PENDAHULUAN Luka bakar merupakan cedera pada

advertisement
PENDAHULUAN
Luka bakar merupakan cedera pada kulit dan jaringan tubuh yang disebabkan
panas, bahan kimia, radiasi, suhu dingin, friksi, maupun arus listrik. Jenis luka dapat
beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang
terkena luka bakar, tingkat keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut.
Luka bakar dapat merusak jaringan otot, tulang, pembuluh darah dan jaringan
epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari
akhir sistem persarafan. Potensi komplikasi yang disebabkan oleh karena luka bakar,
diantaranya kehilangan cairan dan elektrolit yang mengakibatkan terjadinyanya
hipovolemia, hypothermia, infeksi oportunistik, gagal ginjal dan hati, pembentukan
eschar, dan sebagainya.
Cedera akibat listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir ke
dalam tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya
fungsi suatu organ dalam. Karena tubuh manusia merupakan penghantar listrik yang
baik. Meskipun luka bakar listrik tampak ringan, tetapi mungkin saja telah terjadi
kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada jantung, otot atau otak. Cedera bisa
berupa luka bakar ringan sampai kematian, tergantung kepada jenis dan kekuatan arus
listrik, ketahanan tubuh terhadap arus listrik, jalur arus listrik ketika masuk ke dalam
tubuh, dan lamanya terkena arus listrik.
Di Amerika Serikat, sekitar 1000 kematian per tahun akibat dari electrical
injuries, dengan tingkat kematian 3-5%. Klasifikasi cedera listrik umumnya berfokus
pada sumber daya (petir atau listrik), tegangan (tegangan tinggi atau rendah ), dan jenis
arus (bolak-balik atau langsung), yang masing-masing dikaitkan dengan pola cedera
tertentu.
1
BAB I
LAPORAN KASUS
Seorang pemuda pekerjaan buruh, berusia 21 tahun datang ke Instalasi Gawat
Darurat dengan digotong oleh 3 orang. Keluhan utama adalah tersengat listrik, sekitar
30 menit yang lalu pada telapak tangan dan lengan bawah kanan.
Biodata Pasien
Nama
: Abubakar
Usia
: 21 tahun
Pekerjaan
: Buruh pabrik
Status
: Belum menikah
Status Generalis
•
Riwayat Penyakit Sekarang :
Saat menumpang di atap kereta api jurusan Bogor-Jakarta, pasien tanpa sengaja
menyentuh besi yang dialiri listrik tegangan tinggi. Pasien langsung terlempar ke
belakang namun masih tetap sadar. Kepala tidak terbentur, tidak mengalami
muntah dan mual. Pasien tetap sadar tetapi lemah tampak syok, sehingga tidak
mampu jalan.
•
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien menyangkal adanya masalah: batuk lama, penurunan berat badan tanpa
sebab, menggunakan obat terlarang, dan merokok.
2
•
Riwayat Penyakit Keluarga :
Keluarga tidak ada yang mendrerita kencing manis, penyakit jantung dan darah
tinggi.
•
Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien masih tinggal bersama orang tua, dan memiliki Jaminan Sosial Tenaga
Kerja (Jamsostek)
Tanda Vital
Airway
: Bebas
Breathing
: Spontan 20x/menit
Circulation
: Akral hangat, T:120/70 mmHg, N: 110x/menit
Disability
: Compos mentis
Jantung
: Dalam batas normal
Paru
: Dalam batas normal
Ekstremitas
: Motorik dan sensorik dalam batas normal
Status Lokalis
Pada sebagian area palmar manus dekstra tampak luka bakar kehitaman, kering,
di sekitarnya sampai lengan tampak oedem hiperemis dan bulae (+). Pada area
kehitaman tes pin prick (-).
EKG
: Dalam Batas Normal
3
Hasil Laboratorium (Darah)
Hb
: 13 g/dL
Leukosit
: 10.000
Eritrosit
: 4,5 juta
Trombosit
: 250.000
SGOT
: 17 U/mL
SGPT
: 15 U/mL
Creatinin
:1
Ureum
: 27 mg/dL
Albumin
: 3,5 g/dL
Globulin
:?
Na
: 138 mEq/L K
: 4 mEq/L
Hasil Laboratorium (Urin)
Makroskopik
: Jernih kemerahan
Eritrosit
: (-)
Leukosit
: (-)
Myoglobin dan Hemoglobin : (+)
Glukosa
: (-)
4
BAB II
PEMBAHASAN
ANAMNESIS
Identitas Pasien
Nama
: Abu Bakar
Umur
: 21 Tahun
Jenis kelamin
: Laki-Laki
Pekerjaan
: Buruh
Status
: Belum Menikah
Alamat
:-
Agama
:-
Suku bangsa
:-
Riwayat Penyakit
•
Keluhan Utama
Tersengat listrik, sekitar 30 menit yang lalu pada telapak tangan dan lengan
bawah kanan
•
Riwayat Penyakit Sekarang
− Pasien tanpa sengaja menyentuh besi yang dialiri listrik tegangan tinggi
− Pasien terlempar ke belakang namun kepala tidak terbentur, tidak mual
dan muntah
− Pasien sadar, namun tampak lemah dan syok sehingga tidak mampu
berjalan
•
Anamnesis Tambahan yang Diperlukan :
5
− Berapa lama tersengat listrik?
