedua kaki
diangkat.
d. Dapat menunjuk satu atau lebih
bagian tubuh.
e. Mampu melepas pakaiannya
sendiri.
f. Mendengarkan cerita.
g. Makan nasi sendiri tanpa banyak
tumpah.
h. Bermain bersama teman,
mengikuti aturan permainan.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
2. Mengambil keputusan
yang tepat dalam
mengoptimalkan
tumbuh kembang anak
melalui:
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
pahami.
Motivasi keluarga untuk
mengulang kembali materi yang
telah disampaikan.
Berikan reinforcement positive
atas usaha keluarga.
Diskusikan bersama keluarga
mengenai tugas pertumbuhan
dan perkembangan anak usia 35
bulan
Berikan pujian kepada keluarga
terhadap pemahaman yang
benar.
Berikan informasi kepada
keluarga mengenai tugas
pertumbuhan dan perkembangan
anak usia 35 bulan dengan
menggunakan media lembar
balik.
Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
terhadap materi yang kurang
dipahaminya.
Berikan penjelasan ulang
mengenai materi yang belum ia
pahami.
Identifikasi bersama keluarga
tugas pertumbuhan dan
perkembangan anak usia 35
bulan yang belum dicapai An. M
Berikan reinforcement positive
atas usaha keluarga.
2.1 Keluarga dapat
menyebutkan gangguangangguan tumbuh
kembang yang sering
ditemukan
Respon
verbal
Keluarga dapat menyebutkan kembali 3
dari 5 gangguan tumbuh kembang yang
sering terjadi:
a. Gangguan bicara dan bahasa.
b. Retardasi mental.
c. Perawakan pendek.
d. Gangguan autisme.
e. Gagal tumbuh
a. Diskusikan bersama keluarga
tentang gangguan-gangguan
tumbuh kembang yang sering
terjadi/ditemukan.
b. Berikan pujian kepada keluarga
terhadap pemahaman yang
benar.
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai gangguangangguan tumbuh kembang yang
sering terjadi dengan
menggunakan media lembar
balik.
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
terhadap materi yang kurang
dipahaminya.
e. Berikan penjelasan ulang
mengenai materi yang belum ia
pahami.
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
disampaikan.
g. Berikan reinforcement positive
atas usaha keluarga.
2.2 Keluarga mengambil
keputusan tepat untuk
mengoptimalkan tumbuh
kembang anaknya sesuai
usia 35 bulan
Respon
verbal dan
afektif
Keluarga memutuskan untuk
mengoptimalkan tumbuh kembang
anaknya sesuai usia 35 bulan
a. Bantu keluarga untuk mengenal
dan menyadari adanya risiko
gangguan tumbuh kembang
sesuai dengan materi yang telah
diberikan.
b. Bantu keluarga untuk
memutuskan mengoptimalkan
tumbuh kembang anaknya.
c. Berikan reinforcement positif
atas keputusan tepat yang telah
diambil keluarga.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
3. Setelah dilakukan
intervensi
keperawatan selama 4
x 45 menit, keluarga
mampu
merawat/mengoptima
lkan tumbuh
kembang anak
balitanya yang
berusia 35 bulan
Keluarga melatih
kemampuan bicara dan
bahasa pada An. M
Respon
Verbal dan
Psikomotor
Keluarga dapat menyebutkan dan
mendemonstrasikan stimulasi melatih
kemampuan bicara dan bahasa pada An.
M:
a. Menyebut nama lengkap.
b. Bercerita tentang diri anak.
c. Menyebut nama berbagai jenis
pakaian.
d. Menyatakan keadaan suatu benda.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
a. Diskusikan bersama keluarga
mengenai cara stimulasi
kemampuan bicara dan bahasa
pada anak usia 35 bulan dengan
menggunakan media lembar
balik.
b. Demonstrasikan bersama
keluarga mengenai cara
stimulasi kemampuan bicara dan
bahasa pada An. M.
c. Motivasi keluarga untuk
mendemonstrasikan kembali
cara stimulasi kemampuan
bicara dan bahasa pada An. M.
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
terhadap materi yang kurang
dipahaminya.
e. Berikan penjelasan ulang
mengenai materi yang belum ia
pahami.
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
disampaikan.
g. Berikan reinforcement positive
atas usaha keluarga.
Keluarga melatih
kemampuan bersosialisasi
dan kemandirian pada An.
