View/Open - UNHAS Repository System

advertisement
SKRIPSI
PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDALIAN TERHADAP
PERILAKU KERJA APARATUR SIPIL NEGARA
(STUDI KASUS PADA KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN
BEA DAN CUKAI TIPE MADYA PABEAN B MAKASSAR)
MARDITO GALIH PRINGGODANI
DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
i
SKRIPSI
PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDALIAN TERHADAP
PERILAKU KERJA APARATUR SIPIL NEGARA
(STUDI KASUS PADA KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN
BEA DAN CUKAI TIPE MADYA PABEAN B MAKASSAR)
sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh
gelar Sarjana Ekonomi
disusun dan diajukan oleh
MARDITO GALIH PRINGGODANI
A31115767
kepada
DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
ii
SKRIPSI
PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDALIAN TERHADAP
PERILAKU KERJA APARATUR SIPIL NEGARA
(STUDI KASUS PADA KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN
BEA DAN CUKAI TIPE MADYA PABEAN B MAKASSAR)
disusun dan diajukan oleh
MARDITO GALIH PRINGGODANI
A31115767
telah diperiksa dan disetujui untuk diuji
Makassar, 18 April 2017
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Kartini, S.E., M.Si., Ak., CA
NIP 196503051992032001
Drs. Muh. Nur Azis, M.M.
NIP 196012311988111004
Ketua Departemen Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Prof. Dr. Mediaty, S.E., M.Si., Ak., CA
NIP 196509251990022001
iii
SKRIPSI
PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDALIAN TERHADAP
PERILAKU KERJA APARATUR SIPIL NEGARA
(STUDI KASUS PADA KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN
BEA DAN CUKAI TIPE MADYA PABEAN B MAKASSAR)
disusun dan diajukan oleh
MARDITO GALIH PRINGGODANI
A31115767
telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi
pada tanggal 8 Juni 2017 dan
dinyatakan telah memenuhi syarat kelulusan
Menyetujui
Panitia Penguji
No Nama Penguji
Jabatan
Tanda Tangan
1
Dr. Kartini, S.E., M.Si., Ak., CA
Ketua
1.......................
2
Drs. Muh. Nur Azis, M.M.
Sekretaris
2 ......................
3
Dr. Nirwana, S.E., M.Si., Ak., CA
Anggota
3.......................
4
Drs. M. Natsir Kadir, Ak., M.Si., CA
Anggota
4 ......................
Ketua Departemen Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Prof. Dr. Mediaty, S.E., M.Si., Ak., CA
NIP 196509251990022001
iv
PERNYATAAN KEASLIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
nama
: Mardito Galih Pringgodani
NIM
: A31115767
departemen/program studi
: Akuntansi/S1
dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul,
PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDALIAN TERHADAP PERILAKU KERJA
APARATUR SIPIL NEGARA
(Studi Kasus pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai
Tipe Madya Pabean B Makassar)
adalah karya ilmiah saya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya di dalam
naskah skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang
lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi, dan tidak
terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain
kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam
sumber kutipan dan daftar pustaka.
Apabila di kemudian hari ternyata di dalam naskah skripsi ini dapat dibuktikan
terdapat unsur-unsur jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan
tersebut dan diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku (UU No. 20 Tahun 2003, pasal 25 ayat 2 dan pasal 70).
Makassar, 8 Juni 2017
Yang Membuat Pernyataan,
Mardito Galih Pringgodani
v
PRAKATA
Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT atas karunia-Nya sehingga
peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini merupakan tugas akhir untuk
mencapai gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Hasanuddin.
Atas terselesaikannya skripsi ini, peneliti mengucapkan banyak terima kasih
kepada pihak-pihak sebagai berikut,
1.
Prof. Dr. Gagaring Pagalung, S.E., M.S., Ak., CA,
sebagai Dekan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin;
2.
Prof. Dr. Mediaty, S.E., M.Si., Ak., CA, sebagai Ketua Departemen
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin;
3.
Dr. Kartini, S.E., M.Si., Ak., CA sebagai Pembimbing I;
4.
Drs. Muh. Nur Azis, M.M., sebagai Pembimbing II;
5.
Dr. Nirwana, S.E., M.Si., Ak., CA, dan Drs. M. Natsir Kadir, Ak., M.Si., CA,
sebagai Penguji;
6.
Pimpinan dan para aparatur sipil negara Kantor Pengawasan dan
Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar;
7.
H. Nur Hasyim, S.H., M.Si. dan Hj. Sariyah Zainuri sebagai orang tua
peneliti;
8.
H. Samuri dan Hj. Siti Fatimah Srimurti sebagai mertua peneliti;
9.
dr. Indah Chumaidiyah Ma’rifah, sebagai istri peneliti;
10. Syaiful Hidayat, S.Ag., Muhammad Ali Fauzi, S.H., M.Kn., dan Denis
Galuh Priambodo, S.Ked. sebagai saudara peneliti;
11. Musdalifah, S.E., sebagai staf tata usaha Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin;
vi
12. Slamet Mujiono, S.E. dan Muhammad Akmal, S.E. sebagai rekan
seperjuangan peneliti;
Atas bantuan yang diberikan kepada peneliti, semoga mendapat balasan
yang lebih baik dari Allah SWT.
Skripsi ini masih jauh dari sempurna walaupun telah menerima bantuan
dari berbagai pihak. Apabila terdapat kesalahan dalam skripsi ini, kesalahan
tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab peneliti dan bukan tanggung
jawab para pihak yang memberi bantuan. Kritik yang membangun akan lebih
menyempurnakan skripsi ini.
Makassar, 8 Juni 2017
Peneliti
vii
ABSTRAK
PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDALIAN TERHADAP PERILAKU KERJA
APARATUR SIPIL NEGARA
(Studi Kasus pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai
Tipe Madya Pabean B Makassar)
THE EFFECT OF CONTROL ENVIRONMENT ON STATE CIVIL APPARATUS'
WORK BEHAVIOR
(Case Study in Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai
Tipe Madya Pabean B Makassar)
Mardito Galih Pringgodani
Kartini
Muh. Nur Aziz
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh komponen lingkungan
pengendalian, baik parsial maupun simultan, terhadap perilaku kerja aparatur
sipil negara. Data penelitian ini diperoleh dari kuisioner dengan responden para
aparatur sipil negara di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe
Madya Pabean B Makassar. Populasi dan sampel penelitian ini masing-masing
adalah 102 dan 42 aparatur sipil negara. Data penelitian ini dianalisis dengan uji
normalitas data, uji kualitas data (uji validitas data dan uji reliabilitas data), uji
asumsi klasik (uji heteroskedastisitas dan uji multikolinieritas), dan uji hipotesis
(uji koefisien determinasi, uji T, dan uji F). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa
komponen lingkungan pengendalian, baik parsial maupun simultan, mempunyai
pengaruh terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara.
Kata kunci:
teori atribusi, lingkungan pengendalian, perilaku kerja aparatur
sipil negara
This research aims to analyze the effect of control environment’s components,
partially and simultaneously, on state civil apparatus’ work behavior. Data used in
the research are obtained from questionnaire whose its respondents are state
civil apparatus in Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya
Pabean B Makassar. This research’s population and sample is 102 and 42 state
civil apparatus respectively. This research’s data are analyzed by data normality
test, data quality test (data validity test and data reliability test), classical
assumptions test (heteroscedasticity test and multicolinearity test), and
hypotheses test (determination coefficient test, T test, and F test).The research's
result states that components of control environment, partially and
simultaneously, have effect on state civil apparatus' work behavior.
Keywords:
attribution theory, control environment, state civil apparatus’
work behavior
viii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL……………………………………………………..……
i
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………
ii
HALAMAN PERSETUJUAN……………………………………………………
iii
HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………………….
iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN………………………………………
v
PRAKATA………………………………………………………………………..
vi
ABSTRAK………………………………………………………………………..
viii
DAFTAR ISI………………………………………………………………………
ix
DAFTAR TABEL…………………………………………………………………
xii
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………
xiii
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………
xiv
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………
1
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………
1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………….
7
1.3 Tujuan Penelitian………………………………………………………
8
1.4 Kegunaan Penelitian…………………………………………………..
9
1.4.1 Kegunaan Teoretis………………………………………………
9
1.4.2 Kegunaan Praktis……………………………………………….
9
1.4.3 Kegunaan Kebijakan……………………………………………
10
1.5 Ruang Lingkup Penelitian……………………………………………
10
1.6 Sistematika Penulisan………………………………………………..
11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………..
12
2.1 Landasan Teori………………………………………………………..
12
2.1.1 Teori Attribusi……………………………………………………
12
2.1.2 Lingkungan Pengendalian……………………………………..
16
2.1.3 Perilaku Kerja Aparatur Sipil Negara………………………….
27
2.1.4 Hasil Penelitian Terdahulu……………………………………..
30
2.2 Kerangka Penelitian………………………………………………….
33
2.3 Hipotesis Penelitian………………………………………………….
36
ix
BAB III METODE PENELITIAN………………………………………………
39
3.1 Rancangan Penelitian……………………………………………….
39
3.2 Tempat dan Waktu…………………………………………………..
39
3.3 Populasi dan Sampel………………………………………………..
40
3.4 Jenis dan Sumber Data……………………………………………..
41
3.5 Teknik Pengumpulan Data………………………………………….
41
3.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional……………………..
42
3.7 Instrumen Penelitian…………………………………………………
44
3.8 Analisis Data………………………………………………………….
47
3.8.1 Statistik Deskriptif………………………………………………
47
3.8.2 Uji Normalitas Data…………………………………………….
46
3.8.3 Uji Kualitas Data………………………………………………..
46
3.8.3.1 Uji Validitas Data…………………………………….....
46
3.8.3.2 Uji Reliabilitas Data…………………………………….
47
3.8.4 Uji Asumsi Klasik……………………………………………….
47
3.8.4.1 Uji Heteroskedastisitas………………………………..
47
3.8.4.2 Uji Multikolinieritas……………………………………..
48
3.8.5 Uji Hipotesis…………………………………………………….
48
3.8.5.1 Uji Koefisien Determinasi……………………………..
49
3.8.5.2 Uji T (T-test)…………………………………………….
49
3.8.5.3 Uji F (F-Test) ………………………………………….
50
BAB IV HASIL PENELITIAN……………………………………………………
51
4.1 Profil KPPBC TMP B Makassar……………………………………
51
4.2 Statistik Deskriptif……………………………………………………
53
4.3 Uji Normalitas Data………………………………………………….
59
4.4 Uji Kualitas Data……………………………………………………..
60
4.4.1 Uji Validitas Data……………………………………………….
60
4.4.2 Uji Reliabilitas Data…………………………………………….
63
4.5 Uji Asumsi Klasik…………………………………………………….
64
4.5.1 Uji Heteroskedastisitas………………………………………..
64
4.5.2 Uji Multikolinieritas……………………………………………..
64
4.6 Uji Hipotesis………………………………………………………….
65
4.6.1 Uji Koefisien Determinasi …………………………………….
65
4.6.2 Uji T (T-test)……………………………………………………
66
x
4.6.3 Uji F (F-test)…………………………………….......................
69
4.7 Pembahasan………………………………………………………….
70
4.7.1 Pengaruh Penegakan Integritas dan Nilai Etika Secara
Parsial Terhadap Perilaku Kerja Aparatur Sipil Negara……...
70
4.7.2 Pengaruh Komitmen Terhadap Kompetensi Secara Parsial
Terhadap Perilaku Kerja Aparatur Sipil Negara………...…….
70
4.7.3 Pengaruh Kepemimpinan Yang Kondusif Secara Parsial
Terhadap Perilaku Kerja Aparatur Sipil Negara………...…….
71
4.7.4 Pengaruh Pembentukan Struktur Organisasi Sesuai
Kebutuhan Secara Parsial Terhadap Perilaku Kerja Aparatur
Sipil Negara………………………………………………………
71
4.7.5 Pengaruh Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab
Yang Tepat Secara Parsial Terhadap Perilaku Kerja
Aparatur Sipil Negara.............................................................
71
4.7.6 Pengaruh Penyusunan dan Penerapan Kebijakan Yang
Sehat Tentang Pembinaan Sumber Daya Manusia
Secara Parsial Terhadap Perilaku Kerja Aparatur Sipil
Negara…………….................................................................
72
4.7.7 Pengaruh Peran Aparat Pengawasan Internal Pemerintah
Yang Efektif Secara Parsial Terhadap Perilaku Kerja
Aparatur Sipil Negara……………………………………………
72
4.7.8 Pengaruh Hubungan Kerja Yang Baik Dengan Instansi Lain
Secara Parsial Terhadap Perilaku Kerja Aparatur Sipil
Negara…………….................................................................
72
4.7.9 Pengaruh Komponen Lingkungan Pengendalian Secara
Simultan Terhadap Perilaku Kerja Aparatur Sipil Negara…...
73
BAB V PENUTUP……………………………………………………………....
76
5.1 Kesimpulan……………………………………………………………
76
5.2 Keterbatasan Penelitian……………………………………………..
77
5.3 Saran………………………………………………………………….
77
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………..
78
LAMPIRAN…………………………………………………………………….….
81
xi
DAFTAR TABEL
Tabel
4.1
4.2
4.3
4.4
4.5
4.6
4.7
4.8
4.9
4.10
4.11
4.12
4.13
4.14
4.15
4.16
4.17
4.18
4.19
4.20
4.21
4.22
4.23
4.24
4.25
4.26
4.27
4.28
4.29
4.30
4.31
4.32
4.33
4.34
Halaman
Data ASN KPPBC TMP B Makassar Per Maret 2017………..
53
Distribusi Kuisioner………………………………………………
54
Deskripsi Statistik Tanggapan Responden Atas Variabel
Penelitian…..............................................................................
55
Tanggapan Responden Atas Variabel X1…………………………………….
55
Tanggapan Responden Atas Variabel X2…………………………………….
56
Tanggapan Responden Atas Variabel X3…………………………………….
56
Tanggapan Responden Atas Variabel X4…………………………………….
57
Tanggapan Responden Atas Variabel X5…………………………………….
57
Tanggapan Responden Atas Variabel X6…………………………………….
57
Tanggapan Responden Atas Variabel X7…………………………………….
58
Tanggapan Responden Atas Variabel X8…………………………………….
58
Tanggapan Responden Atas Variabel Y……………………………………...
58
Uji Validitas Variabel X1…………………………………………………………………...
60
Uji Validitas Variabel X2…………………………………………………………………...
60
Uji Validitas Variabel X3…………………………………………………………………...
61
Uji Validitas Variabel X4…………………………………………………………………...
61
Uji Validitas Variabel X5…………………………………………………………………..
61
Uji Validitas Variabel X6…………………………………………………………………..
62
Uji Validitas Variabel X7…………………………………………………………………..
62
Uji Validitas Variabel X8…………………………………………………………………..
62
Uji Validitas Variabel Y…………………………………………………………………….
63
Uji Reliabilitas Variabel Penelitian……………………………..
63
Uji Multikolinieritas………………………………………………
65
Hasil Uji Koefisien Determinasi………………………………..
65
Hasil Uji T Variabel X1……………………………………………
66
Hasil Uji T Variabel X2……………………………………………
67
Hasil Uji T Variabel X3……………………………………………
67
Hasil Uji T Variabel X4……………………………………………
67
Hasil Uji T Variabel X5……………………………………………
68
Hasil Uji T Variabel X6……………………………………………
68
Hasil Uji T Variabel X7……………………………………………
68
Hasil Uji T Variabel X8……………………………………………
69
Hasil Uji F…………………………………………………………
70
Pembahasan Hipotesis………………………………………….
73
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
2.1
Kerangka Penelitian…………………………………………….............. 35
4.1
Grafik Normal Probability Plot…………………………………............. 59
4.2
Scatterplot………………………………………………………..............
.
xiii
64
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1
Biodata…………………………………………………………........
82
2
Peta Teori………………………………………………………........
84
3
Kuisioner……………………………………………………….........
90
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pengendalian internal berkembang lebih jauh daripada sekedar masalah
akuntansi dan keuangan dan meliputi semua proses organisasi, baik di
perusahaan maupun di instansi pemerintah. Unit atau proses organisasi memiliki
pengendalian internal yang baik jika unit atau proses tersebut mencapai misinya
dengan cara yang etis, menghasilkan data yang akurat dan andal, mematuhi
hukum yang berlaku dan kebijakan organisasi, menyediakan penggunaan
sumber daya yang ekonomis dan efisien, dan menyediakan pengamanan aset
yang tepat.