− Bagaimana keadaan tangan saat tersengat, dalam keadaan basah atau kering?
− Apakah saat tersengat listrik sempat terjadi penurunan kesadaran?
(alloananamnesis)
− Kalau sempat terjadi penurunan kesadaran, berapa lama waktunya?
− Saat tersengat listrik, apakah sempat terjatuh? Jika sempat terjatuh, apakah
ada bagian tubuh lain yang terasa sakit? (untuk memastikan adanya trauma
di bagian tubuh lain)
− Apakah bagian yang tersengat listrik terasa nyeri?
•
Riwayat Penyakit Dahulu
Menyangkal adanya batuk lama, penurunan berat badan tanpa sebab,
menggunakan obat terlarang, dan merokok
•
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat Diabetes Melitus, penyakit jantung ataupun hipertensi
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
•
Keadaan Umum : Tampak lemah, syok, dan tidak mampu berjalan
•
Tanda Vital :
− Airway
− Breathing
: Bebas
: Spontan 20x/menit
− Circulation : Akral Hangat
− Nadi
: 110x/ menit
6
− Tekanan darah
: 120/ 70 mmHg
− Disability
: Compos mentis
− Jantung
: Dalam Batas Normal
− Paru
: Dalam Batas Normal
− Ekstremitas : Motorik dan sensorik dalam batas normal
Status Lokalis
Inspeksi
•
Pada sebagian area palmar manus dekstra tampak luka bakar kehitaman, kering.
Berdasarkan status lokalis tersebut kelompok kami menyimpulkan bahwa
pasien menderita luka bakar derajat III pada area palmar manus dekstra dengan
adanya warna kehitaman pada kulit, yang diakibatkan sudah terjadinya nekrosis
pada jaringan yang disebut sebagai zona koagulasi
•
Disekitarnya sampai lengan tampak oedema hiperemis dan bula (+).
Berdasarkan pernyataan ini kelompok kami menyimpulkan bahwa pasien
menderita luka bakar derajat II A (dangkal) dengan adanya daerah oedem
hiperemis dan bula pada bagian antebrachii dextra pasien.
•
Pada area kehitaman (palmar manus dextra) tes pin prick negatif, hal ini
menandakan sudah terjadinya defisit neurologis atau kerusakan saraf perifer
pada lokasi yang tersengat listrik
Palpasi : Perkusi : Auskultasi : Pemeriksaan jantung dan paru pada pemeriksaan tanda vital pasien
7
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk membantu menegakkan diagnosis, maka dilakukan pemeriksaan
penunjang pada pasien ini dengan hasil:
EKG : dalam batas normal
Hasil Laboratorium Darah
Hemoglobin
Leukosit
Eritrosit
Trombosit
SGOT
SGPT
Creatinin
Ureum
Albumin
Globulin
Na
K
Hasil pemeriksaan
13 g/ dL
10.000
4,5 juta
250.000
17 U/ mL
15 U/ mL
1
27
3,5 g/ dL
?
138 mEq/ L
4
Kadar normal
13 – 18 g/ dL
5.000 – 10.000
4,5 – 6,2 juta
150.000 – 350.000
5 – 40 U/ mL
0 – 40 U/ mL
0,7 – 1,5
10 – 38 mg/ dL
3,0 – 5,5 g/ dL
2,0 – 3,5
135 – 145 mEq/ L
3,5 – 5,2 mEq/ L
Keterangan
normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Kadar normal
Jernih dan bening
(-)
(-)
(-)/ tidak terdeteksi
(-)/ tidak terdeteksi
(-) tidak terdeteksi
keterangan
Abnormalitas
Normal
Normal
Abnormalitas
Abnormalitas
Normal
Hasil Laboratorium Urin
Makroskopik
Eritrosit
Leukosit
Myoglobin
Hemoglobin
Glukosa
Hasil pemeriksaan
Jernih kemerahan
(-)
(-)
(+)
(+)
(-)
secara kualitatif
Hasil pemeriksaan laboratorium darah menunjukkan hasil-hasil yang normal
dan tidak menunjukkan adanya abnormalitas. Namun pada hasil laboratorium urin
ditemukan abnormlitas pada warna urin, kadar myoglobin dan kadar hemoglobin pada
urin. Dilihat dari hasil pemeriksaan, hasil makroskopik yaitu warna urine jernih namun
8
kemerahan. Hal ini terjadi akibat terjadinya hemolisis yang menyebakan hemoglobin
terdapat dalam urine dan mewarnai urine tersebut. Sedangkan terdapat nya myoglobin
pada urin biasa disebut myoglobinuria yang disebabkan adanya kerusakan jaringan otot
sehingga myoglobin masuk ke aliran darah dan keluar melalui urin.