M
Respon
Verbal dan
Psikomotor
Keluarga melatih
Respon
kemampuan gerak motorik Verbal dan
kasar pada An. M
Psikomotor
Keluarga dapat menyebutkan dan
mendemonstrasikan stimulasi melatih
kemampuan bersosialisasi dan
kemandirian pada An. M:
a. Melatih buang air kecil dan
buang air besar di WC.
b. Berdandan.
c. Melatih anak berpakaian sendiri
tanpa bantuan.
a. Diskusikan bersama keluarga
mengenai cara stimulasi
kemampuan bersosialisasi dan
kemandirian pada An. M, usia
35 bulan dengan menggunakan
media lembar balik.
b. Demonstrasikan bersama
keluarga mengenai cara
stimulasi kemampuan
bersosialisasi dan kemandirian
pada An. M
c. Motivasi keluarga untuk
mendemonstrasikan kembali
cara stimulasi kemampuan
bersosialisasi dan kemandirian
pada An. M
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
terhadap materi yang kurang
dipahaminya.
e. Berikan penjelasan ulang
mengenai materi yang belum ia
pahami.
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
disampaikan.
g. Berikan reinforcement positive
atas usaha keluarga.
Keluarga dapat menyebutkan dan
a. Diskusikan bersama keluarga
mendemonstrasikan stimulasi melatih
mengenai cara stimulasi melatih
kemampuan gerak motorik kasar pada
kemampuan gerak motorik
An. M:
kasar pada An. M dengan
a. Melanjutkan stimulasi memanjat,
menggunakan media lembar
berlari, melompat, melatih
balik.
keseimbangan badan dan
b. Demonstrasikan bersama
bermain bola.
keluarga mengenai cara
b. Melompat jauh dengan
stimulasi melatih kemampuan
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
menggunakan kedua kakinya
bersamaan.
c. Keterampilan melempar dan
menangkap.
c.
d.
e.
f.
g.
Respon
Verbal dan
Psikomotor
Keluarga dapat menyebutkan dan
mendemonstrasikan stimulasi melatih
kemampuan gerak motorik halus pada
An. M:
a. Stimulasi yang perlu dilanjutkan
yaitu menggambar.
b. Membuat gambar tempelan.
c. Mencocokkan gambar dan benda.
d. Menyusun balok.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
gerak motorik kasar pada An. M
Motivasi keluarga untuk
mendemonstrasikan kembali
cara stimulasi melatih
kemampuan gerak motorik kasar
pada An. M
Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
terhadap materi yang kurang
dipahaminya.
Berikan penjelasan ulang
mengenai materi yang belum ia
pahami.
Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
disampaikan.
Berikan reinforcement positive
atas usaha keluarga.
a. Diskusikan bersama keluarga
mengenai cara stimulasi melatih
kemampuan gerak motorik
halus pada An. M dengan
menggunakan media lembar
balik.
b. Demonstrasikan bersama
keluarga mengenai cara
stimulasi melatih kemampuan
gerak motorik halus pada An. M
c. Motivasi keluarga untuk
mendemonstrasikan kembali
cara stimulasi melatih
kemampuan gerak motorik halus
pada An. M
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya
terhadap materi yang kurang
dipahaminya.
e. Berikan penjelasan ulang
mengenai materi yang belum ia
pahami.
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
disampaikan.
g. Berikan reinforcement positive
atas usaha keluarga.
4. Setelah dilakukan
intervensi
keperawatan selama 1
x 45 menit keluarga
mampu melakukan
modifikasi lingkungan
yang dapat
mengoptimalkan
tumbuh kembang
anaknya.
5. Setelah dilakukan
intervensi
keperawatan selama
1x45 menit keluarga
mampu menggunakan
fasilitas kesehatan
yang ada untuk
mengoptimalkan
tumbuh kembang
Respon
verbal,
afektif, dan
psikomotor.
Keluarga dapat menyebutkan dan
mendemonstrasikan cara modifikasi
lingkungan untuk mengoptimalkan
tumbuh kembang anaknya.
a. Menyediakan makanan yang
bergizi.
b. Mengoptimalkan kesehatan anak.
c. Menyediakan mainan yang aman
bagi anak yang sesuai usianya.
d. Menjaga lingkungan yang aman
bagi anaknya mengembangkan
kreativitasnya.
e. Mematuhi jadwal stimulasi
tumbuh kembang yang telah
dibuat bersama
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
a. Diskusikan bersama keluarga
cara memodifikasi lingkungan
yang dapat mengoptimalkan
tumbuh kembang anak.
b. Berikan reinforcement positif
atas pemahaman keluarga yang
sudah benar.
c. Jelaskan pada keluarga cara
memodifikasi lingkungan yang
dapat mengoptimalkan tumbuh
kembang anak melalui media
lembar balik.
d. Motivasi keluarga untuk
memodifikasi lingkungan
rumahnya untuk
mengoptimalkan tumbuh
kembang An.M.
e. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga.
anaknya.
