Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Manajemen Keuangan
Menurut Robbins dan Mary (2010:8), yang diterjemahkan oleh Hermaya, manajemen
adalah proses pengkoordinasian kegiatan-kegiatan pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut
terselesaikan secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain.
Manajemen keuangan memainkan peranan penting dalam perkembangan sebuah
perusahaan. Dalam penerapannya, manajemen keuangan tidak dapat berdiri sendiri.
Manajemen keuangan selalu berkaitan erat dengan berbagai disiplin ilmu antara lain seperti
akuntansi, ilmu ekonomi mikro dan makro, manajemen pemasaran, manajemen produksi,
metode kuantitatif, dan manajemen sumber daya manusia.
2.1.1 Pengertian Manajemen Keuangan
Menurut Martono dan Agus (2010:4), manajemen keuangan adalah segala aktivitas
perusahaan yang berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, mengelola aset sesuai
tujuan perusahaan secara menyeluruh.
Menurut Horne dan Wachowicz (2009:2), manajemen keuangan berkaitan dengan
perolehan aset, pendanaan dan manajemen aset dengan didasari beberapa tujuan umum.
Pada dasarnya manajemen keuangan mempunyai dua unsur kata yaitu “manajemen”
dan “keuangan”. Manajemen keuangan merupakan salah satu fungsi operasional perusahaan
yang sangat penting diantara fungsi-fungsi operasional perusahaan lainnya seperti
Manajemen Pemasaran, Manajemen Produksi, Manajemen Stratejik, Manajemen Sumber
Daya Manusia dan lain sebagainya.
Menurut Sartono (2008:6) menerangkan pengertian mengenai manajemen keuangan
sebagai berikut:
“Manajemen keuangan dapat diartikan sebagai manajemen dana yang baik yang
berkaitan dengan pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi secara efektif maupun
usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi atau pembelanjaan secara efisien.”
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen
keuangan adalah keseluruhan aktifitas perusahaan yang bersangkutan dengan pengelolaan
dana secara optimal untuk digunakan dalam biaya segala aktifitas yang dilakukan oleh
10
perusahaan, kemudian menggunakan atau mengalokasikan dana tersebut guna mencapai
suatu tujuan yang diharapkan.
2.1.2 Fungsi Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan merupakan manajemen (pengelolaan) mengenai bagaimana
memperoleh aset, mendanai aset dan mengelola aset untuk mencapai tujuan perusahaan. Dari
definisi tersebut menurut Martono dan Agus (2010:4), ada 3 (tiga) fungsi utama dalam
manajemen keuangan, yaitu:
2.1.2.1 Keputusan Investasi
Keputusan yang diambil oleh manajer keuangan dalam mengalokasikan dana ke
dalam bentuk-bentuk investasi yang akan mendatangkan keuntungan dimasa yang akan
datang. Keputusan investasi ini akan tergambar dari aktiva perusahaan, dan mempengaruhi
struktur kekayaan yaitu perbandingan antara current assets dengan fixed assets.
Keputusan investasi sering dianggap sebagai keputusan terpenting dalam pengambilan
keputusan manajer keuangan perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu
memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Pendapat Hartono (2010:10) memperjelas
bahwa keputusan investasi merupakan langkah awal untuk menentukan jumlah aktiva yang
dibutuhkan perusahaan secara keseluruhan sehingga keputusan investasi ini merupakan
keputusan terpenting yang dibuat oleh perusahaan.
2.1.2.2 Keputusan Pendanaan
Keputusan Pendanaan ini sering disebut sebagai kebijakan struktur modal. Pada
keputusan ini manajer keuangan dituntut untuk mempertimbangkan dan menganalisis
kombinasi dari sumber-sumber dana yang ekonomis bagi perusahaan guna membelanjai
kebutuhan-kebutuhan investasi serta kebutuhan usahanya.
Keputusan pendanaan adalah keputusan keuangan tentang asal dana untuk membeli
aktiva. Ada dua macam sumber dana : (1) dana pinjaman, seperti utang bank dan obligasi (2)
modal sendiri, seperti laba ditahan dan saham. Dana pinjaman dan saham, merupakan sumber
dana yang berasal dari luar perusahaan, sedangkan laba ditahan merupakan sumber dana yang
berasal dari dalam perusahaan, (Sudjana, 2011:3). Pemilihan sumber pendanaan yang telah
11
dilakukan oleh manajer keuangan perusahaan, baik menggunakan utang ataupun
menggunakan modal sendiri akan tercermin dalam kolom neraca keuangan. Hasil dari
keputusan pembelanjaan tampak pada neraca sisi pasiva, yaitu berupa utang lancar, utang
jangka panjang, dan modal, (Sudana, 2011:6).
2.1.2.3 Keputusan Pengelolaan Asset
Keputusan dividen merupakan keputusan manajemen keuangan untuk menentukan :
1) besarnya presentase laba yang dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentukcash
dividend, 2) stabilitas dividen yang dibagikan, 3) dividen saham (stock dividen), 4)
pemecahan saham (stock split), serta 5) penarikan kembali saham beredar, yang semuanya
ditujukan untuk meningkatkan kemakmuran para pemegang saham.
Keputusan masalah efisiensi pengguna aktiva yang dimiliki, keputusan tentang
produk apa yang akan dijual dan bagaimana cara menjualnya agar memperoleh laba yang
maksimal, dan bagaimana penggunaan laba tersebut.
2.1.2.4 Teori Agensi
Menurut Ali dalam Bayu (2010), teori agensi merupakan teori yang menjelaskan
hubungan antara pemilik modal (principal) yaitu investor dengan manajer (agent). Investor
memberikan wewenang pada manajer untuk mengelola perusahaan. Teori agensi
mendasarkan hubungan kontrak antara pemilik (principal) dan manajer (agent) sulit tercipta
karena adanya kepentingan yang saling bertentangan (conflict of interest). Perbedaan
kepentingan antara principal dengan agent dapat menimbulkan permasalahan yang dikenal
dengan asimetri informasi. Keadaan asimetri informasi terjadi ketika adanya distribusi
informasi yang tidak sama antara principal dan agent. Akibat adanya informasi yang tidak
seimbang (asimetri informasi) ini, dapat menimbulkan dua permasalahan yang disebabkan
karena adanya kesulitan principal memonitor dan melakukan kontrol terhadap tindakan tindakan agen.
Menurut Eisenhardt dalam Bayu (2010), teori agensi menggunakan tiga asumsi sifat
manusia yaitu: (1) manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest), (2)
manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded
rationality), dan (3) manusia selalu menghindari resiko (risk averse). Berdasarkan asumsi
sifat dasar manusia tersebut, manusia akan bertindak opportunistic, yaitu mengutamakan
kepentingan pribadinya
12
Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang
(principal) memerintah orang lain (agent) untuk melakukan suatu jasa atas nama prinsipal
serta memberi wewenang kepada agen membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal. Jika
kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk memaksimumkan nilai
perusahaan, maka diyakini agen akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan kepentingan
prinsipal.
Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi dengan
mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran kepemilikan saham oleh
manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk mengurangi agency cost yang
berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan manajer merasakan
langsung manfaat dari setiap keputusan yang diambilnya. Proses ini dinamakan dengan
bonding mechanism, yaitu proses untuk menyamakan kepentingan manajemen melalui
program mengikat manajemen dalam modal perusahaan.
Untuk meredam tindakan para agent yang tidak sesuai dengan kepentingannya
principal memiliki dua cara yaitu (Ujiyantho, 2011 ):
1.
Mengawasi perilaku agent dengan mengadopsi fungsi audit dan mekanisme corporate
governance lain yang dapat meluruskan kepentingan agent dengan kepentingan
principal.
2.
Menyediakan insentif kepegawaian yang menarik kepada agent dan mengadakan
struktur reward yang dapat membujuk para agent untuk bertindak sesuai dengan
kepentingan terbaik principal. Govindarajan (2008) menyatakan satu elemen kunci dari
teori keagenan adalah bahwa prinsipal dan agen mempunyai perbedaan preferensi dan
tujuan. Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas kepentingan
mereka. Para agen diasumsikan menerima kepuasan bukan saja dari kompensasi
keuangan tetapi juga dari syarat-syarat yang terlibat dalam hubungan agensi, seperti
kemurahan jumlah waktu luang, kondisi kerja yang menarik dan jam kerja yang
fleksibel. Prinsipal diasumsikan tertarik hanya pada hasil keuangan yang bertambah
dari investasi mereka dalam perusahaan.
Dalam suatu perusahaan, konflik kepentingan antara prinsipal dengan agen salah
satunya dapat timbul karena adanya kelebihan aliran kas (excess cash flow). Kelebihan arus
kas cenderung diinvestasikan dalam hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan utama
13
perusahaan. Ini menyebabkan perbedaan kepentingan karena pemegang saham lebih
menyukai investasi yang berisiko tinggi yang juga menghasilkan return tinggi, sementara
manajemen lebih memilih investasi dengan risiko yang lebih rendah.
Corporate governance merupakan konsep yang didasarkan pada teori keagenan
(agency theory), yang diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan
kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka
investasikan. Corporate governance berkaitan dengan keyakinan para investor bahwa
agent (manajer) akan memberikan keuntungan bagi mereka, keyakinan bahwa agent
(manajer) tidak akan mencuri, menggelapkan bahkan menginvestasikan ke dalam proyekproyek yang tidak menguntungkan berkaitan dengan dana/kapital yang telah ditanamkan oleh
investor, dan berkaitan dengan bagaimana para investor mengontrol para agent (manajer).
Dengan kata lain corporate governance diharapkan dapat berfungsi untuk menekan atau
menurunkan biaya keagenan (agency cost).