Pengendalian internal mempunyai lima komponen, yaitu: lingkungan
pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi,
dan pemantauan. Komponen dasar dari pengendalian internal adalah lingkungan
pengendalian. Lingkungan pengendalian diletakkan pada bagian paling dasar
sebagai landasan suatu rumah pengendalian internal. Elim dan Safral (2009)
dalam
Tyara
Galuh
Amandita
(2015)
mengatakan
bahwa
lingkungan
pengendalian merupakan fondasi dari komponen-komponen pengendalian
internal lainnya sehingga lingkungan pengendalian mempunyai pengaruh yang
sangat signifikan terhadap efektifitas penerapan pengendalian internal.
Lingkungan
pengendalian
mencerminkan
keseluruhan
sikap,
dan
tindakan oleh manajemen dan pihak-pihak terkait yang memperhatikan
pentingnya pengendalian internal dalam perusahaan atau instansi pemerintah.
Peran pimpinan organisasi dalam komponen ini sangat penting karena pimpinan
berperan sebagai tone of the top. Gaya kepemimpinan sangat mempengaruhi
1
2
gaya para bawahannya. Lingkungan pengendalian merupakan komponen
pengendalian internal yang bersifat soft control yang bersifat dinamis, sehingga
teknik yang digunakan untuk menilai keberadaan dan efektivitasnya diperoleh
dari pendapat dan persepsi para pegawai dibandingkan dengan kondisi fisiknya.
Semua anggota perusahaan atau instansi pemerintah harus mempunyai
pemahaman tentang lingkungan pengendalian pada area tanggung jawab
mereka dan menjaga agar lingkungan pengendalian tersebut tetap berfungsi.
Manajemen perusahaan atau instansi pemerintah bertanggung jawab membuat
dan mengelola lingkungan pengendalian, sedangkan auditor internal menilai
efektivitas lingkungan pengendalian dan membuat rekomendasi secara tepat.
Setiap perusahaan atau instansi pemerintah dapat mempunyai lingkungan
pengendalian yang berbeda. Lingkungan pengendalian dapat mempengaruhi
bagaimana komponen - komponen pengendalian internal lain dibentuk dan
dijalankan. Lingkungan pengendalian terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
1. penegakan integritas dan nilai etika
2. komitmen terhadap kompetensi
3. kepemimpinan yang kondusif
4. pembentukan struktur organisasi yang sesuai kebutuhan
5. pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
6. penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan
sumber daya manusia
7. peran aparat pengawasan internal pemerintah yang efektif
8. hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait.
Pada penelitian ini, dari lima komponen pengendalian internal di atas,
peneliti hanya memilih lingkungan pengendalian sebagai variabel dependen dan
tidak memilih empat komponen pengendalian internal lainnya. Alasan pemilihan
3
ini adalah karena lingkungan pengendalian adalah fondasi pengendalian internal
dan dasar dibentuknya dan dilaksanakannya empat komponen pengendalian
internal lainnya. Lingkungan pengendalian mempengaruhi empat komponen
pengendalian internal lainnya secara langsung, tetapi empat komponen
pengendalian internal lainnya tidak mempengaruhi lingkungan pengendalian
secara langsung. Peneliti beranggapan bahwa untuk meneliti pengaruh
pengendalian internal, peneliti cukup meneliti lingkungan pengendalian.
Perilaku kerja aparatur sipil negara adalah setiap tingkah laku, sikap atau
tindakan yang dilakukan oleh aparatur sipil negara atau tidak melakukan sesuatu
yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Menurut teori atribusi, perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal adalah yang kita yakini sebagai
pengendalian personal seseorang, sedangkan faktor eksternal adalah yang apa
kita bayangkan sebagai situasi yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu.
Pada penelitian ini, peneliti memilih perilaku kerja aparatur sipil negara
sebagai variabel dependen. Alasan pemilihan ini adalah karena perilaku kerja
adalah faktor yang paling terpengaruh oleh lingkungan pengendalian. Hal ini
dikarenakan wujud dari lingkungan pengendalian itu sendiri adalah perilaku atau
sikap pimpinan organisasi untuk menjalankan pengendalian internal di
organisasinya dalam rangka menjamin tercapainya tujuan organisasinya.
Perilaku atasan mempengaruhi perilaku bawahan, sehingga bila atasan
mengarahkan
bawahan
untuk
menjalankan
pengendalian
internal
di
organisasinya dalam rangka menjamin tercapainya tujuan organisasinya, maka
bawahan akan terpengaruh dan melaksanakan arahan atasan tersebut.
Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti mempunyai pemikiran bahwa
4
lingkungan pengendalian dapat berperan sebagai salah satu faktor eksternal
menurut teori atribusi yang mempengaruhi perilaku kerja aparatur sipil negara.
Hal ini karena sikap dan tindakan yang dibuat oleh pimpinan instansi pemerintah
untuk menjalankan pengendalian internal di instansinya dalam rangka menjamin
tercapainya tujuan instansinya dapat mempengaruhi sikap dan tindakan para
aparatur sipil negara yang bekerja pada instansi pemerintah tersebut. Para
aparatur sipil negara pada instansi pemerintah tersebut akan terdorong untuk
melakukan sikap dan tindakan yang menjamin tercapainya tujuan instansi
pemerintah tersebut. Dorongan itu terjadi karena bawahan secara normal akan
mematuhi atasan, sehingga apa pun perintah atasan akan dipatuhi oleh
bawahan.
Pemikiran peneliti di atas diperkuat oleh beberapa penelitian terdahulu.
Penelitian Dewi Larasatri yang berjudul Korelasi Implementasi Sistem Presensi
Sidik Jari (Fingerprint) Online dan Kedisiplinan terhadap Perubahan Perilaku
Kerja Pegawai (2016) bertujuan untuk mengkaji korelasi antara implementasi
sistem informasi presensi sidik jari dan kedisiplinan pegawai terhadap perubahan
perilaku kerja pegawai. Hasil penelitian tersebut adalah implementasi sistem
presensi sidik jari online mempengaruhi kedisiplinan kerja pegawai, sehingga
mengakibatkan perubahan perilaku kerja pegawai berupa adanya semangat
disiplin kerja yang lebih baik pasca diterapkannya presensi sidik jari online.
Peneliti beranggapan bahwa sistem presensi sidik jari adalah bagian dari
penegakan integritas dan nilai etika yang merupakan salah satu komponen
lingkungan pengendalian. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa lingkungan
pengendalian mempengaruhi perilaku kerja pegawai.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Andi Eko Prasetyo dengan judul
Pengaruh Budaya Kerja terhadap Perilaku Kerja dan Kinerja Karyawan pada PT
5
Bank Pembangunan Daerah (BPD) Banyuwangi (2011) bertujuan untuk
mengetahui pengaruh dari budaya kerja (eksplisit dan implisit) terhadap perilaku
kerja dan kinerja karyawan pada PT Bank Pembangunan Daerah (BPD)
Banyuwangi. Hasil penelitian tersebut adalah budaya kerja (eksplisit dan implisit)
berpengaruh terhadap perilaku kerja dan kinerja karyawan pada PT Bank
Pembangunan Daerah (BPD) Banyuwangi. Peneliti beranggapan bahwa budaya
kerja, meskipun mempunyai definisi yang berbeda, memiliki kemiripan sifat
dengan lingkungan pengendalian yaitu sama-sama dibangun dari sikap atau
perilaku pimpinan organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Hasil
penelitian di atas yang menyatakan bahwa budaya kerja mempunyai pengaruh
terhadap perilaku kerja karyawan dapat peneliti analogikan bahwa lingkungan
pengendalian mempunyai pengaruh terhadap perilaku kerja karyawan.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Ella Leni Citra dengan judul Pengaruh
Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Melalui Perilaku Kerja (Working Behavior)
Karyawan pada Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Jember
(2014) bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja
melalui perilaku kerja karyawan AJB Bumiputera 1912 Cabang Jember. Hasil
penelitian tersebut adalah lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja melalui perilaku kerja karyawan AJB Bumiputera 1912 Cabang
Jember. Peneliti beranggapan bahwa lingkungan kerja, meskipun mempunyai
definisi yang berbeda, memiliki kemiripan sifat dengan lingkungan pengendalian
yaitu sebagai wadah aktivitas. Hasil penelitian di atas yang menyatakan bahwa
lingkungan kerja mempunyai pengaruh terhadap perilaku kerja karyawan dapat
peneliti analogikan bahwa lingkungan pengendalian mempunyai pengaruh
terhadap perilaku kerja karyawan.
Meskipun beberapa penelitian terdahulu mendukung pemikiran peneliti
6
tentang pengaruh lingkungan pengendalian terhadap perilaku kerja aparatur sipil
negara, beberapa fakta yang peneliti temui di lapangan justru tidak mendukung
pemikiran peneliti tersebut. Berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan
sebelum penelitian, peneliti menemukan fakta bahwa penerapan lingkungan
pengendalian yang baik tidak selalu menyebabkan perilaku kerja aparatur sipil
negara yang baik pula. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe
Madya Pabean B Makassar yang menjadi objek penelitian ini telah menerapkan
lingkungan pengendalian sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor
152/KMK.09/2011 tentang Peningkatan Penerapan Pengendalian Intern di
Lingkungan Kementerian Keuangan. Fakta yang peneliti temukan melalui
pengamatan di lapangan sebelum penelitian menunjukkan bahwa penegakan
integritas dan nilai etika oleh pimpinan kantor tidak sepenuhnya membuat para
aparatur sipil negara di kantor tersebut menerapkan integritas dan nilai etika
pada kehidupan sehari-hari di kantor, contohnya: beberapa aparatur sipil negara
yang peneliti amati kedapatan bersikap tidak etis dalam melayani pengguna jasa
dengan cara memainkan permainan di komputer atau menonton film ketika
sedang melakukan pelayanan kepada pengguna jasa.
Fakta lainnya adalah komitmen kantor terhadap kompetensi aparatur sipil
negara dalam bentuk memberi kesempatan kepada para aparatur sipil negara
untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan ternyata belum mendapatkan respon
positif dari para aparatur sipil negara. Hal ini dibuktikan dengan adanya aparatur
sipil negara yang mengikuti pendidikan dan pelatihan dengan niat hanya untuk
refreshing dan menghindar sejenak dari pekerjaan kantor yang sibuk, bukan
untuk meningkatkan kompetensinya, sehingga aparatur sipil negara tersebut
tidak mendapatkan tambahan ilmu yang berarti yang tentu berguna bagi
kantornya.
7
Fakta yang peneliti temukan melalui pengamatan sebelum penelitian di
atas menunjukkan adanya kesenjangan antara pemikiran yang peneliti
kembangkan
dengan
kenyataan
di
lapangan.
Pemikiran
yang
peneliti
kembangkan menyatakan bahwa lingkungan pengendalian mempengaruhi
perilaku kerja aparatur sipil negara, namun kenyataan di lapangan menyatakan
bahwa tidak selalu lingkungan pengendalian yang baik membuat perilaku kerja
aparatur sipil negara yang baik pula. Atas dasar keingintahuan peneliti terhadap
kesenjangan tersebut
dan
untuk
membuktikan pemikiran
yang
peneliti
kembangkan bahwa lingkungan pengendalian mempengaruhi perilaku kerja
aparatur
sipil
negara,
peneliti
mengangkat
topik
pengaruh
lingkungan
pengendalian terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara pada penelitian ini.
1.2
Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah masalah yang diteliti yang diambil dari latar
belakang di atas. Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah
penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.
Apakah penegakan integritas dan nilai etika berpengaruh secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara?
2.
Apakah komitmen terhadap kompetensi berpengaruh secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara?
3.
Apakah kepemimpinan yang kondusif berpengaruh secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara?
4.
Apakah pembentukan struktur organisasi yang sesuai kebutuhan
berpengaruh secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara?
5.
Apakah pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
berpengaruh secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara?
8
6.
Apakah penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang
pembinaan sumber daya manusia berpengaruh secara parsial terhadap
perilaku kerja aparatur sipil negara?
7.
Apakah peran aparat pengawasan internal pemerintah yang efektif
berpengaruh secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara?
8.
Apakah hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait
berpengaruh secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara?
9.
Apakah
komponen
lingkungan
pengendalian
berpengaruh
secara
simultan terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara?
1.3
Tujuan Penelitian
Penelitian ditujukan untuk menjawab rumusan masalah di atas.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1.
Menjelaskan pengaruh penegakan integritas dan nilai etika secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara;
2.
Menjelaskan pengaruh komitmen terhadap kompetensi secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara;
3.
Menjelaskan pengaruh kepemimpinan yang kondusif secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara;
4.
Menjelaskan pengaruh pembentukan struktur organisasi yang sesuai
kebutuhan secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara;
5.
Menjelaskan pengaruh pendelegasian wewenang dan tanggung jawab
yang tepat secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara;
6.
Menjelaskan pengaruh penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat
tentang pembinaan sumber daya manusia secara parsial terhadap
9
perilaku kerja aparatur sipil negara;
7.
Menjelaskan pengaruh peran aparat pengawasan internal pemerintah
yang efektif secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara;
8.
Menjelaskan pengaruh hubungan kerja yang baik dengan instansi
pemerintah terkait secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil
negara;
9.
Menjelaskan pengaruh komponen lingkungan pengendalian secara
simultan terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara.
1.4
Kegunaan Penelitian
Darwis Said, Ria Mardiana, dan Rahmatia (2012:11) menjelaskan sebagai
berikut:
Kegunaan penelitian ini menggambarkan manfaat dan diperolehnya
sasaran hasil penelitian, baik dihubungkan dengan perkembangan
bidang ilmu yang diteliti – kegunaan teoretis – (penemuan konsep baru,
pengembangan konsep yang ada, penemuan teori baru, atau
pengembangan teori yang sebelumnya), berguna bagi pihak terkait –
kegunaan praktis, maupun dihubungkan dengan pengambilan kebijakan
– kegunaan kebijakan.
Penelitian ini memiliki kegunaan teoretis, kegunaan praktis, dan kegunaan
kebijakan seperti yang peneliti jelaskan di bawah ini.
1.4.1 Kegunaan Teoretis
Kegunaan teoretis penelitian ini adalah dapat mengembangkan teori
atribusi di sektor publik. Pengembangan tersebut dikaitkan dengan lingkungan
pengendalian dan perilaku kerja aparatur sipil negara.
1.4.2 Kegunaan Praktis
Kegunaan praktis penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai salah satu
referensi untuk melakukan perbaikan lingkungan pengendalian dalam rangka
perbaikan perilaku kerja aparatur sipil negara. Kegunaan praktis ini terutama
10
ditujukan untuk Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya
Pabean B Makassar yang menjadi objek penelitian ini.
1.4.3 Kegunaan Kebijakan
Kegunaan kebijakan penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai salah
satu referensi pengambilan kebijakan terkait lingkungan pengendalian dan
perilaku kerja aparatur sipil negara pada instansi pemerintah. Kegunaan
kebijakan ini terutama ditujukan untuk Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea
dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar yang menjadi objek penelitian ini.
1.5
Ruang Lingkup Penelitian
Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara, aparatur sipil negara adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan
pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi
pemerintah. Pada penelitian ini, yang dimaksud dengan aparatur sipil negara
adalah hanya pegawai negeri sipil. Pegawai negeri sipil yang menjadi subyek
penelitian ini adalah hanya pegawai negeri sipil yang bekerja di Kantor
Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar.
Alasan peneliti membuat ruang lingkup seperti di atas adalah karena tidak ada
pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja di Kantor Pengawasan
dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar dan Kantor
Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar
adalah
instansi vertikal Kementerian Keuangan yang telah mempunyai dan
menjalankan lingkungan pengendalian dengan diterbitkannya Keputusan Menteri
Keuangan
Nomor
152/KMK.09/2011
tentang
Peningkatan
Pengendalian Intern di Lingkungan Kementerian Keuangan.
Penerapan
11
1.6
Sistematika Penulisan
Darwis Said, Ria Mardiana, dan Rahmatia (2012:11) menjelaskan
tentang sistematika penulisan, yaitu: “bagian ini menjelaskan secara garis besar
isi setiap bab, sub-bab, serta anak sub-bab berikut rangkaian hubungan satu
dengan lainnya”. Sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bab I Pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah,
tujuan penelitian, kegunaan penelitian (teoretis, praktis, dan kebijakan),
ruang lingkup penelitian, dan sistematika penulisan;
2. Bab II Tinjauan Pustaka yang memuat landasan teori, kerangka penelitian,
dan hipotesis penelitian. Landasan teori berisi teori atribusi, lingkungan
pengendalian, perilaku kerja aparatur sipil negara, dan hasil penelitian
terdahulu;
3. Bab III Metode Penelitian yang memuat rancangan penelitian, tempat dan
waktu, populasi dan sampel, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan
data, variabel penelitian dan definisi operasional, instrumen penelitian,
dan analisis data. Analisis data terdiri dari statistik deskriptif, uji normalitas
data, uji kualitas data (uji validitas data dan uji reliabilitas data), uji asumsi
klasik (uji heteroskedastisitas dan uji multikolinieritas), dan uji hipotesis (uji
koefisien determinasi, uji T, dan uji F).
