Pangrango-17-20-des-2008 - PFI 3 P

advertisement
Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan P4MI TA 2007 dan 2008
di Temanggung, Blora,
Lombok Timur, Ende, dan Donggala
Oleh:
Tim Monev P4MI 2008
PENDAHULUAN
Maksud Kegiatan:
Untuk mengetahui kesesuaian antara rencana dan realisasi kegiatan serta
kinerja P4MI, semua kegiatan harus dimonev.
Mekanisme:
1) melakukan monev suatu kegiatan berdasarkan laporan berkala,
2) melakukan monev melalui kunjungan lapang ke lokasi kegiatan.
Tujuan:
Mengevaluasi kegiatan P4MI yang terdiri atas komponen 1, 2, dan 3 dalam
tahun implementasi 2007 di lima kabupaten P4MI.
Manfaat:
Bahan bagi PJ. P4MI untuk mengambil kebijakan guna perbaikan kegiatan
yang sedang berjalan dan/atau perencanaan ke depan.
Dengan Monev, kegiatan P4MI dapat dievaluasi hasilnya, sehingga diperoleh
informasi tentang keberhasilan atau kegagalan kegiatan tersebut.
PROSEDUR MONEV
Waktu & Lokasi: Juli - November 2007 di 5 kab. P4MI
Sampel: Sekurang-kurangnya 15 desa per kab.
Kriteria pemilihan desa sampel:
a) desa P4MI tahun implementasi 2007,
b) desa calon penerima program PUAP,
c) desa sampel: 30% desa dengan swadaya rendah (≤20%)
dan 70% dengan dengan swadaya tinggi (>20%),
d) semua jenis investasi desa terwakili.
Responden:
Komponen 1: KT, FD, dan KID
Komponen 2: KT, FD, KID, dan Pengelola UPIPK
Komponen 3: KT, FD, dan KID
Jumlah desa: Temanggung : 16 desa
Blora
: 15 desa
Lombok Timur : 18 desa
Ende
: 16 desa
Donggala
: 17 desa
Bahan: kuisioner berisi indikator keberhasilan komponen 1, 2, dan 3.
Indikator keberhasilan untuk 3 komponen P4MI
Komponen
1. Pemberdayaan
Petani
Indikator
a. Termobilisasinya KT dalam prencanaan
pembangunan desa
b. Berkembangnya kelembagaan desa
c. Terbangunnya investasi desa secara partisipatif
2. Informasi
3. Inovasi
Teknologi
Teraksesnya informasi pasar dan teknologi pertanian
bagi petani dalam UPIPK
Teradopsinya inovasi teknologi pertanian oleh petani
HASIL EVALUASI KOMPONEN PEMBERDAYAAN PETANI
1. Mobilisasi KT dan perencanaan pembangunan desa

Secara umum, semua kegiatan mobilisasi KT sudah berjalan
sesuai dokumen proyek.

Kegiatan yang telah dilakukan:
• Pembentukan/revitalisasi KT, baik didampingi oleh SLK dan FD,
maupun oleh tokoh masyarakat, bahkan atas inisiatif petani
sendiri,
• Pembinaan KT oleh PPL, FD, atau tokoh masyarakat, terutama
Kepala Desa,
• Pelatihan KT oleh BPTP dan FD atau KID dengan materi
pertanian/agribisnis dan perencanaan investasi desa, serta
• Pengambilan keputusan oleh petani sendiri.
2. Pengembangan Kelembagaan

Secara umum, semua kegiatan Pengembangan Kelembagaan
sudah berjalan sesuai dokumen proyek.

Kegiatan yang telah dilakukan:
• Pemilihan FD dan KID oleh masyarakat didampingi SLK,
• Pelatihan FD dan KID mengenai rencana investasi desa oleh
LSM Lokal,
• Penyusunan rencana investasi desa oleh KT,
• Pengkajian rencana investasi desa oleh KID dan FD,
• Penyetujuan rencana investasi desa oleh FAD,
• Pengelolaan investasi desa oleh KID.