2.1.2.5 Teori Sinyal
Menurut Batthacarya dalam Dewi (2011), Signaling Theory mengemukakan
bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan
keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen
untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa informasi yang menyatakan
bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain dan informasi lainnya. Ketika
digunakan dalam praktek pengungkapan perusahaan, signalling theory secara umum
menguntungkan bagi perusahaan untuk mengungkapkan praktek corporate governance yang
baik, sehingga dapat menciptakan kualitas perusahaan yang baik dalam pasar.
Menurut
Wira
(2010), Signaling
Theory mengemukakan
tentang
bagaimana
seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan.
Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk
merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang
menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. Teori sinyal
menjelaskan bahwa pemberian sinyal dilakukan oleh manajer untuk mengurangi asimetri
informasi. Manajer memberikan informasi melalui laporan keuangan bahwa mereka
menerapkan kebijakan akuntansi konservatisme yang menghasilkan laba yang lebih
berkualitas karena prinsip ini mencegah perusahaan melakukan tindakan membesar-besarkan
14
laba dan membantu pengguna laporan keuangan dengan menyajikan laba dan aktiva yang
tidak overstate.
Teori signal juga dapat membantu pihak perusahaan (agent), pemilik (principal), dan
pihak luar perusahaan mengurangi asimetri informasi dengan menghasilkan kualitas atau
integritas informasi laporan keuangan. Untuk memastikan pihak-pihak yang berkepentingan
meyakini keandalan informasi keuangan yang disampaikan pihak perusahaan (agent), perlu
mendapatkan opini dari pihak lain yang bebas memberikan pendapat tentang laporan
keuangan (Fahmi, 2011).
2.1.3 Tujuan Manajemen Keuangan
Menurut Brigham dan Houston (2011:132) yang diterjemahkan oleh Yulianto tujuan
manajemen keuangan itu adalah memaksimalkan kekayaaan pemegang saham dalam jangka
panjang, tetapi bukan untuk memaksimalkan ukuran-ukuran akuntansi seperti laba bersih atau
EPS.
Manajemen keuangan sebagai aktivitas memperoleh dana, menggunakan dana dan
mengelola aset secara efisien membutuhkan tujuan atau sasaran. Di mana menurut Martono
dan Agus (2010:13) tujuan manajemen keuangan adalah memaksimumkan nilai perusahaan
(memaksimumkan kemakmuran pemegang saham) yang diukur dari harga saham perusahaan.
Berdasarkan tujuan keuangan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan manajemen
keuangan yaitu memaksimumkan nilai perusahaan atau memaksimumkan kemakmuran
pemegang saham.
2.2
Laporan Keuangan
2.2.1 Pengertian Laporan Keuangan
Sebelum manajemen keuangan mengambil keputusan, manajer keuangan perlu
memahami kondisi keuangan perusahaan. Untuk memahami kondisi keuangan perusahaan,
diperlukan analisis terhadap laporan keuangan perusahaan. Di samping manajer keuangan,
beberapa pihak di luar perusahaan juga perlu memahami kondisi keuangan perusahaan
diantaranya adalah calon investor dan kreditur.
Menurut Fahmi (2011:2), laporan keuangan yaitu merupakan suatu informasi yang
menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi tersebut dapat
dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut.
15
Menurut Martono dan Agus (2010:51), laporan keuangan merupakan ikhtisar
mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan pada suatu saat tertentu.
Menurut Brigham dan Houston (2010:84) yang diterjemahkan oleh Yulianto, laporan
keuangan yaitu beberapa lembar kertas dengan angka-angka yang tertulis di atasnya, tetapi
penting juga untuk memikirkan aset-aset nyata yang berada di balik angka tersebut.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan
merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan dan
informasi tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan dari perusahaan
tersebut.
2.2.2 Tujuan dan Manfaat Laporan Keuangan
2.2.2.1 Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan yang dibuat perusahaan sangat bermanfaat bagi stakeholder.
Stakeholder perlu mengetahui bagaimana kinerja perusahaan tersebut. Laporan keuangan
yang baik dan akurat dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil dan
prestasi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan selama kurun waktu tertentu.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan dalam Fahmi (2011:6), tujuan laporan
keuangan yaitu menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai
dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Selanjutnya menurut Fahmi (2011:5) tujuan laporan keuangan adalah memberikan
informasi kepada pihak yang membutuhkan tentang kondisi suatu perusahaan dari sudut
angka-angka dalam sistem moneter.
Menurut Sukardi dan Kurniawan (2010:187), tujuan laporan keuangan yaitu:
1. Sebagai bisnis yang mudah dimengerti
2. Menunjukan logika hubungan timbal-balik antar pos-pos dalam laporan keuangan
2.2.2.2 Manfaat Laporan Keuangan
16
Menurut Fahmi (2011:4), manfaat laporan keuangan adalah untuk mengukur hasil
usaha dan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu dan untuk mengetahui sudah
sejauh mana perusahaan mencapat tujuannya.
Selain tujuan laporan keuangan, laporan keuangan juga memiliki beberapa manfaat.
Di mana menurut Martono dan Agus (2010:52), laporan keuangan yang baik dan akurat dapat
memberikan manfaat antara lain dalam:
1. Pengambilan keputusan investasi
2. Keputusan pemberian kredit
3. Penilaian aliran kas
4. Penilaian sumber ekonomi
5. Melakukan klaim terhadap sumber dana
6. Menganalisis perubahan yang terjadi terhadap sumber dana
7. Menganalisis penggunaan dana
Kemudian menurut Sukardi dan Kurniawan (2010:187), manfaat laporan keuangan
adalah :
1. Bagi Manajemen
Sebagai dasar untuk memberi kompensasi
2. Bagi Pemilik Perusahaan
Sebagai dasar untuk menilai peningkatan nilai perusahaan
3. Bagi Supplier
Untuk mengetahui besarnya kemungkinan pembayaran hutang
4. Bagi Bank
Sebagai bukti bahwa perusahaan tersebut likuid dan mempunyai cukup working
capital.
2.2.3 Jenis Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan merupakan ringkasan dari
harta, kewajiban, dan kinerja operasi selama suatu periode akuntansi tertentu. Pada
umumnya laporan keuangan terdiri atas tiga hal utama, yaitu neraca (Balance Sheet),
laporan laba rugi (Income Statement), dan laporan perubahan modal (Statement of Changes
in Capital). Dalam perkembangannya komponen laporan keuangan bertambah dengan satu
17
laporan keuangan yaitu laporan arus kas (Cash Flow). Di mana menurut Gumanti
(2011:103), jenis laporan keuangan yaitu:
1. Neraca (Balance Sheet)
Merupakan laporan tentang kekayaan dan kewajiban atau beban suatu perusahaan
dalam suatu periode tertentu.
2. Laporan Laba Rugi (Income Statement)
Menunjukkan kinerja operasi suatu perusahaan dalam suatu periode akuntansi tertentu
dan juga menunjukkan seberapa jauh perusahaan mampu menjalankan kegiatan usaha
serta seberapa efisien perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
3. Laporan Perubahan Modal (Statement of Changes in Capital)
Menunjukkan berapa besar bagian atau porsi dari keuntungan bersih yang diperoleh
perusahaan yang diinvestasikan kembali ke perusahaan yang mempengaruhi besaran
modal secara keseluruhan.
4. Laporan Arus Kas (Cash Flow)
Menyajikan informasi tentang arus kas bersih dari tiga kegiatan umum di mana
perusahaan, yaitu arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari pendanaan, dan arus kas
dari aktivitas investasi.
2.3
Kinerja Perusahaan
Kinerja perusahaan adalah hasil banyak keputusan yang dibuat secara terus-menerus
oleh pihak manajemen perusahaan untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara efektif dan
efisien, (Samsinar, 2010).
Pengertian kinerja menurut Sari (2010) adalah pencapaian suatu tujuan dari suatu
kegiatan atau pekerjaan tertentu untuk mencapai tujuan perusahaan yang diukur dengan
standar. Kinerja merupakan faktor penting yang digunakan untuk mengukur efektivitas dan
efisiensi perusahaan.
Performance atau kinerja menurut Dyah (2012) merupakan suatu pola tindakan yang
dilaksanakan untuk mencapai yang diukur dengan mendasarkan pada suatu perbandingan
dengan berbagai standar. Kinerja juga dapat diartikansebagai tingkat pencapaian hasil atas
pelaksanaan tugas tertentu, dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi suatu
organisasi yang diukur dengan standar.
18
Kinerja merupakan sebuah konsep yang sulit, baik definisi maupun dalam
pengukurannya, karena sebagai sebuah konstruk, kinerja bersifat multi dimensional dan oleh
karena itu pengukuran dengan menggunakan dimensi tunggal tidak mampu memberikan
pemahaman komprehensif.
Efektifitas terjadi apabila manajemen memiliki kemampuan untuk memilih tujuan
yang tepat atau suatu alat yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan
efisiensi diartikan sebagai rasio (perbandingan) antara masukan dan keluaran yaitu dengan
masukan tertentu memperoleh keluaran yang optimal.
Pelaporan kinerja merupakan refleksi kewajiban untuk mempresentasikan dan
melaporkan kinerja semua aktivitas dan sumber daya yang perlu dipertanggungjawabkan.
Kinerja perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain terkonsentrasi atau tidak
terkonsentrasinya kepemilikan, manipulasi laba, serta pengungkapan laporan keuangan.
Kepemilikan yang banyak terkonsentasi oleh institusi akan memudahkan pengendalian
sehingga akan meningkatkan kinerja perusahaan. Dalam hubungannya dengan kinerja
perusahaan dapat dilihat dari suatu laporan keuangan yang sering dijadikan suatu dasar untuk
penilaian kinerja perusahaan. Salah satu jenis laporan keuangan yang mengukur keberhasilan
operasi perusahaan untuk suatu periode tertentu adalah laporan laba rugi.