PATOFISIOLOGI
1. Ketika adanya sengatan listrik, terjadi aliran elektron-elektron pada objek. Pada
tubuh manusia, kulit, pembuluh darah, sel saraf, otot dan membrane mukosa
adalah konduktor bagi listrik. Sedangkan tulang merupakan hambatan/resistor
listrik pada tubuh. Apabila terdapat hambatan dalam tubuh, maka sebagian
energi untuk perpindahan elektron tersebut berubah menjadi energi panas.
Maka saat listrik berkontak dengan kulit, kulit akan meneruskan ke jaringan
yang lebih dalam hingga tulang (hambatan terbesar), dan saat itu energy listrik
berubah menjadi energy panas dan merusak jaringan sekitar yang menempel
pada tulang seperti saraf dan otot.
2. Pada kulit yang kontak langsung akan terjadi luka bakar
3. Pada otot, terjadi kerusakan pada serat otot → rhabdomyolysis → myoglobin
masuk aliran darah → melewati ginjal →myoglobinuria
4. Pada pembuluh darah → panas merusak tunika intima → terjadi thrombosis →
sumbatan aliran darah → compartment syndrome → tidak teratasi → nekrosis
jaringan
5. Pada saraf terjadi kerusakan karena saraf memiliki tahanan terkecil →parestesi
→ luka bakar berat
6. Kulit mengalami luka bakar → penguapan yang banyak → permeabilitas
pembuluh darah meningkat → ekstravasasi cairan (air, elektrolit, protein) →
9
tekanan onkotik menurun → syok hipovolemik → penurunan tekanan darah
DIAGNOSIS
Luka bakar derajat III pada palmar manus dextra dan luka bakar derajat II A
(dangkal) pada antebrachii dextra. Hal ini dapat dilihat dari gejala dan tanda-tanda
yang dialami oleh pasien berdasarkan klasifikasi derajat luka bakar seperti luka
berwarna kehitaman dan kering serta hasil tes pin prick yang negative yang
menunjukkan adanya kerusakan serabut saraf pada derajat III. Luka bakar derajat II A
pada antebrachii dextra ditandai dengan adanya oedem hiperemis dan bullae.
Luas luka bakar pada pasien ini dihitung berdasarkan Rule Of Nine dari
Wallace diperkirakan 4,5 % pada daerah antebrachii dengan derajat II A dan 1% pada
palmar manus dextra dengan derajat III. Menurut American Burn Association luka
bakar pada pasien ini termasuk luka bakar ringan karena memiliki luka bakar derajat II
dibawah 15% dan luka bakar derajat 3 dibawah 2%.
Selain luka bakar tersebut, pasien juga diperkirakan mengalami syok akibat
terkejut ketika bersentuhan dengan besi yang dialiri listrik bertegangan tinggi.
PENATALAKSANAAN
Pada fase akut dapat dilakukan pertolongan pertama untuk bantuan hidup dasar, yakni:
1.
Airway, yakni membebaskan jalan nafas agar pasien dapat tetap bernafas
secara normal
2.
Breathing, mengecek kecepatan pernafasan yakni sekitar 20x/ menit
3.
Circulation, melakukan palpasi pada nadi untuk mengecek pulsasi yang pada
orang normal berkisar antar 60 – 100x/ menit
Dilakukan observasi ABC terus menerus sampai keadaan pasien benar-benar stabil.
10
Secara
sistematik
dapat
dilakukan
6c
:
clothing,
cooling,
cleaning,
chemoprophylaxis, covering and comforting. Untuk pertolongan pertama dapat
dilakukan langkah clothing dan cooling, baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas
kesehatan
•
Clothing : singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan pakaian
yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada
fase cleaning.
•
Cooling : Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air
mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah
normal, terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif samapai dengan 3
jam setelah kejadian luka bakar. Kompres dengan air dingin (air sering diganti
agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa
nyeri) untuk luka yang terlokalisasi. Jangan pergunakan es karena es
menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan
memperberat derajat luka dan risiko hipotermia.
•
Cleaning : pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi rasa
sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati dengan prosen
debridement, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi
berkurang.
•
Chemoprophylaxis : pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka yang
lebih dalam dari superficial partial- thickness (dapat dilihat pada tabel 4 jadwal
pemberian antitetanus). Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan
infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. Tidak boleh
diberikan pada wajah, riwayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir,
ibu menyususi dengan bayi kurang dari 2 bulan
11
•
Covering : penutupan luka bakar dengan kassa. Dilakukan sesuai dengan
derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau
bahan lainnya. Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan)
bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya
lapisan kulit akibat luka bakar. Jangan berikan mentega, minyak, oli atau
larutan lainnya, menghambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi.
•
Comforting : dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri seperti aspirin
dan acetaminoven(1)
•
Myoglobulinuria dapat diatasi dengan memberikan manitol. Hal ini karena
komplikasi yang tersering pada pasien luka bakar adalah ATN (Acute Tubular
Necrosis) yang dapat terjadi karena adanya neurotoksin seperti mioglobinuria.