Realisasi pembangunan investasi desa di Temanggung
Desa
1. Balesari
Jenis ID
I, D, P
2. Bengkal
Anggaran (Rp 000)
P4MI
240.000
Swadaya
Total
71.744 (23,0%)
311.744
240.000
3. Jragan
I, D, P
240.000
58.110 (19,5%)
298.110
4. Kebonagung
I, D, P
240.000
48.504 (16,8%)
288.504
5. Kalibanger
I, D, P
240.000
67.692 (22,0%)
307.692
6. Pitrosari
J, I, D, P
240.000
101.444 (29,7%)
341.444
7. Mandisari
240.000
8. Dlimoyo
J, I, D, P
240.000
100.376 (29,5%)
340.376
9. Tlogowungu
J, D, P
240.000
76.195 (24,1%)
316.195
10. Tlahap
J, D, P
240.000
206.715 (46,3%)
446.715
11. Kutoanyar
J, I, D, P
240.000
49.884 (17,2%)
289.884
12. Gesing
J, D, P
240.000
72.288 (23,1%)
312.288
13. Pingit
J, D, P
240.000
93.950 (28,1%)
333.950
14. Ngimbrang
J, I, D, P
240.000
81.304 (25,3%)
321.304
15. Muneng
J, I, D, P
240.000
119.939 (33,3%)
359.939
16. Mudal
J, I, D, P
240.000
113.214 (32,1%)
353.214
J= jalan, I= irigasi, D= demplot; P= pelatihan
Realisasi pembangunan investasi desa di Blora
Desa
Jenis ID
Anggaran (Rp 000)
P4MI
Swadaya
Total
1. Ngadipurwo
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
2. Sambong Rejo
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
3. Wantilgung
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
4. Plosorejo Banjarejo
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
5. Kebonrejo
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
6. Ngapus
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
7. Padaan
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
8. Gadu
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
9. Biting
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
10. Doplang
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
11. Plosorejo R.blatung
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
12. Wulung
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
13. Sumberpitu
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
14. Klagen
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
15. Bajo
I, D, P
231.100
51.325 (22,2%)
282.425
J= jalan, I= irigasi, D= demplot; P= pelatihan
3. Investasi Desa
Realisasi pembangunan investasi desa di Lombok Timur
Desa
Jenis ID
Anggaran (Rp 000)
P4MI
Swadaya
Total
1. Sakra
J, I, D, P
230.000
313.003 (58%)
543.003
2. Bungtiang
J, I, D, P
230.000
290.134 (56%)
520.134
3. Jantuk
I, D, P
230.000
172.957 (43%)
402.957
4. Ijobalit
I, D, P
230.000
160.682 (41%)
390.682
5. Paok Motong
I, D, P
230.000
122.385 (35%)
352.885
6. Kilang
J, I, D, P
230.000
96.300 (30%)
326.300
7. Perian
J, I, D, P
230.000
142.280 (38%)
372.280
8. Terara
I, D, P
230.000
195.343 (46%)
425.343
9. Jenggik
J, I, D, P
230.000
184.657 (45%)
414.657
10. Semaya
J, I, D, P
230.000
53.850 (19%)
283.550
11. Aikmel
J, I, D, P
230.000
535.173 (70%)
765.173
12. Kalijaga
J, I, D, P
230.000
313.510 (58%)
543.510
13. Kembang Kerang
J, I, D, P
230.000
316.851 (58%)
546.851
14. Rempung
J, I, D, P
230.000
284.251 (55%)
514.251
15. Mamben Daya
I, D, P
230.000
138.100 (38%)
368.100
16. Tembeng Putik
I, D, P
230.000
140.960 (38%)
370.960
17. Labuhan Lombok
J, D, P, K
230.000
75.946 (25%)
306.946
18. Sembalun Bumbung
I, D, P
230.000
74.161 (24%)
304.161
J= jalan, I= irigasi, D= demplot; P= pelatihan; K= kios & pasar
Realisasi pembangunan investasi desa di Ende
Desa
Jenis
investasi
1. Ndetundora I
J, D, P, In
2. Ndetundora II