Kinerja perusahaan dapat dinilai melalui berbagai macam indikator atau variabel
untuk mengukur keberhasilan perusahaan, pada umumnya berfokus pada informasi kinerja
yang berasal dari laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut bermanfaat untuk membantu
investor, kreditor, calon investor dan para pengguna lainnya dalam rangka membuat
keputusan investasi, keputusan kredit, analisis saham serta menentukan prospek suatu
perusahaan di masa yang akan datang. Penilaian kinerja perusahaan dilakukan bertujuan
untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar
perilaku yang ditetapkan sebelumnya agar tercapai tujuan perusahaan yang baik.
2.3.1 Tujuan Penilaian Kinerja
Penilaian perusahaan khususnya kinerja, sering dilakukan untuk tujuan-tujuan yang
tersebut di bawah ini (Darmawati dalam Yudha, 2007):
1. Untuk keperluan merger dan akuisisi. Perusahaan yang akan melakukan merger
(penggabungan usaha) atau mengakuisisi perusahaan lain, jelas memerlukan kegiatan
19
penilaian untuk mengetahui berapa nilai perusahaan dan nilai ekuitas dari masingmasing perusahaan.
2. Untuk kepentingan restrukturisasi dan kepentingan usaha. Perusahaan yang
bermasalah seringkali memerlukan penilaian untuk mengimplementasikan program
pemulihan usaha atau restukturisasi , untuk mengetahui apakah nilai usaha lebih besar
daripada nilai likuiditasnya.
3. Untuk keperluan divestasi sebagai saham perusahaan dari mitra strategis (beberapa
saham harus dilepas kepada mitra baru) Contoh : Privatisasi BUMN.
4. Untuk Initial Public Offering (IPO) Perusahaan yang akan menjual sahamnya pada
umum atau bursa, harus dinilai dengan menggunakan penilaian yang wajar untuk
ditawarkan kepada masyarakat luas atau publik.
5. Untuk memperoleh pendapatan wajar atas penyertaan modal dalam suatu perusahaan
atau menunjukkan bahwa perusahaan bernilai lebih dari apa yang ada di dalam neraca
6. Memperoleh pembelanjaan, penetapan besarnya pinjaman, atau tambahan modal.
2.3.2 Return On Assets (ROA)
Return on Assets (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas. Dalam analisis
laporan keuangan, rasio ini paling sering dilihat, karena dapat menunjukkan keberhasilan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. ROA mampu mengukur kemampuan
perusahaan manghasilkan keuntungan pada masa lampau untuk kemudian diproyeksikan di
masa yang akan datang. Assets atau aktiva yang dimaksud adalah keseluruhan harta
perusahaan, yang diperoleh dari modal sendiri maupun dari modal asing yang telah diubah
perusahaan menjadi aktiva-aktiva perusahaan yang digunakan untuk kelangsungan hidup
perusahaan.
Kinerja perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rasio keuangan (Prasinta,
2012). Investor melakukan penanaman modal salah satunya dengan melihat rasio
profitabilitas (Prasinta, 2012). Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan Return on Asset (ROA) karena dapat memberikan gambaran tingkat
pengembalian keuntungan yang dapat diperoleh investor atas investasinya (Prasinta, 2012).
Selain itu dengan ROA, investor dapat melihat bagaimana perusahaan mengoptimalkan
penggunaan asetnya untuk dapat memaksimalkan laba yang juga menjadi tujuan GCG untuk
menggunakan aset dengan efisien dan optimal.
20
ROA merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen
perusahaan dalam memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan keseluruhan total aset
yang dimiliki (Attar, Islahuddin, & Shabri, 2014). ROA mengukur seberapa efektif
perusahaan dapat mengubah pendapatan dari pengembalian investasinya menjadi asset.
Semakin tinggi ROA perusahaan, semakin baik. Beberapa perusahaan menekankan net
margin yang tinggi untuk meningkatkan ROA mereka.
Untuk menghitung ROA menggunakan rumus:
ROA =
Semakin besar nilai ROA, menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik pula,
karena tingkat pengembalian investasi semakin besar.
2.3.2.1 Kelebihan dan Kelemahan ROA
Kelebihan dan Kelemahan Return on Asset Adapun kelebihan dan kelemahan Return
On Asset adalah sebagai berikut:
1. Kelebihan ROA diantaranya sebagai berikut:
a. ROA mudah dihitung dan dipahami.
b. Merupakan alat pengukur prestasi manajemen yang sensitif terhadap setiap
pengaruh keadaan keuangan perusahaan.
c. Manajemen menitikberatkan perhatiannya pada perolehan laba yang
maksimal.
d. Sebagai tolok ukur prestasi manajemen dalam memanfaatkan asset yang
dimiliki perusahaan untuk memperoleh laba.
e. Mendorong tercapainya tujuan perusahaan.
f. Sebagai alat mengevaluasi atas penerapan kebijakan – kebijakan
manajemen.
2. Kelemahan ROA diantaranya sebagai berikut:
a. Kurang mendorong manajemen untuk menambah asset apabila nilai ROA
yang diharapkan ternyata terlalu tinggi.
b. Manajemen cenderung fokus pada tujuan jangka pendek bukan pada tujuan
jangka panjang, sehingga cenderung mengambil keputusan jangka pendek
21
yang lebih menguntungkan tetapi berakibat negatif dalam jangka
panjangnya.
2.3.2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi ROA
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi ROA Profitabilitas adalah rasio yang mengukur
kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Return on Assets (ROA) termasuk salah satu
rasio profitabilitas. Faktor – faktor yang mempengaruhi rasio return on asset ada beberapa
rasio antara lain: rasio perputaran kas, rasio perputaran piutang, dan rasio perputaran
persediaan.
2.4 Pengertian Good Corporate Governance
Menurut Muh. Arief Effendi (2009) dalam bukunya The Power of Good Corporate
Governance, pengertian Good Corporate Governance adalah suatu sistem pengendalian
internal perusahaan yang memiliki tujuan utama mengelola risiko yang signifikan guna
memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan aset perusahaan dan meningkatkannilai
investasi pemegang saham dalam jangka panjang.
Good corporate governance (GCG) menurut Komite Nasional Kebijakan Governance
(KNKG) adalah salah satu pilar dari sistem ekonomi pasar. Corporate governance berkaitan
erat dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun terhadap
iklim usaha di suatu negara. Penerapan Good corporate governance mendorong terciptanya
persaingan yang sehat dan iklim usaha yang kondusif. Oleh karena itu diterapkannya Good
corporate governance oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia sangat penting untuk
menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang berkesinambungan. Penerapan Good
corporate governance juga diharapkan dapat menunjang upaya pemerintah dalam
menegakkan good corporate governance pada umumnya di Indonesia. Saat ini Pemerintah
sedang berupaya untuk menerapkan good corporate governance dalam birokrasinya dalam
rangka menciptakan Pemerintah yang bersih dan berwibawa.
Menurut Bacelius Ruru (Sekretaris-Kementerian BUMN RI), Good Corporate
Governance perlu diterapkan di perusahaan-perusahaan di Indonesia karena beberapa hal:
1. Krisis di Indonesia yang diakibatkan masih banyaknya para pelaku dunia usaha belum
secara sempurna menerapkan praktek-praktek good corporate governance.
22
2. Tingkat inefisiensi yang tinggi di Indonesia dan merupakan yang tertinggi di Asia,
merupakan akibat dari tidak adanya pelaksanaan transparansi dan prinsip-prinsip good
corporate governance lainnya.
3. Iklim globalisasi mendorong perusahaan untuk selalu harus siap untuk bersaing ketat
dengan perusahaan dari negara asing, paling tidak dalam tingkat regional.
4. Corporate citizen hanya dapat berjalan dengan penerapan prinsip-prinsip good corporate
governance yang baik dan konsisten.
Iman sjahputra tunggal mendefinisikan Corporate Governance :
System dan struktur untuk mengelola perusahaan dengan tujuan meningkatkan nilai
pemegang saham (shareholders value) serta mengakomodasi berbagai pihak yang
berkepentingan dengan perusahaan (stakeholder). (Iman ,1).
Bank dunia Mendefinisikan Corporate Governance :
Corporate Governance adalah kumpulan hukum, peraturan kaidah yang wajib di
penuhi yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien
menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang
saham maupun masyarakat sekitar. (Iman, 4).
Azhar kasim mendefinisikan Corporate governance :
Corporate Governance adalah proses pengelolaan berbagai bidang kehidupan (social,
ekonomi, politik, dan sebagainya) dalam suatu negara serta penggunaan sumberdaya (alam,
keuangan, manusia) dengan cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, efisiensi,
transparansi, dan akuntabilitas. (Iman, 5).
Menurut Sunarto dalam Haris (2008), Corporate governance merupakan sebuah
struktur, proses, budaya dan sistem untuk menciptakan kondisi operasional yang sukses bagi
suatu organisasi.
Menurut Koesnohadi (dalam Haris 2008), mengatakan bahwa “Good Corporate
Governance is relationship among stake holders that is used to determine and control the
strategic direction and performance of organization”.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate
Governance merupakan suatu sistem tata kelola perusahaan agar menjadi lebih baik dan
dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengedepankan keadilan bagi semua
stakeholders, transparansi mengenai kondisi perusahaan sebagai bagian dari lingkungan
eksternal (Haris, 2008).
Corporate governance dalam penelitian ini diproksikan menggunakan:
23
1. Kepemilikan manajerial yang diukur dengan persentase kepemilikan saham dewan
direksi dan dewan komisaris dibagi dengan jumlah saham yang beredar (Rustiarini,
2010).
2. Kepemilikan institusional yang diukur dengan persentase kepemilikan saham institusi
dibagi dengan total jumlah saham beredar (Rustiarini, 2010).
3.
Proporsi dewan komisaris independen dihitung dengan membagi jumlah dewan
komisaris independen dengan total anggota dewan komisaris (Rustiarini, 2010).