5.1 Menyebutkan fasilitas
pelayanan kesehatan yang
terdapat disekitar
lingkungan tempat tinggal
terkait dengan
pengoptimalan tumbuh
kembang anak.
Respon
verbal
5.2 Menjelaskan manfaat
mengunjungi fasilitas
pelayanan kesehatan
sesuai jadwal
5.3 Mengunjungi fasilitas
pelayanan kesehatan
Respon
afektif
Keluarga dapat menyebutkan fasilitas
kesehatan yang dapat dikunjungi:
a. Posyandu.
b. Puskesmas
c. Rumah sakit
d. Klinik dokter
a. Diskusikan bersama keluarga
mengenai fasilitas kesehatan
yang ada disekitar tempat
tinggal
b. Motivasi keluarga untuk
mengulang fasilitas kesehatan
yang dapat dikunjungi
c. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga
Keluarga dapat menyebutkan manfaat
kunjungan:
a. Mendapatkan pemeriksaan
kesehatan anak.
b. Mendapatkan penyuluhan atau
pendidikan kesehatan.
c. Memeriksa status gizi anak.
d. Memantau tumbuh kembang
anak.
a. Diskusikan bersama keluarga
apa yang diketahui keluarga
mengenai manfaat mengunjungi
fasilitas pelayanan kesehatan
b. Berikan pujian kepada keluarga
tentang pemahaman keluarga
mengenai manfaat tersebut
c. Berikan informasi kepada
keluarga mengenai manfaat
mengunjungi fasilitas pelayanan
kesehatan dengan menggunakan
media lembar balik.
d. Berikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya tentang
materi yang disampaikan
e. Berikan penjelasan ulang
terhadap materi yang belum
dimengerti
f. Motivasi keluarga untuk
mengulang materi yang telah
dijelaskan
g. Berikan reinforcement positif
atas usaha keluarga
a. Motivasi keluarga untuk
berkunjung ke fasilitas
kesehatan.
b. Berikan reinforcement positif
Keluarga rutin mengunjungi pelayanan
kesehatan untuk pemeriksaan kesehatan
anak dan tumbuh kembang anak.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
atas usaha keluarga untuk
menggunakan fasilitas
pelayanan kesehatan.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
TANGGAL
17 mei 2013
23
2013
Mei
No. DX
I
1
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.
3.
IMPLEMENTASI
Memperkenalkan diri pada keluarga.
S:
Menjelaskan tujuan.
1.
Membina hubungan saling percaya.
Melakukan pengkajian keluarga tahap I
2.
Melakukan pemeriksaan fisik pada An. M.
Membuat kontrak untuk pertemuan
3.
selanjutnya.
O:
1.
EVALUASI
Nenek L mengatakan ia tidak menduga cucunya
menderita gizi kurang.
Nenek L mengatakan selama ini cucunya pergi
sendiri ke posyandu.
Nenek L mengatakan cucunya memang sulit
makan dan cenderung pilih-pilih makanan.
Keluarga tampak antusias menyambut kedatangan
perawat.
2. TB An. M: 90 cm dan BB: 11 kg.
3. Tampak anak makan dengan lahap saat disuapi
oleh nenek L, An. M makan dalam satu porsi nasi
berdua dengan kakaknya dan tampak kakaknya
lebih cepat menghabiskan nasi dibanding dia.
4. An. M makan menggunakan tempe yang diberi
kuah santan.
A: Diagnosis keperawatan belum dapat ditegakkan.
P:
1. Buat kontrak untuk pertemuan selanjutnya.
2. Sepakati hari pertemuan keluarga.
Membina hubungan saling percaya.
S:
Melakukan pemeriksaan fisik pada 1. Nenek L mengatakan senang dengan kehadiran
anggota keluarga yang ada di rumah.
perawat.
Melengkapi pengkajian keperawatan
2. Nenek L mengatakan An. M masih sulit makan
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
PARAF
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
3.
O:
1.
2.