J, P, In
3. Ndetundora III
J, P, In
4. Tomberabu II
J, P, In
5. Ndungga
J, P, In
6. Wolomasi
D, P, K, In
7. Aewora
J, D, P, In
8. Randotonda
J, P, In
9. Tanali
I, D, P, In
10. Nanganesa
J, P, In
11. Tinabani
J, D, P, In
12. Ndito
J, P, In
13. Uzuramba
J, P, In
14. Rukuramba
J, P, In
15. Lisedetu
J, P, In
16. Penggajawa
J, P, In
Anggaran (Rp 000)
P4MI
Swadaya
J= jalan, I= irigasi, D= demplot; P= pelatihan; Konservasi, In= Informasi
Total
Realisasi pembangunan investasi desa di Donggala
Desa
Jenis
investasi
Anggaran (Rp 000)
P4MI
Swadaya
Total
1. Sunju
J, D
229.989
198.800 (46,4%)
428.789
2. Balane
I, D
230.000
71.335 (23.7%)
301.335
3. Sambo
J, D, P
230.000
103.788 (31,1%)
333.788
4. Jonooge
J, D
230.000
256.400 (52,7%)
486.400
5. Bahagia
I, D, P
230.000
116.984 (33,7%)
346.984
6. Kapiroe
I, D
230.000
70.550 (23,5%)
300.550
7. Sejahtera
I, D
230.000
61.897 (21,2%)
291.897
8. Tompe
J, D, P
230.000
92.271 (28,6%)
322.270
9. Toaya
I, D
230.000
78.895 (25,5%)
308.895
10. Marana
J, D, P
230.000
142.190 (38,2%)
372.190
11. Lero Tatari
J, D
230.000
153.536 (40,0%)
383.536
12. Sikara
J, D, P
230.000
118.417 (34,0%)
348.417
13. Malino
J, D
230.000
127.154 (35,6%)
357.154
14. Tanahmea
J, D
230.000
86.597 (27,4%)
316.597
15. Surumana
J, D
230.000
69.427 (23,2%)
299.427
16. Salumpaku
J, D
230.000
62.975 (21,5%)
292.975
17. Watatu
J, D
230.000
95.716 (29,4%)
325.712
J= jalan, I= irigasi, D= demplot; P= pelatihan
Hasil evaluasi perencanaan kegiatan ID
No
Indikator
1
2
3
% Responden menjawab benar
Tmg
Blora
Lotim
Ende
Dongg
Ratarata
Lembaga yang
menentukan jenis
investasi desa: KT
100
93
78
100
100
94
Cara menentukan
jenis investasi
desa: Diputuskan
dalam musdes
100
100
94
100
94
98
Partisipasi petani:
Mengidentifikasi &
mengusulkan jenis
ID
100
100
100
100
100
100
Hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan Investasi Desa
% Responden menjawab benar
No
Indikator
1
2
3
4
5
Tmg
Blora
Lotim
Ende
Dong
Ratarata
Pihak yang diajak
kerjasama oleh KT dalam
pembangunan fisik ID: Tim
Teknis
44
80
17
75
100
63
Pihak yang diajak
kerjasama oleh KT dalam
melaksanakan inovasi
teknologi: BPTP/PPL
44
100
83
100
47
75
Partisipasi petani:
Mengumpulkan
sumbangan, mengawasi
pembangunan
100
100
100
100
100
100
Cara menyampaikan
laporan pengelolaan dana:
ditempel ke papan
informasi
25
7
33
75
29
34
Hasil pelaksanaan ID: ada
penambahan volume/
kapasitas
81
40
56
38
88
61
Hasil evaluasi pemanfaatan kegiatan ID
% Responden menjawab benar
No
1
2
Indikator
Tmg
Blora
Lotim
Ende
Dong
Ratarata
Penyusunan peraturan
pemanfaatan dan
pemeliharaan serta
organisai pengelola ID
100
100
100
100
100
100
Partisipasi petani:
memelihara &
memperbaiki kerusakan
100
100
100
100
100
100
Desa yang berhasil meningkatkan volume/kapasitas ID
No
Tmg
Blora
Lotim
Ende
Dongg
1 Balesari
Sambong Rejo
Bungtiang
Ndetundora I
Sunju
2 Bengkal
Plosorejo Banjarejo
Jantuk
Ndetundora III
Balane
3 Jragan
Ngapus
Ijobalit
Tomberabu II
Sambo
4 Kebonagung
Padaan
Paok Motong
Ndungga
Bahagia
6 Pitrosari
Doplang
Kilang
Aewora
Sejahtera
7 Mandisari
Wulung
Terara
Ndito
Marana
9 Tlogowungu
Jenggik
Lero Tatari
10 Tlahap
Semaya
Sikara
11 Kutoanyar
Kembang kerang
Malino
12 Gesing
Mamben Daya
Tanahmea
14 Ngimbrang
Tembeng Putik
Watatu
15 Muneng
16 Mudal
 Secara umum, semua kegiatan ID sudah berjalan sesuai
dokumen proyek.