4.
Jumlah anggota komite audit yang diukur dengan menghitung jumlah anggota komite
audit dari setiap perusahaan yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini
(Rustiarini, 2010).
2.4.1 Tujuan Corporate Governance
Tujuan Corporate Governance secara umum adalah untuk menciptakan nilai tambah
bagi semua pihak yang berkepentingan, yang secara tegas oleh global Corporate Governance
adalah menjadi sebuah isu penting dunia. Organisasi mempunyai peran kunci untuk bermain
dalam peningkatan pengembangan ekonomi sosial. Good Governance adalah mesinnya
pertumbuhan global, pertanggungjawaban penyedia kerja, pelayanan publik dan privat,
pengadaan
barang
dan
jasa
serta
infrastruktur.
Sekarang
ini,
efisiensi
akan
pertanggungjawaban organisasi tidak perduli apakah organisasi publik atau privat. Good
Governance telah menjadi agenda pokok internasional.
The Indonesian institute for corporate governance (IICG) mengungkapkan tujuan dari
Good Corporate Governance:
a. Meraih kembali kepercayaan investor dan kreditor nasional serta internasional
b. Memenuhi standar global
c. Meminimalkan biaya kerugian dan biaya pencegahan atas penyalahgunaan wewenang
pengelolaan
d. Meminimalkan cost of capital dengan menekan resiko yang dihadapi kreditur
e. Meningkatkan nilai saham perusahaan
f. Mengangkat citra perusahaan di mata publik
2.4.2 Karakteristik Corporate Governance
Menurut pedoman umum Good Corporate Governance (komite nasional kebijakan
corporate governance, 2006) karakteristik dari Good Corporate Governance adalah:
24
1.
Transparansi
Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan
informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh
pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan
tidak hanya masalah yang diisyaratkan oleh perundang-undangan, tetapi juga hal yang
penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku
kepentingan lainnya.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1. Perusahaan harus menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat
dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan sesuai
dengan haknya.
2. Informasi yang harus diungkapkan meliputi, visi, misi, sasaran usaha dan strategi
perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham
pengendali, kepemilikan saham oleh anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris
beserta anggota keluarganya dalam perusahaan dan perusahaan lainnya, sistem
manajemen risiko, sistem pengawasan dan pengendalian internal, sistem dan
pelaksanaan good corporate governace serta tingkat kepatuhannya, dan kejadian
penting yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.
3.
Prinsip keterbukaan yang dianut oleh perusahaan tidak mengurangi kewajiban untuk
memenuhi ketentuan kerahasiaan perusahaan sesuai dengan peraturan perundangundangan, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi. Kebijakan perusahaan harus tertulis
dan secara proporsional dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan.
2.
Akuntabilitas
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan
wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan
kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham
dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan
untuk mencapai kinerja yang berkisenambungan.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
25
1.
Perusahaan harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab masing-masing
organ perusahaan dan semua karyawan secara jelas dan selaras dengan visi, misi,
nilai-nilai perusahaan (corporate values), dan strategi perusahaan.
2.
Perusahaan harus meyakini bahwa semua organ perusahaan dan semua karyawan
mempunyai kemampuan sesuai dengan tugas, tanggung jawab, dan perannya dalam
pelaksanaan good corporate governace.
3.
Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal yang efektif
dalam pengelolaan perusahaan. Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk
semua jajaran perusahaan yang konsisten dengan sasaran usaha perusahaan, serta
memiliki sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment system).
4.
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap organ perusahaan dan
semua karyawan harus berpegang pada etika bisnis dan pedoman perilaku (code of
conduct) yang telah disepakati.
3.
Responsibilitas
Perusahaan harus memenuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan
tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara
kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good
corporate citizen.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1.
Organ perusahaan harus berpegang pada prinsip kehati-hatian dan memastikan
kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, anggaran dasar dan peraturan
perusahaan (by-laws).
2.
Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawab sosial dengan antara lain peduli
terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan
dengan membuat perencanaan dan pelaksanaan yang memadai.
4.
Independensi
Untuk melancarkan pelaksanaan atas good corporate governance, perusahaan harus
dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling
mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
26
1.
Masing-masing organ perusahaan harus menghindari terjadinya dominasi oleh
pihak manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu, bebas dari benturan
kepentingan (conflict of interest) dan dari segala pengaruh atau tekanan, sehingga
pengambilan keputusan dapat dilakukan secara objektif.
2.
Masing-masing organ perusahaan harus melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai
dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan, tidak saling
mendominasi dan atau melempar tanggung jawab antara satu dengan yang lain.
5.
Kesetaraan dan Kewajaran
Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan
kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas
kesetaraan dan kewajaran.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1.
Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk
memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan perusahaan
serta membuka akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip transparansi dalam
lingkup kedudukan masing-masing.
2.
Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada pemangku
kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang diberikan kepada
perusahaan.
3.
Perusahaan harus memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan
karyawan, berkarir dan melaksanakan tugasnya secara profesional tanpa
membedakan suku, agama, ras, golongan, gender, dan kondisi fisik.
2.4.3 Prinsip Corporate Governance
Prinsip-Prinsip internasional mengenai Corporate Governence mulai muncul dan
berkembang baru-baru ini. Prinsip-prinsip tersebut mencakup:
1.
Hak-hak para pemegang saham, yang harus diberi informasi dengan benar dan tepat
pada waktunya mengenai perusahaan, dapat berperan serta dalam pengambilan
keputusan mengenai perubahan-perubahan yang mendasar atas perusahaan, dan turut
memperoleh bagian dari keuntungan perusahaan.
27
2.
Perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama kepada pemegang
saham minoritas dan pemegang saham asing, dengan keterbukaan informasi yang
penting serta melarang pembagian untuk pihak sendiri dan perdagangan saham oleh
orang dalam (Insider traiding).
3.
Peran pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh hukum dan
kerjasama yang aktif antara perusahaan serta para pemegang kepentingan dalam
menciptakan kekayaan, lapangan pekerjaan dan perusahaan yang sehat dari aspek
keuntungan.
4.
Pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta transparansi mengenai
semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan, serta para pemegang
kepentingan (Stakeholders).
5.
Tanggung jawab pengurus dalam manajemen, pengawasan, manajemen serta
pertanggungjawaban kepada perusahaan dan para pemegang saham.
Pada dasarnya prinsip good corporate governace menghendaki keberadaan dunia
usaha dan praktek bisnis pada umumnya harus dapat menyeimbangkan antara profit
orientation dengan customer service. Dunia usaha dapat mengembangkan modal dan
keuntungan sebesar-besarnya, tetapi di sisi lain juga harus memenuhi aturan main (rule of
game) yang berlaku, sehingga dapat memberikan pelayanan yang baik dan bermutu kepada
masyarakat konsumen.
2.4.4 Dewan Komisaris Independent
Dewan komisaris merupakan salah satu elemen yang paling penting dalam
mekanisme corporate governance. Dewan komisaris berperan dalam mengawasi pelaksanaan
bisnis perusahaan yang sedang dikelola oleh dewan direksi mereka dengan sebaik-baiknya
(Said, etal., 2009 dalam Handayani, 2011). Pada penelitian sebelumnya Utami dan
Rahmawati, 2009 menyatakan bahwa adanya pengaruh positif antara ukuran dewan komisaris
dengan Corporate Social Responsibility. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wakidi dan
Siregar, 2011; Veronica, 2009; Sembiring, 2005; Permatasari dan Kholisoh, 2009
berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggungjawab sosial. Hasil penelitian Badjuri,
2011 bertentangan yang menyatakan ukuran dewan komisaris tidak mempengaruhi corporate
social responsibility perusahaan manufaktur dan sumber daya alam di Indonesia.
Independensi Dewan Komisaris = Jumlah dewan Komisaris Independen
Jumlah dewan komisaris di perusahaan
28
2.4.5 Komite Audit
Komite Audit adalah Komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris untuk membantu
Dewan Komisaris dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap kinerja Direksi dan Tim
Manajemen sesuai dengan prinsip-prinsip Good corporate governance. Pembentukan Komite
Audit telah memenuhi semua peraturan Bapepam-LK.
Komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dalam rangka
membantu tugas dan fungsinya. Sedangkan pengertian menurut Keputusan Menteri BUMN
Nomor : KEP – 103/MBU/2002 komite audit adalah sebagai berikut: komite audit adalah
suatu badan yang dibawah komisaris yang sekurang – kurangnya minimal satu orang anggota
komisaris dan dua orang ahli yang bukan merupakan pegawai BUMN yang bersangkutan
yang bersifat mandiri baik dalam
pelaksanaan tugasnya maupun pelaporannya
dan
bertanggungjawab langsung kepada komisaris atau dewan pengawas.
Jadi yang dimaksud komite audit secara umum yaitu komite Audit adalah komite
yang dibentuk oleh dewan komisaris dalam rangka membantu tugas dan fungsinya yang
anggotanya minimal satu orang dan dua orang ahli yang bukan berasal dari pegawai
BUMN yang bersangkutan yang bersifat mandiri dalam
melaksanakan
tugasnya
dan
bertanggungjawab langsung kepada dewan komisaris.
Komite Audit =
2.4.6 Kepemilikan Institusional
Pemegang saham institusional biasanya berbentuk entitas seperti perbankan, asuransi,
dana pensiun, reksa dana dan institusi lain. Investor institusional umumnya merupakan
pemegang saham yang cukup besar karena memiliki pendanaan yang besar. Tingkat
kepemilikan institusional yang tinggi mkenimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar
untuk menghalangi perilaku opportunistic manajer.