4. Bab IV Hasil Penelitian yang memuat profil KPPBC TMP B Makassar,
statistik deskriptif, uji normalitas data, uji kualitas data (uji validitas data
dan uji reliabilitas data), uji asumsi klasik (uji heteroskedastisitas dan uji
multikolinieritas), uji hipotesis (uji koefisien determinasi, uji T, dan uji F),
dan pembahasan.
5. Bab V Penutup yang memuat kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan
saran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Landasan Teori
2.1.1 Teori Atribusi
Robbins dan Judge (2013:169) menjelaskan bahwa “Attribution theory is
an attempt to determine whether an individual’s behavior is internally or externally
caused”. Teori atribusi adalah upaya untuk menentukan apakah perilaku
seseorang disebabkan faktor internal atau faktor eksternal. Benda mati seperti
bangunan dan mesin tunduk kepada hukum, tetapi mereka tidak memiliki
keyakinan, motivasi, atau keinginan, sedangkan manusia memilikinya. Itulah
mengapa ketika mengamati manusia, kita berupaya untuk menjelaskan mengapa
mereka berperilaku dengan cara tertentu. Persepsi dan penilaian kita atas
tindakan manusia akan secara signifikan dipengaruhi oleh asumsi yang kita buat
tentang keadaan internal seseorang.
Robbins dan Judge (2013:168) menjelaskan bahwa “attribution theory
tries to explain the ways in which we judge people differently, depending on the
meaning we attribute to a given behavior”. Teori atribusi mencoba untuk
menjelaskan cara dimana kita menilai orang secara berbeda-beda, bergantung
pada arti yang kita atribusikan ke perilaku yang diberikan. Hal ini berarti ketika
kita mengamati perilaku seseorang, kita berupaya untuk menentukan apakah itu
disebabkan oleh faktor internal atau faktor eksternal. Penentuan ini bergantung
pada tiga faktor, yaitu: distinctiveness (kekhususan), consensus (consensus),
dan consistency (konsistensi). Mari kita mengklarifikasi perbedaan antara
penyebab internal dan eksternal, kemudian kita akan mengelaborasikannya pada
masing-masing dari tiga faktor yang menentukan di atas.
12
13
Faktor internal adalah yang kita yakini sebagai pengendalian personal
seseorang. Faktor eksternal adalah yang apa kita bayangkan sebagai situasi
yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jika salah satu pegawai
datang terlambat, kita dapat mengatribusikannya ke pesta larut malam dan tidur
terlambat. Ini adalah atribusi internal. Tetapi jika kita mengatribusikannya ke
kecelakaan mobil dan kemacetan lalu lintas, maka ini adalah atribusi eksternal.
Sekarang mari kita mendiskusikan tiga faktor yang menentukan. Robbins
dan Judge (2013:168) menjelaskan bahwa “distinctiveness refers to whether an
individual displays different behaviors in different situations”. Kekhususan adalah
apakah seseorang menampilkan perilaku yang berbeda di situasi yang berbeda.
Apakah pegawai yang datang terlambat hari ini adalah orang yang secara rutin
meninggalkan komitmen? Apa yang kita ingin tahu adalah perilaku ini tidak biasa.
Jika ya, kita mengatakannya atribusi eksternal. Jika tidak, kita mungkin
menilainya sebagai atribusi internal.
Jika setiap orang yang menghadapi situasi sejenis merespon dengan cara
yang sama, kita akan mengatakan bahwa perilaku tersebut menampilkan
konsensus. Perilaku pegawai yang terlambat memenuhi kriteria ini jika semua
pegawai yang mengambil rute yang sama juga terlambat. Dari sudut pandang
atribusi, jika konsensus tinggi, kita mungkin akan menganggap keterlambatan
pegawai itu sebagai atribusi eksternal, sedangkan jika pegawai lain yang
mengambil rute yang sama tetapi datang tepat waktu, kita akan menganggap
keterlambatan pegawai itu sebagai atribusi internal.
Seorang pengamat memandang konsistensi dalam tindakan seseorang.
Apakah orang tersebut merespon dengan cara yang sama selama ini? Pegawai
yang kali pertama datang terlambat dalam beberapa bulan tidak sama dengan
pegawai yang selalu datang terlambat dua atau tiga kali seminggu. Lebih
14
konsisten perilaku, lebih mudah kita mengatribusikannya ke penyebab internal.
Salah satu temuan menarik dari penelitian teori atribusi adalah kesalahan
atau bias dapat memutarbalikkan atribusi. Ketika kita membuat penilaian tentang
perilaku orang lain, kita cenderung meremehkan pengaruh faktor eksternal dan
memandang lebih pengaruh faktor internal atau personal. Kesalahan atribusi
fundamental ini dapat menjelaskan mengapa manajer penjualan mengatribusikan
keburukan kinerja agen penjualan mereka lebih ke kemalasan daripada ke lini
produk yang kurang inovatif dibandingkan dengan produk kompetitor. Seseorang
atau organisasi juga cenderung mengatribusikan kesuksesan mereka lebih ke
faktor internal seperti kemampuan atau kerja keras daripada faktor eksternal
seperti kinerja kompetitor yang kurang. Robbins dan Judge (2013:169)
menjelaskan bahwa “Fundamental attribution error is the tendency to
underestimate the influence of external factors and overestimate the influence of
internal factors when making judgement about the behavior of others”. Kesalahan
atribusi fundamental adalah kecenderungan untuk meremehkan pengaruh faktor
eksternal dan memandang tinggi pengaruh faktor internal ketika menilai tentang
perilaku orang lain.
Orang-orang juga mengatribusikan informasi yang ambigu sebagai
sanjungan yang relatif dan menerima umpan balik positif dan menolak umpan
balik negatif. Ini adalah self-serving bias. Penelitian US News dan World Report
menunjukkan kekuatan bias tersebut. Peneliti tersebut bertanya ke satu
kelompok orang “Jika seseorang menggugat anda dan anda memenangkan
kasus tersebut, haruskah dia membayar biaya hukum anda?” 85% merespon
“ya”. Kelompok lain ditanya “Jika anda menggugat seseorang dan kalah,
haruskah anda membayar biaya hukumnya?” Hanya 44% menjawab “ya”.
Robbins dan Judge (2013:169) menjelaskan bahwa “Self-serving biases are the
15
tendency for individuals to attribute their own successes to internal factors and
put the blame for failures on external factors”. Self-serving biases adalah
kecenderungan individu untuk mengatribusikan keberhasilan mereka ke faktor
internal dan menyalahkan kegagalan mereka ke faktor eksternal.
Bukti perbedaan budaya dalam persepsi masih belum jelas tetapi
sebagian besar mengatakan ada perbedaan lintas budaya dalam atribusi yang
orang-orang buat. Sebuah penelitian menemukan manajer Korea kurang suka
menggunakan self-serving biases. Mereka cenderung menerima tanggung jawab
untuk kegagalan kelompok karena “Saya adalah pemimpin yang tidak mampu”
sebagai ganti kegagalan atribusi kepada anggota kelompok. Dengan kata lain,
manajer Asia lebih suka menyalahkan institusi atau organisasi keseluruhan,
sedangkan pengamat Barat meyakini bahwa manajer harus menyalahkan atau
memuji. Kemungkinan itu menjelaskan mengapa US News sering melaporkan
nama-nama eksekutif ketika kinerja perusahaan buruk, sedangkan media Asia
melaporkan bagaimana perusahaan secara keseluruhan telah gagal.
Kecenderungan untuk membuat
atribusi berbasis kelompok juga
menjelaskan mengapa sesorang dari budaya Asia lebih suka membuat stereotip
berbasis kelompok. Teori atribusi dikembangkan secara luas berdasarkan
eksperimen dengan pekerja Amerika Serikat dan Eropa Barat. Tetapi penelitian
itu memberikan peringatan dalam membuat prediksi teori atribusi di masyarakat
non-Barat, khususnya di negara dengan tradisi kolektivitas yang kuat.
Perbedaan dalam kecenderungan atribusi tidak mengartikan konsep
dasar atribusi dan menyalahkan perbedaan lintas budaya. Self-serving biases
kurang biasa di budaya Asia Timur tetapi bukti mengatakan bahwa mereka masih
beroperasi lintas budaya. Penelitian terkini mengindikasikan manajer China
menilai penyalahan kegagalan menggunakan kekhususan, konsensus, dan
16
konsistensi yang sama seperti yang manajer Barat gunakan. Mereka juga
menjadi marah dan menghukum siapa pun yang dianggap bertanggung jawab
terhadap kegagalan, sebuah reaksi ditunjukkan ke banyak penelitian tentang
manajer Barat. Ini berarti proses dasar atribusi diaplikasikan lintas budaya, tetapi
itu mengambil lebih banyak bukti untuk manajer Asia untuk menyimpulkan orang
lain yang harus disalahkan.
2.1.2 Lingkungan Pengendalian
Dasar
pengendalian
internal
adalah
lingkungan
pengendalian.
Lingkungan pengendalian mempengaruhi bagaimana semua kegiatan dibangun
dan risiko dinilai. Lingkungan pengendalian adalah dasar untuk semua
komponen pengendalian internal lain dan mempengaruhi masing-masing dari
tiga tujuan pengendalian internal dan semua unit dan kegiatan entitas.
Moeller (2009:34) menjelaskan bahwa “The control environment reflects
the overall attitude, awareness, and actions by the board of directors,
management, and others concerning the importance of internal control in the
entreprise”.
Lingkungan
pengendalian
mencerminkan
keseluruhan
sikap,
kesadaran, dan tindakan oleh dewan direksi, manajemen, dan pihak lain yang
memperhatikan pentingnya pengendalian internal dalam perusahaan. Selagi ada
banyak konsep dasar yang berbeda, setiap perusahaan atau instansi pemerintah
harus mempunyai dasar pengendalian internal yang unik untuk mendukung
komponen pengendalian internal lainnya.
Sejarah dan budaya perusahaan atau instansi pemerintah berperan besar
dalam membentuk lingkungan pengendalian. Ketika perusahaan atau instansi
pemerintah secara historis mempunyai tekanan manajemen yang kuat untuk
tidak berbuat kesalahan, ketika manajemen senior menekankan pentingnya
produk berkualitas tinggi, dan ketika pesan ini dikomunikasikan ke semua level
17
perusahaan atau instansi pemerintah, maka hal ini akan menjadi faktor
lingkungan pengendalian utama.
Ketika melakukan reviu, auditor internal harus selalu mencoba memahami
dan mengevaluasi keseluruhan lingkungan pengendalian. Ketika lingkungan
pengendalian lemah, auditor internal akan menemukan area perhatian
pengendalian internal tambahan. Dalam perusahaan atau instansi pemerintah
yang lebih kecil, faktor lingkungan pengendalian akan lebih informal, tetapi
fokusnya tetap harus pada faktor lingkungan pengendalian yang tepat dalam
entitas.
Menurut
Moeller
(2009:34-39),
lingkungan
pengendalian
memiliki
komponen sebagaimana peneliti jelaskan di halaman berikutnya.
1.
Integritas dan nilai etika
Integritas dan nilai etika yang kolektif dari perusahaan atau instansi
pemerintah adalah elemen lingkungan pengendalian yang esensial. Nilai-nilai ini
sering ditentukan oleh manajemen senior. Jika perusahaan atau instansi
pemerintah mengembangkan kode perilaku yang kuat yang menekankan
integritas dan nilai etika, dan jika para pemangku kepentingan mengikuti kode
perilaku tersebut, maka semua pemangku kepentingan akan memiliki jaminan
bahwa perusahaan atau instansi pemerintah memiliki seperangkat nilai yang
baik. Meskipun perusahaan atau instansi pemerintah memiliki kode perilaku yang
kuat, seringkali prinsipnya dilanggar dengan sengaja. Karyawan tidak tahu
bahwa mereka telah melakukan kesalahan atau meyakini bahwa tindakannya
tersebut adalah untuk kepentingan perusahaan atau instansi pemerintah
tempatnya bekerja. Ketidakpedulian ini sering disebabkan oleh pedoman moral
manajemen senior yang buruk atau keinginan karyawan untuk menipu. Oleh
karena itu, kebijakan dan nilai organisasi harus dikomunikasikan ke semua level
18
organisasi. Meskipun selalu ada hal yang buruk di perusahaan atau instansi
pemerintah, pesan moral yang kuat akan memicu orang-orang untuk bertindak
benar. Semua pemangku kepentingan, termasuk auditor internal, harus memiliki
pemahaman yang kuat tentang kode perilaku perusahaan atau instansi
pemerintah mereka dan bagaimana itu dilakukan. Jika kode perilaku yang ada
kadaluarsa, itu tidak akan mampu untuk menyeselaikan masalah etika yang
dihadapi
perusahaan
mengkomunikasikan
atau
kode
instansi
perilaku
pemerintah.
ke
semua
Jika
manajemen
pemangku
tidak
kepentingan,
manajemen harus bangkit dan membenarkan kesalahan ini. Kode perilaku
menjelaskan aturan perilaku etis. Manajemen senior harus mengirim pesan etis
yang tepat dalam perusahaan atau instansi pemerintah. Insentif dan godaan lain
dapat mengikis lingkungan pengendalian ini. Seseorang dapat tergoda untuk
berlaku tidak jujur, illegal, atau tidak etis jika perusahaan atau instansi
pemerintahnya membangun target kinerja yang tinggi dan tidak realistis. Jika ada
hadiah yang kuat untuk pencapaian target tersebut, karyawan dapat terpicu
untuk melakukan praktik kecurangan untuk mencapai target tersebut. Jenis
godaan yang memicu pemangku kepentingan untuk melakukan tindakan yang
tidak tepat meliputi:
a. pengendalian yang tidak ada atau tidak efektif seperti pemisahan
tugas yang buruk di area yang sensitif yang menawarkan godaan
untuk mencuri
b. desentralisasi yang tinggi yang membuat manajemen puncak tidak
awas atas tindakan yang diambil manajemen yang lebih rendah
c. fungsi audit internal yang lemah yang tidak mempunyai kemampuan
atau kewenangan untuk mendeteksi dan melaporkan perilaku yang
tidak tepat
19
d. sanksi untuk perilaku yang tidak tepat yang tidak signifikan atau tidak
dipublikasikan yang membuat mereka kehilangan fungsi pencegahan
Untuk membangun intregitas dan nilai etika, fungsi audit internal yang
kuat harus menjadi komponen utama lingkungan pengendalian. Jika auditor
internal menemukan bahwa manajemen menghadapi tantangan pada fungsi
audit, auditor internal harus mengingatkan manajemen akan pentingnya mereka
sebagai bagian dari pengendalian internal keseluruhan dan mengkomunikasikan
perhatian ini ke dewan direksi dan komite audit
2.
Komitmen terhadap kompetensi
Lingkungan pengendalian dapat terkikis jika ada sejumlah posisi yang
signifikan di perusahaan atau instansi pemerintah yang diisi oleh orang-orang
yang kekurangan keterampilan kerja. Auditor internal akan menghadapi situasi ini
dari waktu ke waktu dalam reviu mereka, mewawancarai orang yang ditugaskan
ke pekerjaan tertentu yang tampak tidak memiliki kemampuan yang tepat. Oleh
karena semua manusia memiliki level kemampuan yang berbeda, pengawasan
dan pelatihan yang cukup akan membantu orang-orang ini untuk mencapai level
kemampuan yang disyaratkan.
Perusahaan atau instansi pemerintah harus
merinci tingkat kompetensi yang dibutuhkan untuk berbagai tugas jabatan dan
menerjemahkan kebutuhan tersebut dalam bentuk pengetahuan dan keahlian
yang ditentukan. Perusahaan atau instansi pemerintah harus menempatkan
orang-orang yang yang tepat pada jabatan yang tepat dan memberikan pelatihan
yang cukup ketika dibutuhkan. Penilaian kompetensi staf adalah bagian yang
penting
adalam
lingkungan
pengendalian.