 Kegiatan yang telah dilakukan:
•
•
Penentuan jenis ID oleh KT secara musyawarah,
Pembangunan ID dengan melibatkan:
Tim teknis kabupaten & warga masyarakat yang paham
dlm membangun sarana fisik,
o BPTP dan PPL/Dinas Pertanian dlm membangun sarana
non-fisik (demplot dan pelatihan),
o petani dan wanita tani pada tahap persiapan,
perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan
pemeliharaan,
• Pelaporan pengelolaan dana oleh KID,
• Mendorong warga masyarakat desa dalam meningkatkan
volume dan kualitas ID yang dibangun.
o
Manfaat pembangunan saluran irigasi sederhana
Kasus desa Kutoanyar, Kedu, Temanggung
Pengamatan
Sebelum P4MI
Setelah P4MI
Panjang saluran
Tidak tahu
1.090 m
Kondisi
Parit, sebelah
pematang
Pasangan beton
Lahan yang diairi
Tidak tahu
70 ha
Jumlah pemanfaat 1 desa (Kutoanyar)
1 desa (Kutoanyar)
Jenis tanaman
Padi, tembakau, cabe
Padi, tembakau, cabe
Pola tanam
Padi-palawija/palawija
Padi-padi-padi/palawija
Hasil padi
6-7 (t/ha)
6-7 (t/ha)
Sewa lahan
Rp 10 juta/ha/th
12,5-15 juta/ha/th
Peningkatan
volume
Saluran 40 m dari rencana 1.050 m karena ada
selisih harga material yang lebih murah
Manfaat pembangunan jalan usahatani
Kasus desa Semaya, Sikur, Lombok Timur
Pengamatan
Sebelum P4MI
Setelah P4MI
Panjang X lebar
Tidak tahu
1300 X 5 m
Kondisi/kontruksi
Jalan setapak,
tanah
Sirtu, menyisir bukit batu
Jlh desa pemanfaat
1 desa (Semaya)
2 desa (Semaya & Sakra)
Pemanfaat
Petani
Petani, pedagang, pelajar
Jenis kendaraan
Tidak ada
Roda 4
Biaya angkut (Rp/ku)
10 ribu
2 ribu
Harga tanah (Rp/ha)
100 juta
500 juta
Peningkatan volume
- Jalan 500 X 5 m dari rencana 800 X 5 m
dengan cara menyisir bukit batu;
- Jalan 300 X 4 m atas inisiatif 6 petani
Manfaat Demplot
Kasus desa Ijobalit, Labuhan Haji, Lombok Timur
Pengamatan
Keterangan
Fasilitator
BPTP NTB
Kegiatan
Budidaya ternak sapi
Peranan KT
Buat kandang, pelihara ternak, terima bagi hasil,
buat pupuk UMB (urea mineral block), kompos,
biourine
Manfaat
- Kenaikan harga dari Rp 3,7 menjadi 4,7
juta/ekor atau penambahan bobot 0,5 kg/hari
setara dengan Rp 20 ribu/kg (selama 3 bulan).
- Diperolehnya produk UMB, kompos dan
biourine untuk kebutuhan kelompok
Jumlah pengadopsi
Belum ada (kegiatan baru 6 bulan berjalan)
Masalah
Pencurian, modal
Cara atasi masalah
Buat kandang dekat rumah atau kandang
komunal
Manfaat pelatihan petani
Kasus desa Tomberabu II, Ende, Ende
Pengamatan
Keterangan
Fasilitator
BKP3 Ende
Macam pelatihan
Antara lain: budidaya kakao dan pupuk bokashi
Hasil penerapan
- Cara pengendalian hama/penyakit secara kimiawi (pestisida),
- Cara pemangkasan dengan gunting (semula dengan parang
atau tidak dipangkas sama sekali),
- Cara sanitasi buah kakao yang terserang hama/penyakit
- Cara fermentasi biji kakao
- Cara pembuatan pupuk bokashi
Peserta pelatihan
105 orang petani
Jumlah pengadopsi
250 orang petani
Masalah
- EM4 untuk pupuk bokashi harus didatangkan dari luar Ende,
- Teknik sambung samping tidak diajarkan, juga cara
pengendalian hama/penyakit secara fisik (sarungisasi),
- Harga biji kakao sama, dengan/atau tidak difermentasi,
- Hama/penyakit sulit dikendalikan secara kiwiawi saja.
