Beban pajak yang mematikan - Pusat Peraturan Pajak Online

advertisement
Pusat Peraturan Pajak Online
Beban pajak yang mematikan
Contributed by Administrator
Wednesday, 25 February 2009
Bisnis Indonesia,
25 Februari 2009
Transaksi derivatif adalah zero sum game
Pada
9 Februari 2009, Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor
17/2009 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Transaksi
Derivatif Berupa Kontrak Berjangka Yang Diperdagangkan di Bursa.
Isi
Pokok PP tersebut adalah: pajak penghasilan yang dipungut, bersifat
final. Dasar pengenaan adalah margin awal yang ditarik oleh Lembaga
Kliring dengan tarif 2,5%.
Lembaga Kliring ditetapkan sebagai instansi yang
melakukan wajib pungut, wajib setor dan wajib lapor. Juklak pemungutan,
penyetoran dan pelaporan ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.
PP berlaku surut mulai 1 Januari 2009.
Menurut
saya, akan ada dua implikasi langsung dari PP tersebut. Pertama,
transaksi derivatif di bursa akan mati. Kedua, transaksi pasar gelap
akan semakin marak. Pokok persoalan terletak pada tarif yang terlalu
tinggi, sehingga transaksi derivatif di bursa, tidak lagi layak secara
ekonomis.
Perdagangan berjangka yang
terorganisasikan di bursa, memberikan tiga manfaat. Pertama,
menyediakan referensi harga terhadap subjek komoditas (underlying
asset) yang ditransaksikan.
Perdagangan
berjangka merupakan mekanisme yang memberikan sinyal terhadap
kecenderungan harga yang akan datang. Sinyal harga tersebut, merupakan
impuls yang menggerakkan keputusan para pelaku ekonomi.
Kedua,
menyediakan sarana lindung nilai yang paling efisien terhadap risiko
yang berasal dari gejolak harga. Ketiga, sarana investasi/spekulasi
yang lebih mudah dan dengan biaya transaksi yang lebih murah.
Pada
sisi lain, perdagangan berjangka membutuhkan spekulan. Kita memahami
bahwa seorang produsen, misalnya, menginginkan harga produk selalu
tinggi dan stabil. Di pihak lain, seorang konsumen selalu menginginkan
harga produk konsumsinya rendah dan stabil.
http://www.rumahpajak.com
Powered by Joomla!
Generated: 1 November, 2017, 17:30
Pusat Peraturan Pajak Online
Berhadapan
dengan fakta bahwa harga selalu berfluktuasi, dibutuhkan perdagangan
berjangka sebagai sarana 'mengasuransikan' risiko yang bersumber dari
fluktuasi harga. Dalam konteks itu, maka para spekulan merupakan
perusahaan asuransi yang bersedia menerima pelimpahan risiko dari para
hedgers.
Uraian yang disederhanakan di atas,
ingin memberikan gambaran secara konseptual bahwa para hedgers tidak
mencari keuntungan dari transaksi derivatif. Mereka bersedia membayar
premi agar terlindung dari risiko fluktuasi harga. Pada ujung yang
lain, para spekulan adalah pihak yang bersedia menerima limpahan risiko
dengan latar belakang harapan keuntungan.
Dari kacamata spekulan, dengan demikian, transaksi derivatif adalah zero sum game. For every winner there is a loser.
Kalau
prinsip keadilan dalam perpajakan masih adalah mengenakan pajak atas
penghasilan, tetapi pada saat yang sama biaya untuk memperoleh
penghasilan dapat dikurangkan dari penghasilan kena pajak, maka dasar
pengenaan pajak derivatif adalah nihil (zero).
Dari
segi teknis perpajakan, saya mengerti bahwa pelaporan hasil transaksi
derivatif, seperti juga pada transaksi efek, dalam SPT, akan sangat
melelahkan, karena perputaran transaksi yang sedemikian cepat. Karena
itu, pengenaan pajak penghasilan atas transaksi saham di bursa efek
sebesar 0,1% dari nilai jual, dan bersifat final, dapat dipahami.
Pengenaan
pajak penghasilan sebesar 2,5% dari margin awal untuk transaksi
derivatif di bursa, sangat kontraproduktif karena beberapa alasan:
Dasar pengenaan adalah margin awal. Margin awal berfungsi sebagai performance bonds sekaligus initial investment.