Bagaimana
auditor
internal
menentukan kompetensi staf area audit? Fungsi sumber daya manusia yang kuat
dengan prosedur penilaian yang cukup akan menjawabnya.
20
3.
Dewan direksi dan komite audit
Lingkungan pengendalian sangat dipengaruhi oleh tindakan dewan
direksi dan komite auditnya. Pada tahun-tahun sebelum Sarbanes-Oxley Act,
dewan direksi dan komite audit sering didominasi oleh manajemen senior dalam
perusahaan
dengan
keterwakilan
terbatas
dari
luar
perusahaan.
Ini
menyebabkan situasi dimana dewan direksi tidak independen secara penuh
terhadap manajemen. Manajemen yang duduk di dewan direksi sering
mempunyai perhatian yang kurang terhadap investor luar perusahaan.
Sarbanes-Oxley Act kemudian mensyaratkan komite audit sebagai unit yang
independen secara penuh. Dewan direksi yang aktif dan independen adalah
komponen yang penting pada lingkungan pengendalian. Dengan mengatur
kebijakan tingkat tinggi dan melakukan reviu keseluruhan perilaku organisasi,
dewan direksi dan komite audit memiliki tanggung jawab yang mutakhir
4.
Filosofi manajemen dan gaya operasi
Filosofi dan gaya operasi manajemen senior mempunyai pengaruh yang
besar terhadap lingkungan pengendalian. Beberapa manajer level puncak
mengambil risiko level puncak dalam bisnis mereka, sedangkan yang lain
bersikap konservatif. Beberapa manajer lebih suka duduk di belakang meja,
sedangkan yang lain lebih suka memastikan segala sesuatunya dilakukan
dengan tepat. Beberapa manajer sangat agresif dalam menginterpretasikan
aturan
pajak
dan
pelaporan
keuangan mereka,
sedangkan
yang
lain
menginterpretasikan sesuai buku. Hal ini bukan berarti satu pendekatan baik dan
yang lain buruk. Perhatian filosofi manajemen dan gaya operasi adalah bagian
dari lingkungan pengendalian. Auditor internal tentu harus memahami filosofi
manajemen dan gaya operasi organisasi dan memperhatikan faktor ini ketika
mengevaluasi efektivitas pengendalian internal. Tidak ada gaya operasi dan
21
filosofi manajemen yang terbaik untuk semua organisasi tetapi hal ini menjadi
penting ketika auditor internal mengevaluasi komponen pengendalian internal
lainnya dalam perusahaan atau instansi pemerintah
5.
Struktur organisasi
Komponen ini menyediakan kerangka untuk perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian, dan pemantauan kegiatan untuk membantu pencapaian tujuan
keseluruhan. Komponen ini terkait dengan bagaimana fungsi perusahaan atau
instansi pemerintah diatur dan diorganisasikan berdasarkan bagan organisasi
klasik. Beberapa perusahaan atau instansi pemerintah tersentralisasi, sedangkan
yang lain terdesentralisasi. Struktur organisasi adalah aspek penting lingkungan
pengendalian
tetapi
tidak
ada
struktur
yang
menyediakan
lingkungan
pengendalian yang disukai. Struktur organisasi menggunakan pendekatan kerja
individu
yang
ditetapkan
dan
diintegrasikan
untuk
pencapaian
tujuan
keseluruhan. Untuk organisasi modern yang lebih besar, rencana organisasi
yang kuat adalah komponen yang penting dalam pengendalian internal. Individu
atau kelompok harus memamhami tujuan dari kelompok atau entitas tempat
mereka menjadi bagian. Tanpa pemahaman tersebut, akan ada kelemahan
pengendalian internal yang signifikan. Perusahaan atau instansi pemerintah
membutuhkan rencana organisasi yang kuat. Kelemahan dalam pengendalian
organisasi sering memiliki dampak yang besar dalam lingkungan pengendalian
keseluruhan. Perusahaan atau instansi pemerintah membangun ketidakefisienan
yang dapat menjadi lebih besar yang menyebabkan prosedur pengendalian
menjadi rusak
6.
Penetapan kewenangan dan tanggung jawab
Struktur organisasi menentukan tugas dan integrasi upaya kerja total.
Kewenangan adalah tanggung jawab yang ditentukan dalam bentuk deskripsi
22
pekerjaan dan dibangun dalam bentuk bagan perusahaan atau instansi
pemerintah. Akan lebih baik apabila tanggung jawab dideskripsikan dengan jelas
meskipun kewenangan tidak selalu menimbulkan tumpang tindih tanggung
jawab. Kegagalan dalam mendeskripsikan tanggung jawab secara jelas
menyebabkan kebingungan dan konflik antar individu dan kelompok. Hari ini,
banyak perusahaan atau instansi pemerintah sudah meluruskan operasi mereka
dan mendorong kewenangan pembuatan keputusan mereka ke bawah dan lebih
dekat ke karyawan garis depan. Lingkungan pengendalian yang kuat
mengatakan bahwa karyawan garis depan harus memiliki pengetahuan dan
kekuasaan untuk membuat keputusan yang tepat dalam area operasi mereka.
Tantangan atas pemberian kewenangan ini adalah bahwa meskipun manajemen
senior dapat mendelegasikan beberapa kewenangan untuk mencapai tujuan,
manajemen senior pada akhirnya bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat
oleh bawahannya. Perusahaan atau instansi pemerintah dapat menempatkan
dirinya dalam risiko jika terlalu banyak keputusan yang melibatkan tujuan level
tinggi didelegasikan ke level yang tidak tepat tanpa reviu manajemen yang
cukup. Setiap orang dalam perusahaan atau instansi pemerintah harus memiliki
pemahaman yang baik tentang tujuan keseluruhan perusahaan atau instansi
pemerintah dan bagaimana tindakan individu saling berhubungan untuk
mencapai tujuan itu
7.
Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
Praktik sumber daya manusia meliputi pengadaan, orientasi, pelatihan,
evaluasi,
konseling,
promosi,
kompensasi,
dan
pengambilan
tindakan
pengulangan yang tepat. Jika kebijakan sumber daya manusia dipublikasikan
secara jelas, hal itu akan memberi pesan yang kuat kepada para karyawan
terkait dengan bagaimana mereka berperilaku etis dan tingkat kompetensi yang
23
harus mereka miliki. Area-area dimana kebijakan dan praktik sumber daya
manusia yang penting adalah sebagai berikut.
a. Pengadaan
Perusahaan atau instansi pemerintah harus mengambil langkah untuk
merekrut calon karyawan terbaik dan berkualifikasi. Latar belakang
karyawan potensial harus diverifikasi dan wawancara harus dilakukan
secara dalam. Wawancara juga harus mengirim pesan tentang nilai,
budaya, dan gaya operasi perusahaan atau instansi pemerintah
b. Orientasi karyawan baru
Karyawan baru harus diberi tanda yang jelas tentang sistem nilai
perusahaan atau instansi pemerintah dan konsekuensi jika tidak
mematuhi nilai tersebut. Ini adalah waktu dimana karyawan baru
dikenalkan kepada kode perilaku dan diminta untuk menerima secara
formal kode perilaku tersebut. Tanpa pesan ini, karyawan baru
bergabung
ke
perusahaan
atau
instansi
pemerintah
tanpa
pemahaman yang tepat atas nilai tersebut
c. Evaluasi, promosi, dan kompensasi
Harus ada program evaluasi kinerja yang jujur. Oleh karena masalah
evaluasi dan kompensasi dapat menganggu karyawan, sistem
keseluruhan harus dipublikasikan ke semua pemangku kepentingan
d. Tindakan disiplin
Kebijakan yang konsisten dan mudah dipahami untuk tindakan disiplin
harus dilakukan. Karyawan pada semua level harus mengetahui
bahwa jika mereka melanggar aturan tertentu, mereka akan menjadi
subyek tindakan disiplin yang memicu pemecatan. Perusahaan atau
instansi pemerintah harus memastikan bahwa tidak ada standar
24
ganda untuk tindakan disiplin
Kebijakan dan prosedur sumber daya manusia yang efektif adalah
komponen kritis dalam lingkungan pengendalian. Pesan dari puncak struktur
perusahaan yang kuat hanya akan menyelesaikan sedikit dari masalah jika
perusahaan atau instansi pemerintah tidak mempunyai kebijakan dan prosedur
sumber daya manusia yang kuat. Audit internal harus selalu memperhatikan
elemen ini ketika melakukan reviu elemen lain dari pengendalian internal.
Peraturan
Pemerintah
Nomor
60
Tahun
200
Tentang
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) mensyaratkan pimpinan
Sistem
instansi
pemerintah wajib menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian
yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan sistem
pengendalian intern dalam lingkungan kerjanya, melalui hal-hal sebagai berikut.
a. Penegakan integritas dan nilai etika
Penegakan integritas dan nilai-nilai etika sekurang-kurangnya dilakukan
dengan:
(1) menyusun dan menerapkan aturan perilaku;
(2) memberikan keteladanan dalam pelaksanaan aturan perilaku pada
setiap tingkat pimpinan instansi pemerintah;
(3) menegakkan tindakan disiplin yang tepat atas penyimpangan
terhadap kebijakan dan prosedur, atau pelanggaran terhadap aturan
perilaku;
(4) memberi
penjelasan
dan
mempertanggungjawabkan
adanya
intervensi atau pengabaian pengendalian intern; dan
(5) menghapus kebijakan-kebijakan atau penugasan-penugasan
dapat mendorong perilaku tidak etis
yang
25
b. Komitmen terhadap kompetensi
Komitmen terhadap kompetensi sekurang-kurangnya dilakukan dengan:
(1) melakukan identifikasi dan menetapkan kegiatan-kegiatan yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dan fungsi pada masing masing posisi dalam instansi pemerintah;
(2) menyusun standar kompetensi untuk setiap tugas dan fungsi pada
masing-masing posisi dalam instansi pemerintah;
(3) menyelenggarakan
membantu
berbagai
pegawai
pelatihan
dan
mempertahankan
bimbingan
untuk
dan meningkatkan
kompetensi pekerjaannya; dan
(4) memilih pimpinan instansi pemerintah yang memiliki kemampuan
manajerial dan pengalaman teknis yang luas dalam pengelolaan
instansi pemerintah
c. Kepemimpinan yang kondusif
Kepemimpinan yang kondusif sekurang-kurangnya ditunjukkan dengan:
(1) mempertimbangkan risiko-risiko yang dihadapi dalam pengambilan
keputusan;
(2) menerapkan manajemen berbasis kinerja;
(3) mendukung fungsi tertentu dalam penerapan SPIP;
(4) melindungi aset dan informasi dari akses dan penggunaan yang
tidak sah;
(5) melakukan interaksi secara intensif dengan pejabat pada tingkatan
yang lebih rendah; dan
(6) merespon
secara
positif
terhadap
pelaporan-pelaporan yang
berkaitan dengan keuangan, penganggaran, program, dan kegiatan
26
d. Pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan
Pembentukan
struktur
organisasi
yang
sesuai dengan
kebutuhan
sekurang-kurangnya dilakukan dengan:
(1) menyesuaikan
dengan
ukuran
dan
sifat
kegiatan instansi
pemerintah;
(2) memberikan
kejelasan
wewenang
dan
tanggung jawab dalam
instansi pemerintah;
(3) memberikan kejelasan
hubungan dan
jenjang pelaporan intern
dalam instansi pemerintah;
(4) melaksanakan evaluasi dan penyesuaian periodik terhadap struktur
organisasi sehubungan dengan perubahan lingkungan strategis; dan
(5) menetapkan jumlah pegawai yang sesuai, terutama posisi pimpinan
e. Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
sekurang-
kurangnya dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
(1) wewenang diberikan kepada pegawai yang tepat sesuai dengan
tingkat tanggung jawabnya dalam rangka pencapaian tujuan instansi
pemerintah;
(2) pegawai yang diberi wewenang memahami bahwa wewenang dan
tanggung jawab yang diberikan terkait dengan pihak lain dalam
instansi pemerintah yang bersangkutan; dan
(3) pegawai yang diberi wewenang memahami bahwa pelaksanaan
wewenang dan tanggung jawab terkait dengan penerapan SPIP
f. Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan
sumber daya manusia
Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan
27
sumber daya manusia dilaksanakan dengan memperhatikan sekurangkurangnya hal-hal sebagai berikut:
(1) penetapan
kebijakan-kebijakan dan prosedur
sejak rekrutmen
sampai dengan pemberhentian pegawai;
(2) penelusuran latar belakang calon pegawai dalam proses rekrutmen;
dan
(3) supervisi periodik yang memadai terhadap pegawai
g. Peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif
Perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif
sekurang-kurangnya harus:
(1) memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan,
efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas
dan fungsi instansi pemerintah;
(2) memberikan peringatan-peringatan dini dan meningkatkan efektivitas
manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi
pemerintah; dan
(3) melakukan pemeliharaan dan meningkatkan kualitas tata kelola
penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah
h. Hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait
Hubungan
kerja
yang
diwujudkan
dengan
baik
adanya
dengan
mekanisme
instansi
saling
pemerintah terkait
uji
antar instansi
pemerintah terkait.
2.1.3 Perilaku Kerja Aparatur Sipil Negara
Miftah Thoha (2004:1) dalam Yoon (2013:1) menjelaskan bahwa “Perilaku
adalah suatu fungsi dari interaksi antar individu yang terwujud dalam gerakan
(sikap). Semuanya akan berperilaku berbeda dan perilakunya ditentukan oleh
28
masing-masing lingkungan yang berbeda pula”. Definisi menurut Miftah Thoha
tersebut menjelaskan bahwa perilaku merupakan hasil interaksi antar individu di
suatu lingkungan.
Kartono (1989:28) dalam Yoon (2013:1) menjelaskan bahwa:
Perilaku merupakan suatu cara bertingkah laku, diciptakan dan untuk
ditiru oleh orang banyak. Suatu tindakan menjadi bagian dari pola
bertindak yang tetap melalui proses pengulangan (peniruan) yang
dilakukan oleh orang dalam waktu yang relatif lama, sehingga
terbentuklah suatu kebiasaan.
Definisi
menurut
Kartono
tersebut
menjelaskan
bahwa
perilaku
merupakan kebiasaan yang terbentuk dari tingkah laku berulang oleh banyak
orang dalam waktu lama.
Notoatmodjo (2003:8) dalam Yoon (2013:1) menjelaskan bahwa “Perilaku
adalah tindakan atau aktivitas yang merupakan bagian dari totalitas penghayatan
dan aktivitas yang merupakan hasil akhir jalinan yang saling mempengaruhi
antara berbagai macam gejala”.
Definisi menurut Notoatmodjo tersebut
menjelaskan bahwa perilaku merupakan hasil interaksi antar individu yang saling
mempengaruhi.
Hendropuspito (1991:160) dalam Yoon (2013:1) menjelaskan bahwa
“Perilaku merupakan suatu pengembangan pribadi yang dimanifestasikan ke
dalam tindakan individu yang dapat diamati atau diobservasi secara objektif”.
Definisi menurut Hendropuspito tersebut menjelaskan bahwa perilaku dapat
diamati secara objektif.
Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 Tentang Penilaian Prestasi
Kerja Pegawai Negeri Sipil menjelaskan bahwa “Perilaku kerja adalah setiap
tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan oleh pegawai negeri sipil atau
tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan”.
Definisi
menurut
Peraturan
Pemerintah
tersebut
29
menjelaskan bahwa perilaku merupakan tingkah laku, sikap atau tindakan yang
dilakukan oleh pegawai negeri sipil menurut ketentuan perundang-undangan.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, peneliti mendefinisikan perilaku kerja
aparatur sipil negara sebagai setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang
dilakukan oleh aparatur sipil negara atau tidak melakukan sesuatu yang
seharusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Penilaian
perilaku kerja aparatur sipil negara, diadopsi dari penilaian perilaku kerja pegawai
negeri sipil menurut Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 Tentang
Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil, meliputi beberapa aspek
sebagaimana peneliti jelaskan di halaman berikutnya.