Nenek L mengatakan belum mengetahui apa itu
gizi kurang, faktor penyebab dan tanda dan
gejalanya.
Keluarga tampak antusias dan kooperatif.
Berat badan an. M berada pada kategori gizi
kurang.
A:
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh pada An. M.
P: Lanjutkan rencana keperawatan yang sudah ada.
27
2013
Mei
1
1.
2.
3.
4.
5.
Menjelaskan pada keluarga pengertian gizi S:
kurang, faktor penyebab, dan tanda dan 1.
gejala gizi kurang serta akibat dari gizi
kurang jika tidak segera ditangani.
2.
Mengidentifikasi bersama keluarga adakah
tanda tersebut pada An. M
Memotivasi keluarga untuk mengambil 3.
keputusan yang tepat untuk mengatasi
masalah gizi pada balitanya.
4.
Mendemonstrasikan cara pemilihan bahan
makanan
Memotivasi keluarga untuk mengulang
melakukan redemonstrasi pemilihan bahan O:
makanan dan mengulang materi yang 1.
Nenek L menyebutkan gizi kurang adalah kondisi
bila makanan tidak mencukupi kebutuhan tubuh.
Nenek L mengatakan penyebab gizi kurang
karena jumlah makanan yang masuk kurang atau
karena sakit infeksi.
Nenek L mengatakan tanda anak gizi kurang
badannya kurus, rambut merah, tidak bergairah.
Nenek L mengatakan akibat gizi kurang anak jadi
gangguan tumbang dan memutuskan untuk
merawat An. M agar tidak mengalami gangguan
tumbang.
Nenek L tampak mampu menjawab pengertian
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
6.
29
2013
Mei
2
sudah dijelaskan.
Memberikan reinforcement pada keluarga
atas pemahaman yang tepat dan atas usaha
keluarga.
1. Mendiskusikan bersama keluarga tentang
tumbuh kembang anak.
2. Memberikan reinforcement positif pada
keluarga atas pemahaman yang sudah
benar.
3. Menjelaskan pada keluarga tentang
pengertian
pertumbuhan
dan
perkembangan, aspek tumbang yang harus
dipantau, faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi
pertumbuhan
dan
perkembangan anak, dan mengidentifikasi
tugas pertumbuhan dan perkembangan
anak berusia 35 bulan.
4. Mendiskusikan bersama keluarga tentang
gangguan tumbuh kembang yang sering
terjadi.
5. Memotivasi keluarga untuk mengambil
keputusan
yang
tepat
untuk
2.
gizi kurang, faktor penyebab, dan tanda dan gejala
gizi kurang serta akibat dari gizi kurang
Keluarga tampak mampu mengulang melakukan
redemonstrasi pemilihan bahan makanan dan
mengulang materi yang sudah dijelaskan.
A:
Keluarga mampu mengulang melakukan redemonstrasi
pemilihan bahan makanan dan mengulang materi yang
sudah dijelaskan, sehingga dapat dikatakan tujuan
berhasil dicapai.
P: Lanjutkan rencana keperawatan yang sudah ada.
S:
1. Nenek L mengatakan pertumbuhan itu
bertambahnya
ukuran
fisik,
sedangkan
perkembangan bertambahnya kemampuan anak.
2. Ibu Rs mengatakan untuk memantau tumbuh
kembang anaknya bisa melalui penimbangan
berat badan dan pengukuran tinggi badan setiap
bulan di posyandu.
3. Nenek L mengatakan faktor makanan dan
penyakit bisa mempengaruhi tumbuh kembang
anak.
4. Nenek L mengatakan An. M sudah sesuai tumbuh
kembangnya dengan usianya, namun ia belum
bisa makan sendiri dan kadang harus dibantu
melepas pakaiannya.
5. Nenek L mengatakan cucunya memang agak
pendek tapi ia tidak tahu jika hal tersebut bisa
disebabkan oleh nutrisi yang kurang.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
mengoptimalkan
tumbuh
kembang
6.
anaknya.
6. Memberikan reinforcement positif atas
keputusan tepat yang diambil keluarga.
O:
7. Mendemonstrasikan stimulasi melatih
1.
kemampuan bicara dan bahasa pada An.M.
dan memotivasi keluarga untuk melakukan
2.
redemonstrasi ulang.
8. Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga.
3.
30
2013
Mei
1
1.
2.
3.
Melakukan evaluasi terhadap materi yang
sudah diberikan sebelumnya.
Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga.