Maka keluaran urin harus ditingkatkan 100 sampai 150 mL/jam dengan
meningkatkan laju volume cairan yang diinfuskan. Jika keluaran urin masih
rendah meskipun kecepatan infus sudah ditingkatkan, maka dapat ditambahkan
manitol 12,5 gr pada setiap 1L larutan RL(2) untuk mempertahankan output urin
dan mengurangi kristalisasi mioglobik dalam tubulus renalis(3,4).
Terapi cairan
•
Cairan infus yang diberikan adalah cairan kristaloid (ringer laktat, NaCl
0,9%/normal Saline).
•
Jumlah cairan yang diberikan berdasarkan formula dari Parkland : 3-4 cc x
berat badan (kg) x %TBSA + cairan rumatan (maintenance per 24 jam).
•
Cairan formula parkland (3-4ccx kgBB x %TBSA) diberikan setengahnya
dalam 8 jam pertama dan setengah sisanya dalam 16 jam berikutnya.
•
Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari produksi urin
yaitu 1cc/kgBB/jam.
12
KOMPLIKASI
Setelah luka bakar yang luas, muncul edema pada edema jaringan yang terkena
maupun area di sekitarnya karna pecahnya kapiler dan kebocoran cairan plasma dan
protein ke dalam ruang interstisium. Setelah beberapa jam, edema menyebar di sekitar
daerah yang terkena luka bakar seiring dengan kemampuan kapiler untuk berfungsi
sebagai sawar difusi yang hilang. Edema dapat terjadi pada daerah yang tidak terkena
luka bakar akibat peningkatan transien permeabilitas kapiler terhadap air dan protein.
Penimbunan cairan dalam ruang interstisium di seluruh tubuh menyebabkan penurunan
volume darah yang bersirkulasi yang akhirnya menurunkan isi sekuncup dan tekanan
darah. Selain itu karena peningkatan kepekatan dan aliran darah yang merambat maka
semua sistem terganggu terutama
sistem kardiovaskular. Perubahan sistem
kardiovaskular memiliki dampak pada semua organ karna setiap organ memerlukan
aliran darah yang adekuat maka perubahan sistem ini dapat juga berdampak pada daya
tahan hidup pasien.
Lambatnya aliran darah menyebabkan pembentukan bekuan darah sehingga
memungkinkan timbulnya infark miokardium, atau emboli paru. Penurunan aliran
darah ke salulan cerna dapat menyebabkan hipoksia sel-sel penghasil mukus dan
terjadi ulkus peptikum. Penuruna aliran darah ke ginjal menyebabkan hipoksia ginjal
an pengeluaran urin menjadi berkurang. Karena kapiler tidak mengalami peningkatan
volume, maka edema semakin parah dan semakin meningkatkan risiko kongesti paru
dan pneumonia.
Luka bakar listrik yang parah dapat menyebabkan kerusakan otot yang
bermakna , kadar mioglobin dalam darah akan meningkat secara drastis. Jika ambang
reabsorbsinya terlampaui maka mioglobin akan keluar ke dalam urine. Mioglobin
dalam jumlah besar dalam filtrat urine dapat menyumbat tubulus sehingga terjai
13
obstruksi, peradangan, dan cedera glomerulus dan tubulus.
Infeksi adalah penyebab utama morbiditas dan motilitas pada pasien yang
awalnya bertahan pada luka bakar yang luas.Setiap luka bakar dapat terinfeksi yang
menyebabkan cacat lebih lanjut bahkan kematian. Diantaranya Pseudomonas
aeruginosa dan Staphylococcus aereus
merupakan penyebab tersering infeksi
nosokomial pada pasien luka bakar.
Luka bakar dapat menimbulkan kecacatan maupun trauma psikologis yang
dapat menyebabkan depresi. Gejala-gejala psikologis dapat timbul setiap saat setelah
luka bakar.(6)
PROGNOSIS
•
Ad Vitam : Ad Bonam
Menunjuk pada pengaruh penyakit pada proses kehidupan apakah penyakit
cenderung menuju kepada proses kematian atau akan kembali sehat seperti
semula. Pada pasien ini besar kemungkinan untuk kembali sehat dan bukan
mengarah kepada kematian
•
Ad Sanationam : Dubia Ad Malam
Menunjuk kepada penyakit yang dapat hilang 100% sehingga pasien kembali
ke keadaan semula atau penyakit akan menetap dan menimbulkan kecacatan.