1. Orientasi pelayanan
Sikap dan perilaku kerja aparatur sipil negara dalam memberikan
pelayanan terbaik kepada yang dilayani, meliputi: masyarakat, atasan,
rekan sekerja, unit kerja terkait, dan/atau instansi lain
2. Integritas
Kemampuan aparatur sipil negara untuk bertindak sesuai dengan nilai,
norma, dan etika dalam organisasi
3. Komitmen
Kemauan dan kemampuan untuk menyelaraskan sikap dan tindakan
aparatur sipil negara untuk mewujudkan tujuan organisasi dengan
mengutamakan kepentingan dinas daripada kepentingan diri sendiri,
seseorang, dan/atau golongan
4. Disiplin
Kesanggupan aparatur sipil negara untuk menaati kewajiban dan
menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundangundangan dan/atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau
30
dilanggar dijauhi hukuman disiplin
5. Kerja sama
Kemauan dan kemampuan aparatur sipil negara untuk bekerja sama
dengan rekan sekerja, atasan, bawahan dalam unit kerjanya serta
instansi lain dalam menyelesaikan suatu tugas dan tanggung jawab
yang ditentukan, sehingga mencapai daya guna dan hasil guna yang
sebesar-besarnya
6. Kepemimpinan
Kemauan dan kemampuan aparatur sipil negara untuk memotivasi dan
mempengaruhi bawahan atau orang lain yang berkaitan dengan
bidang tugasnya demi tercapainya tujuan organisasi.
2.1.4 Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian Tyara Galuh Amandita yang berjudul Pengaruh Lingkungan
Pengendalian terhadap Kinerja Auditor pada Perwakilan Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan (2015) bertujuan untuk
menganalisis pengaruh lingkungan pengendalian yang terdiri dari dimensi
integritas dan nilai etika, kompetensi, kepemimpinan, struktur organisasi,
wewenang dan tanggung jawab, dan sumber daya manusia terhadap kinerja
auditor pada Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian tersebut adalah integritas dan etika,
kompetensi, kepemimpinan, struktur organisasi, dan sumber daya manusia
berpengaruh terhadap kinerja auditor, sedangkan wewenang dan tanggung
jawab tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor.
Penelitian Clara Xiaoling Chen dan Tatiana Sandiono yang berjudul Do
Internal Control Mitigate Employee Theft In Chain Organization? (2008) bertujuan
31
untuk menginvestigasi efektivitas dua jenis pengendalian internal, yaitu formal
monitoring dan mutual monitoring. Hasil penelitian tersebut adalah mutual
monitoring mengurangi pencurian secara langsung, sedangkan formal monitoring
mencegah pencurian secara tidak langsung dengan mengurangi kekuatan
hubungan pergantian karyawan dengan pencurian oleh karyawan.
Penelitian Dewi Larasatri yang berjudul Korelasi Implementasi Sistem
Presensi Sidik Jari (Fingerprint) Online dan Kedisiplinan terhadap Perubahan
Perilaku Kerja Pegawai (2016) bertujuan untuk mengkaji korelasi antara
implementasi sistem informasi presensi sidik jari dan kedisiplinan pegawai
terhadap perubahan perilaku kerja pegawai. Hasil penelitian tersebut adalah
implementasi sistem presensi sidik jari online mempengaruhi kedisiplinan kerja
pegawai, sehingga mengakibatkan perubahan perilaku kerja pegawai berupa
adanya semangat disiplin kerja yang lebih baik pasca diterapkannya presensi
sidik jari online.
Penelitian Chiantal Anugerah yang berjudul Pengaruh Audit Manajemen
terhadap Perilaku Pegawai pada PT Semen Tonasa (2016) bertujuan untuk
mengetahui pengaruh audit manajemen terhadap motivasi dan stress pegawai
pada PT Semen Tonasa. Hasil penelitian tersebut adalah audit manajemen
berpengaruh terhadap motivasi tetapi tidak berpengaruh terhadap stress pegawai
pada PT Semen Tonasa.
Penelitian Andi Eko Prasetyo yang berjudul Pengaruh Budaya Kerja
terhadap Perilaku Kerja dan Kinerja Karyawan pada PT Bank Pembangunan
Daerah (BPD) Banyuwangi (2011) bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari
budaya kerja (eksplisit dan implisit) terhadap perilaku kerja dan kinerja karyawan
pada PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Banyuwangi. Hasil penelitian
tersebut adalah budaya kerja (eksplisit dan implisit) berpengaruh terhadap
perilaku kerja dan kinerja karyawan pada PT Bank Pembangunan Daerah (BPD)
32
Banyuwangi.
Penelitian Drajat Hadi Sanyoto yang berjudul Pengaruh Tekanan
Pekerjaan terhadap Perilaku dan Kepuasan Kerja Karyawan Administrasi dan
Operasional pada PT Rengganis Perdana Argomindo Cabang Jember (2002)
bertujuan untuk mengetahui pengaruh tekanan pekerjaan terhadap perilaku dan
kepuasan kerja karyawan Administrasi dan Operasional pada PT Rengganis
Perdana Argomindo Cabang Jember. Hasil penelitian tersebut adalah terdapat
pengaruh antara tekanan pekerjaan dengan perilaku dan kepuasan kerja
karyawan Administrasi dan Operasional pada PT Rengganis Perdana Argomindo
Cabang Jember.
Penelitian Ella Leni Citra yang berjudul Pengaruh Lingkungan Kerja
terhadap KInerja Melalui Perilaku Kerja (Working Behavior) Karyawan pada
Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Jember (2014)
bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja melalui
perilaku kerja karyawan AJB Bumiputera 1912 Cabang Jember. Hasil penelitian
tersebut adalah lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja melalui perilaku kerja karyawan AJB Bumiputera 1912 Cabang Jember.
Penelitian Ni Putu Indah Jayanti dan Ni Ketut Rasmini yang berjudul
Pengaruh Pengendalian Intern, Motivasi, dan Reward Manajemen pada Perilaku
Etis Konsultan (2013) bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengendalian intern,
motivasi, dan reward manajemen pada perilaku etis konsultan PT Orindo Alam
Ayu Cabang Bali. Hasil penelitian tersebut adalah pengendalian intern, motivasi,
dan reward manajemen masing-masing berpengaruh signifikan pada perilaku etis
konsultan PT Orindo Alam Ayu Cabang Bali.
Penelitian Dewi Sofianingsih yang berjudul Pengaruh Komponen Struktur
Pengendalian Internal Untuk Mencegah Kecurangan pada Perusahaan (2017)
33
bertujuan untuk menganalisis pengaruh komponen struktur pengendalian internal
untuk mencegah kecurangan pada perusahaan. Hasil penelitian tersebut adalah
pengendalian internal penting untuk mencegah kecurangan pada perusahaan.
Penelitian Kusuma Agrianto Amir yang berjudul Pengaruh Kepatuhan
Pengendalian Intern terhadap Perilaku Etis Karyawan Dalam Sistem Penggajian
(Studi Kasus pada Karyawan Ketahanan Pangan Kota Makassar) (2014)
bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepatuhan pengendalian intern terhadap
perilaku etis karyawan dalam sistem penggajian pada karyawan Ketahanan
Pangan Kota Makassar. Hasil penelitian tersebut adalah pengendalian intern
tidak berpengaruh terhadap perilaku etis karyawan dalam sistem penggajian.
Penelitian Widarma Nugraha yang berjudul Pengaruh Pengendalian
Intern, Kepatuhan, dan Kompensasi Manajemen terhadap Perilaku Etis Pegawai
(Studi Kasus pada Dinas Pendapatan dan PKAD Wonogiri) (2015) bertujuan
untuk menganalisis pengaruh pengendalian intern, kepatuhan, dan kompensasi
manajemen terhadap perilaku etis pegawai. Hasil penelitian tersebut adalah
pengendalian intern, kepatuhan, dan kompensasi manajemen berpengaruh
terhadap perilaku etis pegawai.
2.2
Kerangka Penelitian
Berdasarkan landasan teori di atas, diperolehlah delapan komponen
lingkungan pengendalian, yaitu: penegakan integritas dan nilai etika, komitmen
terhadap kompetensi, kepemimpinan yang kondusif, pembentukan struktur
organisasi yang sesuai kebutuhan, pendelegasian wewenang dan tanggung
jawab yang tepat, penyusunan dan penetapan kebijakan yang sehat tentang
pembinaan sumber daya manusia, peran aparat pengawasan internal yang
efektif, dan hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait, yang
34
diuji pengaruhnya terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara pada penelitian
ini, sehingga variabel independen meliputi:
X1 : penegakan integritas dan nilai etika
X2 : komitmen terhadap kompetensi
X3 : kepemimpinan yang kondusif
X4 : pembentukan struktur organisasi yang sesuai kebutuhan
X5 : pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
X6 : penyusunan
dan
penerapan
kebijakan
yang
sehat
tentang
pembinaan sumber daya manusia
X7 :
peran aparat pengawasan internal pemerintah yang efektif
X8 :
hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait dan
variabel dependen berupa perilaku kerja aparatur sipil negara.
Alasan pemilihan variabel-variabel tersebut adalah karena penelitian ini
bertujuan untuk menguji pengaruh lingkungan pengendalian terhadap perilaku
kerja aparatur sipil negara dan yang dapat merepresentasikan wujud lingkungan
pengendalian adalah delapan komponennya. Hubungan antar variabel pada
penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.1 di halaman berikutnya.
35
Penegakan integritas
dan nilai etika (X1)
Komitmen terhadap
kompetensi (X2)
H1
H2
Kepemimpinan yang
kondusif (X3)
H3
Pembentukan struktur
organisasi yang sesuai
kebutuhan (X4)
H4
Pendelegasian
wewenang dan
tanggung jawab yang
tepat (X5)
H5
Penyusunan dan
penerapan kebijakan
yang sehat tentang
pembinaan sumber
daya manusia (X6)
Peran aparat
pengawasan internal
pemerintah yang
efektif (X7)
Hubungan kerja yang
baik dengan instansi
pemerintah terkait (X8)
Perilaku kerja
aparatur sipil
negara (Y)
H6
H7
H8
H9
Gambar 2.1 Kerangka Penelitian
(Sumber: Diolah sendiri, 2017)
Pengukuran variabel-variabel penelitian ini menggunakan kuisioner yang
berisi pernyataan-pernyataan tentang masing-masing variabel penelitian dengan
lima pilihan pendapat untuk setiap pernyataannya. Lima pilihan pendapat
tersebut berdasarkan skala likert, yaitu: sangat setuju (SS), setuju (S), netral (N),
tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Pendapat responden atas
pernyataan-pernyataan yang ada pada kuisioner tersebut adalah data yang
36
dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas data, uji kualitas data,
uji asumsi klasik, dan uji hipotesis menjadi hasil penelitian. Hasil penelitian yang
diharapkan adalah terdapat pengaruh komponen lingkungan pengendalian, baik
parsial maupun simultan, terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara.
2.3
Hipotesis Penelitian
Menurut teori atribusi, perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah yang kita yakini sebagai
pengendalian personal seseorang, sedangkan faktor eksternal adalah yang apa
kita bayangkan sebagai situasi yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Peneliti menangkap kesan bahwa lingkungan pengendalian dapat
berperan sebagai salah satu faktor eksternal menurut teori atribusi yang
mempengaruhi perilaku kerja aparatur sipil negara. Hal ini karena sikap dan
tindakan yang dibuat oleh pimpinan instansi pemerintah untuk menjalankan
pengendalian internal di instansinya dalam rangka menjamin tercapainya tujuan
instansinya dapat mempengaruhi sikap dan tindakan para aparatur sipil negara
yang bekerja pada instansi pemerintah tersebut. Para aparatur sipil negara pada
instansi pemerintah tersebut akan terdorong untuk melakukan sikap dan tindakan
yang menjamin tercapainya tujuan instansi pemerintah tersebut. Dorongan itu
terjadi karena bawahan secara normal akan mematuhi atasan, sehingga apa pun
perintah atasan akan dipatuhi oleh bawahan.
Hasil penelitian Tyara
Galuh Amandita yang berjudul Pengaruh
Lingkungan Pengendalian terhadap Kinerja Auditor pada Perwakilan Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan (2015)
adalah integritas dan etika, kompetensi, kepemimpinan, struktur organisasi, dan
sumber daya manusia berpengaruh terhadap kinerja auditor, sedangkan
37
wewenang dan tanggung jawab tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor. Hasil
penelitian Widarma Nugraha yang berjudul Pengaruh Pengendalian Intern,
Kepatuhan, dan Kompensasi Manajemen terhadap Perilaku Etis Pegawai (2015)
adalah
pengendalian
intern,
kepatuhan,
dan
kompensasi
manajemen
berpengaruh terhadap perilaku etis pegawai.
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, peneliti berpendapat bahwa
lingkungan pengendalian berpengaruh terhadap perilaku kerja aparatur sipil
negara. Oleh karena itu, hipotesis penelitian ini adalah:
H1 :
terdapat pengaruh penegakan integritas dan nilai etika secara
parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
H2 :
terdapat pengaruh komitmen terhadap kompetensi secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
H3 :
terdapat pengaruh kepemimpinan yang kondusif secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
H4 :
terdapat pengaruh pembentukan struktur organisasi yang sesuai
kebutuhan secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil
negara
H5 : terdapat pengaruh pendelegasian wewenang dan tanggung jawab
yang tepat secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil
negara
H6 :
terdapat pengaruh penyusunan dan penerapan kebijakan yang
sehat tentang pembinaan sumber daya manusia secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
H7 :
terdapat pengaruh peran aparat pengawasan internal pemerintah
yang efektif secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil
negara
38
H8
: terdapat pengaruh hubungan kerja yang baik dengan instansi
pemerintah terkait secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur
sipil negara
H9
: terdapat pengaruh komponen lingkungan pengendalian secara
simultan terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, korelasional, dan survei.
Kasiram (2008:149) dalam Erikson Damanik (2015:1) menjelaskan bahwa
“penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang
menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan
mengenai apa yang ingin diketahui”.
Muhidin dan Abdurrahman (2007: 105)
dalam Cahaya Cinta (2013:1) menjelaskan bahwa “penelitian korelasional adalah
penelitian yang bertujuan untuk mencari bukti terdapat tidaknya hubungan
(korelasi) antarvariabel, melihat tingkat keeratan hubungan antarvariabel bila
sudah ada hubungan, dan memperoleh kejelasan dan kepastian apakah
hubungan tersebut berarti (significant) atau tidak berarti (insignificant)”. Kerngiler
(1996:1) dalam Tira Nur Indah (2012:1) menjelaskan penelitian survei sebagai
berikut.
Penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar
maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang
diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian
relatif, distribusi, dan hubungan antar variabel sosiologis maupun
psikologis.
3.2
Tempat dan Waktu
Tempat penelitian ini adalah Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan
Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar. Alasan pemilihan tempat penelitian ini
adalah karena Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya
Pabean B Makassar adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,
Kementerian Keuangan yang telah mempunyai dan menjalankan lingkungan
39
40
pengendalian
dengan
terbitnya
Keputusan
Menteri
Keuangan
Nomor
152/KMK.09/2011 tentang Peningkatan Penerapan Pengendalian Intern di
Lingkungan Kementerian Keuangan dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan
Cukai Nomor 46 Tahun 2011 tentang Peningkatan Penerapan Pengendalian
Intern di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Alasan lainnya adalah
karena peneliti merupakan aparatur sipil negara Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai, Kementerian Keuangan dan tentu pernah menjadi bagian dari lingkungan
pengendalian Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan. Waktu
penelitian ini adalah pada 1 s.d. 31 Maret 2017.
3.3
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah 102 orang aparatur sipil negara Kantor
Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar.
Gay dan Diehl (1992:146) dalam Amirullah Dompu (2014:1) menjelaskan bahwa
“...ukuran sampel untuk penelitian yang bersifat korelasional adalah minimum 30
subyek....”. Sampel penelitian ini adalah 60 orang aparatur sipil negara Kantor
Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar.
Peneliti mengambil ukuran sampel dua kali lebih banyak daripada ukuran sampel
minimal penelitian korelasi menurut Gay dan Diehl dengan harapan dapat
memberikan hasil penelitian yang lebih akurat. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan pada penelitian ini adalah pengambilan sampel insidental. Sugiyono
(2011:118-127) dalam Sahid Raharjo (2013:1) menjelaskan bahwa “pengambilan
sampel insidental adalah teknik menentukan sampel berdasarkan kebetulan,
yaitu siapa saja yang secara kebetulan atau insidental bertemu dengan peneliti
dapat digunakan sebagai sampel jika orang tersebut dipandang cocok sebagai
sumber data”.
41
3.4
Jenis dan Sumber Data
Indriantoro
(2002:145-145)
dalam
Muhammad
Faisol
(2015:1)
menjelaskan jenis data penelitian sebagai berikut.
Data penelitian dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu: data subyek, data
fisik, dan data dokumenter. Data subyek adalah jenis data penelitian yang
berupa opini, sikap, pengalaman, atau karakteristik dari seseorang atau
kelompok orang yang menjadi subyek penelitian. Data ini dapat berupa
data lisan, data tertulis, dan data ekspresi. Data fisik adalah jenis data
penelitian yang berupa objek atau benda-benda fisik, antara lain dalam
bentuk bangunan atau bagian dari bangunan, pakaian, buku, dan senjata.