Menjelaskan pada keluarga cara pemilihan
bahan makanan yang sehat serta cara
pengolahan bahan makanan yang tepat
untuk menghindari zat makanannya hilang
Ibu Rs mengatakan ia ingin anaknya tumbuh dan
berkembang dengan
normal
dan
ingin
mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya.
Keluarga tampak kadang masih harus diingatkan
tentang materi yang diberikan.
Keluarga dapat lebih lancar mengulang materi
yang diberikan jika hal tersebut dibandingkan
dengan kondisi An.M.
Keluarga tampak sudah mampu melakukan
redemonstrasi ulang stimulasi kemampuan bicara
dan bahasa pada An. M.
A:
Keluarga sudah mampu memahami tumbuh kembang
anak walaupun kadang harus dipancing untuk
mengingatkan materi yang diajarkan dan sudah mampu
melakukan redemonstrasi ulang stimulasi kemampuan
bicara dan bahasa An.M, sehingga dapat dikatakan
tujuannya tercapai.
P: Motivasi keluarga untuk melakukan stimulasi secara
teratur.
S:
1. Nenek L mengatakan cara pemilihan
dan
pengolahan bahan makanan yang tepat yaitu
dicuci dahulu kemudian dikupas, dan dipotong.
O:
1. Nenek L tampak masih harus dibantu dalam
mengingat materi yang telah diberikan
sebelumnya.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
4.
5.
3 Juni 2013
1
1.
2.
3.
4.
6 Juni 2013
1
1.
saat pengolahan.
Memotivasi keluarga untuk melakukan
redemonstrasi cara pemilihan bahan
makanan yang sehat serta cara pengolahan
bahan makanan yang tepat untuk
Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga dan atas pemahaman
keluarga yang sudah benar.
2.
Nenek L tampak sudah terampil
pengolahan bahan makanan yang tepat.
dalam
A:
Keluarga sudah mampu mengulang melakukan
redemonstrasi pengolahan bahan makanan yang benar
dan mengulang
materi yang sudah dijelaskan
sebelumnya, sehingga dapat dikatakan tujuan berhasil
dicapai.
P: Lanjutkan rencana keperawatan yang sudah ada.
Menjelaskan pada keluarga manfaat zat S:
gizi dan cara penyusunan menu seimbang.
1. Nenek L dan Ibu Rs mengatakan manfaat gizi
Mendemonstrasikan pada keluarga cara
seimbang yaitu agar anak tidak kurang gizi dan
menyusun menu.
tidak mudah sakit.
Memotivasi keluarga untuk menyusun
menu selama satu minggu.
O:
Memberikan reinforcement positif atas 1. Nenek L dan Ibu Rs tampak mampu menjelaskan
usaha keluarga dan atas pemahaman
kembali manfaat zat gizi.
keluarga yang sudah benar.
2. Nenek L dan Ibu Rs mampu melakukan
redemonstrasi cara penyusunan menu seimbang.
A: Keluarga sudah mampu melakukan redemonstrasi
cara penyusunan menu seimbang dan mampu
menyusun menu selama 1 minggu, sehingga dapat
dikatakan tujuan berhasil dicapai.
P: Lanjutkan rencana keperawatan yang sudah ada.
Menjelaskan pada keluarga tentang S:
pentingnya makanan selingan yang sehat.
1. Nenek L mengatakan manfaat makanan selingan
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
2.
3.
4.
8 Juni 2013
2
1.
2.
3.
4.
5.
Mendemonstrasikan bersama keluarga cara
sehat yaitu untuk mengatasi masalah gizi pada
membuat camilan sehat; puding ekonomis
balita.
tinggi energi dan protein.
O:
Memotivasi keluarga untuk melakukan 1. Keluarga tampak mampu menyebutkan kembali
redemonstrasi ulang.
manfaat makanan selingan.
Memberikan reinforcement positif atas 2. Keluarga
tampak
mampu
melakukan
usaha keluarga dan atas pemahaman
redemonstrasi pembuatan makanan selingan
keluarga yang sudah benar.
sehat; puding kaya energi dan protein.
A: Keluarga sudah mampu mengulang melakukan
redemonstrasi cara pembuatan makanan selingan kaya
energi dan protein dengan harga ekonomis sehingga
dapat dikatakan tujuan berhasil dicapai.
P: Lanjutkan rencana keperawatan yang sudah ada.
Mengevaluasi
pemahaman
keluarga S:
tentang tumbuh kembang anak.