Pada pasien ini kemungkinan akan ada kecacatan pada palmar manus karena
adanya jaringan parut bekas luka bakar tersebut
•
Ad Fungsionam : Dubia Ad Malam
Pengaruh penyakit terhadap fungsi organ dan fungsi manusia dalam
14
menjalankan tugasnya. Pada pasien ini kemungkinan akan terjadi pengurangan
fungsi pada organ tangan kanan karena adanya bekas dari luka bakar ini
•
Ad Kosmetikum : Dubia Ad Malam
Pengaruh penyakit terhadap tampilan estetik pada pasien ini merujuk kepada
adanya bekas luka yang mengurangi estetika pada tangan pasien.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti api, air panas , bahan kimia , listrik dan radiasi.(5)
PENYEBAB
Cedera listrik bisa terjadi akibat tersambar petir atau menyentuh kabel maupun sesuatu
yang menghantarkan listrik dari kabel yang terpasang. Cedera bisa berupa luka bakar
ringan sampai kematian, tergantung kepada:
1. Jenis dan kekuatan arus listrik
Secara umum, arus searah (DC) tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan
15
dengan arus bolak-balik (AC). Efek AC pada tubuh manusia sangat tergantung
kepada kecepatan berubahnya arus (frekuensi), yang diukur dalam satuan
siklus/detik (hertz). Arus frekuensi rendah (50-60 hertz) lebih berbahaya dari
arus frekuensi tinggi dan 3-5 kali lebih berbahaya dari DC pada tegangan
(voltase) dan kekuatan (ampere) yang sama. DC cenderung menyebabkan
kontraksi otot yang kuat, yang seringkali mendorong jauh/melempar korbannya
dari sumber aurs. AC sebesar 60 hertz menyebabkan otot terpaku pada
posisinya, sehingga korban tidak dapat melepaskan genggamannya pada
sumber listrik. Akibatnya korban terkena sengatan listrik lebih lama sehingga
terjadi luka bakar yang berat.
Biasanya semakin tinggi tegangan dan
kekuatannya, maka semakin besar kerusakan yang ditimbulkan oleh kedua jenis
arus listrik tersebut. Kekuatan arus listrik diukur dalam ampere. 1 miliampere
(mA) sama dengan 1/1,000 ampere. Pada arus serendah 60-100 mA dengan
tegangan rendah (110-220 volt), AC 60 hertz yang mengalir melalui dada
dalam waktu sepersekian detik bisa menyebabkan irama jantung yang tidak
beraturan, yang bisa berakibat fatal.
Efek yang sama ditimbulkan oleh DC sebesar 300-500 mA. Jika arus langsung
mengalir ke jantung, misalnya melalui sebuah pacemaker, maka bisa terjadi
gangguan irama jantung meskipun arus listriknya jauh lebih rendah (kurang
dari 1 mA).
2. Ketahanan tubuh terhadap arus listrik
Resistensi adalah kemampuan tubuh untuk menghentikan atau memperlambat
aliran arus listrik. Kebanyakan resistensi tubuh terpusat pada kulit dan secara
langsung tergantung kepada keadaan kulit. Resistensi kulit yang kering dan
sehat rata-rata adalah 40 kali lebih besar dari resistensi kulit yang tipis dan
16
lembab. Resistensi kulit yang tertusuk atau tergores atau resistensi selaput
lendir yang lembab (misalnya mulut, rektum atau vagina), hanya separuh dari
resistensi kulit utuh yang lembab.
Resistensi dari kulit telapak tangan atau telapak kaki yang tebal adalah 100 kali
lebih besar dari kulit yang lebih tipis. Arus listrik banyak yang melewati kulit,
karena itu energinya banyak yang dilepaskan di permukaan. Jika resistensi kulit
tinggi, maka permukaan luka bakar yang luas dapat terjadi pada titik masuk dan
keluarnya arus, disertai dengan hangusnya jaringan diantara titik masuk dan
titik keluarnya arus listrik. Tergantung kepada resistensinya, jaringan dalam
juga bisa mengalami luka bakar.
3. Jalur arus listrik ketika masuk ke dalam tubuh
Arus listrik paling sering masuk melalui tangan, kemudian kepala; dan paling
sering keluar dari kaki. Arus listrik yang mengalir dari lengan ke lengan atau
dari lengan ke tungkai bisa melewati jantung, karena itu lebih berbahaya
daripada
arus
listrik
yang
mengalir
dari
tungkai
ke
tanah.
Arus yang melewati kepala bisa menyebabkan:
- kejang
- perdarahan otak
- kelumpuhan pernafasan
- perubahan psikis (misalnya gangguan ingatan jangka pendek, perubahan
kepribadian, mudah tersinggung dan gangguan tidur)
- irama jantung yang tidak beraturan.
- Kerusakan pada mata bisa menyebabkan katarak.
4. Lamanya terkena arus listrik.
Semakin lama terkena listrik maka semakin banyak jumlah jaringan yang
17
mengalami kerusakan. Seseorang yang terkena arus listrik bisa mengalami luka
bakar yang berat. Tetapi, jika seseorang tersambar petir, jarang mengalami luka
bakar yang berat (luar maupun dalam) karena kejadiannya berlangsung sangat
cepat sehingga arus listrik cenderung melewati tubuh tanpa menyebabkan
kerusakan jaringan dalam yang luas. Meskipun demikian, sambaran petir bisa
menimbulkan konslet pada jantung dan paru-paru dan melumpuhkannya serta
bisa menyebabkan kerusakan pada saraf atau otak.