Cara atasi masalah
Perlu pelatihan lanjutan disertai pendampingan
Manfaat pelatihan wanita tani
Kasus desa Doplang, Jati, Blora
Pengamatan
Keterangan
Fasilitator
BLK Malang
Macam pelatihan
Antara lain: criping pisang, kerupuk waluh,
marning, kerupuk limbah tahu
Hasil penerapan
- Hasil olahan dijual di pasar Doplang.
- 4 KID: Tobo, Doplang, Singget, dan Gabusan
(Kec. Jati) membuat pasar bersama utk atasi
persaingan pasar dan hasil olahannya
ditampung di satu toko utk dijual daerah lain.
- Sebagian dana pelatihan dikelola untuk
mendirikan LKM (koperasi simpan pinjam).
Peserta pelatihan
20 orang petani
Jumlah pengadopsi
20 orang petani
Masalah
Ijin Depkes belum keluar.
Cara atasi masalah
Minta bantuan PIU untuk mengurus ijin Depkes.
 Secara umum, masyarakat merasa puas terhadap hasil
ID yang mereka bangun secara partisipatif karena dapat
mengatasi permasalahan petani.
 Di beberapa desa telah disepakati:
o
o
o
Masyarakat di bawah koordinasi KID bertanggung-jawab
terhadap operasional dan pemeliharaan ID yang
dibangun.
Dibentuk Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) ID
yang mengkoordinir operasional dan pemeliharaan ID
yang dibangun. KPP dikukuhkan dg SK Kades.
Disusun rencana Perdes ttg hak dan kewajiban
operasional dan pemeliharaan ID yg disertai sangsi bagi
pelanggar peraturan.
HASIL EVALUASI KOMPONEN INFORMASI
 Petani pada umumnya belum mengenal komputer sehingga
belum mengetahui manfaat SIP & Website Pertanian
Nasional serta UPIPK.
 Sebagian petani yang telah mengenal internet dan telah
dilatih oleh Pusdatin dan Pustaka belum memanfaatkannya
karena keterbatasan sarana (komputer).
 Petani umumnya menyatakan tidak punya waktu dan biaya
transportasi apabila harus UPIPK atau warnet terdekat.
1. Sistem Informasi Pasar
 Cara petani memperoleh informasi harga di
tingkat petani & pasar:
o
Dari sesama petani
61%
o
Dari tengkulak dan PPL
39%
 Manfaat informasi pasar bagi petani:
o
Untuk mengetahui kelayakan harga
produk pertanian
61%
o
Untuk menawarkan produk pertanian
39%
 Pengenalan terhadap SIP dan website
pertanian:
o
Sudah mengetahui adanya SIP
61%
o
Sudah mengetahui adanya website
pertanian
22%
2. Website Pertanian




Kegunaan website pertanian bagi pengguna:
o
Untuk memperoleh informasi pasar
11%
o
Untuk memperoleh teknologi pertanian
28%
Kemudahan dalam mengakses dan kesesuaian dengan
kebutuhan:
o
Website pertanian mudah diakses
11%
o
Website pertanian sesuai kebutuhan
12%
Cara memperoleh informasi teknologi pertanian:
o
Dari sesama petani
50%
o
Dari PPL, TV, dan radio
44%
Pilihan cara penyampaian informasi teknologi
pertanian:
o
Komunikasi tatap muka (pelatihan, demplot, gelar
teknologi)
50%
o
Media cetak
50%
o
Media elektronik
17%
3. UPIPK


Manfaat UPIPK:
o
Untuk memperoleh informasi pasar
0%
o
Untuk memperoleh teknologi pertanian
0%
o
Tidak tahu
94%
Kemudahan dalam mengakses dan kesesuaian
dengan kebutuhan:
o
UPIPK mudah diakses
0%
o
UPIPK sesuai kebutuhan
0%
o
Tidak tahu
94%
4. Kondisi UPIPK


Masalah dalam mengaplikasikan SIP:
o
Pemutakhiran data SIP secara reguler