1. Ibu Rs mengatakan salah satu faktor yang dapat
Memberikan reinforcement positif atas
mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah
usaha keluarga.
nutrisi anak harus sesuai usianya.
Memberikan penjelasan ulang atas materi
2. Ibu Rs mengatakan salah satu cara melatih
yang kurang dipahami atau yang
kemampuan sosialisasi dan kemandirian pada
terlupakan oleh keluarga.
anak melalui melatih anaknya berpakaian sendiri.
Menjelaskan
pada
keluarga
cara O:
melakukan
stimulasi
kemampuan
1. Ibu Rs tampak masih harus dibantu dalam
bersosialisasi dan kemandirian untuk anak
mengingat materi tumbuh kembang yang pernah
usia 35 bulan.
diberikan sebelumnya.
Mendemonstrasikan stimulasi kemampuan
2. Ibu Rs tampak melakukan stimulasi melatih
bersosialisasi dan kemandirian pada An. M
kemampuan bicara dan bahasa yang pernah
dan memotivasi keluarga untuk melakukan
diajarkan sebelumnya.
redemonstrasi ulang.
3. Ibu Rs mampu mengulang kembali stimulasi
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
6. Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga.
10
2013
Juni
1
1.
2.
3.
Menjelaskan pada keluarga tentang
pentingnya pengaturan jadwal makan anak
dan makanan selingan anak.
Memotivasi keluarga untuk menyusun
jadwal makanan selingan keluarga.
Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga dan atas pemahaman
keluarga yang sudah benar.
melatih kemampuan sosialisasi dan kemandirian;
melatih anak berpakaian sendiri.
4. An.M tampak masih harus dibantu dalam
berpakaian sendiri.
A: Keluarga sudah mampu melakukan stimulasi
melatih kemampuan sosialisasi dan kemandirian anak
walaupun masih harus dibantu sedikit mengulang
materi yang pernah diberikan sehingga dapat
dikatakan tujuan tercapai.
P: Bantu keluarga untuk mengingat materi yang
pernah disampaikan sebelumnya tentang tumbuh
kembang anak pada setiap kesempatan pertemuan dan
motivasi keluarga untuk melakukan stimulasi tumbuh
kembang sesuai dengan yang pernah diajarkan.
S:
Nenek L mengatakan manfaat pengaturan jadwal
makan anak salah satunya yaitu agar anak makan
teratur dann terjadwal
O:
Keluarga tampak sudah mampu menyusun jadwal
makan anak.
Berdasarkan pengamatan perawat anak masih disuapi
dalam 1 porsi dengan kakaknya
A:
Keluarga sudah mampu menyebutkan manfaat makan
terjadwal dan menyusun jadwal makan an selingan
anak sehingga dapat dikatakan tujuan berhasil dicapai.
P: Lanjutkan rencana keperawatan yang sudah ada.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1
13
2013
1.
Juni
2.
3.
4.
15
2013
Juni
2
Menjelaskan pada keluarga tentang cara
memodifikasi lingkungan yang dapat
dilakukan keluarga untuk meningkatkan
nafsu makan anak.
Mendemonstrasikan pada keluarga cara
menyajikan makanan yang menarik
perhatian anak.
Memotivasi keluarga untuk melakukan
redemonstrasi cara menyajikan makanan
yang menarik perhatian anak.
Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga dan atas pemahaman
keluarga yang sudah benar
1. Melakukan evaluasi stimulasi tumbuh
kembang yang telah dilakukan keluarga.
2. Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga.
3. Menjelaskan
pada
keluarga
cara
melakukan stimulasi melatih kemampuan
gerak motorik kasar maupun motorik halus
pada anak usia 35 bulan.
Motivasi nenek L untuk mematuhi program yang telah
disepakati sebelumnya.
S:
Ibu Rs mengatakan cara memodifikasi lingkungan
untuk merangsang nafsu makan anak di antaranya yaitu
penggunaan alat makan yang menarik dan penyediaan
menu yang variatif.
O:
1. Keluarga mampu menyebutkan kembali cara
memodifikasi lingkungan untuk meningkatkan
nafsu makan anak.
2. Ibu Rs tampak mampu mendemonstrasikan
kembali cara menyajikan makanan yang menarik
perhatian anak.
A: Keluarga sudah mampu menyebutkan manfaat
makan terjadwal dan menyusun jadwal makan an
selingan anak sehingga dapat dikatakan tujuan berhasil
dicapai.