Menurut Mursalim (2007) dalam Rustiani (2009), kepemilikan institusional dapat
dijadikan sebagai upaya untuk mengurangi masalah keagenan dengan meningkatkan proses
monitoring. Pemegang saham institusional juga memiliki opportunity, resources, dan
expertise untuk menganalisis kinerja dan tindakan manajemen. Investor institusional sebagai
pemilik sangat berkepentingan untuk membangun reputasi perusahaan. Semakin tinggi
kepemilikan institusional maka semakin tinggi corporate financial performance.
29
Kepemilikan Institusional adalah kepemilikan saham oleh pemerintah, institusi
keuangan, institusi berbadan hukum, institusi luar negeri, dana perwalian dan institusi lainnya
pada akhir tahun Shien dalam Winanda (2009). Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
kinerja perusahaan adalah kepemilikan institusional. Adanya kepemilikan institusional di
suatu perusahaan akan mendorong peningkatan pengawasan agar lebih optimal terhadap
kinerja manajemen, karena kepemilikan saham mewakili suatu sumber kekuasaan yang dapat
digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap kinerja manajemen. Penmgawasan
yang dilakukan oleh investor institusional sangat bergantung pada besarnya investasi yang
dilakukan.
Semakin besar kepemilikan institusi keuangan maka akan semakin besar kekuatan
suara dan dorongan dari institusi keuangan tersebut untuk mengawasi manajemen dan
akibatnya akan memberikan dorongan yang lebih besar untuk mengoptimalkan nilai
perusahaan sehingga kinerja perusahaan akan meningkat. Pengaruh investor institusional
terhadap manajemen perusahaan dapat menjadi sangat penting serta dapat digunakan untuk
menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham Solomon (2004) dalam
Sabrina (2010). Hal ini disebabkan karena jika tingkat kepemilikan manajeral tinggi, dapat
berdampak buruk terhadap perusahaan karena menimbulkan masalah pertahanan, yang berarti
jika kepemilikan manajerial tinggi, para manajer memiliki memiliki posisi yang kuat untuk
melakukan suatu kontrol terhadap perusahaan dan pihak pemegang saham eksternal akan
mengalami kesulitan untuk mengendalikan tindakan para manajer tersebut.
Kepemilikan Institusional =
2.5
Pengertian Corporate Social Responsibility
Sampai saat ini belum ada kesamaan pandang mengenai konsep dan penerapan
corporate social responsibility, meskipun kalangan dunia usaha menyadari bahwa corporate
social responsibility ini amat penting bagi keberlanjutan usaha suatu perusahaan.
Menurut The World Business Council for Sustainable Development (dalam Rika dan
Ishlahuddin, 2008), Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan
didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan
ekonomi berkelanjutan. Hal tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan para karyawan
30
serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun masyarakat umum
untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat baik bagi bisnis sendiri
maupun untuk pembangunan.
Penjelasan pasal 15 huruf b UU Penanaman Modal
Menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “tanggung jawab sosial perusahaan
adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap
menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma,
dan budaya masyarakat setempat “. (UU, 15).
Pada intinya, dimaksudkan sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan kepedulian
terhadap masalah sosial dan lingkungan dalam kegiatan usaha dan juga pada cara perusahaan
berinteraksi dengan stakeholder yang dilakukan secara sukarela. Selain itu, tanggungjawab
sosial perusahaan diartikan pula sebagai komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam
pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga
karyawan dan masyarakat setempat dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan.
Menurut Boone dan Kurtz (dikutip oleh Harmoni dan Ade, 2008), pengertian
tanggung jawab sosial (social responsibility) secara umum adalah dukungan manajemen
terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan dan kesejahteraan
masyarakat secara setara dalam mengevaluasi kinerja perusahaan.
Jika ditarik pada berbagai pengertian di atas maka corporate social responsibility
merupakan komitmen perusahaan terhadap kepentingan pada stakeholders dalam arti luas
dari sekedar kepentingan perusahaan belaka. Dengan kata lain, meskipun secara moral adalah
baik bahwa perusahaan maupun penanam modal mengejar keuntungan, bukan berarti
perusahaan
ataupun
penanam
modal
dibenarkan
mencapai
keuntungan
dengan
mengorbankan kepentingan-kepentngan pihak lain yang terkait.
Kondisi Indonesia masih menghendaki adanya corporate social responsibility sebagai
suatu kewajiban hukum. Kesadaran akan adanya corporate social responsibility masih
rendah, kondisinya yang terjadi adalah belum adanya kesadaran moral yang cukup dan
bahkan seringkali terjadi suatu yang diatur saja masih ditabrak, apalagi kalau tidak diatur.
Karena ketaatan orang terhadap hukum masih sangat rendah. Corporate social responsibility
lahir dari desakan masyarakat atas perilaku perusahaan yang mengabaikan tanggung jawab
sosial, seperti: perusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, pajak, dan menindas
31
buruh. Lalu, kebanyakan perusahaan juga cenderung membuat jarak dengan masyarakat
sekitar.
Indikator yang digunakan dalam checklist mengacu pada indikator GRI (Global
Reporting Initiatives) yang berfokus pada beberapa komponen pengungkapan, yaitu
economic, environment, labour practices, human rights, society, dan product responsibility
sebagai dasar sustainability reporting yang diukur dengan menggunakan variabel dummy
yaitu :
Score 0 : Jika perusahaan tidak mengungkapkan item pada daftar pertanyaan.
Score 1: Jika perusahaan mengungkapkan item pada daftar pertanyaan.
Pengukuran kemudian dilakukan berdasarkan indeks pengungkapan masing-masing
perusahaan yang dihitung melalui jumlah item yang sesungguhnya diungkapkan perusahaan
dengan jumlah semua item yang mungkin diungkapkan (Bambang Suripto, 1999), yang
dinotasikan dalam rumus sebagai berikut:
CSD = n
k
Keterangan:
CSD
= indeks pengungkapan perusahaan
n
= jumlah item pengungkapan yang dipenuhi
k
= jumlah semua item yang mungkin dipenuhi.
2.5.1 Manfaat Corporate Social Responsibility
Yusuf Wibisono (2007) menguraikan 10 keuntungan yang dapat diperoleh oleh
perusahaan jika melakukan program Corporate Social Responsibility, yaitu:
1. Mempertahankan dan mendongkrak reputasi dan image perusahaan
Perbuatan destruktif pasti akan menurunkan reputasi perusahaan, sebaliknya
kontribusi positif pasti akan mendongkrak image dan reputasi positif perusahaan.
Image/citra yang positif ini penting untuk menunjang keberhasilan perusahaan.
2. Layak Mendapatkan sosial licence to operate
Masyarakat sekitar adalah komunitas utama perusahaan. Ketika mereka mendapatkan
keuntungan dari perusahaan, maka dengan sendirinya mereka akan merasa memiliki
32
perusahaan. Sehingga imbalan yang diberikan kepada perusahaan adalah keleluasaan
untuk menjalankan roda bisnisnya di kawasan tersebut.
3. Mereduksi Resiko Bisnis Perusahaan
Mengelola resiko di tengah kompleksnya permasalahan perusahaan merupakan hal
yang esensial untuk suksesnya usaha. Disharmoni dengan stakeholders akan
menganggu kelancaran bisnis perusahaan. Bila sudah terjadi permasalahan, maka
biaya untuk recovery akan jauh lebih berlipat bila dibandingkan dengan anggaran
untuk melakukan program corporate social responsibility. Oleh karena itu,
pelaksanaan corporate social responsibility sebagai langkah preventif untuk
mencegah memburuknya hubungan dengan stakeholders perlu mendapat perhatian.
4. Melebarkan Akses Sumber Daya
Track records yang baik dalam pengelolaan corporate social responsibility
merupakan keunggulan bersaing bagi perusahaan yang dapat membantu memuluskan
jalan menuju sumber daya yang diperlukan perusahaan.
5. Membentangkan Akses Menuju Market
Investasi yang ditanamkan untuk program corporate social responsibility ini dapat
menjadi tiket bagi perusahaan menuju peluang yang lebih besar. Termasuk di
dalamnya memupuk loyalitas konsumen dan menembus pangsa pasar baru.
6. Mereduksi Biaya
Banyak contoh penghematan biaya yang dapat dilakukan dengan melakukan
corporate social responsibility. Misalnya: dengan mendaur ulang limbah pabrik ke
dalam proses produksi. Selain dapat menghemat biaya produksi, juga membantu agar
limbah buangan ini menjadi lebih aman bagi lingkungan.
7. Memperbaiki Hubungan dengan Stakehoder
Implementasi corporate social responsibility akan membantu menambah frekuensi
komunikasi dengan stakeholder, dimana komunikasi ini akan semakin menambah
kepercayaan stakeholders kepada perusahaan.
8. Memperbaiki Hubungan dengan Regulator
Perusahaan yang melaksanakan corporate social responsibility umumnya akan
meringankan beban pemerintah sebagai regulator yang sebenarnya bertanggung jawab
terhadap kesejahteraan lingkungan dan masyarakat.
9. Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan
Image perusahaan yang baik di mata stakeholders dan kontribusi positif yang
diberikan perusahaan kepada masyarakat serta lingkungan, akan menimbulkan
33
kebanggaan tersendiri bagi karyawan yang bekerja dalam perusahaan mereka
sehingga meningkatkan motivasi kerja mereka.
10. Peluang Mendapatkan Penghargaan
Banyaknya penghargaan atau reward yang diberikan kepada pelaku corporate social
responsibility sekarang.
2.5.2 Pengungkapan Sosial Corporate Social Responsibility dalam Laporan Tahunan
Dikutip dari Natalylova (2011), pengungkapan ada yang bersifat wajib (mandatory),
yaitu pengungkapan informasi wajib dilakukan oleh perusahaan yang didasarkan pada
peraturan atau standar tertentu, dan ada yang bersifat sukarela (voluntary) yang merupakan
pengungkapan informasi melebihi persyaratan minimum dari peraturan yang berlaku.