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
Luka bakar dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebab dan kedalaman
kerusakan jaringan; yang perlu dicantumkan dalam dignosis, yaitu :
a.
Berdasarkan Penyebab
Luka bakar dibedakan atas beberapa jenis, antara lain :
b.
•
Luka bakar karena api
•
Luka bakar karena air panas
•
Luka bakar karena bahan kimia (yang bersifat asam atau basa kuat)
•
Luka bakar karena lisrik dan petir
•
Luka bakar karena radiasi
•
Cedera akibat suhu sangat rendah (frost bite)
Berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan :
Luka bakar derajat I :
18
•
Kerusakan terbatas pada bagian superficial epidermis
•
Kulit kering, hiperemik, memberikan efloresensi berupa eritema
•
Tidak dijumpai bula
•
Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
•
Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-10 hari
•
Contohnya adalah luka bakar akibat sengatan matahari
Luka bakar derajat II :
•
Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi
inflamasi akut disertai proses eksudasi
•
Dijumpai bula
•
Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi diatas
permukaan kulit normal
•
Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teiritasi
•
Dibedakan menjadi 2 (dua) :
a. Derajat II dangkal (superficial)
•
Kerusakan mengenai bagian superficial dermis
•
Apendises kulit seperti folikel rambut , kelenjar keringat ,
kelenjar sebasea masih utuh
19
•
Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari
b. Derajat II dalam (deep)
•
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis
•
Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat ,
kelenjar sebasea sebagian masih utuh
•
Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung apendises kulit yang
tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari
satu bulan.
Luka bakar derajat III :
•
Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih dalam
•
Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea
mengalami kerusakan
•
Tidak dijumpai bula
20
•
Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat. Kering, letaknya lebih rendah
dibandingkan kulit sekitar akibat koagulasi protein pada lapisan epidermis dan
dermis (dikenal dengan sebutan eskar)
•
Tidak dijumpai rasa nyeri, bahkan hilang sensasi karena ujung-ujung serabut
saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian
•
Penyembuhan terjadi lama kareana tidak ada proses epitelisasi spontan baik
dari dasar luka, tepi luka, maupun apendises kulit.
c. Berdasarkan perhitungan luas luka bakar
Rules of nines ini disadari atas perhitungan 1% luas permukaan tubuh adalah
seluas telapak tangan penderita (catatan : bukan tangan pemeriksa).
Kepala dan dan leher berjumlah 9% ,trunkus aterior dan trunkus posterior
masing-masing 18% ,genitalia 1%, lengan kanan dan kiri masing-masing 9% ,
tungkai atas kanan 9%, tungkai atas kiri 9%, kaki kanan 9% dan kaki kiri 9 %
dimana jumlah presentasi nya adalah 100%.
21
d. Berdasarkan kategori penderita
Berdasarkan berat/ringan luka bakar, diperoleh beberapa kategori luka bakar
menurut American Burn Association :
1. Luka bakar berat / kritis (major burn)
a. Derajat II-III >20% pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau dia atas
usia 50 tahun
b. Derajat II-III >25% pada kelompok usia selain disebutkan pada butir
pertama
c. Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki dam perineum
d. Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan
luas luka bakar
e. Luka bakar listrik tegangan tinggi
f. Disertai trauma lainnya
g. Pasien-pasien dengan risiko tinggi
2. Luka bakar sedang (moderate burn)
22
a. Luka bakar dengan luas 15-25% pada dewasa, dengan luka bakar dearajat
tiga kurang dari 10%
b. Luka bakar dengan luas 10-20% pada anak usia <10 tahun atau dewasa >40
tahun, dengan luka bakar derajat tiga kurang dari 10%
c. Luka bakar dengan derajat tiga <10% pada anak maupun dewasa yang
tidak mengenai muka, tangan, kaki dan perineum
3. Luka bakar ringan
a. Luka bakar dengan luas <15% pada dewasa
b. Luka bakar dengan luas <10% pada anak dan usia lanjut
c. Luka bakar dengan luas <2% pada segala usia ; tidak mengenai muka,
tangan, kaki dan perineum(5)
FASE-FASE LUKA BAKAR
•
Fase Akut
Pada fase ini permasalahan utama berkisar pada gangguan yang terjadi pada
saluran nafas (misalnya, cedera inhalasi), gangguan mekanisme bernafas oleh
karena adanya eskar melingkar di dada atau trauma multipel di rongga toraks; dan
gangguan sirkulasi (keseimbangan cairan-elektrolit, syok hipovolemia). Gangguan
yang terjadi menimbulkan dampak yang bersifat sistemik, menyangkut
keseimbangan
cairan-elektrolit,
metabolisme
protein-karbohidrat-lemak,
keseimbangan asam basa dan gangguan sistem lainnya
•
Fase Subakut
Masalah utama pada fase ini adalah Systemic Inflammatory Response Syndrome
dan Multi-system Organ Dysfunction Syndrome dan sepsis. Ketiganya merupakan
dampak dan atau perkembangan masalah yang tibul pada fase pertama dan
23
masalah yang bermula dari kerusakan jaringan
•
Fase Lanjutan
Fase ini berlangsung sejak penutupan luka sampai terjadinya maturasi jaringan.