P: Lanjutkan rencana keperawatan yang sudah ada.
S:
1. Nenek L mengatakan An.M sekarang sudah
membuka bajunya sendiri bila mandi dan sudah
mau berpakaian sendiri sehabis mandi, namun
masih harus dibantu dalam mengenakan pakaian
jenis kemeja.
O:
1. Keluarga tampak antusias mempraktekkan
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
17
2013
Juni
1
4. Mendemonstrasikan bersama keluarga
stimulasi kemampuan gerak motorik kasar
bermain bola dan latihan menangkap dan
melempar bola.
5. Memotivasi keluarga untuk melakukan
redemonstrasi ulang.
6. Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga.
7. Mendemonstrasikan bersama keluarga cara
melatih stimulasi kemampuan gerak
motorik halus melalui menggambar dan
membuat gambar tempelan.
8. Memotivasi keluarga untuk melakukan
redemonstrasi ulang.
9. Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga.
10. Memotivasi keluarga untuk membuat
jadwal latihan stimulasi tumbuh kembang
anak.
1. Menjelaskan pada keluarga trik khusus
mengatasi anak yang tidak menyukai
sayur.
2. Mendemonstrasikan pada keluarga salah
satu cara mengatasi anak yang tidak suka
sayur melalui pembuatan nugget sayur.
3. Memotivasi keluarga untuk menyebutkan
kembali apa yang telah disampaikan
perawat sebelumnya dan melakukan
redemonstrasi tentang cara pembuatan
stimulasi tumbuh kembang yang pernah diajarkan
sebelumnya.
2. Keluarga
tampak
mampu
melakukan
redemonstrasi ulang cara stimulasi kemampuan
gerak motorik kasar maupun motorik halus yang
diajarkan perawat.
A: Keluarga sudah mampu melakukan stimulasi
tumbuh kembang yang diajarkan perawat sehingga
dapat dikatakan tujuan tercapai.
P: Motivasi keluarga untuk mematuhi program
stimulasi tumbuh kembang yang telah dibuat bersama.
S:
Keluarga mengatakan salah satu cara mengatasi anak
yang tidak menyukai sayur yaitu dengan memodifikasi
sayuran ke dalam masakan, misalnya nugget sayur.
O:
1. Keluarga mampu menyebutkan kembali cara/trik
mengatasi anak yang tidak menyukai sayur.
2. Keluarga mampu melakukan redemonstrasi cara
pembuatan nugget sayur.
A: Keluarga sudah mampu menyebutkan kembali
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
4.
18
2013
Juni
2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
20
Juni
1 dan 2
1.
nugget sayur.
Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga dan atas pemahaman
keluarga yang sudah benar
Mendiskusikan bersama keluarga cara
memodifikasi
lingkungan
untuk
mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Memberikan reinforcement positif untuk
pemahaman keluarga yang sudah benar.
Menjelaskan pada keluarga modifikasi
lingkungan yang dapat dilakukan keluarga
untuk mengoptimalkan tumbuh kembang
An.M.
Mendemonstrasikan bersama keluarga
pemilihan mainan yang aman yang dapat
merangsang kreativitas anak; bola, puzzle,
crayon, dan buku mewarnai gambar.
Memotivasi keluarga untuk melakukan
redemonstrasi ulang dan memberikan
reinforcement positif atas usaha keluarga.
Memotivasi keluarga untuk memodifikasi
lingkungannya untuk mengoptimalkan
tumbuh kembang An.M.
Memberikan reinforcement positif atas
usaha keluarga.
Menjelaskan
pada
keluarga
cara/trik mengatasi anak yang tidak menyukai sayur
dan mendemonstrasikan cara pembuatan nugget sayur
sehingga dapat dikatakan tujuan berhasil dicapai.
P: Lanjutkan rencana keperawatan yang sudah ada.
S:
1. Ibu Rs mengatakan untuk mengoptimalkan
tumbuh kembang anaknya ia dapat menyediakan
makanan
yang
bergizi
bagi
anaknya,
menyediakan mainan aman yang dapat
merangsang kreativitas anak, dan melakukan
stimulasi tumbuh kembang sesuai dengan yang
pernah diajarkan.
O:
1. Keluarga tampak sudah mampu menyebutkan
kembali modifikasi lingkungan yang harus ia
lakukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang
anaknya.
2. Ibu Rs tampak sudah mampu melakukan
redemonstrasi pemilihan mainan aman yang dapat
merangsang kreativitas anak dan mengoptimalkan
tumbuh kembang anaknya.