Data ini berupa benda berwujud yang menjadi bukti keberadaan dan
keterjadiannya. Data dokumenter adalah jenis data penelitian yang antara
lain berupa jurnal, faktur, surat-surat, notulen hasil rapat, memo, atau
dalam bentuk laporan program.
Data subyek penelitian ini adalah opini responden yaitu aparatur sipil
negara Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean
B Makassar pada kuisioner. Data dokumenter penelitian ini adalah buku, artikel,
dan peraturan terkait. Penelitian ini tidak mempunyai data fisik.
Sekaran (2006:60) dalam Muhammad Faisol (2015:1) menjelaskan
bahwa “ada dua sumber data dalam penelitian ilmiah, yaitu sumber data primer
dan sumber data sekunder”. Indriantoro (2002:146-147) dalam Muhammad
Faisol (2015:1) menjelaskan bahwa “Sumber data primer adalah sumber data
penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya, tidak melalui
media perantara. Sumber data sekunder adalah sumber data penelitian yang
diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara, diperoleh dan
dicatat oleh pihak lain”. Sumber data primer penelitian ini adalah responden
kuisioner. Sumber data sekunder penelitian ini adalah buku, artikel, dan
peraturan terkait.
3.5
Teknik Pengumpulan Data
Muhammad Faisol (2015:1) menjelaskan bahwa “teknik pengumpulan
data merupakan cara yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh data
42
penelitian yang diharapkan, baik berupa data primer atau data sekunder”.
Sekaran (2002:66) dalam Muhammad Faisol (2015:1) menjelaskan bahwa “ada
empat cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh data penelitian, yaitu:
wawancara, kuisioner, observasi, dan mutivasional”. Data primer penelitian ini
dikumpulkan menggunakan kuisioner. Muhammad Faisol (2015:1) menjelaskan
bahwa “kuisioner merupakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan
daftar pertanyaan tertulis yang telah dirumuskan sebelumnya yang akan
responden jawab, biasanya dalam alternatif yang didefinisikan dengan jelas”.
Kuisioner diberikan kepada 60 aparatur sipil negara Kantor Pengawasan dan
Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar menggunakan teknik
pengambilan sampel insidental. Data sekunder penelitian ini dikumpulkan oleh
peneliti dari buku, artikel, dan peraturan terkait. Peneliti melakukan pengumpulan
data tersebut sendiri. Waktu pengumpulan data adalah pada 1 s.d 31 Maret
2017.
3.6
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah:
1. Variabel independen :
X1 :
penegakan integritas dan nilai etika
X2 :
komitmen terhadap kompetensi
X3 :
kepemimpinan yang kondusif
X4 :
pembentukan struktur organisasi yang sesuai kebutuhan
X5 :
pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
X6 : penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang
pembinaan sumber daya manusia
X7 :
X8
peran aparat pengawasan internal pemerintah yang efektif
: hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait
43
2. Variabel dependen : perilaku kerja aparatur sipil negara.
Beberapa definisi operasional penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penegakan integritas dan nilai etika
Pembuatan kode perilaku oleh pimpinan instansi pemerintah untuk
dilaksanakan oleh semua aparatur sipil negara instansi pemerintah
tersebut dalam rangka mewujudkan aparatur sipil negara yang
memiliki integritas dan nilai etika
2. Komitmen terhadap kompetensi
Penentuan tingkat kompetensi yang dibutuhkan instansi pemerintah,
penilaian kompetensi aparatur sipil negara, penempatan aparatur sipil
negara dengan kompetensi yang tepat di jabatan yang tepat, dan
pelatihan aparatur sipil negara untuk meningkatkan kompetensinya
oleh pimpinan instansi pemerintah
3. Kepemimpinan yang kondusif
Pimpinan instansi pemerintah mempertimbangkan risiko dalam
pengambilan keputusan; menerapkan manajemen berbasis kinerja
dan sistem pengendalian internal pemerintah; melakukan interaksi
yang intensif dengan pejabat di bawahnya; dan merespon positif
pelaporan terkait keuangan, penganggaran, program, dan kegiatan
4. Pembentukan struktur organisasi yang sesuai kebutuhan
Pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan ukuran dan
sifat kegiatan instansi pemerintah dan memberi kejelasan wewenang
dan tanggung jawab dalam instansi pemerintah
5. Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
Wewenang diberikan kepada pegawai yang tepat sesuai dengan
tingkat tanggung jawabnya dalam rangka pencapaian tujuan instansi
44
pemerintah
6. Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan
sumber daya manusia
Penetapan kebijakan dan prosedur sejak rekrutmen sampai dengan
pemberhentian aparatur sipil negara
7. Peran aparat pengawasan internal pemerintah yang efektif
Aparat
pengawasan
internal
instansi
pemerintah
memberikan
keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan
efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas
dan
fungsi
instansi pemerintah
8. Hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait
Adanya mekanisme saling uji antar instansi pemerintah terkait
9. Perilaku kerja aparatur sipil negara
Setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan oleh aparatur
sipil negara atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
3.7
Instrumen Penelitian
Ummi Kholifah (2013:1) menjelaskan bahwa “pengumpulan data dan
instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk meneliti dan
mengumpulkan data dan disajikan dalam bentuk sistematis guna memecahkan
masalah atau menguji suatu hipotesis”. Sugiyono (2012:137) dalam Ummi
Kholifah (2013:1) menjelaskan bahwa “teknik pengumpulan data kuantitatif dapat
dilakukan dengan cara wawancara, kuisioner, dan observasi”. Instrumen
penelitian ini adalah kuisioner. Ummi Kholifah (2013:1) menjelaskan bahwa
“kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
45
memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden
untuk dijawabnya”.
Kuisioner penelitian ini mengadopsi kuisioner penelitian Tyara Galuh
Amandita yang berjudul Pengaruh Lingkungan Pengendalian terhadap Kinerja
Auditor di Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi
Sulawesi Selatan (2015). Kuisioner penelitian ini berisi isian data responden dan
35 pernyataan yang setiap pernyataannya mempunyai lima pilihan pendapat
responden berdasarkan skala likert, yaitu: sangat setuju, setuju, netral, tidak
setuju, dan sangat tidak setuju. Febrina Kaban (2010:1) menjelaskan skala likert
sebagai berikut.
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan
skala likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator
variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan titik tolak untuk menyusun
item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan.
Jawaban setiap item menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari
sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara
lain: Sangat Penting (SP), Penting (P), Ragu-ragu (R), Tidak Penting
(TP), dan Sangat Tidak Penting (STP).
3.8
Analisis Data
Data penelitian ini dianalisis dengan alat uji statistik. Alat uji statistik yang
digunakan pada penelitian ini terdiri atas statistik deskriptif; uji normalitas data; uji
kualitas data yang terdiri dari uji validitas data dan uji reliabilitas data; uji asumsi
klasik yang terdiri dari uji heteroskedastisitas dan uji multikolinieritas; dan uji
hipotesis yang terdiri dari uji koefisien determinasi, uji T, dan uji F.
3.8.1 Statistik Deskriptif
Ghozali (2005:19) dalam Nurdiyana (2008:29) menjelaskan bahwa
“statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan data dalam bentuk
kuantitatif dengan tidak menyertakan pengambilan keputusan melalui hipotesis”.
46
Sugiyono (2009:1) dalam Dika dan Taufik (2016:2) menjelaskan statistik deskriptif
sebagai berikut.
Statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan
atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel
atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan
membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. pada statistik deskriptif
ini akan dikemukakan cara-cara penyajian data, dengan tabel biasa
maupun distribusi frekuensi; grafik garis maupun batang; diagram
lingkaran; pictogram; penjelasan kelompok melalui modus, median, mean,
dan variasi kelompok melalui rentang dan simpang baku.
3.8.2 Uji Normalitas Data
Tyara Galuh Amandita (2015:34) menjelaskan bahwa “uji normalitas data
bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel terikat dan variabel
bebas, keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak”. Ghozali (2005: 110)
dalam Nurdiyana (2008:29) menjelaskan uji normalitas sebagai berikut.
Normalitas data dapat dilihat analisis grafik dengan melihat normal
probability plot. Dengan cara membandingkan distribusi kumulatif dari
distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus
diagonal. Dasar pengambilan keputusan yaitu:
1) Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal, maka menunjukkan pola distribusi normal sehingga model
regresi memenuhi asumsi normalitas;
2) Jika data menyebar jauh dari diagonal dan atau tidak mengikuti arah
garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas
data.
3.8.3 Uji Kualitas Data
Tyara
Galuh Amandita
(2015:33)
menjelaskan bahwa “komitmen
pengukuran dan pengujian suatu kuisioner atau hipotesis sangat bergantung
pada kualitas data yang dipakai dalam pengujian tersebut”. Uji kualitas data
terdiri dari uji validitas data dan uji reliabilitas data.
3.8.3.1 Uji Validitas Data
Indriantoro dan Supomo (2002: 181) dalam Nurdiyana (2008:29)
menjelaskan bahwa “uji validitas data dimaksudkan untuk mengukur sejauh
mana instrumen dapat mengukur sebuah construct. Suatu instrumen dikatakan
47
valid jika instrumen tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur”. Santoso
(2001: 168) dalam Nurdiyana (2008:30) menjelaskan bahwa “pengujian ini
menggunakan pearson correlation, jika korelasi antara skor masing-masing butir
pertanyaan dengan total skor mempunyai tingkat signifikansi di bawah 0,005
maka butir pertanyaan tersebut dapat dikatakan valid”.
3.8.3.2 Uji Reliabilitas Data
Santoso
(2001:183)
dalam
Nurdiyana
(2008:30)
menjelaskan
uji
reliabilitas data sebagai berikut.
Uji reliabilitas data berfungsi untuk mengukur ketepatan dan akurasi suatu
alat ukur sehingga menghasilkan instrumen yang stabil, tidak berubahubah dan dapat diandalkan karena penggunaan instrumen tersebut
berkali-kali menghasilkan hasil yang serupa.
Ghozali (2005: 130) dalam Nurdiyana (2008:30) menjelaskan bahwa
“hasil pengujian reabilitas akan menghasilkan cronbach alpha. Suatu construct
atau variabel dikatakan reliable jika memberikan nilai cronbach alpha > 0,60”.
3.8.4 Uji Asumsi Klasik
Nurdiyana (2008:30) menjelaskan bahwa “model regresi linear yang baik
selain harus memenuhi asumsi normalitas data, juga harus terbebas dari asumsiasumsi klasik statistik”. Uji asumsi klasik terdiri dari uji heteroskedastisitas dan uji
multikolinieritas.
3.8.4.1 Uji Heteroskedastisitas
Ghozali (2005:105) dalam Nurdiyana (2008:30) menjelaskan definisi
heteroskedastisitas sebagai berikut.
Heteroskedastisitas terjadi jika residual tidak memiliki varian yang
konstan. Model regresi yang baik adalah model yang memiliki persamaan
varian residual suatu periode pengamatan ke periode pengamatan yang
lain, sehingga model itu dapat dikatakan homokedastisitas.
Ghozali
(2005:105)
dalam
heteroskedastisitas sebagai berikut.
Nurdiyana
(2008:31)
menjelaskan
uji
48
Cara memprediksi ada tidaknya heteroskedastisitas pada suatu model
dapat dilihat dari pola gambar scatterplot model tersebut. Analisis pada
gambar scatterplot yang menyatakan model regresi linear berganda tidak
terdapat heteroskedastisitas jika:
1) Titik-titik data menyebar di atas, di bawah, atau di sekitar 0;
2) Titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja;
3) Penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang
melebar kemudian menyempit dan melebar kembali; dan
4) Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola.
3.8.4.2 Uji Multikolinieritas
Ghozali (2005:91-92) dalam Nurdiyana (2008:31) menjelaskan tujuan uji
multikolinieritas sebagai berikut.
Uji statistik multikolinieritas diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya
variabel independen yang memiliki kemiripan dengan variabel independen
lain dalam satu model. Juga bertujuan untuk menghindari kebiasaan
dalam proses pengambilan kesimpulan mengenai pengaruh pada uji
parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.
Ghozali (2005:91-92) dalam Nurdiyana (2008:31) menjelaskan cara uji
multikolinieritas sebagai berikut.
Deteksi multikolinieritas pada suatu model dapat dikatakan terbebas dari
beberapa hal, salah satunya adalah jika nilai variance inflation factor (VIF)
tidak lebih besar dari 10 dan nilai toleransi tidak kurang dari 0,1. Maka
model dapat dikatakan terbebas dari multikolinieritas.
3.8.5 Uji Hipotesis
Nurdiyana (2008:32) menjelaskan uji hipotesis sebagai berikut.
Hipotesis diuji dengan menggunakan multiple regression analysis dengan
uji interaksi. Uji ini dilakukan jika suatu penelitian merupakan eksistensi
dari metode regresi dalam analisis bivariate yang umumnya digunakan
untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap
variabel dependen dengan skala pengukuran interval dalam suatu
persamaan linear. Fokusnya adalah pada signifikansi dan sifat pengaruh
interaksi yang ada dalam persamaan tersebut.
Uji hipotesis pada penelitian ini terdiri dari uji koefisien determinasi, uji T,
dan uji F.
49
3.8.5.1 Uji Koefisien Determinasi
Ghozali (2005:83) dalam Nurdiyana (2008:32) menjelaskan uji koefisien
determinasi, yaitu “Koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui seberapa
besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen. Nilai R
Square dikatakan baik jika di atas 0,5 karena nilai R Square antara 0 sampai 1”.
Priyatno (2010:146) dalam Siti Lailis Shoimah (2015:52) menjelaskan bahwa
“...Koefisien determinasi (R2) dapat diperoleh suatu nilai untuk mengukur
besarnya sumbangan dari beberapa variabel X terhadap variasi naik turunnya
variabel Y”.
3.8.5.2 Uji T (T- Test)
Ghozali (2005:84) dalam Nurdiyana (2008:33) menjelaskan uji T sebagai
berikut.
Untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel
independen secara individual (parsial) terhadap variabel dependen. Hasil
uji pada output SPSS dapat dilihat pada tabel coefficient. Nilai dari uji ttest dapat dilihat dari 1-value (pada kolom sig.) pada masing-masing
variabel independen, jika p-value lebih kecil dari level of significant yang
ditentukan (p-value < 0,05), atau t hitung (pada kolom t) lebih besar dari t
tabel (dihitung dari two-tailed α = 5% df-k, k merupakan jumlah variabel
independen) maka dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh
signifikan dan terdapat pengaruh antara masing-masing variabel
dependen dan independen.
Priyatno (2010:142) dalam Siti Lailis Shoimah (2015:51) menjelaskan uji T
sebagai berikut.
Cara pengujian parsial variabel independen adalah menggunakan rumus
sebagai berikut.
bi
t = ---------Se (bi)
Keterangan:
t
: tes signifikan dengan angka korelasi
bi
: koefisien regresi
Se (bi) : standard error dari koefisien korelasi
(2)
50
Formulasi hipotesis uji T:
1. Ho : bi sama dengan 0,1 = 1,2,3
Ho diterima dan Ha ditolak, tidak ada pengaruh secara parsial
(individu) antara variabel independen (X) terhadap variabel dependen
(Y).
2. Ha : bi tidak sama dengan 0,1 = 1,2,3
Ho ditolak dan Ha diterima, ada pengaruh secara parsial (individu)
antara variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y).
3. Level of significane 2,5%
4. Kriteria pengambilan keputusan:
a. Jika t tabel kurang dari atau sama dengan t hitung yang kurang dari
atau sama dengan t tabel : Ho diterima berarti tidak ada pengaruh
secara parsial antara variabel independen terhadap variabel
dependen.
b. Jika t hitung lebih besar dari t tabel atau t hitung kurang dari t tabel :
Ho ditolak berarti ada pengaruh secara parsial antara variabel
independen terhadap variabel dependen.
3.8.5.3 Uji F (F Test)
Ghozali (2005:84) dalam Nurdiyana (2008:32) menjelaskan uji F sebagai
berikut.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel
independen secara bersama-sama (simultan) dapat berpengaruh
terhadap variabel dependen. Pengujian ini dilakukan menggunakan
distribusi F dengan membandingkan antara nilai kritis F dengan nilai F
test (F ratio) yang terdapat pada tabel analysis of variance (ANOVA) dari
hasil perhitungan.