Setiap pelaku ekonomi selain berusaha untuk kepentingan pemegang saham dan
mengkonsetrasikan diri pada pencapaian laba juga mempunyai tanggung jawab sosial, dan
hal itu perlu diungkapkan dalam laporan tahunan, sebagaimana dinyatakan oleh Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) (IAI,01) paragraf keduabelas:
Entitas dapat pula menyajikan, terpisah dari laporan keuangan, laporan mengenai
lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri
dimana faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang
menganggap karyawan sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan
penting. Laporan tambahan tersebut di luar ruang lingkup Standar Akuntansi Keuangan.
2.5.3 Triple Botom Line
Dikutip dari Rosyidawati (2012), bahwa akhir-akhir ini terdapat kecenderungan
(trend) meningkatnya tuntutan publik atas transparansi dan akuntabilitas perusahaan sebagai
wujud implementasi good corporate governance (GCG). Salah satu implementasi good
corporate governance di perusahaan adalah penerapan corporate social responsibility (CSR).
Dalam era globalisasi kesadaran akan penerapan corporate social responsibility menjadi
penting seiring dengan semakin maraknya kepedulian masyarakat terhadap produk (barang)
yang ramah lingkungan.
Berkenaan dengan hal tersebut, muncul triple bottom line model, yang terdiri dari
profit, people & planet (3 P). Laporan suatu perusahaan yang menggunakan model triple
bottom line, selain melaporkan aspek keuangan juga melaporkan aspek kepedulian sosial dan
upaya pelestarian lingkungan hidup.
34
Konsep Triple Bottom Line (TBL) sebagai suatu ukuran kinerja perusahaan yang
berkelanjutan, yang mencakup dimensi keuangan, siosial, dan lingkungan. Secara khusus,
penelitian ini akan melakukan beberapa hal berikut:
1.
Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi praktek-praktek pelaporan
corporate social responsibility,
2.
Menginvestigasi motif-motif perusahaan melakukan pelaporan corporate social
responsibility,
3.
Dan memahami faktor-faktor eksternal yang menghambat pelaporan corporate social
responsibility.
Hasil penelitian ini bisa meningkatkan kesadaran para pimpinan perusahaan terhadap
pentingnya keseimbangan antara good corporate governance, sosial dan lingkungan. Temuan
penelitian ini adalah bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan corporate
social responsibility adalah creditor power dan environmentally concern.
Motif-motif pelaporan corporate social responsibility yang dilakukan perusahaan
yang diteliti adalah:
(1) Public image,
(2) Kebijakan pemerintah/undang-undang,
(3) Arahan dari perusahaan holding, dan
(4) Corporate philosophy (sesuai dengan visi dan misi perusahaan).
Faktor yang menjadi penghambat di dalam pelaporan corporate social responsibility
bisa dikelompokkan kedalam dua yaitu internal dan eksternal. Faktor internal bermuara pada
kurangnya pemahaman manajemen terhadap pengertian corporate social responsibility,
konsep stakeholder, dan pelaporan corporate social responsibility. Faktor eksternal berasal
dari belum adanya dukungan regulator dan profesi akuntansi tentang penyajian pelaporan non
financial.
Sebenarnya, pendekatan Triple Bottom Line ini telah banyak digunakan sejak awal
tahun 2007 seiring perkembangan pendekatan akuntansi biaya penuh (full cost accounting)
yang banyak digunakan oleh perusahaan sektor publik. Pada perusahaan sektor swasta,
penerapan tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) pun merupakan salah
satu bentuk implementasi Triple Bottom Line.
Konsep Triple Bottom Line mengimplikasikan bahwa perusahaan harus lebih
mengutamakan kepentingan stakeholder (semua pihak yang terlibat dan terkena dampak dari
kegiatan yang dilakukan perusahaan) dari pada kepentingan shareholder (pemegang saham).
35
Mari kita lihat secara detail bagaimana perusahaan di Indonesia bisa mengaplikasi
konsep 3P ini secara riil.
People menekankan pentingnya praktik bisnis suatu perusahaan yang mendukung
kepentingan tenaga kerja. Lebih spesifik konsep ini melindungi kepentingan tenaga kerja
dengan menentang adanya eksplorasi yang mempekerjakan anak di bawah umur, pembayaran
upah yang wajar, lingkungan kerja yang aman dan jam kerja yang dapat ditoleransi. Bukan
hanya itu, konsep ini juga meminta perusahaan memperhatikan kesehatan dan pendidikan
bagi tenaga kerja.
Planet berarti mengelola dengan baik penggunaan energi terutama atas sumber daya
alam yang tidak dapat diperbarui. Mengurangi hasil limbah produksi dan mengolah kembali
menjadi limbah yang aman bagi lingkungan, mengurangi emisi CO2 ataupun pemakaian
energi, merupakan praktik yang banyak dilakukan oleh perusahaan yang telah menerapkan
konsep ini.
Profit di sini lebih dari sekadar keuntungan. Profit di sini berarti menciptakan fair
trade (Fair Trade atau perdagangan yang adil adalah sebuah alternatif dalam bisnis yang
antara lain bertujuan untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan produsen dengan
cara membangun komunitas). Membangun model kemitraan dalam perdagangan melalui
prinsip-prinsip dialog, transparansi, penghargaan, kemitraan dalam jangka panjang, adanya
kesetaraan gender, kondisi kerja yang layak, upah produksi yang layak, proses produksi yang
ramah lingkungan, melindungi anak-anak dari eksploitasi dalam proses produksi, tidak ada
pembedaan dalam suku, agama, ras, dan ethical trade (ethical trade yaitu citra positif yang
melekat pada suatu merk dan nama perusahaan yang berpengaruh pada loyalitas pelanggan
pada produk tersebut). Itulah sebabnya saat ini citra sebuah produk mempengaruhi keputusan
pembeli. Citra positif tidak hanya pada kualitas produk namun juga citra terhadap bagaimana
perusahaan memperlakukan pekerjanya, maka dikenal perdagangan beretika dalam berbisnis.
2.6
Penelitian Terdahulu
Trinanda dan Didin Mukodin (2010), Hasil penelitian menunjukan bahwa Corporate
Governance berpengaruh signifikan terhadap Return On Equity, Return On Investment,
Return On Asset, dan Net Profit Margin. Artinya, penerapan Corporate Governance yang
baik maka akan mengakibatkan kinerja perusahaan juga menjadi baik. Hal ini
menggambarkan bahwa manajemen perusahaan menyadari manfaat jangka panjang dari
penetapan Corporate Governance yaitu adanya dampak keuangan secara langsung seperti
36
peningkatan laba bersih perusahaan dan akan menjadikan perusahaan tersebut menjadi
perusahaan yang sehat.
Erkens .et. al. (2012), menunjukkan bahwa corporate governance perusahaan
memiliki dampak penting terhadap kinerja perusahaan selama krisis melalui keputusan
manajemen perusahaan yang berani mengambil resiko dan pembiayaan kebijakan.
Berikut ini adalah ringkasan dari beberapa penelitian terdahulu yang mendorong
pnulis untuk melakukan penelitian ini:
Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu
No.
1
2
Peneliti
Rahayu
(2010)
Variabel
Dependen
Kinerja
Keuangan
Perusahaan
Variabel
Independen
Nilai
Perusahaan
Variabel
Objek
Moderasi
Penelitian
GCG
Pengaruh
dan CSR Kinerja
Keuangan
Terhadap
Nilai
Perusahaan
dengan
Pengungkapan
Corporate
Social
Responsibility
dan Good
Corporate
Governance
Sebagai
Variabel
Pemoderasi
Rosyidawati Good
Corporate
(2012)
Corporate
Social
Governance Responsibility
Pengaruh
Good
Corporate
Governance
Terhadap
Corporate
Social
Responsibility
Hasil Penelitian
Kinerja
keuangan tidak
berpengaruh
positif terhadap
nilai
perusahaan.
Good
Corporate
Governance
tidak
mempengaruhi
hubungan
antara
kinerja
keuangan
dengan
nilai
perusahaan.
Secara parsial
aktifitas dewan
komisaris,
independensi
dewan
komisaris,
ukuran komite
audit,
independensi
komite audit,
dan
rasio
leverage tidak
ada
yang
berpengaruh
37
-
signifikan.
Secara simultan
pun
praktek
good corporate
governance
tidak
mempengaruhi
pelaporan
Corporate
Social
Responsibility
perusahaan
telekomunikasi
Pengaruh
Jumlah dewan
Good
direksi, jumlah
Corporate
dewan
Governance
komisaris
dan Ukuran dan ukuran
Perusahaan
perusahaan
Terhadap
tidak
Kinerja
berpengaruh
Perusahaan
terhadap
kinerja
keuangan
perusahaan.
3
Raharja
(2012)
GCG,
Ukuran
Perusahaan
Kinerja
Perusahaan
4
Natalylova
(2012)
GCG
CSR
dan Kinerja
Perusahaan
Pengaruh
Good
Corporate
Governance
terhadap
Corporate
Social
Responsibility
dan Kinerja
Perusahaan
5
Windah
(2012)
GCG
Kinerja
Keuangan
Pengaruh
Penerapan
Good
Corporate
Governance
Terhadap
Kinerja
Keuangan
-
Kepemilikan
Manajerial,
Dewan
Komisaris
Independen,
Komite Audit,
Kepemilikan
Institusional,
Kepemilikan
Publik,
tidak
berpengaruh
secara
signifikan
terhadap CSR
dan
Kinerja
Perusahaan.
Ada hubungan
positif
yang
signifikan
antara indeks
GCG dengan
kinerja
operasional
yang
diukur
38
6
Sutisna
(2014)
Kinerja
Keuangan
Nilai
Perusahaan
GCG
dan CSR
Perusahaan
Hasil Survei
The
Indonesian
Institute
Preception
Governence
(HCG)
Periode 20082011
Pengaruh
Kinerja
Keuangan
Terhadap
Nilai
Perusahaan
dengan
Pengungkapan
Corporate
Social
Responsibility
dan Good
Corporate
Governance
sebagai
Variabel
Pemoderasi
dengan ROE.