Masalah yang dihadapi adalah penyulit dari luka bakar; berupa parut hipertrofik,
kontraktur dan deformitas lain yang terjadi karena kerapuhan jaringan atau
struktur tertentu akibat proses inflamasi yang hebat dan berlangsung lama; yang
menjadi karakteristik luka bakar (misal, kerapuhan tendon ekstensor pada jari-jari
tangan yang menyebabkan suatu kondisi klinis yang disebut bouttonierre
deformity)
RHABDOMYOLYSIS(7)
Rhabdomyolysis adalah sindrom yang disebabkan oleh cedera pada otot rangka
dan melibatkan kebocoran cairan intraseluler dalam jumlah besar ke dalam plasma.
Rhabdomyolysis disebabkan oleh banyak etiologi namun pada dasarnya ini merupakan
kerusakan sarcolemma dan pelepasan komponen intraseluler sel otot. Mekanisme
kerusakan dalam rhabdomyolysis mencakup kerusakan membrane sel,hipoksia sel otot,
deplesi ATP dan gangguan elektrolit pada pompa natrium-kalium.
Sarcolemma merupakan selaput tipis yang membungkus serat otot lurik, disana
terdapat banyak pompa yang mengatur gradient elektrokima seluler. Konsentrasi
natrium intraseluler biasanya diatur oleh pompa natrium-kalium adenosine
triphosphatase (Na/K-ATPase) yang terletak di sarcolemma tersebut.
Pompa Na/K-ATPase memompa natrium dari dalam sel ke luar sel. Akibatnya
bagian dalam sel lebih negative daripada bagian luar sel. Gradien ini menarik natrium
ke dalam sel sebagai pergantian dari keluarnya kalsium, melalui mekanisme protein
carrier. Selain itu, pertukaran kalsium secara aktif juga terjadi, yaitu kalsium masuk
kedalam sarkoplasmic reticulum dan mitokondria. Pompa Na/K-ATPase ini bekerja
24
menggunakan ATP (energy)
Bila ada gangguan dari fungsi pompa NA/K-ATPase ini yang bisa disebabkan
oleh kerusakan membran sel atau kurangnya energy, keseimbangan komposisi
elektrolit. Sehingga terjadi peningkatan kalsium intraseluler. Peningkatan kalsium
dalam sel ini akan mengakibatkan hiperaktivitas dari protease dan enzim proteolitik
dan memacu terbentuknya radikal bebas oksigen. Enzim-enzim tersebut dapat
mendegradasi myofilamen dan merusak membrane fosfolipid dari sel sehingga terjadi
kebocoran
cairan
intraseluler
ke
dalam
plasma.
Cairan
ini
terdiri
dari
kalium,fosfat,creatinin kinase, asam urat dan myoglobin. Cairan intrasel ini juga dapat
terakumulasi pada jaringan otot sekitarnya.
Rhabdomyolysis mungkin terjadi setelah peristiwa traumatis, termasuk yang berikut:
1. Trauma tumpul
2. Cedera listrik tegangan tinggi
3. Luka bakar
MYOGLOBINURIA(8)
25
Myogolbinuria adalah kondisi dimana terdapatnya myoglobin di dalam urin.
Myoglobinuria biasanya merupakan akibat dari rhabdomyolysis yaitu perusakan sel
otot. Semua proses yang mengganggu penyimpanan atau penggunaan energy oleh sel
otot dapat menyebabkan myoglobinuria.
Mioglobin dilepaskan dari jaringan otot oleh kerusakan sel dan perubahan dalam
permeabilitas membran sel otot rangka. Dalam kondisi normal, pompa natrium kalium
ATPase mempertahankan kandungan natrium sangat rendah intraselular. Saluran
natrium-kalsium terpisah maka berfungsi untuk memompa tambahan natrium ke dalam
sel dalam pertukaran untuk ekstrusi kalsium dari sel. Selain itu, sebagian kalsium
intraseluler biasanya diasingkan dalam organel. Kerusakan pada sel-sel otot
mengganggu dengan kedua mekanisme, yang menyebabkan peningkatan kalsium
terionisasi bebas dalam sitoplasma. Kalsium intraseluler tinggi mengaktifkan enzim
kalsium yang lebih banyak tergantung memecah membran sel, menyebabkan pelepasan
isi
intraselular
seperti
mioglobin
dan
creatine
kinase
ke
sirkulasi.