Ghozali (2011:84) dalam Dika dan Taufik (2016:3) menjelaskan uji F
sebagai berikut.
Uji F adalah uji kelayakan model yang harus dilakukan dalam analisis
regresi linear. Uji ini menggunakan tabel ANOVA dengan menggunakan
tingkat signifkan 0,05. Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan
perbandingan F hitung dan F tabel dengan kriteria sebagai berikut:
1. F hitung > F tabel : maka Ha diterima dan Ho ditolak yang
berarti
bahwa model regresi layak digunakan dalam penelitian
2. F hitung < F tabel : maka Ha ditolak dan Ho diterima berarti bahwa
model regresi tidak layak untuk digunakan dalam penelitian.
BAB V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada penelitian ini,
peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Terdapat pengaruh penegakan integritas dan nilai etika secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
2. Terdapat pengaruh komitmen terhadap kompetensi secara parsial
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
3. Terdapat pengaruh kepemimpinan yang kondusif secara parsial terhadap
perilaku kerja aparatur sipil negara
4. Terdapat pengaruh pembentukan struktur organisasi yang sesuai
kebutuhan secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
5. Terdapat pengaruh pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang
tepat secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
6. Terdapat pengaruh penyusunan dan penetapan kebijakan yang sehat
tentang pembinaan sumber daya manusia secara parsial terhadap
perilaku kerja aparatur sipil negara
7. Terdapat pengaruh peran aparat pengawasan internal pemerintah yang
efektif secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
8. Terdapat pengaruh hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah
terkait secara parsial terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
9. Terdapat pengaruh komponen lingkungan pengendalian secara simultan
terhadap perilaku kerja aparatur sipil negara
76
77
5.2.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.
Ruang lingkup penelitian ini terbatas di Kantor Pengawasan dan
Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar yang
merupakan satu dari sekian banyak instansi vertikal Kementerian
Keuangan yang mempunyai lingkungan pengendalian internal sehingga
hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan ke semua instansi
pemerintah;
2.
Dalam penelitian ini, jumlah sampel yang diteliti relatif kecil, yaitu hanya
sebanyak 42 sampel sehingga hasil penelitian ini tidak seakurat hasil
penelitian yang memiliki sampel lebih banyak.
5.3.
Saran
Berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan penelitian di atas, peneliti
memberi saran sebagai berikut.
1. Sebaiknya penelitian selanjutnya dilakukan dengan ruang lingkup yang
lebih
luas
sehingga
mampu
memberikan
hasil
yang
dapat
digeneralisasikan ke semua instansi pemerintah;
2. Sebaiknya penelitian selanjutnya dilakukan dengan sampel yang lebih
banyak sehingga mampu memberikan hasil yang lebih akurat;
3. Diharapkan pimpinan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai
Tipe Madya Pabean B Makassar dapat mewujudkan dan memelihara
lingkungan pengendalian yang lebih baik agar perilaku kerja aparatur sipil
negara menjadi lebih baik;
4. Diharapkan semua aparatur sipil negara Kantor Pengawasan dan
Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar dapat
beradaptasi
dengan
lingkungan
pengendalian
sehingga.perilaku kerjanya menjadi lebih baik.
yang
lebih
baik,
DAFTAR PUSTAKA
Amandita, Tyara Galuh. 2015. Pengaruh Lingkungan Pengendalian terhadap
Kinerja Auditor pada Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar: Universitas
Hasanuddin.
Amir, Kusuma Agrianto. 2014. Pengaruh Kepatuhan Pengendalian Intern
terhadap Perilaku Etis Karyawan Dalam Sistem Penggajian.
Makassar: Universitas Hasanuddin.
Anugerah, Chiantal. 2016. Pengaruh Audit Manajemen terhadap Perilaku
Pegawai pada PT Semen Tonasa. Makassar: Universitas
Hasanuddin.
Chen, Clara Xiaoling and Tatiana Sandino. 2008. Do Internal Control Mitigate
Employee Theft In Chain Organization? USA: University of Illinois at
Urbana-Champaign and University of Southern California.
Cinta, Cahaya. 2013. Penelitian Korelasi: Pendekatan Korelasional, (Online),
(http://cahayacintablog.blogspot.co.id/2013/02/penelitiankorelasi.html, diakses 6 November 2016).
Citra, Ella Leni. 2014. Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap KInerja Melalui
Perilaku Kerja (Working Behavior) Karyawan pada Asuransi Jiwa
Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Jember. Jember:
Universitas Jember.
Collier, Paul M., Andrew Berry, dan Gary T. Burke. 2007. Risk and Management
Accounting, Best Practise Guidelines for Enterprises-Wide Internal
Control Procedures. USA: Elsevier, Ltd.
Damanik,
Erikson. 2015. Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, (Online),
(http://soddis.blogspot.com/2015/04/penelitian-kuantitatif-dankualitatif. html, diakses 24 November 2016)
Dika dan Taufik. 2016. Pengaruh Pengendalian Internal terhadap Kinerja
Karyawan Pelayanan Medis pada Puskesmas Kabupaten Jember.
Jember: Universitas Jember.
Dompu,
Faisol,
Amirullah.
2014.
Menentukan
Ukuran
Sampel,
(Online),
(https://sinarakademikamalang.wordpress.com/2014/08/13/menentuk
an-jumlah-sampel, diakses 6 November 2016).
Muhammad.
2015.
Metode
Pengumpulan
Data,
(http://semangadmu.blogspot.com/2015/01/metodepengumpulandata. html, diakses 6 November 2016).
(Online),
Graham, Lynford. 2008. Internal Control, Guidance for Private, Government, and
Nonprofit Entities. USA: John Wiley & Sons, Inc.
78
79
Indah,
Tira Nur. 2012. Makalah Metode Penelitian Survei, (Online),
(http://tiranurindah.blogspot.com/2012/03/makalah-metode-penelitiansurvei.html, diakses 6 November 2016).
Jayanti, Ni Putu Indah dan Ni Ketut Rasmini. 2013. Pengaruh Pengendalian
Intern, Motivasi, dan Reward Manajemen pada Perilaku Etis
Konsultan. Bali: Universitas Udayana.
Kaban,
Febrina.
2010.
Pengertian
Skala
Likert,
(Online),
(http://bidanshop.blogspot.com/2010/01/pengertian-skala-likert.html,
diakses 3 Desember 2016)
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 152/KMK.09/2011 tentang Peningkatan
Penerapan Pengendalian Intern di Lingkungan Kementerian
Keuangan. 2011. Jakarta: Kementerian Keuangan.
Kholifah, Ummi. 2013. Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian, (Online),
(https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/pengumpulandata-dan-instrumen-penelitian, diakses 3 Desember 2016).
Larasatri, Dewi. 2016. Korelasi Implementasi Sistem Presensi Sidik Jari
(Fingerprint) Online dan Kedisiplinan terhadap Perubahan Perilaku
Kerja Pegawai. Jember: Universitas Jember.
Moeller, Robert. 2009. Brink's Modern Internal Auditing, A Common Body of
Knowledge, 7th Edition. USA: John Wiley & Sons, Inc.
Nugraha, Widarma. 2015. Pengaruh Pengendalian Intern, Kepatuhan, dan
Kompensasi Manajemen terhadap Perilaku Etis Pegawai (Studi
Kasus pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset
Daerah Wonogiri). Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Nurdiyana. 2008. Pengaruh Struktur Pengendalian Intern terhadap Kepatuhan
Wajib Pajak Badan Dalam Memenuhi Kewajiban Pajak
Penghasilannya Dengan Akuntabilitas Kinerja Sebagai Variabel
Moderating. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 46 Tahun 2011 tentang
Peningkatan Penerapan Pengendalian Intern di Lingkungan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 2011. Jakarta: Direktorat Jenderal
Bea dan Cukai.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah. 2008. Jakarta: Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2011 tentang
Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil. 2011. Jakarta: Badan
Kepegawaian Negara.
Prasetyo, Andi Eko. 2011. Pengaruh Budaya Kerja terhadap Perilaku Kerja dan
Kinerja Karyawan pada PT Bank Pembangunan Daerah (BPD)
80
Banyuwangi. Jember: Universitas Jember.
Raharjo, Sahid. 2013. Teori Sampel dan Sampling Penelitian, (Online),
(http://www.konsistensi.com/2013/04/teori-sampel-dan-samplingpenelitian.html, diakses 6 November 2016).
Robbins, Stephen P. and Timothy A. Judge. 2013. Organizational Behavior, 15th
Edition. USA: Pearson Education, Inc.
Said, Darwis, Ria Mardiana, dan Rahmatia. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi.
Makassar: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.
Sanyoto, Drajat Hadi. 2002. Pengaruh Tekanan Pekerjaan terhadap Perilaku dan
Kepuasan Kerja Karyawan Administrasi dan Operasional pada PT
Rengganis Perdana Argomindo Cabang Jember. Jember: Universitas
Jember.
Sofianingsih, Dewi. 2017. Pengaruh Komponen Struktur Pengendalian Internal
Untuk Mencegah Kecurangan pada Perusahaan. Surabaya:
Universitas Negeri Surabaya.
Shoimah, Siti Lailis. 2015. Pengaruh Pengendalian Internal terhadap Kinerja
Karyawan Hotel di Kabupaten Jember. Jember: Universitas Jember.
Tierney, Cornelius E., Roldan Fernandez, dan Michael J. Ramos. 2006. OMB
Circular A-123 and Sarbanes-Oxley, Management's Responsibility for
Internal Control in Federal Agencies. USA: John Wiley & Sons, Inc.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara. 2014. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Wahyuni,
Yoon.
Dewi.
2014.
Pengendalian
Internal
(COSO),
(Online),
(http://wahyunidewi77.blogspot.com/2014/11/pengendalian-internalcoso.html, diakses 6 November 2016).
2013. Definisi Perilaku, (Online), (http://yoonhyewon.blogspot.com
/2013/05/definisi-perilaku.html, diakses 26 Februari 2017).
LAMPIRAN
81
82
Lampiran 1
BIODATA
Identitas Diri
Nama
Tempat, Tanggal Lahir
Jenis Kelamin
Alamat Rumah
Telepon Rumah dan HP
Alamat E-mail
: Mardito Galih Pringgodani
: Kediri, 6 Maret 1991
: Laki-laki
: Delta Raya Timur No.31, RT 27, RW 6, Ngingas,
Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
: 082245757261
: [email protected]
Riwayat Pendidikan
Pendidikan Formal:
1. SDN Kepuh Kriman 1
2. SMPN 1 Waru
3. SMAN 1 Sidoarjo
4. D3 Keuangan Spesialisasi Kepabeanan dan Cukai Sekolah
Tinggi Akuntansi Negara
Pendidikan Informal
:
1. Kursus Bahasa Inggris KELT
2. Diklat Prajabatan Golongan II Kementerian Keuangan
3. DTU Kesamaptaan Kementerian Keuangan
4. DTU Basic English Kementerian Keuangan
5. DTSS Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja Kementerian
Keuangan
6. Workshop Frontliners for Customs Officers Kementerian
Keuangan
7. DTSS Perencanaan Barang Milik Negara Kementerian
Keuangan
Riwayat Prestasi
Prestasi Akademik
:
1. Peringkat 1 Kelas 3, 4, 5, dan 6 SDN Kepuh Kiriman 1
2. Peringkat 1 Nilai Ujian Akhir Sekolah SDN Kepuh Kiriman 1
3. Juara 2 Lomba IPA Tingkat SD Se-Kecamatan Waru
4. Juara Harapan 3 Lomba Mata Pelajaran Ujian Nasional Tingkat
SMP Se-Kabupaten Sidoarjo
5. Juara 3 Lomba IPU Tingkat SMP Smala Science and English
Competition
Prestasi Non Akademik
:-
83
Pengalaman
Organisasi
:
1. Bendahara II Koperasi Siswa SMPN 1 Waru
2. Anggota Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Insani Ikatan
Mahasiswa
Muslim Bea dan Cukai
3. Ketua Bidang Ibadah, Dakwah, dan Syiar Islam Dewan
Kemakmuran Masjid
Baitut Taubah Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Bali, Nusa Tenggara
Barat, dan Nusa Tenggara Timur
Kerja
:
Pelaksana Pemeriksa Kantor Pengawasan dan Pelayanan
Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Ngurah Rai
Demikian biodata ini dibuat dengan sebenarnya.
Makassar, 8 Juni 2017
Mardito Galih Pringgodani
Lampiran 2
PETA TEORI
No.
Penulis/Topik/Judul
Buku/Artikel
Tujuan Penulisan/
Konsep/Teori /Hipotesis
Penulisan Buku/Artikel
1
Amandita, Tyara Galuh.
2015. Pengaruh
Lingkungan Pengendalian
terhadap Kinerja Auditor
pada Perwakilan Badan
Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan
Provinsi Sulawesi Selatan
Menganalisis pengaruh
lingkungan pengendalian
yang terdiri dari dimensi
integritas dan nilai etika,
kompetensi,
kepemimpinan, struktur
organisasi, wewenang
dan tanggung jawab, dan
sumber daya manusia
terhadap kinerja auditor
pada Perwakilan Badan
Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan
Provinsi Sulawesi Selatan
Teori kinerja menurut
Simamora (1995) dan
Timpe (2000) dan konsep
pengendalian internal/
Integritas dan etika,
kompetensi,
kepemimpinan, struktur
organisasi, wewenang
dan tanggung jawab, dan
sumber daya manusia
berpengaruh terhadap
kinerja auditor
2
Collier, Paul M., Andrew
Berry, dan Gary T. Burke.
2007. Risk and
Management Accounting,
Best Practise Guidelines
for Enterprises-Wide
Menjelaskan konsep
pengendalian internal
Konsep pengendalian
internal
Variabel Penelitian dan
Teknik Analisis
Hasil Penelitian/Isi Buku
Variabel independen:
integritas dan nilai etika,
kompetensi,
kepemimpinan, struktur
organisasi, wewenang dan
tanggung jawab, sumber
daya manusia, dan
lingkungan pengendalian.
Variabel dependen: kinerja
auditor.
Teknik analisis: uji kualitas
data (uji validitas dan uji
reliabilitas), uji asumsi
klasik (uji normalitas, uji
multikolinearitas, dan uji
heteroskedastisitas), dan
uji hipotesis (uji t)
Integritas dan etika,
kompetensi,
kepemimpinan, struktur
organisasi, dan sumber
daya manusia
berpengaruh terhadap
kinerja auditor,
sedangkan wewenang
dan tanggung jawab tidak
berpengaruh terhadap
kinerja auditor
-
Kerangka pengendalian
internal menurut COSO
terdiri dari lima
komponen, yaitu:
lingkungan pengendalian,
penilaian risiko, aktivitas
84
Internal Control
Procedures
pengendalian, informasi
dan komunikasi, dan
pemantauan
3
Amir, Kusuma Agrianto.
2014. Pengaruh
Kepatuhan Pengendalian
Intern terhadap Perilaku
Etis Karyawan Dalam
Sistem Penggajian
Mengetahui pengaruh
kepatuhan pengendalian
intern terhadap perilaku
etis karyawan dalam
sistem penggajian pada
karyawan Ketahanan
Pangan Kota Makassar
Teori perilaku/ Kepatuhan
pengendalian intern
berpengaruh terhadap
perilaku etis karyawan
dalam sistem penggajian
Variabel independen:
lingkungan pengendalian,
penaksiran risiko, aktivitas
pengendalian, imformasi
dan komunikasi, dan
pemantauan
Variabel dependen:
perilaku etis karyawan
dalam sistem penggajian
Teknik analisis: uji kualitas
data (validitas dan
reliabilitas), analisis
deskriptif, analisis
kuantitatif, uji hipotesis
Pengendalian intern tidak
berpengaruh terhadap
perilaku etis karyawan
dalam sistem penggajian
4
Anugerah, Chiantal. 2016.
Pengaruh Audit
Manajemen terhadap
Perilaku Pegawai pada PT
Semen Tonasa
Mengetahui pengaruh
audit manajemen
terhadap motivasi dan
stress pegawai pada PT
Semen Tonasa
Teori motivasi/ Audit
manajemen berpengaruh
terhadap motivasi dan
stress pegawai
Variabel independen: audit
manajemen
Variabel dependen:
motivasi pegawai, stress
pegawai
Teknik analisis: uji kualitas
data (validitas dan
reliabilitas), uji asumsi
klasik (normalitas,
heteroskedastisitas), uji
hipotesis (uji T, analisis
regresi linear sederhana)
Audit manajemen
berpengaruh terhadap
motivasi pegawai tetapi
tidak berpengaruh
terhadap stress pegawai
5
Graham, Lynford. 2008.