A: Keluarga tampak sudah mampu menyebutkan dan
mendemonstrasikan cara memodifikasi lingkungan
rumahnya untuk mengoptimalkan tumbuh kembang
anaknya sehingga dapat dikatakan tujuan sudah
tercapai.
P: Motivasi keluarga terhadap program yang telah
disepakati bersama.
tentang S:
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
2013
4.
manfaat mengunjungi fasilitas kesehatan 1. Ibu. Rs mengatakan salah satu manfaat
dan fasilitas-fasilitas kesehatan mana saja
mengunjungi fasilitas kesehatan yaitu untuk
yang dekat dan mudah di akses keluarga.
memantau status gizi anak, memantau tumbuh
Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan
kembang anak, dan untuk berobat.
salah satu fasilitas kesehatan untuk 2. Nenek L mengatakan bahwa ia yang akan
memantau berat badan dan masalah gizi
mengantar An. M untuk kontrol ke Posyandu
An. M.
sekarang ini.
Memotivasi keluarga untuk menyebutkan 3. Ibu Rs mengatakan bahwa ia akan berhenti kerja
kembali apa yang sudah disampaikan
sementara waktu untuk konsentrasi mengurus An.
perawat.
M.
Memberikan reinforcement positif atas O:
usaha keluarga dan atas pemahaman Keluarga mampu menyebutkan kembali manfaat
keluarga yang sudah benar
mengunjungi fasilitas kesehatan dan memutuskan
untuk memanfaatkan posyandu untuk memantau berat
badan dan tumbuh kembang An. M.
A: Keluarga sudah mampu menyebutkan kembali
manfaat mengunjungi fasilitas kesehatan dan
memutuskan untuk memanfaatkan posyandu untuk
memantau berat badan An. M sehingga dapat dikatakan
tujuan berhasil dicapai.
P: Lanjutkan rencana keperawatan yang sudah ada.
1.
2.
3.
4.
Melakukan evaluasi sumatif.
Menimbang berat badan An. M.
Menilai tingkat kemandirian keluarga.
Melakukan terminasi
2.
3.
24 Juni
2013
S:
1. Ibu Rs mengatakan gizi kurang adalah zat gizi
yang masuk tidak sesuai kebutuhan tubuh,
disebabkan karena makanan yang masuk kurang
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
atau karena sakit. Tanda dan gejalanya badan
anak menjadi kurus, lemas, mudah sakit.
2. Ibu Rs mengatakan dalam menyiapkan makanan
balita harus ada unsur zat tenaga, zat pembangun,
dan zat pengatur.
3. Ibu Rs mengatakan untuk menaikkan berat badan
anaknya yang kurang ia harus menyiapkan
makanan dengan gizi seimbang dan memberikan
makanan tambahan di sela waktu makan anak
terutama yang kaya akan zat energi dan protein.
4. Ibu Rs mengatakan untuk mengoptimalkan
tumbuh kembang anaknya ia harus memastikan
nutrisi anaknya terpenuhi.
O:
1. Berat badan An. M saat ini 11,5 kg, naik 500 gram
dari sebelum diberikan intervensi. Berdasarkan
BB/U atau BB/TB berat badan An.M berada pada
kategori gizi baik atau normal.
2. Keluarga tampak sudah mulai melakukan perawatan
sederhana terhadap An.M dengan masalah gizi.
3. Keluarga sudah melakukan stimulasi tumbuh
kembang sesuai jadwal yang telah dibuat bersama.
4. Saat penimbangan posyandu An. M sudah diantar
oleh neneknya.
5. Berdasarkan kriteria tingkat kemandirian keluarga,
saat ini Keluarga Bpk R berada pada Tingkat
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Kemandirian III.
A: Status gizi An. M saat ini berada pada kategori gizi
baik atau normal dan tak terdapat gangguan tumbuh
kembang pada An.M, keluarga Bpk. R juga sudah
mampu melakukan perawatan sederhana untuk
mencegah anaknya kembali dalam masalah gizi.
Tingkat Kemandirian keluarga berada pada
kemandirian III. Masalah nutrisi kurang pada balita
di keluarga bpk. R sudah teratasi.
P:
1. Lakukan terminasi program.
2. Motivasi keluarga untuk terus mematuhi program
yang telah dibuat bersama.
3. Pendampingan kader.
Asuhan keperawatan..., Wiji Saraswati, FIK UI, 2013
Download