Tidak pernah
o
Koneksi SIP Kabupaten dan SIP Pusat
Sulit
o
Cakupan harga di tingkat produksi
Tidak update
Masalah dalam pelayanan informasi:
o
Penyediaan informasi pasar
Tidak ada
o
Penyediaan informasi teknologi
Ada
o
Penyediaan informasi produk usahatani
Tidak ada
o
Fasilitasi akses informasi online (internet)
Mudah
o
Fasilitasi akses informasi melalui pangkalan
data dan CD/VCD (offline)
Mudah
o
Fasilitasi promosi produk & potensi
masyarakat
Ada
4. Kondisi UPIPK


Masalah dalam pemutakhiran data
informasi:
o
Penyediaan informasi pasar
Petugas tidak tetap
o
Penyediaan informasi teknologi
Petugas tidak tetap
o
Penyediaan informasi produk usahatani
Petugas tidak tetap
Masalah dalam menjamin keberlanjutan
UPIPK
o
Dukungan Pemda terhadap
operasionalisasi UPIPK
Kurang
o
Kelengkapan fasilitas UPIPK
Cukup
o
Pendampingan operasionalisasi bagi
pengelola UPIPK
Cukup
o
Kapasitas pengelola UPIPK
Kurang
HASIL EVALUASI KOMPONEN INOVASI TEKNOLOGI
Judul litkaji
Hal yang dievaluasi
A
B
C
D
E
F
G
1. Keterlibatan KT dlm pelaksanaan litkaji
(1: terlibat, 2: tidak terlibat, 3: tidak tahu)
1
1
1
1
1
1
1
2. Kesesuaian teknologi dg kondisi sosial-ekonomi
petani (1: sesuai, 2: tidak sesuai, 3: tidak tahu)
1
1
1
1
1
1
1
3. Kesesuaian teknologi dg kebutuhan petani
(1: sesuai, 2: tidak sesuai, 3: tidak tahu)
1
1
1
1
1
3
1
4. Kemampuan teknologi meningkatkan pendapatan (1: mampu, 2: tidak mampu, 3: tidak tahu)
3
1
1
1
1
3
1
5. Penerapan teknologi (1: sudah, 2: belum,
3: tidak tahu)
2
1
1
2
1
2
1
6. Fasilitasi pendampingan dlm menerapkan
teknologi (1: ada, 2: tidak ada, 3: tidak tahu)
2
3
2
2
1
2
3
7. Fasilitasi lembaga keuangan mikro (permodalan)
(1: ada, 2: tidak ada, 3: tidak tahu)
2
1
2
2
2
2
2
8. Fasilitasi pemasaran hasil
(1: ada, 2: tidak ada, 3: tidak tahu)
2
1
1
2
1
2
1
9. Kemampuan petani menganalisis usahatani
(1: mampu, 2: tidak mampu, 3: tidak tahu)
3
1
1
1
1
3
1
JUDUL LITKAJI & DISEMINASI
A. Pengembangan teknologi pengendalian hama/penyakit terpadu dan irigasi
tetes pada budidaya kentang di lahan marjinal dataran medium di
Temanggung.
B. Eskalasi sistem permodalan anggota kelembagaan kelompok agribisnis
ternak-sayuran (SPAKKATS) di Temanggung.
C. Pengembangan agribisnis tanaman temulawak sebagai bahan baku industri
minuman nasional di lahan marjinal Kab. Blora.
D. Model pengembangan benih padi di wilayah Blora.
E. Alih teknologi intensifikasi sistem produksi itik petelur di Lotim.
F. Pemanfaatan limbah organik in situ dan mikroba pada budidaya jahe merah di
bawah tegakan kelapa di Lotim.
G. Pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan sebagai pupuk organik guna
mengatasi pencemaran lingkungan di lahan marjinal Donggala
PERMASALAHAN & TINDAK LANJUT
1. Di beberapa desa, dana swadaya masyarakat untuk pembangunan ID
<20%. Contoh, di desa Kebon Agung, Temanggung hanya 16,8%. Hal ini
tidak sesuai dengan dokumen proyek yang mempersyaratkan ≥20%.
2. Di Blora, dana swadaya masyarakat yang terkumpul, sama besar untuk
seluruh desa, yaitu sebesar Rp 51.325.000 atau 22,2% per desa. Hal ini
perlu dikonfirmasikan.