Mioglobin adalah protein heme monomer yang mengandung zat besi dalam
bentuk ferro. Hal ini mudah disaring oleh glomerulus dan cepat diekskresikan ke dalam
urin. Ketika jumlah besar mioglobin memasuki lumen tubulus ginjal, berinteraksi
dengan protein Tamm-Horsfall dan terpresipitasi, proses ini dibantu dengan keasaman
urin. Obstruksi tubulus terutama terjadi pada tingkat tubulus distal. Selain itu, spesies
oksigen reaktif yang dihasilkan oleh kerusakan baik otot dan sel-sel epitel ginjal yang
mempromosikan oksidasi oksida besi untuk oksida besi (Fe +3), sehingga
menghasilkan radikal hidroksil. Baik gugus heme dan radikal bebas hidroksil besi bisa
menyebabkan mediator kritis dan bersifat toksis tubulus langsung, yang terutama
terjadi di tubulus proksimal.
Dengan demikian, terjadi pengendapan mioglobin dalam tubulus ginjal dengan
26
obstruksi sekunder dan keracunan tubular, atau keduanya merupakan penyebab utama
untuk cedera ginjal akut selama myoglobinuria.
SYNDROM COMPARTMENT
Syndrome kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan
tekanan
interstitial
pada
kompartemen
osteofasial
yang
tertutup.
Sehingga
mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan.
Patofisiologi sindrom kompartemen melibatkan hemostasis jaringan lokal normal
yang menyebabkan peningkatan tekanan jaringan, penurunan aliran darah kapiler dan
nekrosis jaringan lokal akibat hipoksia. Ketika tekanan dalam kompartemen melebihi
tekanan darah dalam kapiler dan menyebabkan kapiler kolaps. Pertama-tama sel akan
mengalami oedem, kemudian sel akan berhenti melepaskan zat-zat kimia sehingga
menyebabkan terjadi oedem lebih lanjut dan menyebabkan tekanan meningkat. Aliran
darah yang melewati kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen
juga akan terhenti. Terjadinya hipoksia menyebabkan sel-sel akan melepaskan
substansi vasoaktif yang meningkatkan permeabilitas endotel. Dalam kapiler-kapiler
terjadi kehilangan cairan sehingga terjadi peningkatan tekanan jaringan dan
memperberat kerusakan disekitar jaringan dan jaringan otot mengalami nekrosis.
Gejala klinis yang umum ditemukan pada sindroma kompartemen meliputi :
1. Pain
: Nyeri pada pada saat peregangan pasif pada otot-otot yang
terkena.
2. Pallor : Kulit terasa dingin jika di palpasi, warna kulit biasanya pucat.
3. Parestesia
: Biasanya terasa panas dan gatal pada daerah lesi.
27
4. Paralisis
: Diawali dengan ketidakmampuan untuk menggerakkan sendi.
5. Pulselesness : Berkurang atau hilangnya denyut nadi akibat adanya gangguan
perfusi arterial.
BAB IV
KESIMPULAN
Pada sengatan listrik dapat timbul kerusakan jaringan dengan spektrum luas,
28
bermula dari kerusakan kulit superficial sampai kerusakan organ-organ hingga
kematian. Listrik dapat menyebabkan kerusakan jaringan sebagai efek langsung arus
listrik searah pada sel dan oleh kerusakan termal dari panas yang diteruskan jaringan.
Bila sengatan listrik masuk ke dalam tubuh, kerusakan terbesar terjadi pada saraf,
pembuluh darah, dan otot.
Pada pasien ini dapat ditegakkan diagnosis dari ciri luka yang ada yaitu luka
bakar derajat III pada palmar manus dextra dan luka bakar derajat II dangkal pada
antebrachii dextra. Dan luka bakar ini berdasarkan luasnya dapat digolongkan menjadi
luka bakar ringan. Dari ciri dan klasifikasi tersebut dapat dilakukan penatalaksanaan
yang tepat terhadap pasien ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mansjoer A., Suprohaita, Wardhani W. I., Kapita Selekta Kedokteran. 3th ed.
Jakarta : Media Aesculapius FKUI; 2000. P. 367-70
29
2. Shires GT, Spencer FC, Husser WC. Intisari Ilmu-Ilmu Bedah. Jakarta: EGC; 2000.
P. 123-4
3. American College of Surgeon. Advanced Trauma Life Support. USA: First
Impression; 1997
4. Hostetler MA. Burns, Electrical. January, 2004. Accessed on: October 13, 2011.
Available from: http://www.emedicine.com/burn/topic343.htm
5. Medica. Luka bakar. Available at :
http://medicastore.com/penyakit/987/Luka_bakar.html. Accessed on : October 13,
2011.
6. Corwin EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. 3th ed. (Diterjemahkan oleh : Subekti
NB). EGC: Jakarta. P.129-32;724
7. Wedro Benjamin. Rhabdomyolysis. Available at :
http://www.emedicinehealth.com/script/main/art.asp?
articlekey=105056&pf=3&page=1. Accessed on : October 13,
2011. Updated on : 9 Februari 2011.
8. Devarajan Prasad. Myoglobinuria. Available at :
http://emedicine.medscape.com/article/982711-overview#showall.
Accessed on: 13 Aoril 2011. Updated on : 4 januari 2010
30
Download