Menjadikan
margin awal sebagai dasar pengenaan pajak, seperti membebankan pajak
atas deposito dengan menggunakan pokok simpanan - dan bukan bunga sebagai dasar pengenaan pajak. Mengambil analogi pajak penghasilan atas
transaksi efek, dasar pengenaan yang "salah kaprah" itu dapat diterima
dengan kompensasi tarif yang rendah.
Para
spekulan transaksi berjangka berorientasi keuntungan jangka pendek yang
besarnya diukur dengan tick transaksi. Nilai satu tick itu paling
banter 1% dari margin awal.
Mengenakan tarif 2,5% atas potensi keuntungan sebesar 1%, dilihat dari kalkulasi ekonomis, tidak masuk akal.
Meneruskan
analogi asuransi, kita bisa membayangkan apa yang terjadi bila sebuah
perusahaan asuransi yang mengambil premi 1% dari nilai pertanggungan,
harus membayar pajak 2,5% dari nilai pertanggungan.
http://www.rumahpajak.com
Powered by Joomla!
Generated: 1 November, 2017, 17:30
Pusat Peraturan Pajak Online
PP
tersebut memang tidak eksplisit memasukkan Kontrak Opsi Saham (KOS)
sebagai derivatif. Kalau KOS juga masuk dalam lingkup PP, maka nasibnya
akan sama. Seorang call writer yang konservatif akan menyediakan
sahamnya secara penuh (covered call) sebagai kolateral / margin. Dus
harus membayar 2,5% dari nilai saham yang menjadi kolateral!
Ilustrasi
di atas, rasanya memadai untuk menyimpulkan bahwa beban pajak yang
ditetapkan dalam PP 17 Tahun 2009, merupakan dosis racun yang lebih
dari cukup untuk membunuh transaksi derivatif di bursa.
Padahal
Penjelasan Umum PP tersebut menyatakan bahwa peraturan tersebut
bertujuan untuk mendorong perkembangan bursa yang memperdagangkan
instrumen derivatif.
Sepanjang menyangkut
transaksi derivatif yang terjadi dan/atau diregistrasikan di Bursa
Berjangka Jakarta (BBJ), ketentuan PP 17 Tahun 2009, memunculkan
beberapa loopholes. Berikut di antaranya:
Transaksi
derivatif yang ramai di BBJ adalah transaksi melalui Sistem Perdagangan
Alternatif (SPA) yang terjadi di luar Bursa, yang kemudian
diregistrasikan di BBJ. Sementara transaksi bursa untuk komoditas
praktis belum berkembang. Karena itu, rumusan PP tidak menyentuh
aktivitas jenis ini.
Lembaga Kliring memungut
margin awal setelah ada posisi terbuka, pada akhir hari perdagangan.
Dengan demikian, transaksi intraday - beli pagi jual siang - tidak
mencatatkan posisi terbuka dan tidak wajib menyetor margin awal.
Akibat
dari fakta 1 dan 2 di atas, pajak yang disetor ke Kas Negara adalah
2,5% kali nol. Sama dengan nol. Pengaturan yang lebih optimal, bagi
pemasukan negara maupun perkembangan bursa membutuhkan revisi PP,
minimal menyangkut hal sebagai berikut:
Dasar
pengenaan seyogianya transaksi derivatif di bursa dan / atau transaksi
derivatif di over the counter yang didaftarkan di bursa. Tarif pajak
0,1% dari margin awal, berlaku untuk setiap lot yang
ditransaksikan/didaftarkan di bursa.
Dengan
formula di atas, jumlah yang masuk ke Kas Negara akan jauh lebih besar,
dan para pelaku pasar tentu bersedia dan sanggup memikulnya.
Sebagai
catatan akhir, kalau memang PP 17 Tahun 2009 benar ditujukan untuk
mendorong perkembangan bursa dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak,
seyogianya beban pajak yang lebih berat harus dipikul oleh transaksi
derivatif yang tidak transparan.
http://www.rumahpajak.com
Powered by Joomla!
Generated: 1 November, 2017, 17:30
Pusat Peraturan Pajak Online
Off balance
sheet, tidak dilakukan di bursa, tidak didaftarkan di bursa, completely
unregulated business, no man's land, untouchable, penuh hanky panky.
Untuk
yang saya sebut terakhir itu, saya kira, berlaku tarif umum pajak
penghasilan. Tapi siapa yang mampu menangkapnya? Yang terjadi kemudian
adalah: anak yang patuh dipaksa kelaparan, anak yang nakal dibiarkan
mencuri makan!
Hasan Zein Mahmud
http://www.rumahpajak.com
Powered by Joomla!
Generated: 1 November, 2017, 17:30
Download