3. Jumlah SLK yang direkrut tidak sebanding dengan jumlah desa yang
difasilitasi untuk kegiatan pemberdayaan petani. Contoh, untuk 109 desa
di Donggala hanya difasilitasi oleh 14 SLK. Hal ini menyebabkan kegiatan
ID baru dapat dilaksanakan pada Sept. 2007. Akibatnya, kegiatan ID
hingga Des. 2007 belum selesai dan harus dilanjutkan pada TA 2008,
khususnya kegiatan ID non-fisik.
4. Ada penambahan volume sumur gali di beberapa desa di Blora.
Contoh, di desa Doplang, direncanakan 68 unit dengan 8 duecker/unit,
terealisir 98 unit dengan 5 duecker/unit. Hal ini disebabkan oleh
kedalaman air yang lebih dangkal dari yang diperkirakan. Penambahan
unit sumur gali ini menguntungkan, tetapi mungkin menjadi masalah
dalam mertanggung-jawabkan pengelolaan keuangan.
•
Di desa Tompe, Donggala ada pengurangan volume jalan usahatani;
direncanakan 1.000 m, terealisir 750 m. Penyebabnya adalah kondisi
tanah yang bersifat gambut. Menurut FD setempat, hal ini merupakan
kesalahan Bantek dalam penyusunan proposal.
6. Di Donggala, kegiatan Bantek dibebankan ke dana ID yang
diperkirakan tidak diperkenankan menurut dokumen proyek.
7. Pengelolaan dana ID oleh KID belum sepenuhnya dipertanggungjawabkan secara terbuka. Contoh, di Blora hanya 7% desa yang
mempertanggung-jawabkan melalui papan informasi. Alasannya, untuk
menghindari keributan yang akan mengganggu pembangunan ID.
8. Keberlanjutan KID dan FD sebagai motivator, inovator, dan fasilitator
desa dalam membantu meningkatkan pendapatan petani terkendala oleh
tersedianya biaya operasional. Untuk itu, PIU Donggala berinisiatif
membangun LKM di beberapa desa yang berpotensi.
9. Petani umumnya belum mengenal internet sehingga mereka belum
mengetahui manfaat SIP & Website Pertanian Nasional serta UPIPK.
Informasi pasar diperoleh dari tengkulak dan sesama petani, sedangkan
informasi teknologi pertanian dari sesama petani, PPL, dan BPTP.
10. Fasilitas koneksi internet dan layanan informasi elektronis di UPIPK
belum tersedia bagi petani. Petugas pengelola UPIPK sering bergantiganti. Dana pendampingan P4MI dalam APBD tidak ada rincian dana
untuk operasional UPIPK. Pengguna UPIPK relatif sedikit karena
masyarakat belum mengetahui keberadaan UPIPK. Masalah ini dapat
diatasi bila ada sinergi dan awareness dari berbagai instansi terkait,
terutama dalam penyediaan fasilitas dan promosi.
KESIMPULAN
1. Secara umum, kegiatan pemberdayaan petani sudah berjalan sesuai
dokumen. Jenis ID: jalan usahatani, saluran irigasi, demplot, dan pelatihan
petani/wanita tani. Besarnya dana swadaya masyarakat rata-rata >20%.
2. Beberapa desa telah melakukan pengembangan volume/kualitas ID,
didorong oleh semangat masyarakat yang tinggi setelah merasakan
manfaatnya.
3. Masyarakat puas terhadap hasil ID yang mereka bangun secara partisipatif
untuk mengatasi masalah petani.
4. Operasional & pemeliharaan ID menjadi tanggung jawab masyarakat di
bawah koordinasi KID berdasarkan Perdes yang sedang disusun.
5. Petani umumnya belum mengenal internet sehingga belum mengetahui
manfaat SIP, Website Pertanian Nasional, dan UPIPK. Informasi pasar
diperoleh dari tengkulak dan sesama petani; informasi teknologi pertanian
dari sesama petani, PPL, dan BPTP.
6. Belum tersedianya fasilitas koneksi internet dan layanan informasi secara
elektronis bagi petani, merupakan masalah utama dalam pengembangan
UPIPK. Hal ini dapat diatasi bila ada sinergi dan kepedulian dari berbagai
instansi terkait.
7. Kegiatan litkaji dan diseminasi yang melibatkan petani sangat bermanfaat
dalam memenuhi kebutuhan petani, yaitu meningkatkan pendapatan dan
mengatasi permasalahan.
Terima Kasih
Download