Kepemilikan
manajerial
mampu
memperkuat
hubungan
antara kinerja
keuangan
terhadap nilai
perusahaan
dengan
signifikan baik
secara simultan
maupun parsial.
Sumber: Ringkasan berbagai hasil penelitian
2.7
Hipotesis dan Kerangka Pemikiran
Perusahaan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang atau lebih untuk
mencapai suatu tujuan yang akan dituju. Dengan kata lain perusahaan merupakan suatu
bentuk badan usaha yang lebih menekankan pada profit atau keuntungan dari barang atau jasa
yang ditawarkan kepada seseorang oleh perusahaan tersebut. Sebuah perusahaan selalu
mengharapkan bisnis yang dijalankan dapat menguntungkan serta dapat mempertahankan dan
meningkatkan nilai agar dapat memaksimalkan nilai perusahaan dan juga memaksimalkan
kesejahteraan stakeholder. Definisi lain dari perusahaan sendiri tertuang dalam UndangUndang No. 3 Tahun 1982 tentang wajib daftar perusahaan pasal 1b yang berbunyi:
“Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan stiap jenis usaha yang bersifat
tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah
Negara Republik Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.”
39
Untuk mencapai tujuan perusahaan perlu adanya hubungan kontraktual antara pihak
Principals dan agents sebagaimana yang dijelaskan pada Agency Theory. Principals sebagai
pemilik modal memiliki akses pada infromasi internal perusahaan sdangkan agents sebagai
pelaku dalam praktek operasional perusahaan mempunyai informasi tentang operasi dan
kinerja perusahaan secara riil dan menyeluruh. Aktifitas kedua pihak tersebut dinilai melalui
kinerja keuangannya yang tercermin dalam laporan keuangan.
Gray and Radebaugh (2009) menggambarkan sebuah mekanisme corporate
governance yang dibagi ke dalam dua struktur. Mekanisme merupakan suatu aturan main,
prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak
yang melakukan kontrol terhadap keputuan tersebut. Pertama adalah struktur mekanisme
pengendalian internal perusahaan. Sisi internal lain dari kinerja perusahaan adalah tata kelola
perusahaan yang baik atau biasa disebut Good Corporate Governance (GCG). Good
Corporate Governance adalah suatu praktik pengelolaan perusahaan secara amanah dan
prudensial dengan mempertimbangkan keseimbangan pemenuhan kepentingan seluruh
stakeholders. Dengan implementasi Good Corporate Governance / penerapan Good
Corporate Governance, maka pengelolaan sumberdaya perusahaan diharapkan menjadi
efisien, efektif, ekonomis dan produktif dengan selalu berorientasi pada tujuan perusahaan
dan memperhatikan stakeholders approach. Menurut Muh. Arief Effendi (2009) dalam
bukunya The Power of Good Corporate Governance, pengertian Good Corporate
Governance adalah suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang memiliki
tujuan utama mengelola risiko yang signifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui
pengamanan aset perusahaan dan meningkatkannilai investasi pemegang saham dalam jangka
panjang.
Pihak- pihak yang terlibat dalam mekanisme internal ini adalah agent dan principal
yang terdiri komposisi board of directors dan executive manajer di dalam perusahaan. Yang
kedua adalah struktur mekanisme pengendalian eksternal. Struktur mekanisme pengendalian
external terdiri dari stakeholder yang berkepentingan dan berhubungan dengan perusahaan
antara lain Pasar Modal, Pasar Uang, Auditor, Paralegal dan regulator. Struktur mekanisme
pengendalian eksternal merupakan mekanisme pengendalian yang dibentuk pihak dari luar
perusahaan.
Adapun indikator yang sering digunakan untuk mengukur Good Corporate
Governance antara lain Komisaris Independen, komite audit, kepemilikan manajerial,
kepemilikan institusional, dan komite nominasi. Indikator Good Corporate Governance yang
40
digunakan pada penelitian ini adalah Komisaris Independen, komite audit, kepemilikan
manajerial dan kepemilikan institusional.
Dari sisi eksternal, kinerja perusahaan dapat dilihat dari tanggung jawab sosial
perusahaan atau biasa disebut Corporate Social Responsibility (CSR). Corporate Social
Responsibility adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai
kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap
sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan terhadap lingkungannya, image perusahaan
menjadi meningkat. Investor lebih berminat pada perusahaan yang memiliki citra baik di
masyarakat karena semakin vaiknya citra perusahaan, loyalitas konsumen semakin tinggi
sehingga dalam waktu lama penjualan perusahaan akan membaik dan profitabilitas
perusahaan juga meningkat. Jika perusahaan berjalan lancar, maka nilai saham perusahaan
akan meningkat (Retno, 2012).
Indikator pengungkapan Corporate Social Responsibility yang mendominasi saat ini
adalah Sustainability Reporting Guidelines (SRG) yang dikeluarkan oleh Global Reporting
Initiative (GRI). Indikator Sustainability Reporting Guidelines terdiri dari:
1. Indikator Kinerja Ekonomi
-
Aspek Kinerja Ekonomi : 4 item
-
Aspek Kehadiran Pasar : 3 item
-
Aspek Dampak Ekonomi Tidak Langsung : 2 item
2. Indikator Kinerja Keuangan
-
Aspek Material : 2 item
-
Aspek Energi : 5 item
-
Aspek Air : 3 item
-
Aspek Biodiversitas (Keanekaragaman Hayati) : 5 item
-
Aspek Emisi, Efluen, dan Limbah : 10 item
-
Aspek Produk dan Jasa : 2 item
-
Aspek Kepatuhan : 1 item
-
Aspek Pengangkutan/transportasi : 1 item
-
Aspek Menyeluruh : 1 item
3. Praktek Tenaga Kerja dan Pekerjaan yang layak
-
Aspek Pekerjaan : 3 item
-
Aspek Tenaga Kerja / Hubungan Manajemen : 2 item
41
-
Aspek Kesehatan dan Keselamatan Jabatan : 4 item
-
Aspek Pelatihan dan Pendidikan : 3 item
-
Aspek Keberagaman dan Kesempatan Setara : 2 item
4. Hak Asasi Manusia
-
Aspek Investasi dan Pengadaan : 2 item
-
Aspek HAM : 1 item
-
Aspek Nondiskriminasi : 1 item
-
Aspek Kebebasan Berserikat dan Berunding Bersama Berkumpul : 1 item
-
Aspek Pekerja Anak : 1 item
-
Aspek Kerja Paksa dan Kerja Wajib : 1 item
-
Aspek Praktek/Tindakan Pengamanan : 1 item
-
Aspek Hak Penduduk Asli : 1 item
5. Masyarakat
-
Aspek Komunitas : 1 item
-
Aspek Korupsi : 3 item
-
Aspek Kebijakan Publik : 2 item
-
Aspek Kelakuan Tidak Bersaing : 1 item
-
Aspek Kepatuhan : 1 item
6. Tanggung Jawab Produk
-
Aspek Kesehatan dan Kenyamanan Pelanggan : 2 item
-
Aspek pemasangan Label bagi Produk dan Jasa : 3 item
-
Aspek Komunikasi Pemasaran : 2 item
-
Aspek Kelaluasaan Pribadi (Privacy) Pelanggan : 1 item
-
Aspek Kepatuhan : 1 item
Hal diatas sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sembiring (2005) yang
mengadopsi penelitian yang dilakukan oleh hackston dan Milne (1996) kemudian disesuaikan
dengan peraturan Bapepam No. VIII.G.2 tentang laporan keuangan tahunan dan kesesuaian
item tersebut digunakan untuk diaplikasikan di Indonesia.
Kinerja perusahaan adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk
mengevaluasi efesien dan efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada
periode waktu tertentu. Menurut Samsinar (2010) pengertian kinerja perusahaan adalah hasil
banyak keputusan yang dibuat secara terus-menerus oleh pihak manajemen perusahaan untuk
mencapai suatu tujuan tertentu secara efektif dan efisien. Sedangkan Performance atau
42
kinerja menurut Lestari (2011) merupakan suatu pola tindakan yang dilaksanakan untuk
mencapai
yang
diukur
dengan
mendasarkan
berbagai standar. Kinerja juga dapat diartikansebagai
pada
suatu
tingkat
perbandingan
pencapaian
dengan
hasil
atas
pelaksanaan tugas tertentu, dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi suatu
organisasi yang diukur dengan standar.
Menurut Erwan Agus Purwanto dan Dyah Ratih Sulistyastuti (2007:137), hipotesis
adalah pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian
yang kebenarannya masih lemah (belum tentu kebenarannya) sehingga harus diuji secara
empiris.
Menurut Sugiyono (2009: 96), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap
rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam
bentuk pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan
pada teori. Hipotesis dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban
sementara atas masalah yang dirumuskan.
Menurut J. Supranto (2012 : 49), hipotesis ialah suatu proporsi, kondisi atau prinsip
yang untuk sementara waktu dianggap benar dan barangkali tanpa keyakinan, agar bis
aditarik suatu konsekuensi yang logis dan dengan cara ini kemudian diadakan pengujian
(testing) tentang kebenarannya dengan mempergunkan data empiris hasil penelitian.
Menurut semua penjelasan diatas, hipotesis adalah dugaan/ pernyataan sementara
yang diungkapkan secara deklaratif/ yang menjadi jawaban dari sebuah permasalahan.
Pernyataan tersebut diformulasikan dalam bentuk variabel agar bisa di uji secara empiris.