Mengembangkan
Internal Control, Guidance pemahamaan tentang
for Private, Government,
pengendalian internal,
-
Kerangka pengendalian
internal menurut COSO
terdiri dari lima
Konsep pengendalian
internal
85
and Nonprofit Entities
penggunaan kerangka
COSO untuk memahami
dan menilai pengendalian
internal, dan masalah
dasar pengendalian
internal
6
Moeller, Robert, 2009,
Brink's Modern Internal
Auditing, A Common Body
of Knowledge, 7th Edition
Menjelaskan review
pengendalian internal
berdasarkan persyaratan
Sarbanes-Oxley Act dan
beberapa kerangka
sistem pengendalian
internal
Konsep pengendalian
internal
7
Chen, Clara Xiaoling and
Tatiana Sandino. 2008. Do
Internal Control Mitigate
Employee Theft In Chain
Organization?
Menginvestigasi
efektivitas dua jenis
pengendalian internal,
yaitu formal monitoring
dan mutual monitoring
Konsep pengendalian
internal/ formal
monitoring dan mutual
monitoring berhubungan
negatif dengan pencurian
oleh pegawai, pergantian
pegawai berhubungan
positif dengan pencurian
oleh pegawai, formal
monitoring dan mutual
monitoring mengurangi
kekuatan hubungan
pergantian pegawai
dengan pencurian oleh
pegawai
8
Citra, Ella Leni. 2014.
Pengaruh Lingkungan
Mengetahui pengaruh
Teori perilaku/
lingkungan kerja terhadap Lingkungan kerja
komponen, yaitu:
lingkungan pengendalian,
penilaian risiko, aktivitas
pengendalian, informasi
dan komunikasi, dan
pemantauan
-
Kerangka pengendalian
internal menurut COSO
terdiri dari lima
komponen, yaitu:
lingkungan pengendalian,
penilaian risiko, aktivitas
pengendalian, informasi
dan komunikasi, dan
pemantauan
Variabel independen:
pergantian pegawai
Variabel moderating:
formal monitoring dan
mutual monitoring
Variabel dependen:
pencurian oleh pegawai
Mutual monitoring
mengurangi pencurian
secara langsung,
sedangkan formal
monitoring mencegah
pencurian secara tidak
langsung dengan
mengurangi kekuatan
hubungan pergantian
karyawan dengan
pencurian oleh karyawan
Variabel independen:
lingkungan kerja
Lingkungan kerja
berpengaruh positif dan
86
Kerja terhadap KInerja
Melalui Perilaku Kerja
(Working Behavior)
Karyawan pada Asuransi
Jiwa Bersama (AJB)
Bumiputera 1912 Cabang
Jember
kinerja melalui perilaku
kerja karyawan AJB
Bumiputera 1912 Cabang
Jember
berepengaruh positif dan
signifikan terhadap
kinerja melalui perilaku
kerja karyawan AJB
Bumiputera 1912
Cabang Jember
Variabel moderating:
perilaku kerja karyawan
Variabel dependen: kinerja
karyawan
Teknik analisis: uji
instrument, uji normalitas
data, analisis jalur, uji
asumsi klasik, uji hipotesis,
model trimming, kerangka
pemecahan masalah
signifikan terhadap kinerja
melalui perilaku kerja
karyawan AJB
Bumiputera 1912 Cabang
Jember
9
Jayanti, Ni Putu Indah dan
Ni Ketut Rasmini. 2013.
Pengaruh Pengendalian
Intern, Motivasi, dan
Reward Manajemen pada
Perilaku Etis Konsultan
Mengetahui pengaruh
pengendalian intern,
motivasi, dan reward
manajemen pada perilaku
etis konsultan PT Orindo
Alam Ayu Cabang Bali
Teori perilaku/
Pengendalian intern,
motivasi, dan reward
manajemen masingmasing berpengaruh
signifikan pada perilaku
etis konsultan PT Orindo
Alam Ayu
Variabel independen:
pengendalian intern,
motivasi, dan reward
manajemen
Variabel dependen:
perilaku etis konsultan
Teknik analisis: uji validitas,
uji reliabilitas, uji
multikolinearitas, uji
heteroskedastisitas,
analisis regresi linear
berganda, uji F, uji T,
Pengendalian intern,
motivasi, dan reward
manajemen masingmasing berpengaruh
signifikan pada perilaku
etis konsultan PT Orindo
Alam Ayu Cabang Bali
10
Tierney, Cornelius E.,
Roldan Fernandez, dan
Michael J. Ramos. 2006.
OMB Circular A-123 and
Sarbanes-Oxley,
Management's
Responsibility for Internal
Control in Federal
Agencies
Menjelaskan proses
identifikasi tujuan
pengendalian signifikan
dalam keseluruhan
kerangka COSO
Konsep pengendalian
internal
-
Kerangka pengendalian
internal menurut COSO
terdiri dari lima
komponen, yaitu:
lingkungan pengendalian,
penilaian risiko, aktivitas
pengendalian, informasi
dan komunikasi, dan
pemantauan
11
Larasatri, Dewi. 2016.
Mengkaji korelasi antara
Teori perilaku/
Variabel independen:
Implementasi sistem
87
Korelasi Implementasi
Sistem Presensi Sidik Jari
(Fingerprint) Online dan
Kedisiplinan terhadap
Perubahan Perilaku Kerja
Pegawai
implementasi sistem
informasi presensi sidik
jari dan kedisiplinan
pegawai terhadap
perubahan perilaku kerja
pegawai
Implementasi sistem
presensi sidik jari online
mempengaruhi
kedisiplinan kerja
pegawai, sehingga
mengakibatkan
perubahan perilaku kerja
pegawai berupa adanya
semangat disiplin kerja
yang lebih baik pasca
diterapkannya presensi
sidik jari online
implementasi system
presesnsi sidik jari online
dan kedisiplinan
Variabel dependen:
perilaku kerja pegawai
Teknik analisis: analisis
deskriptif
presensi sidik jari online
mempengaruhi
kedisiplinan kerja
pegawai, sehingga
mengakibatkan
perubahan perilaku kerja
pegawai berupa adanya
semangat disiplin kerja
yang lebih baik pasca
diterapkannya presensi
sidik jari online
12
Nugraha, Widarma. 2015.
Pengaruh Pengendalian
Intern, Kepatuhan, dan
Kompensasi Manajemen
terhadap Perilaku Etis
Pegawai (Studi Kasus
pada Dinas Pendapatan,
Pengelolaan Keuangan
dan Aset Daerah
Wonogiri)
Menganalisis pengaruh
pengendalian intern,
kepatuhan, dan
kompensasi manajemen
terhadap perilaku etis
pegawai
Teori perilaku/
Pengendalian intern,
kepatuhan, dan
kompensasi manajemen
berpengaruh terhadap
perilaku etis pegawai
Variabel independen:
Pengendalian intern,
kepatuhan, dan
kompensasi manajemen
Variabel dependen:
perilaku etis pegawai
Teknik analisis: analisis
regresi linear berganda, uji
T, uji F, koefisien
determinasi
Pengendalian intern,
kepatuhan, dan
kompensasi manajemen
berpengaruh terhadap
perilaku etis pegawai
13
Prasetyo, Andi Eko. 2011.
Pengaruh Budaya Kerja
terhadap Perilaku Kerja
dan Kinerja Karyawan
pada PT Bank
Pembangunan Daerah
(BPD) Banyuwangi
Mengetahui pengaruh
dari budaya kerja
(eksplisit dan implisit)
terhadap perilaku kerja
dan kinerja karyawan
pada PT Bank
Pembangunan Daerah
(BPD) Banyuwangi
Teori perilaku/ Budaya
kerja (eksplisit dan
implisit) berpengaruh
terhadap perilaku kerja
dan kinerja karyawan
pada PT Bank
Pembangunan Daerah
(BPD) Banyuwangi
Variabel independen:
budaya kerja
Variabel dependen:
perilaku kerja dan kinerja
karyawan
Teknik analisis: statistik
deskriptif, uji validitas, uji
reliabilitas, uji normalitas
data, analisis jalur, uji
asumsi klasik
Budaya kerja (eksplisit
dan implisit) berpengaruh
terhadap perilaku kerja
dan kinerja karyawan
pada PT Bank
Pembangunan Daerah
(BPD) Banyuwangi
88
14
Robbins, Stephen P. and
Timothy A. Judge. 2013.
Organizational Behavior,
15th Edition
Menjelaskan perilaku
organisasi
Teori perilaku
-
Perilaku organisasi
adalah studi yang
menginvestigasi dampak
bahwa individu,
kelompok, dan struktur
memiliki perilaku dalam
organisasi dengan tujuan
mengaplikasikan
pengetahuan untuk
peningkatan efektivitas
organisasi
15
Sanyoto, Drajat Hadi.
2002. Pengaruh Tekanan
Pekerjaan terhadap
Perilaku dan Kepuasan
Kerja Karyawan
Administrasi dan
Operasional pada PT
Rengganis Perdana
Argomindo Cabang
Jember
Mengetahui pengaruh
tekanan pekerjaan
terhadap perilaku dan
kepuasan kerja karyawan
Administrasi dan
Operasional pada PT
Rengganis Perdana
Argomindo Cabang
Jember
Teori perilaku/ Tekanan
pekerjaan berpengaruh
terhadap perilaku dan
kepuasan kerja karyawan
Administrasi dan
Operasional pada PT
Rengganis Perdana
Argomindo Cabang
Jember
Variabel independen:
tekanan kerja karyawan
Variabel dependen:
perilaku dan kepuasan
kerja karyawan
Teknik analisis: uji
hipotesis
Tekanan pekerjaan
berpengaruh terhadap
perilaku dan kepuasan
kerja karyawan
Administrasi dan
Operasional pada PT
Rengganis Perdana
Argomindo Cabang
Jember
16
Sofianingsih, Dewi. 2017.
Pengaruh Komponen
Struktur Pengendalian
Internal Untuk Mencegah
Kecurangan pada
Perusahaan
Menganalisis pengaruh
komponen struktur
pengendalian internal
untuk mencegah
kecurangan pada
perusahaan
Teori perilaku/
Pengendalian internal
penting untuk mencegah
kecurangan pada
perusahaan
Variabel independen:
pengendalian internal
Variabel dependen:
kecurangan
Teknik analisis: deskriptif
Pengendalian internal
penting untuk mencegah
kecurangan pada
perusahaan
89
90
Lampiran 3
Kuisioner Skripsi “Pengaruh Lingkungan Pengendalian terhadap Perilaku Kerja
Aparatur Sipil Negara (Studi Kasus pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan
Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Makassar)”
Oleh Mardito Galih Pringgodani, S1 Akuntansi Universitas Hasanuddin
Data Responden
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Pendidikan
:
:
:
:
Jabatan
Masa Kerja
:
Subbagian/Seksi
:
:
Untuk setiap pernyataan di bawah ini, pilihlah satu pendapat yang paling
merepresentasikan Saudara dengan memberi tanda checklist (V) pada kolom sangat
setuju (SS), setuju (S), netral (N), tidak setuju (TS), atau sangat tidak setuju (STS).
N
o
Pernyataan
SS
Penegakan Integritas dan Nilai Etika
1
KPPBC TMP B Makassar menyusun dan menerapkan aturan perilaku
2
Pimpinan KPPBC TMP B Makassar memberikan keteladanan dalam pelaksanaan
aturan perilaku
3
KPPBC TMP B Makassar menegakkan tindakan disiplin yang tepat atas
penyimpangan terhadap kebijakan dan prosedur atau pelanggaran terhadap
aturan perilaku
4
KPPBC TMP B Makassar memberi penjelasan dan mempertanggungjawabkan
adanya intervensi atau pengabaian pengendalian internal
5
KPPBC TMP B Makassar menghapus kebijakan atau penugasan yang dapat
mendorong perilaku tidak etis
Komitmen terhadap Kompetensi
6
KPPBC TMP B Makassar melakukan identifikasi dan menetapkan kegiatan yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dan fungsi pada masing-masing jabatan
7
KPPBC TMP B Makassar menyusun standar kompetensi untuk setiap tugas dan
fungsi pada masing-masing jabatan
8
KPPBC TMP B Makassar menyelenggarakan pelatihan dan pembimbingan untuk
membantu para pegawai dalam mempertahankan dan meningkatkan kompetensi
pekerjaannya
9
Pimpinan KPPBC TMP Makassar memiliki kemampuan
pengalaman teknis yang luas dalam pengelolaan kantor
manajerial
dan
Kepemimpinan Yang Kondusif
10 Pimpinan KPPBC TMP B Makassar mempertimbangkan risiko yang dihadapi
dalam pengambilan keputusan
11 Pimpinan KPPBC TMP B Makassar menerapkan manajemen berbasis kinerja
12 Pimpinan KPPBC TMP B Makassar mendukung fungsi tertentu dalam penerapan
sistem pengendalian internal pemerintah
13 Pimpinan KPPBC TMP B Makassar melindungi aset dan informasi dari akses dan
penggunaan yang tidak sah
14 Pimpinan KPPBC TMP B Makassar melakukan interaksi secara intensif dengan
pejabat pada tingkatan yang lebih rendah
15 Pimpinan KPPBC TMP B Makassar merespon secara positif terhadap pelaporan
yang berkaitan dengan keuangan, penganggaran, program, dan kegiatan
S
N
TS
ST
S
91
Pembentukan Struktur Organisasi Yang Sesuai Kebutuhan
16 Struktur organisasi KPPBC TMP B Makassar sesuai dengan ukuran dan sifat
kegiatan
17 KPPBC TMP B Makassar memberikan kejelasan wewenang dan tanggung jawab
18 KPPBC TMP B Makassar memberikan kejelasan hubungan dan jenjang pelaporan
internal
19 Ada evaluasi dan penyesuaian periodik terhadap struktur organisasi KPPBC TMP
B Makassar sehubungan dengan perubahan lingkungan strategis
20 KPPBC TMP B Makassar menetapkan jumlah pegawai yang sesuai
Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab Yang Tepat
21 KPPBC TMP B Makassar memberikan wewenang kepada pegawai yang tepat
sesuai dengan tingkat tanggung jawabnya dalam rangka pencapaian tujuan kantor
22 Pegawai KPPBC TMP B Makassar yang diberi wewenang memahami bahwa
wewenang dan tanggung jawab yang diberikan terkait dengan pihak lain dalam
kantor
23 Pegawai KPPBC TMP B Makassar yang diberi wewenang memahami bahwa
pelaksanaan wewenang dan tanggung jawab terkait dengan penerapan sistem
pengendalian internal pemerintah
Penyusunan dan Penerapan Kebijakan Yang Sehat Tentang Pembinaan Sumber Daya Manusia
24 Ada penetapan kebijakan dan prosedur sejak rekrutmen sampai dengan
pemberhentian pegawai
25 Ada penelusuran latar belakang calon pegawai dalam proses rekrutmen
Peran Aparat Pengawasan Internal Pemerintah Yang Efektif
26 Aparat pengawasan internal KPPBC TMP B Makassar memberikan keyakinan
yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian
tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi kantor
27 Aparat pengawasan internal KPPBC TMP B Makassar memberikan peringatan
dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas
dan fungsi kantor
28 Aparat pengawasan internal KPPBC TMP B Makassar melakukan pemeliharaan
dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi kantor
Hubungan Kerja Yang Baik Dengan Instansi Pemerintah Terkait
29 Adanya mekanisme saling uji antara KPPBC TMP B Makassar dengan instansi
pemerintah terkait
Perilaku Kerja Aparatur Sipil Negara
30 Saudara selalu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, atasan, rekan
sekerja, unit kerja terkait, dan/atau instansi lain
31 Saudara selalu bertindak sesuai dengan nilai, norma, dan etika dalam organisasi
32 Saudara selalu menyelaraskan sikap dan tindakan untuk mewujudkan tujuan
organisasi dengan mengutamakan kepentingan dinas daripada kepentingan diri
sendiri, seseorang, dan/atau golongan
33 Saudara selalu menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan
dalam peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan kedinasan yang apabila
tidak ditaati atau dilanggar dijauhi hukuman disiplin
34 Saudara selalu bekerja sama dengan rekan sekerja, atasan, bawahan dalam
kantor serta instansi lain dalam menyelesaikan suatu tugas dan tanggung jawab
yang ditentukan, sehingga mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesarbesarnya
35 Saudara selalu memotivasi dan mempengaruhi bawahan atau orang lain yang
berkaitan dengan bidang tugas Saudara demi tercapainya tujuan organisasi
Kuisioner selesai. Terima kasih atas partisipasi Saudara dalam mengisi kuisioner ini.
Download