2.7.1 Pengaruh Dewan Komisaris Independen Terhadap Kinerja Perusahaan
Dewan komisaris bertugas melakukan pengawasan dan memberikan masukan kepada
dewan direksi perusahaan. Dewan komisaris tidak memiliki otoritas langsung terhadap
perusahaan. Fungsi utama dari dewan komisaris adalah mengawasi kelengkapan dan kualitas
informasi laporan atas kinerja dewan direksi. Karena itu, posisi dewan komisaris sangat
penting dalam menjembatani kepentingan principal dalam sebuah perusahaan. Hardikasari
(2011) menyebutkan bahwa penelitian mengenai ukuran dewan komisaris terhadap kinerja
perusahaan memiliki hasil yang beragam. Dalam penelitiannya tersebut, disebutkan argumen
dari Yermack (1996), Sundgren dan Wells (1998), dan Jensen (1993), yang menyatakan
bahwa semakin banyak personil yang menjadi dewan komisaris dapat berakibat pada makin
buruk kinerja yang dimiliki perusahaan. Hal tersebut dikarenakan dengan semakin banyaknya
43
anggota dewan komisaris maka badan ini akan mengalami kesulitan dalam menjalankan
perannya, diantaranya kesulitan dalam komunikasi dan koordinasi antar anggota dewan
komisaris. Adanya komisaris independen diharapkan dapat mengurang konsumsi manajer dan
semakin banyaknya komisaris independen dapat memonitor perusahaan dengan lebih dekat,
dan melakukan tindakan terkait dengan tata kelola perusahaan yaitu mengurangi manajemen
puncak yang memiliki kinerja buruk (Sheikh, Khan, & Wang, 2013). Dengan pemecatan
manajemen puncak yang memiliki kinerja buruk tersebut, pasar merespon positif sehingga
ROA meningkat (Ibrahim & Samad, 2011). Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan
hipotesis sebagai berikut :
H1: Dewan Komisaris independen berpengaruh positif terhadap Kinerja perusahaan.
2.7.2 Pengaruh Komite Audit Terhadap Kinerja Perusahaan
Rustiarini (2010) menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara komite audit
dengan nilai perusahaan. Dengan adanya komite audit, diharapkan dapat mengurangi konflik
agensi sehingga laporan yang disampaikan epada pihak-pihak yang berkepentingan dapat
dipercaya sehingga dapat membantu meningkatkan nilai perusahaan di mata investor.
Salah satu cara auditor mempertahankan independensinya adalah dengan membentuk
komite audit. Sesuai dengan fungsi dan tujuan dibentuknya komite audit, yang salah satunya
yaitu memastikan laporan keuangan yang dihasilkan tidak menyesatkan dan sesuai dengan
praktik akuntansi yang berlaku umum, maka sedikit banyak keberadaan dan efektivitas
komite audit dalam perusahaan berpengaruh terhadap kualitas dan integritas laporan
keuangan yang dihasilkan. Penelitian yang dilakukan oleh Hardiningsih, 2010 tidak
berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Komite audit berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan.
2.7.3 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Kinerja Perusahaan
Menurut agency theory, pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan
dapat menimbulkan konflik keagenan. Konflik keagenan disebabkan prinsipal dan agen
mempunyai kepentingan sendiri-sendiri yang saling bertentangan karena agen dan prinsipal
berusaha memaksimalkan utilitasnya masing-masing. Menurut Haruman (2008), perbedaan
kepentingan antara manajemen dan pemegang saham mengakibatkan manajemen berperilaku
curang dan tidak etis, sehingga merugikan pemegang saham. Oleh karena itu diperlukan suatu
44
mekanisme pengendalian yang dapat mensejajarkan perbedaan kepentingan antara
manajemen dengan saham.
Dengan adanya kepemilikan bagi manajemen, akan meningkatkan motivasi
manajemen untuk bekerja dengan lebih baik dalam meningkatkan kinerja perusahaan.
Manajemen akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan agar tidak merugikan
perusahaan. Semakin besar kepemilikan manajer, maka manajer akan berusaha maksimal
untuk meningkatkan laba perusahaan (alignment of interest) karena manajer memiliki bagian
atas laba yang diperoleh (Jensen & Meckling, 1976). Dengan demikian, kepentingan antara
agen dan pemilik akan sejalan yaitu meningkatkan return perusahaan (ROA). Hal tersebut
didukung oleh penelitian yang dilakukan El-Chaarani (2014) yang mengukur internal
ownership berdasarkan kepemilikan manajer, menghasilkan bahwa internal ownership
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan bank. Kepemilikan manajer
dalam penelitian tersebut, merupakan faktor penting yang mempengaruhi GCG dan kinerja
bank (El-Chaarani, 2014).
Jika manajemen memiliki kepemilikan dalam suatu perusahaan maka manajemen
akan memiliki kepentingan yang sama dengan kepentingan pemilik. Dengan demikian,
konflik kepentingan antara pemilik dan agen dapat terhindarkan. Dengan berkurangnya
konflik kepentingan maka terjalin kesinambungan dalam perusahaan yang memberikan
kontribusi kepada terciptanya kesejahteraan shareholder dan stakeholder.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3: Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
2.7.4 Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kinerja Perusahaan
Murwaningsari
(2009)
menyatakan
bahwa
terdapat
pengaruh
kepemilikan
institusional dengan nilai perusahaan. Kepemilikan Institusional terhadap saham perusahaan
dipandang dapat meningkatkan fungsi pengawasan terhadap perusahaan, agar melakukan
praktek Good Corporate Governance yang lebih baik. Dengan meningkatnya kepemilikan
institusional, diharapkan dapat memberikan tekanan agar perusahaan dapat terus
melaksanakan praktek Good Corporate Governance sesuai yang diharapkan investor
institusional. Oleh karena itu, kinerja perusahaan akan semakin baik dan semakin
meningkatkan nilai perusahaan.
45
Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian Farshid dan Naiker (2006) menyatakan
bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif dengan nilai perusahaan pada tingkat
kepemilikan yang rendah.
Keberadaan investor institusional dinilai mampu menjadi mekanisme monitoring yang
efektif dalam setiap keputusan yang diambil oleh manajer. Hal ini disebabkan investor
institusional terlibat dalam pengambilan strategis sehingga tidak mudah percaya terhadap
tindakan manipulasi laba. Pendapat ini didukung oleh hasil penelitian Ujiyantho dan
Pramuka, 2007 kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengurangi insentif
para manajer yang mementingkan diri sendiri melalui tingkat pengawasan yang intensif.
Kepemilikan institusional dapat menekan kecenderungan manajemen untuk melakukan
kecurangan dalam laporan keuangan.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Wulandari, 2007 yang menyatakan
tidak ada pengaruh antara kepemilikan institusional dan kinerja perusahaan.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4: Kepemilikan institutional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan
2.7.5 Pengaruh Corporate Social Responsibility sebagai Variabel Moderating dalam
hubungan antara Good Corporate Governance dan Kinerja Perusahaan
Corporate Social Responsibility akan turut menginteraksi antara hubungan Good
Corporate Governance dengan Kinerja Perusahaan. Desakan lingkungan perusahaan
menuntut perusahaan agar menerapkan strategi untuk memaksimalkan kinerja perusahaan.
Strategi perusahaan seperti CSR dapat dilakukan untuk memberikan image perusahaan yang
baik kepada pihak eksternal. Perusahaan tidak hanya memandang laba sebagai satu-satunya
tujuan dari perusahaan tetapi ada tujuan yang lainnya yaitu kepedulian perusahaan terhadap
lingkungan, karena perusahaan mempunyai tanggung jawab yang lebih luas dibanding hanya
mencari laba untuk pemegang saham.
Disamping kinerja perusahaan yang akan dilihat investor sebelum memutuskan untuk
berinvestasi dalam suatu perusahaan, adanya pengungkapan item CSR dalam laporan
keuangan diharapkan akan menjadi nilai plus yang akan menambah kepercayaan para
investor, bahwa perusahaan tersebut akan terus berkembang dan berkelanjutan (sustainable).
Para konsumen akan lebih mengapresiasi perusahaan yang mengungkapkan CSR
dibandingkan dengan perusahaan yang tidak mengungkapkan CSR, mereka akan membeli
produk yang sebagian laba dari produk tersebut disisihkan untuk kepentingan sosial
46
lingkungan, misalnya untuk beasiswa, pembangunan fasilitas masyarakat, program
pelestarian lingkungan, dan lain sebagainya. Hal ini akan berdampak positif terhadap
perusahaan, selain membangun image yang baik di mata para stakeholder karena kepedulian
perusahaan terhadap sosial lingkungan, juga akan menaikkan laba perusahaan melalui
peningkatan penjualan.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H5: Corporate Social Responsibility mempengaruhi hubungan antrara Good
Corporate Governance dengan Kinerja Perusahaan
Perbedaan hasil penelitian yang meneliti pengaruh Good Corporate Governance terhadap
Kinerja Perusahaan mendindikasikan terdapat variabel lain yang diduga ikut mempengaruhi.
Dalam hal ini penulis memasukan variabel Corporate Social Responsibility yang nantinya
akan dapat dilihat apakah variabel ini akan mempengaruhi hubungan Good Corporate
Governance terhadap kinerja perusahaan atau tidak. Oleh karena itu dapat digambarkan suatu
kerangka pemikiran sebagai berikut:
47
Gambar 2.1
Bagan Kerangka Pemikiran
Perusahaan
Aktivitas Perusahaan
Laporan Keuangan
Laporan Tahunan
Ukuran Kinerja
Perusahaan
Internal
Eksternal
Good Corporate Governance
Kepemilikan
Manajerial
Kepemilikan
Institusional
Dewan Komisaris
Independen
Komite
Audit
Komite
Nominasi
Corporate Social Responsibility
Kinerja Perusahaan
Diteliti
Tidak Diteliti
Moderating
Download